• Tidak ada hasil yang ditemukan

Page 3 of 48 Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Ayat-ayat Jihad Yang Disalah-pahami Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Page 3 of 48 Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Ayat-ayat Jihad Yang Disalah-pahami Penulis : Ahmad Sarwat, Lc."

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Ayat-ayat Jihad Yang Disalah-pahami

Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.,MA 48 hlm

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Judul Buku

Ayat-ayat Jihad Yang Disalah-pahami

Penulis

Ahmad Sarwat, Lc. MA

Editor

Fatih

Setting & Lay out

Fayyad & Fawwaz

Desain Cover

Faqih

Penerbit

Rumah Fiqih Publishing

Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan

(4)

Daftar Isi

Daftar Isi ...4

Muqaddimah ...6

Bab 1 : Ayat dan Surat Jihad ...9

A. Ayat-ayat Jihad ... 9

B. Nama Surat Terkait Jihad ... 10

1. Surat Al-Anfal ... 10 2. Surat At-Taubah ... 10 3. Surat Al-Ahzab ... 10 4. Surat Al-Fath ... 11 5. Surat Al-Hasyr... 11 6. Surat Ash-Shaf ... 11

7. Surat Al-‘Adiyat ... 11

Bab 2 : Ayat Yang Disalah-pahami ... 13

A. Ayat Yang Menghapus 100 Ayat Lain ... 13

B. Ayat Potong Leher ... 15

Bab 2 : Pensyariatan Jihad ... 15

A. Periode 1 : Tidak Boleh Berjihad ... 16

B. Periode 2 : Diberi Izin ... 17

C. Periode 3 : Diperintahkan ... 18

Bab 3 : Syarat Jihad ... 20

A. Islam ... 20

B. Berakal ... 21

(5)

D. Laki-laki ... 23

E. Kemampuan Finansial ... 24

1. Nafkah ... 24

2. Biaya Perjalanan ... 25

3. Senjata dan Perlengkapan ... 27

F. Kekuatan Jasad dan Kesehatan ... 28

Bab 4 : Izin Berjihad ... 30

A. Izin Orang Tua ... 30

1. Dasar Masyru’iyah ... 30

2. Orang Tua Kafir ... 32

3. Mencabut Izin ... 32

B. Izin Pemberi Hutang ... 33

C. Izin Imam ... 35

Bab 5 : Jihad Hanya Untuk Melawan Orang Kafir ... 36

A. Diancam Masuk Jahannam dan Abadi di dalamnya ... 38

B. Membunuh Satu Nyawa Sama Dengan Membunuh Semua Nyawa ... 38

C. Wasiat Allah : Haram Membunuh Muslim ... 40

D. Membunuh Muslim : Dosa Yang Dihisab Pertama Kali ... 40

E. Kedua Belah Pihak Masuk Neraka ... 41

F. Hancurnya Dunia Lebih Ringan Dari Membunuh Muslim ... 42

G. Nyawa Seorang Muslim Hanya Halal Lewat Pengadilan Syariah Yang Sah ... 43

Bab 6 : Korban Perang Yang Sedikit ... 46

(6)

Muqaddimah

Jihad adalah salah satu bagian dari syariah Islam yang sudah ada semenjak masa para nabi terdahulu. Kisah Thalut melawan Jalut lalu muncul Nabi Daud

alaihissalam dalam kisah-kisah Al-Quran

menunjukkan bahwa sejak masa lalu sudah ada syariat jihad.

Di masa Rasulullah SAW, setidaknya setelah melewati 13 tahun era Mekkah, di 10 tahun paruh kedua periode dakwah juga kita temukan beberapa catatan sejarah jihad ini. Tentu saja dokumen sejarah yang paling otentik adalah Al-Quran sendiri.

Ada pendapat yang bahwa antara 60 hingga 70-an ayat di dalam Al-Qur70-an terdapat ayat y70-ang terkait dengan jihad dalam berbagai dimensinya.

Semua itu menunjukkan bahwa jihad memang tidak bisa dipisahkan dari agama Islam dan Al-Quran itu sendiri. Karena jihad memang fakta sejarah yang terdokumentasikan dalam Quran, sekaligus Al-Quran juga memberikan begitu banyak ketentuan hukum, aturan, syariat serta pesan-pesan moral dan material terkait dengan jihad.

Namun sayangnya, seringkali orang yang kurang ilmu mengambil pesan jihad di dalam Al-Quran hanya sepotong-sepotong saja, tidak mengambil pesannya

(7)

secara keseluruhan.

Bahkan ada kecenderungan untuk menggunakan sebagian dari ayat Al-Quran dengan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Perilaku ini persis sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran sendiri terakit perilaku para ahli kitab di masa lalu.

ُُنِمْؤُتَفَأ

ُُلَعْفَيُ ْنَمُُءاَزَجُاَمَفُُۚ ٍضْعَبِبُ َنو ُرُفْكَتَوُ ِباَتِكْلاُ ِضْعَبِبُ َنو

ُدلاُِةاَيَحْلاُ ِفُِ ٌيْزِخُ الَّ

اُْ ُكُْنِمُ َ ِ

ِ

لََِٰذ

َُوُُۖاَيْن

ُُِ د َشَأُ َٰلَ

اُ َنوددَرُيُِةَماَيِقْلاَُمْوَي

ِ

َُنوُلَمْعَتُاا َعٍَُلِفاَغِبُ ُ اللَّاُاَمَوُُۗ ِباَذَعْلا

ُ

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah : 85)

Salah satunya adalah kalangan jihadis ektrimis yang selalu menghidup-hidupkan pesan jihad secara membab-buta, tanpa ilmu dan tanpa memahami fiqih dan syariatnya.

Amat disayangkan ketika mereka menggunakan

ayat-ayat Al-Quran untuk membenarkan

pembunuhan nyawa manusia tak berdosa yang mereka lakukan. Seolah dikesankan bahwa tindak jahat dan kriminal yang mereka lakukan merupakan perintah Al-Quran itu sendiri.

Dan yang lebih bikin miris lagi tertipunya banyak umat Islam yang awam dengan Al-Quran atas tipu

(8)

daya dan propaganda mereka.

Karena selalu melapisi kejahatan keji mereka dengan ayat Al-Quran yang dicomot begitu saja seenaknya, banyak yang jadi korban. Banyak sekali umat Islam awam dan pemula yang sama sekali tidak paham ilmu agama lantas ikut jadi barisan pembunuh nyawa dan gerakan kriminal pencabut nyawa, sambil bawa-bawa ayat Al-Quran.

Kita yang sudah belajar ilmu agama sejak dini, sudah menekuni tafsir Al-Quran, sudah tahu ilmu hukum syariah, fiqih dan kaidah-kaidahnya, tentu saja tidak bisa mendiamkan tingkah orang-orang jahil ini dalam rangka mengotori Al-Quran dan melumurinya dengan lumpur hitam najis pekat.

Tidak boleh dibiarkan karena lama-lama Al-Quran yang amat suci itu akan dijadikan sebagai kitab pejagalan, demi untuk mengalirkan darah manusia tak berdosa di muka bumi.

Tulisan ini akan mengajak para pembaca untuk bisa secara utuh membaca ayat-ayat jihad di dalam Al-Quran tanpa dipilah-pilah, apalagi hanya diimani sebagian tapi diingkari sebagiannya.

Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dari kesesatan dalam meniti jalan-nya. Amin rya rabbal

‘alamin.

(9)

Bab 1 : Ayat dan Surat Jihad

Ayat-ayat jihad maksudnya adalah ayat Al-Quran yang bertema tentang jihad, baik yang berupa seruan untuk berjihad, atau pun juga terkait dengan kisahnya, atau keutamaannya.

A. Ayat-ayat Jihad

Ayat-ayat jihad di dalam Al-Quran cukup banyak jumlahnya, setidaknya mencapai 70-an ayat.

