• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1   

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Musik merupakan salah satu bidang yang disenangi oleh hampir seluruh manusia di dunia. Bahkan musik saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan dalam hidup manusia. Berbagai macam genre musik yang ada memiliki penikmatnya masing-masing bahkan tak jarang penikmat musik ini pun membuat komunitas musik sendiri. Bagi penikmat musik yang tidak mahir memainkan alat musik hanya sekedar mendengarkan saja sudah menghibur namun bagi para penikmat musik yang mahir memainkan alat musik mendengarkan saja tidak cukup karena setidaknya timbul keinginan untuk memainkan sebuah lagu dengan aransemen yang berbeda yang akhirnya dijadikan hobi atau bahkan profesi oleh para penikmat musik ini.

Bagi mereka yang hobi bermain musik tentunya membawakan lagu andalan atau favorit adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Salah satu cara yang mudah dilakukan oleh para penikmat musik ini adalah menyewa sebuah studio band untuk mengasah skill mereka dalam bermain musik. Bagi orang-orang yang hobi bermain musik studio musik menjadi pilihan mudah dan tepat karena sebuah persewaan studio musik pastinya sudah dilengkapi dengan alat musik lengkap dan sound system yang memadai di dalamnya, selain itu menyewa sebuah studio musik lebih terjangkau daripada membuat sebuah studio musik sendiri dirumah.

Saat ini mulai banyak bermunculan jasa persewaan studio musik di kota-kota besar terutama di kota Semarang. Semakin banyaknya usaha persewaan studio musik yang bermunculan di Semarang membuat para pengusaha persewaan studio musik ini memutar otak untuk membuat usahanya lebih maju lagi, mulai dari merubah konsep yang ada hingga

(2)

melihat peluang pasar dengan mencari tahu kebutuhan masyarakat dalam bermusik saat ini.

Salah satu perusahaan yang saat ini ikut bersaing dalam bidang bisnis persewaan studio musik adalah Planet Studio Musik. Pemilik usaha studio musik yang berada di daerah Semarang Timur ini sudah merintis usahanya sejak 9 (sembilan) tahun yang lalu, Planet Studio Musik juga sudah memiliki beberapa pelanggan setia. Planet Studio Musik mengusung konsep modern dalam studionya, studio musiknya pun memiliki ukuran yang luas serta kualitas alat musik yang baik pula. Namun, setelah 9 (sembilan) tahun berdiri dengan persewaan studio musiknya sekarang perusahaan ini ingin melebarkan sayap dengan membuka sebuah usaha persewaan studio rekaman dengan segmentasi pasar yang berbeda dari yang sebelumnya hanya orang-orang yang gemar bermain musik saja menjadi orang-orang yang profesional atau bekerja dibidang musik, hal ini juga membuat visi dan misi perusahaan mengalami pembaharuan yang akhirnya tercipta sebuah image baru. Planet Studio Musik ingin merubah image lamanya sebagai studio musik biasa menjadi sebuah persewaan studio musik yang jauh lebih profesional secara kualitas dan kuantitas Untuk memperkenalkan image baru kepada masyarakat langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengganti logo.

Sarah Parton seorang spesialis branding mengatakan bahwa keputusan yang bijak ketika suatu perusahaan yang berkembang mengambil langkah untuk merubah logo dan identitas perusahaannya untuk mengkomunikasikan dengan tepat siapa mereka dan apa produk dan jasa yang mereka tawarkan sekarang, dari pada mengkomunikasikan siapa mereka beberapa tahun yang lalu. (Andrew, 2014)

Salah satu cara yang dinilai efektif untuk memperkenalkan image baru kepada masyarakat adalah melalui sebuah corporate identity. Corporate identity dinilai efektif karena melalui corporate identity suatu perusahaan dapat dikenal masyarakat sekaligus dapat memberi gambaran kepada masyarakat tentang citra sebuah perusahaan. Dengan adanya corporate identity sebuah perusahaan dapat menyampaikan image yang ingin ditampilkan.

Planet Studio Musik sendiri sebenarnya sudah memiliki logo sebagai identitas perusahaannya, namun karena Planet Studio Musik ingin membuat image baru dari yang dikenal masyarakat dengan persewaan studio bandnya dengan target audience orang – orang yang hobi bermain musik saja menjadi persewaan studio musik sekaligus studio rekaman dengan target audience orang – orang yang memang

(3)

professional dibidang musik maka sebuah perancangan ulang identitas perusahaan dibutuhkan oleh perusahaan ini. Dengan identitas perusahaan yang baru diharapkan masyarakat dapat lebih aware dengan image baru dari Planet Studio Musik.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang didapat dalam perancangan ini adalah bagaimana me-redesign corporate identity Planet Studio Musik di Semarang untuk menanamkan image baru perusahaan?

