KINERJA OPERASIONAL BECAK DI KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG
Kiki Amalia, Dadang Meru Utomo, Imma Widyawati Agustin
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan Mayjen Haryono 167 Malang 65141 – Telp (0341) 567886
Email: [email protected]
ABSTRAK
Becak merupakan salah satu moda transportasi paratransit yang memiliki keunggulan dalam mendukung keberlanjutan sistem transportasi di Kecamatan Klojen Kota Malang. Akan tetapi, penyediaan angkutan becak yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Kecamatan Klojen menyebabkan masyarakat merasa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja operasional angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang. Metode analisis yang digunakan untuk analisis kinerja operasional becak adalah analisis deskriptif evaluatif dengan membandingkan masing-masing variabel kinerja operasional dengan standar yang ada. Hasil evaluasi menunjukkan beberapa variabel kinerja operasional becak belum memenuhi standar yang ada dengan kecepatan rata-rata becak 4,88 km/jam, jarak pelayanan rata-rata 1,25 km, serta waktu operasional becak 7-9 jam/hari.
Kata Kunci : Becak, Kinerja-Operasional, Kinerja-Pelayanan, Importance-Performance-Analysis.
ABSTRACT
As one of the modes of paratransit transportation, pedicabss have advantages that can support the sustainability of the transportation system in Klojen District, Malang City. However, the provision of pedicab transport that is not in accordance with the needs of the community in Klojen Subdistrict causes the community to be less satisfied with the services provided. The purpose of this study was to determine the operational performance of pedicab transport in Klojen District, Malang City. The analytical method used to analyze the operational performance of pedicabs is evaluative descriptive analysis by comparing each operational performance variable with the existing standard. The evaluation results show that a number of operational performance of pedicabs do not meet existing standards with an average speed of 4.88 km / h, average service distance of 1.25 km, and operational time for becak 7-9 hours / day.
Keywords : Pedicab, Operational-Performance, Service-Performance, Importance-Performance-Analysis.
PENDAHULUAN
UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menjamin terwujudnya pelayanan transportasi publik yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu bagi setiap warna negara yang menggunakannya. Undang- undang tersebut menerangkan bahwa dalam rangka mewujudkan pelayanan yang baik di bidang lalu lintas dan angkutan jalan, setiap penyelenggaraan transportasi publik wajib memberikan pelayanan jasa sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Menurut Warpani (1990), angkutan umum penumpang dikatakan baik apabila kinerjanya telah baik dan tujuan utama keberadaannya telah tercapai, yaitu menyelenggarakan pelayanan angkutan yang baik dan layak bagi masyarakat.
Haryono (2010) menjelaskan bahwa kondisi angkutan umum di wilayah perkotaan di Indonesia pada saat ini belum tertata dengan
baik. Kinerja angkutan umum belum memadai, dan kualitas pelayanan belum menjadi prioritas.
Umumnya, prioritas penyelenggaraan angkutan umum saat ini adalah menyediakan angkutan umum yang murah sehingga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, namun seringkali mengesampingkan kualitas pelayanan. Menurut Puspitasari (2017), menurunnya fungsi pelayanan angkutan umum salah satunya disebabkan karena angkutan umum tersebut tidak memiliki evaluasi yang baik dalam segi merencanakan pelayanan ke depannya.
Permasalahan serupa juga terjadi pada jenis angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang. Penyediaan angkutan becak yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Kecamatan Klojen menyebabkan masyarakat merasa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada tahun 2018, diketahui pengguna jasa angkutan becak mulai mengalami penurunan
KINERJA OPERASIONAL BECAK DI KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG
hingga 50%. Menurut para pengemudi becak, jumlah rata-rata penumpang yang dilayani pada saat ini hanya berkisar 1-2 orang dalam sehari, hal ini menurun dibandingkan tahun-tahun sebelum munculnya becak bermotor dan transportasi online yang bisa mencapai 3-5 penumpang dalam sehari.
Menurunnya jumlah penumpang angkutan becak di Kecamatan Klojen disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya karena kinerja angkutan becak yang mengalami penurunan.
Kondisi ini terlihat dari rendahnya tingkat pelayanan yang ditunjukkan dengan kecepatan angkutan becak yang rendah serta tarif yang mahal. Berdasarkan hasil wawancara terhadap para penumpang becak, diketahui bahwa kecepatan angkutan becak yang lambat menyebabkan waktu tempuh perjalanan rata- rata mengalami keterlambatan 5-15 menit lebih lama bila dibandingkan dengan angkutan umum sejenis seperti becak bermotor. Selain itu tarif yang dikenakan terhadap penumpang becak bisa mencapai 2 kali lipat lebih mahal (Survei Primer, 2017).
Dampak dari penurunan kinerja angkutan umum yang secara langsung berpengaruh terhadap kepuasan masyarakat, menyebabkan masyarakat beralih ke angkutan lain yang lebih memadai (Saputra, 2016). Berdasarkan hal-hal tersebut maka perlu adanya evaluasi terhadap kinerja operasional angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang.
METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian
Penelitian “Kinerja Operasional Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang” dilakukan di wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang yang mencakup 19 pangkalan becak yang tersebar di Kecamatan Klojen. Lokasi wilayah studi dapat dilihat pada (Gambar 1).
Populasi dan Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga yaitu sampel pengemudi, penumpang dan sampel kendaraan. Pada penelitian ini penentuan sampel pengemudi dan penumpang becak menggunakan rumus Slovin untuk mengambil sampel yang diteliti. Besaran jumlah sampel (n) dihitung menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
Keterangan :
n = jumlah sampel yang diperlukan N = jumlah populasi
e = tingkat kesalahan (ditentukan 5%) Sampel Pengemudi
Untuk mengetahui sampel pengemudi becak, populasi yang digunakan adalah jumlah becak yang ada di Kecamatan Klojen dengan asumsi setiap becak dikemudikan oleh satu orang.
Sampel Penumpang
Populasi yang digunakan untuk mengetahui sampel penumpang becak adalah jumlah penduduk di Kecamatan Klojen Kota Malang. Sehingga perhitungan sampel pengemudi dan penumpang becak adalah sebagai berikut.
Sampel Becak
Pengambilan sampel becak dalam penelitian ini menggunakan sampel minimum untuk penelitian deskriptif dengan metode Gay dan Dehl (1996) dalam Kuncoro (2013) yaitu sebesar 10% dari total populasi. Adapun populasi yang digunakan adalah jumlah becak di Kecamatan Klojen. Sehingga jumlah sampel becak yang diperoleh adalah 10% dari 353 unit becak atau 35 sampel. Hasil perhitungan sampel pengemudi, penumpang dan sampel becak selanjutnya diproporsikan untuk tiap-tiap pangkalan.
Analisis Kinerja Operasional Becak
Metode analisis yang digunakan dalam analisis kinerja operasional becak adalah analisis deskriptif evaluatif terhadap kecepatan rata-rata, jarak pelayanan rata-rata, waktu operasional, waktu tunggu, tarif perjalanan, dan cara mendapatkan becak untuk mengetahui karakteristik masing-masing variabel kinerja yang dijelaskan secara deskriptif.
𝑛 = N
1 + (N x 𝑒*)
𝑛 = 353
1 + (353 x 0,05*) 𝑛 = 188 pengemudi
𝑛 = 108.637
1 + (108.637 x 0,05*) 𝑛 = 398 ≈ 400 penumpang
(1)
Gambar 1. Peta Lokasi Studi Selanjutnya untuk mengetahui apakah
angkutan becak tersebut sudah berjalan dengan baik atau belum, dapat dievaluasi dengan memakai indikator kinerja angkutan becak berdasarkan standar menurut Arianty (2008) ditampilkan dalam (Tabel 1).
Tabel 1. Parameter Kinerja Operasional Becak
No. Indikator Parameter
1 Kecepatan rata-rata 5 km/jam 2 Jarak pelayanan rata-
rata 1,75-2 km
3 Waktu operasional 10-12 jam 4 Waktu tunggu 0 – 5 menit
5 Tarif perjalanan Berdasarkan kesepakatan 6 Cara mendapatkan
becak Menunggu dan dipanggil di
tepi jalan Sumber: Arianty (2008)
Kecepatan Rata-Rata
Kecepatan rata-rata perjalanan angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang, diperoleh melalui observasi / pengamatan terhadap 35 sampel becak yang telah ditentukan
sebelumnya dengan cara pengemudi melakukan pengamatan di lokasi pangkalan becak untuk menunggu datangnya calon penumpang becak.
Setelah itu surveyor akan menanyakan lokasi tujuan penumpang becak untuk memperoleh besarnya jarak tempuh. Kemudian dilakukan pencatatan terhadap waktu keberangkatan dan waktu tiba pengemudi becak sebagai data waktu tempuh perjalanan (waktu tempuh dibagi dua).
Selanjutnya data jarak dan waktu tempuh tersebut digunakan untuk menghitung kecepatan rata-rata becak yang dirumuskan sebagai berikut (Safe, Udiana, & Bella, 2015):
V = 67 Keterangan :
V= Kecepatan rata-rata becak (km/jam)
S= Jarak dari lokasi penumpang naik becak ke lokasi tujuan (km)
T= Waktu tempuh becak dari lokasi penumpang naik becak ke lokasi tujuan stau sebaliknya (jam)
Pangkalan Becak
(2)
KINERJA OPERASIONAL BECAK DI KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG
Jarak Palayanan Rata-Rata
Jarak pelayanan rata-rata angkutan becak diperoleh melalui pembagian antara kecepatan rata-rata becak dengan waktu tempuh perjalanan. Data kecepatan rata-rata dan waktu tempuh perjalanan diperoleh secara bersamaan dengan pengumpulan data untuk mencari kecepatan rata-rata becak. Sehingga rumus perhitungan jarak pelayanan rata-rata angkutan becak adalah sebagai berikut (Widayanti, 2010).
