45
BAB IV
KEMITRAAN ANTAR STAKEHOLDERS DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL KERAJINAN
IV.1. Pemetaan Stakeholders dalam Pengembangan Industri Kecil Kerajinan
Analisis stakeholders merupakan alat untuk memahami konteks sosial dan kelembagaan dari sebuah program atau kebijakan (McCracken, 1998 dalam Sayuti, 2003). Lebih lanjut dikatakan bahwa alat ini dapat menyediakan informasi awal dan mendasar tentang siapa yang akan terkena dampak dari suatu program (dampak positif maupun negatif); siapa yang dapat mempengaruhi program tersebut (positif maupun negatif); individu atau kelompok mana yang perlu dilibatkan dalam program tersebut, dan bagaimana caranya, serta kapasitas siapa yang perlu dibangun untuk memberdayakan mereka dalam berpartisipasi. Dengan demikian analisis stakeholders menyediakan sebuah landasan dan struktur untuk perencanaan partisipatif, implementasi dan monitoring. Dalam studi ini hasil dari analisis stakeholders digunakan untuk menentukan responden kunci yang akan dijadikan sebagai narasumber wawancara.
IV.1.1. Pengertian Stakeholders
Stakeholders adalah orang, kelompok atau institusi yang dikenai dampak dari sebuah intervensi program (baik posistif maupun negatif) atau pihak-pihak yang dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi hasil intervensi tersebut (McCracken,1998 dalam Sayuti, 2003). Stakeholders yang dimaksud sangat kompleks dan memungkinkan adanya stakeholders yang tersembunyi atau belum teridentifikasi. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis stakeholders secara menyeluruh.
Tahapan analisis stakeholders adalah sebagai berikut (McCracken, 1998 dalam Sayuti, 2003; Bank Dunia, 1998) :
1. Mengidentifikasi stakeholders yang terlibat melalui pertanyaan-pertanyaan berikut :
Siapa pihak-pihak yang berpotensi memperoleh manfaat ? Siapa pihak-pihak yang dirugikan ?
46
Apakah kelompok yang kemungkinan kalah sudah teridentifikasi ? Apakah pihak-pihak yang berlawanan sudah teridentifikasi ? Bagaimana hubungan antar stakeholders ?
2. Menganalisa kepentingan dan dampak potensial dari implementasi program atau kebijakan terhadap kepentingan masing-masing stakeholders :
Apa harapan stakeholders terhadap program ?
Apa saja keuntungan yang akan diperoleh stakeholders ?
Apa saja sumberdaya yang dapat dimobilisasi oleh stakeholders tersebut ? Apa saja kepentingan stakeholders yang menimbulkan konflik dengan
tujuan program?
3. Menilai tingkat pengaruh dan tingkat kepentingan (influence dan importance) masing-masing stakeholders. Influence adalah besarnya pengaruh stakeholders berkaitan dengan kemampuan atau kapasitas kontrol sumberdaya tertentu atau kekuatan (power) tertentu yang dapat mempengaruhi pelaksanaan kebijakan. Importance adalah derajat sejauh mana pencapaian hasil pelaksanaan program bergantung pada keterlibatan aktif suatu stakeholders tertentu.
Identifikasi stakeholders dapat diperoleh melalui informasi dari peraturan perundangan yang berlaku, dokumen rencana, media cetak dan survey primer. Berdasarkan sumber tersebut akan diperoleh daftar stakeholders beserta kepentingan, dampak kepentingan terhadap program, serta penilaian terhadap tingkat kepentingan (importance) dan pengaruh (influence) berdasarkan skala tertentu. Selanjutnya skala kepentingan dan pengaruh tersebut dipetakan berlawanan satu dengan yang lainnya. Berdasarkan pemetaan ini diperoleh stakeholders kunci dan stakeholders utama.
Stakeholders kunci adalah stakeholders yang berlaku sebagai critical player dan memiliki tingkat pengaruh dan kepentingan yang tinggi terhadap keefektifan program. Sementara itu, stakeholders utama merupakan stakeholders yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan, program dan proyek serta dinilai memiliki tingkat kepentingan yang tinggi tetapi pengaruhnya rendah sehingga perlu pemberdayaan. Stakeholders pendukung (sekunder) adalah stakeholders yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program dan proyek tetapi memiliki pengaruh
47
yang tinggi. Dapat juga dikatakan individu, kelompok maupun organisasi yang mempunyai pandangan atau posisi yang sama dan siap bergabung didalam suatu koalisi untuk mendukung isu tertentu. Dalam pemetaan stakeholders ini akan dicari stakeholders kunci yang kemudian dijadikan sebagai narasumber wawancara.
IV.1.2. Pemetaan Stakeholders
Dalam studi ini analisis stakeholders ditujukan untuk mengidentifikasi pelaku-pelaku yang terkait dalam pengembangan industri kecil kerajinan sebagai basis pengembangan ekonomi lokal. Hasil analisis stakeholders adalah teridentifikasinya responden kunci yang dijadikan sebagai narasumber wawancara. Sebagai langkah awal proses pengidentifikasian dilakukan dengan mengelompokkan stakeholders yang memiliki keterkaitan dalam pengembangan industri kecil yaitu :
1. Kelompok regulator (pemerintah)
Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi DIY
Dinas Perindustrian Perdaganagn dan Koperasi Gunungkidul UPT Balai Bisnis DIY
Dekranasda 2. Kelompok Swasta
Pedagang/Eksportir Asosiasi/Yayasan BUMN
3. Kelompok Industri Kecil Kerajinan
Pengrajin sentra industri kecil kerajinan Bobung Pengrajin sentra industri kecil ornamen batu Pengrajin sentra industri kecil kerajinan bambu 4. Kelompok Perguruan Tinggi dan LSM
Perguruan Tinggi di Gunungkidul Perguruan Tinggi di DIY
48
Tahap awal dari stakeholders analisis adalah mencari interest dan pengaruh (influence) setiap stakeholders. Untuk memperoleh kedua informasi tersebut diperoleh dari data-data sekunder (peraturan, studi, artikel yang terkait dengan PEL atau industri kecil). Berikut akan dijelaskan proses analisis stakeholders yang hasilnya digunakan sebagai responden untuk diwawancarai.
49
Tabel IV.1. INTEREST, KEPENTINGAN DAN PENGARUH STAKEHOLDERS DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL KERAJINAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL KELOMPOK STAKEHOLDERS INTEREST STAKEHOLDERS TERHADAP IKK
PENGARUH (INFLUENCE) STAKEHOLDERS TERHADAP IKK DAMPAK PROGRAM TERHADAP INTEREST (+) (0) (-) KEPENTINGAN (IMPORTANCE) STAKEHOLDERS KESUKSESAN PROGRAM 1 = little/no importance 2 = some importance 3 = moderate importance 4 = very importance 5 = critical player PENGARUH (INFLUENCE) STAKEHOLDERS TERHADAP PROGRAM 1 = little/no influence 2 = some influence 3 = moderate influence 4 = significant influence 5 = very influence
I. Kelompok Regulator (Pemerintah) Dinas Perindustrian Perdagangan
dan Koperasi DIY
Pengembangan industri kecil se DIY
Perumusan kebijakan pengembangan,implementasi program dan penyediaan fasilitas bagi industri se DIY
+ 4 4
Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Gunungkidul
Pengembangan industri kecil Gunungkidul
Perumusan kebijakan pengembangan,implementasi program,pendanaan dan penyediaan fasilitas bagi industri kecil menengah Gunungkidul
+ 5 5
UPT Balai Bisnis DIY Pengembangan Desain Promosi dan Pemasaran Konsultasi bisnis
Peningkatan kapasitas SDM Pengrajin
Pelayanan informasi dan konsultasi + 4 4
Dekranasda Pembinaan industri kecil
kerajinan
Pembinaan baik pelatihan keterampilan, teknis, desain dan SDM.
