• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN UMUM Uji Korelasi Hara N, P dan K Umur Jaringan Daun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBAHASAN UMUM Uji Korelasi Hara N, P dan K Umur Jaringan Daun"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAHASAN UMUM

Untuk mengetahui status hara tanaman, baik kekurangan ataupun kelebihan hara pada tanaman dilakukan dengan dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah analisis tanaman dan pendekatan kedua adalah diagnosis gejala secara visual (Grundom 1987; Marschner 1995; Baligar dan Duncan 1990).

Analisis tanaman umumnya menggunakan jaringan daun. Analisis jaringan daun dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendiagnosis status hara dan penyusunan rekomendasi pupuk, setelah dilakukan uji korelasi dan uji kalibrasi.

Gejala abnormal ditemukan bila tanaman tidak mendapat hara yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan abnormal juga terjadi bila tanaman menyerap hara melebihi kebutuhan untuk bermetabolisme.

Uji Korelasi Hara N, P dan K

Uji korelasi antara konsentrasi hara di daun dengan produksi bertujuan mendapatkan daun yang tepat untuk dijadikan sampel, yaitu ketika konsentrasi haranya mempunyai korelasi terbaik dengan produksi. Umur daun merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan status hara pada tanaman buah-buahan.

Dari hasil penelitian sebagaimana disajikan pada Gambar 2 terbukti bahwa konsentrasi hara N, P, K di daun berbeda dengan bertambahnya umur.

Umur Jaringan Daun

Pada Gambar 2 diketahui bahwa konsentrasi N, P, dan K daun mengalami penurunan dengan bertambahnya umur. Hal ini ditemukan di tiga lokasi sentra produksi manggis di Jawa Barat (Purwakarta, Tasikmalaya dan Bogor). Hal serupa juga dilaporkan oleh Poovarodom et al. (2002) bahwa terjadi penurunan konsentrasi nitrogen daun manggis selama masa pertumbuhan. Suatu kecenderungan yang serupa didapatkan juga pada durian, yang merupakan salah satu buah-buahan tropis (Poovarodom et al. 2000).

Terjadinya penurunan konsentrasi N, P dan K pada daun tua dibandingkan dengan daun muda, kemungkinan ada kaitannya dengan sifat dari hara N, P dan K dan peranannya dalam tanaman. Nitrogen bersifat mobil sehingga memungkinkan terjadinya translokasi dari daun tua ke bagian organ yang lebih muda, sehingga konsentrasi nitrogen pada daun tua menjadi berkurang. Walaupun

(2)

129 hal ini berbeda dengan perkiraan Yaacob dan Tindall (1995) bahwa kemungkinan perpindahan hara dari daun-daun manggis tidak terjadi sampai beberapa tahun.

Nitrogen dibutuhkan dalam pertumbuhan sebagai komponen pembentuk dari berbagai substansi penting dalam tanaman, antara lain: molekul klorofil, asam amino, enzim dan koenzim, vitamin, hormon seperti asam indol asetat dan zeatin serta turunannya (Poerwanto 2003).

Penurunan konsentrasi kalium erat kaitannya dengan sifatnya yang mobil dalam jaringan. Poovarodom et al. (2002) melaporkan bahwa konsentrasi kalium dalam jaringan daun manggis menurun sepanjang musim. Penurunan konsentrasi kalium terutama terjadi ketika periode perkembangan buah, karena pembentukan buah membutuhkan kalium yang banyak ( Menzel et al. 1992).

Selain itu, perbedaan kadar hara terjadi antar umur jaringan, karena semakin tua jaringan tanaman, maka semakin tinggi kadar karbohidrat, sehingga perbandingan unsur mineral dengan karbohidrat berubah dengan bertambahnya waktu. Hal ini terjadi karena penumpukan karbohidrat tidak sejalan dengan serapan hara. Sifat hara dalam sel juga mempengaruhi kadar hara. Sebagai contoh, Ca umumnya diakumulasi pada vakuola sel, sehingga jumlah Ca semakin tinggi dengan semakin tuanya umur sel (Marschner 1995).

