• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Perkembangan Kota Sukabumi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Perkembangan Kota Sukabumi"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Perkembangan Kota Sukabumi

Secara historis kota Sukabumi dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Burgerlijk Bestuur (1914) dengan status Gemeenteraad Van Sukabumi yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada orang-orang Belanda dan Eropa sebagai pengelola perkebunan di wilayah kabupaten Sukabumi, Cianjur dan Lebak.

Dalam konteks perekonomian regional pada saat itu kota Sukabumi sudah dilengkapi dengan fasilitas pergudangan, fasilitas perbengkelan, dan jaringan transportasi seperti kereta api dan jalan raya yang berakses langsung ke pelabuhan samudera di Jakarta sehingga terjadi kegiatan eksport-import. Namun demikian dalam perjalanan sejarah kejayaan itu menyurut dikarenakan kesinambungan pengelolaan dan pemeliharaan asset-asset yang berbasis perkebunan tidak lagi menguntungkan akibat semakin ketatnya persaingan dengan negara-negara produsen sejenis.

Memasuki era kemerdekaan dengan dibentuknya sistem pemerintahan daerah, kota Sukabumi termasuk ke dalam kategori kota kecil yang disebut sebagai Kotapraja, Kotamadya dan terakhir menjadi kota yang memiliki areal 1.215 Ha yang terdiri dari 2 (dua) kecamatan. Berdasarakan Peraturan Pemerintah No.3 Tahun 1995 kota Sukabumi mengalami perluasan batas wilayah administrasi dari 1.215 Ha menjadi 4.800,23 Ha, sehingga ada penambahan desa-desa dan kecamatan yang kemudian dimekarkan menjadi 7 (tujuh) kecamatan, yaitu Kecamatan Cikole, Cibeureum, Citamiang, Lembursitu, Warudoyong, Baros dan Gunung Puyuh yang terdiri dari 33 kelurahan.

Batas wilayah administrasi dan posisi kota Sukabumi dalam Konstelasi Regional Jawa Barat berada pada posisi strategis karena berada di antara pusat pertumbuhan mega urban JABOTADEBEK dan BANDUNG RAYA ini, merupakan salah satu kawasan andalan dari 8 kawasan andalan di Jawa Barat (RTRW Jawa Barat) yang berpotensi selain memacu perkembangan wilayahnya juga mendorong pertumbuhan wilayah-wilayah di sekitarnya (hinterland). Saat ini kota Sukabumi berkembang menjadi kota transit bagi pendatang yang ingin

(2)

32

menikmati keindahan alam dan kesejukan udara di sekitarnya. Lokasi kota Sukabumi yang dikelilingi gunung, rimba, laut, dan pantai (gurilap) memang strategis dijadikan tempat peristirahatan dan tujuan wisata. Oleh karena itu, wajar saja apabila kota Sukabumi mengalami perubahan penutupan lahan terutama menurunnya kawasan hijau untuk kegiatan pertanian.

Pembangunan kota Sukabumi pada hakekatnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional dan pembangunan Provinsi Jawa Barat. Pemerintah kota Sukabumi berupaya untuk selalu mengadakan perubahan yang terus-menerus dan berkesinambungan ke arah pembangunan kota yang lebih baik, dan meningkatkan kualitas pembangunan manusia yang lebih potensial dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang, serta memperhitungkan berbagai peluang dan tantangan yang berskala regional, nasional maupun global.

Struktur Tata Ruang

Menurut Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, Struktur Tata Ruang adalah susunan pusat-pusat pemukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Kota Sukabumi saat ini telah berkembang menjadi salah satu kawasan cepat tumbuh di Jawa Barat. Ditunjang dengan letak geografis, berbagai potensi/sumberdaya alam dan buatan, serta sumberdaya manusianya, kota Sukabumi berkembang dengan memfokuskan pembangunannya pada tiga fungsi utama yaitu sebagai pelayanan jasa di bidang perdagangan, pendidikan, dan kesehatan (Perda Kota Sukabumi No. 7 Tahun 2003).

Untuk memacu perkembangan kota, meningkatkan pelayanan sosial ekonomi terhadap masyarakat, mengatasi berbagai persoalan ruang dan meratakan pembangunan, maka kota Sukabumi ditetapkan menjadi 7 Bagian Wilayah Kota (BWK) dengan sistem monosentrik (struktur satu pusat). Pusat kota yang saat ini sudah terbentuk tetap dipertahankan sebagai kawasan pusat kota dan ditetapkan dalam satu bagian wilayah kota yaitu BWK II, meliputi seluruh wilayah kecamatan Cikole yang diarahkan untuk pusat pemerintahan, pusat perkantoran,

(3)

kesehatan, perdagangan dan pemukiman. Dengan status sebagai pusat kota, mengakibatkan BWK II mengalami peningkatan kepadatan penduduk sehingga terjadi kemacetan lalu-lintas, polusi, kebisingan, dan perubahan suhu.

Gambar 6. Kawasan Pusat Kota BWK I ditetapkan di bagian barat (kecamatan Gunung Puyuh) sedangkan di bagian timur ditetapkan sebagai BWK III yang meliputi seluruh wilayah kecamatan Cibeureum, salah satu fungsi BWK ini adalah sebagai kawasan pengembangan sektor industri. BWK IV berada di bagian tengah yang meliputi kecamatan Citamiang. BWK V, BWK VI, dan BWK VII berada di bagian selatan yang secara bertutut-turut meliputi wilayah kecamatan Warudoyong, kecamatan Baros, dan Lembursitu.

Kawasan BWK V, BWK VI, dan BWK VII ini merupakan BWK tambahan dari hasil rencana pemekaran wilayah kota Sukabumi berdasarkan arahan RTRW kota Sukabumi. Hal ini bertujuan untuk mengefektifkan pelayanan maksimal pada masyarakat dan peningkatan pembangunan yang merata pada seluruh wilayah kota. Pembagian wilayah kota Sukabumi beserta fungsi kawasannya tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pembagian Wilayah Kota Sukabumi

No. BWK Fungsi Kawasan Komponen Utama Luas (Ha) 1. BWK I Gunung Puyuh Perumahan • Perumahan • Perdagangan • Pendidikan Tinggi • Hutan Kota 548,000 2. BWK II (Pusat Kota) Cikole • Perdagangan & jasa • Pemerintahan/

• Perdagangan & jasa • Pemerintahan/ perkantoran

(4)

