• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. efisien dan efektif. Startegi management perusahaan dalam hal ini haruslah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. efisien dan efektif. Startegi management perusahaan dalam hal ini haruslah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang.

Dengan perkembangan jaman yang semakin canggih maka semakin meningkat kebutuhan setiap manusia, dalam hal ini tentu akan menimbulkan banyak peluang dalam berbisnis. Sehingga menimbulkan persaingan untuk dapat berkembang.

Dalam persaingan bisnis pengelolaan perusahaan sangatlah penting untuk diperhatikan bagaimana operasional perusahaan dapat berjalan dengan efisien dan efektif. Startegi management perusahaan dalam hal ini haruslah tepat dan inovatif baik dalam pengelolaan operasional, strategi pemasaran ataupun pengelolahan sumber daya manusia, baik dalam segi pembuatan sistem kerja, kontrol kerja, kualitas kerja dan Produktivitas kerja.

Produktivitas kerja sangatlah berperan penting terhadap suatu perusahaan karena dengan Produktivitas yang maksimal baik dalam segi jumlah maupun kualitas hal ini tentu akan menunjang perusahaan baik dalam efisiensi kerja ataupun hasil kerja. Menurut Moekijat (2008) analisis beban kerja merupakan metode yang biasa digunakan untuk menentukan jumlah atau kuantitas tenaga kerja yang diperlukan Menurut Anwar Prabu Mangkunegara

(2)

(2006), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Sistem kerja dan mekanisme kerja sangatlah berperan penting dalam menunjang Produktivitas hal ini dikarenakan bagaimana cara karyawan bekerja di tentukan dari sistem dan mekanisme kerja, maka dari itu perhitungan beban kerja sangatlah penting. Menurut Rivai (2006) Beberapa terminologi tentang analisis pekerjaan salah satunya yaitu analisis pekerjaan merupakan kegiatan atau proses menghimpun dan menyusun berbagai informasi yang berkenaan dengan setiap pekerjaan, tugas-tugas, jenis pekerjaan, dan tanggung jawabnya secara operasional untuk mewujudkan tujuan organisasi atau bisnis sebuah perusahaan.

Untuk menujang Produktivitas kerja banyak cara yang dilakukan bukan hanya dalam mengatur beban kerja tetapi juga dalam memberikan reward dan punishment untuk mendorong Produktivitas. Menurut Nugroho(2006), "Reward adalah ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan yang bertujuan agar seseorang menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja yang telah dicapai” sedangkan “punishment didefinisikan sebagai tindakan menyajikan konsekuensi yang tidak

(3)

menyenangkan atau tidak diinginkan sebagai hasil dari dilakukanya perilaku tertentu” (Gania : 2006).

Pada saat karyawan mampu bekerja melebih standard minimum maka perusahaan mengalami efisensi, hal ini tentu saja bisa terjadi dengan memberikan beberapa motifasi kepada pekerja seperti pemberian insentif. Insentif merupakan imbalan langsung yang dibayarkan kepada karyawan karena prestasi melebihi standar yang ditentukan. Dengan mengasumsikan bahwa uang dapat mendorong karyawan bekerja lebih giat lagi, maka mereka yang produktif lebih menyukai gajinya dibayarkan berdasarkan hasil kerja". Menurut Malayu Hasibuan (2010) Mengemukakan bahwa upah insentif adalah kombinasi antara waktu yang hemat dan aktivitas kerja.

PT Topjaya Sarana Utama (TSU) didirikan pada tahun 1982, adalah Agen Tunggal Eksklusif Toshiba Consumer Products di Indonesia. Di bawah distribusi PT Topjaya Sarana Utama, Toshiba telah menjadi salah satu pemimpin pasar dalam produk peralatan rumah. Produk line-up yang distribusikan meliputi Kulkas, Air Conditioners, Mesin Cuci, Televisi, Freezer, Air-purifiers, Rice-Pemasak, listrik Pot, Pans Sehat dan Produk Lighting. Saat ini PT TSU memiliki Kantor Cabang dan Pusat Layanan di semua kota besar di seluruh Indonesia. Kami telah berinvestasi dalam Call Center terintegrasi yang menyediakan layanan cepat dan nyaman untuk jutaan pengguna akhir Toshiba.

