Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam realita kehidupan umat manusia. Dengan adanya perkawinan rumah tangga dapat ditegakan dan dibina sesuai dengan norma agama dan tata kehidupan masyarakat. Dalam rumah tangga berkumpul dua insan yang berlainan jenis (suami istri), mereka saling berhubungan agar mendapat keturunan sebagai penerus generasi. Insan-insan yang berada dalam rumah tangga itulah yang disebut” keluarga”, keluarga merupakan unit terkecil dari suatu bangsa, keluarga yang dicita-citakan dalam ikatan perkawinan yang sah adalah keluarga sejahtera dan bahagia yng selalu mendapat ridha dari Allah SWT.1
Menurut Kompilasi Hukum Islam, seperti yang terdapat dalam pasal 2 dinyatakan bahwa perkawinan dalam hukum Islam adalah , Pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaqan ghalidhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.2
Di dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 seperti yang termuat dalam pasal 1 ayat 2 perkawinan didefenisikan sebagai : “ Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan
1Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia (Jakarta : kencana, 2006), hal . 1.
2 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia : Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No 1/1974 sampai KHI (Jakarta: Kencana, 2004) hal. 43.
membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.3
Pencantuman berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah karena Negara Indonesia berdasarkan kepada Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sampai disini tegas dinyatakan bahwa perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama, kerohanian sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/ jasmani tetapi juga memiliki unsur batin/rohani.4
Faedah yang terbesar dalam perkawinan ialah untuk menjaga dan memelihara perempuan yang bersifat lemah itu dari kebinasaan. Sebab seorang perempuan, apabila dia sudah menikah, maka nafkahnya ( belanjanya ) menjadi wajib atas tanggungan suaminya. Perkawinan juga berguna untuk memelihara kerukunan anak- cucu (turunan), sebab kalau tidak dengan Perkawinan, tentulah anak tidak berketentuan siapa yang akan mengurusnya dan siapa yang bertanggung jawab atasnya. Perkawinan juga dipandang sebagai kemaslahatan umum, sebab kalau tidak ada perkawinan, tentu manusia akan menurutkan sifat kebinatangannya, dan dengan sifat itu akan timbul perselisihan, bencana dan perrmusuhan antara sesamanya, yang mungkin juga sampai menimbulkan pembunuhan yang maha dahsyat. .Demikianlah maksud perkawinan yang sejati dalam Islam, singkatnya untuk kemaslahatan dalam rumah tangga dan turunan, juga untuk kemaslahatan masyarakat.5
3 Ibid.42
4 Ibid.43
5 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, ( Bandung : Sinar Baru, 1992 ), hal. 349.
Perkawinan adalah jalan yang dipilih Allah untuk melestarikan keturunan.
Dikeluarkannya Adam dan Hawa dari surga untuk kemudian ditempatkan di bumi dapat dikatakan sebagai cikal bakal penciptaan manusia oleh Allah SWT. Manusia menurut ajaran Agama Islam Adalah sebagai pemimpin atau wakil Tuhan dimuka bumi. Dalam istilah agama fungsi manusia yang demikian disebut” Khalifah”. Misi manusia sebagai khalifah pada pokoknya adalah memelihara dan menciptakan kemaslahatan manusia dalam hubungannya dengan alam semesta. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah SWT, sebagaimana dinyatakan- Nya dalam surat Al isra ayat 70 yang artinya, “ Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka didaratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan “. Sayyid Sabiq menulis dalam bukunya Fikih Sunnah: Perkawinan adalah suatu cara yang dipilih Allah sebagai jalan bagi manusia untuk beranak, berkembang biak dan melestarikan hidupnya, setelah masing-masing pasangan siap melakukan peranannya yang positip dalam mengujudkan tujuan perkawinan.6
Tuhan tidak mau menjadikan manusia itu seperti mahkluk lainnya, yang hidup bebas mengikuti nalurinya dan berhubungan antara jantan dan betina secara anarki, dan tidak ada satu aturan. Tetapi demi menjaga kehormatan dan martabat kemuliaan manusia, Allah membuat hukum sesuai dengan martabatnya.7
Sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara terhomat dan berdasarkan saling meridhai, dengan upacara ijab dan qabul sebagai lambang dari
6 Mohammad Thalib, (Trans) Sayyid Sabiq,Fikih Sunnah, (Bandung: PT.Alma’arif, 1980).
Jilid 6, cet 15, hal.7.