34 perkantoran • Perumahan • pariwisata • Perumahan • Kesehatan • Pendidikan • Pariwisata • Hutan Kota 3. BWK III Cibeureum • Industri • Perdagangan • Perumahan • Industri • Perumahan • Perdagangan • Fasilitas umum • Pemerintahan • Taman Kota • Lapangan olahraga • Pendidikan tinggi • Kesehatan • Kawasan hijau 877,000 4. BWK IV Citamiang • Perdagangan • Perumahan • Perdagangan • Industri • Perumahan • Kawasan hijau 404,000 5. BWK V Warudoyong • Industri • Perdagangan • Perumahan • Industri • Pedagangan • Perumahan • Kawasan hijau • Terminal 762,231 6. BWK VI Baros • Perdagangan & jasa • Perumahan • Pariwisata

• Perdagangan & jasa • Industri • Pariwisata • Kawasan hijau • Perumahan 612,000 7. BWK VII Lembursitu • Perumahan • Perdagangan • Pariwisata • Perumahan • Pariwisata • Industri • Perdagangan • Fasilitas sosial • Kawasan hijau • Hutan kota • TPA Sampah • Kuburan 889,00 Jumlah 4800,231

Sumber : RTRW Kota Sukabumi 2002-2011

Dalam konsep dasar pengembangan kota Sukabumi sebenarnya perkembangan fisik kota diarahkan dengan pola pusat jamak, yaitu pengembangan fisik dilakukan ke seluruh wilayah kota disertai dengan mendistribusikan

(5)

fungsi-fungsi pelayanan ke pusat-pusat bagian wilayah kota atau lingkungan. Hal ini dilakukan agar pola pergerakan menjadi tersebar sehingga dapat mengurangi beban kepadatan lalu-lintas pada ruas-ruas jalan tertentu terutama pada pusat kota (jalan arteri primer dan kolektor primer).

Akan tetapi pada kenyataannya berdasarkan pengamatan di lapang dan berdasarkan evaluasi RTRW, hal tersebut belum sepenuhnya dapat terealisasikan. Kecamatan Cikole masih menjadi kecamatan yang paling dominan terhadap seluruh aktivitas masyarakat dimana penutupan lahan sebagai kawasan pemukiman paling luas pada kecamatan ini. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya dominansi kegiatan kota ini antara lain kurang meratanya pelayanan sarana dan prasarana dasar kota di wilayah-wilayah lain terutama di bagian selatan sehingga kebutuhan-kebutuhan sosial-ekonomi terpusat pada sentral kota, serta belum dikembangkannya pemanfaatan daya tarik jalan lingkar selatan kota (wilayah pemekaran) sehingga sulit dalam pendistribusian informasi, barang dan jasa bagi masyarakat sekitar.

Klasifikasi Penutupan Lahan Kota Sukabumi

Penutupan lahan (landcover) memiliki arti yang berbeda dari penggunaan lahan (landuse). Seperti yang dikemukakan oleh de Sherbinin (2002) dalam Putri (2006), istilah penggunaan lahan dapat digunakan untuk menggambarkan penggunaan tanah oleh manusia atau kegiatan mengubah tutupan lahan. Sedangkan penutupan lahan itu sendiri mengacu pada penutupan lahan yang menjadi ciri suatu area tertentu, yang umumnya merupakan pencerminan dari bentukan lahan dan iklim lokal. Dapat juga dikatakan bahwa penutupan lahan berkaitan dengan kenampakan yang ada di permukaan bumi (Lilliesand dan Kiefer, 1993). Contoh penutupan lahan diantaranya hutan, savanna, kebun campuran, dll.

Untuk dapat mengidentifikasikan tipe penutupan lahan pada seluruh luasan kota Sukabumi secara efektif dan efisien, maka pada penelitian ini dilakukan analisis spasial dengan menggunakan teknik penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Data yang digunakan adalah data citra Landsat 7 ETM+ dengan tahun penyiaman 1999 dan 2006. Metode yang digunakan adalah mengklasifikasikan citra secara terbimbing (supervised classification).

(6)

36

Berdasarkan data yang diperoleh, maka dalam penelitian ini diklasifikasikan ke dalam 3 tipe penutupan lahan yang utama di kota Sukabumi, yaitu : (1) Lahan Terbangun, (2) Kebun dan RTH Kota, dan (3) Lahan Persawahan. Dari penentuan klasifikasi lahan tersebut kemudian diolah untuk memudahkan dalam menganalisis secara spasial perubahan penutupan lahan di kota Sukabumi antara tahun 1999-2006 baik luas maupun penyebarannya. Sebagai penunjang dalam pengklasifikasian juga menggunakan data berdasarkan pola pemanfaatan ruang yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sukabumi.

Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang dijelaskan bahwa fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi pelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Di kota Sukabumi keberadaan kawasan lindung ini sangat diperlukan, baik untuk perlindungan pada lingkup ruang wilayah kota Sukabumi maupun untuk perlindungan pada wilayah sekitarnya. Sedangkan kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan yang dibedakan menjadi budidaya pertanian dan non-pertanian.

Dalam hasil kajian dan rujukan RTRW, maka alokasi ruang kota Sukabumi diarahkan untuk kawasan lindung 7,48% dan untuk kawasan budidaya 92,52%. Alokasi untuk kawasan lindung akan sangat terbatas yaitu hanya untuk sempadan sungai, sempadan mata air dan hutan kota, sedangkan sebagian besar lainnya diarahkan untuk pengembangan budidaya khususnya perkotaan, contoh yang termasuk kawasan budidaya adalah kawasan pemukiman, industri, perdagangan, dan RTH. Tentunya dalam penentuan alokasi ruang kota yang baik dan bernilai ekologis, sebaiknya setiap kota harus mengacu pada kebijakan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 yang menjelaskan bahwa proporsi Ruang Terbuka Hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota.

(7)

Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.

Tabel 5. Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota Sukabumi sampai dengan Tahun 2011 (Sumber: RTRW Kota Sukabumi 2002-2011)

Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (Ha) Presentase Kawasan Lindung :

(Kawasan perlindungan setempat : sempadan sungai dan mata air).

359,00 7,48 Kawasan budidaya :

(Kawasan pemukiman, industri,

perdagangan, pariwisata, sawah, RTH, dll)

4.441,23 92,52

Jumlah 4.800,23 100,00

Tipe penutupan lahan terbangun merupakan kawasan yang digunakan secara intensif dan banyak lahan yang tertutup oleh struktur bangunan. Pengklasifikasian ini berdasarkan data penggunaan lahan yang ada di kota Sukabumi. Dalam penelitan ini yang termasuk ke dalam lahan terbangun di kota Sukabumi diantaranya kawasan CBD, pemukiman warga (perumahan), kompleks perdagangan dan jasa, kompleks industri, kawasan pemerintahan/perkantoran, pendidikan, terminal serta jalan raya. Kategori ini merupakan tipe penutupan lahan terluas kedua di kota Sukabumi yang masih didominasi di pusat kota dan menyebar di kecamatan lain mengikuti jalan kolektor dan jalan lokal. (Gambar 7).

