• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses produksi kerupuk labu kuning parini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Proses produksi kerupuk labu kuning parini"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

LAPORAN TUGAS AKHIR

PROSES PRODUKSI

KERUPUK LABU KUNING

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Mendapatkan Gelar Ahli Madya (A.Md) Program Studi Teknologi Hasil Pertanian

Fakultas Pertanian

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh:

PARINI H3109044

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

(2)
(3)

commit to user

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan

laporan Tugas Akhir ini dengan baik. Tugas Akhir Praktek Produksi ini disusun

sebagai syarat kelulusan untuk meraih gelar Ahli Madya.

Dengan selesainya penyusunan Laporan ini, penulis menyampaikan terima

kasih kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS, Dekan Fakultas Pertanian UNS.

2. Ir. Choirul Anam, M.P, M.T Ketua Program Studi Diploma III THP Fakultas

Pertanian UNS.

3. Ir. Basito, M.Si selaku Pembimbing dan Penguji I atas bantuan dan

pengarahannya selama penyusunan laporan tugas akhir.

4. Dimas Rahadian A.M, S.TP, M.Sc selaku Pembimbing dan Penguji II atas

bantuan dan pengarahannya selama penyusunan laporan tugas akhir.

5. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan moril dan spiritual serta

nasehat-nasehatnya.

6. Kakak yang selalu memberikan semangatnya.

7. Rekan-rekan mahasiswa D III THP angkatan 2009.

8. Semua pihak yang telah ikut membantu terselesaikannya laporan Tugas Akhir

Praktek Produksi ini.

Penulis menyadari bahwa Laporan Tugas Akhir Praktek Produksi ini

masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan

saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan

laporan Tugas Akhir Praktek Produksi selanjutnya. Semoga Laporan Tugas Akhir

ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.

Surakarta, Juni 2012

(4)

commit to user

PERSEMBAHAN

Segala Puji bagi Allah SWT pencipta dan penguasa seluruh jagat raya yang telah memberikan kehidupan dan petunjuk-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Karya kecil ini penulis persembahkan untuk :

Bapak Pangi, Ibu Yati, Mas Yadi dan Keponakanku Danu beserta segenap keluarga besar penulis, terimakasih atas doa, dukungan,

kesabaran dan semangat serta nasehat-nasehatnya selama ini.

Bapak Ir. Basito, M.Si selaku pembimbing I penulis dan Bapak Dimas Rahadian A.M, S.TP, M.Sc selaku pembimbing II penulis, terimakasih

atas bimbingan, masukan, motivasi, dan dukungannya selama ini.

Teman-teman seperjuangan D3 THP 2009, untuk sahabat penulis Ika nur setiyawati dan Suci wulandari serta untuk seseorang terdekat penulis Didik sugianto, terimakasih atas bantuan dan dukungannya.

(5)

commit to user

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RosulNya dan kepada

cahaya (Al Quran) yang telah kami turunkan dan Allah Maha

Mengetahui apa yang kamu kerjakan

-At Tagabun 8-

True knowledge not come from thinking but come from doing

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu.

Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa

depan

Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba

sesuatu yang tidak mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik

dari yang mungkin anda capai.

-Mario Teguh-

Sebuah perjalanan hidup tak selalu lurus, ada kala kita senang dan

tak luput pula kita mengalami susah

-Abdul Aris S.B-

Banggalah pada dirimu sendiri meski ada yang tak menyukai, kadang

mereka membenci karena mereka tak mampu menjadi sepertimu

(6)

commit to user

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

ABSTRAK ... x

ABSTRACT ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerupuk ... 4

1. Deskripsi Kerupuk ... 4

2. Jenis-Jenis Kerupuk ... 5

3. Persyaratan Mutu Kerupuk ... 6

B. Bahan Baku Pembuatan Kerupuk ... 7

1. Labu Kuning ... 7

1.1 Tanaman Labu Kuning ... 7

1.2 Jenis- Jenis Labu Kuning ... 8

1.3 Biologi Tanaman Labu Kuning ... 9

1.4 Sifat Kimiawi Labu Kuning ... 11

1.5 Sifat Fisik Labu Kuning ... 12

(7)

commit to user

1. Bawang Putih ... 18

2. Garam ... 21

3. Penyedap Rasa ... 22

4. Minyak Goreng ... 24

D. Pengemas ... 25

E. Analisis Sensoris ... 27

F. Analisis Kimia ... 29

G. Analisis Kelayakan Usaha ... 30

BAB III METODE PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ... 34

B. Alat, Bahan, dan Cara Kerja ... 34

C. Analisis Produk ... 38

D. Analisis Ekonomi ... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Produk ... 41

1. Bahan Baku ... 41

2. Proses Produksi ... 48

3. Analisis Sensoris ... 58

4. Analisis Kimia ... 62

B. Desain Kemasan ... 64

1. Bahan ... 64

2. Bentuk ... 65

3. Labelling ... 65

C. Analisis Ekonomi ... 66

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 78

B. Saran…. ... 79

(8)

commit to user

Halaman

Tabel 2.1 Syarat Mutu Kerupuk Ikan ... 6

Tabel 2.2 Hasil Analisis Kadar Gizi Daging Buah Labu Kuning per 100 gr ... 12

Tabel 2.3 Komposisi Zat Gizi per 100 gram Tapioka ... 14

Tabel 2.4 Kandungan Kimia Tepung Tapioka ... 14

Tabel 2.5 Syarat Mutu Tepung Tapioka ... 15

Tabel 2.6 Komposisi Kimia Dalam Tepung Terigu ... 16

Tabel 2.7 Standarisasi Tepung Terigu Dalam Bahan Pangan ... 17

Tabel 2.8 Komposisi Kimia Bawang Putih per 100 gram ... 18

Tabel 2.9 Syarat Mutu Bawang Putih ... 19

Tabel 2.10 Standar Mutu Garam Konsumsi ... 22

Tabel 2.11 Syarat Mutu Bumbu Penyedap Rasa Ayam ... 23

Tabel 2.12. Standar Nasional Indonesia Minyak Goreng ... 24

Tabel 3.1 Formulasi Kerupuk Labu Kuning ... 38

Tabel 3.2 Metode Analisis Kimia ... 38

Tabel 4.1 Hasil Uji Organoleptik Kerupuk Labu Kuning ... 58

Tabel 4.2 Formulasi Kerupuk Dengan Labu Kuning 250 gram Kode 701 ... 61

Tabel 4.3 Karakteristik Kimia Kerupuk Labu Kuning... 62

Tabel 4.4 Biaya Usaha ... 66

Tabel 4.5 Biaya Penyusutan / Depresiasi ... 67

Tabel 4.6 Biaya Amortisasi ... 67

Tabel 4.7 Total Biaya Tetap (Fixed Cost) ... 68

Tabel 4.8 Bahan baku dan bahan pembantu pengolahan kerupuk labu kuning ... 68

Tabel 4.9 Biaya Bahan Baku dan Bahan Pembantu ... 65

Tabel 4.10 Biaya Kemasan ... 69

Tabel 4.11 Total Biaya Bahan Baku, Pembantu dan Kemasan... 69

Tabel 4.12 Biaya Bahan Bakar dan Pembersih ... 69

Tabel 4.13 Biaya Perawatan dan Perbaikan ... 71

Tabel 4.14 Total Biaya Tidak Tetap (Variabel Cost) ... 71

(9)

commit to user

Halaman

Gambar 2.1 Tanaman Labu Kuning ... 10

Gambar 3.1 Diagram alir kuantitatif proses pembuatan kerupuk labu kuning ... 36

Gambar 3.1 Diagram alir kualitatif proses pembuatan kerupuk labu kuning ... 37

Gambar 4.1 Labu Kuning ... 42

Gambar 4.2 Tapioka ... 43

Gambar 4.3 Terigu ... 44

Gambar 4.4 Bawang Putih ... 45

Gambar 4.5 Garam ... 46

Gambar 4.6 Penyedap Rasa ... 46

Gambar 4.7 Minyak Goreng ... 47

Gambar 4.8 Pengupasan ... 48

Gambar 4.9 Pemisahan Biji... 49

Gambar 4.10 Pemotongan ... 49

Gambar 4.11Penimbangan ... 50

Gambar 4.12Pencucian ... 50

Gambar 4.13 Pengukusan I ... 51

Gambar 4.14 Penghancuran ... 51

Gambar 4.15 Pembuatan Adonan ... 52

Gambar 4.16 Pembungkusan Adonan Dalam Plastik ... 53

Gambar 4.17 Pengukusan II ... 54

Gambar 4.18 Pendinginan ... 54

Gambar 4.19 Pengirisan ... 55

Gambar 4.20 Kerupuk Mentah ... 57

Gambar 4.21 Penggorengan ... 57

Gambar 4.22 Kerupuk Labu Kuning ... 57

Gambar 4.23 Plastik PP ... 64

Gambar 4.24 Label Kerupuk Labu Kuning ... 65

(10)

