• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Biology Education Volume 9 Nomor 1 April 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Biology Education Volume 9 Nomor 1 April 2020"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Biology Education Page 8 OBSERVASI PERILAKU HARIAN PRIMATA MONYET EKOR PANJANG (Mascaca

fascicularis) BERDASARKAN ETNO EKOLOGI DI KAWASAN GUNUNG GEURUTEE KABUPATEN ACEH JAYA

Azwir1, Jalaluddin2, dan Said Faisal3

1,2 Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Serambi Mekkah 3Hahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Serambi Mekkah

ABSTRAK

Monyet Ekor Panjang adalah salah satu fauna yang menjadi daya tarik wisatawan di Gunung Geurutee Aceh Jaya. Perilaku harian Monyet Ekor Panjang adalah salah satu aspek yang harus diketahui untuk kepentingan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Gunung Geurutee. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Pengamatan perilaku Monyet Ekor Panjang dilakukan pada tiga kelompok yang masing-masing terdapat pada di sebelah barat, utara dan timur Geurutee. Metode pengamatan perilaku Monyet Ekor Panjang yang digunakan adalah Scan Sampling. Setiap kelompok Monyet Ekor Panjang diamati sebanyak tiga kali, masing-masing selama 120 menit dengan interval waktu 5 menit. Perilaku Monyet Ekor Panjang di sebelah barat dari tinggi ke rendah adalah bergerak (39,26%), makan (17,66%), inaktif (13,96%) grooming (11,55%), bersuara (9,8%), bermain (4,04%), agonistik (2,03%), tidur (1,6%), dan kawin (0,1%). Perilaku Monyet Ekor Panjang di sebelah timur dari tinggi ke rendah adalah bergerak (37,28%), bersuara (15,2%), makan (14,53%), inaktif (12,3%), grooming (11,16%), agonistik (4.6%), bermain (3,63%), tidur (1,17%), dan kawin (0,13%) dan Perilaku Monyet Ekor Panjang di sebelah utara dari tinggi ke rendah adalah bergerak (38,03%), makan (28,64%), inaktif (13,2%), bersuara (10,14%), grooming (6,42%), agonistik (1,9%), bermain (1,17%), dan tidur (0,5%). Terdapat 9 jenis pada titik pengamatan sebelah barat dan timur, sedangkan pada titik pengamatan sebelah utara terdiri atas 8 jenis perilaku. Rata-rata persentase perilaku Monyet Ekor Panjang dari yang tinggi ke rendah adalah bergerak, makan, inaktif, bersuara, grooming, bermain, agonistik, tidur dan kawin.

Kata Kunci: Perilaku, Macaca fascicularis, Scan Sampilng, Geurutee

PENDAHULUAN

Primata adalah mamalia yang menjadi anggota ordo biologi Primates. Didalam ordo ini termasuk lemur, tarsius, monyet, kera, dan juga manusia (Hominid). Primates berasal dari bahasa latin yang berarti pertama, seluruh primata memiliki lima jari, bentuk gigi yang sama, dan rancangan tubuh primitif. Kekhasan lain dari primata adalah kuku jari, ibu jari dengan arah yang berbeda juga menjadi salah satu ciri khas primata. Menurut Reece dkk, (2000: 275). Indonesia adalah Negara yang kaya akan berbagai jenis satwa liar, salah satunya adalah Primata. Dari sekitar 195 jenis primata yang ada, 40 jenis ditemukan di Indonesia, dan 24 jenis diantaranya merupakan satwa endemik yang hanya hidup di Indonesia. Monyet ekor

(2)

Jurnal Biology Education Page 9 Panjang (Macaca fascicularis). Macaca fascicularis merupakan salah satu jenis primata endemik, Indonesia memiliki keragaman ekosistem hutan seperti hutan primer dan hutan sekunder yang disukai Macaca fascicularis sebagai tempat bersarang. Macaca fascicularis biasa mencari makan hingga ke arah laut dan lintas jalan pantai. Macaca fascicularis yang hidup di daerah hutan mangrove pada umumnya turun ke tanah pada saat air laut surut untuk memakan kepiting atau jenis moluska lainnya (Diar: 2012). Monyet ekor panjang termasuk jenis primata sosial yang dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari interaksi sosial atau hidup bersama dengan yang lain (Suwarno, 2014). Interaksi sosial yang dilakukan oleh monyet ekor panjang menimbulkan munculnya berbagai aktifitas yang berbeda antar individu dalam populasi. Lee (2012).

