i
IMPLEMENTASI OUTDOOR LEARNING
DENGAN SUMBER BELAJAR LINGKUNGAN SEKOLAH PADA SUB MATERI KLASIFIKASI TUMBUHAN
DI MTs MARDLATILAH PAMEKASAN
SKIRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program StudiTadris Ilmu Pengetahuan Alam
Oleh : ALI DAFIR NIM. T201810036
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
2023
ii
IMPLEMENTASI OUTDOOR LEARNING
DENGAN SUMBER BELAJAR LINGKUNGAN SEKOLAH PADA SUB MATERI KLASIFIKASI TUMBUHAN
DI MTs MARDLATILAH PAMEKASAN
SKIRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan sains dan Bahasa Program StudiTadris Ilmu Pengetahuan Alam
Oleh :
Ali Dafir NIM : T201810036
Disetujui Pembimbing
Laily Yunita Susanti, S.Pd.,M.Si NIP. 198906092019032007
iii
IMPLEMENTASI OUTDOOR LEARNING
DENGAN SUMBER BELAJAR LINGKUNGAN SEKOLAH PADA SUB MATERI KLASIFIKASI TUMBUHAN
DI MTs MARDLATILAH PAMEKASAN
SKIRIPSI
Telah diuji dan diterima untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan sains dan Bahasa Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
Hari : Jumat
Tanggal : 03 maret 2023
Tim Penguji
Ketua Sekretaris
Dinar Maftukh Fajar, M.P.Fis. Mohammad Wildan Habibi, M.Pd.
NIP. 199109282018011001 NUP. 210701148
Anggota :
1. Dr. A Suhardi, ST., M.Pd ( )
2. Laily Yunita Susanti, S.Pd., M.Si. ( )
Menyetujui
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
iv MOTTO
Artinya : Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hampara dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam (Q.S Thaha/53).1
1 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-qur’an Dan Terjemahan. (Bandung: Semesta Al- Qura’an, 2013).
v
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan sangat spesial untuk kedua orang tua saya yang selalu memperjuangkan dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Skripsi ini juga saya persembahkan kepada keluarga terutama adek-adek saya yang selalu memberikan semangat yang luar biasa terhadap saya. Dan tak lupa saya persembahkan untuk diri saya sendiri yang selalu berusaha dan bersabar dalam setiap proses pengerjaan skripsi ini. Skripsi ini menjadi tanda bahwa perjuangan saya tidak sia-sia.
vi
KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam tercurahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah menuntun kita menujujalan yang diridhoi oleh Allah SWT.
Selanjutnya, penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang membantu kelancaran dalam mengerjakan skripsi ini, baik berupa dorongan moril maupun materil. Karena penulis yakin tanpa bantuan dan dukungan tersebut, sulit rasanya bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
Di samping itu, izinkan penulis untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Kedua orang tua serta adekku yang telah memberikan seluruh doanya kepada penulis, memberikan dukungan kepada penulis, sehingga penulis selalu diberikan kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM. Selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang menerima penulis sebagai mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
3. Prof. Dr. Mukni’ah, M.Pd. I. Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
4. Dr. Indah Wahyuni, M.Pd. Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sains yang telah memfasilitasi selama proses belajar mengajar di lembaga ini.
5. Dinar Maftukh Fajar, S. Pd., M. P.fis. Selaku koordinator Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
6. Laily Yunita Susanti, S.Pd.,M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak dan ibu dosen Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
vii
8. Bapak dan ibu guru di MTs Mardlatillah Pamekasan yang telah membantu penulis selama proses penelitian di sekolah.
9. Sahabat dan teman-teman seperjuangan yang erat menyalurkan informasi, kebersamaan belajar, berbagi pengalaman, menyebartawa, dan berjuang meraih gelar sarjana strata satu bersama.
10. Sepupu saya yang telah membantu dan memberi arahan selama proses pembuatan skripsi ini.
Terlepas dari itu semua, karya ilmiah berupa skripsi ini tentulah tidak sempurna baik dari segi bahasa dan susunan penulisannya. Maka dari itu, penulis berharap saran dan kritik dari pembaca agar proposal skripsi ini dapat lebih baik lagi kedepannya.
Terakhir, penulis berharap skripsi ini mampu memberi manfaat dan inspirasi bagi para pembaca.
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Jember, 07 Februari 2023 Penulis,
Ali Dafir T201810036
viii ABSTRAK
Ali Dafir, 2023 : Implementasi Outdoor Learning Dengan Sumber Belajar Lingkungan Sekolah Pada Sub Materi Klasifikasi Tumbuhan Di Mts Mardlatilah Pamekasan.
Kata Kunci: Outdoor Learning, Klasifikasi Tumbuhan.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya fasilitas sekolah dalam proses pembelajaran IPA yang berbasis praktikum. Hal tersebut merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan secara efektif. Salah satu cara alternatif yang diterapkan tersebut dapat menjadi solusinya dengan mnerapan pembelajaran Outdoor Learning yang merupakan suatu metode pembelajaran interaksi atau cara mengajar yang berpangkal pada penggunaan lingkungan sekitar sebagai penggantinya. Sehingga proses pembelajaran tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan materi pembelajaran.
Fokus penelitian pada skripsi ini adalah: (1). Bagaimana perencanaan pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan. (2). Bagaimana pelaksanaan pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan. (3).
Bagaimana evaluasi pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan. Tujuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu: (1).
Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran outdoor learning sebagai sumber belajar lingkungan sekolah pada materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan. (2). Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran outdoor learning sebagai sumber belajar lingkungan sekolah pada materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan. (3). Mendeskripsikan evaluasi pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan jenis kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi non partisipan, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan beberapa tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Sumber data penelitian yang digunakan yaitu sumber data primer dan sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:pertama, proses perencanaan pembelajaran outdoor learning yaitu cara alternatif dalam mempertimbangkan pembelajaran yang terdapat hambatan dalam prosesnya. Kedua, pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan outdoor learning yang dilakukan secara variatif sangatlah membuat antusias dan semangat siswa bertambah, sehingga siswa lebih mudah memahami pembelajaran. Ketiga. Pengevaluasian dalam penggunaan keefektifan pembelajaran Outdoor Learning ini melalui evaluasi antar guru dan hasil penelaian.
