BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG NIASALAH
Penegakan
hukum
adalah proses dilakukannya upaya
untuk tegaknyaatau
berfungsinya norrna-normahukum
secaranyata
sebagaipedoman
perilaku dalam
lalu
lintas
atau
hubungan
hukum
dalam kehidupan bennasyarakat dan bemegara.Ditinjau dari
sudut subyeknya, penegakanhukum
itu
dapatdilakukan oleh
subyek yang luas dan dapatpula
diartikan
sebagai upaya penegakanhukum
dan melibatkan
semuasubyek
hukum dalam
setiap hubungan
hukum. Siapa
saja
yangmenjalankan
aturan normatif
atau
melakukan sesuatu
atau
tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkandiri
pada norma atur'an hukumyang berlaku, berarti
dia
menjalankan atau menegakkan aturan hukum.Dalam
arti
sempit,dari
segi subyeknyaitu,
penegakanhukum
itu
hanyadiartikan
sebagai
upaya aparatur
penegakan
hukum tertentu
untukmenjamin dan
memastikan tegaknya
hukum
itu,
apabila
diperlukan,aparatur penegak
hukum
itu
diperkenankanuntuk
menggunakan dayapaksa.l
'
Mansyur Effendi. 2005. ,.perkembangan Dimensi Hak Asasi Dinamika Penyusunan Hukum Hak Asasi Manusia (HAKHAM),,.21
Manusia (HAM) dan Proses
Pengertian penegakan
hukum
itu
dapatpula ditinjau dari
sudutobyeknya,
yaitu dari
segi hukumnya.Dalam
hal ini,
pengertiannyajuga
mencakup
makna
yang iuas dan
sempit.
Daiam
arti
luas,
penegakanhukum
itu
mencakup
pada
nilai-nilai
keadilan
yang
terkandungdidalamnya
bunyi
aturanformal
maupunnilai-nilai
keadilan yang hidup dalam masyarakat. Tetapi dalamarti
sempit, penegakan hukumitu
hanya menyangkut penegakan peraturan yang formal dan tertulis saja2.Hukum
diciptakanuntuk
mengatur agar kepentingan-kepentinganyang
berbeda antarapribadi,
masvarakat, dan negara dapatdijamin
dandiwujudkan
tanpa merugikanpihak
yang 1ain3 Semua hubungan tersebutdiatur oleh
hukum,
semuanya
adalah
hubungan
hukum (rechtsbetrekkingen)4.Maka
untuk itulah
dalam
mengatur
hubungan-hubungan hukum pada masyarakat diadakan suatukodifikasi
hukum yangmempunyai
tujuan
luhur yaitu
menciptakan kepastian
hukum
dan mempertahankannilai
keadilandari
subtansihukum
tersebut. Sekalipuntelah terkodifikasi, hukum
tida-klahdapat bersifat statis
karena hukumharus terus menyesuaikan
diri
dengan masyarakat, apalagi yang berkaitandengan
hukum
publik
karena bersentuhan langsung denganhajat
hiduporang banyak dan berlaku secara umum.
Penerapan
sanksi
dalam
penegakkan
hukum
untuk
mengatur seseorang sebagai subjek hukum haruslahmemiliki
rasapri
kemanusiaan'ibid, hrm.23
'
Andi Hamzah,. danA.
Sumangelipu, Pidana Matidi
Indonesia dimasa lalu,kini dan dimasa depan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1993), hlm.31o
dalam menghargai harkat dan martabat hidup sesorang sebagaimana yang
telah
disebutkandalam
Pembukaan (preambule) Undang-Undang DasarTahun
1945.
Penerapan
sanksi
hukum
sebagai
akibat
dari
suatupelanggaran
Ketentuan
Undang-Undangtelah
menciptakan perdebatanyang
tidak
kalahpelik
sampai saatini,
Ketentuan hukum yang mengaturtentang
penerapan
hukuman
mati
telah
memberikan
gambaranbahwasannya
komitmen Indonesia
untuk tunduk
pada
kesepakataninternasional
yang
tertuang dalam Kovenan Internasional tentang
HakSipil
danPolitik
serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosialdan
Budaya belumlah
memiliki
kepastian
yang
jelas
dimata
duniaInternasional. Hukuman
mati
merupakan salah satujenis
cara penegakansanksi
hukum yang
paling
kontroversial didunia.