Geurute adalah sebuah gunung yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Besar, sekitar 1 Jam 30 Menit dari Kota Banda Aceh, ibukota provinsi Aceh. Gunung ini menjadi lintasan jalan nasional menuju kawasan barat selatan Aceh. Geurutee juga merupakan bagian dari hutan Ulu Masen yang kini dinobatkan sebagai salah satu hutan penyuplai oksigen kepada dunia. Gunung ini punya jurang yang sangat dalam dan langsung berbatasan dengan bibir pantai Samudra Hindia. Ciri khas dari Geurutee ialah sebuah monumen yang berbentuk runcing sebagai tanda bahwa pengunjung berada pada posisi pendakian tertinggi pegunungan.

Perilaku merupakan kebiasaan-kebiasaan satwa liar dalam aktifitas hariannya seperti sifat kelompok, waktu aktif, wilayah pergerakan, cara mencari makan, cara membuat sarang, hubungan sosial, tingkah laku bersuara, interaksi dengan spesies lainnya, cara kawin dan melahirkan anak. (Suhara: 2012) menyatakan bahwa perilaku merupakan tindakan atau aksi yang mengubah hubungan antara organisme dan lingkungannya. Perilaku dapat terjadi sebagai akibat suatu stimulus dari luar. Menurut Karimullah (2012), monyet ekor panjang hidup mengelompok terdiri dari banyak jantan dan banyak betina (multi-male multi-female) dengan sistem perkawinan tidak pilih-pilih. Ukuran kelompok antara 5-40 ekor dengan satu kelompok terdapat 2-5 pejantan dan jumlah betina 2-5 kali lipatnya serta salah satu monyet jantan sebagai pemimpin kelompok. Monyet ekor panjang di kawasan Gunung Geurute, Aceh Jaya, hidup dalam populasi yang besar. Secara teori prilaku yang di lakukan monyet ekor panjang di Gunung Geurute menjadi topik penelitian terbaru, seperti kebiasaan monyet dalam mencari makanan. Setia hari aktifitas monyet tidak lagi di dalam hutan tetapi menghabiskan waktu di pinggir jalan serta mengharapkan makanan yang di lempar oleh pengendara yang melewati

(3)

Jurnal Biology Education Page 10 gunung Geurute. Sehingga aktifitas monyet ekor panjang berprilaku perubahan hampir 80% dari aktifitas kebiasaan dalam kehidupan sebenarnya

LANDASAN TEORI

Menurut Walters (2006 : 238) Macaca fascicularis adalah monyet dengan habitat yang tersebar dari Africa Utara, Timur Tengah, dan Asia,termasuk Filipina dan Indonesia. Habitat

Macaca fascicularis sering terdapat di hutan hujan tropis, hutan mangrove, dan bahkan di

bangunan-bangunan seperti kuil. Mereka dapat bertahan pada musim salju dan es. Bentuk dan ciri dari monyet yang termasuk sub suku Cercophitecinae atau monyet dengan kantung pipi ini memiliki panjang tubuh sekitar 40-50 cm, sementara panjang ekor 1 hingga 1,5 kali panjang tubuh dan kepala berwarna coklat keabu-abuan atau kemerah-merahan dengan bulu berwarna coklat abu-abu hingga coklat kemerahan sedangkan wajahnya berwarna abu-abu kecoklatan denga jambang pipi berwarna abu-abu, terkadang terdapat jambul diatas kepala. Marwa (2010) menambahkan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah salah satu satwa primata yang diketahui dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk pangan, obat-obatan, kepuasan/peliharaan, rekreasi dan pendidikan/penelitian.

