KOMISI INFORMASI PROVINSI SULAWESI BARAT
PUTUSAN
Nomor : 06 /VIII/KI-SB/PS-A/2019
KOMISI INFORMASI PROVINSI SULAWESI BARAT
1. IDENTITAS
[1.1] Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat yang menerima, memeriksa dan menjatuhkan putusan dalam Sengketa Informasi Publik dengan Nomor Registrasi : 005/REG-PSI/KI-SB/V/2019, yang diajukan oleh :
Nama : Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan
Alamat : Jl. Nuri, Kelurahan Karema, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju
Selanjutnya disebut sebagai Pemohon,
yang dalam persidangan awal diwakili oleh Sirman, pada persidangan pokok perkara dihadiri oleh Aswan Haryanto, selaku Koordinator Perwakilan Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan untuk wilayah kabupaten Mamuju,
Terhadap
Nama : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju
Alamat : Jl. Kurungan Bassi, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju Selanjutnya disebut sebagai Termohon,
[1.2] Telah membaca permohonan Pemohon;
Telah mendengar keterangan Pemohon dan Termohon;
Telah memeriksa surat-surat Pemohon dan Termohon; dan Telah memeriksa bukti-bukti Pemohon;
2. DUDUK PERKARA
A. Pendahuluan
[2.1] Bahwa pada tanggal 3 Mei 2019, Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat, diterima pada tanggal yang sama dan terdaftar di Kepaniteraan dengan nomor registrasi : 005/REG-PSI/KI-SB/V/2019.
Kronologi
[2.2] Bahwa pada tanggal 11 Maret 2019, Pemohon telah mengajukan permohonan permintaan informasi publik melalui surat kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan olahraga Kabupaten Mamuju. Selanjutnya surat tersebut diterima atas nama Nurdin, S.Pd, selaku Kepala Sub Bagian Kepegawaian, dengan permintaan berupa salinan informasi tentang :
a. rencana kerja dan anggaran (RKA) dan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju,untuk tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019; dan
b. daftar nama penerima hibah daerah (DNPHD) di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019.
[2.3] Bahwa permohonan permintaan informasi yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana diuraikan pada paragraf [2.2], sampai batas waktu yang ditentukan yaitu 10 (sepuluh) hari kerja, tidak mendapatkan tanggapan atau jawaban dari Termohon.
[2.4] Bahwa pada tanggal 28 Maret 2019 Pemohon mengajukan surat keberatan atas tidak ditanggapinya permintaan permohonan informasi oleh Termohon, surat tersebut diterima oleh Sri Reski Salam.
[2.5] Bahwa hingga berakhirnya jangka waktu untuk memberikan tanggapan atau jawaban atas keberatan dari Pemohon sebagaimana dimaksud pada paragraf [2.4], Termohon juga tidak memberikan tanggapan atau jawaban.
[2.6] Bahwa atas dasar sebagaimana dimaksud pada paragraph [2.5], pada tanggal 3 Mei 2019 Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat, diterima oleh Kepaniteraan pada tanggal yang sama dan selanjutnya diproses dan diberikan nomor registrasi : 005/REG-PSI/KI-SB/V/2019.
[2.7] Bahwa pada tanggal 16 Mei 2019 telah dilaksanakan Sidang di Kantor Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dengan agenda Pemeriksaan Awal yang dihadiri oleh Sirman mewakili Lembaga Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan selaku anggota, berdasarkan surat tugas yang ditanda tangani oleh Arwin Haryanto selaku Ketua dan dihadiri oleh Dra Hj. Murniani,MM selaku Termohon dengan jabatan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju.
[2.8] Bahwa berdasarkan Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik yang selanjutnya dalam putusan ini disingkat menjadi Perki Nomor 1 tahun 2013 tentang PPSIP, pada pasal 29 ayat (1) menyatakan pada hari pertama sidang ajudikasi, Majelis Komisioner mewajibkan para pihak untuk menempuh proses penyelesaian sengketa melalui mediasi terlebih dahulu.
