• Tidak ada hasil yang ditemukan

Plagiarism Checker X - Report

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Plagiarism Checker X - Report"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

Plagiarism Checker X - Report

Originality Assessment

Overall Similarity:

31%

Date: Dec 23, 2020

Statistics: 4774 words Plagiarized / 15530 Total words

Remarks: Moderate similarity detected, you better improve the document (if required).

(2)

TUGAS AKHIR ANALISIS MASSA BATUAN DAN KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN METODE ROCK MASS RATING, SLOPE MASS RATING DAN SOFTWARE SLIDE V.6.0 DI BMK 30 CV. BARA MITRA KENCANA DESA BATU TANJUNG, KECAMATAN TALAWI, KOTA

SAWAHLUNTO, PROVINSI SUMATERA BARAT Diajukan Kepada15Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padanguntuk Memenuhi Pesyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S1) RUKINA WINDRI 1610024427054 PROGRAM16STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN YAYASAN MUHAMMAD YAMIN PADANG SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG2020 ANALISIS MASSA BATUAN DAN KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN METODE ROCK MASS RATING, SLOPE MASS RATING DAN SOFTWARE SLIDE V.6.0 DI BMK 30 CV. BARA MITRA KENCANA SAWAHLUNTO - SUMATERA BARAT Nama : Rukina Windri NPM : 1610024427054 Pembimbing 1 : Refky Adi Nata, ST., MT Pembimbing 2 : Ahmad Fadhly, ST., MT ABSTRAK CV. Bara Mitra Kencana merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan penambangan batubara di Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat.

Penelitian berfokus pada analisis kestabilan lereng jalan tambang dimana keadaan lereng yang terbentuk saat ini memiliki kemiringan 70˚. Banyaknya terdapat rekahan-rekahan di sekitar lereng memberikan dugaan awalbahwa lereng tersebutberpotensi terjadi longsor.

Selain itufaktor keamanan dari lerengini juga belum pernah diketahui dan berdasarkan interview dengan KTT, beliau mengatakan bahwa lereng BMK 30 ini belum pernah dilakukan penelitian. Untuk itu dibutuhkan penelitian khusus terhadap lereng untuk meminimalisir kecelakaan kerja yang terjadi di area penambangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai4tingkat kestabilan lerengmetode Rock Mass Rating dan slope mass rating, serta mengetahuifaktor keamanan dari lerengpenambangan

menggunakan bantuan Software Slide V.6.0.16Setelah dilakukan analisis dengan menggunakanmetodeRock Mass Rating diketahui kondisi batuan dilokasi penelitian dalam kategori baik dengan bobot total67. Hasil analisis menyimpulkan bahwa

perhitungan kelas massa lereng batuan dengan meggunakan metode Slope Mass Rating adalah 74.5, bobot Slope Mass Rating masuk kedalam batuan kelas II dengan deskripsi massa batuan dikatakan baik dan kondisi lereng stabil. Serta analisis faktor keamanan

(3)

menggunakan bantuan Software Slide V.6.0 memperoleh nilai faktor keamanan 2,761 dengan menggunakan metode bishop. Kata Kunci : Kestabilan Lereng, Rock Mass Rating, Slope Mass Rating, Faktor Keamanan ANALYSIS OF SLOPE STABILITY USING ROCK MASS RATING METHOD AND SLOPE MASS RATING AT BMK 30 CV.27BARA MITRA KENCANA SAWAHLUNTO-WEST SUMATERA Name : Rukina Windri Student ID : 1610024427054 Advisor I : Refky Adi Nata, ST., MT Advisor II : Ahmad Fadhly, ST., MT ABSTRACT CV.Bara Mitra Kencanais a company that carries out coal mining activities in Talawi District, Sawahlunto City, West Sumatera Province. This research focuses on analyzing the stability of the mine road slopes where the slope that is formed currently has a slope of 70o. The large number of cracks around the slope gives an initial assumptionthat the slopehasthe potential forlandSlides.In addition, the safety factorof this slope has never been known and based on an interview with KTT, he said that the slopeof BMK 30 has never been researched. For this reason, special research is needed on slopes to minimize work accidents that occur in the mining area. The purpose20of this study was to analyze the value of the slope stabilitylevelof the Rock MassRatingmethod and theSlope Mass Rating method,as well asto determinethe safety factorof the mining slope using Slide V.6.0 sofware. After analyzing using the Rock Mass Rating method, it is known that the rock conditions at the research location are in the good category with a total weight of 67.20The analysis resultconclude that the calculationof the rock slopemass class using the Slope Mass Rating method is 74,5, the Slope Mass Rating weight is entered into class II rock with descriptionof rock mass issaid to be good and slope condition are stable. As well as analysis of the safety factor using the help of Slide V.6.0 to obtain a safety factor value of 2,761 using the bishop method. Keywords : Slope Stability, Rock Mass Rating, Slope Mass Rating, safety Factor. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaika Tugas Akhir ini sesuai dengan waktu yang ditentukan. Shalawat

beriringan salam penulis kirimkan kepada36Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnyadari zaman kegelapansampai ke zaman modern ini. Tugas akhir penelitian ini

(4)

berjudul “Analisis Massa Batuan dan Kestabilan Lereng Menggunakan Metode Rock Mass Rating, Metode Slope Mass Rating dan Software Slide V.6.0 di BMK 30 CV.15Bara Mitra Kencana Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat”.

12Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untukkelulusan dalam menyelesaikan jenjang perkuliahan Strata I Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.Penulis menyadari bahwa penulisan tugas akhir inibelum sempurna karena keterbatasan kemampuandan pengetahuan yangpenulis miliki.Penulisantugas akhir inijugatidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapanterimakasihyang sebesar-besarnya kepada :1. Bapak H.

Riko Ervil, MT selaku Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang. 2.33Bapak Dr. Murad MS, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.3. Bapak Refky Adinata,12ST, MT selaku Dosen Pembimbing1 atas kesediaanya membantu, mengarahkan, membimbing dan memberikan motivasi kepada penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini.4. Bapak Ahmad Fadhly,MT selaku Dosen Pembimbing2 atas kesediaanya membantu, mengarahkan, membimbing dan memberikan motivasikepada penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini.5. Seluruh Dosen

30Teknik Pertambangan danKaryawanSekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.

6. Bapak Andi Asmunandar, ST selaku Kepala Teknik Tambang (KTT) CV. Bara Mitra Kencana atas kesediannnya membantu, mengarahkan, membimbing dan memberikan motivasi

12kepada penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini.7. Seluruh Staf dan Karyawan CV. Bara Mitra Kencana yang membantu dalampenulisan tugas akhir ini.8.Orang tua penulisEdwin Darman dan Desriyantiyang telah memberikan dukungan moril maupun materilselama penyusunantugas akhir ini.9. Rekan-rekan Mahasiswa Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.Semoga Allah SWTmelimpahkan rahmat-Nya kepadapihak-pihak yang telah memberikan bantuan kepadapenulis.Penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat memberikan manfaat bagipihak-pihak yang

membutuhkan.Penulis jugamengharapkan kritik dan saranyang membangun38agar dapat menyempurnakan penulisan tugas akhir ini.Padang, September 2020 Rukina Windri

(5)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ABSTRAK i ABSTRACT iii KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI v DAFTAR GAMBAR viii DAFTAR TABEL ix DAFTAR LAMPIRAN x4BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar BelakangMasalah 11.2. Identifikasi Masalah2 1.3. Batasan Masalah 2 1.4. Rumusan Masalah 3 1.5. Tujuan Penelitian 3 1.6. Manfaat Penelitian 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Landasan Teori 5 2.1.1. Tinjauan Umum Perusahaan 5 2.1.1.1. Kondisi Geologi dan Endapan 6 2.1.2. Lereng 10 2.1.2.1. Kestabilan Lereng 10 2.1.2.2. Faktor Yang Mempengaruhi

Kestabilan Lereng 11 2.1.3. Longsoran 12 2.1.4. Klasifikasi Massa Batuan 16 2.1.4.1. Rock Mass Rating 16 2.1.4.2. Slope Mass Rating 26 2.1.5. Analisa Faktor Keamanan 28 2.2 Kerangka Konseptual 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian 31 3.2.