Habitat merupakan suatu lingkungan yang mempunyai kondisi tertentu sehingga suatu spesies atau komunitas dapat hidup. Habitat memiliki kapasitas tertentu untuk mendukung kelangsungan hidup dari suatu organisme atau disebut daya dukung (Molles, 2014). Monyet Ekor Panjang biasanya hidup pada hutan primer dan sekunder, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 1000 meter di atas permukaan laut. Pada dataran tinggi, spesies monyet ini biasanya dijumpai pada daerah pertumbuhan sekunder atau pada daerah- daerah perkebunan penduduk. Dalam memilih pohon tidur, monyet ini lebih menyukai pohon yang tumbuh di sekitar tepian sungai, tujuannya untuk memenuhi kebuhan seperti makanan.

Selain makanan monyet ekor panjang memiliki berperilaku dalam menghadapi suatu respon. Perilaku seekor satwa adalah bagian dari perlengkapan demi kelangsungan hidupnya. Tiap pola perilaku mempunyai fungsi penyesuaian yang khusus dan tertentu yang umumnya dihubungkan dengan salah satu fungsi umum. Sekelompok pola perilaku dengan fungsi-fungsi umum yang sama memebentuk suatu sistem perilaku . perilaku dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu perilaku individu dan perilaku social menurut Dian, (2016). Adapun perilaku harian monyet ekor panjang diantaranya bergerak (berpindah tempat), grooming, bermain, inaktif, makan, agonistik (berkelahi), tidur, kawin, dan bersuara Menurut Dewi, (2014).

(4)

Jurnal Biology Education Page 11 Bergerak menurut Lee (2012) merupakan kegiatan berjalan, memanjat, melompat dan berpindah tempat. Dilihat dari cara bergeraknya, monyet ekor panjang merupakan salah satu satwa primata yang menggunakan kaki depan dan belakang dalam berbagai variasi berjalan dan berlari (quan- drapedalisme).

Adapun klasifikasi ilmiah pada primata jenis Macaca fascicularis dalam ilmu biologi menurut Raffles (1821) sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Primata Famili : Cercopithecidae Genus : Macaca

Species : Macaca fascicularis Gambar Monyet Ekor Panjang

(Sumber : commons.wikimedia.org) Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan satwa primata yang menggunaka kaki depan dan belakangnya untuk berjalan dan berlari (quadrupelism), memiliki ekor yang lebih panjang dari panjang kepala dan panjang badan, memiliki bantalan duduk (ischial sallosity) serta memiliki kantong makanan di pipi (Cheek pouches) Monyet ekor panjang memiliki panjang ekor sekitar 127,55% dari panjang tubuh serta memiliki panjang tangan sekitar 87,94% dari panjang kaki (Sukabudhi,1993). Panjang kepala dan badan monyet ekor panjang berkisar antara 400 - 565 mm, telapak kaki belakang berkisar antara 120 - 140 mm, tengkorak 120 mm dan telinga 34 - 38 mm. Supriatna dan Wahyono (2000)

Penyebaran dari monyet ekor panjang meliputi pulau Sumatera, Kalimantan, Bangka, Belitung dan pulau-pulau sekitarnya. Lalu Kepulauan Tambelan, Natuna, Nias, Jawa, Bali, Bawean, Maratua, Lombok, Sumba, Sumbawa dan Flores. Di luar Indonesia,monyet ekor panjang dapat ditemukan di Myanmar, Indo-Cina, Filipina dan Semenanjung Malaya (Supriatna, 2000). Populasi monyet ekor panjang secara umum masih dianggap aman. Bahkan di Indonesia, primata ini juga bukan termasuk salah satu binatang yang dilindungi.

METODE PENELITIAN

penelitian yang bersifat kualitatif, yaitu Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian Studi Perilaku Monyet Ekor Panjang di Gunung Geurute Kabupaten Aceh Jaya adalah deskriptif eksploratif dengan secara langsung turun kelapangan dan data bentuk perilaku harian primata monyet ekor panjang (Mascaca fascicularis) dengan menggunakan

(5)

Jurnal Biology Education Page 12 penelitian survei, baik survei primer maupun sekunder. Sedangkan Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober S/d 20 November 2019. Sedangkan lokasi penelitian didaerah bagian barat, timur dan utara Gunung Geurute Kabupaten Aceh Jaya.