S = V x T Keterangan:
S = Jarak tempuh/pelayanan rata-rata becak (km) V= Kecepatan rata-rata becak (km/jam)
T= Waktu tempuh becak dari lokasi penumpang naik becak ke lokasi tujuan stau sebaliknya (jam) Waktu Operasional
Waktu operasional becak di Kecamatan Klojen Kota Malang didapatkan dengan cara pembagian kuisioner kepada responden pengemudi becak. Analisis ini dilakukan dengan komparatif, yaitu membandingkan kondisi eksisting waktu operasional becak di Kecamatan Klojen Kota Malang dengan standar yang ada dan dijelaskan secara deskriptif.
Waktu Tunggu
Waktu tunggu angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang didapatkan dengan cara penyebaran kuisioner kepada responden pengguna becak. Menurut Arianty (2008) indikator kinerja operasional angkutan becak yang berkaitan dengan waktu tunggu penumpang rata-rata sebesar 0-5 menit. Analisis ini dilakukan dengan komparatif, yaitu membandingkan kondisi eksisting waktu tunggu penumpang dengan standar yang ada dan dijelaskan secara deskriptif.
Tarif Perjalanan
Untuk mengetahui cara penetapan tarif becak di Kecamatan Klojen Kota Malang dilakukan dengan cara penyebaran kuisioner kepada responden pengemudi becak kemudian diikuti dengan wawancara untuk mengetahui besarnya tarif yang ditentukan untuk setiap kilometernya untuk kemudian dijelaskan secara deskriptif
Cara Mendapatkan Becak
Cara mendapatkan becak dilakukan dengan penyebaran kuisioner kepada responden
pengguna becak. Menurut Arianty (2008) cara yang digunakan oleh calon penumpang untuk memperoleh angkutan becak yaitu menunggu dan memanggil di tepi jalan. Analisis ini dilakukan dengan mengitung dan mengelompokkan data cara mendapatkan becak yang dilakukan oleh penumpang dan selanjutnya dibandingkan dengan parameter yang telah ditetapkan dan dijelaskan secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Secara umum kondisi becak di Kecamatan Klojen yang saat ini beroperasi umumnya tidak mengalami perubahan tampilan dari awal kemunculannya hingga sekarang. (Gambar 2) memperlihatkan kondisi angkutan becak saat ini di Kecamatan Klojen Kota Malang.
(a) (b)
Gambar 2. Becak Kecamatan Klojen Kota Malang Angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang menggunakan kendaraan roda tiga yang berupa sepeda dan dikayuh dengan menggunakan tenaga manusia. Terdapat dua jenis becak berdasarkan seri produksinya yang saat ini masih digunakan untuk beroperasi di Kecamatan Klojen Kota Malang yaitu becak seri keluaran Go Ah Pong (GAP) dan becak seri keluaran Tim Kim Wat (TKW). Becak GAP memiliki dimensi panjang 2.100 mm, lebar 9 00 mm dan tinggi 1.450 mm. Sedangkan Becak TKW memiliki dimensi panjang 2.200 mm, lebar 900 mm dan tinggi 1.550 mm.
Angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang seluruhnya telah memiliki sistem suspensi atau peredam guncangan yang terletak di roda bagian depan berupa per daun yang dipasang antara poros roda dengan badan becak.
Selain itu keseluruhan becak juga telah dilengkapi dengan sistem rem yang kesemuanya dalam kondisi baik. Hanya saja dari segi kelengkapan spakbor, becak di Kecamatan Klojen Kota Malang tidak semuanya terpasang spakbor di bagian roda depan. Rata-rata becak yang beroperasi hanya (3)
memiliki spakbor di bagian belakang becak dengan ukuran 300 mm.
Karakteristik Pengemudi Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Karakteristik pengemudi dalam penelitian ini dibedakan berdasarkan usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, status kepemilikan becak serta keikutsertaan becak dalam paguyuban. Rekapitulsi karakteristik pengemudi becak di Kecamatan Klojen Kota Malang dapat dilihat dalam (Tabel 2).
Tabel 2. Karakteristik Pengemudi Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Karakteristik
Pengemudi Sub Variabel Jumla
h Persent ase
Tingkat Usia <20 0 0%
21-30 0 0%
31-40 8 4%
41-50 30 16%
51-60 73 39%
61-70 51 27%
>70 26 14%
Tingkat
Pendidikan Tidak sekolah 17 9%
SD 147 78%
SMP 15 8%
SMA/SMK 9 5%
D3/S1/S2 0 0%
Tingkat
Pendapatan 0-Rp. 500,000 122 65%
Rp. 500.000-Rp.
1.000.000 32 17%
Rp. 1.000.000-Rp.
1.500.000 23 12%
Rp. 1.500.000-Rp.