Lokasi Penelitian 31 3.3. Waktu Penelitian 32 3.4 Variabel Penelitian 33 3.5. Data dan Sumber Data 33 3.5.1. Data 33 3.5.2. Sumber Data 34 3.6.Teknik Pengolahan dan Analisa Data 34 3.6.1. Teknik Pengolahan Data 34 3.6.2. Analisa Data 39 3.7. Kerangka Metodologi 40 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan 42 4.1.1. Data Primer 42 4.1.2. Data Sekunder 48 4.2. Pengolahan Data 48 4.2.1. Rock Mass Rating 48 4.2.1.1. Kuat Tekan Batuan 49 4.2.1.2. Rock Quality Designation 50 4.2.1.3. Jarak Kekar 50 4.2.1.4. Kondisi Kekar 51 4.2.1.5. Kondisi Air Tanah 51 4.2.2. Slope Mass Rating 52 4.2.3.

Analisis Nilai faktor Keamanan 56 BAB V ANALISIS DATA 5.1. Rock Mass Rating 58 5.1.1.

Kuat Tekan Batuan 58 5.1.2. Rock Quality Designation 59 5.1.3. Jarak Kekar 59 5.1.4. Kondisi Kekar 60 5.1.5. Kondisi Air Tanah 62 5.2. Slope Mass Rating 63 5.3. Analisa Faktor Keamanan Lereng 64 BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan 67 6.2. Saran 68 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Formasi Batuan pada Cekungan Ombilin 9 Gambar 2.2 Longsoran Bidang (Plane Failure) 15 Gambar 2.3 Longsoran Baji ( Wedge Failure) 16

Gambar 2.4 Longsoran Busur ( Circular Failure) 17 Gambar 2.5 Longsoran Guling ( Toppling Failure) 17 Gambar 2.6 Alat Uji Point Load Index 20 Gambar 2.7 Tipe dan Syarat Sampel Batuan Uji PLI 21 Gambar 2.8 Perhitungan RQD 29 Gambar 2.9 Kerangka Konseptual 32 Gambar 3.1 Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah 34 Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian 38 Gambar 4.1 Kondisi Lereng Aktual 43 Gambar 4.2 Bukaan Pada Kekar 44 Gambar 4.3 Pengujian Berat Sampel Batuan 46 Gambar 4.4 Pengukuran Sampel Batuan, (a) Diameter

(6)

Batuan, (b) Kuat Tekan 48 Gambar 4.5 Faktor Keamanan Lereng 57 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Hubungan nilai FK dan Kemungkinan Longsoran 11 Tabel 2.2 Kekuatan Material Batuan Utuh 20 Tabel 2.3 Rock Quality Designation (RQD) 24 Tabel 2.4 Klasifikasi Jarak Kekar 24 Tabel 2.5 Klasifikasi Bidang Kekar 25 Tabel 2.6 Kondisi Air Tanah 27 Tabel 2.7 RMR-A Klasifikasi Parameter dan Pembobotan 28 Tabel 2.8 Bobot Pengatur Untuk F1,F2,F3dan F4 29 Tabel 2.9 Deskripsi Kelas Slope Mass Rating 30 Tabel 4.1 Geometri Lereng 43 Tabel 4.2 Data Pengukuran Kekar 43 Tabel 4.3 Jarak Kekar 44 Tabel 4.4 Kondisi Kekar 45 Tabel 4.5 Data Orientasi Kekar 45 Tabel 4.6 Berat Sampel Batuan 47 Tabel 4.7 Ukuran Sampel Batuan 47 Tabel 4.8 Hasil1Uji Kuat Tekan Batuan49 Tabel 4.9 Kualitas dan Bobot Batuan

Berdasarkan Nilai RQD 50 Tabel 4.10 Jarak Kekar 50 Tabel 4.11 Kondisi Kekar 51 Tabel 4.12 Kondisi Air Tanah 51 Tabel 4.13 Pembobotan Total 52 Tabel 4.14 Deskripsi Massa Batuan Berdasarkan RMR 52 Tabel 4.15 Bobot Pengatur Kekar 53 Tabel 4.16 Deskripsi Lereng Berdasarkan SMR 55 Tabel 4.171Bobot Isi Batuan56 Tabel 4.18 Parameter Program Slide V.6.0 untukFaktor Keamanan Lereng56DAFTAR LAMPIRAN Lampiran1 Peta Geologi 71 Lampiran 2 Peta Topografi 72 Lampiran 3 PetaIzin Usaha Pertambangan(IUP) 73 Lampiran 4 Peta Lay Out Tambang 74 Lampiran 5 Kondisi Lereng Aktual BMK 30 75 Lampiran 6 Penampakan Kemeringan Lereng BMK 30 76 Lampiran 7 PengolahanData Kuat Tekan Batuan77 Lampiran 8 Pengolahan DataRock Quality Designation (RQD)87 Lampiran 9 Pengolahan Data Bobot Isi 91 Lampiran 10 Data Pengujian Sifat Batuan 93 Lampiran 11 Data Uji Point Load Index 94 Lampiran 12 Dokumentasi Lapangan 95 Lampiran 134Faktor Keamanan Lereng94 Lampiran 14 Lembar Konsultasi 95BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar BelakangLereng merupakan suatu permukaan batuan atau tanah yang menyambungkan dua permukaan material tersebut sehingga membentuk sudut tertentu terhadap bidang datar yang menurut proses terbentuknya dibedakan menjadi dua yaitu lereng alami dan lereng buatan. Menurut material penyusunnya, lereng dapat dibedakan menjadi lereng batuan dan lereng tanah. Pendekatan penyelesaian dalam analisa kemantapan lereng batuan akan berbeda dengan analisa kemantapan lereng tanah. Batuan didefinisikan oleh ahli teknik sipil dan geoteknik sebagai struktur yang padat dan tangguh dari kulit bumi,

(7)

sedangkan tanah adalah hasil pelapukan batuan menjadi material-material yang lebih kecil akibat pengaruh temperatur, gravitasi, angin dan hujan11secara terus menerus(Noorchayo, dkk, 2019) Dalam penambangan bawah tanah desain lereng jalanadalah salah satu faktor terpenting dalam keberlangsungan pertambangan.Maka dari itulereng pada jalan

tambang harus dianalisis kestabilannya. 28Beberapa cara yang dilakukan untuk

menganalisisdiantaranya dengan analisis geomekanika dangeoteknik. Untuk menganalisis lereng jalan tambang, diperlukan beberapa data geomekanik dari data lapangan, baik berupa morfologi setempat, jurus-kemiringan, jenis batuan, kondisi airtanah, dan lainnya,

8yang diperlukan untuksimulasi kestabilan lereng. Menurut Hoek, E. and Brown, E.T. (1980) ketidakmantapan suatu lereng akan berakibat runtuhnya batuan di sekitar lokasi

penggalian. Hal ini terjadi karena kondisi batuan ketika belum dilakukan penggalian umumnya berada dalam keadaan setimbang. Namun akibat pola-pola diskontinu yang terjadi selain secara alamiah dan juga disebabkan oleh aktivitas penambangan

menyebabkan berkurangnya gaya penahan terhadap1batuan pada lerengitu sehingga kesetimbangan gayayang selama initerjadi cenderung bergeser dan tidak seimbang lagi.

Pada CV. Bara Mitra Kencana lereng tepatnya pada area BMK 30 memiliki masalah pada lereng tersebut seperti sudut kemiringannya 60o-80o dan adanya rekahan-rekahan disekitar lereng dan belum diketahuinya faktor keamanan pada lereng tersebut. Sehingga penelitian ini11sangat penting untuk dilakukan untuk mengetahui faktorkeamananpada lereng tersebut. Analisis kestabilan lereng dilakukan dengan menggunakan metodeRock Mass Rating dan slope mass rating. Pengambilan data yang dilakukan yaitu pengamatan dilapangan seperti melakukan pengukuran banyaknya kekar, jarak kekar, kondisi kekar, kondisi air tanah, orientasi kekar dan melakukan pengujian pada sampel batuan.1Dengan menggunakan metode Rock Mass Rating dan Slope Mass Ratingdapat diketahuikelas massa batuandan stabilitas batuan. Utnuk analisisfaktor keamanan padalerengdengan bantuan Software SlideV.6.0. Berdasarkan latar belakang diatas11maka dari itupenulis mengambil judul “Analisis Massa Batuan danKestabilan Lereng Menggunakan Metode Rock Mass Rating,Slope Mass Rating dan Software Slide V.6.0 di BMK 30 CV.15Bara Mitra

(8)

Kencana Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat”.