7Ibid, hal.8.
adanya rasa ridha-meridhai, dan dengan dihadiri oleh para saksi yang menyaksikan kalau pasangan laki-laki dan perempuan itu telah saling terikat. Perkawinan menurut syari’at islam setdak-tidaknya akan:
1. Membuat hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi terhormat dan saling meridhai.
2. Memberikan jalan yang paling sentosa pada sex sebagai naluri manusia memelihara keturunan dengan baik dan menghindarkan kaum wanita dari penindasan kaum laki-laki.
3. Membuat pergaulan suami-isteri berada dalam naluri keibuan dan kebapakan, sehingga akan melahirkan anak keturunan yang baik sebagai generasi penerus misi kekhalipahan.
4. Menimbulkan suasana yang tertib dan aman dalam kehidupan sosial.8
Kawin (menikah) adalah wajib pada seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukannya dan memang membutuhkannya, dan dia takut akan melakukan perzinaan apabila tidak menikah. Namun, jika ia ingin sekali menikah tetapi tidak memiliki harta benda ( kebutuhan material ), hendaknya dia melakukan seperti yang difirmankan Allah SWT dalam QS.an-Nur(24) : 33 yang artinya “ Dan orang-orang yang tidak maampu kawin hendaklah menjaga kesuciannya( diri ) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunianya”. Dan sabda Nabi saw: “ Hai para pemuda,barang siapa diantara kamu mampu untuk kawin ( baik materi maupun fisik )
8H. M Zuffran Sabrie, Analisa Hukum Islam Tentang Anak Luar Nikah, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1998), hal.7.
hendaklah ia kawin. Sesunggunya hal itu lebih memalingkan pandangan dan lebih menjaga farji. Barang siapa tidak mampu untuk melakukannya hendaklah ia berpuasa, karena hal itu adalah penangkal.” (Muttafaq alaih)9
Sedangkan seseorang yang menginginkan kawin dan memiliki kemampuan untuk kawin, tetapi ia tidak takut melakukan perzinaan, maka perkawinan dianjurkan kepadanya, dan hal itu lebih baik baginya daripada konsentrasi sendirian dalam ibadah, karena tidak kawin ( seperti biara ) bukanlah bagian dari ajaran islam.10
Bagi seorang wanita tentu dia tidak akan hamil, karena belum pernah menikah, yang menjadi persoalan adalah ternyata dia hamil, maka dapat dipastikan kehamilannya itu adalah hasil dari hubungan seksual diluar perkawinan. Akibatnya dengan berbagai pertimbangan dicoba untuk menutup-nutupinya. Ada yang lari kedokter atau kedukun bayi untuk menggugurkan kandungan dan ada juga yang segera melangsungkan pernikahan dengan pasangan yang menghamilinya atau orang lain sebagai tumbal agar kehamilan diketahui masyarakt sebagai kehamilan yang sah.11
Solusi pengguguran kandungan jelas melanggar syariat, jadi haram hukumnya karena sama dengan melakukan pembunuhan manusia. Sedang cara yang kedua, yaitu segera melangsungkan pernikahan, cara yang selama ini ditempuh orang, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang dibolehkannya.12
9Muhammad Bin Jamil Zainu, Pilar-Pilar Islam dan Iman, ( Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2001 ), hal 369-370.
