• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PRINSIP KERJA COMBINER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PRINSIP KERJA COMBINER"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

21 

 

BAB III

PRINSIP KERJA COMBINER

3.1. Multi Network Combiner System

Multi Network Combiner System terdiri dari susunan – susunan filter, Multiplexer, Diplexer dan Coupler yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan multi operator system. Filter-filter tersebut berfungsi sebagai menahan dan meneruskan sinyal dengan lebar pita frekuensi tertentu dari spektrum keseluruhan sinyal tersebut. Filter juga sebagai fungsi penyaring frekuensi yang mana akan dilewatkan sehingga menghindari terjadinya Interferensi antara satu dengan yang lainnya. Multiplexer sebagai fungsi masukan dari frekuensi 1800 MHz dan 2100 MHz yang diteruskan menjadi satu kanal melalui suatu keluaran. Diplexer berfungsi sebagai penyatu dua transmitter yang berbeda. Diplexer sendiri mempunyai prinsip kerja yang sehingga daya masing-masing sinyal tersebut tidak saling masuk ke saluran pasangannya. Hybrid Coupler mempunyai fungsi sebagai pencampuran frekuensi yang biasanya dilakukan untuk menggeser sinyal informasi yang termodulasi pada sinyal pembawa frekuensi tinggi ke sinyal pembawa frekuensi lainnya sedemikian rupa sehingga mudah diolah.

Multi Network Combiner System tersebut mempunyai input 13 port yang mewakili

frekuensi-frekuensi operator yang ada di Indonesia khususnya pada sistem jaringan dalam

gedung dan mempunyai 4 output port yang digunakan sebagai penyalur sinyal ke jaringan-

jaringan sebagai service antena nantinya. Interferensi pada Radio Frekuensi pada kasus

terburuk bisa menghilangkan sinyal itu sendiri yang akan menyebabkan penyedia operator

selular tidak bisa melakukan panggilan.

(2)

3.2. Skematik diagram Multi Network Combiner System

FILTER

MULTIPLEXER MULTIPLEXER MULTIPLEXER MULTIPLEXER

MULTIPLEXER OPERATOR A CDMA 2000

OPERATOR F WCDMA OPERATOR M CDMA 800

OPERATOR J GSM 1800 OPERATOR G GSM 1800 OPERATOR L CDMA 800

OPERATOR C WCDMA OPERATOR E WCDMA OPERATOR B WCDMA OPERATOR K GSM 1800 OPERATOR H GSM 1800 OPERATOR D WCDMA OPERATOR I GSM 1800

DIPLEXER DIPLEXER DIPLEXER DIPLEXER

COUPLER 3dB

COUPLER 3dB COUPLER 3dB

COUPLER 3dB

OUTPUT

OUTPUT

OUTPUT

OUTPUT

   

Gambar 3.1 Skematik diagram Multi Network Combiner System

Dari Gambar skematik diagram diketahui Multi Network Combiner System mempunyai 13 masukan (input) dan mempunyai 4 keluaran (output). Masing-masing input mewakili dari masing-masing operator yang diterangkan pada tabel 2.2.

Dilihat pada skematik diagram Multi Network Combiner System merupakan kumpulan susunan-susunan dari Filter, Multiplexer, Diplexer dan Hybrid Coupler 3 dB.

Dari beberapa operator masuk melalui filter dan multiplexer. Dari skema tersebut terlihat

terdapat perbedaan pada operator A yaitu pada CDMA 2000, perbedaan tersebut dilakukan

karena frekuensi pada CDMA 2000 mempunyai intemodulasi dan daya yang tinggi dan

bisa berakibat pada frekuensi yang lain oleh karena itu diberikan filter terlebih dahulu

sebelum masuk ke Multi Network Combiner System.