[2.9] Bahwa guna menindaklanjuti Perki Nomor 1 tahun 2013 tentang PPSIP sebagaimana dimaksud pada paragraf [2.8], mediasi antara para pihak dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2019 oleh Dulhaj Muchtar Mahmud selaku Mediator Komisi Informasi provinsi Sulawesi Barat dan menghasilkan kesepakatan yang tertuang dalam Berita Acara Mediasi Nomor : 01/M/KI-SB/V/2019 bertanggal 16 Mei 2019.
[2.10] Bahwa berdasarkan surat pernyataan mediasi gagal oleh Mediator dengan nomor surat : 02/M/KI-SB/VI/2019 bertanggal 13 Juni 2019, dimana pada intinya menjelaskan bahwa salah satu pihak tidak mematuhi kesepakatan Mediasi Awal.
Atas dasar hal ini Majelis Komisioner kembali melanjutkan persidangan pada tanggal 4 Juli 2019 dengan agenda pokok perkara, yang dihadiri oleh Aswan Haryanto selaku Pemohon dan Zulfadly Rasyid, SH selaku kuasa Kepala Dinas
Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju, berdasarkan surat kuasa nomor : 890/1905/VI/2019 yang ditandatangani oleh Dra Hj. Murniani, MM selaku Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kabupaten Mamuju.
Alasan Permohonan Informasi atau Tujuan Penggunaan Informasi
[2.11] Bahwa alasan permohonan atau tujuan penggunaan informasi yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana tertera dalam formulir pengajuan dan diperkuat dengan keterangan Pemohon di persidangan adalah untuk diketahui.
Alasan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi
[2.12] Bahwa alasan yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana tertera dalam formulir pengajuan dan diperkuat dengan keterangan Pemohon atas perkara a quo adalah karena permintaan diabaikan atau tidak ditanggapi oleh Termohon.
Petitum
[2.13] Bahwa dalam persidangan pokok perkara yang digelar pada tanggal 4 Juli 2019 Pemohon tidak mencantumkan petitum dalam formulir pengajuannya sehingga Majelis Komisioner memberikan kesempatan kepada Pemohon untuk melengkapi pada persidangan berikutnya.
[2.14] Bahwa pada tanggal 17 Juli 2019 Majelis Komisioner menggelar persidangan dengan agenda pembuktian yang dihadiri oleh Zulkipli mewakili Pemohon Aswan Haryanto selaku Koordinator Perwakilan Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan untuk wilayah kabupaten Mamuju dan dari Termohon dihadiri oleh Zulfadli Rasyid, SH, yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju. Dalam persidangan ini Pemohon mengajukan petitum secara lisan dihadapan Majelis Komisioner yang menyatakan bahwa meminta kepada Komisi Informasi melalui Putusan Majelis Persidangan memerintahkan kepada Termohon memberikan seluruh informasi yang dimohonkan.
B. Alat Bukti
Keterangan Pemohon
[2.15] Bahwa dalam persidangan awal pada tanggal 16 Mei 2019, Pemohon telah
1. Membenarkan kronologi yang telah disampaikan oleh Majelis Komisioner bahwa pada tanggal :
a. 11 Maret 2019 telah mengajukan dan menandatangani surat yang isinya meminta salinan dokumen-dokumen tentang Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) untuk tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019 dan daftar nama penerima hibah daerah (DNPHD) untuk tahun Anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019, kesemuanya di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju;
b. 28 Maret 2019 telah mengajukan surat keberatan kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju atas tidak ditanggapinya permintaan informasi yang telah diajukan;
c. 3 Mei 2019 telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat, diterima oleh Kepaniteraan pada tanggal yang sama dan selanjutnya diproses dan diberikan nomor registrasi: 005/REG-PSI/KI-SB/V/2019.
2. Terhadap proses pengajuan informasi ke Termohon dan begitu juga dengan surat keberatan, Pemohon menyayangkan sikap dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju yang tidak merespon atau memberikan jawaban, baik melalui persuratan ataupun melalui sarana komunikasi lainnya.
