3 3 II.1
II.1 Teori Teori UmumUmum
II.1.1 Pengertian Suppositoria II.1.1 Pengertian Suppositoria
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat padat yang umumnya Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat padat yang umumnya dimaksudkan untuk dimasukan ke dalam rektum, vagina dan jarang digunakan dimaksudkan untuk dimasukan ke dalam rektum, vagina dan jarang digunakan untuk uretra (Lachman, hal 1147).
untuk uretra (Lachman, hal 1147).
Suppositoria adalah sediaan bentuk silindris atau kerucut berdosis dan Suppositoria adalah sediaan bentuk silindris atau kerucut berdosis dan berbentuk mantap
berbentuk mantap yang ditetapkan yang ditetapkan untuk duntuk dimasukan ke imasukan ke dalam rektum, dalam rektum, sediaansediaan ini melebur pada suhu tubuh atau larut dalam lingkungan berair (Voight, hal ini melebur pada suhu tubuh atau larut dalam lingkungan berair (Voight, hal 281).
281).
Suppositoria adalah suatu bentuk unit sediaan yang dimaksudkan untuk Suppositoria adalah suatu bentuk unit sediaan yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam rektum, vagina, dan uretra. Suppositoria melebur, dimasukkan ke dalam rektum, vagina, dan uretra. Suppositoria melebur, melunak dan melarut pada suhu tubuh (Parrot, hal 382)
melunak dan melarut pada suhu tubuh (Parrot, hal 382)
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh (FI IV, hal 16).
atau melarut pada suhu tubuh (FI IV, hal 16).
Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan cara dimasukkan ke dalam lubang atau celah dalam tubuh dimana ia akan cara dimasukkan ke dalam lubang atau celah dalam tubuh dimana ia akan melebur, melunak, atau larut dan memberikan efek lokal atau sistemik (Ansel, melebur, melunak, atau larut dan memberikan efek lokal atau sistemik (Ansel, hal 576).
Suppositoria adalah bentuk sediaan yang diberikan melalui bagian Suppositoria adalah bentuk sediaan yang diberikan melalui bagian tubuh yakni vagina, rektum, atau uretra (DOM, hal 834).
tubuh yakni vagina, rektum, atau uretra (DOM, hal 834).
Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang dimaksudkan untuk Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang dimaksudkan untuk dimasukkan kedalam salah satu rongga (lubang) tubuh, selain rongga mulut. dimasukkan kedalam salah satu rongga (lubang) tubuh, selain rongga mulut. Suppositoria diformulasikan untuk larut atau hancur pada temperatur tubuh. Suppositoria diformulasikan untuk larut atau hancur pada temperatur tubuh. Pada saat ini “kata
Pada saat ini “kata suppositorysuppository” umumnya berhubungan dengan bahan yang” umumnya berhubungan dengan bahan yang digunakan dalam rektum, vagina atau uretra (
digunakan dalam rektum, vagina atau uretra (Scoville’s, hal 367).Scoville’s, hal 367).
Suppositoria dan pasaries (suppositoria vaginal) adalah suatu bentuk Suppositoria dan pasaries (suppositoria vaginal) adalah suatu bentuk sediaan padat yang dimasukkan melalui rektum dan vagina, pasien harus sediaan padat yang dimasukkan melalui rektum dan vagina, pasien harus diberikan petunjuk dalam penggunaan sediaan ini (Fasttrack, hal 157).
diberikan petunjuk dalam penggunaan sediaan ini (Fasttrack, hal 157). II.1.2 Keuntungan Suppositoria
II.1.2 Keuntungan Suppositoria 1.
1. Lachman, hal 282.Lachman, hal 282.
Tidak merusak lambung,Tidak merusak lambung,
Tanpa rasa yang tidak enak,Tanpa rasa yang tidak enak,
Mudah dipakai bahkan pada saat pasien tidak sadarkan diri, sulitMudah dipakai bahkan pada saat pasien tidak sadarkan diri, sulit menelan dan sebagainya.
menelan dan sebagainya. 2.
2. Ansel, hal 578.Ansel, hal 578.
Obat yang dirusak atau dibuat tidak aktif oleh pH atau aktivitas enzimObat yang dirusak atau dibuat tidak aktif oleh pH atau aktivitas enzim dari lambung atau usus,
dari lambung atau usus,
Obat yang merangsang lambung dapat diberikan tanpa menimbulkanObat yang merangsang lambung dapat diberikan tanpa menimbulkan rangsangan,
rangsangan,
Obat yang dirusak dalam sirkulasi portal, dan tidak melewati hatiObat yang dirusak dalam sirkulasi portal, dan tidak melewati hati setelah sel diabsorbsi pada lambung,
Digunakan oleh pasien dewasa dan anak-anak yang tidak mau menelanDigunakan oleh pasien dewasa dan anak-anak yang tidak mau menelan obat,
obat,
Cara yang efektif dalam perawatan pasien yang muntah.Cara yang efektif dalam perawatan pasien yang muntah. 3.
3. DOM, hal 834.DOM, hal 834.
Suppositoria dapat digunakan untuk pasien yang mual atau untuk anak Suppositoria dapat digunakan untuk pasien yang mual atau untuk anak kecil, untuk pasien yang lemah atau tidak sadarkan diri dan untuk kecil, untuk pasien yang lemah atau tidak sadarkan diri dan untuk pasien yang tidak bisa menggunakan obat secara oral.
pasien yang tidak bisa menggunakan obat secara oral. 4.
4. Scoville’s, hal 368Scoville’s, hal 368..
Bentuk obat ini sangat berguna dalam kasus dimana obat tidak bisaBentuk obat ini sangat berguna dalam kasus dimana obat tidak bisa diberikan melalui mulut, juga karena pasien menjadi mual atau diberikan melalui mulut, juga karena pasien menjadi mual atau muntah, atau suatu keadaan dimana pemberian oral mengalami kontra muntah, atau suatu keadaan dimana pemberian oral mengalami kontra indikasi ini juga berguna dalam kasus dimana memungkinkan aksi indikasi ini juga berguna dalam kasus dimana memungkinkan aksi obat yang lebih lama.
obat yang lebih lama. 5.
5. Fasttrack, hal 157-158.Fasttrack, hal 157-158.
Bentuk sediaan rektal berhasil digunakan untuk memberikan efek Bentuk sediaan rektal berhasil digunakan untuk memberikan efek lokal untuk pengobatan infeksi dan peradangan, misalnya wasir,
lokal untuk pengobatan infeksi dan peradangan, misalnya wasir,
Bentuk sediaan rektal digunakan untuk meringankan sembelit atauBentuk sediaan rektal digunakan untuk meringankan sembelit atau membersihkan usus setelah operasi,
membersihkan usus setelah operasi,
Bentuk sediaan rektal dapat digunakan untuk memberikan efek Bentuk sediaan rektal dapat digunakan untuk memberikan efek sistemik dimana penyerapan obat secara oral dapat mengiritasi sistemik dimana penyerapan obat secara oral dapat mengiritasi lambung dan tidak dianjurkan,
lambung dan tidak dianjurkan,
Bentuk sediaan rektal dapat digunakan untuk efek lokal dalamBentuk sediaan rektal dapat digunakan untuk efek lokal dalam pengobatan penyakit usus besar, misalnya
Dengan mengikuti nasehat dari apoteker, penggunaan bentuk sediaan rektal dan vagina dapat dengan mudah dilakukan pasien.
II.1.3 Kerugian Suppositoria 1. Lachman, hal 1151.
Dinding membran diliputi suatu lapisan mukosa yang relatif konstan yang dapat bertindak sebagai penghalang mekanik untuk jalannya obat melalui pori-pori.
2. Ansel, hal 579.
Dosis obat yang digunakan melalui rektum mungkin lebih besar atau lebih kecil daripada yang dipakai secara oral tergantung pada faktor dalam tubuh pasien. Sifat fisika kimia obat dari kemampuan obat melewati penghalang fisiologis, kemampuan obat untuk diabsorbsi dan sifat basis suppositoria yang dimaksudkan untuk obat-obat sistemik. Efek lokal umumnya terjadi dengan waktu setengah jam sampai 4 jam. 3. Voight, hal 282.
Harus dalam kondisi penyimpanan yang tepat (kering, dingin) terlindungi dari cahaya, bebas udara, disimpan pada tempat yang aman, tidak pada sembarang tempat yang bertujuan untuk memperpanjang stabilitasnya.
4. Fasttrack, hal 158.
Di negara-negara tertentu khususnya Amerika dan Inggris, bentuk sediaan rektal kurang dikenal, khususnya untuk pengobatan sistemik, dimana hal ini berbeda dengan di Eropa.
Petunjuk dari ahlinya diperlukan dalam pemberian bentuk sediaan ini.
Penyerapan bahan obat dari rektum berlangsung lambat.
Pemberian rektal dari bahan obat dapat menghasilkan efek samping lokal.
Pembuatan suppositoria di industri lebih sulit daripada bentuk rektum lainnya.
5. Scoville’s, hal 368.
Ketika bahan obat diberikan dalam bentuk suppositoria, akan diabsorbsi secara lambat dan menghasilkan aksi terapetik setelah waktu yang lama.
II.1.4 Bentuk-bentuk Suppositoria 1. Ansel, hal 576-577.
a. Suppositoria rektal
Berbentuk silindris dan kedua ujungnya tajam, peluru, torpedo dan berjari-berjari kecil. Panjangnya ± 32 mm (1,5 inci). Amerika menetapkan beratnya 2 gram untuk orang dewasa bila oleum cacao yang digunakan sebagai basis, sedangkan untuk bayi dan anak-anak ukuran dan beratnya ½ dari ukuran dan berat orang dewasa.
b. Suppositoria vagina
Berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut, sesuai dengan kompendik resmi beratnya 5 gram, apabila basisnya oleum cacao, tergantung pada jenis basis, berat untuk vagina ini berbeda-beda.
c. Suppositoria uretra
Bentuknya ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang ± 140 mm, walaupun ukuran
ini bervariasi. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram. Suppositoria urin wanita, panjang dan beratnya ½ dari ukuran untuk pria, panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram, jika menggunakan basis oleum cacao.
2. Lachman, hal 1148. a. Suppositoria rektal
Berat suppositoria rektal untuk orang dewasa kira-kira 2 gram dan biasanya lonjong seperti torpedo. Suppositoria untuk anak-anak beratnya kira-kira 1 gram dan ukurannya lebih kecil.
b. Suppositoria vaginal
Beratnya suppositoria vaginal kira-kira 3-5 gram, bentuk bulat telur. c. Suppositoria uretra
Berbentuk pensil dan meruncing pada salah satu ujungnya. Suppositoria uretra yang digunakan untuk laki-laki beratnya kira-kira 4 gram dan panjangnya 100-150 mm. Sedangkan untuk wanita, beratnya masing-masing suppositoria 2 gram dan biasanya mempun yai panjang 60-75 mm.
3. FI IV, hal 16-17.
a. Suppositoria rektal
Untuk dewasa berbentuk lonjong pada suatu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot ± 2 gram.
b. Suppositoria vagina
Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dengan bobot ± 5 gram. 4. Parrot, hal 382.
a. Suppositoria rektal
Bentuknya kerucut atau silindris dan lonjong, suppositoria rektal beratnya 2 gram, panjangnya ± 30 mm, berdiameter 10 mm.
b. Suppositoria vagina
Berbentuk bundar atau oval, beratnya bervariasi dari 3-9 gram. 5. Prescription, hal 260-261.
a. Suppositoria rektal
USP mendeskripsikan suppositoria rektal untuk dewasa biasanya memiliki berat 2 gram dan berbentuk torpedo, cara pemasukannya dimulai dari kepala dan diberi tekanan oleh sfingter luar, melalui rektum. Dimana diameter terbesar dari suppositoria ini sekitar 13 mm, biasanya 7 mm, memiliki panjang sekitar 25-30 mm. Untuk anak
b. Suppositoria vagina
Memiliki bentuk bervariasi dan biasanya berbentuk kerucut atau bentuk yang dimodifikasi. Memiliki berat sekitar 5 gram, tetapi kebanyakan produk komersial suppositoria vagina yang beratnya sekitar 3-4 gram dan beberapa yang memiliki berat 8 gram. Suppositoria umumnya digunakan untuk memberikan efek lokal, akan tetapi perlu diingat bahwa epitel mucus pada vagina terisi penuh dengan sirkulasi darah. Jadi obat dapat diabsorbsi dan memberikan efek sistemik.
c. Suppositoria uretra
Bentuk silinder dengan diameter 3-6 mm. Untuk saluran urin pria panjangnya sekitar 100-150 mm. Sedangkan untuk saluran urin wanita panjangnya sekitar 60-70 mm.
6. Fasttrack, hal 163.
Berat suppositoria sekitar 1-4 gram, dimana suppositoria dengan berat 2 gram yang biasa digunakan. Suppositoria yang paling kecil biasanya disiapkan untuk penggunaan pada anak-anak dan ukuran yang paling besar digunakan untuk dewasa. Contohnya: suppositoria gliserin yang digunakan untuk mengobati konstipasi pada orang dewasa.
II.1.5 Penggunaan jenis-jenis suppositoria 1. Ansel, hal 578 dan 593.
Suppositoria rektal dimaksudkan untuk kerja lokal dan paling sering digunakan untuk menghilangkan konstipasi dan rasa sakit, iritasi, rasa gatal
dan radang sehubungan dengan wasir atau kondisi anorektal lainnya. Suppositoria antiwasir seringkali mengandung sejumlah zat, termasuk anastetik lokal, vasokontriksi, astringen, analgetik, pelunak yang menyejukkan dan zat pelindung. Suppositoria laksatif yang terkenal adalah suppositoria gliserin, yang menyebabkan efek laksatif (pencahar) karena iritasi lokal dari membran mukosa. Contoh lain: suppositoria rektum aminofilin, aspirin, bisakodil, kloropromazepin.
2. Ansel, 578 dan 596.
Suppositoria vagina yang dimaksudkan untuk efek lokal digunakan terutama sebagai antiseptik pada hygiene wanita dan sebagai zat khusus untuk memerangi dan menyerang penyebab penyakit (bakteri patogen) Obat-obatan yang umum digunakan adalah trikomonasida untuk memerangi vaginitas yang disebabkan oleh tricomonas vaginals, candida (monilia) albicons, dan mikroorganisme lainnya.
3. Ansel, hal 578.
Suppositoria uretra biasa digunakan sebagai antibakteri dan sebagai sediaan anestetik lokal untuk pengujian uretra.
II.1.6 Aksi Lokal dan Aksi Sistemik 1. Ansel, hal 578.
Aksi lokal
Begitu dimasukkan, basis suppositoria meleleh, melunak atau melarut dan menyebarkan bahan obat yang dibawanya ke jaringan-jaringan di
daerah tersebut. Obat ini dimaksudkan untuk ditahan dalam ruang tersebut dan memberikan efek kerja lokal.
Aksi sistemik
Untuk efek sistemik membran mukosa rektum vagina memungkinkan absorbsi dari kebanyakan obat yang dapat larut.
2. Lachman, hal 1184-1186.
Suppositoria untuk efek lokal
Obat-obat yang dimaksudkan untuk efek lokal umumnya tidak diabsorpsi, misalnya obat-obat untuk wasir, anastetik lokal dan antiseptik. Basis-basis yang digunakan untuk obat-obat ini sebenarnya ini tidak dapat diabsorbsi, lambat meleleh dan lambat melepaskan obat, berbeda dengan basis-basis suppositoria yang dimaksudkan untuk obat-obat sistemik.
Suppositoria untuk efek sistemik
Pemilihan basis suppositoria yang mungkin dikehendaki harus diperhatikan. Ketersediaan obat dalam sirkulasi sistemik dan harga basis suppositoria harus dipertimbangkan sebelum pengerjaan
formulasi dimulai.
II.1.7 Anatomi Rektum dan Faktor yang mempengaruhi Absorbsi Suppositoria 1. Ansel, hal 579-580
Rektum manusia panjangnya ± 15-20 cm. Pada waktu isi kolon kosong, rektum hanya berisi 2-3 mL cairan mukosa yang inert dalam keadaan istirahat, rektum tidak ada gerakan, tidak ada vili dan mikrovili pada
mukosa rektum akan tetapi terdapat muskularisasi yang berlebihan dari bagian submukosa dinding rektum dengan darah dan kelenjar porta.
Adapun faktor fisiologi yang mempengaruhi absorbsi obat dari rektum, yaitu:
a. Kandungan kolon
Apabila diinginkan efek sistemik dari suppositoria yang mengandung obat, absorpsi yang lebih besar lebih banyak terjadi pada rektum yang kosong daripada rektum yang digelembungkan oleh feses. Ternyata obat lebih mungkin berhubungan dengan permukaan rektum dan kolon yang mengabsorbsi ketika tidak ada feses. Oleh karena itu bila diinginkan suatu enema untuk pengosongan dapat digunakan dan dimungkinkan pemberiaannya sebelum penggunaan suppositoria dengan obat yang diabsorbsi.
b. Jalur sirkulasi
Obat yang diabsorbsi melalui rektum, tidak seperti yang diabsorbsi setelah pemberian secara oral, dimana obat tidak melalui sirkulasi portal sehingga dengan demikian obat dimungkinkan untuk tidak
dimetabolisme dalam hati. Untuk memperoleh efek sistemik pembuluh hemoroid bagian bawah yang mengelilingi kolon menerima obat yang diabsorbsi lalu mulai mengedarkannya ke seluruh tubuh tanpa melalui hati.
Karena cairan rektum pada dasarnya netral pada pada pH (7-8) dan kemampuan bentuk obat yang digunakan lazimnya secara kimia tidak berubah oleh lingkungan rektum.
2. Lachman, hal 1149
Hati mengubah sebagian besar obat secara kimia sehingga keefektifan sistemiknya sering kali berkurang. Sebaliknya sebagian besar obat yang sama dapat diabsorbsi dari daerah anorektal dan nilai terapetisnya masih dapat dipertahankan. Vena hemoroid yang lebih bawah mengelilingi kolon dan rektum dalam kafa inferior, jadi menghindari hati. Vena hemoroid yang lebih atas tidak berhubungan dengan vena porta yang menuju ke hati. II.1.8 Basis Suppositoria yang Ideal
1. Lachman, hal 1168.
Telah mencapai kesetimbangan kristalinitas, dimana sebagian besar komponen mencair pada temperatur rektal 36oC, tetapi basis dengan kisaran leleh tinggi dapat digunakan untuk campuran eutektikum, penambahan minyak-minyak, balsam-balsam, serta suppositoria yang
digunakan pada iklim tropis.
Secara keseluruhan basis tidak toksik dan tidak mengiritasi pada jaringan yang peka dan jaringan yang meradang.
Dapat bercampur daengan berbagai jenis obat.
Basis suppositoria tersebut menyusut secukupnya pada pendingin, sehingga dapat dilepaskan dari cetakan tanpa menggunakan pelumas cetakan.
Basis suppositoria tersebut tidak merangsang
Basis suppositoria tersebut mempunyai sifat membasahi dan mengemulsi
“angka air” tinggi, maksudnya presentase air yang tinggi dapat dimasukkan kedalamnya.
Basis suppositoria tersebut stabil pada penyimpanan, maksudnya warna, bau, atau pola penglepasan obat tidak berubah.
Suppositoria dapat dibuat dengan mencetak dengan tangan, mesin kompresi, atau eksfursi. Jika basis tersebut berlemak maka mempu nyai persyaratan tambahan sebagai berikut.
- “angka asam” dibawah 0,2
- “angka penyabunan” berkisar 200 sampai 245 - “angka iod” kurang dari 7
- Interval antara “titik leleh” dan “titik memadat” kecil atau kurva SFI-nya tajam.
2. Voight, hal 282-283.
Secara fisiologi netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus)
Secara kimia netral
Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil)
Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku
Interval yang rendah antara titik lebur dan titik lebur jernih
Viskositas memadai (mampu mengurangi sedimentasi bahan tersuspensi).
Suppositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut
Pembebasan dan reabsorpsi yang baik
Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, pewarnaan, pengerasan)
Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil 3. Ansel, hal 581.
Basis harus mampu mencair, melunak, atau melarut sehingga dapat melepaskan kandungan obatnya untuk diabsorbsi.
4. Scoville’s, hal 371.
Stabil, mudah dituangkan, cepat memadat, tidak membutuhkan pelicin cetakan, memiliki penampakan yang baik, mudah dikeluarkan dari cetakan dan bercampur dengan semua jenis obat.
Dari titik absorbsi obat, basis harus netral dalam reaksi, tidak mengiritasi, menghasilkan obat dalam bentuk siap diabsorbsi, melebur dengan sempurna atau melarut pada suhu tubuh dalam rektum sedikitnya 30 menit, dan tidak mudah keluar dari rektum.
II.1.9 Jenis-jenis basis 1. Ansel, hal 582
Basis berminyak atau berlemak
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai, karena pada dasarnya oleum cacao termasuk kelompok ini, utama dan
Basis yang larut dalam air dan bercampur dengan air merupakan kumpulan yang penting dari kelompok ini adalah gelatin gliserin dan polietilen glikol.
Basis lainnya
Dalam kelompok basis lain termasuk campuran bahan bersifat seperti lemak dan yang larut dalam air atau bercampur dengan air.
2. Voight, hal 283-287.
Lemak dan massa sejenis lemak, terdiri dari : a. Lemak coklat
Lemak coklat bersifat netral secara kimia dan fisiologis. Basis ini banyak digunakan mengingat suhu leburnya (21-34°C). Kerugiannya
adalah bahwa lemak coklat seperti semua lemak alami dapat menjadi tengik, memerlukan kondisi penyimpanan yang tepat sehingga stabilitasnya dapat diperpanjang.
b. Lemak keras
Lemak keras banyak dicantumkan dalam farmakope sebagai massa suppositoria yang telah mendekati sifat ideal basis suppositoria.
Massa lebur suhu tinggi larut air (polietilen glikol)
Polietilen glikol yang melebur jauh diatas suhu tubuh, harus larut dalam usus. Akan tetapi orang dewasa hanya memiliki 1-2 mL cairan usus, yang terdistribusi diatas 10-20 m panjang rektum. Untuk melarutkan suppositoria ini dapat dilakukan oleh sejumlah cairan, melalui gaya osmotik, meskipun memerlukan waktu yang cukup panjang.
Massa elastis larut air (gliserol gelatin)
Kedalam kelompok ini gliserol gelatin elastis. Pada suhu kamar bentuknya mantap, dan mencair pada suhu tubuh. Keuntungannya adalah melarut dengan cepat pada cairan rektum. Kerugiannya bahwa suppositoria khusus dengan konsentrasi gliserol yang rendah merupakan media makanan yang baik bagi bakteri.
3. Lachman, hal 1168
Minyak cokelat
Sebagian besar minyak coklat memenuhi syarat basis yang ideal karena minyak ini tidak berbahaya, lunak dan tidak reaktif serta meleleh pada suhu tubuh.
Basis khusus
Sejumlah basis suppositoria tersedia dalam perdagangan, dibuat untuk tujuan tertentu.
Basis hidrofilik (gelatin gliserin)
Basis ini sering digunakan dalam suppositoria vagina, yang dimaksudkan untuk efek lokal dari zat antimikroba.
Basis hidrofilik (polietilen glikol)
Suppositoria dengan basis PEG tidak dapat dibuat dengan cara menggulung suppositoria dengan tangan.
Basis yang dapat terdispersi dengan air
Basis yang dapat terdispersi dalam air memberikan keuntungan tambahan pada penyimpanan dan penanganan pada temperatur lebih
tinggi, dengan tuntutan tercampurkannya obat-obat secara tidak membantu pertumbuhan mikroba, tidak toksik dan tidak sensitif.
4. Scoville, hal 371
Minyak cokelat
Merupakan basis yang lebih sering digunakan untuk suppositoria rektal berasal dari biji Theobroma cacao, atau tanaman coklat keras dan menyerupai lilin pada suhu ruangan tapi melebur pada suhu 86° - 95°F (30°-35°C).
Gliserin gelatin
Bahan ini banyak memiliki ciri-ciri yang membuat basis yang diinginkan dalam suppositoria. Suppositoria yang dibuat dengan gliserin gelatin melarut dengan lambat dalam cairan sekresi dan berkelanjutan dalam pelepasan obat.
Polietilen glikol
Basis dengan polietilen glikol larut dalam air berbentuk cairan jernih tidak mudah terhidrolisis menjadi busuk, tidak mendukung pertumbuhan bakteri serta tidak menyebabkan iritasi pada membran mukosa.
II.1.10 Metode pembuatan suppositoria 1. Ansel, hal 505-592
Pembuatan dengan cara mencetak
Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode pencetakan khusus (a). melebur basis, (b) mencampurkan bahan obat yang diinginkan, (c) menuang hasil leburan kedalam cetakan, (d) membiarkan leburan
dingin dan mengental menjadi suppositoria, (e) melepaskan suppositoria dengan oleum cacao, gelatin gliserin, polietilen glikol.
Pembuatan dengan cara kompressi
Suppositoria dapat juga dibuat dengan menekan massa yang terdiri dari campuran basis dengan bahan obatnya dalam cetakan khusus memakai mesin pembuat suppositoria. Dalam pembuatan dengan cara kompresi dalam cetakan, basis suppositoria dan bahan lainnya dalam formula dicampurkan dengan baik.
Pembuatan secara menggulung dan membentuk dengan tangan. Pengolahan suppositoria dengan menggunakan tangan oleh ahli farmasi sekarang rasanya hampir tidak pernah dilakukan. Namun demikian, membentuk suppositoria dengan tangan merupakan bagian dari sejarah seni para ahli farmasi.
2. Lachman, hal 1179.
Mencetak dengan tangan
Metode pembuatan suppositoria yang paling sederhana dan paling tua adalah dengan tangan, yakni dengan menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk
dengan bahan-bahan aktif dengan menggunakan lumpang dan alu sampai diperoleh massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Bahan-bahan aktif biasanya diserbuk halus atau dilarutkan dalam air, atau kadang-kadang dicampur dengan sedikit lemak bulu domba untuk
mempermudah penyatuan dengan basis suppositoria. Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki, atau menjadi bola-bola vaginal sesuai
dengan berat yang dikehendaki.
Mencetak kompressi
Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang diisikan dalam silinder, sehingga massa terdorong ke dalam cetakan (biasanya tiga)
Mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau didispersikan ke dalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam yang telah didinginkan yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
Mesin pencetak otomatis
Pelepasan pencetakan (penuangan, pendinginan, dan pemindahan) dapat dilakukan dengan mesin. Seluruh pengisian, pengeluaran, dan pembersihan cetakan, semua dijalankan secara otomatis produksi suatu
mesin putar khusus berkisar antara 3500-6000 suppositoria per jam. 3. Voight, hal 291-293
Cara penuangan
Cara ini paling sering digunakan setelah massa melebur dan disatukan dengan bahan obat, dituang ke dalam cetakan untuk menjamin
pembentukan yang cepat sehingga lebih mengurangi proses sedimentasi bahan obat. Pada saat peleburan massa harus diperhatikan bahwa suhu tidak naik terlalu tinggi dan terbentuk larutan yang jernih.
Cara pencetakan
Pada cara pencetakan, parutan basis suppositoria dicampurkan dengan bahan obat yang diserbuk halus. Material awal diisikan dalam sebuah pencetak suppositoria dengan alat khusus suppositoria kemudian
didorong keluar.
II.1.11 Masalah-masalah dalam suppositoria 1. Lachman, hal 1186-1189
Air dalam suppositoria
Penggunaan air sebagai pelarut untuk mencampurkan zat-zat dalam basis suppositoria harus dihindarkan untuk alasan sebagai berikut :
a. Air mempercepat oksidasi lemak
b. Jika air menguap, zat-zat yang terlarut akan membentuk kristal-kristal
c. Kecuali jika jumlah air berada dalam jumlah lebih tinggi dari yang dibutuhkan untuk melarutkan obat, air mempunyai nilai kecil dalam membantu absorpsi obat
d. Reaksi antara bahan-bahan yang terdapat dalam suppositoria tampaknya lebih sering terjadi dengan adanya air
e. Pemasukan air atau zat-zat lain yang dapat dikontaminasi oleh pertumbuhan bakteri memerlukan tambahan bahan-bahan bakteriostatik seperti paraben
Higroskopisitas
Suppositoria gelatin yang mengandung gliserin gelatin kehilangan lembap oleh penguapan dalam iklim kering dan mengadsorpsi lembap dalam kondisi kelembapan yang tinggi. Basis PEG juga higroskopis.
Ketidakcampuran
Basis-basis PEG ternyata tidak dapat bercampur dengan garam-garan perak, asam tanat, aminopirin, kirin, dan sulfonamid.
Viskositas
Viskositas massa suppositoria yang mencair adalah penting dalam pembuatan suppositoria.
Kerapuhan
Pecahnya suppositoria seringkali disebabkan oleh pendinginan yang cepat dari basis yang mencair dalam suatu cetakan yang sangat dingin.
Kerapatan
Jika volume penyusutan terjadi dalam cetakan selama pendingin, penambahan pengganti harus dibuat untuk mendapatkan berat
Penyusutan volume
Penyusutan dapat dihilangkan dengan menuangkan massa sedikit diatas temperatur bekunya ke dalam suatu cetakan yang dihangatkan sampai temperatur sama.
Faktor penggantian dosis
Jumlah basis yang diganti oleh bahan-bahan aktif dalam formulasi suppositoria dapat dihitung.
Pelumas atau zat penglepas cetakan
Minyak cokelat melengket pada cetakan suppositoria karena volume penyusutan rendah.
Pengawasan bobot dan volume
Jumlah bahan-bahan aktif dalam suppositoria tergantung pada konsentrasinya dalam massa tersebut, variasi volume dalam cetakan dan variasi bobot antar suppositoria.
Ketengikan dan antioksidan
Ketengikan disebabkan oleh autooksidasi dan penguraian berturut-turut dari lemak tidak jenuh menjadi aldehid jenuh dan tidak jenuh, berbagai keton dan asam yang mempunyai bau kuat dan tidak
II.I.12 Evaluasi suppositoria 1. Lachman, hal 1191-1194
Uji kisaran leleh
Uji ini merupakan suatu ukuran waktu yang diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna bila dicelupkan kedalam penangas air dengan temperatur tetap (370C).
Uji pencairan atau uji waktu melunak
Uji tersebut terdiri dari pipa U yang sebagian dicelupkan kedalam penangas air yang bertemperatur konstan. Penyempitan pada satu sisi
menahan suppositoria tersebut pada tempatnya dalam pipa. Setelah batangan dari kaca ditempatkan di bagian atas suppositoria dan waktu yang diperlukan batangan untuk melewati supo sampai penyempitan tersebut dicatat sebagai waktu melunak.
Uji kehancuran
Uji ini untuk mengukur keregasan atau kerapuhan suppositoria. Alat yang digunakan untuk uji tersebut terdiri dari suatu ruang berdinding rangkap dimana suppositoria yang diuji ditempatkan. Air 37°C dipompa melewati dinding rangkap ruang tersebut dan suppositoria diisikan kedalam dinding dalam yang kering, menopang lempeng dimana suatu bidang dilekatkan.
II.2 Rancangan Formula
Tiap 2 gram suppositoria mengandung :
Ketoprofen 100 mg
Tween-80 2%
Komponen basis ad 2 gram
PEG 1000 96%
PEG 4000 4%
II.3 Alasan penambahan Alasan Formulasi
Zat aktif yang digunakan dalam sediaan ini adalah ketoprofen. Ketoprofen merupakan obat golongan AINS turunan asam fenil alkanoat. Pada penggunaan oral, ketoprofen dapat diabsorbsi cepat dengan kadar puncak dicapai pada 0,5-2 jam, waktu paruh (T 1/2) eliminasinya pendek (1,5-4 jam). Bentuk sediaan sustained releasenya menyisahkan masalah yakni tingkat infasi saluran cerna yang lebih tinggi karena pelepasan obat yang berlangsung perlahan dan lamanya preparan obat (kapasitas serap niosom terhadap ketoprofen dan prediksi penggunaan transdermal). Ketoprofen diabsorbsi dilambung dengan waktu paruh plasma sekitar 2 jam. Efek samping dari penggunaan oral obat ini antara lain terutama menyebabkan gangguan saluran cerna dan reaksi hipersensivitas (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, hal : 240). Ketoprofen diabsorbsi dengan baik dari rute intramuskular dan rektal (Martindale 36th Edition, hal 73).
Ketoprofen dalam bentuk tablet salut dapat menyebabkan gangguan saluran cerna berupa tukak peptik, atau pendarahan saluran cerna, dyspersia, mual, muntah, nyeri lambung, pusing, sakit kepala, dan gangguan fungsi ginjal. Juga bisa terjadi flatulen, heartburn, serta rasa tidak enak pada perut (DOI, hal 954).
Berdasarkan uraian diatas, maka ketoprofen ini dibuat dalam bentuk sediaan suppositoria. Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan cara memasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh dimana akan melebur, melunak dan melarut dan memberikan efek lokal atau sistemik (Ansel, hal 567).
Sediaan suppositoria ini memiliki keuntungan sebagai berikut :
- Bentuk sediaan rektal ini mungkin digunakan untuk memberikan efek lokal untuk pengobatan infeksi dan peradangan misalnya wasir.
- Bentuk sediaan rektal digunakan untuk melancarkan sembelit atau untuk membersihkan usus sebelum operasi. Bentuk sediaan rektal digunakan untuk memberikan efek sistemik dimana penyerapan obat secara oral dapat mengiritasi lambung dan tidak dianjurkan.
- Bentuk sediaan rektal dapat digunakan untuk efek lokal pada pengobatan penyakit usus besar misalnya kolitis ulsinativa.
- Dengan mengikuti nasehat dari apoteker, penggunaan bentuk sediaan rektal dan vaginal dapat dengan mudah dilakukan oleh pasien.
Suppositoria ketoprofen ini dibuat dengan bobot 2 gram karena suppositoria ketoprofen ini ditujukan untuk orang dewasa. Dimana
suppositoria rektal untuk orang dewasa adalah 2 gram. Sedangkan untuk anak-anak adalah 1 gram (Lachman, hal 1148).
Digunakan ketoprofen 100 mg sebagai zat aktif karena dosis ketoprofen itu sendiri adalah 2 kali 100 mg sehari (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, hal 241).
Farmakologi Ketoprofen
1. Rapid Review Pharmacology, hal 129.
NSAID mempunyai ikatan reversible dengan COX-1 dan COX-2, memperlihatkan efek antipiretik, analgetik dan antiinflamasi yang serupa dengan aspirin. Efek antipiretik dapat memblokade produksi prostaglandin pada sistem saraf pusat untuk mengatur kembali temperatur pada hipotalamus, memfasilitasi hilangnya panas dengan cara pelebaran pembuluh darah
2. DOI, hal 964.
Ketoprofen adalah antiinflamasi non steroid yang berskhasiat analgesik, antipiretik. Sifat antiinflamasi ketoprofen muncul karena obat ini mampu menghambat sintesa prostaglandin dan menstabilkan membran lisosom. Sifat analgetik ketoprofen muncul karena ketoprofen mempunyai aktivitas antibradikinin. Sebab bradikinin bersamaan dengan prostaglandin dapat menyebabkan timbulnya rasa sakit. Kerja antipiretik ketoprofen bisa timbul karena kerja sentral obat pada pusat pengatur panas di hipotalamus yang menimbulkan
vasodilatasi perifer, peningkatan aliran darah di kulit, berkeringat dan kehilangan panas pada tubuh.
Alasan Penambahan Zat tambahan
1. PEG 1000 dan 4000 (Komponen basis)
- Basis manapun yang digunakan, obat harus didispersikan secara homogen didalamnya, tetapi obat tersebut harus dapat dilepaskan dengan laju yang dikehendaki pada cairan tubuh yang encer yang ada di sekitar suppositoria terebut. Oleh karena itu, kelarutan bahan-bahan aktif dalam air atau pelarut lainnya harus diketahui. Jika obat larut dalam air, maka basis lemak dengan angka air kecil yang dipilih. Sebaliknya, jika obat tersebut sangat mudah larut dalam lemak, suatu basis tipe air, yang ditambahkan surfaktan untuk menambah kelarutan merupakan pilihan utama (Lachman, hal 1184).
- Dalam hal ini ketoprofen memiliki kelarutan praktis tidak larut dalam air. Sehingga digunakan basis tipe air seperti polietilen glikol yang memiliki kelarutan praktis tidak larut dalam air (FI IV, hal 1509)
- Selain itu basis PEG memiliki beberapa kelebihan diantaranya basis ini tidak mudah terhidrolisis menjadi busuk, mendukung pertumbuhan mikroba atau tidak menyebabkan iritasi pada
- PEG merupakan basis yang dapat didispersikan dalam air yang memberikan keuntungan tambahan pada penyimpanan dan penanganan pada temperatur yang tinggi, tidak membantu pertumbuhan mikroba, tidak toksik dan tidak sensitif (Lachman,
hal 1176)
- Digunakan kombinasi PEG sebagai basis suppositoria dimana campuran PEG ini banyak memiliki kelebihan dibandingkan basis lemak, misalnya titik leleh suppositoria dibuat lebih tinggi untuk menahan paparan iklim hangat, pelepasan obat yang tidak tergantung pada titik lebur titik leleh, stabilitas fisik, dalam penyimpanan yang baik, suppositoria tidak dapat segera larut
dalam cairan tubuh, dalam hal ini cairan rektum (Handbook Of Pharmaceutical Excipient 6th Edition, hal 545).
- Kombinasi PEG digunakan adalah PEG 1000 dan 4000. PEG 1000 mempunyai titik lebur 37-40OC sedangkan PEG 4000 mempunyai titik lebur 50-58OC. Penambahan PEG 1000 kedalam basis suppositoria PEG 4000 dapat menurunkan titik lebur suppositoria. (Sugita P, 2010).
- Dalam hal ini suppositoria dengan basis PEG tidak melebur ketika terkena suhu tubuh, tetapi perlahan-lahan melarut dalam cairan tubuh. Oleh karena itu, basis ini tidak perlu diformulasikan supaya melebur pada subu tubuh (Ansel, hal 584).
- Konsentrasi dari kedua komponen basis yang digunakan adalah Polietilenglikol 1000 96%
Polietilenglikol 4000 4%
Basis ini mempunyai titik leleh rendah dan mungkin perlu pendingin pada musim panas. Basis ini berguna bila diinginkan pelepasan obat yang cepat (Ansel, hal 1174).
2. Tween 80 (Surfaktan)
- Jika obat sangat mudah larut dalam lemak, digunakan suatu basis tipe air dan ditambahkan surfaktan untuk menambah kelarutan merupakan pilihan utama (Lachman, hal 1184)
- Surfaktan yang sering digunakan adalah surfaktan golongan non ionik yang bersifat tidak toksik seperti tween 80 ( Sagita P, 2010). - Konsentrasi tween 80 yang digunakan adalah 2 %. Dimana
konsentrasi tween sebagai bahan pembasah adalah 0,1-3% dan sebagai penambah kelarutan adalah 1-15% (Handbook Of Pharmaceutical Excipient 6th Edition, hal 550).
- Selain itu menggunakan surfaktan Na-Lauryl Sulfat 2%. Namun penggunaan Na-Lauryl Sulfat dapat bersifat toksik, sehingga surfaktan yang digunakan adalah tween 80 dengan konsentrasi 2% (Sagita P, 2010).
Alasan tidak menggunakan perhitungan nilai tukar
- Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot lemak coklat yang mempunyai volume yang sama dengan 1 gram obat (Syamsuni, hal 159)
- Nilai tukar ini digunakan untuk menentukan banyaknya obat yang mengganti 1 gram oleum cacao (Fasttrack, 172). Jadi, nilai tukar ini hanya berlaku untuk basis oleum cacao. Sedangkan basis dalam formula ini adalah PEG.
II.4 Uraian Bahan
1. Ketoprofen (FI IV hal 478-488 ; ISO VOLUME 47 hal 23 dan 40 ; Fater hal 231)
Nama Resmi : Ketoprofenum RM/BM : C16H14O3 / 254,3
Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih, tidak atau hampir tidak berbau
Kelarutan : Mudah larut dalam etanol, dalam kloroform dan dalam eter ; praktis tidak larut dalam air
Penyimpanan : Dalam Wadah tertutup rapat
Indikasi : Untuk mengurangi nyeri, inflamasi (peradangan), serangan gout, dan rheumatic artritis
Farmakologi : Ketopofen adalah salah satu antiinflamasi non steroid yang termasuk dalam golongan AINS turunan dari asam propinoat. Ketoprofen memiliki aktifitas
antiinflamasi dan analgesik secara sentral dan perifer. Ketoprofen menghambat sintesa prostaglandin dengan cara menghambat enzim siklooksigenase
Dosis : 100 mg
2. PEG (FI IV, hal 508)
Nama Resmi : Polietilen Glikol Sinonim : Makrogol
RM : (HOCH2CCH2OCH2)2CH2OH
BM : 4000 = 3000-4800
6000 = 5700-6130
Pemerian : PEG > 1000 berbentuk padat, putih atau tidak berwarna seperti lilin
Kelarutan : Mudah larut dalam air ; dalam aseton, dalam etanol 95%, dalam kloroform, dalam etilen glikol mono etil eter dalam etil asetat dan dalam toluena
Penyimpanan : Diwadah yang tertutup rapat, kering, sejuk dan terlindungi dari cahaya
Kestabilan : Semua kelarutan senyawa phenyl murcuri membentuk residu hitam logam ketika terkena cahaya atas setelah penyimpanan lama larutan dapat disterilkan dengan
autoklaf
Inkompatibilitas : Inkom dengan komponen bahan pembantu lainnya, tidak bercampur dengan garam-garam perak, asam
borat, kinnin, lecitamol, aspirin, benzokain, inkompatibel dengan halide, patikulen bromide, dan topoda
Konsentrasi : Polietilenglikol 1000 = 96% Polietilenglikol 4000 = 4%
3. Tween-80 (FI IV hal 687 ; Handbook of pharmaceutical Excipient 6th edition, hal. 549)
Nama Resmi : Polysorbatum
Sinonim : Polisorbat-80, Tween-80 RM/BM : C64H12O26/ 1310
Pemerian : Cairan seperti minyak, jernih berwarna kuning muda hingga coklat muda, bau khas lemah rasa pahit dan hangat
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, kelarutan tidak berbau dan praktis tidak berwarna, larut dalam etanol, etil asetat, tidak larut dalam minyak mineral
Penyimpanan : Dalam wadah yang tertutup rapat
Stabilitas : Stabil dalam elektrolit dari asam serta basa lemah, proses penyabunan bertahap terjadi dengan asam kuat dan basa kuat, polisorbat yang higroskopis harus diperhatikan kadar airnya sebelum digunakan dan jika perlu dikeringkan