• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

6 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Pajak

Ada banyak ahli dalam bidang perpajakan yang memberikan pengertian yang berbeda-beda mengenai pajak, tetapi masing-masing definisi tersebut memiliki tujuan yang sama.

Definisi yang diberikan oleh S.I Djajadiningrat (Achmad Tjahjono dan Muhammad Fakri Husein, 2000:3) adalah:

“Pajak adalah suatu kewajiban menyerahkan sebagian daripada kekayaan ke kas negara disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung untuk pemeliharaan kesejahteraan umum”.

2.1.2 Pengertian Penghasilan

Sumber penghasilan merupakan pertimbangan yang mendasar untuk seseorang atau badan dikenakan pajak atau tidak. Bagi negara, pajak adalah salah satu sumber penerimaan penting yang akan digunakan untuk membiayai pengeluaran pembangunan. Sedangkan bagi perusahaan pajak merupakan beban yang akan mengurangi laba bersih.

Seperti telah disinggung di atas, pajak akan dibahas adalah mengenai pajak penghasilan , yang dimaksud dengan penghasilan menurut undang-undang nomor 17 tahun 2000 penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia, maupun dari luar Indonesia yang dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

2.1.3 Aktiva Tetap Berwujud

Penerimaaan kas melalui penjualan produksi merupakan salah satu sumber dana utama bagi pelaksanaan kegiatan perusahaan, oleh karena itu peranan aktiva

(2)

tetap dalam menghasilkan produk sangat besar. Aktiva tetap berwujud yang dimiliki oleh suatu perusahaan dapat mempunyai bermacam-macam bentuk seperti lahan, mesin, gedung, kendaraan, dan inventaris atau peralatan.

2.1.3.1 Pengertian Aktiva Tetap Berwujud

1. Pengertian aktiva tetap sesuai dengan PSAK No. 16:

“Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.”

Selain itu, suatu benda berwujud diakui sebagai aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap apabila:

a. Besar kemungkinan (probable) bahwa masa manfaat keekonomian di masa yang akan datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir kedalam perusahaan.

b. Biaya perolehan aktiva dapat di ukur secara andal.

2. General Accepted Accounting Principle (GAAP) menggunakan istilah Property, Plant, dan Equipment mendefinisikannya sebagai berikut:

“Aktiva yang sifatnya dipakai terus-menerus dan digunakan dalam kegiatan produksi, penjualan barang, penjualan aktiva lain, atau pembelian aktiva lainnya yang bukan untuk dijual.”

3. Menurut buku karangan Drs. Sofyan Safri Harahap, MSAc. aktiva tetap adalah:

“Aktiva yang menjadi hak milik perusahaan dan dipergunakan secara terus- menerus dalam kegiatan menghasilkan barang dan jasa perusahaan”

4. Menurut Theodorus M Tuanakotta

“Aktiva tetap merupakan aktiva yang tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan melainkan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan, yang umumnya lebih dari satu tahun, dan merupakan pengeluaran perusahaan dalam jumlah yang besar.”

Aktiva tetap haruslah terdiri dari aktiva-aktiva yang dipergunakan dalam kegiatan operasi perusahaan dan tidak untuk diperjual-belikan, hal inilah yang membedakan dengan persediaan barang dagangan. Pengeluaran untuk

(3)

memperoleh aktiva tetap biasanya merupakan pengeluaran yang cukup besar, sehingga perusahaan perlu mempunyai kebijaksanaan kapitalisasi.

2.1.3.2 Klasifikasi Aktiva Tetap Berwujud

Aktiva tetap dapat dikelompokkan dalam berbagi sudut antara lain:

1. Sudut Substansi, aktiva tetap dijabarkan sebagai berikut:

Tangiable assets atau aktiva berwujud seperti lahan, mesin, gedung, dan peralatan.

2. Sudut Disusutkan atau Tidak Dapat Disusutkan:

a. Depreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang disusutkan seperti Building (Bangunan), Equipment (Peralatan), Machinary (Mesin), Inventaris, Jalan, dan lain-lain.

b. Undepreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang tidak disusutkan seperti Land (Lahan).

3. Berdasarkan Jenis:

Lahan, Bangunan Gedung, Mesin, Kendaraan, Perabot, Inventaris atau peralatan, Prasarana.

Dari bentuk Aktiva Tetap berwujud untuk tujuan akuntansi dilakukan pen gelompokan sebagai berikut:

1. Aktiva tetap yang umurnya dan masa kegunaannya tidak terbatas dan dilaporkan berdasarkan harga perolehannya tanpa disusutkan atau deplesi.

Contoh : Untuk letak perusahaan, tempat berdirinya gedung, tanah pertanian, tanah peternakan, tanah perkebunan.

2. Aktiva tetap yang umurnya dan masa kegunaannya tidak dapat diganti dengan aktiva yang sejenis atau disebut aktiva tetap yang di deplesi.

Contoh: sumber alam seperti pertambangan, hutan kayu, dan lain-lain.

3. Aktiva tetap yang umurnya dan masa kegunaannya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya bisa diganti dengan aktiva yang sejenis atau disebut juga aktiva tetap yang disusutkan.

Contoh: bangunan, gedung, mesin, peralatan, kendaraan, dan lain-lain.

Pada dasarnya ada tiga golongan aktiva tetap yang sering ditemui dalam neraca yaitu:

(4)

1. Tanah

Umur dan nilai aktiva tidak seperti aktiva lain yang dapat usang , tidak berkurang, sehingga tanah tidak disusutkan. Tetapi jika nilai tanah berkurang, misalnya karena tanah tersebut dipakai sebagai bahan baku suatu produk maka nilai tanah dapat disusutkan. Prinsip ini tidak berbeda dari ketentuan yang berlaku untuk perpajakan. Nilai tanah harus dipisahkan dari nilai bangunan baik menurut fiskal maupun akuntansi komersial. Yang termasuk dalam golongan tanah ialah: tanah tempat gedung berdiri, halaman untuk parkir, dan taman.

Untuk keperluan perpajakan harga tanah meliputi biaya pembelian dan pemotongan tanah. Biaya pengurusan izin, pemindahan atau perpajangan hak dikelompokkan kedalam harta berwujud. Apabila biaya pembelian tanah tidak dapat dipisahkan dari biaya pengurusan perizinan hak, seluruh biaya tersebut dibukukan sebagai harga tanah.

2. Gedung.

Gedung adalah golongan aktiva yang umurnya terbatas sehingga harus disusutkan. Nilai gedung dalam neraca dicatat sesuai dengan harga perolehannya. Bangunan dapat diperoleh melalui pembelian atau karena dibangun sendiri. Yang termasuk nilai perolehan melalui pembelian adalah harga beli, biaya perbaikan sampai gedung dapat dipakai, dan biaya lain-lain seperti biaya balik nama.

3. Mesin dan peralatan.

Golongan aktiva mesin dan peralatan ialah mesin, peralatan kantor, meja dan kursi kantor, dan alat-alat lain. Mesin dan peralatan disajikan dalam neraca sesuai dengan harga perolehannya, yang terdiri dari harga beli, ongkos angkut, biaya asuransi, sampai aktiva siap dioperasikan, biaya pemasangan dan biaya percobaan.

