Susunan Dewan Redaksi :
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
e-ISSN 2722-869Xp-ISSN 2716-151X Volume 2 No. 2 Juni 2021
Mitra Bestari:
1. Dr. Tyas Rini Saraswati, M.Kes (Universitas Diponegoro, Indonesia) 2. Dr. Siti Alimah, S.Pd., M.Pd (Universitas Negeri Semarang, Indonesia) 3. Fitra Arya Dwi Nugraha, S.Si., M.Si (Universitas Negeri Padang, Indonesia) 4. Apriani Hernia Rophi, S.Pd., M.Si (Universitas Cendrawasih, Indonesia) 5. Anisa Nofita Sari, M.Sc (University of Tsukuba, Japan)
6. Dr. Sundari (Universitas Khairun Ternate, Indonesia) Alamat Redaksi dan Distribusi
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jln. Kesehatan No.03
Maumere
i
Editor
Oktavius Yoseph Tuta Mago, M.Si Mansur S, S.Pd., M.Pd
Redaksi Pelaksana
Sukarman Hadi Jaya Putra, S.Pd., M.Si Yohanes Boli Tematan, S.Si., M.Pd
Dewan Redaksi Penanggung Jawab Yohanes Nong Bunga, S.Si., M.Pd
Ketua Redaksi Yohanes Bare, S.Pd., M.Si
ii
Daftar Isi
JUDUL HALAMAN
Pemanfaatan Daun Bambu (Bambusa sp) dan Daun Kakao (Theobroma cacao L.) Sebagai Mulsa Alami Untuk Mendukung Pertumbuhan dan Produktivitas Sawi Hijau (Brassica juncea L.) Di Desa Nitakloang Kecamatan Nita
Klotilda Yunita Marlin, Oktavius Yoseph Tuta Mago, Sukarman Hadi Jaya Putra
1-7
Etnobotani Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.) Di Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur
Nurul Imaniyah Ahmad, Yohanes Nong Bunga, Yohanes Bare
8-17
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA Pada Materi Sistem Gerak SMAS St. Petrus Kewapante.
Aprianus Pani Pili, Sukarman Hadi Jaya Putra
18-27
Kajian Bioinformatika Penghambatan Alosterik Asemanan Dan Glukomanan Terhadap C-JUN NH2 Terminal Kinase (JNK)
Dewi Ratih Tirto Sari, Reni Ustiatik, Jatmiko Eko Witoyo, Gabriella Chandrakirana Krisnamurti, Yohanes Bare
1
Pemanfaatan Daun Bambu (Bambusa sp) dan Daun Kakao (Theobroma cacao L.) Sebagai Mulsa Alami Untuk Mendukung Pertumbuhan dan Produktivitas Sawi
Hijau (Brassica juncea L.) Di Desa Nitakloang Kecamatan Nita Klotilda Yunita Marlin1, Oktavius Yoseph Tuta Mago1*,
Sukarman Hadi Jaya Putra1
1Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Nusa Nipa Indonesia, Sikka, Indonesia, 86111
Email*: [email protected]
ABSTRAK
Mulsa merupakan bahan yang dihamparkan di atas permukaan tanah untuk menjaga kandungan air di dalam tanah, melembabkan tanah, menahan hempasan air hujan dan menekan evaporasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemanfaatan daun bambu (Bambusa sp.) dan daun kakao (Theobroma cacao L.) sebagai mulsa alami untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas sawi hijau (Brassica juncea L.). Penelitian dilaksanakan di desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Penelitian dimulai dari tahap persiapan sampai dengan tahap siap panen pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2020. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 taraf perlakuan dan 5 kali ulangan, sehingga diperoleh 35 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian mulsa dengan taraf B0:K0, B0:K100, B25:K75, B50:K50, B75:K25, B100:K0 dan MPHP (B=daun bambu;K=daun kakao; MPHP=mulsa plastik hitam perak). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah tanaman dan bobot bersih tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA) dengan taraf kepercayaan 5% (α = 0,05) dan dilanjutkan dengan uji tukey. Hasil penelitian menujukkan bahwa mulsa alami daun bambu dan daun kakao berpengaruh terhadap parameter tinggi tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.), dan tidak berpengaruh pada parameter jumlah daun, bobot basah dan bobot bersih tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.). Hasil terbaik dari penelitian ini diperoleh dari perlakuan P5 dengan jenis dan taraf mulsa B100:K0.
Kata Kunci: daun bambu; daun kakao; mulsa; pertumbuhan; produktivitas; sawi
hijau
Volume 2, Nomor 2, Juni 2021
pISSN: 2716-151X eISSN: 2722-869X
2
PENDAHULUAN
Peran sektor pertanian dalam perekonomian nasional sangat penting dan strategis. Pasalnya, sektor pertanian masih menyediakan lapangan pekerjaan dan pangan bagi sebagian besar penduduk yang tinggal di pedesaan. Persoalan pertanian, khususnya pangan, telah lama menjadi perhatian. Desakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dari penduduk yang terus bertambah telah menyadarkan masyarakat akan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi pangan. Teknologi pertanian yang lebih baik terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada petani, membuat petani mau menerapkan teknologi tersebut dan meningkatkan produksi pangan (Sadono, 2008).
Perubahan iklim merupakan fenomena global yang diperparah oleh aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan. Salah satu perubahan iklim global adalah meningkatnya frekuensi dan intensitas iklim ekstrim seperti badai, banjir, kekeringan, pola curah hujan yang tidak teratur dan kenaikan suhu (Surmaini dkk., 2010). Hal ini berdampak pada masalah pertanian khususnya ketersediaan air. Kebutuhan air bagi sektor pertanian sangat penting, karena merupakan komponen yang paling mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hasil tanaman pertanian. Persebaran potensi sumberdaya air yang tidak merata akan mengakibatkan hasil pertanian tidak maksimal. Hasil survei awal yang dilakukan di daerah pertanian Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, menemukan masalah utama yang dihadapi oleh petani adalah kurangnya ketersediaan air bagi keberlangsungan proses pertanian. Hal ini mengakibatkan hasil pertanian berkurang namun biaya produksinya meningkat. Desa Nitakloang merupakan salah satu desa penghasil sayuran. Menurut sumber database penyuluhan se-kecamatan Nita tahun 2017 mengenai komoditas utama hortikultura, aktivitas produksi pertanian lebih dominan pada sayuran sawi dengan luas tanah dan luas panen yaitu 42,01 ha (Balai Penyuluh Se-Kecamatan Nita, 2017).
Berdasarkan hasil survei lokasi yang dilakukan oleh peneliti, sebagian besar petani di desa Nitakloang sudah mengambil langkah tepat dalam menangani kurangnya ketersediaan air atau kekeringan dengan pemanfaatan berbagai macam mulsa. Ada 3 jenis mulsa yang digunakan oleh petani yaitu pemanfaatan mulsa plastik hitam perak, mulsa jerami dan mulsa sekam padi. Mulsa jenis jerami dan sekam padi jarang digunakan karena areal sawah letaknya jauh dari pusat desa sehingga petani lebih dominan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Alasan penggunaanya karena mudah didapatkan di tempat penjualan, tetapi mengeluarkan biaya untuk mendapatkan mulsa tersebut. Berkaitan
3
dengan pemanfaatan ketiga jenis mulsa yang sudah sering digunakan oleh para petani, ada alternatif lain pemanfaatan mulsa yaitu dengan memanfaatkan daun kakao dan bambu yang sudah kering sebagai mulsa alami untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi sawi hijau yang memiliki adaptasi terhadap kekeringan sedang namun membutuhkan pengairan yang cukup. Pemanfaatan mulsa daun kakao dan bambu sangat mudah didapatkan, karena bahan ini terdapat di sekitar areal perkebunan warga, sehingga hal ini dapat menolong petani untuk menekan biaya produksi, meminimalisirkan penggunaan mulsa plastik hitam perak dan meningkatkan hasil produksi sawi hijau.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, di dusun Kojalaka. Tempat ini tepat berada pada pekarangan rumah warga yang berprofesi sebagai petani. Penelitian selama 2 bulan, dilaksanakan pada tanggal 14 Juni sampai 18 Agustus 2020. Alat-alat dalam penelitian ini adalah cangkul, digunakan mencangkul tanah dalam membuat bedengan dan skop untuk merapikan bentuk bedengan. Parang, bilahan bambu dan tali rafia, digunakan untuk membuat plot dengan ukuran 1 x 1 meter. Karung digunakan untuk mengisi hasil pengumpulan daun bambu dan daun kakao. Timbangan digunakan untuk menimbang taraf mulsa daun bambu dan daun kakao lalu dipindahkan hasil timbangan ke ember untuk diatur diatas bedengan masing-masing plot. Polibag digunakan untuk menyemaikan benih sawi hijau. Linggis digunakan untuk membuat lubang pada tanah dan menanam sawi. Kamera digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan penelitian. Buku agenda, papan komputer, mistar dan benang wol untuk mengukur pertumbuhan tanaman, bolpoin digunakan untuk mencatat pertumbuhan tanaman sawi hijau setiap minggu dan bobot basah tanaman sawi hijau pada saat panen.