Gambar 7. Contoh Penutupan Lahan Terbangun

Tipe penutupan lahan yang kedua adalah kebun dan RTH kota. Kebun dan RTH kota ini sengaja digabung karena berdasarkan kesamaan warna yang terlihat

(8)

38

pada citra Landsat. Dalam penelitian ini yang dapat dikategorikan sebagai tipe penutupan lahan kebun campuran di kota Sukabumi antara lain lahan yang memiliki strata tajuk yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman berkayu non-hutan. Kebun campuran di kota Sukabumi sendiri beragam misalnya untuk buah-buahan dan tanaman pangan lainnya seperti jagung, kacang tanah, ketela, dan lain sebagainya. Umumnya letak kebun campuran ini berdekatan dengan lahan sawah/pertanian dan biasanya dikelola oleh masyarakat setempat ataupun perusahaan tertentu.

Sedangkan yang dapat dikategorikan sebagai RTH kota (Gambar 8) lebih kepada pengisian tata hijau kota yang sifatnya bukan untuk kegiatan pertanian melainkan sebagai fasilitas umum dan sosial kota, biasanya terletak berdekatan dengan lahan terbangun antara lain taman kota, pemakaman, kawasan hijau, lapangan, serta lahan yang dapat dikatakan sebagai jenis hutan kota karena pada kawasan ini lebih didominasi oleh jenis tanaman yang tajuknya lebih rapat, bergerombol dalam jumlah banyak dan biasanya didominasi oleh tanaman yang masih asli. Jenis hutan ini terletak di bagian selatan kota.

Gambar 8. Contoh Penutupan Lahan RTH Kota

Tipe penutupan lahan yang ketiga adalah lahan persawahan yang termasuk ke dalam kawasan budidaya pertanian basah. Lahan sawah ini dapat didefinisikan sebagai lahan yang dapat dipergunakan dalam menghasilkan tanaman pangan khususnya padi. Dapat dikatakan bahwa lahan sawah/pertanian di kota Sukabumi tergolong lahan yang produktif karena intensitas panen bisa tiga kali dalam setahun. Tipe penutupan lahan sawah ini merupakan tipe penutupan lahan yang luas di kota Sukabumi dan distribusinya menyebar pada semua kecamatan. (Gambar 9).

(9)

Gambar 9. Contoh Penutupan Lahan Persawahan Penutupan Lahan Hasil Klasifkasi Citra Penutupan Lahan Tahun 1999

Data-data mengenai luas wilayah berbagai tipe penutupan lahan kota Sukabumi tahun 1999 dihasilkan dari proses klasifikasi citra Landsat 7ETM+ tahun penyiaman 1999. Berbeda dengan citra tahun 2006, dalam pengolahan citra tahun 1999 ini diklasifikasikan menjadi 5 kelas. Ada 2 kelas penutupan lahan tambahan yaitu kelas awan dan bayangan awan tetapi tidak terlalu banyak dan tidak terlalu berpengaruh terhadap luas secara keseluruhan. Hal ini terjadi karena memang citra Landsat 7 ETM+ yang didapat kondisinya pada saat itu terdapat sejumlah awan yang menutupi sehingga terdapat kendala untuk menginterpretasikan penutupan lahan di bawahnya. Secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 11.

Tabel 6. Penutupan Lahan kota Sukabumi Tahun 1999. No. Kelas Penutupan Lahan Luas (Ha)

1. Lahan Terbangun 1261,53

2. Kebun dan RTH kota 1096,11

3. Lahan Persawahan 2509,92

4. Awan 68,85

5. Bayangan awan 27,90

Total 4970,52

(10)

m l y l B a y K K k p k t d m m k m m l m Kond menunjukka lahan persaw yaitu menca lahan perta Berdasarkan adalah di ba yang pada sa Kemudian t Kondisi ini kemiringan pertanian. S kecil adalah Kela terluas kedu dari luas t menggeromb masing mem kecamatan-k menjadi ind merata selai luas lahan t menjadi kec Penu 1096,11 ha disi penutu an bahwa di wahan yang apai 2509,92 anian/sawah n data hasil agian timur aat itu masih terluas kedu sangat dip 0%-3% sehi Sedangkan k kecamatan as penutupan ua setelah lah total kota. bol di pusat miliki luas kecamatan la dikator bahw in faktor jum terbangun pa amatan Cibe utupan lahan atau 22% Gamba upan lahan kota Sukab g memiliki l 2 ha atau sek ini terseb olahan, wila kota yaitu h menyatu d ua adalah engaruhi ol ingga sangat kecamatan y Citamiang y n lahan terb han persawa Pada tahu kota yaitu k sekitar 262 ainnya masih wa pada tah mlah pendud aling kecil b eureum yang n Kebun dan dari luas Laha Persaw 51% Bay a ar 10. Persen dari hasil bumi masih d luasan palin kitar 51% (se bar merata ayah yang m di kecamata dengan kecam kecamatan eh kondisi t potensial u yang memili yang hanya s bangun pada ahan yang m un 1999, kecamatan C 2,332 ha d h memiliki p hun 1999 p duk. Dari ha berada pada g hanya sekit n RTH kota total kota. Ke RT an  wahan % Awan 1% yangan  awan 1% ntase Penutu l pengolaha didominasi ng tinggi dib etengah dari hampir d memiliki lah an Cibeureu matan Baros Lembursitu lereng yang untuk dikemb iki luas lah sekitar 106,2 a saat itu m masih sekitar lahan terba Cikole dan Ci an 161,752 proporsi yan pembangunan asil pengolah a bagian tim tar 93,771 h a pada tahu Untuk are Lahan  Terbangun 25% ebun &  TH kota 22% upan Lahan T an citra ta oleh vegetas banding kel luas total k di semua k han persawah um sekitar 5 (sebelum pe u sekitar 37 g relatif dat mbangkan seb han persawah 25 ha. merupakan k r 1261,53 ha angun masi itamiang yan ha. Semen ng relatif ke n kota terli han citra 19 mur kota yan ha. un 1999 mem ea perkebun Tahun 1999 40 ahun 1999 si terutama las lainnya kota). Kelas kecamatan. han terluas 528,986 ha emekaran). 76,452 ha. tar dengan bagai lahan han paling kelas yang a atau 25% ih terlihat ng masing-ntara pada

cil. Hal ini ihat belum 999 terlihat

ng saat ini

miliki luas nan jarang

(11)

ditemukan di pusat kota, mayoritas letaknya berdekatan dengan pemukiman kampung yang menjadi sektor unggulan kedua bagi warga. Kecamatan yang memiliki kelas penutupan lahan kebun & RTH kota paling luas adalah kecamatan Lembursitu yaitu sekitar 617,028 ha, sedangkan yang memiliki luas paling kecil adalah kecamatan Citamiang yaitu sekitar 114,869 ha. Kawasan RTH kota di kota Sukabumi terdapat hampir pada setiap kecamatan terutama yang paling jelas terlihat pada bagian utara dan selatan kota. Di bagian utara terdapat kompleks Secapa Polri yaitu sekolah calon perwira yang memiliki ruang terbuka berupa hamparan lapangan rumput yang cukup luas, di bagian selatan terdapat semacam hutan kota yang berisikan kumpulan vegetasi sejenis serta kompleks pemakaman. Secara spasial, kondisi penutupan lahan tahun 1999 dapat dilihat pada Gambar 11.