Tabel 1. Jenis Alat yang Akan digunakan pada Penelitian

No Nama Alat Kegunaan

1 Arloji/Mesin Waktu Menentukan arah dan titik koordinat sampling 2 Camera digital Dokumentasi

3 Alat tulis dan buku Mencatat data penelitian 4 Teropong Meperjelas dalam pengamatan 5 Buku Referensi Alat bantu analisis data

6 Tally sheet pengamatan Menetukan lokasi penelitian

Bahan yang digunakan studi perilaku monyet ekor panjang di Gunung Geurute Kabupaten Aceh jaya adalah populasi monyet ekor panjang yang ada di Gunung Geurute Kabupaten Aceh Jaya. Pengamatan langsung dilakukan dengan metode Scan Sampling yaitu metode pencatatan perilaku lebih dari satu individu dalam satu populasi per waktu yang sudah ditentukan sebelumnya yaitu mengamati 10 individu selama 3 jam dengan interval waktu 5 menit. Pengamatan dilakukan di 3 titik yaitu sebelah barat, timur dan utara. Penentuan lokasi tersebut didasarkan karena pada lokasi tersebut merupakan tempat yang biasa di tempati oleh populasi monyet ekor panjang. Pengamatan dilakukan dengan mengamati dan mencatat setiap aktivitas monyet ekor panjang yang teramati yaitu aktifitas bergerak (berpindah tempat),

grooming (menelisik), bermain, inaktif (istirahat), makan, agonistik (berkelahi), tidur, kawin,

dan bersuara selama 3 jam dengan interval waktu 5 menit.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan pengamatan di lapangan, terdapat 9 macam perilaku Monyet Ekor Panjang di titik pengamatan sebelah barat dan timur. Pada pengamatan sebelah utara hanya ditemukan 8 macam perilaku Monyet Ekor Panjang. Perilaku tersebut antara lain: bergerak,

(6)

Jurnal Biology Education Page 13 Gambar 1 Persentase Perilaku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) pada 3 titik

pengamatan

a. Bergerak

Bergerak merupakan perilaku yang paling sering dilakukan di semua titik pengamatan. Berdasarkan riset tersebut, persentase bergerak Monyet Ekor Panjang di Gunung Geurute paling tinggi terdapat pada bagian tengah (27,7%) dan terendah pada bagian utara Geurute. Kategori perilaku yang termasuk dalam bergerak yang teramati yaitu perilaku berpindah, berjalan dan berloncat. Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh Alanindra et al (2015) dengan persentase perilaku bergerak (35%) paling tinggi dibandingkan dengan yang lain. b. Grooming

Grooming, dapat diketahui bahwa aktifitas sosial Monyet Ekor Panjang di Gerute

bagian Timur tergolong rendah karena perilaku grooming menunjukkan aktifitas sosial Monyet Ekor Panjang Jenis grooming yang teramati pada ketiga titik pengamatan adalah

allogroming grooming yang dilakukan secara berpasangan atau dilakukan dengan individu

lain. Persentase perilaku grooming disetiap titik berbeda-beda. Perbedaan persentase perilaku

grooming pada titik pengamatan yang berbeda juga ditemukan oleh Komang et al (2014).

c. Bermain

Bermain merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh primata muda, baik itu dengan individu lain maupun dengan objek benda tertentu. Perilaku bermain dipengaruhi oleh usia dan objek-objek tertentu. Semakin bertambahnya usia maka aktifitas bermain semakin berkurang. Selain itu juga monyet hanya bermain dengan objek benda tertentu apabila ada suatu benda yang menarik perhatian Monyet Ekor Panjang. Adapun kategori bermain yang teramati di Gunung Geurute yaitu berkejaran, berayun, berguling dan pura-pura bertengkar.