Fasilitasi aspek pemasaran
+ 4 4
II. Kelompok Swasta
Pedagang/Eksportir Kerjasama bisnis dengan orientasi profit
Pemasaran produk + 4 5
Asosiasi/Yayasan Kerjasama bisnis dengan orientasi profit Pembinaan industri kecil
Pemasaran produk kerajinan Penguatan modal
Pelatihan-pelatihan
+ 4 5
BUMN Misi pengembangan
usaha kecil
Ketersediaan kredit pengembangan usaha + 3 4
50 Lanjutan… KELOMPOK STAKEHOLDERS INTEREST STAKEHOLDERS TERHADAP IKK
PENGARUH (INFLUENCE) STAKEHOLDERS TERHADAP IKK DAMPAK PROGRAM TERHADAP INTEREST (+) (0) (-) KEPENTINGAN (IMPORTANCE) STAKEHOLDERS KESUKSESAN PROGRAM 1 = little/no importance 2 = some importance 3 = moderate importance 4 = very importance 5 = critical player PENGARUH (INFLUENCE) STAKEHOLDERS TERHADAP PROGRAM 1 = little/no influence 2 = some influence 3 = moderate influence 4 = significant influence 5 = very influence
III. Kelompok Industri Kecil Kerajinan Pengrajin Sentra Industri Kecil
Kerajinan Bobung
Peningkatan pendapatan dan skala usaha
Peningkatan jumlah unit usaha
Penyerapan tenaga kerja + 5 5
Pengrajin Sentra Industri Kecil Kerajinan Ornamen Batu
Peningkatan pendapatan dan skala usaha
Peningkatan jumlah unit usaha Penyerapan tenaga kerja
+ 5 5
Pengrajin Sentra Industri Kecil Kerajinan Bambu
Peningkatan pendapatan dan skala usaha
Peningkatan jumlah unit usaha Penyerapan tenaga kerja
+ 5 5
IV. Kelompok Perguruan Tinggi dan LSM
Perguruan Tinggi di DIY Penelitian dan pengembangan teknologi produksi
Peningkatan kapasitas SDM pengrajin
Pembinaan dan pelatihan-pelatihan bagi pengrajin + 3 3
Perguruan Tinggi di Gunungkidul
Penelitian dan pengembangan teknologi produksi
Peningkatan kapasitas SDM pengrajin
Pembinaan dan pelatihan-pelatihan bagi pengrajin + 3 3
LSM di Gunungkidul Lembaga pelayanan alternatif bagi industri kecil yang berfungsi sebagai perantara untuk menjembatani industri kecil dengan pemerintah dan swasta
Sangat berpotensi sebagai partner industri kecil Penelitian, pelatihan, konsultasi dan fasilitasi bagi
industri kecil
+ 3 3
51
Tabel IV.2. PEMETAAN STAKEHOLDERS BERDASARKAN PENGARUH (INFLUENCE) DAN KEPENTINGAN (IMPORTANCE)
INFLUENCE OF STAKEHOLDERS
IMPORTANCE OF ACTIVITY TO STAKEHOLDERS
Little/No Importance Some Importance Moderate Importance Very Importance Critical Player Little/No Influence
Some Influence
Moderate Influence Perguruan Tinggi dan
LSM
Significant Influence BUMN Disperindagkop DIY
UPT Balai Bisnis DIY Dekranasda
Very Influence Pedagang/Eksportir
Asosiasi/Yayasan
Disperindagkop Gunungkidul
Pengrajin Sentra IKK Bobung
Pengrajin Sentra IKK Ornamen Batu Pengrajin Sentra IKK
Bambu
Sumber : Hasil Analisis 2008
52
Berdasarkan hasil analisis stakeholders yang telah dilakukan diatas, diperoleh stakeholders kunci/utama yang nantinya menjadi narasumber wawancara (responden kunci).
Adapun narasumber tersebut secara rinci adalah :
- Stakeholders kunci/utama berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya pada pengembangan industri kecil
- Disperindagkop Kabupaten Gunungkidul
Sebagai dinas teknis yang bertanggungjawab pada pembinaan dan pengembangan industri kecil di Kabupaten Gunungkidul
- Pengrajin Sentra Industri Kecil Kerajinan Bobung - Pengrajin Sentra Industri Kecil Kerajinan Ornamen Batu - Pengrajin Sentra Industri Kecil Kerajinan Bambu
Pengrajin ketiga sentra industri kecil kerajinan ini sebagai pelaku usaha yang berperan dalam peningkatan perekonomian daerah melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
- Stakeholders pendukung berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya pada pengembangan industri kecil adalah :
- Pedagang/eksportir
Pelaku usaha yang berperan dalam pemasaran produk industri kecil - Asosiasi/Yayasan
Pelaku usaha yang berperan dalam pemasaran dan pembinaan industri kecil kerajinan
- Disperindagkop DIY
Dinas teknis yang berperan dalam pengembangan dan pembinaan industri se DIY
- UPT Balai Bisnis DIY
Unit pelaksana teknis yang berperan dalam memfasilitasi aspek pemasaran produk industri kecil se DIY
- Dekranasda
Lembaga yang khusus membina industri kecil kerajinan - BUMN
53
Lembaga perbankan dan usaha besar yang berperan dalam bantuan permodalan usaha dan pembinaan bagi usaha kecil
- Perguruan Tinggi dan LSM
Sebagai lembaga penelitian dan pengembangan yang dapat membantu usaha kecil dalam pengembangan teknologi produksi, sumberdaya manusia.
Pada penelitian ini stakeholders yang teridentifikasi menjadi narasumber wawancara kemudian disesuaikan dengan informasi dari stakeholders kunci/utama. Informasi dari masing-masing stakeholders ini digunakan untuk menganalisis pola kemitraan yang terjadi dalam pengembangan industri kecil kerajinan di Gunungkidul.
IV.2. Identifikasi Pola Kemitraan antar Stakeholders dalam Pengembangan Industri Kecil Kerajinan
Pola kemitraan yang diidentifikasi adalah pola kemitraan pada tiga sentra industri kecil kerajinan yaitu : sentra industri kecil kerajinan topeng dan batik kayu Bobung, sentra industri kecil kerajinan ornamen batu putih dan sentra industri kecil kerajinan bambu.
Kemitraan pada masing-masing sentra adalah kemitraan antar industri kecil kerajinan, kemitraan antara industri kecil kerajinan dengan pedagang/eksportir, BUMN, asosiasi/yayasan, kemitraan antara industri kecil kerajinan dengan perguruan tinggi dan LSM, kemitraan antara industri kecil kerajinan dengan pemerintah.
Berdasarkan pola kemitraan yang diatur dalam UU Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil dan PP 44 tahun 1997 tentang kemitraan serta pola kemitraan usaha lainnya dalam pengembangan industri kecil kerajinan (Kuncoro, 2000), maka indikator kemitraan yang dibutuhkan dalam pengembangan industri dapat dilihat pada tabel IV.3 berikut :
54
Tabel IV.3. Indikator kemitraan yang dibutuhkan antara industri kecil kerajinan dengan stakeholders
No Stakeholders Kemitraan yang dibutuhkan
1. Industri kecil kerajinan - Kemitraan dalam pengadaan bahan baku - Subkontrak
- Kemitraan dalam pemanfaatan teknologi - Kemitraan dalam akses permodalan - Kemitraan dalam promosi & pemasaran 2. Pedagang & Eksportir
BUMN,
Asosiasi/Yayasan
- Pola bapak angkat - Kredit bunga lunak - Subkontrak - Ventura - Perdagangan umum - Waralaba - Keagenan 3. Perguruan Tinggi Lembaga Masyarakat
- Kemitraan dalam desain produk kerajinan - Kemitraan dalam pelatihan tenaga kerja - Kemitraan dalam pemanfaatan teknologi
tepat guna (TTG)
- Kemitraan dalam pelatihan teknik produksi & pengelolaan administrasi - Kemitraan dalam fasilitasi pada akses
permodalan
4. Pemerintah - Pendidikan & Pelatihan - Bantuan Modal & Peralatan - Penelitian & Pengembangan - teknologi produksi
- Perantara ind.kecil kerajinan dgn bapak angkat & Buyer
- Pelayanan informasi & konsultasi - Fasilitasi Promosi produk IK
Sumber : Diolah dari UU No 9 Tahun 1995 & PP 44 Tahun 1997; Kuncoro 2000
Pola – pola kemitraan yang teridentifikasi diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan masing-masing stakeholders yang saling bekerjasama. Pola kemitraan ini dapat dilihat pada tabel IV.4 berikut :
55
Tabel IV.4. Kemitraan Antar Stakeholders dalam pengembangan industri kecil kerajinan
STAKEHOLDERS KEMITRAAN YANG DIBUTUHKAN DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KEMITRAAN SENTRA BOBUNG KEMITRAAN SENTRA ORNAMEN BATU KEMITRAAN SENTRA KERAJINAN BAMBU KET. 1 2 3 4 5 6 INDUSTRI
Kemitraan dalam pengadaan bahan baku - Kesepakatan harga bersama - Sharing bahan baku
Subkontrak - Subkontrak barang ½ Jadi &
barang Jadi
Kemitraan dalam pemanfaatan teknologi - Teknik pengawetan dan pengeringan bahan baku