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Definisi Istilah ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 10
B. Kajian Teori ... 16
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 56
B. Lokasi Penelitian ... 57
C. Subjek Penelitian ... 58
D. Teknik Pengumpulan Data ... 58
E. Analisis Data ... 61
F. Keabsahan Data ... 63
G. Tahap-tahap Penelitian ... 64
x
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambaran Obyek Penekitian... 67
1. Profil Madrasah Tsyanawiyah Mardlatillah ... 67
2. Visi, , Misi, dan Tujuan MTs Mardlatillah ... 67
3. Identitas Madrasah ... 68
B. Penyajian dan Analisis Data ... 71
C. Pembahasan Temuan ... 89
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 97
B. Saran ... 98
DAFTAR PUSTAKA ... 100
LAMPIRAN ... 103
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Analisis Penelitian Terdahulu ... 15
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Lumut Hati ... 46
Gambar 2.2 Lumut Tanduk ... 47
Gambar 2.3 Lumut Daun... 47
Gambar 2.4 Tumbuhan Paku... 49
Gambar 2.5 Tumbuhan Biji Terbuka ... 53
Gambar 2.6 Tumbuhan Biji Tertutup ... 53
Gambar 3.1 Teknik Analisis Data ... 61
Gambar 4.1 Situasi dan Kondisi Lingkungan Sekolah Mardlatillah ... 71
Gambar 4.2 Kondisi Fisik dan Psikis Siswa ... 72
Gambar 4.3 Salah Satu Lingkungan Pembelajaran ... 74
Gambar 4.4 Kebun Sekolah ... 78
Gambar 4.5 Aktivitas Siswa Diluar Kelas ... 80
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Pernyataan Keaslian Tulisan ... 103
Lampiran 2 Matriks Penelitian ... 104
Lampiran 3 Pedoman Wawancara ... 105
Lampiran 4 Pedoman Observasi ... 107
Lampiran 5 Pedoman Documentasi ... 109
Lampiran 6 Data Tenaga Pendidik, Data Siswa dan Sarana Prasarana ... 110
Lampiran 7 Surat Permohonan Ijin Penelitian ... 112
Lampiran 8 Surat Keterangan Selesai Penelitian ... 113
Lampiran 9 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 114
Lampiran 10 Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ... 117
Lampiran 11 Instrumen Soal ... 121
Lampiran 12 Nilai Siswa ... 124
Lampiran 13 Jurnal Penelitian ... 125
Lampiran 14 Dokumentasi ... 126
Lampiran 15 Biodata Penulis ... 131
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu pelajaran inovatif yang berkaitan erat dengan alam sekitar. Guru diarahkan untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar. Keberadaan lingkungan belajar siswa yang mendukung proses pembelajaran IPA sangat mendukung bagi siswa untuk menggunakannya sebagai media pembelajaran.
Dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, maka diharapkan dapat membantu meningkatkan mutu pembelajaran dalam proses pembelajaran.2 Proses pembelajaran IPA dapat dilakukan di luar kelas dengan cara berinteraksi dengan lingkungan kelas maupun lingkungan sekolah. Proses pembelajaran yang dilakukan di luar kelas atau di luar sekolah memiliki arti yang sangat penting untuk perkembangan siswa, karena proses pembelajaran tersebut dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Pengalaman langsung memungkinkan materi IPA akan semakin nyata, sehingga proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna.3
Salah satu materi dalam pembelajaran IPA di SMP/MTs yaitu Klasifikasi Makhluk Hidup yang memuat tentang cara pengelompokkan makhluk hidup berdasarkan kesamaan ciri yang dimiliki. Tujuan umum Klasifikasi Makhluk Hidup yaitu untuk mempermudah mengenali,
2 Rosita, Kurnia. 2017. “Pemanfaatan Lingkungan Sekolah Sebagai Sumber Belajar pada Mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar”. Hlm. 1.
3 Husamah, pembelajaran luar kelaas outdoor learning. (Jakarta: Prestasi Pustaka Karya, 2013), 19.
membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup. Tujuan khusus lain dari Klasifikasi Makhluk Hidup yaitu untuk mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang dimiliki, mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup jenis lain.4 Ditinjau dari domain pengetahuan materi Klasifikasi Makhluk Hidup memiliki karakteristik faktual dan konseptual.
Adapun pengetahuan faktual yaitu tingkatan pertama yang mencakup dalam pengertian atau definisi sehingga mengetahui dengan detail atau elemen- elemen untuk mengetahui tentang peristiwa yang berdasarkan pada fakta.
Karakteristik faktual dalam pembahasan ini yaitu pada pengertiaan Tumbuhan. Sedangkan karakteristik konseptual yaitu bentuk-bentuk pembahasan yang lebih rinci pada sub materi Tumbuhan di antaranya Pengertian Tumbuhan, Ciri-ciri Tumbuhan, dan Klasifikasi Tumbuhan.
Dalam pembelajaran ini kompetensi dasar (KD) yang digunakan yaitu 3.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup dan benda berdasarkan karakteristik yang di amati dan KD 4.2 Menyajikan hasil pengklasifikasian makhluk hidup dan benda di lingkungan sekitar bersadarkan karakteristik yang diamati.
Berdasarkan hasil observasi di MTs Mardlatillah Pamekasan diketahui bahwa pada sekolah tersebut minimnya fasilitas dalam proses pembelajaran IPA yang memerlukan pembelajaran berbasis praktikum. Sehingga dalam proses pembelajaran yang berbasis praktikum guru IPA di MTs Mardlatillah Pamekasan tersebut dituntut untuk berinovasi ataupun berkreasi dalam
4 Siti haryati, Intisari Biologi, (Bandung; Pustaka Setia, 2014), 37.
menangani permasalahan tersebut. Khususnya pada pembelajaran sub materi Klasifikasi Tumbuhan tidak cukup jika hanya teori saja, namun juga harus diimbangi dengan praktik, supaya siswa dapat memahami dan mengerti mengenai tumbuhan secara langsung. Sehingga dalam mengatasi permasalahan mengenai penggunaan media pembeajaran tersebut, guru perlu menciptakan inovasi baru dalam pembelajaran Klasifikasi Makhluk Hidup, salah satunya dengan pembelajaran Outdoor Learning.5
Pembelajaran Outdoor Learning merupakan pembelajaran yang mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan mengakrabkan siswa dengan lingkungannya.6 Linkungan di luar sekolah dapat dijadikan sebagai sumber belajar yang bersifat fakta, karena materi pembelajaran yang siswa pelajari di dalam kelas dapat ditemukan langsung di lapangan. Outdoor Learning merupakan pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif dengan mengajak siswa mengidentifikasi tumbuhan secara langsung sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
Penerapan pembelajaran Outdoor Learning sudah dilakukan di MTs Mardlatillah Pamekasan khususnya kelas VII sudah berjalan cukup baik dengan memanfaatkan sumber belajar lingkungan sekolah. Pembelajaran Outdoor Learning dapat membantu pemahaman siswa dalam proses pembelajaran yang ssuai dengan materi Klasifikasi Tumbuhan.
5 Data yang peneliti peroleh dari hasil observasi disekolah MTs Mardhotillah, (09 Mei 2022) pukul 07:30 WIB.
6 Husamah, Pembelajaran Luar Kels Outdoor Learning (Jakarta: Prestasi Pustaka Karya, 2013), 17.
Klasifikasi tumbuhan merupakan pengelompokan nama tumbuhan dalam takson berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dimiliki. Proses pengaturan dalam sistem klasifikasi sengaja diciptakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan berbagai jenis tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah.7 Lingkungan sekolah dipilih sebagai sumber belajar karena pada hakikatnya belajar adalah interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Beberapa tumbuhan yang berada dilingkuan sekolah diantaranya yaitu Pohon Mangga, pohon kelengkeng, pohon pisang, pohon pepaya, pohon kedondong, bunga pucuk mirah, bunga lidah mertua dan bunga aglonema blanceng silver.
Pemanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat menampilkan contoh-contoh penerapan IPA dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitarnya. Lingkungan sekitar mampu mengembangkan secara otomatis pemahaman siswa pada konteks baru secara mandiri. Dengan kata lain siswa harus dikenalkan dengan potensi lingkungan sekitarnya agar terbiasa menggunakan sistem berfikir alamiah dan perilaku adaptif supaya pemanfaatan lingkungan dalam pembelajaran dapat dijadikan sebagai sumber belajar.8
Penerapan pembelajaran Outdoor Learning sebagai sumber belajar juga memberikan pengalaman yang nyata kepada siswa, sehingga konsep materi pelajaran akan lebih mudah dipahami oleh siswa dan juga memberikan pembelajaran yang variatif serta menyenangkan terhadap siswa.
7 Kevin, Bahan Ajar Taksonomi Tumbuhan. (Medan : Universitas Sumatera, 2006), 126.
8Irwandi,Hery Fajeriadi ,” Jurnal Biologi-Inovasi Pendidika Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa SMA di Kawasan Pesisir, Kalimantan Selatan ” Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2019, 67.
Siswa dapat mengamati dan mencatatnya secara pasti dalam belajar.
Sehingga penerapan pembelajaran Outdoor Learning ini dapat mendorong siswa berinteraksi dengan guru dan siswa lain dengan konsep bantuan aplikasi PlanNet.
Beberapa hasil penelitian sebelumnya oleh Setiyorini tentang penerapan Outdor learning dapat mengembangkan potensi siswa lebih optimal karena adanya interaksi yang nyata antara siswa dengan lingkungan.9 Selain itu penelitian sebelumnya oleh Riandy tentang strategi outdoor learning dapat meningkatkan kreativitas dan kerja sama siswa sekolah dasar karena adanya permainan dan asak kerjasama siswa.10 Penelitian sebelumnya oleh Rohim tentang pembelajaran outdoor learning dapat meningkatkan kemampuan guru mengelola pembelajaran dan meningkatkan aktivitas siswa karena adanya interaksi antara tindakan belajar dan mengajar yang diwujudkan dengan nilai.11
Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Implementasi Outdoor Learning Dengan Sumber Belajar Lingkungan Sekolah Pada Sub Materi Klasifikasi Tumbuhan Di MTs Mardlatilah Pamekasan”
9 Nunung Dwi Setiyorini, “Pembelajaran Kontekstual Ipa Melalui Outdoor Learning Di SD Alam Ar-Ridho Semarang”, (Al-Mudarris Journal Of Education) 1, no. 1 (2018).
10 Akhmad Riandy Agusta dkk, “Implementasi Strategi Outdoor Learning Variasi Outbound untuk Meningkatkan Kreativitas dan Kerjasama Siswa Sekolah dasar”, (Journal Pendidika) 5, no. 4 (2019).
11 Abdur Rohim, “Efektivitas Pembelajaran Di Luar Kelas (Outdoor Learning) dengan Pendekatan PMRI Pada Materi SPLDV”, (Jurnal Elektronik Pembelajaran Matematika) 5, no 3 (2018).
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka yang menjadi fokus penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana perencanaan pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan?
2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan?
3. Bagaimana evaluasi pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari fokus penelitian di atas, maka peneliti merumuskan tujuan dari penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran outdoor learning sebagai sumber belajar lingkungan sekolah pada materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan.
2. Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran outdoor learning sebagai sumber belajar lingkungan sekolah pada materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan.
3. Mendeskripsikan evaluasi pembelajaran outdoor learning dengan sumber belajar lingkungan sekolah pada sub materi klasifikasi tumbuhan di MTs Mardlatilah Pamekasan
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan manfaat secara teoretis maupun secara praktis sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Dapat memberikan pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa Tadris Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam mengenai pembelajaran Outdoor Learning pada sub materi Klasifikasi Tumbuhan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru kelas VII MTs Mardlatillah Pamekasan
Dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Outdoor Learning pada sub materi klasiifikasi Tumbuhan
b. Bagi Siswa kelas VII MTs Mardlatillah Pamekasan
Dapat dijadikan sebagai sebagai pengalaman belajar Outdoor Learning pada sub materi Klasifikasi Tumbuhan.
c. Bagi Peneliti
Dapat dijadikan referensi dan acuan dalam menerapkan pembelajaran Outdoor Learning pada mata pelajaran IPA.
E. Definisi Istilah
Untuk memudahkan dan menghindari kesalahan presepsi atau pengertian terhadap penelitian ini maka peneliti memberika batasan masing- masing istilah adalah sebagai berikut:
1. Implementasi Pembelajaran
Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci sehingga mencapai suatu perubahan yang diinginkan. Sedangkan pembelajaran merupakan suatu sitem yang terdiri dari berbagai komponen.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa implementasi pembaelajaran maerupakan suatu proses kegiatan melaksanakan ide dan rencana yang telah disusun dalam melaksanakan interaksi antara siswa, guru dan sumber belajar dalam outdoor learning.
2. Pembelajaran Outdoor Learning
Outdoor Learning merupakan aktivitas luar sekolah yang berisi kegiatan di luar kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti : belajar di lingkungan sekolah, taman, perkampungan, pertanian, berkemah, dan kegiatan yang bersifat petualangan, serta mengembangkan aspek pengetahuan yang releven.
3. Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Dalam konteks lingkungan sebagai sumber belajar ditekankan pada kajian lingkungan dalam konsep ekologi manusia yang diberi batasan sebagai semua kondisi, situasi benda dan mahluk hidup yang ada di
sekitar sekolah yang memperngaruhi kehidupan, pertumbuhan dan sifat- sifat atau karakternya baik yang bersifat makro maupun berbentuk alamiah, sosial budaya dan psikologis. Dalam hal ini dibatasi pada hal-hal yang memiliki keterkaitan erat dengan materi pembelajaran IPA di sekolah yang berwujud fakta, peristiwa, dan fenomena.
4. Klasifikasi Tumbuhan
Klasifikasi Tumbuhan merupakan pengaturan penamaan dan pengelompokan tumbuhan takson berdasarkan persamaan dan perbedaannya. Proses pengelolaan dalam taksonomi sengaja dibuat untuk mengeksplorasi hubungan terkait spesies tumbuhan yang berbeda.
