1 1.1 Latar Belakang Penelitian
Perkembangan industri kopi saat ini telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Kini tradisi ngopi tidak hanya sebatas dalam perjamuan tamu ataupun acara-acara formal lainnya. Tetapi dalam beberapa aktivitas seperti rapat, reuni, hangout, nongkrong, dan lain sebagainya tidak dapat dipisahkan dari secangkir kopi. Kopi bisa dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi, pencair suasana, ataupun media untuk menjalin hubungan yang lebih akrab.
Berdasarkan dari artikel yang diterbitkan oleh www.repbulika.co.id yang di akses penulis pada hari Kamis, 07 Maret 2019, hasil riset dari lembaga analisis pasar berbasis di London yakni Mintel menyebutkan bahwa, Indonesia memimpin pangsa pasar kopi di Asia dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 19,6 persen selama lima tahun. Setelah itu disusul oleh India sebesar 15,1 persen, dan Vietnam 14,9 persen. Secara keseluruhan pertumbuhan pangsa pasar kopi global berjalan stabil. Pada 2016 volume pertumbuhan pasar ritel kopi sekitar 2,7 persen, meningkat dari 2015 yang sebesar 2,5 persen. Meledaknya pertumbuhan pangsa pasar kopi di Asia didukung oleh inovasi dari produk-produk kopi. Berdasarkan data dari Mintel's Global New Products Database (GNPD) menyebutkan, antara 2011 dan 2016 pertumbuhan produk kopi baru di Asia mencapai 95 persen. Analys Global Drinks Mintel Jonny Forsyth mengatakan, industri kopi secara global ikut bertumbuh akibat didorong oleh pertumbuhan yang pesat di Asia. Potensi pertumbuhan di Asia sangat potensial karena konsumen yang biasanya menikmati teh secara perlahan mulai menikmati kopi," ujar Jonny dalam siaran pers yang diterima Republika, Kamis (2/3). Disisi lain, kopi instan masih mendominasi di pasar Asia. Pada 2016 sekitar 42 persen
produk kopi siap minum diluncurkan di Asia Pasifik, sedangkan di Eropa hanya 20 persen, dan Amerika Utara sekitar 6 persen. Jonny menambahkan, konsumen di negara berkembang telah mengembangkan selera minuman kopi mereka sehingga pertumbuhan inovasinya cepat. Meskipun pangsa pasar kopi premium meningkat di kancah global, produk kopi siap minum tetap memegang segmen penting terutama di Asia.
Dilansir dari majalah online yaitu ottencoffee, kopi instan lahir bersamaan dengan first wave yaitu era dimana orang-orang pada masa itu tergila-gila dengan sesuatu yang cepat dan praktis. Nestle adalah merek yang menjadi pelopor dengan menciptakan produk kopi instan pertama pada tahun 1938 yang diberi nama Nescafe. (http://majalah.ottencoffe.co.id). Sampai saat ini, banyak penikmat kopi instan di Indonesia yang memiliki motivasi yang sama yaitu menginginkan mengkonsumsi kopi dengan cepat, enak, murah dan praktis.
White Coffee pertama kali ada di Malaysia. Formula white coffee ditemukan oleh imigran asal China yang bernama Wong Poh Ting dan Wong Poh Chew. Mereka memiliki coffee shop bernama “Sin Yoon Long" yang berdiri sejak tahun 1937. Di tempat inilah mereka memasarkan kopi unik dari biji yang berwarna putih ( http://www.arthinkle.com/articles/detail/asal-mula-white-coffe).
Sedangkan di Indonesia kopi putih instan di pertama kali di perkenalkan oleh PT. Javaprima Abadi, Semarang dengan merek Luwak White Koffie. Berdasarkan urutan memasuki pasar (order of market entry), perusahaan ini dapat disebut sebagai pendatang awal (early entrants) untuk jenis kopi putih instan di Indonesia. Kesuksesan Luwak White Koffie di pasaran sudah pasti menarik minat pemain lain. Tidak lama dari munculnya Luwak White Koffie pasaran, Mayora dengan merek Kopiko berusaha masuk ke pasar yang telah dibuka oleh kopi Luwak. Setelah itu diikuti oleh merek-merek lain yang juga mengeluarkan produk serupa. Kini kopi bubuk instan kategori White Coffee dari berbagai merek pun tersebar dan bersaing di pasar pangan Indonesia.
Diantaranya Luwak White Koffie, ABC White Coffee, TOP White Coffee, Kapal Api White Coffee dan Kopiko White Coffee.
TOP White Coffee merupakan lini produk dari Wings Food yang dirilis pada tahun 2013. Tagline dari TOP White Coffee adalah “ini baru white coffee” yang bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa produk TOP White Coffee yang diproduksi oleh Wings Food adalah kopi yang benar-benar kopi putih dan berbeda dengan produk sejenis dari pesaingnya.
Tabel 1.1 Top Brand Image Kategori White Coffee
Sumber : www.topbrand-award.com
Berdasarkan tabel 1.1 diatas, menjelaskan bahwa pada tahun 2016 dan 2017 TOP White Coffee meraih posisi ke-3 dengan Top Brand Image (TBI) sebesar 5,4%, lalu pada tahun 2018 naik menjadi 7,8%. Tetapi pada awal tahun 2019 mengalami penurunan yang signifikan dengan hanya mendapatkan sebesar 2,9% Top Brand Image, dan selama periode 2016-2018 TOP White Coffee tidak pernah menjadi Top Brand untuk kategori White Coffee. Padahal TOP White Coffee telah gencar melakukan promosi produknya terutama pada iklan di televisi dengan menggunakan artis-artis terkenal sebagai brand ambassador. Merek
Tahun
2016 2017 2018 2019
TBI TOP TBI TOP TBI TOP TBI TOP Luwak White
Koffie 74,2 % TOP 68,5% TOP 68,9% TOP 80,3% TOP
ABC White Coffee 9,1% - 15,3% TOP 12,9% TOP 8,0% -
TOP White Coffee 5,4% - 5,4% - 7,8% - 2,9% -
Kapal Api White
Coffee 2,5% - 2,9% - 4,9% - 5,7% -
Kopiko White
Tetapi hal tersebut tidak berpengaruh terhadap penjualan dan brand awareness TOP White Coffee di masyarakat.
Persaingan bisnis pada era globalisasi saat ini yang semakin dinamis dan ketat, adanya persaingan ini tidak hanya memberikan peluang tetapi juga menimbulkan tantangan bagi para pelaku usaha. Tantangan yang dihadapi oleh perusahaan yang bersaing tersebut salah satunya adalah bagaimana caranya untuk merebut dan mempertahankan pangsa pasarnya (market share). Agar dapat merebut dan mempertahankan pangsa pasar pada persaingan yang semakin kompetitif, perusahaan dituntut untuk menetapkan strategi pemasaran yang tepat dan efektif agar bisa menciptakan produk yang berkualitas sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Selanjutnya perusahaan harus bisa membangun citra merek (brand image) yang baik pada benak konsumen, karena hal tersebut sangat berpengaruh kepada konsumen untuk mempertimbangkan apakah akan membeli produk tersebut atau tidak.
Untuk lebih memperkuat penelitian ini, maka dari itu peneliti melakukan pra – survey mengenai niat beli TOP White Coffee kepada 30 konsumen penikmat kopi putih (white coffee), yang disajikan pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.2
Pra survey tanggapan konsumen terhadap TOP White Coffee
No Pernyataan
Jawaban IYA TIDA
K Kualitas Produk (X1)
1. Aroma TOP White Coffee enak saat diseduh. 5 25 2. Komposisi dari TOP White Coffee terasa pas
saat dinikmati. 4 26
3. Tingkat keasaman kopi pada TOP White
Coffee sudah pas. 7 23
Brand Image (X2)
Sumber : hasil pra survey peneliti, 2019
Berdasarkan hasil pra survey diatas, menunjukkan bahwa dalam variabel kualitas produk terdapat masalah dengan kualitas dari produk TOP White Coffee yang ditawarkan oleh PT. Wings Food. Hasil pra survey dapat disimpulkan bahwa rata-rata konsumen penikmat kopi instan kurang menyukai rasa dari komposisi yang terdapat dalam kemasan TOP White Coffee. Sedangkan hasil pra survey untuk variabel brand image, dapat diketahui bahwa tidak terdapat masalah dengan citra merek yang telah dibangun oleh perusahaan. Lain hal dengan hasil survey yang dilakukan oleh lembaga survey Top Brand Award, yang menyatakan bahwa selama periode 2016-2019 TOP White Coffee masih belum masuk ke dalam Top Brand untuk kategori White Coffee. Namun menurut hasil pra survey yang dilakukan secara langsung ke konsumen penikmat kopi instan, menunjukkan bahwa tidak terdapat masalah dengan brand image dari TOP White Coffee. Sehingga dapat disimpulkan bahwa brand image terhadap niat beli tidak ada masalah.
Sedangkan untuk variabel niat beli, menunjukkan bahwa konsumen pernah mencoba produk TOP White Coffee tetapi tidak sering membeli TOP White Coffee atau bisa dikatakan bahwa konsumen hanya mencoba produk tetapi tidak berniat untuk membeli lagi karena apabila kita melihat hasil pra survey mengenai kualitas produk, mungkin mereka tidak puas dengan kualitas produk kopi yang ditawarkan TOP White Coffee.
Berdasarkan hasil pra survey mengenai tanggapan konsumen terhadap niat beli produk TOP White Coffee secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa
5. Merek TOP White Coffee mudah dikenali. 19 11 Niat Beli (Y)
6. Saya pernah mencoba produk TOP White
Coffee. 22 8
7. Saya sering membeli produk TOP White
brand image pada produk tidak terdapat masalah. Akan tetapi ada masalah untuk kualitas produk dari TOP White Coffee. Sehingga menyebabkan masih kurangnya ketertarikan konsumen untuk membeli dan menikmati produk TOP White Coffee.
Dalam dunia bisnis yang semakin ketat, perusahaan dituntut untuk mampu bersaing dan dapat terus bertahan secara konsisten agar tercapainya tujuan yang diinginkan perusahaan. Perusahaan harus memiliki suatu keunggulan kompetitif agar dapat terus berkembang, serta perusahaan juga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada pemilik dan para pemangku kepentingan perusahaan. Salah satu hal yang sangat penting agar dapat mewujudkan hal tersebut yaitu melalui kualitas produk. Kualitas produk bagi suatu perusahaan merupakan salah satu aset terbesar yang dimiliki oleh perusahaan dan harus dijaga serta dipertahankan.
Menurut Kotler dan Keller (2016:164), kualitas produk adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang diinginkan pelanggan.
Menurut Kotler dan Keller (2012:274), pengertian citra adalah cara masyarakat menganggap merek secara aktual. Agar citra dapat tertanam dalam pikiran konsumen, pemasar harus memperlihatkan identitas merek melalui saran komunikasi dan kontak merek yang tersedia. Citra merek merupakan persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produknya. Citra dapat terbentuk melalui rangsangan yang datang dari luar sebagai suatu pesan yang menyentuh atau yang disebut informasi diterima seseorang.
Niat Beli merupakan keinginan yang muncul pada diri konsumen terhadap produk sebagai dampak dari proses pengamatan dan pembelajaran konsumen pada suatu produk. Daryanto (2013:58), mengungkapkan bahwa Niat Beli adalah keinginan untuk memiliki produk, niat beli akan timbul apabila seseorang
konsumen sudah terpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk, informasi seputar produk, contohnya : harga, cara membeli dan kelemahan serta keunggulan produk dibandingkan merek lain.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas produk dan brand image menjadi faktor penting yang mempengaruhi niat beli konsumen pada TOP White Coffee. Maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN BRAND IMAGE TERHADAP NIAT BELI KONSUMEN PADA TOP WHITE COFFEE”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian diatas, penulis mencoba mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tanggapan responden mengenai Kualitas Produk dan Brand Image terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee ?
2. Bagaimana pengaruh Kualitas Produk terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee ?
3. Bagaimana pengaruh Brand Image terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee?
4. Bagaimana pengaruh Kualitas Produk dan Brand Image terhadap terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan responden mengenai Kualitas Produk dan Brand Image terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee.
2. Untuk mengetahui pengaruh Kualitas Produk terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee.
3.
Untuk mengetahui pengaruh Brand Image terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee.4. Untuk mengetahui pengaruh Kualitas Produk dan Brand Image terhadap Niat Beli konsumen pada TOP White Coffee.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini bertitik tolak dengan meragukan suatu teori tertentu atau yang disebut dengan penelitian verifikatif. Adanya keraguan terhadap teori itu muncul apabila yang terlibat tidak dapat lagi menjelaskan kejadian-kejadian aktual yang tengah dihadapi. Dilakukannya pengujian atas teori tersebut bisa melalui penelitian secara empiris serta hasilnya dapat menolak ataupun mengukuhkan serta merevisi teori yang berhubungan.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pelaku bisnis, khususnya bagi perusahaan yang membuat produk kopi instan seperti PT.Wings Food, yaitu dapat memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dalam niat beli konsumen. Sehingga para pelaku bisnis mampu melakukan evaluasi terhadap aktivitas bisnis kopi yang telah dilakukan, juga sebagai masukan terhadap yang baru akan memulai bisnis kopi. Penelitian inipun diharapkan dapat memecahkan masalah para pelaku bisnis kopi yang merasa kurang bisa menarik niat beli konsumen.