BAB III
STUDI KASUS
A. Identitas Pasien
Pasien berinisial An. NR, jenis kelamin perempuan, usia pasien 9 tahun 5 bulan, saat ini An. NR bertempat tinggal di Sidanegara, Purbalingga. An. NR beragama islam, sisi dominan kanan. Diagnosis medis pasien adalah ADHD, diagnosis topis dan diagnosis kausatif tidak diketahui, diagnosis Okupasi Terapi yaitu productivity pada keterampilan pre-writing skills dalam aktivitas mewarnai.
B. Data Subjektif 1. Initial Assesment
Berdasarkan interview dan observasi pada tanggal 11 Januari 2020 diperoleh data bahwa pasien cara bicara An. NR tampak cepat dan belum bisa merangkai kalimat panjang, artikulasi juga tidak begitu jelas. Orang tua pasien mengeluhkan An. NR banyak gerak dan tidak bisa diam. Pasien An. NR dirujuk di Okupasi Terapi pada umur 4 tahun. Pasien saat ini menempuh pendidikan Sekolah Dasar kelas 2 di salah satu sekolah di Purbalingga. Harapan orang tua An. NR mampu mengontrol gerakan dan mampu melakukan aktivitas mewarnai dengan baik dan benar.
2. Observasi Klinis
Berdaraskan observasi pada tanggal 16 Januari 2020 di ruang rehabilitasi Okupasi Terapi RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, An. NR berpenampilan rapi namun terdapat banyak bekas luka. Perilaku anak cukup aktif dan kooperatif (mampu menerima perintah). Cara berjalan tidak ada gangguan namun banyak gerak atau hiperaktif. Pada mobilitas, anak tampak kurang bisa mengontrol gerakannya ketika melakukan aktivitas, anak cenderung suka berlari ketika menghampiri sesuatu. Pasien mampu mengikuti sesi terapi dari awal sampai akhir dan semangat. Saat kegiatan belajar tampak anak sulit berkonsentrasi, anggota tubuh sering bergerak dan duduk yang kurang tenang. Anak berperilaku cukup patuh terahadap perintah dari terapis tetapi tampak superior ketika mengerjakan aktivitas. Anak sering meminta aktivitas permainan yang tampak atau terlihat di sekitarnya. Saat aktivitas table top menulis dan mewarnai, konsentrasi dan atensi cukup tetapi tubuh tampak kurang bisa mempertahankan posisinya, sering berdiri, bergerak ke kanan dan ke kiri saat duduk sehingga membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan tugasnya.
Begitu pula dengan kualitas tulisan maupun coretannya, arah gerak masih belum sesuai dan tampak berlebihan. Kemampuan melihat atau imitasi “cukup” tetapi untuk memahami dan menuliskan atau mengcopy pada bentuk yang kompleks masih belum optimal.
Kemampuan kognitif terhadap konsep terutama angka dan huruf masih kurang.
3. Data Screening
Berdasarkan hasil screening test menggunakan blangko Screening Pediatric yang dilakukan pada tanggal 16 Januari 2020, diperoleh informasi dari orang tua dan assesment dari terapis, pasien berinisial An. NR yang berumur 9 tahun 5 bulan. An. NR adalah anak dari kehamilan pertama dengan persalinan normal, dilakukan di rumah dibantu dengan dukun bayi dan bidan. Disaat usia kandungan 9 bulan mengalami trauma atau jatuh. Pada usia kehamilan 2 – 4 bulan ibunya suka mengkonsumsi minuman instan seperti minuman extra jos dicampur dengan susu. An. NR pernah mengalami kejang pertama pada saat usia 1 tahun dan kejang kedua pada usia 6 tahun. Pasien saat ini duduk dibangku Sekolah Dasar (SLB) kelas 2. Menurut informasi dari ibu pasien, Perkembangan Milestones dilewati sesuai dengan tahapan usia perkembangannya tetapi tidak bisa menyebutkan pencapaian dibulan berapanya. Ibu pasien sangat mengeluhkan perilaku hiperaktif karna anak tidak bisa diam saat kegiatan belajar di sekolah. Untuk kemampuan bicaranya bermasalah tetapi ibunya masih bisa memahami maksud kata kata yang diucapkan. Perilaku pasien saat bermain tidak suka menyendiri (exstrovert), gembira, kooperatif, dan hiperaktif (banyak gerak). Kontak mata An. NR hanya bisa mempertahankan 5 detik, atensi 15 detik, dan rentang konsentrasi dan
toleransi frustasi pasien yaitu mampu melanjutkan dan menyelesaikan aktivitas dengan perintah.