4
Desain / Rancangan Penelitian
Rancangan Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan: Pemberian Mulsa daun Bambu dan daun Kakao dengan 6 taraf perlakuan sebagai berikut;
Tabel 2. Perbandingan Taraf Penggunaan Mulsa Taraf Perlakuan P0 B0 : K0 P1 B0 : K100 P2 B25 : K75 P3 B50 : K50 P4 B75 : K25 P5 B100 : K0 P6 MPHP
Keenam perlakuan diletakkan kedalam 5 bedeng (kelompok) secara acak dengan menggunakan teknik simple random sampling, sehingga terdapat 35 unit percobaan sebagai berikut:
Bedeng 1 Bedeng 2 Bedeng 3 Bedeng 4 Bedeng 5
B75 : K25 B0 : K100 B 50 : K50 B100 : K0 MPHP B0 : K0 B75 : K25 MPHP B0 : K0 B0 : K100 B0 : K100 B25 : K75 B0 : K0 MPHP B75 : K25 B100 : K0 B50 : K50 B0 : K100 B25 : K75 B50 : K50 MPHP B100 : K0 B25 : K75 B75 : K25 B100 : K0 B25 : K75 B0 : K0 B75 : K25 B50 : B50 B0 : K0 B50 : K50 MPHP B100 : K0 B0: K100 B25 : K75
5
Variabel Penelitian
Tinggi tanaman (cm) diukur setiap satu minggu sekali dengan menggunakan penggaris dan benang wol (Nugroho, 2019), dari minggu ke 1 sampai dengan minggu ke 4, dengan cara mengukur dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi. Jumlah daun (helai) yang dihitung adalah banyak helai daun yang terbentuk di dalam satu tanaman (Nugroho, 2019). Bobot basah tanaman atau berat segar tanaman merupakan pengukuran biomassa tanaman secara keseluruhan mulai dari akar, batang dan daun. Bobot bersih tanaman hasil produksi merupakan bobot segar tanaman yang sudah dipisahkan dari akarnya dan mengalami proses pembersihan sehingga pada akhirnya dapat dipasarkan. Variabel terkontrol lainnya adalah volume air penyiraman.
Analisis Data
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap variabel pengamatan, dilakukan analisis F (ANNOVA) dengan taraf kepercayaan 95%, menggunakan software Minitab. Jika ada penyaruh nyata akan dilanjutkan dengan Uji Tukey HSD (BNJ).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian telah dilaksanakan di lahan tanam pekarangan rumah warga di dusun Kojalaka desa Nitakloang Kecamatan Nita kabupaten Sikka. Tanaman yang di amati terdapat dalam 5 kali ulangan (5 kelompok), masing-masing bedeng memiliki 7 plot, jadi total seluruh nya ada 35 plot, di dalam masing-masing plot terdapat 5 tanaman. Oleh karena itu jumlah seluruh tanaman yang diamati ada 175 tanaman.
Hasil analisis F (ANNOVA) dengan menggunakan Software Minitab, menunjukkan bahwa pengaplikasian mulsa alami daun bambu (Bambusa sp.) dan daun kakao (Theobroma cacao L.) pada minggu pertama sampai dengan minggu ketiga tidak memberi pengaruh pada pertumbuhan dan produksi sawi hijau (Brassica juncea L.) (P > 0,05), tetapi pada minggu keempat perlakuan memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan produksi sawi hijau (Brassica juncea L.) (P < 0,05), yang terdiri dari tinggi tanaman, jumlah helaian daun, bobot basah dan bobot bersih tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.).
6
Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.)
Tabel 4.1. di atas merupakan hasil analisis statistik ketujuh perlakuan terhadap tinggi tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.), menunjukkan bahwa perlakuan P5 dan P6 minggu ke IV, berpengaruh nyata pada tinggi tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) karena angka hasil rerata tinggi tanaman perlakuan P5 dan P6 diikuti oleh superscript yang berbeda, sedangkan pada perlakuan P0 sampai dengan P4 berpengaruh tetapi tidak nyata, karena setiap angka hasil rerata tinggi tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) diikuti oleh
superscript yang sama. Perlakuan P5 unggul dalam parameter tinggi tanaman dengan jenis
dan taraf mulsa B100:K0 atau 100% yang dihamparkan adalah daun bambu. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya tentang penggunaan penutup serasah daun bambu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan penutup serasah daun bambu berpengaruh nyata terhadap peningkatan rata-rata pertumbuhan parameter tinggi tanaman, karena pada mulsa daun bambu lebih banyak mengandung unsur Fosfor dan Kalium baik untuk proses pertumbuhan tanaman (Baroroh, 2016).
Pada Gambar 4.1 di atas, Tinggi tanaman setiap perlakuan pada usia 1 minggu setelah tanam (mst) sampai dengan III minggu menurut hasil uji statistik tidak berpengaruh terhadap pertambahan tinggi tanaman, hal ini dikarenakan tanaman membutuhkan lebih sedikit unsur hara untuk membentuk bagian-bagian kecil unsur hara
0 10 20 30 40 M I N G G U 1 M I N G G U 2 M I N G G U 3 M I N G G U 4 T in g g i ta n am an (c m ) P0 P1 P2 P3 P4 P5 Minggu Setelah Tanam
Rerata tinggi tanaman setiap perlakuan (cm)
Hasil Uji Statistik P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 (B0:K0) (B0:K100) (B25:K75) (B50:K50) (B75:K25) (B100:K0) (MPHP) I II III IV 11,74±1,49 12,11±2,01 12,08±2,21 11,38 ±2,45 11,19±2,61 13,18±1,63 12,41±2,45 P = 0,764 15,87±2,26 17,75±2,98 18,49±3,18 16,69±2,76 16,56±3,99 19,53±1,04 15,66±1,58 P = 0,232 22,73±3,94 24,71±3,67 26,05±5,11 23,75±2,91 23,36±5,58 27,17±2,42 22,94± 1,42 P = 0,515 30,9 ͣᵇ±5,23 33,7 ͣᵇ±3,92 34,8 ͣᵇ±3,85 35,3 ͣᵇ±5,09 33,3 ͣᵇ±5,11 38,4 ͣ ±3,30 29,6ᵇ±3,22 P = 0,04
7
tanaman dibandingkan dengan tanaman yang berumur lebih dari 4 minggu (Rahmi dan Jumiati, 2007). Tanaman muda hanya dapat memenuhi kebutuhan bagian tanaman yang
masih kecil dan memerlukan penambahan bagian tubuh yang relatif sedikit, maka dari
itu perlu untuk diadakan pengukuran lanjutan setelah minggu ke IV (Kartika, 2013).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemanfaatan ketersediaan daun bambu dan daun kakao sebagai mulsa alami untuk mendukung pertumbuhan dan produksi sawi hijau (Brassica juncea L.) yang telah dilaksanakan di desa nitakloang kecamatan Nita, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian mulsa daun bambu (Bambusa sp.) dan daun kakao (Theobroma cacao L.) terhadap pertumbuhan tinggi tanaman sawi hijau.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Penyuluh Se-Kecamatan Nita. 2017. Komoditas Utama Hortikultura Desa
Nitakloang
Baroroh, A. 2016. Analisis Unsur Hara Makro pada Pupuk Kompos dari Serasah Daun
Bambu dan Limbah Padat Pabrik Gula (Blotong). Skripsi. Jurusan Biologi.
Fakultas MIPA. Universitas Negeri Surakarta.
Kartika, R. 2013. Pengaruh Pupuk Organik Cair Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk)
Terhadap Pertumbuhan Tanaman Pakchoy (Brassica rapa L.) yang Ditanam Secara Hidroponik dan Sumbangannya Terhadap Pembelajaran Biologi di SMA. Skripsi. Jurusan Pendidikan Biologi. UNSRI.
Nugroho, A. 2019. Pemberdayaan Kelompok Peternak Sapi Oleh Petugas Teknis Peternakan Melalui Program Budidaya Sapi Potong. Tesis. Program Study Magister Agribisnis Fakultas Pertanian. UPN “Veteran” Yogyakarta
Rahmi, A dan Jumiati. 2007. Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Penyemprotan Pupuk Organik C Super ACI terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis. Jurnal
Agritop 26 (3): 105 – 109. Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Bali.
Sadono, D. 2008. Pemberdayaan Petani Paradigma Baru Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Jurnal Penyuluhan. Edisi (Vol 4 No.1).
Surmaini, E., Eleonora R., dan Irsal Las. 2010. Upaya Sektor pertanian Dalam Menghadapi Perubahan Iklim.Jurnal Litbang Pertanian, Edisi 30(1), 2011. Jakarta.