Distribusi hara N, P dan K pada setiap umur daun tanaman tidak merata, maka untuk pengambilan sampel daun dan penetapan kriteria penilaian interpretasi hasil analisis jaringan daun harus memperhatikan umur daun. Bila tidak akan terjadi kesalahan yang sangat fatal. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 bila pengambilan sampel daun pada umur 2 bulan maka konsentrasi N, P dan K daun di ketiga lokasi adalah tinggi. Akan tetapi, dengan penundaan pengambilan daun satu bulan saja sehingga daun berumur 3 bulan konsentrasi N, P dan K daun telah terjadi penurunan, bahkan di Bogor terjadi penurunan yang cukup tajam. Untuk menentukan umur daun yang tepat dijadikan sampel adalah ketika konsentrasi hara N, P, dan K nya berkorelasi terbaik dengan produksi, yang ditandai dengan koefisien korelasinya terbesar.

Berdasarkan hasil analisis korelasi antara konsentrasi hara nitrogen daun dengan produksi, maka koefisien korelasi terbesar adalah daun umur 5 bulan yaitu 0,75 untuk manggis asal Purwakarta dan 0,73 untuk manggis asal Bogor (Tabel

(3)

130 6). Sedangkan daun umur 5 bulan asal Tasikmalaya memiliki koefisien korelasi 0,43. Rendahnya koefisien korelasi disebabkan karena manggis asal Tasikmalaya tidak pada musim panen raya (off season).

Analisis korelasi konsentrasi fosfor daun dari daun umur 2 hingga 10 bulan dengan produksi, maka yang berasosiasi tinggi didapatkan pada daun umur 4 bulan dan 5 bulan. Daun umur empat bulan untuk manggis asal Purwakarta koefisien korelasinya adalah 0,71 dan daun umur 5 bulan untuk manggis asal Bogor koefisien korelasi adalah 0,76, sedangkan manggis asal Tasikmalaya tidak ada yang berkorelasi cukup tinggi, tetapi cukup substansial antara konsentrasi hara fosfor daun dengan produksi yaitu pada daun umur 4, 5, dan 6 bulan dengan koefisien korelasi masing-masing 0,63, 0,52, dan 0,68 (Tabel 7).

Analisis korelasi konsentrasi kalium daun dari setiap daun umur 2 hingga 10 bulan dengan produksi, maka yang berasosiasi tinggi didapatkan pada daun umur 4 dan 5 bulan untuk manggis asal Purwakarta dengan koefisien korelasi masing-masing 0,71 dan 0,70. Sementara itu, manggis asal Tasikmalaya, daun umur 4 bulan hanya berkorelasi cukup substansial dengan koefisien korelasi yaitu 0,63, sedangkan untuk manggis asal Bogor daun umur 4 dan 5 bulan juga hanya berkorelasi cukup substansial dengan koefisien korelasinya 0,51 dan 0,60. Dengan demikian, daun yang tepat untuk dijadikan sebagai daun sampel adalah daun umur 5 bulan untuk mendiagnosis status hara nitrogen. Daun umur 4 dan 5 bulan, untuk mendiagnosis status hara fosfor dan kalium.

Korelasi Daun Terpilih dengan Kandungan Hara Tanah dan Hasil

Untuk meyakinkan apakah daun yang terpilih mempunyai hubungan yang kuat dengan hara tanah dan produksi, maka dilakukan uji korelasi. Dari hasil uji korelasi pada Gambar 3 diketahui bahwa daun umur 4 dan 5 bulan mempunyai hubungan yang erat dengan kandungan hara tanah. Koefisien korelasi antara konsentrasi hara N, P, dan K daun dengan kandungan N, P, dan K tanah berkisar 0,63 – 0,89 pada daun umur 4 bulan dan 0,66 - 0,91 pada daun umur 5 bulan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konsentrasi N, P dan K pada daun umur 4 dan 5 bulan merupakan cerminan kandungan N, P dan K dalam tanah.

Disamping itu, menurut Marshner (1995) bahwa analisis tanah menunjukkan

(4)

131 potensi ketersedian hara dalam tanah yang dapat diserap oleh akar, sedangkan analisis tanaman menggambarkan status hara aktual dalam jaringan tanaman.

