• Tidak ada hasil yang ditemukan

8 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "8 Universitas Kristen Petra"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

8

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Resiko

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menghadapi resiko yang dapat muncul kapan saja. Resiko dapat muncul yaitu ketika ada ketidakpastian mengenai masa depan. Baik perorangan maupun perusahaan dapat menghadapi 2 (dua) macam resiko, yaitu :

1. Speculative Risk ( Resiko Spekulatif )

Resiko yang timbul pada diri seseorang atau perusahaan yang memiliki 3 (tiga) kemungkinan hasil, yaitu : rugi, untung atau tidak ada perubahan.

2. Pure Risk ( Resiko Murni )

Resiko yang timbul pada diri seseorang atau perusahaan yang tidak memiliki kemungkinan untuk mendapat keuntungan, timbul kerugian atau tidak timbul kerugian.

Untuk mengeliminasi atau mengurangi resiko finansial yang akan kita hadapi, kita dapat memilih 4 (empat) cara yaitu :

1. Menghindari resiko

Cara ini merupakan metode pengelolaan resiko yang pertama dan paling mudah, namun kadang-kadang menghindari resiko bukanlah hal yang efektif atau praktis

2. Mengendalikan resiko

Kita dapat berusaha untuk mengendalikan resiko yaitu dengan mengambil langkah-langkah untuk mencegah atau mengurangi resiko.

3. Menerima resiko

Metode pengelolaan resiko yang ketiga adalah menerima, atau menahan resiko. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa menerima resiko sama dengan menanggung seluruh tanggung jawab finansial atas resiko tersebut.

4. Mengalihkan resiko

Mengalihkan resiko adalah merupakan metode manajemen resiko yang ke empat. Cara yang paling umum dari mengalihkan resiko baik bagi

(2)

Universitas Kristen Petra

perorangan, keluarga maupun perusahaan yaitu dengan membeli pertanggungan asuransi.

Pada umumnya, perorangan dan perusahaan dapat membeli polis asuransi untuk menanggung 3 (tiga) jenis resiko, yaitu :

1. Property damage risk (resiko kerusakan harta benda)

Resiko kerusakan harta benda mencakup resiko kerugian ekonomi atas harta benda pribadi yang disebabkan oleh pencurian, kebakaran atau bencana alam.

2. Liability risk (resiko tanggung jawab)

Resiko tanggung jawab mencakup resiko kerugian ekonomi karena kita harus bertanggung jawab karena mencelakakan orang atau harta benda mereka.

3. Personal risk (resiko pribadi)

Resiko pribadi mencakup resiko kerugian ekonomi yang terkait dengan kematian, kondisi kesahatan yang buruk, dan tabungan untuk orang yang ditinggalkan.

2.2. Prinsip Dasar Asuransi

2.2.1. Pengertian Asuransi

Saat ini banyak sekali definisi dari asuransi, berikut adalah macam-macam definisi asuransi menurut para ahli:

Asuransi atau pertanggungan adalah sesuatu persetujuan, di mana penanggung mengikat diri kepada tertanggung, dengan mendapatkan premi untuk mengganti kerugian karena kehilangan, kerugian atau tidak diperolehnya keuntungan yang diharapkan, yang dapat diderita karena peristiwa yang tidak diketahui lebih dulu. (Drs.A.Hasymi Ali 1993:8)

Asuransi merupakan suatu lembaga keuangan sebab melalui asuransi dapat dihimpun dana besar, yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan, di samping bermanfaat bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam bisnis asuransi, karena sesungguhnya asuransi bertujuan memberikan perlindungan

(3)

Universitas Kristen Petra

(proteksi) atas kerugian keuangan (financial loss) yang ditimbulkan oleh peristiwa yang tidak terduga sebelumnya (fortuitious even) (Radiks Purba 1992:40)

Asuransi atau dalam bahasa Belanda “verzekering” berarti pertanggungan.

Dalam suatu asuransi terlibat dua pihak, yaitu: yang satu sanggup menanggung atau menjamin, bahwa pihak lain akan mendapat suatu penggantian kerugian, yang mungkin akan ia derita sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum tentu akan terjadi atau semula belum dapat ditentukan saat terjadinya. Suatu kontra prestasi dari pertanggungan ini, pihak yang ditanggung itu, diwajibkan membayar sejumlah uang kepada pihak yang menanggung. Uang tersebut akan tetap menjadi milik yang menanggung, apabila kemudian ternyata peristiwa yang dimaksud itu tidak terjadi. (Prof. Dr.

Wirjono Prodjodikoro, S.H 1996:1)

Menurut pengertian otentik pasal 246 KUHD, ada empat unsur yang terlibat dalam asuransi yaitu:

1. Penanggung (Insurer) yang memberikan proteksi.

2. Tertanggung (Insured) yang menerima proteksi.

3. Peristiwa (Accident) yang tidak diduga atau tidak diketahui sebelumnya, peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian.

4. Kepentingan (Interest) yang diasuransikan, yang mungkin akan mengalami kerugian disebabkan oleh peristiwa itu.

Keempat unsur itu merupakan unsur pokok dalam asuransi kerugian yang menyangkut asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kebakaran, asuransi kendaraan bermotor dan lain-lain sebagainya.

2.2.2. Perusahaan Asuransi

Sesuai dengan peraturan yang ada, maka perusahaan asuransi harus didirikan dalam bentuk perseroan, karena perusahaan asuransi harus merupakan badan usaha yang tetap dan stabil. Walaupun harus dalam bentuk perseroan, perusahaan asuransi masih memiliki beberapa flexibilitas mengenai bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut diorganisasikan untuk melakukan bisnis, yaitu:

(4)

Universitas Kristen Petra

1. Stock Insurance Company

Perusahaan asuransi yang dimiliki oleh masyarakat dan organisasi atau perusahaan yang membeli saham perusahaan asuransi tersebut.

2. Mutual Insurance Company

Perusahaan asuransi yang dimiliki oleh para pemegang polis dan sebagian dari laba operasional perusahaan dari waktu ke waktu dibagikan kepada pemegang polis tersebut dalam bentuk policy dividends ( dividen polis ).

2.2.3. Pengertian Asuransi Jiwa

Life Insurance Policy (polis asuransi jiwa) adalah polis di mana di dalam polis tersebut perusahaan asuransi berjanji untuk membayar manfaat atas kematian orang yang diasuransikan atau tertanggung. Asuransi jiwa diberikan untuk perorangan maupun kumpulan dan diberikan dalam berbagai bentuk polis (Harriet E. Jones dan Dani L. Long 1999:7).