(12)

42 Gambar 11. Peta Penutupan Lahan Kota Sukabumi Tahun 1999

(13)

P S S s t k m t 2 t y k p l Penutupan Data Sukabumi ta Sukabumi t semakin me tetapi secara kawasan hija menjadi 61% tahun 1999. T Su Berd 2006, walau terluas, tetap yaitu menin kecamatan peningkatan lahan terban Lahan Tah a-data tentan ahun 2006 d tahun 2006. eningkat dan a keseluruha au baik untu % dan menun (Lihat Tabe abel 7. Kond No. Kelas 1. Lahan 2. Kebu 3. Lahan Total umber : Dat dasarkan pen upun lahan pi terjadi ke ngkat 14% yang mem n luas paling ngun sangat j Gambar 1 hun 2006 ng luas wilay iperoleh dar . Fenomena n mulai terl an luasan ko uk lahan saw njukkan ang el 7) disi Penutup s Penutupan n Terbangun un dan RTH k n Persawaha l a olahan has ngolahan dat persawaha enaikan ang dari tahun miliki lahan g besar sekit jelas terlihat Lahan Persawa 41% 2. Persentas yah dari ma ri proses klas a yang terja lihat menyeb tanya penutu wah, kebun d gka perubaha pan Lahan ko n Lahan n kota an sil klasifikas a citra Land an masih m gka untuk la 1999. Keca n terbangun tar 378,087 t pada kecam Lah Terba 39 Kebun & RTH  kota 20% n  han se Penutupan sing-masing sifikasi citra adi adalah bar pada se upan lahan m dan RTH kot an yang cuku ota Sukabum L i citra tahun dsat 7 ETM+ merupakan p ahan terbang amatan Cik n paling l ha. Akan te matan Cibeu han  angun 9% n Lahan Tah g penutupan a Landsat 7 E luas lahan emua kecam masih didom ta yang total up tinggi dib mi Tahun 200 Luas (Ha) 1912,05 1011,15 2050,11 4973,31 n 2006. + kota Sukab penutupan la gun yang cu kole masih m luas dan m etapi pening ureum yang p hun 2006 lahan kota ETM+ kota terbangun matan, akan minasi oleh l berkurang bandingkan 06. umi Tahun ahan yang ukup besar merupakan mengalami gkatan luas pada tahun

(14)

L y d b p p m 2 2 C S o b s I d p 1999 selua Lembursitu, yang ada. Berd daerah perko banyaknya p pertanian da pertanian. Kela memperlihat 2050,11 ha a 2006 kecam Cibeureum Sedangkan u olahan citra 1011.15 ha p bisa besar la 1999 tertutu sebenarnya. Ini merupak dipertahanka pada Gamba Gambar Luas   (Ha )   s 93,771 h Baros, dan dasarkan RT otaan luas la pembanguna ari tahun ke as penutupa tkan angka atau berkura matan yang m tetapi luasa untuk kelas a juga terjad pada tahun 2 agi karena se up oleh aw Tetapi seca kan indikator an. Secara s ar 14. 13. Grafik P 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 Lahan ha menjadi Warudoyon TRW kota S ahan sawah an di bidang e tahun sud an lahan p penurunan ang sekitar 1 memiliki kel annya menu penutupan di penurunan 2006 (Gamb ebagian besa wan sehingg ara keseluruh r bahwa seba spasial, kond Perubahan L n Terbangun 329,737 h ng perkemba Sukabumi t makin lama perumahan dah semakin persawahan yang cukup 10% dari tah as lahan per urun dari 5 lahan kebun n sebesar 2% bar 13). Sebe ar luas kelas ga tidak da han perubah agian besar R disi penutup Luas Kelas Pe Kebun dan RT Kota ha. Sedang angannya m tahun 2002-a m2002-akin ber dan industri n berkurang yang ada p besar dar hun 1999 (G rsawahan ter 528,986 ha n dan RTH % yaitu dar enarnya ang s kebun dan apat terdetek an yang terj RTH kota di pan lahan tah

enutupan La TH  Lahan Pers gkan pada mengikuti jari -2011, mem rkurang sejal i sehingga fu menjadi la a pada tah i 2509,92 h Gambar 13). P rluas masih menjadi 46 kota berdas ri 1096.11 h ka penuruna n RTH kota p ksi berapa adi tidak ter i kota Sukab hun 2006 da ahan Tahun 1 sawahan 44 kecamatan ingan jalan mang untuk lan dengan ungsi lahan ahan bukan hun 2006 ha menjadi Pada tahun kecamatan 67,749 ha. sarkan data ha menjadi an kelas ini pada tahun luas yang rlalu besar. bumi masih apat dilihat 1999-2006 1999 2006

(15)

45 Gambar 14. Peta Penutupan Lahan Kota Sukabumi Tahun 2006

(16)

46 Perubahan Penutupan Lahan Kota Sukabumi

Berdasarkan hasil klasifikasi citra Landsat 7 ETM+ tahun 1999 dan 2006, kota Sukabumi mengalami perubahan penutuan lahan pada tiap tipe penutupan lahannya. Perubahan lahan yang tersaji dapat dilihat pada Tabel 8 dan dapat dianalisis secara visual dengan melihat peta spasial konversi penutupan lahan terjadi dalam kurun waktu 7 tahun pada Gambar 15.

Tabel 8. Perubahan Penutupan Lahan Kota Sukabumi (1999-2006) No Penutupan Lahan 1999 2006 Perubahan Lahan Luas (ha) Persentase (%) Luas (ha) Persentase (%) Luas (ha) Persentase (%) 1. Lahan Terbangun 1261,53 25,00 1912,05 39,00 650,52 14,00 2. Kebun & RTH kota 1096,11 22,00 1011,15 20,00 -84,96 -2,00 3. Lahan Persawahan 2509,92 51,00 2050,11 41,00 -459,81 -10,00 4. Awan 68,85 1,00 - - - - 5. Bayangan Awan 27,9 1,00 - - - - Total 4970,52 100,00 4973,31 100,00 - -

Sumber : Hasil Analisis

Dalam kurun waktu 1999-2006 kelas penutupan lahan untuk lahan terbangun mengalami perubahan dari 25% pada tahun 1999 menjadi 39% pada tahun 2006. Sementara kawasan hijau yang meliputi persawahan dan kebun & RTH kota mengalami penurunan dari 73% menjadi 61% di tahun 2006, untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 8. Peningkatan proporsi ruang terbangun yang ada menunjukkan bahwa terjadinya urbanisasi di kota Sukabumi. Kepadatan lahan terbangun yang tinggi berada di bagian pusat kota atau di sekitar alun-alun kota dimana pada wilayah ini banyak sekali terdapat perumahan, kantor pemerintahan, dan kompleks perdagangan yang menyebar di beberapa jalan utama di pusat kota.