1. 2 Identifikasi Masalah Identifikasi masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

Kemiringan pada lereng jalan tambang BMK 30 CV.27Bara Mitra Kencanaberkisar 60o-80o.

2. Terdapatnya rekahan-rekahan pada lereng BMK 30CV. Bara Mitra Kencana.3. Belum diketahuinya faktor keamanan pada lereng BMK 30 CV. Bara Mitra Kencana. 1. 3 Batasan

23Masalah Batasan masalahpadapenelitian ini adalah sebagai berikut : 1.Penelitian dilakukan di lereng BMK 30 CV. Bara Mitra Kencana. 2. Scanline diambil 15 meter pada lereng BMK 30 dan sampel diambil secara acak yang berbentuk irregular. 3. Jumlah sampel sebanyak 8 buah, yang terdiri dari 4 buah batupasir dan 4 buah batulanau. 4. Menganalisis

1massa batuan dengan metode Rock Mass Rating dan Slope Mass Rating.5.Menghitung nilai faktor keamananmenggunakan Software Slide V.6.0 1. 4 Rumusan Masalah Rumusan masalah padapenelitian ini adalah sebagai berikut : 1.Bagaimananilai kelas massa batuan menggunakan metode Rock Mass Ratingdi lereng BMK 30 CV. Bara Mitra Kencana? 2.

Bagaimananilai kelas massa batuan menggunakan metode Slope Mass Ratingdi lereng BMK 30 CV. Bara Mitra Kencana? 3. Berapanilai faktor keamanan padalereng di lereng BMK 30 CV. Bara Mitra Kencana? 1.5 Tujuan PenelitianTujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.Menganalisiskelas massa batuan dengan menggunakan metode rock mass rating.2. Menganalisiskelas massa batuan dengan menggunakan metode slope mass rating.3. Menghitungfaktor keamanan darilereng BMK 30 CV. Bara Mitra Kencana. 1.6 Manfaat Penelitian Manfaatdari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.Bagi Penulis Penelitian ini memberikan manfaat berupa kemampuan untuk menganalisis suatu7masalah yang berkaitan denganpertambangan berupa analisis massa batuan dan kestabilan lereng.

2. Bagi Perusahaan11Dari penelitian ini dilakukandapat menjadi masukan positif bagi perusahaan sebagai bahan pertimbangan dalam menyelesaikan permasalahanyang berkaitan dengankeamanan lereng agar menjadi tolak ukurdalam melakukan kajian terhadap lereng tambang4agar tidak longsor.3. Bagi Institusi Penelitian ini11dapat dijadikan sebagaireferensi bahan bacaan, khususnya mahasiswa teknik pertambangan dalam menyelesaikan tugas kuliah, ataupun sebagai referensi mengangkat judul penelitian

(9)

maupun kerja praktek.39BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan TeoriLandasan teori merupakan teori-teori yang berhubungan dengan judul penelitian sebagai dasar acuan dalam melakukan penelitian.Teori-teori ini diambil dari buku, jurnal, maupun arsip-arsip dari perusahaan tempat dilakukannya penelitian. 2.1.1 Tinjauan Umum Perusahaan CV.

27Bara Mitra Kencanaberdiri pada hari Selasa tanggal 19 Januari 2007 dengan wilayah izin usaha pertambangan (IUP) seluas 70,53 Ha dan secara geografis daerah penambangan tersebut terletak pada koordinat 100° 47’ 12”- 100° 46’ 58” Bujur Timur (BT) dan 00° 37’ 11”

- 00° 36’11” Lintang Selatan (LS). Kemudian CV. BMK mengajukan permohonan Penciutan Wilayah1Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi CV. Bara Mitra Kencana Nomor:

05.106.Perindagkopnaker Tahun 2011 dari semula luasan Wilayah IUP 70,53 Hektar diciutkan menjadi seluas 49,61 Hektar, dalam rangka kegiatan operasional CV.Bara Mitra Kencana.secara geografis daerah penambangan tersebut terletak pada koordinat

100º47’18,39” – 100º46’48,10” Bujur Timur (BT) dan 00o37’08,22” – 00o36’58,36” Lintang Selatan (LS). Status lahan yang dimanfaatkan bagi rencana kegiatan penambangan batubara ditanah kuning15Desa Batu Tanjungkec.Talawi kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat,merupakan bekas tambang PT. BA-UPO yang telah diserahkan pengelolanya kepada pemerintahan daerah kota Sawahlunto. Diatas lahan 49,61 Ha tersebut juga dibangun berbagai fasilitas penunjang kelacaran operasional kegiatan, baik berupa areal tertutup seperti base camp, kantor, workshop (bengkel), maupun areal terbuka, jalan masuk tambang, dan overburden, serta kolam pengendap. Dari eksplorasi diketahui jumlah cadangan sumberdaya batubara tereka11pada lahan seluas49,61 Ha mencapai 1.225.000 Ton. Umur penambangan efektif diproyeksikan akan berlangsung selama sepuluh tahun lagi dilakukan penambangan dengan sistem tambang dalam. 2.1.1.1

21Kondisi Geologi danEndapan 1.5Geologi Regional Berdasarkan pola Tektonik pulau Sumatera daerah telitian termasuk dalam zona intramontana. Menurut P.H. Silitonga dan Kastowo (1995) daerah telitian termasuk dalam anggota Bawah Formasi Ombilin (Tmol), yang menumpang pada Batuan Granit berumur Trias (g). Batuan-batuan yang terdapat di lokasi penyelidikan dari yang tertua sampai yang termuda ialah sebagai berikut:a)Batuan

(10)

Intrusi Batuan granit, merupakan batuan intrusi yang dominan di wilayah ini, berwarna abu- abu putih berbintik putih, dengan susunan dari leuko granit sampai dengan monzonit kuarsa. Tekstur biasanya feneritik sampai porfiritik dan secara setempat mengalami pelapukan sehingga dapat diambil sebagai bangunan oleh masyarakat setempat. Umur satuan ini diperkirakan Trias. Batuan diorit, berwarna abu-abu tua sampai abu-abu semu hijau dengan bintik-bintik hitam, keras retak-retak secara setempat berongga. Berstektur trakit, bersusunan felspar dan mineral mafik dengan masa dasarmikrolitik.Umursatuan ini diperkirakan Trias.b)Batuan Sedimen Anggota Atas Formasi Ombilin, satuan batuan ini terdiri dari lempung dan napal berwarna abu-abu semu biru sampai semu hijau dengan sisipan batupasir, konglomerat danbatupasirtufaan berwarna kehijau-hijauan,

mengandung kapur dan berfosil. Umur satuan batuan ini Miosen Awal. Formasi

Sangkarewang, serpihan napal coklat kua sampai kehitam-hitaman disisipi olehbatupasir arkose dan secara setempat oleh breksi andesit kasar bersudut. Formasi Brani, konglomerat kasar beranekaragam dengan beberapa sisipan batupasir.2.Geomorfologi Daerah telitian topografinya bergelombang-bergelombang kuat dengan pola aliran dendritik berstadia muda menujudewasa.Bentukmorfologi ini selain dikontrol oleh struktur geologi juga dikontrol oleh jenis batuan yang menyangkut sifatkekerasan. 3. Stratigrafi Regional Secara Regional stratigrafi daerah Sawahlunto28dapat dibagi menjadibagian utama,yaitu komplek batuan Pra – Tertier dan komplek batuan Tertier. a)Komplek batuan Pra-Tertier terdiri dari:

1. Formasi Silungkang Nama formasi ini mula-mula diusulkan oleh Klompe, Katili dan Sukender pada tahun 1958. Secara fotografi formasi ini masih dapat dbedakan menjadi empat batuan yaitu: batuan Lava Andesit, batuan Lava Basalt, batuan Tufa Andesit danbatuan Tufa Basalt. Umur dari formasi ini diperkirakan Perm sampai Trias. 2. Formasi Tuhur Formasi35ini dicirikan olehLempung abu–abu kehitaman, berlapis baik, dengan sisipan–sisipan batupasir dan batu Gamping.Diperkirakan formasi ini berumur Trias.

b)Komplek batuan Tertier terdiri dari: 1. Formasi Sangkarewang Nama formasi ini pertama kali diusulkan oleh Kastoyo dan Silitonga pada 1975.Formasi ini terutama terdiri dari serpih gampingan sampai napal bewarna coklat kehitaman,berlapis halus dan mengandung fosil

(11)

ikan serta tumbuhan.Formasi ini diperkirakan berumur Eosen-Oligosen. 2. Formasi Sawahlunto Nama formasi ini diusulkan oleh R.P Koesoemadinata dan Th. Matasak 1979.Formasi ini merupakan formasi11yang paling pentingkarena mengandung lapisan batubara. Formasi ini dicirikan oleh batulanau, batulempung dan batubara yang

berselingansatu sama lain.Di perkirakan formasi ini berumur Oligosen. 3. Fomasi Sawah Tambang Bagian bawah dari formasi ini dicirikan dari beberapa siklus endapan21yang terdiri dari beberapasiklus endapanyang terdiri dari batupasir konglomerat,batu lanau, dan batu lempung.Bagian atas padaumumnya di dominasi oleh batupasir konglomeratan tanpa adanya sisipan lempung atau batulanau.Umur dari formasiini diperkirakan lebihtua dari Miosen bawah. 4. Formasi Ombilin Formasi ini terdiri dari lempung gampingan yang bewarna abu-abu kehitaman.Berlapis tipis dan mengandung fosil.Umur dari formasi ini diperkirakan Miosen bawah. 5.Formasi Ranau Satuan ini terdiri dari Tufa batu apung bewarna abu-abu kehitaman.Umur dari formasi ini diperkirakan Pleitos. Sumber :CV. Bara Mitra Kencana Gambar 2.1Formasi Batuan pada Cekungan Ombilin

(Marhaendrasworo,1999) 4.Geologi Struktur Daerah telitian secara regional menurut P.H.

Silitonga dan Kastowo (1995) merupakan sayap lipatan berarah BaratDaya–TimurLaut dengan kemiringan80–130,kedudukan lapisan Batubara relatif Timur-Barat.5.

Kompleksitas Geologi Daerah Telitian Pengelompokan geologi suatu daerah ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu aspek tektonik atau gaya-gaya lateral yang berkembang, aspek sedimentasi karena Batubara merupakan endapan sedimenter, dan variasi kualitas Batubara menyangkut keekonomisan bahan galian tersebut. Dari ketiga aspek ini aspek- aspek mana yang berpengaruh paling dominan pada daerah telitian, dasar inilah yang digunakan untuk mengelompokkan kondisi Geologis suatu daerah berdasarkan

kompleksitas geologisnya.2.1.2 Lereng18Lereng merupakan suatu permukaan batuan atau tanah yang menyambungkan dua permukaan material tersebutsehingga membentuk sudut tertentu terhadap bidang datar yang menurutproses terbentuknyadibedakan menjadi dua yaitu lereng alami danlerengbuatan. Menurut materialpenyusunnya, lereng dapat

dibedakan menjadi lereng batuan dan lereng tanah. Pendekatan penyelesaian dalam

(12)

analisa kemantapan lereng batuan akan berbeda dengan analisa kemantapan lereng tanah.

Batuan didefinisikan oleh ahli teknik sipil dan geoteknik sebagai strukturyang padat dan tangguh dari kulit bumi, sedangkan tanah adalah hasil pelapukan batuan menjadi material- material yang lebih kecil akibat pengaruh temperatur, gravitasi, angin dan hujan secara terus menerus (Noorchayo dkk, 2019) Kestabilan lereng, baik lereng alami maupun lereng buatan (buatan manusia) serta lereng timbunan, dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dinyatakan secara sederhana sebagai gaya-gaya penahan dan gaya-gaya penggerak yangbertanggung jawab terhadapkestabilan lereng tersebut. Pada kondisi gaya penahan (terhadap longsoran) lebih besar dari gaya penggerak, lereng tersebut akan berada dalam kondisi yang stabil (aman). Namun,apabila gaya penahan menjadi lebih kecil dari gaya penggeraknya, lereng tersebut menjadi tidak stabildanakan terjadi longsoran.Faktor- faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah geometri lereng, penyebaran batuan,

34relief permukaan bumi, struktur geologi regional dan lokal, iklim dan curah hujan,sifat fisik dan mekanik batuan, sertagaya dari luar.14Lereng tambang yang tidak stabil akan mengalami longsoran sampai lereng tersebut menemukan keseimbangan yang baru dan menjadistabil. Longsoran dapat terjadi pada hampir setiap kemungkinan, perlahan-lahan ataupun secara tiba-tiba dan dengan atau tanpa adanya suatu peringatan yang nyata (Pane

& Anaperta). 2.1.2.1 Kestabilan Lereng Masalah stabilitas lereng didalam suatu pekerjaan yang melibatkan kegiatan penggalian maupun penimbunan merupakan masalah penting, karena ini merupakan masalah keselamatan manusia, peralatan, dan bangunan2yang ada disekitar4lereng tersebut. Dalampekerjaan penambangan didalam penambangan terbuka, lereng yang tidakaman akan mengganggu kelancaran produksi.2Di alam, tanah maupun batuan umumnya berada dalam setimbangan (equilibrium), artinya keadaan distribusi tegangan pada tanah ataupun batuan tersebutdi kenakan suatukegiatan seperti:

penggalian, penurunan, penimbunan, pengangkutan, erosi atau aktivitaslain yangmembuatterganggunya kesetimbangan, tanah ataupun batuan tersebut akan

berusahamecapaikesetimbangan baru dengan cara pengurangan beban terutama dalam bentuk longsoran. Untuk menganalisis longsoran perlu terlebih dahulu mengetahui sistem

(13)

tegangan yang bekerja pada batuan atau tanah serta sifat fisik dan mekanikdaritanah atau batuan tersebut. Tegangan batuan di dalam massa alamiahnya adalah tegangan horizontal, tegangan vertikal dan tekanan pori air.Sedangkansifat mekanik yang mempengaruhi kestabilan atau lereng adalah kohesi, sudut geser dalam dan bobot isi. Secara prinsipnya, pada suatu lerengberlakudua macam gaya, yaitu: gaya yang membuat massa batuan bergerak(gaya penggerak)dan gaya yang menahan massa batuan tersebut (gaya

penahan). Suatu lereng akan longsor jika gaya penggeraknya lebih besar daripenahannya.

Secara matematis kestabilan lereng dapatdinyatakan dalam bentukFK dengan menggunakan persamaan 2.1 berikut ini: Faktor Keamanan (FK) =

...(2.1) Menurut Bowles, dalam Kornelis Bria dan Ag. Isjudarto, 2017. Lereng yang stabil memiliki harga FK yang tinggi FK>1,25 dan lereng yang tidak stabil memiliki harga FK yang rendah FK<1,07.1Seperti yang terlihat pada tabel2.2: Tabel 2.1 Hubungan nilai FK dan Kemungkinan Longsoran (Bowles,1989) Nilai FK Kemungkinan Longsor 𝐹𝐾<1,07 Longsoran biasa terjadi 1,07 ≤ 𝐹𝐾 ≤ 1,25 Longsoran pernah terjadi 𝐹𝐾>