(7)

Jurnal Biology Education Page 14 Persentase perilaku bermain berkisar antara 1,17% - 4,04%. Perilaku bermain pada ketiga titik pengamatan tidak jauh berbeda dengan riset yang dilakukan oleh Sari et al (2014), Azhari et

al (2012), dan Risha et al (2016). Persentase bermain pada ketiga riset tersebut berturut-turut:

4,63%, 3,40% dan 0,50%. d. Inaktif

Perilaku inaktif merupakan perilaku istirahat Monyet Ekor Panjang. Perilaku inaktif dilakukan ketika Monyet Ekor Panjang merasa kelelahan pada saat bergerak mencari makan dan inaktif. Persentase perilaku inaktif lebih tinggi jika dibandingkan dengan perilaku

grooming dan bermain. Aktifitas yang termasuk kategori perilaku inaktif adalah diam, duduk,

dan berdiri tanpa melakukan aktifitas apapun. Persentase perilaku inaktif Monyet Ekor Panajang sekitar 12,3% - 13,96%. Persentase perilaku inaktif di ketiga titik pengamatan mirip dengan riset yang dilakukan oleh Alinindra et al (2015) yang menemukan persentase inaktif Monyet Ekor Panjang (10%) Perilaku inaktif merupakan perilaku istirahat Monyet Ekor Panjang.

e. Makan

Perilaku makan yang teramati diantaranya memililih, mengambil dan memasukkan ke dalam mulut. Jenis makanan yang dimakan oleh Monyet Ekor Panjang antara lain buah-buahan, daun muda dan daun kering. Aktifitas makan banyak dilakukan pada pagi hari sampai dengan tengah hari hingga aktifitas makan cendrung semakin menurun. Berdasarkan pengamatan, aktifitas makan mulai tinggi pada pukul 08.00 – 10.30. Aktifitas makan mulai menurun mulai pukul 11.00. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tito (2017) yang menyatakan bahwa perilaku makan Monyet Ekor Panjang tinggi pada pagi hari pukul (06.00 – 10.00) dan menurun pada siang hari pukul (10.00 – 14.00).

f. Agonistik

Persentase perilaku agonistik pada setiap titik pengamatan berbeda-beda. Perbedaan persentase perilaku agonistik juga ditemukan oleh Komang et al (2014). Berdasarkan riset tersebut, persentase agonistik yang paling tinggi terdapat pada kelompok belakang sedangkan yang terendah pada kelompok tengah Gunung Gerute. Perilaku agonistik merupakan perilaku bertengkar Monyet Ekor Panjang. Aktifitas yang dikategorikan kedalam perilaku agonistik yang teramati adalah marah, mengejar dan bertengkar

(8)

Jurnal Biology Education Page 15 Pada riset tersebut, persentase perilaku tidur yang teramati di Gunung Gerute berada pada urutan ketiga terendah dari keseluruhan perilaku yang teramati dengan persentase (2,3%). Perilaku tidur biasanya dilakukan bersamaan ketika melakukan grooming dengan pasangannya (allogroming). Perilaku tidur merupakan perilaku yang biasa dilakukan oleh individu monyet ketika merasa mengantuk dengan merebahkan badannya pada tajuk pohon atau duduk sambil memejamkan mata. Adapun kategori perilaku tidur yang teramati di Gunung Gerute yaitu duduk sambil memejamkan mata dan merebahkan badan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan riset yang dilakukan oleh Alinindra et al (2015). Pada riset tersebut, persentase perilaku tidur yang teramati berada pada urutan ketiga terendah dari keseluruhan perilaku yang teramati dengan persentase (2,3%).

h. Kawin

Perilaku kawin merupakan perilaku yang paling jarang dilakukan pada semua titik pengamatan, bahkan pada titik pengamatan sebelah utara, perilaku kawin sama sekali tidak teramati. Siklus estrus Monyet Ekor Panjang berkisar antara 26 – 32 hari. Periode estrus biasanya terjadi antara 3 – 4 hari dan ovulasi terjadi pada hari kedua belas atau ketigabelas dari siklus estrus. Implantasi biasanya terjadi antara 15 – 21 hari setelah fertilisasi. Hal yang sama juga terjadi pada riset yang dilakukan oleh Risha et al (2016). Berdasarkan riset tersebut, perilaku kawin merupakan perilaku yang paling jarang dilakukan dengan persentase 0,20%. Hal ini diduga karena Monyet Ekor Panjang belum memasuki masa kawin. Jatna (2016) menemukan bahwa aktifitas kawin dilakukan pada periode aktif

i. Bersuara

Perilaku bersuara terjadi ketika monyet ekor panjang bergerak mencari makan bertujuan untuk memberi petunjuk kepada kelompoknya untuk berkumpul, ketika agonistik atau bertengkar bertujuan untuk menakuti musuhnya dan menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dari lawannya, ketika musuh atau kelompok lain mendekati wilayahnya untuk mengusir musuh dan menandai batas wilayah kekuasaannya. Aplikasi bersuara dilakukan sebagai penandaan daerah teritori, posisi individu menemukan daerah tempat makanan dan keadaan tertentu seperti adanya bahaya atau dalam posisi terancam (Fuardi, 2008).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa perilaku harian Monyet Ekor Panjang di Gunung Geurute terdiri atas 9 jenis perilaku pada titik pengamatan sebelah barat dan timur, sedangkan pada titik pengamatan di bagian terdiri atas 8 jenis perilaku. Persentase

(9)

Jurnal Biology Education Page 16 perilaku Monyet Ekor Panjang dari yang tinggi ke rendah adalah bergerak, makan, inaktif, bersuara, grooming, bermain, agonistik, tidur dan kawin.

DAFTAR PUSTAKA

Alanindra Saputra, et al, 2015 “Studi Perilaku Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu Kabupaten Karanganyar”. Bioeksperimen, Vol.1, Nomor 1, 2015, hlm. 6, 9 dan 10.

Azhari et al (2012), “Pola Aktivitas Stratifikasi Vertikal Oleh Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821) di Fasilitas Penangkaran Semi Alami Pulau Tinjil, Provinsi Banten”. Jurnal Zoo Indonesia.21(1), hlm. 43 dan 44.

Dewi Puspita, Suwarno dan Marjono, 2014. “Studi Perilaku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Di Taman Wisata Alam Grogojan Sewu Tawangmangu Karang Anyar”. Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dian Ratna Widianti, 2016 “Perilaku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan pengaruhnya terhadap pengolahan lahan hutan rakyat”. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Fuardi, dkk, 2008“Aktivitas Harian Lutung Jawa (Trachypithecus auratus sondacius) di Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi Jawa Barat”, Jurnal Biodjati, Vol.39, Nomor 47, November 2016, hlm. 43.

Jatna Supriatna dan Rizki Ramadhan, 2000 Pariwisata Primata Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesi. 2016.

Lee, K. 2012. “Proyeksi Anomali Perilaku Stereotipe Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Sitaan Sebagai Hewan Model Neuropsikopatologi”. Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Risha Catra Pradhany, Sri Kayatu Widiastuti, dan I Nengah Wandia, 2016“Aktifitas Harian

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang Telah di Vasektomi di Wenara Wana Ubud”, Indonesia Medecus Veterinus, Vol. 5, Nomor 3, Juni 2016, hlm. 245.

Tito Wasito,2017 “Identifikasi Jenis Pakan dan Perilaku Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Blok Perlindungan Taman Wisata Alam Suranadi”. Skripsi, Program studi Kehutanan, Universitas Mataram.2017.

Walters et. al. (2006). Causes anf Motovations of hate crime. Manchester; Equality and Human Right Commission.

Gambar

Tabel 1.  Jenis Alat yang Akan digunakan pada Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor

Pengadilan Negeri Bangil merupakan bagian lingkungan peradilan umum di bawah Mahkamah Agung RI sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan

All that parcel of land together with the building thereon and appurtenances thereof situate at Jalan Patingan, Kuching, containing an area of 483.2 square metres, more or less,

tumbuh di tanah, daun berwarna hijau muda bergerigi kecil-kecil, permukaan daun kasar,batang berwarna hijau kecoklatan, akara berbentuk serabut, tumbuhan ini juga sporanya

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada setting alamiah (natural setting), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada

Penelitian kualitatif benar-benar melihat fenomena asli yang terjadi tanpa merusak gejala yang telah ada secara alamiah sehingga dengan objek kajian penelitian ini yaitu

Selanjutnya, model konseptual yang telah disusun disosialisasikan dan didiskusikan lagi dengan warga belajar dan tutor sebagai bagian dari proses dalam penelitian..

Berdasarkan penelitian di MAN Keumbang Tanjong dan hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan peneliti dengan menggunakan uji-t pada taraf signifikan α = 0,05