2.000.000 8 4%
>Rp. 2.000.000 3 2%
Status kepemilikan kendaraan
Pribadi 126 67%
Sewa
62 33%
Keikutsertaan
Paguyuban Bergabung 0 0%
Tidak Bergabung 188 100%
Sumber: Hasil Survei Primer (2018)
Tingkat Usia
Responden pengemudi becak didominasi oleh pengemudi dengan rentang usia 51-60 tahun. Menurut Kasim (2011) dalam penelitiannya, menyebutkan bahwa besarnya persentase rentang umur pengemudi becak yang di atas usia produktif (di atas 40 tahun) mengindikasikan bahwa pengemudi becak telah menjalani profesi sebagai pengemudi becak sejak lama
Tingkat Pendidikan
Mayoritas pengemudi becak adalah lulusan SD. Menurut Khakim (2016) dalam penelitiannya, tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi tingkat pelayanan pengemudi dalam hal keselamatan berkendara karena pendidikan
mempengaruhi cara berpikir dan bertindak selama dalam bekerja termasuk menghidari risiko kecelakaan.
Tingkat Pendapatan
Mayoritas tingkat pendapatan pengemudi becak adalah Rp. 0-Rp. 500.000,00/ bulan. Data tersebut menunjukkan bahwa penghasilan pengemudi becak di Kecamatan Klojen dalam satu bulan masih tergolong rendah. Tingkat pendapatan pengemudi becak yang rendah dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari menyebabkan kondisi becak yang digunakan untuk beroperasi kurang mendapatkan perawatan
Status Kepemilikan Becak
Rata-rata status kepemilikan becak di Kecamatan Klojen adalah milik pribadi dengan presentase sebesar 67% dan sewa sebesar 33%.
Status kepemilikan becak di Kecamatan Klojen berpengaruh terhadap besarnya tarif yang dikenakan kepada pengguna becak. Tarif angkutan becak sewa biasanya sedikit lebih mahal Rp 1.000 – Rp. 2000 bila dibandingkkan dengan becak milik pribadi karena para pengemudi becak harus membayar sewa atas becaknya sebesar Rp. 3.000,00 sampai Rp.
6.000,00 rupiah setiap harinya.
Keikutsertaan dalam paguyuban
Sebesar 100% pengemudi becak di Kecamatan Klojen tidak bergabung dalam suatu paguyuban. Tidak adanya paguyuban becak di Kecamatan Klojen Kota Malang menyebabkan para pengemudi becak kurang menjalin komunikasi antar sesama pengemudi dan cenderung beroperasi sendiri-sendiri. Hukmawati (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa perubahan dalam solidaritas dan ketidakharmonisan antar tukang becak mengakibatkan becak mulai mengalami perubahan seperti berpindah ke becak bermotor.
Karakteristik Penumpang Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Karakteristik penumpang becak di Kecamatan Klojen dibedakan berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, dan tujuan perjalanan dapat dilihat dalam (Tabel 3).
Tabel 3. Karakteristik Penumpang Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
KINERJA OPERASIONAL BECAK DI KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG
Karakteristik
Penumpang Sub Variabel Jumlah Persentase
Jenis Kelamin Laki-laki 40 10%
Perempuan 360 90%
Usia 0-15 8 2%
16-20 40 10%
21-25 40 10%
26-30 52 13%
31-35 28 7%
36-40 52 13%
41-45 52 13%
46-50 84 21%
>50 52 13%
Tingkat
Pendidikan SD 28 7%
SMP 80 20%
SMA/SMK 216 54%
D3/S1/S2 76 19%
Jenis Pekerjaan Pelajar 12 3%
Mahasiswa 24 6%
PNS 52 13%
Guru 12 3%
Swasta 68 17%
Wiraswasta 52 13%
Pensiunan 4 1%
Ibu Rumah
Tangga 176 44%
Tujuan
Perjalanan Pasar 120 30%
Rumah 172 43%
Sekolah 24 6%
Angkutan
umum 16 4%
Lain-lain 68 17%
Sumber: Hasil Survei Primer (2018)
Jenis Kelamin
Pengguna becak di Kecamatan Klojen mayoritas berjenis kelamin perempuan. Menurut Kasim (2011), pengguna becak yang sebagian besar adalah wanita, menunjukkan bahwa image becak sebagai salah satu angkutan umum yang ramah lingkungan semakin terbukti tingkat keamanannya karena dapat memberikan rasa aman yang dirasakan penumpang wanita dari kelompok profesi/tingkat pendidikan ini (kelompok wanita dari golongan ini memang paling rentan terhadap gangguan).
Tingkat Usia
Pengguna becak di Kecamatan Klojen didominasi oleh masyarakat dengan tingkat usia 46-50 tahun. Faktor keterbatasan fisik yang dimiliki menyebabkan orang dengan usia lanjut lebih memilih menggunakan becak karena pelayanannya yang dapat mengantarkan penumpang sampai ke depan pintu (door to door).