Pemekaran kota ke bagian timur menjadi faktor penting yang mempengaruhi aktivitas pembangunan kota (urbanisasi). Dasar pertimbangan terjadinya urbanisasi di kota Sukabumi diantaranya bahwa saat ini kota Sukabumi dapat dikatakan sebagai kawasan cepat tumbuh dan sebagai Free Market Area

(17)

dimana kota Sukabumi telah diarahkan sebagai salah satu pusat keluar masuknya aliran orang dan barang dari dan daerah sekitarnya, khususnya Bandung dan Jakarta. Selain itu juga karena sebaran kawasan lindung yang relatif kecil, sehingga pengembangan kawasan relatif lebih leluasa.

Berdasarkan RTRW Kota Sukabumi tahun 2002-2011, kecenderungan perkembangan fisik kota Sukabumi sampai tahun 2011 adalah searah dengan ruas jalan-jalan utama untuk kegiatan komersil dan fasilitas umum sedangkan untuk perkembangan perumahan cenderung menyebar tidak berpola. Perkembangan fisik dengan intensitas tinggi masih terjadi di sekitar ruas-ruas jalan utama baik ke arah Jakarta, Bandung maupun Pelabuhan Ratu, sedangkan perumahan khususnya yang dibangun oleh developer cenderung menyebar seperti terjadi di kecamatan Baros, Citamiang, Cibeureum, dan Cikole.

Untuk saat ini wilayah bagian selatan masih memiliki lahan persawahan yang cukup luas. Namun di masa yang akan datang diperkirakan menjadi lahan-lahan yang potensial untuk perkembangan fisik karena telah dibangunnya jalan lingkar selatan yang menjadi akses mobilitas penduduk dan aktivitas perekonomian kota tentunya selain melalui jalan utama kota.

Sebenarnya terjadinya Land Use/Cover Change di kota Sukabumi ini tidak terlepas kaitannya dengan kondisi infrastruktur kota yang ada. Seperti masalah yang sedang dihadapi oleh bidang Tata Ruang, Pemukiman, dan Lingkungan Hidup Kota Sukabumi yang menjelaskan bahwa terjadi penurunan daya dukung lingkungan. Hal ini disebabkan salah satunya karena perkembangan pemukiman penduduk yang cenderung lebih besar di pusat kota dan lahan yang memiliki aksesibilitas tinggi ke tempat kerja yang menyebabkan pemukiman di sekitar pusat kota menjadi sangat padat sehingga banyak berkembangnya pemukiman kumuh, karena tidak diimbangi oleh pengelolaan infrastruktur kota yang baik.

Dari hasil olahan data citra yang dilakukan (Tabel 8) terlihat adanya perbedaan total luas penutupan lahan tahun 1999 dan tahun 2006, dari hasil klasifikasi yang diperoleh untuk tahun 1999 dan tahun 2006 masing-masing 4970,52 ha dan 4973,31 ha. Hal ini disebabkan oleh pengaruh geokoreksi dimana kesalahan satu pixel raster akan menyebabkan penyimpangan sebesar 900m2 (30m x 30m) di lapangan.

(18)

48

Tabel 9. Konversi Luas per Kelas Penutupan Lahan Tahun 1999-2006 Konversi penutupan lahan

tahun 1999-2006 (Ha) 1999 Lahan Terbangun Kebun dan RTH kota Lahan Persawahan 2006 Lahan Terbangun 1.153,17 231,84 482,94 Kebun dan RTH kota 53,10 574,65 227,61 Lahan Persawahan 50,49 121,95 1.937,52

Sumber: Hasil Pengolahan Citra Landsat 7 ETM+ Tahun 1999 dan 2006.

Dari Tabel 9 dapat dilihat konversi dari satu penutupan lahan ke penutupan lahan lainnya. Konversi kawasan hijau yang terjadi selama kurun waktu 1999 sampai 2006 yang paling tinggi terlihat pada konversi lahan persawahan menjadi lahan terbangun sebesar 482,94 ha, sedangkan dari lahan persawahan menjadi kebun dan RTH kota sebesar 227,61 ha. Konversi kelas kebun dan RTH kota yang terbesar adalah menjadi lahan terbangun sebesar 231,84 ha diikuti dengan perubahan menjadi lahan persawahan sebesar 121,95 ha.

Pada dasarnya perubahan penutupan lahan (Land Cover Change) yang mulanya berasal dari Ruang Terbangun (RTB) bersifat irreversible, artinya sulit dikembalikan ke keadaan sebelumnya. Akan tetapi dari data pada Tabel 9 terlihat adanya konversi lahan terbangun yang terjadi tetapi jumlah luasannya relatif lebih kecil. Konversi lahan terbangun menjadi lahan persawahan hanya 50,49 ha dan konversi lahan terbangun menjadi kebun dan RTH kota sebesar 53,10 ha. Angka konversi ini dimungkinkan lahan terbangun yang berubah sifatnya semi permanen ataupun sudah tidak sesuai dengan rencana, misalnya lahan bekas kompleks peternakan maupun bangunan semi permanen lainnya yang sudah tidak digunakan lagi dalam jangka waktu yang relatif lama, sehingga memungkinkan terjadinya pengalihgunaan lahan oleh masyarakat untuk dijadikan kawasan hijau.

Tipe penutupan lahan yang tidak berubah (tetap bertahan) ditunjukkan dengan angka yang dicetak tebal dengan proporsi paling besar masih dimiliki oleh penutupan lahan persawahan yaitu sebesar 1.937,52 ha, kemudian kelas lahan terbangun yang tetap sebesar 1.153,17 ha dan kebun & RTH kota sebesar 574,65 ha. Secara lebih jelas, data spasial perubahan penutupan lahan yang terjadi di kota Sukabumi dapat dilihat pada Gambar 15.