Berikut ini adalah tiga jenis polis asuransi jiwa yang utama:

1. Term life insurance (asuransi jiwa berjangka) memberikan manfaat kematian jika tertanggung meninggal dalam suatu jangka waktu tertentu.

2. Permanent life insurance-whole life insurance (asuransi jiwa tetap atau seumur hidup) memberikan pertanggungan asuransi jiwa seumur hidup bagi tertanggung dan juga memiliki unsur tabungan.

3. Endowment insurance (asuransi jiwa dwiguna) memberikan manfaat polis yang dibayar pada saat tertanggung meninggal atau pada tanggal yang ditentukan jika tertanggung masih hidup sampai tanggal tersebut.

Endowment insurance memiliki beberapa karakteristik seperti term life insurance maupun permanent life insurance. Seperti term life insurance, endowment insurance memberikan pertanggungan asuransi jiwa hanya untuk suatu jangka waktu yang telah ditentukan. Dan seperti permanent life insurance, endowment insurance memiliki unsur tabungan.

(5)

Universitas Kristen Petra

2.3. Solvabilitas

Menurut Gene Stone, istilah umum dari solvabilitas adalah keadaan dimana suatu perusahaan mampu untuk memenuhi kewajiban keuangannya secara tepat waktu. Untuk perusahaan asuransi, definisi solvency (solvabilitas) lebih spesifik, yaitu kemampuan suatu perusahaan asuransi untuk menjaga modal dan surplus di atas standar modal dan surplus minimum yang ditentukan oleh undang- undang. Karena standar minimum tersebut di atas merupakan persyaratan hukum, maka solvabilitas perusahaan kadang-kadang disebut statutory solvency. Apabila persyaratan tersebut di atas tidak dipenuhi, maka regulator asuransi dapat mengambil alih kendali perusahaan asuransi. Ketidakmampuan perusahaan asuransi untuk menjaga modal dan surplus di atas standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang disebut insolvency (insolvabilitas).

Standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang berbeda dari satu negara bagian ke negara bagian yang lainnya dan dari satu perusahaan asuransi ke perusahaan asuransi lainnya, dan didasari oleh tingkat risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan asuransi dan lini usaha tertentu yang dijual oleh perusahaan asuransi tersebut. Perusahaan asuransi yang memiliki investasi dengan risiko yang lebih banyak memiliki standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang yang lebih tinggi dari pada perusahaan asuransi sejenis yang memiliki investasi dengan risiko yang lebih kecil. Dengan menentukan standar modal dan surplus minimum berbasis risiko, ditambah dengan konservatisme yang secara nyata dimasukkan ke dalam cadangan premi sebagaimana ditentukan oleh undang-undang, regulator asuransi berusaha untuk memastikan bahwa setiap perusahaan asuransi memiliki sumber dana yang mencukupi untuk membayar manfaat premi dan kewajiban keuangan lainnya secara tepat waktu.

Dalam melakukan kegiatan bisnis secara normal menurut Gene Stone, suatu perusahaan asuransi menghadapi kemungkinan resiko serius yang dapat mengancam keadaan statutory solvency-nya. Resiko-resiko tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori risiko yang luas, yang dikenal sebagai

(6)

Universitas Kristen Petra

contingency risk, atau C-risk. Untuk melindungi kemampuan keuangan perusahaan asuransi, para financial manager memusatkan perhatian mereka pada pengelolaan risiko-risiko tersebut.

• C-1 risk atau assets risk adalah risiko rugi pada suatu investasi untuk alasan selain daripada perubahan suku bunga pasar. Contoh dari C-1 risk adalah dimana saham yang dimiliki suatu perusahaan akan kehilangan nilai pasarnya dan risiko dimana penerbit obligasi melakukan wanprestasi dan tidak membuat jadual pembayaran obligasi. Perusahaan asuransi mengelola risiko asset dengan mengevaluasi kemungkinan investasi secara hati-hati, menginvestasikan asset mereka dengan jumlah yang besar di dalam investasi yang bermutu tinggi, serta mengalokasikan dana untuk seluruh kategori investasi yang berbeda.

• C-2 risk atau pricing risk, disebut juga insurance risk (risiko asuransi) yaitu risiko dimana pengalaman nyata perusahaan asuransi dalam tingkat kematian atau biaya-biaya akan sangat berbeda dari perkiraan, menyebabkan perusahaan asuransi tersebut menderita kerugian material atas produk tersebut. Perusahaan asuransi jiwa mengelola C-2 risk dengan merancang dan menetapkan harga produk secara pantas, menjaga praktek- praktek underwriting dan reasuransi yang baik, serta mengendalikan pengeluaran-pengeluaran mereka secara hati-hati.

• C-3 risk atau interest-rate risk adalah risiko kerugian yang disebabkan oleh perubahan suku bunga pasar. Contoh interest-rate risk adalah kerugian penjualan suatu obligasi pada saat suku bunga pasar naik, ketidakmampuan suatu perusahaan asuransi untuk memperoleh tingkat pendapatan asetnya yang sama dengan atau lebih besar daripada suku bunga yang dijamin di dalam kontrak asuransinya, dan disintermediation (disintermediasi) yang merupakan suatu fenomena dimana nasabah memindahkan uangnya dari suatu perusahaan perantara keuangan (dalam hal ini perusahaan asuransi) ke perusahaan perantara lain untuk menghasilkan bunga yang lebih tinggi. Perusahaan asuransi mengelola C-3 risk melalui praktek-praktek asset-liability management yang efektif.

(7)

Universitas Kristen Petra

• C-4 risk adalah general business risk, yaitu risiko kerugian yang diakibatkan oleh praktek-praktek bisnis umum yang tidak efektif atau faktor-faktor lingkungan di luar kendali perusahaan. Contoh dari general business risk adalah manajemen yang tidak efisien, kerugian karena adanya pemalsuan dan litigasi, perubahan undang-undang perpajakan, penurunan ekonomi dan bencana alam. Perusahaan mengendalikan beberapa C-4 risk dengan menugaskan tim manajemen yang bermutu tinggi dan berpengalaman untuk mengendalikan biaya usaha, melaksanakan pertimbangan manajerial yang sesuai, mendukung perilaku etis, memantau hasil-hasil keuangan serta melakukan audit internal dan external secara teratur.

2.4. RBC (Risk Based Capital)

Menurut Allianz Life Indonesia (www.allianz.co.id), secara umum rasio kesehatan RBC adalah suatu ukuran yang menginformasikan tingkat keamanan finansial atau kesehatan suatu perusahaan asuransi. Semakin besar rasio kesehatan RBC sebuah perusahaan asuransi, semakin sehat kondisi finansial perusahaan tersebut. Metode RBC ini dipergunakan untuk mengukur jumlah modal minimum perusahaan asuransi yang dibutuhkan untuk mendukung keseluruhan kegiatan operasi bisnisnya, menetapkan persyaratan modal dengan mempertimbangkan ukuran dan tingkat resiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi.