Proses Produksi Kerupuk Labu Kuning PARINI1

H3109044

Ir. Basito, M.Si2 dan Dimas Rahadian A.M,S.TP,M.Sc3

ABSTRAK

Labu kuning (Cucurbita moschata Durch), termasuk komoditas pangan yang telah banyak dikenal masyarakat. Memiliki warna kuning orange sehingga menarik untuk dinikmati di samping rasa dan penampilannya yang menarik, labu kuning merupakan bahan pangan yang banyak mengandung beta karoten, kaya vitamin A dan vitamin C, serat, mineral, lemak, karbohidrat dan antioksidan yang bermanfaat sebagai anti kanker. Pembuatan kerupuk labu kuning merupakan salah satu upaya diversifikasi produk olahan dari labu kuning, dapat dikonsumsi sehari-hari sehingga memperpanjang umur simpan dan dapat meningkatkan nilai jual. Dalam pelaksanaan praktek produksi ini dilakukan analisis sensoris, analisis kimia, dan analisis ekonomi. Hasil dari uji kesukaan menyatakan bahwa produk kerupuk labu kuning yang disukai adalah dengan komposisi labu kuning 250 g, tepung tapioka 200 g, tepung terigu 50 g, bawang putih 25 g, garam 2 g dan penyedap rasa 7,5 g. Hasil analisis kimia yaitu kadar air 6,85% dan kadar beta karoten 0,011 µg/g. Hasil analisis ekonomi yaitu kapasitas produksi 6.250 kemasan /bulan dan harga jual Rp. 4.000 /kemasan diperoleh laba bersih Rp. 3.397.947,8 /bulan, Break Even Point (BEP) 4765 /kemasan, Return of Investment (ROI) sebelum pajak 16,32%, Return of Investment (ROI) setelah pajak 15,81%, Pay Out Time (POT) 7 bulan, Benefit Cost Ratio (Net B/C) 1,16 dan Internal Rate of Return (IRR) 16,71% dimana nilai itu ≥ 5% (bunga bank BCA) menyatakan bahwa perusahaan ini layak untuk dikembangkan karena nilai B/C lebih dari 1.

Kata Kunci : Proses Produksi, Labu Kuning, Kerupuk Labu Kuning. Keterangan

1. Mahasiswa Program Studi D-III Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Nama : Parini. NIM : H3109044

2. Dosen Pembimbing / Penguji 1 3. Dosen Pembimbing / Penguji 2

(11)

xi

Yellow Pumpkin Cracker Production Process PARINI1

H3109044

Ir. Basito, M.Si2 and Dimas Rahadian A.M, S.TP, M.Sc3

ABSTRACT

Yellow pumpkin (Cucurbita moschata durch), including food commodities which have been widely known to the public. Orange yellow in color so exciting to be enjoyed in addition to flavor and attractive appearance, pumpkin is a food that contains lots of beta carotene, rich in vitamin A and vitamin C, fiber, minerals, fat, carbohydrate and antioxidants that are beneficial as anti-cancer. Making crackers pumpkin is one effort to diversify the products processed from yellow squash, can be consumed daily to prolong shelf life and can increase the sale value. In the implementation of production practices was conducted sensory analysis, chemical analysis, and economic analysis. Results of preference test that pumpkin cracker product is preferably a composition of pumpkin 250 g, 200 g tapioca flour, wheat flour 50 g, 25 g garlic, salt, 2 g and 7.5 g flavor. The results of chemical analysis is 6.85% water content and beta-carotene content of 0.011 µg / g. The results of the economic analysis of production capacity of 6250 packs / month and the selling price of Rp. 4000 / packaging the net profit of Rp. 3397947.8 / month, Break Even Point (BEP) 4765 / packaging, Return on Investment (ROI) before taxes 16.32%, Return on Investment (ROI) after taxes 15.81%, Pay Out Time (POT) 7 months, Benefit Cost Ratio (Net B / C) 1.16 and the Internal Rate of Return

(IRR) 16.71% where the value was ≥ 5% (bank rate BCA) stated that the company is

eligible to be developed because of the value of B / C more than 1.

Keywords: Production Process, Yellow Pumpkin, Yellow Pumpkin Cracker. Information

1. Student D-III Study Program of Agricultural Technology, Faculty of Agriculture, Sebelas Maret University, Name : Parini. NIM :H3109044

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Labu kuning atau waluh (Cucurbita moschata Durch), yang dalam

bahasa Inggris dikenal sebagai pumpkin, termasuk komoditas pangan yang

telah banyak dikenal masyarakat. Memiliki warna kuning orange sehingga

menarik untuk dinikmati di samping rasa dan penampilannya yang

menarik, labu kuning merupakan bahan pangan yang banyak mengandung

karotenoid (betakaroten), kaya vitamin A dan vitamin C, serat, mineral,

lemak, karbohidrat dan daging buahnya pun mengandung antioksidan yang

bermanfaat sebagai anti kanker (Sudarto, 1990).

Di Indonesia labu, terutama labu kuning banyak dimanfaatkan

untuk membuat berbagai macam hidangan seperti kolak, sup, cake hingga

kue-kue basah lainnya. Bijinya juga banyak dimanfaatkan sebagai camilan

atau makanan ringan (kuaci). Selain itu labu memiliki sederet manfaat

untuk kesehatan, dapat menjadi obat tradisional, untuk kecantikan dll. Air

buah labu mampu sebagai penawar racun binatang berbisa dan biji labu

dapat dipergunakan untuk mengobati cacing pita. Selain itu daging buah

labu mampu menjadi penangkal kanker lantaran diyakini mengandung

antioksidan. Labu kuning juga dipercaya dapat membantu menyembuhkan

penyakit diabetes mellitus (kencing manis), penyempitan pembuluh darah,

jantung koroner, dan darah tinggi. Selain itu, dapat mengobati tekanan

darah tinggi, labu juga dapat menurunkan panas, mengobati diabetes, dan

memperlancar proses pencernaan.

Labu kuning memiliki potensi gizi, kaya betakaroten dapat menjadi

bahan biofortifikasi pada produk pangan olahan dan belum termanfaatkan

secara optimum. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan

masyarakat akan manfaat komoditas pangan tersebut. Pemanfaatan labu

(13)

commit to user

bahan baku labu kuning, di perkirakan dalam satu bulannya dihasilkan

labu kuning 2–3 ton, namun dikarenakan permintaan pasar dan juga harga

jual yang sangat rendah sehingga sering sekali labu kuning yang ada di

biarkan begitu saja dan di jual dengan harga yang sangat murah tanpa

adanya pemanfataan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Agar labu kuning dapat dikonsumsi sehari-hari, labu kuning diolah dalam

sebuah produk yang disebut kerupuk labu kuning. Pembuatan kerupuk

labu kuning merupakan salah satu upaya diversifikasi produk olahan dari

labu kuning (Setijo, 2009).

Kerupuk merupakan makanan kudapan yang bersifat kering,

ringan, dan porus, mudah cara pembuatannya, beragam warna dan rasa,

disukai oleh segala lapisan usia. Dengan adanya pemanfataan labu kuning

menjadi kerupuk secara tidak langsung dapat membantu masyarakat

khususnya petani untuk meningkatkan penghasilan dan juga

pembudidayaan labu kuning dapat ditingkatkan secara intensif, selain itu

kandungan gizi yang terdapat di labu kuning dapat menambah asupan gizi

dari labu kuning. Diharapakan dengan adanya pembuatan kerupuk labu

kuning ini dapat menjadi salah satu wirausaha baik bagi mahasiswa

ataupun masyarakat untuk mendapatkan keuntungan sehingga dapat

meningkatkan taraf hidup (Hermianti, 2010).

Kerupuk labu kuning adalah produk makanan kering yang dibuat

dari daging buah labu kuning, tepung tapioka, tepung terigu, bawang

putih, garam dan penyedap rasa. Pembuatan kerupuk labu kuning yaitu

labu kuning dikukus lalu dihancurkan dicampur dengan tapioka, terigu,

bawang putih, garam dan penyedap rasa, diaduk dan diuleni kemudian

adonan dibungkus dengan plastik lalu dikukus, setelah adonan matang

kemudian didinginkan dan dimasukkan dalam freezer kemudian diiris

tipis, lalu dikeringkan dan di goreng dulu sebelum dikonsumsi.

Adapun jenis-jenis kerupuk yang beredar dipasaran berdasarkan

bahan baku yang digunakan selain tepung tapioka, adalah sebagai berikut:

(14)

putih, kerupuk bawang, kerupuk mlarat, kerupuk ikan, kerupuk sanjai,

kerupuk gendar, rengginang dan lain-lain. Hal tersebut menunjukkan

bahwa segala jenis kerupuk diterima masyarakat dengan baik. Dengan

pembuatan labu kuning menjadi kerupuk diharapkan masyarakat

menerima dan menyukai produk ini karena kerupuk disukai oleh segala

lapisan usia yang bisa untuk camilan atau pelengkap saat makan. Karena

kerupuk secara umum sudah banyak dipasaran, maka dengan adanya

inovasi kerupuk labu kuning yang baru ini mampu diterima dipasaran dan

dapat bersaing dengan berbagai macam kerupuk yang ada dipasaran.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana cara pengolahan labu kuning menjadi kerupuk?

2. Bagaimana penerimaan konsumen terhadap kerupuk labu kuning yang

meliputi warna, rasa, kerenyahan dan overall?

3. Berapa besar kadar air dan kadar beta karoten pada kerupuk labu

kuning?

