• Tidak ada hasil yang ditemukan

40069558-KORIOKARSINOMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "40069558-KORIOKARSINOMA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MAKALAH MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

KORIOKARSINOMA ( PENYAKIT TROFOBLAS

GESTASIONAL )

Disusun oleh : Selia Arbiter A 010710200B Andan Peristika 010710201B Nourca Anggun 010710203B Febiy Wulandari 010710205B Innaka Selmy 010710206B Anik Solikhah 010 710208B Pembimbing :

Tiyas Kusumaningrum, S.kep.Ns

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Koriokarsinoma merupakan salah satu penyakit trofoblas gestasional ( PTG ) dimana sejumlah 15-28% wanita dengan molahidatidosa mengalami degenerasi keganasan menjadi PTG.

Salah satu penyebab perdarahan saat kehamilan adalah mola hidatidosa. Mola hidatidosa merupakan penyakit wanita pada masa reproduksi (usia 15-45 tahun) dan pada multipara. Mola hidatidosa adalah bentuk jinak dari penyakit trofoblas gestasional dan dapat mengalami transformasi menjadi bentuk ganasnya yaitu koriokarsinoma. Koriokarsinoma tidak selalu berasal dari molahidatidosa namun tidak jarang berasal dari kehamilan normal, prematur, abortus maupun kehamilan ektopik yang jaringan trofoblasnya mengalami konversi menjadi tumor trofoblas ganas.

Koriokarsinoma ini sering terjadi pada usia 14-49 tahun dengan rata-rata 31,2 tahun. Resiko terjadinya PTG yang non metastase 75% didahului oleh mola hidatidosa dan sisanya oleh abortus, kehamilan ektopik atau kehamilan aterm. Resiko terjadinya PTG yang metastase 50% didahului oleh mola hidatidosa, 25% oleh abortus, 22% oleh kehamilan aterm dan 3% oleh kehamilan ektopik.

Angka kejadian tertinggi koriokarsinoma di dunia ditemukan terbanyak pada daerah Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Juga disebutkan bahwa angka kejadian rata-rata terendah secara signifikan terlihat di daerah Amerika Utara, Eropa dan Australia.

Di Amerika angka kejadian koriokarsinoma berkisar 1 dari 20-40 ribu kehamilan, dimana diperkirakan angka kejadiannya 1 dari 40 kehamilan mola hidatidosa, 1 dari 5.000 kehamilan ektopik, 1 dari 15.000 kasus abortus, dan 1 dari 150.000 kehamilan normal. Sedangkan di Indonesia sendiri disebutkan bahwa angka kejadian penyakit trofoblas secara umum bervariasi, di antara 1/120 hingga 1/200 kehamilan.

(3)

Bagaimanakah asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan korikarsinoma?

1.3 Tujuan

Tujuan Umum

Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan koriokarsinoma.

Tujuan Khusus

1. Mengetahui definisi dari koriokarsinoma 2. Mengetahui etiologi koriokarsinoma

3. Mengetahui manifestasi klinis koriokarsinoma 4. Mengetahui WOC koriokarsinoma

5. Mengetahui asuhan keperawatan pada koriokarsinoma

1.4 Manfaat

1. Mahasiswa mengetahui konsep dan teori dari korikarsinoma.

2. Mahasiswa mengetahui dan mempraktekkan asuhan keperawatan untuk korikarsinoma.

(4)

BAB II

TINJAUAN TEORI KORIOKARSINOMA

2.1 Definisi Koriokarsinoma

Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik Gestasional (PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel sito-trofoblas serta sinsitiotrofloblas ( pembentuk plasenta ) yang menginvasi miometrium, merusak jaringan di sekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan ( Berek, 1996 ).

Koriokarsinoma ialah suatu keganasan, berasal dari jaringan trofoblas dan kanker yang bersifat agresif, biasanya dari plasenta. Hal ini ditandai dengan metastase perdarahan yang cepat ke paru-paru (Wikipedia, 2009).

Gambar 2. Letak koriokarsinoma dalam uterus.

Korio karsinoma adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang mengandung trofoblas, seperti: lapisan trofoblas ovum yang sedang tumbuh, vili dari plasenta, gelembung mola, dan emboli sel-sel trofoblas dimanapun di dalam tubuh (Dito,2008).

“Korio” adalah istilah yang diambil dari vili korionik yaitu salah satu jenis selaput pada rahim manusia. Istilah “Karsinoma” merupakan kanker yang berasal dari sel-sel epithelial. Karena kanker ini merupakan kanker yang berasal dari salah satu plasenta yaitu korion maka salah satu ciri khusus dari kanker ini adalah menghasilkan hormon hCG (Human Chorionic Gonadothropin) yang sangat tinggi bahkan melebihi kadar hCG pada wanita hamil. Koriokarsinoma bisa menyerang semua wanita yang pernah hamil termasuk wanita yang pernah mengalami mola hidatidosa. Tidak seperti mola hidatidosa, korikarsinoma bisa menyerang banyak organ dalam tubuh, seperti hati, limpa, paru-paru, tulang belakang, otak juga dinding rahim.

(5)

Etiologi terjadinya koriokarsinoma belum jelas diketahui. Trofoblas normal cenderung menjadi invasive dan erosi pembuluh darah berlebih-lebihan. Metastase sering terjadi lebih dini dan biasanya sering melalui pembuluh darah jarang melalui getah bening. Tempat metastase yang paling sering adalah paru-paru ﴾75%﴿ dan kemudian vagina ﴾50%﴿. Pada beberapa kasus metastase dapat terjadi pada vulva, ovarium, hepar, ginjal, dan otak ﴾Cunningham, 1990﴿.

Wikipedia, 2009 menyebutkan bahwa koriokarsinoma selama kehamilan bisa didahului oleh:

• Mola hidatidosa ( 50% kasus )

• Aborsi spontan ( 20% kasus )

• Kehamilan ektopik ( 2% kasus )

• Kehamilan normal ( 20-30% kasus )

Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain: 1. Faktor ovum

Ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan. 2. Immunoselektif dari trofoblast

Yaitu dengan kematian fetus, pembuluh darah pada stroma villi menjadi jarang dan stroma villi menjadi sembab dan akhirnya terjadi hyperplasia sel-sel trofoblast.

3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah

Keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembentukan ovum abnormal yang mengarah pada terbentuknya mola hidatidosa.

4. Paritas tinggi

Ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada kehamilan berikutnya, sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang menjadi mola hidatidosa dan berikutnya menjadi koriokarsinoma.

(6)

Sesuai dengan fungsi protein untuk pembentukan jaringan atau fetus sehingga apabila terjadi kekurangan protein saat hamil menyebabkan gangguan pembentukan fetus secara sempurna yang menimbulkan jonjot-jonjot korion 6. Infeksi virus dan faktor kromosom

2.3 Klasifikasi Koriokarsinoma

Klasifikasi klinik penyakit trofoblas ganas ( PTG ) 1. PTG non metastasis

2. PTG bermetastasis

a. Prognosis baik

• hCG < 100.000 IU/urin 24 jam atau < 40.000 IU/ml serum

• Siptom <4 bulan

• Tidak ada metastasis di otak, liver

• Belum pernah dapat kemoterapi

• Bukan berasal dari kehamilna aterm b. Prognosis buruk

• hCG > 100.000 IU/ urin 24 jam atau > 40.000

• simptom > 4 bulan

• metastasis di otak, liver

• gagal dengan khemoterapi sebelumnya

(7)

Koriokarsinoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam bentuk, yaitu: a. Koriokarsinoma Villosum

Penyakit ini termasuk ganas tetapi derajat keganasannya lebih rendah. Sifatnya seperti mola, tetapi dengan daya penetrasi yang lebih besar. Sel-sel trofoblas dengan villi korialis akan menyusup ke dalam miometrium kemudian tidak jarang mengadakan perforasi pada dinding uterus dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Walaupun secara lokal mempunyai daya invasi yang berlebihan, tetapi penyakit ini jarang disertai metastasis. Invasive mola berasal dari mola hidatidosa.

b. Koriokarsinoma Non Villosum

Penyakit ini merupakan yang terganas dari penyakit trofoblas. Sebagian besar didahului oleh mola hidatidosa (83,3%) tetapi dapat pula didahului abortus atau persalinan biasa masing-masing 7,6%. Tumbuhnya sangat cepat dan sering menyebabkan metastasis ke organ-organ lain, seperti paru-paru, vulva, vagina, hepar dan otak. Apabila tidak diobati biasanya pasien meninggal dalam 1 tahun.

Apabila dibandingkan dengan jenis kanker ginekologik lainnya, koriokarsinoma mempunyai sifat yang berbeda, misalnya:

• Koriokarsinoma mempunyai periode laten yang dapat diukur, yaitu jarak waktu antara akhir kehamilan dan terjadinya keganasan.

• Sering menyerang wanita muda

• Dapat sembuh secara tuntas tanpa kehilangan fungsi reproduksi, dengan pengobatan sitostatika

• Dapat sembuh tanpa pengobatan melalui proses regresi spontan. c. Koriokarsinoma Klinis

Apabila setelah pengeluaran jaringan mola hidatidosa kadar hCG turun lambat apalagi menetap atau meningkat, maka kasus ini dianggap sebagai penyakit trofoblas ganas. Artinya ada sel-sel trofoblas yang aktif tumbuh

(8)

lagi di uterus atau di tempat lain (metastasis) dan mengahasilkan hCG. Diagnosis keganasan tidak ditentukan oleh pemeriksaan histopatologik tetapi oleh tingginya kadar hCG dan adanya metastasis.

2.3.1 Stadium Koriokarsinoma

Berdasarkan jauhnya penyebaran koriokarsinoma dibagi menjadi 4, yaitu:

•Stadium I yang terbatas pada uterus

•Stadium II, sudah mengalami metastasis ke parametrium, serviks dan vagina

•Satadium III, mengalami metastasis ke paru-paru

•Stadium IV, metastasis ke oragan lain, seperti usus, hepar atau otak.

Ada beberapa sistem yang digunakan untuk mengkategorikan penyakit trofoblas ganas. Semua sistem mengkorelasikan antar gejala klinik pasien dan risiko kegagalan pada kemoterapi. Sistem Skoring FIGO tahun 2000 merupakan modifikasi sistem skoring WHO. Tabel II : Skoring faktor risiko menurut FIGO (WHO) dengan staging FIGO

Skor faktor risiko menurut FIGO (WHO) dengan staging FIGO

0 1 2 4

Usia < 40 ≥ 40 - -Kehamilan sebelumnya mola Abortus aterm -Interval dengan kehamilan tersebut (bulan) <4 4-6 7-12 >12 Kadar hCG sebelum terapi (mIU/mL) < 10³ 1000-10000 > 10000 – 100000 > 10000

(9)

0 Ukuran tumor terbesar,

termasuk uterus - 3-4 ≥ 5 cm -Lokasi metastasis, termasuk uterus Paru-paru Limpa, ginjal Traktus gastrointesti nal Otak, hepar

Jumlah metastasis yang diidentifikasi - 1-4 5-8 >8 Kegagalan kemoterapi sebelumnya - - Agen tunggal Agen multip el

2.5 Tanda dan Gejala Koriokarsinoma

Karena koriokarsinoma merupakan penyakit yang bisa menyerang banyak bagian tubuh manusia, maka klienpun akan merasakan banyak tanda dan gejala, antara lain:

a. Peningkatan jumlah kadar ß-hCG

• Kadar ß-hCG normal pada tiap umur kehamilan berbeda, dari 5-25 IU/ml.

• Kadar ß-hCG yang dianggap mola < 100.000 IU/urine 24jam

• Kadar ß-hCG yang dianggap kanker adalah > 100.000 IU/urine 24jam >40.000 u/ml dalam interval lebih dari 4 bulan.

b. Perdarahan per vaginam

c. Batuk berdarah dan sesak nafas

d. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan cairan di ujung kedua paru-paru

e. Sakit kepala dan hemiplegi f. Sakit tulang belakang

g. Perut bengkak dan sklera menjadi kuning h. Hilang selera makan dan berat badan turun

(10)

gambar 3. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan cairan di ujung kedua paru-paru.

2.6 Manifestasi klinis

• Gejala Klinis : 1. Rahim membesar

2. Perdarahan dan syok 3. Ekspulsi gelembung mola 4. Anemis dan gejala sekunder.

• Anamnesa/ keluhan

1. Terdapat gejala-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih parah dari kehamilan biasa, seperti:

2. Kadang ada tanda toksemia gravidarum

3. Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, bewarna tengguli tua atau kecoklatan

4. Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan seharusnya (lebih besar)

5. Keluarnya jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan (tidak selalu ada) yang merupakan diagnosa pasti

• Pemeriksaan dalam

Terdapat pembesaran rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin, terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan cavum vagina, serta evaluasi keadaan serviks

a. Inspeksi

1. Muka dan kadang-kadang badan terlihat pucat kekuning-kuningan yang disebut muka mola (mola face)

(11)

2. Kalau gelembung mola keluar dapat dilihat dengan jelas

b. Palpasi

1. Uterus lebih besar/membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek

2. Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballottement juga gerakan janin.

3. Adanya fenomena harmonica: darah dan gelembung mola keluar dan fundus uteri turun, lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru

c. Auskultasi

1. Tidak terdengar bunyi DJJ

2. Terdengan bising dan bunyi khas

• Reaksi kehamilan

Karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik ( galli mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi)

a. galli mainini 1/3000 (+) maka suspect mola hidatidosa atau koriokarsinoma b. galli mainini 1/2000 (+) maka kemungkinan mola atau hamil kembar

2.7 Patofisiologis

Bentuk tumor trofoblas yang sangat ganas ini dapat dianggap sebagai suatu karsinoma dari epitel korion, walaupun perilaku pertumbuhan dan metastasisnya mirip dengan sarkoma. Faktor-faktor yang berperan dalam transformasi keganasan korion tidak diketahui. Pada koriokarsinoma, kecenderungan trofoblas normal untuk tumbuh secara invasif dan menyebabkan erosi pembuluh darah sangatlah besar. Apabila mengenai endometrium, akan terjadi perdarahan, kerontokan dan infeksi permukaan. Masa jaringan yang terbenam di miometrium dapat meluas keluar , muncul di uterus sebagai nodul-nodul gelap irreguler yang akhirnya menembus peritoneum.

(12)

Gambaran diagnostik yang penting pada koriokarsinoma, berbeda dengan mola hidatidosa atau mola invasif adalah tidak adanya pola vilus. Baik unsur sitotrofoblas maupun sinsitium terlibat, walaupun salah satunya mungkin predominan. Dijumpai anplasia sel, sering mencolok, tetapi kurang bermanfaat sebagai kriteria diagnostik pada keganasan trofoblas dibandingkan dengan pada tumor lain. Pada pemeriksaan hasil kuretase uterus, kesulitan evaluasi sitologis adalah salah satu faktor penyebab kesalahan diagnosis koriokarsinoma. Sel-sel trofoblas normal di tempat plasenta secara salah di diagnosis sebagai koriokarsinoma. Metastasis sering berlangsung dini dan umumnya hematogen karena afinitas trofoblas terhadap pembuluh darah.

Koriokarsinoma dapat terjadi setelah mola hidatidosa, abortus, kehamilan ektopik atau kehamilan normal . tanda tersering, walaupun tidak selalu ada, adalah perdarahan irreguler setelah masa nifas dini disertai subinvolusi uterus. Perdarahan dapat kontinyu atau intermitten, dengan perdarahan mendadak dan kadang-kadang masif. Perforasi uterus akibat pertumbuhan tumor dapat menyebabkan perdarahan intraperitonium.

Pada banyak kasus, tanda pertama mungkin adalah lesi metatatik. Mungkin ditemukan tumor vagina atau vulva. Wanita yang bersangkutan mungkin mengeluh batuk dan sputum berdarah akibat metastasis di paru. Pada beberapa kasus, di uterus atau pelvis tidak mungkin dijumpai koriokarsinoma karena lesi aslinya telah lenyap, dan yang tersisa hanya metastasis jauh yang tumbuh aktif. Apabila tidak di terapi, koriokarsinoma akan berkembang cepat dan pada mayoritas kasus pasien biasanya akan meninggal dalam beberapa bulan. Kausa kematian tersering adalah perdarahan di berbagai lokasi.

Pasien di golongkan beresiko tinggi jiika penyakit lebih dari 4 bulan, kadar gonadotropin serum lebih dari 40.000 mIU/ml, metastasis ke otak atau hati, tumor timbul setelah kehamilan aterm, atau riwayat kegagalan kemoterapi, namun menghasilkan anagka kesembuhan tertinggi dengan kemoterapi kombinasi yanitu menggunakan etoposid, metotreksat, aktinomisin, siklofosfamid, dan vinkristin (Schorage et al, 2000).

2.9 Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang

(13)

Menurut The International Federation of Gynecology and Oncology (FIGO) menetapkan beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mendiagnosis PTG termasuk koriokarsinoma adalah:

1. Menetapnya kadar ß hCG pada empat kali penilaian dalam 3 minggu atau lebih (misalnya hari 1,7, 14 dan 21)

2. Kadar ß hGC meningkat pada selama tiga minggu berturut-turut atau lebih (misalnya hari 1,7 dan 14)

3. Tetap terdeteksinya ß hCG sampai 6 bulan pasca evakuasi mola. 4. Gambaran patologi anatomi adalah koriokarsinoma

b. Pemeriksaan Penunjang

1. Uji Sonde

Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola atau koriokarsinoma.

2. Foto rontgen abdomen

Tidak terlihat tulang-tulang janin (pada kehamilan 3-4 bulan) 3. Ultrasonografi

Khusus pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin (merupakan diagnosa pasti), waspadai juga koriokarsinoma.

• Data Klinik Pemeriksaan Diagnostik

1. Perdarahan dalam separo pertama kehamilan

2. Nyeri perut bagian bawah

3. Toksemia sebelum 24 minggu kehamilan 4. Hiperemesis gravidarum

5. Rahim terlalu besar untuk tanggalnya 6. Tanda tonus jantung janin dan bagian janin

(14)

7. Keluarnya vesikel - ultrasonografi 8. Foto rontgen

(15)

WOC Kelainan Villus Faktor ovum patologik Imunoselektif dari trofoblas

Infeksi virus dan faktor kromosom Paritas tinggi Defisiensi protein Sosial ekonomi rendah Stroma villus

Edematus Villus membesar tanpa janin

Proliferasi jaringan trofoblas tak menentu

Pengeluaran gelembung mola hidatidosa Perdarahan per vaginam Uterus membesar Produksi

hCG>normal MK: ketidakefektifan pola seksualitas

(16)

Trofoblas berproliferasi tanpa stroma Pendesakan ke organ-organ pencernaan MK: nyeri akut KORIOKARSINOMA hCG>40.000mIU/ ml MK: Ansietas Tx: Kemoterapi kombinasi Hysterektomi Mual, muntah MK: gangguan konsep diri Mual berlebihan MK: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh usus lambung Volume lambung berkurang Gerak peristaltik Regurgitasi MK: Kelemahan Pengosongan lambung

(17)

Penatalaksanaan

Untuk penatalaksanaan terapi korikarsinoma bisa dilakukan dengan: a. Kemoterapi

Koriokarsinoma merupakan tumor yang sensitif terhadap obat-obatan kemoterapi, dari hasil survey menunjukkan bahwa dengan kemoterapi pasien dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 90-95%.

• Terapi dengan agen single methotrexate or actinomycin D Terapi ini digunakan untuk koriokarsinoma yang belum bermetastase meluas ke seluruh tubuh atau dengan skala ringan.

• Terapi kombinasi EMACO (etoposide, methotrexate, actinomycin D, cyclosphosphamide and oncovin)

Terapi komplek ini digunakan untuk koriokarsinoma dengan skala sedang atau berat.

b. Hysterektomi

Biasa dilakukan pada wanita dengan usia ≥ 40 tahun atau pada wanita yang memang menginginkan untuk dilakukan hysterektomi. Hysterektomi juga disarankan pada infeksi berat dan perdarahan yang tidak terkendali.

(18)

BAB III

PEMBAHASAN

KASUS

Ny.K seorang ibu rumah tangga berusia 36 tahun mempunyai 3 orang anak yang termuda berusia 2 bulan. Dalam 4 bulan terakhir klien merasa mual-mual berlebihan, hilang selera makan, sedikit nyeri di daerah perianal dan sering terjadi perdarahan berlebihan di vagina. Klien tampak pucat, setelah dilakukan pemeriksaan uterus mengalami pembesaran, lembek, dan terdapat massa sebesar 5 cm di dinding posterior dari vagina dekat pintu keluar. Klien pernah terdiagnosa mola hidatidosa pada tahun pertama setelah kelahiran anak kedua.hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan ada peningkatan kadar ß-hCG dalam darah. Setelah dilakukan 4 kali pemeriksaan dalam 3 minggu kadar ß-hCG menunjukkan angka > 100.000 IU/urin dalam 24jam. Dokter mendiagnosa Ny.K menderita koriokarsinoma. Sekarang merupakan hari ke 8 pasien dirawat dan telah mengalami 2 kali kemoterapi.

3.1 Asuhan Keperawatan I. Pengkajian 1. Identitas Nama : Ny K Umur : 36 tahun Alamat : Surabaya

Pekerjaan : Ibu rumah tangga 2. Keadaan Umum : Lemah

3. Keluhan Utama : Pasien mengalami perdarahan berlebihan di vagina dan sering mual berlebihan.

4. Riwayat penyakit sekarang :

Dalam 4 bulan terakhir klien merasa mual-mual berlebihan, hilang selera makan dan sering terjadi perdarahn berlebihan di vagina.

5. Riwayat obstetri dan menstruasi:

Selama 4 bulan terakhir mengalami menorraghi dan perdarahan yang berlebihan pada vagina.

(19)

Klien pernah mengalami mola hidatidosa pada tahun pertama setelah kelahiran anak kedua.

7. Riwayat Alergi :

Klien menyatakan tidak mempunyai alergi. 8. Riwayat Penyakit Keluarga:

Tidak ada keluarga yang pernah sakit seperti ini. 9. Keadaan Umum :

TD : 100/70 mmHg N : 105x/menit RR : 20x/menit T : 36,5 º C

B1 ( Breathing )

Sesak : tidak ada Batuk : tidak ada

Suara nafas : vesikuler Suara nafas tambahan : tidak ada Retraksi dada : tidak ada Klien bernafas spontan

MK : tidak terdapat masalah keperawatan B2 ( Blood )

S1,S2 : tunggal Nyeri dada : tidak ada

Gallop : tidak ada Mumur : tidak ada Suara jantung : normal CRT : < 3 detik

MK : tidak terdapat masalah keperawatan B3 ( Brain )

GCS : Eye : 4, Verbal : 5, Motorik : 6 Reflek Patologis : tidak ada

Mual : + Pupil : Isokor

MK : tidak terdapat masalah keperawatan B4 ( Blader )

BAK : normal, tidak terdapt oliguri, poliguria Warna Urine : Kuning Jernih Bau : khas

MK : tidak terdapat masalah keperawtan B5 ( Bowel )

(20)

Minum : air putih Intake Cairan : 1 liter/hari Lain-lain : Pasien mengaku nyeri di daerah perianal

MK : - Nyeri akut

- Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh B6 ( Bone )

Tidak terdapat patah tulang

MK : tidak terdapat masalah keperawatan

Psikososial : Pasien mengaku takut dengan apa yang dialami sekarang membahayakan jiwanya dan malu apabila bertemu dengan orang lain karena dianggap penyakit yang aneh.

Psikoseksual : pasien mengalami ketakutan apabila dia tidak bisa lagi melayani suaminya dengan semaksimal mungkin karena takut terjadi hal-hal yang lebih parah, misalnya perdarahan per vaginam yang meningkat apabila melakukan hubungan suami istri.

Analisis Data

No. Data Etiologi Masalah 1. DS: - Merasakan nyeri daerah perianal - Sering terjadi perdarahan di vagina DO: - terdapat massa di dinding vagina - terdapat pembesaran uterus - terdapat perdarahan berlebihan pada vagina - wajah tampak Defisiensi protein

Stroma villus dan edematus

Villus membesar dengan isi air bukan janin

Sel-sel trofoblas berprolifersi tidak tentu

Kadar hCG > normal

Pembesaran uterus dan perdarahan vagina

(21)

merasakan nyeri

Nyeri di daerah perianal 2. DS:

- Klien menyatakan nafsu makan menurun

- Klien merasa lemas DO:

- Porsi makan klien habis setengah porsi - Klien tampak lemah - Kadar Hb, leukosit,

trombosit menurun

peningkatan kadar ß-hCG

Mual berlebihan

Nafsu makan menurun

Asupan nutrisi menurun

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3. DS:

- Klien merasa gelisah - Klien terus bertanya

tentang penyakitnya DO:

- Klien tampak pucat - Klien tampak gelisah

Proses penyakit

Terapi yang terus menerus

Ketidaktahuan klien tentang proses terapi Kecemasan terhadap penyakitnya Ansietas 4. DS: - Pasien menanyakan kapan saja dia bisa melakukan

hubungan seksual - Pasien merasakan

nyeri daerah perianal saat melakukan hubungan seksual - Pasien menyatakan

ketakutan

keharmonisan rumah

Perdarahan per vaginam

Ketidaktahuan tentang penyakit

Cemas dalam hal berhubungan seksual

Gangguan pola seksualitas

Ketidakefek tifan pola seksualitas

(22)

tangganya terganggu DO:

- pasien terus menanyakan kapan saja bisa melakukan hubungan seksualitas - suami pasien terus

menanyakan tentang penyakit istrinya

II. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, antara lain :

1. Gangguan rasa nyaman: nyeri akut b.d perdarahan, proses penjalaran penyakit.

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan asupan oral, ketidaknyamanan mulut, mual sekunder akibat peningkatan kadar ß-hCG.

3. Ansietas b.d ancaman intregritas biologis aktual atau yang dirasa sekunder akibat penyakit.

4. Ketidakefektifan pola seksualitas b.d ketakutan terkaitan perdarahan per vaginam penyakitnya.

III. Intervensi Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d perdarahan, proses penjalaran penyakit Tujuan : Nyeri berkurang dalam waktu 1 x 24 jam

Kriteria Hasil :

• Klien mengekspresikan penurunan nyeri/ ketidaknyamanan • Klien tampak rileks, dapat tidur dan istirahat dengan tepat. Intervensi:

1 Beri informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut

2 Bicarakan alasan individu mengalami peningkatan atau penurunan nyeri (misalnya: keletihan/meningkat atau adanya distraksi/menurun) 3 Beri individu kesempatan untuk istirahat siang dan dengan waktu tidur

(23)

yang tidak terganggu pada malam hari (Harus istirahat bila nyeri mereda)

4 Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi serta metode pereda nyeri lain.

5 Ajarkan tindakan pereda nyeri non invasif a. Relaksasi

• Beri tahu teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka yang dapat menurunkan intensitas nyeri.

• Tingkatkan relaksasi pijat punggung, masase, atau mandi air hangat.

• Ajarkan strategi relaksasi khusus (misal : bernapas perlahan, teratur, atau nafas dalam, kepalkan tinju, menguap) b. Stimulasi kutan

Jelaskan manfaat terapeutik dari preparat mentol/pijat punggung 6 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.

7 Pantau tanda-tanda vital klien 8 Pantau intensitas nyeri klien

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan asupan oral, ketidaknyamanan mulut, mual akibat peningkatan kadar ß-hCG

Tujuan : Nutrisi klien terpenuhi dalam waktu 2x24 jam Kriteria Hasil :

- Klien menyatakan nafsu makannya meningkat - Klien terlihat tidak lemah

- Porsi makan klien habis Intervensi :

1. Jelaskan alasan mengapa nafsu makan klien menurun akkibat kemoterapi

2. Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat bagi proses penyembuhan penyakit

3. Beri dorongan klien agar meningkatkan selera makannya 4. Beri suasana makan yang rileks

(24)

5. Tawarkan makanan porsi kecil tapi sering untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung

6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penetapan asupan nutrisi klien 7. Pantau kadar ß-hCG pasien secara berkala

8. Pantau porsi makan yang dihabiskan klien

3. Ansietas b.d ancaman intregritas biologis aktual atau yang dirasa sekunder akibat penyakit

Tujuan : Klien menyatakan dapat menerima penyakitnya dengan baik Kriteria Hasil:

• Klien terlihat tidak cemas akibat penyakitnya

• Klien mampu menggunakan mekanisme koping yang efektif. Intervensi:

1. Beri kenyamanan dan ketentraman hati. 2. Singkirkan stimulasi yang berlebihan.

3. Bila ansietas telah berkurang dan cukup untuk terjadi pemahaman, bantu klien mengenali ansietas untuk mulai memahami atau memecahkan masalah.

4. Gali intervensi yang menurunkan ansietas 5. Beri aktivitas yang dapat menurunkan tegangan. 6. Pantau keadaan umum klien

4. Ketidakefektifan pola seksualitas b.d ketakutan terkaitan perdarahan per vaginam penyakitnya.

Tujuan : Klien mengetahui kapan saja dia bisa melakukan hubungan seksual

Kriteria Hasil:

• Pola seksualitas klien normal

• Klien terlihat tidak cemas terhadap aktifitas seksualnya

• Klien mampu menggunakan mekanisme koping yang efektif. Intervensi:

(25)

2. Kaji tingkat kecemasan klien

3. Jelaskan pada klien waktu untuk melakukan hubungan seksual sesuai kondisinya

4. Beri edukasi tentang keadaan klien apabila berhubungan seksual

5. Tekankan bahwa penyakitnya tidak mempunyai dampak yang serius pada fungsi seksualitasnya

6. Pantau keadaan umum klien

BAB IV

PENUTUP

(26)

4.1 Kesimpulan

1. Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik Gestasional (PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel sito-trofoblas serta sinsitiotrofloblas ( pembentuk plasenta ) yang menginvasi miometrium, merusak jaringan di sekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan.

2. Pasien dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 90-95%. Terapi dapat dilakukan dengan agen single methotrexate or actinomycin D maupun dengan terapi kombinasi EMACO (etoposide, methotrexate, actinomycin D, cyclosphosphamide and oncovin), jika sudah menginvasi miometrium maka dilakukan hysterektomi.

3. Perawat dapat memberikan terapi relaksasi, stimulasi kutan uintuk memberikan kenyamanan dan ketentraman hati agar dapat mengurangi ansietas pada pasien koriokarsinoma, serta selalu memantau tanda-tanda vital klien dan kadar ß-hCG pasien secara berkala.

4.2 Saran

Sebagai perawat dapat memberikan asuhan keperawatan secara humanistik, altruistik, dan holistik. Dan hendaknya selalu meningkatkan keilmiahan di bidang asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

(27)

Cunningham, MacDonald,Gant. Gestationnal Trofoblastic Tumors, Willm Obstetric 9th. 1990:746-50.

Coadjane, et al. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta: EGC.

Manjoer , Arif, et al .2002. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius.

Soekimin. 2005. Penyakit Trofoblas Ganas. Sumatera: Fakultas Kedokteran USU. Wiknjosastro, Hanifa, et al,. 2005.Ilmu Kandungan edisi kedua. Jakarta: Yayasan

Referensi

Dokumen terkait

Pada pengendalian input dilakukan audit yang berfokus kepada proses input data pada sistem informasi akuntansi siklus pengeluaran, dari proses audit tersebut ada hal positif

Peta kerapatan kanopi hasil pemodelan FCD baik pada tahun 2013 (sebelum erupsi) dan 2015 (sesudah erupsi) digunakan untuk mendeteksi perubahan kerapatan kanopi dengan metode

3) Nilai anda tambahkan dan kurangi oleh standar deviasi dari hasil try out terakhir, itulah nilai maksimal dan minimal yang ada dapatkan pada saat ini. Jika nilai anda 40 pada

Pada tahap perencanaan, guru melakukan penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) secara umum yang disesuaikan dengan standar KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aroma yang dihasilkan dari produk kopi dekafeinasi akan semakin menurun (rendah) dengan semakin kecil ukuran biji kopi, semakin lamanya

Dalam prakteknya umur pahat tidak hanya dipengaruhi oleh geometri pahat saja melainkan juga oleh semua factor yang berkaitan dengan proses pemesinan, yaitu antara lain jenis

Perusahaan-perusahaan perlu berpatisipasi aktif dalam penanganan masalah K3 dengan menyediakan rencana yang baik, yang dikenal sebagai Sistem Manajemen Keselamatan dan

 J' Imam Sa*+&#34; No ,- Sem&amp;u.. 