1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada tahun 2012 dan pertengahan pertama tahun 2013 sektor properti Indonesia bertumbuh cepat, pertumbuhan keuntungan para developer properti Indonesia melonjak tajam dari 45 perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012, 26 perusahaan mencatat pertumbuhan laba bersih lebih dari 50%, dengan jelas harga properti Indonesia meningkat sejalan dengan itu (pada umumnya harga properti residensial bertumbuh hampir 30% per tahun antara 2011 dan 2013).
Pertumbuhan yang kuat ini terjadi karena ekspansi perekonomian Indonesia yang subur. Meskipun pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2012 leih dari 6,2% di bawah puncak pertumbuhan pasca krisis finansial di Asia di 2011 yaitu lebih dari 6,5%, kebanyakan analis memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali berakselerasi setelah 2013. Di pertengahan kedua tahun 2013, Bank Indonesia mengetatkan kebijakannya. BI menaikkan persyaratan uang muka minimum dan memotong pinjaman hipotek untuk kepemilikan rumah kedua (untuk mencegah peningkatan berlebihan dari pinjaman untuk hunian).
Perubahan penting lainnya termasuk tingkat suku bunga Indonesia.
Setelah titik rendah dalam sejarah pada 5,75% dari Februari 2012, Bank Indonesia secara
bertahap, namun agresif, menaikkan BI rate antara Juni 2013 sampai November 2013 menjadi 7,50%. Rejim yang lebih ketat ini diimplementasikan dalam rangka melawan inflasi tinggi (yang terjadi setelah pemerintah Indonesia menaikkan harga bahan bakar bersubsidi).
Pada tahun politik Indonesia (Indonesia mengadakan pemilihan legislatif dan presiden pada tengah 2014) menyebabkan ketidakjelasan politik (dan karenanya ketidakjelasan perekonomian juga) yang besar. Menjelang pemilihan-pemilihan ini, para pengembang Indonesia cenderung menunda proyek-proyek baru (penundaan proyek-proyek properti juga merupakan dampak dari menurunnya pencairan pinjaman hipotek dan BI rate yang lebih tinggi) (www.indonesia-investments.com).
Perubahan ekonomi dalam era globalisasi saat ini, perkembangan ekonomi mengalami perubahan yang sangat signifikan. Seiring dengan perkembangan teknologi pada saat ini maka dunia usahapun ikut berkembang pula dan makin banyak pula perusahaan yang bermunculan. Setiap perusahaan memiliki tujuan untuk mencapai laba semaksimal mungkin, dengan hal ini maka para manajemen keuangan dalam menghitung hasil operasional perusahaan dan analisa-analisa keuangan yang tercapai oleh perusahaan dalam kurun waktu tertentu.
Data harga saham pada beberapa perusahaan real estate dan property yang mengalami kenaikan atau penurunan, dapat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel 1.1 Data Harga Saham pada Perusahaa Real Estate dan Properti pada tahun 2011-2015
No Kode Harga Saham Penutupan
2011 2012 2013 2014 2015
1 APLN 350 365 215 335 350
2 MTSM 640 700 690 690 700
3 BCIP 620 275 455 770 650
4 BKDP 115 95 98 80 85
5 BSDE 980 1100 1290 1805 1900
6 CTRA 540 790 750 1250 1325
7 DUTI 1800 3050 4475 4880 5000 8 LPCK 1770 3225 4875 10400 10700 9 MKPI 2900 3500 9500 15300 15000 10 RDTX 2700 3500 4900 5250 6000
11 ASRI 460 600 430 560 343
12 BAPA 67 68 66 50 50
13 BIPP 80 93 90 95 88
14 BKSL 50 101 90 95 88
15 COWL 225 143 470 625 600
16 DILD 255 320 315 650 489
17 EMDE 137 140 111 137 144
18 FMII 103 245 385 449 800
19 GPRA 156 100 151 299 199
20 GWSA 250 230 159 174 123
21 JRPT 2200 2900 800 1040 745
22 KIJA 190 200 193 295 247
23 KPIG 690 1500 1310 1290 1410
24 LAMI 225 215 177 278 280
25 LPKR 660 1000 910 1020 1035
26 MDLN 420 610 390 520 467
27 PLIN 3675 4075 3500 3800 4000
28 PUDP 465 500 480 439 420
29 SCBD 1980 1700 1585 1800 1695
30 DMAS 325 278 280 323 215
Sumber :www.finance.yahoo.com
Untuk mempermudah dalam mengumpulkan dana masyarakat dibutuhkan suatu tempat untuk melakukan kegiatan investasi yang disebut pasar modal. Dalam pasar modal di Indonesia memiliki peran yang sangat penting bagi perekonomian suatu negara. Menurut Tandelilin (2001: 26), pasar
modal adalah pertemuan investor sebagai pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara menginvestasikan dananya pada berbagai sekuritas harapan memperoleh imbalan (return). Suatu perusahaan yang membutuhkan dana dapat menjual surat berharganya yang baru dikeluarkan oleh perusahaannya kemudian dijual kepasar primer.
Di Indonesia, pasar modal yang membawahi kegiatan jual-beli surat berharga adalah Bursa Efek Indonesia merupakan wadah bagi pelaku saham yang memperjual belikan suatu sahamnya yang mereka miliki. Perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia dan menjual saham yang mereka miliki merupakan perusahaan yang sudah go public atau merupakan perusahaan yang terbuka. Saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia akan tercantum pada IHSG (Indeks Harga Gabungan).
