i
ss
PERILAKU USAHA KOPERASI PERTANIAN: KASUS
KOPERASI DI DATARAN TINGGI GAYO
PROVINSI ACEH
DEVI AGUSTIA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
iii
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis berjudul Perilaku Usaha Koperasi
Pertanian: Kasus Koperasi di Dataran Tinggi Gayo Provinsi Aceh adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juni 2016
Devi Agustia NIM H453130011
v
RINGKASAN
DEVI AGUSTIA. Perilaku Usaha Koperasi Pertanian: Kasus Koperasi di Dataran Tinggi Gayo Provinsi Aceh. Dibimbing oleh NUNUNG KUSNADI dan HARIANTO.
Koperasi dalam perekonomian nasional mempunyai kedudukan dan peran yang sangat strategis dalam pertumbuhan dan pengembangann potensi ekonomi rakyat. Pada umumnya koperasi memiliki keunggulan di bidang pertanian. Keunggulan tersebut diantaranya memperbaiki posisi tawar (bargaining position) petani, membuka akses pasar baru untuk produk petani, dan meningkatkan kemampuan petani dalam mengadopsi teknologi. Salah satu komoditas pertanian yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah kopi Arabika. Provinsi Aceh merupakan salah penghasil utama kopi Arabika dengan sentra produksi terdapat di Dataran Tinggi Gayo.
Koperasi Pertanian di Dataran Tinggi Gayo telah berperan dalam memberikan penyuluhan atau pelatihan teknis dan koperasi juga membeli hasil panen kopi anggota. Meskipun tanaman kopi telah banyak diusahakan, namun harga kopi yang tinggi di tingkat eksportir belum dirasakan oleh petani kopi di Dataran Tinggi Gayo. Hal ini ditunjukkan dari perkembangan harga kopi mulai tahun 2006 sampai tahun 2013 yakni harga kopi di tingkat petani relatif stabil berkisar antara Rp 8 000 sampai Rp 13 000 per kg, sedangkan harga di tingkat eksportir mengalami perubahan relatif besar bekisar antara Rp 30 000 sampai Rp 50 000. Hal ini mengindikasikan keberadaan koperasi belum dirasakan manfaatnya khususnya dalam peningkatan bergaining position petani.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pelu dilakukan analisis perilaku usaha koperasi untuk mengetahui sejauh mana koperasi di Dataran Tinggi Gayo telah menjalankan aktivitasnya sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga pembelian, jumlah pembelian dan harga penjualan kopi koperasi di Dataran Tinggi Gayo, Provinsi Aceh. 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah anggota dan sisa hasil usaha koperasi di Dataran Tinggi Gayo, Provinsi Aceh.
Penelitian ini dilakukan di sentra produksi kopi Arabika di dataran tinggi Gayo, yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Unit analisis dalampenelitian ini adalah koperasi yang telah melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2014 dan telah melakukan pemasaran kopi selama tiga tahun terakhir yaitu berjumlah 15 unit koperasi. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Gambaran umum koperasi dari sisi organisasi, keuangan dan usaha menggunakan Microsoft Exel 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi organisasi koperasi telah berdiri dalam kurun waktu 3 hingga 16 tahun. SDM yang dimiliki koperasi cukup baik, dimana umur pengurus dan karyawan berada pada usia produktif dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan berpengalaman dalam berorganisasi. Dari sisi keuangan koperasi telah mampu menghasilkan laba yang terlihat dari rata-rata nilai ROI dan ROE masing-masing sebesar 20.39 dan 34.46. Namun koperasi belum mampu menjamin hutang-hutangnya. Hal ini dikarenakan besarnya modal yang dibutuhkan koperasi sehingga koperasi masih mengandalkan pinjaman dalam
menjalankan kegiatan usahanya. Dari sisi usaha menunjukkan bahwa koperasi telah mampu mengelola kegiatan usahanya dengan baik, dimana rata-rata volume usaha telah mencapai 46 milyar dan rata-rata SHU dan premium fee masing-masing sebesar 338 juta dan 2 milyar.
Metode analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku usaha koperasi menggunakan model ekonometrika dengan sistem persamaan simultan, yang terdiri dari 5 persamaan struktural. Pendugaan model menggunakan metode Two Stage Least Square (2SLS). Pengolahan data menggunakan program komputer SAS 9.3. Hasil penelitian menunjukkan dalam melakukan pembelian terhadap kopi anggota, dimana jumlah pembelian koperasi dan harga jual kopi berpengaruh signifikan meningkatkan harga pembelian. Jumlah penjualan juga berpengaruh dalam meningkatkan jumlah pembelian kopi. Namun jumlah pembelian, harga jual, harga beli dan jumlah anggota tidak berpengaruh dalam meningkatkan sisa hasil usaha koperasi. Hal ini mengindikasikan bahwa koperasi telah menjalankan fungsi dan perannya sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi dalam melayani kebutuhan anggota.
vii
SUMMARY
DEVI AGUSTIA. Business Behaviour of Agricultural Cooperatives: The Case of Cooperative in Gayo Highland, Aceh Province. Supervised by NUNUNG KUSNADI and HARIANTO.
Cooperatives have strategic role in the growth of the national economy and the development of public economic potential. In general, cooperatives have many advantages for agriculture. These advantages include improving the bergaining position of farmers, opening access to new markets for the products of farmers, and improve the ability to adopt the technology. One of the agricultural commodities that have the potential to be developed is Arabika coffee. Aceh province is one of the major producer of Arabica coffee with Gayo highlands as the center of production area
Agricultural cooperatives in Gayo Highland has contributed in providing education or technical training and the cooperatives was also buy the coffee harvested by members. Although the coffee crop has been widely cultivated, but the high coffee price in exporters level has not been felt by coffee farmers in Gayo Highlands. It is shown from the development of coffee prices from 2006 to 2013, the price of coffee at the farm level was relatively stable ranging between Rp 8000 to Rp 13 000 per kg, while the price in exporters level changed relatively large ranged between Rp 30 000 to Rp 50 000. this indicated the existence of cooperative benefits have not been felt particularly in improving farmers bergaining position.
Based on these problems, the cooperative efforts behavioral analysis is needed to determine the performance of cooperatives in performing their role in accordance with the principles of cooperatives in the Gayo Highlands. This study aims to 1) Analyze the factors that influence the purchase price, the purchase amount and the number of sales of cooperatives in the Gayo Highlands, Aceh Province, 2) Analyze the factors that influence the number of members and the residual claims of cooperatives in the Gayo Highlands, Aceh Province.
This research was conducted in Arabica coffee production center of Gayo highlands, the Central Aceh and Bener Meriah district. The unit of analysis was cooperatives which has conducted the Annual Members Meeting (RAT) in 2014 and has been marketing their coffee during the last three years as many as 15 cooperative units. The analysis used was qualitative and quantitative analysis. Analysis of the performance of the cooperative in terms of organizational, financial and business was using Microsoft Excel 2010. The results showed that in terms of the cooperative organization, the cooperatives has been established within a period of 3 to 16 years. The human resource owned by cooperatives was quite good, where the age of the board and the employees was in the productive age with a high level of education and experience in organization. In terms of cooperative financial, the cooperatives has been able to generate profits that can be seen from the average value of ROI and ROE respectively by 20.39 and 34.46 but still the cooperatives has not been able to guarantee its debts. This occured because the large amount of capital was needed by the cooperatives in running the business so that the cooperatives still rely on loans. In terms of the business, it showed that the cooperative has been able to manage its operations well, where
the average business volume has reached 46 billion and the average SHU and premium fee respectively 338 million and 2 billion.
Methods used in analising the factors that influence the behavior of a cooperative was econometric model with simultaneous equations system, which consists of five structural equation. Model estimation was using Two Stage Least Square (2SLS). Processing data using a computer program SAS 9.3. The results showed in making purchase for coffee of members, where the amount of the purchase and selling price of a coffee cooperative effect significantly increases the purchase price. Total sales was also influential in increasing the amount of coffee purchase. However the amount of the purchase, the selling price, the purchase price and the number of members did not affect the increase of net income of the cooperative. This indicates that the cooperative has been performing its functions and its role in accordance with the principles of cooperatives in serving the needs of members.