Kemitraan dalam akses permodalan - Pinjaman modal ke koperasi
Kemitraan dalam promosi & pemasaran - Menampung Hasil Produksi Pengrajin Kecil
PEDAGANG/EKSPORTIR
Pola bapak angkat Kredit bunga lunak
Subkontrak - Subkontrak barang ½ Jadi
Ventura
Perdagangan umum - Pemasaran Konsinyasi,
- Job Order Waralaba
Keagenan
56 Lanjutan…….
1 2 3 4 5 6
BUMN
Pola Bapak Angkat Fasilitasi Pameran Produk
Kredit Bunga Lunak Permodalan Usaha
Ventura
Perdagangan umum Waralaba
Keagenan
ASOSIASI/YAYASAN
Pola Bapak Angkat
Kredit Bunga Lunak Permodalan Usaha
Subkontrak Barang ½ Jadi
Ventura
Perdagangan umum Produsen – Buyer (job order)
Waralaba Keagenan
57 Lanjutan……..
1 2 3 4 5 6
PERGURUAN TINGGI & LSM
Kemitraan dalam desain produk kerajinan
Sentra Industri sebagai tempat magang dan penelitian Kemitraan dalam pelatihan tenaga
kerja
Kemitraan dalam pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG) Kemitraan dalam pelatihan teknik produksi & pengelolaan
administrasi
Kemitraan dalam fasilitasi pada akses permodalan
PEMERINTAH
Pendidikan & Pelatihan, Peningkatan Kapasitas SDM
Pengrajin
Bantuan Modal & Peralatan Pasca Gempa
Penelitian & Pengembangan teknologi produksi
Pengembangan desain dan
kualitas produk Perantara industri kecil kerajinan
dengan bapak angkat & Buyer
Temu Bisnis
Pelayanan informasi & konsultasi Konsultasi manajemen usaha dan pemasaran
Fasilitasi Promosi produk Industri Kecil
Pameran Kerajinan & Show Room
58
IV.3. Analisis Kemitraan antar Stakeholders dalam Pengembangan Industri Kecil Kerajinan
IV.3.1.Kemitraan antar Industri Kecil Kerajinan
Kemitraan antar pengusaha industri kecil kerajinan dilihat dari kemitraan pengadaan bahan baku, kemitraan subkontrak, kemitraan dalam pemanfaatan teknologi, kemitraan dalam akses permodalan, kemitraan dalam promosi dan pemasaran.
IV.3.1.1. Kasus I : Sentra Industri Kecil Kerajinan Bobung
Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 pengrajin dalam sentra Bobung pola kemitraan yang terjadi dapat diuraikan sebagai berikut :
A. Kemitraan dalam pengadaan bahan baku
Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi topeng dan kerajinan batik kayu adalah kayu pule dan kayu sengon yang dipasok dari lokal Gunungkidul dan daerah sekitar. Khusus untuk kayu pule yang mulai langka di Gunungkidul, pasokan dipenuhi dari daerah Pacitan, Wonogiri dan Jawa Timur. Dalam pengadaan bahan baku ini pengrajin dalam sentra Bobung melakukan pemesanan sendiri-sendiri dengan 5 suplier tetap yang datang langsung ke sentra Bobung. Akan tetapi walaupun pengadaan bahan baku sendiri oleh pengrajin, terjadi kerjasama antar sesama pengrajin dalam hal kesepakatan harga penawaran. Jika supplier sudah mewarkan bahan baku kepada salah satu pengrajin maka pengrajin lain tidak mau lagi menawar dengan harga yang lebih tinggi dari pengrajin sebelumnya. Hal ini untuk menghindari permainan harga oleh supplier.
Kerjasama lainnya adalah dalam hal pinjam meminjam bahan baku antar sesama pengrajin jika mendapatkan order yang banyak dalam waktu yang mendesak. Model kerjasama ini belum dapat dikatakan kemitraan yang dibutuhkan dalam pengembangan industri kecil kerajinan. Pengadaan bahan baku sendiri-sendiri memiliki kelemahan dalam hal kontinuitas pasokan sehingga mengalami kesulitan dalam memenuhi order yang banyak dengan waktu delivery yang mendesak.
59 B. Subkontrak
Pengrajin disentra industri Bobung bekerjasama dengan cara subkontrak barang setengah jadi. Subkontrak dilakukan jika mendapatkan order yang besar dengan waktu pengerjaan yang singkat maka pengrajin melakukan pemesanan barang setengah jadi yang masih dalam bentuk putihan pada pengrajin lainnya. Model kemitraan ini sudah biasa dilakukan oleh pengrajin dalam sentra. Subkontrak hanya terbatas pada barang setengah jadi disebabkan penanganan proses finishing masing-masing pengrajin berbeda. Kualitas produk ditentukan oleh proses finishing ini.
Dalam proses finishing dilakukan pengawetan produk yang oleh masing-masing pengrajin mempunyai teknik pengawetan khusus. Teknik pengawetan secara umum menggunakan bahan kimia, akan tetapi pengawetan khusus yang merupakan inovasi yang ditemukan sendiri oleh pengrajin masih dirahasiakan. Hal ini disebabkan karena persaingan usaha untuk mendapatkan buyer ditentukan oleh kualitas produk yang dihasilkan. Alasan lain subkontrak barang setengah jadi karena proses pembatikan dengan teknik pencampuran warna yang berbeda untuk masing-masing pengrajin dan untuk menjaga keseragaman warna sesuai dengan permintaan buyer. Teknik pencampuran warna ini dirahasiakan oleh pengrajin sebagai ciri khas produk.
C. Kemitraan dalam pemanfaatan teknologi
Industri kecil kerajinan pada umumnya belum memerlukan teknologi dalam bentuk mesin-mesin teknologi tinggi. Produk kerajinan ditentukan oleh kreativitas pengrajin dalam menghasilkan suatu produk dengan kualitas dan nilai seni yang tinggi. Walaupun belum membutuhkan mesin berteknologi tinggi, industri kecil kerajinan memerlukan inovasi dalam teknik produksi. Inovasi ini dalam bentuk teknik pengeringan dan pengawetan bahan baku, teknik finishing dan pewarnaan proses pembatikan.
Pada sentra kerajinan Bobung telah terjalin kerjasama dalam pemanfaatan mesin pengering bahan baku. Mesin ini merupakan bantuan dari pemerintah melalui Disperindagkop Gunungkidul yang diberikan dalam rangka pemulihan usaha industri kecil pasca gempa. Mesin ini ditempatkan pada empat perusahaan yang berskala menengah dan dapat digunakan secara bersama oleh semua
60
pengrajin yang ada dalam sentra kerajinan Bobung. Kerjasama lainnya adalah saling berbagi informasi dalam teknik pengawetan bahan yang menggunakan bahan kimia. Sedangkan teknik pengawetan khusus masih menjadi rahasia perusahaan masing-masing pengrajin seperti dijelaskan sebelumnya pada kemitraan subkontrak.
D. Kemitraan dalam akses permodalan
Sentra industri kerajinan Bobung telah memiliki koperasi pengrajin yang dibentuk sejak tahun 2006 tetapi diresmikan dan memiliki badan hukum baru tahun 2008. Koperasi ini dengan modal 600 juta sebagai bantuan pemerintah dalam rangka pemulihan usaha pasca gempa. Koperasi ini merupakan koperasi simpan pinjam yang melayani kebutuhan modal pengrajin dalam sentra. Koperasi juga menjadi wadah pengrajin dalam mendapatkan bantuan dari pemerintah. Kerjasama dalam akses permodalan antar sesama pengrajin hanya melalui koperasi untuk pinjaman modal skala kecil. Sedangkan untuk kebutuhan modal skala besar pengrajin mengakses sendiri ke BUMN yang menyediakan kredit usaha.
