BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Peneliti melakukan penelitian di Kantor Pusat Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) dengan alamat Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 31, Jakarta Pusat. Pemilihan lokasi penelitian tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, kedudukan pengelola media sosial BPK RI dalam hal ini Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Internasional (Biro Humas dan KSI) berada di Kantor Pusat BPK RI. Kedua, penanggung jawab utama pengelolaan keterbukaan informasi berada di Kantor Pusat BPK RI. Ketiga, adanya kemudahan akses dalam memperoleh data-data kantor perwakilan daerah yang bersumber dari informan maupun dokumen terkait dengan penelitian. Waktu dilakukannya penelitian adalah September sampai dengan Oktober 2019.
B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif. Kata kualitatif menurut Denzin dan Lincoln (1998) dalam (Ahmadi, 2016) menekankan pada proses penelitian dan makna yang tidak melalui pengujian dan pengukururan baik kuantitas atau frekuensi secara tepat. Moleong (2004) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif tidak dilakukan dengan pengumpulan data yang berbentuk angka, tujuannya untuk memberikan gambaran secara dalam, rinci dan tuntas atas sebuah fenomena yang di dalamnya terdapat realita empirik.
Selain itu, pendekatan kualitatif juga memberikan pemahaman (understanding) terkait bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi dapat terjadi. Hal ini medasarkan penelitian pada hal-hal yang memiliki sifat diskursif, misalnya hasil wawancara, catatan lapangan, transkip dokumen, atau dokumen-dokumen tertulis lainnya, dan hal-hal yang bersifat nondiskursif, misalnya foto dan video (Pawito, 2007). Hal tersebut sejalan dengan
pendapat Poerwandari (1998) yang menjelaskan pendekatan kualitatif sebagai pendekatan dalam penelitian di mana peneliti akan melakukan pengolahan data kemudian menghasilkan data yang bersifat deskriptif. Data tersebut mencakup gambar, foto, video, transkrip wawancara, catatan lapangan, dan data lainnya.
Menurut Creswell (2014), penelitian dengan pendekatan kualitatif memiliki beberapa karakteristik. Pertama, lingkungan penelitian bersifat alamiah, karena informasi didapat oleh peneliti melalui observasi yang mengamati tingkah laku dan informasi didapat melalui interaksi tatap muka dan berbicara langsung dengan narasumber. Kedua, peneliti berperan sebagai instrumen kunci dimana peneliti dapat memperoleh sendiri data-data yang dibutuhkan dengan melakukan wawancara dan observasi perilaku narasumber, serta dokumen-dokumen yang terkait. Kemudian peneliti mereviu, mengolah, dan memberikan makna.
Karakteristik lainnya adalah peneliti mengkaji masalah dan melakukan penelitian untuk menginterpretasikan hal-hal yang dilihat, didengar, dan dipahami oleh peneliti.
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah studi kasus. Metode ini mengharuskan peneliti untuk menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) sehingga peneliti dapat membuat uraian dan penjelasan secara komprehensif terkait aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi, atau peristiwa dengan sistematis (Kriyantono, 2010). Pendapat lain tentang studi kasus dikemukakan oleh Patton (2002) dalam (Pawito, 2007) yang menjelaskan studi kasus adalah suatu upaya peneliti dalam mengumpulkan data-data, kemudian mengorganisasikan dan menganalisis data yang diperoleh tentang kasus-kasus tertentu yang berkaitan dengan permasalahan yang peneliti perhatikan.
Selanjutnya, dengan tetap berpegang pada prinsip holistik dan kontekstual, data tersebut dihubungkan atau dibandingkan satu dengan yang lain (jika lebih dari satu kasus).
Secara umum, studi kasus lebih tepat digunakan dalam penelitian yang berkaitan dengan pertanyaan how atau why. Selain itu, dalam melakukan penelitiannya, peneliti hanya mempunyai sedikit peluang untuk mengendalikan
peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki. Studi kasus juga tepat digunakan dalam penelitian yang berfokus pada fenomena saat ini dalam kehidupan nyata (Yin, 2015).