An. NR mempunyai banyak bekas luka garukan di tangan dan kakinya. Ketrampilan sensori motor pasien normal. Keterampilan motorik halus pasien “SEDANG” yaitu mampu memulai dan menggunakannya secara fungsional tetapi masih perlu bantuan untuk mempertahankannya. Aktivitas pre-writing skill masih belum optimal terutama kemampuan mengcopy. Untuk menggunting, pasien mampu melakukan tapi belum rapi. Cara bicara An. NR menggunakan bahasa Indonesia tetapi artikulasi tidak jelas. Pada Keterampilan Gerak Sensori Perseptual masih belum optimal sehingga untuk memulai gerakan dan arah gerak masih perlu bantuan. Sensori An. NR tidak bermasalah diarea tactile, visual, dan auditori. Pada AKS anak tidak mengalami masalah pada ADL nya, mampu melakukan dengan beberapa aktivitas dengan supervisi.
4. Model Treatment / Kerangka Acuan yang Digunakan
Kerangka Acuan yang digunakan adalah Kerangka Acuan Sensori Integrasi.
C. Data Objektif
Data objektif merupakan ringkasan dari blangko-blangko yang sesuai dengan problem pasien dan kerangka acuan yang digunakan. Data objektif didapatkan dari pemeriksaan motorik halus, pemeriksaan konsep atau presepsi, pemeriksaan ADHD-T (Attention Deficit Hyperactivity Disorder Test), pemeriksaan Short Sensory Profile, dan pemeriksaan VMI.
1. Pemerikaan Motorik Halus
Berdasarkan hasil screening test menggunakan blangko Okupasi Terapi pada perkembangan motorik halus anak yang dilakukan pada tanggal 16 Januari 2020, fungsi anggota gerak normal, tangan dominan kanan, kemampuan menggengam, melepas, dan mendapatkan benda cukup baik. Kemampuan bilateral dapat dilakukan dengan baik seperti meronce dan melepas manik-manik tipe besar, menarik kertas dan membalik halaman, menggunting kertas, dan tidak ada hambatan pada gerakan supinasi dan pronasi. Keterampilan memegang pensil tipe tripod graps, dalam aktivitas mewarnai anak belum mampu mewarnai gambar dengan rapi dan masih keluar garis, kemampuan pre-writing skills (|, −, ⃝, /, +, , \, , ) pada mengimitasi masih perlu arahan,
namun pada mengcopy anak tampak kesulitan terutama untuk mengcopy bangun yaitu persegi dan segitiga. Kualitas garis belum konsisten tampak kurang ketebalanya, mampu memulai gerakan namun masih sering berlebihan. Kontrol gerak masih belum optimal.
