• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH HASNAH SABRINA SIREGAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH HASNAH SABRINA SIREGAR"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN, KEBIJAKAN HUTANG, DAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP NILAI

PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

OLEH

HASNAH SABRINA SIREGAR 140502011

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN, KEBIJAKAN HUTANG, DAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP NILAI

PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Kepemilikan Manajemen, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Publik, Kebijakan Hutang, Dan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan (Tobin’s Q) manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Penelitian ini bersifat asosiatif dan jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah populasi perusahaan manufaktur adalah sebanyak 147 perusahaan. Berdasarkan kriteria tertentu jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria sampel adalah sebanyak 25 perusahaan. Teknik yang digunakan adalah teknik regresi linear berganda data panel dengan pendekatan Fixed Effect Model. Hasil penelitian secara serempak menunjukkan pengaruh yang signifikan antara Kepemilikan Manajemen, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Publik, Kebijakan Hutang, Dan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan manufaktur. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa Kepemilikan Manajemen dan Kepemilikan Institusional memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan manufaktur periode 2012-2016. Kepemilikan Publik dan Corporate Social Responsibility memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat nilai perusahaan manufaktur periode 2012-2016. Dan Kebijakan Hutang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

Kata Kunci: Nilai Perusahaan, Kepemilikan Manajemen, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Publik, Kebijakan Hutang, Corporate Social Responsibility, Fixed Effect Model

(7)

ABSTRACT

THE IMPACT OF OWNERSHIP STRUCTURE, DEBT POLICY, AND CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TO

FIRM VALUE OF MANUFACTURE COMPANY WHICH LISTED IN INDONESIA

STOCK EXCHANGE

The purpose of this research is to examine and analyze the impact of Management Ownership, Institution Ownership, Public Ownership, Debt Policy, and Corporate Social Responsibility to Firm Value (Tobin’s Q) of manufacture companies, which listed in Indonesia Stock Exchange. This is an associative research and data used in this research were quantitative data, which taken from company’s financial statement which audited in Indonesia Stock Exchange. The population in this research is all companies that listed to Manufacture Sector in Indonesia Stock Exchange. The amount of population was 147 companies. Based on certain criteria, there are 25 samples. Technique of multiple linear regressions on panel data is used approach using Fixed Effect Model. Simultaneous test in hypothesis results shows that Management Ownership, Institution Ownership, Public Ownership, Debt Policy, and Corporate Social Responsibility have significant effect to Firm Value (Tobin’s Q) of manufacture companies, which listed in Indonesia Stock Exchange. Partial test in hypothesis result shows that Managemet Ownership and Institution Ownership have negative insignificant effect on the Firm Value, while Public Ownership and Corporate Social Responsibility have negative significant effect on Firm Value, and Debt Policy have positive significant effect on Firm Value of manufacture companies, which listed in Indonesia Stock Exchange during 2012-2016.

Keywords: Firm Value, Management Ownership, Institution Ownership, Public Ownership, Debt Policy, Corporate Social Responsibility, Fixed Effect Model

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang atas segala rahmat dan hidayah-Nya peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Struktur Kepemilikan, Kebijakan Hutang dan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini peneliti persembahkan untuk Ayahanda, Alm. Ir. Muhammad Yusri Siregar dan Ibunda, Ir. Evi Sanfitri Nasution. Terima kasih telah membesarkan, mendidik, dan memberikan dukungan moral dan materil serta kasih sayang dan doa yang tidak ternilai mulai dari penulis belajar hingga dapat menyelesaikan pendidikan di Program Studi S1 Manajemen.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE. M.Si. dan Bapak Doli M. Ja’far Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Departemen/Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Syahyunan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan motivasi serta saran kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, selaku Dosen Penguji I dan Ibu

(9)

Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini.

5. Kepada Bapak dan Ibu Dosen Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada penulis selama mengikuti perkuliahan serta staf dan pegawai yang telah banyak membantu selama proses penulisan skripsi.

6. Abangda dan kakanda tersayang Arief Gibran Hidayat Siregar, SP. dan Febri Khairunisa Siregar, yang selalu setia mendoakan dan membantu dalam penyusunan skripsi ini.

7. Sahabat-sahabat terbaik, Dhea, Diah, Nila, Dina, Budi, Ririn, Ninis, Karin, Ripka dan teman-teman seperjuangan dimasa kuliah, Ari, Jenni, Pemere, Cyntia, Irul, Cahyani, Habib, dan Daswin yang senantiasa menolong, mendoakan, dan selalu memberikan semangat.

8. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Akhir kata peneliti berharap skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan dapat dipergunakan untuk menambah pengetahuan dan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.

Medan, Maret 2018 Peneliti,

Hasnah Sabrina Siregar 140502011

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 13

1.3 Tujuan Penelitian ... 13

1.4 Manfaat Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15

2.1. Nilai Perusahaan ... 15

2.2. Struktur Kepemilikan ... 17

2.2.1 Teori Keagenan... ... . 18

2.2.2 Kepemilikan Manajerial ... 20

2.2.3 Kepemilikan Institusional ... 22

2.2.4 Kepemilikan Publik ... 25

2.3 Kebijakan Hutang... ... 28

2.4 Corporate Social Responsibility ... 31

2.5 Penelitian Terdahulu ... 37

2.6 Kerangka Konseptual ... 42

2.6.1 Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan ... 42

2.6.2 Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan ... 43

2.6.3 Kepemilikan Publik Terhadap Nilai Perusahaan ... 44

2.6.4 Kebijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan . 44 2.6.5 Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan ... 45

2.7 Hipotesis Penelitian ... 47

BAB III METODE PENELITIAN ... 48

3.1 Jenis Penelitian ... 48

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 48

3.3 Batasan Operasional ... 48

3.4 Definisi Operasional ... 49

3.4.1 Variabel Terikat (Dependent Variable) ... 49

3.4.2 Variabel Bebas (Independent Variable) ... 49

(11)

3.5 Populasi dan Sampel ... 53

3.5.1 Populasi ... 53

3.5.2 Sampel ... 53

3.6 Jenis Data ... 55

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 55

3.8 Teknik Analisis Data ... 56

3.8.1 Analisis Deskriptif ... 56

3.8.2 Analisis Regresi Data Panel ... 56

3.9 Uji Asumsi Klasik ... 59

3.9.1 Uji Normalitas ... 59

3.9.2 Uji Heteroskedastisitas ... 60

3.9.3 Uji Autokorelasi ... 60

3.9.4 Uji Multikoliniearitas ... 61

3.10 Uji Hipotesis ... 61

3.10.1 Uji Signifikansi Pengaruh Serempak (Uji F) .... 62

3.10.2 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t) ... 62

3.10.3 Koefisien Determinasi (R Square) ... 64

BAB IV HASIL PEELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 65

4.2 Hasil Penelitian ... 73

4.2.1 Analisis Deskriptif ... 73

4.2.2 Analisis Regresi Data Panel ... 76

4.2.3 Uji Asumsi Klasik ... 80

4.2.4 Uji Hipotesis ... 83

4.3 Pembahasan ... 86

4.3.1 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan ... 86

4.3.2 Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan ... 87

4.3.3 Pengaruh Kepemilikan Publik Terhadap Nilai Perusahaan ... 88

4.3.4 Pengaruh Kebijkan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan ... 89

4.3.5 Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan ... 90

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 92

5.1. Kesimpulan ... 92

5.2. Saran ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 94

LAMPIRAN…………. ... 98

(12)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Item Tingkat Pengungkapan CSR ... 35