Metode penelitian studi kasus memiliki empat karakteristik yang membedakannya dengan metode penelitian yang lain (Wimmer & Dominick, 2011). Pertama, particularistic, studi kasus fokus pada situasi, kegiatan, program, fenomena yang khas, suatu studi yang baik untuk meneliti masalah praktis. Kedua, descriptive, hasil akhir dari studi kasus adalah penjabaran yang detail tentang tema atau topik yang dipilih peneliti. Ketiga, heuristic, studi kasus dapat memudahkan peneliti dalam memahami apa yang sedang diteliti. Tujuan akhir dari studi kasus adalah terbentuknya interpretasi, perspektif, makna, dan pandangan yang baru dari sebuah permasalahan. Keempat, inductive, pada umumnya metode ini bergantung pada alasan induktif, studi kasus mencoba menemukan hubungan baru daripada menguji hipotesis.
Penggunaan metode studi kasus dalam melakukan penelitian ini memungkinkan peneliti dapat mendeskripsikan implementasi keterbukaan informasi publik pada BPK RI. Selain itu, dapat diketahui juga bagaimana proses strategi komunikasi BPK RI dalam menggunakan saluran komunikasi media sosial secara keseluruhan yang terjadi sejak awal penggunaannya di BPK RI sampai dengan saat ini.
C. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Goetz & LeCompte (1984) dalam (Sutopo, 2006), teknik dalam pengumpulan data penelitian kualitatif secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, teknik pengumpulan data interaktif, yang memungkinkan terjadinya saling memberikan pengaruh antara peneliti dengan sumber datanya.
Kedua, teknik pengumpulan data noninteraktif, yang di dalamnya tidak ada sama sekali pengaruh antara peneliti dengan sumber datanya. Hal ini dikarenakan sumber datanya berupa benda atau sumber data lainnya.
Dalam melakukan penelitian, teknik pengumpulan data merupakan langkah paling strategis, sebab memperoleh data yang dibutuhkan adalah tujuan utama dari sebuah penelitian. Peneliti dapat mengumpulkan data dengan setting, sumber, dan cara yang beragam. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting), dari sumber data primer, dan menggunakan lebih banyak teknik observasi berperan serta, wawancara secara mendalam, dan dokumentasi (Sugiyono, 2007).
Data dalam penelitian ini dikelompokan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan hasil dari pengamatan secara langsung oleh peneliti dan wawancara mendalam dengan narasumber terkait aktivitas BPK RI dalam menggunakan media sosial sebagai saluran komunikasi dalam implementasi keterbukaan informasi publik. Data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari dokumen-dokumen, rekaman arsip dan perangkat fisik. Untuk memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti, digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi didefinisikan sebagai suatu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang terlihat dalam gejala-gejala yang terjadi dalam objek penelitian (Afifudin & Beni, 2009). Observasi digunakan dalam penelitian untuk memperoleh data dari sumber-sumber data yang berupa perilaku, peristiwa, tempat, dan benda serta rekaman gambar. Peneliti dapat melakukan observasi secara langsung maupun tidak langsung (Sutopo, 2006).
Marshall (1995) memberikan pendapat bahwa “through observation, the researcher learn about behavior and the meaning attached to those behavior”. Observasi adalah suatu proses kompleks yang terdiri dari berbagai proses biologis dan psikologis. Proses pengamatan dan ingatan merupakan dua di antara yang terpenting dari observasi (Sugiyono, 2007).
Peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh tim pengelola media sosial yang berada pada Biro Humas dan KSI. Peneliti mengamati bagaimana tim pengelola media sosial BPK RI
dengan mengadakan rapat untuk menentukan tema yang akan digunakan untuk konten, serta foto/gambar dan narasi/caption yang akan diunggah pada masing- masing akun media sosial. Selain itu, peneliti juga melakukan pengamatan secara virtual terhadap akun-akun resmi media sosial BPK RI untuk memperoleh data terkait aktivitas online media sosial BPK RI.