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terkait dengan Pemanfaatan Lingkungan Sekolah Sumber Belajar terdahulu sebagai berikut:
1. Okky Irmina Safitri, Amin Retnoningsih, Andin Irsadi “Penerapan Outdoor Learning Process (OLP) Menggunakan Papan Klasifikasi Pada Materi Klasifikasi Tumbuhan” Unnes Journal of Biology Education, (2018).12
Penelitian ini dilaksanakan kuantitatif. Subjek penelitian yang diterapkan di SMA Negeri 1 Jekulo kabupaten Kudus. Penelitian menggunakan Pre Experimental Design dengan rancangan One Shot Casa Study One. Sumber data diperoleh dari pengamatan siswa dan guru. Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas hasil belajar dan aktivitas siswa. Instrumen pengambilan data terdiri atas instrumen utama dan instrumen pendukung. Instrumen utama digunakan untuk melihat variabel terikat (soal post tes dan lembar observasi aktivitas siswa). Sedangkan instrume pendukung terdiri atas angket tanggapan guru dan angket tanggapan siswa.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa strategi OLP menggunakan papan klasifikasi efektif diterapkan
12 Okky Irmina Safitri, Amin Retnoningsih, Andin Irsadi “Penerapan Outdoor Learning Process (OLP) Menggunakan Papan Klasifikasi Pada Materi Klasifikasi Tumbuhan” Unnes Journal of Biology Education, Vol 3, No 1, April 2018.
pada materi klasifikasi tumbuhan di SMA Negeri 1 Jekulo, Kudus.
Saran untuk penelitian selanjutnya, guru diharapkan mengelola waktu dengan membagi LKS pada pertemuan sebelumnya, memilih tempat yang lebih teduh dan mendukung pengamatan, serta menjelaskan strategi pembelajaran di awal pembelajaran.
2. Nunung Dwi Stiyorini “Pembelajaran Kontekstual Ipa Melalui Outdoor Learning Di SD Alam Ar-Ridho Semarang”, (Al-Mudarris Journal Of Education) 1, no. 1 (2018).13
Jenis penelitian yang dilakukan yaitu kualitatif. Subjek penelitian yang diterapkan yaitu pada siswa SD Alam Ar-Ridho. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan skunder. Analisis data yang digunakan yaitu model interaktif yang terdiri dari redupsi data, proses penyajiian data, dan proses menarik kesimpulan.
Kesimpulannya dalam penelitian ini yaitu pembelajaran IPA dengan menggunakan model kontekstual dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Disamping itu, pendekatan outdoor learning merupakan salah satu alternatif pembelajaran IPA yang sesuai dengan semangat belajar.
3. Wulan Suci Ramadhani “Penerapan Pembelajaran Outdoor Learning Process (Olp) Melalui Pemanfaatan Taman Sekolah Sebagai Sumber Belajar Materi Klasifikasi Tumbuhan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sm” Jurnal Dosen Jurusan Pendidikan Ipa Dan Dosen Jurusan
13Nunung Dwi Stiyorini “Pembelajaran Kontekstual Ipa Melalui Outdoor Learning Di SD Alam Ar-Ridho Semarang”, (Al-Mudarris Journal Of Education) Vol 1, no. 1 2018.
Biologi Fmipa Universitas Negeri Surabaya, (2020).14
Jenis penelitian yang dilakukan kuantitatif. Subjek penelitian yang diterapkan yaitu pada SMP Negeri 1 Sampang. Penelitian ini adalah pre- experimental dengan menggunakan rancangan “One Group Pre-test Post-test Design”. Rancangan penelitian ini tidak terdapat kelas kontrol. Pre-test dilakukan di awal pembelajaran untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal siswa. Setelah itu, diberikan perlakuan dalam hal ini penerapan pembelajaran OLP melalui pemanfaatan taman sekolah sebagai sumber belajar kemudian diberikan post-test di akhir pembelajaran untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar setelah mengikuti pembelajaran OLP. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi aktivitas siswa, lembar tes hasil belajar siswa, dan angket respon siswa. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dan angket. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis keterlaksanaan pembelajaran, analisis aktivitas siswa, analisis hasil belajar siswa yang terdiri dari analisis kompetensi pengetahuan, analisis ketuntasan klasikal, analisis skor gain, dan analisis angket respon siswa
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Keterlaksanaan pembelajaran yang
14 Wulan Suci Ramadhani “Penerapan Pembelajaran Outdoor Learning Process (Olp) Melalui Pemanfaatan Taman Sekolah Sebagai Sumber Belajar Materi Klasifikasi Tumbuhan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sm” Jurnal Dosen Jurusan Pendidikan Ipa Dan Dosen Jurusan Biologi Fmipa Universitas Negeri Surabaya, 2020.
dilakukan oleh guru selama menerapkan pembelajaran OLP pada pertemuan 2 dan pertemuan 3 sudah terlaksana dengan sangat baik karena mendapatkan penilaian dari ketiga pengamat dengan persentase ≥ 80%. (2) Aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran OLP sangat aktif. (3) Hasil belajar siswa kelas VII-A setelah mengikuti pembelajaran OLP mencapai ketuntasan klasikal dengan persentase sebesar 81,3%.
Sebelum mengikuti pembelajaran OLP diperoleh data nilai siswa VII-A KD 3.3 ketuntasan klasikal hanya mencapai 25%. Hal ini menunjukkan ada peningkatan persentase ketuntasan klasikal yang signifikan dibandingkan nilai sebelumnya yang belum menerapkan pembelajaran OLP. (4) Respon siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran OLP yakni dengan persentase sebesar97,5% siswa setuju dan tertarik dengan pembelajaran OLP.
4. Skripsi karya Asis Rosikhul Ilmi Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2019, dengan judul “Implementasi Metode Outdoor Learning dalam Meningkatkan Motivasi Belajar pada Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Mlarak Ponorogo.”15 Disusun menggunakan penelitian kualitatif (Studi kasus) dengan tujuan mendeskripsikan proses pembelajaran menggunakan metode outdoor learning untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kecamatan Mlarak Ponorogo. Hasil penelitian ini adalah Pelaksanaan metode outdoor learning membuat siswa kelas
15 Asis Rosikhul Ilmi“Implementasi Metode Outdoor Learning dalam Meningkatkan Motivasi Belajar pada Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Mlarak Ponorogo.”(Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2019).
VII lebih aktif dan menumbuhkan keberanian. Siswa menggali sendiri pengetahuannya dengan cara mengamati dan bertanya kepada teman maupun guru. Dampak metode outdoor learning terhadap motivasi adalah mampu meningkatkan semangat atau motivasi belajar siswa.
Faktor yang mendukung implementasi outdoor learning ini adalah adanya tindak lanjut dari seluruh pihak sekolah untuk saling behu membahu di dalam mewujudkan dan mensukseskan metode outdoor learng dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Persamaan skripsi milik Asis Rosikhul Ilmi dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas metode outdoor learning di sekolah dan menggunakan metode penelitian kualitatif, sedangkan perbedaannya adalah skripsi milik Asis Rosikhul Ilmi lebih spesifik pada pengujian peningkatan motivasi siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sedangkan pada penelitian ini titik fokusnya pada pelaksanaan pembelajaran metode outdoor learning pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
5. Yeni Rahau, Penelitian penerapan Outdoor Learning pada siswa kelas VII SMP 8 Pontianak. Penelitian ini dilaksanakan pada dua kelas VII SMP 8 Pontianak. Melalui teknik pengambilan sampel, kelas VII A sebagai kelas control dan VII B kelas experimen.16 Kelas control menggunakan metode Indoor Learning dan kelas experimen menggunakan outdoor learning.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi dan hasil belajar siswa antara siswa yang
16Yeni Rahau, “Penerapan Outdoor Learning pada siswa kelas VII SMP 8 Pontianak” (Universitas Pontianak, 2020).
diajar menggunakan outdoor learning dengan siswa yang diajar menggunakan indoor learning pada materi zat adiktif makanan kelas VII SMP 8 Pontianak sebesar 24.5%.