Tingkat Pendidikan
Mayoritas tingkat pendidikan penumpang becak di Kecamatan Klojen Kota Malang adalah SMA/SMK yaitu sebesar 54%. Menurut penelitian (Christian, Wicaksono, & Kusumaningrum, 2014),
menyebutkan bahwa penumpang yang telah menempuh pendidikan hingga jenjang SMA dan universitas lebih mampu berpikir secara logis akan kebutuhannya dan dapat mengatur manajemen waktu yang efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan perjalanan.Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa pengguna angkutan becak di Kecamatan Klojen yang berlatar belakang pendidikan SMA dan D1/S1/S2 pada saat akan menggunakan angkutan becak telah melakukan pertimbangan terlebih dahulu dalam memenuhi kebutuhan pergerakannya dengan menggunakan becak.
Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan penumpang becak dengan jumlah terbesar adalah ibu rumah tangga.
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga mengindikasikan bahwa pengguna angkutan becak di Kecamatan Klojen didominasi oleh perempuan dimana tingkat keamanan menggunakan angkutan becak menjadi faktor pendorong dalam menggunakan angkutan becak.
Rata-rata penumpang dengan jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga menggunakan becak untuk pergi ke pasar dan sebaliknya.
Tujuan Perjalanan
Jenis perjalanan yang menjadi tujuan penumpang dengan menggunakan becak didominasi oleh perjalanan ke rumah dan ke pasar. Masyarakat lebih memilih menggunakan becak untuk perjalanan dari pasar menuju ke rumah dengan alasan angkutan becak memiliki kapasitas yang besar untuk membawa barang bawaan dari pasar. Selain faktor kapasitas, sikap pengemudi becak yang biasanya membantu penumpang mengangkat dan membawakan barang belanjaan sampai ke dalam pasar juga menjadi faktor penumpang dalam memilih angkutan becak.
Kinerja Operasional Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Kecepatan Rata-Rata
Kecepatan rata-rata perjalanan dengan menggunakan angkutan becak dalam penelitian ini dilakukan dengan perhitungan terhadap data jarak perjalanan dibagi dengan waktu tempuh.
Data jarak dan waktu perjalanan angkutan becak di Kecamatan Klojen dapat dilihat pada (Tabel 4).
Tabel 4. Data jarak dan waktu tempuh becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Pangkalan Asal Tujuan Jarak (km)
Waktu tempuh (menit) Simpang Jalan W.R
Supratman Pasar Bunul 1,2 15
Pasar Klojen Jl Narotama 1,1 13
Stasiun Kota Baru Alun-Alun
Merdeka 1,1 14
Alun-Alun Kecamatan Klojen
Pasar Besar 0,75 9 Malang
Olympic
Garden 1,2 13
Pasar Besar 0,75 10 Jl Bs Riyadi 1,7 21
Jl Kawi Atas Pasar Mergan 1,2 14
Jl Kawi Jl Simpang
Gading 1,7 22
Pasar Besar 1,6 20 Jl Basuki Rahmat Stasiun Kota
Baru 1,1 14
Persimpangan Jalan
Semeru Pasar Oro-
Oro Dowo 1,1 13
Pasar Besar
Jl Kebalen
Wetan 1,3 15
Jl Ir Rais 1,8 22
Malang Olympic
Garden 1,7 22
Ramayana 0,65 8
Jalan Seleyer 0,95 12 Gadang Gg 4 2,9 35 Jl Brawijaya 1,4 17 Muharto Gg 8 1,5 18 Ngaglik Gg 4 1,5 19 Polehan Gg
Mawar 1,7 22
Janti Selatan 2,7 32 Jl Andalas
Tengah 1,5 18
Pasar
Comboran 0,9 11
Jl Halmahera 1,3 16 Mergosono
Butake Gg 3b 1,8 22 Jl Merdeka
Barat 0,75 9
Rumah Sakit Saiful
Anwar Toko buah
lai-lai 1,5 19
Jl KH Hasyim Ashari Jl Kawi 0,85 11 Persimpangan Rumah
Sakit Islam Aisyiyah Wiro Margo 0,8 10 Jl Sutan Syahrir Pasar Besar 0,4 6
Jl S.W Pranoto Pasar Besar 0,4 5
Jl Aris Munandar Stasiun Kota
Baru 1 12
mlah Ju 43,8 539
Rata-Rata 1,25 15,4
Sumber: Hasil Survei Primer (2018)
Hasil perhitungan nilai kecepatan rata-rata becak di Kecamatan Klojen adalah sebagai berikut.
V = 67 V = 𝟏,𝟐𝟓 ;<
=>?,@ABC DE<
V = 4,88 km/jam
Kecepatan rata-rata pelayanan angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang adalah
sebesar 4,88 km/jam. Data tersebut menunjukkan bahwa kecepatan rata-rata angkutan becak di Kecamatan Klojen masih di bawah standar perhitungan kecepatan rata-rata yang ada yaitu rata-rata sebesar 5 km/jam atau dapat dikatakan sedikit lebih lambat. Kurang optimalnya kecepatan rata-rata angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang salah satunya dipengaruhi oleh faktor usia pengemudi yang sebagian besar sudah berusia lanjut.
Jarak Pelayanan Rata-rata
Jarak pelayanan rata-rata angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang berdasarkan perhitungan terhadap data pada (Tabel 4) adalah sebagai berikut.