2.1.3.3 Prinsip Penilaian Aktiva Tetap Berwujud

Didalam Teori akuntansi terdapat konsep-konsep penilaian atau valuation concept yang diterapkan oleh penilaian asset, untuk aktiva tetap berwujud yang merupakan non-monetary asset dinilai berdasarkan nilai masukan atau input values.

(5)

Didalam bukunya yang berjudul Teori Akuntansi Drs. Theodorus Tuanakotta mengemukakan alasan utama mengapa Input Values merupakan dasar penilaian yang paling relevan untuk aktiva tetap adalah karena ia dapat dianggap merupakan nilai terendah bagi perusahaan pada saat perolehan dan nilai terendah mengenai nilai sisa manfaat di kemudian hari.

Ada beberapa konsep input valuation yang diterapkan pada penilaian Aktiva Tetap Berwujud:

Ada beberapa konsep input valuation yang diterapkan pada penilaian aktiva tetap berwujud:

1. Historical Input Values

Theodorus M. Tuanakotta mendefinisikan sebagai berikut:

“Harga keseluruhan yang dibayarkan perusahaan untuk memiliki dan menggunakan suatu asset termasuk semua pembayaran yang diperlukan untuk memperoleh asset di lokasi dan dalam keadaan yang memenuhi syarat untuk bisa memberikan jasa-jasa bagi perusahaan.”

a. Historical cost

Historical cost merupakan konsep penilaian yang paling sering digunakan aktiva dicatat sebesar harga pembelian inilah yang disajikan dalam iktisar keuangan jadi, dengan kata lain historical cost merupakan harga pertukaran barang dan jasa pada saat perolehan.

b. Prudent cost

Yang dimaksud dengan prudent cost adalah cost yang hanya dibayarkan secara layak oleh pimpinan perusahaan dan terdapat bukti bahwa manajemen menyetujui biaya yang dikeluarkan.

c. Original cost

Merupakan biaya aktiva tetap perusahaan yang pertama kali digunakan untuk kepentingan umum.

2. Current Input Values

Yaitu merupakan harga pertukaran yang harus dikeluarkan pada saat sekarang untuk mendapatkan asset yang sama.

Current cost

Current cost dari aktiva tetap adalah current market price asset bekas pakai yang memiliki kondisi, umur, jenis, yang sama yang dimiliki. Sebenarnya

(6)

current cost dan historical cost itu sama yaitu pada tanggal perolehan asset, setelah tanggal tersebut current cost dan historical cost akan harga khusus.

3. Historical cost yang di restate dengan indeks harga khusus a. Appraisal values

Merupakan metode untuk menaksir current cost atau current values dari suatu aktiva dengan suatu prosedur yang sistematik dilakukan oleh pihak luar sehingga diperoleh nilai yang lebih obyektif.

b. Fair Values

Adalah jumlah yang diterima dari penjualan asset secara normal, bukan penilaian, bukan merupakan dasar penilaian yang khusus diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan.

Fair value mencakup seluruh fakta yang relevan termasuk prudent cost, production cost, dan juga replacement cost.

2.1.4 Penyusutan atau Depresiasi

Sudah merupakan hukum alam bahwa setiap benda di dunia, cepat atau lambat akan mengalami keausan dengan berlalunya waktu. Demikian halnya dengan aktiva tetap berwujud (kecuali tanah), pengeluaran, biaya untuk pemeliharaan dan perbaikan hanya dapat menunda tetapi tidak dapat mencegah proses keausan yang akan terjadi pada aktiva tetap berwujud yang digunakan dalam operasi perusahaan. Adanya proses keausan ini mengakibatkan kegunaan dari aktiva tetap tersebut menjadi menurun dan akhirnya sampai pada waktu di mana aktiva tetap tersebut tidak dapat digunakan lagi.

Untuk menunjukkan bagian dari nilai aktiva tetap yang aus perlu diadakan alokasi yang sistematis dan rasional atas biaya aktiva yang bersangkutan selama taksiran umur ekonomisnya.

Cara alokasi demikian dikenal dengan istilah:

1. Deplesi

Untuk aktiva yang berupa sumber-sumber alam, aktiva ini tidak dapat digunakan berulang-ulang karena memiliki sifat yang alamiah.

2. Amortisasi

Untuk aktiva yang tidak berwujud dan beban yang ditangguhkan.

(7)

3. Penyusutan atau Depresiasi

Untuk aktiva berwujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan dapat digunakan berulang-ulang.

2.1.4.1 Pengertian Penyusutan atau Depresiasi

Aktiva Tetap dan akuntansi penyusutan diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 16 tentang aktiva tetap dan aktiva lain-lain, PSAK nomor 17 tentang Akuntansi Penyusutan.

Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, (PSAK no. 17), Akuntansi Penyusutan:

“Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang dapat diestimasi. Penyusutan periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.”

Penyusutan perlu dilakukan karena manfaat yang diberikan dan nilai dari aktiva tersebut semakin berkurang, pengurangan dari nilai aktiva tersebut akan dibebankan secara bertahap.

Menurut committee on terminology dari AICPA yang dikutip oleh Zaki Baridwan, mendefinisikan sebagai berikut:

“Akumulasi depresiasi adalah suatu sistem akuntansi yang bertujuan untuk membagikan harta perolehan atau nilai dasar lain dari aktiva tetap berwujud dikurangi nilai sisa (jika ada), selama umur kegunaan unit itu yang ditaksir (merupakan suatu kumpulan-kumpulan aktiva) dalam suatu cara sistematis dan rasional. Ini merupakan proses alokasi, bukan penilaian.”

Beban depresiasi untuk suatu tahun adalah bagian dari jumlah total beban itu dengan system tersebut dialokasikan ke tahun yang bersangkutan, meskipun didalam alokasi itu diperhitungkan hal-hal yang terjadi selama tahun itu, tidaklah dimaksud sebagai suatu alat pengukur terhadap akibat-akibat di kejadian itu.

1. Faktor-faktor yang menentukan beban penyusutan atau depresiasi Ada dua faktor yang menentukan keausan suatu aktiva yaitu:

a. Physical factor

Faktor-faktor fisik yang mengurangi fungsi aktiva tetap terdiri dari:

- Kerusakan karena pemakaian dari aktiva tetap (wear and tear) - Aus karena umur atau menjadi tua (deterioration and decay)

(8)

- Kemusnahan (damage) terjadi karena kecelakaan yang ditimbulkan oleh pemakaian yang tidak hati-hati, banjir, kebakaran, dan lain-lain.

b. Functional factor

Faktor-faktor fungsional yang membatasi umur aktiva tetap adalah:

- Inadequacy, biasanya akibat dari perluasan didalam operasi perusahaan yaitu ketidakmampuan aktiva tetap yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, sehingga aktiva tersebut perlu diganti dengan kapasitas yang lebih besar.

- Obsolescense, disebabkan karena:

¾ Adanya penemuan baru atau perkembangan teknologi dan tersedianya perlengkapan lain yang dapat digunakan lebih ekonomis dalam memenuhi kebutuhan perusahaan.

¾ Adanya perubahan permintaan akan barang dan jasa dari konsumen, sehingga mengakibatkan perubahan di dalam alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.

Kedua faktor diatas sama pentingnya dan harus diperhitungkan didalam menentukan umur kegunaan atau masa manfaat suatu aktiva tetap.

2. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah biaya penyusutan setiap periode adalah sebagai berikut:

a. Harga perolehan dari aktiva tetap

Yaitu semua pengeluaran-pengeluaran yang layak dan diperlukan untuk memperoleh suatu aktiva tetap sampai aktiva tetap tersebut siap digunakan dalam operasi perusahaan. Adakalanya selain harga perolehan, digunakan juga harga perolehan yang sudah dinilai kembali atau replacement cost.

b. Nilai sisa (nilai residu)

Yaitu nilai yang diharapkan yang ditaksir dapat direalisasi pada waktu aktiva tetap dihentikan dari pemakaiannya.

c. Taksiran umur kegunaan (Masa Manfaat)

Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh cara-cara pemeliharaan dan kebijaksanaan yang dianut dalam reparasi. Taksiran umur ini dapat dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi, atau satuan

(9)

jam kerja. Dalam menaksir umur aktiva harus dipertimbangkan sebab- sebab keausan fisik dan fungsional.

Jadi biaya depresiasi merupakan suatu taksiran yang ketelitiannya tergantung pada penentuan ketiga faktor tersebut di atas dan ketelitian biaya depresiasi tersebut akan mempengaruhi besarnya rugi atau laba perusahaan setiap periode.

2.1.4.2 Metode Menentukan Besarnya Penyusutan

Untuk menghitung besarnya beban penyusutan per periode terdapat sejumlah metode yang berbeda. Didalam sandar akuntansi keuangan dinyatakan bahwa penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut kriteria sebagai berikut:

1). Berdasarkan Waktu

a. Metode Garis Lurus (straight line)

Metode ini adalah yang paling banyak digunakan oleh perusahaan- perusahaan, karena merupakan metode yang paling praktis, sederhana, dan yang paling mudah diaplikasikan dalam akuntansi. Dalam metode ini beban penyusutan untuk tiap tahun nilainya sama besar dan tidak dipengaruhi dengan hasil atau output yang diproduksi.

b. Metode Pembebanan yang Menurun

- Metode jumlah - angka - tahun (sum of the year digit method)

- Metode saldo menurun atau saldo menurun ganda (declining atau double declining balance method).

Metode ini adalah metode penurunan beban penyusutan yang menggunakan tingkat penyusutan (diekspresikan dalam presentase) atas dasar nilai buku aktiva. Tingkat penyusutan metode ini selalu tetap dan diaplikasikan untuk mengurangi nilai buku pada setiap akhir tahun. Metode penyusutan ini hanya boleh diterapkan untuk harta berwujud golongan bukan bangunan.

2). Berdasarkan penggunaannya

Metode ini beranggapan bahwa jasa yang diberikan aktiva akan habis, karena berhubungan erat dengan pemakaian aktiva yang bersangkutan atau hasil produksi. Metode ini menghasilkan biaya penyusutan berkala yang berbeda

(10)

sesuai dengan tingkat jasa yang diberikan oleh aktiva tersebut. Biaya penyusutan yang tinggi dibebankan pada periode dengan aktivitas yang rendah. Jadi dasar penyusutan dari metode ini adalah pemakaian aktiva tetap yang bersangkutan. Metode ini terdiri dari:

a. Metode jam jasa (service hours method)

Metode ini digunakan untuk mengalokasikan beban penyusutan berdasarkan pada proporsi penggunaan aktiva yang sebenarnya. Metode penyusutan ini menggunakan jumlah jam kerja sebagai dasar pengalokasian beban penyusutan untuk tiap periode. Dalam metode ini beban penyusutan diperlakukan sebagai beban variabel daripada beban tetap seperti dalam metode penyusutan garis lurus sesuai dengan jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi barang atau jasa tiap periode akuntansi.

b. Metode jumlah unit produksi (productive output method)

Metode ini digunakan untuk mengalokasikan beban penyusutan berdasarkan pada proporsi penggunaan aktiva yang sebenarnya. Metode penyusutan ini menggunakan hasil produksi sebagai dasar pengalokasian beban penyusutan untuk tiap periode. Dalam metode ini beban penyusutan diperlaukan sebagai beban variabel sesuai dengan unit produksi yang dihasilkan tiap periode akuntansi, bukan beban tetap seperti dalam metode penyusutan garis lurus.

3). Berdasarkan kriteria lainnya

a. Metode berdasarkan jenis dan kelompok (group and composite method) Metode penyusutan biasanya digunakan untuk satu aktiva tetap. Dalam keadaan tertentu bagaimanapun juga ada berbagai macam aktiva yang disusutkan dengan menggunakan satu tarif penyusutan. Ada dua metode penyusutan untuk aktiva yang beragam ini yaitu group dan composite method. Group mengindikasikan kumpulan dari aktiva yang memiliki jenis yang sama dan composite mengarah kepada kumpulan aktiva yang memiliki jenis yang berbeda. Metode group biasanya digunakan untuk kelompok aktiva yang hampir sama jenisnya dan memiliki umur kegunaan yang sama. Sedangkan metode composite digunakan untuk aktiva yang bermacam-macam dan memiliki umur kegunaan yang

(11)

berbeda. Tarif penyusutan untuk metode composite ditentukan dengan membagi penyusutan tiap tahun dengan nilai total dari aktiva yang disusutkan.

b. Metode anuitas (annuity method)

Dalam metode anuitas ini beban penyusutan yang dihasilkan pada tahun atau periode awal adalah rendah dan akan meningkat jumlahnya tiap periode berikutnya. Metode ini paling banyak digunkan dalam industri real estate dan beberapa penyedia jasa, tetapi metode ini bukanlah metode penyusutan yang secara umum dapat diterima. Prinsip akuntansi Berterima Umum (U.S. GAAP) sendiri tidak mengijinkan bentuk metode penyusutan ini.

c. Sistem persediaan (inventory system)

Metode penyusutan ini biasanya digunakan untuk menilai aktiva berwujud yang nilainya kecil. Dan metode ini dipakai untuk membebankan depresiasi alat-alat kecil (small tools) yang dimiliki dalam jumlah besar. Persediaan peralatan, sebagai contoh mungkin ada pada awal dan akhir periode. Kemudian jumlah beban penyusutan dapat dihitung dengan menggunakan nilai awal dari persediaan ditambah dengan beban yang dikeluarkan untuk memperoleh peralatan tersebut dikurangi dengan nilai akhir persediaan. Dalam metode ini rekening aktiva didebet dengan harga perolehan aktiva, setiap akhir periode aktiva tersebut dinilai dan rekening aktiva dikurangi sampai pada jumlah penilaian tersebut. Pengurangan dibebankan sebagai beban depresiasi.

2.1.4.3 Penyusutan berdasarkan Undang-Undang Perpajakan

Menurut ketentuan perpajakan penyusutan diatur dalam undang-undang Pajak Penghasilan nomor 7 tahun 1983, sebagaimana telah diubah terakhir dengan undang-undang 17 tahun 2000 dalam pasal 11.

Undang-undang Pajak Penghasilan secara khusus dan eksplisit menetapkan saat dimulainya penyusutan fiskal adalah pada tahun perolehan.

Penyusutan fiskal harus dilakukan setahun penuh, walaupun pada kenyataannya aktiva yang bersangkutan diperoleh atau dihentikan pemakaiannya pada tahun berjalan.