2. Wawancara
Menurut Esterberg dalam Sugiyono (2012), wawancara adalah pertemuan antara peneliti dengan sumber data (informan) untuk melakukan pertukaran ide dan informasi dengan cara tanya jawab, sehingga dalam penelitiannya dapat dikonstruksikan sebuah makna. Patton dalam (Poerwandari, 1998) menyatakan bahwa dalam wawancara membutuhkan suatu pedoman wawancara yang sangat membantu peneliti dalam mengingatkan aspek-aspek yang akan dibahas dan sebagai check list sudah dibahas atau belum aspek-aspek yang relevan tersebut.
Salah satu teknik pengumpulan data dalam metode studi kasus yang sangat penting adalah wawancara secara mendalam (in-depth interviewing) yang digunakan untuk memeriksa, menguji, ataupun melengkapi data yang diperoleh dari alat ukur yang lain (Hardjana, 2002). Peneliti dapat menyelami pandangan/pikiran tentang sesuatu yang menjadi objek penelitian untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi permasalahan yang menjadi bahan kajiannya. Wawancara secara mendalam memungkinkan terjadinya interaksi antara peneliti dengan narasumbernya yang berhak untuk mengetahui jati diri peneliti dan tujuan penelitian. Dengan demikian, narasumber akan mempercayai peneliti, sehingga peneliti dapat memperoleh data secara lengkap.
Dalam penelitian kualitatif, pada umumnya proses wawancara dilakukan tidak terstruktur. Hal ini disebabkan peneliti sebenarnya tidak mengetahui secara tepat mengenai apa yang hendak dituju. Untuk itu, peneliti melakukan wawancara secara informal dengan menggunakan pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended) guna memperoleh informasi sebanyak- banyaknya yang mengarah kedalaman informasi (Sutopo, 2006). Peneliti
mewawancarai pihak-pihak yang bertanggungjawab atas pengelolaan media sosial resmi BPK RI dalam mewujudkan keterbukaan informasi.
3. Dokumentasi
Dokumen adalah semua catatan atas peristiwa yang sudah terjadi dalam bentuk gambar, tulisan, atau karya-karya monumental seseorang. Dokumen yang berbentuk gambar antara lain foto, sketsa, gambar hidup dan lain-lain.
Dokumen yang berwujud tulisan antara lain peraturan, kebijakan, biografi dan sejarah kehidupan. Sedangkan dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa patung, film, gambar, lukisan,dan lain-lain. Metode ini digunakan untuk melengkapi penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2007).
Penggunaan dukomen juga dapat memberikan beberapa manfaat bagi peneliti antara lain: 1) membantu peneliti dalam memverifikasi ejaan dan judul atau nama yang benar dari organisasi-organisasi yang telah disinggung dalam proses wawancara; 2) menambah rincian secara spesifik informasi dari sumber yang lainnya, jika informasi dalam dokumen bertentangan dan tidak mendukung informasi yang ada, maka peneliti mempunyai alasan untuk meneliti lebih jauh topik yang bersangkutan; 3) peneliti dapat menggunakan dokumen-dokumen untuk membuat inferensi (Yin, 2015).
Peneliti mengumpulkan dan menelusuri beberapa dokumen untuk diteliti, diantaranya adalah peraturan BPK RI, surat keputusan BPK RI, laporan tahunan, manual atau prosedur operasional standar pengelolaan media sosial BPK RI, dan monitoring pemanfaatan media sosial BPK RI. Rekaman arsip yang diteliti adalah berita media internal BPK terkait kegiatan pengelolaan keterbukaan informasi BPK RI baik dalam bentuk cetak maupun elektronik.
Sedangkan perangkat fisik yang diteliti adalah akun-akun media sosial BPK RI yang dikelola oleh Biro Humas dan KI pada BPK RI.