Akses modal ke BUMN ini berdasarkan kebutuhan modal dan penilaian kelayakan usaha masing-masing pengrajin. Pengrajin belum mau bekerjasama dalam akses modal ke BUMN melalui koperasi disebabkan pembebanan bunga yang tinggi oleh pihak koperasi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Basuki pimpinan perusahaan Hasta Karya dan beberapa pengrajin lainnya, bahwa akses modal melalui koperasi terjadi dobel bunga. Pinjaman modal dari BUMN dengan bunga lunak jika penyalurannya ditangani oleh koperasi maka pihak koperasi sebagai badan usaha membebankan kembali bunga sesuai ketentuan peminjaman melalui koperasi. Dobel bunga ini dirasakan berat bagi pengrajin jika meminjam dalam jumlah yang besar. Alasan lain belum ada kemitraan dalam akses modal bersama ke BUMN disebabkan sulitnya mendapatkan barang jaminan yang dapat digunakan bersama. Masing-masing pengrajin merasa berat menggunakan asset pribadinya sebagai jaminan bersama. Ini berkaitan dengan proses pengembalian kredit oleh masing-masing pengrajin yang meminjam secara bersama, dikhawatirkan ada kredit macet yang akan berimplikasi pada penyitaan barang jaminan.
61 E. Kemitraan dalam promosi dan pemasaran
Sentra industri kerajinan Bobung belum bekerjasama dalam pemasaran bersama produk kerajinan. Hal ini disebabkan belum ada lembaga khusus yang menangani pemasaran produk kerajinan Bobung. Pemasaran masih dilakukan sendiri-sendiri oleh pengrajin yang menyebabkan lemahnya posisi tawar dengan pedagang/eksportir. Sebagian pengrajin lebih suka menjual produk setengah jadi karena permintaan untuk itu banyak dan lebih mudah memasarkannya. Pemasaran barang setengah jadi ini menyebabkan produk jadi sentra Bobung menjadi mahal dan kalah bersaing dengan produk sejenis dari daerah Bantul dan Yogyakarta. Pengrajin di dua daerah ini dapat menjual produknya lebih murah dari produk sentra Bobung karena mereka hanya mengerjakan proses finishing saja sehingga biaya produksinya lebih murah.
Kerjasama dalam promosi dan pemasaran yang terjadi di sentra Bobung dalam hal mengikutkan produk pengrajin lain dalam pameran yang diikuti salah satu pengrajin jika produk tersebut jenisnya berbeda. Untuk pengusaha yang sudah berskala menengah menampung hasil barang setengah jadi pengrajin kecil.
IV.3.1.2. Kasus 2 : Sentra Industri Kecil Kerajinan Ornamen Batu
Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 pengrajin dalam sentra industri ornamen batu putih, pola kemitraan yang terjadi dapat diuraikan sebagai berikut :
A. Kemitraan dalam pengadaan bahan baku.
Kerjasama pengadaan bahan baku disentra kerajinan batu putih masih terbatas pada saling pinjam bahan baku jika mendapatkan order yang tiba-tiba. Kerjasama ini terjadi antara tiga pengrajin skala menengah. Pengadaan bahan baku secara bersama belum dilakukan karena di sentra ini belum terbentuk organisasi ataupun asosiasi yang menjadi wadah bagi pengrajin dalam sentra. Dari hasil wawancara dengan pengusaha ornamen batu ini didapat informasi supply bahan baku dipenuhi dari lokal Gunungkidul dengan 6 supplier untuk jenis batu putih. Supply batu putih ini diperoleh pengrajin dengan menambang langsung (membeli bukit karst) bagi perusahaan skala menengah. Pengrajin lainnya bekerjasama dengan penambang batu yang ada di Kecamatan Wonosari dan Semin. Sedangkan batu hitam di supply dari Sleman dan Merapi.
62 B. Subkontrak
Dalam memenuhi order yang banyak dan tiba-tiba dengan waktu penyelesaian yang singkat, pengrajin di sentra ini bekerjasama dengan cara subkontrak dengan pengrajin lainnya. Subkontrak ini langsung untuk produk jadi dengan desain dari buyer. Dalam pelaksanaan subkontrak ini kesepakatan harga dilakukan secara bersama antara pengrajin penerima subkontrak dengan pemberi order. Ada keterbukaan harga antara pemberi order dengan pengrajin subkontrak, dimana harga disepakati jika selisihnya dari order awal dengan buyer tidak terlalu jauh. Mekanisme pembayaran antara pemberi order dengan pengrajin dilakukan pada saat produk diserahkan ke pemberi order. Kerjasama ini memberi keuntungan kedua pihak dimana pengrajin subkontrak tidak dibebankan resiko kerugian penjualan. Disisi lain pemberi order dapat menghemat biaya produksi dengan cara mensubkontrakkan sebagian proses produksinya ke pengrajin lain.
C. Kemitraan dalam akses permodalan
Akses ke sumber permodalan dilakukan langsung oleh masing-masing pengrajin sesuai dengan kebutuhan modal dan penilaian kelayakan usaha. Kerjasama antar pengrajin dalam mengakses sumber modal bersama belum terjadi disebabkan belum ada lembaga/organisasi yang memfasilitasi. Dari wawancara dengan pengrajin di sentra batu ini diperoleh informasi salah satu alasan belum ada kerjasama akses permodalan karena adanya pihak-pihak yang melakukan praktek rentenir. Menurut sebagian pengrajin skala kecil yang ada di sentra ini lebih mudah meminjam uang ke rentenir dibandingkan ke lembaga keuangan seperti Bank dan BUMN lainnya. Kesulitan pengrajin mengakses modal ke Bank karena persyaratan kredit dengan jaminan. Sedangkan ke rentenir tidak mempersyaratkan jaminan apapun, tetapi pembebanan bunga yang tinggi. Akan tetapi bagi pengrajin hal ini tidak menjadi masalah karena dapat menanggulangi kebutuhan modal usaha pengrajin jangka pendek.
D. Kemitraan dalam promosi dan pemasaran.
Kerjasama dalam promosi dan pemasaran antar pengrajin di sentra batu ini adalah kerjasama pemasaran dimana pengrajin skala menengah menampung hasil produksi pengrajin kecil. Hal ini berdasarkan wawancara dengan Bapak Ngatijan
63
pimpinan Mustafa Stone. Dalam sentra ini terdapat 3 usaha skala menengah yang membantu pengrajin kecil dalam memasarkan hasil produksinya.
IV.3.1.3. Kasus 3 : Sentra Industri Kecil Kerajinan Bambu
Identifikasi pola kemitraan di sentra industri kecil kerajinan bambu ini dilakukan dengan wawancara pada 4 pengusaha kerajinan bambu yang sudah berskala ekspor. Dalam sentra industri terdapat banyak pengrajin bambu tetapi jenis produk yang dihasilkan sebagian besar adalah sangkar burung.
Pola dan model kemitraan antar industri kerajinan bambu berdasarkan informasi dari 4 pengusaha/pengrajin ini adalah sebagai berikut :
A. Kemitraan dalam pengadaan bahan baku
Kerjasama antar pengusaha kerajinan bambu dalam pengadaan bahan baku belum terjadi disebabkan jenis bahan baku bambu yang dibutuhkan oleh masing-masing pengusaha berbeda sesuai dengan permintaan dari buyer. Bahan baku bambu ini sebagian masih dipenuhi dari lokal Gunungkidul, sedangkan untuk jenis bambu tertentu dipasok dari Pacitan dengan 4 suplier tidak tetap dan 1 suplier tetap. (hasil wawancara dengan Bapak Suwarji, pimpinan FDA Handycraft)
B. Subkontrak
Kemitraan dengan model subkontrak dilakukan oleh pengusaha kerajinan bambu di sentra ini jika mendapatkan order yang banyak dalam waktu yang singkat untuk diselesaikan. Pengrajin akan meminta barang setengah jadi ataupun barang jadi kepada pengrajin lainnya dengan harga yang sudah memperhitungkan keuntungan bagi pengrajin pemberi subkontrak. Kesepakatan harga disetujui jika harga dari pengrajin yang mensubkontrakkan selisihnya tidak jauh berbeda dengan harga order dari buyer.