1.3 Tujuan

Tujuan dari perancangan ulang Planet Studio Musik adalah untuk menghasilkan sebuah corporate identity baru Planet Studio Musik di Semarang untuk menanamkan image baru perusahaan.

1.4 Manfaat Rancangan 1.4.1 Bagi Universitas

Dapat menambah rerferensi untuk penelitian/ perancangan selanjutnya sesuai dengan ilmu desain komunikasi visual.

1.4.2 Bagi Mahasiswa

Dapat mengaplikasikan ilmu desain komunikasi visual ke masyarakat.

1.4.3 Bagi Klien

Dapat menyampaikan image baru perusahaannya melalui sebuah rancangan corporate identity kepada masyarakat.

1.5 Batasan Masalah

Penelitian ini akan dibatasi pada perancangan corporate identity Planet Studio Musik di Semarang dengan menggunakan analisa kualitatif yang akan didukung dengan angket.

1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Metode Penelitian

Dalam redesign corporate identity Planet Studio Musik di Semarang, penulis menggunakan metode kualitatif yang akan didukung dengan angket. Dalam metode kualitatif penulis menjelaskan tentang variabel yang berkaitan dengan konsumen, pengelola serta aktivitas dalam tempat bisnis seperti persewaan, maintenance alat, dan lain sebagainya. Data diperoleh melalui studi pustaka, wawancara, observasi, dokumentasi dan angket. Setelah data diperoleh, penulis akan menyebar angket kepada pengguna dan masyarakat sekitar guna

(4)

mengetahui logo seperti apa yang diinginkan masyarakat terhadap Planet Studio Musik. Selanjutnya penulis membuat tabulasi dari hasil penyebaran angket. Setelah melakukan tabulasi dan mendapatkan hasil, penulis membuat SWOT yang selanjutnya masuk ke analisa brainstorming guna mendapatkan kata kunci yang sesuai dalam perancangan logo baru Planet Studio Musik.

1.6.2 Metode Pengumpulan Data

1. Studi Pustaka

Penulis akan menggunakan teori – teori dari beberapa ahli melalui buku dan beberapa artikel yang berhubungan dengan corporate identity dan perancangan logo sebagai landasan dalam redesign corporate identity Planet Studio Musik.

2. Wawancara

Penulis akan melakukan wawancara dengan pemilik Planet Studio Musik, pertanyaan yang akan diajukan meliputi sejarah berdirinya perusahaan, karakteristik yang ingin ditunjukan oleh perusahaan, dan pesaing yang berpengaruh dengan perusahaan.

3. Observasi

Penulis melakukan observasi untuk mengetahui aktivitas dan kebiasaan dari konsumen hingga pelayanan yang disediakan Planet Studio Musik. 4. Dokumentasi

Dalam data melalui dokumentasi, penulis mengumpulkan beberapa foto yang berkaitan dengan perusahaan seperti studio musik, ruang tunggu hingga suasana perusahaan.

5. Angket

Penulis akan menggunakan angket sebagai acuan dalam membuat desain corporate identity. Angket akan diisi oleh konsumen dan masyarakat sekitar.

1.6.3 Metode Analisa Data

Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui kelebihan, kekurangan, pesaing dan ancaman perusahaan. Penulis membuat analisis SWOT berdasarkan data yang sudah didapat lalu diteliti secara cermat sehingga mendapatkan suatu kesimpulan tentang obyek-obyek penelitian. Penulis juga akan melakuakn brainstorming berdasarkan SWOT dan hasil tabulasi yang didapat melalui angket.

(5)

1.6.4 Bagan Alir Penelitian/ Perancangan

Rumusan Masalah

Bagaimana merancang ulang corporate identity Planet Studio Musik?

Metode Analisa Data

Data Klien  Data Target Audience

SWOT  Segmentasi Target Audience 

Konsep Desain

Brainstorming Klien Metode Pengumpulan Data

Studi Pustaka, Wawancara, Obsevasi, Dokumentasi, Angket

Final Desain Strategi Kreatif Desain

Batasan Masalah

Perancangan dibatasi pada corporate identity Planet Studio Musik dengan target audience pengguna/konsumen studio serta karyawan di Planet Studio Musik

Manfaat Perancangan

Dapat mengembangkan perusahaan melalui rancangan ulang corporate identity Tujuan Perancangan

Menghasilkan perancangan ulang corporate identityPlanet Studio Musik. Latar Belakang

Membutuhkan sebuah corporate identityuntuk menanamkan image baru.

