• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka 1. Tinjauan Tentang Teori Belajar

b. Pengertian Teori Belajar

Snelbecker menyatakan bahwa teori berarti sejumlah prosisi yang terintegrasi secara sintaktik (mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara logis proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya dan juga pada data yang di amati.) serta dapat digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati (Dahar, 2011: 12). Suprijono (2010: 15) menyatakan bahwa teori merupakan perangkat prinsip-prinsip yang terorganisasi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan. Teori dapat diartikan sebagai hubungan kausalitas dam proposisi-proposisi. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa teori merupakan suatu penjelasan mengenai hubungan antara suatu proposisi deng proposisi lainnya yang berupa gagasan.

Gagne menyatakan bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang malalui aktivitas, sedangkan Travers menyatakan bahwa belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku (Suprijono, 2010: 2). Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri sendri setiap orang sepanjang hidupnya (Arsyad, 2014: 1).

Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang untuk memperoleh penguasaan dan penyerapan informasi dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui proses interaksi antara individu dengan lingkungan digunakan dengan mendiskripsikan perubahan potensi perilaku yang berasal dari pengalaman sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku yang bersifat positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, perilaku maupun psikomotorik yang sifatnya permanen (Fathurrohman, 2017 8). Beberapa teori yang di uraikan dapat diambil simpulan bahwa belajar

(2)

adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh ilmu pengetahuan bisa melalui interaksi lingkungan untuk perubahan perilaku pada individu.

Teori belajar merupakan suatu perangkat pernyatan umum yang di gunakan untuk menjelaskan hal-hal yang terjadi didalam kegiatan belajar (Pamawi, 2019: 77). Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa teori belajar adalah konsep yang sudah teruji melalui eksperimen dan dapat menjelaskan sesuatu yang terjadi di dalam proses dan kegiatan belajar.

c. Aliran-Aliran Teori Belajar

Suyono & Hariyanto (2014: 55) menyatakan bahwa banyak aliran psikologi serta konsep hasil pemikiran ahli pendidikan yang mendasari teori belajar namun banyak sumber yang cenderung mengelompokkan hanya menjadi dua aliran besar yaitu behaviorisme dan konstruktivisme.

1) Aliran Balajar Behaviorisme

Daryanto (2012: 2) menyatakan bahwa belajar merupakan transmisi pengetahuan dari expert ke notice. Praktek pendidikan yang bersifat indokrinasi sehingga akan berdampak pada penjinakan kognitif para siswa, menghalangi perkembangan kreativitas siswa dan memenggal peluang siswa untuk mencapai higher order thninking.

2) Aliran Belajar Kontruktivisme

Daryanto (2012: 2-3) menyatakan bahwa belajar merupakan hasil konstruksi sendiri (pebelajar) sebagai hasil interaksinya terhadap lingkungan belajar. Pengkontruksian pemahaman dalam belajar dapat melalui proses asimilasi atau akomodasi. Paradigma konstruktivisme tentang belajar memiliki prinsip mediated instruction yang menempati posisi cukup strategis dalam rangka mewujudkan proses belajar secara optimal.

Fieda N (2020: 42) menyatakan bahwa ada lima aliran belajar, yaitu aliran belajar behavirisme, aliran belajar sosial, aliran belajar kognitivisme, aliran belajar konstruktivisme, dan aliran belajar humanisme.

(3)

1) Aliran belajar behaviorisme, menurut Ivan Pavlov yaitu suatu bentuk belajar yang memungkinkan munculnya respon tertentu dari suatu organisme terhadap suatu rangsangan yang sebelumnya tidak menimbulkan respon tersebut.

2) Aliran belajar sosial, menurut Albert Bandura aliran belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya.

Berbeda dengan penganut behaviorisme lainnya. Bandura memandang perilaku individu semata-mata reflek otomatis atas stimulus melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri.

3) Aliran belajar kognitivisme, menurut J. Brunner dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase yaitu informasi, transformasi, dan evaluasi.

4) Aliran belajar konstruktivisme, dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif yaitu tindakan menciptakan sesuatu makna dari apa yang dipelajari.

5) Aliran belajar humanisme, yaitu proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, aliran belajar humanisme bersifat lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, kepribadian, dan psikoterapi.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa didalam teori belajar terdapat bermacam-macam aliran yaitu terdapat aliran behaviorisme yang berdasarkan respon dari kejadian yang terjadi.

Aliran kontruktivisme yang berdasarkan penciptaan dari seseorang sendiri.

Aliran humanisme yang berdasarkan kepentingan orang lain d. Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Baharuddin & Wahyuni (2015: 23-34) menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar di bedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal, dengan uraian sebagai berikut:

(4)

1) Faktor Internal, merupakan faktor yang bersal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor ini terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis.

a) Faktor Fisiologis, adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu yang di bedakan menjadi dua macam yaitu keadaan jasmani dan fisiologi

b) Faktor Psikologis, adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar, faktor psikologis utama yang dapat mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat

2) Faktor Eksternal, merupakan faktor yang berasal dari luar individu yang di bedakan menjadi dua jenis yaitu lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial

a) Lingkungan Sosial, terdiri dari tiga macam yaitu lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial masyarakat, dan lingkungan sosial keluarga.

b) Lingkungan Nonsosial, terdiri dari tiga macam yaitu lingkungan alamiah, faktor instrumental, dan faktor materi pelajaran.