Dalam persaingan dunia bisnis elektronik rumah tangga layanan after sales service sangatlah perlu diperhatikan, karena mayoritas calon konsumen

(4)

sebelum melakukan pembelian terlebih dahulu mencari informasi mengenai kualitas product dan layanan service atau layanan purna jual, dengan perkembangan yang semakin canggih biasanya issue mengenai layanan service yang tidak baik akan mudah di publikasi dan dilihat banyak orang.

Dalam hal ini PT TSU harus mampu mengelola layanan service yang excellent dan juga efisien, maka dari itu diperlukannya untuk mengontrol bagaimana pengelolaan layanan purna jual baik dalam sistem kerja, cara kontrol dan Produktivitas teknisi.

Permasalahan yang terjadi saat ini adalah dimana rata-rata Produktivitas teknisi sangatlah lemah atau dibawah rata-rata dari target yang ingin dicapai, tentu hal ini berdampak kepada kepuasan pelanggan dengan menurunnya kecepatan dalam pelayanan dan meningginya biaya opersional layanan purna jual.

Untuk standart Produktivitas teknisi yang ditetapkan oleh PT Topjaya Sarana Utama adalah 3 (tiga) jobsheet perhari yang harus diselesaikan, jobsheet adalah lembar kerja teknisi per unit keluhan konsumen jadi dengan kalimat lain Produktivitas teknisi di ukur dari banyak unit keluhan konsumen yang selesai diperbaiki. Berdasarkan permasalahan diatas berikut adalah fenomena dimana data produktivitas teknisi pada periode Januari 2015 sampai dengan Juni 2015.

(5)

Sumber : PT Topjaya Sarana Utama, 2015

Gambar 1.1. Fenomena Produktivitas Teknisi

Dalam hal ini penulis juga bekerja pada PT TSU untuk berkontribusi memberikan improvement dalam Produktivitas teknisi. Dimana PT TSU membuat beberapa strategi untuk mendapatkan Produktivitas maksimal dengan angka minimal tiga jobsheet per hari dapat diselesaikan oleh para teknisi, diantaranya adalah :

1. Merubah Sistem Operational Procedure (SOP)

Dimana PT TSU membuat simplify dan memaksimalkan sistem kontrol kerja. Baik dalam segi operasional teknisi ataupun sistem kerja pada bagian supporting. Dan memperjelas beban kerja teknisi atau tanggung jawab teknisi dalam setiap pekerjaan yang dibebankan.

(6)

2. Membuat skema reward punishment.

Dimana TSU membuat program penghargaan kepada teknisi terbaik dan membuat peraturan mengenai sanksi, hal ini tentu dijadikan sebagai dasar penilaian kerja performance teknisi atau Key Performance Indikator (KPI) teknisi.

3. Membuat Skema Insentif terbaru.

Dimana TSU melakukan perubahan pada skema insentif terbaru dimana subyek -subyek penilaian akan terfokuskan kepada hasil dari Produktivitas teknisi.

Namun setelah beberapa hal diatas dilakukan PT TSU belum juga mendapatkan nilai hasil produktivitas teknisi yang di inginkan, hal ini tentu menjadi suatu fenomena yang penulis coba kaji dari 3 faktor penyebab yang akan dibahas dalam penulisan ini :

1. Pengaruh Beban kerja.

Dugaan penulis saat ini adalah banyak teknisi yang tidak termotivasi bekerja produktivitas karena salah penilaian beban kerja. Dimana beban kerja yang dinilai dengan yang dikerjakan mengalami ketidak sesuaian.

(7)

2. Sistem Reward Punishment

Dugaan penulis saat ini adalah banyak teknisi yang tidak termotifasi untuk bekerja produktif dikarenakan sistem reward punishment yang digunakan tidak memotivasi para teknisi, dugaan ini dilandasi oleh data produktivitas pasca pembuatan sistem reward punishment pada februari 2014. Adapun indicator dan penilaian pada skema reward punishment yang digunakan adalah sebagai berikut :

Sumber : PT Topjaya Sarana Utama, 2014

(8)

3. Fenomena Skema Insentif.

Skema insentif yang digunakan oleh PT TSU kepada teknisi saat ini adalah dengan menggunakan 3 indikator utama, diantaranya adalah : a. Nilai Service Income :

adalah dimana service income menjadi patokan utama dalam perhitungan insentif

b. Lama Bekerja

Adalah salah satu idnikator pendukung untuk pendapatan persentase insentif

c. Nilai Key Performance Indicator.

Adalah salah satu indikator pendukung untuk pendapatan persentase insentif.

Penerapan sistem insentif tersebut dilakukan terhitung pada bulan agustus 2014. Namun jika kita lihat pada data produktifias pada gambar 1.1 menyatakan setelah adanya sistem insentif terbaru masih terjadi fluktuatif terhadap hasil produktivitas teknisi.

Dari ketiga fenomena tersebut penulis sangat tertantang sekali untuk melakukan penelitian bagaimana respon teknisi terhadap beberapa mekanisme

(9)

yang sudah dibuat terkait dengan tujuan melakukan improvement dalam produktivitas teknisi. Untuk itu penulis memilih judul penelitian ini dengan judul “Pengaruh Beban Kerja, Sistem Reward Punishment dan Skema Insentif

Terhadap Produktivitas Teknisi After Sales Service PT. Topjaya Sarana Utama”.

B. Perumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, masalah utama yang akan penulis kaji atau analisa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, masalah utama yang akan penulis kaji atau analisa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah beban kerja berpengaruh terhadap produktivitas teknisi after sales service PT. Topjaya Sarana Utama.

2. Apakah sistem reward punishment berpengaruh terhadap produktivitas teknisi after sales service PT. Topjaya Sarana Utama.

3. Apakah skema insetif berpengaruh terhadap produktivitas teknisi after sales service PT. Topjaya Sarana Utama.

(10)

C. Tujuan dan Kontribusi Penelitian.

1. Tujuan Penelitian

Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini antara lain yaitu:

a) Untuk mengetahui pengaruh beban kerja terhadap Produktivitas kerja. b) Untuk mengetahui pengaruh Sistem reward punishment terhadap

Produktivitas kerja.

c) Untuk mengetahui pengaruh skema insentif berpengaruh terhadap Produktivitas kerja

2. Kontribusi Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memperoleh beberapa kegunaan antara lain untuk :

1. Kontribusi teoritis.

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu manajemen sumber daya manusia (SDM) khususnya untuk pembahasan mengenai Produktivitas SDM. 2. Kontribusi praktis.

Sebagai dasar pengambilan pengelolaan sumber daya manusia, khususnya dalam pelaku bisnis layanan purna jual.

Gambar

Gambar 1.1. Fenomena Produktivitas Teknisi
Gambar 1.2  Key Performance Idikator Teknisi.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Buku Pedoman pengembangan program kekhususan orientasi mobilitas sosial dan komunikasi (2014) Tujuan Pengembangan O&M bagi peserta didik adalah mampu

(http://istanamatematika.com/pembahasan-soal-no-34-penampungan-air-ucun-paket-a-tahun-2016/) April 24, 2016 Pembahasan Soal No 16 (Tarif Taxi) UCUN Matematika SMP 2016 Kode

= Berat total struktur yang berupa berat sendiri dan beban mati tambahan = Koefisien geser dasar untuk wilayah gempa, waktu getar, dan kondisi tanah.. = Faktor tipe struktur

D-III TLB (Teknik Listrik Bandara) Formasi Pola Pembibitan Kemenhub: 24 Taruna/Taruni 3 Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP).

6. Bahwa dalam kegiatan acara Perayaan Natal dan Tahun Baru tersebut kapasitas Pengadu adalah bertindak sebagai Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara

Berdasarkan hal-hal tersebut maka model yang lebih baik untuk memodelkan kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan adalah model pengaruh tetap dengan SAR dengan dua

Skripsi yang berjudul “Pembagian Harta Bersama di Pengadilan Agama Martapura (Analisis putusan No 0512/Pdt.G/2013/PA.Mtp)” ditulis oleh Muhammad Ansyori, telah

Untuk memberikan bukti empiris apakah ada hubungan antara pengelolaan diri (self management) dalam kecerdasan emosional dengan pengaruh idealis (idealized influence)