1,25 Longsoran jarang terjadi 2.1.2.2.2Faktor Yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng Dalam Seegmilier (1972) secara klasik menerangkan terjadinya suatu longsoran lereng tambang yang di mulai dengan longsoran yang kecil yang kemudian menjadi besar sehingga menimbulkan masalah pada operasi penambangan. Ada dua penyebab terjadinya longsoran menurut Terzaghi (1950)dibagimenjadi dua kelompok yaitu: 1. Penyebab Eksternal Menyebabkan naiknya gaya geser yang bekerja sepanjang bidang runtuh, antara lain yaitu: a. Perubahan geometri lereng b. Beban dinamik karena dump truck (traffic loading) c. Gayagetaranyang ditimbulkan oleh gempa bumi atau ledakan d. Penurunan muka air tanah secara mendadak 2.Penyebab InternalMenyebabkan turunnya kekuatan geser material, antara lain yaitu: a. Pelapukan b. Keruntuhan progresif c. Hilangnya sementasi material d. Berubahnya struktur material2.1.3Longsoran Longsoran adalah pergerakanmassatanah atau batuan sepanjang bidang tergelincir atau suatu permukaan bidang geser.Massabatuan adalah kondisi material dan bidang-bidang diskontinu yang dimiliki batuan (Bieniawski,1989). Penyebab longsoran diantaranya:1. Berkurangnya

(14)

kekuatan geser material pembentuklereng akibat: a. Erosi, baik yang disebabkan oleh aliran sungai, hujan maupun suhu.b.Pergerakanalami dari lereng akibatpergerakan bidang longsor maupun akibatpenurunan. c. Aktivitasmanusia, antara lain :1)Penggalian dasar lereng2) Pengrusakan struktur penahan tanah 3)Penggundulan tanaman pada lereng2.Bertambahnya tegangan geser pada lereng akibat :a. Kondisi alam b. Aktifitas manusia c.Gempa atau sumber getaran lainnyad.Pemindahan material di sekeliling dasar material longsorane.Timbulnya tekanan tanah (Lateral Vernes, 1978) membagi faktor- faktorpenyebab longsor menjadi dua bagian yaitu,faktor-faktoryang menyebabkan kenaikan tegangandan faktor-faktor yang menyebabkanpenurunan kekuatan geser tanah.

Jenis longsoran (Veners D. J. 1978) dapat dikelompokkan menjadi enamkelompok, yaitu jatuhan, robohan, longsoran, pancaran lateral, aliran dan kombinasi.Bidang-bidang

diskontinueyang memotong massa batuan akan menghasilkan blok. Blok umumnya masih tersambung dengan massa batuannya. Blok yang terpisah akan membentuk kekar yang terbuka (opened joint fracture). Jika air hujan atau air permukaan mengisi bukaan ini, maka akan menambah tekanan di kedua sisinya. Tekanan air sangat tergantung pada situasi bukaan kekar, meskipun ukuran kecil tetapi dalam daerah yang luas maka tekanan sangat berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Ada beberapa jenis longsoran yang umum dijumpai pada massa batuan tambang terbukayaitu: 1.Longsoran Bidang (Plane Failure) Longsoran bidangrelatif jarang terjadi.14Namun, jika ada kondisi yang menunjang terjadinya longsoran bidang, longsoran yang terjadi mungkin akan lebih besar (secara volume)dari pada longsoran lain.22Longsoran ini disebabkan oleh adanya struktur geologi yang berkembang, seperti kekar (joint) ataupun patahan yang dapat menjadi bidang luncur.Longsoran bidang terjadi bila seluruh kondisi di bawah ini terpenuhi, yaitu: a.1Jurus bidang luncur sejajar atau mendekati sejajar terhadap jurus bidang permukaan lereng dengan perbedaan maksimal20˚. b.Kemiringanbidang luncur harus lebih kecil dari

kemiringan bidang permukaan lerengatau Ψ>Ψ𝑝. c.2Kemiringan bidang luncur lebih besar dari sudut geser dalamatau Ψ𝑝>∅. d.Terdapat bidang bebas yang merupakan batas lateral dari massa batuanyanglongsor. (Sumber: Irwandy Arif, 2016) Gambar 2.2Longsoran

(15)

Bidang (Plane Failure)2.14Longsoran Baji (Wedge Failure) Longsoran baji merupakan jenis longsoran yang sering terjadi dilapangan.Samahalnya dengan longsoran bidang,

longsoran baji juga diakibatkan oleh adanya struktur geologi yangberkembang.Perbedaan pada longsoran baji4adalah adanya dua struktur geologi yang berkembang dan saling berpotongan.Longsoranini terjadi bila dua buah jurus bidangdiscontinu berpotongan dan besarsudut garis potong kedua bidang tersebut(Ψ𝑝)lebih besar dari sudut geser dalam (𝜙)dan lebih kecil dari sudut kemiringan lereng(Ψ1).Perhitungan faktor keamanan32lebih rumit dibandingkan pada longsoran bidang karena melibatkan dua bidang gelincir dimana gaya-gaya yang bekerja pada bidang tersebut turut diperhitungkan. (Sumber: Irwandy Arif, 2016) Gambar 2.3 Longsoran Baji ( Wedge Failure) 3.Longsoran Busur (Circular Failure) Longsoran jenis ini banyak terjadi pada lereng14tanah dan batuanlapuk atau sangat

terkekarkan dan di lereng-lereng timbunan.22Bentuk bidang gelincir pada longsoran busur, sesuai dengan namanya akan menyerupai busur bila digambarkan pada penampang

melintang.(Sumber: Irwandy Arif, 2016) Gambar 2.4 Longsoran Busur ( Circular Failure) 4.

14Longsoran Guling (Toppling Failure) Longsoran guling umumnya terjadi pada lereng yang terjal dan pada batuan yang keras,dimanastruktur bidang lemahnya berbentuk

kolom.Longsoranguling ini terjadi apabilabidang-bidanglemah yang terdapat pada lereng mempunyai kemiringan yang berlawanan dengan kemiringan lereng.(Sumber:

Irwandy Arif, 2016) Gambar 2.5 Longsoran Guling ( Toppling Failure) 2.1.4 Klasifikasi Massa Batuan Klasifikasi massa batuan yang terdiri dari beberapa parameter sangat cocok untuk mewakili karakteristik massa batuan, khususnya sifat-sifat bidang lemah atau kekar dan derajat pelapukan massa batuan. Berdasarkan parameter tersebut, sudah banyak usulan atau modofikasi massa batuanyang dapat digunakan untukmerancang kemantapan lereng.Pada umumnya klasifikasi tersebut mencoba menghubungkan parameter sudut kemantapan lereng dengan bobot klasifikasi massa batuan untuk berbagai tinggi lereng (Arif, 2016). 2.1.4.1 Rock Mass Rating Klasifikasi Rock Mass Rating diusulkan oleh Bieniawski (1979)6digunakan untuk menentukankualitas massa batuan berdasarkan lima parameter, yakni kuat tekan batuan utuh (UCS), Rock Quality Designation (RQD), jarak

(16)

diskontinu/kekar, kondisi diskontinu/kekar,1dan kondisi air tanah.1. Kuat Tekan Batuan a.

Uji kuat tekan uniaksial (Unconfined Compressive Strength Test) Pengujian kuat tekan dilakukan untuk mengukur tekan uniaksial (Unconfined Compressive Strengh Test-UCS Test) dari contoh batuan berbentuk silinder dalam satu arah (Uniaksial). Tujuan dari

pengujian11ini adalah untukmengklasifikasi kekuatan dan karakterisasi batuan utuh. Hasil pengujian ini berupa beberapa informasi, seperti kurva tegangan-regangan, kuat tekan uniaksial, modulus elastisitas, nisbah poisson, energi fraktur, dan energi fraktur spesifik.

Pengujian ini dilakukan mengguanakan mesin tekan (compression machine) dan dalam pembebanannya mengikuti standar dari Internasional Society of Rock Mechanics (ISRM, 1981).26Secara teoritis penyebaran tegangandidalamcontoh batuan searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya arah tegangan tidak searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh.Hal ini terjadi karena ada pengaruh dari plat penekan pada mesin tekan yang berbentuk bidang pecah yang searah dengan gaya, berbentuk cone. Contoh batuan yang akna digunakan dalam pengujian kuat tekan harus memenuhi beberapa syarat. Kedua muka contoh batuan uji harus mencapai kerataan hingga 0,02 mm dan tidak melenceng dari sumbu tegak lurus lebih besar dari pada 0,001 radian (sekitar 3,5 min) atau 0,05 mm dalam 50 mm (0,06o). Demikian juga sisi panjangnya harus bebas dari ketidakrataan sehingga kelurusannya sepanjang contoh batu uji tidak melenceng lebih dari 0,3 mm. Perbandingan antara tinggi dan diameter contoh batuan (L/D) akan mempengaruhi nilai kuat tekan batuan. Jika digunakan perbandingan (L/D) = 1, kondisi tegangan triaksial saling bertemu sehingga akan memperbesar nilai kuat tekan batuan. Sesuai dengan ISRM (1981), untuk pengujian kuat tekan digunakan rasio (L/D) antara 2-2,5 dan sebaliknya diameter (D) contoh batuan paling tidak berukuran tidak kurang dari NX, atau kurang lebih 54 mm. Semakin besar perbandingan antara tinggi dan diameter contoh batuan yang digunakan, kuat tekan akan semakin kecil seperti yang ditunjukan persamaan dibawah ini : Menurut American Society For Testing and Materials (ATSM) : ...(2.2) Menurut Protodyakonov:

...(2.3) Keterangan : 𝜎𝑐 = Kuat tekan batuan b.