8
Etnobotani Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum Annum L.) Di
Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama
Kabupaten Flores Timur
Nurul Imaniyah Ahmad1, Yohanes Nong Bunga1, Yohanes Bare1*
1Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Nusa Nipa Indonesia, Sikka, Indonesia, 86111
Email*: [email protected]
ABSTRAK
Cabai merah keriting (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki beberapa manfaat kesehatan. Selain pemanfaatan sebagai zat adiktif dalam pengobatan tradisional cabai merah keriting (Capsicum annum L.), juga digunakan untuk pengobatan batuk, sakit gigi, radang tenggorokan, parasite, rematik, dan juga digunakan sebagai antiseptik, kontrairitasi, nafsumakan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengetahuan masyarakat terhadap etnobotani tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) di Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur. Metode Yang digunakan adalah metode wawancara pengetahuan tradisional masyarakat desa Waiwuring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabai merah keriting (Capsicum annum L.) dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Beberapa cara pengolahan sebagai obat diantaranya diambil beberapa helai daun cabai merah keriting, dicuci, dihaluskan dan kemudian ditempelkan pada bagian yang terkena bisul. Sedangkan untuk pengobatan sakit gigi dengan cara diambil biji cabai merah keriting, kemudian dibakar, lalu di uapkan menggunakan bambu yang berukuran sangat kecil. Setelah itu, asap cabai yang berada di dalam bambu di tiup dan di saring menggunakankapas, kemudian dari kapas tersebut di simpan dibagian gigi yang sakit (berlubang).
Kata Kunci: cabai merah keriting, desa waiwuring, etnobotani, pengobatan tradisional PENDAHULUAN
Cabai (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis buah yang sering di manfaatkan sebagai sayur karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Cabai (Capsicum
annum L.) dikonsumsi dalam bentuk segar maupun olahan. Pada awalnya, cabai
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yaitu sebagai bahan pelengkap makanan atau sering dikenal dengan rempah atau bumbu dapur. Seiring dengan kebutuhan manusia dan teknologi yang berkembang saat ini, cabai juga digunakan sebagai bahan baku industri untuk obat-obatan, kosmetik, zat warna, dan penggunaan lainnya (Fitriani dkk., 2013).
Volume 2, Nomor 2, Juni 2021
pISSN: 2716-151X eISSN: 2722-869X
9
Produksi Cabai (Capsicum annum L.) di Provinsi NTT dari tahun ke tahun mengalami fluktuatif atau naik turun. Berdasarkan data BPS (2019) Kabupaten Flores Timur, dari tahun 2017 sampai 2019 produksi tanaman cabai mengalami peningkatan yaitu di tahun 2017 produksi cabai mencapai 25%, pada tahun 2018 produksi cabai mencapai 27,25% dan pada tahun 2019 produksi cabai mencapai 27,31%. Produksi cabai (Capsicum
annum L.) ini sejalan dengan pola konsumsi masyarakat yang ada di Kabupaten Flores
Timur.
Masyarakat Kabupaten Flores Timur sering menggunakan cabai (Capsicum annum L.) sebagai bumbu dapur. Selain pemanfaatan sebagai bumbu dapur, masyarakat di Kabupaten Flores Timur juga menggunakan cabai sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan penyakit. Penggunaan sebagai obat memiliki keunikan untuk setiap wilayah di Kabupaten Flores Timur berdasarkan adat istiadat yang berlaku. Hasil penelitian pada masyarakat Desa Waiwuring Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur, menggunakan bagian dari daun cabai sebagai obat sakit gigi dengan cara diambil beberapa helai daun segar, lalu dicuci bersih kemudian ditumbuk dan ditempelkan pada bagian pipi dekat gigi yang sakit. Pengetahuan lokal masyarakat setempat perlu untuk di dokumentasikan agar tidak hilang pada zaman modern, karena hanya diwariskan pada keturunan tertentu.
Pengetahuan lokal tersebut belum teruji secara ilmiah karena masyarakat hanya mempercayai pada hasil yang diperoleh. Pengalaman masyarakat perlu di uji secara ilmiah untuk mengetahui potensi farmakologi dari tanaman cabai. Hasil studi literatur menunjukkan tanaman cabai mengandung berbagai macam bioaktif kimia. Studi literatur tanaman cabai menunjukkan kandungan utama Capsaicinoid pada cabai adalah capsaicin, diikuti oleh dihydrocapsaicin, homocapsaicin, nonivamide, nordihydrocapsaicin,
homodihydrocapsaicin, dan nornodihydrocapsaicin yang dapat digunakan untuk
mengobati penyakit seperti pegal-pegal, rematik, batuk, dan infeksi saluran cerna (Izzati 2018). Jenis sakit yang diobati menurut kajian referensi merupakan kondisi inflamasi di dalam tubuh manusia (Bare 2021; Bare et al. 2019, 2020; Bhadoriya 2012). Tujuan Penelitian ini adalah Menganalisis pengetahuan masyarakat terhadap etnobotani tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) di Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur.
10
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini tergolong dalam deskriptif eksplorasi. Metode dalam etnobotani terdiri atas wawancara terstruktur (structured interview) disertai keterlibatan aktif peneliti kepada masyarakat (Participatory Ethnobotanical Apprasial) diwilayah Kabupaten Flores Timur khusunya di Desa Waiwuring. Sampel penelitian ini adalah informan kunci (key
informant) sebanyak 3 orang dan non informan kunci sebanyak 7 orang dari Desa
Waiwuring, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur. Prosedur Penelitian
1. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dilakukan untuk mengetahui desa yang akan dijadikan sebagai lokasi penelitian dan penentuan informan kunci atau key informan. Informan kunci merupakan orang yang lebih memahami tentang tumbuhan obat. Untuk pemilihan lokasi penelitian terlebih dahulu harus mengetahui bahwa masyarakat desa tersebut masih menggunakan tumbuhan sebagai obat tradisional.
2. Survey Etnobotani
Survey etnobotani meliputi survey lapangan, pengambilan data dan wawancara. Untuk
mengetahui kearifan lokal masyarakat di Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama terhadap tumbuhan obat tradisional, maka dilakukan wawancara dengan penduduk setempat baik berupa nama lokal tumbuhan, bagian atau organ tumbuhan yang digunakan, cara perolehan serta cara pemanfaatan.
3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data tentang etnobotani tumbuhan cabai yang berpotensi sebagai obat penyakit oleh masyarakat Desa Waiwuring, dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara terstruktur yang berpedoman pada daftar pertanyaan seperti: nama lokal tumbuhan, bagian yang dimanfaatkan, cara perolehan tumbuhan serta cara pemanfaaatan. Bahasa yang digunakan dalam wawancara adalah bahasa Lamaholot, bahasa Bajo dan bahasa Indonesia disesuaikan dengan kemampuan responden.
4. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknis analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis data berupa analisis isi (content analysis) berdasarkan data pengetahuan responden terhadap tumbuhan sebagai obat. Data kualitatif didapat dari hasil wawancara masyarakat, sedangkan data kuantitatif berupa persentase penggunaan tumbuhan obat berupa organ tumbuhan, sumber perolehan tumbuhan dan
11
tingkat penggunaan jenis tumbuhan. Identifikasi tumbuhan dicocokkan dengan literatur yang mendukung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Gambaran Umum Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur
Desa Waiwuring merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan Witihama yang dihuni oleh Suku Bajo dan terletak dibibir pantai Selat Boleng yang indah dengan jarak tempuh dari kota kecamatan Witihama 5 km.
Gambar 1. Peta Topografi Desa Waiwuring (sumber: Profil Desa)
Desa Waiwuring memiliki 425 jiwa. Secara geografis, Desa Waiwuring terletak dibibir pantai yang memiliki luas 350 Ha dan batas, yaitu Utara berbatasan
dengan Desa Pledo, Timur berbatasan dengan Selat Boleng, Selatan berbatasan
dengan Desa Riangduli, Barat berbatasan dengan Desa Oringbele. Desa Waiwuring memiliki 1 unit polindes yang terletak di dusun 1 Mehin Koi. Jarak antar dusun ke polindes 300 meter. Polindes yang tersedia cukup memadai, karena memiliki 4 tenaga kesehatan diantaranya 2 bidan, 1 perawat, dan 1 tenaga kesehatan lingkungan (kesling). Umumnya masyarakat berobat ke polindes, namun selama proses pengobatan tidak sembuh maka masyarakat memilih untuk pergi ke dukun/tabib. Alasan lain masyarakat memilih pergi ke tabib/dukun, karena keadaan ekonomi sebagian masyarakat yang kurang mampu.
2. Pengetahuan Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.) Masyarakat Desa Waiwuring
Masyarakat Desa Waiwuring menyebut cabai dalam Bahasa lokal dengan sebutan cabi/sili. Masyarakat Desa Waiwuring memiliki pengetahuan dalam mengolah
12
keanekaragaman sumber daya alam di lingkungan sekitarnya. Salah satu pengolahan sumberdaya alam tersebut adalah penggunaan tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) sebagai bahan tambahan pangan. Pemanfaatan lainnya dari tanaman cabai ini adalah sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti bisul dan sakit gigi.
Tabel 1. Perekam Data Hasil Penelitian Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.)