Tabel 2.1
Analisis penelitian terdahulu
No Nama
Penelitian Judul Persamaan Perbedaan
1 Okky Irmina Safitri, Amin Retnoningsih, Andin Irsadi
Penerapan Outdoor Learning Process (Olp) Menggunakan Papan Klasifikasi
Pada Materi
Klasifikasi Tumbuhan
Menerapkan pembelajaran Outdoor Learning.
Penelitian antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu :
a. Lokasi penelitian yaitu di SMA Negeri 1 Jekulo Kabupaten Kudus.
b. Penelitian kuantitatif c. Teknik pengambilan
sampel menggunakan purposive sampling
2 Nunung Dwi Stiyorini
Pembelajaran
Kontekstual IPA Melalui Outdoor Learning Di SD Alam Ar-Ridho Semarang
Menerapkan pembelajaran Outdoor Learning.
Jenis penelitian kualitatif.
Penelitian antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu :
a. Lokasi penelitia yaitu di SD Alam Ar-Ridho Semarang.
3 Wulan Suci Ramadhani
Penerapan
Pembelajaran Outdoor Learning Process (Olp) Melalui Pemanfaatan Taman Sekolah Sebagai Sumber Belajar Materi Klasifikasi Tumbuhan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Menerapkan pembelajaran Outdoor Learning.
Penelitian antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu :
a. Lokasi penelitian yaitu di SMP Negeri 1 Sampang b. Jenis penelitian
kuantitatif.
4 Asis Rosikhul Ilmi
“Implementasi Metode Outdoor Learning dalam Meningkatkan Motivasi Belajar pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1
Membahas
metode outdoor learning di sekolah dan menggunakan metode penelitian kualitatif.
Spesifik pada pengujian peningakatan motivasi siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan lokasi lokasi penelitian di SMPN 1 Mlarak Ponorogo.
Mlarak Ponorogo.”
5 Yeni Rahau Penerapan Outdoor Learning pada siswa kelas VII SMP 8 Pontianak
Menggunakan Outdoor Learning
Penelitian antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu : Lokasi penelitian yaitu di SMP 8 Pontianak.
Berdasarkan tabel diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa ada perbedaan antara pembelajaran diluar dan di dalam kelas terhadap belajar siswa, dengan pembelajaran outdoor learnig dapat memberikan pengalaman yang nyata kepada siswa dan juga memberikan suasana baru yang menyenangkan dalam belajar siswa.
Berdasarkan penelitian terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penelitian yang ditulis oleh peneliti di atas, sama- sama melakukan pembelajaran outdoor learning terhadap mata pelajaran yang digunakan disekolah. Perbedaannya adalah pada outdoor learning Klasifikasi Tumbuhan diteliti secara kualitatif dan sekolah yang menjadi tempat penelitian bagi masing-masing peneliti.
B. Kajian Teori
1. Pembelajaran SMP/MTs a. Hakikat IPA
IPA adalah suatu ilmu yang mengkaji segala sesuatu tentang gejala yang ada di alam baik benda hidup maupun benda mati. IPA dapat dijabarkan pada beberapa ilmu seperti, astronomi, kimia, mineralogi, meteorologi, fisiologi dan biologi. IPA tidak didapatkan dari hasil pemikiran manusia, namun IPA merupakan hasil dari
pengamatan maupun eksperimentasi suatu gejala alam yang ada di bumi.17
Chippetta dan Prasetyo mengutarakan bahwa IPA adalah sebagai a way of thinking (cara berpikir), a way of investigating (cara penyelidikan), dan a vody of knowlwdge (sekumpulan pengetahuan).
Sebagai berpikir, IPA merupakan aktivitas mental (berpikir) orang- orang yang bergelut dalam bidang yang di kaji. Para ilmuwan berusaha mengungkap, menjelaskan serta menggambarkan fenomena alam. Ide- ide dan penjelasan suatu gejala alam tersebut di susun di dalam pikiran.18
Menurut Samatowa, Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA) di Madrasah Tyanawiyah dapat dilakukan diluar kelas (Outdoor Education) dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.
Pembelajaran lebih menyenangkan dibanding guru hanya ceramah atau diskusi dalam kelas, karena siswa secara kongkrit mengamati, melihat, dan mendiskusikan objek yang dipelajari. Pembelajaran IPA yang baik harus mengaitkan IPA dengan kehidupan sehari-hari. Siswa diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, membangkitkan ide-ide siswa, membangun rasa ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada dilingkungannya, membangun keterampilan yang diperlukan, dan
17 Farida Nur Kumala, Pembelajaran IPA SD, (Malang: Penerbit Ediide Infografika, 2016), 4.
18 Nelly Wedyawati, Yasinta Lisa, Pembelajaran IPA Di Sekolah Dasar, (Yogyakarta:
Deepublish, 2018), 1.
menimbulkan kesadaran siswa bahwa belajar IPA menjadi sangat diperlukan untuk dipelajari.19
IPA membahas tentang gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh powler, bahwa IPA adalah ilmu yang berhubungan dengan gejala alam dan benda yang tersusun secara teratur, berlaku secara umum bahwa kumpulan dari hasil observasi dan percobaan yang sistematis atau teratur pengetahuan itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan sesuatu yang utuh, sedangkan yang berlaku umum artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku pada seseorang atau beberapa orang saja tapi berlaku untuk semua orang yang akan memperoleh hasil yang sama.20
Dari paparan diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa IPA merupakan sebuah bidang ilmu yang meneliti atau mempelajari tentang gejala gejala yang ada di alam dan hal hal yang berkaitan dengan alam yang didapat dari berbagai observasi dan pengamatan. Tidak hanya itu ipa merupakan bidang ilmu yang mengajarkan cara berpikir dan cara memecahkan masalah.
19 Samatowa, Usman, Pembelajaran IPA di sekolah dasar. (Jakarta: PT indeks, 2009), 103.
20 Samatowa, Usman, Pembelajaran IPA di sekolah dasar. (Jakarta: PT indeks, 2010), 5.
b. Pembelajaran IPA SMP/MTs
Setiap pembelajaran pada mata pelajaran pasti memiliki tujuan untuk mengembangkan ketiga aspek hasil belajar siswa. Menurut BSNP, tujuan pembelajaran kurikulum 2013 adalah sebagai berikut : 1) Berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan yang
diciptakan Tuhan, percaya pada Tuhan Yang Maha Esa
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep ilmiah yang berguna dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari 3) Menumbuhkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran akan
interaksi antara makhluk hidup, lingkungan, teknologi, dan masyarakat
4) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki lingkungan, memecahkan masalah dan membuat keputusan
5) pemeliharaan, perlindungan dan pelestarian lingkungan alam 6) Meningkatkan pengakuan bahwa menghormati alam dan semua
keteraturannya adalah salah satu ciptaan Tuhan.