Konsentasi hara daun umur 4 dan 5 bulan tidak hanya berhubungan erat dengan kadar hara dalam tanah, tetapi juga dapat memprediksi kemampuan berproduksi tanaman. Pada Gambar 4 diketahui bahwa konsentrasi N, P dan K daun umur 4 dan 5 bulan berkorelasi positif dengan produksi, dengan koefisien korelasi sekitar 0,8. Fakta di lapangan juga membuktikan bahwa konsentrasi hara N, P dan K daun asal Purwakarta lebih tinggi daripada Tasikmalaya dan Bogor, ternyata produksi manggis Purwakarta juga lebih tinggi dari pada Tasikmalaya dan Bogor. Dengan demikian hasil analisis konsentrasi hara daun dapat digunakan untuk memprediksi potensi produksi.

Meskipun daun umur 4 dan 5 bulan dapat digunakan sebagai alat diagnosis status hara N, P dan K pada tanaman manggis, akan tetapi untuk kepentingan praktis, ekonomis dan efisien, maka daun umur 5 bulan ditetapkan sebagai daun sampel untuk mendiagnosis status hara N, P, dan K. Selanjutnya hanya daun umur 5 bulan yang digunakan dalam analisis jaringan daun pada tanaman manggis. Daun umur 5 bulan tersebut dari fisiologinya sudah termasuh daun dewasa yang kandungan hara mineralnya sudah stabil, dan berfungsi sebagai source. Sedangkan pada tanaman jeruk daun yang dijadikan daun sampel adalah daun umur 4 hingga 6 bulan, karena pada umur tersebut kandungan N, P, K, Ca, Mg di daun sudah stabil (Hanlon et al. 2002).

Uji Kalibrasi Hara N, P dan K

Dari tiga lokasi penelitian kegiatan pada tahun pertama, diketahui bahwa lokasi Bogor merupakan daerah yang tingkat kesuburan dan konsentrasi N, P, dan K pada daun serta produksi lebih rendah dibandingkan dengan Purwakarta dan Tasikmalaya. Oleh karena itu, kegiatan uji kalibrasi dilakukan di Bogor dengan harapan bahwa penambahan hara dapat memberikan respon pada pertumbuhan dan produksi manggis. Sehingga data interpretasi yang dibangun mempunyai kisaran yang lebih luas, yaitu mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi.

Setelah mendapatkan daun umur 5 bulan sebagai daun sampel dari uji korelasi, maka nilai analisis daun akan mempunyai arti bila dikorelasikan dengan hasil yang dapat dipasarkan. Studi untuk memberikan bobot agronomi terhadap

(5)

132 hasil analisis jaringan daun disebut studi kalibrasi dan dilakukan di lapangan. Dari studi ini diketahui hubungan antara nilai analisis jaringan daun dengan respon tanaman di lapangan. Dengan demikian, uji kalibrasi memberikan makna nilai analisis jaringan daun yang diperoleh dari laboratorium menjadi data interpretasi, apakah kandungan unsur dalam daun tersebut statusnya sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi. Pengelompokan nilai-nilai analisis daun ini didasarkan atas adanya hubungan hara daun dengan produksi relatif dengan menggunakan model regresi. Dari 4 model regresi yang diuji yaitu model linear, kuadratik, logistik, dan exponensial, diketahui model regresi kuadratik adalah model terbaik untuk menyatakan hubungan antara konsentrasi hara N, P dan K daun dengan produksi. Rangkuman status hara N, P dan K pada tanaman manggis menggunakan model regresi kuadratik disajikan pada Tabel 29.

Tabel 29 Status konsentrasi N, P, dan K di daun manggis Status Hara

Sangat rendah Rendah Sedang Sangat tinggi Unsur

% N

P K

<0,99

<0,11

<0,69

0,99-<1,35 0,11-<0,21 0,69-<0,90

1,35-<2,10 0,21-<0,31 0,90-<1,12

>2,10

>0,31

>1,12

Walaupun, pada kenyataannya banyak model yang dapat digunakan untuk memprediksi nilai kritis analisis, akan tetapi pemilihan model sangat mempengaruhi hasil nilai kritis tersebut (Dahnke 1993; Nelson dan Anderson, 1977). Sementara itu, untuk tanaman bibit manggis yang disajikan pada Gambar 16, 23, dan 31 model linear plateau lebih tepat untuk memprediksi respon tanaman terhadap pemberian pupuk N, P dan K dibandingkan dengan model kuadratik. Hal yang sama dilaporkan oleh Hochmuth et al. (1993) bahwa model linear platoeu lebih tepat digunakan daripada model kuadratik untuk memprediksi respon tanaman terhadap pemberian pupuk P pada tanaman semangka.