No. Informan Nama Lokal
Organ Yang Digunakan dan Cara Perolehan
Cara Pemanfaatan
1. 1 Cabi/Sili Diambil biji lombok
dari buah lombok
Untuk sakit gigi: diambil biji lombok dari buah buah lombok kemudian dibakar, lalu di aspkan menggunakan bambu yang berukuran sangat kecil. Setelah itu, asap cabai yang berada di dalam bambu di tampung pada kapas, kemudian dari kapas tersebut di
masukkan dibagian gigi yang sakit (berlubang). Untuk bisul: diambil
beberapa helai daun lombok, dicuci kemudian dihaluskan, dan di tempelkan pada bagian yang terkena bisul.
2. 2 Cabi/Sili Diambil beberapa
helai daun lombok
Untuk sakit gigi: diambil beberapa helai daun lombok, dicuci kemudian di haluskan dan di tempel pada bagian pipi dekat gigi yang sakit.
13
3. 3 Cabi/Sili Diambil beberapa
helai daun lombok
Untuk sakit gigi: diambil beberapa helai daun lombok, dicuci kemudian di haluskan dan di tempel pada bagian pipi dekat gigi yang sakit.
Saat ini, masyarakat Desa Waiwuring masih mempercayai pengobatan tradisional. Selain dipercaya mampu menyembuhkan penyakit dengan cepat, perolehan tumbuhan obat juga sangat mudah di temukan. Masyarakat yang sakit, tidak jarang untuk berobat ke tabib/dukun setempat atau ke pusat kesehatan desa. Pemanfaatan tumbuhan obat ini juga di tanyakan oleh masyarakat setempat tentang cara penggunaan tumbuhan obat yang mampu menyembuhkan penyakit kepada tabib/dukun (Tabel 1). Pengetahuan yang diberikan disesuaikan dengan tinggat pengalaman akan suatu tanaman yang ebrkhasiat sebagai obat (Bare dkk. 2021; Bare dan Sari 2021). Pengobatan tradisional ini menjadi salah satu pilihan pertama masyarakat untuk mengobati suatu penyakit akibat kerbatasan ekonomi. Pengobatan tradisional ini selain digunakan untuk pertolongan pertama, penggunaan bahan yang dijadikan sebagai obat tradisional mudah diperoleh (Astria 2007).
Gambar 2. Peta Pola Persebaran Tabib/Dukun Desa Waiwuring
Desa Waiwuring memiliki 3 dusun, diantaranya: 1) Dusun 1 Mehin Koi
Berdasarkan hasil wawancara dukun 1 kakek Amir (75) tamatan sekolah menengah pertama, beliau memulai praktek mengobati sejak berumur 26 tahun. Penyakit yang sering di obati diantaranya sakit gigi, bisul, sakit kepala, serampa,
14
dan beberapa penyakit lainnya. Untuk pengobatan sakit gigi dan bisul, kakek Amir menggunakan beberapa organ dari tanaman cabai seperti daun cabai dan biji cabai. Pengobatan sakit gigi beliau menggunakan biji cabai yang diambil kemudian dibakar, lalu di asapkan menggunakan bambu yang berukuran sangat kecil. Setelah itu, asap cabai yang berada di dalam bambu di tampung pada kapas, kemudian dari kapas tersebut di masukkan ke bagian gigi yang sakit (berlubang). Sementara itu, pengobatan bisul menggunakan daun cabai dengan cara diambil beberapa helai daun, dicuci bersih, kemudian dihaluskan lalu di tempelkan pada bagian yang sakit. 2) Dusun 2 Tobo Heri
Dukun 2 yaitu kakek Tamrin (69) tamatan sekolah dasar. Beliau memulai praktek mengobati sejak tahun 1989. Beberapa penyakit yang sering di obati yaitu demam, sakit gigi, serampa, dan penyakit lainnya. Penobatan sakit gigi, biasanya kakek Tamrin menggunakan beberapa helai daun cabai merah keriting, dicuci, kemudian dihaluskan dan di tempel pada bagian pipi dekat gigi yang sakit. Proses pengobatan ini selama 3 hari sampai sembuh.
3) Dusun 2 Tobo Heri
Sesepuh yaitu kakek Abdul (68) tamatan sarjana pendidikan. Beliau tidak spesifik mengobati masyarakat seperti halnya dukun dalam mengobati, hanya saja kakek Abdul mengobati masyarakat apabila dalam keadaan mendesak (dukun yang sering mengobati sedang tidak ada di kampung atau sedang pergi bekerja). Kemampuan mengobati yang dimiliki kakek Abdul adalah turun temurun. Organ tanaman cabai yang digunakan dalam mengobati adalah daun cabai yang diambil, kemudian dicuci bersih dan di haluskan. Setelah itu, daun yang telah dihaluskan tersebut di tempelkan pada bagian pipi dekat gigi yang sakit. Proses pengobatan dapat berlangsung selama 3 sampai 4 hari sampai sembuh.
Hasil wawancara tabib/dukun dan sesepuh kampung tersebut dapat disimpulkan bahwa bagian tanaman yang dijadikan obat adalah bagian daun dan biji cabai untuk mengobati sakit gigi dan bisul. Dengan cara diambil beberapa helai daun, dicuci, kemudian di haluskan lalu ditempel pada bagian yang sakit. Sementara itu, untuk biji cabai diambil bijinya, kemudian dibakar, lalu di asapkan menggunakan bambu yang berukuran sangat kecil. Setelah itu, asap cabai yang berada di dalam bambu di tiup dan di tampung pada kapas, kemudian dari kapas tersebut di masukkan dibagian gigi yang sakit (berlubang).
15
Pemanfaatan tanaman cabai sebagai obat sesuai dengan penelitian Syafriadi dkk., (2017); Slamet dan Andarias, (2018), yang mengatakan bahwa cabai merah keriting (Capsicum annum L.) biasa digunakan sebagai bahan masakan, selain itu juga dapatdimanfaatkan sebagai obat penurun demam pada anak dan obat sakit gigi. Cara pengolahannya untuk menurunkan demam pada anak adalah, dengan mengambil daun cabai merah keriting secukupnya lalu dihaluskan, kemudian tambahkan santan kelapasecukupnya, aduk rata, dan oleskan keseluruh badan anak yang demam. Sementara itu, untuk mengobati sakit gigi dengan cara diambil dua helai daun cabai, kemudian dicuci bersih lalu di kunyah.
Gambar 3. Peta pola penyebaran responden Desa Waiwuring
Berdasarkan wawancara masyarakat desa Waiwuring dengan 10 responden diantaranya 3 informan kunci (key informan) dan 7 orang informan non-kunci, menyatakan bahwa cabai merah keriting (Capsicum annum L.) umumnya dimanfaatkan oleh tabib/dukun dan sesepuh kampung sebagai obat tradisional yang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit seperti bisul dan sakit gigi. Bagian tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan sakit gigi dan bisul adalah daun cabai merah keriting, selain itu biji cabai merah keriting juga digunakan untuk mengobati sakit gigi.
Tabel 2. Nama-nama responden Desa Waiwuring
No. Nama Responden Hubungan Dengan Dukun
1. A.A Pasien Dukun 1
2. F.B.T Pasien Dukun 1
3. S.H Pasien Dukun 1
4. M.C Pasien Dukun 2
16
6. S.B Pasien Dukun 3
7. H.S.B Pasien Dukun 3
Pemanfaatan bagian daun dari tanaman obat ini adalah salah satu upaya konservasi terhadap tumbuhan obat. Penggunaan daun sebagai obat tidak berdampak buruk bagi kelangsungan hidup tumbuhan. Pada daun banyak terakumulasi senyawa metabolit sekunder yang berguna sebagai obat yaitu tanin, alkaloid, minyak atsiri dan senyawa organik lainnya (Mulyani dkk., 2020). Pengetahuan masyarakat harus dilestarikan agar dapat wariskan kepada generasi berikut.
SIMPULAN
Pemanfaatan jenis tumbuhan cabai mera keriting (Capsicum annum L.) di Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, selain digunakan sebagai bumbu dapur dapat juga digunakan sebagai obat tradisional. Beberapa cara pengolahan sebagai obat diantaranya diambil beberapa helai daun cabai merah keriting, dicuci, dihaluskan dan kemudian ditempelkan pada bagian yang terkena bisul. Sedangkan untuk pengobatan sakit gigi dengan cara diambil biji cabai merah keriting, kemudian dibakar, lalu di uapkan menggunakan bambu yang berukuran sangat kecil. Setelah itu, asap cabai yang berada di dalam bambu di tiup dan di saring menggunakankapas, kemudian dari kapas tersebut di simpan dibagian gigi yang sakit (berlubang).
DAFTAR PUSTAKA
Astria. 2007. “KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT PADA MASYARAKAT DUSUN SEMONCOL KECAMATAN BALAI KABUPATEN SANGGAU.” Bare, Yohanes et al. 2019. “Prediction Potential Chlorogenic Acid As Inhibitor Ace (In
Silico Study).” Bioscience 3(2): 197.
———. 2021. “ANALISIS SENYAWA FITOSTEROL Cymbopogon citratus dan Curcuma longa SEBAGAI ANTIALZHEIMER.” Biopendix: Jurnal Biologi,
Pendidikan dan terapan 7(2): 53–159.