10 Ibid . hal. 371.
11Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Perempuan Kontemporer, (Bogor : Ghalia Indonesia ), hal.58
12 Ibid, hal. 58.
Para Ulama berbeda pendapat tentang perkawinan yang terjadi terhadap wanita yang sedang hamil akibat zina. Dan juga status anak dalam perkawinan tersebut.13
Tentang hamil diluar nikah sendiri sudah kita ketahui sebagai perbuatan zina, baik oleh pria yang menghamilinya maupun wanita yang hamil. Dan itu merupakan dosa besar. Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang secara ketat tidak memperbolehkan, ada pula yang menekankan pada penyelesaian masalah tanpa mengurangi kehati-hatian mereka. Sejalan dengan sikap para ulama itu, ketentuan hukum Islam menjaga batas-batas pergaulan masyarakat yang sopan dan memberikan ketenangan dan rasa aman.14
Dalam Kompilasi Hukum Islam, telah mengatur persoalan perkawinan wanita hamil yang terdapat dalam pasal 53 yaitu :
1. Seorang wanita hamil diluar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
3. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Dasar pertimbangan Kompilasi Hukum Islam terhadap perkawinan wanita Hamil adalah Qur’an Surat: An-Nur ayat 3 yang artinya.15 “ Laki-laki yang berzina
13Ibid. hal.59.
14Ppti.malalo, Perkawinan Wanita Hamil, http:/ppti.malalo.blogspot.com/2013/10/25, Perkawinan Wanita Hamil. Diakses tanggal 1 maret 2014.
15Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta :sinar grafika, 2006 ) hal. 45
tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa perkawinan terhadap wanita hamil, berdasarkan pasal 2 ayat (1) bahwa: “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu”.
Hasil dari suatu perkawinan akan lahir anak yang merupakan bagian yang sangat penting kedudukannya dalam suatu keluarga menurut hukum Islam. Sebagai amanah Allah, maka orang tuanya mempunyai tanggung jawab untuk mengasuh, mendidik dan memenuhi keperluannya sampai dewasa. Namun tidak semua anak lahir dari perkawinan yang sah, bahkan ada kelompok anak yang lahir sebagai akibat dari perbuatan zina. Anak-anak yang tidak beruntung ini oleh hukum dikenal dengan sebutan anak luar nikah. Sebagai anak tidak sah atau luar nikah, yaitu yang berkaitan dengan hah-hak keperdataan mereka tentu saja amat tidak menguntungkan, padahal kehadiran mereka didudunia ini adalah atas kesalahan dan dosa orang yang membangkitkan mereka. Anak-anak luar nikah, baik yang lahir dari perkawinan yang tidak sah maupun dari hasil perbuatan zina diasumsikan relatif banyak terdapat di Indonesian dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang beragama Islam.
Menurut Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukunm Islam, anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yag sah,
meskipun anak tersebut lahir dari perkawinan wanita hamil yang usia kandungannya kurang dari enam bulan lamanya sejak ia menikah resmi.
Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 42: “ Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah”. Dan dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 99: anak yang sah adalah :
a. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah;
b. Hasil pembuahan suami istri yang sah diluar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut. Sedangkan menurut hukum Islam anak baru dianggap sah dan mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya bila perkawinan wanita hamil yang usia kandungannya minimal enam bulan dari perkawinan yang resminya.
Diluar ketentuan itu itu adalah anak dianggap sebagai anak tidak sah.
Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang keabsahan dari perkawinan yang dilakukan saat wanita hamil karena zina dan bagaimana status anak yang akan dilahirkan dari perkawinan wanita hamil karena zina tersebut.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dilakukan penelitian dengan judul “ Status Anak Yang Dilahirkan dari Perkawinan Wanita Hamil Karena Zina Menurut Kompilasi Hukum Islam Dan Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang jadi rumusan pokok permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengaturan perkawinan wanita hamil karena zina menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ?
