• Tidak ada hasil yang ditemukan

II TINJAUAN PUSTAKA. Domestikasi lazim dilakukan dengan budidaya yang bertujuan mendapatkan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II TINJAUAN PUSTAKA. Domestikasi lazim dilakukan dengan budidaya yang bertujuan mendapatkan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ayam Pedaging

Ayam pedaging yang saat ini dikembangkan peternak diseluruh dunia berasal dari ayam hutan liar yang didomestikasi sekitar 8000 tahun yang lalu.

Domestikasi lazim dilakukan dengan budidaya yang bertujuan mendapatkan daging, telur, dan bibit yang lebih baik. Budidaya ayam secara komersial dimulai abad ke-19 yang secara bertahap menuju sistem modern. Ayam pedaging dapat menghasilkan daging relatif lebih banyak dalam waktu yang singkat. Ciri-ciri ayam pedaging adalah: 1. Ukuran badan ayam pedaging relatif besar, padat, dan berdaging penuh, 2. Bergerak lambat dan tenang, 3. Biasanya lebih lambat mengalami dewasa kelamin (Sudaryani dan Santosa, 1994). Jenis-jenis ayam ayam ras pedaging yang telah dikenal dan banyak beredar di Indonesia adalah jenis ayam ras unggul yang merupakan keturunan terakhir dari persilangan dari pejantan ras White Cornish yang berasal dari Inggris dengan induk betina ras Plymouth rock yang berasal dari Amerika. Hasil persilangan yang dikembangkan

dari kedua ras tersebut menghasilkan Day Old Chick (DOC) yang mempunyai daya tumbuh baik dan produksi yang tinggi, terutama dalam hal kemampuan mengubah ransum menjadi daging dengan cepat dan juga efesien.

Ayam pedaging umur satu sampai lima minggu memiliki tingkat pertumbuhan yang paling baik. Bobot jual pada umur lima atau enam minggu ayam pedaging telah mencapai 1,4kg-1,6kg /ekor. Ayam pedaging hanya memerlukan siklus waktu maksimum enam minggu dalam setiap satu periode pemeliharaannya (Rasyaf, 2004).

(2)

Selain itu, Fadilah (2004) menyatakan bahwa keunggulan ayam pedaging dilihat dari pertumbuhan berat badan yang terbentuk sangat didukung oleh :

a. Temperatur udara lokasi peternakan stabil dan ideal untuk ayam (230- 260C).

b.Teknik pemeliharaan yang baik (dihasilkan produk yang memberikan keuntungan maksimal).

c. Kawasan peternakan terbebas dari hama penyakit.

2.2. Usaha Peternakan Ayam Pedaging Di Indonesia

Pada umumnya peternakan ayam pedaging di Indonesia adalah peternakan yang berskala kecil dengan populasi rata-rata mencapai 4.000-6.000 ekor (Rasyaf, 2008). Usaha peternakan ayam pedaging dengan skala tersebut sangatlah rentan terhadap perubahan harga ayam pedaging dipasaran sehingga peternak tersebut banyak yang mengalami kebangkrutan karena tidak bisa mengembalikan modal usahanya yang telah digunakan sebelumnya (Rasyaf, 1992).

Periode usaha peternakan ayam pedaging ini dikatakan beroperasi mulai usia satu hari sejak ditetaskan dan mulai dipelihara maka itulah yang disebut awal masa produksi atau hari pertama produksi. Kemudian perjalanan produksi tujuh hari ke depan maka itulah yang disebut satu minggu produksi. Apabila minggu produksi itu dijalankan dalam kurun waktu 5 kali minggu produksi atau kurang lebih 35 hari maka itulah yang dinamakan masa produksi. Pada masa ini ayam sudah siap dijual karena ayam sudah mencapai bobot tubuh yang ideal untuk dipanen. Bila kegiatan ini diulang ulang maka tiap kali masa produksi dinamakan satu masa produksi. Antara satu masa produksi dengan satu masa produksi berikut ada masa kosong selama dua minggu, artinya selama dua minggu kandang yang

(3)

bersangkutan dikosongkan. Adapun tujuan dari pengosongan ini adalah untuk memutuskan siklus penyakit pada masa produksi sebelumnya ke masa produksi berikutnya (Rasyaf, 2004).