———. 2021. “Implementasi Biology Club I Di SMA Karitas Watuneso, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende.” Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara 4(2): 321–28.
Bare, Yohanes, Maria Helvina, Gabriella Chandrakirana Krisnamurti, and Mansur S. 2020. “The Potential Role of 6-Gingerol and 6-Shogaol as ACE Inhibitors in Silico Study.” Biogenesis: Jurnal Ilmiah Biologi 8(2): 210.
Bare, Yohanes, and Dewi Ratih Tirto Sari. 2021. “Pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) Berbasis Inkuiri Pada Materi Interaksi Molekuler.” BioEdUIN 11(1): 8.
Bhadoriya, Santosh Singh. 2012. “Anti-Inflammatory and Antinociceptive Activities of a Hydroethanolic Extract of Tamarindus Indica Leaves.” Scientia Pharmaceutica 80(3): 685–700.
17
Fitriani, Latifah, Toekidjo, and Setyastuti Purwanti. 2013. “Keragaman Lima Kultivar Cabai (Capsicum Annum L.) Di Dataran Medium.” Vegetalika 2 No.2, 2013 : 50-63.
Izzati, Fauzia. 2018. “Capsaicinoids dari Capsicum spp. Dan Penggunaannya Sebagai Riot Control Agent.” BioTrends 9 No.2 Tahun 2018: 9.
Mulyani, Yani, Patonah Hasimun, and Rendi Sumarna. 2020. “Kajian Etnofarmakologi Pemanfaatan Tanaman Obat Oleh Masyarakat Di Kecamatan Dawuan Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat: Ethnopharmacology Study of utilization medicinal plant by Society in Dawuan sub-district Subang Regency West Java Province.”
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) 6(1): 37–
54.
Slamet, Agus, and S Hafidhawati Andarias. 2018. “Studi Etnobotani dan Identifikasi Tumbuhan Berkhasiat Obat Masyarakat Sub Etnis Wolio Kota Baubau Sulawesi Tenggara.” : 12.
Syafriadi, A, Aisyah R Nasution, and Mahdalena. 2017. “KAJIAN ETNOBOTANI MELALUI PEMANFAATAN TANAMAN OBAT DI DESA REMA KECAMATAN BUKIT TUSAM KABUPATEN ACEH TENGGARA.”
18
Dampak Pembelajaran Model Two Stay Two Stray terhadap Peningkatan
Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Kelas XI IPA SMAS St. Petrus Kewapante
Aprianus Pani Pili1, Sukarman Hadi Jaya Putra1*,
1Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Nusa Nipa Indonesia, Sikka, Indonesia, 86111
Email*: [email protected]
ABSTRAK
Penggunaan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar serta keaktifan siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Tindakan kelas yang telah dilakukan dalam satu siklus berupa dua pertemuan.Data yang diperoleh berupa hasil tes dan observasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata pretest siswa sebesar 52,25 % dan rata-rata posttest sebesar 90,5 %. Hasil analisis keaktifan siswa diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan selama dua kali pertemuan di kelas. Rata-rata keaktifan siswa pada pertemuan satu adalah 62,6 % dan pertemuan kedua 86,65 %. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa kelas XI IPA SMAS St. Petrus Kewapante.
Kata Kunci: hasil belajar, keaktifan, two stay two stray.
PENDAHULUAN
Aktivitas belajar mengajar yang dilakukan bertujuan untuk mencapai tujuan yang dirumuskan sebelum pengajaran itu dilakukan (Ainurahman, 2013, Trianto, 2009). Dengan begitu akan timbul keaktifan di saat pembelajaran di antara siswa. Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Karena keaktifan menampilkan kegiatan proses pembelajaran yang cepat, menyenangkan, penuh semangat dan keterlibatan secara pribadi, melihat, menjawab pertanyaan, dan mendiskusikan antara guru dan siswa (Sardiman, 2012, Sudjana, 2010). Oleh karena itu perlu dicoba suatu hal baru seperti menggunakan model pembelajaran two stay two stray.
Volume 2, Nomor 2, Juni 2021
pISSN: 2716-151X eISSN: 2722-869X
19
Model pembelajaran tipe two stay two stray, merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif dimana peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil, untuk saling membantu satu sama lain (Bali, 2020). Model pembelajaran tipe two stay two stray ini memberi kesempatan kepada kelompok untuk mengembangkan informasi dengan kelompok lain (Sahela dan Muhammadi, 2020). Pembentukan anggota dalam kelompok kecil, bertujuan agar siswa saling menerima atau menukar informasi secara keseluruhan dan mampu memberi informasi kepada kelompok lain (Putra, 2020, Hayong dan Putra, 2020, Bare dkk., 2021, Sizi dkk, 2021).
Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada guru mata pelajaran biologi selama kegiatan belajar mengajar pada saat ini yang dilakukan di SMAS St. Petrus Kewapante masih banyak yang menggunakan metode atau model pembelajaran konvensional (hanya menggunakan metode ceramah) saat proses belajar mengajar biasanya siswa kurang terlibat pada kegiatan pembelajaran, siswa takut untuk bertanya atau mengeluarkan pendapat, siswa kurang bekerja sama dalam kelompok, siswa kurang menghargai teman yang bukan teman karibnya, peserta didik menganggap belajar adalah transfer informasi dari guru ke peserta didik. Hal tersebut membuat peneliti perlu mengajukan penggunaan model two stay two stray dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Setyowati dkk., (2019), mengatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Two Stay Two Stray, mampu meningkatkan kualita pembelajaran Biologi. Fitriyah dkk (2012),
menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray efektivitas terhadap hasil belajar peserta didik pada materi Klasifikasi Makluk hidup di MTs Negeri Sulang–Rembang. Megayani dan Maulana (2017), menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat membantu kegiatan pembelajaran peserta didik menjadi lebih baik, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Ismawati dan Hindarto (2011), menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two
Stray pada pembelajaran fisika, hasil kognitif siswa mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I
88% menjadi 98% pada siklus II.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas X IPA SMAS St. Petrus Kewapante.
20
METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian
Jenis dalam penelitan ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan dalam penelitian jenis ini adalah memperbaiki kinerja seorang guru dalam mengajar sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal pada nilai prestasi peserta dirik. Tahapan dalam penelitian ini adalah; 1) perencanaan (planing),2) pelaksanaan (acting), 3) pengamatan (observing), 4) refleksi (reflecting). Penelitian ini dilakukan di SMAK St. Petrus Kewapante mulai dari tanggal 31 Agustus – 12
September pada tahun ajar 2020/2021. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu, observasi,
perencanaan dan tahap pelaksanaan penelitian.
Subjek Penelitian
Subjek yang digunakan peserta didik kelas XI IPA SMAK St. Petrus Kewapante yang ada pada tahun ajaran 2020/2021. Jumlah siswa kelas XI IPA SMAK St. Petrus sebanyak 20 peserta didik yang terdiri dari laki-laki 5 orang dan perempuan 15 orang.
Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Instrumen berupa soal tes hasil belajar dan lembar observasi. Tes hasil belajar dipakai untuk mendapatkan informasi mengenai pemahaman peserta didik terhadap materi yang diberikan. Lembar observasi dipakai untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran selama penelitian yang terdiri dari 1 (satu) lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran. Tujuannya ialah untuk memperoleh data keaktifan siswa dalam menerapkan model pembelajaran
Two Stay Two Stray.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data berupa pengukuran mean dari hasil belajar peserta didik dan presentase belajar peserta didik secara klasikal. Data yang didapatkan dari hasil observasi pada setiap siklus pembelajaran di kelas dianalisis secara deskriptif, lalu ditarik kesimpulan dengan memperhatikan nilai kriteria ketuntasan minimum yaitu 75.
21
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Hasil Penelitian
Penelitian dengan Penelitian Tindakan Kelas telah dilakukan sesuai dengan tahapan yang sudah dibuat. Dimana, Model pembelajarannya adalah model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two
Stay Two Stray yang diterapkan pada materi Sistem Gerak. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik Kelas XI IPA, dan penelitian ini juga dilakukan dalam 1 siklus yang terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan, dimana setiap pertemuan terdiri dari 3 jam pelajaran.
Berdasarkan hasil tes yang diberikan, terdapat perubahan nilai antara pre tes dan post tes. Dari 20 butir soal yang diberikan pada saat pre tes, nilai yang diperoleh masih di bawah standar, dimana rata-rata hanya mencapai = 52,25. Sedangkan nilai post tes yang diberikan pada akhir pertemuan mengalami peningkatan yakni 90,5. Begitu juga dengan nilai rata-rata keaktifan pesrta didik, nilai yang diperoleh mengalami peningkatan antara pertemuan pertama dan pertemuan kedua. Observasi ini dilakukan tingkat perubahan yang terjadi pada peserta didik setelah diberikan pembelajaran dengan Two Stay Two Stray. Nilai hasil keaktifan pada prtemuan pertama memperoleh rata-rata 62,2 Sedangkan hasil observasi pertemuan kedua memperoleh rata-rata 82,6, hasil ini sudah mencapai standar dengan kriteria kaktifannnya tinggi.
