• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH

Saptana, Supena, dan Tri Bastuti Purwantini

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161

ABSTRACT

Sugarcane and tobacco are high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze efficiency and competitiveness of both commodities using Policy Analysis Matrix (PAM). The method is very useful in dealing with efficiency, competitiveness, and impacts of divergences caused by market or policy distortion. Results of the analysis showed that: (1) sugarcane farms in Kediri, Ngawi, and Klaten have no comparative advantage, but still have relatively low competitive advantage indicated by the values of DRC > 1 and PCR < 1; (2) the factors affecting competitive advantage sugarcane farming is policies tending to be protective; (3) asepan tobacco farming in technical and semi-technical irrigated lowland and rajangan tobacco growing in simple irrigated lowland areas in Klaten have competitive and comparative advantages shown by the values of DRC < 1 and PRC < 1. Regardless of duty up to 30 – 40 percent applied, tobacco farming is still relatively competitive.

Implication policies of the study: (a) improving sugarcane technology practice and increasing quality standardization for processing are essential to develop sugarcane farming; (b) in term of foreign-exchange management, tobacco is potential to develop socially and economically and the commodity is also potential to create employment and to enhance value added.

Key words: sugarcane, tobacco, efficiency, competitiveness

PENDAHULUAN Latar Belakang

Secara historis komoditas tebu dan tem- bakau sudah memperoleh perhatian yang besar sebagai komoditas komersial (high value commodity) sejak pemerintah Hindia Belanda.

Kebijakan penanaman tebu dan tembakau ter- sebut terus dilanjutkan oleh pemerintah Indone- sia melalui perusahaan negara perkebunan (PNP) dan perkebunan-perkebunan besar swasta di Luar Jawa. Dalam perkembangannya tanaman tebu juga diusahakan oleh petani rakyat melalui kebijakan pemerintah tentang Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) dengan sistem glebagan (pergiliran areal) tanam. Namun, dewasa ini pengusahaan tebu rakyat relatif hanya berkembang di wilayah Jawa Timur dan sebagian kecil Jawa Tengah. Sementara itu, usahatani tembakau diusahakan cukup meluas oleh petani rakyat baik di Provinsi Jawa Timur maupun Jawa Tengah.

Gula pasir (white sugar) tergolong komo- ditas strategis yang dilindungi oleh pemerintah.

Sebagai komoditas strategis, pemerintah ba- nyak melakukan intervensi terhadap industri gula. Selama dua dekade terakhir (1983-1999), pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan perlindungan terhadap industri gula melalui kebijakan harga, dengan menetapkan

provenue gula sebagai harga yang diterima produsen baik petani maupun pihak pabrik gula, yang bias untuk melindungi produsen. Sebagai ilustrasi dalam kurun waktu tersebut pemerintah telah mengeluarkan penyesuaian harga gula provenue sebanyak 12 kali yang ditujukan untuk meningkatkan atau paling tidak mempertahan- kan produksi gula nasional (Sudana, 2002).

Pada periode sebelum Juni 2002, pemerintah melakukan perlindungan terhadap produsen tebu dan gula melalui kebijakan tarif, dengan tingkat tarif 25 persen. Kebijakan tersebut belum memuaskan produsen gula, untuk memenuhi tuntutan APTR (Asosiasi Petani Tebu Rakyat) dan menghindari penurunan harga gula akibat penguatan nilai tukar rupiah, maka sejak 3 Juli 2002 akhirnya pemerintah telah mengubah tarif impor gula 25 persen menjadi tarif spesifik sebesar Rp.700/kg. Dengan jenis dan tingkat tarif seperti itu, pemerintah mengharapkan pendapatan petani tebu dapat meningkat dan petani tetap bergairah menanam tebu (Malian dan Saptana, 2002).

Kondisi yang agak berbeda di alami petani tembakau, usahatani tembakau terutama dengan orientasi ekspor, biasanya merupakan tembakau asepan yang digunakan sebagai bahan baku cerutu dan tembakau rajangan yang digunakan sebagai bahan baku rokok, produk tersebut terkena pajak biaya cukai kurang lebih

(2)

40 persen. Kondisi ini sangat memberatkan dan tidak kondusif bagi pengembangan tembakau nasional. Padahal komoditas ini sangat prospek- tif baik sebagai industri yang mampu menyerap tenaga kerja secara ekstensif maupun sebagai penghasil devisa.

Liberalisasi perdagangan yang makin menguat dewasa ini memberikan peluang seka- ligus tantangan baru yang harus dihadapi. Dari segi permintaan pasar, liberalisasi perdagangan memberikan peluang baru seperti pasar yang semakin luas sejalan dihapuskannya berbagai hambatan perdagangan antar negara. Namun liberalisasi perdagangan juga menimbulkan masalah serius jika komoditas yang diproduksi secara lokal tidak mampu bersaing di pasar dunia.

Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang dan perma- salahan tersebut, tulisan ini ditujukan untuk: (1) Melakukan analisis profitabilitas usahatani tebu dan tembakau; (2) Melakukan analisis tentang keunggulan komparatif dan keunggulan kompe- titif usahatani tebu dan tembakau; (3) Mengkaji kebijakan insentif dalam sistem komoditas tebu dan tembakau; dan (4) Merumuskan perspektif dalam pengembangan komoditas tebu dan tembakau.

METODOLOGI

Lokasi Penelitian, Informasi dan Data

Basis informasi primer dalam studi ini difokuskan di tiga kabupaten, yang terdapat di dua provinsi, yaitu Jawa Timur (Kediri dan Ngawi) dan Jawa Tengah (Klaten). Kajian untuk komoditas tebu dilakukan di Kabupaten Kediri pada semua tipe irigasi dan Ngawi terbatas pada tipe irigasi sederhana dan tadah hujan, dan Klaten terbatas pada irigasi teknis. Semen- tara itu, untuk komoditas tembakau hanya difokuskan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang diusahakan pada desa contoh irigasi teknis dan setengah teknis untuk tembakau asepan, dan di desa contoh irigasi sederhana untuk tembakau rajangan sesuai dengan data dan informasi yang tersedia. Periode penelitian untuk komoditas tebu antara MH 2000/2001 – MK II 2001, sedangkan untuk komoditas temba- kau selama satu musim MK I atau MK II.

Pemilihan lokasi mengikuti lokasi contoh padi, yang didasarkan pertimbangan adanya perbedaan tipe irigasi dan tingkat ketersediaan air, sehingga juga menggambarkan tingkat teknologi usahatani yang diterapkan. Dalam hal ini faktor pembeda teknologi adalah derajat pengendalian air, yang berbeda menurut keter- sediaan dan keandalan sarana irigasi. Pene- litian ini membedakan empat sistem pengairan sawah yakni : irigasi teknis dengan ketersediaan air baik, setengah teknis dengan tingkat keterse- diaan air sedang, sederhana dengan tingkat ketersediaan air kurang dan tadah hujan. Pada setiap kabupaten dipilih empat desa yang me- representasikan jenis irigasi tersebut.

Data primer dan sekunder dianalisis secara proporsional. Pengumpulan data usaha- tani di tingkat petani, untuk tebu dilakukan pada satu musim tebu atau dari MH 2000/2001 hingga MK II 2001, sedangkan untuk tembakau yang diusahakan petani umumnya hanya diusahakan pada MKI atau MK II 2001.

Sementara itu informasi kualitatif mengenai pasar input-output pertanian di pedesaan dilakukan secara periodik mulai dari MH 1999/2000 sampai MH 2001/2002. Penggalian informasi kualitatif lainnya dilakukan secara berlapis di tingkat desa, kabupaten dan provinsi di antaranya; formal dan informal leaders, pedagang pengumpul, whole-sale, dan industri pengolahan tembakau yang lebih dikenal de- ngan industri pengopenan tembakau dan indus- tri perajangan tembakau. Untuk komoditas tebu informasi di luar sistem usahatani, lebih me- ngandalkan data sekunder dan studi pustaka.

Pendekatan Analisis

Analisis dititikberatkan pada trend areal, produksi dan produktivitas serta ekspor dan impor, keragaan sistem usahatani; analisis keuntungan baik secara finansial dan ekonomi;

daya saing di tingkat petani serta menganalisis dampak kebijaksanaan insentif pemerintah terhadap sistem usahatani tebu dan tembakau.