2.2 Review Penelitian Terdahulu ... 37

3.1 Operasionalisasi Variabel ... 52

3.2 Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian ... 54

3.3 Daftar Perusahaan Manufaktur yang Menjadi Sampel Penelitian ... 54

3.4 Kriteria Pengambilan Keputusan Autokorelasi ... 61

4.1 Hasil Statistik Deskriptif ... 73

4.2 Hasil Uji Chow ... 77

4.3 Hasil Uji Hausman ... 78

4.4 Pengujian Regresi Berganda Model Data Panel... 79

4.5 Uji Heteroskedastisitas dengan Uji Breusch Pagan Godfrey ... 81

4.6 Hasil Uji Autokorelasi dengan Durbin Watson ... 82

4.7 Hasil Uji Multikolinearitas ... 83

4.8 Nilai Statistik dari Uji F, Uji t, dan Koefisien Determinasi ... 84

(13)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

1.1 Kepemilikan Manajerial dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode

2012-2016 ... 7 1.2 Kepemilikan Institusional dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan

Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode

2012-2016 ... 9 1.3 Kepemilikan Publik dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan

Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode

2012-2016 ... 10 1.4 Kebijakan Hutaang dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan

Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode

2012-2016 ... 11 1.5 Corporate Social Responsibilityl dan Tobin’s Q dari Beberapa

PerusahaanManufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Periode 2012-2016 ... 12 2.1 Kerangka Konseptual ... 46 4.1 Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera ... 81

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1. Daftar Kriteria Perusahaan ... 98

2. Data Tobin’s Q, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional Kepemilikan Publik, Kebijakan Hutang, dan Corporate Social Responsibility ... 102

3. Hasil Statistik deskritif ... 106

4. Hasil Uji Chow ... 106

5. Hasil Uji Husman ... 106

6. Pengujian Regresi Berganda Model Data Panel... 107

7. Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera ... 107

8. Uji Heteroskedastisitas dengan Uji Breusch Pagan Godfrey ... 108

9. Hasil Uji Autokorelasi dengan Durbin Watson ... 108

10. Hasil Uji Multikolinearitas ... 108

11. Nilai Statistik dari Uji F, Uji t, dan Koefsien Determinasi ... 109

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perusahaan adalah satu organisasi yang menghasilkan barang dan jasa untuk mendapatkan laba (Ebert dan Griffin, 2015:6). Ini berarti perusahaan memiliki tujuan untuk mendapatkan laba dengan cara memuaskan konsumennya. Jika tujuan perusahaan tersebut tercapai, maka perusahaan akan memiliki nilai yang baik. Nilai perusahaan yang tinggi dapat meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham, sehingga para pemegang saham akan menginvestasikan modalnya kepada perusahaan tersebut.

Perusahaan memiliki nilai yang baik atau tidak dapat dilihat dari harga saham perusahaan tersebut, semakin tinggi harga saham maka semakin mencerminkan nilai perusahaan yang baik. Harga saham yang tinggi dapat menguntungkan pemegang saham, namun juga dapat mengurangi minat calon investor untuk membeli saham perusahaan. Namun calon investor tidak selalu memiliki pendapat seperti itu. Harga saham yang maksimum mencerminkan kemakmuran pemilik saham perusahaan. Cerminan tersebut bisa dijadikan sebagai daya tarik perusahaan untuk menarik calon investor lainnya dengan menunjukkan bahwa nilai perusahaan terus meningkat dengan semakin tingginya harga saham.

Nilai perusahaan dapat diukur dengan Tobin’s Q. Tobin’s Q adalah indikator untuk mengukur kinerja perusahaan, khususnya untuk nilai perusahaan, yang menunjukkan suatu performa manajemen dalam mengelola aktiva manajemen (Sudiyanto dan Puspitasari, 2010). Semakin besar nilai Tobin’s Q menunjukkan bahwa

(16)

2

perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena semakin besar nilai pasar aset perusahaan dibandingkan dengan nilai buku asset perusahaan maka semakin besar kerelaan investor untuk mengeluarkan pengorbanan yang lebih untuk memiliki perusahaan tersebut (Suherman et al., 2015).

Pergerakan nilai perusahaan dapat dipengaruhi oleh masalah antara pemegang saham dan manajemenn perusahaan atau dikenal dengan sebutan masalah keagenan ataupun agency problem. Agency problem merupakan masalah yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan antar pemilik perusahaan dan manajemen perusahaan. Dimana terkadang pihak manajemen memiliki tujuan tersendiri yang bertetangan dengan tujuan perusahaan. Perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang biasa disebut agency conflict, hal tersebut terjadi karena manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi dari manajer karena apa yang dilakukan manajer tersebut akan menambah biaya bagi perusahaan sehingga menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan berpengaruh terhadap harga saham sehingga menurunkan nilai perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Biaya yang ditimbulkan akibat dari pengambilan keputusan yang salah oleh manajemen disebut juga dengan agency cost. Timbulnya agency cost mengharuskan perusahaan untuk mengatur agar biaya yang ditimbulkan tidak merugikan ataupun terlampau besar bagi perusahaan.

Perusahaan dapat meminimaisir agency cost dengan melakukan alternatif yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi agency cost yaitu dengan membagi kepemilikan saham perusahaan antara kepemilikan manajerial,

(17)

3

kepemilikan institusional dan kepemilikan publik. Pembagian kepemilikan saham perusahaan tersebut dapat juga disebut dengan struktur kepemilikan saham perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) mengungkapkan bahwa agency conflict muncul akibat adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan.

Dimana dalam teori keagenan dijelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan yakni manajer, pemilik perusahaan dan kreditor akan berprilaku karena pada dasarhnya mereka memiliki kepentingan yang berbeda.

Kepemilikan manajerial merupakan perbandingan kepemilikan saham manajerial dibandingkan jumlah saham yang beredar di pasar saham. Hal ini berarti kepemilikan manajerial adalah besaran proporsi saham biasa yang dimiliki pihak manajemen yaitu direksi dan komisaris. Adanya kepemilikan saham oleh manajerial, diharapkan manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan para principal karena manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan nantinya dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Struktur kepemilikan lainnya adalah kepemilikan institusional dan kepemilikan publik, dimana pihak institusional adalah pihak yang memiliki hak memonitori perusahaan, sedangkan pemegang saham publik merupakan investor yang berasal dari mayarakat dan tidak memiliki hubugan istimewa dengan perusahaan. Kepemilikan institusional memiliki arti penting dalam memonitor manajemen. Adanya kepemilikan oleh institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal. Semakin tinggi kepemilikan institusional maka akan mengurangi perilaku menguntungkan diri sendiri pada manajer yang dapat mengurangi agency cost yang diharapkan akan meningkatkan nilai perusahaan.

(18)

4

Struktur kepemilikan perusahaan diduga dapat mempengaruhi transparansi informasi dalam laporan tahunan ditinjau dari besarnya kepemilikan publik dibandingkan dengan kepemilikan pihak institusi yang merupakan pihak insider.