(6)

1.7 Tinjauan Pustaka

1.7.1 Teori Permasalahan

A. Corporate Identity

Suryanto Rustan pada bukunya yang berjudul Mendesain Logo membahas bahwa suatu identitas yang ditampilkan dengan konsisten akan memberi gambaran pada publik bahwa entitas tersebut konsekuen dan professional. Dari situ diharapkan akan meningkatkan awareness dan image positif dibenak masyarakat. Inilah tujuan sebuah identitas. (Rustan, 2009).

Berbanding lurus dengan pendapat Suryanto Rustan, M. Linggar Anggoro mengungkapkan bahwa corporate identity adalah suatu cara atau suatu hal yang memungkinkan suatu perusahaan dikenal dan dibedakan dari perusahaan-perusahaan lainnya. Ia juga menyebutkan bahwa identitas perusahaan harus diciptakan melalui suatu rancangan desain khusus yang meliputi hal-hal unik atau khas tentang perusahaan yang bersangkutan secara fisik. (Anggoro, 2000).

Pendapat lain diungkap oleh Christine Suhato Cenadi bahwa dengan berkembangnya pasar, banyak perusahaan bersaing untk menarik perhatian konsumen agar membeli produk yang dijual. Salah satu cara untuk bersaing adalah dengan membangun suatu image dan identitas grafis. (Cenadi, 2009).

Siswanto Sutojo mengutip pernyataan dari penulis buku Marketing Corporate Image, James R. Gregory (Gregory dalam Sutojo) yang mennyatakan bahwa corporate identity memiliki dua elemen utama yakni nama dan logo. Sedangkan M. Linggar Anggoro berpendapat bahwa elemen utama identitas perusahaan meliputi tipe logo, warna/bentuk bangunan, atribut, sampai dengan seragam dan pakaian resmi perusahaan.

Siswanto sutojo mengemukakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan desain identitas, antara lain:

1. Identitas harus singkat tapi jelas agar tidak membingungkan tidak asal-asalan dibuat, orisinil atau karya asli buatan sendiri, tidak menjiplak, tidak mudah dilupakan.

2. Membawa arti tertentu agar masyarakat dapat menangkap arti logo atau identitas yang akan mereka pergunakan.

(7)

3. Logo dapat digunakan secara fleksibel agar mudah diaplikasikan di berbagai media.

4. Identitas perusahaan harus dibuat menarik, tidak membosankan, mudah dibaca, dan sedap dipandang. (Sutojo, 2004)

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, jelas dikatakan bahwa suatu identitas merupakan faktor utama untuk mencapai sebuah image positif atau dapat dikatakan bahwa sebuah corporate identity merupakan salah satu kunci utama untuk membuka pintu positif sebuah corporate image di mata masyarakat. Penampilan identitas melalui desain (secara fisik) haruslah sesuai dengan karakteristik yang ada pada sebuah perusahaan tersebut. Sebuah identitas yang merupakan cerminan citra diri perusahaan harus ditampilkan secara konsisten. Magnet corporate identity inilah yang membuat masyarakat melakukan tugasnya untuk menilai, memberikan kepercayaan, dan pada akhirnya akan memberikan loyalitas atau kesetiaanya kepada suatu korporasi. Dari teori yang sudah dijabarkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa corporate identity merupakan alat jual bagi perusahaan untuk produk/jasa yang sekarang ada atau produk/jasa yang akan dikembangkan. Karena image yang positif dari suatu perusahaan akan membuat konsumen percaya dan nyaman akan perusahaan itu dan percaya pula dengan produk/jasa yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut merupakan produk berkualitas terbaik.

1.7.2 Teori Perancangan

A. Redesign Logo

Logo merupakan identitas sebuah perusahaan yang bertujuan untuk menyampaikan image perusahaan ke konsumen dan sebagai bentuk untuk merepresentasikan perusahaan tersebut. Namun, ada kalanya redesign logo diperlukan dalam sebuah perusahaan. Salah satu alasan kenapa sebuah logo perlu di redesign adalah perubahan visi dan misi atau perubahan image dari sebuah perusahaan. Logo suatu perusahaan berubah karena ingin mengubah citra, menekankan arah atau penawaran baru tapi tetap berpegang pada konsistensi. (Farhana, 2015)

Redesign logo juga bertujuan untuk memperkenalkan citra baru perusahaan. Identitas suatu perusahaan merupakan cerminan dari visi, misi dan ideal suatu perusahaan yang di visualisasikan dalam logo perusahaan.