Menurut Gestalt dalam Susanto (2013: 12) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi belajar terdiri dari dua hal yaitu siswa itu sendiri dan lingkungannya dengan uraian sebagai berikut:

1) Siswa, dalam artian kemampuan berfikir atau tingkah laku intelektual, motivasi, minat dan kesiapan siswa, baik jasmani atau rohani.

2) Lingkungan, yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan, dan keluarga.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar terdiri dari dua hal, yaitu internal dan eksternal. Internal dapat berupa motivasi siswa sendiri dan eksternal dapat berupa lingkungan yang ada disekitar siswa.

(5)

2. Tinjauan Tentang Pembelajaran Kewirausahaan a. Pengertian Tentang Pembelajaran

Menurut para ahli, Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan di buat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar (Isjoni, 2016: 11). Didukung dengan pendapat Suprijono (2010: 13) menyatakan bahwa pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan mempelajari.

Guru dalam pembelajaran adalah guru yang menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didik untuk mempelajarinya. Pembelajaran merupakan proses organik dan konstruksif, bukan mekanis seperti pengajaran.

Gagne dan Briggs (1979) mengartikan pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar. Di dalamnya berisi serangkaian peristiwa yang dirancang untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa (Kosasih, 2014: 8). Definisi lain, pembelajaran diartikan sebagai suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk menjadikan seseorang bisa mencapai tujuan kurikulum (Kosasih, 2014: 8).

Di dalam lampiran permendikbud No 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan potensi dalam hal sikap, pengetahuan, dan ketrampilannnya. Kegiatan pembelajaran harus diarahkan untuk menfasilitasi pencapaian kompetensi yang telah di rancang dalam kurikulum agar setiap siswa mampu menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat (Kosasih, 2014: 8). Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa pembelajaran adalah proses mentransfer ilmu dari tenaga pendidik ke siswa dengan beragam metode.

b. Pembelajaran Kewirausahaan

Kurikulum SMK (1999) mengungkapkan bahwa Mata diklat kewirausahaan adalah kumpulan bahan kajian dan pelajaran yang

(6)

mengungkapkan aneka penerapan, prinsip dan gagasan kewirausahaan (Wulandari, 2013: 21). Lebih lanjut Suherman (2008: 38) menyatakan bahwa pembelajaran kewirausahaan adalah usaha membentuk jiwa wirausaha peserta didik, sehingga yang bersangkutan menjadi individu yang kreatif, inovatif, dan produktif.

Suryana (2006: 2) menyatakan bahwa ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seorang menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapi. Menurut Hansemark pendidikan kewirausahaan didefinisikan sebagai pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan barang dan atau jasa yang dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi, tujuan utama dari program kewirausahaan adalah untuk membangun kemampuan, pengetahuan, dan pembentukan karakter yang penting bagi kreativitas kewirausahaan (Rohmah, 2011). Dari beberapa definisi mengenai pembelajaran kewirausahaan maka peneliti dapat merumuskan bahwa pembelajaran kewirausahaan adalah kegiatan mentransfer ilmu kewirausahaan dengan beragam metode kepada siswa untuk meningkatkan minat berwirausaha.

c. Peran dan Fungsi Pembelajaran Kewirausahaan

Fahmi (2013: 3) menyatakan bahwa ada beberapa peran dan fungsi keberadaan atau pengaruh ilmu kewirausahaan dalam mendukung arah pengembangan wirausahaan yaitu antara lain:

1) Mampu memberikan pengaruh semangat atau motivasi pada diri seseorang untuk bisa melakukan sesuatu yang selama ini sulit untuk ia wujudkan namun menjadi kenyataan.

2) Ilmu kewirausahaa memiliki peran dan fungsi untuk mengarahkan seseorang bekerja secara lebih teratur serta sistematis dan juga terfokus dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.

(7)

3) Mampu memberikan inspirasi pada banyak orang bahwa setiap menemukan masalah maka di sana akan di temukan peluang bisnis untuk di kembangkan.

4) Nilai positif yang tertinggi dari peran dan fungsi ilmu kewirausahaan pada saat di praktekkan oleh banyak orang maka angka pengangguran akan terjadi penurunan. Dan ini bisa meringankan beban Negara dalam usaha menciptakan lapangan pekerjaan.

Purnomo (2020: 60) menyatakan bahwa pembelajaran kewirausahaan berkaitan dengan pengembangan interpretasi pengusaha baru melalui proses mencari dan mengenali peluang, dan cara dia mengelola dan mengatur bisnisnya. Pembelajaran kewirausahaan jarang direncanakan, tetapi merupakan hasil dari serangkaian reaksi terhadap peristiwa kritis.