Semakin besar porsi kepemilikan publik, akan semakin banyak pihak yang membutuhkan informasi tentang perusahaan, sehingga semakin banyak pula butir- butir informasi yang mendetail yang dituntut untuk diungkapkan dalam laporan tahunan. Hal ini juga dikaitkan dengan tekanan dari pemegang saham agar perusahaan lebih memperhatikan tanggung jawabnya terhadap masyarakat sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan (Ardyanto, 2013).

Mensejajarkan kepentingan pemilik dengan manajer akan berdampak kepada kebijakan-kebijakan yang diambil manajer, seperti kebijakan hutang dan pengungkapan pertanggung jawaban sosial perusahaan. Kebijakan hutang merupakan keputusan keuangan yang sensitif terhadap nilai perusahaan. Nilai perusahaan akan meningkat apabila hutang juga meningkat, sejauh pembayaran bunga dipergunakan untuk mengurangi pajak. Namun pada titik tertentu penggunaan hutang sangat berisiko akibat terjadinya gagal bayar. Kebijakan hutang adalah kebijakan yang diambil oleh pihak manajemen. Jika kebijakan hutang yang dilakukan manajer menyebabkan kerugian bagi perusahaan, maka keputusan yang diambil merupakan keputusan yang salah.

Pemilik perusahaan lebih suka perusahaan menciptakan hutang pada tingkat tertentu agar penggunaan hutang tidak berisiko dan menyebabkan kebangkrutan dan financial distress (Nuraina, 2012). Dalam membuat keputusan sumber pendanaan yang tepat, manajemen harus memperhatikan manfaat bagi investor dan

(19)

5

biaya yang ditimbulkan. Perbedaan tujuan dari pemilik dan manajemen mengenai hutang juga dapat menambah biaya agensi bagi perusahaan.

Tanggung jawab sosial perusahaan juga dapat membantu memaksimalkan nilai perusahaan. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah tanggung jawab yang menjadikan perusahaan tidak hanya berkewajiban atau beroperasi untuk pemegang saham (shareholders) saja namun juga bertanggung jawab sosial terhadap stakeholders. CSR sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan dan sosial dimana perusahaan tersebut berada. Pemikiran tersebut didasarkan pada 3P yaitu (profit, people, planet) menurut Global Compact Initiative yaitu tujuan perusahaan tidak hanya memburu keuntungan ekonomi (profit) namun juga untuk kesejahteraan orang (people), dan memiliki keperdulian terhadap kelestarian lingkungan hidup planet ini.

Di Indonesia kesadaran akan perlunya menjaga lingkungan dan tanggung jawab sosial telah diatur dalam UU Perseroan Terbatas No 40 pasal 74 tahun 2007 yang menjelaskan bahwa perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha yang berhubungan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Ada beberapa perusahaan yang telah menjalankan CSR tapi sangat sedikit yang mengungkapkannya ke dalam sebuah laporan. Alasan mengapa hal itu terjadi mungkin karena belum mempunyai sarana pendukung seperti: standar pelaporan, tenaga terampil baik penyusun laporan maupaun auditor. Selain itu di sektor pasar modal Indonesia belum adanya penerapan indeks untuk saham-saham perusahaan yang telah menerapkan CSR. Sebagai contoh, New York Stock Exchange memiliki Dow Jones Sustainability Indeks (DJSI) dan London Stock

(20)

6

Exchange memiliki Socially Responsible Investement Indeks untuk saham-saham perusahaan yang menerapkan praktik CSR (Hadi, 2011).

Industri manufaktur merupakan salah satu industri yang sangat berkembang terutama di Indonesia. Dengan menghasilkan barang kebutuhan masyarakat yang dipastikan memiliki penjualan yang terus meningkat seiring dengan terus bertambahnya populasi manusian di Indonesia dan juga bertambahnya kebutuhan masyarakat. Perkembangan yang ditunjukkan perusahaan manufaktur dapat menjadi daya tarik bagi investor untuk menanamkan modal, baik itu investor dari pihak manajemen perusahaan, investor institusi, dan investor yang berasal dari publik. Perkembangan tersebut juga bisa menjadi acuan pengambilan keputusan dan kebijakan yang dibuat oleh pihak manajemen, terutama kebijakan pendanaan perusahaan, apakah manajer akan meningkatkan jumlah hutang perusahaan atau bahkan menguranginya, dan juga menjadi daya tarik bagi kreditur sebagai pihak yang memberikan pendanaan berbentuk hutang kepada perusahan.Industri manufaktur menjadi industri yang memiliki tanggung jawab sosial yang cukup besar terhadap lingkungan dimana perusahaan melakukan kegiatan operasionalnya.

Pada UU Perseroan Terbatas No 40 pasal 74 tahun 2007 juga sudah dijabarkan sebelumnya, perusahaan harus bertanggung jawab atas ligkungan sekitarnya.

Perusahaan tidak dapat sembarang membuang limbah, perusahaan membuang limbah dengan mengikuti prosedur pemerintahan agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat sekitarnya.

Peneliti menyajikan data dalam bentuk grafik yang telah diolah menjadi grafik index agar dapat melihat hubungan antar variabel independen yaitu

(21)

7

kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kepemilikan publik, kebijakan hutang (DER), dan corporate social responsibility dengan variabel dependen yaitu nilai perusahaan (Tobin’s Q).

Berikut Gambar 1.1 yang menjelaskan hubungan antara kepemilikan manajerial dan Tobin’s Q dari beberapa perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016:

Gambar 1.1

Kepemilikan Manajerial dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Periode 2012-2016

Pada Gambar 1.1 dapat dilihat pergerakan kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan dari beberapa perperusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016. Pada perusahaan Alkindo Naratama Tbk. (ALDO) tampak hubungan antara kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan menunjukkan hubungan yang berbanding lurus, dimana kepemilikan perusahaan tampak tidak berubah dan nilai perusahaan juga tdak mengalami banyak perubahan.

Namun hubungan kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan tidak selalu berpengaruh positif atau pun berbanding lurus seperti peada perusahaan Eratex

0.00 100.00 200.00 300.00

2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016

ALDO BRAM ERTX MBTO VOKS

KM dan Tobin's Q

KM Tobin's Q

(22)

8

Voksel Electric Tbk. (VOKS). Ketika perusahaaan Eratex Djaja Tbk. (ERTX) mengurangi jumlah kepemilikan manajerialnya pada tahun 2013 dan 2014 tampak nilai perusahaan juga menurun, namun ketika perushaan melakukan banyak peningkatkan pada kepemilikan manajerialnya ditahun 2015 dan 2016 nilai perusahaan mengalami penurunan. Pada perusahaan Indo Kordsa Tbk. (BRAM) pada tahun 2014 melakukan mengurangan jumlah kepemilikan manajerial namun nilai perusahaan tampak meningkat, dan sebaliknya pada tahun 2015 ketika perusahaan meningkatkan jumlah kepemilikan manajerialnya, nilai perusahaan tampak menurun. Sama halnya dengan perusahaan Martina Berto Tbk. (MBTO) pada tahun 2015 dan 2016, begitu juga dengan perusahaan Voksel Electric Tbk.