Dari
jarnan
Babiloniahingga
saatini,
hukuman tersebutmasih
digunakan sebagai salah satusanksi
bagi
mereka yang
dituduh
atau
terbukti
melakukan .satu tindak kejahatan.Dapat
ditegaskanbahwa hukuman
mati
merupakan sebuahinstrumen
untuk melindungi
masyarakat dan Negarabaik
dalam bentukpreventif
maupun represif. Represifdi
sini
bukanlah menjadikan mereka yang diperintah menjadi rentan dan lemahs.Penelitian
ini
menjadi penting karena dalam pelaksanaan eksekusihukuman
mati, tata
cara
yang
digunakan sebagai
upaya
untukmenghilangkan
nyawa
narapidana
mati
dapat
bersinggungan denganperlindungan Hak Asasi Manusia.
t lhilip
Indouesia merupakan
salah
satu
Negara
yang
masih mempertahankan dan mengakui legalitas hukumzurmati
sebagai salah satucara
untuk
menghukumpelaku
tindak
kejahatan,Di
Indonesia
sendiriancaman hukuman
mati
beradadi
tingkat
teratasketika terkait
dengan kasus narkotika, pembunuhan berencana, dan terorisme.Hukuman atau pidana mati merupakan fenomena yang masih ramai
diperbincangkan
oleh
berbagai
kalangan,
termasuk
penegak
hukum maupun penggiatHak
Asasi Manusia
(HAM).
Sampai saatini,
praktek hukuman mati di negara-negara belahan dunia masih diterapkan, meskipunsudah
banyak
negara-negarayang
meninggalkan hukuman
mati . danmengubah hukuman
mati
menjadi
hukuman seurnurhidup untuk
tindakpidana yang digolongkan berat.
20
tahun terakhir,
lebih
dari 50
negara
telah
menghapuskanhukuman
mati.
Sampai saat
ini,
terdapat
99
negara telah.menghapus
hukuman
mati untuk
pelaku segala bentuktindak
pidana,8
negara untukpelaku tindak
pidana
umum, dan
33
negara menjalankan moratoriumeksekusi hukuman
mati.
Dengan demikian
jumlah
total
negara yang menghapus hukuman mati, baik secara defacto
maupun deiure,
mencapai140 negara. Namun, hukuman
ini
masih tetap diberlakukan cli 58 negara,6termasuk Indonesiayang belum menghapuskan hukuman mati.
Daniel
Anderson,pakar hukum yang
sangatpro
hukuman mati menyatakan bahwa: "ln
order
to
rightly
value the
deathpenalty,
it
isuKedutaan
Perancis
di
Jakarta,"Hari
Anti
HukumanMati
Sedunia-10", dalamhttp://www.ombofrance-id.org/Hari-Anti-Hukuman-Mati-Sedunia-10, diakses pada tanggal 2 Juli
necessary to have empathy and understanding
for
all
the victims andtheir
relatives".Pernyataantersebut menunjukkan persetujuan
diterapkannyapidana
mati
bagi pelaku
kejahatan serius,baik
yang
secaranyata
telahmenghilangkan
nyawa
sesamamanusia,
maupun
yang
secara
tidaklangsung menyebabkan kernatian
sesamanya,termasuk
di
dalarnnya pengedar narkotika serta pelaku kejahatankeji
lainnya.7Adanya
persoalantersebut,telah menarik minat penulis
untukmendalaminya
lebih
lanjut
melalui penelitian
skripsi
denganjudul:
..I(ETENTUAN
TEMBAKAI\
PENGAKHIR
PADA
EKSEKUSI
HUI(UMAN
MATI
DI
INDONESIA
DALAM
KAITANI{YA
DENGAN HAK
ASASI
MANUSIA"
I.2.
RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Untuk
memberi
arah dan pedoman yangjelas
dalam.melakukanpenelitian
mengenai
hal
tersebut,
permasalahanyang
hendak
dikaji
dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1.
Apakah tembakan pengakhir dalam aturan pelaksanaan hukumanmati di Indonesia melanggar ketentuan Hak Asasi Manusia?
1.2.2.
Bagaimanakahtata cara pelaksanaanhukuman
mati
di
Indonesia yang sesuai dengan konsep Hak Asasi Manusiadi
Indonesia?1.3.
TUJUAN
PENELITIAN
7
Yon Artiono Arba'i, Aku Menolak Hukuman Mati: Telaah Atas Penerapan Pidana Mati,
Sesuai dengan
permasalahanyang
telah
dirumuskandi
atas,penelitian
ini
mempunyaitujuan:1.3.1. Untuk
mengetahui apakah ketentuan tembakanpengakhir
dalam aturan pelaksanaan eksekusi hukumanmati
di
Indonesia telah atautidak melanggar ketentuan dalam Hak Asasi Manusia.
1,.3.2.
Untuk
memahami konsep dan tata cara pelaksanaan hukumanyang sesuai dengan Hak Asasi Manusia di Indonesia.
MANFAA.T
PENELITIAN
1.4.1. Manfaat Teoritis
bermanfaat
untukhukum yang
telah1.4.1.1.
Bagi
penulis, penelitian
ini
mengembangkan
ilmu
pengetahuandipelajari selama
ini;
dan;1.4.1.2.
Untuk
menambah wawasan
dan
ilmu
pengetahuanhukum bagi penulis dan pembaca khususnya mengenai
tata
cara
pelaksanaan
eksekusi hukuman
mati
di
indonesia dalam kaitannya
denganperlindungan
hak asasi manusia.1.4.2. Manfaat Praktis
Menjadi
salah satu pedoman bagi parapraktisi
dalam bidangIlmu
Hukum
Acara
Pidana khususnya
dalam
tahap
pelaksanaan hukuman mati.mati
1.5.
METODE
PENELITIAN
1.5.1.
JenisPenelitian
Jenis
penelitian
dalam penulisanskripsi
ini
menggunakanmetode penelitian
hukum normatif. Dimana peneliti
harusmelakukan analisis terhadap
objek
penelitian, terutama berkaitan dengantata
cara pelaksanaan hukumanmati
di
Indonesia dalam kaitannya dengan konsep Hak Asasi Manusia.1.5.2.
Sifat
dan PendekatanPenelitian
Sifat penelitian
ini
adalahdeskriptif,
yang bertujuan untuk melukiskan atau menggambarkan tentang sesuatu hal pada tempatdan pada saat tertentu dengan menuturkan dan menafsirkan data
(bahan
hukum
primer dan
bahanhukum
sekunder, serta bahan hukum tersier) untuk pemecahan masalah.Metode
pendekatan
yang akan
dipergunakan
guna mendapatkanhasil
penelitian yang
diharapkandalam skripsi
ini
adalah
menggunakan pendekatan undang-undang
(statuteapproach).
Pendekatan undang-undang
(statute
approach)dilakukan dengan menelaah
undang-undang
terutama
yang berkaitan dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini.1.5.3.
SumberData
Sumber bahan
hukum
yang dipergunakan dalam penelitian1.5.3.1.
hukum primer,
yaitu
bahan
hukum
yang
isinyamempunyai kekuatan
hukum
mengikat,
dalam
hal
ini
adalah
norna
atau kaidah
dasar peraturan.
Untukmendapatkan
sumber bahan
hukum
primer
akandilakukan
dengan
penelitian
terhadap
undang-undang maupun peraturan, antaralain
:1.5.3.i.1.
Undang-UndangRepublik
IndonesiaNomor
39 Tahun 1999.
1.5.3.1^2. Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 7964.
1.5.3.2.