2. Bagaimanakah status hukum anak yang dilahirkan dari perkawinan wanita hamil karena zina menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ?
3. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap anak yang dilahirkan dari perkawinan wanita hamil karena zina menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan Perkawinan wanita hamil karena zina menurut Kompilasi Hukum Islam danUndang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
2. Untuk mengetahui status hukum anak yang dilahirkan dari perkawinan wanita hamil karena zina menurut Kompilasi Hukum Islam danUndang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
3. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap anak yang dilahirkan dari perkawinan wanita hamil karena zina menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang_Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
D. Manfaat Penelitian
Disamping tujuan penelitian diatas diharapkan juga penelitian ini memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur mengenai perkawinan, khususnya mengenai pengaturan perkawinan wanita hamil karena zina dan sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka pengembangan ilmu hukum agar ada suatu aturan hukum yang jelas mengenai perkawinan wanita hami karena zina dan status hukum anak yang dilahirkan menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
2. Secara Praktis, Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan masukan bagi para praktisi maupun pihak terkait mengenai status hukum perkawinan wanita hamil.karena zina dan status hukum anak yang dilahirkan.
E. Keaslian Penelitian
Menurut data yang ada dan penelusuran yang telah dilakukan, baik terhadap hasil-hasil penelitian yang sudah ada, maupun sedang dilakukan, khususnya pada Sekolah Pasca sarjana Universitas Sumatera Utara, pembahasan mengenai “ Status Anak yang dilahirkan dari perkawinan wanita hamil karena zina menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan “ belum pernah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya.
Namun dalam penelusuran pustaka tersebut ditemukan beberapa karya mahasiswa yang menyangkut tentang perkawinan, akan tetapi permasalahan dan bidang kajiannya sangat berbeda, yaitu:
1. Akibat Hukum Pembatalan Perkawinan Poligami Tanpa Izin dan Kaitannya dengan Status Anak Menurut Undang-Undang Nomor 1Ttahun 1974 (Studi di Pengadilan Agama Klas 1A Medan ), dengan permasalahan yang dibahas:
a. Apakah faktor penyebab terjadinya tuntutan pendaftaran perkawinan poligami tanpa izin ?
b. Bagaimanakah pertimbangan Hakim terhadap tuntutan perkawinan poligami tanpa izin ?
c. Bagaimana kedudukan anak dan tanggung jawab orang tua terhadap anak- anak yang lahir dari perkawinan poligami yang dibatalkan ?
2. Kedudukan Perjanjian Perkawinan Dan Akibat Hukumnya Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dan Kompilasi Hukum Islam ( Studi Pada Kota Medan), dengan permasalahan yang dibahas:
a. Bagaimanakah kedudukan perjanjian perkawinan dalam Undang-Undang Nimor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan ?
b. Bagaimanakah kedudukann Perjanjian Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam ?
c. Bagaimanakah akibat hukum yang timbul dari pelaksanaan perjanjian perkawinan dan penyelesaiannya
Jika diperhadapkan, permasalahan yang diteliti sebelumnya sebagaimana disebutkan diatas dengan penelitian yang dilakukan ini sangat berbeda. Maka dari itu, penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keaslian dan kebenarannya.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Menurut pendapat Sudikno Mertokusumo kata teori berasal dari kata theoria yang artinya pandangan atau wawasan, kata teori mempunyai banyak arti dan biasanya diartikan sebagai pengetahuan yang hanya ada dalam alam pikiran tanpa
dihubungkan dengan kegiatan yang bersifat praktis.16Teori adalah menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, suatu teori harus diuji dngan menghadapkannya pada fakta – fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.17
Menurut M. Solly Lubis menyebutkan bahwa landasan teori adalah suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang dijadikan bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang merupakan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.18
Teori merupakan generalisasi yang dicapai setelah mengedepankan pengujian dan hasilnya mencakup ruang lingkup dan fakta yang luas.19
16Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, ( Yogyakarta : Cahaya Atma Pusaka, 2012 ), hal 4
17JJ. Wuisman, Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu Sosial, Jilid 1, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1996), hlm. 203.