C. Kemitraan dalam pemanfaatan teknologi
Dalam pemanfaatan teknologi, pengrajin sentra bambu masih menggunakan peralatan dengan teknologi sederhana. Inovasi teknologi berdasarkan kreatifitas masing-masing pengrajin dalam menghadapi persaingan
64
pasar. Ketatnya persaingan pasar ini menyebabkan pengrajin tidak mau berbagi infomasi dalam inovasi teknologi. Menurut Bapak Gunawan pimpinan Kurnia Handy Craft, persaingan antar pengrajin ini adalah persaingan tidak sehat dimana ada beberapa pengrajin terutama yang pemula bersedia menjual produk dengan harga dibawah harga pengrajin lainnya. Hal ini mereka lakukan untuk merebut pelanggan karena sulitnya memasarkan produk kerajinan bambu bagi pemula.
D. Kemitraan dalam akses permodalan
Kerjasama dalam akses permodalan ini belum terjadi di sentra industri kerajinan bambu disebabkan kebutuhan permodalan yang berbeda untuk masing-masing pengrajin. Dalam sentra ini belum ada lembaga/organisasi/asosiasi yang mewadahi pengrajin dalam mengakses sumber modal bersama.
E. Kemitraan dalam promosi dan pemasaran
Kerjasama dalam promosi dan pemasaran antar sesama pengrajin disentra ini belum terjalin disebabkan setiap pengrajin sudah memiliki buyer tetap yang secara rutin memesan produk kerajinan bambu. Kegiatan promosi melalui pameran yang difasilitasi oleh Dinas Perindagkop tetapi belum semua pengrajin berkesempatan untuk mengikuti. Dari wawancara dengan Bapak Gunawan dan Bapak Samto, diperoleh informasi bahwa pameran hanya diikuti oleh pengrajin yang sudah dikenal oleh pihak Dinas Perindagkop dan tidak ada giliran untuk pengrajin lainnya di sentra ini.
IV.3.2. Kemitraan Antar Industri Kecil Kerajinan Dengan Pedagang/Eksportir, BUMN, Asosiasi/Yayasan
Pola kemitraan yang diidentifikasi adalah pola bapak angkat, kredit bunga lunak, subkontrak, ventura, perdagangan umum, waralaba dan keagenan
IV.3.2.1. Kasus I. Sentra Industri Kecil Kerajinan Bobung
Pola kemitraan yang ada di sentra ini berdasarkan hasil wawancara dapat dijelaskan pada uraian berikut :
65 A. Pola Bapak Angkat
Pola bapak angkat dengan pihak BUMN dalam bentuk pemberian kredit modal usaha kepada pengrajin yang secara otomatis menjadi mitra bagi BUMN tersebut. BUMN yang menjadi bapak angkat ini antara lain adalah BNI, Mandiri, BRI, Sucofindo, Opalindo, Apikri, Pekerti, yayasan Bethesda, dimana kerjasama melalui fasilitasi pengrajin pada even-even pameran untuk promosi produk kerajinan, pelatihan-pelatihan manajemen usaha dalam rangka peningkatan kapasitas pengrajin. Pola bapak angkat ini belum terjadi dengan pedagang/eksportir, ini seperti diungkapkan oleh pengrajin yang ada dalam sentra Bobung. Pedagang/eksportir belum tertarik untuk menjalin kemitraan pola bapak angkat dengan pengrajin disebabkan minat dari pedagang yang lebih berorientasi bisnis dengan profit yang maksimal. Kerjasama pedagang/eksportir dengan pengrajin terbatas pada kerjasama perdagangan umum antara buyer dengan produsen. Pola kerjasama ini akan dijelaskan tersendiri pada pola kemitraan perdagangan umum.
B. Kredit Bunga Lunak
Hasil wawancara dengan pengrajin dalam sentra Bobung teridentifikasi kemitraan dengan pola kredit bunga lunak antara BUMN, Asosiasi/Yayasan dengan pengrajin dalam sentra. Kemitraan ini terbatas pada pemberian kredit usaha kecil untuk permodalan usaha sebagai kewajiban BUMN dalam pengembangan usaha kecil seperti yang diamanatkan oleh UU no 9 tahun 1999 tentang usaha kecil. Dimana BUMN diwajibkan menyisihkan 1-3% laba bersihnya untuk membantu pengembangan usaha kecil menengah. Bantuan kredit usaha ini diberikan kepada semua pengrajin dalam sentra dalam rangka pemulihan usaha pasca gempa. Sedangkan kredit usaha berskala besar diberikan sesuai penilaian kelayakan usaha pengrajin. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Basuki yang telah menjadi mitra dari Sucofindo, akses terhadap sumber modal ini dilakukan sendiri-sendiri oleh pengrajin sesuai dengan kebutuhan permodalan dan penilaian kelayakan usaha. Kredit usaha kecil ini diberikan dengan bunga lunak sebesar 6 % pertahun dengan persyaratan jaminan kredit yang ditentukan oleh pihak BUMN. Kredit yang berasal dari Asosiasi/Yayasan diberikan kepada pengrajin yang sudah menjadi mitra mereka dalam pemasaran produk kerajinan.
66
Kemitraan yang dimaksud adalah hubungan kerjasama perdagangan umum yang akan dijelaskan tersendiri. Kredit yang diberikan oleh Asosiasi/Yayasan sebagai tambahan modal usaha dengan persyaratan yang ditentukan oleh Asosiasi tersebut. Salah satu syaratnya adalah menjadi anggota koperasi pada Asosiasi tersebut. Pengrajin sentra Bobung yang telah mendapatkan pinjaman kredit dari Asosiasi Apikri dan yayasan Bethesda ada lima pengrajin yang sudah dikategorikan cukup maju dan memasarkan produk melalui Apikri. (wawancara dengan bapak Basuki dan bapak Kadirman).
C. Subkontrak
Pola kemitraan subkontrak terjadi dengan pedagang/eksportir dan Asosiasi dengan pengrajin sentra Bobung dalam hal subkontrak barang setengah jadi (putihan). Dari hasil wawancara dengan pengrajin di sentra ini sebagian besar pengrajin menjalin kerjasama subkontrak barang setengah jadi karena lebih mudah memasarkan produk setengah jadi dibandingkan barang jadi. Order barang setengah jadi ini dilakukan pedagang/eksportir untuk diproses lebih lanjut dengan alasan biaya produksinya lebih murah jika dibandingkan membeli barang jadi langsung. Subkontrak barang setengah jadi dengan pedagang/eksportir ini dapat dikatakan juga hubungan kerjasama perdagangan umum. Order untuk subkontrak ini belum ada kontrak tertulis antara pengrajin dengan pedagang/eksportir. Transaksi hanya berdasarkan nota pesanan biasa.
D. Perdagangan Umum
Kemitraan dengan pola perdagangan umum antara pengrajin dengan pedagang/eksportir, asosiasi/yayasan adalah kerjasama pemasaran hasil produk industri kecil kerajinan. Pedagang/eksporit dan asosiasi/yayasan membeli atau memesan produk kerajinan ke pengrajin, atau sebaliknya pengrajin menawarkan dan menjual produk ke pedagang/eksportir dan asosiasi/yayasan. Sistem pemasaran yang terjadi adalah job order dan konsinyasi. Job order dengan uang muka dengan pelunasan setelah serah terima pesanan terakhir, sedangkan konsinyasi tanpa uang muka dengan pembayaran sebulan setelah produk dititipkan ke toko atau showroom kerajinan. Pemasaran konsinyasi ini hanya mampu dilakukan oleh pengrajin yang sudah memiliki modal yang cukup besar.
67
Sedangkan pengrajin kecil lainnya bergantung pada order dengan uang muka. Transaksi bisnis yang terjadi pada pola kemitraan perdagangan umum ini belum ada kontrak secara tertulis yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bekerjasama. Kontrak kerjasama hanya berupa nota pesanan biasa seperti pada pola subkontrak dengan perjanjian-perjanjian secara lisan dimana resiko penjualan tetap menjadi tanggungan pengrajin. Resiko penjualan ini adanya produk reject setelah order diterima oleh eksportir dan pengrajin harus mengganti dengan produk yang baru. Hal ini sering menimbulkan kerugian bagi pengrajin karena harus mengeluarkan biaya produksi tambahan.
E. Ventura, Waralaba dan Keagenan
Pola kemitraan ventura, waralaba dan keagenan belum terjadi antara pengrajin dan pedagang, BUMN dan asosiasi. Produk kerajinan hanya salah satu varian produk yang diperdagangkan sehingga belum ada minat dari pedagang/eksportir untuk menjalin kerjasama dengan pola lain selain perdagangan umum.