4. Bagaimana analisis biaya pada proses produksi kerupuk labu kuning?

C. Tujuan

1. Mengetahui proses pengolahan kerupuk labu kuning.

2. Mengetahui kesukaan panelis terhadap produk kerupuk labu kuning.

3. Mengidentifikasi kadar air dan kadar beta karoten yang terdapat pada

kerupuk labu kuning.

4. Mengetahui analisis biaya pada pembuatan produk kerupuk labu

(15)

commit to user BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerupuk

1. Deskripsi Kerupuk

Kerupuk adalah bahan kering berupa lempengan tipis yang

terbuat dari adonan yang bahan utamanya adalah pati. Kerupuk

merupakan makanan kudapan yang bersifat kering, ringan, dan porous,

mudah cara pembuatannya, beragam warna dan rasa, disukai oleh

segala lapisan usia. Berbagai bahan berpati dapat diolah menjadi

kerupuk, diantaranya adalah ubi kayu, ubi jalar, beras, sagu, terigu,

tapioka dan talas. Pada umumnya pembuatan kerupuk adalah sebagai

berikut: bahan berpati dilumatkan bersama atau tanpa bumbu,

kemudian dimasak dan dicetak berupa lempengan tipis yang disebut

kerupuk kering. Sebelum dikonsumsi, kerupuk kering digoreng

terlebih dahulu (Kemal, 2001).

Menurut Muliawan (1991) kerupuk merupakan jenis makanan

ringan yang mengalami pengembangan volume, membentuk produk

yang berongga dan mempunyai densitas rendah. Proses pembuatan

kerupuk meliputi pencampuran bahan baku, pembuatan adonan,

pencetakan, pengukusan, pendinginan, pengirisan, pengeringan dan

penggorengan. Proses pengolahan kerupuk tersebut dapat

menyebabkan peningkatan kadar pati resisiten akibat perlakuan

pengolahan (pengukusan, pendinginan dan pengeringan).

Kerupuk labu kuning adalah produk makanan kering yang

dibuat dari daging buah labu kuning ditambah tepung tapioka, tepung

terigu, garam dan bahan tambahan, diaduk, diuleni, dibentuk, dikukus,

diiris tipis, dikeringkan dan di goreng sebelum dikonsumsi. Pembuatan

kerupuk labu kuning merupakan salah satu upaya diversifikasi produk

olahan dari labu kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

(16)

labu kuning 50%, hal ini sesuai dengan pra penelitian yang dilakukan

dimana jika melebihi maka adonan tidak dapat dibentuk karena labu

memiliki kandungan air yang tinggi yakni 93,32% sedangkan bila

dikurangi perlu penambahan air dan setelah diadon juga tidak bisa di

bentuk. Kerupuk labu kuning yang dihasilkan berwarna kuning khas

labu, dengan kadar air 11,80% dan setelah digoreng kadar air kerupuk

labu berkurang menjadi 5,15% serta mempunyai daya kembang 1,35

kali. Produk kerupuk labu kuning ini cukup disukai, dengan daya

simpan lebih dari 4 bulan (Hermianti, 2010).

Kerupuk labu kuning tidak ditambahkan bahan pengawet

karena akan mempengaruhi citarasa dan kualitas kerupuk labu kuning

itu sendiri. Salah satu tahapan proses produksi yang menjadi titik kritis

untuk bisa menghasilkan kerupuk labu kuning yang berkualitas adalah

pada proses pencetakan yang selama ini dilakukan secara manual

(Siti dkk, 2011).

2. Jenis-Jenis Kerupuk

Jenis kerupuk sangat beragam yang dibedakan dari penggunaan

bahan bakunya. Seperti namanya, kerupuk ikan merupakan kerupuk

yang berbahan baku ikan, kerupuk udang merupakan kerupuk yang

berbahan baku udang, kerupuk beras merupakan kerupuk yang

berbahan baku beras, kerupuk kulit merupakan kerupuk yang berbahan

baku kulit, dan kerupuk rambak merupakan kerupuk yang terbuat dari

bahan dasar tepung tapioka, tepung terigu, dan bumbu-bumbu. Jenis

kerupuk rambak ada dua, yaitu kerupuk rambak tapioka dan kerupuk

rambak kulit. Kerupuk rambak kulit adalah kerupuk yang tidak dibuat

dari adonan tapioka, melainkan dari kulit sapi atau kerbau yang

dikeringkan. Adapun jenis-jenis kerupuk yang beredar dipasaran

berdasarkan bahan baku yang digunakan selain tepung tapioka, adalah

(17)

commit to user

Kerupuk ikan, Kerupuk sanjai, Kerupuk gendar, Rengginang dan

lain-lain (Anonima, 2012).

3. Persyaratan Mutu Kerupuk

Walaupun jenis-jenis kerupuk banyak beredar dipasaran, akan

tetapi tidak semuanya telah memiliki SNI. Berdasarkan Standar

Nasional Indonesia yang dibuat oleh Badan Standardisasi Nasional,

1999. Syarat mutu gizi kerupuk dapat mengacu pada kerupuk ikan

yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Syarat Mutu Kerupuk Ikan

No Jenis Uji Satuan Persyaratan

1. Rasa dan aroma Khas kerupuk ikan

2. Serangga dalam bentuk stadia

dan potongan-potongan serta benda-benda asing

9. Bahan tambahan makanan Tidak ternyata atau

sesuai peraturan yang berlaku

10. Cemaran logam Timbal (Pb),Tembaga (Cu), Raksa (Hg)

Sesuai peraturan yang berlaku Atau tidak ternyata

11. Cemaran arsen (As) Sesuai peraturan yang

berlaku Atau tidak ternyata

(18)

B. Bahan Baku Pembuatan Kerupuk 1. Labu kuning

1.1 Tanaman Labu kuning

Waluh (Cucurbita) mencakup sekelompok tumbuhan

merambat anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae) penghasil

buah konsumsi berukuran besar bernama sama. Tumbuhan ini

berasal dari benua Amerika, tetapi sekarang menyebar di banyak

tempat yang memiliki iklim hangat. Waluh mencakup beberapa

spesies anggota genus Cucurbita, yaitu C. argyrosperma, C.

maxima, C. moschata, dan C. pepo. Dalam beberapa pengertian setempat di Indonesia, waluh disebut sebagai "labu" saja, meskipun

sebenarnya labu mencakup kelompok tanaman yang lebih luas,

seperti labu air, labu ular, labu siam, dan beligo. Waluh dibedakan

dari labu lainnya karena buahnya dimakan yang telah masak.

Sesuai namanya, labu kuning mempunyai warna kuning atau jingga

akibat kandungan karotenoidnya yang sangat tinggi, di samping

kaya akan karoten. Karoten (betakaroten) merupakan sumber

vitamin A. Di dalam tubuh karoten diubah menjadi vitamin A yang

penting untuk tubuh terutama pada masa pertumbuhan. Labu

kuning yang kaya betakaroten dapat menjadi bahan biofortifikasi

pada produk pangan olahan (Tim penyusun PS, 1995).

Klasifikasi ilmiah labu kuning :

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Cucurbitales

Familia : Cucurbitaceae

Genus : Cucurbita

(19)

commit to user

Nama umum atau nama dagangnya adalah Waluh. Kalau

nama dagang didaerah Sumatera adalah Labu Kuning (Melayu)

atau lebih di kenal dengan nama buah Perenggi, orang di Pulau

Jawa menyebutnya Waluh. Kalau di Negara Eropa menyebutnya

Pumpkin (Anonimb, 2012).

Waluh, salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan

sebagai pewarna pangan. Daging waluh mengandung zat pewarna

alami terutama kuning atau merah. Kandungan pewarna pada

daging waluh yang berumur tua lebih banyak dibanding pada

daging waluh yang masih muda. Daging waluh merupakan bagian

tanaman yang berguna sebagai sumber pewarna alami. Pewarna

waluh sangat nyata pada waluh yang berdaging kuning atau

kemerahan. Namun, tidak umum waluh diekstrak untuk

memperoleh warna tersebut. Pemanfaatan pewarna makanan dari

waluh ditempuh dengan cara mencampurkan daging waluh

kedalam bahan panagan yang akan diwarnai (Setijo, 2009).

1.2 Jenis- Jenis Labu kuning

Tanaman labu kuning berasal dari Ambon (Indonesia). Ada

lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita maxima

Duchenes, Cucurbita ficifolia Bouche, Cucurbita mixta, Cucurbita moschata Duchenes, dan Cucurbita pipo L. Kelima spesies cucurbita tersebut di Indonesia disebut labu kuning (waluh), karena

mempunyai ciri-ciri yang hampir sama.

Di Indonesia sudah terdapat beberapa jenis dan varietas

waluh antara lain varietas lokal dan beberapa varietas introduksi

dari berbagai negara seperti Taiwan, Jepang, dan lain-lain. Varietas

lokal yang sering ditanam oleh para petani adalah sebagai berikut:

a. Jenis bokor atau creme

Ciri-ciri buahnya adalah sebagai berikut: terdapat alur,

(20)

daging buah kuning, tebal, rasanya gurih, manis, berdaging

halus dan padat, beratnya dapat mencapai 4-5 kg atau lebih.

b. Jenis kelenting

Jenis waluh ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

buah berbentuk lonjong oval, memanjang, kulitnya berwarna

kuning, daging buah juga berwarna kuning, beratnya dapat

mencapai 2-5 kg/buah; sulurnya panjang (3-5 m), masa panen

antara 4,5-6 bulan.

c. Jenis ular

Waluh jenis ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

buahnya panjang ramping, warna daging buah kuning, beratnya

1-3 kg/buah; beberapa jenis waluh ular tertentu kadang-kadang

buahnya kasar dan rasanya tidak enak.

d. Jenis introduksi

Jenis waluh Taiwan, jenis waluh Hai Je Pi atau

Vegetable Speghetty Squashh, jenis waluh Australia dan

jepang, dan jenis waluh Amerika (Sudarto, 1990).

