• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 93/PUU-X/2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 93/PUU-X/2012"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 93/PUU-X/2012

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARIAH TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

MENDENGARKAN KETERANGAN SAKSI/AHLI DARI PEMOHON SERTA PEMERINTAH

(V)

J A K A R T A

SELASA, 29 JANUARI 2013

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 93/PUU-X/2012 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah [Pasal 55 ayat (2) dan ayat (3)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON Dadang Achmad

ACARA

Mendengarkan Keterangan Saksi/Ahli dari Pemohon serta Pemerintah (V)

Selasa, 29 Januari 2013, Pukul 11.12 – 12.24 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Moh. Mahfud MD. (Ketua)

2) Achmad Sodiki (Anggota)

3) Ahmad Fadlil Sumadi (Anggota)

4) Anwar Usman (Anggota)

5) M. Akil Mochtar (Anggota)

6) Muhammad Alim (Anggota)

7) Harjono (Anggota)

8) Hamdan Zoelva (Anggota)

9) Maria Farida Indrati (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir:

A. Pemohon:

1. Dadang Achmad

B. Kuasa Hukum Pemohon:

1. Rudi Hernawan 2. E. Sophan Irawan C. Pendamping Pemohon:

1. Muhammad Fadli D. Saksi dari Pemohon:

1. Muhammad Ikbal E. Ahli dari MK:

1. M. Syafii Antonio F. Pemerintah:

1. Agus Hariadi (Kementerian Hukum dan HAM) 2. Budijono (Kementerian Hukum dan HAM) 3. Pangihutan Siagian (Kemeterian Keuangan)

(4)

1. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Sidang Mahkamah Konstitusi untuk mendengar keterangan Ahli dalam Perkara Nomor 93/PUU-X/2012, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Pemohon perkenalkan diri dahulu.

2. PEMOHON: DADANG ACHMAD

Terima kasih, Yang Mulia. Bismillahirrahmaanirrahiim, assalamualaikum wr. wb. Nama saya Dadang Achmad (Direktur CV.

Benua Engineering Consultant). Alamat: Taman Cimanggu, Kedungjaya, Kecamatan Tanahsereal, Kota Bogor. Demikian, Pak.

Kemudian sebelah kanan kami adalah Penasihat Hukum kami Saudara Rudi Hernawan dan Saudara Irawan, didampingi oleh asisten kami Muhammad Fadli, demikian Yang Mulia. Terima kasih.

3. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Silakan, Pemerintah?

4. PEMERINTAH: AGUS HARIADI

Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr.wb. Salam sejahtera untuk kita semua. Hadir dari Pemerintah saya sendiri Agus Hariadi. Di sebelah kiri saya adalah Saudara Budiono dari Kementerian Hukum dan HAM. Di sebelah kirinya lagi Saudara Pangihutan Siagian dari Kementerian Keuangan dan yang duduk di belakang, teman-teman staf dari Kementerian Keuangan. Terima kasih, Yang Mulia.

5. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik, pagi ini kita akan mendengar Ahli. Satu yang diajukan oleh Pemohon, yaitu Bapak Muhammad Ikbal, kemudian yang … Saksi, Saksi diajukan oleh Pemohon, Saudara Muhammad Ikbal. Kemudian Ahli yang diundang oleh Majelis Hakim, yaitu Dr. Syafii Antonio. Untuk itu ambil sumpah dahulu. Saudara Ikbal, maju ke depan! Pak Muhammad Alim?

SIDANG DIBUKA PUKUL 11.12 WIB

KETUK PALU 3X

(5)

6. HAKIM ANGGOTA: MUHAMMAD ALIM

Ikuti lafal sumpah yang saya ucapkan. Tidak, luruskan tangannya, ya.

“Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya.”

7. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL

Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya.

8. HAKIM ANGGOTA: MUHAMMAD ALIM Ya, terima kasih.

9. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik, duduk Saudara Ikbal. Bapak Dr. Syafii Antonio. Pak Fadlil?

10. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI

Disilakan mengikuti kata sumpahnya dari apa yang saya katakan.

Dimulai.

“Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.”

11. AHLI DARI MAHKAMAH KONSTITUSI: M. SYAFII ANTONIO Bismillahirrahmaanirrahiim, demi Allah saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.

12. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI Cukup, terima kasih.

13. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik, didahului dengan Saudara Muhammad Ikbal untuk memberikan kesaksian sesuai dengan pokok perkara ini. Silakan maju ke mimbar!

(6)

14. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL

Assalamualaikum wr wb. Terima kasih, Yang Terhormat Yang Mulia Para Hakim Konstitusi dan Para Hadirin sekalian yang hadir.

Terima kasih telah memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan kesaksian.

Saya Muhammad Ikbal dengan jabatan sebagai Persero Komanditer pada perusahaan CV. Benua Engineering Consultant. Yang akan saya jelaskan pada hari ini, yaitu kami merupakan nasabah bank Muamalat Cabang Bogor yang pada saat itu menggunakan fasilitas pembiayaan al-musyarakah. Seperti dapat kita ketahui bahwa bank Muamalat merupakan salah satu bank yang menerapkan prinsip-prinsip perbankan syariah. Ketika kami dihadapkan pada persoalan bank Muamalat, di luar dugaan kami mendapatkan surat penetapan dari Pengadilan Negeri Bogor berupa unmanning dan penyitaan eksekusi terhadap aset-aset yang telah dijaminkan kepada bank Muamalat.

Dimana seharusnya prosedur yang sebenarnya tidak pernah ditempuh oleh bank Muamalat sendiri. Seperti penyelesaian melalui arbitrase syariah atau pun penyelesaian perkara perbankan syariah yang seharusnya dilakukan dalam lingkungan peradilan yang secara substantif membidangi hal-hal yang terkait dengan nilai-nilai syariat Islam. Bahkan, musyawarah-musyawarah yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah tidak diterapkan oleh bank Muamalat.

Yang dilakukan oleh Bank Muamalat malahan langsung mengajukan permohonan unnmanning dan eksekusi, dalam hal ini Pengadilan Negeri Bogor, maka hal itulah yang tidak kami pahami.

Dengan adanya permasalahan tersebut, kami melakukan konsultasi dengan penasihat hukum kami, mereka berpendapat bahwa seharusnya yang berwenang dalam hal ini untuk melakukan penyelesaian sengketa adalah melalui pengadilan agama atau arbitrase syariah bukan melalui pengadilan negeri dikarenakan Bank Muamalat adalah bank yang menerapkan prinsip-prinsip perbankan syariah dan bukan merupakan bank konvesional. Kami lebih cenderung untuk menyelesaikan permasalahan ini sesuai dengan Undang-Undang Perbankan Syariah yang berlaku di negara kita.

Berdasarkan hasil penjelasan dari penasihat hukum kami bahwa ada ketidakpastian hukum, yaitu pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, Pasal 55 ayat (1) yang berbunyi, “Penyelesaian sengketa perbankan syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan agama.”

Dan pada Pasal 55 ayat (2) berbunyi, “Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad.”

Sedangkan ayat (3) berbunyi, “Penyelesaian sengketa

(7)

Maka dari itu kami menginginkan permasalahan ini dapat diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan hukum yang berlaku agar mendapatkan kepastian hukum. Mungkin itu saja, Yang Mulia, yang dapat saya sampaikan, terima kasih.

15. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik, terima kasih. Pemohon apakah ada yang perlu didalami atau sudah cukup?

16. PEMOHON: DADANG ACHMAD Sudah cukup, Yang Mulia.

17. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik. Ini ada pertanyaan dari Hakim.

18. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Kepada Saksi ya, ini dikesaksian Anda yang tertulis itu pada butir (1), “Kami merupakan nasabah Bank Muamalat Cabang Bogor yang menggunakan fasilitas pembiayaan.” Yang ingin saya tanyakan adalah pada saat Anda sebagai nasabah lalu ketemu pada Bank Muamalat itu mendiskusikan fasilitas pembiayaan itu harapan Anda apa? Dan yang ditawarkan oleh bank fasilitas pembiayaan macam apa itu?

19. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL

Yang ditawarkan oleh bank, yaitu fasilitas pembiayaan untuk modal kerja.

20. HAKIM ANGGOTA: HARJONO Peruntukannya?

21. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Peruntukannya untuk modal kerja.

22. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Maksud saya adalah kenapa kemudian ini menjadi sebuah ...

kalau kasusnya sesuai dengan Pemohon, hipotek atau penjaminan?

(8)

23. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Tolong diulangi, Yang Mulia.

24. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Kenapa kemudian pinjaman Anda itu lalu menjadi sebuah apa ...

lembaga penjaminan yang digunakan atau hipotek itu? Apa pernah disebut-sebut bahwa ini namanya hipotek begitu, enggak oleh banknya?

Atau Anda tidak tahu kalau bank juga akhirnya mengeluarkan produk perbankan syariah ini yang namanya hipotek, begitu?

25. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Ya, kami tidak tahu.

26. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Tidak tahu?

27. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Ya.

28. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Banknya pun juga tidak mengatakan bahwa ini hipotek, begitu?

29. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Tidak.

30. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Tapi pada saat kemudian ... aset Anda apa yang dijaminkan?

31. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Aset kami berupa tanah ada empat sertifikat.

32. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Ada empat sertifikat. Jadi Anda setelah membuat perjanjian, Anda juga pergi ke notaris?

(9)

33. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Ya.

34. HAKIM ANGGOTA: HARJONO Tata caranya itu (...)

35. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL

Kita disaksikan oleh notaris dari Bank Muamalat sendiri, lalu tanda tangan akad.

36. HAKIM ANGGOTA: HARJONO Akad?

37. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Akad, ya.

38. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Apa persis sesuai dengan produk akadnya yang dipunyai Pemohon?

39. PEMOHON: DADANG ACHMAD

Maaf, Yang Mulia, waktu itu memang kita melakukan akad dengan Bank Muamalat dengan prinsip musyarakah, jadi kami karena sangat konsen kepada sistem yang disampaikan oleh mereka. Dalam perjalannya kita lancar, Pak, cuma sampai sekarang pemberi pekerjaan kepada kami tidak membayar, itu persoalannya, sehingga kami bermasalah. Nah, kami sudah melakukan akad dengan cara yang memang dibakukan oleh Bank Muamalat dan kami tidak menduga bahwa pada akhirnya kita mengalami seperti ini.

40. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Bisa nanti dilampirkan bunyi perjanjiannya? Bapak kan pasti punya?

41. PEMOHON: DADANG ACHMAD

Baik, Pak. Baik. Nanti saya lampirkan, Pak.

(10)

42. HAKIM ANGGOTA: HARJONO Bunyi perjanjiannya (…) 43. PEMOHON: DADANG ACHMAD

Memang lebih spesifik, ya.

44. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Ya.

45. PEMOHON: DADANG ACHMAD Ya, terima kasih.

46. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Kalau mungkin juga … saksi juga kalau bisa dilampirkan juga model (…)

47. PEMOHON: DADANG ACHMAD Siap, Pak. Siap.

48. HAKIM ANGGOTA: HARJONO Ya, terima kasih.

49. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Ada lagi, Hakim? Silakan, Pak, Hakim Achmad Sodiki.

50. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Benda yang Saudara jaminkan itu sudah diketahui itu dipasangkan hipotek, Saudara tahu apa ndak?

51. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Tidak, Pak.

52. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI Tidak tahu?

(11)

53. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Ya, Pak.

54. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Jadi, tidak … tapi, ketika menjaminkan benda itu Saudara tanda tangan?

55. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Tanda tangan, Pak.

56. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Tanda tangan. Ya, baik. Baik, terima kasih.

57. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Silakan, Hakim Fadlil.

58. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI

Saudara Saksi, apakah Saudara ada hubungan dengan Pemohon ini?

59. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Saya sebagai komanditer pada perusahaan ini.

60. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI He em. Komanditernya, dia.

61. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Pemohon (…)

62. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI

Jadi, apa yang Saudara ceritakan itu sebenarnya adalah kasusnya Pemohon ini?

63. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Betul, Pak, Yang Mulia.

(12)

64. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI He em. Ya, sudah. Ya, terima kasih.

65. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik, berikutnya Dr. Syafii Antonio. Eh, Pemerintah?

66. PEMERINTAH: AGUS HARIADI Mohon izin.

67. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Ya. Oh, mau mendalami. Silakan.

68. PEMERINTAH: AGUS HARIADI

Terima kasih, Yang Mulia. Tadi Saudara Saksi mengatakan bahwa jaminannya itu adalah tanah ya, tanpa sertifikat. Dan Saudara juga menandatangani semua akad. Apakah Saudara waktu menandatangani semua akad itu, Saudara membaca isi akad itu atau tidak?

69. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Membaca.

70. PEMERINTAH: AGUS HARIADI Ya.

71. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Ya.

72. PEMERINTAH: AGUS HARIADI Membaca, gitu ya.

73. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL Ya, membaca isi akad itu.

(13)

74. PEMERINTAH: AGUS HARIADI

Ya. Di situ ada enggak jika terjadi sesuatu … ya, persoalan atau sengketa itu penyelesaiannya menggunakan apa di situ?

75. SAKSI DARI PEMOHON: MUHAMMAD IKBAL

Melalui arbitrase syariah. Menggunakan arbitrase syariah sesuai dengan arbitrase syariah.

76. PEMERINTAH: AGUS HARIADI Cukup, Yang Mulia.

77. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik, berikutnya Dr. Syafii Antonio supaya maju. Ya.

78. AHLI DARI MAHKAMAH KONSTITUSI: MUHAMMAD SYAFII ANTONIO

Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamualaikum wr. wb.

79. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Waalaikumsalam.

80. AHLI DARI MAHKAMAH KONSTITUSI: MUHAMMAD SYAFII ANTONIO

Yang Mulia Bapak Ketua Hakim Konstitusi dan Para Hakim Konstitusi. Dari perwakilan pemerintah, Pemohon, dan Saksi. Izinkan saya dengan segala kekurangan untuk menyampaikan sedikit tentang nature daripada pembiayaan di perbankan syariah, demikian juga dengan dispute settlement yang biasa dipilih oleh perbankan syariah.

Di perbankan syariah itu mengenal ada beberapa jenis pembiayaan. Yang pertama, ada yang disebut dengan pembiayaan yang berdasarkan kepada jual beli. Bank membelikan terlebih dahulu kebutuhan Pemohon, kemudian setelah dibelikan oleh bank, lalu dijual kembali kepada Pemohon dengan margin. Misalnya, Tuan A membutuhkan satu kendaraan. Katakanlah, mobil Kijang, dengan harga Rp200.000.000,00 maka dibeli oleh bank dari dealer Astra, misalnya.

Dengan harga Rp200.000.000,00 kemudian sesuai dengan kapasitas dan kemampuan bayar si nasabah itu dijual kembali kepada nasabah.

Katakanlah dengan harga Rp300.000.000,00 untuk periode yang disepakati, misalnya 60 bulan. Maka, selama 60 bulan itu si nasabah

(14)

Ini yang pertama disebut dengan pembiayaan murabahah. Ada juga pembiayaan-pembiayaan yang hampir mirip yang disebut dengan Bai Al- Istishna, yaitu order untuk membuatkan, kemudian dijual kembali.