IV.3.2.2. Kasus 2 : Sentra Industri Kecil Kerajinan Ornamen Batu
Pola kemitraan yang diidentifikasi pada sentra ini berdasarkan hasil wawancara dengan 10 pengrajin dapat diuraikan sebagai berikut :
A. Pola Bapak Angkat
Kemitraan dengan pola bapak angkat ini terjadi dengan BUMN seperti sentra inustri kecil Bobung. Kerjasama terjadi karena pemberian bantuan kredit pasca gempa untuk pemulihan usaha. Pengrajin yang menjadi mitra BUMN difasilitasi dalam pameran untuk promosi produk kerajinan. Pembinaan lain yang diberikan adalah dalam manajemen usaha dengan mengikutkan pengrajin pada pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga perbankan dan BUMN lainnya.
B. Kredit Bunga Lunak
Kerjasama dalam pemberian fasilitas kredit bunga lunak kepada pengrajin dilakukan dalam rangka pemulihan usaha pasca gempa dan melalui program
68
BUMN dengan Kredit Usaha Kecil (KUK) bagi usaha kecil menengah. Kredit Usaha Kecil ini diberikan sesuai penilaian kelayakan usaha dan dengan persyaratan jaminan yang ditentukan oleh BUMN. KUK ini belum dapat diakses oleh semua pengrajin yang ada dalam sentra disebabkan persyaratan jaminan kredit tersebut.
C. Subkontrak
Sentra ornamen batu belum mengadakan subkontrak dengan pedagang/eksportir disebabkan order pasar untuk kerajinan batu ini terbatas dan sebagian besar berskala ekspor yang dilakukan langsung oleh perusahan-perusahan eksportir. Hubungan kerjasama dalam bentuk perdagangan umum dimana order langsung dari buyer atau perusahaan eksportir.
D. Perdagangan Umum
Sebagaimana kemitraan dengan sentra Bobung, pola kemitraan perdagangan umum yang terjadi di sentra batu ini terbatas atas kerjasama dalam pemasaran dengan sistem job order. Perusahaan eksportir membeli produk kerajinan batu untuk kemudian diekspor sesuai permintaan buyer dari luar negeri. Ekspor kerajinan batu ini ke negara – negara seperti Singapura, Malaysia, Eropa, Amerika. Ekspor ini masih melalui pihak ke 3 yaitu perusahan eksportir dan agen-agen pengiriman barang seperti MSA Cargo. Pengrajin belum mampu melakukan ekspor sendiri karena keterbatasan kemampuan SDM dan untuk menghindari resiko penjualan akibat ulah buyer yang tidak melunasi pembayaran karena hilang kontak. Pengrajin yang mendapatkan buyer langsung dari luar negeri bekerjasama dengan agen-agen pengiriman barang untuk melakukan ekspor. Dengan kerjasama seperti ini tanggungjawab pengrajin hanya sampai pada proses pengiriman ke agen dan selanjutnya urusan ekspor menjadi tanggungjawab agen. Pembayaran juga dilakukan melalui agen tersebut sehingga dapat menghindarkan pengrajin dari resiko ditipu oleh buyer. Kerjasama pemasaran ini belum ada kontrak tertulis hanya berdasarkan nota pesanan dan atas dasar saling percaya. Untuk hubungan kerjasama perdagangan yang sudah berlangsung lama dan menjadi pelanggan tetap hal ini dapat saja dilakukan, akan tetapi dengan pelanggan baru akan menimbulkan masalah dikemudian hari seperti halnya kasus penipuan.
69 E. Ventura, Waralaba dan Keagenan
Kemitraan dengan pola ventura, waralaba dan keagenan belum terjadi karena minat pedagang/eksportir masih terbatas pada perdagangan umum dengan orientasi profit yang maksimal.
IV.3.2.3. Kasus 3 : Sentra Industri Kecil Kerajinan Bambu
Pola kemitraan sentra industri kecil kerajinan bambu dengan Pedagang/Eksportir, BUMN dan Asosiasi/Yayasan dapat diuraikan sebagai berikut :
A. Pola Bapak Angkat
Kemitraan dengan pola bapak angkat terjadi antara pengrajin dengan lembaga perbankan. Pengrajin sentra bambu ini menjadi mitra dari BRI dalam pemberian kredit usaha kecil. Seperti halnya sentra lainnya pengrajin yang mendapatkan kredit usaha akan menjadi mitra dari lembaga perbankan tersebut.
B. Kredit Bunga Lunak
Pola kemitraan dengan kredit bunga lunak menjadi salah satu program BUMN dalam pembinaan kepada usaha kecil. Pemberian kredit bunga lunak ini berdasarkan penilaian kelayakan usaha oleh pihak BUMN. Kredit bunga lunak yang diberikan berupa kredit usaha kecil dengan persyaratan jaminan. Belum semua pengrajin dapat mengakses kredit ini karena persyaratan jaminan yang belum dapat dipenuhi oleh pengrajin.
C. Subkontrak
Pola subkontrak antara pengrajin dengan pedagang/eksportir dan asosiasi terbatas pada subkontrak barang setengah jadi. Pengrajin sentra bambu mengerjakan sebagian komponen yang selanjutnya akan dilakukan proses finishing oleh pemberi order. Untuk produk yang menggunakan kombinasi bahan yang beragam, pengrajin mendapatkan order subkontrak dalam penyelesaian akhir menjadi barang jadi.
70 D. Perdagangan Umum
Pola kemitraan perdagangan umum merupakan pola yang paling lazim dilakukan antara pedagang/eksportir dan asosiasi dengan pengrajin industri kecil. Seperti halnya kedua sentra industri kecil kerajinan sebelumnya, kemitraan perdagangan umum ini terbatas pada hubungan dagang biasa antara produsen dan pembeli/buyer. Pedagang/eksportir membeli atau memesan barang kepada pengrajin untuk kemudian dijual kembali kepada konsumen akhir.
Transaksi bisnis ini ada yang sudah menggunakan kontrak tertulis yang semua persyaratannya dibuat oleh pembeli. Kontrak terutama berisi ketentuan-ketentuan mengenai kualitas, waktu penyelesaian, harga, pembayaran dan sanksi-sanksi. Kontrak akan disetujui oleh pengrajin jika ketentuan-ketentuannya dinilai tidak memberatkan pengrajin, terutama ketentuan mengenai harga, kualitas dan waktu penyelesaian produk.
E. Ventura, Waralaba, Keagenan
Pola kemitraan ventura, waralaba dan keagenan belum terjadi disentra ini. Hubungan kemitraan yang terjadi hanya terbatas pada pola yang telah dijelaskan sebelumnya.
IV.3.3. Kemitraan antara Industri Kecil Kerajinan dengan Perguruan Tinggi dan LSM
Kemitraan dengan perguruan tinggi dan lembaga masyarakat dilihat dari hubungan kerjasama dalam : 1) desain produk kerajinan; 2) pelatihan tenaga kerja; 3) pemanfaatan teknologi tepat guna; 4) pelatihan teknik produksi dan pengelolaan administrasi; 5) fasilitasi pada akses permodalan. Dari kelima model hubungan kemitraan ini untuk ketiga sentra industri kecil kerajinan belum terjalin kerjasama dengan pihak perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat. Berdasarkan wawancara dengan pengrajin di ketiga sentra ini diperoleh informasi bahwa pihak perguruan tinggi belum melakukan pembinaan kepada industri kecil. Sentra industri kecil menjadi lokasi magang bagi KKN Terpadu UGM. Kerjasama yang pernah terjadi adalah salah satu pengrajin di sentra Bobung menjadi instruktur pada pelatihan ketrampilan yang diadakan salah satu perguruan tinggi di Gunungkidul. Kerjasama lainnya terkait dengan budidaya kayu pule salah satu
71
bahan baku kerajinan topeng pada program pelestarian hutan wanagama oleh Dinas Kehutanan Gunungkidul dan Fakultas Kehutanan UGM. Program kerjasama ini tidak terkait secara langsung dengan pengrajin yang ada dalam sentra Bobung. Program-program pembinaan usaha kecil sebagai salah satu program pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi belum menyentuh pengrajin yang ada disentra industri Gunungkidul.