Pada saat ini industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk- produk unggas dari luar negeri. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan global yang mencakup kesiapan daya saing produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 60-70% dari biaya produksi (Rasyaf, 2004). Dalam upaya meningkatkan daya saing produk perunggasan pastinya ada tantangan dibalik semua itu adalah dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) peternak ayam pedaging, kualitas dari DOC, dan kualitas pakan. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas produk dan sesuai dengan permintaan pasar (Rasyaf, 2002).

2.3. Sistem Pola Kemitraan Ayam Pedaging di Indonesia

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kemitraan berasal dari kata mitra yang berarti teman, kawan, pasangan kerja dan rekan. Kemitraan merupakan perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra. Definisi lain diungkapkan oleh Hafsah (1999) yang menyatakan bahwa kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama, dengan prinsip saling mambutuhkan dan saling membesarkan. Karena merupakan strategi bisnis maka keberhasilan

(4)

kemitraan sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis.

Definisi kemitraan menurut undang-undang dicantumkan dalam Undang- Undang No 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, dijelaskan bahwa kemitraan adalah kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar, disertai pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperlihatkan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Jika digabungkan maka didapatkan definisi kemitraan adalah jalinan kerjasama usaha yang merupakan strategi bisnis yang dilakukan antara dua pihak atau lebih dengan prinsip saling menguntungkan. Dalam kerjasama tersebut tersirat adanya satu pembinaan dan pengembangan. Hal ini dapat terlihat karena pada dasarnya masing-masing pihak pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan, sehingga akan saling melengkapi antara kedua belah pihak yang bekerjasama. Bobo (2003) menyatakan bahwa tujuan utama kemitraan adalah untuk mengembangkan pembangunan yang mandiri dan berkelanjutan dengan landasan ekonomi dan struktur perekonomian yang kokoh dan berkeadilan dengan ekonomi kerakyatan sebagai tulang punggung utamanya.

Permasalahan mendasar yang ada pada usaha kecil adalah kurangnya kemampuan manajemen dan profesionalisme serta terbatasnya akses terhadap permodalan, teknologi, dan jaringan pemasaran. Salah satu upaya untuk memecahkan masalah kesenjangan ini adalah melalui kemitraan usaha antara yang besar dan yang kecil, antara yang kuat dan yang lemah. Melalui kemitraan diharapkan akan dapat mengatasi kekurangan yang dimiliki masing-masing pihak

(5)

yang bermitra, serta sekaligus dapat mempercepat kemampuan yang berekonomi lemah dan meningkatkan pendapatan masyarakat (Suparta, 2001).

Dalam Pola kemitraan peternak ayam pedaging dengan perusahaan ayam pedaging sudah diperkenalkan oleh pemerintah sejak tahun 1984 melalui Pola Inti Rakyat (PIR Perunggasan) yang merupakan tindak lanjut dari Keppres No. 50 tahun 1981. Inti dari Keppres No. 50 tahun 1981 itu adalah: (1) perusahaan peternakan ayam pedaging diperbolehkan bergerak pada industri hulu ayam pedaging (bibit, pakan, dan obat-obatan) dan atau pada industri hilir ayam pedaging (pemotongan, pedagangan ayam), sedangkan usaha budidaya ayam pedaging hanya untuk peternak rakyat, (2) skala usaha budidaya dibatasi (750 ekor/periode untuk ayam pedaging).

Searah dengan bergulirnya era deregulasi dan debirokratisasi di Indonesia maka pemerintah mencabut Keppres No. 50 tahun 1981, maka pada tahun 1990 pemerintah mencoba melakukan restrukturasi dengan menerbitkan Keppres nomor 22/1990 tentang Pembinaan Usaha Peternakan Ayam Pedaging, yang pada intinya memberikan kesempatan usaha ayam pedaging yang tidak hanya ditujukan untuk usaha peternakan rakyat, tetapi juga mengijinkan untuk skala perusahaan dengan catatan mereka harus melakukan kemitraan dengan peternakan rakyat.

Lebih lanjut, menurut Kepmentan nomor 472/1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Usaha Peternakan Ayam Pedaging, kemitraan dapat dilaksanakan dengan pola PIR (Perusahaan Inti Rakyat). Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 44/1997 tentang kemitraan, menjelaskan bahwa kemitraan adalah kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah dan/atau usaha besar disertai pembinaan oleh usaha menengah dengan memperhatikan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

(6)

Menurut (Poultry Indonesia, 2005), pembangunan ekonomi dengan pola kemitraan dapat dianggap sebagai usaha yang paling menguntungkan, terutama ditinjau dari pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang. Hal ini didasari oleh perwujudan cita-cita pola kemitraan untuk melaksanakan sistem perekonomian gotong royong antara mitra yang kuat dari segi permodalan, pasar, dan kemampuan teknologi bersama peternak dengan modal usaha yang kecil dan tidak berpengalaman.

