BAB II
TINJAUAN TEORI A. Regulasi Emosi pada ADHD
Regulasi emosi ialah strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan dengan menyesuaikan emosi (Berk, 2006). Regulasi emosi berkaitan dengan fungsi kognitif seperti pemfokusan dan pengalihan perhatian, kemampuan mengendalikan pikiran dan perilaku, serta kemampuan mengatasi situasi yang dapat menimbulkan stres (Berk, 2006).
Regulasi emosi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menilai, mengatasi, mengelola dan mengungkapkan emosi dengan tepat dalam rangka mencapai keseimbangan emosional (Greenberg, 2004; Greenberg
& Watson, 2006). Regulasi emosi dapat didefinisikan sebagai proses yang diarahkan pada tujuan yang berfungsi untuk mempengaruhi intensitas, durasi, dan jenis emosi yang dialami (Gyurak, Gross, & Etkin, 2011).
Selain itu menurut Philippot (2004) bahwa regulasi emosi melibatkan seluruh domain penting dari kognisi seperti persepsi, perhatian (attention), memory, pembuatan keputusan dan kesadaran (consciusness), kemudian dengan konsep dual memory modelnya, ia menyebutkan bahwa regulasi emosi dapat dicapai secara tidak langsung dengan melakukan feedback loops yang memelihara dan meningkatkan skema aktivasi.
Menurut Gross (2007) menyatakan bahwa emosi dapat di regulasi pada saat sebelum atau sesudah munculnya respon emosi. Regulasi emosi
mengarah pada serangkaian proses heterogen yang mana emosi itu sendiri di regulasi, selanjutnya regulasi emosi tersebut dapat diwakili oleh 5 kelompok proses yaitu:
a. Pemilihan situasi
Strategi ini sering kali membutuhkan pandangan dari pihak lain, seperti orang tua atau terapis. Pemilihan situasi memengaruhi kehidupan emosional bayi dan anak kecil dengan kuat karena mereka kurang mampu memilih situasi untuk diri mereka sendiri.
Pihak yang menggunakan strategi ini harus dapat memperkirakan kapasitas pengaturan diri penerima.
Adapun, strategi pemilihan situasi tidak digunakan karena merupakan strategi regulasi emosi yang bersifat ekstrinsik karena lebih sering membutuhkan bantuan perspektif orang lain dan penggunaannya paling tampak saat bayi serta masa kanak-kanak awal.
b. Modifikasi situasi
Strategi ini berhubungan dengan memodifikasi lingkungan fisik eksternal. Contohnya, orang tua yang membantu anak menyelesaikan puzzle atau permintaan verbal untuk membantu menyelesaikan masalah pada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa. Namun, strategi tidak digunakan karena dalam beberapa situasi membutuhkan dukungan serta intervensi dari orang lain. Di
samping itu, modifikasi situasi terkait dengan mengubah lingkungan fisik eksternal (Gross & Thompson, 2007).
c. Penyebaran perhatian
Penyebaran perhatian merupakan tindakan individu mengarahkan perhatian pada situasi tertentu sehinga dapat mempengaruhi emosi mereka (Gross, 2014). Sejak bayi sampai dewasa individu menggunakan penyebaran perhatian, terlebih lagi ketika individu tidak mungkin untuk mengubah atau memodifikasi situasi (Gross, 2014). Penyebaran perhatian memiliki dua strategi, yaitu distraksi dan konsentrasi. Dengan melakukan distraksi, individu memfokuskan perhatiannya pada aspek atau hal lain yang berbeda dari situasi yang sedang dihadapi (Stifter & Moyer, 1991).
Hal tersebut dapat mengalihkan perhatian individu dari situasi yang sedang dialami. Fokus internal individu dapat berubah ketika distraksi tersebut terjadi (Gross, 2014). Sedangkan konsentrasi merupakan cara meregulasi emosi dengan memfokuskan perhatian pada bentuk emosi yang muncul dari situasi tersebut (Gross, 2014).
d. Perubahan kognitif
Strategi perubahan kognitif adalah cara seseorang untuk merubah penilaiannya terhadap suatu situasi untuk mengubah makna emosionalnya, baik dengan merubah pemikirannya mengenai situasi tersebut atau mengenai kemampuan mengatur tuntutan yang ditimbulkan oleh situasi tersebut. Bentuk strateginya
adalah penilaian kembali, yaitu merubah makna suatu situasi untuk merubah dampak emosionalnya.