Sebelum menanamkan modalnya para investor terlebih dahulu melihat kinerja keuangan suatu perusahaan. Investor tentu hanya menanamkan modal pada perusahaan yang memiliki kinerja yang baik sehingga dapat memberikan keuntungan bagi penanam modal. Investor akan melakukan analisis laporan terlebih dahulu sebelum melakukan investasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan investor dalam melakukan analisis yaitu dengan cara menganalisis laporan keuangan yakni : neraca, laporan perubahan modal dan laporan laba – rugi yang disajikan oleh perusahaan yang bersangkutan guna mengetahui kondisi dan perkembangan suatu perusahaan tersebut.
Dalam rangka meningkatkan kinerja suatu perusahaan, seorang manajer keuangan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengambil suatu
keputusan untuk bertujuan memaksimalkan kemakmuran para pemegang saham melalui nilai perusahaan. Semakin tinggi suatu nilai perusahaan maka semakin tinggi pula kesejahteraan para pemiliknya. Memaksimalkan para pemiliknya berarti memaksimalkan nilai pasar melalui harga sahamnya yang merupakan pengaruh suatu keputusan dalam seluruh keuangan yang diambil oleh perusahaan.
Memaksimalkan nilai perusahaan tersebut, manajer perlu membuat tiga keputusan yaitu keputusan pendanaan, keputusan investasi dan keputusan (kebijakan) deviden yang optimal sehingga tujuan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan dapat tercapai. Maksimalisasi nilai perusahaan dapat terlihat dari harga saham yang terus mengalami peningkatan karena kinerja perusahaan yang semakin meningkat juga. Harga saham itu sendiri terbentuk di pasar modal dan ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya adalah laba per lembar saham, rasio laba terhadap harga per lembar saham, tingkat bunga bebas yang diukur dari tingkat bunga deposito pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan (Sartono, 2001; 9).
Harga saham dipengaruhi oleh kinerja perusahaan dan faktor eksternal pasar. Kinerja suatu perusahaan naik maka faktor eksternal juga akan naik, begitu juga sebaliknya. Harga saham mencerminkan suatu perusahaan, jika perusahaan mencapai prestasi yang baik, maka perusahaan tersebut banyak diminati para investor dan prestasi yang baik pula dapat dilihat dari laporan keungannya setra kinerja dari perusahaan tersebut.
Mengukur kinerja suatu perusahaan, biasanya digunakan analisis rasio- rasio keuangan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktifitas, rasio profitabilitas dan rasio penilaian. Mengetahui bagaimana analisis rasio-rasio keuangan dan pengaruhnya terhadap harga saham perusahaan, dapat membantu perusahaan dalam menentukan bagaimana seharusanya pemenuhan kebutuhan dana yang harus dilakukan sehingga tujuan dari perusahaan untuk memaksimalkan kemakmuran dari para pemegang saham dapat tercapai.
Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus dipenuhi dari aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap harga saham yang akan dibeli oleh investor. Investor dapat menilai kinerja perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan dengan menggunakan alat analisis laporan keuangannya dengan membandingkan dengan harga saham yang akan dibeli investor.
Maka dari itu penulis ingin mengetahui mengenai kinerja perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan meneliti mengenai pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham. Kineja keuangan tersebut berpengaruh maka investor dapat mempertimbangkan dalam berinvestasi atau membeli saham perusahaan berdasarkan rasio – rasio keuangan perusahaan yang bersangkutan, karena itu penulis mengambil penelitian “Pengaruh Kinerja KeuanganTerhadap Harga Saham Perusahaan Real Estate Dan Properti Yang Terdafatar di Bursa Efek Indonesia”.
B. RumusanMasalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Apakah kinerja keuangan perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham?
2. Variabel kinerja keuangan manakah yang paling berpengaruh terhadap harga saham?
C. Batasan Masalah
Pada penelitian ini membahas tentang pengaruh kinerja keuangan perusahaaan yang diukur dengan rasio profitabilitas yang diukur dengan return on asset (ROA), rasio likuiditas yang diukur dengan quick ratio (QR), rasio solvabilitas diukur dengan debt to equity (DER) dan rasio pasar yang diukur menggunakan earning per share (EPS).
D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan uraian perumusan masalah diatas dapat diinformasikan bahwa tujuan penelitian ini yaitu :
1. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui pengaruh kinerja keuangan perusahaan terhadap harga saham b. Mengetahui variabel kinerja keuangan yang paling berpengaruh terhadap
harga saham.
2. Kegunaan Penelitian a. Bagi perusahaan
Diharapkan penelitian ini dapat menjadikan motivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan, sehingga dapat tercermin dalam laporan keuangan yang mereka susun serta sebagai dasar pengambilan keputusan mengenai kebijaksanaan yang menyangkut rasio kinerja keuangan terhadap keputusan investasi saham.
b. Bagi investor dan calon investor
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan oleh para investor sebelum melakukan investasi
c. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi dasar pembanding dalam melakukan penelitian lebih lanjut dan menjadi referensi bagi pihak yang memerlukan isi terkait dengan skripsi sebagai bahan bacaan atau literatur.