Keaktifan Peserta Didik dan Hasil Belajar Peserta Didik
Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang diterapkan di SMAS Katolik St. Pertrus Kewapante, Kelas XI IPA dengan materi Sistem Gerak telah diperoleh data dari tes hasil belajar dan hasil pengamatan selama proses pembelajaran di setiap pertemuan. Berdasarkan data yang diperoleh pada penelitian ini menunjukan bahwa adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar peserta didik.
1. Keaktifan Peserta Didik
Data observasi keaktifan peserta didik secara klasikal diperoleh dari hasil pengamatan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data hasil observasi telah dianalisis oleh peneliti dari hasil observasi yang dilakukan 3 orang observer. Data tersebut dapat dilihat dibawah ini.
22
Tabel 1. Nilai keaktian Peserta Didik Pertemuan pertama
No Nama Observer Hasil yang diproleh Jumlah
Nilai 1 ANY ( 6 siswa) 57, 64, 65, 65, 59, 63 = 373 2 AY ( 7 siswa ) 61, 69, 61, 59, 62, 62,65 = 439 3 MYMT (7 siswa ) 66, 64, 67, 63, 61,59, 60 = 440 Jumlah rata-rata 62,6
Tabel 1. menjelaskan bahwa jumlah keseluruhan nilai peserta didik adalah 1.252. Jumlah nilai tersebut kemudian dibagi dengan jumlah peserta didik (20 orang). Maka rata-rata nilai keaktifan peserta didik pada pertemuan pertama adalah 62,6. Dimana nilai tertingginya adalah 69, sedangkan nilai yang paling rendah adalah 57. Kondisi tersebut terajdi karena pserta didik belum terlalu fokus dengan apa yang dijelaskan, sehingg pada saat proses pembelajaran berlangsung peserta didik belum berani berinteraksi dengan sesama kelompok belajar.
Tabel 2. Nilai keaktian Peserta Didik Pertemuan kedua
No Nama Observer Hasil yang diproleh Nilai
Akhir
1 ANY (6 siswa) 85, 80, 83, 83, 82, 86 = 499
2 AY (7 siswa ) 88, 84, 80, 77, 82, 82,82 = 575
3 MYMT (7 siswa) 85, 82, 81, 80, 84, 82,85 = 579
Rata-rata =82.65
Tabel 2 menjelaskan bahwa jumlah keseluruhan nilai peserta didik adalah 1.653. Jumlah nilai tersebut kemudian dibagi dengan jumlah peserta didik (20 orang), maka nilai rata-rata keaktifan peserta didik pada pertemuan kedua adalah 82,65. Dimana nilai tertingginya adalah 88 dan nilai terendahnya adalah 77. Kondisi tersebut terjadi karena peneliti selalu memberikan motifasi sehingga peserta didik tetap fokus dan kosentrasi pada saat pembelajaran berlangsung.
Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukan bahwa keaktifan peserta didik pada pertemuan kedua lebih tinggi dibandingkan pertemuan pertama. Perbedaan nilai keakifan pada pertemuan pertama dan pertemua kedua disebabkan karena pada pertemuan pertama peserta didik masih menyesuaikan diri dengan interaksi yang terjadi dalam model pembelajaran tersebut. Sehingga
23
ketika dijelaskan secara baik dan benar dengan model Two Stay Two Stray, tampak bahwa siswa mulai menunjukkan keaktifannya. Hal tersebut ditunjukkan dari tinggi nilai keaktifan seluruh siswa pada pertemuan kedua.
Gambar 1. Nilai Rata-rata keaktifan Peserta Didik
Berdasarkan gambar 1 terdapat perbedaan nilai rata-rata keaktifan belajar peserta didik yang diperoleh dari pertemuan pertama dan pertemuan kedua, pertemuan pertama memperoleh rat-rata 62,6, berdasarkan kriteria keaktifan nilai rata-rat pertemuan pertama tergolong kriteria Sedang, dan pertemuan kedua memperoleh rata 86,65, berdasakan kriteria keaktifan nilai rata-rata pertemuan kedua tergolong kriteria Tinggi. Hal ini terjadi karena melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray menuntut peserta didik untuk lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung.
Hasil penelitian yang telah dilakukan hanya sampai siklus I telah menunjukkan peningkatan nilai keaktifan peserta didik. Pembelajaran dilakukan dalam 2 kali pertemuan tatap muka. Jumlah peningkatan yang terjadi adalah 2, 95 % (sesuai pada Gambar 4.1). Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa penerapan model pembelajarn Two Stay Two Stray pada materi Sistem Gerak di SMAS St.Petrus Kewapante bisa meningkatakan keaktifan belajar siswa.
62,6
86,65
pertemuan pertama pertemuan kedua
Niali Rata-rata Keaktifan Belajar
Peserta Didik
rata-rata24
Rohmana dkk., (2016), memaparkan bahwa model Two Stay Two Stray berdampak baik pada peningkatan keaktifan siswa di kelas XI SMA pada materi jariangan hewan. Peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II adalah 1,18 %. Hal serupa juga terjadi pada siswa-siswa kelas VII SMP Negeri 11 Yogyakarta yang diberikan model pembelajaran two stay two stray mengalami memiliki perbedaan yang signifikan dengan kontrol (Rachmawati dan Ernawati, 2018.).
2. Data Hasil Belajar Peserta Didik
Hasil belajar peserta didik diperoleh dari nilai pre test dan post test. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui perbedaan pemahaman peserta didik sebelum dan setalah diberikan pembelajaran dengan model tipe Two Stay Two Stray. Tingkat keberhasilan peserta didik dilihat dengan memperhatikan nilai KKM yang ditentukan dari pembelajaran ini yaitu 75. Hasil perolehan nilai dari setiap peserta didik dikonversikan berdasarkan penskoran untuk mengetahui seberapa banyak peserta didik yang mencapai KKM. Perbandingan peningkatan nilai peserta didik dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram perbandingan nilai pre test dan post test
Gambar 2. menjelaskan bahwa nilai post test lebih tinggi dari nilai pre test. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two
Stray dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik SMAS KATHOLIK
St.Petrus Kewapante.
Kadiriandi dan Ruyadi (2017) menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) konvesional terhadap hasil belajar Sosiologi Di SMA Pasundan 3 Bandung. Hasil belajar yang digunakan dengan menggunakan model Pembelajaran Two Stay Two Stray memperoleh nilai rata-rata post test sebesar 62,75 lebih tinggi, dibandingkan dengan hasil belajar pre test yaitu 45,30.
0 50 100
Pretest posttest Series1 52.25 90.5
Nilai Rata-rata Pretest dan
Postest
25
Syamsiah. (2014) menyatakan bahwa peningkatan nilai keaktifan dan kognitif siswa adalah kognitif setelah diberikan pemebelajaran dengan model Two Stay Two Stray (TSTS) yang dipadu dengan picture and picture. Megayani dan Maulana, (2017) menambahkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural Two Stay Two Stray pada pembelajaran Fisika memiliki hasil yang meningkat, terlihat dari peningkatan nilai belajar siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu 88% ke 98%. Peningkatan hasil belajar juga diperngaruhi faktor luar berupa model pembelajaran maupun media pembelajaran (Bare, 2021).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam 1 siklus dengan 2 kali pertemuan terjadi peningkatan. Dimana nilai kognitif peserta didik dapat dilihat pada nilai hasil pre tes dan post tes. Niali pre tes hanya mencapai rata-rata 52,25, dan nilai post tes mengalami peningkatan yakni 90,5. Oleh karena itu dapat disimpulkan, bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray mampu menaikkan hasil belajar peserta didik SMAS St. Petrus Kewapante. Hal tersebut terlihat dari kategori yang dicapai yaitu sangat baik walau hanya sampai siklus I.
SIMPULAN
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stray Two Stray memiliki kategori sangat baik dan dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran secara maksimal. Dengan peningkatan keaktifan tersebut terjadi peningkatan nilai hasil belajar peserta didik pada siklus I.
DAFTAR PUSTAKA
Ainurahman. 2013. Belajar Dan Pembelajaran. Bandung: Alfa Beta Arikunto. 2010 Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Bali. M.M.E. 2020. Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Twp Stray dalam
Meningkatkan Keaktifian Belajar Matematika. Muróbbî: Jurnal Ilmu Pendidikan Volume 4, Nomor 1, Maret 2020
Bare, Y., Putra, S. H. J., Bunga, Y. N., Mago, O. Y. T., S, M., & Boli, Y. T. (2021). Implementasi Biology Club I di SMA Karitas Watuneso, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende. Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara, 4(2), 321– 328. https://doi.org/10.29407/ja.v4i2.15286
26
Bare, Y., & Sari, D. R. T. (2021). Pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa (Lkm) Berbasis Inkuiri Pada Materi Interaksi Molekuler. BioEdUIN, 11(1), 8. https://doi.org/10.15575/bioeduin.v11i1.12077
Fitriyah N. I., E., Purwantoyo E., dan Chasnah. 2012. Efektivitas kooperatif two stay two stray terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Unnes Journal of Biology
Education. 1 (2): 2012: 129-135
Hayong, M. S. W., & Putra, S. H. J. (2020). Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Inkuiri Pada Materi Sistem Reproduksi Manusia Kelas XI SMA Development of Inquiry-Based Students’ Worksheet on Human Reproductive System Subject for 11th Grade Senior High School. Spizaetus: Jurnal Biologi dan
Pendidikan Biologi, 1(3), 38–49.
Indriyani, (2011) Peningkatan kualitas pembelajaran kooperatif Teknik Two Stay
TwoStray pada siswa kelas IV SD Tambakaji 05 Kecamatan Ngaliyan Kota
Semarang, Jurnal Kependidikan Dasar 1 (2) hal 180-193
Ismawati N., dan Hendarto. N. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Struktural Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 38-41
Kadiriandi R. dan Ruyadi Y. 2017. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Model Two Stay Two Stray (Tsts) Terhadap Peningkatan Keaktifan Dan Hasil Belajar Sosiologi Di SMA Pasundan 3 Bandung. SOSIETAS, VOL. 7, NO. 2, 2017 Madya, L. M. A 2015. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Guided NoteTaking
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Listrik Otomotif Kelas XI TKR di SMK Negeri 3 Yogyakarta. Skripsi Pendidikan Teknik Otomotif
Megayani, Maulana.2017. penerapan model pembelajaran kooperatif tipe twostay two
stray terhadap hasil belajar siswa pada materiJurnal Bio Educatio, Volume 2,
Nomor 2, Oktober 2017
Putra. S.H.J. 2020. Pendekatan Saintifik Berbantukan Media Power Point Pada Materi Protista Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMAN 1 Bola. Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan Missio. Volume 12, No 2, Juli 2020
Rachmawati. Y dan Ernawati. T. 2018. Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Terhadap Hasil Belajar Ipa Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa. Natural: Jurnal Ilmiah Pendidikan IPA, Volume 5 No 1 bulan Maret 2018 Rohmana Q. A., , Widodo N., dan Kapti. L. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Tsts (Two Stay Two Stray) Dipadu Picture & Picture Untuk Meningkatkan Keaktifan
27
Dan Hasil Belajar Materi Jaringan Hewan Pada Siswa Kelas Xi SMA. Jurnal
Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 1 Nomor: 10 Bulan
Oktober Tahun 2016
Sahela. T., dan Muhammadi. 2020. Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu Menggunakan Model Cooperative Learning Tipe Two Stay Two Stray Kelas IV SD. Jurnal Pendidikan Tambusai . Volume 4 Nomor 2 Tahun 2020
Sardiman (2012). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Setyowati. Y. E., Relmasira S. C., dan Hardini A T. A. 2019. Peningkatan Keaktifan Dan Hasil Belajar Pada Pembelajaran Muatan IPA Dengan Menggunakan Model Two Stay Two Stray Sekolah Dasar. Jurnal Elementaria Edukasia Volume 2 No 1 Tahun 2019
Sizi, Y., Bare, Y., & Galis, R. (2021). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kognitif Peserta Didik SMP Kelas VIII. Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 2(1), 8.
Sudjana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Syamsiah. S. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray
Pada Mata Pelajaran Ips Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas Iv A Sdn Simomulyo 8 Surabaya. JPGSD. Volume 02 Nomor 01 Tahun 2014
Trianto.2009.Mendesain model pembelajaran inovatifprogresif.Jakarta:Kencana Wahidmurni, dkk. 2010. Evaluasi Pembelajaran Nuhalitera. Yogyakarta
28
Kajian Bioinformatika Penghambatan Alosterik Asemanan Dan
Glukomanan Terhadap C-JUN NH2 Terminal Kinase (JNK)
Dewi Ratih Tirto Sari1*, Reni Ustiatik2, Jatmiko Eko Witoyo3, GabriellaChandrakirana Krisnamurti4, Yohanes Bare5
1Pusat Studi SMONAGENES, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia, 65145
2Program Doktor Ilmu Pertanian, Pascasarjana Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang,
Indonesia, 65145
3Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya,
Malang, Indonesia, 65145
4Biotechnology Program, School of Bioresources and Technology, King Mongkut’s University
of Technology Thonburi, 10150 Bang Khun Thian, Bangkok, Thailand
5Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Nusa Nipa, Jl Kesehatan No 03, Maumere, Indonesia
Email*: [email protected]
ABSTRAK
cJun NH2 terminal Kinase (JNK) merupakan protein kinase family MAPK yang berperan dalam j alur pensinyalan penyakit metabolisme, salah satunya dalam regulasi faktor resiko obesitas. Penelitian in bertujuan untuk mengeksplorasi potensi asemanan dan glukomanan dalam menghambat JNK sebagai antidiabetes.metode pendekatan molecular docking digunakan untuk mengidentifikasi interaksi antara senyawa asemanan dan glukomanan terhadap protein JNK. Asemanan dan glukomanan berikatan di sisi aktif yang berbeda satu sama lain. Residu sisi aktif asemanan berada di close gate protein JNK, sedangkan glukomanan menunjukkan sisi aktif jalur ikatan inhibitor dari JNK. Asemanan dan glukomanan menghambat aktivitas JNK dengan berikatan di sisi non-katalitik dan diprediksi penghambatan protein JNK oleh kedua senyawa secara alosterik yang dapat merubah konformasi protein JNK. Selain itu, asemanan berikatan dengan kuat terhadap protein JNK dengan jenis ikatan hydrogen, interaksi hidrofobik dan elektrostatik dengan energi ikatan yang lebih rendah dari glukomanan – JNK. Penelitian disimpulkan bahwa senyawa asemanan dan glukomanan berpotensi sebagai antiobesitas dengan peranannya sebagai inhibitor terhadap protein JNK.
Kata Kunci: Alosterik, Asemanan, Glukomanan, protein JNK Volume 2, Nomor 2, Juni 2021
pISSN: 2716-151X eISSN: 2722-869X
29
PENDAHULUAN
Obesitas merupakan salah satu kasus yang banyak ditemui di negara berkembang seperti Indonesia. Obesitas didefinisikan sebagai kondisi berlebihnya berat badan yang diakibatkan oleh menumpuknya lemak (Bakker & Nieuwdorp, 2014; Makki dkk., 2013; Nabavi dkk., 2015). Salah satu faktor yang menyebabkan obesitas yaitu gaya hidup, konsumsi makanan yang tidak seimbang dan kurangnya aktivitas olahraga memicu akumulasi lemak pada tubuh (Xie dkk., 2018). Faktor resiko obesitas beragam, diantaranya menstimulasi berbagai penyakit metabolik seperti diabetes mellitus type 2, penyakit jantung, hipertensi, dan resiko terinfeksi virus seperti influenza dan COVID-19 (González-castejón & Rodriguez-casado, 2011; Mojiminiyi dkk., 2007; Raipuria, Hardy, Bahari, & Morris, 2015). Berbagai strategi dikembangkan untuk menurunkan angka obesitas, diantaranya dengan mengatur pola makan (diet), olahraga dan gaya hidup sehat. Jenis makanan yang banyak direkomendasikan untuk mengurangi obesitas dan resikonya yaitu dengan konsumsi suplemen makanan yang kaya akan serat (Hirata dkk., 2011; Mohamed dkk., 2014; Nabavi dkk., 2015; Patra & Nithya, 2015).
Suplemen makanan yang dapat dikonsumsi untuk menurunkan obesitas yaitu β-glukan, chitosan, the hijau, glukomanan, gelatin/agar dan lainnya. β-glukan dilaporkan memiliki efek antiobesitas dengan menurunkan laju absorbsi karbohidrat dan lipid. Selain itu, β-glukan juga mampu menurunkan massa tubuh. Chitosan juga dilaporkan sebagai antiobesitas. Chitosan merupakan polisakarida yang berikatan dengan glukosamina dan diturunkan dari proses deasetilasi kitin. Chitosan memiliki kadar lemak yang rendah, sehingga mampu berperan mengurangi resiko obesitas (Chang dkk., 2013; Ciecierska dkk., 2019). Chitosan juga menurunkan peroksidase lipid dengan peranannya sebagai antioksidan eksogen. Suplemen makanan untuk diet lainnya yaitu glukomanan dan asemanan (Chang dkk.., 2013). Glukomanan banyak ditemukan di umbi porang, sedangkan asemanan banyak ditemukan pada tanaman lidah buaya (Aloevera). Glukomanan dilaporkan sebagai antiobesitas dengan menurunkan kadar kolesterol total, LDL, dan berat badan secara signifikan. Sementara ekstrak aloevera mampu menurunkan persentase lemak tubuh dan berat lemak (Devaraj dkk., 2019; Yazdi, 2019). Potensi antiobesitas baik glukomanan maupun asemanan telah banyak dilaporkan dari data in vivo, namun mekanisme antiobesitas pada kedua senyawa masih diteliti.
Salah satu target antiobesitas yaitu protein cJun NH2 terminal kinase (JNK). Protein JNK merupakan protein kinase kelompok famili protein MAP-kinase (MAPK)
30
untuk fosforilasi. Protein JNK berperan dalam berbagai mekanisme terutama dalam pensinyalan penyakit metabolisme, seperti diabetes mellitus tipe 2, obesitas, artherosklerosis, arthritis, dan penyakit kardiovaskuler (Bardwell dkk., 2009; Duong dkk., 2020; Kragelj dkk., 2015). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi senyawa asemanan dan glukomanan sebagai anti-obesitas melalui penghambatan protein JNK secara in silico.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian menggunakan pendekatan kajian bioinformatika dengan data sekunder. Senyawa asemannan (CID 72041) dan glucomannan (CID 24892726) diunduh struktur tiga dimensinya dari database PubChem. Struktur 3D protein JNK diunduh dari database protein data bank (PDB) dengan ID 2p33 (Alam dkk., 2007). Protein JNK dipreparasi dengan memprediksi daerah sisi aktif (Cavity) protein dan didocking dengan senyawa asemanan dan glukomanan dengan software Molegro Virtual Docker 5 (Bitencourt-Ferreira & de Azevedo, 2019). Interaksi asemanan, glukomanan dengan protein JNK divisualisasi dengan tampilan 3D dengan perangkat lunak Discovery Studio v.21.1.1 dan analisis 2D dengan Molegro Virtual Docker 5 (Bitencourt-Ferreira & de Azevedo, 2019).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Asemanan berikatan dengan protein cJun NH2 terminal Kinase dengan ikatan elektrostatik pada residu A:LYS68. Ikatan hidrogen mendominasi interaksi asemanan dengan protein JNK yaitu pada residu GLU160, GLN155, GLN158 dan PRO69 (Gambar 1). Menariknya GLN158 teridentifikasi diikat oleh asemanan dengan jarak ikatan dengan atom yang bervariasi, yaitu 1,8; 1,8; 1,9; 1,4; dan 2,6 A dengan ikatan hidrogen. Asemanan juga memiki sisi aktif terhadap JNK pada MET159 dan LEU161 dengan interaksi hidrofobik dengan jarak ikatan masing-masing 4,3 A dan 4,5 A (Tabel 1). Glukomanan menunjukkan sisi aktif terhadap protein JNK yang berbeda dari Asemanan. Sisi aktif glukomanan terhadap protein JNK yaitu ALA74, SER217, ASN194, ARG107, THR103, GLN102, dan LYS191 (Gambar 1). Glukomanan mengikat residu ALA74 pada gugus NH dengan jarak ikatan 1,7A, SER217 juga berinteraksi dengan JNK dengan interaksi hidrogen dengan jarak 2,6 A. selain itu SER217 menunjukkan beberapa interaksi dengan dengan protein JNK dengan jarak 2,7; 2,6; 2,1; dan 1,9A (Tabel 1). Interaksi residu SER217 dibeberapa temapat mengindikasikan glukomanan memiliki kecenderungan
31
mengikat dibeberapa domain tersebut. Selain residu SER217, glukomanan juga menunjukkan dominasi residu yang diikat yaitu ASN194 yang berikatan dengan interaksi hidrogen, dan unfavorable. Residu asam amino SER217 protein JNK juga teridentifikasi merupakan sisi aktif senyawa 6-gingerol jahe dengan ikatan hidrofobik (Bare dkk., 2019). Residu ALA74 yang merupakan sisi aktif glukomanan – JNK juga teridentifikasi pada 8-shogaol (Bare dkk., 2020).
Gambar 1. Interaksi antara Glukomanan dan asemanan terhadap protein cJun NH2 terminal Kinase, A. Tampilan 3D kompleks ligand – protein, B. Tampilan sisi aktif residu JNK terhadap ikatan dengan ligand, C. Tampilan struktur 2D kompleks ligand - protein
32
Inhibitor JNK lainnya juga ditunjukkan oleh antosianin beras hitam seperti cyanidin, peonidin, cyanidin -3-O-glukosida, dan peonidin -3-O-glukosida (Sari dkk., 2021). Keempat antosianin tersebut mampu menghambat aktivitas JNK dengan berinteraksi di daerah gatekeeper protein JNK (MET146) dan daerah fosforilasi JNK (Sari dkk., 2020). Adenosin tripospat (ATP) dilaporkan mengikat protein JNK pada residu MET149, CYS154, ASN152, GLY73, SER72, ILE70, dan MET146. Daerah ikatan senyawa non-ATP yaitu GLY199, VAL256, GLN253, PHE180, TYR230, ILE231, TRP234, dan TYR259 (Duong dkk., 2020). Aminopyrimidine telah dilaporkan juga mengeblok JNK pada daerah sekitar gatekeeper yaitu GLY35, LYS55, GLN37, MET108, MET111, dan ASN114. MET108 teridentifikasi sebagai daerah penutupan konformasi protein JNK dan merupakan daerah interaksi hidrofobik (Alam dkk., 2007). Energi ikatan yang dihasilkan asemanan – JNK yaitu -596,6 kJ/mol lebih rendah dari glukomanan – JNK, yakni -363,1 kJ/mol (Tabel 1).
Tabel 1. Interaksi antara Glukomanan dan asemanan terhadap protein cJun NH2 terminal
Kinase Ligan - Protein Energi Ikatan (kJ/mol) Residu JNK Jenis Ikatan Kategori Asemanan - JNK -596.6
A:LYS68:NZ (5,5) Elektrostatik Attractive Charge
A:GLU160:HN (1,7); A:GLN158:O (1,8; 1,8; 1,9; 1,4);
A:GLN158:HN (2,6)
Ikatan
Hidrogen Ikatan Hidrogen A:GLU160:OE1 (2,1; 3,0; 2,7); A:GLN155:OE1 (2,5); A:PRO69:O (2,6; 3,0) Ikatan Hidrogen Ikatan Hidrogen Karbon A:MET159 (4,3);
A:LEU161 (4,5) Hidrofobik Alkyl
Glukomanan - JNK -363.1 A:ALA74:HN (1,7); A:SER217:OG (2,6); A:ASN194:OD1 (2,2); A:SER217:O (2,7) Ikatan
Hidrogen Ikatan Hidrogen A:ARG107:CD (3,2); A:THR103:O (2,5); A:SER217:N (2,6; 2,1); A:SER217:OG (1,9); A:GLN102:OE1 (2,5) Ikatan Hidrogen Ikatan Hidrogen Karbon A:ASN194:OD1 (2,1); A:ASN194:ND2 (2,09); A:ASN194:HD22 (1,2)
33
A:LYS191:HZ2 (1,4) Unfavorable Unfavorable Donor-Donor
Energi ikatan yang lebih rendah pada asemanan dimungkinkan karena adanya jenis ikatan yang bervariasi pada asemanan seperti elektrostatik, ikatan hidrogen, dan interaksi hidrofobik. Sedangkan glukomanan menunjukkan dua jenis ikatan yaitu ikatan hidrogen dan unfavorable. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa jenis interaksi dan jumlah interaksi berpengaruh terhadap energi ikatan ligand terhadap protein. Semakin banyak ikatan hidrogen dan interaksi hidrofob maka skor docking atau energi ikatan semakin rendah. Selain itu, interaksi elektrostatik, unfavorable dan gaya van der Waals berkontribusi terhadap pembentukan energi ikatan (Bare dkk., 2019; Bare dkk., 2019; Bare dkk., 2020; Bare dkk., 2020; Bare dkk., 2019; Bare dkk., 2019; Sari dkk., 2020; Sari dkk., 2020; Sari dkk., 2020).
SIMPULAN
Penelitian ini menyimpulkan bahwa asemanan dan glukomanan berikatan dengan protein JNK disisi aktif yang berbeda dan asemanan menunjukkan energi ikatan yang lebih rendah dari kompleks glukomanan – JNK. Asemanan dan glukomanan mampu berinteraksi dengan protein c-Jun NH2 terminal Kinase secara alosterik dan berpotensi dalam mencegah faktor resiko obesitas. Penelitian in vitro dan in vivo diperlukan untuk analisis antiobesitas lebih lanjut.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penelitian ini didanai dan didukung oleh inijurnal.co. Terimakasih kepada tim inijurnal.co atas diskusi yang komprehesif.
DAFTAR PUSTAKA
Alam, M., Beevers, R. E., Ceska, T., Davenport, R. J., Dickson, K. M., Fortunato, M., … Tait, L. J. (2007). Synthesis and SAR of aminopyrimidines as novel c-Jun N-terminal kinase (JNK) inhibitors. Bioorganic and Medicinal Chemistry Letters, 17(12), 3463– 3467. https://doi.org/10.1016/j.bmcl.2007.03.078
Bakker, G. J., & Nieuwdorp, M. (2014). Relationship Between Gut Microbiota , Energy
Metabolism , and Obesity. The Microbiota in Gastrointestinal Pathophysiology.