1.3 Biologi Tanaman Labu kuning

Secara biologi tanaman labu kuning dapat dijelaskan sebagai

berikut (Sudarto,1990) :

(21)

commit to user

a. Batang waluh

Batang waluh merambat atau menjalar, cukup kuat,

bercabang banyak, berbulu agak tajam, panjang batang dapat

mencapai 5-10 meter, bahkan di Amerika waluh musim dingin jenis

butternut dapat merambat sampai 500 meter.

b. Daun

Bentuk daun waluh menyirih, ujungnya agak runcing, tulang

daun tampak jelas, berbulu halus dan agak lembek sehingga bila

terkena sinar matahari agak layu. Waluh termasuk berdaun lebar,

garis tengahnya dapat mencapai 20 cm, berwarna hijau atau agak

abu-abu. Letak daun berselang-seling diantara batang; panjang

tangkai daun 15-20 cm.

c. Bunga

Bunga waluh berbentuk lonceng dan berwarna kuning. Bunga

waluh bersifat uniseksual-monoesius, yakni dalam satu rumpun

bunga terdapat bunga jantan dan bunga betina. Bakal buah terdapat

pada pangkal bunga betina, sedangkan pada bunga jantan tidak

terdapat bakal buah. bunga jantan mempunyai tangkai tipis tetapi

panjang. Bunga jantan biasanya muncul pertama kali sewaktu

tanaman berumur 1-1,5 bulan; kemudian disusul oleh bunga betina.

Jumlah bunga jantan lebih banyak daripada bunga bunga betina.

Penyerbukan bunga waluh dapat terjadi karena angin atau serangga.

Beberapa jenis waluh tertentu bunganya berumah satu, yakni dalam

satu bunga terdapat bunga jantan dan bunga betina.

d. Buah

Buah waluh terdiri dari lapisan kulit luar yang keras dan

lapisan daging buah yang merupakan tempat timbunan makanan.

Dalam daging buah inilah terkandung beberapa vitamin antaralain :

Vitamin C, Vitamin A dan Vitamin B. Buah waluh berwarna kuning,

keputih-putihan atau kuning kemerah-merahan; buah waluh yang

(22)

tergantung dari jenisnya: ada yang berbentuk bokor (bulat pipih dan

beralur), berbentuk oval,berbentuk panjang dan berbentuk piala.

e. Akar

Setelah biji waluh berkecambah akan keluar akar pertama dan

daun tunas, kemudian disusul dengan keluarnya akar-akar rambut

yang makin lama makin banyak. Panjang akar waluh dapat mencapai

40 cm atau radius 30-30cm.

1.4Sifat Kimiawi Labu kuning

Kandungan Kimia dalam tanaman buah labu kuning ini

adalah: Saponin, Flavanoida dan Tanin.

a. Saponin: menjadi sumber anti-bakteri dan anti-virus,

meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas,

mengurangi kadar gula dalam darah, mengurangi

penggumpalan darah.

b. Flavanoid: melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan

mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah,

mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi

penumbunan lemak pada dinding pembuluh darah, mengurangi

kadar resiko penyakit jantung koroner, mengandung

anti-inflamasi (anti-radang), berfungsi sebagai anti-oksidan,

membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau

pembengkakan.

c. Tanin: sebagai pengikat protein dan sebagai pelindung protein

dari degradasi mikroba rumen (Anonimc, 2012).

Salah satu faktor penting dari suatu tanaman pangan adalah

kandungan gizinya. Labu kuning termasuk salah satu jenis tanaman

makanan yang memiliki kandungan gizi cukup dan cukup lengkap.

(23)

commit to user

Tabel 2.2 Hasil Analisis Kadar Gizi Daging Buah Labu Kuning per

100 gr.

1.5Sifat Fisik Labu kuning

Adapun deskripsi Tanaman Labu kuning ini adalah:

a. Habtius : Semak, merambat, panjang ± 25 m

b. Batang : Berkayu, lunak, segi lima, berambut, berbuku-buku,

panjang ± 25 cm, hijau muda

c. Daun : Tunggal, bulal, bertangkai, tangkai berlubang, ujung

runcing, tepi berombak, pangkal membulat, berbulu, panjang

7-35 cm, lebar 6-30 cm, beralur, pertulangan menyirip, hijau

d. Bunga : Tunggal, di ketiak daun, bentuk corong, panjang + 15

cm, kuning, kelopak bentuk lonceng, pangkal berlekatan,

bertaju empat sampai enam, berambut, hijau pucat, mahkota

bentuk corong, bercangap lima, berbulu, beralur, kuning,

benang sari bentuk tabung, panjang 5-12,5 mm, kuning, putik

bersegi, panjang 1,5-2 cm, kepala putik terbagi dua sampai tiga,

tebal, putih kekuningan, kuning

e. Buah : Bulat, berdaging, diameter 25-35 cm, gundul, kuning

(24)

f. Biji : Keras, pipih, panjang ± 1,5 cm, lebar ± 5 mm, coktat

muda

g. Akar : Tunggang, bulat, berbintil-bintil, putih kotor

(Setijo, 2009).

2. Tepung Tapioka

Tepung tapioka adalah tepung yang diperoleh dari ubi kayu segar

(Manihot utilissima) setelah melalui cara pengolahan tertentu, dibersihkan dan dikeringkan. Pati merupakan komponen tapioka dan merupakan

senyawa yang tidak mempunyai rasa dan bau sehingga modifikasi tepung

tapioka mudah dilakukan. Tepung tapioka banyak digunakan sebagai

bahan baku dalam pembuatan berbagai jenis kerupuk, seperti kerupuk

udang dan kerupuk ikan. Alasan penggunaan tepung tapioka sebagai bahan

baku selain harganya murah dan mudah didapat, tepung tapioka juga

mempunyai daya ikat yang tinggi dan mempunyai struktur yang kuat

(Rusmono, 1983).

Pati mempunyai dua komponen utama, yaitu amilosa (fraksi

terlarut) dan amilopektin (fraksi tidak terlarut). Menurut Tahir (1985),

amilopektin merupakan salah satu komponen pati yang dapat

mempengaruhi daya kembang kerupuk. Kandungan amilopektin yang

lebih tinggi akan memberikan kecenderungan pengembangan kerupuk

yang lebih besar dibanding dengan kandungan amilosa tinggi. Dalam

proses pembuatan kerupuk dinyatakan berhasil adalah apabila kerupuk

ketika digoreng dapat mengembang dengan baik.

Dilihat dari nilai gizinya, tapioka merupakan sumber karbohidrat

dan energi yang sangat baik. Di lain pihak, tapioka mengandung sangat

sedikit protein dan lemak. Kandungan gizi tapioka per 100 gram dapat

(25)

commit to user

Tabel 2.3 Komposisi Zat Gizi per 100 g Tapioka

No Kandungan gizi Satuan

produk dipengaruhi oleh ratio amilosa dan amilopektin dari pati. Amilosa

cenderung mengurangi daya kembang dan meningkatkan densitas

kerupuk, sedangkan amilopektin berfungsi sebaliknya, yaitu meningkatkan

daya kembang dan menurunkan densitas kerupuk. Kandungan kimia

tepung tapioka dapat dilihat pada tabel 2.4

Tabel 2.4 Kandungan Kimia Tepung Tapioka

Parameter Komposisi (%)

Kadar Air 12,00

Kadar Lemak 0,30

Kadar Abu 0,30

Kadar Protein 0,50

Karbohidrat 86,90

Sumber: Departemen Kesehatan RI (1992)

Kualitas tapioka sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Warna tepung; tepung tapioka yang baik berwarna putih.

b. Kandungan air; tepung harus dijemur hingga kering sehingga

(26)

c. Banyaknya serat dan kotoran; usahakan agar banyaknya serat dan kayu

yang digunakan harus yang umurnya kurang dari 1 tahun karena serat

dan zat kayunya masih sedikit dan zat patinya masih banyak.

d. Tingkat kekentalan; usahakan daya rekat tapioka tetap tinggi. Untuk

ini hindari penggunaan air yang berlebih dalam proses produksi

(Radiyati, 1990).

Syarat mutu tepung tapioka dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Syarat Mutu Tepung Tapioka Berdasarkan SNI 01-2905-1992

Kriteria Mutu Satuan Persyaratan

Warna - Putih (khas tepung tapioka)

Bentuk - Serbuk

Bau - Normal

Benda asing - Tidak ada

Kadar Air % 17,5

Kadar lemak dan

kotoran maksimum % 0,7

Sumber : SNI 01-2905-1992

3. Tepung Terigu

Tepung terigu merupakan bahan tambahan dalam pembuatan

kerupuk. Presentase tepung terigu yang digunakan adalah 10% dari berat

total bahan yang digunakan. Tepung terigu ini ditambahkan dalam

pembuatan kerupuk yang bertujuan supaya kerupuk tidak lengket. Tepung

terigu mengandung banyak zat pati, yaitu karbohidrat kompleks yang tidak

larut dalam air. Tepung terigu juga mengandung protein dalam bentuk

gluten, yang berperan dalam menentukan kekenyalan makanan yang

terbuat dari bahan terigu (Cahyo, 2006).