(19)

49 Gambar 15. Peta Perubahan Penutupan Lahan Kota Sukabumi (1999-2006)

(20)

50 Distribusi Penutupan Lahan Kota Sukabumi

Pola distribusi kelas penutupan lahan di kota Sukabumi ini dapat terlihat dari analisis penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Faktor penting yang ikut mempengaruhi sebaran kelas penutupan lahan ini adalah pola jaringan jalan kota. Penyebaran kelas penutupan lahan kota Sukabumi dapat dilihat dari hasil overlay antara peta penutupan lahan dari citra Landsat 7 ETM+ dengan peta jaringan jalan dan peta administratif per kecamatan kota Sukabumi yang disajikan pada Gambar 16.

Sebelum adanya perluasan wilayah kota Sukabumi khususnya di pusat kota pola jaringan jalan yang ada cenderung membentuk pola grid, hal ini menyulitkan untuk melakukan perluasan jaringan jalan dikarenakan wilayah yang sempit dan kepadatan penduduk yang tinggi. Akan tetapi sekarang setelah adanya perluasan wilayah, kondisi jaringan jalan cenderung tidak seimbang. Di daerah selatan yang merupakan wilayah perluasan pola jaringan jalan umumnya tidak beraturan, ini disebabkan tata guna lahan lebih banyak didominasi oleh lahan persawahan.

Dari hasil overlay dapat dilihat penyebaran kelas penutupan lahan kebun dan RTH kota pada umumnya menyebar hampir ke semua kecamatan. Tetapi proporsi yang paling besar terlihat di kecamatan Lembursitu sedangkan yang terkecil berada di kecamatan Warudoyong. Begitu pula untuk kelas lahan persawahan juga menyebar merata, tetapi di kecamatan Citamiang dan Cikole memiliki proporsi yang lebih sempit karena kecamatan tersebut berada di pusat kota (CBD) yang mayoritas aktivitas masyarakatnya bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Sedangkan pola penyebaran kawasan lahan terbangun sendiri terbentuk mengikuti jaringan jalan, baik jalan kolektor primer maupun jalan lokal seperti yang jelas nampak di kecamatan Lembursitu yang letak pemukiman warganya hanya berada di tepi jalan lokal saja.

(21)

Gambar 16. Hasil overlay peta penutupan lahan tahun 2006 untuk masing- masing kecamatan

Gambar 17. Hasil overlay peta penutupan lahan tahun 2006 dengan peta jaringan jalan

(22)

52 Pertumbuhan Penduduk Kota Sukabumi

Dalam jangka waktu dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2006 terlihat adanya perkembangan penduduk akibat pertumbuhan kota Sukabumi. Kota Sukabumi yang memiliki luas sekitar 4.800,231 Ha, berdasarkan registrasi penduduk akhir tahun 1999 memiliki jumlah penduduk sebanyak 243.068 jiwa, sedangkan pada tahun 2006 memiliki jumlah penduduk sebanyak 263.479 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk yang terjadi sebanyak 20.411 jiwa ini dapat dikategorikan sebagai pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi dengan presentase sebesar 8,40% dari jumlah penduduk pada tahun 1999.

Tabel 10. Pertumbuhan Penduduk Kota Sukabumi Tahun 1999-2006

No. Kecamatan Jumlah Penduduk

Pertumbuhan Penduduk

Kepadatan Penduduk

(jiwa/km2) KepadatanPerubahan

1999 2006 (jiwa) (persen) 1999 2006 1. Citamiang 40.686 44.263 3.577 8,80 10.071 10.956 895 2. Warudoyong 43.556 46.894 3.338 7,66 5.731 6.170 439 3. Gunung Puyuh 35.179 36.174 995 2,82 6.396 6.577 181 4. Cikole 53.786 53.467 -319 -0,60 7.597 7.551 -46 5. Baros 69.861 26.141 12.820 18,35 2.938 4.271 - 6. Lembur Situ 30.236 3.401 7. Cibeureum 26.304 2.999 Total 243.068 263.479 20.411 8,40 5.064 5.489 -

Sumber : Registrasi Penduduk dan Susenas BPS Kota Sukabumi, 1999 dan 2006 (diolah)

Dari tabel data pertumbuhan penduduk kota Sukabumi antara dua titik waktu tahun 1999-2006, masih nampak bahwa kecamatan dengan jumlah penduduk tertinggi masih terdapat di kecamatan Cikole dikarenakan kecamatan ini dijadikan sebagai pusat kota Sukabumi yang memilik sarana dan fasilitas sosial-ekonomi yang relatif lebih lengkap dibanding kecamatan lainnya. Akan tetapi jika dilihat kepadatan penduduk berdasarkan luas kecamatannya, kecamatan Cikole masih lebih kecil dibandingkan dengan kecamatan Citamiang. Kepadatan penduduk kecamatan Cikole sebesar 7.597 jiwa/km2 (1999) dan 7.551 jiwa/km2

(23)

(2006), sedangkan kecamatan Citamiang sebesar 10.071 jiwa/km2 (1999) dan 10.956 jiwa/km2 (2006) diikuti oleh kecamatan Gunungpuyuh dan Warudoyong secara berurut. Sedangkan kecamatan yang hingga 2006 memiliki jumlah penduduk terendah adalah kecamatan Baros sebesar 26.141 jiwa.

Jika dilihat dari pertambahan penduduk dari tahun 1999-2006, pertumbuhan dari masing-masing kecamatan memiliki nilai yang beragam. Pertumbuhan penduduk tertinggi di kota Sukabumi terdapat di kecamatan Citamiang yaitu mencapai 3.577 jiwa atau meningkat sebesar 8,80% dari jumlah penduduk Citamiang tahun 1999. Hal ini wajar saja terjadi di kecamatan ini karena letak kecamatan Citamiang bersebelahan dengan kecamatan dengan Cikole sebagai pusat kota. Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhinya, diantaranya karena fungsi kawasan BWK IV (Citamiang) dipusatkan sebagai sektor utama perumahan dan perdagangan sehingga banyak terdapat pemukiman dan kompleks pertokoan serta adanya kemungkinan migrasi penduduk dari kecamatan-kecamatan lain ditunjang dengan penyediaan fasilitas kota yang lebih baik.

Khusus untuk permasalahan pemekaran wilayah, berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 1999 kota Sukabumi masih memiliki 5 kecamatan, baru kemudian setelah tahun 2001 ke atas ditetapkan pemekaran kecamatan Baros dengan tambahan dua kecamatan yaitu Lembursitu dan Cibeureum. Jika dilihat dari angka pertumbuhan penduduk sampai 2006 terjadi peningkatan menjadi 12.820 jiwa atau sekitar 18,35%, artinya jika dirata-ratakan masing-masing kecamatan terjadi peningkatan penduduk sekitar 6%. Dengan angka pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi di wilayah pemekaran ini memungkinan dijadikan sebagai salah satu indikator terjadinya konversi lahan terutama lahan sawah dan perkebunan menjadi lahan terbangun.