7) Memperoleh pengetahuan, konsep dan keterampilan ilmiah sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan di MA/SMA
Berdasarkan tujuan tersebut dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) perlu dikembangkan kepada tiga hasil belajar yaitu pengetahuan, sikap yang biasa disebut sikap ilmiah dan keterampilan yang disebut proses pembelajaran.
Diharapkan ketiga unsur tersebut dapat muncul pada diri siswa,
sehingga siswa dapat mengalami keseluruhan proses pembelajaran melalui proses pemecahan masalah, metode ilmiah, serta meniru cara kerja dan sikap ilmuan ketika mencari fakta baru untuk memeahami fenomena alam.
Siswa bekerja seperti ilmuan, artinya proses pembelajaran saintifik menggunakan metode dan keterampilan proses ilmiah dasar.
Keterampilan proses ilmiah terbagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan dasar dan keterampilan komprehensif. Bagi siswa sekolah dasar diharapkan setidaknya keterampilan dasar proses sains siswa harus dibina dalam proses pembelajaran IPA. Hal ini dikarenakan kemampuan kognitif siswa MTs tidak dapat dibandingkan dengan dengan struktur kognitif ilmuan, sehingga siswa perlu memiliki kesempatan untuk berlatih beradaptasi dengan tahap perkembangan kognitif siswa MTs dalam keterampilan proses ilmiah.21
c. Tujuan pembelajaran IPA SMP/ MTs
Adapun tujuan pembelajaran IPA SMP/MTs Bertujuan agar siswa:
1) Mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat
2) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
21 Farida Nur Kumala, Pembelajaran IPA SMP, (Malang: Penerbit Ediide Infografika, 2016), 9- 10.
3) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep sains yang bermanfaat dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari 4) Mengembangkan kesadaran tetang peran dan pentingnya sains
dalam kehidupan sehari-hari
5) Mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman ke bidang pengajaran lain
6) Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam, meghargai berbagai macam bentuk ciptaan tuhan di alam semesta ini untuk di pelajari22
Adapun tujuan pembelajaran IPA di Madrasah Tyanawiyah berdasarkan kurikulum 2004 yaitu:
1) Menanamkan pengetahuan dan konsep sains yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari
2) Menanamkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat
3) Mengembangkan kesadaran tetang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara sains,lingkungan,teknologi, dan masyarakat, dan menghargai alam dan segala keteraturanya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.23
22 Sulistyorini Sri, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam,UMS, 40.
23 Depdiknas, UU No. 20 tentang system pendidikan Nasional (SIKDIKNAS), Jakarta: Depdiknas, 2003, 27.
2. Outdoor Learning
a. Pengertian Outdoor Learning
Pembelajaran di luar kelas atau biasa dikenal Outdoor Learning merupakan suatu kegiatan pembelajaran di luar kelas yang berorientasi pada alam sekitar yang mempunyai sifat menyenangkan dan dapat mewujudkan nilai spiritual siswa mengenai keindahan ciptaan tuhan yang maha kuasa. Proses pembelajaran bisa terjadi di mana saja, di dalam ataupun di luar kelas, bahkan luar sekolah. Proses pelajaran yang dilakukan di luar kelas atau di luar sekolah, memiliki arti yang sangat penting untuk perkembangan siswa, karena proses pembelajaran yang demikian dapat memberikan pengalaman langsung pada siswa, dan praktek langsung memungkinkan materi pelajaran akan semakin konkret dan nyata yang berarti proses pembelajaran akan lebih bermakna.24
Outdoor Learning dikenal juga dengan berbagai istilah lain seperti outdoor activies, outdoor study, pembelajaran lapangan atau pembelajaran di luar kelas. Menurut John. M. Echols dalam kamus inggris indonesia, outdoor activities berasal dari kata outdoor yang berarti di luar, dan activity yang berarti kegiatan. Jadi outdoor activities dalam konteks ini adalah kegiatan pembelajaran diluar kelas.
24 Husamah, Pembelajaran Luar Kelas Outdoor Learning (Jakarta:Prestasi Pustaka Karya, 2013), 19.
Kegiatan outdoor activities diyakini mampu memberi wacana baru dalam pembelajaran.25
Dengan demikian mengajar di luar kelas (Outdoor Learning) adalah suatu kegiatan menyampaikan pelajaran di luar kelas, sehingga kigiatan atau aktivitas belajar mengajar berlangsung di luar kelas atau alam bebas. Di sisi lain, mengajar di luar kelas merupakan upaya mengarahkan siswa untuk mempelajari langsung yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang ada dilingkungan sekitar.
Jadi, mengajar di luar kelas (Outdoor Learning) lebih melibatkan siswa secara langsung dengan lingkungan sekitar mereka, sesuai dengan materi yang diajarkan. Sehingga, pendidikan di luar kelas lebih mengacu pada pengalaman dan pendidikan lingkungan yang ssangat berpengaruh pada kecerdasan siswa.
b. Tujuan Outdoor Learning
Latar belakang dilaksanakannya aktivitas belajar mengajar di luar kelas yaitu bukan karena jenuh belajar di dalam ruangan atau merasa bosan belajar di ruangan tertutup, tetapi kegiatan pembelajaran diluar ruangan mempunyai tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Secara umum tujuan Outdoor Learning yaitu sebagai berikut:
1) Memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan serta kreativitas siswa dengan seluas-luasnyadi alam terbuka.
25 Adelia Vera, Metode Mengajar Anak di Luar Kelas (outdoor study), (Jogjakarta: DIVA Pres, 2012), 22
2) Membentuk sikap dan mental siswa.
3) Membangun kesadaran siswa terhadap lingkungan sekitarnya.
4) Mengembangkan potensi setiap siswa agar menjadi manusia yang sempurna.
5) Memperoleh kesempatan luas untuk merasakan atau mempraktikkan secara langsung hal yang telah di pahami pada mata pelajaran.
6) Menunjang keterampilan serta ketertarikan siswa.
7) Meningkatkan kesadaran siswa cara menghargai alam dan lingkungan serta perbedaan ras, suku, bahasa, agama.
8) Mengenalkan berbagai kegiatan di luar kelas sehingga membuat pembelajaran lebih kreatif.
9) Memanfaatkan sumber-sumber yang berasal dari lingkungan.26 Sedangkan menurut Husamah, Outdoor Learning bertujuan agar siswa bisa beradaptasi dengan lingkungan serta alam sekitar, mengetahui pentingnya keterampilan hidup, pengalaman hidup di lingkungan dan alam sekitar.27
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan metode Outdoor Learning yaitu memberikan ruang kepada siswa untuk mengetahui, merasakan, dan mempraktikkan secara langsung materi yang telah di pahami dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada
26 Moh. Zaiful Rosyid dkk, Outdoor Learning Belajar di Luar Kelas, (Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi, 2019), 3.
27 Husamah, Pembelajaran luar kelas outdoor learning, (Jakarta: prestasi pustaka, 2014), 21.
di lingkunagn. Sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya dan dapat menghargai alam sekitar.
c. Manfaat Outdoor Learning
Metode outdoor learning dilakukan dengan menggunakan alam menjadi sumber belajar. Manfaat dari Outdoor Learning yaitu:
1) Pembelajaran lebih variatif 2) Pikiran lebih jernih
3) Pembelajaran terasa menyenangkan 4) Belajar lebih rekreatif
5) Belajar lebih real
6) Siswa lebih mengetahui dunia nyata secara luas 7) Wahana belajar akan lebih luas
8) Tertanam image bahwa dunia sevagai kelas 9) Kerja otak lebih rileks28
Metode pembelajaran ini memberikan alternatif cara pembelajaran IPA dengan cara membangun makna atau dengan melibatkan lebih banyak indera. Seperti indera penglihatan, indra pendengaran, indra perabaan, indra penciuman, dan memberikan pengalaman yang lebih berkesan (karena mengalami sendiri) tentang materi pelajaran.29
28 Cintami dkk, “Efektivitas Outdoor Study untuk Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Berdasarkan Locus Of Control di Sekolah Menengah atas Kota Palembang”. Jurnal Ilu-ilmu Sosial, Vol. 15 No. 2 Tahun 2018, 165.
29 Husamah, Op. Cit., 27.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa manfaat dari metode Outdoor Learning itu sendiri ialah proses kegiatan belajar mengajar lebih bervariasi dan menyenangkan selain itu pembelajaran dilakukan secara langsung dengan memanfaatkan lingkungan alam sekitardan siswa tidak akanerasa jenuh karena proses belajar di lakukan di alam terbuka.
d. Kelebihan Outdoor Learning
Melihat betapa banyaknya keuntungan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar maka dapat dikatakan pula bahwa belajar di luar ruangan pun memiliki banyak kelebihan. Outdoor Learning jelas mempunyai banyak kelebihan dibanding pembelajaran secara konvensional yang selalu berlangsung didalam kelas. Dari segi siswa, Outdoor Learning akan membuat siswa lebih tertraik mengikuti kegiatan pembelajaran. Sedangkan dari segi guru, dapat dipakai sebagai alat untuk menumbuhkan kreativitas dalam merancang pembelajaran.30 Outdoor Learning mampu menghilangkan kejenuhan, baik siswa maupun guru, dari rutinitas belajar yang yang selalu berlangsung di dalam ruang kelas.
e. Kelemahan Outdoor Learning
Outdoor Learning selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Kekurangan Outdoor Learning yaitu guru kesulitan dalam mengatur dan mengelola kegiatan belajar mengajar yang
30 Erwin Wiidaworo, Strtegi dan Metode Mengajar Siswa di Liuar Kelas (Outdoor Learning) Secara Aktif. Kreatif. Inspiratif dan Komunikasi, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2017), 90.
berlangsung di luar kelas. Menurut Harini, kekurangan Outdoor Learning yaitu kurang kurang bisa mengawasi siswa.31 Selain itu, kegiatan belajar banyak memerlukan waktu, akan mengganggu jadwal pelajaran yang lain apabila ada persiapan yang kurang baik.
3. Lingkungan
a. Pengertian Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar atau media pembelajaran akan menjadikan proses belajar mengajar lebih bermakna, karena para siswa dihadapkan pada peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami. Sesuatu yang dipelajari oleh siswa menjadi lebih nyata, lebih faktual, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, siswa merasa senang dan lebih aktif dalam menggali pengetahuannya serta pembelajaran juga tidak terasa membosankan. Memanfaatkan lingkungan juga dapat membuat pembelajaran lebih efektif dan efesien. Karena guru dapat memanfaatkan banyak sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitar tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Dan tidak memerlukan proses yang rumit, hanya saja diperlukan kreativitas guru tersebut dalam memnfaatkan setiap sumber belajar
31 Andri Estining Sejati dkk, “Pengaruh Metode Outdoor Study Terhadap Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Geografi SMA”. Jurnal Pendidikan, Vol. 1 No. 2 Februari 2016, 81.
yang tersedia di lingkungan agar dapat dimanfaatkan ke dalam proses pembelajaran.32
Sedangkan Menurut Muhammad Efendi, lingkungan adalah sesuatu gejala alam yang ada disekitar kita, dimana terdapat interaksi antara faktor biotik (hidup) dan faktor abiotik (tak hidup) dimana lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respons terhadap lingkungan.33
Adapun Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkungi (melingkari).
Pengertian lainnya yaitu sekalian yang terlingkung di suatu daerah.
Dalam kamus Bahasa Inggris peristilahan lingkungan ini cukup beragam diantaranya ada istilah circle, area, surroundings, sphere, domain, range, dan environment, yang artinya hampir sama, berkaitan dengan keadaan atau segala sesuatu yang ada di sekitar atau sekeliling.
Menurut Hasbullah dalam Andi, “Lingkungan sekolah dipahami sebagai lembaga pendidikan formal, teratur, sistemis, bertingkat dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi).”Lingkungan sekolah adalah seluruh komponen atau bagian yang terdapat didalam sekolah, yang mana seluruh komponen dan bagian tersebut ikut berpengaruh dan
32 Istialina,” Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar pada subtema hewandan tumbuhan di lingkungan rumahku kelas iv SD Negeri 3 Jeumpa Kabupaten Bireuen”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD FKIP Unsyiah, Vol. 1, No.1, (Agustus 2016), 65.
33 Muhammad Efendi (2013). Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran. Di unduh di http://efendi08.blogspot.co.id/2013/03/lingkungan-sebagai-media-pembelajaran.html pada tanggal 21 Maret 2016.
menunjang dalam proses pencapaian tujuan pendidikan yang ada di sekolah. Secara garis besar lingkungan sekolah sangatlah berpengaruh terhadap sebuah proses pembelajaran bagi anak didik, karena bagaimanapun lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan.34
Menurut Musfiqon, lingkungan adalah segala kondisi di luar diri siswa dan guru baik berupa fisik maupun nonfisik yang dapat menjadi perantara agar pesan pembelajaran tersampaikan kepada siswa secara optimal. Sementara itu, menurut Yamin dalam Khoirin, lingkungan adalah sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak dalam membantu proses penyampian materi di sekolah.35
Lingkungan merupakan sumber pelajaran yang sangat kaya sesuai dengan tuntutan kurikulum. Ada dua bentuk lingkungan belajar, yakni pertama lingkungan atau tempat yang sengaja didesain untuk belajar siswa seperti laboratorium, perpustakaan, ruang internet dan lain sebagainya. Lingkungan semacam ini dikenal dengan lingkungan by disign. Kedua, lingkungan yang tidak didesain untuk proses pembelajaran akan tetapi keberadaannya dapat dimanfaatkan, misalnya halaman sekolah, taman sekolah, kantin, kamar mandi, dan lain sebagainya. Lingkungan yang demikian dikenal dengan lingkungan
34 Ikhsan Andi, Dkk, "Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar di SD Negeri 2 Teunom Aceh Jaya." Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Unsyiah, vol.
2, no. 1, 2017.