Protein dalam gandum yang berupa gliadin dan glutenin membantu

proses pengikatan air dalam adonan kerupuk. Dengan demikian

penambahan tepung gandum dalam pembuatan kerupuk akan

meningkatkan kadar air adonan, sehingga akan mempengaruhi proses

(27)

commit to user

Secara umum komposisi kimia yang terkandung dalam tepung

terigu dapat dilihat pada Tabel 2.6

Tabel 2.6 Komposisi Kimia Dalam Tepung Terigu

Zat gizi Kadar

Sumber : Food Composition Tables, FAO 1949 dalam Sediaoetama, 1989.

Di pasaran banyak beredar jenis tepung terigu yang masing-masing

memiliki karakteristik dan fungsi berlainan. Jenis tepung terigu yaitu:

a. Hard Wheat (Terigu Protein Tinggi).

Tepung ini diperoleh dari gandum keras (hard wheat).

Kandungan proteinnya 11-13%, sifatnya mudah dicampur,

difermentasikan, daya serap airnya tinggi, elastis dan mudah digiling.

b. Medium Wheat (Terigu Protein Sedang).

Jenis terigu medium wheat mengandung 10%-11%. Dibuat dari

campuran tepung terigu hard wheat dan soft wheat sehingga

karakteristiknya diantara kedua jenis tepung tersebut.

c. Soft Wheat (Terigu Protein Rendah).

Tepung ini dibuat dari gandum lunak dengan kandungan

protein gluten 8%-9%. Sifatnya, memiliki daya serap air yang rendah

sehingga akan menghasilkan adonan yang sukar diuleni, tidak elastis,

lengket dan daya pengembangannya rendah.

d. Self Raising Flour

Jenis tepung terigu yang sudah ditambahkan bahan

(28)

stabil dan tidak perlu menambahkan pengembang lagi ke dalam

adonan.

e. Enriched Flour

Adalah tepung terigu yang disubstitusi dengan beragam vitamin

atau mineral dengan tujuan memperbaiki nilai gizi terkandung.

Biasanya harganya relatif lebih mahal.

f. Whole Meal Flour

Tepung ini biasanya dibuat dari biji gandum utuh termasuk

dedak dan lembaganya sehingga warna tepung lebih gelap/cream

(Anonime, 2012).

Syarat mutu Tepung terigu yang digunakan dalam pembuatan

bahan pangan memiliki beberapa persyaratan sesuai SNI 01-2974-1992

yang dapat dilihat pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7. Standarisasi Tepung Terigu Dalam Bahan Pangan

Jenis Uji Satuan Persyaratan

Keadaan :

Normal (bebas dari bau asing) Normal (bebas dari bau asing)

Putih khas terigu

Keasaman mgKOH/100 gr Maksimal 50/100 gr

Besi (Fe) mg/kg Minimal 50

Zeng (Zn) mg/kg Minimal 30

Vitamin B1

(Thiamin) mg/kg Minimal 2,5

Vitamin B2

(Riboflavin) mg/kg Minimal 4

(29)

commit to user C. Bahan Tambahan Pembuatan Kerupuk

1. Bawang Putih

Bawang putih berfungsi sebagai penambah aroma dan untuk

meningkatkan cita rasa produk yang dihasilkan. Bawang putih

merupakan bahan alami yang biasa ditambahkan ke dalam bahan

makanan atau produk sehingga diperoleh aroma yang khas guna

meningkatkan selera makan (Pangkulun dan Budhiarti, 1992).

Menurut Djumali dkk. (1982), bumbu yang digunakan dalam

pembuatan kerupuk berfungsi untuk memperbaiki dan menambah cita

rasa kerupuk. Bumbu yang digunakan antara lain bawang merah,

bawang putih, ketumbar dan sebagainya tergantung dari cita rasa yang

diinginkan.

Menurut Sugito (1992) bawang putih termasuk tanaman

rempah yang bernilai ekonomi tinggi karena memiliki beragam

manfaat. Manfaat utama bawang putih adalah sebagai bumbu

penyedap masakan sehingga menimbulkan aroma dan mengundang

selera. Di dalam bawang putih terkandung banyak zat kimia yang

bermanfaat. Komposisi yang terkandung pada bawang putih dapat

dilihat pada Tabel 2.8.

Tabel 2.8. Komposisi Kimia Bawang Putih per 100 gram

Kandungan Jumlah

Air 66-71 gr

Energi 95-122 kal

Protein 4-7 gr

Lemak 0,2-0,3 gr

Karbohidrat 23-24 gr

Ca 26-42 mg

P 15-109 mg

K 346 mg

(30)

Syarat mutu bawang putih dapat dilihat pada tabel 2.9.

Tabel 2.9. Syarat Mutu Bawang Putih (SNI 01-3160-1992)

Karakteristik Syarat Cara pengujian

Mutu I Mutu II

Kesamaan sifat varietas seragam seragam organoleptik

Tingkat ketuaan tua tua organoleptik

Kekompakan siung kompak kurang kompak organoleptik

Kebernasan siung bernas kurang bernas organoleptik

Kekeringan kering

Diameter minimum, cm 3,0 2,5

SP-SMP-309-1981

Kotoran tidak ada tidak ada organoleptik

Sumber : SNI 01-3160-1992

Keterangan :

Kesamaan sifat varietas : kesamaan sifat varietas dinyatakan

seragam apabila terdapat keseragaman

bentuk umum umbi (bulat, bulat pipih)

Tingkat ketuaan : bawang putih dinyatakan tua apabila telah

mencapai kematangan fisiologis, dimana

bawang putih padat, tidak lunak dan tidak

keriput.

Kekompakan siung : bawang putih dinyatakan kompak apabila

siung-siung tidak menyebar, akan tetapi

saling menempel rapat satu sama lain pada

seluruh panjang siung. Bawang putih

dinyatakan kurang kompak apabila

siung-siung dalam umbi agak menyebar dan

(31)

commit to user

Kebernasan siung : bawang putih dinyatakan bernas apabila

tiap siung berisi cukup padat dan tidak

keriput. Bawang putih dinyatakan kurang

bernas apabila siung berisi kurang padat,

tidak keriput.

Kekeringan : bawang putih dinyatakan kering simpan

apabila telah cukup kering adalah mudah

terkelupasnya kulit luar.

Kulit luar pembungkus umbi : kulit luar pembungkus umbi dinyatakan

sempurna menutup umbi apabila sebagian

besar umbi terlihat terbungkus kulit luar

secara sempurna. Kulit luar pembungkus

umbi dinyatakan kurang sempurna

menutupi umbi apabila sebagian besar umbi

terlihat terbungkus kulit luar secara tidak

sempurna.

Kerusakan : bawang putih dinyatakan rusak apabila

mengalami kerusakan atau cacat oleh sebab

fisiologis, mekanis dan lain-lain yang

terlihat pada permukaan umbi.

Busuk : bawang putih dinyatakan busuk apabila

mengalami pembusukan akibat kerusakan

biologis.

Diameter : yang dimaksud diameter adalah dimensi

terbesar diukur tegak lurus pada garis lurus

sepanjang batang sampai akar.

Kotoran : kotoran dinyatakan tidak ada apabila tidak

terdapat kotoran atau benda asing lainnya

yang menempel pada bawang putih atau

berada dalam kemasan, yang

(32)

penyekat/ pembungkus tidak dianggap

sebagai kotoran.

2. Garam

Garam merupakan salah satu bahan yang paling penting dalam

proses pembuatan kerupuk. Fungsi penambahan garam dalam adonan

adalah sebagai penambah cita rasa dan mempertahankan struktur

adonan yang akan menentukan kualitas produk. Penambahan garam

pada konsentrasi tertentu berfungsi sebagai penambah cita rasa pada

pangan. Pemberian garam sangat penting karena garam berperan

terutama untuk efek rasa, disamping itu juga untuk meningkatkan

adonan (Soeparno, 1992).

Menurut Hudaya dan Daradjat (1980) dalam industri makanan,

fungsi utama dari garam adalah sebagai pemberi rasa. Kualifikasi mutu

garam adalah :

a) Bersih (bebas dari bahan-bahan yang tidak dapat larut)

b) Bebas dari zat kimia

c) Halus dan tidak bergumpal-gumpal

d) Cepat larut

Garam sebagai bahan tambahan makanan berperan untuk

menambah cita rasa produk akhir. Garam mempengaruhi aktivitas air

dari bahan dengan menyerap air sehingga aktivitas air menurun dengan

menurunnya kadar air. Konsentrasi rendah (1-3%) garam tidak bersifat

membunuh mikroorganisme, tetapi hanya sebagai bumbu yang dapat

memberi cita rasa gurih pada bahan pangan. Pertama-tama garam akan

berperan sebagai penghambat selektif pada mikroorganisme pencemar

tertentu. Mikroorganisme pembusuk atau proteolitik dan juga

pembentuk spora adalah yang paling mudah terpengaruh walau dengan

(33)

commit to user

Streptococcus aureus dapat dihambat dengan konsentrasi garam 10-12% (Buckle, et al, 1987).