(12)

Untuk harta atau aktiva tetap dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada tahun selesainya pekerjaan tersebut. Jadi walaupun pada umumnya harta atau aktiva dimulai pada awal tahun, tetapi untuk harta atau aktiva yang pekerjaanya memerlukan waktu lebih dari satu tahun, maka penghitungan penyusutan dimulai saat selesainya harta atau aktiva yang bersangkutan.

Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan kepada Direktur Jendral Pajak, apabila tidak mengikuti prinsip umum penyusutan.

Berdasarkan pada Undang-undang nomor 17 tahun 2000 pasal 11 ayat (6):

Untuk menghitung penyusutan, masa manfaat, dan tarif penyusutan harta berwujud ditetapkan sebagai berikut:

Tabel 2.1 Penggolongan Aktiva Tetap Menurut Ketentuan Perpajakan Tarif penyusutan sebagaimana

dimaksud dalam Kelompok Harta

Berwujud

Masa Manfaat

Ayat (1) Ayat (2)

4 tahun 25 % 50 %

8 tahun 12,5 % 25 %

16 tahun 6,25 % 12,5 %

20 tahun 5 % 10 %

20 tahun 5 % -

I. Bukan Bangunan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4

II. Bangunan Permanen

Tidak Permanen 10 tahun 10 % -

(Sumber data: UU Pajak No 17 Tahun 2000)

2.1.5 Revaluasi Aktiva Tetap Berwujud

Penilaian Kembali atau Revaluasi Aktiva Tetap pada umumnya tidak diperkenankan, karena Prinsip Akuntansi Indonesia menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah.

Sampai saat ini Peraturan Pemerintah tentang penilaian kembali aktiva tetap tertuang dalam PP nomor 45 tahun1986. Dalam kaitan ini Laporan Keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga

(13)

perolehan dalam penyajian Aktiva tetap, alasan atau dasar penilaian, selisih penilaian diungkapkan berdasarkan kelompok aktiva, pengaruh daripada penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan.

2.1.5.1 Tujuan Revaluasi Aktiva Tetap

Adanya kemungkinan terjadi perubahan dari harga aktiva tetap berwujud selama umur penggunaan aktiva. Perubahan-perubahan ini dapat disebabkan karena perkembangan waktu dari tahun ke tahun, perkembangan moneter nasional atau internasional sehingga mengakibatkan tidak sesuainya antara catatan historis dengan harga-harga yang berlaku. Dengan adanya perkembangan tersebut, maka untuk dapat mencerminkan nilai wajar dari aktiva tetap berwujud yang dimiliki suatu perusahaan perlu dilakukan revaluasi terhadap aktiva tetap berwujud tersebut.

Salah satu pemikiran dari perlunya dilakukan revaluasi aktiva tetap adalah adanya holding gain, yakni keuntungan yang diperoleh perusahaan atas dimilikinya aktiva tertentu, sebagai akibat kenaikan nilai dari aktiva tersebut atau bisa juga karena adanya perkembangan harga.

Sehubungan dengan arah dan pola perkembangan harga dari waktu ke waktu, dikenal ada dua macam revaluasi yaitu:

1. Devaluasi

Yaitu penilaian kembali aktiva tetap berwujud yang memberikan nilai lebih rendah dari pada nilai historis yang dicatat. Disini terjadi penurunan nilai aktiva tetap berwujud yang bersangkutan penurunan nilai ini dianggap sebagai kerugian perusahaan dan dibukukan dalam perkiraan rugi revaluasi.

2. Appresiasi

Yaitu penilaian aktiva tetap berwujud yang memberikan nilai yang lebih tinggi dari nilai historis yang tercatat. Di sini terjadi kenaikan nilai aktiva tetap berwujud yang bersangkutan, kenaikan nilai ini tidak boleh dianggap sebagai suatu keuntungan melainkan harus dianggap sebagai tambahan owner’s equity (modal sendiri) yang dicatat dalam perkiraan appraisal capital.

(14)

2.1.5.2 Penilaian Kembali Menurut Akuntansi

Menurut prinsip akuntansi bahwa nilai aktiva yang tercatat itu adalah berdasarkan historical cost. Hal ini berarti bahwa seluruh pos-pos yang ada dicatat sebesar cost yang dikeluarkan untuk itu. Namun demikian karena tujuan Akuntansi adalah menyajikan informasi yang lebih akurat dan dipercaya, kadang- kadang perusahaan terpaksa menyajikan pos-pos itu bukan menurut cost tetapi menurut harga penilaian pada saat itu. Sikap itu seharusnya dapat diterima, karena nilai uang terus-menerus menunjukkan nilai yang semakin rendah akibat inflasi.

Penilaian ini tidak perlu merubah dasar-dasar pembukuan yang ada tetapi sekedar informasi tambahan untuk meningkatkan kegunaan informasai akuntansi tersebut.

Metode Penilaian yang digunakan adalah:

1. General Price Level Adjustment (GPLA).

2. Curent Value Adjustment (CVA)

Metode GPLA menilai kembali seluruh pos yang disajikan dalam laporan keuangan dengan cara mengalikannya dengan angka indeks yang dihitung dari tenaga beli uang (Current Purchasing Power), misalnya dapat diperoleh dari Indeks Harga Konsumen (IHK).

Sedang metode CVA menilai aktiva tetap itu sesuai dengan harga sekarang, apakah dengan menggunakan pendekatan harga pasar, atau perbandingan harga secara umum. Penilaian ini biasanya dilakukan oleh perusahaan atau lembaga penilaian independen (Appraisal Company).

Istilah penilaian kembali aktiva tetap atau revaluasi timbul dalam dunia akuntansi dikarenakan prinsip biaya perolehan (historical cost) yang dipergunakan dalam mencatat nilai aktiva, sehingga nilai aktiva yang disajikan di dalam neraca adalah harga pasar pada saat terjadinya transaksi perolehan aktiva, baik perolehan itu melalui pembelian, pertukaran, hibah, atau cara lainnya. Pada dasarnya revaluasi aktiva tetap dalam akuntansi tidak diperkenankan, karena dalam PSAK 16 menganut penilaian kembali aktiva tetap berdasarkan harga perolehan, tidak diperkenankannya revaluasi aktiva tetap dalam akuntansi bisa dimaklumi, karena selama pengggunaan dalam masa manfaat, aktiva tetap telah memberikan kontribusi bagi produktivitas perusahaan.

Seringkali nilai historis yang disajikan di neraca sudah sangat jauh berbeda dengan harga pasar aktiva tersebut pada saat laporan keuangan disusun.

Perbedaaan ini mengakibatkan posisi keuangan perusahaan tidak dapat

(15)

mencerminkan keadaan yang sewajarnya, dimana dengan adanya perkembangan harga yang mencolok mengakibatkan kekurangserasian antara biaya dengan pendapatan sehingga menimbulkan beban pajak yang kurang wajar.

Saat ini Dewan Standar Akuntansi Keuangan masih menggunakan pendekatan historical cost, disamping kelemahan yang disebutkan diatas. metode ini sampai saat ini masih merupakan alternatif terbaik karena:

• Pada tanggal harga perolehan, harga perolehan menunjukkan nilai pasar wajar .

• Harga perolehan merupakan transaksi yang benar-benar terjadi dan bukan hipotesis.