18M. Solly Lubis , Filsafat Ilmu Dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994), hlm. 80.
19 Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986), hlm. 126.
Sedangkan menurut H.R. Otje Salman dan Anthon F. Susanto. Teori berasal dari kata theoria dalam bahasa latin yang berarti perenungan yang pada gilirannya berasal dari kata thea dalam bahasa Yunani yang secara hakiki menyiratkan suatu yang disebut dengan realitas. Dalam banyak literatur beberapa ahli mengunakan kata ini untuk menunjukan bangunan berpikir yang tersusun secara sistematis, logis (rasional), empiris (kenyataannya ) , juga simbolis.20
Tugas teori hukum ialah memberikan suatu analisis tentang pengertian hukum dan tentang pengertian-pengertian lain yang dalam hubungan ini relevan, kemudian menjelaskan hubungan antara hukum dengan logika dan selanjutnya memberikan suatu filsafat ilmu dari ilmu hukum dan suatu ajaran metode untuk praktek hukum.21
Teori menguraikan jalan pikiran menurut kerangka yang logis, dengam merumuskan masalah penelitian di dalam kerangka teoritis yang relevan sehingga mampu menerangkan masalah tersebut. Adapun kerangka teori yang digunakan adalah Teori Hukum Islam yaitu teori Maqashid Al-Syari’ah yang berarti tujuan- tujuan syari’at¸teori Kepastian Hukum yaitu bahwa dengan adanya hukum setiap orang mengetahui yang mana dan seberapa hak nya dan kewajibannya serta teori perlindungan hukum.
Maqashid al-Syariah terdiri dari dua suku kata, maqshid yang merupakan bentuk jamak dari kata maqashad yang berarti tujuan, dan kata al-syari’ah yang sering
20H.R Otje Salman S dan Anthon F. Susanto, Teori Hukum, mengingat, mengumpulkan dan membuka kembali, (Bandung : PT. Refika Aditama, 2010), hal. 21.
21B. Arief Sidarta, Meuwissen, Tentang pengembangan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum, Dan Filsafat Hukum, (Bandung : PT . Refika Aditama, 2007 ), hal 31
dipahami dalam arti hukum Islam, jadi istilah Maqashid al-syari’ah berarti tujuan syari’at.22
Ulama ushul fiqih mendefenisikan Maqashid al-Syari’ah dengan makna dan tujuan yang dikehendaki syarak dalam mensyariatkan suatu hukum bagi kemaslahatan umat manusia. Sebagai contoh sarak mewajibkan berbagai macam ibadah dengan tujuan untuk menegakan agama Allah S.W.T. Disyari’atkan hukuman zina bagi untuk memelihara kehormatan dan keturunan.23
Dilihat dari segi objeknya, Muhammad Thahir Bin Ashur, ahli ushul fiqih kontemporer asal Tunisia,membagi maqashid al-Syari:ah menjadi tiga macam:24 1. Al-Maqashid al-Ammah (tujuan-tujuan umum).
2. Al-Maqashid al-khassah (Tujuan-tujuan khusus).
3. Almaqashid al-Juz’iyyah yaitu tujuan yang hendak dicapai syarak dalam menetapkan hukum syarak, dalam menetapkan hukum wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah terhadap sesuatu, atau menetapkan sesuatu menjadi sebab, syarat, dan penghalang. Contohnya nikah disyari’atkan untuk memelihara keturunan dan menjaga kehormatan.
Maqashid Al-Syari’ah sebagai prinsip pokok dalam hukum Islam ada 5 tujuan yaitu :25
1. Memelihara agama
22Zamakhsyari, Teori-Teori Hukum Islam dalam Fiqih Dan Ushul Fikih, (Bandung : Cipta Pustaka Media Perintis, 2013), hal.1
23Ibid, hal.2.