Kategori status hara sangat rendah menunjukan bahwa tingkat konsentrasi hara pada daun hanya mampu mendukung berproduksi lebih kecil dari 50%

potensi hasil (Relative Yield=% RY). Kategori status hara rendah menghasilkan 50 sampai 75% potensi hasil, kategori sedang menghasilkan 75 sampai 100%

(6)

133 potensi hasil. Kategori tinggi dan sangat tinggi dapat menghasilkan 100% potensi hasil. Pengelompokan ini mirip dengan interpretasi nilai indeks tanah yang dilakukan oleh Dahnke dan Olson (1990). Dengan didapatkan kategori status hara N, P, dan K pada tanaman manggis ini akan memberikan makna dari nilai analisis daun. Selain itu kategori ini juga bermanfaat untuk memprediksi respon tanaman manggis terhadap pemberian pupuk. Manfaat yang lain adalah rekomendasi pemupukan dapat dibuat berdasarkan kategori respon dimana status hara dikelompokkan. Manfaat penetapan kategori respon tanaman terhadap nilai indeks tanah telah dilaporkan oleh Dahnke dan Olson (1990) dan Kidder (1993).

Hubungan konsentrasi hara P daun dengan produksi relatif menggunakan emapt model uji regresi (linear, kuadratik, eksponensial dan logistik), maka model kuadratik mempunyai nilai R2 terbesar yaitu 0, 47 untuk N, 0,508 untuk P dan 0,15 untuk K (Gambar 6 dan Tabel 21). Berdasarkan model regresi kuadratik tersebut dikelompokan status haran N, P, K kedalam ketegori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi.

Untuk status hara sangat rendah hingga sedang perlu dilakukan penambahan hara melalui usaha pemupukan. Dengan demikian diharapkan terjadi peningkatan konsentrasi hara di daun agar dapat mendukung pertumbuhan dan produksi yang maksimum. Besaran dosis pupuk yang mesti deberikan pada status hara sangat rendah, rendah dan sedang dapat diketahui melalui uji optimasi.

Uji Optimasi Dosis Hara N, P dan K

Untuk mengetahui kebutuhan dosis pupuk N, P, K yang optimum agar tanaman dapat berproduksi secara maksimum dapat dilihat dari model regresi, hubungan antara dosis pupuk dengan produksi sebagai respon pemupukan (Gambar 8). Berdasarkan model regresi pada Gambar 8 tersebut maka dosis optimum pupuk N adalah 2183 g N atau setara 5 kg urea. Dosis optimum pupuk P adalah 1682 g P2O5 atau setara dengan 4,5 kg SP36. Dosis optimum pupuk K adalah 1555 g K2O atau setara dengan 2,5 kg KCl (Tabel 22).

Selain itu, dari Gambar 8 juga diketahui bahwa pemberian pupuk N, P, K pada tahun kedua lebih terlihat responnya daripada tahun pertama. Hal ini terbukti produksi tahun kedua lebih tinggi daripada produksi tahun pertama. Meskipun

(7)

134 produksi tahun kedua lebih tinggi dari pada tahun pertama, akan tetapi dosis pupuk yang dibutuhkan tahun kedua lebih rendah daripada tahun pertama.

Rendahnya dosis pupuk yang dibutuhkan untuk mendapatkan produksi maksium pada tahun kedua disebabkan adanya kemungkinan efek residu pemupukan dari tahun pertama. Tanaman manggis yang digunakan tidak dipelihara secara intensif dan usaha pemupukan jarang dilakukan. Karena tanaman manggis ini tidak pernah mendapatkan hara disekitar top soil menyebabkan sistem perakaran menjadi terlalu dalam. Akibatnya sebagian hara yang diberikan pada daerah top soil (berkisar 20-30 cm dari permukaan tanah) tidak dapat langsung digunakan oleh tanaman karena belum mencapai perakaran.

Oleh karena itu pada tahun kedua untuk mendapatkan produksi maksimum dibutuhkan pupuk N dan P tidak sebanyak tahun pertama.