Pembelajaran kewirausahaan berkaitan dengan kemampuan pengusaha untuk belajar dan beradaptasi dengan agen-agen utama yang berinteraksi dengannya. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa peran dan fungsi pembelajaran kewirausahaan sangatlah penting untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa dengan mendapatkan ilmu diharapkan siswa mampu untuk mengaplikasikan ilmunya di kehidupan nyata.

d. Indikator Pembelajaran Kewirausahaan

Suryaningrum (2016: 28) mengungkapkan berhasil tidaknya pada pembelajaran kewirausahaan dapat di ukur melalui beberapa aspek berikut:

1) Mengajarkan ketrampilan-ketrampilan berwirausaha

Mata pelajaran kewirausahaan telah memberikan pengetahuan beberapa ketrampilan dalam berwirausaha kepada siswa.

2) Memberikan kesempatan untuk berkreasi dan inovasi

Mata pelajaran kewirausahaan telah mengajarkan siswa untuk berinovasi dan berkreasi, siswa di berikan pengetahuan dasar agar dapat mengembangkan ide-idenya.

(8)

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Wibowo, M (2011) dalam jurnal yang berjudul “Pembelajaran Kewirausahaan dan Minat Wirausaha Lulusan SMK”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan ada pengaruh posistif dan signifikan antara faktor pembelajaran kewirausahaan dengan minat berwirausaha siswa setelah lulus sekolah. Variasi yang terjadi pada minat siswa untuk berwirausaha setelah lulus sekolah 21,90% yang dijelaskan dalam faktor internal, faktor eksternal, faktor pembelajaran dan faktor kesiapan instrumen.

3. Tinjauan Tentang Kreativitas a. Pengertian Kreativitas

Tiga dimensi yang saling berkaitan yaitu kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan. Sebuah kegiatan usaha membutuhkan sinergi menjadi satu kesatuan dari ketiga dimensi tersebut (Slamet, Tunjungsari & Le, 2014: 17).

Kreativitas menurut para ahli ialah sebagai berikut, Carol (1991) menyatakan bahwa kreativitas adalah menghadirkan suatu gagasan baru bagi anda, inovasi adalah penerapan secara praktis gagasan yang kreatif (Alma, 2009: 68). Sedangkan Conny (1984) berpendapat bahwa kreativitas diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Produk baru artinya tidak perlu seluruhnya baru, tapi dapat merupakan bagian-bagian produk saja (Alma, 2009: 68).

Kreativitas merupakan aspek penting dalam dunia usaha. Tidak hanya bagi para senior, tetapi juga pendatang baru yag memulai berkecimpung di dunia usaha. Sebagai modal awal, kreativitas ini tidak hanya mendukung tetapi juga sangat mempengaruhi intens berwirausaha, yang merupakan sumber bagi lahirnya wirausaha-wirausaha di masa depan (Suharti, 2011:

126). Di sisi lain, Suryana (2006: 32) berpendapat bahwa kreativitas merupakan kehadiran sebuah gagasan baru.

Kreativitas merupakan proses yang dapat di kembangkan dan di tingkatkan. Antara individu satu dengan yang lain, kreativitasnya memang berbeda beda. Uniknya, meski kreativitas dasarnya adalah kemampuan dan

(9)

bakat, namun pengetahuan dan lingkungan sangat mempengaruhi tinggi rendahnya kreativitas tersebut (Lupioyadi, 2009: 95). Berbeda pula dari pendapat Munandar (2014: 35-36) yang menjelaskan bahwa pengembangan kreativitas berdasarkan empat aspek dalam kreativitas itu yaitu: pribadi, pendorong (press), proses, produk (4P dalam kreativitas). Dari pendapat para ahli tersebut, peneliti dapat merumuskan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya.

b. Ciri-Ciri Wirausaha yang Kreatif

Menurut A. Roe (1989) dalam Mutis (1995: 6) menyebutkan wirausaha kreatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Keterbukaan pada pengalaman, seorang wirausaha harus mampu beradaptasi dengan pengalaman yang dimiliki.

2) Melihat sesuatu dengan cara yang tidak biasa, seorang wirausaha mampu melihat peluang bisnis yang ada.

3) Keingintahuan, seorang wirausaha mampu memiliki semangat untuk mempelajari hal baru.

4) Menerima dan menyesuaikan yang kelihatannya berlawanan, seorang wirausaha mampu menyesuaikan dengan segala sesuatu yang di hadapi.

5) Dapat menerima perbedaan, seorang wirausaha mampu untuk menerima saran maupun kritik orang lain.

6) Independen dalam pertimbangan, pemikiran dan tindakan, seorang wirausaha mampu untuk secara mandiri menentukan kegiatan usahanya sendiri.

7) Membutuhkan dan menerima otonomi, seorang wirausaha mampu untuk menjalin hubungan kerjasama dengan orang lain.

8) Percaya pada diri sendiri, seorang wirausaha harus yakin dengan keputusan yang telah dibuatnya sendiri.

9) Tidak hanya tunduk pada standar pengawasan kelompok, seorang wirausaha harus memiliki inisiatif tersendiri.

(10)

10) Mau mengambil resiko yang telah diperhitungkan, seorang wirausaha mampu untuk menanggung resiko yang ada.

11) Tekun, seorang wirausaha harus bersungguh-sungguh dalam berwirausaha.

Raudsepp menambahkan ciri-ciri yang telah di kemukakan Roe dengan ciri-ciri kreativitas sebagai berikut:

1) Sensitif terhadap masalah-masalah, kemampuan untuk menganalisa dampak dari masalah.

2) Mampu menghasilkan sejumlah ide-ide, kemampuan untuk berfikir secara kreatif.

3) Fleksibel, kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara terbuka dengan beberapa cara.

4) Keaslian, kemampuan untuk menemukan sesuatu yang baru.

5) Mau mendengarkan perasaan, kemampuan untuk menyeimbangkan logika dan perasaan.

6) Keterbukaan pada gejala bawah sadar, kemampaun untuk memahami lingkungan sekitar.

7) Mempunyai motivasi, kemampuan untuk bangkit kembali apabila mengalami kegagalan.

8) Bebas dari rasa takut gagal, kemampuan untuk berani bertindak.

9) Mampu berkonsentrasi, kemampuan untuk berfikir secara menyeluruh.

10) Berfikir dalam menggambarkan, kemampuan untuk menjabarkan secara nyata.

11) Mempunyai kemampuan memilih, kemampuan untuk menentukan sesuatu berdasarkan data yang telah dianalisis.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa ciri-ciri wirausaha yang kreatif adalah yang kreatif dan memiliki motivasi. Kreatif dalam menghadapi pesaing maupun membuat produk yang dapat bersaing dan motivasi untuk terus berwirausaha tanpa pantang menyerah.

(11)

c. Hambatan dalam Kreativitas

Shallcross (1985) dalam Munandar (2014: 219-220) menggolongkan kendala atau rintangan dalam penggunaan potensi kreatif, sebagai berikut:

1) Kendala historis, yaitu ada kurun waktu tertentu yang merupakan puncak kejayaan kreativitas.

2) Kendala biologis, yaitu berdasarkan faktor gen yang diwarisi oleh seseorang.

3) Kendala fisiologis, yaitu kendala karena terjadi kerusakan otak, penyakit mapun kecelakaan.

4) Kendala sosiologis, yaitu lingkungan sosial seseorang mempengaruhi tingkat kreativitas.

5) Kendala psikologis, yaitu faktor eksternal dari keyakinan diri sendiri terhadap tidak berkembangnya kreativitas.

6) Kendala diri sendiri, yaitu faktor internal pengaruh dari kebiasaan, perkiraan harapan orang lain, kurangnya usaha, atau kemalasan mental.

James L. Adam dalam bukunya Conceptual Bolckbusting (1986) dalam Nasution (2016: 40-47) telah mengidentifikasikan hambatan kreativitas tersebut dalam bentuk klasifikasi, sebagai berikut:

1) Hambatan persepsi, yaitu pola pikir stereotip, terlalu banyak atau sedikit informasi.

2) Hambatan emosi, yaitu takut mengambil resiko, lebih suka menilai daripada menghasilan gagasan.

3) Hambatan kultural, yaitu ketakutan untuk menjadi berbeda dengan orang lain.

4) Hambatan lingkungan, yaitu hambatan yang di timbulkan oleh lingkungan sosial, budaya dan fisik.

5) Hambatan intelektual, yaitu terlalu mengandalkan logika, tanpa dengan menggunakan instuisi.

(12)

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa terdapat banyak hambatan dalam kreativitas, terdapat hambatan lingkungan yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan.

d. Teknik Meningkatkan Kreativitas

Menurut Munandar (2014: 45-46) pengembangan kreativitas, meninjau empat aspek dari kreativitas, yaitu:

1) Pribadi. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinalitas dari individu, ungkapan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk yang inovatif. Oleh karena itu, hendaknya menghargai keunikan pribadi dan bakatnya

2) Pendorong. Bakat kreatif akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan kuat dalam dirinya sendiri untuk menghasilkan sesuatu.

3) Proses. Proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkannya produk kreatif yang bermakna.

4) Produk. Produk dengan dimilikinya bakat dan ciri-ciri pribadi kreatif, dan dengan dorongan untuk bersibuk diri secara kreatif, maka akan timbul produk-produk kreatif yang bermakna dengan sendirinya akan timbul.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa teknik dalam meningkatkan kreativitas setiap orang berbeda-beda.

Pendorong seseorang untuk berkreasi bisa dikarenakan faktor lingkungan.

e. Indikator dalam Kreativitas

Menurut Roger dalam Riani (2016: 76-80) agar kreativitas pada seseorang dalam seseorang dapat di kembangkan dengan baik, maka beberapa faktor dapat di kelompokkan menjadi dua macam, sebagai berikut:

1) Faktor internal adalah faktor yang ada didalam diri individu yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas individu, yaitu:

a. Sikap terbuka

b. Lokus evaluasi yang internal

c. Kemampuan mengadakan eksplorasi

(13)

2) Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas individu, yaitu:

a. Kebudayaan b. Lingkungan

Berdasarkan Penelitian terdahulu yang di lakukan oleh Zampetakis, L.A et al (2011) yang berjudul “Creativity and Entrepreneurial Intention in Young People”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak muda dengan kreativitas tinggi memiliki minat berwirausaha yang lebih tinggi.