• Sehingga dengan demikian datanya paling dapat dipercaya.

• Keuntungan dan kerugian seharusnyalah diakui pada saat terjadinya, bukan sekedar hasil perkiraan.

Namun demikian ada beberapa pendapat yang menentang pemakaian pendekatan historical cost dengan mengajukan beberapa metode alternatif yang lebih layak, misalnya nilai pasar wajar. Tetapi metode alternatif inipun belum dapat diterima secara umum karena beberapa kelemahan dan kesulitan penerapannya.

Untuk mengurangi dampak penggunaan prinsip historical cost dan untuk mencapai tujuan utama dari penyusunan Laporan Keuangan sebagai penyedia informasi keuangan yang dapat diandalkan dalam proses pengambilan keputusan oleh berbagai pihak yang menggunakannya, maka Dewan Standar Akuntansi Keuangan memperkenankan penyimpangan dari konsep historical cost apabila ada ketentuan dari pemerintah, sebagaimana yang dimaksud dalam PSAK No.16 Paragraf 29 yang berbunyi:

“Penilaian Kembali atau revaluasi aktiva tetap pada umunya tidak diperkenankan karena Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini Laporan keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan didalam penyajian aktiva tetap serta pengaruh penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku (nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal, dengan nama

“selisih penilaian kembali aktiva tetap”.

(16)

2.1.5.3. Penilaian Oleh Lembaga Penilai

Dalam dunia bisnis penilaian aktiva tetap biasanya dilakukan oleh appraisal company sebagai lembaga profesi penilai yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat. Lembaga penilai yaitu perusahaan jasa penilai atau ahli penilai yang diakui atau memperoleh izin dari pemerintah, supaya dapat dilakukan secara objektif dan lebih professional dan sekaligus terjadi check dan balance.

Dasar penilaiannya adalah nilai pasar (market value) atau nilai wajar aktiva tetap tersebut yang berlaku pada saat revaluasi. Bila nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang ditetapkan oleh penilai ternyata kemudian tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka Direktur Jendral Pajak akan menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang bersangkutan.

Dalam penilaian appraisal, digunakan beberapa istilah yang perlu di jelaskan sebagai berikut:

1. Nilai pasar wajar (fair market value)

Nilai pasar yang wajar adalah harga yang dilekatkan pada proses jual beli di pasar pada saat tertentu di mana penjual dan pembeli masing-masing melakukan secara sadar tanpa paksaan serta mengetahui atau memiliki pengetahuan mengenai keadaaan pasar serta kegunaan aktiva yang dimaksud.

2. Biaya produksi baru (cost of new replacement)

Biaya produksi baru adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu aktiva atau barang sesuai dengan jenisnya yang dihitung berdasarkan harga pasar setempat saat itu untuk bahan-bahan, upah kerja, alat produksi, biaya tak terduga, yang dikeluarkan dari keuntungan jasa kontraktor tetapi tidak termasuk ongkos lembur atau potongan-potongan yang diberikan oleh leveransir atau pedagang.

3. Nilai sehat (sound value)

Nilai sehat adalah nilai berdasarkan atas biaya reproduksi baru dikurangi penyusutan atau dengan memperhatikan sifat atau ciri fisik, kegunaan dan pemanfaatan dari aktiva atau barang yang dimaksud.

Di dalam melakukan penilaian kembali atau revaluasi aktiva yang berwujud terdapat beberapa pendekatan yang digunakan, yaitu sebagai berikut:

(17)

1. Cost Based

Current cost based

Pendekatan current cost based dapat berupa current reproduction cost (biaya reproduksi sekarang) dan current replacement cost (biaya pergantian sekarang).

Biaya reproduksi sekarang aktiva tetap adalah estimasi biaya yang diperlukan untuk mereproduksi kembali aktiva tetap baru yang sejenis, pada harga sekarang dengan menyesuaikan jumlah akumulasi penyusutannya. Sedangkan biaya pergantian sekarang aktiva tetap adalah estimasi biaya yang diperlukan untuk memperoleh aktiva tetap baru yang sejenis, pada harga sekarang dengan menyesuaikan jumlah akumulasi penyusutannya.

Adjusted historical cost

Biaya historis yang disesuaikan merupakan dasar penilaian harga perolehan yang disesuaikan dengan tingkat harga umum. Dalam hal ini, penyesuaian terhadap nilai aktiva tetap tersebut dilakukan dengan menggunakan indeks harga umum.

2. Income Capitalization (kapitalisasi pendapatan)

Pertimbangan utama dalam pendekatan kapitalisasi pendapatan adalah manfaat masa depan dari aktiva tetap yang digunakan. Manfaat masa depan ini bisa dinyatakan dalam nilai sekarang (present value) dari laba bersih atau arus kas bersih yang diharapkan dari aktiva tetap tersebut.

3. Market Data or Comparative (pendekatan data pasar)

Pendekatan data pasar dilakukan dengan cara membandingkan aktiva tetap yang akan direvaluasi dengan aktiva sejenis yang ada di pasaran. Dasar penilaian lain yang merupakan variasi dari pendekatan data pasar adalah fair Market Value (nilai pasar wajar) yaitu suatu tingkatan harga dimana transaksi terjadi tanpa adanya tekanan.

Hasil penilaian kembali dilakukan atau dihitung berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar yang berlaku. Kalau nilai pasar aktiva umumnya merujuk pada jumlah yang akan diperoleh atau dikeluarkan berdasarkan harga pasar yang berlaku apabila aktiva tersebut ditarik dari kegiatan usaha. Sedangkan nilai wajar dalam perpajakan umumnya dimanfaatkan sebagai instrumen antara kedua pihak yang bertransaksi (mungkin dalam perolehan aktiva semula atau antara

(18)

perusahaan dengan penilai). Instrumen penguji tersebut antara lain juga merujuk pada nilai pasar (sebanding).

2.1.5.4. Penilaian Kembali (revaluasi) Aktiva Tetap Menurut Perpajakan

Dari sisi perpajakan, penilaian kembali aktiva tetap diatur dalam pasal 19 ayat 1 Undang-undang Nomor 17 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2000, yang menyatakan bahwa “selisih lebih karena penilaian kembali harta tetap merupakan penghasilan dan dikenakan pajak penghasilan dengan tarif tersendiri berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan.” Ketentuan ini di pertegas dengan keluarnya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 486/KMK.03/2002 tanggal 28 November 2002 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap perusahaan sebagai penyempurnaan dari Keputusan Menteri Keuangan Nomor 384/KMK.04/1998 selain peraturan diatas digunakan juga peraturan yang lama, karena masih relevan untuk objek penelitian yaitu Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 507/KMK.04/1996 tentang penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, tanggal 13 Agustus 1996 dan Surat Edaran Direktur Jendral Pajak Nomor SE- 18/PJ.42/1997 tentang cara perhitungan kompensasi kerugian terhadap selisih penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap, tanggal 31 Desember 1997.

Untuk dapat mengetahui subyek, obyek, tatacara dan kewajiban perpajakan yang timbul sebagai akibat dari adanya penilaian kembali, kita harus mengetahui dan memahami peraturan perpajakannya yang terkait dengan penilaian kembali aktiva tetap. Untuk itu peraturan perpajakan yang terkait dengan penilaian kembali dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Pasal 19 UU No.17 tahun 2000.