24Ibid , hal 6-7
25Ibid, hal 13-25
2. Memelihara jiwa 3. Memelihara Akal 4. Memelihara Keturunan 5. Memelihara Harta
Dalam memelihara keturunan, ajaranIslam memerintahkan para pemuda dan pemudi yang sudah mampu untuk menikah. Bahkan Islam mendorong para wali untuk mempermudah proses nikah dengan tidak menetapkan mahar yang terlalu tinggi sehingga memberatkan para calon suami. Islam menjelaskan kriteria suami ideal dan isteri ideal, hak dan kewajiban suami dan istri, agar dapat terujud keluarga sakinah , mawaddah dan warahmah, sehgingga tujuan dari pernikahan yang kekal abadi dapat terlaksanakan, dan Islam melarang perzinaan dan segala bentuk perbuatan yang dapat menghantarkan pada perzinahan. Perbuatan zina yang dilarang Islam ini bukan hanya mencakup tindak kriminal pemerkosaan, tetapi juga termasuk hubungan seksual diluar nikah walaupun didasarkan atas dasar suka sama suka.26
Perkawinan sebagai bentuk sakral suami istri dalam hidup suatu rumah tangga yang menciptakan kehidupan yang sakinah, mawaddah warahma, Selain itu membina sebuah mahligai rumah tangga atau hidup berkeluarga merupakan perintah agama bagi setiap muslim dan muslimah. Kehidupan dan peradaban manusia tidak akan berlanjut tanpa adanya kesinambungan perkawinan dari setiap generasi manusia.
Karena itu Rasulullah saw menganjurkan kepada umatnya yang telah mampu untuk menikah. Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam
26 Ibid. hal 24.
yang digali dan sumber-sumbernya baik dari alquran, As sunnah dan hasil ijtihad para ulama. Bagi seorang wanita tentu tidak akan hamil tanpa didahului dengan perkawinan,namun ketika terjadi kecelakaan atau seorang wanita hamil yang terjadi diluar pekawinan yang sah, ini bisa dikatakan perzinaan yang didalam nash telah jelas keharamannya.
Teori Kepastian Hukum oleh Van Kant, yang mengatakan bahwa hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap manusia agar kepentingan itu tidak diganggu. Bahwa hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat.27
Teori kepastian hukum menegaskan bahwa tugas hukum itu menjamin kepastian hukum dalam hubungan – hubungan pergaulan kemasyarakatan. Terjadi kepastian yang dicapai” oleh karena hukum”. Dalam Tugas itu tersimpul dua tugas lain yakni hukum harus menjamin keadilan maupun hukum harus tetap berguna.
Akibatnya kadang-kadang yang adil terpaksa dikorbankan untuk yang berguna. Ada 2 (dua ) macam pengertian” kepastian hukum” yaitu kepastian oleh karena hukum dan kepastian dalam atau dari hukum. Kepastian dalam hukum tercapai kalau hukum itu sebanyak-banyaknya hukum undang-undang dan bahwa dalam undang-undang itu tidak ada ketentuan yang bertentangan, undang-undang itu dibuat berdasarkan
“rechtswerkelijheid” (kenyataan hukum) dan dalam undang-undang tersebut tidak dapat istilah-istilah yang dapat di tafsirkan berlain-lainan.28
27C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal.44.
28M. Solly Lubis, Diktat Teori Hukum, disampaikan pada rangkaian Sari kuliah semester II, Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum, USU Medan, 2007, hal. 43.