S = V x T
S = 4,88 km/jam x FG,H IJ jam S = 1,25 km
Jarak pelayanan ini apabila dibandingkan dengan standar yang ada jaraknya lebih kecil dari 1-5-1,75 km. Data tersebut menunjukkan bahwa kinerja operasional angkutan becak dalam segi jarak pelayanan rata-rata masih di bawah standar ideal. Jarak pelayanan rata-rata becak di Kecamatan Klojen berpengaruh terhadap besarnya tarif yang dikenakan terhadap pengguna becak karena semakin jauh jarak pelayanan angkutan becak, maka tarif yang diperoleh pengemudi becak juga semakin besar (Tabel 5).
Waktu Operasional
Waktu operasional yang dimaksud yaitu lama waktu yang digunakan oleh pengemudi becak dalam mendapatkan penumpang. Lama waktu operasi dihitung mulai dari pengemudi meninggalkan rumah hingga kembali ke rumah lagi. Untuk lebih jelasnya lama waktu operasi pengemudi becak dapat dilihat pada (Gambar 3).
Berdasarkan (Gambar 3) diketahui bahwa sebanyak 39% dari pengemudi becak rata-rata beroperasi selama 7-9 jam dalam satu hari.
Selanjutnya sebanyak 29% pengemudi becak beroperasi selama 10-12 jam dalam sehari.
Kemudian masing-masing waktu operasi angkutan becak yang kurang dari 10 jam sehari dan lebih dari 15 jam sehari secara berturut-turut adalah 19% dan 13%.
KINERJA OPERASIONAL BECAK DI KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG
Gambar 3. Lama waktu operasional Becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Data tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 54% angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang beroperasi di bawah standar ketentuan yang ada. Ketidaksesuaian tersebut menyebabkan kinerja operasional angkutan becak menurun karena tidak dapat memenuhi permintaan penumpang. Lama waktu operasional becak di Kecamatan Klojen berpengaruh terhadap jumlah penumpang yang dapat dilayani oleh angkutan becak. Hasil survei menunjukkan bahwa semakin lama becak beroperasi maka jumlah penumpang yang didapat oleh pengemudi becak juga akan bertambah.
Waktu Tunggu
Waktu tunggu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah waktu yang diperlukan calon penumpang untuk mendapatkan angkutan becak.
Waktu tunggu bergantung pada cara penumpang mendapatkan becak serta besarnya jarak antara lokasi penumpang dengan pangkalan becak.
Gambar 4. Waktu tunggu penumpang becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Waktu tunggu penumpang untuk mendapatkan becak hampir seluruhnya kurang dari 10 menit dengan rincian sebanyak 72%
penumpang memiliki waktu tunggu antara 0-5 menit, selanjutnya sebanyak 19% penumpang menunggu angkutan becak selama 6-10 menit
dan sebanyak 7% penumpang yang menunggu angkutan becak selama 11-15 menit dan untuk penumpang yang harus menunggu lebih dari 15 menit yaitu sebanyak 2%. Rata-rata penumpang yang menunggu selama 0-5 menit mencari angkutan becak dengan menuju ke pangkalan karena berdasarkan karakteristiknya lokasi pangkalan becak di Kecamatan Klojen rata-rata berada di kawasan yang menjadi pusat aktivitas kegiatan dan terletak di jalan raya. Hal tersebut menunjukkan bahwa waktu tunggu mendapatkan angkutan becak sudah berada di range waktu ideal.
Tarif Perjalanan
Penetapan tarif angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama antara pengemudi dan penumpang becak. Besar kecilnya tarif yang dikenakan kepada penumpang bervariasi tergantung pada besarnya jarak yang ditempuh. Adapun penetapan tarif rata-rata angkutan becak dapat dilihat pada (Tabel 5).
Tabel 5. Tarif perjalanan angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Jarak (km) Tarif Minimal Tarif Maksimal
0-1 Rp. 5.000 Rp. 10.000
1-2 Rp. 10.000 Rp. 15.000
2-3 Rp. 15.000 Rp. 20.000
3-4 Rp. 20.000 Rp. 25.000
4-5 Rp. 25.000 Rp. 30.000
Sumber: Hasil Survei Primer (2018)
Berdasarkan (Tabel 5) diketahui bahwa rata-rata besarnya tarif yang dikenakan untuk satu kali perjalanan dengan jarak 0-5 km adalah mulai dari Rp 5.000,00 – Rp. 30.000,00. Tarif tersebut akan terus meningkat seiring bertambah jauhnya jarak yang ditempuh oleh penumpang becak. Hal tersebut menunjukkan bahwa tarif perjalanan angkutan becak telah sesuai dengan ketentuan yang ada yaitu berdasarkan kesepakatan bersama. Akan tetapi dalam penentuan besarnya tarif perjalanan masih belum ditetapkan standar tarif minimal dari pemerintah, sehingga persepsi masyarakat akan tarif perjalanan dengan menggunakan angkutan becak berbeda-beda. Dengan demikian, perlu adanya suatu arahan dalam penentuan tarif minimal angkutan becak oleh pemerintah setempat agar tidak merugikan salah satu pihak baik pengemudi maupun penumpang becak.