Syarat mutu garam konsumsi dapat dilihat pada Tabel 2.10

Tabel 2.10. Syarat Mutu Garam Konsumsi (SNI 01-4076-1999)

No. Jenis Uji Syarat

5 Kalsium dan magnesium

sebagai Ca

8 Logam-logam berbahaya

(Pb, Hg, Cu, dan As)

Mutu I : Garam konsumsi yang beryodium Mutu II : Garam konsumsi yang tidak beryodium

3. Penyedap Rasa

Bumbu penyedap rasa telah banyak digunakan pada proses

pemasakan, telah menjadi bagian dari gaya hidup saat ini yang

menuntut kepraktisan dalam memasak. Bumbu penyedap rasa adalah

produk bubuk atau blok atau kubus yang mengandung ekstrak tertentu,

daging sapi (SNI 01-4273-1996) atau ayam, dengan penambahan

bahan makanan lain dan atau tanpa bahan tambahan makanan lain

yang diizinkan. Bumbu penyedap rasa ini dapat memperkaya rasa

suatu makanan sehingga nilai penerimaan makanan dapat menjadi

lebih baik. Syarat mutu bumbu penyedap rasa menurut SNI

(34)

Tabel 2.11. Syarat Mutu Bumbu Penyedap Rasa Ayam (SNI

01-4273-Karakteristik bahan baku bumbu penyedap rasa, bahan baku

yang terdapat pada bumbu penyedap rasa ayam dan sapi secara umum

adalah garam, gula, lemak nabati, MSG, flavour, lada, bawang, seledri,

kunyit, penguat rasa, zat pewarna (ayam) dan anti-gumpal (sapi).

Menurut Cahyadi (2006), tujuan penggunaan penyedap rasa

dalam pengolahan pangan adalah sebagai berikut:

a) Mengubah aroma hasil olahan dengan penambahan aroma tertentu

selama pengolahan.

b) Modifikasi, pelengkap atau penguat aroma.

c) Menutupi atau menyembunyikan aroma bahan pangan yang tidak

disukai.

d) Membentuk aroma baru atau menetralisir bila bergabung dengan

komponen dalam bahan pangan.

Penyedap rasa digunakan untuk menambah rasa nikmat pada

masakan yang diolah. Bahan ini juga bisa menekan rasa yang tidak

diinginkan dari suatu bahan makanan. Penyedap rasa dan aroma serta

penguat rasa adalah bahan tambahan makanan yang dapat

memberikan, menambah atau mempertegas rasa dan aroma. Penyedap

rasa dan aroma digolongkan sebagai bahan alam dan sintetik

(35)

commit to user 4. Minyak Goreng

Di Indonesia standar mutu minyak goreng diatur dalam SNI

01-3741-1995 dapat dilihat pada Tabel 2.12.

Tabel 2.12. Standar Nasional Indonesia Minyak Goreng

No Kriteria Uji Persyaratan

1 Bau Normal

Minyak goreng merupakan kebutuhan masyarakat yang saat ini

harganya masih cukup mahal, akibatnya minyak goreng digunakan

berkali-kali untuk menggoreng, terutama dilakukan oleh penjual

makanan gorengan. Secara ilmiah minyak goreng yang telah

digunakan berkali-kali, lebih-lebih dengan pemanasan tinggi sangatlah

tidak sehat, karena minyak tersebut asam lemaknya lepas dari

trigliserida sehingga jika asam lemak bebas mengandung ikatan

rangkap mudah sekali teroksidasi menjadi aldehid maupun keton yang

menyebabkan bau tengik. Minyak goreng selain berfungsi sebagai

medium penghantar panas juga dapat menambah rasa gurih,

(36)

waktu penggorengan berbeda untuk setiap bahan, kondisi dan

perlakuan (Ketaren,1986).

Penggunaan minyak goreng dengan suhu tinggi akan

mengalami kerusakan yaitu makanan menjadi gosong, sehingga

rasanya pahit dan minyak yang digunakan untuk menggoreng menjadi

berwarna hitam, akibatnya makanan yang digoreng dengan minyak

tersebut di tenggorokan terasa gatal (Buckle, et al, 1987).

D. Pengemas

Pengemas disebut juga pembungkus, pewadahan atau pengepakan.

Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau

mengurangi, melindungi bahan pangan atau produk yang ada didalamnya,

dan melindungi bahaya pencemaran serta bahaya fisik (gesekan benturan,

dan getaran). Pengemasan juga berfungsi untuk menempatkan suatu hasil

pengolahan atau produk industri supaya mempunyai bentuk yang

memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi. Kemasan

juga sebagai alat promosi dan media informasi (Syarif dkk, 1993).

Fungsi-fungsi suatu kemasan. Pengemasan bahan pangan harus

memperlihatkan lima fungsi-fungsi utama :

a. Harus dapat mempertahankan produk agar bersih dan memberikan

perlindungan terhadap kotoran dan pencemaran lainnya.

b. Harus memberi perlindungan pada bahan pangan terhadap kerusakan

fisik, air, oksigen dan sinar.

c. Harus berfungsi secara benar, efisien dan ekonomis dalam proses

pengepakan yaitu selama pemasukan bahan pangan kedalam kemasan.

d. Harus mempunyai suatu tingkat kemudahan untuk dibentuk menurut

rancangan, dimana bukan saja memberi kemudahan pada konsumen

misalnya kemudahan dalam membuka dan menutup kembali wadah

(37)

commit to user

e. Harus memberi pengenalan, keterangan dan daya tarik penjualan.

Unit-unit pengepakan yang dijual harus dapat menjual apa yang dilindungi

nya dan melindungi yang dijual (Buckle et.al., 1987).

Jenis pengemas pada umumnya dapat dibagi menjadi dua macam,

antara lain yaitu (Suyitno,1990):

1. Pengemas primer

Pengemas primer merupakan pengemas yang paling sederhana

jika dibandingkan dengan pengemas lainya dan tidak memakan banyak

biaya. Pada umumnya pengemas primer ini akan langsung

berhubungan dengan bahan atau produknya. Oleh karena itu pengemas

primer haruslah terjaga kebersihanya. Oleh karena itu pencemaran

mikroorganisme dapat dikurangi. Untuk pengemasan manisan biasanya

menggunakan plastik Polyetilen dengan jenis LDPE (Low Density

Polyethylene) dengan ketebalan plastik 0,025-0,06 mm dan dilakukan

pengemasan secara vakum sehingga udara dalam kemasan berkurang,

dan aktivitas mikroorganisme dapat terhambat.

2. Pengemas sekunder

Pengemas sekunder merupakan pengemasan yang terdiri dari

dua lapisan atau dua kemasan. Biasanya pengemas sekunder ini tidak

langsung berhubungan dengan bahan baku atau produk, sehingga

tingkat kontaminasi yang ditimbulkan pun juga ikut berkurang. Untuk

produk manisan kering biasanya menggunakan kardus yang

sebelumnya telah dibungkus plastik sebagai kemasan primer yang

dapat melindungi produk dari kerusakan fisik.

Label makanan adalah informasi identitas/ “jati diri” dari produk

yang menjadi hak milik perusahaan sebagai alat komunikasi tertulis pihak

produsen dengan pihak konsumen dalam melakukan pelayanan jaminan

(38)

konsumen mempunyai sarana untuk memberi penilaian sekaligus

menjatuhkan sanksi bagi produk-produk yang tidak memenuhi syarat.

Dengan pelabelan, baik produsen maupun konsumen dilatih untuk

masuk dalam system yang secara langsung atau tidak langsung akan

melibatkan adanya pengendalian mutu sekaligus penjagaan terhadap

keamanan pangan. Pada masyarakat kita masih masih tumbuh subur

budaya “malas baca” sehingga jarang kita lihat konsumen dari

masayarakat kebanyakan menaruh perhatian pada label-label dari produk

yang dibeli. Pada label mengandung informasi tentang : logo perusahaan ,

nama produk, daftar nama bahan yang digunakan dalam produk, nilai gizi ,

jumlah “neto” berat benda yang ada di dalam kemasan, nomor daftar di

Departemen terkait, misalnya sertifikat halal, tanggal kadaluarsa, petunjuk

penggunaan, cara penyimpanan, alamat layanan konsumen dan alamat

perusahaan dicantumkan dengan jelas dan benar (Anonimf, 2012).

