• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI. didiagnosis, salah satunya ialah Global Developmetal Delay. Global. bawah usia 5 tahun (Srour et al, 2020).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI. didiagnosis, salah satunya ialah Global Developmetal Delay. Global. bawah usia 5 tahun (Srour et al, 2020)."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Global Developmental Delay

1. Definisi

Ada banyak macam keterlambatan perkembangan yang sering didiagnosis, salah satunya ialah Global Developmetal Delay . Global Developmental Delay didefinisikan sebagai penundaan fungsional yang nyata dalam dua atau lebih domain perkembangan. Penundaan ini dapat dibuktikan serta dibandingkan dengan mengacu pada standar perkembangan anak. Biasanya, diagnosis ini digunakan untuk anak di bawah usia 5 tahun (Srour et al, 2020).

Sedangkan menurut Hardiono (2017) Global Developmental Delay ialah keterlambatan perkembangan anak dalam dua aspek atau lebih.

Aspek-aspek dalam perkembangan ini meliputi motorik kasar, motorik halus, bicara-bahasa, kognitif, personal-sosial dan aktivitas sehari-hari.

Diagnosis ini hanya diberikan pada anak-anak di bawah umur 5 tahun.

Keterlambatan yang paling sering ditemukan pada anak dengan GDD adalah keterlambatan motorik kasar dan keterlambatan bicara.

(2)

Definisi Global Developmental Delay lainnya adalah kegagalan untuk mencapai tonggak perkembangan dalam rentang usia yang diharapkan. Secara khusus, ini mengacu pada keterlambatan perkembangan yang nyata dalam dua atau lebih domain perkembangan pada anak- anak berusia 5 tahun atau lebih muda. Domain perkembangan ini mencakup ketrampilan motorik kasar serta halus, bahasa dan bicara, kognitif, sosial- pribadi, dan aktivitas sehari-hari (Vasudevan& Suri, 2017)

Pada DSM V (2013) disebutkan bahwa seorang anak di diagnosis GDD jika gagal memenuhi tonggak perkembangan yang diharapkan pada beberapa bidang perkembangan yang terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Global Developmental Delay adalah keterlambatan perkembangan yang terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun pada 2 atau lebih domain perkembangan.

2. Prevalensi

Singapura tidak memiliki database nasional untuk mengetahui laju pengidap GDD. Namun,berdasarkan data dari negara-negara maju lain, didapat bahwa keterlambatan perkembangan pada anak-anak terjadi 10- 15%. Dan GDD 1-3% anak-anak di bawah usia 5 tahun. Berbagai faktor

(3)

yang sangat menentukan prognosis atau hasil akhir dari anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan. Jika terdeteksi terlambat,peluang untuk intervensi awal hilang,yang dapat berakibat buruk di kemudian hari seperti kesulitan belajar,masalah perilaku dan gangguan fungsi. Identifikasi awal yang efektif dan intervensi dini yang tepat waktu dapat secara positif mengubah prognosis buruk yang telah dijelaskan.(Choo,et al,2019)

Penelitian retrospektif yang dilaksanakan pada 151 anak GDD di Poliklinik Neurologi anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada Januari 2006-Juli 2008, didapat hasil bahwa prevalensinya sebesar 2,3 %.

Sedangkan prevalensi di seluruh Indonesia sendiri hingga kini belum pernah dilaporkan (Suwarba et al,2008).

3. Etiologi

Ada begitu banyak penyebab anak terdiagnosis GDD. Penyebab ini dapat dibagi menjadi 4, yaitu : Prenatal (sebelum kelahiran), Perinatal (kelahiran), Postnatal (setelah kelahiran) serta penyebab yang tidak diketahui.

a. Prenatal

Beberapa penyebab GDD yang terjadi pada saat kehamilan adalah genetik, kurangnya nutrisi saat masa kehamilan, infeksi

(4)

(misalnya rubella, toksoplasma,cytomegalovirus),sindrom alkohol serta penyalahgunaan zat yang dikonsumsi ibu ketika hamil (Eun&Han,2015).

b. Perinatal

Adanya riwayat kelahiran dengan berat badan sangat rendah, bayi lahir dengan prematurium yang ekstrim, infeksi (contohnya ensefalitis virus herpes simpleks atau radang tococcus meningitis) serta terkena racun (contohnya timbal) dapat menyebabkan seorang anak menderita GDD (Eun&Han,2015).

c. Postnatal

Infeksi yang terjadi setelah bayi lahir seperti meningitis,ensefalitis,kemudian terjadinya kerusakan pada susunan saraf pusat, psikososial (deviprasi, kemiskinan), serta malnutrisi juga turut andil menjadi penyebab terjadinya GDD (Eun&Han,2015).

d. Penyebab tidak diketahui

Penyebab yang tidak diketahui atau diklasifikasi ini terjadi jika pada seluruh komponen yang telah disebutkan tadi tidak terjadi pada anak (Eun&Han,2015).

(5)

4. Gambaran klinis/masalah

Pada anak dengan global developmental delay, yang terhambat adalah inisiasi, perencanaan, eksekusi, serta koordinasi gerak. Kemudian manifestasi klinis yang sering tampak adalah hipotonia otot yang disertai dengan joint laxity (sendi bergerak melebihi ruang geraknya yang normal) (Handryastuti, 2017).

Anak- anak dengan global developmental delay memiliki ciri-ciri kemampuan motorik yang sama dengan anak yang mengalami gejala vastibulopathy (gangguan pada telinga bagian dalam dimana sensori vestibular berada) ciri-cirinya seperti sering jatuh, tonus otot rendah serta kesulitan membaca (Dannenbaum et al, 2016).

Terganggunya fungsi vestibular akan berakibat pada terlambatnya perkembangan motorik kasar anak. Dan keterlambatan motorik kasar bisa berakibat pada terlambatnya kemampuan berbicara dan bahasa (Adamovic, 2015).

5. Prognosis

Prognosis GDD umumnya baik. Namun, keterlambatan perkembangan adalah risiko kuat untuk berkembang menjadi sindrom atau gangguan perkembangan saraf. Akibatnya, sangat penting bahwa setiap keterlambatan perkembangan diamati dengan hati-hati sampai

(6)

sembuh atau jika berkembang menjadi gangguan perkembangan akan dengan cepat diketahui. Ada banyak faktor yang terkait dengan hasil perkembangan yang buruk. Beberapa faktor prognostik yang terkait keterlambatan perkembangan yang serius pada anak usia 18-30 bulan adalah kurangnya pendidikan orang tua, anemia selama kehamilan, gizi buruk, bayi prematur, jenis kelamin laki-laki, berat badan lahir rendah (BBLR), prenatal. dan depresi pascanatal, kekerasan pasangan intim (IPV), penggunaan obat-obatan terlarang, tembakau atau alkohol selama kehamilan, dan kemiskinan. Sedangkan faktor yang dapat memberikan hasil perkembangan yang baik adalah pendidkan ibu dan akses kesehatan yang mudah (Khan& Leventhal, 2020).

B. Aktivitas Bermain Perosotan

1. Definisi Bermain

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa istilah bermain berasal dari kata main yang bermakna melakukan kegiatan untuk bersenang-senang. Bermain, menurut Smith and Pellegrini (2008) adalah aktivitas yang dilakukan untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan dengan cara menyenangkan,tidak berorientasi pada hasil akhir, fleksibel, positif dan aktif. Hal ini berarti, bermain bukan aktivitas yang dilakukan demi menyenangkan orang lain, tapi sebuah keinginan yang dilakukan hanya

(7)

untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, bermain itu menyenangkan dan dilakukan dengan cara-cara yang menyenangkan bagi pemainnya.

Bermain juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan demi kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan tersebut dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar (Hurlock, 1997).

Dengan bermain anak dapat memenuhi kebutuhan perkembangan demensi motorik, kognitif, kreatifitas, emosi, sosial, nilai, bahasa dan sikap hidup .

2. Tahapan Bermain

Tahapan bermain pada anak juga disesuaikan dengan umur dan tahapan perkembangannya. Menurut Jean Piaget, tahapan bermain pada anak ada empat :

a. Sensory Motor Play (3/4 bulan-2 tahun)

Pada masa ini,anak-anak bermain melalui sensorik yang ada pada tubuh mereka, terutama pada lima indera. Contohnya, anak memasukkan mainan ke mulutnya. Tahap ini Piaget ambil berdasarkan dari tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-2 tahun melalui sensory motor karena usaha anak untuk mengenali dan memperoleh informasi lingkungan didapat melalui sensor-sensor yang ada pada tubuhnya (Ardini&Ningrum,2018).

(8)

b. Symbolic / Make Believe Play (2-7 tahun)

Kognitif anak pada tahap ini sudah masuk pada masa pra operasional konkret, yaitu tahap memahami informasi melalui benda- benda konkret. Kemampuan imajinasi anak pada tahap ini berkembang pesat, karena itu pada tahap ini anak masuk pada masa bermain pura- pura atau symbolic / make believe play (Ardini&Ningrum,2018).

c. Social Play Games With Rules (8-11 tahun)

Perkembangan sosial anak pada usia ini semakin baik. Anak mulai senang bermaindengan teman sebayanya. Menurut Kohlberg, pada usia ini anak sangat mematuhi aturan yang telah dibuat sebelumnya. Berdasarkan hal yang tadi telah disebutkan, pada tahap ini Piaget mengklasifikasikan bahwa usia 8-11 tahunadalah tahap bermain sosial dengan aturan (Ardini&Ningrum,2018).

d. Games With Rules And Sports (11 tahun ke atas)

Pada anak usia 11 tahun ke atas, ia telah masuk dalam tahapan perkembangan kognitif formal operasional. Anak sudah mampu berpikir abstrak seperti orang dewasa. Dengan demikian pada masa ini, anak dapat menikmati permainan yang menggunakan aturan serta olah raga (Ardini&Ningrum,2018).

(9)

Sedangkan menurut Hurlock yang membedakan tingkatan perkembangan bermain anak adalah permainan yang mampu dimainkan si anak. Bentuk permainan pun mengacu pada tingkat perkembangan maupun usia anak. Tingkatan permainan ini dibagi menjadi empat tingkat :

a. Tahap Eksplorasi

Mainan yang mampu dimainkan bayi usia 3 bulan masih sebatas melihat benda dan orang serta melakukan usaha untuk meraih benda yang diletakkan diatasnya atau disekitarnya. Kemudian anak dapat mengendalikan tangan hingga dapat memungkinkan bagi anak untuk mengambil, memegang, dan mempelajari benda yang ia raih secara seksama. Sesekali benda atau mainan yang ia raih dimasukkan ke dalam mulut (Fadlillah, 2017).

b. Tahap Permainan

Menurut Hurlock bermain dengan memanfaatkan barang, dimulai pada usia 1 tahun dan puncaknya diusia antara 5-6 tahun.

Mulanya anak hanya mampu mengeksplorasi mainan. Kemudian ketika usia 2-3 tahun, mereka mulai mampu berhayal jika mainannya bisa hidup bergerak dan berbicara (Fadlillah, 2017).

c. Tahap Bermain

Jenis permainan anak mulai beragam ketika ia masuk sekolah.

Awalnya mereka masih bermain dengan mainan, terutama jika

(10)

sedang sendiri. Kemudian anak mulai tertarik dengan olahraga, hobi, dan macam-macam permainan matang lainnya (Fadlillah, 2017).

d. Tahap Melamun

Tahap ini ada pada ketika anak mulai mendekati masa-masa pubertas. Anak-anak ini mulai hilang ketertarikannya pada permainan yang dulunya disenangi dan banyak menghabiskan waktu dengan melamun. Aktivitas melamun terjadi saat dirinya membayangkan keadaannya ketika diperlakukan oleh orang lain (Fadlillah, 2017).

Adapun menurut Steassen Berger berpendapat bahwa tingkat perkembangan bermain pada anak dibedakan menjadi 5 tahap, yaitu:

a. Sensory Motor

Tingkatan ini ada ketika anak berusia 0-5 bulan. Aktivitas bermain anak pada usia ini lebih mengutamakan pada indra dan gerakan tubuh.

Perkembangan bermain pada tahap ini kurang lebih sama seperti yang dikatakan oleh Jean Piaget tetapi hanya terbatas hingga usia 5 bulan (Fadlillah, 2017).

(11)

b. Mastery Play

Tingkatan ini terjadi saat anak berusia 6-24 bulan. Aktivitas bermain ini bertujuan agar anak mampu menguasai eragam keterampilan tertentu yang melibatkan fungsi panca indra (Fadlillah, 2017).

c. Rough And Tumble Play

Tingkatan ini ada saat anak mulai masuk usia 2 tahun. Aktivitas bermain pada usia ini berupa permainan yang melibatkan motoric kasar seperti bermain ayunan, berjalan diatas titian dan jungat-jungkit (Fadlillah, 2017).

d. Social Play

Tingkatan ini ada ketika anak memasuki usia 3 tahun. Aktivitas bermainnya mulai mengikutsertakan teman seusianya dan lingkungan sekitarnya. Anak usia 3 tahun bermain bersama dengan anak yang lain contohnya bermain petak umpet, kejar-kejaran atau sepak bola (Fadlillah, 2017).

e. Dramatic Play

Tingkatan ini terjadi pada anak berusia 4 tahun. Aktivitas bermainnya berupa permainan peran atau khayal. Contoh permainan ini adalah bermain dokter-dokteran ataupun meniru berbagai macam tokoh superhero yang diidolakannya (Fadlillah, 2017).

(12)

Secara umum kesimpulan yang didapat dari beberapa pendapat tokoh- tokoh psikolog yang telah dijabarkan di atas adalah bahwa tingkatan perkembangan bermain anak diawali dari sensori motor yang hanya melibatkan panca indra serta dilakukan secara individual. Kemudian berlanjut pada tingkatan bermain dengan berkhayal serta bermain peran dimana teman sebayanya ikut terlibat pada permainan ini. Dan akhirnya sampai pada tingkatan bermain dengan permainan konkret yang lebih mengutamakan logika serta mampu bermain secara tim. Seluruh tinkgkatan ini bisa diperhatikan dan diidentifikasi lewat tingkatan usia anak. Seiring bertambahnya usia, permainanny pun semakin kompleks. Semua itu dipengaruhi oleh bertambahnya fungsi indra dan anggota tubuh lainnya (Fadlillah, 2017).

3. Manfaat Bermain

a. Kemampuan motorik berkembang dengan bermain

Piaget mengatakan bahwa anak terlahir memiliki kemampuan reflek,kemudian belajar menyatukan dua reflek atau lebih,hingga menjadi sebuah gerakan yang terkontrol. Dengan bermain, anak belajar mengontrol gerakan yang ia miliki. Dan aktivitas bermain dapat memfasilitasi anak untuk bisa bergerak bebas hingga anak mampu mengembangkan keterampilan motorik yang dimilikinya (Musfiroh,2014).

(13)

b. Kemampuan kognitif berkembang dengan bermain

Piaget juga mengatakan jika anak dapat belajar menghubungkan pengetahuan dengan berinteraksi pada objek sekitarnya. Aktivitas bermain memberi kesempatan pada anak untuk berinteraksi dan mengeksplor suatu objek. Dengan beramain ini,anak berkesempatan untuk menggunakan indra penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran dan perasa untuk mengidentifikasi sebuah objek. Dalam konsep edutainment semua ini disebut dengan Global Learning (belajar secara menyeluruh) (Musfiroh,2014).

c. Kemampuan afektif berkembang dengan bermain

Kemampuan afektif adalah kemampuan yang mengacu pada cara seseorang bersikap. Kemampuan ini dapat berkembang dan berlatih dengan aktivitas bermain. Caranya dengan bermain yang permainan itu terdapat peraturan yang dibuat bersama dan wajib untuk diikuti dan dilaksanakan selama permainan itu berlangsung.

Dengan permainan ini, anak akan menyadari dan memahami pentingnya mengikuti aturan. Semua itu adalah tahap awal dari perkembangan moral anak (Musfiroh,2014).

d. Meningkatkan kemampuan berbahasa

Bermain mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

Kemampuan berbahasa ini adalah modal utama seorang anak untuk

(14)

berkomunikasi. Bermain mampu memberikan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi. Mereka saling berbicara,bernegosiasi,bertukar pendapat dan berdiskusi, terlebih aktivitas bermain peran. Kegiatan bermain peran memiliki manfaat yang sangat besar, terutama untuk menunjang perkembangan bahasa dan berbahasa anak, bahkan bermain peran memiliki andil yang besar bagi perkembangan kognitif, emosi, dan sosial anak (Bredekamp & Copple, 1999).

e. Bermain meningkatkan kemampuan sosio-emosional

Bermain meningkatkan kemampuan sosial anak. Menurut Catron dan Allen (1999), bermain mendukung perkembangan sosialisasi dalam hal-hal berikut :

1. Interaksi sosial, yakni interaksi dengan teman sebaya, orang dewasa, untuk memecahkan konflik.

2. Kerja sama, yakni interaksi saling bantu, berbagi, dan pola bergantian.

3. Menghemat sumber daya, yakni menggunakan dan menjaga benda-benda serta lingkungan secara tepat.

4. Peduli terhadap orang lain, seperti memahami dan menerima perbedaan individu, memahami masalah multibudaya.

Bermain juga dapat membantu dan memberikan kesempatan untuk anak mengenali diri mereka sendiri. Mengenal diri sendiri

(15)

memiliki korelasi yang penting untuk hubungan antar manusia. Ketika seseorang mampu mengenali dirinya sendiri,mampu mengenali emosi yang sedang ia rasakan, harapannya ia dapat mengenali emosi orang lain dan dapat bersosialisasi dengan orang sekitarnya (Musfiroh,2014).

4. Perosotan

Fadlillah (2017) mengatakan bahwa perosotan adalah alat permainan edukatif yang biasa ditemui pada taman bermain outdoor. Namun, dewasa ini perosotan bisa ditemui indoor. Pembuatan perosotan bisa dari berbagai macam bahan ada yang terbuat dari pasir dan semen, plastic, kayu, bahkan ada yang terbuat dari logam. Cara memainkan permainan ini adalah dengan menaiki tangga yang ada pada perosotan, duduk di papan tumpuan kemudian meluncur dari atas hingga keujung papan tumpuan.

Perosotan merupakan alat bermain yang digunakan dengan cara meluncur dari tempat paling tinggi ke tempat yang rendah (Firdaus et al, 2020).

Manfaat dari bermain perosotan adalah meningkatkan keseimbangan, konsentrasi, serta kekuatan otot. Manfaat permainan ini tidak hanya berlaku pada anak-anak normal, tetapi bermanfaat juga pada anak-anak dengan

(16)

keterlambatan perkembangan pada motorik kasarnya atau anak-anak hiperaktif (Fadlillah, 2017).

C. Motorik Kasar

1. Definisi

Motorik kasar ialah gerakan aktivitas yang melibatkan otot-otot besar, contohnya berjalan, berlari, menangkap dan melompat. (Nur et al,2019).

Motorik kasar berkaitan dengan keterampilan yang mencakup gerakan otot besar, contohnya seperti duduk, merayap, berjalan, atau berlari (Gonzalez et al, 2019).

Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berkorelasi dengan keterampilan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang berhubungan dengan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya (SDIDTK, 2016).