Para pelaku kemitraan harus memiliki dasar-dasar etika dalam berbisnis yang dipahami dan dianut bersama sebagai titik tolak dalam menjalankan kemitraan. Semakin kuat pemahaman serta penerapan etika bisnis bagi pelaku kemitraan maka semakin kokoh fondasi kemitraan yang dibangunnya dan pada gilirannya akan memudahkan pelaksanaan kemitraan itu sendiri (Suparta, 2001).

Pada kemitraan ayam pedaging perusahaan mitra contohnya Unggas Jaya Abadi, Mitra Sinar Jaya, Primatama Karya Persada (PKP), Ciomas, dan Patriot.

Adapun syarat-syarat kemitraan: perusahaan yang sebagai inti memiliki kewajiban menyediakan sarana produksi berupa DOC, pakan dan obat-obatan, memberikan bimbingan teknis manajemen, mengolah dan/atau memasarkan hasil produksi peternakan, mengusahakan permodalan, sedangkan peternak sebagai plasma berkewajiban menyediakan tenaga kerja, kandang berserta peralatan didalamnya untuk melaksanakan budidaya ayam pedaging.

Syarat-syarat keberhasilan hubungan kemitraan usaha peternakan ditentukan oleh beberapa hal (Suparta, 2001) : 1. Jujur (Kedua belah pihak harus bersikap jujur satu sama lain dalam mengemukakan dan menilai sesuatu, terutama proses hubungan kemitraan). 2. Disiplin (Kedua belah pihak harus disiplin dan

(7)

menjalankan hak dan kewajiban). 3. Terbuka (Kedua belah pihak harus selalu terbuka dalam menyampaikan dan menerima informasi). 4. Kerja keras (Kedua belah pihak harus sama-sama bekerja keras dalam melakukan tugas dan kewajiban). 5. Konskuen (Kedua belah pihak harus sama-sama konskuen dalam menjalankan apa yang menjadi kesepakatan bersama). 6. Konsisten (Kedua belah pihak harus tetap teguh dengan prinsip dan pendirian, tidak mudah terpengaruh isu yang belum tentu benar dan menguntungkan). 7. Komunikatif (Kedua belah pihak harus selalu menjaga hubungan dan komunikasi yang harmonis dan lancar).

8. Perjanjian kesepakatan (Perjanjian kerjasama dibuat atas dasar kesepakatan yang terlebih dahulu diawali dengan pembahasan dari segala aspek oleh kedua belah pihak, untuk bersama-sama memperoleh keuntungan yang sewajarnya.

2.4. Tujuan dan Manfaat Pola Kemitraan

Pada dasarnya maksud dan tujuan dari pola kemitraan adalah konsep win- win solution partnership yang berarti kerjasama yang dilakukan memberikan

keuntungan bagi kedua belah pihak. Arti dari saling menguntungkan disini bukan berarti para partisipan dalam kemitraan tersebut harus memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama, tetapi yang lebih dipentingkan adalah posisi tawar yang setara berdasarkan peran masing-masing. Ciri-ciri dari usaha kemitraan terhadap hubungan timbal balik bukan sebagai buruh majikan atau atasan dan bawahan melainkaan sebagai adanya pembagian resiko dan keuntungan yang proporsional, dan inilah kekuatan serta karakter usaha kemitraan (Suparta, 2001).