Dengan dukungan kreativitas yang berasal keluarga memiliki dampak terhadap minat berwirausaha. Sedangkan di sisi lain, dukungan kreativitas yang berasal dari universitas tidak memiliki dampak terhadap minat berwirausaha.

4. Tinjauan Tentang Motivasi a. Pengertian Motivasi

Motivasi adalah dorongan dan arahan perilaku (Machfoedz, 2005:

152). Adapun menurut Fahmi (2013: 12) motivasi adalah perilaku yang bekerja dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang di inginkan.

Crow. A (1983) dalam Riani (2016: 59) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang menyebabkan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau aktivitas untuk mencapai tujuan. Di sisi lain Alma (2009: 89) berpendapat bahwa motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan, keinginan, dorongan atau impuls.

Motivasi seseorang tergantung pada kekuatan motifnya.

Menurut Koeswara (1989: 1) dalam disiplin ilmu psikologi, motivasi mengacu pada konsep yang digunakan untuk menerangkan kekuatan- kekuatan yang ada dan bekerja pada diri organism atau individu yang menjadi penggerak dan pengarah tingkah laku individu tersebut. Teori atau konsep motivasi juga digunakan untuk menerangkan perbedaan-perbedaan intensitas tingkah laku. Maslow et al (1992: 8) menyatakan bahwa kekuatan motivasi mendorong pada sejumlah urusan atau bentuk perilaku, dan harus

(14)

diarahkan sampai akhir. Dari beberapa definisi para ahli diatas, peneliti dapat merumuskan bahwa motivasi adalah dorongan dalam diri sendiri untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi berwirausaha yaitu dorongan dalam diri sendiri untuk berwirausaha atau menciptakan lapangan kerja.

b. Teori-teori Motivasi dalam Kewirausahaan

Riani (2016: 65-67) mengklasifikasikan teori motivasi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1) Teori-teori petunjuk (Prescriptive theories), Teori petunjuk mengemukakan bagaimana memotivasi karyawan, teori ini berdasarkan atas pengalaman coba-coba.

2) Teori-teori isi (Content theories), Teori isi disebut juga teori kebutuhan adalah berkenaan dengan pertanyaan apa penyebab perilaku dimulai dan berhenti

3) Teori-teori proses (Process theories), Teori proses berkenaan dengan bagaimana perilaku dimulai dan dilaksanakan atau menjelaskan dari motivasi.

Menurut Venesaar et al (2006: 104 ) Motivasi seseorang menjadi wirausaha dibagi dalam tiga dimensi, yaitu:

1) Ambition for freedom, aktivitas lebih bebas, memiliki usaha sendiri, menjadi lebih dihormati, terdepan dalam menerapkan ide baru baru, mengembangkan hobi dalam bisnis.

2) Self-realisation, memperoleh posisi yang lebih baik di masyarakat, merasakan tantangan, memotivasi dan memimpin orang lain, melanjutkan tradisi keluarga, mengimplementasikan ide tau berinovasi, mengikuti orang lain.

3) Pushing factor, kehilangan pekerjaan, memperoleh pendapatan yang lebih baik, tidak puas dengan pekerjaan.

Kurniati (2015: 69) menyatakan bahwa motivasi seseorang untuk berwirausaha di sektor usaha tertentu dapat dikaji melalui teori motivasi dan teori perilaku. Teori motivasi yaitu seseorang untuk berwirausaha perlu

(15)

faktor-faktor penarik. Faktor penarik seseorang untuk berwirausaha lebih di pengaruhi oleh faktor eksternal seperti kesempatan untuk meningkatkan pendapatan dan resiko yang harus ditanggung. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa teori motivasi dalam kewirausahaan yaitu faktor yang menjadi penyebab orang menjadi wirausaha, dengan menentukan motivasi orang menjadi wirausaha.

c. Motivasi dan Mentalitas Kewirausahaan

Fahmi (2013: 14) menyatakan bahwa seorang wirausahawan di tuntut untuk memiliki motivasi dan mentalitas yang lebih di banding kebanyakan orang. Lebih jauh seseorang harus memiliki konsep dan pemikiran yang berbeda dengan banyak orang, sesuatu yang unik atau dalam istilah bisnis adalah “Think do something different, and don’t think equal with many people.”. dengan berfikir dan melakukan sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan orang maka memungkinkan orang tersebut memiliki produk yang siap bersaing di pasar termasuk ia siap mengambil risiko terhadap suatu kejadian yang mungkin akan terjadi di kemudian hari terhadap keputusan yang akan di ambil, seperti timbulnya kerugian.

Daryanto (2012: 91) berpendapat bahwa seorang wirausaha memiliki mental yang sehat dalam memandang kehidupan. Mereka adalah individu- individu dewasa yang telah membangun sebuah cara memandang dan menyikapi semua pengalaman dengan sikap yang sehat. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan mentalitas kewirausahaan haruslah seseorang yang tahan banting, ulet, tekun, dan tidak pantang menyerah.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi

Riani (2016: 58) menyebutkan ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang, yaitu:

1) Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dalam diri individu sendiri.