Pasal 19 ayat (1):

“Menteri Keuangan berwenang untuk menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva dan faktor penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara unsure-unsur biaya dengan pengahsilan karena perkembangan harga.”

(19)

Pasal 19 ayat (2):

“Atas selisih penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan tarif pajak tersendiri dengan keputusan mentri keuangan sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi (30%).”

2. Pasal 4 ayat (1) huruf m UU No.17 tahun 2000:

“Yang menjadi Obyek Pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk: a…,m. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva..”

3. Pasal 11 ayat (6) UU No.17 tahun 2000:

“ Untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak dalam melakukan penyusutan atas pengeluaran harta berwujud, ketentuan ini mengatur kelompok masa manfaat harta dan tarif penyusutan baik menurut metode garis lurus maupun saldo menurun. Yang dimaksud dengan bangunan tidak permanen adalah bangunan yang besifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan, yang masa manfaatnya tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Misalnya, barak atau asrama yang dibuat dari kayu untuk karyawan.”

4. Keputusan Menteri Keuangan nomor: 486/KMK.03/2002. Tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Untuk Tujuan Perpajakan.

- Semua aktiva tetap berwujud (tanah, kelompok bangunan, dan kelompok bukan bangunan) dapat direvaluasi dengan syarat tidak dimaksudkan untuk dialihkan atau untuk dijual.

- Revaluasi aktiva tetap dilakukan berdasarkan harga pasar atau nilai wajar aktiva pada saat penilaian dilakukan.

- Yang melakukan penilaian adalah perusahaan penilai independen yang diakui oleh pemerintah.

- Jika nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan tidak mencerminkan keadaan sebenarnya, maka dirjen pajak akan menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar yang bersangkutan.

(20)

- Selisih nilai pasar atau nilai wajar dengan nilai buku fiskal aktiva tetap yang direvaluasi harus dikompensasikan dahulu dengan kerugian fiskal tahun berjalan dan sisa kerugian tahun-tahun sebelumnya yang masih dapat dikompensasikan.

- Selisih lebih karena revaluasi aktiva tetap setelah dilakukan kompensasi kerugian dikenakan PPh final 10%.

- Bagi wajib Pajak yang melakukan penggabungan usaha, PPh terutang 10% tersebut dapat dibayar paling lama 5 tahun terhitung sejak tahun dilakukannya revaluasi aktiva tetap. PPh yang dilunasi untuk setiap tahun minimal 20% dari jumlah pajak terutang, kecuali untuk tahun terakhir.

- Wajib Pajak yang melakukan revaluasi aktiva tetap wajib menyampaikan pemberitahuan kepada kepala KPP tempat Wajib Pajak terdaftar dengan melampirkan: Laporan penilaian, Neraca penyesuaian yang telah diaudit akuntan publik, penghitungan selisih lebih karena revaluasi aktiva tetap, penghitungan besarnya PPh terutang, Surat Setoran Pajak.

- Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib menerbitkan pengesahan atas neraca penyesuaian paling lambat 1 bulan sejak tanggal pemberitahuan diterima dengan lengkap. Jika telah lewat batas waktu Kepala Kantor Pelayanan Pajak belum menerbitkan pengesahan, maka neraca penyesuaian wajib pajak disetujui.

- Nilai pasar atau nilai wajar aktiva tetap yang direvaluasi merupakan dasar penyusutan aktiva dan penghitungannya dimulai tahun pajak dilakukannya revaluasi. Tarif penyusutan dan masa manfaat sesuai dengan kelompok aktiva sebagaimana dimaksud pasal 11 Undang- undang PPh.

- Aktiva tetap yang telah direvaluasi dan telah dikenakan PPh final 10%

tidak dapat dialihkan kepada pihak lain sebelum jangka waktu 5 tahun setelah direvaluasi, kecuali apabila aktiva tersebut dialihkan kepada pemerintah atau dialihkan dalam rangka penggabungan atau pemekaran usaha.

(21)

- Apabila wajib pajak mengalihkan aktiva tetap yang telah direvaluasi sebelum lewat 5 tahun maka selisih revaluasi setelah diperhitungkan tanpa kompensasi kerugian tetap dikenai tambahan PPh final sebesar 20%.

5. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 507/KMK.04/1996 tentang penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, tanggal 13 Agustus 1996:

- Wajib Pajak badan dalam negri dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan yang terletak atau berada di Indonesia, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali.

- Aktiva tetap perusahaan yang dinilai kembali berdasarkan keputusan ini adalah aktiva berwujud dalam bentuk tanah, kelompok bangunan, dan kelompok bukan bangunan yang telah dimiliki lebih dari 5 tahun dan masih digunakan di Indonesia untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara pengahsilan dan tidak dimaksudkan untuk dialihkan atau dijual.

- Penilaian kembali aktiva tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar wajar aktiva tetap pada saat penilaian dilakukan yang ditetapkan oleh lembaga penilai yang diakui oleh pemerintah.

- Dalam hal nilai pasar yang ditetapkan oleh lembaga penilai yang diakui oleh pemerintah ternyata kemudian tidak wajar, maka Direktur Jendral Pajak akan menetapkan kembali nilai pasar yang wajar.

- Selisih antara nilai pasar wajar dengan nilai buku fiskal aktiva tetap yang dinilai kembali wajib dikompensasikan dahulu dengan sisa kerugian fiskal yang masih dapat dikompensasikan.

- Wajib Pajak yang melakukan penilaian kembali aktiva tetap wajib menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan melampirkan neraca penyesuaian, penghitungan selisih lebih karena penilaian kembali

(22)

aktiva tetap, penghitungan besarnya pajak penghasilan yang terutang serta Surat Setoran Pajak (SSP).

- Kepala Kantor Pelayanan Pajak setelah meneliti pemberitahuan Wajib Pajak, wajib menerbitkan neraca penyesuaian paling lambat dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal pemberitahuan diterima dengan lengkap.

- Wajib Pajak yang telah melakukan penilain kembali berdasarkan keputusan ini tidak dapat melakukan penilaian kembali sebelum lewat jangka waktu 5 tahun.

- Keuntungan atau kerugian dari penghasilan aktiva tetap yang dilakukan penilaian kembali, yaitu selisih antara harga jual aktiva yang bersangkutan dengan nilai sisa buku setelah penilaian kembali, digabungkan dengan penghasilan lainnya dalam penghitungan penghasilan kena pajak dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan untuk tahun pajak dialihkannya aktiva tersebut, kecuali pengalihan aktiva yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final.

6. Surat Edaran Direktur Jendral Pajak Nomor SE-18/PJ.42/1997 tentang cara perhitungan kompensasi kerugian terhadap selisih penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap, tanggal 31 Desember 1997:

Sehubungan dengan pertanyaan tentang penerapan cara perhitungan kompensasi kerugian horisontal maupun vertikal terhadap selisih penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap sebagaimana yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor:

507/KMK.04/1996 tanggal 13 Agustus 1996 jo. Surat Edaran Direktur Jendral Pajak Nomor: SE-30/PJ.42/1996 tanggal 14 Agustus 1996, dengan ini diberikan penegasan sebagai berikut:

1. Apabila dalam tahun dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan mengalami kerugian, baik kerugian operasional maupun kerugian selisih kurs, maka kerugian-kerugian tersebut harus lebih dahulu dikompensasikan dengan selisih penilaian kembali aktiva tetap tersebut.