D. Teknik Pengambilan Sampel (Informan Penelitian)
Dalam penelitian sosial, adanya keterbatasan yang dimiliki peneliti, baik biaya, waktu, atau tenaga, membuat peneliti tidak harus melakukan penelitian terhadap seluruh objek yang dijadikan pengamatan ketika. Hanya dengan mempelajari dan mengamati sebagian dari objek atau fenomena yang diteliti, seorang peneliti dapat mempelajari, memprediksi, dan menjelaskan sifat-sifat objek atau fenomena tersebut. Sebagian dari keseluruhan objek atau fenomena yang akan diamati inilah yang disebut dengan sampel (Kriyantono, 2010).
Teknik yang digunakan peneliti dalam pengambilan sampel ketika melakukan penelitian kualitatif lebih mempertimbangkan pada alasan-alasan tertentu (purposeful selection) sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk itu, dalam penelitian kualitatif sifat metode sampling pada hakikatnya adalah purposive sampling (Pawito, 2007). Teknik ini mencakup informan-informan yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria tetentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Infroman yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut tidak dijadikan sampel penelitian (Yin, 2015).
Pemilihan informan dalam penelitian ini dibagi dalam kriteria umum dan khusus yang mengetahui dan terlibat dalam pengelolaan media sosial BPK RI sebagai saluran komunikasi dalam mewujudkan keterbukaan informasi. Kriteria umum yaitu informan yang mengetahui tentang pengelolaan media sosial BPK RI secara umum atau secara garis besar, yaitu Kepala Biro Humas dan KSI, Kepala Bagian Pengelolaan Informasi, dan Kepala Subbagian Layanan Informasi. Kriteria khusus yaitu informan yang mengetahui pengelolaan media sosial BPK RI secara khusus dan lebih banyak terlibat secara teknis dalam aktivitas tersebut, misalnya staf Subbagian Layanan Informasi serta anggota tim penyebaran dan pemantauan informasi.
No. Inisial Tanggal Wawancara
Jabatan Kode
1 JM 15/10/2019 Kepala Biro Humas dan KSI (eselon 2)
Informan 1
2 SH 3/10/2019 Kepala Bagian Pengelolaan Informasi (Eselon 3)
Informan 2 3 DR 2/10/2019 Kepala Subbagian Layanan
Informasi (Eselon 4)
Informan 3 4 AD 18/9/2019 Staf, Anggota Tim (Bidang
Penyebaran dan
Pemantauan Informasi)
Informan 4
5 RK 7/10/2019 Staf, Anggota Tim (Bidang
Penyebaran dan
Pemantauan Informasi)
Informan 5
6 RI 15/10/2019 Staf, Anggota Tim (Bidang
Penyebaran dan
Pemantauan Informasi)
Informan 6
7 NB 18/9/2019 Staf, Anggota Tim (Bidang
Penyebaran dan
Pemantauan Informasi)
Informan 7
E. Keabsahan/Validitas Data
Pengujian keabsahan hasil penelitian merupakan persoalan penting yang dihadapi dalam melakukan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif banyak yang diragukan kebenaran hasilnya dikarenakan oleh hal-hal berikut: (1) subjektivitas peneliti, dalam penelitian kualitatif merupakan hal yang dominan, (2) banyaknya kelemahan pada alat penelitian yaitu wawancara dan observasi ketika peneliti melakukannya dengan terbuka dan tidak terkontrol, (3) hasil akurasi penelitian akan dipengaruhi oleh sumber data kualitatif (Bungin, 2008).
Data yang bersifat valid dan reliabel merupakan data yang diinginkan seorang peneliti ketika data tersebut sudah berhasil dikumpulkan. Dalam penelitian komunikasi kualitatif, validitas (validity) data lebih berkaitan dengan
Tabel 1. Daftar Informan dalam Penelitian
tingkat sejauh mana data yang diperoleh telah secara akurat mewakili realitas atau gejala yang diteliti. Sedangkan realibilitas data penelitian berhubungan dengan tingkat konsistensi hasil dari penggunaan cara pengumpulan data (Pawito, 2007).