(8)

Logo merupakan suatu hal yang nyata sebagai pencerminan hal-hal yang non visual dari suatu perusahaan, misalnya budaya, perilaku, sikap, kepribadian, yang dituangkan dalam suatu bentuk visual. (Suwardikun, 2009)

Jika sebuah bisnis sudah berkembang, hal yang sangat sering kita jumpai adalah logo dari bisnis tersebut akan terlihat ketinggalan perkembangan. Ketinggalan perkembangan di sini maksudnya adalah sering kita jumpai logo tersebut tidak cocok lagi dengan usaha atau bisnis yang telah berkembang. Mungkin dahulu bisnis tersebut hanya mempunyai 2 jasa atau produk tertentu, namun seiring waktu bisnis ini berkembang dan mempunyai lebih banyak jasa dan produk. Sehingga pada kasus tertentu, logo tersebut akan terlihat “ketinggalan” dari bisnis yang telah jauh berkembang. Sangatlah bijak, jika sebuah perusahaan mengambil langkah untuk memperbaharui Logo dan Identitas Perusahaan mereka untuk mengkomunikasikan dengan tepat siapa mereka dan apa produk dan jasa yang mereka tawarkan sekarang. (Andrew, 2014)

Logo ibarat wajah dan watak perusahaan . Logo dituntut mampu berbicara pada publik bahwa ia adalah representasi dari perusahaan atau organisasi yang professional, kredibel dan berkualitas. Logo juga merupakan bagian dari marketing tools yang sangat menentukan karena logolah yang pertama kali dilihat oleh konsumen. Logo yang buruk dapat memberi image buruk pula terhadap perusahaan atau organisasi. (Supriyono, 2010)

Saat ini peranan simbol visual sebagai bentuk komunikasi sangatlah penting mengingat keberadaannya sangat tak terbatas dalam kehidupan kita sehari-hari. Logo merupakan bagian dari identitas perusahaan yang dirancang terutama sebagai simbol pembeda untuk dikenali di antara perusahaan-perusahaan lainnya, sebagai bentuk komunikasi yang mencerminkan nilai-nilai ideal suatu perusahaan yang sengaja dibentuk, dan memainkan peran yang sangat penting dalam benak konsumen, khususnya peran dalam menciptakan persepsi yang kuat tentang merek atau perusahaan, serta mempunyai arti penting karena dapat mengingatkan khalayak akan perusahaan tersebut.

(9)

Pada dasarnya logo, jika dikategorikan berdasarkan unsur pembentuknya terdiri dari:

1. Logotype Yaitu logo yang dibentuk hanya oleh huruf dan

variasinya, sedangkan gambar hanya digunakan sebagai pelengkap saja. 2. Logogram tipe logo Logogram sering juga diklasifikasikan iconic logo dan illustratif logo. Tipe logo seperti ini menjadikan sebuah gambar bentuk/desain utama dari logo tersebut.

3. Gabungan antara Logotype & Logogram yaitu sebuah logo yang dibentuk dengan penggabungan antara jenis Logotype & Logogram.

Untuk mewujudkan sebuah corporate identity yang baik agar dapat mencapai sebuah corporate image yang diharapkan, David E. Carter (Carter dalam Kusrianto) mengungkapkan enam syarat yang harus diperhatikan dalam perancangan sebuah logo, antara lain :

a. Original dan unik

Memiliki nilai khas, unik, dan daya pembeda yang jelas.

b. Legible

Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup tinggi meskipun diaplikasikan dalam berbagai ukuran dan media yang berbeda-beda.

c. Simple

Mudah ditangkap dan dimengerti dalam waktu yang singkat.

d. Memorable

Cukup mudah diingat, karena keunikannya, bahkan dalam waktu yang relatif lama.

e. Easily associated with corporate

Mudah dihubungkan atau diasosiasikan dengan jenis usaha atau citra suatu korporasi.

f. Easily adaptable for all graphic media

Faktor kemudahan mengaplikasikan logo, baik yang menyangkut bentuk fisik, warna, maupun konfigurasi logo pada berbagai media grafis. (Kusrianto, 2007)

(10)

B. Teori Tipografi

Menurut Danton Sihombing tipografi merupakan representasi visual dari sebuah bentuk komunikasi verbal dan property visual yang pokok dan efektif. (Sihombing, 2001)

Pemilihan jenis dan karakter huruf, serta pengelolaanya akan sangat menentukan keberhasilan desain komunikasi visual. Dibaca tidaknya sebuah pesan tergantung pada penggunaan huruf dan cara penyusunannya. Informasi semenarik apapun, bisa tidak dilirik pembaca karena disampaikan dengan tipografi yang buruk. (Supriyono, 2010)

Berdasarkan sejarah perkembangannya, huruf dapat digolongkan menjadi tujuh style, yaitu :

a. Huruf klasik : Bentuknya cukup menarik dan sampai sekarang masih

banyak digunakan untuk teks karena memiliki kemudahan baca (readability)cukup tinggi. Salah satu contoh gaya huruf ini adalah Garamond .

b. Huruf Transisi : Font yang termasuk jenis ini adalah Baskerville dan sering dipakai untuk judul.

c. Huruf Modern Roman : Font yang termasuk dalam Modern Roman antara lain Bodoni. Huruf ini sudah jarang digunakan untuk teks karena ketebalan tubuh huruf sangat kontras, bagian yang vertical tebal, garis horizontal dan serifnya sangat tipis sehingga sulit dibaca dan bahkan sering tidak terbaca. d. Huruf sans serif : Memiliki bagian-bagian yang sama tebalnya dan tidak

memiliki kaki/ serif/ kait. Contoh huruf sans serif antara lain: Arial, Helvetica, Univers, Futura, dan Gill Sans. Huruf ini kurang tepat digunakan untuk teks yang panjang karena dapat melelahkan pembaca, namun cukup efektif untuk penulisan judul atau teks yang pendek. Huruf ini sering digunakan dalam buku dan majalah karena memiliki citra dinamis dan simpel.

e. Huruf Berkait : huruf Egyptian memiliki kait/ kaki/ serif berbentuk balok yang ketebalannya hampir sama dengan tubuh huruf sehingga terkesan elegan, jantan, dan kaku.

f. Huruf tulis (script) : Jenis huruf ini berasal dari tulisan tangan (hand-writing) , sangat sulit dibaca dan melelahkan jika dipakai untuk teks yang panjang.

(11)

g. Huruf hiasan (Decorative) : Huruf ini bukan termasuk huruf teks sehingga sangat tidak tepat jika digunakan dalam teks panjang. Huruf ini lebih cocok untuk satu kata atau judul yang pendek.

C. Teori Warna

Jenis-jenis warna mendasarkan pada teori tiga warna primer, tiga warna sekunder , dan enam warna intermediate. Kedua belas warna ini kemudian disusun dalam satu lingkaran yang jika dibelah dua akan memperlihatkan setengah bagian yang tergolong warna panas dan setengah bagian daerah warna dingin.

Karakter dan simbolisasi warna :

a. Kuning : Kuning mempunyai karakter terang, gembira, ramah, supel, riang, cerah, hangat. Kuning melambangkan kecerahan, kehidupan, kemenangan, kegembiraan, kemeriahan, kecemerlangan, peringatan dan humor. Kuning cerah adalah warna emosional yang menggerakan energi dan keceriaan, kejayaan dan keindahan. Kuning emas melambangkan keagungan, kemegahan, kemuliaan, kekuatan. Kuning sutera adalah warna marah sehingga tidak popular. Kuning tua dan kuning kehijau-hijauan mengasosiasikan sakit, penakut, iri, cemburu, bohong dan luka.

b. Oranye / Jingga : Oranye melambangkan kemerdekaan, anugerah, dan

kehangatan. Warna jingga mempunyai karakter dorongan, semangat, merdeka, anugerah tetapi juga bahaya. Warna ini melambangkan kemerdekaan, penganugerahan, kehangatan, keseimbangan. Jingga merupakan warna paling menyolok. Warna ini mengingatkan pada buah orange sehingga akan menambah rasa manis jika untuk warna makanan. Jingga juga dapat menimbulkan kesan murah, dalam arti harga.

c. Merah : Merah berasosiasi pada darah, api, juga panas. Karakter merah adalah kuat, cepat, enerjik, semangat, gairah, marah, berani, bahaya, positif, agresif, merangsang, dan panas. Warna ini bersifat menaklukan , ekspansif dan dominan (berkuasa). Warna ini paling popular pada wanita. Warna merah muda memiliki arti kesehatan, kebugaran dan keharuman bunga rose. d. Ungu : Ungu memiliki watak keangkuhan, kebesaran dan kejayaan. Namun

ungu juga bisa meningkatkan imajinasi dan meningkatkan inspirasi. e. Violet : Watak warna violet adalah dingin, negative dan diam.