Dari Tabel 10 dapat dilihat terdapat kecamatan yang mengalami pertumbuhan penduduk yang negatif, yaitu kecamatan Cikole yang menurun sekitar 0,60% dari jumlah penduduk tahun 1999 dan juga kepadatan penduduknya menurun sekitar 46 jiwa/km2. Pada tahun 1999 Cikole memiliki penduduk 53.786 jiwa, akan tetapi hingga tahun 2006 menurun menjadi 53.467 jiwa. Walaupun cukup kecil tetapi penurunan ini dimungkinkan adanya migrasi penduduk

(24)

54

khususnya menuju wilayah pemekaran yang relatif lahannya masih minim lahan terbangun.

Analisis Inkonsistensi Pemanfaatan Ruang Kota Sukabumi

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sukabumi merupakan kebijaksanaan pengembangan fisik wilayah kota Sukabumi yang menetapkan pemanfaatan ruang untuk menjaga keserasian pembangunan antar sektor dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan di kota Sukabumi (BAPPEDA Kota Sukabumi, 2002). Dalam kaitannya dengan ruang lingkup waktu perencanaan, dijelaskan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota disusun untuk jangka waktu 10 tahun mendatang dan dijabarkan dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan kebijakan lainnya baik spasial maupun sektoral. Seiring dengan bejalannya waktu, pembangunan yang terjadi di suatu kota akan menyebabkan konversi lahan dan tidak jarang konversi yang terjadi tersebut inkonsisten dengan kebijakan/rencana pemanfaatan ruang kota yang telah ditetapkan sebelumnya.

Inkonsistensi atau bisa juga dikatakan sebagai bentuk penyimpangan penggunaan lahan merupakan bentuk perubahan/konversi penggunaan lahan yang tidak sejalan penggunaannya dengan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. RTRW yang dikaji untuk menganalisis inkonsistensi pemanfaatan ruang adalah RTRW Kota Sukabumi Tahun 2002-2011 (Gambar 18) yang telah diklasifikasikan berdasarkan masing-masing penggunaan lahan. Pembagian kelas penggunaan lahan yang tersaji pada RTRW Tahun 2002-2011 yang diperoleh dari BAPPEDA antara lain : kelas hutan kota, industri, kesehatan, olahraga dan rekreasi, pariwisata, pemukiman, pendidikan, pertanian, pemerintahan, perdagangan dan jasa, sempadan sungai, taman kota, TPA sampah, dan TPU.

Hasil dan analisis peta inkonsistensi pemanfaatan ruang kota Sukabumi ini diperoleh dari hasil overlay peta RTRW kota Sukabumi tahun 2002-2011 dengan informasi akhir eksisting penutupan lahan kota Sukabumi tahun 2006 (Gambar 19). Tiga arahan pemanfaatan ruang yang dikaji dalam penelitian ini adalah perubahan menjadi lahan terbangun, yaitu hutan kota menjadi lahan terbangun, lahan pertanian menjadi lahan terbangun, dan taman kota menjadi lahan terbangun. Informasi inkonsistensi pemanfaatan ruang kota Sukabumi ini tidak

(25)

terjadi di semua kecamatan. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa total luas inkonsistensi tata ruang yang terjadi di kota Sukabumi sebesar 198,45 ha atau 4,07% dari total luas wilayah kota Sukabumi. (Tabel 11).

Inkonsistensi terbesar terjadi pada lahan pertanian menjadi lahan terbangun yaitu 121,67 ha (2,50% dari total luas wilayah kota Sukabumi) dengan luas peruntukan untuk lahan pertanian sebesar 711,97 ha (14,83% dari total luas wilayah kota Sukabumi). Akan tetapi angka persentase berdasarkan luas peruntukan lahan pertaniannya, menunjukkan angka inkonsistensi sebesar 17,08%. Penyebarannya tersebar di semua kecamatan kecuali kecamatan Gunung Puyuh. Inkonsistensi yang terjadi pada hutan kota menjadi lahan terbangun yaitu 68,45 ha (1,40% dari total luas wilayah kota Sukabumi) dengan luas peruntukan untuk hutan kota sebesar 330,30 ha (6,80% dari total luas wilayah kota Sukabumi) yang tersebar pada Kecamatan Bros, Gunung Puyuh, Cikole, dan Lembursitu. Jika dilihat persentase berdasarkan luas peruntukan hutan kotanya, menunjukkan angka inkonsistensi sebesar 20,72%.

Inkonsistensi yang terjadi pada taman kota menjadi lahan terbangun yaitu 8,32 ha (0,17% dari total luas wilayah kota Sukabumi) dengan luas peruntukan untuk taman kota sebesar 16,59 ha (0,35% dari total luas wilayah kota Sukabumi) dan terdapat di Kecamatan Baros dan Citamiang. Akan tetapi jika dilihat angka persentase berdasarkan luas peruntukan taman kota menurut RTRW, menunjukkan angka inkonsistensi yang cukup besar yaitu 50,15%. Ini menunjukkan bahwa setengah dari luas peruntukkan untuk taman kota telah berubah menjadi lahan terbangun. Secara lebih rinci, sebaran luas area dan persentase inkonsistensi pemanfaatan ruang terbangun tahun 2006 tersaji pada tabel 11 dan tabel 12.

(26)

56

Tabel 11. Inkonsistensi Tiga Kategori Arahan Pemanfaatan Ruang Menjadi Lahan Terbangun dan Luas Peruntukan Tiga Kategori Arahan Pemanfaatan Ruang di Kota Sukabumi Tahun 2006.

Peruntukan Menurut RTRW

Luas Peruntukan Luas Inkonsistensi

Ha % Ha % (berdasarkan luas kota) % (berdasarkan luas peruntukan) Lahan Pertanian 711,97 14,83 121,67 2,50 17,08 Hutan Kota 330,30 6,80 68,45 1,40 20,72 Taman Kota 16,59 0,35 8,32 0,17 50,15 Total 1058,86 21,98 198,45 4,07 -

Sumber : Hasil Analisis

Berdasarkan penyebaran inkonsistensi pada masing-masing kecamatan, penutupan lahan yang tidak searah dengan RTRW yang paling besar terjadi di Kecamatan Lembursitu sebesar 65,93 ha atau 1,36% dari luas total kota dan Kecamatan Cibeureum sebesar 50,65 ha atau 1,03%. Sedangkan di Kecamatan Baros sebesar 44,86 ha atau 0,93%, di Kecamatan Citamiang sebesar 14,99 ha atau 0,32%, dan di Kecamatan Cikole sebesar 13,47 ha atau 0,26%. Sedangkan luas inkonsistensi paling kecil terdapat di Kecamatan Warudoyong sebesar 5,17 ha atau 0,10% dan di Kecamatan Gunung Puyuh sebesar 3,37 ha atau 0,07%. Tabel 12. Luas Penyimpangan Penutupan Lahan per Kecamatan

