21
Bab III Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian secara lengkap diberikan pada gambar 3.1. berikut:
Gambar 3.1 Alur kerja penelitian III.1 Persiapan
Dalam penelitian ini, data masukan, metoda perolehan data dan langkah-langkah untuk mendapatkan kriteria yang digunakan dalam analisis akan dibahas lebih lanjut. Data yang digunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok yaitu: Persiapan Interpolasi (Krigging) Interpolasi (Krigging) Interpolasi (Krigging) Katalog gempa Rasio Spektrum Fourier (H/V)
Titik data Periode Predominan
Titik data Faktor Amplifikasi Titik data Seismisitas
Metoda Kanai
Titik data percepatan getaran tanah
Seismogram mikrotremor
Analisis Perhitungan Nilai Bobot &
Ranking menggunakan Metoda SAW
Perhitungan Nilai Bobot & Ranking menggunakan Metoda
AHP
Peta Mikrozonasi menggunakan Metoda SAW
Peta Mikrozonasi menggunakan Metoda AHP Layer Periode Predominan Layer Faktor Amplifikasi Layer percepatan getaran tanah Layer Zona Sesar Layer Kelompok
Batuan
Data Kegempaan
Pemilihan sesar Pengelompokan berdasarkan umur Peta Geologi
Pemisahan data geologi
Data Struktur Data Sebaran Batuan Data
22
- Data Geologi
- Data Kegempaan
Atribut kelompok batuan, zona sesar, faktor amplifikasi, percepatan getaran tanah maksimum dan periode predominan tanah ditentukan dan digunakan dalam analisis untuk mendapatkan peta mikrozonasi seismisitas.
Dengan menggunakan peta geologi akan didapatkan data kelompok batuan dan zona sesar, sedangkan data percepatan getaran tanah maksimum dihitung dari data periode predominan tanah dan data kegempaan setempat. Data periode predominan dan faktor amplifikasi dihasilkan dari survei mikrotremor di daerah penelitian.
III.2 Data Masukan III.2.1 Peta topografi
Peta topografi yang digunakan adalah produksi Bakosurtanal dengan skala 1 : 25.000, proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM) dan ellipsoid World
Geodetic System 1984 (WGS84). Peta tersebut digunakan sebagai peta dasar dan
untuk mendapatkan ketinggian titik pengukuran mikrotremor di daerah penelitian.
III.2.2 Data geologi
Data Geologi di daerah penelitian berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta skala 1 : 100.000 (Rahardjo, et. al., 1995 dan Soehaimi et al., 2007) yang diterbitkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (sekarang Pusat Survei Geologi).
III.2.2.1 Kelompok batuan
Batuan di daerah penelitian dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut: Aluvium (Qa)
Bagian ini merupakan bagian yang paling muda, terdiri dari kerakal, pasir, lanau dan lempung sepanjang sungai yang besar dan dataran pantai.
23
Terdiri dari tuf, abu, breksi, agromerat dan leleran lava tak terpisahkan. Hasil pelapukannya membentuk lereng bagian bawah dan dataran yang meluas di sebelah selatan terutama terdiri dari endapan aluvium rombakan gunungapi yang terkerjakan kembali oleh alur-alur, berasal endapan semula di lereng bagian atas. Endapan gunungapi Merapi muda ini tersingkap di sebagian besar daerah penelitian.
Formasi Sentolo (Tmps)
Terdiri dari batugamping dan batupasir napalan. Bagian bawah formasi ini terdiri dari konglomerat alas yang ditumpuki oleh napal tufan dengan sisipan tuf kaca. Batuan ini ke arah atas berangsur-angsur berubah menjadi batugamping berlapis bagus yang kaya akan Foraminifera. Pringgoprawiro (1968) dan Darwin Kadar (1975) dalam Rahardjo, 1995 mengambil kesimpulan bahwa umur formasi ini berkisar antara awal Miosen sampai Pliosen dengan ketebalan berkisar 950 m.
Formasi Wonosari (Tmwl)
Batugamping terumbu, kalkarenit dan kalkarenit tufan. Di bagian selatan batugamping terumbu yang masif terdapat pada suatu topografi kars. Pada tempat sebelah utara dekat hulu kali Urang, batugamping berfosil yang keras dan sarang berwarna abu-abu muda dengan struktur bioherma berselang-seling dengan kalkarenit berwarna abu-abu muda yang mengandung struktur silang siur (oleh penduduk setempat batuan ini dimanfaatkan untuk alas bangunan). Ketebalan formasi ini diperkirakan 800 m. Umur formasi Wonosari mempunyai kisaran maksimum dari Miosen Tengah sampai Pliosen Awal.
Formasi Kepek (Tmpk)
Napal dan batugamping berlapis. Formasi ini setara dengan formasi Wonosari.
Formasi Sambipitu (Tms)
Tuf, serpih, batulanau, batupasir, dan konglomerat. Terdapat pula tuf batuapung, batulanau tufan yang sebagian bersifat gampingan. Bagian bawah formasi ini tersusun oleh beberapa urutan breksi yang ke arah atas berubah menjadi batupasir
24
tufan dan serfih bersifat gampingan. Ketebalan diperkitan 150 m dan secara cepat formasi ini menipis ke arah selatan. Umur Formasi ini berkisar Miosen Bawah.
Formasi Nglanggran (Tmn)
Breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat, lava dan tuf. Breksi yang pejal dan berlapis tersingkap dengan baik di tebing lembah Kali Oyo. Pada bagian singkapan ini terdapat tuf dengan perlapisan bersusun. Sebagian besar satuan ini telah melapuk menjadi tanah berwarna coklat kemerahan. Ketebalan pada bukit di baratdaya Patuk antara 500 sampai 750 m tetapi di sepanjang Kali Oyo dan di selatannya, ketebalannya jauh lebih besar.
Formasi Semilir (Tmse)
Perselingan antara breksi-tuf, breksi batuapung, tuf dasit dan tuf andesit serta batulempung tufan. Tuf berwarna abu-abu cerah yang terdapat pada bagian tengah dari formasi ini secara jelas memberikan serat berwarna putih, dan satuan ini dapat dijejaki pada jarak yang jauh ke arah timur (Boths, 1929 dalam Rahardjo, 1995). Ketebalan formasi ini diperkiran 1.200 m.
Untuk menyederhanakan batuan yang menyusun daerah penelitian dibagi kedalam dua kelompok batuan, yakni kelompok batuan praKuarter dan Kuarter. Kelompok batuan praKuarter merupakan bagian dari batuan lebih tua di daerah ini terdiri atas Formasi Semilir, Nglanggran, Sambipitu, Wonosari dan Sentolo. Kelompok batuan Kuarter terdiri atas endapan gunungapi Merapi Muda dan aluvium.
25
Gambar 3.2.
Geologi daerah penelitian (Rahardjo et. al., 1995)
III.2.2.2 Zona sesar
Struktur geologi yang dapat diamati di daerah ini terdiri atas struktur kekar, lipatan, dan sesar. Dalam penelitian ini struktur geologi hanya ditekankan pada struktur sesarnya. Di daerah penelitian yang dikategorikan sebagai sesar aktif
26
Gambar 3.3
Zona sesar gempa di daerah penelitian
adalah sesar Opak yang memanjang dari Parangtritis hingga ke Prambanan (Soehaimi. et. al., 2007)
Zona sesar di sekitar sesar aktif disebut sebagai zona sesar gempa. Zona tersebut dibatasi oleh titik-titik yang dihubungkan dengan garis lurus. Lebar zona sesar
27
gempa bervariasi, tetapi dapat dirata-rata sekitar 2 km (California Geological
Survey, 2008).
III.2.3. Data kegempaan III.2.3.1 Data seismisitas
Berdasarkan data seismik atau kegempaan di Jawa Tengah dan sekitarnya dari tahun 1973 - 2006 (NEIC-USGS, 2008), wilayah Jawa bagian tengah memiliki seismisitas yang relatif rendah dibandingkan dengan seismisitas baik di Jawa bagian barat maupun Jawa bagian timur. Studi ilmiah yang telah dilakukan di berbagai negara menunjukkan bahwa daerah subdaksi dengan wilayah tanpa gempa atau jarang gempa yang dikenal dengan istilah low seismicity, justru berpotensi akan terjadi gempa yang merusak, karena diperkirakan akumulasi tegangan (strain) akibat proses subdaksi yang berjalan terus di daerah low
seismicity sudah mengalami batas maksimum. Data gempa di wilayah sekitar
daerah penelitian yang dipakai dalam penelitian ini ditampilkan pada gambar 3.4.
Gambar 3.4
28
III.2.3.2 Data periode predominan
Pengukuran mikrotremor menggunakan sensor tiga komponen tipe L4C-3D dan datalogger 4 chanel sebagai perekam dan penyimpan data. Masing-masing titik pengukuran direkam selama 1 menit (6.000 data pada interval sampling 100 Hz).
Gambar 3.5
29
Pengukuran mikrotremor dilakukan di 159 titik pengukuran yang tersebar di daerah penelitian. Seismogram hasil pengukuran tiap titik dibagi kedalam 5 bagian (segmen) dengan durasi masing-masing bagian sepanjang 11,24 dt. Bagian seismogram tersebut dipilih/diseleksi sehingga didapatkan 5 bagian seismogram dengan gangguan (noise) minimal (Gambar 3.6).
Gambar 3.6.
Seismogram hasil pengukuran mikrotremor
Penghitungan spektrum fourier menggunakan algoritma transformasi fourier cepat. Dengan menggunakan metoda Nakamura, 1989, yang menerapkan rasio amplitudo fourier dari dua spektrum fourier horisontal dan satu vertika l, didapatkan spektrum H/V. Setelah mendapatkan spektrum H/V kelima bagian, selanjutnya dirata-rata sebagai spektrum H/V titik setempat. Periode puncak dari spektrum H/V menunjukkan periode predominan titik pengukuran setempat (Gambar 3.7).
Titik pengukuran ditumpangsusunkan pada peta dijital daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Metoda Krigging digunakan dalam interpolasi spasial untuk ploting data pengukuran pada peta. Interpolasi menggunakan metoda Krigging karena fleksibel, mempunyai model untuk dipadankan dan mempunyai toleransi
30
kesalahan (error) cukup lebar. Titik data dan peta periode predominan di daerah penelitian ditunjukkan pada gambar 3.8 dan 3.9.
Gambar 3.7
Rasio spektrum H/V pada titik 7
Variasi nilai titik data periode predominan tanah dibagi kedalam 4 zona sebagai berikut (Japan Road Association, 1980):
Zone 1 (batuan dan tanah keras) : T < 0,2 detik Zone 2 (tanah keras) : 0,2 = T < 0,4 detik Zone 3 (tanah sedang/medium) : 0,4 = T < 0,6 detik
Zone 4 (tanah lunak) : T = 0,6 detik
Terlihat bahwa periode predominan panjang (T > 0,6 detik) ditemui di bagian selatan daerah penelitian tepatnya di kecamatan Kretek dan Imogiri, periode predominan antara 0,4 hingga 0,6 detik juga dijumpai pada bagian selatan daerah penelitian yaitu kecamatan Kretek, Pundong, Bambanglipuro, Pandak, dan Sewon. Semakin ke utara nilai titik data periode predominan semakin pendek.
Spekturm H/V 0 5 10 15 20 0 5 10 15 20 Frekuensi (Hz) A m p lit u d o sample1 sample2 sample3 sample4 sample5 Spektrum H/V final 0 2 4 6 8 10 12 14 0 5 10 15 20 Frekuensi (Hz) A m p lit u d o final
31
Gambar 3.8
Variasi nilai titik data periode predominan di daerah penelitian
III.2.3.3 Data faktor amplifikasi
Pengolahan data faktor amplifikasi sama dengan data periode predominan. Nilai titik data faktor amplifikasi diambil dari nilai rata-rata ketinggian puncak
32
Gambar 3.9
Peta periode predominan hasil interpolasi
spektrum hasil transformasi fourier cepat. Variasi nilai titik data faktor amplifikasi (fa) daerah penelitian dibagi kedalam 4 zona sebagai berikut (komunikasi pribadi dengan A. Ratdomopurbo, 2008):
Zona 1 (Amplifikasi rendah) : fa < 3 Zona 2 (Amplifikasi sedang) : 3 = fa < 6
33
Zona 3 (Amplifikasi tinggi) : 6 = fa < 9 Zona 4 (Amplifikasi sangat tinggi) : fa = 9
Variasi nilai titik data faktor amplifikasi dan peta faktor amplifikasi dapat dilihat pada gambar 3.10 dan gambar 3.11. Nilai faktor amplifikasi lebih dari atau sama dengan 9 dijumpai di bagian selatan daerah penelitian yaitu di Kecamatan Sanden, Kretek dan Panggang.
Gambar 3.10.
34
Gambar 3.11.
Peta faktor amplifikasi hasil interpolasi
III.2.3.4 Data percepatan getaran tanah maksimum
Percepatan getaran tanah maksimum dalam penelitian ini dihitung dengan metoda Kanai. Hasil evaluasi perhitungan percepatan getaran tanah dalam kurun waktu
35
Gambar 3.12.
Variasi titik data percepatan getaran tanah maksimum
35 tahun (1973 hingga 2008) dan gempa Yogyakata tahun 1943, didapatkan bahwa kejadian gempabumi Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006 menghasilkan nilai percepatan getaran tanah yang paling besar. Dengan demikian maka nilai percepatan getaran tanah akibat gempa tersebut dipakai sebagai salah satu atribut
36
dalam penelitian ini. Pusat gempabumi yang dipakai dalam penelitian ini adalah pusat gempabumi dari NEIC, USGS yang dipublikasikan beberapa saat setelah terjadi gempa yaitu di Muara Kali Opak, yang sudah diacu pada beberapa beberapa tulisan ilmiah, bukan pusat gempa hasil revisi yang berlokasi sebelah timur Kecamatan Imogiri, tepatnya pada koordinat 7,96º LS dan 110,45º BT, kedalaman 12 km dan kekuatan 6,3 Mw.
Seperti pada periode predominan, metoda Kriging digunakan dalam interpolasi spasial pada perhitungan data percepatan getaran tanah. Variasi nilai titik data percepatan getaran tanah daerah penelitian dibagi kedalam 5 zona sebagai berikut (U.S. Geological Survey, 2008):
Zona 1 (Tidak menimbulkan kerusakan) : a < 0,04 g
Zona 2 (Potensi kerusakan sangat ringan-ringan) : 0,04 = a < 0,15 g
Zona 3 (Potensi kerusakan sedang) : 0,15 = a
<
0,34 gZona 4 (Potensi kerusakan berat) : 0,34 = a
<
0,65 gZona 5 (Potensi kerusakan sangat berat) : a
=
0,65 gGambar 3.12 dan 3.13 memperlihatkan variasi nilai titik data dan peta percepatan getaran tanah maksimum. Pada gambar 3.13, percepatan getaran tanah = 0,65 g dijumpai di daerah tenggara daerah penelitian yaitu di kecamatan Panggang, Imogiri, Pleret, Banguntapan dan Piyungan. Nilai percepatan 0,15 – 0,34 g tersebar di bagian selatan daerah penelitian meliputi kecamatan Kretek, Bambanglipuro, Pundong serta daerah sebelah utaranya yaitu kecamatan Sewon, Kasihan dan sebagian kecamatan di Kota Yogyakarta. Nilai percepatan getaran tanah 0,34 – 0,65 g dijumpai di sebagian besar daerah penelitian menyebar ke arah timurlaut dan sebagian ke arah baratdaya.
III.3 Metoda SAW
Dalam metoda SAW, nilai bobot dan ranking ditentukan dalam atribut dan alternatif masing-masing atribut, menurut tingkat kepentingan relatif kriteria/atribut dalam peta mikrozonasi, yang disebut sebagai evaluasi kriteria.
37
Gambar 3.13
Peta percepatan getaran tanah maksimum hasil interpolasi
Dalam menentukan nilai bobot dan ranking, digunakan kebalikan atribut bobot dan ranking. Untuk nilai bobot, penghitungan dimulai dari yang “paling tidak penting” dengan nilai 1, selanjutnya setelah “paling tidak penting” dengan nilai 2, dan kriteria “paling penting” dengan nilai 10. Dengan cara yang sama nilai
38
ranking ditentukan dari nilai alternatif “paling tidak penting” dengan nilai 1 dan “paling penting” 5.
III.3.1 Menentukan nilai bobot dan ranking
Hasil penentuan nilai bobot dan ranking atribut berdasarkan pada penilaian ditunjukkan pada tabel 3.1. Pada tabel 3.1 tersebut terlihat bahwa yang diidentifikasikan sebagai atribut yang paling penting adalah kriteria zona sesar, diikuti oleh faktor amplifikasi, percepatan getaran tanah maksimum, periode predominan dan kelompok batuan. Penentuan nilai bobot dan ranking didasarkan pada hasil konsultasi dengan ahli geologi dan ahli kegempaan.
Tablel 3.1. Penentuan nilai bobot dan ranking atribut dan alternatif
ATRIBUT BOBOT ALTERNATIF RANKING
Sesar aktif 5
Zona sesar 9
Sesar tidak aktif 1
fa = 9 5
6 = fa <9 3
3 = fa < 6 2
Faktor amplifikasi (fa) 6
fa < 3 1
amaks = 0,65 g 5
0,34 g = amaks < 0,65 g 4
0,15 g = amaks < 0,34 g 3
0,04 g = amaks < 0,15 g 2
Percepatan getaran tanah maksimum (amaks) 5 amaks < 0,04 1 T = 0,6 5 0,4 = T < 0,6 4 0,2 = T < 0,4 2 Periode predominan (T) 4 T < 0,2 detik 1 Kuarter 5 Kelompok batuan 3 praKuarter 1
39
Pada saat penentuan nilai bobot, atribut zona sesar diberikan nilai bobot yang terbesar karena zona sesar gempa merupakan daerah yang paling berbahaya terkena dampak gempabumi karena tepat pada zona sumber gempa.
Faktor amplifikasi ditempatkan pada posisi kedua karena nilai faktor amplifikasi merupakan faktor pembesaran sinyal gempa. Percepatan getaran tanah maksimum juga penting mengingat nilai percepatan getaran tanah wajib diperhitungkan dalam pembuatan suatu struktur bangunan. Periode predominan ditempatkan pada urutan keempat dan kelompok batuan pada urutan terakhir.
III.3.2 Standardisasi nilai bobot dan ranking
Nilai ranking alternatif distandardisasi dengan membagi nilai ranking alternatif dengan nilai maksimum dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
X’ij = Xij / Xjmaks
Dimana X’ij adalah nilai ranking yang distandardisasi untuk alternatif ke i atribut
ke j. Xij adalah nilai ranking awal, dan Xjmaks adalah nilai ranking maksimum
atribut ke j. Nilai bobot dinormalisasi dengan membagi tiap bobot dengan jumlah seluruh bobot. Jumlah nilai bobot yang telah dinormalisasi sama dengan 1. Nilai ranking yang distandardisasi dan nilai bobot yang dinormalisasi ditunjukkan pada Tabel 3.2.
III.3.3 Skor keseluruhan poligon berdasarkan metoda SAW
Skor keseluruhan poligon dalam pembuatan peta mikrozonasi seismisitas di daerah penelitian, digunakan metoda tumpangsusun atribut. Tiap poligon keluaran peta mikrozonasi (Mi) dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
Mi = Sj wj xij
Keterangan:
xij adalah nilai ranking alternatif ke i pada atribut ke j dan wj adalah normalisasi
40
dan dikalikan dengan nilai nlormalisasi ranking alternatif pada atribut tersebut. Akhirnya penjumlahan skor keseluruhan dihitung.
III.4 Metoda AHP
Struktur hirarki yang digunakan dalam pembuatan peta mikrozonasi seismisitas diberikan pada gambar 3.14. Untuk menerapkan prinsip ini, dalam penentuan nilai bobot dilakukan pengkajian perbandingan berpasangan masing-masing atribut dengan atribut yang lain. Sedangkan dalam penentuan nilai ranking, dilakukan pengkajian perbandingan berpasangan alternatif dengan alternatif yang lain dalam peta tematik yang sama.
Tabel 3.2. Nilai normalisasi bobot dan ranking
ATRIBUT BOBOT (Normalisasi) ALTERNATIF RANKING (Standarsisasi) Sesar aktif 1 Zona sesar 0,3333
Sesar tidak aktif 0,2
fa = 9 1
6 = fa <9 0,6
3 = fa < 6 0,4
Faktor amplifikasi (fa) 0,2222
fa < 3 0,2 amaks = 0,65 g 1 0,34 g = amaks < 0,65 g 0,8 0,15 g = amaks < 0,34 g 0,6 0,04 g = amaks < 0,15 g 0,4 Percepatan getaran tanah maksimum (amaks)
0,1852 amaks < 0,04 0,2 T = 0,6 1 0,4 = T < 0,6 0,8 0,2 = T < 0,4 0,4 Periode predominan (T) 0,1482 T < 0,2 detik 0,2 Kuarter 1 Kelompok batuan 0,1111 praKuarter 0,2
41
Dalam menentukan nilai bobot dan ranking pada atribut dan alternatif pada masing-masing peta tematik dalam metoda AHP, digunakan prinsip penilaian komparatif dari Saaty, 2004, seperti disajikan dalam tabel 3.3.
Sama seperti pada metoda SAW, penentuan matrik perbandingan berpasangan untuk menentukan nilai bobot dan ranking pada metoda AHP juga didasarkan pada hasil konsultasi dengan ahli geologi dan ahli kegempaan.
Tabel 3.3. Penilaian komparatif dari skala dasar nilai absolut untuk menentukan nilai bobot/ranking (Saaty, 2004)
Bobot/Ranking Definisi
1 Sama pentingnya dibanding yang lain
3 Moderat pentingnya dibanding yang lain
5 Kuat pentingnya dibanding yang lain
7 Sangat kuat pentingnya dibanding yang lain
9 Ekstrim pentingnya dibanding yang lain
2, 4, 6, 8 Nilai diantara dua penilaian yang berdekatan Reciprokal Jika kriteria i memiliki salah satu angka di atas
ketika dibandingkan kriteria j, maka j memiliki nilai kebalikannya ketika dibanding kriteria i
42
Gambar 3.14.
Struktur hirarki yang digunakan dalam persiapan peta mikrozonasi seismisitas Zona sesar
Sesar tidak aktif Sesar aktif fa < 3 3 = fa < 6 6 = fa <9 fa = 9 Faktor amplifikasi amaks < 0,04 g 0,04 = amaks < 0,15 g 0,15 = amaks < 0,34 g 0,34 = amaks < 0,6 5 g Percepatan getaran tanah maksimum amaks = 0.65 g Periode predominan T < 0,2 detik 0,2 = T < 0,4 detik 0,4 = T < 0,6 detik T = 0,6 detik Kelompok batuan praKuarter Kuarter Peta mikrozonasi seismisitas
43
III.4.1 Menentukan nilai bobot
Matrik perbandingan berpasangan untuk menentukan nilai bobot pada kriteria-kriteria diberikan dalam tabel 3.4.
Tabel 3.4. Tabel perbandingan berpasangan untuk menentukan nilai bobot
Sesar Faktor amplifikasi Percepatan getaran tanah maksimum Periode predominan Kelompok batuan Sesar 1 4/1 5/1 6/1 7/1 Faktor amplifikasi 1/4 1 2/1 3/1 4/1 Percepatan getaran tanah maksimum 1/5 1/2 1 2/1 3/1 Perioda predominan 1/6 1/3 1/2 1 2/1 Kelompok batuan 1/7 1/4 1/3 1/2 1
III.4.2 Menentukan nilai ranking
Dalam penentuan nilai ranking alternatif masing-masing atribut, matrik perbandingan berpasangan dibuat secara terpisah untuk masing-masing atribut yang disajikan secara lengkap pada tabel C.1. – C.5. di lampiran C.
III.4.3 Menentukan nilai bobot dan ranking keseluruhan
Untuk mendapatkan nilai bobot/ranking keseluruhan, dilakukan dengan penyelesaian vektor eigen. Prinsip penyelesaian vektor eigen adalah sebagai berikut:
1. Perhitungan untuk mendapatkan bobot/ranking dengan mengembangkan matrik berpasangan melalui iterasi.
2. Nilai pada baris dijumlahkan dan dinormalisasi
3. Perhitungan diulang hingga perbedaan/selisih nilai normalisasi pada baris antara dua perhitungan cukup kecil (mendekati nol).
44
Dengan menerapkan metoda di atas, nilai bobot atribut dan nilai ranking alternatif masing-masing atribut keseluruhan akan didapatkan. Hasil perhitungan nilai bobot dan ranking diberikan pada tabel 3.5.
III.4.4 Rasio konsistensi
Rasio konsistensi dihitung untuk mengetahui perbandingan berpasangan konsisten atau tidak. Rasio konsistensi (CR) didesain jika CR < 0,10 rasio mengidentifikasikan tingkat konsistensi yang masuk akal, namun seandainya CR = 0,1, mengindikasikan penilaian yang tidak konsisten. Dalam perhitungan rasio konsistensi, diperlukan vektor penjumlahan bobot, vektor konsistensi, lamda (? ), indeks konsistensi (Cl) dan indeks ketidakkonsistenan acak (RI). Tahapan perhitungan rasio konsistensi secara lengkap sebagai berikut:
- Vektor penjumlahan bobot dihitung dengan mengalikan bobot
atribut/alternatif baris pertama dengan kolom pertama dari matrik perbandingan berpasangan awal, ditambah bobot atribut/alternatif baris kedua dengan kolom kedua matrik perbandingan berpasangan awal hingga perkalian atribut/alternatif baris ke n dengan kolom ke n dari matrik perbandingan berpasangan awal.
- Vektor konsistensi dihitung dengan cara membagi vektor penjumlahan bobot dengan nilai bobot yang telah didapatkan sebelumnya.
- Perhitungan konsistensi indeks (Cl) berdasarkan pengukuran bahwa ? selalu lebih besar atau sama dengan jumlah atribut/alternatif (n) dan ? = n jika matrik perbandingan merupakan matrik yang konsisten, sehingga ?– n
- dapat dipertimbangkan sebagai ukuran tingkat ketidakkonsistenan. Cl dapat dinormalisasi dengan cara berikut:
CI = (? – n ) / (n – 1)
- Indeks ketidakkonsistenan acak (RI) seperti pada tabel C.6. (Malczewski, 1999) yang diadop dari Saaty, 1980 (lampiran C).
- Rasio konsistensi (CR) didapatkan dengan persamaan sebagai berikut: CR = CI / RI
Perhitungan rasio konsistensi dalam menentukan nilai bobot atribut pada penelitian ini secara lengkap disajikan pada tabel 3.6., sedangkan perhitungan
45
rasio konsistensi nilai ranking alternatif masing-masing atribut diberikan pada tabel C.7. sampai dengan tabel C.11. pada lampiran C.
Table 3.5. Perhitungan nilai bobot dan ranking.
Kriteria Bobot Kelas Ranking
Sesar aktif 0,8832
Zona sesar
0.4932
Sesar tidak aktif 0,1168
fa = 9 0,4239
6 = fa <9 0,2109
3 = fa < 6 0,1043
Faktor amplifikasi (fa)
0.1920 fa < 3 0,0583 amaks = 0,65 g 0,3865 0,34 = amaks < 0,6 5 g 0,2042 0,15 = amaks < 0,34 g 0,1046 0,04 = amaks < 0,15 g 0,0645
Percepatan getaran tanah maksimum (amaks) 0.1395 amaks < 0,04 g 0,0446 T = 0,6 detik 0,5270 0,4 = T < 0,6 detik 0,2022 0,2 = T < 0,4 detik 0,1001 Periode predominan 0.1006 T < 0,2 detik 0,0636 Kuarter 0,8333 Kelompok batuan 0.0747 praKuarter 0,1667
Tabel 3.6. Vektor penjumlahan bobot dan konsistensi nilai bobot yang ditentukan dalam atribut/alternatif Vektor penjumlahan bobot Vektor konsistensi Sesar 2.5782 5.2269 Faktor amplifikasi 1.2358 6.4364
Percepatan getaran tanah
maksimum 0.7840 5.6195
Periode predominan 0.4823 4.7951
46
? = 26,1185/ 5 = 5,2237; CI = (5,2237– 5)/(5 – 1) = 0,0559 RI= 1,12; CR = 0,0559 / 1,12 = 0,0499 (konsisten)
Dari pengukuran perhitungan rasio konsistensi, semua matrik perbandingan berpasangan yang digunakan untuk pembuatan peta mikrozonasi seismisitas merupakan matrik perbandingan berpasangan yang konsisten.
III.4.5 Skor keseluruhan poligon berdasarkan metoda AHP
Perhitungan skor keseluruhan poligon dalam peta mikrozonasi seismisitas dengan menggunakan metoda AHP dibuat dengan cara yang sama dengan metoda SAW. Tiap poligon keluaran peta mikrozonasi (Mi) dihitung dengan persaman sebagai
berikut:
Mi = Sj wj x ij
Keterangan:
x ij = nilai ranking alternatif ke i pada atribut ke j
wj = nilai bobot atribut ke j yang telah dinormalisasi
Selanjutnya nilai bobot tiap atribut yang telah dinormalisasi dikalikan dengan nilai ranking alternatif yang telah distandarisasi. Akhirnya jumlah keseluruhan perkaliannya dihitung.