Ia juga menyatakan bahwa dalam kondisi idealnya tujuan ini adalah ingin tercapainya pelaksanaan kemitraan secara lebih konkrit yaitu : 1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat; 2. Meningkatkan perolehan nilai tambah

(8)

bagi pelaku kemitraan; 3. Meningkatkan pemerataan, pemberdayaan masyarakat, dan usaha kecil; 4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi perdesaan, wilayah, dan nasional; 5. Memperluas kesempatan kerja; 6. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Manfaat yang dapat dicapai dari pola kemitraan antara lain:

1). Produktivitas

Bagi perusahaan yang lebih besar dengan model pola kemitraan akan dapat mengoperasionalkan kapasitas pabriknya secara full capacity tanpa perlu memiliki lahan dan tenaga kerja sendiri karena biaya untuk keperluan tersebut ditanggung oleh peternak. Bagi peternak sendiri dengan pola kemitraan ini, peningkatan produktivitas biasanya dicapai dengan simultas yaitu dengan cara menambah unsur input baik kualitas maupun kuantitasnya dalam jumlah tertentu akan diperoleh output dalam jumlah dan kualitas yang berlipat. Model pola kemitraan peternak dapat memperoleh tambahan input, kredit, dan penyuluhan yang disediakan oleh perusahaan inti.

2). Efesiensi

Perusahaan dapat mencapai efesiensi dengan menghemat tenaga dalam mencapai target tertentu dengan tenaga kerja yang dimiliki peternak.

Sebaliknya bagi peternak yang pada umumnya relative kurang dalam hal kemampuan teknologi dan sarana produksi, dengan bermitra akan dapat menghemat waktu produksi melalui teknologi produksi yang telah disediakan oleh perusahaan.

(9)

3). Jaminan Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas

Kualitas, kuantitas, dan kontinuitas sangat erat kaitannya dengan efesiensi dan produktivitas di pihak peternak yang menentukan terjaminnya pasokan pasar dan pada gilirannya menjamin keuntungan perusahaan. Ketiganya merupakan perekat pola kemitraan. Apabila berhasil, maka dapat menjaga keberlangsungan pola kemitraan ke arah yang lebih sempurna.

4). Resiko

Dengan pola kemitraan diharapkan resiko yang besar dapat ditanggung bersama (risk sharing), tentunya secara proporsional sesuai dengan besarnya modal dan keuntungan yang akan diperoleh. Risk sharing mengandung makna senasib sepenanggungan sehingga eksistensi perusahaan yang bermitra menjadi lebih besar.

5). Memberikan dampak Sosial

Pola kemitraan bukan hanya memberikan dampak positif bagi peningkatan keuntungan tetapi juga dapat memberikan dampak sosial (social benefit) yang cukup tinggi. Berarti Negara bisa terhindar dari kecemburuan sosial yang bisa berkembang menjadi gejolak sosial akibat adanya ketimpangan. Hal ini merupakan wujud dari keadilan sosial dan keadilan ekonomi sperti yang diamanatkan dalam UUD 1945.

6). Ketahanan Ekonomi Nasional

Usaha pola kemitraan berarti suatu upaya pemberdayaan yang lemah (peternak/usaha kecil). Dengan peningkatan pendapatan yang diikuti tingkat kesejahteraan dan sekaligus terciptanya pemerataan yang lebih baik, otomatis akan mengurangi biaya timbulnya kesenjangan ekonomi antar pelaku yang

(10)

terlibat dalam pola kemitraan yang pada gilirannya mampu meningkatkan ketahanan ekonomi secara nasional.

Salah satu manfaat terpenting yang dapat dirasakan peternak plasma adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan peternak. Manfaat yang lainya dirasakan peternak adalah : 1. Jaminan pengadaan sapronak yang pembayarannya diperhitungkan dari penjualan hasil panen; 2. Mendapat jaminan kelancaran pemasaran hasil; 3. Mendapat jaminan pendapatan dari penjualan hasil. Manfaat yang dirasakan perusahaan adalah : 1. Terjadinya stabilitas produksi yang menjamin kontinuitas supplay ayam ke pasar; 2.

Meningkatnya efesiensi dan kinerja perusahaan; 3. Menciptakan perluasan dan kepastian pasar sapronak; 4. Menghasilkan ayam dengan harga kompetitif; 5.

Terhindar dari resiko penjarahan masa akibat kecemburuan sosial kepada perusahaan.

2.5. Faktor-faktor Produksi Peternakan Ayam Pedaging

Faktor produksi merupakan berbagai input yang diperlukan dalam menjalankan proses produksi. Input diproses untuk kemudian diubah menjadi output. Faktor produksi terdiri atas DOC, pakan, obat, vaksin, vitamin, sekam, listrik, air, minyak tanah/gas LPG dan tenaga kerja (Murtidjo, 1992).

2.5.1. DOC

DOC adalah anak ayam usia satu hari. Bobot anak ayam pada usia ini berkisar 37-42 gram. Anak ayam yang sehat memiliki ciri memiliki mata yang cerah bercahaya, aktif terlihat segar, tidak memperlihatkan cacat fisik, dan tidak ada tinja yang melekat pada duburnya (Rasyaf, 2008).

(11)

Cahyono (2004) menyatakan bahwa umumnya jenis-jenis ayam pedaging yang telah banyak dikenal dan beredar di Indonesia adalah jenis ayam ras unggul yang merupakan turunan terakhir hasil perkawinan silang dari pejantan ras White cornish yang berasal dari Inggris dengan induk betina ras Plymouth rock yang

berasal dari Amerika. Hasil perkawinan silang yang dikembangbiakan dari kedua ras tersebut menghasilkan DOC yang mempunyai daya tumbuh dan produksi yang tinggi terutama dalam hal kemampuan mengubah pakan menjadi daging dengan cepat dan hemat.

2.5.2. Ransum / Pakan

Pakan atau ransum merupakan kumpulan bahan makanan yang layak dikonsumsi oleh ayam dan sudah disusun mengikuti aturan yang berlaku dalam penyusunan pakan. Rasyaf (2002) menyatakan bahwa ransum starter adalah ransum atau pakan yang memiliki kandungan protein tinggi untuk merangsang sel-sel pertumbuhan dalam tubuh ayam, ransum atau pakan ini diberikan pada ayam berumur satu sampai dua minggu, umumnya biaya untuk pembelian ransum adalah 60-70% dari keseluruhan total biaya produksi. Ayam pedaging membutuhkan energi yang lebih tinggi (lebih dari 3000 kkal per kg ransum).

Cahyono (2004) menambahkan dalam hal ransum yang harus diberikan untuk anak ayam sampai umur empat minggu, pakan harus mengandung protein sebanyak 21-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, kalsium 1%, phosphor 0,7-0,9%, dan energi (ME) 2800-3500 kkal.

Menurut Effendy (2004), Feed Convertion Ratio adalah suatu ukuran yang menyatakan ratio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1kg daging ayam. Contohnya nilai FCR=1,6 artinya untuk memproduksi 1kg daging ayam

(12)

dalam usaha peternakan maka dibutuhkan 1,6kg pakan. Semakin besar nilai FCR, maka semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi 1kg daging ayam.

2.5.3. Operasional (Tenaga kerja, Listrik, Air, Sekam, dan Gas LPG)

Operasional merupakan komponen produksi usaha peternakan yang tidak bisa dipisahkan, biaya operasional ini meliputi tenaga kerja, listrik, air, sekam, gas atau minyak. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pemeliharaan 4.000-6000 ekor ayam itu hanya dibutuhkan satu orang dengan gaji Rp 200 /ekor. Kemudian peternak memerlukan sekam untuk alas atau litter dan harga sekam per karung berkisar dari Rp7.000 sampai Rp 8.000 peternak memerlukan sekam sekitar 30 karung. Gas LPG dibutuhkan untuk bahan bakar pemanas yang digunakan pada saat anak ayam masih kecil umurnya 0-1 minggu dan lama penggunaan pemanas ini adalah 1 minggu, peternak menggunakan gas sebanyak 7 tabung berukuran 12kg yang harganya Rp 75.000 /tabung.

Tenaga kerja adalah sumber daya manusia yang diperlukan untuk mengelola proses produksi. Kualitas sumber daya manusia yang digunakan mempengaruhi kualitas ternak yang dihasilkan (Rasyaf, 2008).

2.5.4. Kandang

Syarat-syarat kandang yang baik menurut Cahyono (2004) antara lain: (a) kandang harus dibuat kuat agar dapat dipakai dalam waktu yang lama, dan tidak mudah roboh karena angin kencang; (b) dinding kandang tidak rapat tetapi harus terbuka, kawat atau jeruji-jeruji bambu yang lubangnya tidak memungkinkan hewan pemangsa dapat masuk; (c) ruang ventilasi dapat ditambahkan dengan membuat sistem monitor dan dapat menggunakan kipas angin yang berfungsi

(13)

menyedot udara kotor dalam kandang atau mengalirkan udara segar masuk ke dalam kandang; (d) ukuran/luas kandang tergantung dari jumlah ayam yang akan dipelihara. Koefisien teknis kepadatan ayam dewasa per m persegi adalah 10 ekor;

(e) selokan/parit sebaiknya dibuatkan di sekeliling kandang. Hal ini penting agar pembuangan air tidak menggenang; (f) kandang hendaknya dibangun di atas tanah yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya agar udara dapat berputar dan bergerak bebas melintasi kandang sehingga peredaran udara dapat berjalan dengan baik; (g) jarak antar kandang juga harus mendapat perhatian karena dapat mempengaruhi sirkulasi udara, tingkat kelembaban, dan temperature di dalam kandang.