Bahan
hukum
sekunder,yaitu
bahan-bahanyang'erat
hubungannya dengan
bahan
hukum primer dan
dapatmembantu menganalisis serta memahami bahan hukum
primer.
Untuk
mendapatkan
sumber bahan
hukumsekunder akan dilakukan dengan analisa terhadap Undang
Undang Dasar
Republik
IndonesiaTahun
1945, Kitab
Undang Undang
Hukum
Pidana
(KUHP),
Undang-Undang
Nomor
8
Tahun
1981 tentang
Hukum
AcaraPidana
(KUHAP),
Undang-UndangNomor 16
Tahun2004
tentang KejaksaanRepublik
Indonesia, kemudian literatur-literatur yang berkaitan dengan obyek penelitian.1.5.3.3. Bahan
hukum
tersier,
yaitu
bahan-bahanhukum
yangmertdukung
bahan hukum primer
dan
bahan
hukumatas bahan
hukum lainnya,
Untuk
bahanhukum
tersierakan
dilakukan
dengan
menggunakan
ensiklopediamaupun
kamus
hukum yang terkait
dengan
obyekpenelitian.
1.5.4. Teknik
Pengumpulan Bahan
Hukum
Pengumpulan bahan-bahan
hukum
dilakukan
dengankegiatan inventarisasi
dan
pengelompokan bahan-bahan hukum kedalam suatu sisteminformasi,
sehingga memudahkan kembali penelusuran bahan-bahanhukum
tersebut. Bahan-bahan hukum dikumpulkan denganstudi
dokumentasi,yaitu
dengan melakukan pencatatan terhadap sumber bahanhukum primer
maupun bahanhukum sekunder.
Setelah dilakukan
identifikasi
terhadap bahan-bahan hukum tersebut, selanjutnyadilakukan
inventarisasi bahan-bairan hukumyang
relevan
dengan cara pencatatanyang kemudian
dilakukanpeneltrsuran kepustakaan
yang
berkaitan dengan
isu
hukumpenelitian
serta
dilanjutkan
dengan analisis terhadap
tata
cara pelaksanaan eksekusi hukumanmati
di
indonesia dalam kaitannyadengan konsep hak asasi manusia.
1.5.5.
Aranlisis-DataData yang berupa
dari
berbagai sumberbaik
bahan hukum(data)
hasil
pengolahan
tersebut
dianalisis
secara kualitatif,
komprehensif
dan
lengkap, kemudian
dilakukanBerdasarkan
hasil
pembahasankemudian
diambil sebagai jawaban terhadap permasalahan yangditeliti.
pembahasan.
kesimpulan
1.6.
SISTENIATIKA PENULISAN
Secara sistematis penulisan skripsi
bab, yang mana
tiap
bab
berisi
hal_halberikut:
ini
akandibagi ke
dalamlima
yang
dapat dijelaskan
sebagaiPada
bab
I
merupakan
bab
pendahuruan
yang
menjelaskanmengenai
latar
belakang masalah, rumusan
permasalahan,
tujuanpenelitian,
definisi
operasional,
metode penelitian serta
sistematika penulisan.
Pada Bab
II
berisikan Tinjuan pustaka atau Tinjauanumum.
padabab
ini
diuraikan tentangteori
pengertianHukum
pidana,Hukum
AcaraPidana, Upaya Hukum Biasa dan Upaya Hukum Luar Biasa.
Pada Bab
III
berisikan Tinjauan Khusus yang menguraikan tentangHak
asasi Manusia, HukumanMati,
Kewenangan Jaksa, dan Mekanisme Pelaksanaan HukumanMati
di Beberapa Negara.Pada Bab
IV
tentangAnalisis
mengenai Ekseskusi HukumanMati
di
Indonesia. Padabab
ini
diuraikan
tentang persinggunganHak
Asasi Manusia dalamTata
cara
pelaksanaan HukumanMati
di
Indonesiadan
Pelaksanaan
Hukuman
Mati
yang
sesuai dengan
Konsep
Hak
Asasi Manusia._l
Pada Bab