Antara lain seperti minat, bakat, tujuan individu, dan lain-lain.

(16)

2) Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar individu. Antara lain seperti lingkungan, sosial, keluarga, tempat kerja, pimpinan, dan lain-lain.

Menurut Atkinson dalam Hasim (2019: 24) menyatakan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi adalah memandang kekuatan motivasi dalam bentuk persamaan motivasi = f (motif + harapan + insentif). Kekuatan untuk melakukan beberapa kegiatan adalah salah satu fungsi dari:

1) Kekuatan yang menjadi alasan bergerak adalah suatu keadaan dimana didalam diri setiap orang.

2) Harapan adalah dimana kemungkinan atau keyakinan perbuatan akan mencapai tujuan.

3) Nilai dan insentif dimana ganjaran-ganjarannya demi mencapai tujuan.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, peneliti merumuskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi bisa terdiri dari faktor internal yang berasal dari individu sendiri seperti bakat seseorang, dan faktor eksternal yang bersala dari luar individu seperti lingkungan sekitarnya.

e. Indikator Motivasi dalam Berwirausaha

Saiman (2009: 26) menyatakan bahwa motivasi seseorang untuk menjadi wirausahawan antara lain:

1) Laba. Dapat menentukan berapa yang dikehendaki, keuntungan untuk di terima, dan berapa yang akan di bayarkan kepada pihak lain atau pegawainya.

2) Kebebasan. Bebas mengatur waktu, bebas dari pimpinan, bebas aturan main yang menekan atau intervensi, bebas dari aturan dan budaya organisasi perusahaan.

3) Impian personal. Bebas mencapai standar hidup yang diharapkan, lepas dari rutinitas kerja yang membosankan, karena harus mengikuti visi, misi, impian orang lain. Imbalan untuk menentukan visi, misi dan impiannya sendiri.

4) Kemandirian. Memiliki rasa bangga karena dapat mandiri dalam segala hal, seperti permodalan, mandiri dalam pengelolaan atau manajemen,

(17)

mandiri dalam pengawasan, serta menjadi manajer terhadap dirinya sendiri.

5. Tinjauan Tentang Minat Berwirausaha a. Minat Berwirausaha

Minat adalah kecenderungan yang agak menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu atau merasa senang berkecimpung dalam bidang itu (As’ad, 2005: 7). adapun menurut Mappiare dalam Adhitama (2012: 19) minat adalah seuatu perangkat mental yag terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut, atau kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.

Kewirausahaan adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang pengembangan dan pembangunan semangat kreativitas serta berani menanggung resiko terhadap pekerjaan yang dilakukan demi mewujudkan hasil karya tersebut (Fahmi, 2013: 1). Adapun Kasmir (2016: 21) menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam hal menciptakan kegiatan usaha.

Menurut Santoso dalam Suyamannim (2006: 22) minat wirausaha adalah gejala psikis untuk memusatkan perhatian dan berbuat sesuatu terhadap wirausaha itu dengan perasaan senang karena membawa manfaat bagi dirinya. Inti dari pendapat tersebut adalah pemusatan perhatian yang di sertai rasa senang. Dari beberapa definisi mengenai minat dan kewirausahaan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa suatu keinginan seseorang untuk mendirikan suatu usaha atau mandiri dalam bekerja baik dengan kreativitas untuk melihat peluang maupun dengan motivasi untuk mempertahakan usahanya, selain itu minat berwirausaha setiap orang berbeda-beda, namun minat berwirausaha tersebut dapat ditumbuhkan dalam diri seseorang.

b. Faktor Pendorong untuk Berwirausaha

(18)

Hendro (2011: 61-63) menyatakan ada sembilan faktor yang mempengaruhi minat berwiraushaa seseorang dengan rincian sebagai berikut:

1) Faktor Individual Personal, pengaruh pengalaman dari kecil hingga dewasa yang diperoleh seseorang.

2) Suasana Kerja, Lingkungan kerja yang tidak nyaman akan menjadi pendorong seserang untuk memilih berwirausaha.

3) Tingkat Pendidikan, Pada jenjang pendidikan yang tidak terlalu tinggi rata-rata individu lebih berkeinginan untuk berwirausaha.

4) Kepribadian, Bervariasinya tipe kepribadian dapat mempengaruhi minat berwirausaha seseorang. Prestasi Pendidikan

5) Prestasi Pendidikan, Prestasi yang tidak tinggi cenderung menjadikan seseorang berkeinginan menjadi wirausaha, dikarenakan persaingan dunia kerja yang begitu ketat.

6) Dorongan Keluarga, keluarga berperan sebagai mentor juga pembimbing dalam memasuki dunia berwirausaha.

7) Lingkungan dan pergaulan, apabila lingkungan banyak wirausaha, maka seseorang akan cenderung berwirausaha.

8) Ingin lebih dihargai, ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain, manusia tidak hanya ingin dapat memenuhi kebutuhan pokok saja, namun juga ingin dihormati/ dihargai.