Rasio kesehatan RBC suatu perusahaan asuransi pada dasarnya adalah rasio dari nilai kekayaan bersih (net worth) perusahaan bersangkutan yang dihitung berdasarkan peraturan akuntansi standar, dibagi dengan nilai kekayaan bersih yang dihitung kembali dengan mengikutsertakan resiko-resiko pemburukan yang mungkin terjadi. Pengikutsertaan resiko-resiko pemburukan yang mungkin tersebut merefleksikan adanya ketidakpastian yang dihadapi oleh perusahaan dalam aktivitas sehari-harinya, misalkan saja kemungkinan jatuhnya nilai asset secara jangka pendek akibat investasi pada instrument yang lebih beresiko, demikian pula kemungkinan naiknya tingkat hutang akibat perkembangan yang tidak menguntungkan di masa depan dalam hal tingkat suku bunga, tingkat

(8)

Universitas Kristen Petra

kematian, tingkat putus kontrak, dan lain sebagainya. Nilai kekayaan bersih yang kedua, sebagai penyebut dari rasio tersebut, sebenarnya merupakan besaran yang semula disebut sebagai Risk Based Capital, karena merupakan besaran nilai kekayaan bersih, atau Capital, yang dihitung secara Risk Based.

Sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 424/KMK.06/2003 mengenai pengukuran kinerja perusahaan asuransi dengan metode Risk Based Capital (RBC) yaitu pengukuran kinerja berdasarkan jumlah seluruh kekayaan yang diperkenankan (Admitted Asset) dikurangi seluruh kewajiban perusahaan (Liabilities) yang jumlahnya lebih besar dari atau sekurang-kurangnya sama dengan batas tingkat solvabilitas minimum (BTSM).

Komponen-komponen BTSM (Risk Based Capital) terdiri dari:

1. Kegagalan pengelolaan kekayaan

2. Ketidakseimbangan antara proyeksi arus kekayaan dan kewajiban

3. Ketidakseimbangan antara nilai kekayaan dan kewajiban dalam setiap jenis mata uang

4. Perbedaan antara beban klaim yang terjadi dan beban klaim yang diperkirakan

5. Ketidakcukupan premi akibat perbedaan hasil investasi yang diasumsikan dalam penetapan premi dengan hasil investasi yang diperoleh

6. Ketidakmampuan pihak reasuradur untuk memenuhi kewajiban membayar klaim.

Di Indonesia, Departemen Keuangan telah memberlakukan ketentuan RBC secara bertahap sejak tahun 2001. Ketika itu, perusahaan asuransi diwajibkan memenuhi tingkat RBC minimal 40 persen. Tahun 2002, tingkat RBC dinaikkan menjadi 75 persen dan per akhir tahun 2003, perusahaan asuransi diwajibkan memenuhi tingkat RBC minimal 100 persen. Pada akhir tahun 2004, perusahaan asuransi harus berjuang lebih keras lagi untuk memenuhi tingkat RBC 120 persen (Investor edisi 103 ● 22 Juni – 5 Juli 2004).

(9)

Universitas Kristen Petra

2.5. Premi dan Cadangan Premi

2.5.1. Premi

Untuk dapat memperoleh perlindungan dari pihak asuransi, maka pemegang polis mempunyai tanggung jawab untuk membayar premi kepada perusahaan asuransi. Premi bruto adalah pembayaran dari nasabah untuk perlindungan asuransinya. Premi dapat dibayarkan sekaligus atau sebagai cicilan.

Sedangkan premi bersih adalah iuran rutin dari nasabah setelah dikurangi biaya- biaya, misalnya biaya untuk jasa agen lepas pemasaran asuransi.

Tarif premi yang ditentukan oleh perusahaan asuransi pada setiap polis berbeda-beda tergantung berdasarkan kasus masing-masing polis. Untuk menetapkan tarif premi pada calon pemegang polis maka perusahaan asuransi dapat menggunakan berberapa cara, yaitu :

1. Manual rating

Suatu metode yang digunakan oleh perusahaan asuransi untuk menghitung tarif premi asuransi kumpulan tanpa mempertimbangkan klaim-klaim sebelumnya dan pengalaman biaya (expense experience) dari suatu kelompok. Dalam hal menggunakan manual reating perusahaan asuransi menggunakan pengalamannya sendiri di masa lalu dan kadang-kadang pengalaman perusahaan asuransi lainnya untuk memperkirakan klaim dan pengalaman biaya dari kelompok tersebut.

2. Experience rating

Suatu metode yang digunakan untuk menetapkan tarif premi asuransi kumpulan dimana perusahaan asuransi mempertimbangkan klaim-klaim sebelumnya dan pengalaman biaya dari suatu kelompok tertentu.

3. Blended rating

Suatu metode yang menggunakan kombinasi antara experience rating dan manual rating untuk menetapkan tarif premi kelompok. Semakin besar suatu kelompok, semakin besar kredibilitas yang akan diberikan oleh perusahaan asuransi pada pengalaman group itu sendiri dan semakin kecil perusahaan asuransi akan mengandalkan manual rating.

(10)

Universitas Kristen Petra

2.5.2. Cadangan Premi

Menurut MLC Indonesia (www.mlcindonesia.com), policy reserve (cadangan premi) adalah kewajiban yang mewakili jumlah yang menurut perkiraan perusahaan asuransi diperlukan untuk membayar manfaat ketika jatuh tempo. Juga dikenal dengan legal reserve, policy liability atau statutory reserve.

Sedangkan menurut Gene Stone, policy reserve (cadangan premi) adalah suatu kewajiban yang menunjukkan jumlah uang, bersama dengan premi yang diharapkan masih dibayar di masa depan serta asumsi tingkat suku bunga investasi, diharapkan akan diperlukan untuk membayar manfaat polis-polis inforce yang tercatat. Dalam menetapkan harga produk-produk asuransi, perusahaan asuransi harus mengupayakan pertumbuhan cadangan premi pada tingkatan yang mencakupi untuk memenuhi persyaratan-persyaratan cadangan minimum, yaitu mencakup semua klaim yang diperkirakan akan terjadi selama setiap tahun polis. Cadangan-cadangan premi juga harus cukup untuk menutup adanya kemungkinan-kemungkinan fluktuasi pada tingkat mortalitas maupun pengalaman investasi yaitu pengalaman mortalitas yang lebih tinggi dari pada yang diharapkan dan pendapatan investasi yang lebih kecil dari pada yang diharapkan.