Keywords: Bussiness Behaviour, Cooperative, Coffee, Performance, Simultaneous Equations.
ix
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
i
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
INTEGRASI PASAR DAN DAYA SAING UDANG
INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL
ULFIRA ASHARI
PERILAKU USAHA KOPERASI PERTANIAN: KASUS
KOPERASI DI DATARAN TINGGI GAYO
PROVINSI ACEH
DEVI AGUSTIA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
iii
Judul Tesis : Perilaku Usaha Koperasi Pertanian: Kasus Koperasi di Dataran Tinggi Gayo Provinsi Aceh
Nama : Devi Agustia NIM : H453130011
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Dr Ir Harianto, MS Ketua Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Ilmu Ekonomi Pertanian
Prof Dr Ir Sri Hartoyo, MS Dr Ir Dahrul Syah, MSc Agr
v
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikat rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dengan perkenaan-Nya penulis diberi kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. Tesis ini merupakan hasil penelitian dengan judul Perilaku Usaha Koperasi Pertanian: Kasus Koperasi di Dataran Tinggi Gayo Provinsi Aceh.
Penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Dr Ir Nunung Kusnadi MS dan Bapak Dr Ir Harianto MS selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu memberikan arahan dan bimbingan selama proses penulisan karya ilmiah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Anna Fariyanti MSi selaku penguji luar komisi pada ujian tesis, serta kepada Bapak Prof Dr Ir Sri Hartoyo MS selaku ketua program studi yang juga merupakan penguji wakil komisi program studi, yang telah memberikan kritik dan saran untuk perbaikan tesis ini. Terima kasih kepada seluruh dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian atas segala ilmu yang telah diberikan selama penulis menempuh pendidikan dan terima kasih kepada Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa BPPDN pendidikan Program Magister di IPB.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat terbaik yang telah seperti keluarga Ihdiani Abubakar, Indah Nurhidayati, Nurul Iski, Noratun Juliviani, Siti Yuliati Chansa Arfah, Sartika Sari Utami, Ratih Apri Utami atas dukungannya selama ini. Terima kasih kepada Januar Arifin Ruslan dan Ahmad Zainuddin yang banyak membantu dan bertukar pikir selama proses belajar hingga tugas akhir ini terselesaikan. Serta terima kasih kepada seluruh rekan-rekan Ilmu Ekonomi Pertanian (EPN) 2013 untuk kebersamaan dalam belajar dan berdiskusi selama menempuh pendidikan di EPN. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Johan, Bapak Widi, Ibu Ina, Ibu Kokom, Bapak Erwin, Bapak Husein selaku staff administrasi pada program studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang telah membantu penulis selama menempuh pendidikan.
Terima kasih secara khusus penulis ucapkan kepada orangtua tersayang Ayahanda Yusman, Ibunda Suriati dan Ibu mertua Sulasni yang senantiasa mendukung dan mendoakan keberhasilan bagi penulis. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada suami tercinta Hendry Dharmadi SP yang selalu memahami, mengerti, memberikan semangat dan doa bagi penulis. Saudara-saudaraku Dessy, Yessi, Vera dan Teguh yang telah memberikan semangat dan dukungan selama penulis menempuh pendidikan.
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan tersebut. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Juni 2016 Devi Agustia
vii
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN viii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 5
Manfaat Penelitian 5
Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian 5
2 TINJAUAN PUSTAKA 6
Usahatani Kopi 6
Peran dan Manfaat Koperasi 7
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Usaha Koperasi 8
Kerangka Teoritis 9
Kerangka Pemikiran Penelitian 16
3 METODE PENELITIAN 18
Lokasi dan Waktu Penelitian 18
Jenis dan Sumber Data 18
Metode Analisis Data 18
Kinerja Koperasi 19
Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Usaha Koperasi 19
Definisi Operasional 25
4 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK
KOPERASI 27
Deskripsi Wilayah 27
Gambaran Umum Koperasi 27
Kinerja Koperasi di Dataran Tinggi Gayo 34
5 HASIL DAN PEMBAHASAN 41
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Usaha Koperasi 41
6 KESIMPULAN DAN SARAN 48
Kesimpulan 48
Saran 48
DAFTAR PUSTAKA 49
LAMPIRAN 53
DAFTAR TABEL
1 Perkembangan koperasi di Indonesia tahun 2010-2014 1 2 Profil koperasi responden di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah 28
3 Rasio harga pembelian koperasi dan harga pasar kopi di Aceh Tengah
dan Bener Meriah selama tahun 2012-2014 30
4 Kinerja usaha koperasi kopi di Dataran Tinggi Gayo tahun 2014 34
5 Karakteristik pengurus koperasi di Dataran Tinggi Gayo tahun 2015 37
6 Karakteristik karyawan koperasi di Dataran Tinggi Gayo tahun 2015 38
7 Kinerja keuangan koperasi di Dataran Tinggi Gayo tahun 2014 39
8 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi harga pembelian kopi koperasi 42
9 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah
pembelian kopi koperasi 44
10 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah
penjualan kopi koperasi 45
11 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah
anggota koperasi 46
12 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi sisa hasil
usaha koperasi 47
DAFTAR GAMBAR
1 Luas areal dan Produksi Kopi Indonesia, tahun 2005-2014**) 2 Pergerakan harga kopi arabika gayo di tingkat petani, dan eksportir tahun 2006-2013 4
Alternatif penetapan harga dan jumlah penjualan pada koperasi 13 Alternatif penetapan harga dan jumlah pembelian pada koperasi 14
Alur kerangka pemikiran 17
Diagram hubungan antar variabel 23
DAFTAR LAMPIRAN
1 Rasio harga pembelian kopi koperasi dan harga pasar kopi di Dataran
Tinggi Gayo tahun 2012-2014 55
2 Editor pendugaan parameter perilaku usaha koperasi di Dataran Tinggi Gayo dengan metode 2SLS menggunakan program SAS 9.13 56 3 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi harga
pembelian kopi oleh koperasi di Dataran Tinggi Gayo dengan metode
2SLS menggunakan program SAS 9.13 57
2 3 4 5 6
ix
4 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pembelian kopi oleh koperasi di Dataran Tinggi Gayo dengan metode
2SLS menggunakan program SAS 9.13 58
5 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah penjualan kopi oleh koperasi di Dataran Tinggi Gayo dengan metode
2SLS menggunakan program SAS 9.13 59
6 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah anggota koperasi di Dataran Tinggi Gayo dengan metode 2SLS
menggunakan program SAS 9.13 60
7 Hasil pendugaan parameter faktor-faktor yang mempengaruhi sisa hasil usaha koperasi di Dataran Tinggi Gayo dengan metode 2SLS
1
1
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Koperasi merupakan salah satu pilar pembangunan ekonomi Indonesia yang berperan dalam pengembangan sektor pertanian. Koperasi dalam perekonomian nasional mempunyai kedudukan dan peran yang sangat strategis dalam pertumbuhan dan pengembangann potensi ekonomi rakyat. Ketaren (2007) menyatakan bahwa peranan koperasi dalam perekonomian secara makro adalah meningkatkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dan lingkungan, meningkatkan produksi, pendapatan, kesejahteraan, dan meningkatkan kesempatan kerja.
Peran koperasi di Indonesia diperkirakan akan tetap bahkan semakin penting terutama dalam kaitannya untuk menjadi lembaga pengembangan ekonomi rakyat (Krisnamurthi 1998). Koperasi harus tumbuh menjadi badan usaha dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang sehat, tangguh, kuat, dan mandiri yang berfungsi sebagai wadah untuk menggalang ekonomi rakyat (Soedjono 2003).
Perkembangan koperasi di Indonesia pada periode tahun 2010 sampai tahun 2014 mengalami pertumbuhan positif yang terlihat dari peningkatan kinerja koperasi seperti terlihat pada Tabel 1. Pada Tabel 1 terlihat peningkatan beberapa variabel kinerja koperasi seperti jumlah koperasi dan jumlah anggota koperasi, pada tahun 2010 jumlah koperasi yang ada di Indonesia adalah sebanyak 177 482 unit dan pada tahun 2014 meningkat sebesar 7.81 persen menjadi 209 488 unit. Selain itu, jumlah anggota koperasi yang ada di Indonesia pada tahun 2014 juga mengalami peningkatan yaitu sebesar 19.64 persen jika dibandingkan dengan tahun 2010.
Tabel 1 Perkembangan koperasi di Indonesia tahun 2010-2014
Keterangan
Tahun
2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah Koperasi (unit) 177 482 188 181 194 295 203 701 209 488
Jumlah Anggota (orang) 30 461 121 30 849 913 33 869 439 35 254 176 36 443 953 Modal (Rp.juta) 64 788 727 75 484 237 89 536 290 102 826 158 105 800 829 Volume Usaha (Rp.juta) 76 822 082 95 062 402 119 182 690 125 548 976 189 858 671
SHU (Rp.juta) 5 622 164 6 336 481 6 661 926 8 110 199 14 898 647
Sumber : Kementerian Koperasi dan UKM 2015
Selain terjadi pertumbuhan pada jumlah koperasi dan jumlah anggota koperasi, juga terjadi pertumbuhan pada beberapa variabel lainnya, seperti modal, volume usaha dan Sisa Hasil Usaha (SHU). Seiring dengan peningkatan jumlah koperasi dan jumlah anggota koperasi di Indonesia, modal koperasi juga mengalami peningkatan yang mencapai 37.98 persen. Dilihat dari sisi usaha, pada tahun 2014 volume usaha koperasi pun mengalami peningkatan sebesar 68.79 persen. Dengan meningkatnya volume usaha tersebut, maka terjadi kenaikan SHU yang dihasilkan oleh koperasi. Peningkatan SHU pada tahun 2014 jika dibandingkan dengan tahun 2010 cukup besar, yaitu mencapai 45.55 persen. Oleh
2
karena itu pengembangan koperasi dapat dijadikan sebagai sebuah organisasi yang efektif bagi anggota untuk saling bekerjasama, membuka akses pasar, modal, informasi, teknologi dengan mengoptimalkan potensi, dan memanfaatkan peluang usaha yang terbuka (Nasution 2008).
Pada umumnya koperasi memiliki keunggulan di bidang pertanian, sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia sebagai salah satu negara agraris. Salah satu subsektor pertanian yang memberikan kontribusi signifikan terhadap GNP Indonesia adalah perkebunan. Sumbangan sub sektor perkebunan terhadap devisa negara mencapai USD 29.5 miliar pada tahun 2013 atau setara dengan Rp 546.42 triliun (Ditjenbun 2015). Salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan adalah kopi. Kopi menyumbang sebesar USD 1.17 miliar yang berada diurutan ketiga setelah kelapa sawit USD 17.6 miliar dan karet USD 6.1 miliar (BPS 2014).
Perkembangan luas areal dan produksi kopi Indonesia selama sepuluh tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 1.
Sumber: Ditjenbun 2015
Gambar 1 Luas areal dan Produksi Kopi Indonesia, tahun 2005-2014**)
Pada Gambar 1 terlihat selama tahun 2005, luas areal kopi di Indonesia sebesar 1.25 juta hektar dengan produksi sebesar 640 ribu ton. Pada tahun 2007 sempat mengalami peningkatan menjadi 1.29 juta hektar dengan produksi sebesar 676 ribu ton. Namun, beberapa tahun berikutnya luas areal kopi cenderung menurun, hingga pada tahun 2010 luas areal menjadi 1.21 juta hektar tetapi produksi meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 686 ton. Pada tahun-tahun berikutnya luas areal tanaman kopi terus mengalami peningkatan begitu juga dengan produksi hingga tahun 2014 luas areal menjadi 1.35 juta hektar dan produksi sebesar 738 ribu ton. Luas areal 1.3 juta ha ini terdiri dari luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan luas lahan perkebunan kopi arabika mencapai 0.30 ha (Kemenperindag 2014).
Meskipun tanaman kopi telah banyak diusahakan namun terdapat beberapa permasalahan terkait usahatani diantaranya produksi kopi yang rendah, mutu atau kualitas kopi yang rendah, permodalan, selain itu juga pemasaran kopi yang belum efisien (Adri 1999; Aradi 2008; Fatwa 2011; Putri 2013). Kelembagaan
3
3
diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut, kelembagaaan tersebut yaitu koperasi dimana koperasi dinilai sebagai lembaga dalam subsistem penunjang yang cukup sesuai untuk mengatasi permasalahan tersebut. Koperasi sebagai lembaga ekonomi yang berwatak sosial dalam mejalankan kegiatan usahanya memiliki dua tujuan yaitu profit oriented dan service oriented. Koperasi sebagai suatu badan usaha bertujuan memaksimalkan keuntungan (profit oriented) dan sebagai lembaga sosial koperasi mempunyai tujuan memaksimalkan pelayanan (service oriented) yang ditujukan untuk anggota. Koperasi diharapkan menjalankan kegiatan usahanya dengan baik sehingga dapat memberikan pelayanan dan manfaat bagi anggotanya. Krishnamurthi (1999) menyatakan dampak dari keberadaan koperasi dapat dilihat dengan mempelajari hal apa yang dapat meningkatkan kegiatan koperasi tersebut. Dalam meningkatkan kegiatan usahanyan salah satu aspek yang dianggap penting adalah aspek perilaku usaha. Perilaku usaha koperasi merupakan pengambilan keputusan ekonomi yang akan mengarahkan kegiatan koperasi sebagai suatu badan usaha disamping perilaku koperasi sebagai lembaga sosial. Oleh karena itu, maka penting untuk mempelajari perilaku usaha koperasi sehingga diharapkan koperasi dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan anggota maupun masyarakat pada umumnya.
Perumusan Masalah
Provinsi Aceh adalah salah satu daerah penghasil utama kopi arabika dengan sentra produksi terdapat di Dataran Tinggi Gayo yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Kopi arabika ini terkenal dengan nama kopi Gayo. Tahun 2013 kopi jenis arabika ini hampir seluruhnya dikembangkan oleh petani pada areal seluas 48 300 ha di Kabupaten Aceh Tengah dan 43 148 ha di Kabupaten Bener Meriah. Pengembangan kopi arabika gayo sebagai komoditi unggulan daerah memiliki prospek yang menjanjikan (Disbun Provinsi Aceh 2013). Sejak tahun 1992 petani kopi arabika telah terlibat dalam program sertifikasi produk kopi. Program sertifikasi ini mampu meningkatkan nilai jual kopi arabika gayo di pasar dunia yang biasa disebut harga premium. Namun, tingginya harga jual kopi arabika yang dibayarkan oleh konsumen belum dirasakan oleh petani. Di asumsikan harga pasar adalah harga petani dimana sebagian besar petani menjual kopi melalui koperasi. Lebih jelasnya mengenai perkembangan harga kopi arabika ditingkat petani dan tingkat eksportir dapat dilihat pada Gambar 2.
Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa adanya disparitas harga antara petani dengan eksportir. Harga kopi arabika di tingkat petani relatif stabil berkisar antara Rp 8 000 per kg sampai Rp 13 000 per kg, sedangkan harga di tingkat eksportir mengalami perubahan relatif besar bekisar antara Rp 30 000 per kg sampai Rp 50 000 per kg. Ini menunjukkan bahwa selama tahun 2006 - 2013 harga di tingkat petani dan harga di tingkat eksportir memiliki gap yang semakin lama semakin melebar dari waktu ke waktu. Besarnya disparitas harga dapat disebabkan oleh dua hal yaitu jalur pemasaran yang panjang dan perbedaan bentuk kopi yang dipasarkan akan mempengaruhi perbedaan harga jual.
4
Gambar 2 Pergerakan harga kopi arabika gayo di tingkat petani, dan tahun 2006-2013
Sumber: Disbun Provinsi Aceh 2013; Disperindag dan UKM Provinsi Aceh 2013; ICO 2015
Di dataran tinggi Gayo telah terbentuk beberapa koperasi dimana koperasi merupakan salah satu lembaga yang terlibat dalam pemasaran kopi. Kegiatan utama koperasi yaitu membeli produksi kopi anggota dan dan menjual kopi tersebut ke pembeli/buyer (eksportir/importir). Koperasi dalam melakukan pemasaran dapat melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait sehingga diharapkan mampu meningkatkan harga dan menciptakan akses pasar yang besar untuk produk anggota. Keberadaan koperasi diharapkan dapat mengatasi masalah yang dihadapi petani terutama terkait disparitas harga seperti yang terlihat pada Gambar 2. Selain memasarkan produk anggota, kegiatan lain koperasi dalam melayani anggota yaitu koperasi melakukan penyuluhan atau pelatihan teknis terkait budidaya kopi kepada anggotanya.
Namun Putri (2013) dalam hasil penelitiannya menyebutkan bahwa peran koperasi dalam upaya meningkatkan daya tawar petani belum dirasakan manfaatnya. Sebagai anggota koperasi, petani hanya mendapatkan penyuluhan atau pelatihan teknis terkait program sertifikasi produk dan petani menjual hasil panennya kepada koperasi. Hal yang sama juga dikemukankan oleh Saputra (2012) menyatakan bahwa pada petani kopi yang mengikuti program sertifikasi hampir 90 persen pemasaran kopi dilakukan melalui koperasi, masalah yang paling utama dihadapi yaitu posisi tawar (bargaining position) petani lemah dalam proses penentuan harga. Hal ini mengindikasikan bahwa koperasi belum berperan, mengapa koperasi belum berperan? sehingga menjadi penting untuk melihat bagaimana kegiatan koperasi di daerah penelitian.
Pada dasarnya koperasi dikelola bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota secara khususnya dan masyarakat secara umumnya. Perilaku usaha koperasi akan mengarahkan kegiatan koperasi sebagai suatu badan usaha disamping koperasi sebagai lembaga sosial. Keputusan koperasi dalam melakukan pembelian dan penjualan kopi merupakan perilaku koperasi yang tidak terlepas dari tujuan koperasi yaitu sebagai lembaga ekonomi yang bertujuan memberikan pelayanan disamping badan usaha yang bertujuan profit. Koperasi sebagai lembaga sosial akan meningkatkan perannya dalam memberikan pelayanan kepada anggota terutama dalam melakukan pembelian kopi dengan harga yang lebih tinggi dan jumlah yang lebih banyak.
5
5
Sebagai badan usaha, koperasi adalah sebuah perusahaan yang harus mampu berdiri sendiri menjalankan kegiatan usahanya untuk memperoleh laba. Laba dalam koperasi dikenal dengan istilah Sisa Hasil Usaha (SHU). Meskipun koperasi tidak mengutamakan keuntungan, usaha-usaha yang dikelola oleh koperasi harus memperoleh SHU yang layak sehingga koperasi dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan meningkatkan kemampuan usaha. Peningkatan sisa hasil usaha dari suatu koperasi sangat tergantung pada kegiatan yang dijalankannya yaitu dari pembelian kopi dari anggota dan penjualan kopi tersebut. Agar koperasi dirasakan peran dan manfaatnya, maka koperasi harus memperbaiki perilaku usahanya. Perilaku usaha koperasi harus melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi. Dari uraian tersebut diatas maka perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perilaku usaha koperasi dalam menentukan harga pembelian kopi, jumlah pembelian kopi dan jumlah penjualan kopi sebagai lembaga yang bertujuan memberikan pelayan kepada anggota?
2. Bagaimana perilaku usaha koperasi dalam menentukan jumlah anggota dan sisa hasil usaha koperasi sebagai badan usaha?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga pembelian kopi, jumlah pembelian kopi, dan jumlah penjualan kopi di Dataran Tinggi Gayo, Provinsi Aceh.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah anggota dan sisa hasil usaha koperasi di Dataran Tinggi Gayo, Provinsi Aceh.
Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yaitu : 1. Bagi pengurus koperasi, hasil penelitian ini merupakan alat penunjang
keputusan dalam pengembangan usaha di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh. 2. Bagi pemerintah dan instansi terkait, hasil penelitian diharapkan dapat
merumuskan kebijakan yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan petani kopi.
3. Bagi akademisi, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya .
Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
1. Penelitian ini mengkaji koperasi kopi yang memiliki sertifikasi fairtrade dan organik di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh.
2. Koperasi yang dipilih merupakan koperasi dimana anggotanya adalah petani kopi Gayo dan telah melaksanakan RAT tahun 2014.
6
2
TINJAUAN PUSTAKA
Usahatani Kopi
Kopi di Indonesia telah dibudidayakan sejak abad ke-16 dan termasuk salah satu komoditi yang sangat berperan dalam ekspor nasional. Tanaman kopi merupakan tanaman tropis dan sangat cocok untuk iklim di Indonesia sehingga dapat dikatakan komoditi kopi Indonesia memiliki keunggulan mutlak (absolute advantage) karena kondisi alam yang mendukung budidaya kopi. Adapun unsur- unsur tanah yang penting bagi pertumbuhan tanaman kopi adalah Nitrogen, Potasium, Asam Phosphor dan Kapur.
Usahatani kopi di Indonesia di usahakan oleh perkebunan swasta dan perkebunan rakyat. Kopi arabika saat ini telah menguasai sebagian besar pasar kopi dunia dan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan kopi robusta. Keunggulan kompetitif tersebut salah satunya adalah harga yang lebih tinggi dari pada jenis kopi robusta. Harga kopi arabika di pasar international berpengaruh positif terhadap penawaran kopi Indonesia, tiap kenaikan tingkat harga internasional arabika sebesar satu satuan akan mengakibatkan peningkatan ekspor kopi sebesar 0.009 persen. Perbedaan harga kopi arabika yang lebih tinggi dari kopi robusta salah satunya disebabkan oleh tingkat rasa kopi arabika yang lebih diminati oleh konsumen dunia dan kandungan kafein yang rendah yaitu 0.8 sampai 1.4 persen dibandingkan kopi robusta 1.7 sampai 4.0 persen. (Sairdama 2013)
Saluran pemasaran kopi Arabika dibeberapa daerah di Indonesia masih belum efisien. Hal ini disebabkan marjin pemasaran yang relatif tinggi dan kemungkinan fasilitas pemasaran yang belum memadai untuk memperlancar pemasaran. Demikian juga dengan kondisi struktur pasar yang dihadapi petani kopi arabika memiliki struktur pasar yang hampir sama yaitu struktur pasar yang tidak bersaing sempurna sehingga posisi tawar (bargaining position) petani kopi arabika lemah (Sallatu 2006; Saputra 2011; Putri 2013).
Kopi Arabika organik telah menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan di Kabupaten Aceh Tengah karena merupakan salah satu jenis kopi arabika dengan nilai harga jual tertinggi di dunia (Saputra 2012). Namun permasalahan yang mendasar dalam pengelolaan usahatani kopi di Provinsi Aceh adalah rendahnya produktivitas. Beberapa hal yang diduga mempengaruhi rendahnya produktivitas usahatani kopi daerah ini adalah rata-rata tanaman kopi sudah berumur tua dan pemeliharaan secara intensif belum dilaksanakan secara sempurna karena rendahnya pengetahuan dan keterampilan petani (Aradi 2008). Permasalahan lain yang dijumpai pada usahatani kopi rakyat Provinsi Aceh ini adalah tingkat pendapatan yang dicapai belum maksimal. Timbulnya masalah ini disebabkan karena tidak efisiennya petani dalam mengalokasikan faktor produksi dan belum optimalnya penggunaan faktor produksi yang ada (Fatwa 2011) Masalah ini mengakibatkan membesarnya biaya produksi yang digunakan sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi rendah. Banyak faktor yang menyebabkan tidak mengertinya petani mengalokasikan faktor produksi secara efisien antara lain rendahnya tingkat pendidikan dan terbatasnya modal petani (Adri 1999).
7
7
Permasalahan yang menjadi kendala dalam aspek pemasaran adalah rendahnya mutu, rendahnya mutu kopi bersumber dari kesalahan penanganan sebelum panen maupun penanganan setelah lepas panen. Mutu bibit yang rendah dengan pemeliharaan dan sistem panen yang tidak tepat akan menyebabkan kualitas kopi menjadi rendah. Kualitas kopi yang rendah akan menurunkan harga jual kopi yang akhirnya menurunkan pendapatan petani (Maimun 2009; Mujiburrahman 2011; Putri 2013). Oleh karena pentingnya kelembagaan berupa koperasi sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut seperti yang dilakukan pada usahatani kopi di Lampung dengan membangun kerjasama kemitraan antara koperasi dengan PT. Nestle (Andriyanti 2005). Untuk meningkatkan pendapatan petani, dan kolektor kopi organik perlu ditingkatkan peran yang lebih kompleks seperti yang di lakukan oleh koperasi Baburrayyan Baitul Qiradh, sehingga nilai tambah yang diperoleh juga lebih besar (Mujiburrahman 2011).
Peran dan Manfaat Koperasi
Koperasi merupakan salah satu bentuk kelembagaan diantara sekian banyak kelembagaan yang berkembang dalam sektor pertanian. Koperasi diharapkan menjadi lembaga gerbang (gateway institution) yang menjalankan fungsi representatif bagi seluruh petani dan kelembagaan-kelembagaan lain yang levelnya lebih rendah. Koperasi diharapkan tidak hanya menjadi gerbang untuk kepentingan ekonomi dalam meningkatkan pendapatan pertanian dan mengurangi kemiskinan pedesaan ( Bernard dan Taffesse 2012; Fisher dan Qaim 2012) tetapi juga diharapkan untuk pemenuhan modal, kebutuhan pasar, dan informasi (Baga 2009).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa koperasi berperan efektif pada pertumbuhan output dan peningkatan pendapatan. Ito et al (2012) menemukan bahwa keanggotaan koperasi berdampak pada pendapatan usahatani bagi petani semangka di China dua kali lebih besar untuk pertanian kecil daripada untuk pertanian yang lebih besar. Keanggotaan koperasi secara umum berdampak positif pada pendapatan usahatani. Selain itu, keanggotaan petani dalam koperasi memberikan peluang lebih besar terhadap petani untuk mengadopsi teknologi yang lebih baik, harga yang diterima lebih tinggi dan akses terhadap pasar (Abebaw dan Haile 2013; Bernard et al 2008; Bernard dan Taffesse 2012; Fisher dan Qaim 2012; Francesconi dan Heerink 2010; Holloway et al 2000).
Dalam kegiatan pemasaran, koperasi memiliki peran penting sebagai penghubung antara konsumen dan produsen yang memungkinkan petani untuk berpartisipasi dalam perkembangan pasar baru (Ellen 2014). Hasil penelitian mengenai kinerja koperasi pemasaran kopi di costa rica menunjukkan koperasi memainkan peran penting dalam memberikan dukungan kepada petani untuk mengubah produksi ke standar kualitas yang lebih baik dan lembaga-lembaga seperti koperasi secara substansial dapat mengurangi biaya pengumpulan informasi (Wollni dan Zeller 2007).
Menurut Schaffiner et al dalam Asmarantaka (2012) menyatakan koperasi dalam memasarkan produk pertanian dapat melakukan kerjasama secara kontrak dan integrasi vertikal kepada lembaga-lembaga terkait diatasnya. Lebih dari 90 persen di Amerika pada tahun 1990 produk-produk peternakan (telur 94 persen, ayam broiler 100 persen, ayam kalkun 93 persen dan sayuran yang diolah 97
8
persen) yang melakukan kerjasama secara kontrak dan integrasi vertikal dengan koperasi-koperasi pertanian. Kerjasama ini akan mengutungkan petani-peternak karena mempunyai jaminan pasar dan harga relatif stabil (meningkatkan bargaining power).
Perilaku Usaha Koperasi dan Faktor yang Mempengaruhi
Perilaku usaha dapat diartikan sebagai pengambilan keputusan usaha yang dilakukan dengan memperhatikan kondisi struktur usaha menuju pencapaian tujuan usaha tertentu. Perilaku usaha dapat juga dikatakan sebagai pengambilan keputusan dalam mengelola sumberdaya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan tingkat perkembangan usaha yang telah dicapai (Lawless et al, 1996; Kohl dan Uhl, 1990). Teori ekonomi koperasi dengan memandang koperasi sebagai perusahaan yang mandiri dimulai dari analisa Enke terhadap koperasi konsumsi pada tahun 1954 (Sexton, 1984). Enke menyatakan pengelola koperasi memiliki tugas dan tanggung jawab untuk dapat mengambil keputusan manajemen dan tantangan yang dihadapi oleh pengelola koperasi adalah untuk dapat memaksimumkan manfaat (surplus) yang diterima baik oleh anggota maupun oleh koperasi itu sendiri.
Pada perkembangannya koperasi lebih lanjut, terdapat beberapa penyesuaian atas tujuan koperasi sebagai perusahaan. Royer (1982) menyatakan bahwa tujuan koperasi dalam memaksimumkan kesejahteraan anggota dapat diperoleh jika keuntungan dari usahatani yang dilakukan ditambah margin bersih koperasi adalah maksimum. Tujuan ini lebih sesuai dengan prinsip koperasi walaupun tetap menghadapi permasalahan ketidakstabilan keseimbangan kecuali terdapat batasan atas jumlah yang dapat dijual oleh anggota kepada koperasi. Koperasi mampu mensejahterakan petani pada kondisi pasar yang tidak sempurna, dimana keterbukaan keanggotaan koperasi mampu membuat harga dan jumlah yang diperdagangkan pada pasar yang tidak sempurna tersebut mendekati keseimbangan pasar bersaing sempurna (Cotterill 1986). Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan usahanya perilaku usaha koperasi mempengaruhi keberhasilan koperasi dalam memberikan pelayanan kepada anggota sehingga akan meningkatkan peran koperasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Brotosunaryo (1989 ) menemukan bahwa keberhasilan koperasi dipengaruhi oleh faktor manajemen dan unsur-unsur usaha dari koperasi yang bersangkutan. Sedangkan Harsono (1985) memaparkan bahwa faktor yang mempengaruhi keberhasilan koperasi adalah faktor partisipasi, penampilan pengurus dan faktor lingkungan. Brojosaputro (1989) memperluas dan memperdalam faktor pengaruh tersebut terutama dengan menyertakan aspek kinerja usaha koperasi sebagai faktor pengaruh utama yang mempengaruhi keberhasilan koperasi.
Sedangkan penelitian terkait perilaku usaha koperasi telah dilakukan diantaranya Goldsmith (1995) yang melakukan kajian untuk menunjukkan bahwa perilaku usaha koperasi ditentukan oleh teori transaksi yang dilakukan koperasi sebagai perusahaan. Selain itu, Peterson (1991) yang menyatakan bahwa perilaku koperasi ditentukan oleh pemikiran dasar dalam strategi meningkatkan penerimaan dan penyediaan SHU. Hal yang serupa dengan Goldsmith (1995), Peterson juga mengembangkan kajian teoritik mengenai kedua strategi tersebut
9
9
dan kemudian melakukan pembuktian empiris. Peterson menggunakan model ekonometrika dengan persamaan simultan yang diduga dengan menggunakan metode 2SLS (two stage least square) dengan memanfaatkan data primer hasil wawancara dari beberapa manajer koperasi. Merujuk pada penelitian terdahulu, maka dilakukan penelitian untuk melihat pengaruh perilaku usaha koperasi dengan menggunakan model persamaan simultan.
Kerangka Teoritis Pengertian Koperasi
Kata koperasi berasal dari bahasa latin co-operatio yang berarti kerjasama atau bekerja sama. Dalam ilmu ekonomi koperasi adalah perkumpulan yang memungkinkan beberapa orang, dan atau badan hukum bekerjasama atas dasar sukarela melaksanakan pekerjaan untuk memperbaiki kehidupan anggotanya. Aliansi koperasi Internasional (International Coopertive Alliance/ICA) pada tahun 1995 merumuskan identitas koperasi adalah sebagai berikut : “Koperasi
adalah asosiasi orang yang berhimpun secara sukarela untuk dapat memenuhi tujuan, kebutuhan, dan aspirasi mereka dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikontrol secara demokratis”.
Pengertian koperasi berdasarkan Undang - Undang Koperasi No. 25 Tahun 1992 yang dimaksud dengan koperasi adalah suatu badan hukum yang kegiatannya berlandaskan pada prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.
Dari beberapa pengertian koperasi tersebut kesamaan yang dimiliki bahwa koperasi adalah perkumpulan orang-orang yang memiliki tujuan untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraannya yang dilakukan secara demokratis oleh anggotanya. Selain itu, mendefinisikan suatu koperasi atau organisasi koperasi tidak cukup hanya dengan mendefinisikan karakter sosial, tetapi juga harus mendefinisikan karakter ekonomi, dan sebaliknya.
Salah satu ciri khas yang dimiliki anggota koperasi adalah identitas ganda (double idendtity). Anggota dalam suatu koperasi berperan sebagai pemilik sekaligus pengguna atau pelanggan. Dengan ciri ini dapat dimengerti bahwa koperasi mengembangkan dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi ekonomi dan dimensi sosial. Hal ini yang menjadikan koperasi sebagai suatu organisasi yang unik (Baga 2009)
Nilai-Nilai Dasar dan Prinsip-Prinsip Koperasi
Koperasi melandaskan diri pada nilai-nilai menolong diri sendiri, bertanggung jawab kepada diri sendiri, demokratis, persamaan, keadilan dan solidaritas. Percaya pada nilai-nilai etnis dari kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Sedangkan asas-asas koperasi yaitu keanggotaan terbuka dan atas dasar sukarela, democratic control, bunga tetap atas modal, pembagian sisa hasil usaha kepada anggota secara proporsional dengan transaksinya, pendidikan koperasi dan kerjasama antar koperasi. Nilai-nilai koperasi ini mengandung gagasan umum yang akan dilaksakan dalam prakteknya dengan prinsip-prinsip koperasi sebagai pedomannya.
10
Prinsip-prinsip koperasi adalah pedoman bagi koperasi dalam melaksanakan nilai-nilai koperasi. Prinsip-prinsip koperasi pertama kali dikemukakan oleh Rochdole pada tahun 1844 di Inggris (Nasution dalam Krishnamurthi 1988). Prinsip-prinsip koperasi tersebut adalah (1) pengawasan bersama dari semua anggota (secara demokrasi); (2) kepemimpinan/manajemen terbuka; (3) bunga terbatas modal; (4) distribusi keuntungan dilakukan melalui transaksi; (5) semua risiko ditanggung bersama; (6) perniagaan dengan tunai; (7) pengembangan pendidikan; dan (8) bebas dari politik dan agama.
Bulan Oktober tahun 1984, ICA (International Coopertive Alliance) mengadakan kongres ke-28 di Hamburg dengan agenda mengajukan resolusi kembali sendi-sendi dasar koperasi Rochdale. Hasil kongres melahirkan tujuh prinsip-prinsip koperasi yang disahkan oleh kongres ICA pada tahun 1966 sebagai sendi dasar koperasi dunia . Namun pada tahun 1995, ICA kembali melakukan kembali perumusan ulang atas prinsip-prinsip koperasi sehingga menjadi :
1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.
2) Pengawasa dan pemantauan (kontrol) dilakukan oleh anggota secara demokratik.
3) Anggota memberikan partisipasi ekonomi kepada koperasi. 4) Koperasi bersifat otonom dan terbuka.
5) Koperasi menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, dan penyebaran informasi.
6) Koperasi menyelenggarakan kerjasama diantara sesama koperasi. 7) Koperasi memperhatika masyarakat sekitarnya.
Sedangkan prinsip-prinsip koperasi yang dianut oleh koperasi di Indonesia, berdasarkan UU nomor 25 tahun 1992 adalah :
1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. 2) Pengelolaan dilakukan secara demokratis.
3) Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
4) Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. 5) Kemandirian.
6) Pendidikan koperasi. 7) Kerjasama antar koperasi.
Fungsi dan Peran Koperasi
Fungsi dan peran koperasi dalam Bab III bagian pertama pasal 4 UU RI Nomor 25 Tahun 1992 yaitu: (1) membangun potensi dan ekonomi anggota dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial; (2) berperan serta secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat; (3) memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional; (4) mewujudkan perekonomian nasional berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Peran dan tugas koperasi adalah: (1) meningkatkan taraf hidup sederhana masyarakat Indonesia; (2) mengembangkan demokrasi ekonomi di Indonesia; (3) mewujudkan pendapatan masyarakat yang adil dan merata dengan cara menyatukan, membina, dan mengembangkan setiap potensi yang ada.
Koperasi di kembangkan untuk : (1) meningkatkan kekuatan rebut tawar (bargaining power); (2) mengurangi biaya (melalui peningkatan skala usaha); (3)
11
11
mengadakan produk dan jasa yang tidak dapat diberikan oleh pelaku usaha lain; (4) membuka dan memperluas peluang pasar; (5) meningkatkan kualitas produk dan jasa; dan (6) meningkatkan pendapatan.
Penggolongan Koperasi
Penggolongan koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya. Dasar untuk penggolongan koperasi adalah kesamaan aktivitas, kepentingan dan kebutuhan ekonomi anggotanya. Berdasarkan kebutuhan dan efisiensi dalam ekonomi, penggolongan koperasi terdiri dari (Firdaus dan Susanto 2004) :
1. Koperasi konsumsi, koperasi yang beranggotakan para konsumen dengan menjalankan kegiatannya jual beli menjual barang konsumsi.
2. Koperasi kredit, koperasi yang bergerak di bidang simpanan dan pinjaman. 3. Koperasi produksi, koperasi beranggotakan para pengusaha kecil (UKM)
dengan menjalankan kegiatan pengadaan bahan baku dan penolong untuk anggotanya.
4. Koperasi jasa, koperasi yang bergerak di bidang usaha jasa lainnya.
5. Koperasi distribusi (pemasaran), koperasi yang menjalankan kegiatan penjualan produk/jasa koperasinya atau anggotanya.
Jika dikaitkan dengan pertanian, secara umum terdapat tiga tipe koperasi (ICA 1990) yaitu koperasi pemasaran (marketing cooperative), koperasi sarana produksi (supplies cooperative), dan koperasi jasa (service cooperative). Petani pada umumnya tidak memproduksi jumlah yang cukup yang memungkinkan petani tersebut melakukan bisnis langsung dengan pedagang besar atau eceran. Melalui koperasi pemasaran, beberapa petani bersama-sama dapat memasarkan produknya dengan lebih efisien dan berusaha memenuhi jumlah yang diminta konsumen langsungnya. Pada koperasi yang modern kegiatan pemasaran tersebut diintegrasikan dengan kegiatan pengolahan, pengemasan, dan penyimpanan, sekaligus membantu anggotanya untuk memenuhi standar yang diminta oleh pasar dan disyaratkan oleh pemerintah dalam pemasaran produk mereka. Koperasi sarana produksi memungkinkan anggota untuk mengumpulkan sumberdaya pembelian sarana produksi, seperti bibit, pupuk, alat pertanian, dan sebagainya. Pembelian dalam jumlah yang besar secara bersama-sama akan mengurangi biaya, menjamin pasokan, dan memungkinkan untuk mendapat kualitas yang lebih baik. Koperasi jasa adalah koperasi yang dibentuk untuk dapat memberikan jasa khusus kepada anggota, seperti produksi pakan, inseminasi buatan, perkreditan, perbengkelan, dan sebagainya.
Bentuk koperasi tersebut sebagian tidak berdiri sendiri, tetapi menjalankan fungsi dari ketiga tipe koperasi yang ada, atau sebagai koperasi serba usaha. Bentuk tersebut kemudian juga berkembang antara lain menjadi koperasi konsumsi, koerasi komoditi, dan koperasi petani. Koperasi konsumsi merupakan koperasi yang beranggotakan para konsumen, yang bgerusaha untuk dapat memperoleh barang kebutuhan hidup anggotanya dengan murah melalui pembelian dengan skala besar. Koperasi komoditi adalah koperasi yang menangani produksi, pengolahan, dan pemasaran komoditas tertentu. Koperasi petani umumnya berbasis wilayah dimana anggotanya adalah petani diwilayah tersebut. Koperasi ini dapat menangani seluruh komoditas yang diproduksi petani dan memasok seluruh kebutuhan petani.
12
Konsep Kinerja
Kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan. Lebih khusus Palapa (2006) menjelaskan bahwa kinerja merupakan prestasi yang dicapai oleh badan usaha dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, penilaian terhadap kinerja koperasi diperlukan untuk mengetahui seberapa efisien koperasi tersebut dalam menjalankan kegiatan usahanya.
Pemerintah melalui Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia telah memberikan konsep tentang pengukuran kinerja koperasi, yaitu tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi (Per.Men.No.06/M.KUKM/V/2006). Berdasarkan pengukuran ini, ada empat aspek koperasi yang dinilai yaitu aspek organisasi, aspek keuangan, aspek tatalaksana dan Manajemen, dan aspek manfaat dan dampak.
Keberhasilan organisasi atau kinerja perusahaan merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan pengusaha dalam melaksanakan suatu pekerjaan tertentu. Penilaian keberhasilan yang dilakukan pada koperasi didasarkan pada jati diri koperasi yaitu nilai-nilai, prinsip, dan koridor pengembangan koperasi. Nawawi (2006) mengungkapkan bahwa pengukuran kinerja organisasi baik finansial maupun nonfinansial dapat digunakan dalam mengendalikan operasional organisasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Indikator kinerja koperasi menurut Soedjono (2003) terdiri dari dua segi yaitu segi usaha dan segi organisasi.
Pada segi usaha koperasi, kinerja dapat lihat dari peningkatan jumlah anggota, modal koperasi, jumlah dan volume usaha, jumlah pembelian dan harga pembelian koperasi terhadap produk yang dihasilkan anggota. Dari segi organisasi yang meliputi keanggotaan (jumlah anggota), pengurus dan manajemen (pembagian tugas dan tanggung jawab).
Teori Ekonomi Koperasi
Gambar 3 menunjukkan perilaku koperasi dalam menjalankan kegiatan usahanya. Pada Gambar 3 terlihat sumbu vertikal menggambarkan tingkat harga pada koperasi, sedangkan sumbu horizontal menunjukkan jumlah produk koperasi. Gambar 3 menunjukkan apabila koperasi bertindak sebagai penjual dimana penentuan harga dan jumlah penjualan produk oleh koperasi dapat dilakukan dengan beberapa alternatif. Diasumsikan koperasi beroperasi pada stuktur pasar tidak sempurna (monopolistik). Suatu perusahaan (termasuk koperasi) dalam struktur pasar yang tidak sempurna akan memaksimalkan keuntungan dengan menjual output pada saat marginal cost (MC) sama dengan marginal revenue (MR) yaitu pada titik A, dimana harga yang ditetapkan sebesar P1 danmenjual produknya sebesanyak Q1.
Selanjutnya, diasumsikan koperasi bisa berperilaku seperti seolah-olah berada dalam struktur pasar persaingan sempurna, dimana keseimbangan akan terjadi pada saat MC = AR = P yaitu titik B. Koperasi dapat menjual produknya sebanyak Q2 dan meetapkan harga sebesar P2. Namun Titik B bukan merupakan kondisi keseimbangan yang stabil. Pada kondisi ini koperasi memperoleh keuntungan sebesar BD. Jika keuntungan tersebut dibagi keanggota maka dapat
13 13 A B C Q1 Q2 Q3 P1 P2 P3 MR D = AR Quantity D
dianggap sebagai subsidi harga dan akan menjadi insentif bagi anggota untuk meningkatkan produksinya.
Sumber: Staatz 1987
Gambar 3 Alternatif penetapan harga dan jumlah penjualan pada koperasi
Perilaku lain dalam penetapan harga di asumsikan bahwa koperasi beroperasi pada keuntungan sama dengan nol (zero profit). Pada kondisi ini keseimbangan optimal di titik C. Hal ini berarti harga ditetapkan pada saat biaya rata-rata (AC) sama dengan penerimaan rata-rata (AR). Perilaku seperti ini adalah koperasi akan memaksimumkan output dalam melayani kebutuhan anggotanya. Pada penelitian ini koperasi dalam melakukan penjualan tidak mengacu pada perilaku usaha seperti pada gambar 3, karena pasar yang dihadapi oleh koperasi dalam melakukan penjualan adalah pasar umum bukan anggota.
Selanjutnya adalah perilaku koperasi dalam melakukan pembelian. Penentuan harga dan jumlah produk yang dibeli oleh koperasi dapat dilihat pada Gambar 4. Diasumsikan stuktur pasar adalah monopsoni dimana koperasi adalah sebagai pembeli. Pada grafik dapat dilihat beberapa kurva yaitu kurva S merupakan kurva yang menunjukkan penawaran kopi yang dihadapi koperasi. Marginal expediture (MER) adalah kurva tambahan biaya untuk pembelian satu unit tambahan produk. Value marginal product (VMP) adalah kurva tambahan benefit dari pembelian satu unit tambahan produk, dan Netto Average revinue product (NARP) adalah kurva yang menggambarkan penerimaan rata-rata dikurangi biaya tetap. Kurva-kurva tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.
Kondisi pertama yaitu apabila koperasi bertindak seperti perusahaan koperasi dalam melakukan kegiatan usahanya yaitu memiliki tujuan maksimum profit, maka keseimbangan akan dicapai pada saat kurva MER berpotongan VMP yaitu pada titik A. Maka jumlah pembelian dan harga beli koperasi koperasi adalah sebanyak Q1 (perpotongan MER dan VMP = S) dan harga yang diberikan koperasi adalah sebesar P1. Pada kondisi ini koperasi bertujuan memaksimumkan profit.
Price
MC
14 S NARP P1 VMP Price Quantity Q1 Q2 Q3 P2 P3 A B C MER
Gambar 4 Alternatif penetapan harga dan jumlah pembelian pada koperasi
Selanjutnya koperasi dalam memaksimumkan kesejahteraan akan beroperasi pada saat kurva penawaran (S) berpotongan dengan VMP. Kondisi ini terjadi pada titik B yaitu jumlah pembelian koperasi adalah sebanyak Q2 dan koperasi akan membayar sebesar P2. Kondisi ini disebut juga kondisi dimana koperasi berada pada pasar kompetitif.
Berikutnya adalah pembelian koperasi terhadap produk yang ditawarkan anggota. Keseimbangan jumlah dan harga yaang dibayarkan koperasi akan terjadi melalui perpotongan antara kurva penawaran (S) dengan kurva penerimaan bersih koperasi ( NARP) yaitu pada titik C. Koperasi akan membeli produk sebanyak Q3 dan membayar pada harga sebesar P3. Kondisi ini merupakan kondisi koperasi memaksimumkan pembelian atau pelayanan terhadap produk anggota. Keseimbangan ini akan stabil pada jangka pendek. Pada jangka panjang keseimbangan akan ditentukan oleh penambahan maupun pengurangan jumlah anggota yang akan berpengaruh terhadap kondisi penawaran anggota. Dalam jangka pendek jumlah anggota tetap sehingga jumlah penawarannya tetap, dan dalam jangka panjang jumlah anggota bertambah sehingga jumlah penawarannya juga bertambah.
Konsep Pelayanan Anggota Koperasi
Pelayanan dalam kegiatan koperasi merupakan wujud dari kebutuhan anggota. Anggota menjadi patokan dalam memberikan pelayanan. Pelayanan yang diberikan oleh koperasi tidak hanya terbatas kepada anggota koperasi saja, tetapi pelayanan koperasi juga dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Pelayanan Koperasi kepada anggota adalah jasa yang diberikan koperasi dalam memajukan usaha anggotanya. Oleh karena itu, sebagian koperasi adalah pemberi pelayanan yang bertugas memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada usaha anggotanya. Pentingnya pelayanan kepada anggota koperasi dinyatakan Hans Munkner,1989 dalam Mahri) bahwa : “Sesuai dengan tujuan koperasi maka prioritas yang diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota, pertumbuhan perusahaan Koperasi yang berkesinambungan bukanlah tujuan akhir melainkan
15
15
merupakan pembenaran dalam kaitan dengan perbaikan kapasitas koperasi dalam rangka peningkatan kesejahteraan anggota”.
Oleh karena itu untuk memberikan pelayanan yang baik kepada anggota koperasi harus mewujudkannya melalui penyediaan barang dan jasa yang sesuai dengan keinginan anggota dengan penawaran harga, kualitas dan kondisi yang lebih menguntungkan anggota dari pada penawaran yang ditawarkan oleh pasar.
Bentuk-bentuk pelayanan koperasi terhadap produk dan jasa adalah :
1. Bila koperasi menjalankan fungsi pemasaran, maka pelayanan koperasi kepada anggota dalam bentuk menerima/menampung hasil produksi dan memasarkannya.
2. Bila koperasi menjalankan fungsi pengadaan (penyediaan barang/jasa), maka pelayanan koperasi kepada anggota dalam bentuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh anggota.
3. Bila koperasi menjalankan fungsi simpan-pinjam, maka pelayanan koperasi kepada anggota dalam bentuk mempermudah prosedur peminjaman uang. 4. Bila koperasi menjalankan fungsi produksi dan anggota sebagai pekerja di
dalam koperasi, maka pelayanan koperasi kepada anggota dalam bentuk menyediakan sarana produksi yang dapat menunjang kegiatan operasional produksi.
Teori Harga
Harga adalah satuan nilai yang diberikan pada suatu komoditi. Dalam teori ekonomi disebutkan bahwa harga suatu barang atau jasa yang pasarnya bersaing, maka tinggi rendahnya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Faktor terpenting dalam pembentukan harga adalah kekuatan permintaan dan penawaran. Permintaan dan penawaran akan berada dalam keseimbangan pada harga pasar jika jumlah yang diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan.
Harga yang terbentuk untuk suatu komoditas merupakan hasil interaksi antara penjual dan pembeli. Harga yang terjadi sangat dipengaruhi oleh kuantitas barang yang ditransaksikan. Dari sisi pembeli (demand) semakin banyak barang yang ingin dibeli akan meningkatkan harga, sementara dari sisi penjual (supply) semakin banyak barang yang akan dijual akan menurunkan harga. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi permintaan maupun penawaran dalam interaksi pembentukan harga. Namun untuk komoditas pertanian, pembentukan harga disinyalir lebih dipengaruhi oleh sisi penawaran(supply shock) karena sisi permintaan cenderung stabil mengikuti perkembangan trennya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sisi penawaran komoditas pertanian cenderung sulit untuk dikontrol. Studi empiris yang dilakukan oleh Tomek (2000) menyimpulkan dua faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan harga komoditas pertanian yakni faktor produksi/panen (harvest disturbance) dan perilaku penyimpanan (storage/inventory behavior). Walaupun keberhasilan panen sangat dipengaruhi oleh kondisi musim/cuaca yang sifatnya uncontrolable, pengaruh pola tanam terhadap perkembangan harga komoditas pertanian di Amerika Serikat terlihat sangat dominan. Terdapat pola cyclical yang sistematis antara pola tanam dan varians harga komoditas. Varians harga membesar pada saat musim tanam dan mengecil pada saat musim panen. Sementara keberadaan teknologi penyimpanan produk pertanian khususnya untukproduk yang mudah busuk akan mengurangi tekanan fluktuasi harga dari komoditas tersebut.
16
Penawaran dan permintaan untuk komoditas pertanian cenderung bersifat inelastis terhadap perubahan harga. Petani sebagai produsen tidak bisa serta merta meningkatkan produksinya ketika harga mengalami peningkatan. Konsumen juga tidak bisa mengurangi permintaannya ketika harga meningkat karena komoditas pertanian tersebut menjadi kebutuhan pokok. Selain dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan domestik, harga komoditas juga dipengaruhi oleh harga komoditas di pasar internasional. Pada perdagangan bebas, harga komoditas domestik akan bergerak mengikuti harga internasional, sehingga akan lebih volatile jika pemerintah tidak melakukan intervensi.
Kerangka Pemikiran Penelitian
Koperasi dibangun atas dasar kepentingan bersama untuk memenuhi kebutuhan bersama sehingga koperasi memiliki peranan penting sebagai penggerak perekonomian dimana koperasi mampu memainkan perannya sebagai lembaga pendukung dalam kegiatan pertanian. Salah satu perannya yaitu koperasi mampu menghimpun kekuatan untuk memperkuat posisi tawar petani melalui kerjasama baik dibidang ekonomi maupun sosial.
Koperasi petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah merupakan koperasi yang melakukan usaha yang berhubungan dengan komoditi kopi. Secara umum kegiatan yang dilakukan koperasi di kedua kabupaten tersebut meliputi kegiatan teknis seperti memberikan bimbingan teknis pada produksi dan penyuluhan kepada anggota juga meliputi kegiatan pengolahan serta membeli hasil panen kopi anggota dan menjual kembali kopi tersebut ke pihak luar. Koperasi dalam usahanya memberikan pelayanan kepada anggota harus mampu mengupayakan langkah-langkah maupun keputusan yang hendaknya mampu menempatkan anggota untuk dapat merasakan peningkatan kesejahteraan dari adanya pelayanan koperasi. Peran koperasi akan meningkat apabila koperasi menjalankan peran dan fungsinya sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi.
Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi kondisi organisasi, usaha dan keuangan koperasi. Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian, dianalisis faktor -faktor yang mempengaruhi perilaku usaha koperasi menggunakan sistem persamaan simultan. Perilaku usaha koperasi pada penelitian ini adalah proses pengambilan keputusan ekonomi yang akan mengarahkan perkembangan kegiatan koperasi sebagai suatu badan usaha disamping perilaku koperasi sebagai lembaga sosial. Perilaku koperasi berperan dalam menentukan tujuan koperasi sebagai lembaga yang mampu meningkatkan ekonomi anggota. Pengambilan keputusan koperasi untuk melakukan pembelian dan dan penjualan kopi sehingga akan meningkatkan perannya dalam meningkatkan harga kopi yang diterima petani. Perilaku usaha koperasi terdiri dari harga pembelian koperasi, jumlah pembelian kopi koperasi, jumlah penjualan kopi koperasi, jumlah anggota dan SHU koperasi.
Pada penentuan harga dan jumlah pembelian kopi, harga jual kopi koperasi, jumlah penjualan kopi koperasi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi perilaku koperasi tersebut. Persamaan yang dibangun terdiri dari harga pembelian kopi koperasi, jumlah pembelian kopi koperasi, jumlah penjualan kopi koperasi, jumlah anggota koperasi dan sisa hasil usaha koperasi. persamaan sisa hasil usaha koperasi di bangun karena dalam melakukan pembelian dan penjualan kopi pada
17
17
dasarnya tidak terlepas dari adanya proses pengolahan yang dilakukan koperasi terhadap produk kopi yang mengindikasikan adanya selisih harga beli kopi dan harga jual kopi oleh koperasi yang menjadi penerimaan koperasi.
Hasil analisis diharapkan akan dapat memberi gambaran terkait kondisi koperasi sehingga memudahkan koperasi untuk membuat kebijakan yang dapat mensejahterakan anggota dan dapat pula melakukan pengembangan organisasi koperasi. Bagan kerangka pemikiran operasional dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Alur kerangka pemikiran Keuangan Koperasi di Dataran Tinggi Gayo Rasio Keuangan: -Likuiditas -Solvabilitas -Rentabilitas
Organisasi dan Usaha - Karakteristik pengurus - Karakteristik karyawan - Jumlah Anggota - Modal - Volume Usaha - SHU
Faktor yang mempengaruhi perilaku usaha koperasi
-Harga Pembelian -Jumlah Pembelian -Jumlah Penjualan
18
3
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Provinsi Aceh dengan pertimbangan bahwa Aceh merupakan salah satu sentra produksi kopi arabika di Indonesia. Ekspor kopi arabika pada tahun 2013 yang berasal dari Provinsi Aceh mencapai 28.32 persen dari total ekspor kopi arabika Indonesia (67 ribu ton) (Kementan 2014).
Selanjutnya dari Provinsi Aceh dipilih Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan kedua kabupaten tersebut merupakan sentra produksi kopi di Provinsi Aceh. Selain itu, koperasi yang terdapat di kedua kabupaten tersebut memiliki potensi yang besar dan strategis untuk dikembangkan. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Mei 2015.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data kerat lintang (cross section) dari 15 koperasi dan data deret waktu (time series) dari laporan Rapat Anggota Tahunan (RAT) selama 3 tahun yaitu dari tahun 2012 hingga 2014 dari 15 koperasi tersebut. Sumber data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Data Primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan panduan kuisioner atau daftar pertanyaan terstruktur. Data primer berupa data hasil wawancara dengan pengurus koperasi terkait kegiatan koperasi. Data sekunder berupa data dari laporan pertanggung jawaban pengurus atau Rapat Anggota Tahunan (RAT) koperasi. Selain itu, data sekunder meliputi data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti Kementerian Pertanian, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Aceh, BPS Provinsi Aceh, serta hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan rencana penelitian ini dan sumber lainnya.
Metode Pengambilan Sampel
Unit analisis dalam penelitian ini adalah koperasi. Koperasi yang dianalisis adalah seluruh koperasi yang bergerak dalam pemasaran kopi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yaitu sebanyak 21 unit. Dari total 21 unit koperasi tersebut hanya difokuskan pada koperasi yang telah melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2014 dan telah melakukan pemasaran kopi selama tiga tahun terakhir yaitu sebanyak 15 unit koperasi.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dan kuantitatif dilakukan berdasakan data yang diperoleh. Analisis kuantitatif digunakan untuk menggambarkan kondisi umum koperasi mengenai profil koperasi,