(3)

3.3. Prinsip Kerja Multi Network Combiner System

Prinsip kerja pada combiner terletak pada masing-masing komponen yang tersusun pada multi Network Combiner System. Komponen tersebut adalah filter, Diplexer, Multiplexer dan Hybrid Coupler. Secara kerja combiner ini membuat intermodulasi semakin rendah oleh karena itu Multi Network Combiner System membuat spesifikasinya sampai dengan -150dBc. Apabila intermodulasi semakin rendah maka kemungkinan terjadinya interferensi pada combiner sangat kecil. Maka dari itu komponen-komponen dibuat dengan kualitas yang bagus. Adapun prinsip-prinsip masing-masing komponen dan intermodulasi sebagai berikut:

3.3.1. Filter

Pada Multi Network Combiner system ini yang digunakan ialah Band Pass Filter yang menggabungkan dua komponen yaitu Low Pass Filter dan High Pass Filter. Sebuah filter band pass adalah perangkat elektronik atau sirkuit yang memungkinkan sinyal antara dua frekuensi spesifik untuk lulus, tapi yang mendiskriminasikan sinyal pada frekuensi lain. Beberapa filter band pass membutuhkan sumber tenaga dari luar dan menggunakan komponen aktif seperti transistor dan sirkuit terpadu, ini dikenal sebagai filter band pass aktif. Band pass filter tidak lain menggunakan sumber tenaga dari luar dan hanya terdiri dari komponen pasif seperti kapasitor dan induktor; ini disebut band pass filter pasif.

Pada Multi Network Combiner system ini digunakan jenis Band Pass Filter Pasif.

Gambar berikut ini merupakan hasil filterisasi frekuensi dari Band Pass Filter.

(4)

Gambar 3.2 spektrum Band Pass Filter

Band pass filter digunakan terutama di nirkabel pemancar dan penerima.

Fungsi utama filter seperti di pemancar adalah untuk membatasi bandwidth sinyal output minimum yang diperlukan untuk menyampaikan data pada kecepatan yang diinginkan dan dalam bentuk yang diinginkan. Pada penerima, sebuah band pass filter memungkinkan sinyal beralih dalam berbagai frekuensi yang dipilih untuk didengarkan atau dikodekan ulang, sementara mencegah sinyal pada frekuensi yang tidak diinginkan dari sampai. Sebuah band pass filter juga mengoptimalkan rasio signal-to-noise (sensitivitas) dari penerima.

Dalam kedua transmisi dan menerima aplikasi, yang dirancang dengan baik band pass filters, memiliki band width optimal untuk modus dan kecepatan komunikasi yang digunakan, memaksimalkan jumlah sinyal yang dapat di transfer dalam sistem, sementara meminimalkan interferensi atau kompetisi di antara sinyal.

Berikut Gambar prinsip kerja band pass filter redaman VS frekuensi.

Gambar 3.3 Karakteristik Band Pass Filter

(5)

3.3.2. Diplexer

Prinsip kerja sistem diplexer adalah menggunakan prinsip rangkaian jembatan seperti ditunjukkan pada gambar 3.4, sehingga daya masing-masing sinyal tersebut tidak saling masuk ke jalur pasangannya yaitu sinyal GSM tidak masuk ke sistem WCDMA begitu pula sebaliknya, dalam hal ini menggabungkan antara sinyal GSM dengan WCDMA. Fungsi diplexer sendiri ialah memungkinkan kedua sinyal GSM dan WCDMA menggunakan sistem yang sama atau antenna yang sama dan mencegah terjadinya interferensi.

Gambar 3.4 Prinsip Kerja Diplexer

3.5 Bentuk Praktis Diplexer

Pada gambar 3.4 menunjukkan, bahwa output atau antenna diletakkan pada

lengan sebelah kanan, sementara masing-masing pemancar GSM dan WCDMA

(6)

berada pada titik seimbangnya. Sedangkan pada gambar 3.5 menunujukkan penerapannya, dimana north-south bays dan east-ways bays adalah elemen system antenna yang memanjang ke arah utara–selatan dan barat-timur.