Evaluasi Gejala Hara N, P dan K

Meskipun pendekatan pertama melalui analisis daun dapat diketahui status haran N, P, K dan perkiraan kebutuhan dosis optimum untuk mendapatkan produksi yang maksium namun pendekatan kedua, diagnosis gejala secara visual sulit didapati pada tanaman manggis dewasa di lapang. Hal ini disebabkan sulit mendapatkan lokasi yang sangat ekstrim yaitu kondisi lahan yang sangat kekurangan hara sehingga menimbulkan gejala abnormal. Dan sebaliknya, untuk mendapatkan gejala abnormal akibat kelebihan hara di lapangan membutuhkan dosis pupuk yang sangat tinggi dan hal itu dapat berakibat kematian bagi tanaman.

Untuk menjawab semua itu, percobaan pada tanaman bibit manggis dengan media pasir di rumah kaca telah memberikan gambaran kekurangan dan kelebihan hara N, P dan K pada tanaman manggis.

Secara umum gejala abnormal gangguan hara N, P, dan K baru tampak terlihat dengan tegas apabila bibit manggis berada pada kondisi kekurangan atau kelebihan haranya sangat berat. Sedangkan pada skala ringan tidak dapat terlihat karakteristik gejala visualnya secara spesifik. Kekurangan dan kelebihan hara pada sekala berat menyebabkan laju pertumbuhan sangat tertekan.

Gejala Kekurangan N, P dan K

Gejala kekurangan N pada bibit manggis seperti yang ditampilkan pada Gambar 9, 10, 11, 14, 15 dan 16 yaitu daun berwarna hijau terang kekuningan,

(8)

135 akar bewarna coklat terang kekuningan, pertumbuhan terhambat, dan konsentrasi N daunnya < 0,73%. Warna daun kekuningan pada daun tua yang terletak lebih rendah terlihat lebih parah daripada daun muda. Perbedaan warna tersebut menggambarkan bahwa daun yang lebih muda dari tanaman manggis mempunyai kemampuan untuk mengambil hara yang mudah bergerak (mobil) dari daun yang lebih tua (Salisburi dan Ross 1995). Hal ini juga ditegaskan oleh Epstein (1972) bahwa gejala kekurangan suatu unsur terutama tergantung pada dua faktor yaitu mudah tidaknya unsur tersebut berpindah dari daun tua ke daun yang lebih muda dan fungsi unsur tersebut. Jadi warna kekuningan pada daun juga disebabkan oleh fungsi N. Karena N merupakan komponen pembentukan molekul klorofil, molekul klorofil mempunyai 4 atom nitrogen. Jadi klorofil tidak terbentuk tanpa N atau terbentuk dalam sedikit bila konsentrasi N rendah.

Gejala kekurangan P pada bibit manggis adalah daun berwarna hijau kusam, pertumbuhan terhambat yang tercermin dari tanaman yang kerdil dan jumlah cabang yang sedikit dibanding yang normal. Selain itu kandungan fosfor pada daun <0,05%.

Gejala kekurangan fosfor pada daun tidak begitu terlihat dengan jelas, akan tetapi bila diperhatikan lebih cermat maka dapat dibedakan antara daun tanaman yang kekurangan fosfor dengan daun tanaman yang normal atau berkecukupan hara fosfor. Warna daun manggis yang kekurangan fosfor adalah hijau tua kusam/pudar, daun berukuran sempit (Gambar 18, 19, dan 23). Daun muda pada keadaan kekurangan fosfor cenderung menjadi sempit dari pada bentuk aslinya yang ovate. Hal ini karena perluasan daun dan sel lebih terhambat daripada pembentukan klorofil, oleh karena itu kandungan klorofil per unit luas daun sangat tinggi, tetapi efisiensi fotosintesis per unit klorofil sangat rendah.

Karena fosfor berfungsi dalam pertumbuhan dan metabolisme tanaman, maka kekurangan fosfor mengindikasikan pada pengurangan secara umum sebagian besar proses metabolisme seperti pembelahan dan pembesaran sel, respirasi dan fotosintesis (Terry dan Ulrich 1993).

Gejala kekurangan K pada bibit manggis adalah daun berwarna hijau kusam, pertumbuhan terhambat yang tercermin dari tanaman yang kerdil dan jumlah cabang yang sedikit dibanding yang normal. Selain itu kandungan K pada

(9)

136 daun <0,52%. Gejala kekurangan K pada daun muda tidak terlihat tetapi terlihat pada daun tua. Permukaan dan bagian atas terlihat berwarna hijau kusam agak kuning dan ukurannya lebih sempit. Sedangkan permukaan bagian bawah berwarna hijau agak kuning dibandingkan daun yang normal (Gambar 24, 25, 26 dan 31). Tidak munculnya gejala pada daun muda disebabkan hara K bersifat mobil, sehingga hanya pada daun tua saja gejala dapat ditemukan.