Dari penjelasan yang telah disebutkan didapat kesimpulan bahwa motorik kasar adalah keterampilan dalam menggerakkan tubuh yang melibatkan otot-otot besar. Gerakan-gerakan ini seperti merangkak, berdiri, berjalan, berlari, duduk dan lain-lain.

(17)

2. Kemampuan Motorik Kasar

Gallahue (1989) menyatakan bahwa kemampuan motorik kasar melibatkan kerja otot-otot besar yang ada pada tubuh manusia. Kemampuan motorik kasar dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

a. Kemampuan Lokomotor adalah kemampuan yang digunakan tubuh untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti berjalan, melompat, berlari atau meluncur.

b. Kemampuan Non-Lokomotor adalah kemampuan yang digunakan tubuh tanpa berpindah atau bergerak dari tempat.

Contoh gerakannya adalah mendorong, menarik, jalan di tempat, beridiri dengan satu kaki, atau melompat di tempat.

c. Kemampuan Manipulatif adalah kemampuan yang berkembang jika telah menguasai kemampuan lokomotor dan non-lokomotor. Kemampuan ini banyak berhubungan dengan tangan dan kaki. Contoh kemampuan ini adalah melempar, menendang, menangkap sebuah benda, memantulkan bola atau menggiring bola (Mahmud, 2018).

Perkembangan kemampuan di atas bisa jadi berbeda pada setiap individu. Gallahue (1989) berpendapat jika perkembangan gerak yang berhubungan dengan kemampuan motorik kasar memiliki beberapa fase.

Fase-fase tersebut yaitu :

(18)

a. Reflexive Movement Phase

Fase ini dimulai ketika bayi pertama kali refleks bergerak di dalam kandungan hingga usia 1 tahun. Pada fase ini bayi melakukan gerakan refleks untuk mengetahui lingkungan sekitarnya. Biasanya bayi akan merespon stimulus yang diberikan berupa sentuhan, cahaya, atau suara.

b. Rudimentary Movement Phase

Fase ini dimulai saat anak memasuki usia 1- 2 tahun.

Kemampuan anak di usia ini berbeda disetiap individunya bergantung pada stimulus yang didapatkan anak dari sekitarnya. Pada usia ini anak mulai belajar menjaga keseimbangannya, misalnya anak mulai belajar mengontrol kepala dan leher serta melakukan gerakan lokomotor (merayap,merangkak dan berjalan).

c. Fundamental Movement Phase

Fase ini terjadi ketika anak memasuki usia 2 tahun hingga usia 7 tahun. Fase ini masih berhubungan dengan fase sebelumnya. Pada fase ini anak mulai berbagai macam gerakan lokomotor, non- lokomotor, serta manipulatif. Contoh gerakan lokomotor yang banyak dilakukan anak ialah berlari dan melompat, gerakan non-lokomotor yang dilakukan pada fase ini adalah berdiri dengan satu kaki, dan gerakan manipulative yang dilakukan pada fase ini ialah menangkap

(19)

dan melempar benda. Perkembangan gerak pada fase ini hasil dari faktor kesempatan untuk melakukan sebuah gerakan secara langsung, dorongan, dan arahan ketika menjalankan berbagai macam permainan yang mampu mengembangkan keterampilan geraknya.

d. Specialized Movement Phase

Fase ini dimulai ketika anak menginjak usia 7 tahun dan berlanjut sampai dewasa. Fase ini juga merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya. Pada fase ini anak mulai mampu melakukan gerakan kombinasi gerakan antara lokomoto, non-lokomotor, serta manipulatif, khususnya ketika berolahraga. Dan anak mulai belajar untuk melengkapi gerakannya tanpa dukungan dari orang dewasa di sekitarnya. Walaupun anak pada usia ini mampu bergerak secara mandiri, stimulus serta kesempatan tetap harus diberikan untuk melakukan gerakan (Mahmud, 2018).

3. Manfaat Motorik Kasar Pada Anak

Kemampuan dan keterampilan motorik, khususnya pada anak dalam periode pertumbuhan dan perkembangan memiliki dampak yang kuat dalam menyempurnakan kemampuan bio-psiko-sosial, juga pada kemampuan bicara serta bahasa (Adamovic et al, 2015).

(20)

Jean Piaget mengatakan hubungan antara perkembangan motorik dan kognitif serta mencatat bahwa tindakan bayi sendiri memberi pengalaman sensorimotor yang hasilnya sangat penting untuk pembelajaran mereka tentang lingkungan dan objek di dalamnya (Libertus&Violi, 2016).