3.3.3. Multiplexer

Multiplekser adalah suatu untai elektronik yang mampu menyalurkan sinyal salah satu dari banyak masukan ke sebuah keluaran. Pemilihan masukan ini dilakukan melalui masukan penyeleksi. Secara bagan kerja Multiplekser ditunjukkan pada gambar .

Gambar 3.6 Rangkaian Dasar Multiplekser

Kendali pada Multiplekser akan memilih saklar mana yang akan dihubungkan.

Saluran kendali sebanyak "n" saluran dapat menyeleksi 2 n saluran masukan.

Sebagai contoh: sebuah Multiplekser 4 ke 1 dengan Kendali K1 dan K2. Ketika

saluran   Enable= 1, keluaran selalu bernilai nol. Tetapi ketika saluran Enable= 0,

keluaran F diatur melalui K1 dan K2. Tabel kebenaran Multiplekser ini dinyatakan

sebagai berikut:

(7)

Tabel 3.1 Tabel kebenaran multiplekser

Enable K2 K1 F

1 0 0 0 0

X 0 0 1 1

X 0 1 0 1

0 Xo X1 X2 X3

Jika E mewakili saluran Enable, maka berdasarkan tabel kebenaran tersebut keluaran F dapat dinyatakan sebagai :

F = E.Xo.K1.K2+E.X1.K1.K2+E.X2.K1.K2+E.X3.K1.K2

Berdasarkan persamaan logika ini disusunlah rangkaian logika Multiplekser 4 ke 1 seperti ditunjukkan oleh gambar 3.7.

Gambar 3.7. Rangkaian Logika multiplekser 4 ke 1

(8)

3.3.4. Hybrid Coupler

Secara prinsip kerja hybrid coupler dapat berupa jaringan multi gerbang (multi port network). Walau demikian adanya , pembahasannya dicukupkan pada 4 gerbang saja. Jaringan 4 gerbang dapat dilihat pada gambar 2.5 . jika P

1

adalah daya masukan pada gerbang 1 ( yang harus match dengan impedansi sumber) dan P2,P3 serta P4 adalah daya yang tersedia pada masing-masing gebang 2,3 dan 4.

Gerbang 1 Gerbang 3

Gerbang 2 Gerbang 4

Gambar 3.8 Aliran daya pada sebuah directional coupler

C = -10 log ………( 1 )

T = -10log ………( 2 )

I = -10log ……… ( 3 )

P = -10log ………( 4 )

Pada prinsipnya, daya yang masuk dari gerbang 1 akan langsung

tertransfer ke gerbang 2 sebesar T dB (lihat persamaan 2). Sebagian lagi ada yang

sampai ke gerbang 3 sebesar C dB dan ke gerbang 4 sebesar I dB. Seandainya

penggandeng ini ideal, maka koefisiean isolasi akan besar sekali yang berarti tidak

ada atau sedikit daya yang sampai pada gerbang 4. Dengan demikian daya dari

gerbang 1 akan terbagi ke 2 gerbang yaitu gerbang 2 dan 3. Jika Konfigurasi

coupler-nya simetri , maka keluaran pada gerbang 2 dan 3 berbeda fasa 90

o

. Sifat ini

dapat diperoleh dengan menguraikan mode genap dan ganjil pada gerbang keluaran .

Karakteristik ini cocok untuk aplikasi mixer, karena dapat menghilangkan frekuensi

bayangan pada sistem penerima heterodyne atau menghasilkan sinyal seimbang pada

frekuensi intermedier yang mana dapat meredam distorsi orde genap pada rangkaian

pengolahnya. Kelebihan ini baru dapat digunakan jika pembagian daya pada gerbang

(9)

2 dan 3 seimbang. Dengan demikian untuk realisasi mixer diperlukan Hybrid Coupler 90

o

. dengan koefisien gandeng -3dB.

Penggandeng ini akan direalisasikan menggunakan teknologi mikrostrip. Teori dasar perancangan jalur-jalur pada mikrostrip yang bersifat sintesa dapat merujuk pada. Bentuk fisik yang diteliti pada gambar 3.9 .

Gambar 3. 9 Bentuk Lingkaran Coupler

Untuk merealisasikan faktor penggandeng sebesar -3dB dan beda fasa sebesar 90

o

, maka karakteristik impedansi jalur-jalur mikrostrip pada gambar 3.9 . Harus memenuhi spesifikasi berikut ini:

Tabel 3.2 Impedansi jalur mikrostrip hybrid 90

o

-3dB

Coupling [dB] Z

shunt

[Ω] Z

series

[Ω]

3.01 50.00 35.36

Impedansi karakteristik ini dirancang dengan kondisi bahwa seluruh

gerbang hybrid coupler terbebani impedansi jalur sebesar 50 Ω.

(10)

3.3.5. Intermodulasi Interferensi

Dengan berkembangnya komunikasi baru-baru ini dalam pembagian mobile spektrum yang tersedia mulai menjadi lebih terbatas.

Interferensi antara frekuensi adalah masalah yang sangat berat bagi insinyur frekuensi radio, yang dalam skenario ini gangguan intermodulasi merupakan salah satu komponen yang biasanya diabaikan. sebuah intermodulasi dalam sistem tidak linier mobile dapat menghasilkan dua jenis interferensi: salah satu yang akan disebut In-Band, yang dihasilkan didalam GSM 900 (sistem Global untuk Mobile Communications), GSM 1800 atau band UMTS (Universal Mobile Telecommunications System) dan berasal dari dalam frekuensi, dan out-of band interferensi yang dihasilkan istilah pencampuran dari GSM 900 , GSM 1800 atau band UMTS, lihat Gambar 3.10.

Gambar 3.10 IMD pada system komunikasi selular

Baru-baru ini jenis masalah ini sebagai dampak yang lebih besar dalam sistem radio yang baru, terutama, karena persyaratan yang tinggi dari S / I pada sebuah teknologi UMTS yang muncul. IMD dalam hal ini dapat menurunkan kualitas dan kapasitas yang lebih penting pada system ini.

Dengan menggunakan divisi spektral komersial Portugis, dua carrier utama

milik satu operator selama pencampuran ke-3, 891 MHz, milik operator lebih rendah

dan 913.2 MHz kepada operator atas, Gambar 3.11, dan harmonik ke-2 akan jatuh

tepat pada pita GSM 1800 atau band TFTS dan bisa menurunkan ini ke-bagian dari

spektrum. Jika perangkat non linier adalah berasal dengan input daya yang kuat

(11)

daripada carrier yang lainnya dapat terhambat dan interferensi dapat terjadi berasal dari komponen-komponen yang distorsi, yang akan menyebabkan inteferensi antar operator selular, lihat Gambar 3.11

Gambar 3.11 In-Band IMD

Perhitungan yang sama dapat dilakukan jika dua-nada carrier dianggap dalam band GSM 1800, tidak hanya GSM 1800 dapat terinterferensi , tetapi ada istilah pencampuran yang bisa jatuh dalam band UMTS. Pertimbangkan contohnya dua GSM 1800 frekuensi pada 1 = 1879,8 MHz, saluran 885 , dan 2 = 1805,2 MHz, saluran 512, ini dua frekuensi yang berbeda dapat menghasilkan suatu produk agar pencampuran ketiga yang akan tepat jatuh ke tengah-tengah band UMTS, dan begitu akan menurunkan sistem yang lengkap.

Hasil sebelumnya memprediksi posisi yang benar dari keluaran frekuensi distorsi. Daya dihitung terkait untuk mempersembahkan daya ekspresi seri. Sebuah lembaran data penguat daya komersial yang, biasanya tidak menyajikan jenis seri kekuatan untuk ciri perilaku nonlinier. Sosok Kelebihan digunakan untuk menghubungkan daya keluaran linear dengan daya intermodulasi adalah yang terkenal dengan urutan ke-3 Intercept Point, IP3, untuk intermodulasi in-band.

IP3 didefinisikan sebagai kekuatan output di mana kekuatan fundamental

memotong daya intermodulasi orde 3, Gambar. 3.12 , hal ini jelas titik hipotetik,

karena power amplifier sudah jenuh pada daya keluaran ini, namun hal ini mampu

berjasa memperhitungkan daya intermodulasi sinyal yang kecil.

(12)

Mengingat dua nada kekuatan sama pada masukan dari daya seri disajikan dalam ekspresi, IP3 dapat dikaitkan dengan daya seri :

IP

3

= P

out

(

1

) = = = =

dan dua‐nada intermodulasi Rasio didefinisikan sebagai IMR

2

:   

IMR

2dBc 

= 2(IP3

dBm

 – P

outdBm

)+6dBc 

Dimana P

OTdBm

adalah daya total output dalam dBm, P

OTdBm

P

1

+ = P 2

.

Gambar 3.12 definisi IP3

Beberapa saran untuk meminimalkan dampak gangguan IMD akan dijelaskan.

Prosedur disajikan akan digunakan oleh operator telekomunikasi, dan sebagainya, yang dikenal prosedur, seperti misalnya untuk linearizers tidak akan dibahas karena itu adalah kekhawatiran produsen.

Cara sederhana pertama untuk meminimalkan gangguan intermodulasi dari

sebuah blok penguat daya untuk membuat beberapa kembali mati pada perintah

untuk mengoperasikan dengan input daya yang lebih rendah, yang akan

meminimalkan IMD, karena untuk distorsi pesanan ke-n akan menurunkan ndB oleh

setiap dB dari masukan backoff. Ini adalah prosedur yang sangat sederhana, tetapi

akan meningkatkan harga dari sebuah sistem, karena penguat daya akan digunakan

(13)

jauh dari titik normal operasi, sehingga penguat kuat akan digunakan untuk mengirim daya keluaran yang sama.

Cara yang lebih efektif untuk meminimalisasi, tidak IMD, tapi efeknya pada sistem komunikasi secara keseluruhan, adalah frekuensi baru hopping sistem yang telah dilaksanakan, baik di GSM dan dalam sistem UMTS. Karena pada frekuensi lompat frekuensi pembawa terus mengubah frekuensi IMD dicampur akan berubah juga, dan efek yang sama yang diperoleh dengan jenis yang lain dari interferensi, seperti misalnya multi-jalur, dapat diminimalkan dengan cara yang sama.

Sebuah ujung yang jelas adalah benar memenuhi semua spesifikasi pabrik, karena konektor yang buruk, atau beberapa perangkat biasanya linier melaju ke kejenuhan pada bahan dapat menghasilkan interferensi intermodulasi atau bahkan terburuk bisa rusak dan menghasilkan semua jenis interferensi.

Terdapat kasus-kasus pada Combiner itu sendiri yang tidak dapat kita duga yang menyebabkan Power Intermodulation menjadi naik, Seperti:

1. Nonlinier komponen pasif menyebabkan PIM. Kontak nonlinier, material nonlinier dan efek permukaan adalah alasan fisik untuk menginduksi PIM.

2. Dalam multi-band multi-sinyal input, baik dan aneh bahkan agar PIM dapat mengganggu untuk menerima sinyal, dan perhatian utama harus diberikan pada 2 dan 3 agar PIM yang dapat menyebabkan gangguan serius.

3. Semua saluran jaringan radio harus bergabung dengan hati-hati diatur untuk menghindari produk PIM lebih rendah mereka agar jatuh ke menerima saluran.