Munculnya gejala-gejala yang tidak normal tersebut akibat tanaman tidak menerima hara yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga pertumbuhan akan lemah dan perkembangan tampak abnormal. Pertumbuhan yang abnormal juga akan terjadi bila tanaman menyerap hara melebihi kebutuhan untuk bermetabolisme (Grundom 1987; Marschner 1995; Baligar dan Duncan 1990). Berbeda dengan gejala visual defisiensi, gangguan toksisitas hara cara pendekatannya hanya berdasarkan gejala pada daun tua dan daun dewasa.

Marschner (1995) menyatakan bahwa gejala visual defisiensi jauh lebih spesifik sifatnya dari gejala visual toksisitas, karena toksik satu unsur hara mineral tertentu akan menginduksi defisiensi hara mineral lain.

Gejala Kelebihan N, P dan K

Gejala kelebihan N pada bibit mangis adalah daun berwarna coklat, layu kering seperti terbakar dan akhirnya rontok. Gejala yang lain adalah akar berwarna coklat tua kehitaman, terlihat pecah-pecah, mudah putus dan akhirnya membusuk. Selain itu, pertumbuhan terhambat konsentrasi N daunnya >1,82%.

Meskipun pemupukan nitrogen di lapangan jarang menyebabkan keracunan secara langsung pada tanaman manggis, tetapi pada lahan dan kondisi tertentu ini bisa terjadi. Untuk mengetahui dampak atau gejala kelebihan nitrogen pada tanaman manggis maka penelitian ini telah memberikan gambaran kelebihan tersebut. Kelebihan nitrogen pada setiap tanaman mempunyai gejala yang berbeda-beda. Sebagai contoh pada pohon apel dan pear, kelebihan N bisa menyebabkan daun berwarna hija gelap dan mengalami keterlambatan gugur.

Pertumbuhan berlanjut hingga musim gugur, dan pohon-pohon lebih rentan terhadap winter injury. Kelebihan N dapat juga menyebabkan keterlambatan produksi buah pada pohon-pohon muda dan meningkatkan kerentanan terhadap fire blight (Bennett 1996)

(10)

137 Gejala kelebihan P pada bibit mangis adalah daun berwarna coklat keabu- abuan, gejala pertama kali terlihat pada ujung daun tua dan kemudian menyebar menuju pangkal daun. Sedangkan akar mengalami kerusakan, terlihat pecah- pecah, mudah putus dan membusuk dengan warna coklat tua kehitaman.

Tanaman yang memperlihatkan gejala kelebihan P ini konsentrasi P daunnya adalah >0,32%. Selain itu, pertumbuhan terhambat.

Gejala kelebihan fosfor mulai terlihat pada daun tanaman dengan perlakukan 200 ppm P. Gejala kelebihan tersebut akan terlihat makin jelas pada tanaman dengan perlakuan 400 ppm P. Kelebihan fosfor menyebabkan daun bewarna coklat keabu-abuan (Gambar 20). Daun yang pertama kali memperlihatkan gejala kelebihan fosfor tersebut adalah daun dewasa di cabang bagian bawah. Gejala perubahan warna dari hijau tua menjadi coklat berawal dari ujung daun kemudian merambat menuju pangkal daun dan akhirnya daun mengering dan rontok.

Gejala kelebihan K pada bibit mangis terlihat pada daun dan akar. Daun menjadi coklat kemerah-merahan, gejala pertama kali terlihat pada pinggir daun tua dan menuju pangkal tulang daun. Akar mengalami kerusakan, terlihat pecah- pecah, mudah putus dan membusuk dengan warna coklat tua kehitaman.

Tanaman yang memperlihatkan gejala kelebihan K ini konsentrasi K daunnya adalah >0,26%.

Daun berwarna coklat kemerahan (merah tembaga) pada tepi daun dari ujung dan merambat ke dalam dan membentuk huruf V. Daun-daun yang telah berubah warna dari hijau tua menjadi coklat kemerahan hingga coklat keabu- abuan tersebut menjadi kering, mati dan dan akhirnya rontok (Gambar 27 dan 28).