(17)

Point Load index (PLI) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan dari contoh batuan secara tidak langsung dilapangan. Contoh batuan dapat berbentuk silinder atau tidak beraturan.Peralatan yang digunakanuntukuji point load,seperti ditunjukan pada gambar, mudah dibawa,tidak begitu besar dan cukup ringan sehinggapengujian mudah dilakukan dandengan cepat diketahui kekuatan batuan dilapangan sebelum pengujian laboratorium dilakukan. Contoh batuan untuk pengujian ini dapat berbentuk silinder ataupun bongkahan batuan, seperti terlihat pada gambar 2.7. Contoh batuan untuk

pengujian ini adalah berbentuk silinder dengan diameter = 50 mm (NX=54 mm, lihat ISRM, 1985). Gambar 2.6 Alat Uji Point Load Index (sumber: ISRM, 1985 dalam Made Astawa Rai dkk, 2011) Gambar 2.7 Tipe dan Syarat Sampel Batuan Uji PLI Menurut Broch & Franklin (1972), indeks point load (Is) suatu contoh batuan dapat dihitung dengan persamaan : ...(2.4) Apabila diamater contoh batuan yang bukan 50 mm, maka diperlukan faktor koreksi terhadap persamaannya. Menurut Greminger (1982), selang faktor koreksi tergantung besarnya diameter. Karena diameter ideal yang digunakan adalah 50 mm, maka Greminger menurunkan persamaan sebagai berikut: ...(2.5) Dimana,

...(2.6) Sehingga diperoleh suatu persamaan24Point Load Indexyang telah dikoreksi sebagai berikut:

...(2.7) Jika Is = 1 Mpa,indeks tersebut tidak memiliki arti, maka8penentuan kekuatan harus berdasarkan uji UCS, dan menurut Bienawskidengan diameter contoh 50 mm maka, UCS dapat ditentukan melalui, ...(2.8) Ujiaksial dan ujibongkah

beraturan (irregulerlump) menggunakan diameter ekivalen (De) dalam perhitungan Point Load Index yang diturunkan dari luas penampang minimum

...(2.9)

...(2.10) Sehingga persamaan yang digunakan menjadi ...(2.11) Dimana ...(2.12) Keterangan Is(50) =Point Load

(18)

Index diameter 50 mm (MPa) P = Beban maksimum contoh pecah (N) D = Jarak antar konus penekan (mm) d =Diameter contoh (mm) Hasil pembobotan dari pengujian3kuat tekan batuan utuh dapat dilihat padatabel 2.2berikut ini: Tabel2.2Kekuatan Material Batuan UtuhDeskripsiKualitatif UCS (Mpa) PLI (Mpa)BobotSangat kuat sekali

(Exceptionally strong)>250 >1015 Sangat kuat (Very strong)100-25 4-1012 Kuat (Strong) 50-100 2-47 Sedang (Average)25-50 1-24 Lemah (Weak)5-25Penggunaan UCS lebih dilanjutkan2 Sangat lemah (Very weak)1-51 Sangat lemah sekali (Extremely weak)<1 0 2.

Rock Quaity Designation (RQD) Indeks RQD telah diperkenalkan lebih dari 20 tahun yang lalu sebagai indeks dari kualitas batuan pada saat informasi kualitas batuan hanya tersedia dari deskripsi ahli geologi dan persentase perolehan inti yang utuh dengan panjang 10 cm atau lebih. Ini adalah indeks kuantitatif yang telah11digunakan secara luasuntuk

mengidentifikasi daerah batuan yang kualitasnya rendah sehingga dapat diputuskan untuk penambahan pemboran atau pekerjaan eksplorasi lainnya. Untuk menentukan RQD, ISRM merekomendasikan ukuran inti paling kecil berdiameter NX (54,7 mm) yang dibor dengan menggunakan double tube core barrels. λ+1)

e-0,1λ...(2.13) Keterangan:8RQD = Rock Quality Designationλ = banyak kekar dalam 1 meter Gambar 2.8 Perhitungan RQD Bila bor inti tidak tersedia,dapat dihitung denganpengukuran bidang diskontinu (metode scanline).

9Jarak pisah antarbidang diskontinu(kekar) adalah jarak tegak lurus antara dua bidang diskontinuyang berurutan sepanjang sebuah garis pengamatan yang disebut scanline, dan dinyatakan sebagai intactlegth.Panjang scanline minimum untuk pengukuran jarak

diskontinu adalah50 kali jarak rata-ratadiskontinuyang hendak diukur.Namun, menurut International Society for Rock Mechanic(ISRM, 1981) panjang ini cukup 10 kali tergantung tujuan pengukuran scanline-nya. Hasil pembobotan dari perhitungan kekar batuan pada scanline dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut ini: Tabel 2.3 Rock Quality Designation (RQD) RQD (%) Kualitas Batuan Bobot < 25 Sangat jelek (very poor) 3 25-50 Jelek (poor) 8 50-75 Sedang (fair)113 75-90 Baik(good)17 90-100 Sangat baik(exellent) 203. Jarak Antar Kekar Jarak antar kekar didefinisikan sebagai jarak tegak lurus antara dua kekar berurutan

(19)

sepanjang garis pengukuran yang dibuat sembarang.3Pada perhitungan nilai rock mass rating, parameter jarak antar kekar diberi bobot berdasarkan nilai spasi kekarnya.Seperti yang terlihat pada tabel 2.4 berikut ini: Tabel 2.4 Klasifikasi Jarak Kekar (Attewell, 1993) Deskripsi Jarak Stuktur Bidang Diskontinu Jarak (mm) Spasi sangat lebar Perlapisan sangat tebal > 2000 Spasi lebar Perlapisan tebal 600-2000 Spasi cukup lebar Perlapisan sedang (medium) 200-600 Spasi rapat Perlapisan tipis 60-200 Spasi sangat rapat Perlapisan sangat tipis 20-60 Laminasi tebal (batuan sedimen) 6-20 Laminasi sempit (batuan metamorf dan batuan beku) 6-20 Berlapis, memiliki belahan (cleavage), struktur perlapisan seperti aliran/flow, metamorfik, dll. 6-20 Batuan sangat rapat sekali (ekstrem) Perlapisan tipis (batuan sedimen) < 20 Sangat berfoliasi, memiliki belahan (cleavage) dan struktur perlapisan seperti aliran/flow, (batuan metamorf dan batuan beku) < 6 Sumber: Irwandy Arif, 2016 4. Kondisi Kekar3Ada lima karakteristik kekar yang masuk dalam pengertian kondisi kekar, meliputi kemenerusan (persistence) jarak antar permukaan kekar atau celah (separation/aperture), kekasaran kekar (roughness) material pengisi (infilling/gouge),dan tingkat kelapukan (weathering).1Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: a.Rougness atau kekasaran bidang diskontinumerupakan parameter yang penting untuk menentukan kondisi bidang diskontinu. Suatu permukaan yang kasar akan dapat mencegah terjadinya pergeseranantarakedua permukaan bidangdiskontinu. b.Separation merupakan jarak antara kedua permukaan bidangdiskontinu.6Jarak ini biasanya diisi oleh materiallainnya (filingmaterial) atau bisa juga diisi oleh air. Makin besar jarak ini,makasemakin lemah bidang diskontinu tersebut.c.Continuity merupakan kemenerusan dari sebuah bidang diskontinu, atau juga merupakan panjang dari suatu bidang diskontinu.d.Weathering menunjukkan derajat kelapukan permukaan diskontinu.e. Infilling (gouge)pengisi antara dua permukaan bidang diskontinu mempengaruhi stabilitas bidang diskontinu dipengaruhi oleh ketebalan, konsisten atau tidaknya dan sifat material pengisi tersebut. Filling yang lebih tebal dan memiliki sifat mengembang bila terkena air dan berbutir sangat halus akan menyebabkan bidang diskontinu menjadi lemah.Tabel 2.5 Tabel Klasifikasi Bidang Kekar Panduan untuk klasifikasi bidang kekar Persistensi < 1 m 1-3 m 3-10 m 10-20 m > 20 m