2.5.5. Peralatan

Ayam yang dipelihara secara intensif dengan cara dikandangkan secara terus menerus sepanjang hari sampai dengan ayam siap untuk dipanen oleh karena itu, untuk menunjang keberhasilan produksi diperlukan peralatan-peralatan teknis yang memadai seperti: tempat pakan dan minum, alat pemanas, dan peralatan lainnnya.

Tempat pakan dan minum. Fadilah (2004) menyatakan bahwa beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengawasan pekerjaan sehari-hari adalah tata letak tempat pakan. Tempat pakan ada yang diletakkan dalam satu baris atau berselang seling dengan tempat minum. Kebutuhan tempat pakan dan minum tergantung dari jumlah ayam yang dipelihara dan umur ayam. Pemeliharaan awal dengan jumlah 1.000 ekor DOC, diperlukan tempat pakan sebanyak 8 buah dan tempat minum sebanyak 10 buah, sedangkan pada pemeliharaan akhir dengan jumlah ayam 1.000 ekor itu memerlukan tempat pakan sebanyak 24 buah dan tempat minum sebanyak 12 buah (Cahyono, 2004).

(14)

Alat pemanas. Alat pemanas berfungsi sebagai induk buatan yang memberi kehangatan bagi ayam (DOC). Alat ini digunakan untuk pemeliharaan masa awal (starter) yang berlangsung selama 14 hari dimana ayam masih memerlukan pemanasan dalam hidupnya. Salah satu alat pemanas adalah Gasolec yang sudah beredar di toko-toko unggas. Sumber panas pada Gasolec berasal dari gas, oleh karenanya penggunaannya harus dilengkapi dengan tabung gas. Alat pemanas ini hendaknya diletakkan ditengah-tengah dengan ketinggian 1,30-1,50 m dari permukaan litter (Cahyono, 2004).

Peralatan lain. Menurut Fadilah (2004) peralatan lain yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari seperti drum air, ember, garpu pembalik sekam, dan gerobak pengangut pakan, Cahyono (2004) menambahkan bahwa peralatan lainnya yang perlu disediakan untuk mendukung kelancaran usaha ternak ayam ras pedaging adalah sekop, ember, selang air, kawat atau tali, alat semprot dan lain-lain.

2.6. Biaya Produksi

Menurut Boediono (2000) biaya produksi mencakup pengukuran nilai sumberdaya yang harus dikorbankan sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas yang bertujuan mencari keuntungan. Berdasarkan volume kegiatan, biaya produksi dibedakan atas biaya tetap dan biaya variabel.

Widjadja (2003) menyatakan bahwa biaya tetap adalah besarnya biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi yang jumlahnya tetap pada volume kegiatan tertentu. Rasyaf (2002) juga mengemukakan bahwa biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah dengan ada atau tidaknya ayam dikandang.

Sekalipun peternakan sedang dalam keadaan kosong, biaya ini harus tetap

(15)

dikeluarkan. Biaya tetap dalam usaha peternakan adalah depresiasi atau penyusutan alat dan bunga modal.

Biaya penyusutan (depreciation cost), adalah biaya yang timbul akibat terjadinya pengurangan nilai barang investasi (asset) sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Setiap barang investasi yang dipakai dalam proses produksi akan mengalami penyusutan nilai, baik karena makin usang atau karena mengalami kerusakan fisik. Nilai penyusutan barang investasi, seperti kandang, gudang, dan peralatan, disebut sebagai biaya penyusutan (Soekartawi, 2006). Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah metode penyusutan garis lurus (straight line method) dimana jumlah historis yang sama dikurangi setiap tahun. Pada umumnya analisis biaya dilakukan untuk satu kurun waktu tertentu, misalnya satu tahun anggaran, maka untuk itu perlu dicari nilai biaya investasi setahun, sehingga biaya investasi itu dapat digabung dengan biaya operasional (tenaga kerja, listrik, air, sekam, gas LPG).