2.6. Cadangan Teknis

Di samping cadangan premi, cadangan teknis yang dipersyaratkan lainnya yang dijaga oleh perusahaan asuransi adalah:

• Cadangan dividen polis yang dapat dibayarkan

• Cadangan premi yang telah dibayar di muka oleh pemegang polis

• Cadangan klaim yang telah diajukan namun belum dibayarkan

• Dua jenis asset fluctuation reserve (cadangan fluktuasi aktiva), yang dirancang untuk menyerap laba dan rugi dalam portfolio investasi suatu perusahaan asuransi.

• Berbagai contingency reserve (cadangan darurat), yang dibuat sebagai peredam terhadap resiko khusus yang dihadapi oleh perusahaan asuransi.

(11)

Universitas Kristen Petra

Contoh: cadangan darurat asuransi kumpulan, yang melindungi perusahaan asuransi dari kerugian yang lebih besar dari pada yang diantisipasi yang disebabkan oleh konsentrasi resiko yang tidak lazim di dalam suatu program asuransi kumpulan.

2.7. Klaim

Menurut Harriet E. Jones dan Dani L. Long, claim (klaim) adalah suatu permintaan pembayaran atas manfaat polis asuransi menyusul terjadinya suatu kerugian yang ditanggung.

2.8. Profitabilitas

Menurut Gene Stone, laba adalah selisih antara pendapatan yang lebih besar atas pengeluaran. Kenaikan nilai perusahaan diindikasikan oleh ukuran- ukuran kenaikan harga saham perusahaan dan pertambahan akun modal dan surplus di dalam neraca perusahaan. Walaupun profitabilitas dapat diperoleh dan diukur dalam jangka waktu yang pendek, perusahaan asuransi biasanya berusaha untuk mendapatkan profitabilitas jangka panjang. Profitabilitas jangka panjang memungkinkan perusahaan asuransi untuk:

• Menyediakan dana untuk investasi.

• Membayar dividen polis atas participating policy.

• Membayar dividen tunai kepada para pemegang saham dan meningkatkan daya tarik saham perusahaan kepada para investor.

• Membuat pemeringkatan yang bermutu tinggi dari lembaga pemeringkatan asuransi.

• Menyediakan dana untuk mengembangkan produk, lini produk dan jalur distribusi.

• Menyediakan dana untuk ekspansi dan akuisisi.

Perusahaan asuransi menurut Gene Stone, biasanya membuat sejumlah sasaran profitabilitas. Sebagai contoh, banyak perusahaan asuransi yang

(12)

Universitas Kristen Petra

menetapkan sasaran yang ditargetkan atau modal yang mereka inginkan untuk memberikan hasil; target-target tersebut ditetapkan untuk perusahaan secara keseluruhan dan untuk lini usaha setiap perusahaan asuransi. Sasaran profitabilitas umum lainnya memerincikan tingkat pertumbuhan yang ditargetkan. Sebagai contoh, suatu perusahaan asuransi dapat menetapkan tujuan untuk meningkatkan pendapatannya atau meningkatkan nilai asset-asetnya dengan suatu persentase yang dinyatakan setiap tahun. Perusahaan asuransi persero dapat menetapkan tujuan tingkat pertumbuhan dengan menaikkan harga saham-sahamnya.

2.9. Laporan Keuangan

2.9.1. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses pencatatan yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan rata-rata tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Disamping itu laporan keuangan dapat juga digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak di luar perusahaan.

Pada umumnya laporan keuangan terdiri dari Neraca dan Perhitungan Laba-Rugi serta Laporan Perubahan Modal, dimana Neraca menunjukkan jumlah aktiva, hutang, dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedang Perhitungan (Laporan) Laba-Rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya terjadi selama periode tertentu, dan Laporan Perubahan Modal menunjukkan sumber dan penggunaan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan. Tetapi dalam prakteknya diikutsertakan juga kelompok-kelompok lain yang sifatnya membantu menjelaskan lebih lanjut, misalnya laporan modal kerja, laporan sumber dan penggunaan kas atau laporan arus kas, laporan biaya produksi dan lain-lain.

(13)

Universitas Kristen Petra

2.9.2. Komponen Laporan Keuangan

Secara umum laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba-rugi dan laporan perubahan modal. Akan tetapi dalam analisa ini yang akan dibahas hanya neraca dan laporan laba-rugi saja. Adapun pengertian dan bentuk dari masing- masing laporan keuangan tersebut, yaitu:

2.9.2.1. Neraca

Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Berdasarkan definisi tersebut maka neraca terdiri dari tiga bagian utama yaitu aktiva, hutang serta modal (Drs. S.

Munawir, Ak, 1995 : 13).

a. Aktiva

Aktiva adalah semua kekayaan atau aset yang dimiliki oleh perusahaan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Aktiva dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama, yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap. Dalam hubungannya dengan rata-rata peraturan yang terbaru mengenai penyusunan neraca untuk perusahaan jasa asuransi, pada sisi aktiva tidak lagi diadakan istilah aktiva lancar tetapi hanya non investasi, investasi, dan aktiva tetap.

Tetapi pada dasarnya non investasi ini sama dengan rata-rata aktiva lancar.

i. Aktiva Lancar / Non Investasi

Adalah uang tunai dan aktiva lainnya yang diharapkan dapat dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumsi dalam periode yang tidak lebih dari satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 14). Yang termasuk dalam aktiva lancar, yaitu:

ƒ Kas dan Bank, adalah uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan, termasuk cek yang diterima dari para langganan dan simpanan perusahaan di bank yang setiap saat dapat diambil kembali apabila diperlukan.

(14)

Universitas Kristen Petra

ƒ Piutang Wesel (Wesel Tagih), yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan oleh sebuah perjanjian yang diatur dalam Undang- Undang. Piutang wesel ini dapat diperjual belikan.

ƒ Piutang lain-lain, yaitu piutang yang timbul bukan dari penjualan jasa, tetapi dari hal-hal lain seperti: Piutang kepada pegawai, piutang karena penjualan aktiva tetap secara kredit, dan lain-lain.

ƒ Piutang Premi, yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dalam hal ini adalah pihak pemegang polis asuransi yang dinyatakan oleh sebuah perjanjian yang diatur dalam Undang-Undang.

ƒ Piutang Reasuransi, yaitu tagihan perusahaan kepada pihak rasuransi (reasuradur) untuk mengganti klaim yang diajukan pemegang polis asuransi dikarenakan tertanggung meninggal dunia, sebesar jumlah yang menjadi bagian reasuradur.

ƒ Persekot atau Biaya yang dibayar dimuka, yaitu pengeluaran untuk memperoleh jasa atau prestasi dari pihak lain, tetapi pengeluaran itu belum menjadi biaya. Jasa atau prestasi pihak lain tersebut belum dinikmati oleh perusahaan pada periode ini, melainkan pada periode berikutnya.

ii. Aktiva Tetap

Adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam operasi yang mempunyai umur kegunaan bersifat permanent, yaitu lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dipakai dalam satu kali perputaran operasi perusahaan (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 16). Yang termasuk dalam aktiva tetap, yaitu:

ƒ Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan untuk operasi, misalnya sebagai lapangan, halaman, tempat parkir dan lain-lain.

ƒ Bangunan, misalnya bangunan kantor.

ƒ Inventaris

ƒ Kendaraan, perlengkapan atau alat-alat lainnya.

(15)

Universitas Kristen Petra

ƒ Aktiva Tetap Tidak Berwujud (Intangible Fixed Assets), yaitu kekayaan perusahaan yang tidak nampak secara fisik, tetapi merupakan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan, misalnya merek degang.

b. Hutang

Pengertian hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 18). Hutang dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu Hutang Lancar (hutang jangka pendek) dan Hutang Jangka Panjang.

i. Hutang Lancar

Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya akan dilakukan dalam jangka pendek (tidak lebih dari 1 tahun sejak tanggal neraca) dengan rata-rata menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan. Yang termasuk dalam hutang lancar, yaitu:

ƒ Hutang Wesel, yaitu hutang dengan rata-rata janji tertulis yang diatur didalam Undang-Undang untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa mendatang

ƒ Hutang Pajak, yaitu meliputi pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke Kas Negara.

ƒ Biaya yang masih harus dibayar, yaitu biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.

ƒ Hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo, yaitu sebagian atau seluruh hutang jangka panjang yang sudah menjadi hutang jangka pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.

ƒ Hutang deviden, yaitu pembayaran deviden yang belum diambil oleh para pemegang saham.

(16)

Universitas Kristen Petra

ƒ Hutang klaim, yaitu pertanggungan yang belum dibayar oleh perusahaan atas klaim dari pemegang polis asuransi karena terjadinya kematian, berakhirnya masa pertanggungan, pembatalan polis dan penebusan nilai tunai. Jumlah pertanggungan sesuai dengan rata-rata perjanjian dan dihitung berdasarkan kasus per kasus.

ƒ Hutang reasuransi, adalah hutang premi reasuransi yang belum dibayarkan kepada reasuradur.

ƒ Titipan / Uang muka premi, merupakan premi yang diterima sebelum polis atas premi tersebut dikeluarkan.

ƒ Hutang premi, yaitu premi yang belum dibayarkan oleh perusahaan kepada reasuradur.

ƒ Hutang komisi, adalah komisi kepada para agen yang belum dibayarkan.

ii. Hutang Jangka Panjang

Hutang Jangka Panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang atau lebih dari 1 tahun sejak tanggal neraca. Walaupun pada perusahaan asuransi bisa dikatakan tidak memiliki pos untuk hutang jangka panjang tetapi cadangan premi dan hutang kepada pihak istimewa dapat dikategorikan hutang jangka panjang karena masa pelunasannya lebih dari satu tahun. Hutang kepada pihak istimewa mempunyai masa pelunasan 15 bulan, walaupun pos ini hanya terjadi pada saat tertentu saja misalnya dalam hal ini pihak perusahaan membeli saham dari pihak yang memiliki hubungan istimewa. Sesuai dengan rata-rata pernyataan Standar Akuntansi Keuangan no. 7, yang dimaksud dengan rata-rata Pihak-Pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah:

ƒ Perusahaan yang memiliki satu atau lebih perantara rata-rata, mengendalikan atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan rata-rata perusahaan pelapor (termasuk holding companies subsidiaries, dan fellow subsidiaries);

ƒ Perusahaan asosiasi (associated company);

(17)

Universitas Kristen Petra

ƒ Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksud dengan rata-rata anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan rata-rata perusahan pelapor).

ƒ Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang- orang tersebut.

ƒ Perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan di atas, atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan- perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan- perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan rata-rata perusahaan pelapor.

c. Modal

Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukan dalam pos modal (Modal Saham), surplus dan laba yang ditahan.

Atau definisi lain, modal adalah kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya. Modal dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

i. Modal yang berasal dari setoran para pemilik perusahaan, seperti modal saham (termasuk agio saham bila ada).

ii. Modal yang berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk deviden (laba ditahan).

(18)

Universitas Kristen Petra

2.9.2.2. Laporan Laba Rugi

Perhitungan laba rugi adalah suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, laba rugi yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Prinsip-prinsip umum dalam penyusunan laporan laba rugi, yaitu:

a. Bagian yang pertama menunjukan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok perusahaan dalam memberikan jasa asuransi.

b. Bagian kedua menunjukan beban operasional yang terdiri dari beban asuransi dan beban usaha.

c. Bagian ketiga menunjukkan beban lain-lain yang terjadi di luar usaha pokok perusahaan.

d. Bagian keempat menunjukkan laba atau rugi sebelum pajak penghasilan dan laba bersih.

2.9.3 Hubungan Neraca dan Laporan Laba Rugi

Neraca dan laporan laba rugi sangat diperlukan oleh seorang penganalisa karena kedua laporan itu mempunyai hubungan satu sama lain, bukan berdiri sendiri-sendiri. Untuk mengetahui tendensi atau trend bertambahnya modal atau kekayaan perusahaan hanya akan diketahui dari neraca, tetapi untuk mengetahui kemajuan atau sebab-sebab perubahan modal tersebut diperlukan laporan yang lain, yaitu laporan laba rugi.

2.9.4. Arti Penting Laporan Keuangan

Laporan keuangan sangat penting artinya bagi mereka yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan, karena dari laporan keuangan dapat diketahui kondisi keuangan dan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha perusahaan. Informasi-informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan baik bagi pihak internal seperti pemilik perusahaan dan manajer

(19)

Universitas Kristen Petra

perusahaan maupun bagi pihak eksternal seperti nasabah, calon nasabah maupun investor, serta pihak-pihak lainnya. Bagi pemilik dan manajer perusahaan, analisa laporan keuangan ini berguna untuk mengatur strategi maupun rencana kerja baik jangka pendek maupun jangka panjang yang tentunya didukung dengan rata-rata diketahuinya kelebihan maupun kelemahan kinerja keuangan perusahaan sehingga strategi dan rencana tersebut mempunyai dasar perhitungan yang kuat. Bagi nasabah maupun calon nasabah, mereka akan lebih yakin dan percaya bahwa perusahaan mempunyai kemampuan memenuhi hak yang harus diterimanya bila klaim dilakukan maupun jika kontrak dihentikan sebelum masa kontrak selesai.

Sedangkan bagi investor analisa laporan keuangan ini sangat berguna untuk pengambilan keputusan dengan rata-rata dasar pertimbangan yang lebih baik, yaitu apakah investasi yang akan dilakukan menguntungkan atau tidak.

2.10. Analisa Laporan Keuangan

Ada dua metode yang dapat digunakan dalam menganalisa laporan keuangan atau membandingkan rasio keuangan perusahaan, yaitu dengan rata-rata Cross Sectional Approach dan Time Series Analysis. Penulis akan menggunakan 2 (dua) metode, yaitu:

a). Cross Sectional Approach

Metode ini dilakukan dengan membandingkan rasio-rasio antara rata-rata satu perusahaan dengan rata-rata perusahaan lain yang sejenis dan kira-kira hampir sama ukurannya, atau dengan rata-rata rasio rata-rata pada saat yang sama.

Metode ini dilakukan dengan rata-rata maksud untuk mengetahui seberapa baik atau buruk suatu perusahaan dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis lainnya atau dengan rata-rata rasio rata-rata.

b). Time Series Analysis

Metode ini dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan rasio-rasio yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Metode ini terbagi atas dua cara, yaitu Analisa Horisontal dan Analisa Vertikal:

(20)

Universitas Kristen Petra

1) Analisa Horisontal

Analisa yang dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode atau antara rata-rata rasio saat ini dengan rata-rata rasio waktu lampau, sehingga akan diketahui perkembangan keuangan perusahaan, dan selanjutnya dapat dibuat rencana-rencana untuk masa yang akan datang. Analisa ini disebut juga analisa dinamis.

2) Analisa Vertikal

Analisa yang dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan laporan keuangan untuk satu periode saja, yaitu dengan rata-rata memperbandingkan antara rata-rata pos yang satu dengan rata-rata pos yang lain dalam laporan keuangan tersebut, sehingga akan diketahui keadaan keuangan atau hasil operasi perusahaan pada periode itu saja.

Analisa ini disebut juga analisa statis.

2.11. Analisa Rasio

Dalam penelitian ini digunakan analisa rasio-rasio sebagai berikut:

2.11.1. Rasio RBC (Risk Based Capital)

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat solvabilitas perusahaan atau kemampuan menanggung segala resiko klaim. RBC yang dipersyaratkan berdasarkan KMK No. 424/KMK.06/2003, perusahaan asuransi disyaratkan setiap saat wajib memenuhi RBC paling sedikit 120% dari resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi dalam pengelolaan kekayaan dan kewajiban.

(21)

Universitas Kristen Petra

2.11.2. Rasio Total Investasi per Cadangan Teknis

Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar cadangan teknis yang dijamin dengan investasinya. Semakin besar rasio ini, semakin baik karena total investasi perusahaan semakin besar dibandingkan dengan cadangan teknis perusahaan. Sehingga semakin besar pula kemampuan investasi untuk menjamin cadangan teknis perusahaan.

2.11.3. Rasio Total Ekuitas per Net Premi

Rasio ini mencerminkan seberapa besar ekuitas perusahaan mampu untuk menjamin net preminya. Maka semakin tinggi rasio ini, semakin baik karena total ekuitas perusahaan semakin besar dibandingkan dengan net premi perusahaan.

Sehingga semakin besar pula kemampuan ekuitas untuk menjamin net premi perusahaan.

2.11.4. Rasio Jumlah Kewajiban per Jumlah Ekuitas

Rasio ini mencerminkan seberapa besar modal sendiri perusahaan mampu untuk menutupi total hutangnya bila perusahaan mengalami likuidasi. Maka semakin tinggi rasio ini, semakin buruk karena jumlah hutang perusahaan jauh lebih besar dari modal yang dimiliki sehingga resiko yang dimiliki perusahaan juga akan semakin besar.

2.11.5. Rasio Cadangan Premi per Beban Klaim

Rasio ini mencerminkan seberapa besar cadangan premi perusahaan mampu menjamin beban klaimnya. Maka semakin tinggi rasio ini, semakin baik karena cadangan premi perusahaan semakin besar dibandingkan dengan beban klaim perusahaan. Sehingga semakin besar pula kemampuan cadangan premi untuk menjamin beban klaim perusahaan.

(22)

Universitas Kristen Petra

2.11.6. ROI (Return On Investment)

Rasio ini menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih. Tinggi rendahnya ROI memberikan indikasi seberapa jauh efisiensi penggunaan modal asset, dan turun- naiknya penjualan dan biaya. Diharapkan ROI yang diperoleh akan lebih besar dari Cost Of Capital dari dana yang digunakan. Untuk menghitung ROI dapat menggunakan rumus :

Rumus 2.1:

s TotalAsset

NetIncome ROI =

2.11.7. ROE (Return On Equity)

ROE sering juga dinamakan rentabilitas usaha yaitu perbandingan antara rata-rata jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri di satu pihak dengan rata-rata modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di lain pihak atau dengan rata-rata kata lain ROE adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Untuk menghitung ROE dapat digunakan rumus:

Rumus 2.2:

Equity NetIncome ROE=

2.11.8. Net Profit Margin

Net Profit Margin mencerminkan berapa besar laba bersih yang bisa didapatkan dari setiap pendapatan operasional sehingga semakin tinggi rasio menunjukkan semakin besar laba bersih perusahaan dibandingkan pendapatan operasionalnya. Semakin besarnya laba bersih disebabkan semakin rendahnya beban yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, baik beban asuransi sendiri, beban umum dan administrasi maupun beban lainnya, seperti hutang pajak, hutang deviden, dll. Untuk menghitung Net Profit Margin dapat menggunakan rumus:

(23)

Universitas Kristen Petra

Rumus 2.3:

Sales NetIncome in

ofitM

NetPr arg =

2.11.9. Rasio Gain On Investment per Total Investment

Rasio ini mencerminkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari investasi yang dilakukan. Maka semakin tinggi rasio ini semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan dari investasi yang dilakukan. Sehingga dari rasio ini dapat diketahui besarnya pendapatan investasi neto perusahaan.

2.11.10. Rasio Beban Klaim per Total Premi Bruto

Rasio ini mencerminkan seberapa besar kemampuan total premi bruto yang diperoleh perusahaan dalam menjamin beban klaimnya. Maka semakin tinggi rasio ini, semakin tidak baik karena semakin besar pula beban klaim yang harus dijamin dengan premi bruto yang diterima perusahaan.

2.11.11. Rasio Jumlah Pertanggungan Baru per Jumlah Pemutusan Kontrak

Rasio ini mencerminkan satu polis yang lapse setara dengan berapa polis baru. Maka semakin tinggi rasio ini, semakin baik karena jumlah pertanggungan baru semakin besar dibandingkan dengan jumlah pemutusan kontrak.

2.11.12. Rasio Perkembangan Jumlah Tertanggung

Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar kenaikan atau penurunan jumlah tertanggung yang ada. Semakin besar kenaikan jumlah

(24)

Universitas Kristen Petra

tertanggung maka akan semakin baik. Meningkatnya jumlah tertanggung menunjukkan bahwa pasar bereaksi positif terhadap perusahaan asuransi tersebut, sehingga semakin banyak konsumen yang membeli produk dari perusahaan asuransi tersebut.

2.11.13. Rasio Perkembangan Jumlah Uang Pertanggungan

Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar kenaikan atau penurunan jumlah uang pertanggungan yang diperoleh. Semakin besar kenaikan jumlah uang pertanggungan menunjukkan bahwa pasar bereaksi positif terhadap perusahaan tersebut. Dengan semakin besarnya jumlah uang pertanggungan yang diasuransikan oleh nasabah mengindikasikan bahwa banyak konsumen yang percaya dan berani untuk mengasuransikan diri mereka dalam jumlah yang besar.

2.11.14. Kriteria Rating Asuransi Jiwa

Menurut majalah InfoBank No. 304, Juli 2004, kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh asuransi jiwa adalah sebagai berikut:

Kriteria Standar

1. Risk Based Capital (RBC) ≥ 120%

2. Likuiditas ≥ 120%

3. Deposito Wajib/Cadangan Teknis ≥ 5%

4. Investasi/Cadangan Teknis + Utang Klaim ≥ 100%

5. Aktiva Tetap/Modal Sendiri ≥ 25%

6. Perubahan Premi Bruto:

Asuransi Jiwa Besar Asuransi Jiwa Menengah Asuransi Jiwa Kecil

≥ 14% #

≥ 23% #

≥ 25% # 7. Pendapatan Premi Neto/Modal Sendiri ≤ 280%

8.Pendapatan Investasi Neto/Rata-rata investasi ≥ 8% * 9. Beban (Klaim+Usaha+Komisi)/Pendapatan Premi Neto ≤ 100%

(25)

Universitas Kristen Petra

10. Laba (Rugi) sebelum Pajak / Rata-Rata Modal Sendiri ≥ 8% *

Sumber : Biro Riset InfoBank (birl).

Keterangan:

# : rata-rata per kelompok

* : rata-rata suku bunga investasi per Desember 2003

2.12. Teori Uji Beda Rata-Rata dengan T-Test

Teori uji beda rata-rata dengan T-Tes adalah sebuah teori dalam statistik yang digunakan untuk menguji apakah suatu nilai tertentu (yang diberikan sebagai pembanding) berbeda secara nyata ataukah tidak dengan rata-rata sebuah sample.

Data yang digunakan untuk melakukan uji beda rata-rata dengan T-Tes adalah data yang bertipe kuantitatif dengan data sample berjumlah sedikit.

Uji perbedaan rata-rata berdasarkan distribusi nilai t dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Uji t untuk menguji rata-rata pada satu kelompok sampel (One Sample T- test). Pengujian ini dilakukan antara lain untuk menguji homogenitas data, dan dapat juga digunakan untuk mengetahui signifikansi perbedaan rata-rata suatu kelompok sample dengan nilai pembanding yang ditetapkan.

Untuk menguji rata-rata pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan One Sample T-test. Penulis menggunakan rumus One Sample T-test karena dalam skripsi ini penulis ingin menguji rata-rata pada suatu kelompok sampel untuk mengetahui signifikansi perbedaan rata-rata suatu kelompok sample dengan nilai pembanding yang ditetapkan.

Rumus One Sample T-Test adalah sebagai berikut : Rumus 2.4:

n t s

/ μ

= Χ

Keterangan :

X = rata-rata sample μ = rata-rata populasi s = standard deviasi sampel n = banyaknya sample

(26)

Universitas Kristen Petra

Dalam melakukan uji beda rata-rata dengan One Sample T-test, variable yang menjadi pembanding dalam penelitian ini adalah perusahaan asuransi PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan industri sejenis. Dimana variabel dari PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dikeluarkan dari perhitungan industri rata-rata sejenis. Hal ini dikarenakan variabel tersebut digunakan sebagai pembanding dengan rata-rata industri sejenis.

2. Uji t untuk mengetahui perbedaan rata-rata dua sample yang saling bebas (Independent Sample T-Test). Dengan pengujian ini dapat diketahui signifikansi perbedaan nilai rata-rata dua kelompok sampel yang tidak saling berhubungan.

3. Uji t untuk mengetahui perbedaan rata-rata dua sample yang berhubungan atau berpasangan (Paired Sample T-Test). Dengan pengujian ini dapat diketahui signifikansi perbedaan nilai rata-rata dua kelompok sampel yang saling berhubungan.

2.13. Hipotesa Penelitian

Hipotesa penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

RBC (Risk Based Capital)

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata RBC (Risk Based Capital) PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata RBC (Risk Based Capital) industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata RBC (Risk Based Capital) PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata RBC (Risk Based Capital) industri sejenis

Total Investasi per Cadangan Teknis

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Investasi per Cadangan Teknis PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata- rata Total Investasi per Cadangan Teknis industri sejenis

(27)

Universitas Kristen Petra

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Investasi per Cadangan Teknis PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Total Investasi per Cadangan Teknis industri sejenis

Total Ekuitas per Net Premi

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Ekuitas per Net Premi PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Total Ekuitas per Net Premi industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Ekuitas per Net Premi PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Total Ekuitas per Net Premi industri sejenis

Jumlah Kewajiban per Jumlah Ekuitas

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah Kewajiban per Jumlah Ekuitas PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Jumlah Kewajiban per Jumlah Ekuitas industri sejenis H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah Kewajiban per

Jumlah Ekuitas PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Jumlah Kewajiban per Jumlah Ekuitas industri sejenis

Cadangan Premi per Beban Klaim

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Cadangan Premi per Beban Klaim PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Cadangan Premi per Beban Klaim industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Cadangan Premi per Beban Klaim PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Cadangan Premi per Beban Klaim industri sejenis

(28)

Universitas Kristen Petra

ROI (Return On Investment)

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROI (Return On Investment) PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata ROI (Return On Investment) industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROI (Return On Investment) PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata ROI (Return On Investment) industri sejenis

ROE (Return On Equity)

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROE (Return On Equity) PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata ROE (Return On Equity) industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROE (Return On Equity) PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata ROE (Return On Equity) industri sejenis

Net Profit Margin

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Net Profit Margin PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Net Profit Margin industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Net Profit Margin PT.

Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Net Profit Margin industri sejenis

Gain On Investment per Total Investment

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Gain On Investment per Total Investment PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Gain On Investment per Total Investment industri sejenis

(29)

Universitas Kristen Petra

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Gain On Investment per Total Investment PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata- rata Gain On Investment per Total Investment industri sejenis

Beban Klaim per Total Premi Bruto

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Beban Klaim per Total Premi Bruto PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata- rata Beban Klaim per Total Premi Bruto industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Beban Klaim per Total Premi Bruto PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Beban Klaim per Total Premi Bruto industri sejenis

Jumlah Pertanggungan Baru per Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah

Pertanggungan Baru per Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) PT.

Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru per Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah Pertanggungan Baru per Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru per Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) industri sejenis

Perkembangan Jumlah Tertanggung

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata- rata Perkembangan Jumlah Tertanggung industri sejenis

(30)

Universitas Kristen Petra

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung industri sejenis

Perkembangan Jumlah Uang Pertanggungan

H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Uang Pertanggungan PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata- rata perkembangan Uang Pertanggungan industri sejenis

H1: Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Uang Pertanggungan PT. Asuransi Allianz Life Indonesia dengan rata-rata perkembangan Uang Pertanggungan industri sejenis

(31)

Universitas Kristen Petra

PERFORMANCE PROFITABILITAS

SOLVABILITAS

REAKSI PASAR

TOTAL EKUITAS / NET PREMI RBC (Risk Based Capital)

TOTAL INVESTASI / CADANGAN TEKNIS

JUMLAH KEWAJIBAN / JUMLAH EKUITAS

CADANGAN PREMI / BEBAN KLAIM

ROI (Return On Investment)

ROE (Return On Equity)

NET PROFIT MARGIN

GAIN ON INVESTMENT / TOTAL INVESTMENT

JUMLAH PERTANGGUNGAN BARU / JUMLAH PEMUTUSAN

KONTRAK (LAPSE)

PERKEMBANGAN JML TERTANGGUNG BEBAN KLAIM / TOTAL

PREMI BRUTO

PERKEMBANGAN JML UANG PERTANGGUNGAN

2.14. Kerangka Berpikir

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir

(32)

Universitas Kristen Petra

Keterangan :

Untuk mengukur performance dari suatu perusahaan dalam hal ini khususnya perusahaan asuransi jiwa, maka dapat diukur dengan menggunakan 3 (tiga) kriteria yaitu :

1. Solvabilitas (Solvability)

Untuk mengukur solvabilitas suatu perusahaan maka dapat dilakukan perhitungan RBC (Risk-Based Capital), Rasio rata-rata Total Ekuitas terhadap rata-rata Net Premi, Rasio rata-rata Total Investasi terhadap rata- rata Cadangan Teknis, Rasio rata-rata Jumlah Kewajiban terhadap rata-rata Jumlah kewajiban, Rasio rata-rata Cadangan Premi terhadap rata-rata Beban Klaim. Penilaian terhadap solvabilitas dibagi menjadi dua yaitu good performance dan bad performance. Perusahaan asuransi jiwa dikategorikan good performance, jika sekurang-kurangnya tiga dari lima variabel yang ada berpredikat baik atau “ good “, sedangkan bila kurang dari tiga dikategorikan sebagai bad performance.

2. Profitabilitas (Profitability)

Untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan maka dapat dilakukan perhitungan ROI (Return on Investment), ROE (Return on Equity), Net Profit Margin, Rasio rata-rata Gain On Investment terhadap rata-rata Total Investment, dan Rasio rata-rata Beban Klaim terhadap rata-rata Total Premi Bruto. Penilaian terhadap profitabilitas dibagi menjadi dua yaitu good performance dan bad performance. Perusahaan asuransi jiwa dikategorikan good performance, jika sekurang-kurangnya tiga dari lima variabel yang ada berpredikat baik atau “ good “, sedangkan bila kurang dari tiga dikategorikan sebagai bad performance.

3. Reaksi pasar (Market Reaction)

Untuk mengukur reaksi pasar suatu perusahaan maka dapat dilakukan perhitungan terhadap rasio rata-rata jumlah polis baru terhadap rata-rata jumlah polis lapse, perkembangan jumlah tertanggung, dan perkembangan jumlah uang pertanggungan. Penilaian terhadap reaksi pasar dibagi menjadi dua yaitu positive reaction dan negative reaction. Perusahaan asuransi jiwa dikategorikan memiliki positive reaction, jika sekurang-

(33)

Universitas Kristen Petra

kurangnya dua dari tiga variabel yang ada berpredikat positive reaction, sedangkan bila kurang dari dua maka dikategorikan perusahaan tersebut memiliki negative reaction dari masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang, bahwa disamping itu dengan merujuk kepada Yurisprudensi MARI No.477/K/AG/2010 tanggal 20 Oktober 2010, Majelis Hakim Tingkat Banding juga memandang perlu

100` Di akhir pembelajaran diberikan kuis dan review materi - LCD - Laptop 13 Mahasiswa akan mampu menunjukkan komunikasi mengenai cara pengukuran TTV kepada pasien dengan

Jika terdapat kelebihan tabungan setelah pelaksanaan qurban sebagaimana dimaksud pada ketentuan nomor 7 dan peserta tidak dapat dikonfirmasi atau tidak diperolehnya

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ransum yang mengandung tepung daun ubi jalar ungu disuplementasi starpig dapat mengurangi lemak tubuh dan

Dokumen untuk pembuatan produk Kebutuhan.. Berdasarkan keinginan pengguna tersebut kemudian disusun spesifikasi teknis produk yang selanjutnya akan dijadikan dasar fase

[r]

Saran yang dapat diusulkan dari penelitian “Analisis Kebutuhan Dan Perancangan Rak Rekam Medis Di Unit Rawat Inap Klinik Permata Medika Sukorejo Ponorogo. Bagi Klinik

Penelitian ini membahas tentang kesehatan reproduksi khususnya komplikasi persalinan serta faktor yang diduga mempengaruhinya seperti umur ibu saat