(23)

2. Apabila setelah kompensasi pada butir 1 masih terdapat selisih positif (selisih lebih) dari penilaian kembali aktiva tetap dan perusahaan masih mempunyai kerugian fiskal dari tahun-tahun sebelumnya yang belum dikompensasikan, maka kerugian fiskal tersebut juga harus dikompensasikan terlebih dahulu dengan sisa lebih selisih penilaian kembali aktiva tetap tersebut.

3. Apabila setelah kompensasi horizontal dan vertical pada butir 1 dan butir 2 di atas masih terdapat sisa lebih penilaian kembali aktiva tetap, atas kelebihan tersebut dikenakan PPh final sebesar 10%.

7. Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor: KEP-519/PJ/2002. Tentang Tata Cara dan Prosedur Pelaksanaan Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Untuk Tujuan Perpajakan:

- Yang dapat melakukan revaluasi aktiva tetap yang terletak atau berada diwilayah Indonesia adalah Wajib Pajak badan dalam negeri yang telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak dilakukannya revaluasi.

- Kewajiban Pajak tersebut meliputi PPh, PPN, PPnBM, dan PBB yang terutang.

- Yang dapat direvaluasi adalah semua aktiva berwujud, baik dalam bentuk tanah, kelompok bangunan, dan bukan bangunan yang tidak dimaksudkan untuk dijual atau dialihkan (bukan barang dagangan) dapat direvaluasi.

- Revaluasi aktiva tetap harus dilakukan oleh perusahaan penilai yang diakui oleh pemerintah. Revaluasi aktiva tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar yang berlaku pada saat dilakukannya penilaian kembali dengan menggunakan metode penilaian yang lazim berlaku di Indonesia.

- Mulai tahun pajak dilakukannya revaluasi aktiva tetap, penyusutan atas aktiva tersebut dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar yang baru dengan menggunakan tarif penyusutan dan masa manfaat sesuai dengan kelompok harta sebagaimana dimaksud pasal 11 Undang- undang PPh.

(24)

- Wajib pajak yang telah melakukan revaluasi aktiva tetap masih dapat melakukan revaluasi lagi. Aktiva tetap yang telah direvaluasi juga masih dapat direvaluasi sepanjang tidak dilakukan pada tahun yang sama. Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap setelah kompensasi kerugian dikenakan PPh final 10%. Bagi wajib pajak yang melakukan penggabungan usah pajak 10% tersebut dapat dibayar dalam jangka waktu yang paling lama 5 tahun dengan ketentuan PPh yang dibayar atau dilunasi setiap tahunnya tidak boleh kurang dari 20%, kecuali untuk pelunasan tahun terakhir.

- Selisih lebih penilaian aktiva tetap setelah kompensasi kerugian dibukukan tersendiri dalam perkiraan “selisih penilaian kembali aktiva“ dan termasuk kedalam kelompok perkiraaan modal.

- Pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai saham tanpa penyetoran kepada pemegang saham sehingga akibat pemindahbukuan perkiraan “selisih penilaian kembali aktiva” ke perkiraan modal saham tidak diperkenankan PPh.

2.1.5.4.1. Subyek yang boleh melakukan revaluasi aktiva tetap

Wajib pajak yang diperbolehkan melakukan penilaian kembali aktiva tetap adalah:

1. Wajib pajak badan dalam negeri, terdiri dari:

a. Perseroan Terbatas b. Perseroan Komanditer c. Perseroan lainnya

d. BUMN dan BUMD dengan nama dan dalam bentuk apapun.

e. Persekutuan f. Perkumpulan g. Firma/kongsi h. Koperasi

i. Yayasan atau organisasi sejenis j. Lembaga

k. Dana Pensiun

l. Dan bentuk-bentuk badan usaha lainnya.

(25)

2. Telah memenuhi kewajiban perpajakannya sampai dengan masa pajak terakhir dilakukannya penilaian kembali, kewajiban pajak yang dimaksud terdiri dari:

a. Pajak Penghasilan

b. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah c. Pajak Bumi dan Bangunan

d. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan

2.1.5.4.2. Obyek Revaluasi Aktiva Tetap Aktiva tetap yang boleh di revaluasi adalah:

1. Semua aktiva tetap berwujud, berupa:

a. Tanah

b. Kelompok bangunan

c. Bukan bangunan kelompok 2 d. Bukan bangunan kelompok 3 e. Bukan bangunan kelompok 4

2. Aktiva tersebut terletak atau berada di Indonesia

3. Aktiva tersebut telah dimiliki sekurang-kurangnya lima tahun

4. Masih digunakan dalam operasional perusahaan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan.

5. Kepemilikannya tidak dimaksudkan untuk dialihkan atau dijual (bukan merupakan barang dagangan atau persediaan).

2.1.5.5. Tata Cara dalam Melakukan Revaluasi Aktiva Tetap

Berdasarkan Kepmenkeu No.384/KMK.04/1998 tanggal 14 Agustus 1998 dan Surat Edaran Dirjen . Pajak No. 29/PJ.42/1998, diatur mengenai:

1. Wajib Pajak yang dapat melakukan revaluasi adalah Wajib Pajak badan dalam negeri yang terletak atau berada di Indonesia. Wajib Pajak badan dalam negeri terdiri: Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,

(26)

yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, Bentuk Usaha Tetap, dan bentuk badan lainnya.

2. Telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali. Kewajiban pajak yang dimaksud terdiri dari:

e. Pajak Penghasilan

f. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah g. Pajak Bumi dan Bangunan

h. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan Aktiva tetap yang dapat direvaluasi adalah:

1. Aktiva tetap berwujud dalam bentuk tanah, kelompok bangunan, dan bukan bangunan, yang tidak dimaksudkan untuk dialihkan atau dijual.

2. Aktiva tersebut terletak atau berada di wilayah Indonesia.

3. Penilaian kembali dapat dilakukan terhadap seluruh aktiva tetap (revaluasi total) ataupun atas sebagian aktiva (revaluasi parsial) yang dimiliki oleh perusahaan.

4. Penilaian Kembali aktiva tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aktiva tetap pada saat penilaian dilakukan yang ditetapkan oleh perusahaan penilai atau penilai yang diakui oleh pemerintah.

5. Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan penilai atau penilai yang diakui oleh pemerintah ternyata kemudian tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka Direktur Jendral Pajak akan menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar yang bersangkutan.

6. Selisih antar nilai pasar atau nilai wajar dengan nilai buku fiskal aktiva tetap yang dinilai kembali, wajib dikompensasikan terlebih dahulu dengan kerugian fiskal tahun berjalan dan sisa kerugian fiskal tahun-tahun sebelumnya yang masih dapat dikompensasikan.

7. Selisih lebih karena penilaian kembali setelah dilakukan kompensasi kerugian dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat Final, sebesar 10% (sepuluh persen). di atas dapat dibayar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun, terhitung sejak tahun dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan.

(27)

8. Bagi Wajib Pajak yang melakukan penggabungan usaha, Pajak Penghasilan yang terutang sebesar 10% (sepuluh persen) di atas dapat dibayar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan.