(12)

f. Biru : Biru mempunyai asosiasi dengan air, laut, langit, dan di Barat pada es. Biru melambangkan keyakinan, kesetiaan, kemurahan hati, kecerdasan, perdamaian, stabilitas, keharmonian, kesatuan, dan kepercayaan. Biru dapat menenangkan jiwa namun mengurangi nafsu makan.

g. Hijau : Hijau berasosiasi pada alam, tumbuh-tumbuhan, sesuatu yang hidup dan berkembang. Hijau mempunyai watak segar, muda, hidup, dan tumbuh. Hijau melambangkan kesegaran, keremajaan, keyakinan, kepercayaan, dsb. h. Putih : Putih warna paling terang. Putih mempunyai watak positif,

merangasang, cerah, tegas dan mengalah. Warna ini melambangkan cahaya, kelembutan, kebersihan,kedamaian, simpel ,kehormatan, dsb.

i. Hitam : Hitam adalah warna tergelap. Warna ini berasosiasi dengan bencana, perkabungan, misteri, keputusasaan. Watak warna hitam adalah menekan, tegas, dan mendalam. Hitam melambangkan kekuatan, formalitas dan keanggunan.

j. Abu-abu : Abu-abu adalah warna paling netral. Berasosiasi dengan

mendung, suasana suram, dsb. Warna ini menyimbolkan ketenangan, kebijaksanaan, keberanian untuk mengalah, dsb.

k. Coklat: Warna coklat berasosiasi dengan tanah dan warna natural. Warna coklat melambangkan kesopanan, kearifan, kebijaksanaan, dan kehormatan. (Sanyoto, 2009)

Apabila pemakaian warna kurang tepat maka dapat merusak citra, mengurangi nilai keterbacaan , dan bahkan dapat menghilangkan gairah baca. Jika warna digunakan dengan tepat, warna dapat membantu menciptakan mood dan membuat teks lebih berbicara. Warna-warna soft dapat menyampaikan kesan lembut, tenang dan romantic sedangkan warna-warna kuat dan kontras memberi kesan dinamis, dan cenderung meriah. Warna dapat dilihat dari tiga dimensi yaitu :

a. hue: pembagian warna berdasarkan nama-nama warna seperti merah, biru, hijau, kuning dan seterusnya

b. value : terang gelapnya warna

c. Intensity : tingkat kemurnian atau kejernihan warna.

Secara visual warna dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu warna dingin dan warna panas. Warna-warna dingin seperti hijau, biru, hijau, biru-ungu, dan ungu dapat memberikan kesan pasif, statis, kalem, damai dan

(13)

secara umum kurang mencolok. Warna-warna panas seperti merah, merah-oranye, merah-oranye, kuning-merah-oranye, kuning, kuning-hijau, dan merah-ungu memiliki kesan hangat, dinamis, aktif dan mengundang perhatian. (Supriyono, 2010) .

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan karena varietas Sweet Boy merupakan varietas yang dapat beradptasi dengan baik di tanah lebak ini, yaitu dengan ditunjukkannya respon yang

9 Periksa klasifikasi atas beban operasi sehubungan dengan kelayakan penyajian dalam laporan keuangan, termasuk hubungannya dengan usaha perusahaan

Sampel yang diteliti adalah sistem informasi terkait prakerin dalam website resmi milik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) milik pemerintah bidang keahlian Teknologi

Berikut pengaruh karakteristik penumpang terhadap pemilihan moda dalam perjalanan menuju Bandara Radin Inten II Lampung Selatan, yang dimana pada penelitian ini akan

Merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk

ALKON JML TEMPAT PELAYANAN 1 Kab Sleman IUD 4

JICA dan Gunma University 1999-2000 Seminar Nasional Pendidikan Matematika 2 hari Malang, Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) 2000 Konvensi Nasional Pendidikan

Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti di SD Inpres Laemanta, bahwa hasil belajar siswa sangatlah rendah dalam memahami materi palajaran khusunya pada mata