(20)

Bobot 6 4 2 1 0 Pemisahan bukaan (aperture) none < 0.1 mm 0.1-1.0 mm 1-5 mm > 5 mm Bobot 6 5 4 1 0 Kekasaran Very rough Rough Slightly rough Smooth Slicken-sided Bobot 6 5 3 1 0 Isian (gouge) None Hard filling < 5mm Hard filling > 5mm Soft filling < 5mm Soft filling > 5mm Bobot 6 4 2 2 1 Pelapukan Unweathered Slightly weathered Moderately weathered Highly weathered Decomposed Bobot66 5 3 1 05.Kondisi Air Tanah Debit aliran air tanah atau tekanan air tanah akan mempengaruhi kekuatan massa batuan. Oleh sebab itu perlu diperhitungkan dalam klasifikasi massa batuan. Pengamatan terhadap kondisi air tanah ini dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:a.Inflow per 10 m tunnel length:

menunjukkan banyak aliran air yang teramati setiap 10 m panjang terowongan.1Semakin banyak aliran air mengalir maka nilai yang dihasilkan untuk Rock Mass Rating akan semakin kecil.b.6Joint water pressure: semakin besar nilai tekanan air yang terjebak dalam kekar (bidang diskontinu) maka nilai yang dihasilkan untuk Rock Mass Rating akan semakin kecil.

c. General condition:mengamati atap dan dinding terowongan secara visual sehingga secara umum dapat dinyatakan dengankeadaanumum dari permukaan seperti kering, lembab, menetesdan mengalir.3Kondisi air tanah yang ditemukan pada pengukuran kekar diindentifikasikan sebagai selahsatu kondisi berikut:kering (completely),lembab (damp), basah (wet),perhitungan nilairock mass rating, parameter kondisi air tanah (groundwater conditions).Hasil pembobotan dengan pengamatan dan studi pendukung dari kondisi air tanah dapat dilihat pada tabel 2.7 berikut ini: Tabel 2.6 Kondisi Air Tanah Kondisi Umum Kering (complete dry) Lembab Basah Terdapat tetesan air (dripping) Terdapat aliran air

6(flowing) Debit air per 10 m panjangsingkapan lit/menTidak ada < 1010-25 25-125>

125 Tekananair/tegangan utama major0 < 0,1 0,1-0,2 0,1-0,2 > 0,5 Kondisi umum Kering Lembab Basah Menetes Mengalir Bobot15 10 7 4 0Tabel 2.7 RMR-A Klasifikasi Parameter dan Pembobotan No9Parameter Selang Nilai 1 Kuat tekan PLI (Mpa) > 1010-4 4-2 2-1 Untuk kuat tekan rendah perlu UCS Batuan utuh UCS (Mpa) > 250100-250 50-100 25-50 25-5 5-1<1 Bobot 15 12 7 4 2 1 0 2 RQD (%)90-100 75-90 50-75 25-50 <25 Bobot 20 17 13 8 3 3 JarakKekar (m) > 2 0.6-2 0.2-0.6 0.6-0.2 < 0.06Bobot 20 15 10 8 5 Parameter Selang Nilai4 Kondisi kekarSangat kasar, tdk menerus, tdk ada pemisahan,dindingbatu

(21)

tdk lapuk Agakkasar,pemisahan < 1 mm, dindingagak lapuk Agak kasar,pemisahan < 1 mm, dindingsangat lapuk Slicken-sided/tebalgouge < 5 mm, atau pemisahan 1-5 mm, menerusGouge lunak tebal > 5 mm, atau pemisahan > 5mm,menerus Bobot 30 25 20 10 05 Air tanah Aliran/10 m panjang terowongan (It/min) None < 10 25-10 Tekanan air kekar maks ó1 0 < 0.1 0.1-0.2 Kondisi umum Kering Lembab Basah Menetes Mengalir Bobot 15 10 7 4 0 Sumber : Bieniawski dalam Made A R, 2013 2.1.4.2.1Slope Mass Rating (SMR) Romana (1985)menyertakan bobot pengatur orientasi kekaruntuk memodifikasiRock Mass Ratingmenjadiklasifikasi massa batuan yangbaru yang disebutslope mass rating.

Klasifikasi Slope Mass Rating dibuat berdasarkan pengamatan dan data aktual dari 87 lereng di Valencia. Slope Mass Rating dapat memberikan panduan awal dalam analisis kestabilan lereng dan memberikan informasi yang berguna tentang tipe keruntuhan serta hal-hal1yang diperlukan untukperbaikan lereng. Untuk mencari nilai Slope Mass Rating digunakan persamaan 2.14 berikut ini: ...(2.14) Nilai Slope Mass Rating diperoleh dari nilai Rock Mass Rating yang ditambahkan dengan faktor-faktor koreksi. F1, F2, dan F3 merupakan faktor koreksi terhadap kondisi kekar (joint), sedangkan F4 merupakan faktor koreksi terhadap penggalian yang digunakan pada lereng. 1. F1 tergantung pada paralelisme antara kekar dan kemiringan muka lereng (strike). 2. F2

berhubungan dengan sudut dip kekar pada longsoran bidang. 3. F3 menunjukan hubungan atara kemiringan lereng dan kemiringan kekar. Nilai faktor koreksi F4 tergantung pada metode penggalian lerengnya, apakah lereng alamiah, digali dengan peledakan

presplitting, peledakan smooth, peledakan buruk atau penggalian mekanis. Pembobotan orientasi kekar untuk pengatur lereng dapat dilihat ada tabel 2.8 berikut ini: Tabel 2.8 Bobot Pengatur Untuk F1,F2,F3 dan F4 (Romana, 1985) Kasus Kriteria faktor koreksi Sangat menguntungkan Menguntungkan Sedang Tak menguntungkan Sangat tak

menguntungkan P T |aj-as| |aj-as-180| >30o 30o-20o 20o-10o 10o-5o <5o P/T F1=[1- sinA]2 0,15 0,4 0,7 0,85 1 P | j| <20o 20o-30o 30o-35o 35o-45o >45o P F2=tan2 0,15 0,4 0,7 0,85 1 Kuat tak mudah longsor Lemah mudah longsor P T >10o 10o-0o 0o 00-(-10o)

<(-10o) <110o 110o-120o >120o - - P/T F3= 0 -6 -25 -50 -60 Method of excavation

(22)

Alamiah Presplitting Smooth Penggalian mekanis Buruk F4 15 10 8 0 -8 Sumber: Irwandy Arif, 2016 Keterangan: A = Selisih antara strike slope dan strike discontinuity αs = Strike slope βs = Dip slope αj = Strike discontinuity βj = Dip discontinuity Faktor penyesuaian untuk metode penggalian telah ditetapkan secara empirissebagai berikut: 1. Lereng alamiah lebih stabil karena terbentuk akibat proses erosi dalam waktu yang lama dan ada mekanisme penahan (vegetasi, sedikit air,dsb): F4 = -15.2. Penggunaan teknik peledakan presplitting meningkatkan stabilitas lereng untuksuatu kelassetengah: F4 =± 10.3.