Analisis Matriks Kebijaksanaan (Policy Analysis Matrix, PAM) digunakan untuk menganalisis kelayakan usaha baik secara private maupun secara sosial, keunggulan kompetitif (efisiensi finansial) dan keunggulan komparatif (efisiensi ekonomi), serta dampak intervensi atau kebijak- an pemerintah terhadap sistem komoditas.

Pada penelitian ini akan di lihat pada tingkat usahatani (level farm gate), namun informasi

(3)

pada industri pengolahan maupun pemasaran diperlukan dalam melakukan penyesuaian da- lam penentuan harga sosial. Untuk jelasnya Matriks PAM dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Tabel Policy Analysis Matrix (PAM) Biaya

Pene-

rimaan input trada-

ble

input non- tradable

Keun- tungan

Harga

Privat A B C D = A-B-C

Harga

Sosial E F G H = E-F-G

Diver- gensi

I = A- E

J = B–

F

K =C- G

L=I-J-K = D- H Sumber : Monke dan Pearson (1989)

Keterangan : D = Keuntungan Privat H = Keuntungan Sosial I = Transfer Output J = Transfer Input K = Transfer Factor L = Transfer Bersih

Baris pertama dari Matriks PAM adalah perhitungan dengan harga privat atau harga pasar, yaitu harga yang betul-betul diterima atau dibayarkan oleh pelaku ekonomi. Baris kedua merupakan perhitungan yang didasarkan pada harga sosial (shadow price), yaitu harga yang menggambarkan nilai sosial atau nilai ekonomi yang sesungguhnya bagi unsur-unsur biaya maupun hasil. Baris ketiga merupakan perbeda- an perhitungan dari harga privat dengan harga sosial sebagai akibat dari dampak kebijakan pemerintah atau distorsi pasar yang ada.

Untuk input dan output yang dapat diper- dagangkan secara internasional, harga sosial dapat dihitung berdasarkan harga perdagangan internasional. Untuk komoditas yang diimpor dipakai harga CIF (Cost Insurance and Freight), sedangkan komoditas yang diekspor digunakan harga FOB (Free on Board). Sedangkan untuk input non tradable digunakan biaya imbangan- nya (opportiny cost).

Beberapa indikator hasil analisis dari Matriks PAM diantaranya adalah :

1. Analisis Keuntungan

a. Private Profitability (PP) : D = A – (B+C).

Keuntungan privat merupakan indikator daya saing (competitivness) dari sistem ko- moditas berdasarkan teknologi, nilai output,

biaya input dan transfer kebijaksanaan yang ada. Apabila D>0, berarti sistem komoditas memperoleh profit atas biaya normal yang mempunyai implikasi bahwa komoditas ter- sebut mampu ekpansi, kecuali apabila sum- ber daya terbatas atau adanya komoditas lain yang lebih menguntungkan.

b. Social Profitability (PP) : H = E – (F+G) Keuntungan sosial merupakan indikator keunggulan komparatif (comparative advan- tage) dari sistem komoditas pada kondisi tidak ada divergensi baik akibat kebijakan pemerintah maupun distorsi pasar. Apabila H > 0, berarti sistem komoditas memperoleh profit atas biaya normal dalam harga sosial dan mempunyai keunggulan komparatif.

2. Efisiensi Finansial dan Efisiensi Ekonomi a. Private Cost Ratio (PCR) = C/(A-B) : yaitu

indikator profitabilitas privat yang menunjuk- kan kemampuan sistem untuk membayar biaya sumberdaya domestik dan tetap kompetitif. Sistem bersifat kompetitif jika PCR < 1. Semakin kecil nilai PCR berarti semakin kompetitif.

b. Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) = G/(E-F): yaitu indikator keunggulan kompa- ratif, yang menunjukkan jumlah sumberdaya domestik yang dapat dihemat untuk meng- hasilkan satu unit devisa. Sistem mempu- nyai keunggulan komparatif jika DRC < 1.

Semakin kecil nilai DRC berarti sistem se- makin efisien dan mempunyai keunggulan komparatif makin tinggi.

3. Dampak Kebijakan Pemerintah a. Kebijakan Output

(1) Output Transfer : OT = A-E : Transfer output merupakan selisih antara penerima- an yang dihitung atas harga privat (finansial) dengan penerimaan yang dihitung berdasar- kan harga sosial (bayangan). Jika nilai OT

> 0 menunjukkan adanya transfer dari masyarakat (konsumen) terhadap produsen, demikian juga sebaliknya.

(2) Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) = A/E; yaitu indikator yang menun- jukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap output pertanian domestik. Kebijakan ber- sifat protektif terhadap output jika nilai NPCO > 1. Semakin besar nilai NPCO berarti semakin tinggi tingkat proteksi peme- rintah terhadap output.

(4)

b. Kebijakan Input

(1) Input Tranfer :IT = B – F : Transfer input adalah selisih antara biaya input yang dapat diperdagangkan pada harga privat dengan biaya yang dapat diperdagangkan pada harga sosial. Jika nilai IT > 0, menunjukkan adanya transfer dari petani produsen kepada produsen input tradable.

(2) Nominal protection Coefficient on Input (NPCI) = B/F; yaitu indikator yang menun- jukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap harga input pertanian domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap input jika nilai NPCI < 1, berarti ada kebijakan subsidi terhadap input tradable.

(3) Factor Tranfer: FT = C – G; Transfer faktor merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosialnya yang diterima produsen untuk pembayaran faktor-faktor produksi yang tidak diperdagangkan. Nilai FT>0, mengan- dung arti bahwa ada transfer dari petani produsen kepada produsen input non tradable, demikian juga sebaliknya.

c. Kebijakan Input-Output

(1) Effective Protection Coefficient (EPC) = (A-B)/(E-F); yaitu indikator yang menun- jukkan tingkat proteksi simultan terhadap output dan input tradable. Kebijakan masih bersifat protektif jika nilai EPC > 1. Semakin besar nilai EPC berarti semakin tinggi ting- kat proteksi pemerintah terhadap komoditas pertanian domestik.

(2) Net Transfer : NT = D – H; Transfer bersih merupakan selisih antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. Nilai NT>0, menunjukkan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input dan output, demikian juga sebaliknya.

(3) Profitability Coefficient : PC = D/H;

Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan ber- sifat sosialnya. Jika PC > 0, berarti secara keseluruhan kebijakan pemerintah membe- rikan insentif kepada produsen, demikian juga sebaliknya.

(4) Subsidy Ratio to Producer (SRP) = L/E = (D-H)/E; yaitu indikator yang menunjukkan

proporsi penerimaan pada harga sosial yang diperlukan apabila subsidi atau pajak digunakan sebagai pengganti kebijakan.

Penentuan Input-Output Fisik

Input bibit tebu dan tembakau, pupuk yang digunakan memakai satuan kg, sementara untuk pestisida adalah liter, dan untuk satuan luas tanah adalah hektar. Tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar keluarga dikonversi ke jam kerja pria (HKP) yang dalam penelitian langsung dinilai ke dalam upah tenaga kerja (Rp/JK).

Selanjutnya, untuk satuan output dilakukan penyesuaian dari gula putih atau gula merah ke tebu, dan dari tembakau olahan ke tembakau daun basah. Struktur input dan output diperoleh dari hasil survei di lapang.

Pengalokasian Komponen Biaya Domestik dan Asing

Dalam studi ini, pembagian komponen biaya ke dalam komponen biaya asing dan domestik memakai pendekatan langsung. Hal ini didasarkan atas kenyataan untuk input tradable, baik barang impor maupun produksi dalam negeri, jika terjadi kekurangan permintaan dapat dipenuhi dari penawaran di pasar internasional.

Pada penelitian ini barang-barang yang diasumsikan 100 persen tradable Irigasi tekniss adalah untuk gula putih atau tebu dan tembakau hasil olahan atau tembakau daun basah.

Sedangkan untuk input adalah benih padi, pupuk urea, TSP, SP-36, KCL, ZA, NPK, Pupuk Alternatif, ZPT, PPC, pestisida, alat angkut, dan alat pena-nganan. Di lain pihak, input yang diasumsikan 100 persen sebagai domestic factors adalah nilai sewa lahan, tenaga kerja, pupuk kandang, pajak dan iuran air.