Menurut Satijipto Raharjo perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.29
2. Kerangka Konsepsi
Kerangka konsepsi merupakan gambaran bagaimana hubungan antara konsep- konsep yang akan diteliti. Salah satu cara untuk menjelaskan konsep-konsep tersebut adalah dengan membuat defenisi. Defenisi merupakan suatu pengertian yang relatif lengkap tentang suatu istilah dan defenisi bertitik tolak pada referensi.30
Dalam penelitian tesis ini, perlu kiranya didefenisikan beberapa pengertian tentang konsep-konsep guna menghindari kesalah pahaman atas berbagai istilah yang dipergunakan dalam penelitian ini, selanjutnya akan dijelaskan maksud dari istilah- istilah tersebut dalam suatu kerangka konsep
a . Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.31 b. Perkawinan wanita hamil karena zina adalah seorang wanita yang hamil karena
zina sebelum melangsungkan akad nikah, kemudian dinikahi oleh pria yang menghamilinya.32
29Satijipto Raharjo, Ilmu Hukum ( Bandung: PT. Citra Aditya Bakti , 2000) hal.53
30Amiruddin dan H.Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hal.47-48
31H. Zainuddin Ali, op.cit,hal. 7
32 Ibid. hal.45
c. Wanita hamil yaitu wanita hamil dengan akibat oleh suami yang sah atau wanita hamil akibat zina.
d. Kompilasi Hukum Islam adalah kumpulan hukum-hukum yang terkodifikasi sebagai hukum yang dijadikan sumber hukum Islam di dalam tatanan masyarakat dan peradilan agama setelah Al-Qur’an dan Hadist.
e. Status adalah Keadaan atau kedudukan (orang atau badan hukum dan sebagainya yang berhubungan dengan masyrakat sekeliling.33
G. Metode Penelitian
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah penelitian hukum yuridis normatif atau penelitian hukum doctrinal yaitu penelitian hukum yang menggunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap azas-azas hukum, sumber –sumber hukum, teori hukum, buku-buku, peraturan perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa permasalahan yang dibahas.34
Penelitian hukum normatif atau penelitian hukum doctrinal dikonsepkan
33Andi Hamza, Kamus Hukum,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986) hal 98
34Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2010 ), hal 13-14.
Sebagai apa yang tertulis didalam peraturan perundang-undangan ( law in the books ) atau hukum yang dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas.35
Penelitian hukum doctrinal dilakukan dengan cara melakukan pengumpulan peraturan perundang-undangan, Peraturan itu dikumpulkan dengan cara mengoleksi publikasi-publikasi dan dokumen-dokumen yang mengandung peraturan hukum positif. Setelah bahan-bahan tersebut terkumpul, kemudian di klasifikasi secara sistematis untuk melakukan inventarisasi data sebagai bahan perpustakaan saat melakukan penelitian serta mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundangan di Indonesia.36
Penelitian ini bersifat deskripsi analitis, yang mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian.37
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan perundang-undangan (statute approach) yang dilakukan dengan mencari dan menelaah semua peraturan perundang- undangan dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Oleh karena itu untuk memecahkan suatu isu hukum harus menelusuri berbagai produk peraturan perundang-undangan.38
35Muslan Abdurrahman, Sosiologi Dan Metode Penelitian Hukum, ( Malang : UMM Pers, 2009 ), hal. 127.
36Bambang Sunggono, metodologi Penelitian Hukum, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2011), hal.
81-82
37Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2009 ), hal.105.
38Peter Mahmud Marzuki, op.cit, hal .93.
Dalam hal ini dilakukan studi pustaka yang segala sesuatunya berkaitan dengan pengaturan hukum mengena Status Anak Yang Dilahirkan Dari Perkawinan Wanita Hamil Karena zina Menurut Kompilasi Hukum Isalm Dan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 ahun 1974 Tentang Perkawinan.
2. Sumber Data Penelitian
Berhubung karena metode penelitian ini adalah penelitian hukum normatif maka sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari bahan penelitian yang berupa bahan-bahan hukum, yang terdiri darin bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui studi dokumen terhadap bahan kepustakaan dan data yang dikumpulkan melalui dokumen dan wawancara.
a. Bahan Hukum Primer yaitu : bahan-bahan hukum atau dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang berupa bahan pustaka yang berisikan peraturan perundang-undangan, yang antara lain terdiri dari :
1. Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahaun 1974 tentang Perkawinan.