Rasyaf (2002) mengemukakan bahwa biaya variabel merupakan biaya yang berhubungan langsung dengan jumlah ayam yang dipelihara. Semakin banyak jumlah seluruh ayam akan semakin besar pula biaya variabelnya, begitu pula sebaliknya. Biaya variabel terdiri atas biaya ransum, biaya bibit, biaya pemeliharaan, dan biaya kesehatan ayam. Biaya variabel disebut juga biaya operasi, biaya ini selalu berubah tergantung kepada besar kecilnya produksi.

Biaya variabel meliputi biaya bibit, biaya ransum, upah tenaga kerja, obat-obatan, dan bahan bakar (Boediono, 2000)

Biaya tetap terdiri dari penyusutan kandang sebesar 1,1% dan penyusutan peralatan sebesar 0,3%. Total biaya tetap sebesar 1,4%. Biaya variabel terdiri dari

(16)

biaya pakan sebesar 69%, DOC 23,3%, obat-obatan 3,3%, upah tenaga kerja 1,6%, bahan bakar 0,5%, sekam 0,5%, listrik dan air 0,2%, dan sanitasi 0,2%.

Total biaya variabel sebesar 98,6% dari biaya produksi. (Pakarti, 2000)

2.7. Penerimaan Usaha peternakan Ayam Pedaging

Besarnya penerimaan dari proses produksi dapat ditentukan dengan mengalikan produk yang dihasilkan dengan harga produk tersebut. Secara umum semakin besar produksi yang dihasilkan, akan menyebabkan semakin besar pula penerimaan atau sebaliknya (Bishop & Toussaint, 1997). Penerimaan hasil produksi diatas akan memberikan keuntungan bagi peternak ayam pedaging apabila harga kontrak dari perusahaan dan bobot ayam pedaging itu sudah memenuhi standar bobot badan yang diterima diperusahaan.

2.8. Pendapatan Usaha Peternakan Ayam Pedaging

Menurut Soekartawi (2006), pendapatan usaha adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan dihitung dengan mengalikan produk atau output dan harga yang berlaku diperusahaan. Sedangkan pengeluaran suatu usaha adalah nilai semua biaya yang habis dipakai atau dikeluarkan dalam proses produksi. Pendapatan adalah penerimaan hasil penjualan output dikurangi seluruh biaya pengeluaran peternak dalam usaha peternakannya.

2.9. Break Even Point (BEP) dan Revenue Cost Ratio (R/C Ratio)

Break Even Point (BEP) atau nilai impas adalah suatu teknis analisis untuk

mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan, volume penjualan. BEP dalam penelitian merupakan pengukuran dimana kapasitas riil pengolahaan bahan baku menjadi output menghasilkan total penerimaan (Revenue) yang sama dengan pengeluaran (Soekartawi, 2006).

(17)

Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) bertujuan untuk mengukur efesiensi input dan output, dengan menghitung perbandingan antara penerimaan total dengan biaya produksi total usaha peternakan.

Referensi

Dokumen terkait

(1) Dengan terbentuknya BAPPEDA Tingkat II berdasarkan Peraturan Daerah ini, maka Surat Keputusan Bupati Kepala daerah Tingkat II Sumedang Nomor 60/Kpts/Bup/Smd/72,

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui perbedaan trust pasangan hubungan jarak jauh yang belum menikah (pacaran jarak jauh) dengan pasangan hubungan jarak jauh yang

Jika perlu gunakan 10 tablet yang lain dan tidak satu tablet yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata- rata yang ditetapkan dalam kolom A maupun kolom B (Dirjen

Pencucian (washing) dan penyaringan (screening) dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan material-material yang tidak diinginkan yang terdapat di dalam pulp dan dapat

Penulis menanyakan apa upaya yang sedang atau telah dilakukan untuk meningkatkan usaha Sate Pasar Lama, kemudian pemilik Sate Pasar Lama menjawab bahwa beliau

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu.. Awas hati-hati dengan lautan

Bagian penting dari sebuah strategi atau kebijakan baru adalah untuk memastikan apakah kebijakan tersebut sesuai dengan tujuan kebijakan dan tepat sasaran. Oleh karena itu,

Metode penelitian merupakan usaha untuk menemukan sesuatu serta bagaimana cara untuk menemukan sesuatu tersebut dengan menggunakan metode atau teori ilmiah