Penggunaan teknik peledakan smooth blasting dengan lubang-lubang yang baik, juga meningkatkan stabilitas lereng: F4 =± 8.4. Teknik peledakan normal. Penggunaan dengan sound method, tidak mengubah stabilitas lereng: F4 = 0. 5. Peledakan yang tidak efisien, sering terlalu banyak bahanpeledakan,tidak menggunakan peledakanbaruntun(delay) atau lubang ledak tidak sejajar, stabilitas buruk: F4 =-8.6. Penggalian lereng dengan peralatan gali, selalu dengan ripper, hanya dapat dilakukan pada batuan lemah dan atau di batuan terkekarkan dan seringdigabungkandenganpeledakan. Bidang lereng sulit untuk diakhiri. Metode ini bisa bertambah atau berkurang tingkat kemantapan lereng: F4 = 0.

Tabel 2.9 Deskripsi Kelas Slope Mass Rating (Romana, 1985) Profil massa batuan Deskripsi Kelas I II III IV V SMR rating 81-100 61-80 41-60 21-40 0-20 Deskripsi Sangat baik Baik Sedang Jelek Sangat jelek Kestabilan Sangat stabil Stabil Stabil sebagian Tidak stabil Sangat tidak stabil Longsoran Tidak ada Beberapa blok Beberapa kekar dengan banyak baji Bidang atau baji besar Bidang besar atau seperti tanah Kemungkinan Longsoran 0 0,2 0,4 0,6 0,9 Sumber: Irwandy Arif, 2016 2.1.5 Analisa Faktor Keamanan Menggunakan Software Slide V.6.0 Pada program ini dibutuhkan data-data mengenai sifat-sifat massa batuan secara umum yang terdiri dari berat jenis (unit weight), berat jenis jenuh (saturated unit weight), tekanan pori dan koefisien getaran/gempa (sesimic load coefficient). Selain itu, diperlukan juga data-data lainnya, tetapi tergantung pada kriteria kekuatan apa yang digunakan. Pada kriteria Mohr-Coulomb diperlukan data berupa kohesi (cohesion) dan sudut geser dalam (internal friction angle), dimana kohesi dan sudut geser dalam didapatkan dari

pembobotan total kelas massa batuan rock mass rating. Berikut ini penjelasan dari4kohesi

(23)

dan sudut geser dalam:1. Kohesi (c)Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan, dinyatakan dalam satuan berat per satuan luas, kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan gesernya makin besar. Nilai kohesi (c) diperoleh dari pengujian laboratorium yaitupegujian kuat geserlangsung (direct shear strength test) dan pengujian triaxial.2.

Sudut Geser Dalam(∅)Sudut geser dalam adalah sudut yang dibentuk dari hubungan antara tegangan normal dan tegangan geserdidalammaterial tanah atau batuan. Semakin besar sudut geser dalam suatu material maka material tersebut akan lebih tahan menerima tegangan luar yang dikenakan terhadapnya.2.2. Kerangka Konseptual Tahapan penelitian yang penulis lakukanadalah sebagai berikut:1. Studi literatur40Studi literatur dilakukan dengan mengumpulkan informasi dariberbagai buku, jurnal serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.22. Pengambilan dataPengambilan data berupadata yang diambil secara langsung dandata yang bersumber dari perusahaan. Data primer terdiri atas pengukuran geometri lereng, pengukuran bidang dikontinu dan pengambilan sampel batuan untuk dilakukan pengujian sifat fisik dan mekaniknya. Sedangkan data sekunder terdiri dari peta kesampaian daerah, peta geologi regional, peta stratigrafi dan peta hidrogeologi regional. 3. Pengolahan Data. Pengolahan data dilakukan dengan menghitung dan menganalisis nilai tingkat kestabilan lereng dengan menggunakan metode slope mass rating. Kemudian menghitung nilai faktor keamanan dengan menggunakan Software Slide V.6.0. 4. Hasil Analisis. Mengetahui klasifikasi nilai tingkat kestabilan lereng dengan metode Slope Mass Rating kemudian mengetahui tipe serta arah umum kelongsoran dengan metode kinematik stereografis dan mengetahui faktor

keamanan dari lereng penambangan. Adapun kerangka konseptual dapat dilihat pada gambar 2.9 berikut ini : Gambar 2.9 Kerangka Konseptual BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan peneliti adalah penelitian terapan.

Penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan untuk hati-hati, sistematik10dan terus menerusterhdap suatu masalah dengan tujuan digunakan segera untuk keperluan

tertentu. Hasil11penelitian yang dilakukantidak perlu sebagai suatu penemuan baru, akan tetapi merupakan aplikasi yang baru dari penelitianyang telah ada.3.2 Lokasi Penelitian

(24)

CV. Bara Mitra Kencana seluas 49,61 Hektar, dalam rangka kegiatan operasional CV. Bara Mitra Kencana. secara geografis daerah penambangan tersebut terletak pada koordinat 100º47’18,39” – 100º46’48,10” Bujur Timur (BT) dan 00o37’08,22” – 00o36’58,36” Lintang Selatan (LS). Batas wilayah CV. Bara Mitra Kencana27sebagai berikut: 1.Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah IUP CV. Putri Surya Pratama Natural. 2. Sebelah Timur

berbatasan dengan wilayah Implasment. 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah IUP PT. BA. 4. Sebelah Barat berbatasan dengan IUP PT. Nusa Alam Lestari Dari kota

Sawahlunto lokasi tambang dapat dicapai melalui jalan kota Sawahlunto - Talawi. Lokasi dapat dicapai dengan perjalanan darat selama 2 s.d 3 jam. Perjalanan dari kampus STTIND padang menuju CV. Bara Mitra Kencana. Dan penelitan juga7dilakukan di laboratorium STTIND guna mengetahui bobot isi batuan dan pengujian Point Load Index. Gambar 3.1 PetaLokasi dan Kesampaian DaerahWilayah IUP OP Batubara CV.15Bara Mitra Kencana Secara administratif tersebut terletak di Tanah Kuning,Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto,Provinsi Sumatera Barat.Lokasi tambang tersebut dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua dari Kota Padang jaraknya lebih kurang 117 Km ke Kota Sawahlunto serta menuju ke lokasi tambang dengan jarak tempuh lebih kurang 13 Km selebihnya lebih kurang 3 Km merupakan jalan yang akan digunakan untuk menunjang kelancaran operational penambangan. 3.3 Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada 5 Oktober - 22 Oktober 2020. 3.4 Variabel Penelitian Pada penelitian ini yang menjadi variabel penelitian ada dua yaitu variabel bebas dan variabel terikat seperti keterangan berikut ini: 1.Variabel independen (variabelbebas)merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen.Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sering terjadi longsoran kecil disekitar lereng tambang CV. Bara Mitra Kencana dilihat dari sudut kemiringan dari lereng tersebut berkisar antara 60˚ - 80˚, banyaknya rekahan-rekahan disekitar lereng serta belum diketahui faktor keamanan pada lereng. 2.25Variabel dependen (variabel terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabelindependen. Variabel dependen yang

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian tentang berat badan bayi baru lahir pada ibu hamil yang berpantang makanan di Desa Prajekan Kecamatan Prajekan Kabupaten Bondowoso menunjukkan bahwa sebagian

Pengawasan kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk bila dipergunakan, mempertahankan kualitas produk yang sudah tinggi dan

Dalam hal ini tentunya harus jelas, bahwa pembeli mendapatkan kemudahan dalam pelayanan untuk mengetahui mekanisme dalam pemesanan melalui delivery service, karena

Mereka membandingkan tarikan mobil maticnya, dengan mobil manual yang mereka kendarai sebelumnya. Atau membandingkan dengan mobil matic lain. ada baiknya kalau kita mengenal lebih

dengan menegaskan unsur kewenangan jaksa dalam melakukan intersepsi yaitu: “Pelaksanaan penyadapan dalam rangka penegakan hukum, dilakukan pada tahap penyelidikan

Memperkuat teori yang menyatakan bahwa keterampilan konseling dapat dilakukan secara yang menyatakan bahwa keterampilan konseling dapat dilakukan secara efektif dan dikuasai

Para PNS lingkungan Kecamatan dan Kelurahan wajib apel pagi setiap hari senin di Halaman Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, dan akan diberikan teguran kepada yang tidak ikut apel

Hasil dari penelitian ini terdapat 5 etika moral bushido pada dorama Remake Great Teacher Onizuka 2012, yaitu etika moral keadilan, etika moral kebajikan, etika moral