e. Modulasi respon
Modulasi respon adalah strategi regulasi emosi dengan memengaruhi respon fisiologis, pengalaman, atau perilaku secara langsung. Cara dari modulasi respon adalah dengan mengatur perilaku ekspresi emosi atau supresi ekspresif. Supresi adalah bentuk modulasi respon dimana individu menghambat perilaku ekspresi emosi. Dalam penelitian ini, strategi regulasi emosi yang digunakan adalah perubahan kognitif dan modulasi respon. Bentuk perubahan kognitif ialah penilaian kembali, sedangkan bentuk modulasi respon yang digunakan ialah supresi (Gross, 2014).
Pemilihan kedua bentuk strategi regulasi emosi tersebut didasarkan pada pendapat John dan Gross (2004) bahwa cognitive reappraisal dan expressive suppression sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, di usia 9 – 11 tahun anak-anak telah mampu untuk melakukan strategi perilaku dan kognitif (de Veld et al., 2012).
Gross & Thompson (2007) membagi kelompok proses tersebut dalam 2 kategori pemrosesan yaitu antecedent-focused dan response-focused. Antecedent-focused merupakan strategi yang dilakukan ketika kecenderungan respon belum aktif sepenuhnya dan mengubah respon perilaku serta fisiologis kita. Kelompok
proses yang termasuk ke dalam antecedent-focused adalah pemilihan situasi, modifikasi situasi, perubahan kognitif, dan penyebaran perhatian. Kemudian strategi response-focused merupakan strategi yang dilakukan setelah kecenderungan respon dihasilkan. Kelompok proses yang termasuk ke dalam response- focused adalah modulasi respon.
Telah lama diakui bahwa disregulasi emosi adalah hal yang umum pada individu dengan gangguan perkembangan saraf, termasuk ADHD.
Memang, dalam konseptualisasi awal ADHD yang mencerminkan 'kerusakan otak minimal', posisi disregulasi emosi berada di atas inatensi di antara gejala kardinal (Clements, 1966). Ini meliputi proses yang memungkinkan individu secara fleksibel memilih, memperhatikan, dan menilai rangsangan yang membangkitkan emosi. Proses-proses ini memicu respons perilaku dan fisiologis yang dapat dimodulasi sesuai dengan tujuan.
Umumnya, pada anak-anak yang berkembang, fungsi sistem saraf otonom melacak valensi rangsangan emosional dan task-demand, dengan aktivitas top-down regulatory yang lebih besar ketika rangsangan negatif daripada positif (Musser et al., 2013). Pada anak-anak dengan ADHD kemampuan untuk menyesuaikan regulasi top-down dalam menanggapi rangsangan emosional yang berbeda ini hilang sebagian, berdasarkan indikator fisiologis regulasi. Disregulasi emosi muncul ketika proses adaptif terganggu, sehingga mengarah pada perilaku yang mengalahkan
minat individu. Penelitian oleh Shaw (2014) mendefinisikannya sebagai;
ekspresi dan pengalaman emosional yang berlebihan berkaitan dengan norma dan konteks sosial yang tidak pantas; pergeseran emosi yang cepat dan tidak terkontrol dengan baik ('labilitas'); serta anomali alokasi atensi dan rangsangan emosional. Singkatnya, disregulasi emosi pada ADHD dapat timbul dari defisit pada berbagai tingkatan. Defisit dalam proses kognitif, termasuk working memory dan penghambatan respons dapat berkontribusi pada disregulasi emosi.
Barkley (2015) menjelaskan bahwa disregulasi emosional pada ADHD dianggap sebagai hasil dari buruknya kontrol executive function seperti, sensitivitas pemicu emosi yang sangat fluktuatif dan impulsif emosional karena regulasi diri yang buruk. Impulsif secara emosional berkontribusi pada gejala-gejala ADHD seperti ketidaksabaran dan toleransi frustrasi yang rendah, cepat marah, agresi reaktif atau ledakan emosi, dan tanggung jawab emosional, masalah regulasi diri respons emosional utama mereka, ketidakmampuan untuk memfokuskan kembali perhatian dari emosi yang kuat dapat membuatnya sulit untuk mengurangi atau memoderasi respons emosional.