Gejala yang lain kelebihan kalium adalah akar tanaman mengalami kerusakan tergantung tingkat kelebihan. Pada tingkat kelebihan kalium berat menyebabkan akar serabut pecah dan mudah putus sehingga jumlahnya menjadi sedikit dan akhirnya tanaman mati.

Penebaran pupuk di tanah akan meningkatkan konsentrasi garam di larutan tanah. Peningkatan konsentrasi garam ini akan menaikan osmosis larutan tanah, sehingga berpengaruh terhadap proses penyerapan unsur hara. Larutan tanah dengan tekanan osmosis tinggi dapat menyebabkan larutan hara tidak dapat

(11)

138 terserap tetapi cairan sel justru akan keluar dari akar (Plasmolisis jaringan akar).

Gejala ini disebut salt injury. Ciri-cirinya daun layu, menguning dan kering seperti terbakar. Pupuk dengan salt index yang tinggi sangat berpotensi menyebabkan terjadinya salt injury. Pupuk yang memiliki indeks gram tinggi harus di tempatkan lebih jauh dari perakaran tanaman (Novizan 2002). Pupuk CONO2)2 dan KNO3 tergolong pupuk dengan indeks garam tinggi yaitu masing- masing 1,7 dan 5,3.

Dengan mengetahui gejala defisiensi atau toksisitas secara visual umumnya telah cukup membantu dalam mendiagnosis gangguan hara, terutama bila dilakukan oleh orang yang ahli, yaitu orang yang sudah berpengalaman pada spesifik tanaman tertentu dan daerah tertentu. Artinya adalah dituntut pengetahuan yang cukup dan ketelitian yang tinggi karena gejala gangguan hara bervariasi sangat besar tergantung atas spesies tanaman, kondisi lingkungan, umur tanaman dan kemiripan gejalanya dengan gangguan lain seperti infeksi penyakit, kerusakan oleh hama atau karena gangguan gulma (Grundom 1987; Marshner 1995; Baligar dan Duncan 1990).

Diagnosis berdasarkan gejala visual di lapangan sangat komplek dan sulit terutama bila kejadian defisiensi lebih dari satu hara mineral secara simultan atau defisiensi hara tertentu bersamaan dengan toksik hara yang lain. Misalnya pada tanah masam tergenang, toksisitas Mn simultan dengan defisiensi Mg. Diagnosis akan semakin komplek bila kekurangan atau kelebihan hara disertai dengan adanya hama penyakit (Epstein 1972; Marchner 1986).

Ketelitian hasil diagnosis sangat ditentukan oleh akuratnya informasi tambahan meliputi pH tanah, hasil analisis tanah, status air tanah kondisi cuaca, riwayat pemberian pupuk, funggisida atau pestisida dan lain-lain (Marschner 1995). Dalam beberapa kasus hasil diagnosis berdasarkan gejala visual dapat secara langsung digunakan sebagai pedoman rekomendasi pemupukan.

Sebaliknya, sering pula terjadi hasil diagnosis gejala visual belum cukup untuk dapat merekomendasikan pemupukan sehingga diperlukan analisis tanaman (Baligar dan Duncan 1990).

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat mengerjakan dan menyelesaikan

asiaticatidak menunjukkan perbedaan antara awal dan akhir perlakuan sedangkan pada kelompok Plasebo tampak perbedaan bermakna.Kesimpulan dari penelitian ini adalah

Dalam perencanaan tersebut hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah titik lampu dalam suatu ruangan, jumlah stopkontak dalam suatu ruangan, sistem penangkal petir, sistem

kadaster negatif adalah suatu pendaftaran tanah dimana, orang yang memiliki tanah mengajukan kepada notaris untuk diberikan sertifikat hak atas tanah

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun 2016 tentang Pedoman Penerimaan Hibah dari Pemerintah Pusat Kepada Pemerintah Daerah, dan Penyertaan Modal Pemerintah

Hakim Ayu Fitrianingrum. Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012. Tujuan dari penelitian

Bermodal nilai dan karakter yang dikembangkan me- lalui budaya sekolah serta bukti nyata yang telah dibayarkan oleh SIT Salman Al Farisi Yogyakarta dengan tertanamnya nilai-nilai

penilaian negatif dari penumpang pengguna jasa pelayanan publik yang perlu diperhatikan dan tidak boleh diabaikan demi peningkatan kualitas pelayanan yaitu: