• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mu'aliyah Hi. Asnawi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mu'aliyah Hi. Asnawi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

MU’ALIYAH HI. ASNAWI / RESOLUSI KONFLIK BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PENGEMBANGAN

SUB TEMA: PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DALAM RANGKA MENEGUHKAN MULTIKULTURALISME DAN TOLERANSI BUDAYA

198

RESOLUSI KONFLIK BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL Pengembangan Sub Tema: Penggalian sejarah dan budaya lokal dalam rangka

meneguhkan multikulturalisme dan toleransi budaya

Mu'aliyah Hi. Asnawi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia

[email protected]

ABSTRAK

Konflik merupakan keniscayaan sejarah dan berpeluang muncul di tengah masyarakat.

Makna positif konflik berupa terjadinya perubahan sosial, makna negatif berupa kerenggangan sosial dan kekerasan. Dalam kaitannya dengan konflik sosial, perlu dilakukan pendekatan resolusi konflik berbasis nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom).

Resolusi konflik berbasis nilai-nilai kearifan lokal diakui sebagai elemen-elemen penting yang mampu mempertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat dan berfungsi sebagai perekat atau kohesi sosial antara satu sama lain yang mengintegrasikan manusia ke dalam satu ikatan moral yang kolektif. Dalam realitasnya, kearifan lokal pada masyarakat Sulawesi Selatan mampu menjadi basis kohesivitas sosial yang mengintegrasikan masyarakat dalam kondisinya yang multikultur dan multiagama.

Dengan kata lain potensi kearifan lokal sesungguhnya dapat digunakan sebagai resolusi konflik untuk kasus konflik antarkelompok etnik maupun konfil bernuansa keagamaan dengan karakteristik daerah yang relatif sama. Resolusi konflik dengan menggunakan pendekatan nilai-nilai kearifan lokal dapat dikatakan efektif karena sudah mengakar dan menjadi pedoman dalam masyarakat.

Kata Kunci: Resolusi Konflik, Nilai-Nilai Kearifan Lokal

PENDAHULUAN

Negara Indonesia secara ideologis menerapkan nilai dan prinsip Pancasila dalam kehidupan masyarakatnya. Ideologi Pancasila dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” merupakan suatu harapan luhur bangsa Indonesia yang perlu direalisasikan dalam kondisi kemajemukan masyarakat. Namun realitas sosial sering tidak sejalan dengan prinsip kebhinnekaan tersebut. Berbagai macam konflik yang pernah dialami Indonesia, konflik horizontal antar kelompok warga, antar etnik dan antar umat beragama sering mewarnai kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif kajian sosial, konflik setidaknya dipetakan menjadi dua jenis, yaitu perang saudara dan kerusuhan sosial dimana kedua jenis konflik ini banyak dijumpai dan jumlah korbannya cenderung lebih besar daripada korban perang antar negara.

Demikian halnya konflik yang bernuansa keagamaan, antar pemeluk agama yang berbeda maupun konflik dikalangan intern umat beragama. Konflik Islam-Kristen misalnya yang pernah terjadi di Kalimantan, Ambon-Maluku, Poso, Mataram, dan Jayapura. Konflik sesama muslim seperti yang terjadi di Parung Bogor dan NTB, antara kelompok oganisasi Front Pembela Islam (FPI) dengan Islam golongan Ahmadiyah, dan pertikaian muslim Syiah dengan Sunni di Sampang Jawa Timur. Demikian pula konflik antara golongan Katolik dengan

(2)

MU’ALIYAH HI. ASNAWI / RESOLUSI KONFLIK BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PENGEMBANGAN

SUB TEMA: PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DALAM RANGKA MENEGUHKAN MULTIKULTURALISME DAN TOLERANSI BUDAYA

199

Protestan pada agama Kristen, serta konflik antara Mahayana dengan Hinayana pada agama Budha.

Pandangan yang cenderung berkembang di masyarakat bahwa kerukunan atau harmoni antar umat beragama itu sifatnya alamiah dan tidak usah diatur-atur oleh negara. Namun kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat memerlukan mediator untuk mengelola konflik yang terjadi, dan mediator itu adalah institusi sosial. Untuk kasus Indonesia, negara sudah seringkali merancang institusi sosial dalam rangka untuk memediasi potensi konflik yang bersifat laten maupun manifest di masyarakat. Indonesia memandang kerukunan merupakan salah satu pilar penting dalam memelihara persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. Tanpa terwujudnya kerukunan diantara berbagai suku, agama, ras dan antar golongan maka bangsa Indonesia akan mudah terancam oleh perpecahan dengan segala akibatnya yang tidak diinginkan.

Konflik sosial susungguhnya tidak dapat dicegah atau dilerai bila pihak- pihak yang bersangkutan tidak memiliki tekad yang kuat untuk mengatasi potensi konflik atau konflik yang sedang terjadi. Bagaimanapun konflik pada akhirnya harus diakhiri atau dicarikan jalan penyelesaian. Berbagai solusi dengan ragam perspektif telah diupayakan oleh pemerintah, pemuka agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat untuk meminimais segala kemungkinan potensial terjadinya konflik sosial tersebut. Sebagian akademisi juga telah menawarkan resolusi konflik sebagai salah satu cara damai yang memuaskan kedua pihak yang bertikai atau secara signifikan melakukan de- eskalasi konflik.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan alternatif pandangan dan sekaligus literasi kepada masyarakat tentang pentingnyaa menerapkan solusi atas konflik sosial melalui diseminasi pemahaman nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom). Berdasarkan pemikiran tersebut maka perlu diketengahkan pembahasan mengenai “Resolusi Konflik berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal”.

PEMBAHASAN

Resolusi Konflik Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal

P.Wehr menjelaskan bahwa konflik tidak dapat terhindarkan dalam tiap kelompok sosial, merupakan konsekuensi dari komunikasi yang buruk, salah pengertian, salah perhitungan dan proses-proses lainnya yang tidak disadari.

Sarjono Soekanto, menjelaskan bahwa konflik terjadi akibat usaha suatu kelompok untuk menghancurkan kelompok lain untuk mencapai tujuan kelompoknya, atau menggunakan cara kekerasan dengan melemahkan lawan tanpa memperhatikan norma dan nilai yang berlaku. Meskipun konflik dapat bersifat menghancurkan pihak lain, namun menurut Coser, konflik dapat pula bersifat positif yang dapat menyatukan sebuah kelompok lebih erat dan memadukannya dengan baik. Dengan kata lain konflik memiliki potensi menunjang perkembangan para pihak yang berkonflik, asal mampu menghadapi dan memecahkan konflik kekerasan.

(3)

MU’ALIYAH HI. ASNAWI / RESOLUSI KONFLIK BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PENGEMBANGAN

SUB TEMA: PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DALAM RANGKA MENEGUHKAN MULTIKULTURALISME DAN TOLERANSI BUDAYA

200

Fenomena konflik dalam pandangan ahli antropologi menyatakan bahwa konflik terjadi akibat produk dari hubungan antar pihak yang bersangkutan, bukan akibat dari benturan dari kesenjangan sosial. Dalam kajian historis, konflik dipandang sebagai bagian dari perilaku manusia yang terjadi secara terus menerus. Chang berpendapat bahwa konflik merupakan bagian dari sejarah kehidupan manusia dimana sejarah konflik akan mempengaruhi kehidupan para pihak yang berkonflik dan menyebabkan kebencian dari generasi kegenerasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Baidhawy yang menjelaskan bahwa konflik dapat muncul sebagai bagian dari tradisi budaya dan warisan sejarah yang menyebabkan bangkitnya kebencian primordial terhadap pihak tertentu.

Proses resolusi konflik yang diterapkan selama ini dalam menghentikan konflik yang bersifat destruktif pada konflik separatisme, perang, terorisme, konflik agama atau kerusuhan massal. Morton Deutsch mengemukakan bahwa resolusi konflik merupakan sekumpulan teori dan penyelidikan yang bersifat eksperimental dalam memahami sifat-sifat konflik, meneliti strategi terjadinya konflik dan membuat resolusi terhadap konflik. Bentuk penyelesaian konflik yang diutamakan adalah menganalisis penyebab konflik, sehingga pihak yang terlibat dapat mengidentifikasikan isu yang menjadi sumber konflik (problem solving).

Penyelesaian konflik dilakukan dengan menghentikan eskalasi, melakukan negosiasi, mediasi, fasilitasi dan membangun konsensus bagi kedua belah pihak.

Berbagai bentuk penyelesaian konflik yang ada sangat terikat dengan situasi konflik, sehingga tidak ada satu tipe pun yang dapat diterapkan tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi suatu konflik.

Dalam kaitannya dengan konflik sosial, pembahasan ini mengetengakan alternatif pandangan tentang pentingnya menerapkan solusi atas konflik sosial melalui pendekatan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom). Istilah kearifan lokal dalam bahasa asing disebut sebagai “local wisdom” atau kebijaksanaan setempat dan indigenous knowledge. Menurut Tamagola, indigenous knowledge adalah pengetahuan atau kekayaan pengetahuan dan budaya pada masyarakat tertentu, yang dikembangkan dari waktu ke waktu dan terus mengalami perkembangan dan perubahan. Empat indikator tentang kearifan lokal, yakni khazanah pengetahuan yang didasarkan pada pengetahuan lokal, mengalami perubahan dari waktu ke waktu, hidup dan di kenal dalam lingkungan masyarakat tertentu dan berubah serta dinamis sifatnya.

Kearifan Lokal merupakan sebuah kebudayaan yang mengacu pada kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dikenali, dipercayai, dan diakui sebagai elemen penting yang mampu mempertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat. Kearifan lokal apabila diterjemahkan secara bebas dapat diartikan nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat. Hal ini berarti, untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah maka harus dipahami nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam wilayah tersebut.

Kearifan lokal juga merupakan bagian dari konstruksi budaya. John Haba dalam uraian Abdullah, mengatakan bahwa kearifan lokal mengacu pada berbagai kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat

(4)

MU’ALIYAH HI. ASNAWI / RESOLUSI KONFLIK BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PENGEMBANGAN

SUB TEMA: PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DALAM RANGKA MENEGUHKAN MULTIKULTURALISME DAN TOLERANSI BUDAYA

201

dikenal, dipercayai dan diakui sebagai elemen-elemen penting yang mampu mempertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat.

Dalam perpsepktif yang berbeda, Durkheim misalnya melihat agama tidak lain merupakan sistem keyakinan dan praktik terhadap hal-hal yang sakral, yakni keyakinan dan praktik yang membentuk suatu moral komunitas pemeluknya.

Moral komunitas ini memperlihatkan bahwa agama berfungsi sebagai perekat atau kohesi sosial antara satu sama lain yang mengintegrasikan manusia ke dalam satu ikatan moral yang kolektif. Karena itu Parson tidak menginterpretasikan pernyataan Durkheim bahwa agama adalah sebuah fenomena sosial, “tetapi masyarakat sebagai fenoemena keagamaan”, atau merupakan aksioma dasar struktural fungsionalis “fungsi-fungsi agama untuk mengintegrasikan sistem- sistem sosial”.

Screiter dalam uraian Abdullah, mengemukakan pentingnya mempertimbangkan penyertaan hukum-hukum lokal dalam konteks berteologi, di mana hal itu merupakan suatu kerangka berpikir populis. Artinya, konstruksi hukum-hukum lokal telah diproduksi secara sistematik dan filosofis oleh suatu konsensus pengalaman kebudayaan dan norma lokal, bukan suatu konstruksi hukum-hukum elitis, yang mana hal ini diproduksi secara general dengan pengalaman tunggal dan tanpa menimbang prinsip-prinsip lokal.

Konsep teologis atau aliran kepercayaan yang dibangun oleh kelompok- kelompok seperti suku Alo’Ta’dolo di Toraja, Agama Tolotang di Sidrap, dan Islam Tua di Pulau Sangihe, adalah bentuk-bentuk konsepsi teologis yang dikonstruksi atas inisiatif lokal, bukan secara global. Kepercayaan lokal tersebut merupakan konsepsi teologis yang didasarkan pada ekspresi teologi lokal yang masing-masing eksistensinya memiliki setting kultural yang berbeda-beda menurut konteksnya masing-masing.

Demikian halnya konspesi teologis masyarakat Sulawesi Selatan di berbagai daerah lainnya, memiliki ragam eksperesi keagamaan dengan setting kultural yang berbeda-beda pula. Realitas historis menunjukkan bahwa penyeberan Islam berhasil menjadi sebuah agama bagi mayoritas masyarakat di Sulawesi Selatan, di mana eksistensi agama sebagai dasar kearifan teologi lokal.

Sebagai contoh, aspek syariat Islam (sara’) yang menjadi unsur dalam sistem nilai budaya (panggadereng) masyarakat Bugis-Makassar.

Kearifan lokal pada masyarakat Sulawesi Selatan tersebut tentunya menjadi basis kohesivitas sosial yang mampu mengintegrasikan masyarakat dalam kondisinya yang multikultur dan multiagama. Selain itu potensi kearifan lokal juga dapat digunakan sebagai resolusi konflik untuk kasus konflik bernuansa keagamaan dengan karakteristik daerah yang relatif sama. Dalam kaitan ini, Lawrence Blum mengetengahkan pandangan esensial mengenai multikulturalisme, yakni sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnik lainnya. Penilaian terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti memahami seluruh aspek dari budaya atau menyeragamkan budaya-budaya yang ada, melainkan sejauhmana perbedaan-perbedaan budaya dapat dipahami dan dihormati.

(5)

MU’ALIYAH HI. ASNAWI / RESOLUSI KONFLIK BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PENGEMBANGAN

SUB TEMA: PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DALAM RANGKA MENEGUHKAN MULTIKULTURALISME DAN TOLERANSI BUDAYA

202

Asumsi yang perlu dipertiimbangkan adalah keberhasilan setiap etnik dan antar pemeluk agama untuk hidup berdampingan dalam perbedaan-perbedaan kulturalnya, tanpa menafikan potensi konflik yang ada. Dengan demikian bukan hanya konflik yang menjadi isu penting dalam hubungan masyarakat, tetapi juga basis akomodasi kultur sosial yang memungkinkan pembauran terjadi. Burton dalam uraian Bakri, misalnya memasukan penyelesaian bernuansa kultural, ini menunjukan bahwa konflik yang terjadi di masyarakat juga dapat diselesaikan dengan cara budaya serta adat istiadat yang dianut masyarakat setempat.

Oleh karena kearifan lokal adalah sesuatu yang sudah mengakar dan biasanya tidak hanya berorientasi sosial semata, tetapi juga berorientasi sakral sehingga pelaksanaannya bisa lebih cepat dan mudah diterima oleh masyarakat.

Kearifan lokal dapat dijadikan resolusi konflik, sehingga perdamaian bisa cepat terwujud, bisa diterima semua kelompok sehingga tidak ada lagi konflik laten yang tersembunyi dalam masyarakat

Resolusi konflik dengan menggunakan pendekatan nilai-nilai kearifan lokal atau konkritnya melalui adat lokal setempat dapat dikatakan efektif karena selama ini sudah mengakar dan menjadi pedoman dalam masyarakat. Jika ditelusuri lebih lanjut, ada praktik-praktik hidup yang berkembang di masyarakat yang mampu menciptakan relasi antarkelompok etnik maupun antarkelompok keagamaan dengan baik dan harmonis. Hal ini dapat dilihat dari (i) kesepakatan bersama yang dibangun; (ii) pranata hukum; dan (iii) implementasi nilai-nilai agamanya.

PENUTUP

Konflik merupakan keniscayaan sejarah dan berpeluang muncul di tengah masyarakat. Makna positif konflik berupa terjadinya perubahan sosial, makna negatif berupa kerenggangan sosial dan kekerasan. Dalam kaitannya dengan konflik sosial, perlu dilakukan pendekatan resolusi konflik berbasis nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom). Resolusi konflik berbasis nilai-nilai kearifan lokal diakui sebagai elemen-elemen penting yang mampu mempertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat dan berfungsi sebagai perekat atau kohesi sosial antara satu sama lain yang mengintegrasikan manusia ke dalam satu ikatan moral yang kolektif.

Dalam realitasnya, kearifan lokal pada masyarakat Sulawesi Selatan mampu menjadi basis kohesivitas sosial yang mengintegrasikan masyarakat dalam kondisinya yang multikultur dan multiagama. Dengan kata lain potensi kearifan lokal sesungguhnya dapat digunakan sebagai resolusi konflik untuk kasus konflik antarkelompok etnik maupun konfil bernuansa keagamaan dengan karakteristik daerah yang relatif sama. Resolusi konflik dengan menggunakan pendekatan nilai-nilai kearifan lokal dapat dikatakan efektif karena sudah mengakar dan menjadi pedoman dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

(6)

MU’ALIYAH HI. ASNAWI / RESOLUSI KONFLIK BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PENGEMBANGAN

SUB TEMA: PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DALAM RANGKA MENEGUHKAN MULTIKULTURALISME DAN TOLERANSI BUDAYA

203

Abdullah, Irwan dkk (ed), Agama dan Kearifan Lokal Dalam Tantangan Global.

Yogyakarta: Pascasarjana UGM-Pustaka Pelajar, 2008

Abdullah, Taufik (ed), Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali, 1983 Anwar, Dewi Fortuna dkk, Konflik Kekerasan Internal; Tinjauan Sejarah,

Ekonomi Politik dan Kebijakan di Asia Pasifik Edisi I. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, 2004.

Baidhawy, Zakiyuddin, Ambivalensi Agama, Konflik dan Nirkekerasan.

Yogyakarta : LESFI, 2002

Bakri, Hendry “Resolusi Konflik melalui Pendekatan Kearifan Lokal Pela Gandong di Kota Ambon” Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar, Volume 1, Number 1, January 2015

Chandra, Robby, Konflik Dalam Kehidupan Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius, 1998

Deutsch, Morton, The Resolution of Conflict. New Haven: Yale University Press, 1973

Hamim, Thoha dkk, Resolusi Konflik Islam di Indonesia. Cet.I; Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2007

Kementerian Agama RI, Kumpulan Makalah The 11th Annual Conference On Islamic Studies. Bangka Belitung: Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI, 2011

P. Wehr, Conflict Resolution. Colorado: Westview Press, 1976

Soekanto, Soerjono. Kamus Sosiologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993 Suparlan, Parsudi, Antropologi Indonesia (Jakarta : UI Press, 2001

Tomagola, Tamrin Amal, Revitalisasi Kearifan Lokal; Studi Resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso. Jakarta: ICIP, 2007

Ujan, Andre Ata. Multikulturalisme; Belajar Hidup Bersama Dalam Perbedaan.

Jakarta: Indeks, 2009

Referensi

Dokumen terkait

Risiko kredit Kelompok Usaha terutama terhadap piutang dagang. Perusahaan dan Entitas Anak memiliki kebijakan, hanya akan bertransaksi dengan pihak ketiga yang memiliki

Dengan membaca wacana tentang wujud benda yang ditampilkan melalui PPT pada WA grup, peserta didik dapat mengaitkan informasi yang terkait dengan wujud benda dengan tepat.. Dengan

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Meskipun demikian se- jumlah negara telah berkonsul- tasi dengan otoritas China untuk mengatur pemulangan warga mereka dalam upaya meng- hindari tertular infeksi virus

Mahasiswa Praktikan mendapatkan pembekalan dari Pusat Pengembangan PPL/PKL. Materi-materi yang diberikan meliputi dasar kebijakan PPL, struktur organisasi sekolah,

Jenis penelitian pada penelitian ini adalah penelitian lapangan ini bersifat kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi,

Nilai skala utk menentukan nilai respons (jawaban) thd pernyataan, bukan favorabilitas pernyataan..  menggunakan distribusi respons “setuju atau tdk setuju” dari klp ujicoba

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan diagram Vee pada kelas eksperimen memiliki perbedaan