• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. sebagian individu, merokok merupakan suatu hal yang harus dipenuhi walaupun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. sebagian individu, merokok merupakan suatu hal yang harus dipenuhi walaupun"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Perilaku merokok sangat sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian individu, merokok merupakan suatu hal yang harus dipenuhi walaupun merokok dapat memberikan dampak merugikan baik dalam aspek kesehatan, ekonomi, maupun lingkungannya. Bahkan rokok telah menjadi komoditas yang berkaitan dengan budaya, seperti dalam aktivitas sehari-hari yang tak jarang dijumpai adanya rokok sebagai salah satu hal yang disajikan disamping minuman dan makanan, khususnya seperti dalam kegiatan gotong-royong atau suatu kegiatan yang dilakukan bersama ataupun memberikan imbalan sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada orang yang membantu aktivitas ringan dengan kalimat “ini pak sekedar uang untuk merokok”

(Sugiharti, Sukartini, & Handriana, 2015).

Menurut Notoadmojo (2007) (dalam Nurkumalasari, 2018) perilaku merupakan totalitas dari penghayatan dan aktivitas yang merupakan hasil akhir kejiwaan seperti perhatian, pengamatan, pikiran, ingatan, fantasi dan sebagainya. Domain perilaku terbentuk menjadi tiga yakni pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan tindakan (Nurkumalasari, 2018). Perilaku merokok merupakan aktivitas atau kegiatan membakar rokok yang mengandung tembakau untuk dihisap dan kemudian dihembuskan keluar tubuh (Martin & Pear, 2007). Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, merokok merupakan salah satu permasalahan kesehatan

(2)

atau bahkan kematian di dunia (Chotidjah, 2012). Seseorang melakukan tindakan merokok karena menganggap bahwa rokok dapat memberikan rasa nikmat kepada dirinya, membentuk mood seseorang menjadi positif dan dianggap dapat membantu seseorang untuk menghadapi hal-hal yang sulit. Selain itu, bagi perokok, merokok juga dapat mengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi dan dirasa menyenangkan (Etika & Wijaya, 2015). Akan tetapi, selain perasaan menyenangkan yang didapatkan, merokok juga memberikan dampak negatif baik kepada perokok maupun orang disekitarnya (Fuadah, 2011). Awal mula perokok melakukan perilaku merokok akan mengalami gejala seperti batuk, lidah terasa pahit dan mual. Tetapi, sebagian orang mengabaikan gejala yang timbul dan tetap melanjutkan perilaku merokok hingga menjadi kecanduan. Gejala tersebut bisa dijelaskan dalam konsep tobacco dependency yang berarti perilaku merokok adalah suatu hal yang menyenangkan dan kemudian bergeser menjadi aktifitas yang obsesif yang disebabkan karena sifat nikotin merupakan zat adiktif dan jika menghentikan perilaku secara tiba-tiba akan menimbulkan stress (Tandra, 2003).

Menurut US Surgeon General (2000), seseorang menjadi sangat adiktif dengan perilaku merokok dikarenakan dalam rokok tembakau terdapat kandungan zat nikotin yang menyebabkan seseorang menjadi ketergantungan akan zat tersebut. Komunitas medis dan riset menyepakati bahwa zat nikotin merupakan salah satu jenis cairan yang sangat adiktif (Mustaqimah & Hamdan, 2019). Selain zat nikotin, didalam rokok terdapat kandungan seperti tar, karbon monoksida, dan zat berbahaya lainnya yang

(3)

berpotensi menimbulkan berbagai gangguan pada tubuh apabila dikonsumi secara berlebihan. Dalam rokok juga terkandung 4000 senyawa kimia, diantaranya 200 senyawa beracun yang dinyatakan dapat membahayakan kesehatan sementara 43 senyawa lainnya dapat memicu kanker (Satiti, 2009).

Indonesia berada pada posisi ke-3 perokok tertinggi di dunia dibawah negara Cina dan India dengan jumlah prosentasi sebesar 35% dari total populasi penduduk atau setara dengan 75 juta jiwa (Khairatunnisa & Fachrizal, 2019). Pada tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat pertama pada negara-negara ASEAN dalam jumlah angka pengonsumsi rokok terbesar di usia dewasa yaitu mencapai jumlah 65.188.388 orang (Lian & Dorotheo, 2018). Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018), jumlah perokok di Indonesia tidak mengalami penurunan, bahkan cenderung jumlahnya meningkat setiap tahunnya. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa timur merupakan salah satu provinsi atau berada pada tiga provinsi jumlah perokok tertinggi di Pulau Jawa dengan prevalensi 27,78% pada tahun 2020.

Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya perilaku merokok.

Menurut Kurt Lewin (dalam Komasari & Helmi, 2000), perilaku merokok dapat terjadi karena dorongan dari dalam diri sendiri maupun lingkungan. Di samping itu, Green menyatakan bahwa i) faktor pendahulu seperti pengetahuan, kepercayaan, sikap, keyakinan, tradisi, nilai, ii) faktor pemungkin seperti adanya sumber atau fasilitas, dan juga, iii) faktor penguat seperti sikap dan perilaku orang-orang disekitarnya dapat

(4)

mempengaruhi perilaku seseorang termasuk perilaku merokok (Salawati & Amalia, 2010). Tak luput juga dari faktor biologis, tingkah laku, psikologis, dan sosial yang satu dengan lainnya saling memengaruhi (Iffah & Faradina, 2018).

Keadaan sosial-ekonomi seseorang, yaitu seperti dari tingkat pendidikan, pendapatan, dan pekerjaan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seseorang melakukan perilaku merokok. Talcott Parson mengemukakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh budaya, kepribadian, dan sistem sosial.

Pendapatan merupakan salah satu unsur struktur sosial yang berpengaruh terhadap sistem sosial, artinya pendapatan seseorang berkontribusi pada perilaku orang tersebut (Ritzer, George, Douglas, & Goodman, 2007).

Kebiasaan merokok yang terjadi dapat dilihat dari berbagai golongan status sosial seseorang terutama dari tingkat pendapatan yang ia miliki seperti tingkat pendapatan yang tinggi, menengah, dan rendah. Menurut Ronald (2013), faktor sosial yang diantaranya adalah kelas sosial yang dimiliki oleh seseorang merupakan faktor yang mendominasi dalam pengambilan keputusan seseorang untuk melakukan perilaku merokok, dan menurut Sugiharti dkk (2015), salah satu faktor yang mendorong perilaku merokok seseorang adalah dari tingkat pendapatan. Beberapa studi menyatakan hasil temuan bahwa kebiasaan atau perilaku merokok memiliki keterkaitan dengan status sosial dan ekonomi seseorang (Sugiharti, Sukartini, & Handriana, 2015).

Terdapat beberapa data temuan bahwa tingkat pendidikan, level pendapatan, dan jenis pekerjaan seseorang berhubungan terbalik dengan perilaku merokok yang dilakukan

(5)

(Sihombing & Arsani, 2020) Penelitian yang dilakukan oleh Marianti dan Prayitno (2020), ditemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan, maka konsumsi rokok akan semakin rendah (Marianti & Prayitno, 2020). Pada masyarakat miskin, kenaikan pendapatan akan meningkatkan jumlah konsumsi merokok yang dilakukan sebesar 5%, sementara pada masyarakat kaya, kenaikan pendapatan akan meningkatkan jumlah konsumsi merokok yang dilakukan hanya sebesar 2,1% (Sihombing & Arsani, 2020).

Hal tersebut juga didukung oleh murahnya harga rokok di Indonesia dimana harga jual eceran berada di kisaran harga Rp.1.700 per batang dan tidak boleh lebih rendah dari harga tersebut (Thomas, 2019).

WHO (2015) menyebutkan bahwa terdapat sekitar 1,1 miliar perokok di dunia, yang 800 juta lebih atau setara 80% berasal dari negara berpendapatan rendah dan menengah. Dalam laporannya yang berjudul The Global Tobacco Crisis, WHO menuliskan bahwa di Indonesia orang dengan pendapatan rendah menghabiskan 15%

dari total pengeluarannya untuk merokok. Tingkat pendapatan seseorang berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Artinya, semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang, semakin tinggi pula ia dalam membeli kebutuhan yang ia inginkan dimana berpeluang lebih besar untuk membeli yang mereka inginkan (Putra & Sudibia, 2019). Sedangkan, semakin rendah tingkat pendapatan seseorang berarti semakin rendah juga ia dalam memenuhi apa yang menjadi keinginannya karena harus memenuhi kebutuhan yang menjadi prioritasnya.

(6)

Berbagai kalangan masyarakat dapat menjangkau harga rokok, seperti perokok dengan kelompok pendapatan tinggi, dan juga oleh pada perokok dari kategori pendapatan lainnya. Bagi perokok dengan pendapatan tinggi, masalah kesehatan mungkin tidak begitu membebani sehingga tidak begitu merasakan beban ekonomi.

Namun berbeda pada perokok dengan pendapatan rendah, masalah kesehatan yang ditanggung sebagai akibat dari kebiasaan merokok menjadi beban ekonomi tambahan bagi mereka. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2013), prevalensi perokok menurut pendapatannya, diketahui bahwa pendapatan terendah berada pada 43,8%, sedangkan pendapatan tertinggi berada pada 29,4% atau jumlah perokok aktif lebih besar berasal dari masyarakat kelas menengah kebawah dengan pendapatan yang rendah (Astri, 2019).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Elvi Juliansyah dkk (2018) mengenai faktor dari perilaku merokok, seperti praktik, penghasilan, dan tradisi pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang, terdapat hubungan antara penghasilan dengan perilaku merokok dengan data sebanyak 27,9% penghasilan dibawah UMR tidak melakukan perilaku merokok, sedangkan pada penghasilan diatas UMR yang tidak merokok sebanyak 6,5%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan proporsi merokok pada seseorang dengan penghasilan diatas UMR dan kurang dari UMR. Analisis selanjutnya menyatakan bahwa nilai OR = 0,181 yang berarti penghasilan diatas UMR memberikan efek pencegahan terhadap perilaku merokok (Juliansyah, Solehati, & Kosasih, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Roni

(7)

(2013) menemukan bahwa adanya korelasi yang positif antara pendapatan seseorang dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan (Roni, Tati, & Denny, 2013).

Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Nurdiennah dkk, menemukan bahwa pendapatan tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku merokok (Nurdiennah, Cahyo, & Indraswari, 2017). Begitu pun pada penelitian yang dilakukan oleh Sarosa &

Purwanti bahwa pendapatan tidak memiliki hasil yang signifikan dengan jumlah konsumsi rokok seseorang (Sarosa & Purwanti, 2019). Talcott Parson mengemukakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh budaya, kepribadian, dan sistem sosial.

Pendapatan merupakan salah satu unsur struktur sosial yang berpengaruh terhadap sistem sosial, artinya pendapatan seseorang mempengaruhi perilaku orang tersebut (Ritzer, George, Douglas, & Goodman, 2007).

Tidak hanya menimbulkan berbagai macam penyakit, rokok juga dapat menyebabkan kematian. Hampir 4 juta jiwa meninggal akibat merokok pada tahun 2000, seiring dengan itu, kematian akibat merokok pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 7 dari 10 orang (Sirait, Pradono, & Toruan, 2020). Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, setengah dari pengguna merokok telah menjadi korban dan juga tiap tahunnya membunuh 7 juta jiwa, dengan lebih dari 6 juta jiwa merupakan perokok aktif (Iffah & Faradina, 2018). Tingkat kematian yang disebabkan karena rokok lebih tinggi daripada kematian karena penyakit seperti malaria, kematian maternal, penyakit-penyakit yang sering menyerang anak-anak dan tuberkulosis (Juliansyah, Solehati, & Kosasih, 2017). Meski dampak negatif dari perilaku merokok

(8)

telah banyak diekspos, akan tetapi para perokok cenderung tak peduli terhadap ancaman mengenai kesehatannya atau bahkan berpotensi untuk merenggut nyawanya.

Meskipun telah beredar banyak informasi mengenai bahaya akan merokok yang disampaikan baik secara lisan maupun tulisan, peringatan akan dampak negatif merokok seolah tidak meresahkan perokok. Data penelitian yang dilakukan oleh Setiyowati (2017), menunjukkan bahwa mahasiswa dan mahasiswi sudah memiliki pengetahuan mengenai perilaku merokok beserta dampaknya, tetapi mereka memiliki sikap dan keyakinan yang positif terhadap perilaku merokok sehingga mereka memilih untuk tetap melakukan perilaku tersebut (Setiyowati, 2017).

Terdapat banyak teori yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi atau menggambarkan kepercayaan individu terhadap perilaku sehat yang dalam penulisan ini ditujukan untuk perilaku merokok yang salah satu teori yang dapat digunakan yaitu Health Belief Model. Dalam melakukan suatu perilaku, seseorang akan didasari oleh keyakinan mengenai suatu perilaku yang ia miliki. Kepercayaan atau belief seseorang mengenai kesehatannya dapat ditinjau melalui teori Health Belief yang merupakan sebuah model kepercayaan kesehatan individu dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan dan dapat menjelaskan perubahan perilaku seseorang yang berhubungan dengan kesehatannya. Teori ini dijelaskan sebagai konsep yang diformulasikan dengan tujuan untuk memahami mengapa individu melakukan atau tidak melakukan berbagai perilaku sehat (Janz & Becker, 1984). Seseorang dengan health belief yang baik akan memahami kondisi kesehatannya, berusaha untuk mencari informasi mengenai

(9)

kesehatan, berusaha untuk menghindar dari ancaman penyakit, berani menghadapi rintangan dalam menjalani hidup sehat, dan siap menjalani hidup sehat. Sebaliknya, pada seseorang dengan health belief yang buruk ia akan mengabaikan kesehatannya, mengabaikan informasi mengenai kesehatan, tidak berusaha untuk menghindari resiko penyakit, tidak mampu menahan diri dalam menjauhi perilaku yang tidak sehat, dan tidak siap dalam menerapkan pola hidup perilaku sehat (Riskiafianti & Rozali, 2018).

Teori ini menghasilkan empat dimensi utama yang terdiri dari perceived suspectibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers (Abraham & Sheeran, 2015). Selain pada keempat dimensi tersebut, Health Belief Model juga memiliki dua dimensi lain yang telah melalui berbagai revisi, yaitu cues to action dan health motivation.

Penelitian yang dilakukan oleh (Mao, dkk., 2008) terkait hubungan antara faktor psikososial dengan perilaku merokok yang dilakukan di Tiongkok, dengan menggunakan dua dimensi dari Health Belief Model yaitu perceived benefits dari perilaku merokok dan perceived barriers jika tidak merokok. Hasil penelitian tersebut adalah pada dimensi perceived benefits dari merokok sebesar 50% responden meyakini bahwa merokok baik untuk interaksi sosial, dan 26% responden meyakini bahwa merokok membantu mereka dalam berpikir, dan 2 dari 10 responden meyakini bahwa merokok dapat membuat mereka terlihat lebih maskulin. Pada dimensi perceived barriers jika tidak merokok, 1 dari 5 responden setuju bahwa mereka akan kehilangan pengalaman yang berharga jika tidak merokok, 4 dari 10 responden meyakini bahwa

(10)

tidak sopan jika menolak tawaran merokok dari orang lain, dan 60% meyakini bahwa jika mereka tidak menawarkan rokok kembali jika mereka menghisap rokok yang diberikan oleh orang lain. Penelitian (Mao, dkk., 2008) mengatakan bahwa jika individu memiliki skor yang rendah pada perceived benefits dari merokok dan perceived barriers jika tidak merokok, mereka akan cenderung untuk menjadi bukan perokok. Setelah itu, di negara yang sama, penelitian terkait Health Belief Model dengan perilaku merokok dilakukan oleh (Li & Kay, 2009) yang bertujuan untuk meninjau hubungan antara empat dimensi utama dalam Health Belief Model yaitu perceived severity dari gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh merokok, perceived susceptibility dari gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh merokok, perceived barriers jika tidak merokok, dan perceived benefits jika tidak merokok. Penelitian ini menghasilkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada dimensi perceived severity, tidak terdapat perbedaan pada dimensi perceived susceptibility, terdapat korelasi positif pada dimensi perceived barriers, dan berkorelasi negatif pada perceived benefiits. Jika skor pada dimensi perceived barriers yang tinggi dan perceived benefits yang rendah, seseorang akan cenderung untuk menjadi perokok, dan sebaliknya.

Banyak penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa Heath Belief Model mampu memprediksi perilaku seseorang, seperti penelitian terdahulu yang meninjau terkait Health Belief Model dengan perilaku merokok (Mao, dkk, 2008; Li & Kay, 2009; Rahmah & Ahmad, 2018; Khotimah, 2019; Rahmaniaji, 2019). Beberapa

(11)

penelitian yang mengaitkan dengan tingkat pendapatan menemukan bahwa perilaku merokok terbalik dengan tingkat pendapatannya (Marianti & Prayitno, 2020;

Sihombing & Arsani, 2020), dan ditemukan prevalensi merokok yang tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah daripada tingkat pendapatan tertinggi.

Adanya data terkait perbedaan prevalensi dan penelitian-penelitian sebelumnya terkait pendapatan dan perilaku merokok yang menyatakan bahwa pendapatan berhubungan terbalik dengan perilaku merokok seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku merokok banyak dilakukan pada seseorang dengan tingkat pendapatan rendah dari pada seseorang dengan tingkat pendapatan tertinggi. Padahal pendapatan yang dimiliki oleh perokok tingkat pendapatan rendah dapat dialokasikan untuk kebutuhan pokok yang lebih utama dibandingkan dengan memenuhi kebutuhan merokok mereka, sedangkan pada perokok tingkat pendapatan sangat tinggi dapat dikatakan memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan mereka termasuk kebutuhan merokok. Namun berdasarkan data-data yang telah dipaparkan sebelumnya, cukup banyak ditemukan bahwa prevalensi yang lebih tinggi terkait perilaku merokok terjadi pada perokok dari tingkat pendapatan rendah dibandingkan dengan perokok tingkat pendapatan tertinggi. Maka dari itu, peneliti ingin melihat bagaimana pengaruh perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers, dan perceived benefits terhadap perilaku merokok dan hanya mengambil subjek dengan kriteria tingkat pendapatan rendah dan tingkat pendapatan sangat tinggi.

(12)

1.2 Identifikasi Masalah

Konsep Health Belief Model dipercaya mampu menjelaskan mengenai perbedaan individu dalam melakukan perilaku sehat dan juga untuk melakukan desain intervensi untuk perubahan perilaku (Abraham & Sheeran, 2015). Penelitian yang meneliti mengenai Health Belief Model dan perilaku merokok memang telah ada sebelum-sebelumnya (Mao, et al., 2008). Beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan adanya keterkaitan antara dimensi-dimensi Health Belief Model perilaku merokok dan menunjukkan hasil yang beragam pada setiap dimensi yang memiliki hubungan dengan perilaku merokok.

Pada penelitian yang dilakukan Khotimah (2019) menunjukkan hasil adanya pengaruh yang signifikan antara health belief model dengan frekuensi merokok yang dilakukan oleh seseorang dimana responden dalam penelitian yang dilakukan peduli akan kesehatannya, namun tidak dapat menghentikan perilaku merokok dan merasa bahwa merokok didorong oleh lingkungan yang menyebabkan timbulnya perilaku merokok yang dilakukan. Responden dalam penelitian yang dilakukan oleh Khatimah juga menganggap bahwa rokok merupakan benda yang dapat membantu mereka ketika mengalami banyak permasalahan dan belum merasakan dampak negatif dari perilaku merokok (Khotimah, 2019). Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Rahmah &

Ahmad, menyatakan bahwa tidak terdapat korelasi antara health belief model dengan perilaku merokok yang dilakukan karena responden tidak meyakini adanya gangguan kesehatan pada perilaku merokok karena tidak adanya pemaparan informasi mengenai

(13)

bahaya atau dampak negatif dari merokok dimana mereka memiliki persepsi atau keyakinan bahwa perilaku merokok tidak akan dapat merusak kesehatannya (Rahmah

& Ahmad, 2018). Penelitian yang dilakukan oleh (Heikkinen, Patja, & Jallinoja, 2010) menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang merokok memiliki pandangan bahwa rokok bukanlah sesuatu yang berbahaya dan mengancam jiwanya, hal ini juga dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Kumboyono (2011) bahwa sebagian besar perokok memiliki pandangan jika rokok tidak lebih berbahaya dibandingkan penyebab penyakit yang lain. Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Setiyowati (2017), meskipun telah beredar banyak informasi mengenai bahaya akan merokok yang disampaikan baik secara lisan maupun tulisan, peringatan akan dampak negatif merokok seolah tidak meresahkan perokok. Data penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa responden sudah memiliki pengetahuan mengenai perilaku merokok beserta dampaknya, tetapi mereka memiliki sikap dan keyakinan yang positif terhadap perilaku merokok sehingga mereka memilih untuk tetap melakukan perilaku tersebut (Setiyowati, 2017). Teori yang diungkapkan oleh Glanz (2015) bahwa kerentanan merupakan penilaian yang subjektif pada individu, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian tersebut, yaitu umur, pendapatan, etnis, dan pengetahuan seseorang.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Suhendro (2012), faktor demografi termasuk sosio-ekonomi tidak memiliki pengaruh antara persepsi kerentanan dan keparahan penyakit dengan perilaku merokok, karena menurut Conray (1992), untuk

(14)

melakukan sebuah perilaku tidak cukup hanya dengan sumber daya (uang) yang dimiliki oleh seseorang, namun juga mampu untuk melakukan perilaku tersebut. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kumboyono (2011), hambatan yang terjadi disebabkan oleh segi fisiologis seperti pusing dan gelisah, selain itu juga pada segi psikologis dimana persepsi bahwa berhenti merokok dapat menimbulkan pandangan seperti kurang jantan sehingga mengakibatkan mereka tidak percaya diri. Selain itu, hambatan juga terjadi karena lingkungan sekitar seperti tidak adanya larangan dari orang tua, atau akan mendapatkan penolakan sosial dari teman pergaulan jika mereka berhenti merokok.

Penelitian yang dilakukan Reisi dkk. pada tahun 2014 yang kemudian menjadi landasan pada penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konstruk Health Belief Model yaitu perceived susceptibility dari gangguan pada asppek kesehatan yang berhubungan dengan merokok, perceived barriers jika tidak merokok, perceived benefits jika tidak merokok, self-efficacy untuk tidak merokok dan cues to action jika tidak merokok, yang dilakukan di Iran. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada perceived susceptibility dan tidak terdapat perbedaan pada dimensi perceived barriers pada orang yang merokok dan tidak merokok, namun orang yang merokok memiliki skor yang lebih rendah pada dimensi perceived benefits, self-efficacy, dan cues to action (Reisi, dkk., 2014) dan menjadi landasan dari penelitian yang dilakukan oleh Mohammadi dkk. tahun 2015 yang dilakukan di Kota Marivan, Iran. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui

(15)

dampak dari faktor yang berkorelasi dengan perilaku merokok pada pelajar SMP yang berdasarkan konstruk health belief model. Konstruk yang menjadi fokus penelitian ini adalah perceived suspectibility, perceived barriers, perceived benefits, self-efficacy, dan cues to action. Penelitian tersebut menghasilkan data terdapat hubungan yang kuat antara cues to action dengan perilaku merokok dan berkorelasi negatif pada perceived benefits, self-efficacy, dan perceived barriers (Mohammadi, dkk., 2017).

Ronald (2013), faktor sosial yang diantaranya adalah kelas sosial yang dimiliki oleh seseorang merupakan faktor yang mendominasi dalam pengambilan keputusan seseorang untuk melakukan perilaku merokok, dan menurut Sugiharti dkk (2015), tingkat pendapatan merupakan salah satu faktor yang menimbulkan perilaku merokok seseorang. Beberapa studi menunjukkan adanya temuan yang mengaitkan antara kebiasaan atau perilaku merokok dengan status sosial dan ekonomi seseorang (Sugiharti, Sukartini, & Handriana, 2015). Talcott Parson mengemukakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh budaya, kepribadian, dan sistem sosial.

Pendapatan merupakan salah satu unsur struktur sosial yang berpengaruh terhadap sistem sosial, artinya pendapatan seseorang berkontribusi pada perilaku orang tersebut (Ritzer, George, Douglas, & Goodman, 2007). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2013), prevalensi perokok menurut pendapatannya, diketahui bahwa pendapatan terendah berada pada 43,8%, sedangkan pendapatan tertinggi berada pada 29,4% atau jumlah perokok aktif lebih besar berasal dari masyarakat kelas menengah kebawah dengan pendapatan yang rendah (Astri, 2019).

(16)

Pada penelitian yang dilakukan oleh Elvi Juliansyah dkk (2018) mengenai faktor yang berkaitan dengan perilaku merokok yang diantaranya faktor praktik, penghasilan, dan tradisi di wilayah kerja puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang, terdapat hubungan antara penghasilan dengan perilaku merokok dengan data sebanyak 27,9% penghasilan dibawah UMR tidak merokok, sedangkan pada penghasilan diatas UMR yang tidak merokok sebanyak 6,5%. Dari data tersebut dapat disimpulkan terdapat perbedaan proporsi merokok antara penghasilan dibawah UMR dengan penghasilan diatas UMR. Analisis selanjutnya menyatakan bahwa nilai OR = 0,181 yang berarti penghasilan diatas UMR memberikan efek pencegahan terhadap perilaku merokok (Juliansyah, Solehati, & Kosasih, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Roni (2013) menemukan bahwa terdapat korelasi yang positif antara pendapatan seseorang dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan (Roni, Tati, & Denny, 2013).

Menurut Sarafino (1994), individu pada kelas sosial ekonomi menengah ke bawah cenderung tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang faktor yang menjadi penyebab dari suatu penyakit (Sarafino, 1994). Kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh individu akan menyebabkan individu tidak mengetahui kerentanan dari gangguan.

Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Nurdiennah dkk, ditemukan hasil bahwa tidak terdapat pengaruh antara pendapatan dengan perilaku merokok (Nurdiennah, Cahyo, & Indraswari, 2017). Begitu pun pada penelitian yang dilakukan oleh Sarosa & Purwanti bahwa pendapatan tidak memiliki hasil yang signifikan dengan jumlah konsumsi rokok seseorang (Sarosa & Purwanti, 2019). Talcott Parson

(17)

mengemukakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh budaya, kepribadian, dan sistem sosial. Pendapatan merupakan salah satu unsur struktur sosial yang berpengaruh terhadap sistem sosial, artinya pendapatan seseorang berkontribusi pada perilaku orang tersebut (Ritzer, George, Douglas, & Goodman, 2007). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Suhendro (2012) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara faktor sosio-ekonomi pada persepsi akan kerentanan dan keparahan penyakit. Selain itu, sosio-ekonomi juga tidak berpengaruh terhadap persepsi manfaat dan persepsi hambatan yang dimiliki oleh responden.

Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan dan dibahas sebelumnya membuat peneliti tertarik untuk meneliti mengenai pengaruh pada setiap dimensi yang ada dalam teori health belief model terhadap perilaku merokok berdasarkan tingkat pendapatan seseorang.

1.3 Batasan Masalah

Luasnya permasalahan yang dapat untuk dikaji melalui fenomena dan teori yang dibahas, peneliti membuat batasan-batasan yang digunakan dalam penelitian ini yang bertujuan agar penelitian yang dilakukan lebih fokus dan spesifik. Batasan- batasan dalam penelitian ini adalah:

1. Perilaku Merokok

(18)

Perilaku merokok adalah perilaku yang memuat aktivitas membakar tembakau kemudian asap dari tembakau tersebut dihisap (Sitepoe, 2000). Perilaku merokok yang dilakukan juga melihat tingkat ketergantungan pada merokok.

2. Tingkat Pendapatan

Pendapatan merupakan banyaknya pemasukan yang dihasilkan oleh seseorang dengan periode tertentu dan dinilai dengan satuan mata uang (Mulyani, 2016).

Pada penelitian ini, tingkat pendapatan yang dimaksud adalah pendapatan yang dimiliki oleh seseorang pada setiap bulannya. Dalam penelitian ini hanya menggunakan tingkat pendapatan rendah dan sangat tinggi.

3. Health Belief Model

Salah satu faktor yang mempengaruhi individu untuk melakukan perilaku merokok adalah pandangan atau persepsinya mengenai perilaku tersebut. Salah satu teori yang dapat digunakan untuk memahami keyakinan atau kepercayaan individu mengenai perilaku sehat dan memprediksi apakah individu akan melakukan perilaku sehat atau tidak adalah teori health belief model. Pada penelitian ini, hanya akan menggunakan empat dimensi yaitu dimensi perceived suspectibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers karena empat dimensi tersebut yang memiliki definisi dan batasan yang jelas.

(19)

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan ulasan dari latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dilakukan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers, dan perceived benefits dapat menjelaskan perilaku merokok pada tingkat pendapatan rendah dan tingkat pendapatan sangat tinggi?”

1.5 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers, dan perceived benefits terhadap perilaku merokok berdasarkan tingkat pendapatan rendah dan tingkat pendapatan sangat tinggi.

1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Manfaat Teoritis

Penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan atau pengetahuan khususnya bagi kajian ilmu psikologi yang meninjau mengenai perilaku sehat.

Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan atau referensi bagi penelitian yang dilakukan berikutnya, khususnya yang berkaitan dengan perilaku merokok dan health belief model seseorang, terutama pada aspek sosio-ekonomi khususnya tingkat pendapatan.

1.6.2 Manfaat Praktis

Penulisan ini diharapkan memberikan manfaat dalam berbagai bidang, seperti

(20)

1. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai gambaran perilaku sehat yang ditinjau dari dimensi utama dalam health belief model yaitu perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers, dan perceived benefits sehingga dapat untuk lebih mengembangkan penelitian yang hendak dilakukan.

2. Untuk perokok, diharapkan dapat menambah informasi akan bahaya atau ancaman dari perilaku merokok dan meningkatkan tingkat kewaspadaan akan dampak yang diakibatkan dari perilaku merokok.

3. Untuk tenaga kesehatan, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan perilaku merokok yang terjadi di masyarakat, sehingga dapat untuk merancang tindakan preventif dan penanggulangan kesehatan masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

7 Rachmad Hidayat, “Pengaruh Kualitas Layanan, Kualitas Produk dan Nilai Nasabah Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Na sabah Bank Mandiri”, Jurnal Manajemen Dan

Secara umum adsorpsi fisis mempunyai gaya intermolekular yang relatif lemah, sedangkan pada adsorpsi kimia terjadi pembentukan ikatan kimia antara molekul adsorbat

Dalam perbandingan antara pasien yang menderita Np dengan asma dan yang tanpa disertai asma (kelompok 3 dan 4), pasien yang mengalami berbagai gejala akibat adanya

penulisan skripsi dan sekaligus menjadi pengantar umum di dalam memahami penulisan secara keseluruhan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Pelaku tindak

Hasil penelitian ini mampu menjadi referensi bagi peneliti lain dengan permasalahan yang berkaitan dengan kebahagiaan, dukungan sosial dan kualitas hidup

Adapun hasil dari penyelesaian penetapan pembobotan relatif pada setiap level hirarki dan untuk sejumlah s fungsi kendala goal untuk model fuzzy dalam bentuk cara linier

Hasil penelitian ini dengan dua hasil penelitian sebelumnya sesuai dengan pendapat para ahli bahwa pendidikan juga mempunyai hubungan yang cukup signifikan

Berdasarkan latar belakang penelitian yang menitikberatkan pada analisa resepsi makna iklan rokok Djarum Super 2013 (My Life, My Adventure), makan peneliti