2. Kompilasi Hukum Islam.
3. Peraturan Perundangan lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
4. Alqur’an dan hadist
b. Bahan Hukum sekunder yaitu : bahan-bahan hukum yang berkaitan erat dan memberikan penjelasan bahan hukum primer yang ada dan dapat membantu
untuk proses analisis seperti buku- buku yang ditulis para ahli hukum, doktrin/
pendapat/ ajaran dari para ahli hukum, hasil seminar, jurnal-jurnal hukum, karya ilmiah , artikel majalah, maupun Koran serta artikel-artikel sumber dari dunia maya / internet yang memiliki kaitan erat dengan dengan permasalahan yang menjadi objek penelitian dan lain-lain.
c. Bahan Hukum Tersier yaitu : semua bahan yang memberikan petunjuk, penjelasan dan keterangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus umum, , ensiklopedia dan lain-lain.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan studi pustaka, yaitu menghimpun data dari hasil penelaahan bahan pustaka dan data sekunder dan baham hukum tersier. Untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier, dalam penelitian ini akan menggunakan alat penelitian:
a. Studi dokumen/ pustaka atau penelitian pustaka (library research) dengan cara mengumpulkan semua peraturan perundangan, dokumen-dokumen hukum dan buku-buku yang berkaitan dengan rumusan masalah penelitian.39 b. Wawancara (interview)
39Mukti Fajar ND dan Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris.
(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010. Hal.156-159.
Untuk melengkapi data yang diperoleh disamping data sekunder, untuk menambah data dalam penelitian ini akan dipergunakan cara memperoleh data dari informan, yaitu pelaku perkawinan wanita hamil karena zina (3) orang.
4. Analisis Data
Dalam penelitian ini bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier yang sebelumnya telah disusun secara sistematis kemudian akan dianalisa dengan menggunakan prosedur logika ilmiah yang sifatnya kualitatif.
Kualitatib berarti akan dilakukan penelitian analisa data yang bertitik tolak dari penelitian terhadap asas atau prinsip sebagaimana yang diatur di dalam bahan hukum primer dan kemudian akan dibahas lebih lanjut menggunakan sarana pada bahan hukum sekunder, yang tentunya akan diupayakan penggayaan sejauh mungkin
dengan didukung oleh bahan hukum tersier. Dalam hal peneliti ini menggunakan metode deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari yang umum ke yang khusus.40
Adapun tahapan untuk menganalisa bahan-bahan hukum yang telah ada tersebut, secara sederhana dapat diuraikan dalam beberapa tahapan :
1. Tahapan pengumpulan data, yakni mengumpulkan dan memeriksa bahan- bahan pustaka misalnya ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang akan diteliti.
2. Tahapan pemilihan data, dalam tahapan ini seluruh data yang telah dikumpulkan sebelumnya akan dipilah-pilah secara sistematis dengan
40Zainuddin Ali, op cit, hal 105.
mempedomani konteks yang sedang diteliti, sehingga akan lebih memudahkan dalam melakukan kajian lebih lanjut terhadap permasalahan didalam penelitian tesis ini.
3. Tahapan analisis data dan penulisan hasil penelitian, sebagai tahapan klimaks dimana seluruh data yang telah diperoleh dan dipindah tersebut akan dianalisa dengan seksama dengan melakukan interprestasi/ penapsiran yang diperlukan dengan berpedoman terhadap konsep, asas kaidah hukum yang dianggap relevan dan sesuai dengan tujuan utama dari pada penelitian ini. Hasil penelitian kemudian akan ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode pendekatan deduktif. Kesimpulan adalah merupakan jawaban khusus atas permasalahan dalam penelitian ini.