35 Lukman Khoirin. “Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar untuk
Meningkatkan Keterampilan Menulis Deskripsi pada Siswa Sekolah Dasar” Attanwir: Jurnal Kajian Keislaman dan Pendidikan, Vol. 11, no. 2, 2019.
yang bersifat by utilization. Kedua bentuk lingkungan ini dapat dimanfaatkan oleh setiap guru karena memang selain memiliki informasi yang sangat kaya untuk mempelajari materi pelajaran, juga dapat secara langsung dijadikan tempat belajar setiap siswa. Senada dengan hal tersebut, di dalam Al Quran Allah SWT menjelaskan tentang lingkungan dalam Surah Yunus 101, yang artinya
“Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi! “Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS. Yunus:
101).36
Dari ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa maksud dari pada lingkungan dalam ayat tersebut adalah lingkungan sebagai sumber belajar. Segala sesuatu yang Allah ciptakan tentunya memiliki rahasia serta hikmah yang akan berguna bagi manusia yang berfikir.
Jadi, sesuai dengan pemaparan di atas, Lingkungan sekolah menjadi salah satu faktor yang dapat berpengaruh dalam kemampuan membaca, karena lingkungan dapat menciptakan pribadi, sikap, nilai dan kemampuan bahasa anak. Dengan memperhatikan lingkungan anak terutama lingkungan sosialnya, dapat memacu anak untuk bersikap positif terhadap belajar ,terutama dalam belajar membaca.
Tidak hanya normal saja tetapi kegiatan belajar membaca sangat
36 Umi Nur Afifah Rahmawati,” Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Di Mimpundungrejo Tahun Pelajaran 2019/2020. "Jurnal of Education Policy and Elementary Education Issues" Vol.1, No.1, Juni 2020, 17.
diperuntukan bagi anak berkebutuhan khusus atau anak kesulitan belajar.
b. Macam-Macam Lingkungan
Dengan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini guru juga berharap siswa akan lebih akrab dengan lingkungan sehingga menumbuhkan rasa cinta akan lingkungan sekitarnya. Semua lingkungan yang ada disekitar kita bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Dari semua lingkungan yang dapat digunakan dalam proses pendidikan dan pengajaran secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga macam lingkungan belajar yakni lingkungan sosial, lingkungan alam dan lingkungan buatan.
1) Lingkungan Sosial
Lingkungan keluarga, lingkungan keluarga ini lah merupakan lingkungan pertama dan paling utama bagi anak.
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat, seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama dan sistem nilai. Lingkungan sosial tepat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.
Dalam praktek pengajaran penggunaan lingkungan social sebagai media dan sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat, seperti keluarga, tetangga, rukun
tetangga, rukun warga, kampung, desa, kecamatan dan seterusnya.
Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan anak didik.
2) Lingkungan Alam
Lingkungan Alam adalah segala sesuatu yang sifatnya alamiah seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora (tumbuhan), fauna (hewan), sumber daya alam (air, hutan, tanah, batu-batuan dan lain-lain).
Aspek-aspek lingkungan alam tersebut dapat dipelajari secara langsung oleh para siswa melalui cara-cara tertentu.
Mengingat sifat-sifat dari gejala alam relatif tetap tidak seperti dalam lingkungan sosial, maka akan lebih mudah dipelajari para siswa. Siswa dapat mengamati dan mencatatnya secara pasti, dapat mengamati perubahan-perubahan yang terjadi termasuk prosesnya dan sebagainya. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan alam termasuk factor penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran air, tanah, udara, dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan cinta alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap menjaga
kelestarian kemampuan sumber daya alam bagi kehidupan manusia.
3) Lingkungan Buatan
Lingkungan yang ketiga adalah lingkungan buatan. Kalau lingkungan alam bersifat alami, sedangkan lingkungan buatan adalah lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan buatan antara lain adalah irigasi atau pengairan, bendungan, pertamanan, kebun binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga listrik.
Siswa dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek seperti prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenaan dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya. Lingkungan buatan dapat dikaitkan dengan kepentingan berbagai bidang studi yang diberikan di sekolah.
Ketiga lingkungan tersebut dapat dimanfaatkan sekolah dalam proses belajar-mengajar melalui perencanaaan seksama oleh para guru bidang studi di luar jam pelajaran dalam bentuk penugasan kepada siswa atau dalam waktu khusus yang sengaja disiapkan pada akhir semester atau pertengahan semester. Ketika lingkungan ditempatkan sebagai media atau sumber pada bidang
studi yang relevan, maka akan memperkaya materi pengajaran, memperjelas prinsip dan konsep yang dipelajari dalam bidang studi dan bisa dijadikan sebagai laboratorium belajar para siswa.37 c. Fungsi Lingkungan
Menurut Musaheri fungsi lingkungan sekolah antara lain:
1) Meneruskan, mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan suatu masyarakat melalui kegiatan pembelajaran untuk membentuk kepribadian peserta didik agar menjadi manusia dewasa dan mandiri sesuai dengan kebudayaan dan masyarakat sekitarnya.
2) Pada dasarnya juga memberi layanan kepada peserta didik agar mampu memperoleh pengetahuan atau kemampuan kemampuan akademik yang dibutuhkan dalam kehidupan, dapat mengembangkan keterampilan peserta didik yang dibutuhkan dalam kehidupannya, dan hidup bersama maupun bekerja sama dengan orang lain dan dapat mewujudkan cita-cita atau mengaktualisasikan dirinya sendiri secara bermatabat dan memberi makna bagi kehidupan dan penghidupan serta dapat membangun peradapan sesuai dengan tantangan dan tuntutan kebutuhan.38
Menurut Oemar Hamalik fungsi-fungsi lingkungan sekolah secara garis besar adalah sebagai berikut :
1) Mendidik calon warga Negara yang dewasa, 2) Mempersiapkan calon warga masyarakat,
37 Ani Cahyadi, Pengembangan Media Dan Sumber Belajar Teori Dan Prosedur ( Banjarmasin:
Laksita Indonesia, 2019), 88-91.
38 Musaheri, Pengantar Ilmu Pendidikan, ( Yogyakarta : Ircisod, 2011), 138.
3) Mengembangkan cita-cita profesi/kerja,
4) Mempersiapkan calon pembentuk keluarga yang baru, 5) Pengembangan pribadi (realisasi diri)39
Fungsi lingkungan sekolah menurut Suwarno adalah sebagai berikut :
1) Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan 2) Spesialisasi
3) Efisiensi 4) Sosialisasi
5) Konservasi dan transmisi cultural 6) Transisi dari rumah ke masyarakat.40
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi lingkungan sekolah adalah membantu mengerjakan serta menanamkan budi pekerti yang baik bagi siswa. Selain itu juga memberikan pendidikan untuk kehidupan bermasyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan dirumah.
4. Sumber Belajar a. Sumber Belajar
Sumber belajar berasal dari dua kata yaitu sumber dan belajar.
Sumber biasa di kenal dengan istilah asal, awal mula dan bahan sedangkan belajar merupakan proses mencari pengalaman. Jadi
39 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2011), 24.
40 Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, ( Jakarta: Alfabeta, 2011), 112.