E. Analisis Sensoris

Uji organoleptik adalah pengujian yang dilakukan untuk

memberikan penilaian terhadap suatu produk, dengan mengandalkan

panca indra. Panelis adalah kelompok yang memberikan penilaian

terhadap suatu produk, dibedakan menjadi lima yaitu panelis perorangan,

panelis terbatas, panelis terlatih (7-15 orang), panelis setengah terlatih

(15-25 orang) dan panelis tidak terlatih ((15-25 orang). Beberapa faktor yang harus

diperhatikan dalam melaksanakan uji organoleptik adalah fisiologi

(keadaan fisik panelis), psikologi (perasaan panelis) dan kondisi

lingkungan saat pengujian. Dalam pelaksanaannya, digunakan uji hedonik

dimana panelis tidak terlatih diminta memberikan penilaian dalam skala

yang menunjukkan tingkat dari sangat tidak suka sekali sampai sangat

suka sekali untuk respon rasa. Sedangkan panelis setengah terlatih

memberikan penilaian dari tingkat sangat tidak mengembang sekali

(39)

commit to user

Uji kesukaan pada dasarnya merupakan pengujian yang panelisnya

mengemukakan responnya yang berupa senang tidaknya terhadap sifat

bahan yang diuji. Pada pengujian ini digunakan panelis yang belum

terlatih. Panelis diminta untuk mengemukakan pendapatnya secara

spontan, tanpa membandingkan dengan sampel standar atau

sampel-sampel yang diuji sebelumnya. Dalam tipe uji scoring panelis diminta

untuk menilai penampilan sampel berdasarkan intensitas atribut atau sifat

yang dinilai. Panelis harus paham mengurutkan intensitas sifat yang

dinilai.oleh karena itu dalam pengujian ini digunakan panelis yang terpilih

dan terlatih. Tipe pengujian ini sering digunakan untuk menilai mutu

bahan dan intensitas sifat tertentu, misalnya kemanisan, kekerasan, dan

warna (Kartika, 1988).

Metode uji kesukaan atau uji penerimaan juga disebut acceptance

test atau preference test. Uji penerimaan menyangkut penilaian seseorang akan suatu sifat atau kualitas suatu bahan yang menyebabkan orang

menyenangi. Jika pada uji pembedaan panelis mengemukakan kesan akan

adanya perbedaan tanpa disertai kesan senang atau tidak maka pada uji

pemilihan panelis mengemukakan tanggapan pribadi adalah kesan yang

berhubungan dengan kesukaan atau tanggapan senang atau tidaknya

terhadap sifat sensori atau kualitas yang dinilai. Misalnya, kesan gurih dan

renyah pada kerupuk, kesan halus pada permukaan kertas adalah

berhubungan dengan sifat-sifat yang disenangi. Sebaliknya rasa hambar,

terlalu asin dan liat pada daging berkaitan dengan sifat-sifat yang tidak

disukai (Soekarto, 1985).

Waktu pengujian sebaiknya dilakukan pada saat calon-calon

panelis tersebut dalam kondisi tidak lapar dan tidak kenyang, karena dalam

kondisi demikian calon-calon tersebut kepekaannya terhadap sifat

inderawi menurun. Jumlah penilai untuk uji kesukaan sekurang-kurangnya

adalah 30 orang. Makin banyak penilainnya, makin cermat pula hasil

(40)

Uji scoring atau uji skor berfungsi untuk menilai suatu sifat

organoleptik yang spesifik, selain itu uji scoring dapat juga digunakan

untuk menilai sifat hedoni atau sifat mutu hedonic. Pada uji scoring

diberikan penilaian terhadap mutu sensorik dalam suatu jenjang mutu.

Tujuan uji ii adalaah pemberian suatu nilai atau scor tertentu terhadap

suatu karakteristik mutu. Pemberian skor dapat dikaitkan dengan skala

hedonic yang jumlah skalanya tergantung pada tingkat kelas yang

dikehendaki (Rahayu, 2001).

F. Analisis kimia

1. Kadar Air

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam

bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga merupakan

karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat

mempengaruhi kenampakan, tekstur, dan rasa bahan pangan. Kadar air

dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan

pangan tersebut. Kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya

bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembangbiak, sehingga akan

terjadi perubahan pada bahan pangan. Makin rendah kadar air, makin

lambat pertumbuhan mikroorganisme dan bahan pangan tersebut dapat

tahan lama. Sebaliknya makin tinggi kadar air dalam bahan, makin

cepat mikroorganisme berkembangbiak sehingga proses

pembusukanakan berlangsung lebih cepat (Winarno, 2002).

2. Kadar Beta karoten

Betakaroten merupakan senyawa pigmen berwarna kuning atau

oranye yang bersifat larut dalam lemak, tidak larut dalam air, mudah

rusak karena teroksidasi pada suhu tinggi, dan menjadi penyusun

vitamin A. Betakaroten berfungsi sebagai antioksidan, penting dalam

pembentukan vitamin A, untuk pertumbuhan sel-sel epitel tubuh,

(41)

commit to user

buah berwarna kuning atau oranye seperti wortel, ubi, labu kuning,

jagung, dan sayuran berwarna kuning yang tertutup warna hijau

klorofil (AOAC, 1992).

G. Analisis Kelayakan Usaha

Analisis kelayakan usaha bertujuan untuk menentukan kalayakan

suatu usaha, baik dari segi teknik, ekonomi, maupun finansial. Analisis

ekonomi bertujuan mengetahui apakah usaha yang dijalankan dapat

memberikan keuntungan atau tidak. Analisis finansial menitikberatkan

kepada aspek keuangan berupa lalu lintas uang (cash flow) yang terjadi

selama usaha dijalankan. Analisis ekonomi yang dilakukan meliputi

perhitungan biaya produksi, harga pokok penjualan, serta kriteria

kelayakan usaha.

1. Biaya Produksi

Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan selama usaha

dijalankan, yang dibedakan atas biaya tetap dan biaya tidak tetap.

a. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap adalah biaya yang tetap dikeluarkan meskipun

perusahaan tidak melakukan proses produksi. Biaya tetap terdiri

atas biaya usaha, biaya penyusutan alat, amortisasi, pajak dan

asuransi dan dana sosial.

b. Biaya Tidak Tetap/Variabel (Variabel Cost)

Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan hanya

jika melakukan proses produksi. Biaya variabel terdiri dari biaya,

biaya bahan baku dan bahan pembantu, biaya kemasan, biaya

bahan bakar/energi, biaya perawatan dan perbaikan.

2. Harga Pokok Penjualan

Harga pokok penjualan adalah harga terendah dari produk yang

tidak mengakibatkan kerugian bagi produsen. Harga pokok penjualan

(42)

Harga Pokok Penjualan (HPP) =

3. Analisis Rugi/ Laba

Analisis laba rugi adalah suatu analisa keuangan yang

meringkas penerimaan dan pengeluaran suatu perusahaan selama

periode akutansi. Jadi merupakan suatu analisis yang menunjukkan

hasil-hasil operasi perusahaan selain periode tersebut. Pendapatan,

netto atau laba adalah apa yang tersisa setelah dikurangkan dengan

pengurangan-pengurangan yang timbul didalam memproduksi barang

dan jasa atau dari penerimaan yang diperoleh dengan penerimaan

menjual barang dan jasa tersebut. Dengan kata lain, laba = penerimaan

– pengeluaran.

4. Kriteria Kelayakan Usaha

Kriteria kelayakan investasi yang digunakan adalah break event

point (BEP), Return On Investment (ROI), net benefit cost (Net B/C),

dan pay back period (PBP).

a. Break event point (BEP)

BEP digunakan untuk menentukan besarnya volume

penjualan yaitu perusahaan tersebut sudah dapat menutup semua

biaya-biaya tanpa mengalami kerugian maupun keuntungan. BEP

adalah suatu titik kesinambungan pada titik tersebut jumlah hasil

penjualan sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan atau

perusahaan tersebut tidak mengalami laba atau rugi. Jika penjualan

berjumlah kurang daripada jumlah yang ditunjukkan oleh titik ini,

maka akan diperoleh kerugian bersih (Astawan, 1999).

(43)

commit to user

b. Return On Investment (ROI)

Return On Investment (ROI) adalah perbandingan antara

besarnya laba per tahun dengan besarnya modal, yang dinyatakan

ROI dapat dihitung berdasarkan laba kotor yaitu selisih

antara hasil penjualan dengan biaya produksi keseluruhan (belum

dikurangi pajak pendapatan) atau berdasarkan laba bersih yaitu

laba dikurangi pajak pendapatan. Demikian juga dengan besarnya

modal dapat dinyatakan sebagai modal tetap atau modal

keseluruhan modal tetap ditambah modal kerja (Sutanto, 1994).

c. Net Benefit Cost Net B/C

Untuk mengkaji kelayakan proyek sering digunakan pula

kriteria yang disebut benefit cost ratio-BCR. Penggunaannya

dikenal dalam mengevaluasi proyek-proyek untuk kepentingan

umum atau sektor publik. Meskipun penekanannya ditujukan

kepada manfaat bagi kepentingan umum dan bukan keuntungan

finansial perusahaan, namun bukan berarti perusahaan swasta

mengabaikan kriteria ini (Gittinger, 1986).

Benefit Cost Ratio (BCR) adalah nilai perbandingan antara pendapatan dan biaya. Jika nilai B/C lebih besar dari 1 maka

perusahaan memenuhi salah satu kriteria untuk dikatakan layak.

Jika nilai B/C lebih kecil dari 1 maka perusahaan tidak layak

berdiri (rugi). Jika nilai B/C = 1 maka perusahaan berada dalam

keadaan impas (Astawan, 2006).

(44)

Nilai tersebut dapat berupa persentase maupun waktu (baik tahun

maupun bulan). Pay back periode tersebut harus lebih (<) dari nilai

ekonomis proyek. Untuk industri pertanian diharapkan nilai

tersebut lebih kecil 10 tahun atau sedapat mungkin kurang dari

lima tahun. Rumus PBP adalah sebagai berikut (Sutanto, 1994).