9) Keterpaksaan dan keadaan, karna terbatasnya lapangan pekerjaan yang sesuai dapat menjadikan alasan seseorang untuk berwirausaha.

Adapun Alma (2011) menyatakan bahwa hal yang memicu atau memaksa seseorang untuk terjun kedunia kewirausahaan (Triggering Event) dibagi menjadi tiga faktor, yaitu sebagai berikut:

1) Faktor Personal, adanya ketidakpuasaan terhadap pekerjaan yang sekarang, keinginan untuk memperoleh penghasilan lebih, kebebasan manajemen, adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tidak adanya pekerjaan lain dikarenakan faktor usia, jenis kelamin, jenjang pedidikan.

(19)

31

2) Faktor Enviroment, lingkungan dapat mempengaruhi seseorang untuk berwirausaha. Adanya persaingan yang ketat, lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai tempat latihan.

3) Faktor Sosiological, adanya dorongan keluarga, adanya relasi dengan orang lain, adanya orang yang mengajak bekerjasama, maupun bantuan modal dari sanak family. Keluarga sebagai mentor serta pembimbing dalam memulai dunia kewirausahaan.

c. Indikator Minat Berwirausaha

Penelitian ini dalam mengukur minat berwirausaha mengadopsi dari penelitian Indriyani & Subowo (2019: 475) yang dikutip dalam Alma (2011:

52-53) menyatakan ciri-ciri seseorang yang memiliki jiwa wirausaha yaitu sebagai berikut:

1) Percaya diri, tidak malu untuk berdagang atau berwirausaha, maupun memulai usaha dari nol.

2) Berorientasi pada tugas dan hasil, berfokus untuk menghasilkan barang/

jasa yang mampu bersaing.

3) Berani mengambil Resiko, seseorang yang mampu mengambil resiko maupun menerima tantangan.

4) Kepemimpinan, mampu untuk memimpin serta memberi keputusan.

5) Keorisinalan, memiliki kreativitas untuk menciptakan barang atau jasanya tersendiri.

6) Berorientasi ke masa depan, memiliki motivasi untuk terus menerus berwirausaha secara tekun selangkah demi selangkah.

B. Kerangka Berfikir

Kerangka berfikir pada dasarnya merupakan argumentasi logis untuk sampai pada penemuan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Kerangka berfikir berguna untuk mengintegrasikan teori-teori dan hasil penelitian yang terpisah-pisah menjadi satu rangkaian utuh dengan menggunakan logika deduktif yang mengarah pada penemuan jawaban sementara yang disebut hipotesis. Kerangka berfikir di

(20)

sampaikan dalam bentuk uraian (naratif) dan gambar (bagan) (Yusuf, Sumarwati &

Budiharti, 2019: 21).

Penelitian ini meneliti mengenai “Pengaruh Kreativitas, Motivasi, dan Pembelajaran Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha Siswa SMK Taruna Farma Karanganyar”. Berdasarkan kajian pustaka di atas maka dapat disusun kerangka berfikir sebagai berikut:

1. Pengaruh Kreativitas, Motivasi dan Pembelajaran Kewirausahaan terhadap Minat Berwirausaha.

Kreativitas merupakan faktor yang berperan penting dalam berwirausaha, dengan memiliki kreativitas yang mumpuni maka akan melahirkan ide yang baru baik dalam jenis produk maupun jasa, kreativitas sangatlah mendukung apabila siswa ingin membuka suatu usaha.. Selain itu, motivasi untuk berwirausaha juga tidak kalah penting. Apabila tidak memiliki motivasi untuk membuka usaha, maka siswa menjadi tidak peka terhadap peluang usaha yang ada di lingkungan sekitarnya. Kemudian, pembelajaran merupakan jalan untuk menumbuhkan serta mengembangkan minat berwirausaha siswa, dengan memperoleh ilmu pengetahuan serta ketrampilan maka siswa akan mampu untuk membuka usahanya sendiri.

2. Pengaruh Kreativitas terhadap Minat Berwirausaha

Munandar (2014: 7) menyatakan bahwa kreativitas adalah hasil interaksi antara individu dan lingkungannya. Saat individu menggunakan seluruh kemampuannya dan diimbangi dengan kepekaan lingkungan maka akan terjadi suatu proses yang menunjukkan kelancaran, kelenturan, originalitas, dan elaboratif sehingga dapat menghasilkan suatu ide atau gagasan yang baru.

Gagasan baru inilah yang di era 4.0 sangatlah di butuhkan, dengan memiliki kreativitas yang tinggi maka sesorang mampu untuk melihat peluang yang ada di masa mendatang. Salah satunya dengan berwirausaha. Seorang wirausaha haruslah memiliki kreativitas yang baik, agar produk atau jasa yang di tawarkan dapat berinovasi mengikuti perkembangan jaman yang semakin maju ini. Dengan kreativitas yang tinggi maka juga akan meningkatkan minat

(21)

berwirausaha pada siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zampekis L. A et al (2011) menunjukkan bahwa anak muda dengan kreativitas tinggi memiliki minat berwirausaha yang lebih tinggi.

