1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak adalah bagian dari generasi penerus bangsa merupakan salah satu menjadi sumber daya manusia yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang memiliki peranan stratergis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang memerlukan pembinaan dan perlindungan fisik, sosial, mental secara utuh. Bagi bangsa Indonesia anak merupakan subyek dan modal pembangunan nasional demi terciptanya masyarakat adil dan mamkmur sesuai dengan amanat Undang-Undang 1945. Pembentukan sebagai penerus cita-cita bangsa anak memerlukan pembinaan, bimbingan khusus agar dapat berkembangnya fisik dan mentalnya secara maksimal.1 Dalam proses pembinaan anak akan terjadi proses pembentukan tata nilai anak-anak remaja. Tata nilai tersebut terbentuk dari berbagai faktor, baik faktor diri dalam anak maupun dari lingkungan sekitar anak. Dalam hal ini keluarga termasuk orang tua harus memahami proses pembentukan nilai anak-anak mereka, dalam hal ini akan berhadapan dengan banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan nilai-nilai dalam diri anak mempengaruhi pola relasi dan interaksi antar sesama oranglainnya. Faktor pembentukan tata nilai anak diantaranya keluarga, agama, lingkungan sekolah, dan lingkungan sekitar daerah tempat tinggal anak. Seperti
1 Guntarto Widodo, Sistem Pemidanaan Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Fakultas Hukum Universitas Pamulang, jurnal Vol. 6 No.1, Maret 2016, hal 59.
2 dua sisi koin, pembentukan nilai anak memilki dampak ganda dalam diri anak seperti berperilaku sopan terhadap orang lain, hal ini merupakan perkembangan secara positif terhadap diri anak. Namun pergaulan terhadap anak memiiki dampak negatif pula seperti melakukan perbuatan asusila, menganggu ketentraman kepada masyarakat yang menyebabkan anak berhadapan dengan hukum.
Hukum berisi norma-norma yang hidup dalam masyarakat, norma hukum merupakan sebuah perumusan nilai-nilai dalam berperilaku yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Nilai-nilai tersebut lahir dari pola piker manusia untuk menetapkan sebuah norma guna memberikan rasa keadilan bagi setiap manusia guna memelihara keteriban didalam masyarakat.
Kenyataan hidup bahwa manusia itu tidak sendiri. Manusia hidup berdampingan, bahkan berkelompok-kelompok. Hubungan ini terjadi berkenaan dengan kebutuhan hidup yang tidak mungkin selalu dapat dipenuhi sendiri. Kebutuhan hidup manusia bermacam-macam.
Pemenuhan kebutuhan hidup tergantung dari hasil yang diperoleh melalui daya upaya yang dilakukan untuk memperoleh kemakmuran dan kesejahtreaan lahir dan batin. Hal ini dapat tercapai apabila masyarakat mempunyai kesadaran untuk berperilaku serasi dengan kepentingan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat yang diwujudkan dengan bertingkah laku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Perilaku yang tidak sesuai dengan norma atau dapat disebut sebagai penyelewengan terhadap norma yang telah disepakati ternyata menyebabkan
3 terganggunya ketertiban dan ketentraman kehidupan manusia. Penyelewengan yang demikian, biasanya oleh masyarakat dicap sebagai suatu pelanggaran bahkan kejahatan. Kejahatan dalam kehidupan masyarakat merupakan gejala sosial yang akan selalu dihadapi oleh setiap manusia, masyarakat, dan bahkan negara.
Objektivitas pada kajian ini adalah analisis putusan terhadap kasus anak merupakan amanah dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Setiap anak mempunyai harkat dan martabat yang patut dijunjung tinggi dan setiap anak yang terlahir harus mendapatkan hak-haknya tanpa anak tersebut meminta.2 Hal ini sesuai dengan ketentuan Konvensi Hak Anak yang diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 yang mengemukakan tentang prinsip-prinsip umum perlindungan anak, yaitu nondiskriminasi, kepentingan terbaik anak, kelangsungan hidup, tumbuh kembang, dan menghargai partisipasi anak3
Anak sebagai individu yang belum dewasa perlu mendapatkan perlindungan hukum/yuridis (legal protection) agar terjamin kepentingannya sebagai anggota masyarakat. Masalah menegaskan hak-hak anak dan hukum anak, pada dasarnya sama dengan masalah penegakan hukum secara keseluruhan. Berdasarkan uraian diatas penulis hendak mendalami apakah
2 Syahrir, M. H. (2016). Tinjauan Yuridis Terhadap Pencurian yang Dilakukan Oleh Anak di bawah Umur (Analisis Komparatif antara Hukum Islam dan Hukum Nasional) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).
3 Rika Saraswati, Hukum Perlindungan Anak di Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 2015, hal 1.
4 penjatuhan pidana tehadap terhadap anak tersebut telah diterapkan sesuai perundang-undangan yang berlaku dan mempertimbangkan hak-hak anak pelaku tindak pidana tersebut. Karena penjatuhan pidana tersebut akan menentukan masa depan anak tersebut.4
Pasal 1 ayat (3) undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dijelaskan bahwa perlindungan anak adalah segala bentuk kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapar hidup, tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara optimali sesuai dengan harkat dan martabat serta mendapat perlindungan dari setiap perlakuan kekerasan dan diskriminatif.
Setiap anak yang berhadapan dengan hukum berhak memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. Mulai dari penangkapan, pemeriksaan, penahanan atau sanksi pidana terhadap anak yang dilakukan oleh anak.
Perlindungan hukum anak merupakan upaya perlindungan dari berbagai kebebasan dan hak asasi anak. Bentuk perlindungan hukum terhadap anak pelaku kejahatan seperti pendampingan dari petugas, pemeriksaan dilakukan tanpa adanya tekanan dan ancaman, masa penahanan yang singkat dibanding orang dewasa, tersedianya fasilitas khusus anak seperti ruang pemeriksaan khusus anak termasuk pemisahan anak dari tahanan orang dewasa.5
Upaya-upaya perlindungan anak harus telah dimulai sedini mungkin, agar kelak dapat berpartisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan
4 Verawati, V, Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pencurian dengan Kekerasan oleh Anak di bawah Umur. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan), Vol. 4. No.4, 2020
5 Opcit., Guntarto Widodo, hal 61.
5 negara. Dalam Pasal 2 ayat (3) dan (4) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, ditentukan bahwa “Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa kandungan maupun sesudah dilahirkan. Anak berhak atas perlindungan-perlindungan lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar. ”Kedua ayat tersebut bermaksud untuk mengupayakan perlakuan yang benar dan adil, untuk mencapai kesejahteraan anak.6
Guna mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur maka masalah kriminalitas perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak. Maka dibutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat sehingga kriminalitas yang tidak dapat dihilangkan tersebut dapat dikurangi intensitasnya semaksimal mungkin.
Kondisi yang terjadi dalam masyarakat sering terjadinya kejahatan seperti penjambretan, pembegalan, pencurian, pelecehan seksual, juga perusakan benda pribadi, tawuran yang dilakukan oleh anak-anak remaja maupun orang dewasa. Kejahatan tersebut bias disebut dengan street crime karena kejahatan tersebut terjadi diluar ruangan atau dijalanan.
Beberapa tahun lalu terdapat sebuah berita7 yang cukup hangat untuk diperbincangkan di surat kabar surat kabar konvensional (koran) maupun elektronik (televisi, media sosisal, dll). Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa
6 Nashriani, Perlindungan HUKUM PIDANA bagi anak di Indonesia: PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal 1.
7 https://www.kompasiana.com, Pelajar Pembunuh Begal Karena Membela Diri Terancam Masuk Penjara Seumur Hidup, acsess 7 April 2022
6 seorang pelajar berumur dibawah 18 tahun menusuk salah satu pelaku begal dengan pisau yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Terdapat sebuah kasus pembunuhan begal yang terjadi di Malang pada bulan September tahun 2019 lalu yang dilakukan oleh seorang pelajar Sekolah Menengah Atas. Pada kasus ini, korban yang dalam posisi akan membela diri saat kedaan terpaksa sampai membunuh pembegal tersebut harus dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian.8 Pelajar tersebut terpakasa membunuh untuk upaya pembelaan diri dan melindungi pacaranya dari ancaman pemerkosaan oleh kawanan begal tersebut. Namun beberapa hari setelah kejadian tersebut sang pelajar ditangkap oleh pihak kepolisian setempat untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya karena menghilangkannya nyawa seseorang.
Saat proses persidangan jaksa menuntut pelajar tersebut menuntut sanksi seumur hidup dengan dakwaan Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tantang pembunuhan berencana yang menerangkan bahwa pidana mati atau pidana penjara seumur hidup bila dengan sengaja memiliki rencana untuk menghilangkan nyawa orang lain. Atas perbuatannya hakim memvonis sang pelajar satu tahun pembinaan Kemasyarakatan di lembaga kesejahteraan sosial anak Darul Aitam di Wajak Kab Malang.
Pada tahun 2020 terdapat juga kasus yang tindak pidana yang dilakukan oleh seorang anak. Anak yang masih duduk dibangku sekolah tengah pertaman tersebut membunuh temannya yang masih berumur 5 tahun dan disimpan
8 Dewi, A. A. S. L., & Karma, N. M. S.. Tinjauan Yuridis terhadap Pembelaan Terpaksa (Noodweer) sebagai Alasan Penghapus Pidana. Jurnal Preferensi Hukum, Vol. 1, No.1, 2020, hal 196.
7 didalam lemari. Bukan dengan sengaja pelaku melakukan pembunuhan tersebut, pelaku memiliki trauma dimasa lalu dimana pelaku merupakan korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh kedua paman dan kekasihnya.
Dalam hal ini perbuatan pelaku merupakan kesedihan dan kekewaan yang dialami oleh pelaku sehingga dia melampiaskan kepada temannya sendiri.
Dalam perbuatannya tersebut hakim memvonis pelaku dengan pasal dengan Pasal 76C UU RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, juncto Pasal 80 Ayat (3) UU RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan dijatuh pidana 2 tahun penjara dan ditempatkan di Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPSK) Handayani Jakarta.9
Dalam hal ini undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem perradilan anak mengatur penegakan sistem peradilan anak ditinjau aspek kepentingan anak mulai dari aspek fisik, psikologis dan rohani anak. Sehingga saat anak yang telah melakukan tindak pidana hak-hak anak telah dilindungi oleh undang-undang. Dalam undang-undang no 11 tahun 2012 SPPA menjadi pembeda bagi sistem peradilan biasa anak. Meskipun dapat dikatakan anak telah melakukan tindak pidana pembunuhan, penganiayaan yang menyebabkan mati, pelecehan seksual. Undang undang SPPA telah mengatur hak-hak anak dalam melindungi kepentingan guna meperhatikan masa depan anak sebagai penerus bangsa.
9 https://megapolitan.kompas.com, Dua Tahun Lalu, Remaja Serahkan Diri Usai Bunuh Balita, Terinspirasi Film Slender Man, access 15 April 2022
8 Sistem pemidanaan yang sampai sekarang terkadang masih memperlakukan anak-anak yang terlibat sebagai pelaku tindak pidana itu seperti pelaku tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa. Anak ditempatkan dalam posisi sebagai seorang pelaku kejahatan yang patut untuk mendapatkan hukuman yang sama dengan orang dewasa dan berlaku di Indonesia. Pemidanaan itu sendiri lebih berorientasi kepada individu pelaku atau biasa disebut dengan pertanggungjawaban individual atau personal (Individual responsibility) dimana pelaku dipandang sebagai individu yang mampu untuk bertanggung jawab penuh terhadap perbuatan yang dilakukannya.
Dalam putusan NOMOR 5/Pid.Sus-Anak/2016/PN Slw. Dalam masa pemeriksaan anak ditempatkan dalam Rumah Tahanan Negara (RUTAN) yang mana rutan merupakan tempat penahanan bagi orang yang berhadapan dengan hukum. Sedangkan dalam pasal 32 ayat (5) dijelaskan demi keamanan anak yang berhadapan dengan hukum, anak ditempatkan di LPKS. Hal ini menjadikan kurangnya perlindungan hukum terhadap anak, dimana tidak ada pemisahan tempat penahanan dewasa dan penahanan anak. Hal ini dapat memberikan dampak bagi anak dari aspek psikis dan fisik anak.
Pasal 3 Undang-undang no 11 tahun 2012 SPPA menyatakan, setiap Anak dalam proses peradilan pidana berhak di antaranya, Diperlakukan secara manusiawi dengan memperhatikan kebutuhan sesuai dengan umurnya, Dipisahkan dari orang dewasa, Melakukan kegiatan rekreasional, Bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi,
9 serta merendahkan derajat dan martabatnya, Tidak dijatuhi pidana mati atau pidana seumur hidup, Tidak ditangkap, ditahan, atau dipenjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan dalam waktu yang paling singkat.
Dalam hal ini alasan penulis memilih judul TINDAKAN YURIDIS NORMATIF PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA BERAT MENURUT HUKUM PIDANA INDONESIA dilihat dari maraknya pelaku tindak pidana tidak hanya dilihat dari orang dewasa saja namun anak anak juga terlibat dalam kasus tindak pidana yang bukan semestinya dilakukannya. setiap anak merupakan penerus generasi bangsa, banyak faktor yang mempengaruhi perbuatan anak yang dapat menjadikan anak pelaku tindak pidana.
B. Rumusan Masalah
Adapun lingkup pembahasan yang akan diteliti dalam penulisan ini berupa kebijakan yuridis normatif terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana berat menurut hukum pidana Indonesia. Agar terarah dan tepatnya sasaran penulisan maka pembahasan akan memiliki fokus kajian sebagai berikut:
1. Bagaimana kebijakan hukum pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana berat?
2. Bagaimana perlindungan hukum kepada anak sebagai pelaku tindak pidana berat?
10 C. Tujuan Penulisan
Beberapa perumusan masalah yang diklasifikasiakan diatas mencakup tujuan dan maksut tulisan yang dituangkan kedalam hubungan sebab akibat (kausal) menjadi bebarapa dibawah ini:
1. Untuk mengetahui kebijakan hukum pidana dalam hal melindungi anak sebagai pelaku tindak pidana berat.
2. Untuk mengetahui perlindungan hukum kepada anak sebagai pelaku tindak pidana berat.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan landasan yang tertera diatas dan perumusan masalah yang dijabarkan secara rinci serta maksut dan tujuan yang ditunagkan didalam tujuan penulisan, dengan ini besar harapan dapat memberikan manfaat kepada para khalayak pegiat hukum pidana yakni sebagai berikut:
1. Bagi Akademisi Hukum, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan terhadap pembaruan hukum pidana bagi mahasiswa hukum dan para akademisi.
2. Bagi aparat penegak hukum, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas terhadap perkembangan hukum pidana khususnya terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana.
3. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang perkembangan hukum pidana.
11 4. Bagi Penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan baru bagi penulis terhadap pengetahuan lebih bagi penulis dan pembaca, wadah penerapan ilmu selama menempuh kuliah, serta guna menyelesaikan tugas akhir untuk menuntaskan Pendidikan S1.
E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai pembelajaran, serta hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pengetahuan tambahan bagi penulis dan pembaca sehingga dapat memberikan wawasan bagi masyarakat luas tentang perkembangan hukum pidana.
F. Metode Penulisan
1. Penelitian Normatif (Normatvef Legal Research)
Penelitian ini akan disusun dengan menggunakan tipe penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif. Dengan pendekatan Normatif, yaitu pendekatan yang menggunakan konsepsi legis positivis. Konsep ini memandang hukum identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat yang berwenang. Konsep ini memandang hukum sebagai sistem normatif yang bersifat mandiri, tertutup dan terjadi kehidupan masyarakat yang nyata.
12 2. Sumber dan jenis bahan hukum
Penelitian atau penulisan hukum yang menggunakan metode yuridis normatif secara umum menggunakan data yang terarah pada penelitian data primer dalam penelitian atau penulisan hukum, data sekunder
a) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan yang mengikat dan terdiri yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari KUHP (kitab undang-undang hukum pidana), Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan undang undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak.
b) Bahan hukum sekunder, memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti hasil karya dari kalangan hukum, jurnal ilmiah, buku-buku yang relevan dan media internet.
c) Bahan hukum tersier, yaitu jenis bahan hukum yang menunjang bahan hukum premier dan sekunder seperti Wikipedia, KBBI.
3. Teknik pengumpulan bahan hukum
Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah studi pustaka (library research). Teknik studi pustaka ini berupa peraturan undang-undang, buku-buku, kitab-kitab, jurnal, artikel, internet, dan bahan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
Teknik penulisan berikutnya adalah analisis putusan, dalam penelitian ini menganalisis secara mendalam putusan yang telah incrah oleh hakim ditingkat pengadilan negeri, dan terakhir adalah menjelajahi internet,
13 yang didapatkan dari menjelajahi internet adalah bahan hukum tersier yang diharapkan dapat menunjang segala kebutuhan dalam penulisan ini.
4. Teknik Analisa Data
Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan pada penelitian ini merupakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Teknik ini dilakukan dengan menguraikan data secara sistematis dengan memakai ukuran kualitatif dan kemudian di deskripsikan. Kemudian dari semua bahan hukum yang telah terkumpul akan dilakukan Analisa penulisan secara terperinci berdasarkan susunan yang sistematis menurut kebutuhan primer, sekunder, dan tersier agar terarahnya penulisan.
G. Sistematika Penulisan
1. BAB I : PENDAHULUAN
Kajian bab I ini memuat hal-hal yang melatar belakangi pemilihan topik dari penulisan skripsi dan sekaligus menjadi pengantar umum dalam memahami penulisan secara keseluruhan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab II ini, penulis akan menjelaskan secara umum terkait teori hukum yang akan penulis pakai dengan menjabarkan secara konseptual
14 tentang Tindak Pidana, Teori Pemidanaa terhadap anak, Hukum Pidana Positif.
3. BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab III ini penulis menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana berat dan penulis perlindungan hukum anak sebagai pelaku tindak pidana.
4. BAB IV : PENUTUP
Bab IV ini merupakan bab terakhir atau penutup yang didalamnya berisikan suatu kesimpulan dari hasil pembahasan penelitian hukum, dan beberapa saran-saran dari peneliti sehubungan dengan penulisan yang dibahas.