Sumber : Hasil Analisis No. Kecamatan Penyimpangan Total L. Pertanian Æ Terbangun Hutan Kota Æ Terbangun Taman Kota Æ Terbangun

(ha) (ha) (ha) (ha) %

1. Baros 30,14 6,57 8,15 44,86 0,93 2. Citamiang 14,82 - 0,17 14,99 0,32 3. Warudoyong 5,17 - - 5,17 0,26 4. Gunung Puyuh - 3,37 - 3,37 0,07 5. Cikole 4,63 8,84 - 13,47 0,10 6. Lembursitu 16,26 49,67 - 65,93 1,36 7. Cibeureum 50,65 - - 50,65 1,03 Total 121,67 68,45 8,32 198,45 4,07

(27)
(28)

58 Gambar 19. Peta Inkonsistensi Pemanfaatan Ruang Kota Sukabumi

(29)

Penutupan lahan yang tidak sejalan dengan arahan RTRW pada penelitian ini secara umum terbagi ke dalam tiga kemungkinan penyebab, yaitu :

1. Penutupan lahan merupakan kondisi eksisting atau sebenarnya yang sudah ada sejak sebelum berlakunya/ditetapkannya RTRW 2002-2011 tersebut. 2. Penutupan lahan yang tidak sesuai dengan RTW karena memang terjadi

penyimpangan yang sebenarnya yaitu pelanggaran terhadap batas-batas penggunaan lahan yang telah ditetapkan dalam RTRW. Hal ini dimungkinkan karena faktor pembangunan yang mengakibatkan konversi lahan alami menjadi lahan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. 3. Karena teknis pemetaan atau kesalahan dalam menganalisis peta digital.

Kesalahan yang umumnya dijumpai dalam mengolah data citra dan menganalisisnya dengan Sistem Informasi Geografis ini yaitu perbedaan koordinat geometris sehingga mempengaruhi ketepatan dalam proses pada saat overlay data raster yang didapat pada hasil analisis citra Landsat 7 ETM+ untuk penutupan lahan dengan peta analisis RTRW yang telah diolah.

Sedangkan untuk kasus yang umumnya ditemukan pada kondisi yang sebenarnya, faktor yang menentukan terjadinya konversi lahan dan penyimpangan tersebut adalah rata-rata lahan milik sendiri/milik warga (kepemilikan lahan), minimnya pemahaman masyarakat tentang penataan ruang dan RTRW Kota yang kemungkinan terjadi karena kurangnya sosialisasi dari Pemkot sendiri, serta adanya pertumbuhan penduduk sehingga kebutuhan akan pemukiman dan lahan terbangun yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi meningkat.

Tahap sosialisasi atau pemasyarakatan RTRW kota Sukabumi ini merupakan hal yang amat penting yaitu dalam menilai apakah pengelolaan tata ruang kota tersebut dapat dikatakan berhasil atau tidak. Sosialisasi RTRW yang baik ini adalah dengan melibatkan berbagai instansi terkait dan dilakukan dengan penyampaian informasi secara terus-menerus mengenai arahan pemanfaatan ruang (BAPPEDA Kota Sukabumi, 2002).

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada peneltian ini terlihat angka persentase untuk kawasan hijau kota Sukabumi secara keseluruhan masih sekitar 60% dan dapat dikatakan masih memenuhi standar Undang-Undang Penataan

(30)

60

Ruang No. 26 Tahun 2007 yang menjelaskan bahwa luas total RTH kota minimal 30%. Akan tetapi sebaiknya pemerintah kota Sukabumi tidak serta merta membiarkan begitu saja terjadinya percepatan alih fungsi lahan yang masih sekitar 60% tersebut sehingga terus berkurang yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun dari pemerintah kota Sukabumi sendiri. Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut, sebaiknya diupayakan strategi bagaimana mempertahankan dan pengembangan Ruang Terbuka Hijau yang lebih baik lagi terutama pada lahan-lahan yang memang diperuntukkan sebagai kawasan lindung.

Salah satu bentuk kawasan hijau yang juga harus dipertahankan selain lahan pertanian adalah hutan kota dan juga lahan perkebunan masyarakat yang apabila tidak ada pengelolaan yang baik terhadap konversi lahan, maka akan terus mengalami penurunan luasan. Karena memang secara cultural landscape, kota Sukabumi sejak dahulu dikenal sebagai kota perkebunan. Lebih baik lagi apabila beberapa lahan pertanian dan lahan perkebunan yang ada diupayakan untuk terus dijaga kelestariannya dan dikembangkan untuk kegiatan wisata yang berbasis pertanian (agrowisata), karena kondisi lahan yang ada masih berpotensi untuk dikembangkan ke arah tersebut. Pengembangan aspek wisata ini secara tidak langsung dapat menunjang dalam bagian pembangunan ekonomi kota. Tentunya dalam merealisasikan hal tersebut juga perlu ditunjang dengan perbaikan infrastruktur kota yang memadai dan merata tidak hanya di pusat kota saja.

Gambar

Tabel 4. Pembagian Wilayah Kota Sukabumi
Gambar 7. Contoh Penutupan Lahan Terbangun
Gambar 8. Contoh Penutupan Lahan RTH Kota
Gambar 9. Contoh Penutupan Lahan Persawahan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan skenario ruang terbuka hijau yang harus disediakan sekitar 32% dan luas lahan terbangun 68,00%, dengan simulasi didapatkan kebutuhan luasan hutan kota dengan

Dengan menggunakan skenario ruang terbuka hijau yang harus disediakan sekitar 32% dan luas lahan terbangun 68,00%, dengan simulasi didapatkan kebutuhan luasan hutan kota dengan

Dari Grafik Luas lahan terbangun (Gambar 7) dapat dilihat bahwa Kecamatan Makassar yang termasuk dalam Kawasan Pusat Kota dan Ujung Tanah yang termasuk ke dalam

Peraturan Daerah Kota Sukabumi tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dibentuk selain untuk melaksanakan ketentuan Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang

Kota Sukabumi merupakan Salah satu wilayah administrasi yang mengembangkan SIK dan program kesehatan berkesinambungan guna mewujudkan kota sehat yang dimana didalamnya

Sedangkan laju pertumbuhan penduduk, luas perubahan mangrove, luas perubahan TPLK menjadi lahan terbangun, alokasi ruang untuk TPLK, jarak terhadap jalan tol dan

Secara keseluruhan, kawasan potensial di wilayah calon Kota Muara Bungo memiliki luas sebesar 28.039,24 Ha dari total luas lahan keseluruhan wilayah calon Kota Muara

Peraturan Daerah Kota Sukabumi tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dibentuk selain untuk melaksanakan ketentuan Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang