• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

66 BAB V

ANALISA PEMECAHAN MASALAH

5.1 TAHAP ANALISIS (ANALYSE)

Setelah di lakukan pengukuran maka dilakukan analisis permasalahan.

Aktivitas utama tahap analisis adalah menentukan faktor penyebab cacat dengan Fishbone, sebagai catatan dalam analisa akan memperoleh faktor faktor yang sangat terbatas karena akibat dari masalah yang sangat terfokus pada akar penyebab masing masing komponen yang dianalisa hanya pada faktor yaang sangat berpengaruh atau mempunyai hubungan yang paling besar.

5.1.1 Pembuatan Fishbone

Fishbone digunakan untuk mengetahui penyebab dari masalah yang

terjadi, sehingga dapat diambil tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dari Gambar 4.11 terlihat bahwa OSS Bubble merupakan cacat

terbesar yaitu sebanyak 35,4 %. Untuk itu cacat OSS Bubble diprioritaskan

dalam penelitian.

(2)

Sumber-sumber masalah tersebut secara langsung akan mempengaruhi efektivitas dari produksi dan bahkan akan berakibat terhadap kualitas produksi.

Untuk mencari faktor faktor yang berpengaruh dan mengarah ke terjadinya penyimpangan kualitas kerja, maka penyebab utama akan dikategorikan menjadi 5 faktor yaitu:

1. Faktor Manusia (Man)

 Skill operator.

Kemampuan operator untuk mengoperasikan mesin dan kemampuan operator untuk menanggulangi masalah yang terjadi selama proses produksi.

 Kelalaian Operator menjalankan SOP.

Standard Operasional Procces harus selalu menjadi acuan operator dalam

bekerja, sehingga dengan adanya kelalaian operator akan mengakibatkan cacat.

 Kesalahan dan ketidaktelitian dalam work preparation di awal shift.

Hal ini terjadi karena, pada pergantian shift sering terjadi problem, kurangnya komunikasi antar shift. Sehingga terjadi perbedaan setting saat produksi berlangsung..

 Pengalaman operator.

Lamanya operator mulai mengoperasikan mesin dilihat dari mulai masuk

sebagai karyawan tetap dan operator mesin yang bersangkutan selama

proses produksi.

(3)

2. Faktor Mesin

 Kebersihan bak aplikasi.

 Kebersihan dan kondisi belt transfer.

 Kebersihan guide kaleng pada conveyor OSS

 Kesejajaran Kalibrasi dengan OHC dan dengan conveyor OSS

 Sinkronisasi kecepatan kaleng dengan kecepatan roll aplikasi

3. Faktor Metode.

 Cara setting roll OSS.

 Metode pencampuran bahan baku OSS.

 Suhu pemanasan OSS agar kering.

4. Faktor Material

 Viscositas OSS

 Ketebalan aplikasi OSS pada keleng

 Jenis Body Sheet yang akan diproduksi.

 Kebersihan material sheet.

5. Lingkungan

 Tingkat suhu ruang.

 Tingkat kelembaban ruang.

 Kebersihan lingkungan.

Setelah diketahui faktor- faktor penyebab OSS Problem maka dibuat

fishbone diagram seperti terlihat pada gambar 5.1

(4)

Gambar 5.1 Cause and Effect Diagram

5.1.2 Penentuan Critical To Quality (CTQ )

Setelah didapatkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan cacat kemudian dilanjutkan pencarian faktor utama dengan metode brainstorming agar diperoleh suatu data yang objective dari line produksi yang sedang dilakukan pengamatan.

AnaIisa yang digunakan untuk menentukan CTQ dalam penyusunan Tugas Akhir ini adalah kuisioner yang diisi oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan mesin Bodymaker

.

OSS Bubble

Environment Methods

Material

Machines Personnel

Pengalaman operator preparation Kelalaian dalam work SOPKelalaian menjalankan Skill operator

kaleng dengan kecepatan Sinkronisasi kecepatan OHC dan kemudian OHC Kesejajaran Kalibrasi dengan

pada conveyor OSS Kebersihan guide kaleng

transfer.

Kebersihan dan kondisi belt Kebersihan bak aplikasi.

Kebersihan material sheet.

diproduksi.

Jenis Body Sheet yang akan keleng

Ketebalan aplikasi OSS pada Viscositas OSS

Suhu pemanasan OSS Metode pencampuran Cara setting roll OSS.

Kebersihan lingkungan.

ruang.

Tingkat kelembaban Tingkat suhu ruang.

Cause and Effect Diagram

(5)

Tabel 5.1 Tabel CTQ

Dari tabel 5.1 diambil 3 faktor utama yang memperoleh skor tertinggi, yaitu:

1. Viscositas OSS 2. Cara setting roll OSS

3. Suhu pemanasan OSS agar kering

OPERATOR SUPERVISI MEKANIK QUALITY CONTROL OPERATOR SUPERVISI MEKANIK QUALITY CONTROL TOTAL RANK

1

10 10 7 7 7 7 10 10 68

2

5 3 5 5 3 5 3 5 34

3

5 3 5 5 3 5 3 3 32

4

7 7 7 7 10 7 5 7 57

5

10 7 7 7 7 7 5 10 60

6

7 7 5 7 5 7 7 7 52

7

3 5 3 3 3 3 3 3 26

8

3 5 5 3 3 3 5 5 32

9

7 7 7 7 10 5 10 7 60

10

10 10 10 10 10 7 10 10 77 1

11

7 10 7 7 7 10 10 5 63

12

5 5 5 5 3 5 5 5 38

13

3 5 3 3 3 3 5 3 28

14

7 10 7 10 7 7 10 10 69 3

15

7 7 5 7 7 7 7 7 54

16

7 7 10 10 7 10 10 10 71 2

17

5 5 5 5 5 7 7 5 44

18

7 7 7 7 7 10 10 5 60

19

3 3 3 5 5 3 3 3 28

(6)

5.1.3 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Pada tahap Failure Mode and Effect Analsis semua item dianalisis dilihat modus kegagalan yang terjadi, efek kegagalan potensial, penyebab potensial, desain control pencegahan, desain kontrol deteksi, rekomendasi action dan pemenuhan target pencapaian

Dari hasil Critial To Quality dibuat dan dikembangkan suatu analisis untuk mencari solusi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi dan menghitung resiko-resiko yang berhubungan dengan potensi kegagalan (failure). Pembuatan FMEA berdasarkan pembahasan dan wawancara dengan operator di lapangan dan pihak-pihak terkait seperti telihat pada Tabel 5.2.

Dari tabel FMEA dapat terlihat nilai RPN yang tertinggi disebabkan oleh : 1. Viscositas OSS

2. Suhu pemanasan OSS 3. Cara setting roll OSS

Sehingga dari ketiga hal ini yang akan dilakukan improvement

(7)

72

Item

Modus kegagalan

potensial

Effect kegagalan Potensial

e v

Penyebab potensial/

Kegagalan mekanis c c u r

Desain kontrol pencegahan

Desain kontrol deteksi

e t e c

P

N Rekomendasi action

Pemenuhan target pencapaian

Viscositas OSS Viscositas OSS berubah

Menybabkan problem pada OSS, Seperti OSS Bubble, bolong, bleweran.

8

Suhu ruang yang berubah (Siang – Malam)

7

Check sheet start up

Spesialisasi Operator

Pengecekan viscositas OSS setiap jam oleh petugas yang bertanggung jawab

6 321

 Pengisian check sheet viscositas OSS per jam

 Pemberian operator untuk pembuatan OSS

Viscositas OSS stabil

Cara setting roll OSS

Settingan roll tidak sesuai standar

Aplikasi OSS miring, bolong, bubble, bleweran

Aplikasi OSS netes ke dalam kaleng

7

Adanya perbedaan metode setting antar operator

Kurangya komunikasi antar operator, sehingga tidak terdeteksi jika terjadi perubahan setting

Kurangnya penngetahuan mengenai cara setting

6

Melakukan komunikasi antar operator ketika pegantian shift

Pengecekan aplikasi saat awal shift

Check visual kaleng setelah aplikasi OSS

5 209

 Dibuatkan prosedur cara setting yang seragam

Menseragamkan cara setting tiap tiap operator dengan cara memberi training kepada operator

Cara setting roll OSS tiap operator sudah seragam

Suhu

pemanasan OSS

Suhu tidak stabil

OSS mentah (basah)

OSS Bubble

Out Body kaleng lecet 7

Terdapat burner curing yang mampet sehingga api tidak keluar dan suhu yang diharapkan tidak tercapai

6

Check sheet preventive maintenance

Check visual kaleng setelah dipanaskan

Pemberian sensor temperatur agar suhu yang inginkan terkontrol

6 244

Buatkan schedule preventive maintenance

Suhu pemanasan OSS stabil

(8)

5.1 TAHAP PERBAIKAN (IMPROVE)

5.2.1 Implementasi

Melalui FMEA diketahui penyebab potensial kegagalan yang pada akhirnya muncul rekomendasi action untuk perbaikan. Rekomendasi action yang diperoleh itulah yang akan diimplementasikan sebagai upaya improvement.

5.2.1.1 Viscositas OSS

Dari hasil tabel diatas diketahui bahwa Viscositas OSS lacquer sangat penting, karena OSS merupakan lapisan pelindung bagian kaleng yang berfungsi untuk menghindari korosi pada bagian sambungan welding body barrel. maka akan diambil langkah langkah sebagai berikut untuk menjaga kestabilan viscositas OSS:

 Dalam membuat campuran Lacquer yang tepat antara reducer dengan

lacquer agar tidak terlalu kental ataupun terlalu encer. Untuk standart OSS lacquer yang biasanya dipakai adalah sebagai berikut :

Table 5.3 Data Penggunaan OSS Lacquer

TIPE LACQUER TIPE REDUCER VISCOSITAS (second/din cup)

Valsvar BC Special 29-30

Khusus Customer XYZ : 31-32

 Melakukan kontol per jam mengenai viscositas OSS lacquer sehingga

viscositas lebih terjaga dan stabil.

(9)

5.2.1.2 Suhu Pemanasan OSS

Dari analisa di line produksi proses pengaplikasian OSS laquere harus dihindari proses pengeringan langsung pada suhu tinggi, karena dapat menyebabkan perubahan viscositas yang bisa menyebabkan bubble.

Untuk itu temperatur curring dapat disetting sesuai dengan temperatur untuk masing-masing zone pemanasan. Yaitu sebagai berikut :

- Zone 1 dengan penyalaan 270

0

- Zone 2 dengan full penyalaan yang mencapai suhu 290

0

C - Zone 3 dengan full penyalaan yang mencapai suhu 310

0

C - Zone 4 dengan penyalaan 320

0

C

Dan juga pengaturan suhu dapat dilakukan dengan cara mengatur jarak burner ke kaleng.

Jika dilihat dai segi mekanik mesin dengan padatnya schedule produksi, ini menyebabkan kurang diperhatikan fungsi maintenance.

Sehingga kondisi mesin semakin jelek.

Maka action yang dilakukan adalah membuat schedule maintenance

dan schedule produksi sinkron ( tidak bertabrakan ). Sehingga diharapkan

maintenance akan tetap berjalan meskipun schedule produksi sangat padat.

(10)

5.2.1.3 Cara Setting Roll Oss

 Training Basic Setting,, training ini ditujukan pada operator sehinnga

mempunyai skill yang lebih dalam melakukan setting mesin

 Dibuatkan prosedur cara setting yang seragam, sehingga akan mencegah

cara setting yang berbeda antar operator

 Komunikasi antar operator ketika (overlap) pergantian shift perlu

dijadikan sebuah tradisi di line produksi kerena dengan operator dapat mengetahui masalah yang terjadi pada shift sebelumnya.

Gambar 5.2 Proses Aplikasi OSS

Gambar

Gambar 5.1 Cause and Effect Diagram
Tabel 5.1 Tabel CTQ
Table 5.3 Data Penggunaan OSS Lacquer
Gambar 5.2 Proses Aplikasi OSS

Referensi

Dokumen terkait

Suatu perjanjian, selama itu telah disepakati oleh kedua belah pihak dan juga sudah sesuai dengan prinsip-prinsip umum hukum internasional, maka perjanjian tersebut

Komunikasi organisasi adalah suatu disiplin studi yang dapat mengambil sejumlah arah yang sah dan bermanfaat. Informasi sebagai pertunjukan pesan namum mendefinisikan

Penelitian ini didasarkan pada fenomena berkembangnya media sosial khususnya Instagram yang kehadirannya mampu memberi kemudahan bagi para penggunanya untuk mencaari

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ketiga hipotesis PAT telah dinyatakan dalam bentuk oportunistik, dimana mereka berasumsi bahwa manajer memilih kebijakan

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengaruh implementasi shalat dhuha terhadap kecerdasan spiritual siswa

bawah paru kanan menunjukkan nodul part-solid yang sangat mencurigakan (ukuran besar, penampakan ground glass, dan morfologi solid) (b) CT scan follow up pada bulan ke 3

1 (satu) Lembar Surat Keterangan dari ORARI Lokal setempat apabila IAR dan KTA Peserta Lomba masih dalam proses pembaharuan (catatan : surat keterangan ini tidak berlaku untuk