IV.3.4. Kemitraan antara Industri Kecil Kerajinan dengan Pemerintah
Kemitraan yang dibutuhkan oleh industri kecil kerajinan dengan pemerintah dapat dilihat dari kemitraan dalam pendidikan dan pelatihan, bantuan modal dan peralatan, penelitian dan pengembangan teknologi produksi, perantara industri kecil kerajinan dengan bapak angkat dan buyer, pelayanan informasi dan konsultasi, fasilitasi promosi produk industri kecil. Hubungan kerjasama pada masing-masing sentra dapat dijelaskan sebagai berikut :
IV.3.4.1. Kasus I : Sentra Industri Kecil Kerajinan Bobung.
Dari hasil wawancara dengan pengrajin di sentra bobung diperoleh informasi kerjasama dengan pemerintah seperti diuraikan dibawah ini :
A. Pendidikan dan Pelatihan
Sebagai upaya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia para pengrajin, pemerintah menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan. Program dilklat yang telah diikuti pengrajin di sentra bobung antara lain diklat ekspor impor, diklat kluster industri, diklat pembatikan, pelatihan teknik pengawetan dan pengeringan bahan baku.
B. Bantuan Modal dan Peralatan
Program bantuan modal dan peralatan untuk pengrajin ini dalam rangka pemulihan usaha pasca gempa. Sentra kerajinan bobung mendapatkan bantuan modal usaha dari Departemen Koperasi dan UKM yang penyalurannya dilakukan melalui koperasi pengrajin. Selain bantuan modal, pemerintah juga memberikan bantuan peralatan kepada masing-masing pengrajin. Peralatan ini jenisnya berbeda untuk setiap pengrajin disesuaikan dengan kebutuhan dan skala usaha.
72
Peralatan bantuan ini dapat digunakan bersama oleh pengrajin dalam sentra. Seperti halnya untuk jenis peralatan bor, oven untuk pengeringan bahan baku yang jumlahnya terbatas.
C. Penelitian dan Pengembangan Teknologi Produksi
Kerjasama dalam pengembangan teknologi produksi melalui bantuan peralatan pengeringan bahan baku dan pelatihan teknik pembatikan dan pengawetan produk. Pemerintah memfasilitasi pelatihan ini sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing produk kerajinan bobung.
D. Perantara Industri Kecil Kerajinan dengan Bapak Angkat dan Buyer
Kerjasama dalam upaya untuk memfasilitasi dan memediasi pengrajin dengan bapak angkat dan buyer dari luar negeri dilakukan melalui program misi dagang dengan kegiatan temu bisnis oleh UPT Balai Bisnis DIY. Temu bisnis ini sebagai upaya mempertemukan pengrajin dengan buyer dari luar negeri untuk meningkatkan ekspor produk kerajinan.
E. Pelayanan informasi dan Konsultasi
Kerjasama dalam pelayanan informasi dan konsultasi terutama sebagai wujud dari program pengembangan usaha kecil. Pelayanan informasi dan konsultasi ini dilakukan oleh Disperindagkop dan Balai Bisnis dalam rangka memberi bantuan konsultasi mengenai manajemen usaha maupun pemasaran. Pengrajin sentra bobung yang sudah mengakses program pelayanan ini masih terbatas pada pengrajin yang berskala menengah karena membutuhkan konsultasi manajemen usaha dan pemasaran untuk meningkatkan usahanya.
F. Fasilitasi Promosi Produk Kerajinan
Kerjasama dalam fasilitasi promosi produk kerajinan dilakukan melalui pameran baik dalam negeri maupun luar negeri dalam rangka peningkatan peluang pasar perdagangan luar negeri. Pameran produk kerajinan ini diikuti oleh pengrajin dalam sentra secara bergilir. Pameran produk ini dirasakan oleh pengrajin sangat membantu dalam pemasaran produk kerajinan. Dengan mengikuti pameran pengrajin mendapatkan buyer baru terutama buyer dari luar negeri untuk pameran bertaraf internasional seperti PPE dan INA Craft. Hal ini
73
memberi dampak pada peningkatan pemasaran produk kerajinan bobung sampai dengan skala ekspor. Fasilitasi lainnya dengan dibukanya showroom kerajinan oleh Dekranasda Gunungkidul dan showroom pada UPT Balai Bisnis DIY. Pengrajin dapat menggunakan showroom ini sebagai media promosi produk kerajinan.
IV.3.4.2. Kasus 2 : Sentra Industri ornamen Batu
Kerjasama pengrajin sentra ornamen batu dengan pemerintah dalam pendidikan dan pelatihan seperti halnya sentra bobung adalah pada pelatihan ekspor impor, diklat kluster industri. Penyelenggaraan diklat ekspor impor ini untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pengrajin tentang prosedur ekspor sehingga diharapkan pengrajin di Gunungkidul dapat melakukan ekspor secara langsung tanpa melalui pihak ketiga atau eksportir didaerah lain. Diklat kluster industri diselenggarakan sebagai upaya untuk membuka wawasan pengrajin akan pentingnya bekerjasama dalam suatu sistem yang terintegrasi sehingga produk kerajinan memiliki daya saing yang tinggi dengan produk sejenis dari daerah lain.
Bantuan modal dan peralatan yang diterima sentra industri ornamen batu ini dalam rangka bantuan pemulihan usaha pasca gempa seperti halnya sentra-sentra lainnya.
Program penelitian dan pengembangan teknologi produksi belum dilakukan di sentra ini. Pengrajin dalam meningkatkan daya saing produknya selalu mencari inovasi baru terutama dalam hal desain produk.
Pengrajin sentra ornamen batu telah ikut dalam temu bisnis yang diselenggarakan oleh balai bisnis. Mediasi dengan bapak angkat dilakukan oleh Disperindagkop melalui kegiatan sosialisasi yang mempertemukan pihak perbankan dan BUMN dengan pengusaha kecil. Dengan sosialisasi ini diharapkan pihak perbankan dan BUMN berminat menjalin kemitraan dengan pengusaha kecil melalui program bapak angkat.
Dalam meningkatkan pemasaran produk kerajinan, pengrajin disentra batu di fasilitasi dalam pameran promosi seperti Pekan Raya Jakarta, Pameran Produk Ekspor (PPE), INA Craft. Kerajinan ornamen batu merupakan salah satu produk
74
ekspor, akan tetapi kesempatan untuk mengikuti pameran ini belum semua pengrajin mendapatkannya. Kendala pengrajin batu pada umumnya dalam mengikuti pameran karena jenis produk dengan dimensi dan volume yang besar menyebabkan biaya transportasi ke lokasi pameran tinggi sehingga manfaat yang diperoleh dirasakan kurang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
IV.3.4.3. Kasus 3 : Sentra Industri Kecil Kerajinan Bambu
Kerjasama pengrajin sentra bambu dengan pemerintah dalam pendidikan dan pelatihan seperti halnya sentra lainnya. Program pelatihan ini hanya diikuti oleh pengrajin yang sudah maju sementara pengrajin kecil belum mendapatkan kesempatan. Hal ini seperti diungkapkan oleh bapak Gunawan salah satu pengrajin bambu yang belum pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Dalam hal bantuan modal dan peralatan, pengrajin mendapatkan bantuan pemulihan usaha pasca gempa.
Program peningkatan teknologi industri sebagai upaya pengembangan teknologi produksi pada sentra kerajinan bambu diselenggarakan pelatihan pengembangan desain dan peningkatan kualitas kerajinan bambu oleh Disperindagkop Gunungkidul. Dengan pelatihan ini diharapkan produk kerajinan bambu mampu bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain. Pengembangan desain kerajinan bambu ini diharapkan juga agar pengrajin tidak hanya menerima order barang setengah jadi akan tetapi dapat memproduksi barang jadi dengan desain yang mampu bersaing dipasar.
IV.4. Analisis Faktor – faktor yang mempengaruhi kemitraan antar stakeholders Berdasarkan hasil identifikasi pola kemitraan antar stakeholders dapat dilihat hubungan kemitraan yang terjadi belum maksimal sebagaimana prinsip kemitraan yang sejajar, saling membutuhkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.
Dari kelemahan kemitraan yang ada sekarang dapat dilihat faktor-faktor yang menyebabkan kemitraan belum maksimal yang akan diuraikan berikut ini. Faktor-faktor yang dimaksud adalah alasan-alasan yang dikemukakan pengrajin.