Jenis pembiayaan yang kedua adalah bagi hasil. Bagi hasil ini ada beberapa jenis, tetapi yang paling umum disebut dengan Al- Mudharabah dan Al-Musyarakah. Yang dimaksud dengan Al-Mudharabah adalah seluruh dana, seluruh pembiayaan dari bank. Sementara, nasabah menyediakan project. Seluruh dana dari bank dan nasabah memberikan project, nasabah menjalankan project tersebut, kemudian bank melihat potensi profitnya. Atas dasar kesepakatan, disepakatilah berapa porsi untuk bank dan berapa porsi untuk nasabah.

Jenis yang kedua adalah Al-Musyarakah. Al-Musyarakah atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan syirkah, yaitu dananya sebagian dari bank dan sebagian dari nasabah. Jadi, jikalau mudharabah itu 100% dari bank. Sementara dalam musyarakah, sebagian dana atau aset dikontribusikan oleh nasabah. Adapun dari hasil pembagian keuntungannya itu biasanya disepakati sesuai dengan kesepakatan karena dari satu project ke project yang lain biasanya berbeda. Sesuai dengan tingkat marketability, tingkat kompetensi, dan tingkat industri yang ada, dan tiap-tiap nasabah memiliki kompetensi yang berbeda. Itu yang disebut dengan pembiayaan musyarakah, sebagian dari bank, sebagian dari nasabah dan profit disepakati bersama.

Yang ketiga, ada yang disebut dengan pembiayaan yang berdasarkan sewa atau yang disebut dengan ijarah. Ini biasanya bank membeli dahulu keperluan sesuai dengan keperluan nasabah menjadi milik bank, kemudian bank menyewakan kepada nasabahnya. Dalam perkembangannya ada beberapa bentuk dari sewa menyewa ini yang biasanya ada bentuk yang disebut dengan ijarah muntahiya bittamlik atau sewa menyewa yang diakhiri dengan purchase option di akhir masa penyewaan.

Dan ada beberapa bentuk yang lain, tapi saya ingin menambahkan khusus untuk pembiayaan bagi hasil, memang nomenklaturnya ada sedikit berbeda dengan jual beli. Dimana kalau dalam jual beli unsur yang berutang dan yang berpiutang itu sangat jelas, tetapi dalam bagi hasil ada unsur kemitraan. Mungkin ini yang tadi yang menjadi daya tarik dari Pemohon mengapa datang ke bank syariah. Bagaimana dengan jaminan dalam pembiayaan bagi hasil ini?

Bank Indonesia memperkenankan bank mengambil jaminan untuk bagi hasil dengan catatan hanya boleh dieksekusi jikalau nasabah ingkar janji atau terjadi wanprestasi. Dengan catatan, nasabah terjadi wanprestasi. Apa yang dimaksud dengan wanprestasi? Biasanya antara bank dengan nasabah mencantumkan satu, dua, tiga condition-nya.

Mencantumkan satu, dua, tiga condition-nya dan biasanya jakalau kondisi satu, dua, tiga ini sudah terpenuhi, bank baru melakukan pemanggilan, baru melakukan proses ke pengadilan atau proses ke

(15)

diselesaikan dengan baik di antara mereka. Itu bagian yang pertama dari penjelasan saya.

Bagian yang kedua, tentang dispute settlement option. Sebelum Tahun 2006, dispute settlement option yang terjadi antara perbankan syariah dengan nasabah memang hampir seluruhnya hanya satu, yaitu Badan Arbitrase Syariah Nasional, disebut dengan Basyarnas. Biasanya dalam perjanjian antara bank dengan nasabahnya dicantumkanlah arbitration clause. Bank sebagai pihak pertama, nasabah sebagai pihak kedua, keduanya sepakat untuk menunjuk Badan Arbitrase Syariah Nasional sebagai pemutus konflik atau dispute di antara kedua belah pihak. Biasanya apapun putusan dari Basyarnas ini bersifat final and binding, bersifat mengikat dan tidak bisa ada upaya hukum lanjutan.

Setelah 2006, kemudian ada Undang-Undang Perbankan Syariah memberikan opsi kepada keuangan dan perbankan syariah untuk memilih apakah akan ke Basyarnas saja atau akan ke pengadilan agama? Di sana diberikan adanya dua opsi. Saya melihat dalam kasus ini memang ada satu masalah utama dan yang kedua ada masalah turunannya. Masalah utamanya mungkin seperti yang tadi disampaikan oleh Bapak Pemohon, beliau selaku kontraktor Benua Engineering Construction ada permasalah dari Bohir yang memberikan pekerjaan kepada nasabah, kemudian terjadi pembayaran yang tidak sesuai dari harapan, sehingga mungkin hal ini dilihat oleh bank sebagai suatu nasabah yang tidak memenuhi cicilannya.

Saya tidak mengetahui bagaimana bentuknya, mungkin Yang Mulia Bapak Ketua Hakim Konstitusi bisa mendalami hal ini, itu bagian yang terjadi antara Bank Muamalat dengan nasabah. Bagaimana yang dimaksud dengan wanprestasi? Apakah sudah terpenuhi atau belum?

Catatan saya yang mendasar, sesungguhnya memang itu mungkin ada suatu penafsiran dari pihak lembaga keuangan terhadap Pasal 55 di Undang-Undang Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun 2008 di Pasal 50, 51 disebutkan … izinkan saya Bapak Ketua Hakim Konstitusi Yang Mulia untuk membacakan sedikit. Pasal 55,

(1) Penyelesaian sengketa perbankan syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan agama.

(2) Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad.

Nah, dalam penjelasan di Pasal 55 ini terdapat sebagai berikut.

Ayat (1) cukup jelas. Ayat (2) yang dimaksud dengan penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad adalah upaya sebagai berikut.

a. Musyawarah.

b. Mediasi perbankan.

c. Melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas).

d. Atau lembaga arbitrase lain dan/atau melalui pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.

(16)

Boleh jadi lembaga keuangan dimaksud itu mengambil opsi yang (d) ini, sehingga si nasabah di awal menganggap ini ada Basyarnas, sementara lembaga keuangan yang bersangkutan mengambil opsi (d) ini. Jadi, di sinilah mungkin yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi ini.

Apakah ini tidak menjadikan satu conflict of dispute settlement karena mungkin ada 2 atau bahkan 3 pemutus konflik di sini, satu Basyarnas, yang kedua peradilan agama, yang ketiga peradilan umum.

Dalam pengamatan saya, ini bukan kasus yang pertama, tetapi ini sudah belasan kali, jikalau tidak puluhan kali terjadi, tapi saya tidak tahu apakah dibawa ke sini atau tidak. Misalnya, ada di Bank Muamalat lagi di Bandung, dimana waktu itu yang dimenangkan oleh Basyarnas adalah nasabah. Sementara bank mendatangi … mohon maaf … yang dimenangkan oleh Basyarnas adalah bank. Sementara nasabah mendatangi pengadilan umum negeri. Putusan pengadilan umum negeri memenangkan nasabah, terjadilah dispute. Dalam kasus Bank Syariah Mandiri, ada dibawa juga ke Basyarnas yang dimenangkannya adalah nasabah. Kemudian Bank Syariah Mandiri melakukan upaya hukum lain.

Jadi, terjadi juga dispute dalam hal tersebut.

Saran saya dan ini merupakan poin terakhir, untuk menghilangkan dispute di sini mungkin ada 2 langkah. Yang pertama, ketika terjadi perjanjian antara nasabah dengan lembaga keuangan syariah harus dijelaskan betul di situ bahwa apa opsi dispute settlement? Ketika opsi dispute settlement itu misalnya, Badan Arbitrase Syariah Nasional, maka pihak pertama dan pihak kedua sepakat menjadikan Basyarnas sebagai one and the only dispute settlement body. Apa pun putusannya bersifat final and binding dan tidak boleh ada upaya hukum lainnya setelah itu. Dan jikalau ada upaya hukum lainnya setelah itu batal demi hukum, tanda tangan kedua belah pihak. Itu satu.

Yang kedua, seandainya akan dipilih adalah pengadilan agama, maka keduanya juga menyepakatinya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Dan yang terakhir, supaya tidak terjadi dispute di sini, sebagai Ahli, saya melihat memang jikalau masih dibuka peluang untuk pergi ke pengadilan umum, ini akan membuat konflik antara peradilan agama dan peradilan umum, saya dengan segala kerendahan hati menyarankan Yang Mulia Majelis Hakim untuk mencabut poin (d) saja dari peradilan dalam lingkungan peradilan hukum.

Jadi, kita membatasi syariah, ya syariah, yang umum, ya umum.

Jadi, menghilangkan pintu ketiga untuk pergi ke peradilan umum, tetapi hanya Basyarnas saja dan hanya peradilan di lingkungan Departemen Agama saja. Dengan demikian sudah menjadi clear dan tidak terulang masalah ini di kemudian hari. Terima kasih, Yang Mulia.

Assalamualaikum wr. wb.

(17)

81. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik. Terima kasih Bapak Syafii. Saya kira keterangan yang diperlukan dari Ahli yang diundang oleh MK sudah cukup jelas, meski begitu saya persilakan kepada semuanya, Pihak Pemohon, Pemerintah, maupun mungkin dari Hakim kalau ada yang ingin mendalami sebelum sidang ini ditutup. Pak Harjono?

82. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Kepada Ahli ini ya, pertanyaan saya adalah tadi yang terakhir yang dibahas itu kalau di produknya bank syariah itu ya, kalau dipadankan dengan bahasa Indonesia kira-kira „bagi hasil‟. Kalau dibagi hasil itu ada persoalan wanprestasi. Saya jadi … jadi agak terpikir ya, bagaimana sebuah bagi hasil menghasilkan wanprestasi?

83. AHLI DARI MAHKAMAH KONSTITUSI: MUHAMMAD SYAFII ANTONIO

Yang Mulia (…)

84. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Belum, belum, belum. Bagaimana bagi hasil, lalu konsepnya terjadi wanprestasi? Kemudian adalah apa sih sebetulnya yang kemudian membedakan secara kelembagaan hukum ya, apa yang disebut bagi hasil itu? Apakah konstruksi ataukah kelembagaan yang kita sebut sebagai hipotek, jaminan itu? Itu secara … secara apa … secara begitu saja ya, itu bisa dialihkan menjadi bagi hasil? Ini jadi masalah.

Lalu, saya ingin tanya juga karena tadi dicontohkan dua kasus bank yang di Bandung itu, yang kemudian dua penyelesai sengketa memberi keputusan yang beda. Apakah itu kasusnya seperti Pemohon ini? Apakah kasus yang di satu pihak bisa dikatakan bagi hasil, menurut konstruksi hukum Islamnya ya? Apakah itu kemudian nyata-nyata seperti sebuah produk perbankan yang masuk dalam pengertian hipotek? Itu saja, terima kasih.

85. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Berikutnya, Pak Hamdan.

86. HAKIM ANGGOTA: HAMDAN ZOELVA

Ya, dalam dispute settlement itu biasanya ada dua … ada dua isu yang jadi persoalan. Pertama, proses peradilannya. Yang kedua,

(18)

Kalau dalam proses … ini saya ingin tanya dalam kaitan dengan bank … praktik dalam bank syariah dan bank muamalah. Apakah dalam eksekusi putusan, itu selama ini oleh pengadilan agama atau dikembalikan kepada pengadilan umum?

Kemudian yang kedua, apakah … apakah juga dalam … dalam bank syariah ini dikenal juga grosse akta yang biasa dalam pengadilan umum yang tidak melalui proses peradilan. Jadi, putusan yang berkepala demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa langsung bisa dieksekusi. Dalam kebutuhan (suara tidak terdengar jelas) itu oleh pengadilan … pengadilan umum.

Nah, dalam kaitan dengan itu … ini dalam praktik, apakah juga dikenal model seperti itu? Atau dalam eksekusi grosse akta itu harus juga oleh pengadilan agama karena eksekusi itu juga masalah tersendiri dalam proses peradilan?

Nah, yang … yang … yang pilihan hukum yang terjadi selama ini sebenarnya kayak gimana dalam praktik di bank syariah? Terima kasih.

87. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Pak Akil.

88. HAKIM ANGGOTA: M. AKIL MOCHTAR

Saudara Ahli, ya. Berbagai macam bentuk produk dari bank syariah itu tadi, tapi kalau ada dispute-nya kan pasti menyelesaikan menurut ketentuan Pasal 55 itu.

Nah, dari ketentuan Pasal 55 itu tadi yang kemudian ayat (2)-nya diberi penjelasan. Kalau selain ayat (1)-nya itu adalah ke peradilan agama. Ayat (2)-nya selain ke peradilan agama, tunduk kepada isi akad.

Isi akad itu tapi tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah, oke.

Tapi di sisi lain di dalam penjelasannya ada musyawarah, mediasi, dan arbitrasi, lalu plus ke pengadilan umum, kan begitu?

Persoalannya, akad ini kita sebagai suatu tempat berkontra antara bank dan nasabah, berdasarkan ketentuan undang-undang ini, itu kan punya pilihan-pilihan hukum. Seandainya tadi Saudara mengatakan, “Supaya tidak ada konflik PA dan PN, itu penyelesaian di lingkungan peradilan umum itu dihapus saja.” Lalu persoalannya, jika satu perjanjian itu diikuti dengan hak-hak lain, misalnya hak memasang hipotek, lalu kemudian termasuk juga tadi grosse akta demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang itu hanya bisa dieksekusi langsung oleh pengadilan. Persoalannya adalah persoalan eksekusi, kalau terjadi dispute?

Nah, apakah itu bi … apakah itu tersedia forumnya di pengadilan agama? Sebagaimana kita tahu misalnya undang-undang yang berkaitan dengan hipotek, penunjukkan, dan lain sebagainya, apa namanya …

(19)

Nah, itu apakah tersedia forumnya untuk bisa diselesaikan?

Misalnya, apa namanya … forum … di dalam perjanjian itu tadi hal-hal itu yang diambil, dihilangkan pengadilan negeri, lalu eksekusi grosse akta ke pengadilan agama, misalnya, bisa enggak secara hukum maupun dalam praktik perbankan syariah? Atau grosse ak … eh, bukan grosse, atau hipotek dieksekusi? Bisakah ke pengadilan agama? Itu dalam praktik hukum.

Nah, atau pertanyaan beri … eh apa namanya, dibalik gitu lho … dibalik. Kalau misalnya forum itu tidak tersedia, apakah ada yang menyatakan bahwa putusan Basyarnas itu final and binding? Undang- undang? Apakah ada? Karena kalau misalnya sudah ada Putusan Basyarna kan masih bisa disengketakan lagi itu, contoh tadi kan?

Akhirnya menggugat ke pengadilan negeri, ada yang menggugat ke pengadilan agama, dan lain sebagainya.

Artinya itu pilihan hukum yang sudah lepas dari akad yang semula itu, padahal akadnya menentukan, pilihannya Basyarnas, tapi tidak final. Bagaimana ini? Itu pertanyaan saya, terima kasih, Pak.

89. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Hakim Muhammad Alim.

90. HAKIM ANGGOTA: MUHAMMAD ALIM

Terima kasih, Pak Ketua. Saudara Ahli, tadi di dalam penjelasan ayat (2) dari Pasal 55 itu kan dikatakan “Penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad.” Nah, di situ ada penyelesaiannya musyawarah. Kalau musyawarah tidak tercapai barangkali dia ke pengadilan agama, kemudian mediasi perbankan. Apakah mediasi perbankan ini sudah dijamin bahwa itu mengandung aspek-aspek syariah? Misalnya.

Lalu kalau tidak terjadi ... mediasi itu tidak berhasil apakah dia ke pengadilan agama atau ke mana kemudian? Itu kan tidak jelas di dalam penjelasan itu? Melalui badan arbitrase syariah itu huruf (c)-nya, nasional atau Basyarnas, atau lembaga arbitrase lain. Lho, kalau ke Basyarnas oke lah, tapi lembaga arbitrase lain, siapa tahu kalau itu tidak bersesuai dengan jiwa syariah, ini menurut Saudara.

Kemudian, (d), “Melalui peradilan dalam lingkungan peradilan umum.” Kalau sesuatu diberikan kepada peradilan agama dan suatu diberikan kepada peradilan umum, lalu gimana? Kok, ada dua? Ini persoalannya sekedar mengingatkan, Anda mungkin lebih tahu. Itu awalnya, itu pengadilan agama putusannya itu harus difiat eksekusi oleh ketua pengadilan negeri. bahasanya itu fiat eksekusi, barangkali setuju dilaksanakan.

Kemudian di dalam Undang-Undang Perkawinan, Undang- Undang Tahun 1974, awal-awalnya itu, itu harus dikukuhkan oleh ketua

(20)

agama, itu dikukuhkan. Jadi, itu dulu barangkali, tapi sekarang? Wah, banyak yang doktor, banyak yang profesor itu orang-orang pengadilan agama, dan sudah apa ... sudah mulai juga sangat sadar bahwa yang diangkat itu adalah tamatan IAIN lah, begitu paling tidak.

Kalau dulu kan mohon maaf, Pak, para Kadi kita itu ya secara formil pendidikannya rendah, mohon maaf, kemudian mereka tidak dibuatkan gedung untuk anu, cuma balai sidang yang dia pakai bersidang. Sekarang bagus, Pak, gedungnya sama dengan peradilan umum. Kemudian apa namanya ... kemudian tidak ada hukum acaranya, mengikuti saja hukum acara dari peradilan umum. Sekarang kan sudah ada sendiri. Nah, itu keadaan sekarang.

Persoalannya mampu, enggak orang pengadilan negeri menjadi

… melaksanakan suatu perjanjian syariah ini? Karena ini memperlukan ilmu yang dalam, Pak. Tidak sembarang orang bisa tahu itu masalah syariah, tidak bisa dipelajari satu hari, dua hari itu, jangan dikira gampang. Nah, kenapa menurut Anda, apakah tidak seperti yang Anda katakan, sebaiknya ... semua masuk di lingkungan peradilan umum saja, misalnya begitu? Apa peradilan agama? Ini untuk menjaga adanya kemungkinan konflik atas penyelesaian.

Kemudian ada satu yang saya tanyakan lagi yang Ahli terangkan mengenai wanprestasi, wanprestasi itu, ini kan berasal dari terminologi KUH Perdata. Itu ada 3 macam. Pertama, tidak melakukan prestasi, sama sekali tidak melakukan itu sudah wanprestasi, melakukan prestasi tidak perlu, misalnya harus membayar Rp1.000.000,00 kok dia cuma bayar Rp500.000,00, itu wanprestasi juga namanya itu dalam pengertian KUH Perdata. Dan kemudian melakukan prestasi tapi terlambat, misalnya harusnya dibayar tanggal 1 kok dia bayar tanggal 5, ibaratnya. Itu dalam pengertian KUH Perdata, itu semua wanprestasi.

Apakah sama dengan wanprestasi yang dimaksud di dalam syariah?

Terima kasih.

91. HAKIM ANGGOTA: M. AKIL MOCHTAR

Tambahan sedikit sebelum lupa, sedikit saja.

92. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Ya, silakan.

93. HAKIM ANGGOTA: M. AKIL MOCHTAR

Saudara Ahli, ya, tadi lupa. Apakah dalam perjanjian syariah itu, menurut hukum Islam itu dikenal juga dalam bentuk ini dengan jaminan, kan gitu, ada beberapa produk tadi, bagi hasil, dan lain sebagainya, tapi dengan jaminan.

(21)

94. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Ya, silakan Pak Anwar Usman.

95. HAKIM ANGGOTA: ANWAR USMAN

Terima kasih, Pak Ketua. Ahli tadi oleh Yang Mulia, Pak Dr.

Muhammad Alim sudah dijelaskan mengenai latar belakang peradilan agama dengan segala kewenangannya. Yang dulu memang pengadilan agama ini, sebutannya saja berbeda-beda. Di Kalimantan, misalnya Kerapatan Kadi. Di Jawa, Madura, Mahkamah Syariah, dan sebagainya.

Ya, di luar jawa, Madura, Mahkamah Syariah kemudian dan di ...

sekarang pun di Aceh, ya, Nangroe Aceh Darussalam itu masih memakai istilah mahkamah syariah.

Lalu melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, di situlah memang bentuk … dengan segala tupoksi (tugas pokok dan fungsi), peradilan agama itu diberi tupoksi yang tegas dan jelas. Lebih-lebih lagi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006. Di situ muncul berbagai kewenangan baru ya. Antara lain dalam Pasal 49 dijelaskan secara rinci ya, termasuk ekonomi syariah yang tentu saja di dalamnya termasuk bank syariah. Itu sekali lagi ada dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006.

Akan tetapi, melalui Pasal 50, kewenangan peradilan agama yang terkait dengan ekonomi syariah itu ada pengecualiannya, yaitu dikaitkan dengan … antara lain saya bacakan ya. Ayat (1), “Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.” yang antara lain tadi saya katakan ekonomi syariah masuk di dalamnya adalah bank syariah,

“khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu.”

Sekali lagi saya ditegaskan harus diputus terlebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.

Nah, dikaitkan dengan keberadaan Pasal 55 undang-undang yang diuji ini, ya lebih khusus lagi kalau saja apa yang disampaikan oleh Ahli tadi dikabulkan oleh MK, lalu bagaimana dengan keberadaan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006. Artinya apa? Toh masih memberi peluang kepada para pihak untuk diselesaikan ke lembaga peradilan umum.

Artinya apa? Mungkin kalau ini diselesaikan masih ada pintu yang satu, yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, lebih khusus lagi Pasal 50. Nah, kenapa bukan sekaligus antara Pasal 50 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 ini dikaitkan dengan apa yang diajukan oleh Pemohon. Terima kasih, Pak Ketua.

96. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

(22)

97. HAKIM ANGGOTA: AHMAD FADLIL SUMADI

Kepada Ahli saya ingin menanyakan beberapa hal. Namun sebelumnya saya izinkan untuk mengutip apa yang Ahli katakan mengenai dua hal. Yang pertama, soal nature dari pembiayaan syariah.

Yang kedua soal dispute, yang dalam soal pembiayaan itu ada kategorisasi, ada kategorisasi. Misalnya ada murabahah, mudharabah, musyarakah, dan seterusnya termasuk ijarah.

Lalu diikuti dengan manakala terjadi sengketa, lalu ada dalam perjalanan sejarahnya itu semula hanya Basyarnas, begitu ya kalau enggak salah. Kemudian setelah ada Undang-Undang mengenai Perbankan Syariah ini Nomor 21 Tahun 2008 diperkenalkan ada … apa namanya … forum judikasi yang baru, yang … apa … ada peradilan umum, lalu ada peradilan agama.

Saya ingin menanyakan supaya kita clear begitu ya. Menurut Ahli, setelah Ahli mengkategorisasi beberapa macam pembiayaan yang dikenal di syariah yang juga diatur di dalam Undang-Undang ini, ini yang dilakukan oleh Pemohon ini masuk kategori apa? Lalu kalau di situ agak sama dengan penanya yang sebelumnya, di situ ada jaminan, itu jaminan itu seperti apa diatur di dalam syariahnya itu?

Jaminan kan ada … apa namanya … (suara tidak terdengar jelas) kalau enggak salah, yang lalu di dalam praktiknya di dalam hukum positif Indonesia, ada mengenal yang bergerak dan tidak bergerak.

Yang tidak bergerak tadi berupa tanah lalu disebut dengan hipotek.

Apakah di dalam jaminan itu juga ada berlaku tentang ketentuan syariahnya? Sehingga kalau di situ ada berlaku ketentuan syariah mengenai jaminan itu, ini akan tentu akan berkonsekuensi pada soal dispute forum … apa namanya … forum untuk menyelesaikan dispute.

Kalau dahulu Basyarnas kemudian di Undang-Undang ini diperkenalkan forum yang … apa namanya … disediakan oleh Negara, yaitu yang ada di dalam kekuasaan kehakiman berupa pengadilan agama. Lalu tapi di ujung lagi diberikan kesempatan kepada para pihak untuk memilih juga peradilan umum.

Pertanyaan saya terkait dengan forum untuk menyelesaikan dispute ini, apakah di dalam agama ada kaitan antara hukum yang berlaku terhadap suatu transaksi atau akad itu dengan pilihan forum?

Apa pilihan forum itu sudah satu-satunya? Karena kalau masih berupa Basyarnas, tentu itu ikhtiari. Itu karena ikhtiari, lalu merupakan kesepakatan dari dua belah pihak. Tapi kalau ini disediakan oleh negara yang merupakan pelaku kekuasaan negara yang disebut dengan kekuasaan kehakiman itu, apakah lalu tepat menurut perspektif syariat masih disediakan pilihan ... pilihan forum? Karena ketika orang melakukan pilihan hukum yang berlaku, yaitu hukum syariat, apakah tepat? Lalu, undang-undang itu mengatur pilihan forumnya?

Lah, ini pertanyaan saya kepada Ahli. Mohon penjelasannya dari

(23)

Semula ada perbankan syariah sendiri, kemudian berikutnya ada perbankan konvensional, lalu setelah ketemu mereka ingin juga ...

tampaknya ini perbankan syariah ini juga ... apa ... menarik banyak untung, apa banyak ... apa namanya ... jasa yang bisa dilakukan sehingga menguntungkan, lalu ini diadopsi. Dan ketika diadopsi ini, lalu apakah pelaksanaan hukum ini menjadi strict atau lalu bisa mixed seperti itu, sehingga forum pun bisa dipilih, gitu? Ini pertanyaan saya.

Terima kasih.

98. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Hakim Achmad Sodiki.

99. HAKIM ANGGOTA: ACHMAD SODIKI

Saya ingin menanyakan kepada Ahli, ya. Sekalipun ada pilihan lain selain pengadilan di lingkungan-lingkungan peradilan agama ya dan ini bisa dilakukan di tempat lain ya, dalam arti syariah dan sebagainya di peradilan umum, tapi kan ada ayat (3) yang menyatakan begini,

”Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud adat tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah.” Lalu dengan adanya ayat (3) itu, lalu perbedaannya apa? Kalau di peradilan agama juga dengan prinsip syariah, tapi di ayat (3) juga mengharuskan sekalipun di tempat lain harus dengan prinsip syariah. Kan tidak ada ... tidak ada masalah sebetulnya. Ini pertanyaan saya.

Jadi, saya kira prinsip syariah itu berlaku juga harus dilakukan oleh Hakim karena di sini ayat (3) mengharuskan adanya prinsip syariah itu. Ini ... ini mungkin pertanyaan yang sesungguhnya tidak membedakan dasar atau prinsip yang dipakai untuk menyelesaikan suatu sengketa yang dimaksud. Terima kasih.

100. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Masih ada tambahan dari Pak Muhammad Alim.

101. HAKIM ANGGOTA: MUHAMMAD ALIM

Terima kasih, Pak Ketua. Saudara Ahli, ini dalam praktik dan undang-undang, bagi seorang yang sebagai ahli waris ... bagi para ahli waris, begitu, itu ada dua pilihan yang boleh ditempuh. Boleh ke pengadilan agama kalau dia beragama Islam dan boleh juga ke peradilan umum.

Nah, ini dalam praktik, ternyata ada saudara ini yang lari ke peradilan agama, yang saudara lain lari ke peradilan umum. Sama-sama menggugat, sama-sama bahwa ini adalah ... adalah budel yang belum terbagi. Barangkali di sini masalah kepentingan karena mungkin kalau

(24)

atau tidak, mungkin kan anak laki-laki, oh bahagianya anak perempuan ini. Lalu, kalau anak laki-laki, tentu dia masuk ke pengadilan agama ibaratnya. Dan anak perempuan karena ... kalau hukum adat kan sama- sama, anak ... dia ... dia ... dia masuk ke pengadilan. Ini ... ini praktik, sehingga membingungkan. Biasa terjadi dua putusan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain.

Nah, di sini dalam kaitannya sebagai orang yang beriman mestinya ... mestinya dia ke mana? Kalau dia betul orang Islam yang baik, apa dia tidak sebaiknya masuk ke pengadilan agama, ibaratnya, supaya dilaksanakan menurut syariat agamanya, gitu. Terima kasih, Pak Ketua.

102. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik, Saudara Ahli. Pertanyaannya banyak, tetapi saya kira bisa disingkat-singkat. Ada beberapa substansi yang hampir sama. Silakan.

103. AHLI DARI MAHKAMAH KONSTITUSI: MUHAMMAD SYAFII ANTONIO

Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan coba menjawab. Jelas saya banyak kekurangan. Baik dalam pemahaman maupun pengalaman.

Dan sebagai catatan saya memang bukan ahli hukum dan saya tidak terbiasa dengan technical di peradilan. Tentang bagi hasil dan bagaimana tentang jaminan?

Nah, memang secara filosofis antara produk jual beli itu berbeda dengan bagi hasil. Kalau jual beli itu biasanya setelah terjadi akad jual beli, tadi saya contohkan ada pembelian mobil maka si nasabah langsung menjadi pihak yang berhutang kepada bank. Walaupun mobil itu dicatatkan atas nama si nasabah. Sesungguhnya hal ini untuk menghindari double taxed, pajak pembelian satu, kemudian pajak penjualan. Nah, supaya tidak double taxed namanya langsung kepada nama nasabah, dia membeli secara cicilan. Yang muncul memang kemudian dia berhutang kepada bank.

Nah, ketika dia wanprestasi, maka sesungguhnya bank mengambil haknya karena dia masih berhutang kepada bank sejumlah sisa kewajiban tersebut. Jikalau dilelang, maka bagian bank diambil dan bagian nasabah itulah merupakan sisanya.

Dalam jual … bagi hasil, sesungguhnya filosofisnya harus berbeda karena di sini ada unsur kemitraan. Nah, mengapa Bank Indonesia demikian juga perbankan di luar negeri mengizinkan kepada bank untuk mengambil jaminan? Karena memang seperti yang kita ketahui, nasabah itu ada yang baik, ada yang mungkin tidak baik. Ada yang fulfill seluruh prestasinya, ada yang tidak penuh, dan juga yang terlambat.

(25)

oleh bank itu bukan bank pemilik bank sendiri, tapi dia menghimpun dana dari Bapak-Bapak, dari kami, dari masyarakat, dari tukang sayur, dari nelayan, petani menjadi tabungan-tabungan. Setelah terkumpul sekian puluh atau sekian ratus miliar diberikanlah kepada nasabah untuk dipakai usaha. Nah, jika terjadi wanprestasi dan tidak sesuatu yang bisa diambil kembali, maka dana masyarakat yang jumlahnya ratusan miliar itu menjadi at risk dan boleh jadi nanti, “Pak, saya sudah menyimpan deposito saya di tempat Anda.” Kemudian kata Bank, “Karena ini syariah saya tidak mengambil jaminan.” Maka boleh jadi bank syariah akan menjadi bank yang paling tidak amanah terhadap kepentingan publik karena dia mengambil uang dari masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito, kemudian tidak ada cover jaminan, kemudian ini … ya sudah karena Anda menabung di Bank Syariah diikhlaskan saja, itu hilang. Kan tidak seperti demikian.

Nah, tapi berbeda untuk kasus bagi hasil. Dia hanya bisa dieksekusi kalau terjadi wanprestasi. Kenapa? Karena ada porsi bank yang juga sebagai partners yang harus menanggung kerugian juga.

Kasarnya, saya mungkin lebih mudah untuk memberikan satu contoh.

Kalau terjadi satu pembiayaan eksport, eksport misalnya sepatu kulit atau jaket kulit dari permohonan dari Amerika untuk satu nasabah di Indonesia. Disepakati antara nasabah dengan bank untuk memohon pembiayaan membiayai pengadaan sepatu dan jaket kulit untuk Amerika. Kulitnya disyaratkan kulit sapi, jenisnya ini, ini, ini sesuai dengan permohonan dari Amerika. Ketika semuanya lancar, maka misalnya kulitnya benar kulit sapi tetapi terjadi kapal tenggelam, kapal tenggelam tidak terjadi delivery ke Amerika. Pertanyaannya, siapa yang menanggung resiko? Jawabannya sesuai dengan prinsip bagi hasil, itu ditanggung sesuai dengan kontribusi dana masing-masing antara bank dengan nasabah. Karena semua syarat sudah terpenuhi, positive covenant, negative covenant sudah terpenuhi. Tetapi ketika si nasabah itu menyelipkan sebagian kulit sapi dengan kulit domba, sehingga terjadi rejection dari Amerika, pertanyaannya, ini terjadi rejection dari Amerika karena apa? Karena si nasabah curang atau fraud. Nah, dalam hal ini, yang menanggung kerugian 100% nasabah.

Nah, jadi dalam praktik bagi hasil sendiri pun bisa terjadi fraud dari nasabah. Nah, kalau dalam kasus memasukkan kulit kambing atau kulit yang lain tidak sesuai dengan spesifikasi si Pemohon dan itu di- reject terjadi delay, terjadi tidak pembayaran, siapa yang melanggar?

Jawabannya si nasabah. Untuk itulah, hipotek atau jaminan bisa dieksekusi. Jadi terjadi dalam kasus yang kedua, tidak terjadi dalam kasus yang pertama.

Oke, nah bagaimana tentang … itu secara nomenklatur secara keseluruhan. Bagaimana sekarang, apakah si depa … pengadilan agama sudah memiliki seluruh perangkat untuk eksekusi dan untuk pelaksanaan ini. Inilah yang saya lihat sebagai pekerjaan rumah dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 yang belum selesai. Saya ulangi,

(26)

belum selesai ketika DPR memberikan mandat kepada pengadilan agama tetapi tidak dilengkapi dengan perangkat ekseskusinya dan dia masih menunggu pihak eksekusi dari pengadilan negeri. Ini saya melihat sebagai suatu yang rada tidak lengkap atau kurang sempurna atau dalam bahasa yang lebih kasarnya rada banci karena dia tidak bisa mengeksekusi apa yang dia putuskan.

Demikian juga sesungguhnya apa yang terjadi dengan Basyarnas di sini juga terjadi dispute juga. Kalau pembahasan saya dengan almarhum Bapak Hartono Marjono demikian juga dengan Pak Yudo Paripurno, mereka menganggap dan berasumsi bahwa keputusan dari Basyarnas itu adalah final and binding. Dimana kalau final ya sudah tidak ada lagi pengadilan tinggi, tidak ada lagi Mahkamah Agung, tidak ada lagi untuk kasasi, dan peninjauan kembali itu final. Binding apapun yang diputuskan oleh Basyarnas mengikat kepada kedua belah pihak dan tidak boleh ada upaya hukum lainnya.

Sesungguhnya nasabah ketika di awal, itu menandatangani arbitration clause itu dalam akad, dia tanda tangan, tetapi karena dibuka opsi … nasabah kan ketika Anda harus membayar berdasarkan putusan Basyarnas, Anda harus membayar Rp10 miliar. Ketika melihat angka Rp10 miliar dan melihat ada opsi celah hukum yang lain, dia pergi ke sana dan sering kali opsi hukum yang kedua ini dikabulkan. Jadilah antara putusan yang pertama dengan putusan yang kedua terjadi dispute. Apakah boleh ada beda forum dispute settlement padahal yang materinya adalah sama hukum syariah? Kembali lagi karena yang memutuskan ini adalah hakim karena hakim dalam melihat apakah sudah terpenuhi unsur wanprestasi atau belum, terjadi lagi dispute di situ, Pak. Antara pengadilan umum dengan pengadilan agama terjadi perbedaan keputusan untuk kasus yang sama karena memang ketika dibuka ketika sudah diputuskan Anda bersalah dia apply lagi kepada pengadilan yang kedua dan ternyata di pengadilan yang kedua ada pertimbangan-pertimbangan baru kemudian muncul.

Nah menjawab tentang proses peradilan dan bagaimana eksekusinya saya sekali lagi yang sekarang terjadi memang pemasangan hipotek masih mengacu kepada yang umum. Demikian juga pihak eksekusi mengacu kepada pengadilan umum. Yang dimiliki oleh peradilan agama mungkin hanya hukum materinya dan mohon maaf dengan segala hormat saya masih sering memberikan training kepada hakim-hakim agama mereka juga masih sangat awam dengan masalah keuangan perbankan syariah. Masih di perbankan juga masih awam apalagi jikalau sudah masuk kepada asuransi lebih konflik, lebih pelik.

Apalagi jikalau sudah masuk kepada masalah pasar modal ini jauh lebih pelik lagi.

Nah di sisi yang lain kita melihat para hakim di pengadilan umum juga masih awam dengan masalah syariah. Apa yang dimaksud dengan mudharabah, musyarakah, hawalah, kafalah, doman, syirkatul inan,

(27)

sisi sini awam, saya justru menghormati fungsi dari pada Yang Mulia Mahakamah Konstitusi di sinilah mungkin kita harus melakukan harmonisasi daripada semua pasal, semua ayat, dan semua peraturan.

Saran saya dengan segala kekurangan, sekarang kita tinggal memilih apakah akan menjadikan pengadilan negeri dilengkapi dengan semuanya kemudian ditutup pengadilan agama? Hanya satu. Atau pengadilan negerinya yang ditutup khusus untuk masalah-masalah ekonomi syariah tetapi peradilan agamanya dilengkapi dengan semua perangkat eksekusi, sehingga tidak harus dobel forum, tetapi kalau untuk Basyarnas tetap dibuka peluang karena sesungguhnya Basyarnas itu kan sebagai lembaga wasit, lembaga islah, atau lembaga suluh yang di luar pengadilan dan biasanya kebanyakan dari kasus yang terjadi … ini mungkin menjawab Bapak Hakim Yang Mulia, kebanyakan kasus dispute yang terjadi diselesaikan secara musyawarah.

Kemudian jikalau tidak terjadi, si bank kemudian mengatakan,

“Kami melihat Anda berhutang Rp10 miliar.” Kata nasabah, “Tidak, ini terjadi ini … ini … menurut kami kewajibannya hanya Rp4 miliar.” “Ya sudah kita ketemu saja di tengah, kami meminta 10, Anda mengatakan 4 bagaimana jikalau 6, Anda enggak usah bayar ini, Anda enggak bayar itu, dan ini kita tutup masalah.” kebanyakannya diselesaikan secara itu karena memang jikalau masuk ke pengadilan memang yang untung adalah hanyalah kantor pengacara dan itu sangat panjang sekali dan belum tentu uang yang dipermasalahkannya pun itu cukup untuk membiayai proses pengadilan ini. Dan dalam masa proses ini semuanya menjadi tersandera, si pengusaha tidak bisa berbisnis lagi, si bank juga akan mendapatkan collectibility yang negatif dari bank Indonesia.

Sehingga dikatakan bank itu tidak sehat karena ini masih ada masalah yang menggantung.

Jadi Basyarnas sebagai lembaga wasit, lembaga islah, ada musyawarah, ada apa … ukhuwah islamiyah itu kita buka selebar- lebarnya, jikalau selesai, alhamdulilah. Jikalau tidak diserahkan kepada peradilan agama sesuai dengan mandat Undang-Undang Perbankan yang Nomor 21 Tahun 2008 ini, dan sesuai dengan mandat Nomor 3 Tahun 2006, tetapi peradilan agama diberikan seluruh perangkat eksekusi dan perangkat-perangkat untuk memastikan dia bisa executing the decision. Mungkin itu dan apa-apa yang masih konflik, kita selesaikan. Mohon maaf jikalau penjelasan saya rada panjang dan tidak pada tempatnya. Terima kasih. Assalamualaikum wr. wb.

104. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik. Kalau begitu, keterangan sudah dianggap cukup. Kecuali Pemohon maupun Pemerintah mau mengajukan Ahli atau saksi lain, maka sidang ini sudah dinyatakan berakhir hari ini. Saya tanyakan kepada Pemohon, apakah diperlukan sidang lagi?

(28)

105. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN

Ya, terima kasih, Yang Mulia Ketua Mahkamah Konstitusi. Kami

… sangat menarik … dengan Saksi Ahli. Mohon diberi waktu untuk menanyakan beberapa item, mengenai adanya kekurangan. Mohon (…) 106. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Silakan!

107. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN

Terima kasih, Yang Mulia Ketua Mahkamah Konstitusi. Saya … sangat menarik dengan penjelasan Saudara pada waktu Saudara ada di podium dan juga ada beberapa pertanyaan.

Tentunya sudah dipertanyakan oleh salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi (…)

108. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Kalau sudah dipertanyakan dan dijawab, Saudara ndak usah tanya lagi karena ini tidak perlu mencari kesepakatan antara Saudara dan Ahli.

109. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN Tentunya, ada ayat yang perlu kami pertanyakan.

110. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Pertanyaan lain! Kalau perdebatan itu, Saudara ndak boleh tidak sependapat dengan Ahli karena Hakim yang menilai.

111. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN Baik.

112. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Ini kan, bukan perundingan. Persidangan.

113. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN Baik, baik.

(29)

114. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Silakan!

115. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN

Saudara Ahli, di dalam Pasal 50 Nomor 7 Tahun 1989 dan sudah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, yang tentunya ada pasal … ada ayat kedua dari ayat kesatu yang sudah dipertanyakan.

Apa kami kutip dari ayat ini, “Apabila terjadi sengketa hak milik, sebagaimana dimaksud ayat (1), yang subjek hukumnya antara orang Islam … yang beragama Islam, subjek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama, bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.”

Pertanyaan saya, yang tentunya bank syariah ini adalah bank yang dibentuk mengenai prinsip-prinsip syariah dan juga nasabahnya juga bank syariah. Pertanyaannya, apakah antara bank yang berketentuan dengan prinsip syariah dengan peminjam adalah orang Islam, apakah ini harus dilakukan eksekusinya di pengadilan umum?

Satu, itu.

Yang kedua (…)

116. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Tadi sudah ditanyakan dan dijawab. Jangan anu, jangan kebanyakan mengulang! Begini, begini, Anda bukan berunding dengan saksi. Anda ini mendengarkan Hakim yang memutus, bukan Anda yang menilai pendapat.

117. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN

Baik, Majelis. Kita yang perlu pertanyakan kembali dengan adanya … asas, ya? Asas lex posterior derogat priori. Maksudnya, kami ingin menanyakan ke Ahli, ini apa yang dimaksud dengan asas tersebut?

Mohon penjelasannya!

118. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Ya, itu wewenangnya Majelis Hakim. Ada lagi?

119. KUASA HUKUM PEMOHON: RUDI HERMAWAN Cukup, Majelis.

120. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

(30)

121. PEMERINTAH:

Cukup, Yang Mulia.

122. KETUA: MOH. MAHFUD MD.

Baik. Kalau begitu, sidang berikutnya adalah penyerahan … eh, berikutnya adalah pengucapan Putusan. Tetapi sebelum itu, selambat- lambatnya hari Selasa, tanggal 5 Februari tahun 2013, Saudara Pemohon maupun Pemerintah dan DPR, diberi kesempatan untuk menyerahkan kesimpulan selambat-lambatnya pukul 16.00, tanpa melalui sidang, tapi langsung ke ruang Panitera di lantai 4 gedung ini.

Kalau sampai tanggal itu belum menyerahkan, maka Majelis Hakim akan menganggap semua yang muncul di persidangan ini sebagai fakta-fakta yang cukup untuk dipertimbangkan, tanpa memperhatikan lagi kesimpulan dari Saudara … pihak-pihak yang terlibat di dalam perkara ini. Sidang ditutup.

Jakarta, 29 Januari 2013 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d.

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004 SIDANG DITUTUP PUKUL 12.24 WIB

KETUK PALU 3X

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini juga ditunjukkan pada observasi dan wawacara peneliti dilapangan menunjukkan pegawai Kantor Samsat Kabupaten Soppeng sudah bekerja dengan baik ,

 Adanya perubahan paradigma diantara anggota Komwil III APEKSI bukan untuk saling berkompetisi, melainkan berbagi untuk kemajuan bersama, karena pemimpin masa depan adalah

Rencana dan program tim peningkatan mutu layanan klinis dan keselamatan pasien, bukti pelaksanaan program kerja, monitoring, dan evaluasi, Pelaksanaan peningkatan mutu

Pemeriksaan rongga hidung, ingus di meatus medius. Pada pemeriksaan di kamar gelap, dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam, akan tampak bentuk sinus frontal di dahi

Karena nilai CR lebih besar dari 1,96 menunjukkan adanya pengaruh yang positif antara kerjasama dengan efektivitas hubungan pemasaran. Dengan demikian menunjukkan

maupun hukum nasional, terutama sejak lahirnya dan diundangkanya Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1983 tersebut, namun Indonesia masih menghadapi masalah yang cukup

Penelitian ini dilakukan untuk membangun sebuah sistem pakar yang dapat mendeteksi kerusakan pada printer Canon Ip Series Tipe Inkjet dengan metode Metode Forward

Dari hasil uji statistik korelasi spearmen diperoleh nilai p value = (0,000) < α= (0,05) sehingga dapat disimpulkan ada hubungan komunikasi terapeutik perawat