• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAAN. A yang dilaksanakan pada Minggu, 22 April 2018 hingga Minggu, 6 Mei 2018, Di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV PEMBAHASAAN. A yang dilaksanakan pada Minggu, 22 April 2018 hingga Minggu, 6 Mei 2018, Di"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

49

Dalam bab ini berisi pembahasaan penatalaksanaan akupunktur pada pasien Nn.

A yang dilaksanakan pada Minggu, 22 April 2018 hingga Minggu, 6 Mei 2018, Di Klinik Pratama Wijoyo Husodo Sragen. Penatalaksanaan akupunktur berdasarkan Wang (pengamatan), Wen (pendengaran dan penciuman), Wun (anamnesa), Cie (palpasi), diagnosa akupunktur, perencanaan terapi, pelaksanaan terapi, saran dan anjuran dan evaluasi.Untuk kasus “Gastritis dengan sindrom Defisiensi Qi Lambung karena pathogen dingin”.

A. Pengkajian

Pada pemeriksaan vital sign pasien Nn. A didapatkan hasil sebagai berikut tekanan darah 110/80 mmHg, respirasi 18 kali/menit, frekuensi nadi 78 kali/menit, suhu tubuh pasien 37,5° celcius, berat badan 45 kg, tinggi badan 150 cm. tekanan darah terdiri dari tekanan darah normal yaitu kurang dari 120/80 mmHg, tekanan darah hipotensi berkisar anatara 100/70-110/70 mmHg dan hipertensi jika tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Nadi yang dikatakan normal yaitu tidak terlalu mengambang maupun dalam, tidak terlalu cepat maupun lambat, tekanan moderat atau cukup. Frekuensi nadi normal adalah antara 60-80 kali permenit. Data pengkajian vital sign pasien Nn.A dengan tinjauan teori yang ada, menunjukkan kondisi pasien hipotensi dengan

(2)

tekanan darah 110/80 mmHg (Yanfu, 2002), Pada data frekuensi nadi menunjukkan kondisi pasien normal ditunjukkan dengan kecepatan, ukuran, dan kuat nadi normal, frekuensi nadi yang abnormal terdapat kedalaman nadi dalam dan nadi kurus yang menandakan pasien defisiensi. (Pearce, 2008) 1. Wang (Pengamatan)

Dari hasil pengamatan pasien Nn.A datang dengan kesadaran penuh, pasien terlihat semangat, mata terlihat bersinar. Pasien Nn. A memiliki tubuh tegap namun sedikit kurus dan tinggi, dapat berjalan leluasa, tidak terdapat gangguan gerak lain. Bila keadaan Shen (semangat) pasien baik, maka akanmendapatkan pasien dalam keadaan sadar, semangat masih ada, air muka bercahaya, mata bersinar dan berbicara jelas (Saputra dan Idayanti, 2005).

Apabila Shen (semangat) baik dijumpai pada orang sakit, berarti Zheng Qi (daya tahan tubuh) masih dalam keadan tidak terlalu lemah. Tubuh yang tegap merupakan manifestasi dari organ dalam yang kuat, Qi dan Xue yang cukup sehingga walaupun terserang penyakit, umunya mempunyai prognosis yang baik (Sim, 1997). Pada data pasien Nn.A terdapat tubuh tegap, kondisi tidak terlalu lemah namun sedikit kurus.Hal tersebut sesuai dengan teori yang ada.

Dari pengamatan lidah, pasien Nn. A didapatkan lidah terlihat berwarna merah pucat, selaput lidah putih tipis, ukuran normal, permukaan kering ,ada tapak gigi, ada fisura, dan tidak mengelupas. Menurut teori warna lidah yang lebih merahpucat dari lidah yang normal, umumnya merupakan pertanda dari Sindrom dingin (Sim, 1997). Tapak gigi sedikit biasanya disebabkan lidah

(3)

yang gemuk tertekan gigi sehingga meninggalkan bekas, tapak gigi pada lidah umumnya merupakan pertanda limpa lemah (Sim, 1997).