9. Pajak Penghasilan yang harus dilunasi untuk setiap tahun paling sedikit sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah pajak yang terutang, kecuali pelunasan untuk tahun terakhir.

10. Apabila Wajib Pajak melaukan penilaian kembali aktiva tetap sebelum akhir tahun pajak, maka kerugian fiskal pada tahun buku yang bersangkutan, diperhitungkan sampai dengan dilakukannya revaluasi aktiva tetap tersebut.

11. Nilai pasar atau nilai wajar merupakan dasar penyusutan aktiva mulai tahun pajak dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap tersebut. Penyusutan dilakukan sesuai dengan pasal 11 Undang-undang Pajak Penghasilan.

12. Aktiva tetap yang telah dilakukan penilaian kembali dan telah dikenakan Pajak Penghasilan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, sebelum lewat jangka waktu 5 (lima) tahun setelah dilakukannya penilaian kembali.

13. Apabila Wajib Pajak mengalihkan aktiva tetap tersebut sebelum lewat jangka waktu 5 (lima) tahun, maka atas selisih penilaian aktiva tetap tersebut, tetap dikenakan Pajak Penghasilan yang terutang sebesar 10% dan tambahan Pajak Penghasilan yang bersifat Final sebesar 15% (lima belas persen).

14. Dikecualikan dari jangka waktu 5 (lima) tahun jika aktiva tetap tersebut dialihan kepada pemerintah atau dialihkan dalam rangka penggabungan, peleburan atau pemekaran usaha.

2.1.5.6. Tata Cara Setelah Dilakukannya Revaluasi

Setelah melakukan revaluasi maka Wajib Pajak memberitahukan hasil penilaian kembali, dengan mengisi formulir yang telah disediakan, kemudian diberikan kepada Dirjen Pajak. Dalam jangka waktu paling lama satu bulan setelah tanggal pemberitahuan Wajib Pajak diterima oleh Dirjen Pajak, maka Kantor Pelayanan Pajak (KPP) wajib menerbitkan Surat Keputusan (SK) pengesahan atau penolakan atas neraca penyesuaian yang dilaporkan oleh WP yang melakukan revaluasi.

(28)

Selisih lebih akibat revaluasi setelah dikompensasikan dengan kerugian fiskal dan atau sisa kerugian fiskal pada tahun-tahun yang lalu (menurut pasal 6 ayat 2 Undang-undang Pajak Penghasilan) dikenakan PPh Final sebesar 10%.

Khusus bagi WP yang melakukan penggabungan usaha, PPh Final dapat dibayarkan dalam jangka waktu paling lama 5 tahun terhitung sejak tahun fiskal dilakukannya revaluasi, sepanjang PPh yang dibayarkan atau dilunasi setiap tahunnya tidak boleh kurang dari 20% jumlah PPh terutang, kecuali untuk pelunasan untuk tahun terakhir. Dari regulasi tersebut, khusus bagi WP yang melaksanakan penggabungan usaha dapat mencicil PPh Final yang terutang tersebut. Perlu kita sadari bahwa perlakuan khusus tersebut pada prinsipnya adalah untuk menjaga arus kas dari perusahaan yang hendak melakukan penggabungan usaha.

Selisih lebih akibat revaluasi setelah diperhitungkan dengan kompensasi kerugian dibukukan dalam perkiraan (rekening atau akun) tersendiri yang diberi nama “Selisih Penilaian Kembali Aktiva” dan termasuk dalam kelompok perkiraan ekuitas. Pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai saham tanpa penyetoran kepada para pemegang saham, sebagai akibat pemindahbukuan perkiraan “selisih penilai kembali aktiva” ke perkiraan “modal saham” tidak dikenakan PPh bagi pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam memori penjelasan ketentuan pasal 4 ayat (1) huruf g Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Bagi perusahaan yang tidak mempunyai rugi fiskal maka pertimbangan yang harus diperhatikan adalah berapa laba yang diperoleh perusahaan. Apakah laba tersebut masih dikenakan tarif terendah (10%), tarif menengah (15%) atau sudah mencapai tarif tertinggi (30%). Jika laba perusahan masih dikenakan tarif terendah (10%) maka sama dengan tarif pajak Penghasilan (PPh) final yang harus dibayar. Padahal pembebanan selisih lebih melalui penyusutan harus dilakukan bertahap sesuai dengan umur aktiva yang bersangkutan. Kalau laba sudah mencapai lapisan tarif tertinggi maka perlu dihitung nilai tunai dari penyusutan kemudian dibandingkan dengan jumlah pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) final.

Jika tahun 2000 perusahaan mempunyai rugi fiskal sebesar Rp 500 juta (Rp 1miliar – Rp 500 juta) dan laba tahun 2001 diprediksi hanya sebesar Rp 200

(29)

juta, maka akan ada kompensasi kerugian yang hangus sebesar Rp 300 juta (karena sudah lima tahun). Daripada kompensasi tersebut hangus maka perusahaan sebaiknya revaluasi pada awal tahun 2001. Hal ini dikarenakan selisih revaluasi aktiva tetap sebesar Rp 350 juta dikompensasi dulu terhadap rugi fiskal, sehingga tidak dikenakan PPh final. Dengan demikian rugi fiskal pada tahun yang bersangkutan tinggal Rp 150 juta dan apabila laba tahun 2001 Rp 200 juta, perusahaan tinggal membayar pajak untuk tahun 2001 atas laba setelah kompensasi sebesar Rp 50 juta yang dikenakan tarif 10% saja, disamping itu untuk tahun 2001 juga akan ada tambahan biaya penyusutan karena revaluasi yang akan mengurangi laba sebelum pajak (Penghasilan Kena Pajak).

2.2. Kajian Penelitian Terdahulu

Kajian penelitian terdahulu yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan skripsi ini adalah:

1. Skripsi milik Sutanto Erdy, Jurusan Akuntansi 1998 mengenai tinjauan revaluasi aktiva tetap menurut pajak serta pengaruhnya terhadap laba kena pajak suatu kasus pada PT. “x” Surabaya.

2. Skripsi milik Dian Prameswari, Jurusan Akuntansi 2003 mengenai Pengaruh revaluasi aktiva tetap terhadap kewajiban pajak perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis bobot basah, Menunjukkan bahwa pemberian bahan organik berupa bokasi berpengaruh nyata terhadap perubahan serapan Nitrogen tanaman bawang

Mengesahkan Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies, 1967 (Traktat

- berilah tanda pada kolom Tugas /Jabatan, sesuai tugas saat ini - berilah tanda status keaktifan sesuai kondisi saat ini.. - Isi Tempat Tugas & Mapel

auf allen anderen behandelten, sehr heterogenen PC’s (2.) gab und gibt es bis jetzt keine Probleme mit nach der Installation nicht oder fehlerhaft laufenden Programmen..

Berdasarkan Pasal 1 Ayat (1) Undang Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir kali

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir

Hasil penelitian ini menemukan bahwa anak terlibat dalam kegiatan adu doro bukan karena keturunan tapi karena proses belajar yang teman sebayanya yang juga

Ideologi sentralisme hukum diartikan sebagai suatu ideologi yang menghendaki pemberlakuan hukum negara (state law) sebagai satu - satunya hukum bagi semua warga