Menurut (Kriyantono, 2010), penilaian keabsahan/validitas penelitian kualitatif pada umumnya terjadi pada waktu peneliti mengumpulkan dan menganalisis interpretasi data yang ada.
Salah satu teknik yang digunakan peneliti dalam menguji keabsahan/validitas hasil penelitian adalah triangulasi. Dwidjowinoto (2002) dalam (Kriyantono, 2010) menjelaskan teknik ini dilakukan dengan menganalisis jawaban subjek dengan meneliti kebenerannya dengan sumber data yang lain (data empiris) yang tersedia. Penelitian ini menggunakan dua teknik trianggulasi.
Pertama, triangulasi sumber yaitu peneliti akan membandingkan data yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Kedua, triangulasi metode yaitu peneliti akan membandingkan data yang berupa observasi serta wawancara dengan narasumber secara langsung dan dokumen yang berisi catatan terkait dengan data yang diperlukan oleh peneliti.yang berbeda.
F. Teknik Analisis Data
Dalam suatu penelitian, menganalisis data berarti merujuk pada proses pengorganisasian dan pengurutan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga peneliti dapat menemukan tema dan tempat untuk merumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2004). Pendapat lain dikemukakan oleh Robert K. Yin yang menyatakan bahwa analisis data terdiri dari pengujian, pengkategorian, pentabulasian, ataupun pengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi awal suatu penelitian (Yin, 2015).
Selanjutnya, analisis data dilakukan oleh peneliti untuk memberikan makna (making sense of) terhadap data, menafsirkan (interpreting), atau mentransformasikan (transforming) data ke dalam bentuk-bentuk narasi.
Kemudian, narasi tersebut mengarah pada temuan yang berbentuk proposisi-
proposisi secara ilmiah (thesis) yang berujung pada kesimpulan yang bersifat final (Pawito, 2007).
Dalam melakukan analisis data penelitian dengan studi kasus, peneliti harus mempunyai suatu strategi umum analisis. Terdapat dua jenis strategi umum analisis yang dapat digunakan, yakni strategi analisis yang mendasarkan pada proposisi-proposisi teoretis dan strategi analisis yang mengembangkan pendekatan deskriptif terhadap kasusnya (Yin, 2015). Penelitian ini akan menggunakan strategi analisis yang mendasarkan pada proposisi-proposisi teoretis. Hal ini mengingat bahwa proposisi-proposisi teoritis dapat membantu memfokuskan perhatian pada data tertentu dan mengabaikan data yang lain. Selain itu, proposisi tersebut juga dapat membantu peneliti dalam mengorganisasikan keseluruhan studi kasus dan menetapkan alternatif penjelasan yang harus diuji. Proposisi teoretis tentang jawaban-jawaban terhadap pertanyaan “bagaimana” dan
“mengapa” sangat berguna dalam menuntun peneliti melakukan analisis studi kasus.
Peneliti menggunakan model analisis data menurut Stake (Creswell, 2014) yang mengungkapkan empat bentuk analisis dalam penelitian studi kasus, yaitu:
1. Pengumpulan kategori, yaitu peneliti mengumpulkan contoh-contoh data yang ada sesuai dengan kategorinya dan mencoba memahami dan menguraikan makna yang akan mungkin muncul yang relevan dengan penelitian.
2. Interpretasi langsung, yaitu peneliti menarik kesimpulan secara langsung atas data yang diamati tanpa melihat data yang lain. Proses ini dilakukan ketika data ditarik secara terpisah, kemudian akan ditempatkan kembali bersama data yang lain untuk memperoleh makna.
3. Pembentukan pola dan kesepadanan antara dua atau lebih kategori. Dalam proses ini peneliti dapat membuat matriks untuk menunjukkan hubungan antar kategori.
4. Mengembangkan generalisasi natural melalui analisa data. Generalisasi yang dikembangkan peneliti dapat diambil melalui kasus-kasus yang sama atau
penelitian sejenis, apakah kasus mereka sendiri atau menerapkannya pada sebuah populasi kasus.