NAMA SURAT AYAT JML

1. Surat Al-Baqarah 178 – 190 - 191 – 193 – 216

– 218 – 244 - 246 8

2. Surat Ali Imran 13 – 35- 142 - 157 – 158 –

167 - 195 7 3. Surat An-Nisa 74 – 75 – 76 – 77 – 84 – 89 – 91 – 95 8 4. Surat Al-Anfal 17- 39 - 72 – 74 – 75 5 5. Surat At-Taubah 5- 12 – 13 – 14- 16 – 20 – 24 – 29 – 36- 39 - 41- 44 – 73 – 81 – 86 – 88 – 111 – 122- 123 19 6. Surat An-Nahl 110 1 7. Surat Al-Hajj 58 – 78 2 8. Surat Al-Furqan 52 1 9. Surat Al-Ankabut 6 - 69 2

(10)

10. Surat Muhammad 4 - 20 - 31 3 11. Surat Al-Hujurat 15 1 12. Surat Al-Mumtahanah 1 – 8 – 9 3 13. Surat Ash-Shaff 4- 11 2 14. Surat At-Tahrim 9 1 15. Surat Al-Fath 16 1 16. Surat Al-Hadid 10 1

B. Nama Surat Terkait Jihad

Dan ada tujuh surat yang namanya sangat erat dengan jihad, perang atau hal-hal yang terkait, yaitu 1. Surat Al-Anfal

Adalah surat yang kedelapan. Makna al-anfal adalah rampasan perang, isinya banyak bicara tentang perang serta teknik membagi harta rampasan perang.

2. Surat At-Taubah

At-Taubah adalah surat yang kesembilan,

Dinamakan juga surat Bara’ah yang artinya

pemutusan hubungan dengan orang kafir untuk diperangi. Surat ini juga terkait dengan tema peperangan.

3. Surat Al-Ahzab

Al-Ahzab adalah surat yang ke-33. Ahazab itu partai-partai, maksudnya pasukan kafir yang berbeda-beda asalnya tapi sama-sama ingin mengalahkan umat Islam di Madinah. Nama surat

(11)

Al-ahzab ini juga nama perang yaitu Perang Ahzab atau perang Khandaq, yang terjadi di tahun kelima hijriyah.

4. Surat Al-Fath

Al-Fath berada pada urutan ke 48, maknaya adalah kemenangan, yaitu pembebasan atau pendudukan kota Mekkah. Meski tidak sampai terjadi perang pisik pertumpahan darah, namun persiapannya 100% merupakan peperangan.

Posisi Nabi SAW mutlak di atas angin, kalau misalnya mau, bisa saja seluruh penduduk kota Mekkah dibantai dan digorok lehernya semuanya. Itu sah dan legal dalam hukum perang.

Namun Rasulullah SAW membalikkan keadaan menjadi pengampunan total dan massal. Semua diampuni dan dilepaskan, tidak ada yang dibunuh, tidak ada yang ditangkap, juga tidak ada yang diperangi.

5. Surat Al-Hasyr

Al-Hasyr adalah surat yang ke-59. Maknanya adalah pengusiran, maksudnya pengusiran orang-orang Yahudi dari kota Madinah, karena sebab kesalahan mereka dan perang yang mereka lancarkan.

6. Surat Ash-Shaf

As-Shaf adalah surat yang ke-61, maknanya barisan pasukan perang, dimana Allah SWT mencintai mereka yang kalau berperang itu bershaf-shaf.

(12)

Al-‘Adiyat adalah surat yang ke-100. Artinya Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.

(13)

Bab 2 : Ayat Yang Disalah-pahami

A. Ayat Yang Menghapus 100 Ayat Lain

Tidak bisa dipungkiri bahwa Al-Quran memang punya banyak ayat yang terkait dengan perang, namun jangan lupa bahwa di dalam Al-Quran banyak ayat yang justru menganjurkan umat Islam berdamai dengan orang kafir.

Kalau jumlah ayat perang itu disebutkan berkisar 60 – 70 ayat, maka ayat yang justru mengajak berdamai dan hidup bersama dengan non -muslim justru jumlahnya lebih banyak lagi, mencapai 100-an ayat lebih.

Maka seharusnya kita melihatnya dengan seimbang dan tidak berat sebelah. Setidaknya ada ayat yang pro jihad dalam situasi tertentu, namun ada banyak lagi ayat yang mengedepankan damai dalam situasi aslinya.

Kaidah yang disepakati adalah bahwa kondisi aslinya kita ini berdamai dengan non-muslim, namun dalam keadaan khusus bisa saja terjadi perang. Bukan dibalik dengan mengatakan kondisi normalnya perang, namun bisa damai dalam kondisi tertentu.

Di dunia Islam dewasa ini, muncul paham dan gerakan teroris dan jihadis yang memaksakan paham ideologi mereka yang mengedepankan peperangan ketimbang perdamaian. Untuk itu mereka biasa

(14)

mendoktrin umat Islam dengan cara-cara yang licik. Salah satunya dengan memainkan jurus nasakh mansukh. Mereka mengklaim bahwa ayat kelima dari surat At-Taubah yang mereka sebut sebagai ‘ayat pedang’ (ayatus-saif) telah menasakh atau menghapus 100 ayat yang lain di dalam Al-Quran.

ُُْ ُهُوُمُت ْدَجَو ُ ُثْيَح ُ َينِكِ ْشُْمْلا ُاوُلُتْقاَف ُُمُرُحْلا ُ ُرُه ْشَ ْلْا ُ َخَل َسْنا ُاَذ

اَف

ِ

ٍُد َصْرَمُا ُكُُْمُهَلُاو ُدُعْقاَوُْ ُهُوُ ُصُْحاَوُْ ُهُوُذُخَو

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. (QS. At-Taubah : 5)

Demi untuk membenarkan pandangan keliru mereka tentang hukum jihad, ayat ini kemudian diklaim sebagai ayat yang menghapus (menasakh) ayat-ayat lain yang sekiranya bertentangan maknanya.

Tidak kurang dari 100-an ayat yang mengharuskan kita berdamai dan berdampingan dengan orang kafir dianggap sudah tidak berlaku lagi lewat ayat ini. Sehingga menurut mereka, satu-satunya cara kita berinteraksi dengan mereka hanya lewat pedang, perang, dan membunuh saja.

Sedangkan berbagai macam akhlak kepada non-muslim yang sudah dijelaskan dalam 100-an ayat, menurut mereka, semua itu sudah dihapus dan sudah tidak lagi berlaku.

(15)

B. Ayat Potong Leher

Kalangan teroris dan jihadis juga menyelewengkan makna ayat ke-4 dari surat Muhammad berikut ini :

َُفُْ ُهُوُمُتنَ ْثَْأُاَذ

اُ اتََّحُ ِباَق ِرلاُ َبْ َضََفُاو ُرَفَكُ َنيِ الَّاُُ ُتُيِقَلُاَذ

ِ

اَف

ِ

ُاودد ُش

َُفُ َق َثَ َوْلا

ُاَهَرا َزْوَأُ ُبْرَحْلاَُع َضَتُ اتََّحًُءاَدِفُاام

ِ

اَوُ ُدْعَبًُا نَمُاام

ا

ِ

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (QS. Muhammad : 4)

Ayat ini menurut mereka adalah ayat yang mewajibkan kita kaum muslimin untuk memancung atau memenggal leher semua orang yang tidak beragama Islam, tanpa dibedakan lagi antara kafir dzimmi, kafir harbi, atau pun kafir yang ada semacam kesepakatan damai dan hidup berdampingan.

Bab 2 : Pensyariatan Jihad

(16)

rangkaian panjang, sejak daridiharamkan, kemudian beranjak kepada kondisi diperbolehkan hingga sampai periode diwajibkan.

A. Periode 1 : Tidak Boleh Berjihad

Jihad awalnya tidak disyariatkan dan tidak diberi izin oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, khususnya ketika dakwah beliau SAW masih di Mekkah. Saat itu, upaya yang boleh dilakukan hanyalah mengajak orang dengan baik-baik, hikmah, atau sebatas adu argumentasi saja.

ُُعدُأ

ُُ

َُلَ

ِ

ا

ُُ

ليِب َس

ُُ

َُكِ بَر

ُِةَ ْكِْحْل ِبِ

ُُ

ُِعْوَمْلاَو

ُِة َظ

ُُ

ُِةَن َ سَحْلا

ُُ

ُْمُهْلِداَجَو

ُُ

ُ ِتال ِبِ

ُُ

َُ ِه

ُ

ُُن َسْحَأ

ُُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl : 125)

Bahkan Rasulullah SAW diperintahkan untuk menghindari konfrontasi atau berhadap-hadapan muka langsung dengan orang kafir dalam bentuk permusuhan.

َُد ْصاَف

ُْع

ُ

اَمِب

ُ

ُُرَمْؤُت

ُ

ُ ْضِرْعَأَو

ُُ

ُِنَع

ُ

َُينِكِ ْشُْمْلا

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. Al-Hijr : 94)

(17)

Secara skala waktu, masa dimana Rasulullah SAW diperintahkan untuk tidak boleh melakukan perlawanan tidak kurang dari 14 tahun lamanya. Artinya, separuh dari masa perjalanan kenabian beliau yang 23 tahun itu, tidak diperkenankan terjadi peperangan atau kontak fisik secara langsung.

Beliau dan para shahabat hanya diperintahkan berdakwah, tapi menghindari bentrok fisik. Sabar dan sabar adalah bekal yang selalu didengungkan beliau untuk menenangkan para shahabatnya. Selain itu juga disyariatkan untuk pergi menjauhi kekerasan dengan cara pergi berhijrah, baik ke Habasyah, Thaif maupun ke Madinah.

Semua itu harus dijadikan catatan penting, bahwa Islam tidak pernah mengepankan bentrok fisik dalam menghadapi orang-orang kafir.

B. Periode 2 : Diberi Izin

Setelah Rasulullah SAW dan para shahabat membangun negara di Madinah, dan sendi-sendi dasar dari masyarakat Madinah dinilai telah mulai tertancap, maka barulah Allah SWT mensyariatkan jihad.

Namun jihad saat itu baru sekedar berupa izin untuk berperang, bukan perintah yang harus dikerjakan. Saat itu pertimbangannya adalah untuk melakukan pencegatan kepada kafilah dagang milik kafir Quraisy Mekkah, yang selama ini telah merampas harta benda para shahabat, bahkan mengusir hingga harus hijrah ke Madinah. Kebetulan Abu Sufyan bin Al-Harb sendiri yang memimpin kafilah dagang kembali dari Syam. Maka saat itu

(18)

beberapa shahabat meminta izin kepada Nabi SAW untuk mencegat kafilah dagang itu. Kemudian Allah SWT berikan izin.

ُُأ

ٌُريِدَقَلُْ ِهُِ ْصَُنُ َلََعُ َ اللَّاُان

ِ

اَوُاوُمِل ُظُْمُ انََّأِبُ َنوُلَتاَقُيُ َنيِ الَِّلُ َنِذ

ُُ

ُُ َنيِ الَّا

ُِْيَغِبُْ ِهُِر َيَِدُنِمُاوُجِرْخُأ

لَّ

ِ

اُ ٍ قَحُ

ُُاللَّاُاَندبَرُاوُلوُقَيُنَأُ

ُ

ُ

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". (QS. Al-Hajj : 39-40)

Ayat ini sama sekali tidak bernada perintah untuk berjihad, namun sekedar izin yang diberikan, karena pertimbangan yang sangat urgen.

C. Periode 3 : Diperintahkan

Setelah melewati periode diizinkan berjihad, barulah kemudian Allah SWT mensyariatkan jihad dalam bentuk sebuah perintah dan kewajiban. Ayat-ayat yang turun kemudian sudah berbentuk perintah.

ُُْ ُكُِلاَوْمَأِبُْاو ُدِهاَجَوًُلَّاَقِثَوُاًفاَفِخُْاو ُرِفْنا

ُُْ ُكُِلَذُِ للَّاُ ِليِب َسُ ِفُِْ ُكُ ِسُفنَأَو

َُنوُمَلْعَتُْ ُتُنُكُن

اُْ ُكُالُ ٌ ْيَخ

ِ

ُ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu

(19)

mengetahui. (QS. At-Taubah : 41)

Juga turun ayat yang dikenal sebagai ayat pedang, yaitu :

اوُلِتاَقَو

ُ

َُينِكِ ْشُْمْلا

ُ

ًُةاف َكَ

ُ

ًُةافآ َكُْ ُكَُنوُلِتاَقُيَُ َكَم

ُ

dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. (QS. At-Taubah : 36)

Namun ada yang mengatakan bahwa ayat pedang adalah ayat berikut ini :

ُ

ِ

اَف

ُُاَذ

ُُْ ُهُوُمدتدَجَو ُ ُثْيَح ُ َينِكِ ْشُْمْلا ُْاوُلُتْقاَف ُُمُرُحْلا ُ ُرُه ْشَلْا ُ َخَل َسنا

ُُبَتَ ُن

اَف ٍُد َصْرَم ُا ُكُ ُْمُهَل ُْاوُدُعْقاَو ُْ ُهُوُ ُصُْحاَو ُْ ُهُوُذُخَو

ِ

ُْاوُماَقَأَو ُْاو

ُِحارُ ٌروُفَغُ َ للَّاُان

اُْمُهَليِب َسُْاودلَخَفَُة َكَازلاُْاُوَتآأَوَُةَلا اصلا

ِ

ٌُي

ُ

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah : 5)

(20)

Bab 3 : Syarat Jihad

Semua bentuk ibadah dalam agama Islam telah ditetapkan syarat-syaratnya. Tidak semua orang disyariatkan untuk melakukan ibadah tersebut.

Shalat, zakat, puasa, haji dan berbagai ritual dalam syariah, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, agar ibadah itu menjadi sah hukumnya dan diterima Allah SWT

Jihad fi sabilillah juga merupakan sebuah bentuk ibadah kepada Allah yang sangat tinggi nilainya. Tidak

semua orang diberi kesempatan untuk

melaksanakannya.

Dan untuk itu, para ulama, berdasarkan ayat dan hadits nabawi yang shahih, telah mengumpulkan dan menyusun syarat-syarat yang telah Allah tetapkan menjadi sebagai berikut :

A. Islam

Syarat pertama dan utama untuk berjihad harus beragama Islam.

Tidaklah Allah mensyariatkan orang untuk berjihad kecuali bila orang itu mengakui tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Dalam kata lain, hanya mereka yang beragama Islam saja yang diperintah untuk berjihad dalam rangka ibadah kepada Allah.

(21)

Hanya mereka yang muslim saja yang akan mendapatkan pahala besar jihad, ghanimah atau kemuliaan mati syahid di jalan-Nya. Sedangkan mereka yang masih bermasalah dengan konsep ketuhanan dan kenabian, belum mengingkari semua tuhan dan sembahan, masih belum menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah nabi dan utusan Allah, mereka bukan termasuk orang-orang yang diberi beban untuk berjihad di jalan-Nya, dan tidak akan mendapatkan semua kemuliaan yang terkandung di dalam ibadah jihad.

Orang kafir tidak diberi izin oleh imam atau pimpinan jihad, sebagaimana hadits Aisyah berikut ini :

ُانَأ

ُُ

لو ُسَر

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

ُُ

َُجَرَخ

ُُ

َُلَ

ِ

ا

ُُ

ٍُر ْدَب

ُُ

ُُهَعِبَتَف

ُُ

ٌُلُجَر

ُُ

َُنِم

ُُ

َُينِكِ ْشُْمْلا

ُُ

ُلاَقَف

ُُ

َُُل

ُُ

ُُ:

ُُنِمْؤُت

ُُ

ُِاللَّ ِبِ

ُُ

ُِِلو ُس َرَو

ُُ

؟

ُُ

لاَق

ُُ

ُُ:

َُلَّ

ُُُ

لاَق

ُُ

ُُ:

ُْع ِجْراَف

ُُ

ُْنَلَف

ُُ

َُينِعَت ْ سَأ

ُ

ٍُكِ ْشُْمِب

Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW berangkat menuju Badar, lalu seorang dari musyrikin (kafir) ingin ikut serta. Beliau SAW menanyakan idenitasnya,”Apa kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”. Orang itu

menjawab,”Tidak”. Rasulullah SAW

berkata,”Pulanglah, Aku tidak meminta

pertolongan dari seorang musyrik”.(HR. Muslim)

B. Berakal

Syarat kedua untuk berjihad haruslah orang yang waras dan berakal sehat.

(22)

ayan, idiot, berpenyakit syaraf, atau lemah ingatan adalah termasuk orang-orang yang tidak ada pensyariatan jihad atas mereka, karena kekurangan yang ada pada mereka.

Sebab perintah Allah SWT dalam ibadah dan amal-amal lainnya, hanya dibebankan kepada mereka yang merupakan ahli dalam beban itu. Orang yang tidak Allah SWT lengkapi secara normal akalnya, maka Allah SWT tidak memberinya perintah agama.

Dan orang yang tidak berakal ini bebas tidak menjalan semua perintah Allah, baik masalah shalat, puasa, haji, dan seterusnya hingga juga tidak diwajibkan atas mereka ibadah jihad fi sabilillah.

Rasulullah SAW bersabda :

Telah diangkat pena dari orang yang gila hingga dia kembali waras. (HR)

C. Baligh

Syarat ketiga adalah bulughah, dimana hanya mereka yang sudah baligh saja yang diperintahkan untuk ikut serta dalam jihad fi sabilillah.

Mereka yang masih kanak-kanak bahkan yang belum cukup umur, masih belum diperkenankan untuk melaksanakan perintah Allah SWT yang satu ini.

ُِنَع

ُُ

ُِنْبا

ُُ

َُرَ ُعَ

ُُ

لاَق

ُُ

ُُ:

ُُت ْضِرُع

ُُ

ُ َلََع

لو ُسَر

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

ُُ

َُمْوَي

ُُ

ٍُدُحُأ

ُُ

َُنَأَو

ُُ

ُُنْبا

ُ

َُعَبْرَأ

ُ

َُةَ ْشَْع

ُ

َُْلَف

ُ

ُ ِن ْزِ ُيُ

ُ

ُ ِفِ

ُ

َُِلِتاَقُمْلا

ُ

Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu berkata,”Aku menawarkan diri untuk ikut perang Uhud saat Aku

(23)

berusia 14 tahun, namun beliau SAW tidak memperbolehkan Aku ikut dalam pertempuran itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan hanya Ibnu Umar saja yang pernah mengalami penolakan untuk ikut berjihad, tetapi kita mencatat ada beberapa nama shahabat nabi yang saat itu belum baligh atau belum cukup umur yang ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah SAW ketika meminta izin untuk ikut serta dalam jihad fi sabilillah. Misalnya ada Usamah bin Zaid, Al-Barra’ bin Azib,

Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, Arrabah bin Aus ridhwanullahi alaihim.

Hal ini menunjukkan bahwa syarat ikut jihad fi sabilillah adalah hanya mereka yang telah dewasa dalam arti telah baligh. Remaja yang belum cukup umur meski punya fisik yang kuat dan semangat jihad yang tinggi, apa boleh buat, belum lagi diberi izin untuk ikut pertempuan di front terdepan.

Kalau pun mereka dilibatkan, hanya pada jenis pekerjaan yang tidak terlibat langsung dengan pertempuan, seperti menjaga para wanita dan anak-anak kecil, atau sebagai informan atau mata-mata yang menyamar menjadi rakyat biasa.

D. Laki-laki

Syarat keempat adalah laki-laki. Hanya laki-laki saja yang Allah perintahkan untuk berjiad di jalan Allah. Sedangkan para wanita tidak diberlakukan kewajiban berjihad di medan tempur menghadang musuh-musuh Allah secara terbuka.

(24)

dalam jihad. Namun maksudnya wanita tidak diperkenankan untuk maju ke front terdepan dalam pertempuan fisik secara langsung.

ُُ ْنَع

َُة َشِئاَع

ُُ

ُْتَلاَق

ُُ

ُُ:

َُيَُُ

لو ُسَر

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

لَه

ُُ

ُ َلََع

ُُ

ُِءا َسِ نلا

ُُ

ٌُداَ ِجِ

ُُ

؟

ُُ

لاَقَف

ُُ

ُُ:

ٌُداَ ِجِ

ُ

َُلَّ

ُ

لاَتِق

ُ

ُِهيِف

ُ

ُ:

ُدجَحْلا

ُ

ُُةَرْمُعْلاَو

Dari Aisyah radhiyallahuanha bertanya,”Ya Rasulallah, apakah wanita diwajibkan untuk berjihad?”. Rasulullah SAW menjawab,”Jihadnya adalah jihad yang tidak ada pertempuran fisik di dalamnya, yaitu haji dan umrah. (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Kalaupun seorang wanita ikut dalam jihad dalam arti perang secara fisik, maka ada beberapa hal yang menjadi catatan. Salah satunya seorang wanita tidak akan mendapatkan pembagian harta rampasan perang atau ghanimah.

E. Kemampuan Finansial

Jihad adalah ibadah yang multi dimensi, bukan hanya terkait dengan fisik saja, tetapi termasuk juga menuntut harta bahkan jiwa.

Orang yang berjihad di jalan Allah SWT harus memenuhi syarat kemampuan, yang rinciannya antara lain :

1. Nafkah

Yang dimaksud dengan kemampuan dalam nafkah bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga yang ditinggalkan. Sebab meski pun pergi berjihad, tetapi seorang suami tetap wajib memberi nafkah kepada istrinya. Seorang Ayah tetap wajib

(25)

memberi nafkah kepada anak-anaknya.

Kewajiban memberi nafkah tidak gugur dengan alasan mau pergi berjihad. Dan bila belum ada pihak yang menjamin keberlangsungan nafkah buat anak dan istri, seorang laki-laki tidak wajib berangkat untuk berjihad.

َُلَّ َو

ُ

ُ َلََع

ُُ

َُنيِ الَّا

ُُ

َُلَّ

ُ

َُنو ُدِ َيُ

ُ

اَم

ُ

َُنوُقِفْنُي

ُ

ٌُجَرَح

Tiada dosa atas orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang-orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS. At-Taubah : 91)

Kalau ada orang miskin mau berangkat berjihad, sementara untuk nafkah dirinya saja tidak punya harta, belum lagi buat keluarga yang ditinggalkannya, maka sebaiknya dia mengurungkan niat berjihad, sebab baginya jihad bukan ibadah yang wajib untuk dikerjakan.

Bekerja mencari nafkah dan penghidupan justru lebih harus diutamakan, ketimbang malah menjadi beban mujahidin lainnya.

Lain halnya bila ada badan atau pimpinan jihad yang memastikan akan menanggung seluruh nafkah, baik untuk mujahidin sendiri maupun untuk para keluarga yang ditinggalkannya. Bila memang demikian dan memenuhi syarat lainnya yang telah ditentukan, barulah jatuh kewajiban jihadnya.

2. Biaya Perjalanan

(26)

hanya untuk makan dan minum. Tetapi juga untuk membeli kendaraan khusus unutk perang, atau setidaknya untuk biaya menyewa kendaraan. Dan umumnya tempat untuk berjihad bukan daerah wisata dimana semua sudah diurus oleh travel agen perjalanan.

Kadang tempat yang dituju itu ada di wilayah tak berpenghuni dan masih perawan, dimana harus dijalani dalam waktu yang tidak jelas lamanya. Kadang harus naik bukit terjal dan gunung-gunung, atau menyeberangi sungai dan rawa, kadang juga menuruni lembah dan ngarai. Semua itu tentu butuh biaya yang tidak sedikit, dan pada hakikatnya semua biaya harus ditanggung oleh mujahidin sendiri, selama tidak ada pihak yang menanggungnya.

َُلَّ َو

ُُ

ُ َلََع

ُُ

َُنيِ الَّا

ُُ

اَذ

ِ

ا

ُُ

اَم

ُُ

َُكْوَتَأ

ُُ

ُْمُهَلِمْحَتِل

ُُ

َُتْلُق

ُُ

َُلَّ

ُُ

ُُد ِجَأ

ُُ

اَم

ُُ

ُُْكُُلِ ْحَْأ

ُُ

ُِهْيَلَع

ُُ

اْوالَوَت

ُ

ُْمُ ُنُُيْعَأَو

ُ

ُ ُضيِفَت

ُ

َُنِم

ُ

ُِعْمالا

ُ

ًُن َزَح

ُ

ُالََّأ

ُ

او ُدِ َيُ

ُ

اَم

ُ

َُنوُقِفْنُي

Dan tiada berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS. At-Taubah : 92)

Banyak para shahabat Nabi SAW yang pulang menangis bercucuran air mata, karena hasrat hati ingin ikut berjihad fi sabilillah, namun apa daya ternyata mereka tidak punya harta untuk membiayai perjalanan jauh. Terpaksa Rasulullah SAW menolak

(27)

mereka ikut serta.

Ini menunjukkan bahwa jihad fi sabilillah bukan pekerjaan santai dan bukan perjalanan wisata. Tetapi membutuhkan harta yang banyak, bekal yang cukup dan kendaraan yang kuat. Karena itu para shahabat Nabi dianjurkan untuk sudah bersiap-siap jauh sebelum ada kewajiban untuk berjihad fi sabilillah. 3. Senjata dan Perlengkapan

Hal yang lebih penting dari semua itu adalah kemampuan dalam mengadakan senjata. Sebab jihad adalah perang dan perang itu modalnya senjata. Tidak ada perang tanpa senjata. Sebab jihad bukan adu tinju pakai tangan kosong. Jihad adalah pertempuran, dimana sejarah peperangan di muka bumi selalu identik dengan adu persenjataan, meski senjata bukan satu-satunya faktor kemenangan.

Allah SWT mensyariatkan jihad kepada umat Islam yang mampu mengadakan senjata untuk dirinya, baik dengan cara membuatnya atau membelinya. Dan senjata termasuk barang mahal yang tidak semua orang mampu untuk memilikinya.

ُددِعَأَو

او

ُُ

ُْمُهَل

ُُ

اَم

ُُ

ُُْتُْع َطَت ْ سا

ُُ

ُْنِم

ُُ

ٍُةاوُق

ُُ

ُْنِمَو

ُُ

ُِط َبِِر

ُُ

ُِلْيَخْلا

ُُ

َُنوُبِهْرُت

ُُ

ُِهِب

ُُ

ُاوُدَع

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

ُُْكاو ُدَعَو

ُُ

َُنيِرَخآأَو

ُُ

ُْنِم

ُُ

ُْمِ ِنَّوُد

ُُ

َُلَّ

ُُ

ُُمُ َنَّوُمَلْعَت

ُُ

ُُاللَّا

ُُ

ُْمُهُمَلْعَي

ُُ

اَمَو

ُُ

اوُقِفْنُت

ُ

ُْنِم

ُ

ٍُء ْ َشَ

ُ

ُ ِفِ

ُ

ُِليِب َس

ُ

ُِاللَّا

ُ

ُ افَوُي

ُ

ُُْكُْيَل

ا

ِ

ُ

ُُْتُْنَأَو

ُ

َُلَّ

ُ

َُنوُمَل ْظُت

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak

(28)

mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya . (QS. Al-Anfal : 60) Baju besi Rasulullah SAW saja bisa dijadikan barang gadai (jaminan atas hutang), yang dengan uang pinjaman itu Rasulullah SAW bisa mendapat membeli makanan untuk hidup berbulan-bulan lamanya.

Harga senjata api mainan di Jakarta yang mirip dengan M-16 buatan Amerika atau AK-47 buatan Rusia bisa mencapai 2-3 juta rupiah. Itu baru mainannya, kalau aslinya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu baru senjatanya, belum pelurunya. Sebab percuma punya senapan otomatis kalau tidak punya peluru.

F. Kekuatan Jasad dan Kesehatan

Jihad adalah perang dan perang adalah adu kekuatan pisik. Hanya orang yang jasadnya kuat dan sehat saja yang diizinkan untuk bertempur melawan musuh secara langsung.

Orang yang badannya lemah, kurus kering, kurang makan atau kurang gizi, tidak diberi izin untuk ikut berjihad. Bagaimana dia bisa menjatuhkan lawan, sementara badannya sendiri penyakitan, tidak mampu berdiri sendiri.

ُ َسْيَل

ُُ

ُ َلََع

ُُ

ىَ ْعَْلْا

ُُ

ٌُجَرَح

ُُ

َُلَّ َو

ُُ

ُ َلََع

ُُ

ُِجَرْعْلْا

ُُ

ٌُجَرَح

ُُ

َُلَّ َو

ُُ

ُ َلََع

ُُ

ُ ِضيِرَمْلا

ُُ

ٌُجَرَح

Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas

(29)

orang yang pincang dan atas orang yang sakit . Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.(QS. Al-Fath : 17)

ُ َسْيَل

ُُ

ُ َلََع

ُُ

َُفَع دضلا

ُِءا

ُُ

َُلَّ َو

ُُ

ُ َلََع

ُُ

ُ َ

ض ْرَمْلا

ُُ

َُلَّ َو

ُُ

ُ َلََع

ُُ

َُنيِ الَّا

ُُ

َُلَّ

ُُ

َُنو ُدِ َيُ

ُُ

اَم

ُ

َُنوُقِفْنُي

ُ

ٌُجَرَح

ُُ

اَذ

ِ

ا

ُ

اوُح َصَن

ُُ

ُِا ِللَّ

ُ

ُِِلو ُس َرَو

Tiada dosa atas orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang-orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS. At-Taubah : 91)

(30)

Bab 4 : Izin Berjihad

Seorang yang telah berketetapan hati ingin menjalankan kewajiban berjihad di jalan Allah, diharuskan mendapatkan terlebih dahulu perizinan dari orang-orang yang berkompeten.

Pihak-pihak yang menentukan dalam berjihad antara lain adalah orang tua, pemberi hutang dan imam atau pemimpin.

A. Izin Orang Tua

Seorang mujahid ketika akan berangkat berperang ke tempat yang jauh, harus sudah mengantungi izin dari kedua orang tuanya, apabila keduanya muslim. Bila salah satunya muslim dan yang lainnya kafir, minimal izin itu didapat dari orang tua yang muslim.

Namun bila perangnya terjadi di tempat tinggal mereka, dimana musuh datang menyerang perumahan mereka, membunuh, merampas atau menyiksa orang-orang, maka saat itu izin dari kedua orang tua tidak lagi diperlukan.

1. Dasar Masyru’iyah

Keharusan mendapat izin dari orang tua ketika akan berangkat berjihad didasarkan pada hadits nabawi :

َُءاَج

ُُ

ٌُلُجَر

ُُ

َُلَ

ِ

ا

ُُ

لو ُسَر

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

ُُ

ُُهَنَذْأَت ْ ساَف

ُُ

ُ ِفِ

ُُ

ُِداَه ِجْلا

ُُُ

لاَقَف

ُُ

ُِهْيَلَع

ُُ

ُُةلا اصلا

ُُ

(31)

ُُملا اسلاَو

ُ

ُ:

ُي َحَأ

ُ

َُكا َ ِلاَو

ُُ

؟

ُُ

لاَق

ُ

ُ:

ُْمَعَن

ُ.

ُُ

لاَق

ُ

ُ:

َُمِيهِفَف

اُ

ُْدِهاَجَف

ُ

Seseorang telah datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin berangkat jihad. Maka beliau SAW bertanya,"Adakah kamu masih punya kedua orang tua?". Dia menjawab,"Ya, masih". Rasulullah SAW berkata,"Berjihadlah pada keduanya". (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberi penegasan bahwa berkhidmat kepada orang tua jauh lebih utama dari pada berjihad di jalan Allah, seberapa pun tingginya keutamaan berjihad. Ternyata berbuat baik dan berkhidmat kepada kedua orang tua ternyata jauh lebih diutamakan.

Hadits ini sekaligus juga memberikan pemahaman bahwa pada dasarnya berjihad di jalan Allah SWT itu

hukumnya bukan fardhu ‘ain, melainkan fardhu

kifayah. Artinya, bila telah ada sebagian orang yang telah menegakkannya dengan kapasitas yang mencukupi, maka gugurlah kewajiban orang lain dalam berjihad.

Sedangkan berkhidmat kepada orang tua

hukumnya fardhu ‘ain, dimana kewajiban itu tidak

bisa diwakilkan kepada orang lain.

Karena itulah ketika ada seorang yang bernadzar ingin berjihad menaklukkan Romawi, tetapi orang tuanya tidak mengizinkannya, Ibnu Abbas radhiyallahuanhu berkata kepadanya sambil menasehati :

ُْعِطَأ

ُُ

َُكْيَوَبَأ

ُ

ُان

ِ

اَف

ُ

َُمودرلا

ُ

ُُد ِجَت َ س

ُ

ُْنَم

ُ

اَهو ُزْغَي

ُ

َُكَ ْيَغ

ُ

(32)

Taatilah kedua orang tuamu. Romawi itu sudah ada orang-orang yang akan berperang untuknya selain kamu.

2. Orang Tua Kafir

Namun bila seseorang memiliki kedua orang tua yang bukan muslim, dan tidak mengizinkan anaknya ikut berangkat berjihad, maka izin dari keduanya tidak diperlukan menurut jumhur ulama.

Dasarnya adalah apa yang dilakukan oleh para shahabat Nabi SAW di masa lalu, ketika mereka pergi berjihad di jalan Allah, sementara banyak di antara mereka yang kedua orang tuanya masih belum masuk Islam alias kafir.

Di antara para shahabat yang sering ikut berjihad namun orang tua mereka masih belum beragama Islam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Abu

Hudzaifah bin Utbah radhiyallahuanhuma. Abu

Quhafah adalah ayahanda dari Abu Bakar

Ash-Shiddiq dan Utbah bin Rabi’ah adalah ayahanda dari Abu Hudzaifah, keduanya masih kafir ketika anak-anak mereka ikut berjihad di jalan Allah.

3. Mencabut Izin

Para ulama menuliskan beberapa contoh kasus yang menjelaskan betapa pentingnya izin dari kedua orang tua.

Contoh pertama, seseorang telah mendapat izin dari kedua orangtuanya untuk berangkat berjihad. Namun kemudian keduanya mencabut kembali izinnya. Bila pesan pencabutan itu sampai kepadanya, maka wajib atasnya untuk berhenti

(33)

berjihad dan pulang sesuai perintah orang tuanya. Contoh kedua, seseorang yang berangkat pergi berjihad tanpa izin dari kedua orang tua, karena kebetulan saat itu keduanya masih kafir. Lalu saat jihad tengah berkecamuk, kedua orang tuanya masuk Islam, tapi tidak mengizinkan anaknya ikut berjihad.

Dalam hal ini, bila anaknya yang sedang berjihad mendapat kabar atas larangan dari kedua orang tuanya yang sudah masuk Islam, maka wajiblah atasnya untuk berhenti dari jihad dan pulang memenuhi perintah orang tuanya.

B. Izin Pemberi Hutang

Bila seseorang sedang berhutang harta kepada orang lain, maka dirinya tidak boleh berangkat berjihad, kecuali setelah mendapat izin dari orang yang menghutanginya itu, atau telah lunas hutangnya.

Sebab hutang kepada orang lain lebih wajib untuk

ditunaikan, karena merupakan fardhu ‘ain,

sedangkan jihad hukumnya fardhu kifayah.

Dan orang yang mati syahid itu tidak bisa lantas masuk surga, selama urusan hutang-hutangnya belum diselesaikan terlebih dahulu.

Jadi yang dimaksud dengan izin dari pemberi hutang disini ada dua kemungkinan. Pertama, dia melunasi dulu hutang-hutangnya dan berangkat ke medan jihad tanpa ada beban hutang apa pun. Kedua, pihak pemberi hutang membebaskannya dari tuntutan atas hutang yang belum dibayarnya.

(34)

Sehingga dia berangkat ke medan jihad tanpa ada beban hutang kepada manusia.

Seandainya hutang itu belum dilunasi, maka dia wajib utnuk melunasinya terlebih dahulu.

Para ulama sepakat apabila hutang itu sudah jatuh tempo, maka melunasi hutang itu wajib didahulukan dari pada ikut serta di dalam jihad. Namun para ulama berbeda pendapat apabila hutang itu masih lama dari waktu jatuh tempo pelunasannya, apakah dibolehkan ikut berjihad atau tidak.

Dalilnya adalah hadits nabi berikut ini :

ُانَأ

َُُُر

ًُلاُج

ُُ

َُءاَج

ُُ

َُلَ

ِ

ا

ُُ

لو ُسَر

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

ُُ

لاَقَف

ُُ

َُيَُُ

لو ُسَر

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

ُُ:

َُتْيَأَرَأ

ُُ

ُْن

ِ

ا

ُُ

ُُق

ُُتْلِت

ُُ

ُ ِفِ

ُُ

ليِب َس

ُُ

ُِاللَّا

ُُ

ُُرافَكُتَأ

ُُ

ُ ِ نَع

ُُ

َُي َيَا َطَخ

ُُ

ُ؟

ُُ

لاَق

ُُ

ُُ:

ُْمَعَن

ُُ

ُْن

ِ

ا

ُُ

َُتْلِتُق

ُُ

َُتْنَأَو

ُُ

ٌُرِبا َص

ُُ

ٌُب ِسَتْحُم

ُُ

ٌُلِبْقُم

ُُ

ُُْيَغ

ُُ

ٍُرِب ْدُم

ُُُ

ُالَّ

ِ

ا

ُُ

َُنْيالا

ُُُ

ُان

ِ

اَف

ُُ

ليِ ْبِْج

ُُ

ُِهْيَلَع

ُ

ُُملا اسلا

ُ

لاَق

ُ

ُ ِل

ُ

َُ ِ

لَِذ

ُ

Dari Abi Qatadah radhiyallahuanhu berakta bahwa ada seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya,”Benarkah bila Aku mati di jalan Allah, semua dosa-dosaku akan dihapuskan?”. Rasulullah SAW menjawab,”Benar, kalau kamu terbunuh (syahid) dalam keadaan sabar, menghadap musuh tidak lari, kecuali bila hutang. Sesungguhnya Jibril aliahissalam berkata demikian kepadaku”. (HR. Muslim)

Dasar yang lain adalah ketika shahabat Nabi SAW yang bernama Abdullah bin Haram ayah dari Jabir radhiyallahuanhuma mati syahid di medan jihad Uhud. Namun dia punya hutang yang banyak sekali. Lantas anaknya membayarkan lunas semua

(35)

hutang-hutang itu dengan sepengetahuan Nabi SAW, dan beliau SAW memujinya :

اَم

ُ

ُِتَلاَز

ُُ

ُُةَكِئَلاَمْلا

ُ

ُُدلّ ِظُت

ُ

اَ ِتَِحِنْجَأِب

ُ

ُ اتََّح

ُ

ُُهوُمُتْعَفَر

ُ

Malaikat terus menerus menaungi dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkatnya. (HR. Bukhari)

Dan Rasulullah SAW berkata kepada Jabir :

َُلاَفَأ

ُُ

َُكُ ِ شَْبُأ

ُُ

اَمِب

ُُ

َُيِقَل

ُُ

ُُاللَّا

ُُ

ُِهِب

ُُ

َُك َبَِأ

ُُ

؟

ُُ

اَم

ُُ

َُما َكَ

ُُ

ُُاللَّا

ُُ

ُاًدَحَأ

ُُ

دطَق

ُُ

ُالَّ

ِ

ا

ُُ

ُْنِم

ُ

ُِءا َرَو

ُ

ٍُباَجِح

ُ

اَيْحَأَو

ُُ

َُك َبَِأ

ُ

ُُهَما َكََو

ُ

اًحاَفِك

Maukah kuberi kabar gembira atas apa yang Allah lakukan kepada ayahmu? Allah tidak berkata kepada siapapun kecuali dari balik tabir. Namun Allah menghidupkan ayahmu dan mengajaknya bicara langsung. (HR. Turmizy)

C. Izin Imam

Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah

menegaskan bahwa jihad tidak disukai tanpa ada izin dari imam, atau amir dari suatu pemerintahan yang sah.

Sebab keharusan ada izin dari imam ada dua hal. Pertama, jihad itu harus sesuai dengan kebutuhan. Dan yang paling tahu hal itu adalah imam atau amir yang sah. Kedua, pada hakikatnya jihad itu adalah tanggung-jawab dari imam, bukan rakyat. Maka bila rakyat mau berjihad, setidak-tidaknya mereka mendapat izin terlebih dahulu dari imam.

(36)

Bab 5 : Jihad Hanya Untuk Melawan Orang

Kafir

Jihad memang disyariatkan dalam agama Islam. Namun dari semua jihad yang dijalankan oleh Rasulullah SAW, tidak ada satupun yang diarahkan untuk memerangi sesama pemeluk Islam sendiri.

Bahkan orang-orang munafik di Madinah yang seringkali bikin onar dan fitnah, tidak pernah dihalalkan darahnya. Sebab sebejat apapun orang munafik itu, secara status mereka masih termasuk orang Islam. Urusan dia berpura-pura, kita serahkan saja kepada Allah SWT.

Kalau pun Rasululullah SAW berperang dan membunuh, maka yang dibunuh hanya sebatas orang-orang kafir harbi, yang posisi mereka memang siap membunuh atau dibunuh. Itu pun kalau kita hitung secara statistik, jumlah korban nyawa dalam semua perang di masa Nabi SAW sangat minim. Totalnya korbannya dari pihak muslim dan kafir hanya sampai 386 orang saja. Padahal beliau memanage puluhan peperangan.

Walaupun perang dan berbunuhan sesama

muslim itu dilarang dalam agama, pada

kenyataannya justru kita seringkali menyaksikan pemandangan yang membuat kita mengurut dada. Satu kelompok umat Islam menyerbu sesama umat

(37)

Islam juga, yang satu teriak Allahuakbar, lawannya pun sama meneriakkan Allahuakbar.

Mirisnya, kedua belah pihak merasa yakin apa yang dilakukannya itu atas nama Allah, demi membela kepentingan Allah. Tetapi keduanya sama-sama berbunuhan. Sungguh ini bukan jihad tetapi fitnah dan perang saudara.

Kalau saja Rasulullah SAW masih hidup dan menyaksikan pemandangan itu, pastilah beliau marah besar. Selain perang dan berbunuhan dengan saudara sesama muslim itu haram, justru musuh-musuh Islam yang sesungghnya akan berbahagia. Mereka tidak perlu capek-capek membunuh umat Muhammad, karena sesama umat Muhammad sudah perang saudara sendiri. Mereka cukup menunggu saja, tak lama lagi pasti akan menang.

Tidak ada salahnya kalau kita mengulang-ulang kembali pelajaran tentang ajaran Islam yang damai. Islam tidak membolehkan kita membunuh orang kafir, selama dia bukan kafir harbi. Apalagi membunuh muslim, tentu jauh lebih haram lagi.

Setiap muslim yang pernah belajar ilmu syariah, pasti tahu bahwa hukum membunuh nyawa sesama muslim diharamkan dan merupakan dosa besar. Tindakan keji itu jelas diharamkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ada begitu banyak dalil yang melarang perang dengan sesama pemeluk agama Islam sendiri, di antaranya :

(38)

A. Diancam Masuk Jahannam dan Abadi di dalamnya

Orang yang membunuh nyawa seorang muslim tanpa hak, maka Allah SWT mengancamnya dengan siksa berupa dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Tidak akan keluar lagi, abadi di dalamnya.

ًُا ِلاَخُُ انََّ َجُُِهُؤاَزَجَفًُادِ مَعَتُمًُانِمْؤُمُْلُتْقَيُ ْنَمَو

ُِهْيَلَعُ ُ اللَّاُ َب ِضَغَوُاَيهِف

ًُبِاَذَعُُ َلُادَعَأَوُُهَنَعَلَو

ًُيم ِظَع

Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Qs. An-Nisa' : 93)

Perhatikan baik-baik detail ayat ini. Rupanya orang yang membunuh nyawa muslim tanpa hak, bukan hanya dimasukkan ke dalam jahannam saja. Ternyata masih ada lagi ancaman lainnya, yaitu Allah SWT marah kepada pelakunya, bahkan mengutuk atau melaknatnya.

Di dalam banyak kitab tafsir disebutkan bahwa

menurut Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahuanhu,

inilah ayat yang terakhir kali turun dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Tidak ada lagi ayat yang turun setelah ayat ini.

B. Membunuh Satu Nyawa Sama Dengan Membunuh Semua Nyawa

Salah satu alasan kenapa membunuh nyawa muslim diharamkan, karena pembunuhan nyawa manusia itu akan melahirkan dendam dari pihak

(39)

keluarga atau kelompoknya. Lalu dendam ini akan melahirkan pembunuhan yang kedua, ketiga dan seterusnya.

ُْنَمُُهانَأَُليئا ْسْ

ِ

اُ ِنَبُ َلََعُاَنْبَتَكُ َ ِلَِذُِلْجَأُ ْنِم

ُُ ٍسْفَنُِ ْيَغِبًُاسْفَنَُلَتَق

ُ ِضْرَلْاُ ِفٍُِدا َسَفُ ْوَأ

ُُ

اَمانَ َكََف

ُُاَمانَ َكََفُاَهاَيْحَأُ ْنَمَوًُاعيِ َجَُ َساانلاَُلَتَق

ُ َساانلاُاَيْحَأ

ًُاعيِ َجَ

Siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.(QS. Al-Maidah : 32)

Maka dalam syariat Islam, dendam untuk membunuh itu diharamkan. Istilah nyawa dibayar nyawa tidak dikenal di dalam syariat Islam, kalau yang dimaksud adalah balas dendam dengan cara membunuh lagi.

Nyawa dibalas nyawa hanya dibenarkan manakala dilakukan lewat proses pengadilan yang sah. Kalau pembunuhnya terbukti membunuh dengan sengaja, tanpa tekanan dan dengan penuh kesadaran, serta dilengkapi dengan saksi dan bukti yang diterima secara hukum, maka barulah dijalankan hukum qishash.

Sebaliknya, bila pengadilan yang sah tidak berhasil membuktikannya, maka tidak bisa dijalankan hukum qishash. Dan penting untuk dicatat, eksekusi hukum qishash itu tidak dilakukan oleh pihak keluarga korban, melainkan oleh petugas negara.

(40)

C. Wasiat Allah : Haram Membunuh Muslim

Kecuali lewat jalur hukum yang benar, maka membunuh nyawa seorang muslim itu jelas-jelas sesuatu yang diharamkan. Dan keharamannya disampaikan dalam bentuk WASIAT dari Allah.

ُ ِتالاُ َسْفانلاُاوُلُتْقَتُلَّ َو

ُُْ ُكُالَعَلُِهِبُْ ُكا اصَوُْ ُكُِلَذُ ِ قَحْل ِبُِالَّ

اُ ُ اللَّاَُمارَحُ

ِ

َُنوُلِقْعَت

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS. Al-An'am : 151)

Dan tidaklah ada orang yang melanggar apa-apa yang telah Allah SWT wasiatkan, kecuali dia memang benar-benar telah melakukan dosa besar.

D. Membunuh Muslim : Dosa Yang Dihisab Pertama Kali

Di hari kiamat nanti, amal yang pertama kali dihisab dalam urusan hubungan kepada Allah adalah masalah shalat. Siapa yang lulus urusan shalatnya, maka dia akan mudah dalam hisab-hisab selanjutnya. Sedangkan dalam urusan dengan sesama manusia, amal-amal yang akan dihisab pertama kali adalah urusan hutang nyawa. Maksudnya, kalau sampai seorang muslim membunuh nyawa dengan sesama muslim, maka di akhirat urusannya akan jadi gawat. Sebab dosa membunuh nyawa sesama muslim ini akan menjadi pintu gerbang dan faktor penentu utama, apakah dia akan lulus dari hisab atau tidak.

(41)

Dahsyatnya dosa membunuh sesama muslim digambarkan dalam hadits berikut ini :

ُُءاملاُ ِسانلاُ َينبُ َضَقُيُامُُلو أوُُةلاصلاُُدبعلاُهبُ ُب َسا ُيُُامُُلو أ

Yang dihisab pertama kali dari seorang hamba adalah masalah shalat. Dan yang pertama kali dihisab atas dosa sesama manusia adalah dosa menumpahkan darah muslim. (HR. Bukhari) Maka urusan membunuh dan menghilangkan nyawa sesama muslim ini amat berat. Kita tidak boleh gegabah dan menganggap dosa berbunuhan ini cuma masalah sepele. Jangan sampai urusan kita nanti di akhirat jadi runyam, cuma lantaran kita suka membunuh nyawa sesama muslim.

E. Kedua Belah Pihak Masuk Neraka

Rasulullah SAW tidak main-main ketika melarang sesama umat Islam saling berbunuhan. Kalau sampai ada perang dan saling berbunuhan antara dua pihak, padahal keduanya sama-sama mengaku muslim, maka ancamannya tidak tanggung-tanggung, yaitu kedua belah pihak diancam akan sama-sama masuk neraka. Rasulullah SAW bersabda :

ُُيَُ:ُتلقُ.ُرانلاُفُِلوتقلماوُلتاقلافُمايهفي سبُنمالسلماُىقتلاُاذ ا

لوسر

لوتقلماُلبُِافمُلتاقلاُاذهُ،ُالله

ُُُ

لاق

ُُ

ُلَعًُاصيرحُنكَُهن اُ:

ُهبحاصُلتق

Dari Abu Bakrah Nafiq bin Al-Harits, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila dua pihak muslim bertemu (saling berbunuhan) dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang

(42)

dibunuh masuk neraka. Aku bertanya,"Ya Rasulullah SAW, wajar masuk neraka bagi yang membunuh, tetapi bagaimana dengan yang dibunuh?". Beliau SAW menjawab,"Yang dibunuh masuk neraka juga, karena dia pun berkeinginan untuk membunuh lawannya". (HR. Bukhari dan Muslim)

Pihak yang terbunuh ikut masuk neraka juga, karena biar bagaimana pun dia ikut terjun ke medan perang yang haram. Sebuah medan perang yang melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama muslim adalah medan perang yang harus dijauhi dan tegas diharamkan untuk ikut terlibat di dalamnya.

Maka sikap nekat dan ikut-ikutan membela salah satu pihak, lalu ikut saling berbunuhan juga, bukanlah termasuk jihad membela agama Allah. Perbuatan itu termasuk menginjak-injak larangan Rasulullah SAW, dan pantas bila yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk neraka.

Dosanya jelas, karena yang terbunuh berniat untuk membunuh saudaranya. Seandainya dia tidak terbunuh, dia pun pasti akan membunuh juga.

F. Hancurnya Dunia Lebih Ringan Dari Membunuh Muslim

Menumpahkan darah seorang muslim bukan cuma dosa, tetapi peristiwa itu lebih dahsyat dan hancurnya dunia dan alam semesta. Apalagi kalau sampai terjadi perang saudara sesama muslim, tentu lebih parah lagi kondisinya. Sebab dalam sebuah peperangan, nyawa yang terbunuh biasanya bukan cuma satu atau dua orang, tetapi bisa ratusan

(43)

bahkan ribuan.

Betapa beratnya dosa membunuh nyawa seorang muslim, juga ditegaskan oleh sabda Rasulullah SAW :

اينلاُلاوزُنمُاللهُدنعُمظع أُنمؤمُلتقلُهديبُسيفنُيلَّاو

Demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, membunuh seorang muslim itu lebih dahsyat di sisi Allah dari hancurnya dunia. (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain disebutkan hal yang sama meski dengan redaksi yang agak berbeda :

ٍُلسمُلجرُلتقُنمُاللهُلَعُنوه أُاينلاُلاوزل

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dari dibunuhnya seorang muslim. (HR. Muslim)

Maka haram bagi seorang muslim untuk turun ke medan perang, kalau orang yang harus dibunuhnya ternyata masih beragama Islam. Dan tentu saja perang semacam itu bukan jihad. Sebab jihad itu hanya dalam rangka perang melawan orang kafir saja. Kafirnya pun bukan sembarang kafir, tetapi syaratnya harus kafir harbi.

G. Nyawa Seorang Muslim Hanya Halal Lewat Pengadilan Syariah Yang Sah

Pada dasarnya umat Islam itu bersaudara. Maka tidak boleh seorang muslim menghunuskan pedangnya kepada sesama muslim, apalagi sampai membunuh dan menumpahkan darah.

Kalau pun ada jalur yang sah dimana darah seorang muslim itu bisa menjadi halal, maka jalurnya amat sempit dan terbatas sekali. Di dalam hadits nabi

(44)

kita sudah diingatkan bahwa tidak halal darah seorang muslim, kecuali hanya karena satu dari tiga sebab.

ُُلوسرُن أوُاللهُلَّ اُل اُلَُّن أُدهشيُلسمُئرماُمدُليُلَّ

الله

ُُُ

ُلَّ ا

نازلاُب يثلاُ:ُثلاثُىدح بِ

ُُُ

سفنلبُِسفنلاو

ُُُ

ُكراتلاو

ُةعماجللُقرافلماُهنيل

Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah, kecuali karena satu dari tiga penyebab. [1] Pelaku zina, [2] nyawa dibalas nyawa (qishash), dan [3] orang yang keluar dari agama dan meninggalkan jamaah umat Islam. (HR. Bukhari dan Muslim) Hanya dalam salah satu dari tiga kasus ini saja yang syariat membolehkan dibunuhnya seorang yang beragama Islam. Itu pun tidak boleh dilakukan seenaknya, harus lewat proses pengadilan yang panjang. Harus ada saksi yang memenuhi syarat, harus ada bukti dan semua syubuhat benar-benar bersih.

Syubuhat secara bahasa adalah ketidak-jelasan. Namun dalam pengertian yang lebih jauh, syubuhat termasuk semua hal yang membuat alasan untuk menjatuhkan vonis hukuman mati menjadi tidak kuat.

Salah satunya ketika ada seorang wanita yang dengan ikrar dan pengakuannya sendiri menyatakan telah berzina dan minta dijatuhi hukum rajam. Namun karena wanita ini mengandung bayi di dalam

(45)

perutnya, hukum rajam tidak bisa dilaksanakan. Sebab meski syariat Islam mengenal hukuman mati buat pelaku kejahatan tertentu, namun hukuman itu bisa dibatalkan bila ada syubuhat. Prinsipnya sebagaimana yang Rasulullah SAW tegaskan :

ُتابه شلبُِدودلحاُاؤردا

Tolaklah pelaksanaan hukum hudud dengan adanya syubuhat.

(46)

Bab 6 : Korban Perang Yang Sedikit

Dr. Muhammad ‘Imarah pernah melakukan

hitung-hitungan terkait jumlah korban nyawa dari semua perang yang terjadi di masa kenabian. Ternyata dari 20-an perang besar yang pernah diikuti oleh Rasulullah SAW, korban jiwa hanya tercatat 386 orang saja. Itu pun sudah termasuk korban dari pihak muslim dan kafir.

Kalau Islam masih dikatakan haus darah, atau disebarkan dengan pedang, mari kita teliti lebih dalam jumlah jumlah korban tewas dalam peperangan dalam sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.

Nama Perang Tahun Korban

kafir

Korban

muslim jumlah

1. Perang Badar 2 H 70 14 84

2. Perang Sawiq 2 H - 2 2

3. Ba’ts Kaab bin Asyraf 2 H 1 - 1

4. Perang Uhud 3 H 22 70 92

5. Perang Hamra Al-Asad 3 H 1 - 1

6. Ba’ts Raji’ 3 H - 27 27

7. Ba’ts Bi’r Maunah 3 H - 6 6

(47)

9. Perang Bani Quraidzah 5 H - - -

10. Ba’ts Abdullah bin Atik 5 H 1 - 1

11. Ba’ts Dzi Qard 6 H 1 2 3

12. Perang Bani Musthaliq 6 H - 1 1

13. Perang Khaibar 7 H 2 20 22

14. Perang Wadil Qura 7 H - 1 1

15. Perang Mu’tah 8 H - 11 11

16. Fathu Mekkah 8 H 17 3 20

17. Perang Hunain 8 H 84 4 88

18. Perang Thaif 8 H - 13 13

203 183 386

Itulah data otentik korban perang dalam sejarah nabi Muhammad SAW selama 23 tahun berdakwah. Perhatikan jumlahnya yang total hanya 386 jiwa saja, sudah termasuk muslim dan kafir.

(48)

Penutup

Maka dari itu, para ulama sudah sangat berhati-hati dalam urusan takfir ini dengan selalu membagi pengertian kufur pada dua bagian; kufur akbar

(besar)/i’tiqadi (aqidah) yang benar-benar kufur, dan kufur ashghar (kecil)/amali (amal) yang tidak sampai kufur. Hal yang sama juga berlaku pada pengertian

syirk, nifaq, dan bid’ah

(mukaffarah dan ghair mukaffarah). Tidak berarti

setiap vonis kafir, syirk, nifaq, dan bid’ah yang

ditemukan dalam hadits otomatis merupakan vonis kafir dalam makna keluar dari Islam (khuruj minal- millah).

Dengan demikian, sebuah pekerjaan rumah bagi kita semua sebagai umat Islam untuk lebih teliti dan selalu tabayyun dalam memahami ajaran agama Islam agar terhindar dari mudahnya

Referensi

Dokumen terkait

tahunan, selebaran berita, surat pembaca (di surat kabar, majalah) dan karangan di surat kabar. 27 Dengan dokumentasi, peneliti mencatat tentang sejarah Pondok

Tahap ini bekerja ketika mobil menerobos pintu keluar, limit switch yang berada di sisi tengah memberikan masukan ke arduino untuk memberikan perintah ke relay dan mengaktifkan

Fasilitas adalah salah satu komponen penting yang harus dikelola dengan baik, ekonomis dan efesien sesuai dengan prinsip-prinsip Manajemen Aset Fasilitas.

Nama saya dr Mardiana Hasibuan, saat ini saya sedang menjalani program pendidikan sebagai dokter spesialis anak dan kali ini saya sedang melakukan penelitian untuk menilai hubungan

Pathway Genomics has used genomic data to develop a series of genetic tests. to answer

Hasil temuan penelitian menunjukkan kelebihan dan kekurangan dalam mengimplementasikan Nilai-nilai Total Quality Management (TQM). 1) Fokus pelanggan, dengan

coli dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada saluran kemih, diare dan meningitis (Madigan et al., 2012). Tujuan dari penelitian ini adalah 1) melakukan isolasi

[r]