MAKALAH LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DAN REGULATOR MAKALAH LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DAN REGULATOR
PENGEMBANGAN PRODUK PENJAMINAN SYARIAH PENGEMBANGAN PRODUK PENJAMINAN SYARIAH
Disusun Oleh :
Disusun Oleh :
Zakky Royhul Mun’am
Jurusan Ekonomi Islam
Jurusan Ekonomi Islam
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga
Universitas Airlangga
Surabaya
Surabaya
2018
2018
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang selalu memberikan kemurahan Rahmat dan kasih sayangnya kepada semua makhluk di muka bumi. Berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis berkesempatan untuk menyelesaikan karya tulis ini meskipun dalam waktu yang tidak memungkinkan.Tidak lupa pula, penulis haturkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW karena telah membimbing ke agama yang lurus dan benar.
Karya tulis yang berjudul “Pengembangan Produk Penjaminan Syariah” ini, akan membahas tentang Produk dan pengembangannya pada lembaga penjaminan syariah. Penulis tidak akan bisa menyelesaikan tugas ini tanpa adanya keterlibatan beberapa pihak yang turut membantu. Maka dari itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak dan Ibu dosen Lembaga Keuangan Syariah dan Regulator.
Semoga karya tulis ini bisa menambah pengetahuan pembaca, dengan tujuan agar dapat mendukung pembangunan ekonomi untuk merubah kemiskinan menuju kemakmuran di Negara Indonesia, dengan berlandaskan pada Al-Qur'an dan hadits.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Surabaya, 4 Juni 2018
PENGEMBANGAN PRODUK PENJAMINAN SYARIAH Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis produk dan pengembangannya pada lembaga penjaminan syariah melalui metode pengumpulan data Library Research dan juga melalui metode Research Development. Melalui pengembangan produk penjaminan syariah maka dapat meningkatkan nilai penjaminan pembiayaan syariah di Indonesia. Dari penelitian ini, maka diharapkan dapat membuat lembaga penjaminan syariah menjadi lebih efektif dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan perekonomian Indonesia. Kata Kunci : Penjaminan Syariah, Produk
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i ABSTRAK ... ii DAFTAR ISI ... iii BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1 1.2 Rumusan Masalah... 1 1.3 Tujuan Penelitian ... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penjaminan Syariah ... 2 BAB III PEMBAHASAN
3.1 Model Pengembangan Produk Penjaminan Syariah ... 6 BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan ... 7 4.2 Saran ... 7 DAFTAR PUSTAKA ... 8
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Lembaga/perusahaan penjaminan syariah didefinisikan sebagai badan hukum yang bergerak dibidang keuangan dengan kegiatan usaha melakukan penjaminan berdasarkan prinsip syariah. Berbeda dengan usaha penjaminan konvensional, pengelolaan penjaminan syariah diwajibkan menerapkan prinsip dasar sebagaimana
diatur dalam Peraturan OJK:
1) Prinsip keadilan ('adl), dapat dipercaya (amanah), keseimbangan (tawazun), kemaslahatan (maslahah), dan keuniversalan (syumul).
2) Tidak mengandung hal‐hal yang diharamkan, seperti ketidakpastian / ketidakjelasan (gharar), perjudian (maysir), bunga (riba), penganiayaan (zhulum), suap (risywah), maksiat, dan obyek haram.
Usaha penjaminan syariah di Indonesia relatif baru, sejalan dengan hadirnya aktivitas ekonomi syariah. Penjaminan syariah di Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Pertama, jumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjaminan syariah masih sedikit. Saat ini tercatat 2 perusahaan skala nasional yang bergerak di bidang penjaminan syariah, yaitu Perum Jamkrindo dan PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah (Anak Perusahaan PT Askrindo). Kebetulan kedua perusahaan ini merupakan badan usaha milik Negara (BUMN). Jamkrindo yang memfokuskan diri dalam penjaminan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi (UMKMK), misalnya menyelenggarakan penjaminan syariah dengan membentuk sebuah unit khusus.
Di samping kedua perusahaan, terdapat juga beberapa lembaga penjaminan di daerah yang dikenal dengan Jamkrida (Jaminan Kredit Daerah). Saat ini terdapat sekurangnya 8 Jamkrida yang menyebar di beberapa propinsi di seluruh Indonesia, diantaranya Jamkrida Jawa Barat, Jamkrida Jawa Timur, Jamkrida Bali Mandara, Jamkrida Riau, Jamkrida NTB Bersaing, Jamkrida Sumatera Barat, Jamkrida Kalimantan Barat, dan Jamkrida Sumatera Selatan. Dengan demikian pangsa pasar penjaminan syariah masih terbuka lebar.
Kedua, aktivitas keuangan syariah, khususnya pembiayaan syariah terus tumbuh. Hal ini terjadi karena mulai timbul kesadaran umat muslim Indonesia untuk menggunakan layanan-layanan keuangan syariah. Selain itu, hal ini juga didorong
oleh berbagai lembaga keuangan mikro syariah yang mulai bermunculan seperti BMT ( Baitul Maal Wat-Tamwil ) dan BWM (Bank Wakaf Mikro).
Oleh karena itu, diperlukan riset dan pengembangan terkait dengan produk- produk penjaminan syariah agar dapat mewadahi semua kebutuhan penjaminan pembiayaan di Indonesia yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai penjaminan
syariah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah karya tulis ini adalah :
1. Bagaimana model pengembangan produk penjaminan syariah? 1.3 Tujuan
Tujuan karya tulis ini adalah :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penjaminan Syariah
2.1.1 Pengertian Penjaminan Syariah
Penjaminan Syariah adalah kegiatan pemberian jaminan oleh penjamin atas pemenuhan kewajiban finansial terjamin kepada penerima jaminan berdasarkan prinsip syariah.
2.1.1 Prinsip Penjaminan (Kafalah)
Perusahaan Penjaminan Syariah mempunyai 4 prinsip di dalam melakukan kegiatan penjaminan syariah. Adapun 4 prinsip tersebut adalah:
1. Kelayakan Usaha
Penjaminan pembiayaan hanya diberikan apabila kreditur dan penjamin pembiayaan berpendapat proposal/ proyek layak dibiayai. Apabila salah satu pihak menyatakan tdak layak, maka tdak bisa diterbitkan penjaminannya.
2. Supplementary System
Penjaminan pembiayaan ini, merupakan pelengkap dari suatu pembiayaan. Penjaminan pembiayaan diterbitkan setelah adanya akad pembiayaan antara kreditur dan debitur.
3. Pelengkap Agunan
Penjaminan pembiayaan diberikan kepada debitur yang belum memenuhi persyaratan teknis perbankan termasuk dalam hal kecukupan agunan (belum bankable).
4. Pembayaran Subrogasi
Subrogasi adalah pengalihan utang sejumlah klaim yang dibayar lembaga penjamin pembiayaan kepada kreditur atas kemacetan pembiayaan kreditur, dari yang semula utang debitur kepada kreditur menjadi utang debitur kepada lembaga penjaminan pembiayaan. Penarikan subrogasi ini tetap menajadi tugas kreditur.
2.1.3 Landasan Hukum Penjaminan Syariah
Walaupun masih baru, tetapi penjaminan syariah telah mendapat dukungan penuh dari regulator dan masyarakat. Hal ini dibuktikan dari terbitnya peraturan
2
1. Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2008 Tentang Lembaga Penjaminan 2. Undang-undang Nomor 1 tahun 2016 tentang Penjaminan.
3. Fatwa DSN MUI Nomor 74/DSN-MUI/I/2009 tentang Penjaminan Syariah.
Dalam Peraturan Presiden nomor 2 Tahun 2008 dan Undang-Undang nomor 1 tahun 2016 tersebut dijelaskan lengkap mengenai ketentuan umum dan aturan-aturan kelembagaan serta operasional dari perusahaan penjaminan termasuk penjaminan syariah.
2.1.4 Lembaga Penjaminan Syariah
Perusahaan Penjaminan Syariah adalah badan hukum yang bergerak di bidang keuangan dengan kegiatan usaha utama melakukan Penjaminan Syariah.
Perusahaan penjaminan syariah dapat melakukan berbagai kegiatan usaha, diantaranya :
1) Penjaminan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip s yariah yang disalurkan oleh lembaga keuangan.
2) Penjaminan kredit dan/atau pinjaman atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang disalurkan oleh koperasi simpan pinjam kepada anggotanya. 3) Penjaminan kredit dan/atau pinjaman atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah program kemitraan yang disalurkan oleh badan usaha milik negara dalam rangka program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL).
4) Penjaminan atas surat utang.
Selain itu, perusahaan penjaminan syariah dapat melakukan kegiatan lainnya, yaitu:
1) Penjaminan transaksi dagang.
3) Penjaminan bank garansi (kontra bank garansi).
4) Penjaminan surat kredit berdokumen dalam negeri (SKBDN).
5) Penjaminan letter of credit (L/C).
6) Penjaminan kepabeanan (custom bond).
7) Penjaminan lainnya setelah memperoleh persetujuan OJK.
8) Jasa konsultasi manajemen terkait dengan kegiatan usaha penjaminan.
9) Penyediaan informasi/database terjamin terkait dengan kegiatan usaha penjaminan.
3 2.1.5 Mekanisme Penjaminan Syariah
Mekanisme di dalam proses penjaminan dibagi menjadi dua yaitu:
a. Penjaminan Langsung
Penjaminan langsung adalah penjaminan yang diberikan kepada terjamin oleh penjamin guna mendapatkan jaminan (kafalah) untuk kebutuhan
pembiayaan tanpa terlebih dahulu melalui pihak Penerima Jaminan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Kerja sama antara penjamin dan penerima jaminan.
2. Calon terjamin mengajukan permohonan penjaminan dan membayar Imbal Jasa Kafalah (IJK) apabila telah dinilai layak.
3. Penjaminan melakukan analisis kelayakan usaha. Apabila layak, penjamin akan menerbitkan Sertfkat Kafalah.
4. Terjamin mendatangi Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya untuk meminta fasilitas pembiayaan.
5. Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya memproses permohonan dengan mempertmbangkan Sertfkat Kafalah dan melakukan
analisis terhadap kelayakan usaha Terjamin.
6. Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya memberitahukan kepada penjamin bahwa terjamin telah diberikan fasilitas Pembiayaan/ ditolak.
b. Penjaminan Tidak Langsung
Penjaminan tdak langsung adalah penjaminan yang diberikan kepada terjamin oleh penjamin dengan terlebih dahulu melalui atau atas permintaan Penerima Jaminan. Dalam hal ini, terdapat Perjanjian Kerjasama antara penjamin dan penerima jaminan terlebih dahulu. Tahapan prosesnya sebagai berikut :
1. Perjanjian penjaminan pembiayaan antara penjamin dan penerima jaminan 2. Calon terjamin mengajukan permohonan pembiayaan kepada Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya.
3. Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya melakukan penilaian kelayakan usaha dan analisis lainnya sebelum diberikan fasilitas pembiayaan. 4. Apabila layak, Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya
melakukan permohonan penjaminan kepada Penjamin.
5. Calon terjamin mengajukan permohonan penjaminan kepada penjamin.
4 6. Penjamin melakukan analisis kelayakan usaha dan mempertmbangkan
keadaan dan kemampuan keuangan terjamin.
7. Penjamin memberitahukan persetujuan penjaminan atau penolakan kepada Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya.
8. Apabila disetujui penjaminan, Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya mencairkan Pembiayaan.
9. Lembaga Keuangan Bank/ Non Bank/ Insttusi lainnya mengirimkan pemberitahuan kepada Penjamin atas pembiayaan yang telah dicairkan dan
mentransfer imbal jasa kafalah (IJK) yang dibayar oleh Terjamin. 10. Penjamin menerbitkan Sertfkat Kafalah.
5 BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Model Pengembangan Produk Penjaminan Syariah
Produk pada perusahaan penjaminan syariah haruslah mematuhi dua aturan utama, yaitu aturan umum perundang-undangan dan aspek kesyariahannya. Untuk aspek kesyariahan dapat melihat pada fatwa DSN-MUI selaku lembaga penerbit fatwa nasional. Akibatnya, dalam merumuskan atau meluncurkan suatu produk, perusahaan penjaminan syariah harus memiliki sikap kehati-hatian agar produknya nanti dapat sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.
Dalam merencanakan produknya terdapat faktor internal dan eksternal yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan penjaminan syariah. Faktor internal misalnya kemampuan dan kapasitas perusahaan dalam menyediakan dan melaksanakan produknya, selain itu perlu diperhatikan pula mengenai resiko-resiko yang bisa saja dialami. Faktor eksternal didalami dengan melihat pasar secara lebih spesifik. Hal ini terkait potensi pasar, mengingat bahwa industri penjaminan syariah juga berkembang selaras dengan indsutri keuangan syariah yang saat ini masih terus berkembang. Produk yang dihasilkan dapat dipilah dan disesuikan dengan kondisi dan situasi pasar juga melihat sektor-sektor yang berpotensi dapat menjadi nasabah penjaminan.
Pada akhirnya nanti setelah perencanaan yang matang, maka produk dapat dihasilkan dan dapat efektif dalam meningkatkan jumlah penjaminan pada perusahaan penjaminan syariah.
6 BAB IV
PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penilitian ini, peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pengembangan produk pada perusahaan penjaminan syariah sangat perlu untuk dilakukan, mengingat perusahaan penjaminan syariah masih baru di Industri keuangan syariah Indonesia sehingga masih perlu untuk dikembangkan dan menyesuaikan dengan pasar. Selain itu, Industri keuangan syariah di Indonesia juga sedang mengalami perkembangan signifikan sehingga produk harus terus dikembangkan dan diinovasikan mengikuti pasar yang akan terus berubah dan berkembang.
2. Dalam membuat dan mengembangkan produk pada perusahaan penjaminan syariah harus tetap mengikuti aturan-aturan yang berlaku baik peraturan dari regulator (pemerintah) ataupun aspek
kesyariahannya.
3. Pengembangan produk dibuat dengan memperhatikan beberapa pertimbangan-pertimbangan sehingga nantinya, produk yang dihasilkan
dapat efektif dalam menambah nasabah dan meningkatkan jumlah penjaminan syariah.
4.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan diatas, Alangkah baiknya jika pengembangan produk dapat dilakukan dengan baik dan tidak lupa untuk mempertimbangkan beberapa hal penting seperti peraturan, pasar, dan lain sebagainya, sehingga produk dapat menjadi andalan masyarakat dalam hal penjaminan syariah di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Arif, Rianto. 2015. Pengantar Ekonomi Islam. Surakarta : Pustaka Setia.
Tim Penyusun (OJK). 2016. Seri Literasi Keuangan Perguruan Tinggi : Industri Jasa
Keuangan Syariah. Seri 8. Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Mardani. 2011. Ayat-Ayat dan Hadis Ekonomi Syariah. Jakarta : Rajawali Press
Andri, Soemitra. 2016. Bank & Lembaga Keuangan Syariah, Depok: Kencana.
Presiden RI. 2008. Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2008 Tentang Lembaga Penjaminan. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2016. Undang-Undang No. 1 Tahun 2016 Tentang Penjaminan. Lembaran Negara RI Tahun 2016, No 9. Sekretariat Negara. Jakarta.
DSN-MUI. 2009. Fatwa DSN-MUI No. 74/DSN-MUI/I/2009 Tentang Penjaminan Syariah. Sekretariat DSN-MUI. Jakarta.
Fajri, Ibrahim dan Rahmat Rosyadi. Implementasi Prinsip-Prinsip Syariah Dalam
Penyusunan Perjanjian Sektor Penjaminan Syariah, YUSTISI, Vol 4, No. 2, hal 28-43, September 2017.
Mu’allim, Amir. Persepsi Masyarakat Terhadap Lembaga Keuangan Syariah, Al-Mawarid,
Edisi X, hal 17-31, 2003.
Amin, Muhammad Suma. Jaminan Perundag-Undangan Tentang Eksistensi Lembaga
Keuangan Syariah di Indonesia, Al-Mawarid, Edisi X, Vol 4, No. 2, hal 28-43, 2003.