(VOKS) pada tahun 2013 hingga 2016 yang menambah kepemilikan manajerialnya namun nilai perusahaan mengalami penurunan. Hal ini bertentangan dengan teori yang dikemukakan oleh Ross et al., (1999) mengatakan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial maka manajemen akan termotivasi untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan.

Dalam penelitian Marius dan Masri (2017) menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan dalam penelitian Adnantara (2013) menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak memiliki pengaruh yang terhadap nilai perusahaan.

Hubungan antara kepemilikan Institusional dan Tobin’s Q dari beberapa perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 dapat dilihat pada Gambar 1.2:

(23)

9

Gambar 1.2

Kepemilikan Institusional dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Periode 2012-2016

Gambar 1.2 menunjukkan bahwa kepemilikan institusional juga tidak selalu berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Teori yang dikemukakan Smith, 1996 (dalam Suranta dan Midiastuty, 2004) yang menyatakan bahwa bahwa aktivitas monitoring institusi mampu mengubah struktur pengelolaan perusahaan dan mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham, dengan kata lain dapat meningkatkan nilai perusahaan. Ketidak selarasan teori dengan data yang ada pada Gambar 1.2 sangat terlihat pada perusahaan Alkindo Naratama Tbk. (ALDO) pada tahun 2013 hingga 2015 dan Voksel Electric Tbk. (VOKS) pada tahun 2013 yang melakukan peningkatan pada kepemilikan institusinya namun mengalami penurunn nilai perusahaan.

sedangkan perusahaan Eratex Djaja Tbk (ERTX) menunjukkan ketika jumlah kepemilikan institusi dikurangi, tampak nilai perusahaan mengalami peningkatan.

Kepemilikan institusional pada penelitian Nuraina (2012) menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.. Sedangkan dalam penelitian Adnantara (2013) menghasilkan tidak adanya pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan.

0.00 50.00 100.00 150.00

2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016

ALDO BRAM ERTX MBTO VOKS

KI dan Tobin'Q

KI Tobin's Q

(24)

10

Hubungan antara kepemilikan publik dan Tobin’s Q dari beberapa perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 dapat dilihat pada Gambar 1.3:

Gambar 1.3

Kepemilikan Publik dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Periode 2012-2016

Pada Gambar 1.3 menunjukkan bahwa kepemilikan publik tidak selalu berbanding lurus dengan nilai perusahaan seperti teori yang dinyatakan Ardyanto (2013) yaitu semakin besar jumlah kepemilikan publik maka semakin banyak butir- butir informasi yang diungkapkan perusahaan kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pada perusahaan Eratex Djaja Tbk. (ERTX) tahun 2013 hingga 2014, dan Marina Berto Tbk. (MBTO) tahun 2013 hingga 2016 menunjukkan ketika perusahaan meningkatkan jumlah saham yang berasal dari publik, nilai perusahaan mengalami penurunan. Dan pada perusahaan Voksel Electric Tbk. (VOKS) tampak perusahaan mengirangi jumlah kepemilikan publiknya dan nilai perusahaan mengalai peningkatan.

Penelitian Ardyanto (2013) menunjukkan bahwa kepemilikan publik berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Namun pada

0.00 100.00 200.00 300.00

2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016

ALDO BRAM ERTX MBTO VOKS

KP dan Tobin's Q

KP Tobin's Q

(25)

11

penelitian yang dilakukan Adnantara (2013) menghasilkan kepemilika publik tidak memiliki pengaruh tehadap nilai perusahaan.

Hubungan antara kebijakan hutang (DER) dan Tobin’s Q dari beberapa perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 dapat dilihat pada Gambar 1.4:

Gambar 1.4

DER dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016

Pada Gambar 1.4 dapat dilihat hubungan kebijakan hutang yang diproksikan melalui DER memiliki hubungan yang berbanding terbalik pada perusahaan Alkindo Naratama Tbk. (ALDO), Eratex Djaja Tbk. (ERTX) dan Martina Berto Tbk. (MBTO). Pada perusahaan Alumindo Light Metal Industry Tbk. (ALDO) dan Martina Berto Tbk. (MBTO) pada tahun 2014 hingga 2015 menunjukkan perusahaan meningkatkan rasio kewajiban terhadap ekuitasnya namun nilai perusahaan terus mengalami penurunan. Dan pada perusahaan Eratex Djaja Tbk.

(ERTX) tahun 2014 hingga 2015 tampak perusahaan mengurangi rasio kewajiban terhadap ekuitasnya dan nilai perusahaan mengalami penurunan.

Penelitian yang dilakukan Rustendi dan Jimmi (2008) menunjukkan bahwa

50.000.00 100.00 150.00 200.00

2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016

ALDO BRAM ERTX MBTO VOKS

DER dan Tobin's Q

DER Tobin's Q

(26)

12

kebijakan hutang memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Namun dalam peneltian Hidayah (2014) menunjukkan bahwa hutang tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan.

Hubungan antara corporate social responsibility dan Tobin’s Q dari beberapa perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 dapat dilihat pada Gambar 1.5:

Gambar 1.5

CSRI dan Tobin’s Q dari Beberapa Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016

Pada Gambar 1.5 dapat beberapa perusahaan melakukan peningkatan pengungkapan CSR disetiap tahunnya. Namun peningkatan tersebut tidak selalu menyebabkan nilai perusahaan juga meningkat. Seperti pada perusahaan Indo Kordsa Tbk. (BRAM), Eratex Djaja Tbk. (ERTX), dan Martina Berto Tbk.

(MBTO) pada tahun 2013 sampai dengan 2016 melakukan peningkatan pada pengungkapan tanggung jawab sosialnya, namun nilai ketiga perusahaan tersebut mengalami penurunan terus menerus. Sedangkan perusahaan Voksel Electric Tbk.

(VOKS) menunjukkan CSR dan nilai perusahaan berbanding lurus.

Penelitian yang dilakukan Adnantara (2013) menunjukkan corporate social

100.00 - 200.00 300.00 400.00

2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016

ALDO BRAM ERTX MBTO VOKS

Chart Title

CSRI Tobin's Q

(27)

13

responsibility berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

Sedangkan penelitian oleh Prbady et al., (2017) menunjukkan corporate social responsibility berpengaruh negatif dan signifikan terhadap niali perusahaan.

Berdasarkan fenomena yang disampaikan peneliti diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Struktur Kepemilikan, Kebijakan Hutang dan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, maka perumusan masalahnya adalah apakah Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Publik, Kebijakan Hutang, dan Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur yang tedaftar di Bursa Efek Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Publik, Kebijakan Hutang, dan Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur yang tedaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Calon Investor

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan ketika melakukan investasi pada perusahaan manufaktur di bursa saham, guna melihat apakah

(28)

14

perusahaan yang menerapkan struktur kepemilikan, kebijakan hutang, dan mengungkapkan CSR akan memberikan efek yang baik bagi nilai perusahaan.

2. Bagi Perusahaan

Bagi perusahaan, khususnya bagi manajemen dan pemilik perusahaan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengambil langkah dalam mengatasi agency conflict, pengambilan keputusan pendanaan dan melakukan pengungkapan CSR.

3. Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teori mengenai kepemilikan manajerial, kepemilikan intitusional, kepemilikan publik, kebijakan hutang, corporate social responsibility dan pengaruhnya terhadap nilai perusahaan.

4. Bagi Peneliti

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan khususnya mengenai kepemilikan manajerial, kepemilikan intitusional, kepemilikan publik, kebijakan hutang, corporate social responsibility dan pengaruhnya terhadap nilai perusahaan.

5. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi atau bahan wacana untuk penelitian selanjutnya./

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nilai Perusahaan

Tujuan utama perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Atau dapat dikatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah memaksimumkan nilai perusahaan. Dalam penelitian Utami (2011) pernyataan ini dapat diterima kebenarannya atas dasar beberapa alasan, yaitu:

1. Memaksimalkan nilai berarti mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang. Dana yang diterima pada tahun ini bernilai lebih tinggi dari pada dana yang diterima sepuluh tahun yang akan datang.

2. Memaksimumkan nilai berarti mempertimbangkan berbagai resiko terhadap arus pendapatan perusahaan.

3. Mutu dari arus kas dana diharapkan diterima di masa datang mungkin beragam.

Nilai perusahaan pada dasarnya diukur dari beberapa aspek salah satunya adalah harga pasar saham perusahaan, karena harga pasar saham perusahaan mencerminkan penilaian investor atas keseluruhan ekuitas yang dimiliki. Nilai perusahaan dapat didefinisikan sebagai nilai pasar karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran atau keuntungan bagi pemegang saham secara maksimum jika harga saham perusahaan meningkat. Semakin tinggi harga saham, maka makin tinggi keuntungan pemegang saham sehingga keadaan ini akan diminati oleh investor karena dengan permintaan saham yang meningkatkan menyebabkan nilai perusahaan juga akan meningkat. Nilai perusahaan dapat dicapai dengan maksimal

(30)

16 jika para pemegang saham menyerahkan urusan pengelolaan perusahaan kepada orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya, seperti manajer maupun komisaris.

Rasio-rasio keuangan digunakan investor untuk mengetahui nilai pasar perusahaan. Rasio tersebut dapat memberikan indikasi bagi manajemen mengenai penilaian investor terhadap kinerja perusahaan dimasa lampau dan prospeknya dimasa depan. Salah satu rasio untuk mengukur nilai pasar perusahaan adalah dengan Tobin’s Q. Rasio ini dinilai bisa memberikan informasi paling baik, karena dalam Tobin’s Q memasukkan semua unsur hutang dan modal saham perusahaan, tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya ekuitas perusahaan yang dimasukkan namun seluruh asset perusahaan. Dengan memasukkan seluruh asset perusahaan berarti perusahaan tidak hanya terfokus pada satu tipe investor saja yaitu investor dalam bentuk saham namun juga untuk kreditur karena sumber pembiayaan operasional perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya saja tetapi juga dari pinjaman yang diberikan oleh kreditur (Sukamulja, 2004).

Semakin besar nilai Tobin’s Q menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena semakin besar nilai pasar asset perusahaan dibandingkan dengan nilai buku asset perusahaan maka semakin besar kerelaan investor untuk mengeluarkan pengorbanan yang lebih untuk memiliki perusahaan tersebut (Suherman et al., 2015).

Tobin’s Q yang dikembangkan oleh Prof. James Tobin merupakan harga pengganti (replacement cost) dari biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan aset yang sama persis dengan aset yang dimiliki perusahaan. Rasio ini merupakan

(31)

17 konsep yang berharga karena menunjukkan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap dolar investasi. Arti dari rasio Tobin’s Q adalah: (1) Jika nilai Tobin’s Q di atas satu, menunjukkan bahwa investasi dalam aset menghasilkan laba yang memberikan nilai yang lebih tinggi daripada pengeluaran investasi, hal ini akan meransang investasi baru karena investor menilai perusahaan memiliki kinerja yang baik dan dinilai mampu menghasilkan aliran kas yang lebih baik dimasa yang akan datang. (2) Jika nilai Tobin’s Q dibawah satu, investasi dalam aset dinilai rendah oleh pasar. Hal ini akan menyebabkan investor enggan untuk melakukan investasi pada perusahaan tersebut (Kristianti dan Priyadi, 2016).

Tobin’s Q dapat dirumuskan sebagai berikut (Gil dan Mathur, 2011):

Tobin’s Q = 𝑀𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑜𝑓 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 +𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑉𝑒𝑙𝑢𝑒 𝑜𝑓 𝐷𝑒𝑏𝑡 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑂𝑓 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡

Dimana:

Market Value of Equity : Nilai Pasar dari jumlah lembar saham yang beredar (jumlah saham beredar × closing price)

Book Value of Debt : Total kewajiban perusahaan Book Value of Total Asset : Total Aktiva Perusahaan

2.2 Struktur Kepemilikan

Struktur kepemilikan adalah proporsi kepemilikan perusahaan. Struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan akan memiliki motivasi yang berbeda dalam hal mengawasi atau memonitor perusahaan serta manajemen dan dewan direksinya.

Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik

(32)

18 antara manajemen dan pemegang saham (Faisal, 2005). Struktur kepemilikan dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan manajemen dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme yang dapat mengendalikan masalah keagenan yang ada di suatu perusahaan.

2.2.1 Teori Keagenan

Teori keagenan (agency theory) menjelaskan bahwa hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut (Anthony dan Govindarajan, 2012:269). Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemilik perusahaan dengan manajer sebagai agen perusahaan yang diberikan perkerjaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dalam suatu korporasi, pemegang saham merupakan prinsipal dan pihak manajemen adalah agen mereka. Pemegang saham menyewa manajer dan mengharapkan ia untuk bertindak bagi kepentingan mereka. Ditingkat yang lebih rendah, manajer adalah prinsipal dan karyawan unit bisnis adalah agennya.

Tujuan perusahaan akan tercapai jika pemilik dan manajemen memiliki kepentingan yang sejalan, tanpa ada yang mendahulukan kepentingan pribadi. Namun dalam perusahaan sering terjadi perbedaan kepentingan antara pemilik perusahaan dengan pihak manajemen, dimana terkadang pihak manajemen sering mendahulukan kepentingan pribadinya tanpa mengingat tujuan dan kepentingan perusahaan. Jika hal itu terjadi maka akan timbul yang dinamakan agency problem.

(33)

19 Masalah keagenan sering terjadi karena pihak manajer merasa bahwa tercapainya tujuan perusahaan bukanlah hal yang menguntungkan bagi mereka, melainkan hanya menguntungkan bagi pihak principal. Hal ini dikarenakan pihak manajer tidak atau hanya memiliki sedikit hak kepemilikan perusahaan tersebut.

Menurut Syahyunan (2015:5) masalah keagenan antara pemegang saham (pemilik perusahaan) dengan manajer terjadi apa bila manajer tidak memiliki saham mayoritas perusahaan. Dengan proporsi kepemilikan yang kecil membuat manajer cenderung bertindak untuk kepentingan pribadi seperti memaksimumkan kekayaan sendiri dan bukan untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Untuk memecahkan masalah keagenan, dbutuhkkan pengawasan secara total terhadap kegiatan manajer. Namun hal ini membutuhkan biaya yang mahal dan kurang efisien, dimana biaya ini disebut juga dengan agency cost.

Syahyunan (2015:5) mengungkapkan beberapa alternatif untuk mengurangi agency cost, yaitu:

1. Dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen dan selain itu manajer merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil, dan juga apabila ada kerugian yang timbul sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Kepemilikan ini mensejajarkan kepentingan manajemen dengan pemeganng saham. Dengan demikian maka kepemilikan saham oleh manajemen merupakan insentif bagi para manajer untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

2. Dengan pendekatan dividen payout ratio, dengan demikian tidak tersedia cukup banyak free cash flow sehingga manajemen tidak memiliki kesempatan

(34)

20 untuk berinvestasi yang tidak sesuai dengan keinginan pemegang saham.

3. Institutional investor sebagai monitoring agent. Distribusi saham antara pemegang saham dari luar yaitu institusional investor dan share holder deperion dapat mengurangi agency cost. Hal ini karena kepemilikan mewakili suatu sumber kekuasaan (source of power) yang dapat digunakan untuk mendkung atau sebaliknya menentang terhadap keberadaan manajemen.

adanya kepemilikan oleh investor institusional seperti perusahaan asuransi, bank perusahaan investasi atau institusi lain akan mendorong peningkatan pengawasain yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.

Dari tiga penangan masalah keagenan diatas, solusi pertama merupakan salah satu yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu dengan meningkatkan bagian kepemilikan manajemen agar pihak manajemen juga merasakan manfaat yang sama dengan pemilik jika tujuan perusahaan tecapai. Hal ini dapat dilakukan perusahaan dengan membentuk struktur kepemilikan saham perusahaan, dimana perusahaan membagi kepemilikan antara saham milik manajemen dan saham milik institusi, yang sering disebut juga kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional.

2.2.2 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah situasi dimana manajer memiliki saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham (Tjeleni, 2013). Adanya kepemilikan manajemen dalam sebuah perusahaan akan menimbulkan dugaan yang menarik bahwa nilai perusahaan meningkat sebagai akibat kepemilikan manajemen yang meningkat.

Menurut Jensen dan Meckling (1976), ketika kepemilikan saham oleh

(35)

21 manajemen rendah maka ada kecenderungan akan terjadinya perilaku opportunistic manajer yang akan meningkat juga. Adanya kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan maka dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara manajemen pemegang saham lainnya sehingga permasalahan antara agen dan principal diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer juga sekaligus sebagai pemegang saham.

Menurut Itturiaga dan Sanz (2000) struktur kepemilikan manajerial dapat dijelaskan dari dua sudut pandang yaitu pendekatan keagenan (agency approach) dan pendekatan ketidakseimbangan (asymmetricinformation approach).

Pendekatan keagenan menganggap struktur kepemilikan manajerial sebagai sebuah instrument atau alat untuk mengurangi konflik keagenan diantara beberapa klaim (claim holder) terhadap perusahaan. Pendekatan ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme struktur kepemilikan manajerial sebagai suatu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi antara insider dan outsider melalui pengungkapan informasi di dalam pasar modal.

Ross et al., 1999 menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan manjemen dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk berusaha untuk meningkatkan kinerjanya untuk kepentingan pemegang saham dan untuk kepentingannya sendiri. Meningkatkan kepemilikan saham oleh manajemen akan mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham karena dengan memiliki sebagian saham dari perusahaan maka manajer akan merasakan sendiri manfaat dari setiap keputusan yang akan diambilnya, sehingga manajemen akan termotivasi untuk meningkatkan nilai perusahaan.

(36)

22 Kepemilikan perusahaan merupakan salah satu mekanisme yang dapat dipergunakan agar pengelolaan aktivitas sesuai dengan kepentingan pemilik perusahaan. Meningkatkan kepemilikan manajerial dapat digunakan sebagai cara untuk mengatasi masalah keagenan. Manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya yang juga merupakan keinginan dari para pemegang saham, semakin besar proporsi kepemilikan saham manajerial pada perusahaan maka manajemen cenderung berusaha lebih giat untuk kepentingan pemegang saham yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Kepemilikan saham manajerial akan membantu penyatuan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, sehingga manajer ikut merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan ikut pula menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah.

Variabel Kepemilikan Manajemen (KM) dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

KM = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘 𝑚𝑎𝑛𝑎𝑗𝑒𝑚𝑒𝑛

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

× 100

2.2.3 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan Institusional merupakan presentase saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga (perusahaan asuransi, dana pensiunan, atau perusahaan lain) (Nuraina, 2012). Kepemilikan institusional merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Adanya kepemilikan oleh investor institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen, karena kepemilikan saham mewakili suatu sumber

(37)

23 kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap kinerja manajemen.

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki peranan yang sangat penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi antara manajer dan pemegang saham. Keberadaan investor institusional dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajer. Hal ini disebabkan investor institusional terlibat dalam pengambilan yang strategis sehingga tidak mudah percaya terhadap tindakan manipulasi laba.

Menurut Faizal (2004) perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen. Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan dan diharapkan juga dapat bertindak sebagai pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan oleh manajemen. Semakin tinggi kepemilikan institusional maka akan mengurangi perilaku menguntungkan diri sendiri pada manajer yang dapat mengurangi agency cost yang diharapkan akan meningkatkan nilai perusahaan.

Penelitian Smith, 1996 menunjukkan bahwa aktivitas monitoring institusi mampu mengubah struktur pengelolaan perusahaan dan mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Hal ini didukung oleh Cruthley et al., 1999 yang menemukan bahwa monitoring yang dilakukan institusi mampumensubstutisi biaya keagenan lain sehingga biaya keagenan menurun dan nilai perusahaan meningkat.

Ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh Investor institusional sangat

(38)

24 tergantung pada besarnya investasi yang dilakukan. Semakin besar kepemilikan oleh institusi keuangan maka akan semakin besar kekuatan suara dan dorongan institusi keuangan untuk mengawasi manajemen dan akibatnya akan memberikan dorongan yang lebih besar untuk mengoptimalkan nilai perusahaan sehingga kinerja perusahaan juga akan meningkat.

Keberadaan investor institusional dapat menunjukkan mekanisme corporate governance yang kuat yang dapat digunakan untuk memonitor manajemen perusahaan. Pengaruh investor institusional terhadap manajemen perusahaan dapat menjadi sangat penting serta dapat digunakan untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan para pemegang saham. Hal tersebut disebabkan jika tingkat kepemilikan manajerial tinggi, dapat berdampak buruk terhadap perusahaan karena dapat menimbulkan masalah pertahanan, yang berarti jika kepemilikan manajerial tinggi, mereka memiliki posisi yang kuat untuk melakukan kontrol terhadap perusahaan dan pihak pemegang saham eksternal akan mengalami kesulitan untuk mengendalikan tindakan manajer. Hal ini disebabkan tingginya hak voting yang dimiliki manajer (Gunarsih, 2003). Adanya pengawasan yang optimal terhadap kinerja manajer maka akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Naja (2004:70) mengungkapkan bahwa masalah corporate governance merupakan masalah yang timbul sebagai akibat pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut antara lain karena karakteristik kepemilikan dalam perusahaan, seperti:

1. Kepemilikan Menyebar. Ditemukan bahwa perusahaan yang kepemilikannya

(39)

25 lebih menyebar memberikan imbalan yang lebih besar kepada pihak manajemen daripada perusahaan yang kepemilikannya lebih terkonsentrasi.

2. Kepemilikan Terkonsentrasi. Dalam tipe kepemilikan seperti ini timbul dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling interest (kepemilikan saham pengendalian) dan minorit interest (kepemilikan saham minoritas) (shareholders).

3. Kepemilikan dalam BUMN. Kepemilikan dalam BUMN mempunyai artian khusus bahwa pemiliknya tidak dapat mengontrol secara langsung perusahaannya. Pemilik hanya diwakili oleh pejabat yang ditunjuk.

Kesepakatan dapat terjadi antara wakil pemilik dengan manajemen ataupun wakil pemilik dan pihak manajemen dengan kreditur.

Kepemilikan Institusional (KI) dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

KI = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘 𝑖𝑛𝑠𝑡𝑖𝑡𝑢𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

× 100%

2.2.4 Kepemilikan Publik

Kepemilikan publik adalah proporsi atau jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh publik atau masyarakat umum yang tidak memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan (Wijayanti, 2009:20). Perusahaan dalam meningkatkan nilainya dibutuhkan sumber pendanaan, baik internal maupun eksternal. Sumber pendanaan eksternal dapat diperoleh melalui saham dari masyarakat atau yang disebut juga dengan saham publik. Untuk menggerakkan ekonomi secara riil tidak bisa hanya dari konsumsi, secara fundamental diperlukan

(40)

26 investasi. Salah satunya adalah investasi di pasar modal.

Berdasarkan fakta, pasar modal Indonesia digerakkan oleh investor dengan jumlah terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia belum berakar (Nur’aeni 2010). Pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap pengembangan pasar modal, dengan tujuan untuk membangun pasar modal kita yang efisien dan berdaya saing kuat. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan ini yaitu dengan meningkatkan proporsi kepemilikan saham oleh masyarakat (publik).

Penyertaan saham oleh masyarakat mencerminkan adanya harapan dari masyarakat bahwa pihak manajemen perusahaan akan mengelola saham tersebut dengan sebaik- baiknya dan dibuktikan dengan tingkat laba dan kinerja perusahaan yang baik.

Menurut Rosma (2007) dalam Nur’aeni (2010) kepemilikan publik menunjukkan besarnya private information yang harus dibagikan manajer kepada publik. Private information tersebut merupakan informasi internal yang semula hanya diketahui oleh manajer, seperti standar yang dipakai dalam pengukuran kinerja perusahaan, keberadaan perencanaan bonus, dan sebagainya. Semakin besar saham yang dimiliki oleh publik, akan semakin banyak informasi yang diiungkapkan dalam laporan tahunan, investor ingin memperoleh informasi seluas- luasnya tentang tempat berinvestasi serta dapat mengawasi kegiatan manajemen, sehingga kepentingan dalam perusahaan terpenuhi. Ardyanto (2013) mengungkapkan semakin banyak butir-butir informasi yang mendetail yang dituntut untuk diungkapkan dalam laporan tahunan. Hal ini juga dikaitkan dengan tekanan dari pemegang saham agar perusahaan lebih memperhatikan tanggung jawabnya terhadap masyarakat sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

(41)

27 Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa publik mempunyai peran penting dalam menciptakan well-functioning government system karena mereka memiliki financial interest dan bertindak independen dalam menilai manajemen.

Semakin besar persentase saham yang ditawarkan kepada publik, maka semakin besar pula internal yang harus diungkapkan kepada publik sehingga kemungkinan dapat mengurangi intensitas terjadinya manajemen laba.

Kepemilikan perusahaan oleh publik mempunyai kekuatan yang besar dalam mempengaruhi perusahaan melalui media massa berupa kritikan atau komentar yang semuanya dianggap suara publik atau masyarakat. Adanya konsentrasi kepemilikan luar menimbulkan pengaruh dari pihak luar sehingga mengubah pengelolaan perusahaan yang semula berjalan sesuai keinginan perusahaan itu sendiri menjadi memiliki keterbatasan (Hilmi dan Ali, 2008). Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perusahaan yang tingkat kepemilikan publiknya lebih tinggi akan lebih cenderung tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya.

Kepemilikan saham oleh publik juga dapat bertindak sebagai pihak yang memonitor perusahaan. Perusahaan dengan kepemilikan publik yang besar (lebih dari 5%) mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen. Semakin besar kepemilikan publik maka semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan dan diharapkan juga dapat bertindak sebagai pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan oleh manajemen.

Kepemilikan Publik (KP) dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(42)

28 KP = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

× 100

2.3 Kebijakan Hutang

Hutang didefinisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang mungkin timbul dimasa mendatang dari kewajiban organisasi sekarang untuk mentransfer asset atau memberikan jasa ke pihak lain dimasa mendatang, sebagai akibat transaksi atau kejadian dimasa lalu. Hutang mucul terutama karena penundaan pembayaran untuk barang atau jasa yang telah diterima oleh organisasi dan dari dana yang dipinjam (Hanafi, 2010:29).

Dalam pengambilan keputusan mengenai hutang, sebelumnya para manajer harus mempertimbangkan besarnya biaya tetap yang akan muncul dari hutang berupa bunga yang akan menyebabkan semakin meningkatnya leverage keuangan dan semakin meningkatnya ketidak pastian pengembalian bagi para pemegang saham biasa. Pengambilan keputusan hutang tersebut dapat disebut juga dengan kebijakan hutang. Kebijakan hutang merupakan keputusan yang sangat penting dalam perusahaan. Dimana kebijakan hutang merupakan salah satu bagian dari kebijakan pendanaan perusahaan. Selain itu kebijakan hutang perusahaan juga berfungsi sebagai mekanisme monitoring terhadap tindakan manajer yang dilakukan dalam pengelolaan perusahaan. Kebijakan hutang dapat di pengaruhi oleh karakteristik khusus perusahaan yang memepengaruhi kurva penawaran hutang pada perusahaan atau permintaan atas hutang.

Menurut Harmono (2011:137), Kebijakan Hutang adalah keputusan pendanaan oleh manajemen akan berpengaruh pada nilai perusahaan yang terfleksi

(43)

29 pada harga saham. Oleh karena itu, salah satu tugas manajer keuangan adalah menentukan kebijakan pendanaan yang dapat memaksimalkan harga saham yang merupakan cerminan dari suatu nilai perusahaan.

Menurut Wongso (2012), Peningkatan hutang dapat diartikan oleh pihak luar perusahaan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya di masa depan atau perusahaan memiliki resiko bisnis yang rendah. Hal tersebut kemudian akan direspon positif oleh pasar. Peningkatan pendanaan melalui hutang juga merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi biaya keagenan. Hutang dapat mengendalikan manajer untuk mengurangi tindakan yang tidak efisien dan kinerja perusahaan menjadi lebih efektif sehingga penilaian investor terhadap perusahaan akan meningkat.

Ada beberapa teori yang mengenai kebijakan hutang, sebagai berikut:

1. Teori Pendekatan Modigliani dan Miller (1963)

Menurut Brigham dan Houston (2011:179) pada teori ini mereka berpendapat bahwa dengan asumsi tidak ada pajak, tidak adanya informasi asimetris antara pihak manajemen dengan para pemegang saham, dan pasar terlibat dalam kondisi yang efisien, maka value yang bisa diraih oleh perusahaan tidak terkait dengan bagaimana perusahaan melakukan strategi pendanaan. Setelah menghilangkan asumsi tentang ketiadaan pajak, hutang dapat menghemat pajak yang dibayar karena hutang menimbulkan pembayaran bunga yang mengurangi jumlah penghasilan yang terkena pajak sehingga nilai perusahaan bertambah. Akan tetapi kelemahan dari teori ini tidak mempertimbangkan

(44)

30 biaya yang timbul dari akibat berhutang, sehingga akan mengakibatkan juga terjadinya kebangkrutan.

2. Trade off theory ( Teori Pertukaran )

Menurut Brigham dan Houston (2011:183), menyatakan bahwa “Dimana perusahaan menukar manfaat pajak dari pendanaan utang dengan masalah yang ditimbulkan oleh potensi kebangkrutan”. Berdasarkan Teori Modigliani dan Miller (1963) mengatakan bahwa semakin besar hutang yang digunakan semakin tinggi nilai perusahaan. Dengan kata lain, Semakin besar proporsi hutang, akan semakin besar perlindungan pajak yang diperoleh, tetapi semakin besar pula biaya kebangkrutan yang mungkin timbul.

3. Teori signaling

Menurut Brigham dan Houston (2011:185), menyatakan bahwa “Jika manajer memiliki keyakinan bahwa prospek perusahaan baik dan karenanya ingin agar harga saham meningkat, manajer tersebut tentunya ingin mengkomunikasikan hal tersebut kepada para investor. Manajer bisa saja menggunakan hutang yang lebih banyak yang nantinya berperan sebagai sinyal yang lebih terpercaya. Ini karena perusahaan yang meningkatkan utang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan dimasa yang akan datang.

Investor diharapkan akan menangkap sinyal tersebut, sinyal yang mengindikasikan bahwa perusahaan mempunyai prospek yang prospektif dimasa depan. Jadi, kita dapat menyimpulkan dari penjelasan diatas bahwa hutang merupakan tanda atau signal positif dari nilai perusahaan”.

(45)

31 Kebijakan hutang diukur dengan debt equity ratio (DER) yang merupakan perbandingan dari total hutang yang dimiliki perusahaan dengan total ekuitasnya.

Debt to equity Ratio (DER) merupakan salah satu rasio pengelolaan modal yang mencerminkan kemampuan perusahaan untuk membiayai usaha dengan pinjaman yang disediakan oleh pemegang saham. DER dihitung dengan cara membagi total hutang (termasuk kewajiban lancar) dengan kekayaan pemegang sahamnya. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya:

1. Para kreditur akan melihat modal sendiri perusahaan atau dana yang disediakan pemilik untuk menentukan besarnya margin pengaman.

2. Dengan mencari dana yang berasal dari hutang pemilik memperoleh manfaat mempertahankan kendali perusahaan dengan investasi terbatas.

3. Jika perusahaan memperoleh hasil yang lebih besar daripada yang dipinjam, maka hasil pengembalian untuk para pemilik akan meningkat.

Kebijakan hutang yang diproksikan melalui rasio debt to equity dirumuskan sebagai berikut:

DER= 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠

2.4 Corporate Social Responsibility

Menurut World Business Council in Sustainable Development, corporate social responsibility adalah komitmen dari perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan secara meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan

(46)

32 masyarakat luas. Sedangkan menurut World bank (bank dunia) mendefinisikan CSR sebagai berikut:

“CSR is commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives, the local community and society at large to improve quality of live, in ways that are both good for business and good for development.”

Maksud dari definisi di atas adalah CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan suatu komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan yang dapat bekerja sama dengan karyawan dan perwakilan mereka, masyarakat sekitar dan masyarakat yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas hidup, dengan cara yang baik bagi bisnis maupun pengembangan.

Menurut Boone dan Kurtz (2012) pengertian tanggung jawab sosial (social responsibility) secara umum adalah dukungan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan keuntungan, kepuasan pelanggan dan kesejahteraan masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja perusahaan.

Menurut Nor Hadi (2011:48) pengertian CSR merupakan suatu satu bentuk tindakan yang berangkat dari pertimbangan etis perusahaan yang diarahkan untuk meningkatkan ekonomi, yang disertai dengan peningkatan kualitas hidup bagi karyawan berikut keluarganya, serta sekaligus peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar dan masyarakat secara lebih luas.

Konsep CSR sebagai salah satu tonggak penting dalam manajemen korporat. Meskipun konsep CSR baru dikenal pada awal tahun 1970-an, namun

(47)

33 konsep tanggung jawab sosial sudah dikemukakan oleh Howard R. Bowen pada tahun 1953. Carroll (1991), mengemukakan teori piramida Corporate Social Responsibility, dimana tanggung jawab sosial perusahaan dapat dilihat berdasarkan empat jenjang, yaitu:

1. Economic responsibilities. Tanggung jawab sosial perusahaan yang utama dalah tanggung jawab ekonomi karena lembaga bisnis terdiri dari aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa bagi masyarakat secara menguntungkan.

2. Legal responsibilities. Masyarakat berharap bisnis dijalankan dengan mentaati hukum dan peraturanyang berlaku yang pada hakikatnya dibuat oleh masyarakat melalui lembaga legislatif.

3. Ethical responsibilities Masyarakat berharap perusahaan menjalankan bisnis secara etis yaitu menunjukan refleksi moral yang dilakukan oleh pelaku bisnis secara perorangan maupun kelembagaan untuk menilai suatu isu di mana penilaian ini merupakan pilihan terhadap nilai yang berkembang dalam suatu masyarakat.

Verecchia (1991) menyatakan dari sudut pandang ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut akan meningkatkan nilai perusahaan. Dengan menerapkan Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan maka perusahaan akan memperoleh legitimasi sosial dan akan memaksimalkan ukuran keuangan untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan Corporate Social Responsibility berharap akan direspon positif

Referensi

Dokumen terkait

Optical Add Drop Multiplexing (OADM) merupakan perangkat yang digunakan untuk menambah ( add ) dan mengurangi (drop) panjang gelombang pada suatu link komunikasi.. Untuk

Tabel 4.31 :Jawaban Responden Dengan Pertanyaan Apakah Sungguh-Sungguh Merasa Pasti, Sangat Percaya Terhadap Iklan TV Pengobatan Alternatif 86. Tabel 4.32 : Alasan Responden

If this is a revision of a previous submission and you have a Change Request Number, then check here: Enter the CR number here:. Enter the Revsion Number that you are

[r]

Menimbang : bahwa untuk mencapai daya guna dan hasil guna pelaksanaan Program Peningkatan Administrasi Pertanahan khususnya kegiatan Konsolidasi Tanah Perkotaan di

Judul karangan ilmiah harus dipikirkan secara sungguh-sungguh dengan memperhatikan persyaratan, antara lain: (1) Judul harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian

Wavan Teguh Wibawan, MS Dr.dr.. Ketua Program Studi Bioteknologi

The results showed that there are some houses that had suffered from dengue included in the unhealthy category, such as: the absence of the ceiling, the trash that does not