2. Pemeriksaan Short Sensory Profile
Pemeriksaan sensory dilakukan menggunakan blangko pemeriksaan Short Sensory Profile, diperoleh hasil pada tactile sensivity (sensivitas taktil) skor 32/35, taste/smell sensitivity (sensivitas bau) skor 12/20, movement sensivity (sensivitas gerakan) skor 12/15, underresponsive/seeks sensation (tidak responsif/mencari sensori tertentu) skor 15/35, audiotory filtering (penyaring suara) skor 17/30,
low energy (lemah/kurang berenergi) skor 28/30, visual/audiotory sensivity (sensivitas pengelihatan dan pendengaran) skor 22/25. Dari penilaian diatas dapat di interpretasikan bahwa anak mengalami underresponsive/seeks sensation (tidak responsif/mencari sensori tertentu) dan audiotory filtering (penyaring suara). Total dari keseluruhan adalah skor 138/190 yang berarti definite diference (mengalami gangguan).
3. Pemeriksaan Konsep atau Persepsi Anak
Berdasarkan pemeriksaan Okupasi Terapi pada Konsep atau Persepsi anak didapatkan hasil bahwa pasien belum optimal dalam menghitung, anak baru mampu menghitung sampai dengan angka 0-10 dan melabel beberapa warna.
4. Pemeriksaan ADHD-T (Attention Deficit Hyperactivity Disorder Test) Berdasarkan pemeriksaan Attention Deficit Hyperactivity Disorder Test (ADHD-T) dapat di interpretasikan bahwa An. NR pada hyperactivity (23/13/84%), implusivity (18/11/63%), inattention (19/14/91%) dan disimpulakan An. NR mendapatkan total kesuluruhan 117 yang berarti masih diatas rata-rata (above average).
5. Pemeriksaan Okupasi Terapi pada VMI
Berdasarkan pemeriksaan VMI dapat diperoleh informasi bahwa VMI mendapatkan skor 12 yang berarti kemampuan anak sangat rendah setara dengan usia 4 tahun 6 bulan. Persepsi visual mendapatkan skor 20 yang berarti kemampuan anak dibawah rata-rata setara dengan usia 7
tahun 4 bulan. Motor koordinasi mendapatkan skor 20 yang berarti kemampuan anak dibawah rata-rata setara dengan usia 7 tahun 4 bulan.
D. Pengkajian Data
1. Rangkuman Data Subjektif Dan Objektif
An. NR di diagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dengan tanda dan gejala seperti perilaku hiperaktif dan ada gangguan bicara. An. NR mempunyai kemampuan kognitif yang belum optimal terutama konsep hitung dan baca tulis. Saat mengikuti program terapi anak tampak rapi dan kooperatif walaupun atensi dan konsentrasi belum optimal terutama masih suka menggerakan badan dan kontak mata terhadap objek disekitar masih sering muncul.
Keterampilan motorik halus masih belum optimal terutama untuk aktivitas mengcopy bentuk dan tulisan. Dalam aktivitas mewarnai anak belum mampu mewarnai gambar dengan rapi dan masih keluar garis.
Kontrol arah gerak saat menulis anak masih belum optimal, masih tampak kesulitan dalam memahami pola bentuk dan tulisan. Untuk aktivitas ADL anak mampu dengan beberapa aktivitas melalui supervisi. Pemeriksaan sensori tampak anak selalu menunjukan perilaku banyak bergerak dan suka berganti aktivitas meskipun belum selesai. Anak juga tampak mengalami gangguan konsep dan persepsi ditunjukan dengan keterbatasan dalam berhitung dan kesalahan dalam melabel beberapa warna.
2. Aset
An. NR tampak kooperatif setiap menjalani sesi terapi.
Kerjasama dengan orang tua juga cukup baik, setiap berangkat terapi An. NR selalu diantar oleh ibunya begitu pula saat sekolah.
Ketrampilan motorik halus yaitu anak mampu memegang pensil dengan baik pada posisi tripod. Komunikasi anak sudah dua arah dan cukup mampu untuk menerima perintah sederhana.
3. Limitasi
An. NR mempunyai perilaku yang hiperaktif atensi dan kontak mata kurang. Komunikasi mampu tetapi artikulasi yang belum optimal.
Ketrampilan dalam mengcopy tulisan seperti membuat segitiga dan persegi masih kurang. Kemampuan kognitif dan persepsi yang belum sesuai dengan level kemampuan seusianya. Saat aktivitas terapi dan kegiatan belajar disekolahnya anak tampak masih suka bergerak dan mudah terdistraksi oleh benda dan orang disekitarnya.
4. Prioritas Masalah
Berdasarkan prinsip client centered seharusnya proritas masalah hiperaktifitasnya tetapi melihat An. NR adalah anak sekolah kelas 2 SLB yang membutuhkan ketrampilan menulis yang cukup maka prioritas masalah yang dipilih yaitu ketrampilan pre-writing skill nya. Sebagai dasar dalam membuat tujuan terapi yaitu meningkatkan kontrol gerak tubuh melalui pemberian aktivitas vestibular dan proprioceptive serta memfasilitasi ketrampilam motorik halusnya.
Meningkatkan atensi dan konsentrasinya melalui aktivitas yang disukainya.
5. Diagnosis Okupasi Terapi
An. NR mengalami gangguan produktivitas sebagai anak sekolah yaitu aktivitas menulis atau pre-writing skill.
E. Perencanaan Terapi
1. Long Term Goal (LTG) :
Pasien mampu mewarnai gambar segitiga dan persegi dengan pola pre-writing skills secara mandiri pada posisi duduk di meja dalam 12 kali sesi terapi.
2. Short Term Goal (STG) : a. Short Term Goal (STG) 1
Pasien mampu mewarnai gambar persegi dengan arah arsiran atas ke bawah dan kanan ke kiri yang telah disediakan oleh terapis secara mandiri dalam 2 kali sesi terapi.
b. Short Term Goal (STG) 2
Pasien mampu mewarnai gambar segitiga dengan arah arsiran atas ke bawah dan kanan ke kiri yang telah disediakan oleh terapis secara mandiri dalam 2 kali sesi terapi.
c. Short Term Goal (STG) 3
Pasien mampu mewarnai gambar segitiga dengan arah arsiran miring kanan dan ke kiri yang telah disediakan oleh terapis secara mandiri dalam 2 kali sesi terapi.
d. Short Term Goal (STG) 4
Pasien mampu mewarnai gambar persegi dan segitiga sesuai contoh gambar yang telah disediakan oleh terapis secara mandiri dalam 2 kali sesi terapi.
3. Strategi
Strategi atau teknik yang digunakan adalah teknik sensory diet dengan merencanakan dan penjadualan program aktivitas yang dilakukan untuk menemukan kebutuhan sensori vestibular dan proprioceptive anak. Organizing Techniques, teknik ini dapat membantu anak yang aktif dan atraktif. Active engagement yaitu dengan memberikan aktvitas mewarnai untuk anak mampu mengcopy bentuk segitiga dan persegi.
4. Frekuensi
Untuk memenuhi program terapi, frekuensi untuk melaksanakan terapi yaitu 2 kali dalam seminggu. Tujuanya agar program terapi dapat tercapai dengan maksimal.
5. Durasi
Durasi yang diperlukan dalam sesi terapi adalah 60 menit selama sesi terapi.
6. Media Terapi
Bola basket, trampolin, tangga, page board geometri, perosotan serta media mewarnai seperti kertas HVS, spidol, bolpoin, dan crayon.
7. Home Program
Diharapkan pasien mampu melakukan akivitas yang berhubungan dengan kegiatan mewarnai, menggunting, menebalkan garis sesuai pola yang ditentukan, dan untuk orang tua pasien selalu memotivasi An. NR serta memonitoring aktivitas tersebut agar dilakukan secara rutin.
F. Pelaksanaan Terapi
Dalam sub bab pelaksanaan terapi akan memuat informasi tentang tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam proses terapi. Tahapan- tahapan terapi yang dilakukan meliputi adjunctive activity, enabling activity, purposefull activity, dan occupational performance.
1. Adjunctive Activity
Adjunctive activity merupakan tahapan awal aktivitas terapi sebelum menggunakan purposefull activity yang bertujuan untuk An.
NR tertarik melakukan aktivitas yang bersemangat, dan menumbuhkan kepercayaan diri dari anak tersebut sebelum memulai aktivitas dalam proses terapi.
a. Aktivitas berdo’a bersama
Aktivitas ini bertujuan agar anak mampu duduk tegak dengan tenang dan meningkatkan keakraban antara terapis dan anak, sehingga anak lebih aktif melakukan aktivitas terapi selanjutnya.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Anak diposisikan duduk di matras menghadap terapis.
2) Pada tahap ini terapis mengajak anak untuk berjabat tangan, memberi salam, dilanjutkan kegiatan berdoa bersama terapis sebelum melanjutkan aktivitas selanjutnya.
3) Dan terapis mengajarkan posisi tangan saat berdo’a dan meminta pasien untuk meniruya.
Safety precaution yang harus diperhatikan oleh terapis yaitu, sebaiknya mainan disimpan terlebih dahulu supaya anak tidak mudah terdistraksi. Aktivitas ini dilakukan pada setiap pertemuan.
Gambar 3.1. Aktivitas berdo’a bersama b. Aktivitas bermain trampolin
Aktivitas ini bertujuan untuk menurunkan hyperaktiv anak.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Anak diposisikan berdiri diatas trampolin berhadap-hadapan dengan terapis.
2) Terapis menginstruksikan pasien untuk bermain di trampolis sambil berhitung.
Pada aktivitas ini, strategi yang adalah sensory diet diterapkan ketika terapis memberikan aktivitas tersebut ke pasien untuk menemukan kebutuhan sensori vestibular dan proprioceptive anak. Akivitas tersebut dilakukan secara berututan dan intruksi harus jelas dan tegas. Safety precaution anak selalu didampingi dan diawasi oleh terapis agar tidak terjatuh dan dijauhkan dari benda yang memiliki sisi tajam atau tumpul.
Gambar 3.4. Aktivitas bermain di trampolin 2. Enabling Activitity
Enabling activity merupakan tahapan aktivitas lanjutan setelah adjunctive activity. Aktivitas pada enabling dilakukan dengan menggunakan media (therapy equipment). Aktivitas yang diberikan pada tahap enabling bertujuan agar memberikan stimulasi sensori untuk melanjutkan persiapan gerakan ke arah aktivitas fungsional yang menjadi program terapi.
Safety precaution dalam tahap ini peralatan terapi yang tidk digunakan sebaiknya disimpan terlebih dahulu agar pasien tidak mudah terdistraksi.
a. Aktivitas naik-turun di spider walk
Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan mood, menurunkan hyperaktivitasnya, melatih atensi, konsentrasi, kontak mata, dan bisa memberikan input proprioceptive, tactile, dan vestibular pada pasien An. NR.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Anak diposisikan berdiri didampingi terapis dibelakangnya.
2) Terapis mengintruksikan untuk menaiki anak tangga dan turun sesuai urutan satu-persatu di spider-walk dengan pelan-pelan.
Pada aktivitas ini, strategi yang adalah sensory diet diterapkan ketika terapis memberikan aktivitas tersebut ke pasien untuk menemukan kebutuhan sensori vestibular dan proprioceptive anak. Akivitas tersebut dilakukan secara berututan dan intruksi harus jelas dan tegas. Safety precaution anak selalu didampingi dan diawasi oleh terapis agar tidak terjatuh dan dijauhkan dari benda yang memiliki sisi tajam atau tumpul.
Gambar 3.2. Aktivitas naik-turun spider walk b. Aktivitas lempar tangkap bola
Aktivitas ini bertujuan untuk melatih atensi, konsentrasi anak, dan melatih koordinasi mata dan tangan anak.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Anak diposisikan berdiri berhadap-hadapan dengan terapis.
2) Terapis mempersiapkan bola yang akan digunakan.
3) Pasien melakukan aktivitas lempar tangkap bola dengan terapis dengan jumlah yang jelas.
Pada aktivitas ini, strategi yang adalah active engagement, yaitu pada aktivitas bermain bola. Safety precaution pada aktivitas ini, diharapkan terapis memastikan permukaan bola tidak terdapat benda tajam yang membahayakan anak dan selalu didampingi.
Gambar 3.3. Aktivitas lempar tangkap bola
c. Aktivitas memasang page board geometri
Aktivitas ini bertujuan untuk untuk melatih atensi, konsentrasi, dan kontak mata pasien An. NR agar tetap fokus dan tidak mudah terdistraksi.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Anak diposisikan duduk tegak di kursi pada aktivitas table top.
2) Terapis menginstruksikan pasien untuk memasang page board satu persatu hingga terbentuk geometri di page board tersebut.
Pada aktivitas ini, strategi yang digunakan adalah organizing techniques yaitu dengan memberikan aktivitas yang berhubungan ke aktivitas selanjutnya yaitu anak mampu aktif dan atraktif mengikuti aktivitas tersebut. Dan active engagement yaitu diterapkan saat bermain balok geometri. Safety precaution saat melakukan aktivitas, anak selalu di awasi oleh terapis dan dipastikan benda tersebut tidak menyakiti atau tidak memiliki sisi yang tajam atau tumpul.
Gambar 3.5. Akrivitas memasang page board geometri
d. Aktivitas menyusun page board
Aktivitas ini bertujuan untuk melatih presepsi dan motorik halus anak. Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Pasien diposisikan duduk tegak di kursi pada aktivitas table top.
2) Terapis menginstruksikan pasien untuk menyusun page board satu persatu.
Strategi yang digunakan adalah organizing techniques yaitu dengan memberikan aktivitas yang berhubungan ke aktivitas selanjutnya yaitu anak mampu aktif dan atraktif mengikuti aktivitas tersebut. Dan active engagement yaitu diterapkan saat menyusun balok. Safety precaution saat melakukan aktivitas, anak selalu di awasi oleh terapis dan dipastikan benda tersebut tidak menyakiti atau tidak memiliki sisi yang tajam atau tumpul dan tidak dimakan oleh anak.
Gambar 3.6. Aktivitas menyusun page board 3. Purposefull Activitity
Pada tahap ini aktivitas yang diberikan harus aktivitas yang bertujuan dan mengarah ke aktivitas fungsional yang diharapkan dapat terbentuk dengan baik di kemudian harinya. Pada tahap ini An. NR
harus selalu di ingatkan agar tidak melakukan aktivitas yang diberikan tersebut dengan kesalahan dan selalu di ingatkan, diarahkan ke tahap yang benar.
a. Aktivitas pemberian simulasi bentuk persegi dan segitiga
Aktivitas ini bertujuan agar pasien mampu memahami dan melebel gambar seperti “segitiga” dan “persegi” dan pasien mudah membedakan antar bangun ruang tersebut.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Pada aktivitas pemberian simulasi bentuk persegi dan segitiga, pasien diposisikan duduk tegak di kursi pada aktivitas table top.
2) Terapis menginstruksikan pasien untuk menirukan apa yang dikatakan oleh terapis, seperti “ ini persegi ya, bentuknya kotak”
dan “ini segitiga ya, bentuknya segitiga tumpul”.
Strategi yang digunakan pada aktivitas ini organizing techniques yaitu dengan memberikan aktivitas yang berhubungan ke aktivitas selanjutnya yaitu anak mampu aktif dan atraktif mengikuti aktivitas tersebut. Safety precaution saat melakukan aktivitas, anak selalu di dampingi oleh terapis dan dipastikan benda tersebut tidak menyakiti atau tidak memiliki sisi yang tajam atau tumpul.
Gambar 3.7. Aktivitas pemberian simulasi bentuk persegi dan segitiga
4. Occupational Performance
Pada tahap ini aktivitas yang digunakan adalah aktivitas fungsional yang diharapkan untuk dapat dilakukan oleh An. NR, yaitu mampu melakukan aktivitas mewarnai gambar persegi dan segitiga dengan pola arsiran pre- writing skills secara mandiri tanpa bantuan terapis pada posisi duduk di meja.
a. Aktivitas mewarnai gambar persegi dan segitiga
Aktivitas ini bertujuan agar pasien mampu mengerti dan memahami pola pre-writing skills dengan aktivitas mewarnai yang baik, benar, dan tidak keluar garis atau mewarnainya tidak berantakan. Aktivitas ini dilakukan dengan cara:
1) Pada aktivitas mewarnai bentuk persegi dan segitiga (gambar 3.8 dan 3.9), pasien diposisikan duduk tegak di kursipada aktivitas table top.
2) Terapis memberikan kertas HVS ke pasien yang sudah tertera gambar segitiga dan persegi lalu di instruksikan untuk memulai mewarnai.
3) Pola mewarnai di gradasi menggunakan tahap-tahap pre-writing skills, seperti pola arsiran atas ke bawah, pola arsiran kanan ke kiri, pola arsiran miring kanan atau kiri.
Strategi yang digunakan adalah active engagement dengan memberikan aktvitas mewarnai agar anak mampu berpartisipasi dan mampu mengerti dan memahami pola arsiran pada pre-writing skills. Safety precaution saat melakukan aktivitas mewarnai, anak selalu di dampingi oleh terapis dan dipastikan benda tersebut tidak menyakiti atau tidak memiliki sisi yang tajam atau tumpul.
Gambar 3.8. Aktivitas mewarnai bentuk persegi
Gambar 3.9. Aktivitas mewarnai bentuk segitiga
Terapis selalu mengingatkan An. NR apabila ada urutan aktivitas yang salah, misalnya ketika pasien mulai mengerjakan aktivitas tersebut dengan mudah mengalihkan perhatian atau mudah terdistraksi dan tidak sesuai perintah. Dan dilanjutkan
kegiatan penutupan yaitu doa bersama terapis lalu berpamitan ke terapis.
G. Re-Evaluasi
1. Re-evaluasi Data Subjektif
Berdasarkan observasi yang dilakukan pada tanggal 20 Februari 2020 diperoleh bahwa anak sangat kooperatif, tidak banyak menolak saat diberi intruksi ketika melakukan kegiatan terapi. Kontak mata An.
NR mampu mempertahankan 15 detik dan atensi 30 detik. Pada aktivitas pre-writing skills, kemampuan membuat garis lebih terarah dan ketebalan mulai terlihan konsisten, kemampuan menebalkan garis atau pola mandiri, pada kemampuan mengimitasi anak mampu tanpa arahan, namun pada kemampuan mengcopy masih perlu arahan dari terapis.
2. Re-evaluasi Data Objektif a. Pemerikaan Motorik Halus
Berdasarkan hasil screening test ulang menggunakan blangko Okupasi Terapi pada perkembangan motorik halus anak yang dilakukan pada tanggal 20 Februari 2020, kemampuan anak mengalami peningkatan, seperti kemampuan pre-writing skills (|, −,
⃝, /, +, , \, , ) pada mengimitasi tanpa arahan, namun pada
mengcopy anak belum mampu mengcopy bangun segitiga. Mampu membuat garis, namun pada kualitas garis belum konsisten tampak
kurang ketebalanya, mampu memulai gerakan namun masih sering berlebihan.
b. Pemeriksaan Short Sensory Profile
Pemeriksaan sensory dilakukan menggunakan blanko pemeriksaan Short Sensory Profile, diperoleh hasil pada tactile sensivity (sensivitas taktil) skor 32/35, taste/smell sensitivity (sensivitas bau) skor 12/20, movement sensivity (sensivitas gerakan) skor 12/15, underresponsive/seeks sensation (tidak responsif/mencari sensori tertentu) skor 21/35, audiotory filtering (penyaring suara) skor 22/30, low energy (lemah/ kurang berenergi) skor 29/30, visual/audiotory sensivity (sensivitas pengelihatan dan pendengaran) skor 22/25. Dari penilaian diatas dapat di interpretasikan bahwa anak mengalami peningkatan pada underresponsive/seeks sensation (tidak responsif/mencari sensori tertentu). Total dari keseluruhan adalah skor 150/190 yang berarti probable difference.
c. Pemeriksaan Konsep atau Persepsi Anak
Berdasarkan pemeriksaan Okupasi Terapi pada Konsep atau Persepsi anak didapatkan hasil bahwa pasien sudah optimal dalam menghitung, anak mampu menghitung sampai dengan angka 0-20 dan melabel beberapa warna.
d. Pemeriksaan ADHD-T (Attention Deficit Hyperactivity Disorder Test)
Berdasarkan pemeriksaan Attention Deficit Hyperactivity Disorder Test (ADHD-T) dapat di interpretasikan bahwa An. NR pada hyperactivity (15/09/37%), implusivity (15/10/50%), inattention (11/10/50%) dan disimpulakan An. NR mendapatkan total kesuluruhan 98 yang berarti rata-rata (average).
e. Pemeriksaan Okupasi Terapi pada VMI
Berdasarkan pemeriksaan VMI dapat diperoleh informasi bahwa VMI mendapatkan skor 12 yang berarti kemampuan anak sangat rendah setara dengan usia 4 tahun 6 bulan. Persepsi visual mendapatkan skor 23 yang berarti kemampuan anak rata-rata setara dengan usia 8 tahun 8 bulan. Motor koordinasi mendapatkan skor 20 yang berarti kemampuan anak dibawah rata-rata setara dengan usia 7 tahun 4 bulan.
3. Re-evaluasi Hasil Terapi/ Pencapaian
Pelaksanaan terapi di ruang rehabilitasi Okupasi Terapi RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Purbalingga dalam 12 kali sesi terapi dari total perencanaan yaitu 12 kali sesi terapi. Berdasarkan hasil pemeriksaan diatas dan dari hasil pemeriksaan pengamatan setelah 12 kali sesi terapi didapatkan kesimpulan bahwa LTG sudah tercapai, yaitu mampu mewarnai gambar segitiga dan persegi dengan pola pre-writing skills secara mandiri pada posisi duduk di meja.
H. Follow Up
Berdasarkan hasil reevaluasi anak sudah mampu pada keterampilan pre-writing skills yaitu pada aktivitas mewarnai gambar segitiga dan persegi secara dengan pola pre-writing skills secara mandiri pada posisi duduk di meja sehingga sebagai tindak lanjut program terapi atau rekomendasi tindakan Okupasi Terapi selanjutnya terapis memaksimalkan program terapi yang sudah tercapai yaitu memberikan stimulus-stimulus latihan koordinasi gerak jari-jari tangan yang bertujuan untuk meningkat keterampilan pre-writing skills. Rekomendasi bagi pasien, terapis memberikan motivasi dan semangat kepada pasien agar tetap kooperatif dalam mengikuti proses terapi selanjutnya secara rutin. Orang tua diharapkan tetap melakukan home program yang telah disampaikan oleh terapis, yaitu mampu melakukan akivitas yang berhubungan dengan kegiatan mewarnai, menggunting, menebalkan garis sesuai pola yang ditentukan. Kerjasama yang baik antara anak, orang tua, keluarga sangat mendukung keberhasilan program terapi, sehingga anak mampu mandiri dalam aktivitas sehari-hari khususnya pada aktivitas pra-menulis (pre- writing skills).