Berikut ini adalah beberapa manfaat motorik kasar pada anak :

a. Kemampuan motorik kasar meningkatkan kemampuan bicara dan bahasa

Keterampilan motorik memainkan peran penting dalam perkembangan awal dan membentuk lingkungan belajar anak karena keterampilan motorik baru dapat mengubah cara bayi berinteraksi dengan objek, cara mereka berinteraksi dengan orang, dan mungkin juga cara orang menanggapinya. Akibat dari kemampuan itu dapat menghasilkan peluang belajar baru, yang pada gilirannya dapat memfasilitasi pengembangan di domain lain seperti pembelajaran bahasa. Dua penilitian yang dilakukan oleh Walle&Campos (2014) serta Dia et al (2015) melaporkan bahwa hubungan antara permulaan berjalan mandiri dan perkembangan bahasa pada bayi berusia 10 hingga 14 bulan, bayi yang sudah mampu berjalan

(21)

menunjukkan kosakata yang lebih besar daripada bayi yang merangkak (Libertus& Violi, 2016).

b. Kemampuan motorik kasar berhubungan dengan kognitif Sebuah penelitian pada otak menunjukkan bahwa perkembangan motorik dan kognitif saling terhubung, terlihat dari neuroimaging yang menunjukkan bahwa neocerebellum dan dorsolateral prefrontal cortex aktif selama melakukan aktivitas yang berkaitan dengan motorik kasar dan kognitif.

Spesialis pendidikan dan perawatan anak usia dini serta psikolog perkembangan juga mendukung gagasan bahwa perkembangan motorik dan kognitif saling berkaitan satu sama lain. Teori di atas telah dibuktikan pada balita usia 11-29 bulan di Australia. Penilitian tersebut membuktikan bahwa tingkat keterampilan motorik kasar memiliki hubungan positif yang berpengaruh dengan perkembangan kognitif (Veldman et al, 2019).

c. Kemampuan Motorik untuk Perkembangan Fisik Anak

Pentingnya anak memperbanyak gerak dan olahraga bisa meningkatkan kekuatan otot dan tulang. Selain itu, memperbanyak gerak dan olah raga juga mampu meningkatkan sirkulasi darah yang berguna bagi fungsi

(22)

fisiologis organ dalam yang bisa menopang pertumbuhan serta perkembangan anak (Sujiono et al, 2014).

d. Kemampuan Motorik untuk Perkembangan Sosial dan Emosional Anak

Anak yang memiliki keterampilan motorik yang baik akan mempunyai rasa percaya diri tinggi. Salah satu sebab tingginya kepercayaan diri yang tinggi pada seorang anak adalah karena ia mampu ikut serta dalam permainan bersama teman-temannya, sedangkan anak yang kemampuan mooriknya kurang akan sulit diterima dan mengikuti motorik yang dimiliki teman-temannya (Sujiono et al, 2014).

D. Kerangka Acuan Sensori Integrasi

Jean Ayres mempublikasikan sebuah model perkembangan manusia yang terkenal dengan nama Sensory Integrastion di tahun 1972. Menurut teorinya, sensori integrasi adalah reaksi dari input sensori berupa sensasi mendengar, melihat, taktil (rabaan), vestibular, dan propioseptif. Proses ini bermula dari dalam kandungan dan memungkinkan adanya perkembangan respon yang adaptif, perkembangan ini adalah dasar berkembangnya

(23)

keterampilan yang lebih kompleks, seperti berbahasa, berhitung, dan pengendalian emosi (Waiman, 2011).

Sensori integrasi merupakan proses mengintegrasikan atau menghubungkan informasi sensori berupa sentuhan, kesadaran, gerakan tubuh, keseimbangan dan gravitasi, pengecapan, penglihatan dan pendengaran, memori dan knowledge. Seluruh informasi sensori ini disimpan di dalam otak untuk menciptakan respon bermakna (Sunanik, 2013).

Sensori Integrasi melibatkan pemahaman, pengorganisasian, modulasi serta interpretasi sensasi untuk mengoptimalkan kinerja dan partisipasi ketika beraktivitas. Sistem sensorik yang diatur dengan baik dan berfungsi dengan tepat berkontribusi penuh dalam pengembangan dan pemeliharaan keterampilan sosial-emosional, fisik dan motorik, komunikasi, perawatan diri, kognitif, dan adaptif. Kekurangan dalam integrasi sensorik dapat menimbulkan hambatan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL), selain pengembangan, pembelajaran, bermain, bekerja, bersosialisasi, dan menunjukkan perilaku yang tidak sesuai (AOTA, 2015).

Salah satu kerangka acuan yang paling sering digunakan oleh terapis okupasi pada pasien anak-anak adalah kerangka acuan sensori integrasi.

Sensori integrasi digunakan untuk memandu penalaran dan praktik klinis

(24)

terapis okupasi ketika bekerja dengan anak-anak yang memiliki integrasi sensorik dan kesulitan dalam memproses input sensori (Weeks et al, 2012).

Kerangka acuan Sensori Integrasi (SI) berfokus pada bagaimana cara sistem sensorik (sistem pendengaran, vestibular, proprioseptif, taktil, dan visual) berinteraksi yang kemudian memberikan informasi terintegrasi (saling terhubung) yang dapat berkontribusi pada pembelajaran anak dan perilaku adaptif (Schaaf et al,2010).

Berbasis teori sensori integrasi, seorang terapis okupasi dan psikolog klinis yang berspesialis pada sensorik defensive bernama Patricia Wilbarger membuat metode bernama Deep Pressure and Proprioceptive Technique (DPPT) dan Oral Tactile Technique (OTT), teori tersebut berfungsi memberikan rangsangan untuk membantu pikiran, otak, dan tubuh mengatur diri sendiri. DPPT sendiri memiliki tiga komponen:

1. Brushing

Metode ini dilakukan dengan cara menyikat pada tangan, lengan, punggung, tungkai, dan kaki dengan sikat khusus. Ketika membahas tentang teknik brushing, harus dijelaskan bahwa brushing bukan sekedar “menyikat”. Tekanan ketika melakukan tekhnik brushing sangat penting, seseorang tidak boleh menyikat terlalu cepat. Brushing harus dilakukan terus-menerus tetapi tidak boleh dilakukan secara

(25)

bolak-balik di area yang sama dan dilakukan dengan tekanan yang cukup sampai bulu sikat tertekuk. Tekhnik brushing ini dilakukan selama 2-3 menit dan dilakukan oleh terapis, orang tua pasien boleh melakukan tekhnik ini dengan syarat telah diajarkan dan selalu diawasi oleh terapis okupasi.

Pada tekhnik ini, ada bagian yang tidak boleh dilakukan tekhnik brushing yaitu bagian perut. Karenajumlah ganglia saraf yang terletak di organ visceral dapat mendorong sistem saraf menjadi distres akut.

Selain itu, area kepala, leher dan wajah adalah area yang sensitive, personal dan terlindung, tekhnik brushing hanya boleh dilakukan pada permintaan individu atau persetujuan wali (Hatlestad, 2018).

2. Joint Compression

Tekhnik ini dilakukan dengan cara diberikan sepuluh penekanan cepat pada sendi-sendi ekstremitas atas dan bawah seperti bahu, siku, pergelangan tangan, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki. Terapis harus menopang sendi dengan satu tangan di atas dan satu tangan tangan di bawah untuk memberikan tekanan yang kuat dan tersentak- sentak. Tekanan cepat "menipu" otak menjadi berpikir bahwa tulangnya telah tergeser, sehingga semua proprioseptor di area tersebut akan siap untuk menstabilkan dan melindungi sendi (Hatlestad, 2018).

(26)

3. Sensory Diet

Komponen terakhir dari DPPT adalah Sensory Diet. Tidak seperti brushing dan joint compression yang memiliki aturan ketat dalam pelaksanaannya, tekhnik sensory diet lebih bebas dalam penggunaannya. Teknik sensory diet berupa serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memasukkan sensori ke dalam tubuh dan sistem neurologi untuk meningkatkan serta menjaga reseptor ada pada keadaan yang optimal. Terapis okupasi akan membuat rencana khusus untuk setiap individu sesuai dengan apa yang dibutuhkan individu tersebut (Hatlestad, 2018).

Diet sensorik dikembangkan sebagai perpanjangan dari prinsip- prinsip yang ditetapkan oleh Ayres, namun diet sensorik tidak memasukkan semua prinsip intervensi SIT (Sensory Integration Therapy). Penggunaan sensory diet memang lebih banyak digunakan pada kasus pediatri tetapi tidak menutup kemungkinan dalam praktiknya digunakan pada kasus dewasa, psikososial, atau geriatri.

Istilah diet sensorik diciptakan oleh Patricia Wilbarger untuk menjelaskan kompleks teori neurobehavioral kepada orang tua dan profesi lain (Peterson et al, 2018).

Oral Tactile Technique (OTT) juga termasuk teori yang diperkenalkan oleh Patricia Wilbarger, tetapi dalam penggunaan OTT

(27)

tidak bersamaan dengan teori DPPT. Teori ini digunakan pada individu yang men galami kesulitan dengan control motorik area oral dan dilaksanakan oleh terapis wicara (Hatlestad, 2018).

E. Pendapat Ahli

1. Efektivitas Kerangka Acuan Sensori Integritasi

Hasil dari penilitian yang dilakukan oleh Erawan (2020) yang bertajuk

“Penerapan Terapi Sensori Integrasi Pada Anak Tunarungu Dengan Gangguan Keseimbangan” menunjukkan bahwa penerapan terapi sensori integrasi pada anak tunarungu dengan gangguan keseimbangan mulai terlihat perbaikan dalam keseimbangan tubuh sehingga berpengaruh terhadap interaksi dan komunikasi meskipun masih lewat isyarat. Emosinya pun lebih terkontrol karena mulai mampu mengungkapkan keinginan dan apa yang sedang dia rasakan. Walaupun hanya sebatas menarik tangan orang lain atau menunjuk benda yang diinginkan.

Kepercayaan diri anak juga menjadi semakin meningkat. Karena terapi sensori integrasi ini lebih banyak aktivitas bermain, maka anak tidak merasa seperti mendapat intervensi, persepsi anak lebih ke bermain, melalui kegiatan yang dilakukan seperti permainan ini tanpa disadari anak mendapat intervensi.

Sebuah studi yang menyelidiki efek diet sensori pada anak-anak dengan gangguan proses sensori, keterampilan psikososial, dan keterlibatan dalam proses belajar di kelas dengan rentang umur pada sekolah daerah perkotaan menunjukkan adanya peningkatan yang efektif terhadap kemampuan pemrosesan

(28)

sensori, keterampilan psikososial serta keterlibatan dalam sesi belajar (Pingale et al, 2020).

Hasil dari penelitian yang dilakukan pada anak-anak dengan keterlambatan perkembangan usia 3-5 tahun di Korea menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima intervensi sensori integrasi yang dilaksanakan dengan durasi 40 menit dalam 2 kali seminggu dengan total 16 kali sesi pertemuan selama 8 minggu memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik dalam kemampuan pemrosesan sensorik, sensitivitas gerakan, penyaringan pendengaran, dan lebih tenang dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapat intervensi sensori integrasi. Pada kelompok yang mendapat intervensi sensori integrasi secara signifikan menunjukkan peningkatan secara statistik pada Gross Motor Quotient, Fine Motor Quotient dan Total Motor Quotient dibandingkan dengan kelompok tanpa intervensi sensori integrasi(Park & Kim, 2019).

2. Kekurangan Kerangka Acuan Sensori Integritasi

Intervensi sensorik sering digunakan pada anak-anak penderita autisme, sehingga beberapa meta-analisis hanya merujuk pada penelitian yang ditujukan untuk mengukur efektivitas intervensi sensori integrasi hanya dalam kelompok anak-anak ini. Kesimpulan dari meta-analisis yang dilakukan oleh Aneta R.

Borkowska menyebutkan adanya masalah dalam pemilihan penelitian studi meta analisis, karena banyak penelitian tidak cukup bagus secara ilmiah. Oleh karena itu, terlepas dari fakta bahwa prosedur terapi sensoris digunakan di seluruh dunia,

(29)

masih belum ada literatur yang dapat menyajikan penelitian dengan metodologis tentang efektivitas terapi autism (Borkowska, 2017).

Dalam sebuah penelitian tentang perbandingan terapi perilaku dan terapi sensori integrasi, telahdi observasi pada gejala-gejala autisme yang berat mengalami perubahan yang signifikan, namun terapi perilaku lebih menimbulkan efek yang lebih besar (Borkowska, 2017).

3. Kecenderungan Penulis

Kerangka acuan yang akan digunakan oleh penulis dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini adalah kerangka acuan Sensori Integrasi. Menurut penulis, penerapan strategi-strategi yang ada pada kerangka acuan Sensori Integrasi diharapkan mampu mengembangkan kemampuan motorik kasar anak, yang dengan motorik kasar ini dapat mendukung anak agar terstimulasi kemampuan motorik halus, bicara, bahasa, serta sosial yang berguna untuk keterlibatannya dalam aktivitas sehari-hari. Strategi-strategi tersebut diberikan kepada anak melalui aktivitas sensory experience (pengalaman sensorik) berdasarkan teori sensori integrasi. Dengan aktivitas ini, harapannya anak dapat terstimulasi untuk mengenal diri serta lingkungan sekitarnya yang digunakan untuk modal ia dapat berbicara.

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa sumber kepustakaan didapatkan bahwa intervensi pada anak dengan kecurigaan gangguan perkembangan sebaiknya dilakukan sebelum usia 3 tahun.Terapi latihan

Anak usia 3-5 tahun yang dilahirkan dari kehamilan ibu di usia muda memiliki risiko 5 kali mengalami gangguan perkembangan emosi anak dibanding ibu yang hamil

Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Dini adalah 0.977 untuk usia 2-3 tahun, 0.628 untuk usia 3-4 tahun, dan 0.863 untuk usia 4-5 tahun yang memiliki

Kegiatan observasi yang dilakukan di TK Pertiwi Podosari oleh penyusun yaitu tentang pentingnya pendidikan anak usia dini dalam masa perkembangan kognitif anak usia

Marpaung (2006) dalam skripsinya yang berjudul Pemerolahan Bahasa Batak Toba Anak Usia 1 – 5 Tahun, menyimpulkan bahwa tahap-tahap perkembangan pemerolehan bahasa anak,

Terkait tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini pada lingkup perkembangan motorik halus, maka hasil penelitian ini lebih terkondisi apabila dilakukan pada anak usia

sebagian besar anak balita usia 3-5 tahun berada pada status gizi normal yaitu sebanyak 29 responden 70,7%, sebagian besar anak balita usia 3-5 tahun memiliki perkembangan yang sesuai

61 Tabel 5 Pemerolehan Skor Kemampuan Kreativitas Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Kegiatan Finger Painting pada Prasiklus, Siklus I dan Siklus II Setelah dilakukan intervensi dalam