Komposisi alokasi biaya domestik dan asing untuk kegiatan transportasi didasarkan atas hasil wawancara dengan berbagai pelaku tataniaga, di mana untuk biaya tenaga kerja dalam proses pengangkutan sebagai komponen domestik (domestic factor) dan biaya angkut yang merepresentasikan sewa alat angkut seba- gai komponen asing (tradable). Demikian juga untuk kegiatan penanganan.

Pembagian komponen tradable dan domestic factors pada biaya penanganan dida- sarkan dari data hasil wawancara langsung dengan para pelaku ekonomi komoditas tebu

(5)

atau gula putih dan tembakau daun basah atau tembakau hasil olahan. Biaya penanganan untuk komoditas tebu atau gula putih dan tembakau hasil olahan atau tembakau daun basah yang diteliti terdiri dari biaya bahan (tradable) dan domestic factors untuk tenaga kerja/buruh. Secara terperinci hasil alokasi biaya ke dalam komponen domestik dan asing dapat disimak pada Tabel Lampiran 1. Sedangkan jus- tifikasi dalam penentuan hara sosial input dan output dikemukakan pada Tabel Lampiran 2.

EKONOMI TEBU DAN TEMBAKAU

Perkembangan Luas Areal Tebu dan Produksi Gula di Indonesia

Penguasahaan tebu di Jawa dapat dibe- dakan atas tebu rakyat yang di tanam di lahan sawah dan lahan kering, serta tebu milik pabrik gula (Malian, 1998). Dalam upaya alih teknologi kepada petani tebu, petani tebu dikelompokkan menjadi kelompok kolektif dan petani kooperatif, disamping itu terdapat petani tebu individual sebagai petani Tebu Rakyat Bebas/TRB (Rachmat, 1992). Kelompok kolektif adalah ke- lompok petani tebu dalam satu hamparan yang pengelolaannya ditangani oleh ketua kelompok, sedangkan pada kelompok kooperatif walaupun petani dikoordinasikan pada satu kelompok, pengelolaan tebu dilakukan oleh petani secara individu. Perkembangan luas areal, produktivitas hablur, rendemen, dan produksi selama periode (1990-2002) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 memberikan gambaran bahwa luas areal tanam tebu, produktivitas hablur, tingkat rendemen, dan produksi gula menga- lami penurunan sejalan dengan liberalisasi perdagangan dan dihapuskannya subsidi gula sejak 1 oktober 1998, yang mendorong turunnya harga. Penurunan tersebut juga terkait dengan penghapusan subsidi pupuk sejak Desember 1998 dan bersamaan dengan krisis moneter, sehingga harga pupuk meningkat dua kali lipat, yang berdampak pada penurunan dosis peng- gunaan pupuk serta tingkat produktivitas dan rendemen yang dihasilkan. Kebijakan tersebut terkait dengan kesepakatan yang tertuang dalam Letter of Intens (LOI) antara IMF dengan pemerintah Indonesia bahwa subsidi hanya bisa dilakukan dalam bentuk subsidi langsung dan atau dalam bentuk pembangunan infrastruktur ekonomi.

Keragaan produksi gula nasional adalah sebagai berikut : (1) Pada tahun 2002 di Indo- nesia terdapat 71 pabrik gula (PG), di mana 58 buah berada di Jawa dan 12 lainnya berada di Luar Pulau Jawa, serta 1 buah pabrik gula rafinasi; (2) Berdasarkan kepemilikannya 62 buah PG milik negara dan 8 buah milik swasta;

(3) Dari 71 PG tersebut yang masih beroperasi tinggal 63 PG, karena kelangkaan bahan baku dan secara ekonomi tidak menguntungkan lagi;

(4) Kapasitas pabrik gula berkisar 1.000-12.000 TTH, dengan areal mencapai kurang lebih 400.

000 ha menyebar di Jawa, Sumatera, Kaliman- tan, dan Sulawesi.

Tabel 2. Perkembangan Luas Areal Tebu, Produktivitas Hablur, Rendemen, dan Produksi, Tahun 1990-2002

Tahun Areal (ha) Tebu

(ton/ha)*

Hablur (ton/ha)

Rendemen (%)

Produksi Tebu**

Produksi Hablur (ton)

1990 364.977 76,95 5,81 7,55 28.084.980 2.119.509

1991 386.384 72,97 5,83 7,99 28.194.440 2.252.666

1992 404.439 79,06 5,70 7,21 31.974.947 2.306.430

1993 420.680 78,67 5,90 7,50 33.094.896 2.482.720

1994 428.726 68,92 5,72 8,03 29.547.796 2.453.566

1995 420.630 71,45 4,98 6,97 30.054.014 2.096.602

1996 403.267 70,90 5,19 7,32 28.591.630 2.094.194

1997 385.669 72,54 5,68 7,83 27.976.429 2.189.975

1998 377.089 71,95 3,95 5,49 27.131.553 1.491.553

1999 340.802 85,49 5,95 6,96 29.135.163 1.488.601

2000 337.494 70,82 5,00 7,06 23.901.325 1.685.827

2001 344.750 73,14 5,01 6,85 25.215.015 1.727.570

2002* 351.241 73,16 5,48 7,49 25.696.792 1.923.832

Rata-rata 382.011 74,31 5,40 7,25 28.353.768 2.077.805

Trend (%/th) -1,35 -0,20 -0,80 -0,95 -1,56 -2,56

Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2002.

(6)

Informasi kualitatif dari lapang menunjuk- kan bahwa kinerja usahatani tebu dan PG milik negara secara umum makin tidak efisien, yang antara lain disebabkan oleh: (1) makin rendah- nya rendemen tebu yang dihasilkan petani sebagai akibat rendahnya adopsi teknologi dan kemandegan dalam menghasilkan bibit tebu berkualitas serta bergesernya areal tanam tebu dari lahan sawah ke lahan kering; (2) tingginya biaya sewa lahan yang menunjukkan tanaman tebu harus berkompetisi dengan komoditas dengan pola tanam dominan; (3) mesin pabrik yang sudah usang dan sebagai akibat makin jauhnya sentra tanaman tebu dengan lokasi PG;

(4) tidak adanya reinvestasi dalam PG, padahal alat dan mesin penggilingan sudah usang; dan (5) banyaknya birokrasi yang terlibat dalam penanganan industri gula telah menyebabkan ekonomi biaya tinggi (high cost economics) dalam industri gula.

Perkembangan Impor dan Harga Gula

Konsumsi gula nasional meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat, serta berkembangnya industri berbahan baku gula. Peningkatan konsumsi domestik tersebut belum dapat diimbangi dengan peningkatan produksi, sehingga untuk menutup kekurangan- nya harus mengimpor gula dari pasar interna- sional. Tabel 3 memberikan gambaran sebagai berikut: (1) rata-rata volume impor gula pada

periode 1990-2002 mencapai 889.889 ton per tahun; (2) perkembangan impor selama periode tersebut meningkat lebih dari 17 persen per tahun; (3) harga gula dunia untuk white sugar dan raw sugar mengalami penurunan masing- masing sekitar 2 persen per tahun. Sementara itu harga gula domestik pada periode yang sama mengalami peningkatan yang sangat tinggi yaitu sekitar 12 persen per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan komoditas tebu atau gula domestik semakin tidak memiliki dayasaing di pasar internasional.

Dilihat dari dinamika kebijakan gula nasio- nal, sejak tahun1981 tataniaga gula pasir diatur oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 122/

KP/III/1981 tentang Tataniaga Gula Pasir Pro- duksi Dalam Negeri, yang menyebutkan bahwa Bulog melakukan pembelian seluruh produksi gula dalam negeri guna disalurkan kepada masyarakat. Dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1998 tanggal 21 Januari 1998 tentang perubahan Atas Kepu- tusan Presiden No 50 Tahun 1995 tentang Badan Urusan Logistik sebagaimana telah di ubah dengan keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1997 maka Bulog hanya mempunyai tugas pengendalian harga dan pengelola perse- diaan beras.

Meskipun demikian berdasarkan surat Menteri Keuangan No S-116/MK/1998 tanggal 21 Februari 1998 perihal pengadaan Gula Pasir Tabel 3. Perkembangan Volume Impor Gula, Harga Gula Dunia, dan Harga Gula Domestik, Tahun 1990-2002

Harga Gula Dunia**

Tahun Gula Impor (Ton) White Sugar

(U$/Ton)

Raw Sugar (U$/Ton)

Harga Gula Domestik (Rp/Kg)

1990 278.501 346,40 251,00 1.050

1991 306.774 268,20 180,80 1.125

1992 316.675 247,80 181,80 1.215

1993 236.719 255,80 200,60 1.256

1994 128.399 344,99 269,33 1.260

1995 523.988 396,13 295,52 1.430

1996 975.830 366,70 263,61 1.481

1997 1.364.563 315,87 249,90 1.525

1998 1.730.473 255,19 195,59 2.737

1999 2.187.133 200,61 137,75 2.640

2000 1.556.687 221,73 179,57 2.989

2001 1.072.921 249,31 188,60 3.746

2002* 1.302.181 246,24 153,78 3.758

Rata-rata 889.889 285 77 211,73 2.015

Trend (%/th) 17,57 -2,36 -2,37 11,88

Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2002.

*) Taksasi Maret 2002 **) London Daily Price : White and Raw Sugar

(7)

Dalam Negeri, seluruh produksi gula pasir baik yang dihasilkan BUMN maupun yang dihasilkan swasta tetap akan dibeli seluruhnya oleh Bulog.

Berdasarkan dinamika kebijakan gula nasional menunjukkan bahwa kebijakan pengadaan dan distribusi gula masih terjadi tarik menarik antara tetap adanya kebijakan (intervensi pemerintah) dan yang mengarah pada perdagangan bebas.

Berbagai kebijakan terbaru dalam industri gula telah dikeluarkan akhir-akhir ini. Sebagai ilustrasi dalam kurun waktu tersebut pemerintah telah mengeluarkan penyesuaian harga gula provenue sebanyak 12 kali yang ditujukan untuk meningkatkan atau paling tidak memperta- hankan produksi gula nasional (Sudana, 2002).

Pada periode sebelum Juni 2002, pemerintah melakukan perlindungan terhadap produsen tebu dan gula melalui kebijakan tarif, dengan tingkat tarif 25 persen. Kebijakan tersebut belum memuaskan produsen gula. Untuk memenuhi tuntutan APTR (Asosiasi Petani Tebu rakyat) dan menghindari penurunan harga gula akibat penguatan nilai tukar rupiah, maka sejak tanggal 3 Juli 2003 pemerintah mengubah tarif impor gula 25 persen menjadi tarif spesifik sebesar Rp.700/kg. Bahkan belum lama ini Presiden menyetujui kenaikan bea masuk gula kristal mentah hingga Rp. 1.200/kg dan sekaligus memberikan subsidi kepada petani tebu sebesar Rp. 500/kg. Dengan jenis dan tingkat tarif seperti itu, pemerintah mengharapkan agar pendapatan petani tebu dapat meningkat dan petani tetap bergairah untuk menanam tebu.

Perkembangan Luas Areal dan Produksi Tembakau di Indonesia

Pengusahaan tembakau di Indonesia khususnya di Jawa dapat dibedakan atas perkebunan tembakau rakyat yang ditanam di lahan sawah dan lahan kering, serta tembakau perkebunan besar nasional terutama milik perkebunan negara. Perkembangan luas areal dan produksi periode 1990-2000 tertera pada Tabel 4.

Data Tabel 4 menunjukkan gambaran berikut: (1) Luas areal tanam tembakau per- kebunan rakyat mengalami penurunan dari sekitar 231 ribu hektar (tahun 1990) menjadi sekitar 194 ribu hektar (tahun 2000) atau mengalami penurunan sebesar –1,65 persen per tahun. Sedangkan luas areal tanaman tembakau perkebunan besar nasional menga- lami penurunan dari sekitar 4.600 hektar (tahun 1990) mejadi 3900 hektar (tahun 2000) atau mengalami penurunan sebesar –1,05 persen per tahun. Dengan demikian secara total luas areal mengalami penurunan dari 236 ribu hektar (1990) menjadi 199 hektar (2000) atau menga- lami penurunan sebesar –1,63 persen per tahun; (2) Pada periode yang sama produksi tembakau sedikit mengalami peningkatan, pro- duksi tembakau perkebunan rakyat naik 0,35 persen per tahun, perkebunan besar nasional meningkat sebesar 1,00 persen per tahun, dan secara nasional mengalami peningkatan sebe- sar 0,36 persen per tahun; (3) Penurunan luas

Tabel 4. Perkembangan Luas Areal Tembakau dan Produksi Tembakau Menurut Jenis Pengusahaan, Tahun 1990-2000

Luas Areal (Ha) Produksi (Ton)

Tahun

P. Rakyat PBN Jumlah P. Rakyat PBN Jumlah

1990 231.284 4.582 235.866 152.768 3.664 156.432

1991 210.844 3.994 214.838 137.039 3.224 140.283

1992 162.685 4.162 166.847 109.566 2.089 111.655

1993 174.798 3.698 178.496 118.936 2.434 121.370

1994 189.227 3.868 193.095 127.730 2.404 130.134

1995 217.469 3.475 220.944 137.078 3.091 140.169

1996 222.025 3.450 225.475 148.435 2.590 151.025

1997 245.327 3.550 248.877 206.322 3.304 209.626

1998 161.550 3.937 165.487 102.174 3.406 105.580

1999 163.278 3.993 167.271 132.174 3.210 135.384

2000 164.712 3.976 168.688 132.408 3.170 135.578

Rataan 194.836 3.905 198.717 136.785 2.964 139.749

Trend (%/th) -1,65 -1,04 -1,63 0,35 1,00 0,36 Sumber : Statistik Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Tahun 2000.

(8)

areal yang kecil dibarengi peningkatan produksi yang kecil mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas, yang berarti makin dikuasainya adopsi teknologi budidaya oleh petani. Penu- runan luas areal panen tembakau terkait dengan kebijakan penghapusan subsidi pupuk sejak Desember 1998 dan bersamaan dengan krisis moneter, sehingga harga pupuk meningkat dua kali lipat, serta adanya fluktuasi harga yang tinggi di pasar internasional.

Perkembangan Ekspor dan Impor Tembakau Konsumsi rokok nasional meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat, serta berkembangnya industri rokok. Pening- katan permintaan tembakau domestik sudah tidak dapat dipenuhi lagi dari peningkatan produksi domestik, sehingga sebagian kebu- tuhan tembakau domestik dipenuhi impor dengan tendensi semakin meningkat, meskipun posisi Indonesia saat ini masih net eksportir.

Tabel 5 memberikan gambaran sebagai berikut: (1) rata-rata volume ekspor pada perio- de (1990-2000) sekitar 60 ribu ton, sedangkan rata-rata volume ekspor daun tembakau kering sekitar 32 ribu ton; (2) perkembangan volume ekspor tembakau meningkat sebesar 1,49 persen per tahun dan dalam bentuk daun kering tumbuh rata-rata 6,95 persen per tahun; (3) perkembangan nilai ekspor dalam bentuk tem- bakau sebesar 2,27 persen per tahun dan

dalam bentuk tembakau daun kering sebesar 5,78 persen per tahun; (4) rata-rata volume impor tembakau periode (1990-2000) mencapai sekitar 38 ribu ton per tahun dan dalam bentuk tembakau daun kering sekitar 35 ribu ton per tahun; (5) perkembangan impor tembakau selama periode tersebut meningkat sebesar 3,68 persen per tahun dan dalam bentuk daun kering sebesar 2,68 persen per tahun;(6) perkembangan impor dalam bentuk nilai untuk tembakau 8,61persen per tahun dan tembakau daun kering 4,67 persen per tahun; dan (7) perkembangan nilai ekspor yang lebih rendah dibandingkan nilai impor menunjukkan bahwa tembakau Indonesia mengalami penurunan kualitas dan daya saing di pasar dunia.

Pola Tanam dan Siklus Tanam

Pengusahaan tanaman tebu di Kabupa- ten Kediri, Ngawi, dan Klaten pada awalnya banyak diusahakan di lahan sawah berpe- ngairan teknis, namun pengusahaan tebu saat

ini banyak bergeser ke lahan sawah tadah hujan dan lahan tegalan. Meskipun pada pedesaan contoh Kediri dan Ngawi masih banyak ditemu- kan pengusahaan tebu di lahan sawah, karena di samping banyak pabrik gula yang masih beroperasi, juga berkembang industri kecil gula merah berbahan baku tebu. Di pedesaan Kabupaten Klaten, pengusahaan tebu relatif terbatas di lahan sawah bengkok atau lungguh milik pamong desa. Keragaan pola tanam dan siklusnya tertera pada Tabel 6.

Tabel 5. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor dan Impor Tembakau Indonesia, Tahun 1990-2000

Ekspor Impor

Volume (ton) Nilai (000 $) Volume (ton) Nilai (000 $) Tahun

Tembakau Daun

tembakau Tembakau Daun

tembakau Tembakau Daun

tembakau Tembakau Daun tembakau 1990

1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000

39.028 45.146 60.903 70.770 53.787 53.002 62.148 75.883 72.243 62.468 60.361

17.401 22.403 28.365 37.888 30.927 21.989 33.205 42.281 46.960 37.097 35.658

124.798 145.932 206.418 176.652 126.423 186.769 219.500 245.797 254.332 212.073 220.977

58.613 57.860 80.950 66.238 53.262 61.456 84.372 104.743 147.552 91.834 71.287

27.704 29.933 26.679 32.877 42.985 52.204 49.810 52.140 19.761 43.626 42.768

26.545 28.543 25.108 30.226 40.332 47.954 45.060 47.108 17.152 40.913 34.248

47.222 67.654 78.646 99.544 125.299 156.129 181.418 206.549 84.474 141.060 163.694

41.964 58.430 64.546 76.997 100.216 115.474 134.153 157.767 75.971 128.019 114.834 Rata-rata

Trend (%/th)

59.613 1,49

32.198 6,05

192.697 2,27

79.883 5,78

38.226 3,68

122.881 8,61

122.881 8,61

97.125 4,67 Sumber : Statistik Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Tahun 2000

(9)

Berdasarkan kajian di lapang ternyata bahwa keputusan petani untuk menanam jenis tanaman apa pada musim yang bersangkutan sangat ditentukan ada tidaknya tanaman komer- sial yang dipandang menguntungkan. Sebagai ilustrasi di Kabupaten Klaten keputusan petani tentang jenis tanaman dan pola tanam yang dipilih sangat ditentukan kapan tanaman tembakau harus ditanam dan dipanen, sehingga dalam siklus tanam yang dipilih memberikan keuntungan yang maksimal bagi petani.

Secara umum pola tanam yang ada di pedesaan contoh yang tidak ada pengusahaan tanaman perkebunan adalah satu tahun, se- dangkan yang ada tanaman tembakau ada yang satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun. Semen- tara itu untuk yang mengusahakan tanaman tebu, lamanya siklus tanam adalah 2-4 tahun, tergantung sampai keprasan berapa tebu akan dibongkar.

Beberapa jenis tembakau yang diusa- hakan petani di Kabupaten Klaten adalah tembakau Jawa asepan, Virginia, dan tembakau Jawa rajangan. Varietas Jawa asepan yang paling dominan adalah grompol, sedangkan varietas Jawa rajangan adalah Bligon, Malawi dan Japlakan. Secara umum tanaman temba- kau membutuhkan air dalam jumlah dan waktu

yang harus dikendalikan dengan baik, melalui pengaturan sistem drainase yang baik. Meski- pun membutuhkan air, tanaman tembakau sangat rentan terhadap curah hujan yang terlalu tinggi. Dengan demikian kedua jenis tanaman perkebunan tersebut mempunyai saat panen pada musim kering, karena rendemen dan kualitas hasil dapat dipertahankan.

PROFITABILITAS FINANSIAL DAN SOSIAL

Analisis data primer input-output usaha- tani tebu dan tembakau di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel Lampiran 3, 4, dan 5.

Sedangkan hasil analisis profitabilitas finansial dan ekonomi (sosial) secara terperinci dapat dilihat pada Tabel Lampiran 6 dan 7. Sementara itu, hasil analisis PAM komoditas tebu dan tembakau di kabupaten contoh dapat disimak pada Tabel Lampiran 8, 9 dan 10.

Berdasarkan analisis biaya dan keun- tungan secara privat menunjukkan bahwa usahatani tebu di Kabupaten Kediri, Ngawi, dan Klaten, pada beberapa tipe irigasi secara privat menguntungkan. Besarnya keuntungan untuk Kabupaten Kediri berkisar antara Rp. 907 ribu – 2,18 juta/ha/musim tebu; Ngawi antara Rp. 507 ribu–Rp. 1,18 juta/ha/musim tebu dan Klaten Tabel 6. Keragaan Pola Tanam dan Siklus Tanam di Pedesaan Contoh Kediri, Ngawi dan Klaten, Tahun 2000-

2001

Uraian Irigasi teknis Irigasi ½ teknis Irigasi sederhana Tadah hujan 1. Kediri

a. Pola Tanam 1. Pd-pd-jg 1. Pd-pd-jg 1. Pd-jg-sayuran 1. Pd-jg-jg 2. Pd-jg-jg 2. Pd-pd-sayuran 2. Jg-sayuran-pd 2. Pd-jg-cabe 3. Pd-cb-Kcpj/tmt 3. Pd-jg-sayuran 3. Sayuran-pd-jg 3. Pd-jg-sayur lain

4. Tebu 4. Tebu 4. Tebu 4. Tebu

b. Siklus Tanam 1-3 : satu tahun 1-3 : satu tahun 1-3 : satu tahun 1-3 : satu tahun 4 : 2-4 tahun 4 : 2-4 tahun 4 : 2-4 tahun 4 : 2-4 tahun 2. Ngawi

a. Pola Tanam 1. Pd-pd-pd 1. Pd-pd-pd 1. Pd-pd-plw 1. Pd-pd-pd 2. Pd-pd-plw 2. Pd-pd-plw 2. Pd-plw-plw 2. Pd-plw-bera 3. Pd-plw-plw 3. Pd-plw-plw 3. Pd-plw-bera 3. Plw-pd-plw

4. Tebu 4. Tebu 4. Tebu 4. Pd-melon-mln

b. Siklus Tanam 1-3 : satu tahun 1-3 : satu tahun 1-3 : satu tahun 1-3 : satu tahun 4 : 2-4 tahun 4 : 2-4 tahun 4 : 2-4 tahun 4 : 2-4 tahun 3. Klaten

a. Pola Tanam 1. Pd-pd-tbk 1. Pd-tbk-jg 1. Kctnh-pd-tbk 1. Pd gora-pd-kdl 2. Pd-pd-kdl 2. Pd-pd-jg 2. Pd-tbk-jg 2. Kdl-pd-kdl 3. Pd-pd-Kctnh 3. Pd-jg-jg 3. Pd-tbk-cabe 3. Jg-pd –kdl

4. Pd-pd-Jg 4. Kctnh-pd-kdl

5. Tebu

b. Siklus Tanam 1 : 4 tahun 1-3 :2-3 tahun 1-3 : satu tahun 1-4 : satu tahun 5 : 2-3 tahun

(10)

sebesar Rp 1,54 juta/ha/musim tebu. Jika diban- dingkan dengan pola tanam dominan di Kediri (padi-padi-jagung) yang memberikan keuntu- ngan sekitar Rp. 3 juta-3,2 juta per tahun, pola tanam dominan di Ngawi (padi-padi-kedelai) dengan keuntungan sebesar Rp. 1,77 juta – 4,34 juta, serta pola tanam dominan di Klaten (padi-padi-tembakau) memberikan keuntungan sebesar Rp. 3,44 juta – 4,53 juta/ha/tahun, maka keuntungan usahatani tebu lebih rendah dibandingkan pola tanam dominan yang ada.

Rendahnya tingkat keuntungan privat usahatani tebu terkait dengan rendahnya tingkat produkti- vitas dan rendemen yang dihasilkan petani.

Usahatani tembakau baik tembakau asepan (kasus desa contoh irigasi teknis dan setengah teknis) maupun tembakau rajangan (desa contoh irigasi sederhana) di Kabupaten Klaten secara privat memberikan keuntungan yang relatif besar. Usahatani tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis sebesar Rp. 3,08 juta/ha/musim dan irigasi setengah teknis Rp.

2,10 juta/ha/musim, sedangkan untuk usahatani tembakau rajangan sebesar Rp. 3,20 juta/ha/

musim. Usahatani alternatif seperti padi, pada musim MK I dan MK II hanya memberikan keuntungan antara Rp. 476 ribu-740 ribu/musim.

Relatif memadainya tingkat keuntungan privat usahatani tembakau sangat terkait dengan tingkat produktivitas dan rendemen yang nor- mal, sehingga meskipun harga tembakau daun

basah sedang jatuh petani masih mendapatkan keuntungan yang memadai.

Sementara itu, analisis biaya dan keun- tungan secara sosial atau ekonomi menun- jukkan bahwa pengusahaan usahatani tebu di Kabupaten Kediri, Ngawi, dan Klaten pada be- berapa tipe irigasi secara ekonomi tidak me- nguntungkan. Besarnya kerugian usahatani tebu secara sosial di Kediri berkisar antara Rp.1,98 - Rp.2,38 juta/ha/musim, Ngawi berkisar Rp.2,04 - Rp.2,80 juta/ha/musim, dan Kabupaten Klaten mengalami kerugian sebesar Rp.2,20 juta/ha/

musim.

Usahatani tembakau baik tembakau asepan (kasus desa contoh irigasi teknis dan setengah teknis) maupun tembakau rajangan (desa contoh irigasi sederhana) di Kabupaten Klaten secara sosial memberikan keuntungan yang relatif besar. Besarnya keuntungan sosial untuk usahatani tembakau asepan pada desa contoh irigasi teknis sebesar Rp. 6,75 juta/

ha/musim, tembakau asepan pada irigasi sete- ngah teknis sebesar Rp. 5,22 juta/ha/musim, dan untuk usahatani tembakau rajangan pada irigasi sederhana sebesar Rp. 2,07 juta/ha/

musim. Besarnya biaya dan keuntungan usaha- tani secara privat dan sosial untuk komoditas tebu dan tembakau dapat dilihat pada Tabel 7.

Dari Tabel 7 terlihat bahwa besarnya keuntungan privat yang dinikmati oleh petani tebu, di desa contoh Kediri, Ngawi, dan Klaten Tabel 7. Keuntungan Finansial dan Keuntungan Ekonomik, PCR dan DRC Usahatani Tebu (MH 200/2001-MK

2001) di Kabupaten Kediri dan Ngawi (Jawa Timur) dan Klaten (Jawa Tengah)

Uraian Keuntungan

Finansial (000 Rp)

Keuntungan

Ekonomik (000 Rp) PCR DRC

A. Tebu ( MH 00/01-01) Kabupaten Kediri 1. Irigasi teknis K-1 2. Irigasi ½ teknis K-3 3. Irigasi sederhana K-1 4. Tadah hujan Pucuk 5. Tadah hujan K-1 6. Tadah hujan K-3 Kabupaten Ngawi 1. Irigasi sederhana K-3 2.Tadah hujan Pucuk 3.Tadah hujan K-3 Kabupaten Klaten Irigasi teknis Pucuk

2.182,6 1.869,9 1.475,8 958,2 907,2 931,2 1.179,5 963,5 506,9 1.535,7

-2.176,0 -2.380,6 -2.151,8 -1.984,4 -2.154,6 -2.148,7 -2.803,4 -2.155,4 -2.042,8 -2.200,4

0,78 0,81 0,83 0,85 0,86 0,86 0,87 0,84 0,91 0,82

1,38 1,41 1,41 1,54 1,57 1,53 1,50 1,68 1,61 1,42 B. Tembakau

1.Irigasi teknis, Asepan MK-1 2.Irigasi ½ teknis, Asepan MK-1 3.Irigasi sederhana, Rajangan MK-II

3.084,9 2.102,7 3.189,3

6.746,0 5.224,2 2.072,3

0,62 0,67 0,55

0,42 0,45 0,65

(11)

lebih tinggi dari keuntungan ekonominya. Feno- mena tersebut merupakan indikasi bahwa harga input yang dibayar petani lebih rendah dan atau harga output yang diterima oleh petani lebih tinggi dari harga sosial. Hal ini nampaknya ber- kaitan dengan adanya tekanan dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR), agar petani men- dapatkan proteksi dari pemerintah melalui kebi- jakan tarif. Sejak Januari tahun 2000 pemerintah mengeluarkan kebijakan pengenaan tarif impor gula sebesar 20 persen. Kebijakan tersebut belum memuaskan petani tebu dalam negeri, sehingga kebijakan tarif dirubah dalam bentuk kebijakan tarif spesifik sebesar Rp. 700/kg.

Gambaran untuk usahatani tembakau menunjukkan bahwa, besarnya keuntungan privat yang dinikmati oleh petani tembakau jenis asepan di desa contoh irigasi teknis maupun irigasi setengah teknis, lebih rendah dari keuntungan ekonominya. Sementara itu untuk jenis tembakau rajangan di desa contoh irigasi sederhana besarnya keuntungan lebih kecil dibandingkan keuntungan ekonominya. Feno- mena untuk tembakau asepan merupakan indikasi bahwa harga input yang dibayar petani lebih tinggi dan atau harga output yang diterima oleh petani lebih rendah dari harga sosial.

Sementara itu fenomena kedua menunjukkan bahwa harga input dan atau harga output yang diterima petani lebih tinggi dari yang seharus- nya. Faktor penyebab yang membedakan tem- bakau asepan dan rajangan adalah harga jual output dan tujuan pasarnya. Untuk tembakau asepan yang ditujukan pasar ekspor harga sosial jauh lebih tinggi dibandingkan harga privatnya, sedangkan tembakau rajangan demand dan pasarnya terbatas pada pabrik ro- kok domestik, bahkan sebagian harus dipenuhi dari diimpor.

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF

Keunggulan Komparatif

Konsep daya saing berpijak dari konsep keunggulan komparatif yang pertama kali dikenal dengan model Ricardian, yang lebih dikenal dengan hukum keunggulan komparatif (The Law of Comparative Advantage) dari Ricardo. Teori keunggulan komparatif Ricardo disempurnakan oleh G. Haberler yang menaf- sirkan bahwa labor of value hanya digunakan

untuk barang antara, sehingga menurut G.

Haberler teori biaya imbangan (theory oppor- tunity cost) dipandang lebih relevan. Selanjut- nya, teori Heckscher Ohlin tentang pola perda- gangan menyatakan bahwa komoditas-komodi- tas yang dalam produksinya memerlukan faktor produksi (yang melimpah) dan faktor produksi (yang langka) di ekspor untuk ditukar dengan barang-barang yang membutuhkan faktor pro- duksi dalam proporsi yang sebaliknya. Jadi secara tidak langsung faktor produksi yang melimpah di ekspor dan faktor yang langka di impor (Ohlin, 1933, dalam Lindert dan Kindleberger, 1993).

Menurut Simatupang (1991) serta Sudar- yanto dan Simatupang (1993) konsep keung- gulan komparatif merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial dalam artian daya saing yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan juga memiliki efisiensi secara ekonomi. Keung- gulan komparatif bersifat dinamis, menurut Scydlowsky (1984) dalam Zulaiha (1997) mengatakan bahwa faktor-faktor yang berubah adalah ekonomi dunia, lingkungan domestik dan teknologi.

Berdasarkan pengertian di atas keung- gulan komparatif adalah suatu ukuran relatif yang menunjukkan potensi keunggulan komo- ditas dalam perdagangan di pasar bebas (ber- saing sempurna). Dalam konteks tersebut maka faktor-faktor utama yang perlu ditelaah lebih lanjut adalah: (1) apakah komoditas tebu dan tembakau mempunyai keunggulan komparatif;

(2) apakah keunggulan komparatif (potensial) dari komoditas tersebut di pasar juga unggul (memiliki keunggulan kompetitif); (3) apakah memiliki prospek keberlanjutan yang memadai;

(4) bagaimana kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sistem komoditas tersebut dalam kaitannya dengan peluang dan ancaman yang dihadapi; dan (5) kebijakan apa yang harus ditempuh agar keunggulan komparatif tersebut terwujud dalam keunggulan kompetitif dan berkelanjutan.

Berdasarkan informasi dari Tabel 7, se- cara umum dapat disimpulkan bahwa usahatani tebu di desa contoh Kabupaten Kediri, Ngawi, dan Klaten tidak mempunyai keunggulan komparatif yang ditunjukkan oleh besaran nilai koefisien DRCR >1. Hasil analisis untuk komo- ditas tebu di pedesaan contoh Kediri diperoleh

(12)

nilai koefisian DRCR berkisar antara 1,38 – 1,57; untuk pedesaan contoh Ngawi diperoleh koefisien DRCR berkisar antara 1,50 – 1,68; di desa contoh Kabupaten Klaten diperoleh nilai koefisien DRCR sebesar 1,42. Sebagai pem- banding hasil analisis daya saing untuk usaha- tani padi di Kediri memberikan nilai DRCR 0,75- 1,07, di Ngawi 0,87-1,08, dan di Klaten 0,79- 1,05. Sementara itu untuk palawija utama yaitu jagung di Kediri memberikan nilai koefisien DRCR 0,41-0,62 dan Klaten DRCR 0,32-0,54.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa bahwa bagi Kediri dan Ngawi, Jawa Timur dan Klaten, Jawa Tengah untuk menghasilkan satu-satuan output tebu pada harga sosial diperlukan korbanan biaya sumberdaya domestik pada harga sosial lebih besar dari satu. Dengan kata lain untuk menghemat satu-satuan devisa harus mengor- bankan biaya imbangan sumberdaya domestik yang lebih besar. Dengan demikian untuk wilayah Jawa (kasus daerah penelitian) secara ekonomi akan lebih menguntungkan mengimpor dibandingkan meningkatkan produksi domestik, namun untuk Luar Jawa masih mempunyai peluang untuk mensubtitusi penurunan luas areal tanam dan produksi di Jawa. Hasil ini menjadi salah satu penjelas kenapa industri gula nasional tidak dapat berkembang bahkan mengalami penurunan secara tajam.

Sementara itu untuk komoditas tembakau baik tembakau asepan (di desa contoh lahan sawah irigasi teknis maupun setengah teknis) dan tembakau rajangan (di desa contoh irigasi sederhana) menunjukkan bahwa komoditas tembakau mempunyai keunggulan komparatif, yang ditunjukkan oleh besaran nilai koefisien DRCR < 1. Hasil analisis untuk komoditas tembakau di Kabupaten Klaten, untuk tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis diperoleh nilai koefisian DRCR 0,42; untuk tembakau yang sama pada desa contoh irigasi setengah teknis DRCR 0,45; dan untuk usahatani tembakau rajangan di desa contoh irigasi sederhana nilai koefisien DRCR sebesar 0,65. Jika dibanding- kan dengan komoditas kompetitor utama yaitu padi, hanya diperoleh nilai koefisien DRCR rata- rata MH 1,04 dan MK 0,92, sedangkan untuk komoditas jagung diperoleh nilai koefisien DRCR antara 0,32-0,54.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa bahwa bagi Klaten, Jawa Tengah untuk menghasilkan satu-satuan

output tembakau pada harga sosial diperlukan korbanan biaya sumberdaya domestik pada harga sosial lebih kecil dari satu. Atau dengan kata lain untuk menghasilkan satu-satuan devi- sa harus mengorbankan biaya imbangan sum- berdaya domestik yang lebih kecil. Dengan hasil tersebut bagi Jawa Tengah atau Indonesia secara ekonomi akan lebih menguntungkan meningkatkan produksi tembakau dalam negeri dibandingkan mengimpor dari luar negeri. Hasil ini merupakan salah satu faktor penjelas makin berkembangnya industri pengolahan tembakau dan pabrik rokok dalam negeri meskipun terda- pat kebijakan pemerintah yang sifatnya distortif terhadap peningkatan efisiensi dan daya saing pada sistem komoditas tersebut.

Keunggulan Kompetitif

Sudaryanto dan Simatupang (1993) me- ngemukakan bahwa konsep yang lebih cocok untuk mengukur kelayakan finansial adalah keunggulan kompetitif atau sering disebut

“revealed competitive advantage” yang merupa- kan pengukur daya saing suatu kegiatan pada kondisi perekonomian aktual. Hasil analisis pada Tabel 7, menunjukkan bahwa untuk komo- ditas tebu di Kabupaten Kediri diperoleh nilai koefisian PCR antara 0,78 – 0,86 di Kabupaten Ngawi nilai koefisien PCR antara 0,84 – 0,91, dan di Kabupaten Klaten diperoleh nilai koefi- sien PCR sebesar 0,82. Sementara itu untuk komoditas tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis dan semi teknis masing-masing diperoleh nilai koefisien PCR 0,62 dan 0,67, sedangkan untuk tembakau rajangan di desa contoh irigasi sederhana diperoleh nilai koefi- sien PCR sebesar 0,55. Sebagai pembanding hasil analisis untuk usahatani padi di Kediri diperoleh nilai koefisien PCR antara 0,69-0,81, Ngawi dengan nilai PCR antara 0,80-0,94, dan di Klaten diperoleh nilai PCR antara 0,76-0,94.

Sementara itu untuk komoditas jagung di Kediri diperoleh nilai PCR antara 0,65-0,80 dan di Klaten antara 0,52-0,84.

Nilai koefisien PCR untuk komoditas tebu

<1, menunjukkan pengusahaan usahatani tebu secara privat di pedesaan contoh Kediri, Ngawi dan Klaten mempunyai keunggulan kompetitif, namun keunggulan yang dimiliki lebih kecil jika dibandingkan dengan komoditas padi dan jagung. Artinya untuk menghasilkan satu-satuan nilai tambah output tebu pada harga privat hanya diperlukan kurang dari satu-satuan biaya

(13)

sumberdaya domestik. Dapat juga mengandung makna untuk menghemat satu-satuan devisa pada harga privat hanya diperlukan korbanan kurang dari satu-satuan biaya sumberdaya domestik. Berdasarkan kajian di lapang dan studi pustaka menunjukkan keunggulan kompe- titif komoditas tebu lebih disebabkan adanya proteksi pemerintah terhadap industri gula nasional.

Nilai koefisien PCR untuk komoditas tem- bakau <1, menunjukkan pengusahaan usaha- tani tembakau di Kabupaten Klaten baik untuk tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis dan setengah teknis maupun untuk komoditas tembakau rajangan di desa contoh irigasi sederhana menunjukkan usahatani tembakau mempunyai keunggulan kompetitif yang tinggi.

Artinya untuk menghasilkan satu-satuan nilai tambah output pada harga privat hanya diperlu- kan kurang dari satu-satuan biaya sumberdaya domestik. Dapat juga mengandung makna untuk menghemat satu-satuan devisa pada harga privat hanya diperlukan korbanan kurang dari satu-satuan biaya sumberdaya domestik. Ber- dasarkan kajian di lapang dan studi pustaka menunjukkan keunggulan kompetitif komoditas tembakau disebabkan kesesuaian agroklimat, teknologi budidaya dan pengolahan sudah di- kuasai dengan baik. Hanya permasalahan pokok yang sering dihadapi petani tembakau adalah faktor eksternal di luar kontrol mereka, seperti fluktuasi harga di pasar dunia dan fluktuasi nilai tukar.

SENSITIVITAS TERHADAP PRODUKTIVITAS DAN HARGA

Analisis sensitivitas dilakukan pada peru- bahan produktivitas dan harga yang di perlukan untuk mencapai kondisi nilai koefisien DRCR

=1. Artinya untuk mencapai kondisi break even point dan keunggulan komperatif (DRCR=1) berapa pruduktivitas dan harga harus berubah.

Jika nilai produktivitas dan harga aktual lebih tinggi dari nilai produktivitas dan harga pada kondisi keunggulan komparatif break even point (DRCR=1) mengandung arti bahwa usahatani tebu dan tembakau mempunyai keunggulan komparatif. Begitu juga dalam kondisi yang sebaliknya. Hasil analisis sensisitivitas dapat dilihat pada Tabel 8.

Hasil analisis sensitivitas usahatani tebu di pedesaan contoh Kabupaten Kediri, Ngawi dan Klaten menunjukkan bahwa, produktivitas aktual sedikit lebih rendah dari produktivitas pada kondisi keunggulan komparatif break even point (DRCR=1). Produktivitas aktual di pedesa- an contoh Kabupaten Kediri mencapai 52.608 – 78.608 kg/ha, di Ngawi berkisar antara 43.990 – 67.838 kg/ha, dan di Klaten sebesar 66.993 kg/

ha; sedangkan produktivitas pada DRCR=1, untuk di pedesaan contoh Kediri lebih berkisar antara 74.444–102.555 kg/ha, di Ngawi berkisar antara 66.468-98.686 kg/ha, dan di Klaten sebe- sar 91.207 kg/ha.

Hasil analisis untuk sensitivitas harga memberikan gambaran yang relatif sama, di mana harga aktual sedikit lebih rendah diban- dingkan harga pada kondisi DRCR =1, yaitu harga sosial di Kediri, Ngawi dan Klaten sebesar Rp. 90,9/kg; sedangkan harga pada kondisi DRCR=1 untuk pedesaan contoh kediri berkisar antara Rp. 119–131/kg, di Ngawi berkisar antara Rp. 132 - 137/kg, dan di Klaten Rp. 124/kg.

Sementara itu, untuk usahatani temba- kau pada musim kemarau memberikan gam- baran yang jauh lebih baik dibandingkan usahatani tebu. Produktivitas aktual usahatani tembakau asepan maupun rajangan jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi produktivitas DRCR=1. Produktivitas aktual tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis sebesar 12.988 kg/ha, untuk tembakau asepan di desa contoh irigasi setengah teknis sebesar 11.200 kg/ha, sedangkan untuk tembakau rajangan di desa contoh irigasi sederhana sebesar 5.388 kg/ha.

Produktivitas break event point (DRCR=1) untuk tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis sebesar 6.320 kg/ha, tembakau asepan di desa contoh irigasi setengah teknis sebesar 6.036 kg/ha, dan tembakau rajangan sebesar 3.904 kg/ha.

Hasil analisis untuk sensitivitas harga untuk usahatani tembakau pada musim kema- rau memberikan gambaran yang relatif sama, di mana harga aktual jauh lebih tinggi dibanding- kan harga pada kondisi DRCR=1, yaitu harga sosial untuk tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis dan setengah teknis masing- masing Rp.1.011,6/kg dan untuk tembakau rajangan di desa contoh irigasi sederhana sebe- sar Rp.1.394/kg. Sementara itu, harga pada pada kondisi DRCR=1, untuk tembakau asepan di desa contoh irigasi teknis sebesar Rp. 492/kg,

(14)

untuk tembakau asepan di desa contoh irigasi setengah teknis sebesar Rp.545/kg, dan untuk tembakau rajangan di desa contoh irigasi sederhana sebesar Rp.1.010/kg.

Berdasarkan hasil analisis dapat ditarik kesimpulan bahwa usahatani tebu di pedesaan contoh Kediri, Ngawi, dan Klaten pada berbagai tipe irigasi tidak memiliki keunggulan komparatif.

Kondisi ini menjadi lebih memprihatinkan lagi karena data data perkembangan luas areal, produktivitas tebu, produktivitas hablur, tingkat rendemen yang dihasilkan, produksi tebu dan produksi hablur secara nasional pada periode (1990-2002) menunjukkan kecenderungan yang menurun. Sementara itu untuk luas areal, pro- duksi, dan produktivitas tembakau mengalami stagnasi.

Hasil analisis juga menunjukkan bahwa usahatani tembakau baik asepan di desa contoh irigasi teknis dan di desa contoh irigasi setengah teknis, dan untuk usahatani tembakau rajangan di desa contoh Klaten memiliki keunggulan komparatif yang cukup tinggi. Keunggulan komparatif tersebut juga relatif stabil atau tidak rentan terhadap penurunan prduktivitas dan penurunan harga. Kalau di lihat dari tingkat produktivitas yang dicapai secara nasional maka rata-rata tingkat produktivitas selama periode (1990-2000) mencapai 5.850 kg/ha, dari

perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tingkat produktivitas usahatani di tingkat petani lebih tinggi, kecuali untuk tembakau rajangan.

Sementara itu, dari hasil analisis sensitivitas terhadap harga, maka keunggulan komparatif akan terganggu kalau harga turun di bawah Rp.

495-549/kg untuk tembakau asepan dan Rp.

1.013/kg untuk tembakau rajangan.

KEBIJAKAN INSENTIF

Ukuran dampak divergensi dan kebijak- sanaan pemerintah dalam Matrik PAM adalah transfer output, transfer input, transfer faktor dan transfer bersih. Ukuran relatif ditunjukan oleh analisis koefisien proteksi output nominal atau nominal protection coefficient on output (NPCO), koefisien proteksi input nominal atau nominal protection coefficient on input (NPCI), koefisien proteksi efektif atau effectif protection coeficient (EPC). Koefisien profitabilitas atau profitability coeficient (PC) dan rasio subsidi bagi produsen atau subsidy ratio to producen (SRP).

Proteksi Input

Kebijakan insentif yang terdapat pada input tradable ditunjukkan oleh nilai transfer input (IT) dan NPCI. Bentuk kebijakan pada Tabel 8. Analisis Sensitivitas Terhadap Produktivitas dan Harga Tebu yang Menyebabkan Nilai Koefisien PCR

= 1 dan DRCR = 1, di Kabupaten Kediri, Ngawi, dan Klaten, MH 2000/2001-MK 2001

Aktual DRC=1

Uraian Yield (kg) Social Price

(Rp./kg)

Yield (kg) Social Price (Rp./kg) A. Tebu ( MH 00/01-01)

Kabupaten Kediri 1. Irigasi teknis K-1 2. Irigasi ½ teknis K-3 3. Irigasi sederhana K-1 4. Tadah hujan Pucuk 5. Tadah hujan K-1 6. Tadah hujan K-3 Kabupaten Ngawi 1. Irigasi sederhana K-3 2. Tadah hujan Pucuk 3. Tadah hujan K-3 Kabupaten Klaten Irigasi teknis Pucuk

78.608 75.044 65.466 52.608 53.826 54.091

67.838 51.159 43.990

66.993

90,9 90,9 90,9 90,9 90,9 90,9

90,9 90,9 90,9

90,9

102.555 101.241 89.145 74.444 77.534 77.734

98.686 74.876 66.468

91.207

119 123 124 129 131 131

132 133 137

124 B. Tembakau

1. Irigasi teknis, Asepan MK-1 2. Irigasi ½ teknis, Asepan MK-1 3. Irigasi sederhana, Rajangan MK-II

12.988 11.200 5.388

1.011,6 1.011,6 1.394,0

6.320 6.036 3.904

492 545 1.010

Referensi

Dokumen terkait

Upaya peningkatan produktifitas yang dilakukan pemerintah, salah satunya adalah dengan menyediakan bantuan modal untuk petani tebu yang dikenal dengan program Kredit Ketahanan

Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Usahatani tembakau Maesan 2 di Desa Gunungsari Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso adalah menguntungkan petani, dengan

[r]

Secara agronomis, penerapan sistem tanam juring ganda oleh petani tebu di Jawa Timur dan Jawa Tengah memberikan hasil gula lebih tinggi 12,5% dari pada hasil gula

hipotesis Ho yang menandakan babwa pada luas garapan 4.57 hektar (rata-rata contoh) usabatani tebu tersebut berada pada kondisi ekonomi skala usaba tetap. Ini menunjukkan

Hasil analisis dengan menggunakan model Logit yang dilakukan oleh Soentoro (1996) menunjukkan bahwa pengambilan keputusan petani untuk menanam tebu dipengaruhi oleh luas garapan,

Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Mengetahui besarnya pendapatan petani pada usahatani tembakau rakyat di Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur; (2)

Rekomendasi teknik budidaya tembakau Virginia di Kabupaten Bojonegoro, didasarkan pada pencapaian produktivitas dan mutu yang tertinggi dari hasil penelitian.. Petani sebagai