3. Pengaruh Motivasi terhadap Minat Berwirausaha

Motivasi berasal dari kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan (Sardiman, 2006: 73).

Oleh karena itu, untuk memiliki minat berwirausaha seseorang haruslah mempunyai motivasi terlebih dahulu. Motivasi baik yang berasal dari dalam individu maupun dari luar. Motivasi berperan penting dalam meningkatkan minat berwirausaha siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fayolle, Linan & Mariano (2014) menunjukkan bahwa motivasi dalam memahami proses kognitif kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha.

4. Pengaruh Pembelajaran Kewirausahaan terhadap Minat Berwirausaha.

Pembelajaran kewirausahaan bukanlah pembelajaran yang tidak hanya teori, namun juga ada kegiatan praktek untuk mengasah kemampuan siswa dalam berwirausaha. Dengan memberikan bekal ketrampilan serta pengetahuan kepada siswa akan membuat siswa tertarik dengan dunia wirausaha. Selain itu, adanya pembelajaran kewirausahaan diharapkan siswa memiliki gambaran nyata serta mampu mengaktualisasi pembelajaran yang telah diterima di kehidupan nyata.

Berdasarkan hasil pnelitian yang dilakukan oleh Germa dan Tessema (2012) menyatakan bahwa siswa yang telah mendapatkan pembelajaran kewirausahaan maka akan cenderung memiliki minat berwirausaha disbanding dengan mereka yang belum mendapatkan pembelajaran kewirausahaan.

Penelitian ini menggunakan subyek siswa SMK Taruna Farma, maka siswa dapat mengembangkan keahlian yang telah diterimanya dengan membuka usaha pembuatan masker, freshcare, dan sebagainya. Sehingga dapat di simpulkan bahwa pembelajaran kewirausahaan dapat memberikan pengaruh terhadap minat berwirausaha siswa.

(22)

Untuk menjelaskan kerengka berfikir tersebut, maka dapat di gambarkan dalam bentuk kerangka berfikir, sebagai berikut:

Gambar 1 Kerangka Berfikir Keterangan:

: Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial/ sendiri-sendiri

: Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan/ bersama-sama

Gambar. 2.1. Bagan Kerangka Berfikir Kreativitas

Indikator

1. Faktor internal 2. Faktor eksternal

Sumber: Roger dalam Riani (2016) Motivasi

Indikator 1. Laba 2. Kebebasan 3. Impian Personal 4. Kemandirian Sumber: Saiman (2009)

Pembelajaran Kewirausahaan Indikator

1. Mengajarkan keterampilan berwirausaha

2. Memberikan kesempatan berkreasi dan inovasi Sumber: Suryaningrum (2016)

Minat Berwirausaha Indikator

1. Percaya Diri

2. Berorientasi pada tugas dan hasil

3. Berani mengambil resiko 4. Kepemimpinan

5. Keorisinilan

6. Berorientasi pada masa depan

Sumber: Alma (2011) H2

H4 H3

H1

(23)

C. Hipotesis

Yusuf, dkk (2019: 21) menyatakan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah yang sedang di teliti dan disampaikan dalam kalimat pernyataan.

Hipotesis disusun berdasarkan teori-teori yang telah dikaji, dengan kerangka berfikir tertentu. Sugiono (2015: 96) mengungkapkan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang di peroleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empiris dengan data. Adapun hipotesis dalam penelitian ini yang telah disusun oleh peneliti adalah sebagai berikut

H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara kreativitas, motivasi, dan pembelajaran kewirausahaan terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

H2 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara kreativitas terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

H3 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

H4 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara pembelajaran kewirausahaan terhadap minat berwirausaha siswa SMK Taruna Farma Karanganyar.

Gambar

Gambar  1 Kerangka Berfikir  Keterangan:

Referensi

Dokumen terkait

Analisis BI pada Fasilkom Unsri menggunakan business intelligence roadmap meliputi fase justification , planning , dan business analysis mengusulkan solusi BI

Prophylaksis ini harus kita berikan terutama kepada pasien dengan resiko tinggi terjadinya PONV untuk mengurangi efek yang tidak diinginkan akibat mual muntah

Untuk menuju perpustakaan riset pustakawan juga harus memiliki pengetahuan dan wawasan agar bisa menjawab informasi yang dibutuhkan oleh pengguna atau

Sementara itu menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang sistim pengendalian intern pemerintah, pengawasan intern adalah seluruh proses kegiatan

Bab ini berisikan tentang latar belakang masalah yang menjelaskan tentang aktifitas perusahaan dan pekerja manual material handling yang mengangkut beban secara berlebih jika

Karenanya, dalam penelitian ini dilakukan pemodelan keluaran temperatur penukar kalor pipa konsentrik dengan pendekatan statistik-numerik dengan perumusan non-linear

”Rahasia lain daya tahan merak jawa hijau terletak pada populasi kelompok yang tidak terlampau besar sehingga kelompok-kelompok kecil tersebar hingga bisa mencapai peluang

Pengembangan keterampilan dan kompetensi pendidik dengan mengaplikasikan berbagai metode pembelajaran diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran Pembelajaran