B. Working Memory Processing
Memori (daya ingat) merupakan kemampuan individu untuk menyimpan informasi, informasi tersebut dapat dipanggil kembali (recall) untuk dapat dipergunakan beberapa waktu kemudian. Sejumlah penelitian
menunjukkan adanya setidaknya sebagian sistem memori yang berbeda di otak, termasuk working, declarative dan procedural memory (Baddeley, 2003; Packard, 2009; Squire, 2004). Procedural memory dinilai menggunakan adaptasi linguistik dari tugas serial-reaksi-waktu (Misyak et al., 2010). Declarative memory dinilai menggunakan subtansi logical- memory dari Wechsler Memory Scale-4th edition (WMS-IV; Wechsler, 2009). Working memory dinilai menggunakan versi auditori dari tugas reading-span (Kane et al., 2004).
Memori sensori mencatat informasi atau stimuli yang masuk melalui salah satu atau kombinasi dari panca indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, bau melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau stimuli tersebut tidak diperhatikan (atensi) akan langsung terlupakan (decay), namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke sistem ingatan jangka pendek (Solso, 1995). Setelah berada di sistem memori jangka pendek, informasi tersebut dapat ditransfer lagi dengan proses pengulangan (reherseal) ke sistem ingatan jangka panjang untuk disimpan, atau dapat juga informasi tersebut hilang/terlupakan karena tergantikan oleh tambahan bongkahan informasi baru (displacement) (Solso, 1995).
Retrieval (retrieval) sebagai tahap ketiga proses mengingat untuk mencari kembali informasi yang telah disimpan (decoding). Retrieval failure terjadi karena adanya kegagalan untuk mengingat kembali lebih disebabkan tidak adanya petunjuk yang memadai walaupun informasi yang
sudah disimpan dalam memori jangka panjang selalu ada. Bila syarat tersebut dipenuhi (disajikan petunjuk yang tepat), maka informasi tersebut tentu dapat ditelusuri dan diingat kembali. Secara skematis sistem struktur ingatan yang dijelaskan oleh Atkinson dan Shiffrin (1968) yang telah disempurnakan oleh Tulving dan Madigan (Solso, 1995) tersebut disajikan dalam Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Skema Struktur Ingatan (Atkinson & Shiffrin, 1968)
Working memory adalah kemampuan pemrosesan universal yang mana aspek domain umumnya adalah kontrol atensi. Working memory merupakan short term memory, namun informasi yang diterima tidak disimpan dalam sistem tunggal, namun disimpan dalam sistem yang berbeda untuk berbagai jenis informasi. Working memory bertanggung jawab untuk menyimpan, mengintegrasikan suatu informasi yang relevan dengan aktivitas yang kompleks dan rumit (Baddeley, 2000; Baddeley &
Hitch, 1974). Akibatnya, working memory diyakini sebagai salah satu fungsi kognitif yang lebih mendasar. Excecutive function higher-order dibangun dari working memory, seperti penalaran, kemampuan pemecahan masalah, dan perencanaan (Diamond, 2013; Klingberg et al., 2005).
Gambar 2.2 The Working Memory Model (Baddeley dan Hitch, 1974)
Baddeley dan Hitch (1974) menjelaskan bahwa short term memory menyimpan informasi dalam jumlah terbatas untuk periode waktu yang singkat dengan pemrosesan yang relatif sedikit. Oleh karena itu, memori jangka pendek hanya dapat menyimpan informasi, sedangkan working memory dapat menyimpan dan memproses informasi serta semua informasi masuk ke sistem yang berbeda untuk berbagai jenis informasi, yaitu:
a. Central Executive
Central executive merupakan komponen utama dalam working- memory model, namun juga merupakan komponen ini paling sedikit diketahui. Central executive merupakan sistem yang bertanggung jawab untuk memantau dan mengkoordinasikan tugas phonological loop dan visuospatial sketchpad kemudian menghubungkan dengan memori jangka panjang (long term memory). Sistem central executive bertugas untuk mengatur mengenai proses atensi dan memungkinkan working memory untuk secara selektif memilih stimulus yang perlu untuk diperhatikan atau diabaikan.
b. Visuospatial Sketchpad
Visuopatial sketchpad (inner eye) berhubungan dengan informasi visual dan spasial. Informasi visual merujuk pada apa yang terlihat. Ada kemungkinan visuospatial memegang peranan penting dalam membantu kita mengetahui posisi di mana kita berada dalam kaitannya dengan objek lain saat dalam lingkungan.
c. Phonnological Loop
Phonnological loop merupakan bagian dari working memory yang bertugas untuk memproses informasi berbasis lisan dan tulisan dan terkait dengan persepsi bicara (speech perception).
Phonnological loop terdiri dari 2 bagian yaitu phonnological store dan articulary control process. Penyimpanan fonologi (phonnological strore) bertindak sebagai inner ear dan menyimpan informasi dalam bentuk bicara (ucapan) selama 1-2 detik. Kata-kata dalam bentuk lisan/ucapan akan masuk secara otomatis ke dalam penyimpanan. Namun, kata-kata tertulis harus diubah terlebih dahulu ke dalam kode articulatory (diucapkan) sebelum masuk ke dalam penyimpanan fonologi.
Articulary control process dikaitkan dengan produksi ucapan, sehingga bertindak seperti inner voice yang mengulang informasi dari penyimpanan fonologi. Ini mengedarkan informasi berulang- ulang seperti putaran perekam. Hal inilah yang menyebabkan kita mampu untuk mengingat nomer telefon yang baru saja didengar.
Selama kita mengulang-ulang informasi tersebut, kita dapat menyimpan informasi tersebut ke working memory.
Gambar 2.3 The Working Memory Model Components (Baddeley dan Hitch, 1974)
Komponen working memory tersebut mencerminkan fungsi dan jenis informasi yang diproses dan manipulasi. The phonological loop diasumsikan bertanggung jawab atas manipulasi informasi berdasarkan ucapan, sedangkan visuospatial sketchpad diasumsikan bertanggung jawab untuk memanipulasi gambar visual. Model ini mengusulkan bahwa setiap komponen working memory memiliki kapasitas terbatas, dan juga bahwa komponen-komponen tersebut relatif independen satu sama lain.
C. Permasalahan Working Memory pada ADHD
Anak-anak dengan ADHD ataupun gangguan yang ditandai oleh tingginya tingkat perilaku kurangnya atensi dan hiperaktif / impulsif (DSM 5 American Psychiatric Association, 2013) memiliki gangguan dalam
pembelajaran membaca dan matematika (Loe dan Feldman, 2007), disertai dengan kesulitan working memory (Martinussen et al., 2005; Willcutt et al., 2005a; Kofler et al., 2010) yang telah dikaitkan inattention (Willcutt et al., 2005a; Martinussen dan Tannock, 2006).
Masalah fungsi eksekutif dalam ADHD termasuk inhibisi respons (Bledsoe et al., 2010), peralihan atensi (Oades dan Christiansen, 2008), perencanaan (Solanto et al., 2007), dan mempertahankan atensi (Rubia et al., 2009). Anak ADHD juga memiliki tingkat aktivitas motorik yang sangat tinggi (hiperaktif) dan perilaku impulsif (Barkley, 1997; Halperin et al., 2008; Rapport et al., 2009). Beberapa berpendapat bahwa kesulitan working memory mendasari defisit fungsi eksekutif lainnya dalam ADHD seperti penghambatan respons (Rapport et al., 2008; Alderson et al., 2010).
Teori lain berpendapat bahwa defisit fungsi eksekutif (termasuk working memory) dan masalah kontrol impuls mewakili gangguan dari dua sistem perkembangan saraf yang berbeda secara fungsional: fungsi eksekutif "cool" berbasis kognitif yang mencakup kontrol penghambatan dan working memory, dan proses afektif "hot" yang terkait dengan ketidakmauan untuk menunda sesuatu yang bermanifestasi sebagai perilaku impulsif (Tripp dan Alsop, 2001; Castellanos et al., 2006).
Anak-anak dengan gangguan perhatian, seperti attention- deficit/hyperactivity disorder (ADHD) telah diamati memiliki defisit working memory (Alderson et al., 2010; Martinussen et al., 2005). Thomas Brown, Ph.D menambahkan kadang-kadang gangguan working memory
ADHD memungkinkan emosi sesaat menjadi terlalu kuat, memenuhi otak dengan satu emosi yang kuat. Gangguan working memory mengurangi energi emosional yang dibutuhkan untuk merencanakan, memantau, atau meregulasi diri.
D. Manfaat Working Memory Training pada ADHD
Terdapat beberapa program working memory training yang tersedia secara komersial telah dikembangkan untuk menargetkan hasil pendidikan termasuk pada anak dengan kondisi ADHD. Salah satunya adalah working memory training (WMT) Program komputer yang digunakan untuk melatih working memory (working memory), 'RoboMemo' (Merek Dagang Terdaftar dari CogMed Cognitive Medical Systems AB, Stockholm, Swedia), dirancang untuk disesuaikan dengan anak-anak usia 7-12 tahun (Klingberg et al., 2005). Program ini terdiri dari sebelas latihan yang berbeda, lima yang melatih working memory visuo- spasial, lima yang melatih working memory verbal, dan satu yang melatih kedua domain working memory. Latihan-latihan ini bervariasi dalam kompleksitas yang melekat, dan program menyesuaikan tingkat kesulitan untuk setiap latihan dengan kemampuan yang berkembang anak, sehingga working memory capacity anak selalu ditantang. Program CogMed dirancang seperti videogame, dan menggunakan rumus adaptif untuk menyesuaikan panjang urutan untuk mengkalibrasi kesulitan pada performance individu secara konstan. Program working memory training adaptif serupa lainnya menyajikan deretan item untuk diingat oleh subjek,
tetapi subjek harus secara selektif mengingat hanya beberapa item terakhir dalam daftar (running span) atau mengingat urutan dari stimulus sambil melakukan aktivitas distraksi yang disisipkan (complex span).
Baddeley (2000) menyatakan pada penelitian yang pernah ia lakukan bahwa mereka menemukan bahwa pelatihan kognitif dapat meningkatkan aspek verbal, visuo-spasial, dan eksekutif dari working memory. Penelitian yang dilakukan oleh Chacko et al., (2013) juga menunjukan bahwa CogMed terbukti terbukti dapat meningkatkan verbal dan nonverbal working memory strorage. Holmes et al., (2009) menyatakan bahwa tugas-tugas yang dapat meningkatkan working memory capacity adalah sebagai berikut:
a. Visuospatial working memory task
Visuospatial working memory task mengharuskan anak untuk memproses dan menyimpan informasi visual-spatial yang disajikan secara bersamaan. Permainan dapat berupa anak diminta untuk mengidentfikasi dan mengingat letak dan urutan sebuah lampu yang dinyalakan berurutan.
b. Verbal working memory task
Verbal working memory task mengharuskan anak untuk memproses dan menyimpan informasi verbal secara bersamaan.
Contohnya anak diperlihatkan gambar yang terdapat lingkaran merah dan segitiga biru, kemudian anak diminta untuk menghitung
lingkaran merah dan diminta untuk mengingat jumlah lingkaran merah pada akhir permainan. (Holmes et al, 2009).
c. Following instruction task
Following instruction task bertujuan agar working memory training dapat dipraktikkan di kelas (Gathercole et al., 2008). Pada tugas ini anak didudukan di depan alat peraga seperti penggaris, pensil, penghapus dan kotak pensil, kemudian anak diminta untuk melakukan aktivitas sesuai dengan instruksi lisan seperti sentuh pensil berwarna kuning kemudian letakan penghapus ke dalam kotak pensil.
E. Penelitian Yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Lichao Xiu, Jie Wu, Lei Chang &
Renlai Zhou yang dipublikasikan pada 2018 dengan judul “Working Memory Training Improves Emotion Regulation Ability”. Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui apakah working memory training mampu memperbaiki regulasi emosi. Subjek penelitian tersebut yaitu 42 mahasiswa sarjana dan pascasarjana direkrut dari universitas lokal dan secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Usia rata-rata kelompok pelatihan adalah 22,45 ± 3,26 tahun (22 peserta = 10 laki- laki dan 11 perempuan). Usia rata-rata kelompok kontrol adalah 21,75
± 3,00 tahun (20 peserta: 5 pria dan 15 wanita). Subjek diberikan program pelatihan terdiri dari tugas menjalankan working memory, yang digunakan oleh Zhao et al., Dengan tiga versi menggunakan
bahan yang berbeda: huruf, hewan, dan lokasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa working memory training dapat meningkatkan kemampuan pengaturan emosi. Selain itu, didapatkan pemahaman tentang adanya keterkaitan antara pelatihan working memory, regulasi perhatian, dan regulasi emosi.
2. Penelitian Garnefsky dan Kraaij (2001), penelitian tentang mengelola emosi secara kognitif dilakukan di tiga sekolah negeri yang berbeda dengan cara siswa mengisi kuesioner selama jam sekolah dibawah pengawasan guru dan dua mahasiswa psikologi. Subjek penelitian 547 siswa SMP dengan rentang usia 12-16 tahun. Diperoleh hasil bahwa strategi coping kognitif diketahui memiliki peran penting dalam hubungan antara pengalaman peristiwa negatif dan pelaporan gejala depresi dan kecemasan.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Jasielska, Kaczmarek, Brońska, Dominiak, Niemier, Patalas, Sokołowski, Tomczak (2015) yang berjudul “The Relationship Between Working Memory And Emotion Regulation Strategies” berfokus pada hasil studi tentang hubungan antara working memory dan regulasi emosi. Dalam penelitian kami (N=65), para peserta menyelesaikan dua kuesioner: Emotion Regulation Questionnaire dan the Cognitive Emotion Regulation Questionnaire, serta pengukuran working memory capacity yang tervalidasi dengan baik yang diketahui sebagai Operation Span Task.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa orang-orang dengan fungsi
working memory yang lebih baik melaporkan lebih sering menggunakan strategi yang terdiri dalam mengubah cara berpikir tentang situasi yang menimbulkan emosi.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Helena J. V. Rutherford, Cortney R.
Booth, Michael J. Crowley dan Linda C. Mayes pada 2016 yang berjudul “Investigating The Relationship Between Working Memory and Emotion Regulation In Mothers”. Tujuan penelitian terserbut untuk memeriksa apakah ukuran working memory visuospatial dan working memory verbal terkait dengan ER pada sekelompok ibu.
Direkrut dari komunitas New Haven, subjek penelitian tersebut yaitu empat puluh satu ibu (rata-rata usia = 28 tahun, standart deviation (SD) = 6 tahun ; 16 primipara). Semua ibu memiliki setidaknya 1 anak di bawah usia 2 tahun (rata-rata usia anak = 7 bulan, SD = 4 bulan).
Penlitian tersebut menggunakan pengukuran regulasi emosional berupa Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) dan Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS) serta visuospasial sederhana dan 'digit span tasks'. Temuan ini menunjukkan bahwa working memory dapat memainkan peran unik dalam fungsi pengaturan sehari-hari.
Hasil penelitian dalam implikasi yang lebih luas bahwa fungsi eksekutif berperan potensial dalam mengasuh anak. Temuan ini menunjukkan bahwa working memory dapat memainkan peran dalam representasi dan interpretasi pengalaman emosional.
F. Kerangka Teori
Gambar 2.4 Kerangka Teori
Anak ADHD memiliki defisit pada fungsi eksekutif yang berpengaruh terhadap timbulnya gejala hiperaktif-impulsif dan inatensi.
Regulasi emosi membutuhkan penalaran dalam memproses stimulan emosi dan diolah untuk membentuk respon yang sesuai. Hal yang merupakan hasil dari fungsi eksekutif yaitu merupakan sistem yang mengatur kontrol diri, working memory dan fleksibelitas mental. Working memory sebagai
ADHD
Gangguan Fungsi Eksekutif
1. Self Control.
2. Working Memory 3. Mental
Flexibelity
Kemampuan regulasi emosi
Working memory training
- Visuospatial Working Memory Task
- Verbal Working Memory Task - Folowing
Instruction Task
Dasar kemampuan fungsi eksekutif:
Penalaran, kemampuan pemecahan masalah, dan perencanaan
dasar dari fungsi eksekutif dilatih melalui aktivitas berupa visuospatial working memory task, verbal working memory task, following instruction task untuk meningkatkan fungsi eksekutif yang mempengaruhi regulasi emosi.
G. Kerangka Konsep
Gambar 2.5 Kerangka Konsep
H. Hipotesis Penelitian
Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (Sugiyono, 2012). Oleh karena itu hipotesis dalam penelitian ini adalah working memory training berpengaruh terhadap regulasi emosi pada anak ADHD.
Anak ADD/
ADHD
Pre-Test (ERC)
Intervensi (Working Memory
Training)
Post-Test (ERC)
Regulasi Emosi