Cara Mendapatkan Becak
Lokasi pangkalan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang banyak tersebar baik di 2%
13%
29% 39%
11%
6%
1-3 jam 4-6 jam 7-9 jam
10-`12 jam 13-15 jam >15 jam
72%
19%
7% 2%
0-5 menit 6-10 menit 11-15 menit >15 menit
sekitar tempat fasilitas umum, ruas-ruas jalan raya hingga di persimpangan jalan dapat dijumpai pangkalan becak. Hal ini tentu memudahkan masyarakat di Kecamatan Klojen dalam mendapatkan becak. Untuk lebih jelasnya cara yang digunakan penumpang untuk mendapatkan becak dapat dilihat pada (Gambar 5).
Gambar 5. Cara penumpang mendapatkan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang
Berdasarkan Gambar 5, diketahui bahwa sebanyak 79% calon penumpang becak mendapatkan angkutan becak dengan cara menuju ke pangkalan atau memanggil ke pangkalan Hal ini biasanya dilakukan oleh calon penumpang yang lokasi aktivitasnya berdekatan
dengan pangkalan becak. Cara berlangganan biasanya dilakukan oleh para penumpang yang melakukan perjalanan pulang pergi pada jam yang sudah pasti seperti pergi ke pasar dan sekolah yaitu sebesar 11%. Sedangkan cara mendapatkan angkutan becak dengan cara menunggu dan memanggil di tepi jalan saat ini sudah jarang dilakukan yaitu hanya 8% karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menunggu becak yang lewat tanpa penumpang.
Selain cara di atas, untuk mendapatkan angkutan becak juga dilakukan dengan pemesanan melalui telepon atau sms.
Penumpang yang mendapatkan angkutan becak dengan cara ini baru mencapai 2%. Cara ini dipilih sebagian kecil masyarkat karena di sekitar tempat calon penumpang tidak ditemukan pangkalan becak dan kalaupun ada jaraknya jauh. Sehingga masyarakat memilih melakukan pemesanan becak melalui telepon atau sms.
Rekapitulasi hasil analisis kinerja operasional becak yang meliputi kecepatan rata- rata, tarif perjalanan, cara mendapatkan becak, lama waktu operasi, range jarak pelayanan, dan waktu tunggu mendapatkan becak dapat dilihat pada (Tabel 6).
Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Analisis Kinerja Operasional di Kecamatan Klojen Kota Malang
No Kriteria Standar Kondisi Eksisting Analisis
1 Kecepatan
rata-rata 5 km/jam Rata-rata : 4,88 km/jam Kecepatan rata-rata angkutan becak berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Arianty (2008) adalah 5 km/jam, namun pada kondisi eksisting kecepatan rata-rata angkutan becak di Kecamatan Klojen beum memenuhi standar yaitu hanya 4,88 km/jam. Kurang optimalnya rata- rata angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang salah satunya dipengaruhi oleh faktor usia pengemudi.
2 Jarak pelayanan rata-rata
1,75-2 km Rata-rata : 1,25 km Rata-rata jarak pelayanan becak di kecamatan Klojen adalah 1,25 km, sedangkan rata-rata jarak pelayanan berdasarkan penelitian yang ada ialah 1,75-2 km. Data tersebut menunjukkan bahwa jarak rata-rata pelayanan becak di Kecamatan Klojen masih berada di bawah standar.
Padahal semakin jauh jarak pelayanan angkutan becak, maka tarif yang diperoleh pengemudi becak juga semakin besar.
3 Waktu operasiona l
10-12 jam/
hari 2% becak beroperasi 1-3 jam/ hari 13% becak beroperasi a 4-6 jam/
hari
39% becak beroperasi 7-9 jam/hari
29% becak beroperasi 10-12 jam/
hari
11% becak beroperasi 13-15 jam/hari
6% becak beroperasi >15 jam/hari
Sebanyak 54% angkutan becak di Kecamatan Klojen Kota Malang masih beroperasi dibawah standar yaitu <10-12 jsm/hari. Ketidaksesuaian tersebut menyebabkan kinerja angkutan becak di Kecamatan Klojen belum optimal karena tidak dapat memenuhi kebutuhan penumpang. Maka dari itu pengoperasian angkutan becak perlu diatur waktu operasionalnya sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan penumpang akan angkutan becak.
4 Waktu tunggu mendapatk an becak
0 - 5 menit 72% penumpang menunggu 0-5 menit
19% penumpang menunggu 6-10 menit
7% penumpang menunggu 11-15 menit
2% penumpang menunggu >15 menit
Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa rata-rata waktu tunggu penumpang untuk mendapatkan becak adalah 0-5 menit. Waktu tunggu penumpang yang sebentar terjadi karena kebanyakan calon penumpang becak di Kecamatan Klojen mendapatkan angkutan becak dengan langsung menuju ke pangkalan. Hal tersebut menunjukkan bahwa waktu tunggu mendapatkan angkutan becak sebenarnya sudah berada di range waktu ideal.
8%
79%
11% 2%
menunggu dan dipanggil di tepi jalan menuju pangkalan
berlangganan
pemesanan melalui telepon atau sms
KINERJA OPERASIONAL BECAK DI KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG
No Kriteria Standar Kondisi Eksisting Analisis
5 Tarif
perjalanan Berdasarka n kesepakata n
Berdasarkan kesepakatan Berdasarkan kesepakatan. Namun tarif akan lebih mahal jika jarak yang ditempuh semakin jauh. Berikut adalah tarif rata-rata yang dikenakan kepada penumpang becak berdasarkan jarak tempuh yang didapatkan dari hasil survei kepada pengemudi becak.
0-1 km = Rp. 5.000 - Rp 10.000 1-2 km = Rp. 10.000 - Rp. 15.000 2-3 km = Rp. 15.000 - Rp. 20.000 3-4 km = Rp. 20.000 – Rp. 25.000 4-5 km = Rp. 25.000 – Rp. 30.000 6 Cara
mendapatk an becak
Menunggu dan dipanggil di tepi jalan
8% penumpang menunggu dan memanggil becak di tepi jalan 79% penumpang menuju pangkalan
11% penumpang berlangganan 2% penumpang melakukan pemesanan melalui telepon atau sms
Cara penumpang dalam memperoleh angkutan becak sangat bervariasi tergantung pada lokasi pangkalan becak dengan lokasi calon penumpang berada. Sebanyak 79%
calon penumpang becak mendapatkan angkutan becak dengan cara menuju ke pangkalan atau memanggil ke pangkalan. Hal ini biasanya dilakukan oleh calon penumpang yang lokasi aktivitasnya berdekatan dengan pangkalan becak. Cara lain bagi calon penumpang becak untuk mendapatkan becak yaitu dengan cara berlangganan yaitu 11%. Cara ini biasanya dilakukan oleh para penumpang yang melakukan perjalanan pulang pergi pada jam yang sudah pasti dan perjalanan pada dini hari. Adapun jumlah penumpang yang memesan elalui telepon atau sms yaitu sebanyak 2% Cara ini dipilih sebagian kecil masyarakat karena di sekitar tempat calon penumpang tidak ditemukan pangkalan becak dan kalaupun ada jaraknya jauh.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah hasil analisis kinerja operasional becak menunjukkan bahwa masih ada beberapa aspek kinerja operasional becak di Kecamatan Klojen yang belum memenuhi standar pelayanan yang ada antara lain jarak pelayanan rata-rata becak sebesar 1,25 km, kecepatan rata- rata becak sebesar 4,88 km/jam, serta waktu operasional becak hanya sebesar 7-9 jam/hari.
DAFTAR PUSTAKA
Arianty, S W. 2008. Evaluasi dan Biaya Kinerja Operasional Becak Bondowoso. Skripsi.
Malang: Universitas Brawijaya.
Christian, Y., Wicaksono, A., & Kusumaningrum, R. (2014). Pemodelan Pemilihan Moda Antara Bus Dan Travel Dengan Metode Stated Preference Rute Palangkaraya – Banjarmasin. Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil. 01(02):679–690.
Haryono, Sigit. 2010. Analisis Kualitas Pelayanan Angkutan Umum (Bus Kota) Di Kota Yogyakarta. Jurnal Administrasi Bisnis.07 (01):1-14.
Kasim, S. 2011. Studi Karakteristik Operasional Becak di Kawasan Permukiman Panakkukang. Tesis. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Khakim, R. (2016). Hubungan Antara Umur, Tingkat Pendidikan, Masa Berkendara dan
Pengetahuan dengan Perilaku Safety Riding (Studi pada Pengendara Ojek Sepeda Motor di Kelurahan Kedungmundu Kota Semarang). Semarang.
Kuncoro, Mudrajad. 2013. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Jakarta. Erlangga.
Puspitasari, Devi. 2017. Analisis Kebutuhan Pelayanan Angkutan Umum Perdesaan Berdasarkan Persepsi Responden (Studi Kasus : Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo). Skripsi. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.
Safe, Y. T., Udiana, I. M., & Bella, R. A. 2015.
Evaluasi Kinerja Angkutan Umum Trayek Terminal Oebobo-Terminal Kupang PP dan Terminal Kupang-Terminal Noelbaki PP.
Jurnal Teknik Sipil.IV(1): 65–78.
Saputra, Indra. 2016. Analisis Kinerja Pelayanan Angkutan Umum Pedesaan Trayek Bangko - Jangkat. Skripsi. Bandung: Universitas Pasundan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Warpani, P. Suwardjoko. 1990. Merencanakan Sistem Pengangkutan. Bandung : Penerbit ITB.
Widayanti, A. 2010. Pengembangan Angkutan Umum Massal Berbagai Alternatif Untuk Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas Di Kota Madya Malang. Jurnal Teknik.08(02):31–
42.