75
IV.4.1. Faktor yang mempengaruhi kemitraan antar industri dalam sentra
Berdasarkan wawancara dengan pengrajin di ketiga sentra industri kecil kerajinan maka faktor yang mempengaruhi kemitraan antar pengrajin dapat dilihat pada tabel IV.5 berikut :
Tabel IV.5 Faktor yang mempengaruhi kemitraan antar industri dalam sentra Kemitraan yang
dibutuhkan
Faktor
Sentra Bobung Sentra Batu Sentra Bambu
Kemitraan dalam pengadaan bahan baku
Peran kelembagaan koperasi belum maksimal
Belum ada mediasi dari kelembagaan internal sentra
Bahan baku berbeda
Subkontrak Demand masih
terbatas Demand masih terbatas Demand masih terbatas Kemitraan dalam pemanfaatan teknologi Tidak ada komunikasi yang terbuka Tidak ada komunikasi yang terbuka Tidak ada komunikasi yang terbuka
Kemitraan dalam akses permodalan -Peran kelembagaan koperasi (Bunga pinjaman tinggi) - Kepercayaan Kepercayaan Kepercayaan
Kemitraan dalam promosi & pemasaran - Peran kelembagaan koperasi - Demand masih terbatas - Motivasi dari pengrajin - Demand masih terbatas
Sumber : Hasil Analisis 2008
Pada kemitraan antar industri kecil kerajinan faktor yang menyebabkan kemitraan belum maksimal disebabkan demand untuk produk kerajinan ini masih terbatas sehingga pengrajin industri kecil saling bersaing dalam mendapatkan pembeli. Hal ini menyebabkan pengrajin tidak saling berkomunikasi secara terbuka dan saling percaya berbagi informasi baik dalam pemanfaatan teknologi maupun pemasaran. Minat pengrajin untuk bekerjasama dalam bentuk kemitraan dipengaruhi juga oleh belum adanya mediasi dari kelembagaan yang ada dalam sentra. Peran kelembagaan dalam hal ini koperasi di sentra bobung belum maksimal karena keterbatasan dana dan SDM pengelola sehingga belum mampu menjadi wadah bagi pengrajin.
76
IV.4.2. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil dengan pedagang/eksportir
Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil kerajinan dengan pedagang/eksportir berdasarkan hasil wawancara dengan pengrajin di ketiga sentra dan pihak pedagang/eksportir dapat dilihat pada tabel IV.6 berikut :
Tabel IV.6. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil dengan pedagang/eksportir
Kemitraan yang dibutuhkan
Faktor
Sentra Bobung Sentra Batu Sentra Bambu
Pola bapak angkat Belum ada Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat Kredit bunga lunak Belum ada
Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Subkontrak Motivasi bisnis Motivasi bisnis Motivasi bisnis
Ventura Belum ada
Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Perdagangan umum Motivasi bisnis Motivasi Bisnis Motivasi Bisnis
Waralaba Belum ada
Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Keagenan Demand masih
terbatas
Demand masih terbatas
Demand masih terbatas Sumber : Hasil Analisis 2008
Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil kerajinan pada ketiga sentra dengan pedagang/eksportir adalah belum adanya keinginan/minat dari pedagang/eksportir untuk menjalin kemitraan dengan pola bapak angkat, pemberian kredit bunga lunak, modal ventura, waralaba maupun keagenan. Motivasi pedagang/eksportir lebih mengutamakan hubungan kerjasama bisnis antara produsen dan pembeli dengan pola perdagangan umum karena demand untuk produk kerajinan masih terbatas dan hanya merupakan salah satu varian produk yang diperdagangkan.
77
IV.4.3. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri dengan BUMN dan Asosiasi/Yayasan
Faktor yang mempengaruhi kemitraan antara industri kecil kerajinan dengan BUMN dan Asosiasi/Yayasan berdasarkan hasil wawancara dengan pengrajin di ketiga sentra dan wawancara dengan BUMN dan Asosiasi/Yayasan yang bermitra dapat dilihat pada tabel IV.7 berikut :
Tabel IV. 7. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri dengan BUMN dan Asosiasi/Yayasan
Kemitraan yang dibutuhkan
Faktor
Sentra Bobung Sentra Batu Sentra Bambu
Pola bapak angkat Keinginan Keinginan Keinginan
Kredit bunga lunak - Kelayakan Usaha - Kepercayaan
Kelayakan Usaha Kelayakan Usaha
Subkontrak Demand masih
terbatas
Demand masih terbatas
Demand masih terbatas
Ventura Belum ada
Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Perdagangan umum Motivasi bisnis Motivasi bisnis Motivasi bisnis
Waralaba Belum ada
Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Belum ada Keinginan/Minat
Keagenan Demand masih
terbatas
Demand masih terbatas
Demand masih terbatas Sumber : Hasil Analisis 2008
Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil kerajinan dengan BUMN dan Asosiasi/yayasan untuk pola bapak angkat berdasarkan keinginan yang disebabkan karena pemberian kredit bunga lunak sesuai penilaian kelayakan usaha yang secara otomatis menjadi mitra binaan BUMN. Pola subkontrak barang setengah jadi disebabkan oleh demand produk kerajinan yang masih terbatas dan hanya salah satu jenis produk yang diperdagangkan oleh asosiasi ini. Kerjasama perdagangan umum lebih disebabkan oleh motivasi bisnis seperti halnya perusahaan trading lainnya yang mengedepankan profit maksimal dalam setiap transaksi bisnis.
78
IV.4.4. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil kerajinan dengan perguruan tinggi
Faktor yang mempengaruhi kemitraan antara industri kecil kerajinan dengan perguruan tinggi dapat dilihat pada tabel IV.8 berikut :
Tabel IV.8. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil kerajinan dengan perguruan tinggi
Kemitraan yang dibutuhkan Faktor
Sentra Bobung Sentra Batu Sentra Bambu
Kemitraan dalam desain produk kerajinan Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Kemitraan dalam pelatihan
tenaga kerja Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Kemitraan dalam pemanfaatan
TTG Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Kemitraan dalam pelatihan
teknik produksi & pengelolaan ADM Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Kemitraan dalam fasilitasi
pada akses permodalan
Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Belum ada Keinginan/Minat Sumber : Hasil Analisis 2008
Perguruan tinggi belum ada keinginan untuk menjalin kemitraan dengan industri kecil karena industri kecil belum menjadi prioritas program binaan dari lembaga ini. Disamping itu belum adanya lembaga khusus yang menangani pembinaan terhadap UKM seperti halnya inkubator bisnis. Peran inkubator bisnis sebagai mitra bagi usaha kecil untuk membantu usaha baru dan sedang berkembang sehingga mapan dan mampu meraih laba dengan menyediakan informasi, konsultasi, jasa-jasa, dan dukungan yang lain.
IV.4.5. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil kerajinan dengan pemerintah
Faktor yang mempengaruhi kemitraan antara industri kecil kerajinan dengan pemerintah berdasarkan hasil wawancara dengan pengrajin di ketiga sentra dan wawancara dengan pihak Disperindagkop Gunungkidul dapat dilihat pada tabel IV.9 berikut :
79
Tabel IV.9. Faktor yang mempengaruhi kemitraan industri kecil kerajinan dengan pemerintah
Kemitraan yang dibutuhkan Faktor
Sentra Bobung Sentra Batu Sentra Bambu
Pendidikan & Pelatihan, Motivasi Program Motivasi Program Motivasi Program Bantuan Modal & Peralatan Motivasi Program Motivasi Program Motivasi Program Penelitian & Pengembangan
teknologi produksi
Motivasi Program Motivasi Program Motivasi Program Perantara industri kecil kerajinan
dengan bapak angkat & Buyer
Motivasi Program Motivasi Program Motivasi Program Pelayanan informasi & konsultasi Motivasi Program Motivasi Program Motivasi Program Fasilitasi Promosi produk industri
kecil
Motivasi Program Motivasi Program Motivasi Program Sumber : Hasil Analisis 2008
Pembinaan terhadap industri kecil menjadi tanggungjawab pemerintah. Hal ini diindikasikan dengan berbagai program pembinaan dan bantuan pemberdayaan industri kecil. Kerjasama yang terjadi antara pemerintah dengan pengusaha industri kecil lebih dipengaruhi oleh motivasi pelaksanaan program pembinaan dan pemberdayaan usaha kecil. Hal ini disebabkan peran pemerintah dalam pembinaan, pemberdayaan dan penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi usaha kecil menengah. Peran pemerintah ini belum maksimal karena keterbatasan dana dan dukungan SDM aparatur dalam pembinaan kepada industri kecil menengah sehingga belum menyentuh semua pengrajin yang ada di ketiga sentra.