4. Dalam duplex distribusi sistem konstruksi dalam ruangan, baik itu untuk menggunakan komponen tingkat rendah PIM, seperti antena, kabel jumper, konektor, diplexer, combiners dan kabel, dan harus hati-hati meletakkan dan memperbaiki untuk menghindari distorsi, sambungan lepas atau tetap, polusi kimia di komponen.

Menurut teori sistem nonlinier, integral Volterra umum digunakan untuk

menyatakan output nonlinier , tetapi PIM non-waktu tergantung fenomena

nonlinier lemah, sehingga produk PIM y (x) dapat menyederhanakan sebagai

deret Taylor:

(14)

Y(X) = ∑ = ∑ , =

!

(1)

Untuk N masukan sinyal sinus x:

X= ∑ cos (2)

2

Dalam bentuk kompleks

X = ∑ + X ) = ∑ (3)

Dimana = , = , =

(3) pengganti kedalam

y(x) = ∑ ∑ ……… ∑

=∑

!

∑ ∏

!

(4)

Dimana, +…+ + +…+ =k, , adalah bilangan bulat atau nol.

Dari (1),(4):

=

!

∑ ∏

!

(5)

Ketika k=1, dari (5):

y1 = ∑ = ∑ cos (6)

(6) adalah komponen output linear, proporsional terhadap sinyal input x.

Ketika k = 2, dari (5):

= ∑ + ∑ cos 2 2

(15)

+ ∑ [cos + + ) + cos + + )]

(7)

Dalam (7), item pertama adalah orde nol(arus searah) komponen, item kedua adalah harmonisa orde dua, dan item ketiga adalah IMPS.

Ketika k 3 =, oleh (5):

= [∑ + 12 ∑

,

] cos + ∑ cos 3

3

+ ∑

,

[cos 2 2 + cos 2

2 ]

+ ∑

, ,

[cos

+ 3cos ](8)

Untuk k> 4, yk lebih rumit tapi kecil besarnya. Dari uraian di atas kita dapat kesimpulan:

1. Semakin rendah order, banyak orang asing besarnya IMP, tingkat IP2 adalah aneh.

2. Modulasi multi-sinyal dapat memiliki semua produk campuran mungkin termasuk setiap order IMP dan harmonis.

3. Modulasi orde tinggi dapat memiliki harmonisa yang sama dan urutan yang lebih rendah dan IMPS.

4. Modulasi order bahkan memiliki IMPS bahkan urutan dan harmonisa,

modulasi order aneh memiliki urutan IMPS aneh dan harmonisa.

Referensi

Dokumen terkait

Garis-Garis Besar Haluan Organisasi Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI) adalah pedoman dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya yang dirumuskan

Hal ini terlihat dari perolehan laba bersih perseroan yang turun 69,93 persen menjadi Rp3.906 miliar dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar

Berdasarkan data analisis yang diperoleh dan data fakta menunjukkan jika beban kerja yang dialami karyawan yang menikah ternyata cukup rendah yang sebenarnya

PEMENANG NOMOR DAN TGL KONTRAK / SURAT PESANAN SURAT PERINTAH MULAI KERJA (SPMK) SANGGAH / SANGGAH BANDING / PENGADUAN. LAPORAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TAHUN

Dalam proses pengolahan penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) dan bahan penolong digunakan seminimum mungkin. Sistem pengendalian hama, penyakit dan gulma selama proses

Asumsi peneliti terdapatnya hubungan antara faktor predisposisi dengan kekambuhan gangguan jiwa disebabkan antara lain karena faktor predisposisi pencetus akan terjadinya

Subunit 2 Perbandingan Trigonometri ateri yang dibahas dalam sub unit ini adalah perbandingan trigonometri yang sangat berguna dalam pengukuran – pengukuran panjang dengan

Penerapan uji ini dengan mak- sud untuk mengetahui apakah alat pengumpul data pada dasarnya me- nunjukan tingkat ketepatan, keaku- ratan, kestabilan atau konsisten instrumen