Fisura menandakan ada panas atau kekurangan Yin, fisura lebar-dangkal digaris tengah yang tidak mencapai ujung menandakan kekurangan Yin perut.

Selaput lidah mencerminkan keadaan organ-organ Yang dan khususnya perut.

Selaput lidah putih merupakan mengacu pada dingin, pathogen dingin sudah memasuki bagian Li (dalam), sehingga mengakibatkan patogen dingin berkumpul pada Wei-lambung (Sim, 1997). Selaput lidah tipis juga menandakan konsumsi cairan tubuh kurang terjadi gangguan pada proses transformasi dan transportasinya (Maciocia, 2011)

1. Wen (Pendengaran dan penciuman)

Dari hasil pemeriksaan pendengaran dan penciuman suara pasien Nn.A terdengar jelas, tidak ada suara nafas, tidak terdapat suara batuk. Pada pemeriksaan penciuman tidak terdapat bau badan, bau keringat, dan tidak tercium bau mulut.Sedangkan bau tinja, bau riak dan bau air seni tidak di evaluasi. Menurut teori pasien Nn.A dengan suara yang pelan dan jelas merupakan pertanda sindrom defisiensi di data pengkajian pasien Nn.A tersebut sesuai dengan tinjauan teori yang ada (Saputra dan Idayanti, 2005).

2. Wun (Anamnesa)

Dari data pengkajian yang dilakukan pada hari Selasa, 22 April 2018 dengan caraautoanamnesa. Dari pengkajian didapatkan data pasien Nn. A datang dengan keluhan perut) terasa nyeri menjalar sampai bagian ulu hati,

(4)

perut terasa nyeri akan lebih sering apabila pasien terlambat makan, mengkonsumsi makanan yang berbumbu tajam seperti pedas dan manis.

Pasien Nn. A mengatakan perut terasa nyeri kurang lebih sejak 3 bulan yang lalu nyeri memberat sejak 2 minggu yang dan nyeri semakin menekan pasien Nn.A sejak 2 hari yang lalu. Nyeri bersifat kambuhan ketika terlambat makan dan makan-makanan yang berbumbu tajam pedas dan manis , Pasien Nn. A juga mengeluhkan mual, pusing. Pasien Nn.A mengonsumsi obat-obatan untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien Nn.A.Sifat nyerinya dapat berupa nyeri kembung dan menekan/menusuk. Nyerinya dapat menjalar ke perut daerah samping ulu hati (hypochondrium) (di bawah iga) dan pinggang. Rasa nyeri dapat disertai adanya rasa penuh dapat menyebabkan pasien mengeluhkan ketidaknyamanan perut, menganggu kegiatan, penurunan kualitas hidup dan mungkin berhubungan dengan berbagai gangguan pencernaan. (Sim, 2008)

Dalam teori menjelaskan bahwa ulu hati dapat disebabkan oleh serangan patogen luar, makan tidak teratur, dan Pi/limpa dan Wei/lambung lemah, prinsip terapi diarahkan untuk melancarkan Qi, menghilangkan sumbatan, memodulasi lambung untuk menghilangkan rasa nyeri dan menghangatkan organ limpa lambung (Sim, 1997). Pada anamnesa pasien Nn.A mengatakan ektremitas dingin. Jika fungsi yang Qi berkurang, maka akan timbul gejala tidak tahan dingin, anggota badan dingin, ekstremitas dingin dan lain-lain.

Pasien merasa nyaman apabila sedikit ditekan dan dihangati pada bagian

(5)

perut (Maciocia, 2011). Dijelaskan bahwa adanya rasa nyaman apabila ditekan menunjukan adanya sindrom defisiensi. Data pengkajian pasien Nn.A tersebut sesuai dengan tinjauan teori yang ada (Saputra & Idayanti, 2005)

Hasil anamnesa status diet pasien Nn.A didapatkan data bahwa nafsu makan pasien Nn.A buruk dengan frekuensi makan 1-2 kali sehari dengan porsi yaitu 7-8 sendok makan nasi setiap makan dan jenis makanan yang dikonsumsi nasi, sayur berkuah sedikit, dan lauk. Kecenderungan rasa makanan pasien pedas manis. Makan makanan yang pedas secara terus menerus dapat menyebabkan iritasi pada lambung. Selain itu makanan asam, karena makanan asam merangsang sekresi asam lambung dan dapat merangsang peningkatan modalitas atau peristaltik organ pencernaan sehingga memicu timbulnya rasa nyeri pada pencernaan (Maciocia, 2011).

Salah satu manifestasi dari gastritis yaitu berkurangnya nafsu makan. Data pengkajian pasien Nn.A tersebut sesuai dengan tinjauan teori yang ada (Sim, 2008). Di ikuti dari data pasien Nn.A mengonsumsi minuman perhari 1500 L (batas minimal) dengan suhu panas dalam kategori pasien Nn.A hanya sebagai mahasiswa.

Dalam status BAK dan BAB pasien Nn.A dalam kondisi normal yaitu mengejan normal. Menurut (Sim, 2008) apabila buang air besar dapat dilakukan setiap hari, Hasil pemeriksaan status organ didapatkan data sistem limpa dan lambung terdapat keluhan sering sendawa, mual, cegukan, nyeri ulu hati, nafsu makan buruk, perut terasa panas, dan mudah lelah. Nyeri ulu

(6)

hati ditandai dengan nyeri pada bagian tengah atas perut, nyerinya dapat timbul secara mendadak juga dapat secara perlahan-lahan sedangkan nafsu makan buruk disertai dengan makan sedikit namun sudah terasa kenyang dan berat badan semakin menurun karena gejala dan tanda itu merupakan pertanda kekurangan Qi pada Pi-limpa dan Wei-lambung (Sim Kie Jie, 1997) Hubungan limpa dan lambung, meridian limpa dan lambung berhubungan dengan organ dalam membentuk hubungan luar dalam, secara fungsional, lambung menerima makanan. Limpa mentransformasikan, mendistribusikan, mentransportasikan nutrisi. Limpa dan lambung berkoordinasi dalam mencerna, mengabsorbsi makanan, mentransformasikan dan mentransportasikan sari makanan. Qi lambung secara normal menurunkan Qi kebawah, sedangkan limpa menaikan nutrisi makanan keatas (Saputra dan Idayanti, 2005). Secara pathologis, apabila makan dan minum tidak teratur atau berlebihan akan mempengaruhi naiknya Qi sari jernih serta fungsi transformasi dan transportasi limpa, hingga menimbulkan gejala kembung, sendawa, mual dan lain-lain (Sim, 1997 ; Maciocia, 2011).

Status organ jantung dan usus kecil pada pasien Nn.A terdapat tidur terganggu mimpi dan telapak tangan dan kaki dingin, hubungan antara limpa dan jantung secara fisiologi jantung mengontrol sirkulasi darah dan limpa memiliki fungsi memproduksi darah. Ketika Qi limpa cukup, produksi darah akan cukup, jika nutrisi darah cukup, darah jantung akan bertambah subur.

Dalam sirkulasi normal, aliran darah melalui pembuluh darah tergantung

(7)

pada bimbingan Qi jantung dan fungsi Qi limpa untuk menjaga darah tetap pada alirannya. Hubungan limpa dan jantung diartikan dalam produksi dan sirkulasi darah (Saputra dan Idayanti, 2005; Maciocia, 2011).

Dalam pathologis, jantung dan limpa sering saling mempengaruhi, bila Qi limpa lemah, tugas transformasi dan transportasi gagal tidak dapat menmjalankan fungsinya dengan baik. Sumber produksi darah berkurang, hal ini karena limpa gagal dalam mengendalikan darah, sehingga menyebabkan defisiensi darah jantung, maka timbul gejala tidur terganggu, anggota badan mudah lelah, muka pucat dan lain-lain (Sim, 1997; Maciocia, 2011). Status organ hati dan kandung empedu pada pasien Nn.A gangguan mata, pusing, kaku/nyeri di leher dan bahu.Rasa pahit dimulut. Hubungan limpa dan hati terkait hubungan fisiologi terkait pencernaan, limpa berfungsi sebagai transformasi dan transportasi serta menguasai atau memproduksi darah. Hati berfungsi mengatur lancarnya aliran Qi, menyimpan dan mengatur darah.

Fungsi hati dalam melancarkan Qi normal, apabila fungsi naik turunya limpa lambung harmonis, sehingga dapat mempertahankan pencernaan, penyerapan dan transportasi makanan, maka sumber produksi darah hati juga subur (Sim Kie Jie, (1997); Saputra dan Idayanti, 2005). Secara pathologis, apabila Qi limpa lemah, maka fungsi transformasi tidak berjalan baik, maka sumber produksi darah kurang, atau limpa gagal menguasai darah, dan menyebabkan defisiensi darah, sehingga timbul gejala pusing, sering pegal-pegal dan lain- lain. (Saputra dan Idayanti 2005; Maciocia, 2011).Data pengkajian pasien

(8)

Nn.A tersebut sesuai dengan tinjauan teori yang ada. Ginjal dan kadung kemih mengalami mudah takut, nyeri pinggang, cemas bahwa adanya cairan jing ye kurang. Organ ginjal tidak maksimal dalam menguasai cairan tubuh 3. Cie (Palpasi atau perabaan)

Palpasi lokalis area abdomen pada pasien Nn. A tidak ada massa, tidak ada kelainan anatomis. Terasa nyaman apabila sedikit ditekan. Dalam (Saputra dan Idayanti, 2005), dijelaskan bahwa adanya rasa nyaman apabila ditekan menunjukan adanya sindrom defisien.

Pada pemeriksaan Nadi pasien Nn.A didapatkan teraba kurus dan benang, kedalaman nadi dalam, kecepatan normal, ukuran normal, kekuatan lemah.Palpasi menurut tiga region terdapat nadi abnormal pada Guan Tangan kanan lemah, pada region organ limpa dan lambung.

Kelemahan pada organ limpa dan lambung salah satunya dapat ditunjukkan oleh nafsu makan yang buruk.

Nadi dalam adalah nadi yang menunjukan adanya defisiensi Qi.

Kegagalan Ying darah untuk menutrisi pembuluh darah. Qi terlalu lemah untuk menggerakan darah, sehingga gelombang nadi kecil (Liu Gongwang, 1996). Data pengkajian pasien Nn.A tersebut sesuai dengan tinjauan teori yang ada.

2. Diagnosa Akupunktur

Menurut pengkajian pasien Nn.A meletakkan organ lambung sebagai organ yang bersangkutan karena nafsu makan pasien Nn. A yang kurang baik,

(9)

nafsu makan yang kurang baik akan menyebabkan fungsi limpa dan lambung abnormal. Gangguan pada lambung juga akan berakibat pada limpa dan sebaliknya (Sim Kie Jie, 1997). Fungsi lambung sebagai organ yang menerima makanan-minuman, mengolah dan membentuk menjadi Jing, bekerja sama dengan limpa (Maciocia, 2011). Fungsi limpa dan lambung adalah menampung, mencerna, transportasi dan transformasi makanan dan minuman dengan jingnya. Apabila terlalu banyak atau terlalu kurang makan dan minum, atau terlalu lelah hal tersebut dapat menyebabkan yang didalam limpa dan lambung lemah sehingga menyebabkan nyeri. Karena lambung tidak mendapat pasokan Jin Ye yang diperlukan (Peng & Xie, 2007)

Dari tinjauan secara 5 unsur akar dari penyebabnya adalah pada unsur tanah yaitu ekses hati dan kandung empedu yang ditandai dengan nyeri epigastrik sampai ulu hati, pusing, rasa pahit di mulut dan kaku leher dan bahu sehingga menyebabkan organ hati dan kandung empedu menjadi Ekses.

Unsur kayu akan menindas tanah sehingga organ lambung dan limpa defisiensi yang ditandai dengan mual, kembung, sering sendawa, terdapat tapak gigi dan fisura pendek pada lidah.

Unsur tanah sebagai ibu mengalami defisiensi sehingga tidak mampu menghidupi unsure logam sebagai anak.Pada unsur logam ini usus besar mengalami defisiensi (Saputra & Idayanti, 2005).

(10)

3. Perencanaan Terapi Akupunktur

Prinsip terapi pada Nn.A adalah menguatka ginjal dan menghangatkan organ limpa lambung, menyelaraskan pergerakan Qi dan mengurangi keluhan.

Menurut (Saputra dan Idayanti, 2005)

a. Titik akupunktur utama yang digunakan yaitu Zusanli (ST 36) untuk mual dan muntah, menguatkan limpa lambung, Zhongwan (CV 12) dan Liangqiu (ST 34) untuk membantu mengurangi nyeri lambung dan menghangatkan lambung, titik Neiguan (PC 6) untuk meredakan nyeri dan mengeluarkan dingin, titik Pishu (BL 20) dan titik Weishu (BL 21) untuk menguatkan organ limpa dan lambung. Titik Liangmen (ST 21) untuk melancarkan qi lambung.

b. Titik akupunktur deferensial yang digunakan adalah titik Hegu (LI 4) dan titik Gongsun (SP 4) untuk mengusir pathogen dingin dan merangsang qi lambung. Titik Qihai (CV 6) untuk titik dominan Qi. Taixi (KI 3), fuliu (KI 7) untuk meningkatkan yin. Terapi akupunktur dilakukan sebanyak 6 kali dengan frekuensi terapi 1-2 kali dalam seminggu selama kurang lebih 1 bulan diharapkan dapat mengurangi keluhan pasien Nn. A. Untuk menguatkan limpa dan lambung ditambah Pishu (BL 20), Neiguan (PC 6), dan Zusanli (ST 36) apabila dikombinasikan menghasilkan efek untuk menurunkan arah Qi lambung, sehingga rasa nyeri di perut yang menjalar sampai bagian ulu hati dapat berkurang (Sim, 2008). Penusukan

(11)

dilakukan dua tahap yang bertujuan untuk tonifikasi dengan posisi yang berbeda yaitu terlentang dan tengkurap. Untuk tonifikasi dilakukan 10-20 menit (Liu Gongwang, 1996). Untuk menangani kasus ini terapis melakukan terapi dalam seminggu dengan jumlah terapi 6 kali dengan frekuensi 1-2x dalam seminggu. Selama periode akut atau untuk pasien dengan gejala yang parah, terapi akupunktur diterapkan setidaknya sekali sehari dan setidaknya dua kali seminggu untuk pasien kronis (Guan, 2006)

4. Implementasi Terapi Akupunktur

Setelah pasien Nn.A bersedia dilakukan terapi dengan menandatangi lembar persetujuan tindakan, terapi akupunktur dilaksanakan sesuai jadwal yang telah disepakati. Pelaksanaan terapi akupunktur dilakukan dengan berbagai tahap seperti menyiapkan peralatan dan bahan untuk kebutuhan terapi diantaranya adalah jarum akupunktur 1 cun& 1,5 cun, kapas alkohol, kom, bengkok dan elektrostimulaor. Gunakan jarum 1 cun & 1,5 cunkarena menyesuaikan kebutuhan sesuai kedalaman titik akupunktur. Saat pasien Nn.A datang akupunktur terapis mempersilahkan pasien Nn.A untuk duduk dimeja periksa untuk melakukan pemeriksaan vital sign dan menanyakan seputar keluhan pasien Nn.A terlebih dahulu.Akupunktur terapis mempersilahkan pasien Nn. A tidur dibed yang telah disediakan dan memposisikan pasien dalam keadaan terlentang dan nyaman saat dilakukan

(12)

terapi akupunktur. Menurut Saputra dan Idayanti (2005) posisi pasien harus nyaman, baik bagi pasien maupun terapis, bagi pasien agar bisa tahan selama waktu penusukan yang direncanakan tanpa perlu mengubah posisi.

Terapi akupunktur pada pasien Nn. A dilakukan penusukan pada titik Zhongwan (CV 12) dan Liangqiu (ST 34) untuk mengurangi keluhan nyeri perut, Neiguan (PC 6) untuk mengeluarkan dingin. Titik Pishu (BL 20) dan Weishu (BL 21) untuk kesesuaian sindrom yaitu menguatkan dan menghangatkan limpa dan lambung. Taixi (KI 3), fuliu (KI 7) untuk meningkatn yin. Untuk keluhan tambahan pasien Nn. A mual dan muntah di berikan titik Zusanli (ST 36 ). Elektro akupunktur dengan elektrostimulator dilakukan selama 10 menit dengan posisi terlentang dan 10 menit dengan posisi tengkurap dengan menggunakan gelombang continous wave dan intensitas disesuaikan dengan kenyamanan pasien Nn. A. Terapi akupunktur kurang dari 10 menit merupakan metode tonifikasi dalam kasus Gastritis tujuannya untuk menguatkan organ limpa dan lambung serta melancarkan aliran qi pada organ yang lemah. Gelombang padat atau continous wave bereaksi dengan menekan rasa nyeri, meredekan kejang otot, menurunkan mekanisme simpatis dan memperbaiki sirkulasi darah (Saputra dan Idayanti, 2005);(Suhariningsih, 2004).

5. Saran dan ajuran

Saran dan anjuran yang dapat diberikan kepada pasien Nn.A dengan kasus gastritis akut di antaranya yaitu menjaga pola makan secara teratur dan

(13)

mengubah kebiasaan hidup yang kurang tepat. Lambung yang penuh akibat makanan yang berlebihan akan memberikan tekanan ekstra pada katup Lower Esophageal Spinchter (LES) yang akan mengakibatkan terjadinya aliran balik asam lambung ke kerongkongan (Jusup, 2010). Makanan pedas dapat merusak yin ginjal dan menyebabkan ketidaknyamanan pada lambung sehingga Nn. A disarankan untuk menghindari makanan yang pedas. Minum air putih yang banyak. Minum air putih yang banyak dapat membantu menetralkan asam lambung, pasien Nn. A disarankan untuk Makan-makanan yang mudah dicerna dan hindari makanan yang berlemak, manis serta mentah, dingin dan keras, menjauhkan dari alkohol dan makanan pedas (Jusup, 2010) Makan-makanan yang mentah dan dingin secara berlebihan dapat menyebabkan retensi dingin di jiao tengah, lebih menyukai makanan pedas dapat menyebabkan akumulasi panas di lambung, sangat gemar mengkonsumsi makanan yang berminyak dapat menyebabkan retensi makanan dan pencernaan menjadi terganggu (Peng dan Xie, 2007)

F. Evaluasi Penatalaksanaan Terapi Akupunktur

Pada setiap kunjungan terapi, pasien Nn. A akan dievaluasi untuk mengetahui, perkembangan kondisi pasien Nn. A secara menyeluruh terutama untuk keluhan utama.Secara umum, perkembangan pasien Nn.A cukup membaik.Pada awal mula pasien datang dengan keluhan utama yaitu perut terasa nyeri menjalar sampai bagian ulu hati, dengan keluhan tambahan mudah lelah, pusing apabila terlambat makan, nyeri pada bagian perut bawah

(14)

sebelah kiri, lidah pasien terlihat berwarna merah, selaput lidah putih tipis, permukaan lidah kering, ukuran normal , ada tapak gigi, ada fisura sedikit dan tidak mengelupas. Pada keadaan nadi teraba kurus dan benang, kedalaman nadi dalam, kecepatan normal, ukuran normal, kuat normal. Dilakukan penusukan pada titik Zhongwan(CV 12), Zusanli (ST 36), Neiguan (PC 6), Pishu (BL 20), Weishu (BL 21), Qihai (CV 6). Perkembangan keadaan pasien Nn.A tersebut belum ada perubahan yang signifikan pada keluhan utama dan keluhan tambahan.

Faktor penghambat pada terapi ke 3 adalah pasien tidak mengikuti saran dan anjuran dengan baik, makan tidak teratur, konsumsi air putih masih jarang dan sedikit sehingga permukaan lidah kering. Makan makanan berminyak dan pedas.Faktor pendukungnya yaitu alat terapi berupa elektrostimulator yang digunakansangat menunjang dengan titik akupunktur Zhongwan (CV 12), Liangmen (ST 21), Zusanli (ST 36) untuk mengurangi rasa nyeri pada keluhan utama pasien.

Perubahan yang signifikan dan nyaman pada perut sudah dapat dirasakan pasien mulai sejak dari kunjungan ke 4 sampai terapi akhir, keluhan tambahan yang dirasakan oleh pasien juga berangsur membaik namun pada kunjungan ke 5 pasien merasakan demam dan flu, pasien mengatakan terlalu banyak terpapar angin malam.

Pada kunjungan kelima ditambahkan penusukan pada titik Dazhui (DU 14) digunakan untuk mengatasi demam oleh karena terpapar angin,

(15)

Baihui (GV 20) untuk titik penenang, Yintang (EX-HN 3) dan Tou Wei (ST 8) untuk mengatasi pusing. Keadaan lidah menunjukkan perkembangan baik, lidah terlihat berwarna merah muda, selaput lidah menjadi putih tebal, permukaan lidah sudah dalam keadaan lembab atau basah, fisura yang terdapat pada lidah Nn. A berangsur menipis dan berkurang, namun pada nadi masih tetap sama seperti keadaan awal pasien datang. Faktor penghambat pada terapi ke 4 sampai akhir yaitu kurangnya waktu terapi yang dilakukan sehingga kurang efisien dan maksimal untuk menunjang perkembangan pasien. Faktor pendukungnya yaitu pasien sudah dapat menerapkan saran dan anjuran dengan baik, pasien juga mengatakan nafsu makan mulai membaik dan teratur, konsumsi air putih cukup baik sehingga keaadaan permukaan lidah lembab dan basah, pasien sudah dapat mengontrol emosi dengan benar dan baik.Penambahan modalitas terapi TDP (Thermal Deep Penetrations) sangat membantu dan mendukung untuk menghilangkan sindrom angin dan dingin pada keluhan tambahan Nn. A.

Berdasarkan evaluasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa terapi akupunktur dapat memulihkan beberapa gejala Gastritis seperti meningkatkan relaksasi Lower Esophageal Spichnter (LES), memperbaiki motilitas Gastro Intestinal (GI), menghambat sekresi asam lambung, tidak mudah lelah dan kondisi tubuh lebih segar. Terapi dimulai pada minggu 22 April 2018 sampai Sabtu, 5 Mei 2018, perubahan kondisi pasien Nn.A sudah terlihat pada terapi ke-4 pada kamis, 2 maret 2017 dan terapi berakhir pada terapi ke-7.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji aplikasi mikoriza spesifik gambut Kalimanan Barat pada tanaman jagung membuktikan bahwa mikoriza yang diberikan dalam bentuk propagul alami dari tanah rizosfer nenas

Keberadaan Bappeda Provinsi Kalimantan Barat tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan

Nilai bearing stresses akibat gaya aksial yang terbentuk pada ujung ductile rods (Headrod) lebih kecil dari pada bearing stresses yang dizinkan oleh ACI yaitu

Analisis: kalimat di atas belum memenuhi persyaratan kalimat efektif, unsur yang belum terpenuhi adalah kehematan, kata nasabah yang mengajukan kredit sama... dengan

Sedangkan hasil perhitungan HHWL dan LLWL untuk data peramalan yang bersumber dari DISHIDROS TNI-AL selama 29 hari diperoleh HHWL sebesar 2,3 dan LLWL sebesar -0,05 m di

Melakukan perbaikan- perbaikan Lampu penerangan yang menjadi kewenangan Dishub Kab. Nganjuk Pemasangan LPJU di Wilayah Kab. Nganjuk baik di perkotaan maupun pedesaan

Menyera/an re/a da=tar adir ega6ai /eada /asubbag /eega6aian dan se/retaris untu/ diara= sebelum dia;u/an /e Dire/tur untu/ ditandatangani!. Menerima /embali

Distributor Supplier Grosir Importir Agen Peluang bisnis grosir Importir Distrib Distributor Supplier Grosir Importir Agen Peluang bisnis grosir Importir Distrib utor Supplier