Ab

e. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return (IRR) adalah suatu tingkat bunga yang menggambarkan bahwa antara benefit (penerimaan) yang

telah dipresent valuekan dan cost (pengeluaran) yang telah

dipresent valuekan sama dengan nol. Dengan demikian IRR ini

menunjukkan kemampuan suatu proyek untuk menghasilkan suatu

returns, atau tingkat keuntungan yang akan dicapai oleh proyek

tersebut. IRR akan selalu mendekati besarnya (i) sehingga sering

dijadikan pedoman tingkat bunga yang berlaku (i).

Berdasarkan kriteria investasi IRR, suatu proyek akan

dipilih apabila IRR ≥ social discount rate, sedangkan IRR kurang

dari social discount rate maka proyek tersebut akan ditolak.

(45)

commit to user BAB III

METODE PELAKSANAAN

A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pelaksanaan Praktek Produksi Kerupuk Labu Kuning ini dilaksanakan

di Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian

Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Pelaksanaan praktek produksi

ini dilakukan pada Bulan April 2012.

B. Alat, Bahan dan Cara Kerja

Dalam sebuah kegiatan praktek produksi pembuatan kerupuk labu

kuning diperlukan beberapa alat, bahan, dan cara kerja. Berikut ini merupakan

alat, bahan, dan cara kerja yang digunakan dan dilakukan dalam praktek

produksi ini :

1. Alat

a. Alat yang di gunakan dalam Proses Produksi Pembuataan Kerupuk

Labu Kuning adalah kompor gas, panci, wajan, serok, pengaduk,

freezer, timbangan, cabinet dryer, baskom, solet, talenan, pisau, sendok, parut, plastik, karet gelang.

b. Alat yang digunakan untuk uji organoleptik adalah alat tulis dan

borang.

c. Alat yang digunakan untuk uji kadar beta karoten adalah tabung reaksi,

pipet, timbangan, vortex, sentrifugasi, kuvet, absorbansi.

d. Alat yang digunakan untuk uji kadar air adalah timbangan, labu

destilasi, alat destilasi khusus dengan penampung air yang menguap.

2. Bahan

a. Bahan yang digunakan dalam Proses Produksi Pembuataan Kerupuk

Labu Kuning adalah labu kuning, tepung tapioka, tepung terigu,

(46)

b. Bahan yang digunakan untuk uji organoleptik adalah kerupuk labu

kuning dengan tiga formulasi, yaitu kerupuk dengan labu kuning 250

gram (701), kerupuk dengan labu kuning 300 gram (802), dan kerupuk

dengan labu kuning 350 gram (903). Penetral (aqua).

c. Bahan yang digunakan untuk kadar uji beta karoten adalah sampel

kerupuk labu kuning goreng yang sudah dihaluskan, 5 ml etanol 95%,

5 ml petroleum eter, 5 ml lapisan jernih.

d. Bahan yang digunakan untuk uji kadar air adalah sampel kerupuk labu

kuning goreng yang sudah dihaluskan, xylene.

3. Cara Kerja

Proses pembuatan kerupuk labu kuning dapat dilihat pada Gambar

(47)

commit to user

Gambar 3.1 Diagram Alir Kuantitatif Proses Pembuatan Kerupuk Labu Kuning. Labu kuning

Pengupasan

Pemisahan biji

Pemotongan 2cm x 2cm

Penimbangan labu kuning 250 gr

Pencucian

Kulit

Biji

Pengukusan I (± 5 menit)

Penghancuran

Pembuatan adonan Pencampuran bahan

Tapioka 200 gr

Terigu 50 gr

Bawang putih 50 gr

Garam 2,5 gr

Penyedap rasa 7,5 gr

Pembungkusan adonan (plastik ukuran 80cm x 20cm)

Pengukusan II (± 30 menit)

Pendinginan (freezer ± 12 jam)

Pengirisan (ketebalan 1,5 mm)

Pengeringan

Penggorengan

(48)

300 gr

Pengupasan

Pemisahan biji

Pemotongan 2cm x 2cm

Penimbangan labu kuning 250 gr

Pencucian

Kulit 40 gr

Biji 10 gr

Pengukusan I (± 5 menit, 100oC )

Penghancuran

Pembuatan adonan Pencampuran bahan

Tapioka 200 gr

Terigu 50 gr

Bawang putih 50 gr

Garam 2,5 gr

Penyedap rasa 7,5 gr Pembungkusan adonan (plastik

ukuran 80cm x 20cm)

Pengukusan II (± 30 menit, 100oC)

Pendinginan (freezer ± 12 jam)

Pengirisan (ketebalan 1,5 mm)

Pengeringan (24 jam, 50oC)

Penggorengan ( 20 detik, 85oC)

Kerupuk labu kuning Air 1 liter

(49)

commit to user C. Analisis Produk

1. Analisis sensoris

Praktek produksi ini dibuat Kerupuk Labu Kuning dengan tiga

formulasi, berdasarkan komposisi penambahan labu kuning dapat dilihat

pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Formulasi Kerupuk Labu Kuning

Bahan Formulasi I Formulasi II Formulasi III

Labu kuning 250 gram 300 gram 250 gram

Tepung tapioka 200 gram 200 gram 200 gram

Tepung terigu 50 gram 50 gram 50 gram

Bawang putih 40 gram 40 gram 40 gram

Garam 2 gram 2 gram 2 gram

Penyedap rasa 7,5 gram 7,5 gram 7,5 gram

Keterangan :

Formulasi I: Kerupuk labu kuning dengan penambahan labu kuning 250 gr pada kode 701 Formulasi II: Kerupuk labu kuning dengan penambahan labu kuning 300 gr pada kode 802 Formulasi III: Kerupuk labu kuning dengan penambahan labu kuning 350 gr pada kode 903

Dilakukan analisis sensoris dengan menggunakan uji kesukaan

dengan parameter warna, rasa, kerenyahan dan overall. Uji Organoleptik

dengan membuat 3 formulasi yang berbeda ini bertujuan untuk memilih

yang terbaik berdasarkan penerimaan konsumen.

2. Analisis kimia

Pada kerupuk labu kuning ini dilakukan analisis kimia untuk

mengetahui kadar air dan kadar beta karoten dapat dilihat pada Tabel 3.2

Tabel 3.2 Metode Analisis Kimia

No Macam Uji Metode

1. Uji Kadar Air Destilasi (AOAC,1970)

2. Uji Kadar Beta Karoten Carr-Price (AOAC,1992)

(50)

D. Analisis Ekonomi

1. Biaya produksi

Total biaya produksi = total fixed cost + total variable cost

2. Biaya Perawatan Dan Perbaikan (Bpp)

alat

FPP = faktor perawatan dan perbaikan

3. Penyusutan/Depresiasi

NS : Biaya penyusutan

N : Jumlah bulan

4. Pajak Usaha

Pajak Usaha = 10% x laba kotor

5. Harga Pokok Penjualan

HPP=

Penjualan = Harga/unit x jumlah unit

7. Perhitungan Rugi Laba

Laba kotor = Penjualan-Biaya Pokok Produksi

Laba bersih = Laba Operasi – Pajak Usaha

FC : Fixed Cost (Biaya Tetap)

Gambar

Tabel 2.10. Syarat Mutu Garam Konsumsi (SNI 01-4076-1999) No.  Jenis Uji Syarat
Tabel 2.11. Syarat Mutu Bumbu Penyedap Rasa Ayam (SNI 01-4273-
Tabel 2.12. Standar Nasional Indonesia Minyak Goreng
Gambar 3.2 Diagram Alir Kualitatif Proses Pembuatan Kerupuk Labu Kuning. commit to user
+7

Referensi

Dokumen terkait

Nilai rata-rata kadar rendemen dengan perlakuan proporsi labu kuning: tepung tapioka dengan penambahan NaHCO 3 pada keripik simulasi labu kuning. Hasil analisa rendemen

Mengetahui pengaruh penggunaan tepung labu kuning sebagai bahan pensubstitusi tepung terigu terhadap tingkat pengembangan dan daya terima cake labu kuning. Mengukur

Pembuatan kerupuk ikan lele ini menggunakan tepung labu kuning ( Cucurbita.. maxima Duch) karena mempunyai kandungan -karoten yang

Perlakuan terbaik pada bolu kukus formulasi tepung mocaf dan tepung terigu dengan pure labu kuning yaitu tepung terigu 55 g dan tepung mocaf 5 g dengan pure labu kuning

Tepung labu kuning tidak hanya menjadi bahan tambahan dalam substitusi tepung terigu pada pembuatan roti tawar, namun tepung labu kuning dapat memfortifikasi roti

Pada perlakuan perbandingan P5 dengan komposisi perbandingan labu kuning dan tepung terigu sebesar (40% labu kuning : 60% tepung terigu) menghasilkan adonan kue

Hasil yang dicapai dalam produksi kerupuk labu kuning ini yaitu terciptanya produk cemilan baru yang enak dan bergizi, dan produk olahan ini juga sudah mengikuti pelatihan PIRT sehingga

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah formula biskuit labu kuning dengan perbandingan tepung labu kuning dan terigu berpengaruh terhadap kadar