[2.16] Dalam persidangan lanjutan pada tanggal 17 Juli 2019 yang dihadiri oleh Aswan Haryanto selaku Pemohon telah menyampaikan keterangan-keterangan sebagai berikut :
1. Bahwa Pemohon telah melakukan komunikasi secara langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju setelah mediasi awal dilakukan dan mendapatkan jawaban : bahwa Kepala Dinas tidak begitu memahami maksud dan tujuan dari permintaannya namun pada intinya terhadap permintaan tersebut Kepala Dinas harus melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada Bupati Mamuju. Selanjutnya menurut keterangan dari Pemohon bahwa Kepala Dinas telah melaporkan hal ini ke Bupati Mamuju serta meminta agar permintaan tersebut jangan diberikan dan Pemohon mestinya
menyurat langsung kepada Bupati terkait dengan permintaan informasi tersebut. Atas jawaban hal ini Pemohon menanggapi bahwa Bupati Mamuju tidak memiliki RKA dan yang punya akan hal itu adanya di Dinas sehingga jika lembaga yang menyurat langsung ke Bupati maka dianggap berlebihan dan kami tahu akan aturan.
2. Masih terkait dengan angka 1 (satu) diatas, Pemohon meminta melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju agar memfasilitasi untuk audiens atau berdiskusi dengan Bupati Mamuju terkait apa tujuan kami meminta informasi ini guna menjelaskan bahwa kami sebagai lembaga pengawasan yang ingin membantu Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju secara tidak langsung apabila ada kegiatan dilapangan tidak sesuai dengan aturan. Selanjutnya Pemohon juga meminta agar tidak berpikiran negatif terhadap adanya permintaan informasi ini yang berujung pada penyalahgunaan informasi dikemudian hari.
3. Bahwa Pemohon mengakui belum memiliki adanya kerugian secara materil terhadap konsekuensi apabila informasi yang dimohonkan ke Termohon tidak diberikan sebagaimana pertanyaan dari Ketua Majelis yang menyampaikan apakah anda dirugikan jika informasi ini tidak diberikan.
[2.17] Bahwa dalam persidangan pembuktian pada tanggal 17 Juli 2019 yang disampaikan oleh Zulkipli selaku kuasa dari Pemohon menjelaskan hal-hal sebagai berikut :
1. Meminta kepada Majelis agar segera menetapkan putusan sela terkait dengan belum adanya petitum secara tertulis dan diberikan kesempatan untuk menyampaikannya secara lisan namun hal tersebut diluruskan oleh Rahmat selaku anggota Majelis Kedua yang meminta korelasi pengertian petitum yang perlu disampaikan kepada Majelis sehingga kuasa Pemohon menjelaskan bahwa petitum yang diinginkan adalah meminta kepada Komisi Informasi melalui Majelis Persidangan memerintahkan kepada Termohon memberikan seluruh informasi yang dimohonkan.
2. Kuasa Pemohon akan mengkoordinasikan lebih lanjut dengan koordinator wilayah Mamuju guna penyampaian bukti secara tertulis dan juga kesimpulan yang akan diajukan.
Surat-Surat Pemohon
[2.18] Bahwa Pemohon telah mengajukan surat tertulis, sebagai berikut :
Surat P-1 Fotokopi surat permohonan informasi bertanggal 11 Maret 2019 yang ditujukan kepada Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju, surat diterima oleh Nurdin.
Surat P-2 Fotokopi surat keberatan bertanggal 25 Maret 2019 yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju, surat diterima oleh Sri Reski Salam.
Surat P-3 Fotokopi Akta Pendirian Lembaga Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan (AMPERAK) Nomor : 04 tanggal 7 Juni 2016, dibuat oleh Notaris Nurrahmah Tahanuddin, SH, MH, disertai dengan pengesahan pendirian badan hukum pada tanggal 28 November 2016.
Surat P-4 Fotokopi pengesahan pendirian Badan Hukum Perkumpulan Lembaga Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan yang diterbitkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI tanggal 28 November 2016.
Surat P-5 Fotokopi Surat Keterangan Terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Nomor :00-33- 00/498-1/X/2016.
Surat P-6 Fotokopi Kartu Tanda Anggota LSM Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan (AMPERAK).
Keterangan Termohon
[2.19] Bahwa dalam persidangan awal pada tanggal 16 Mei 2019, Termohon telah menyampaikan keterangan-keterangan sebagai berikut :
1. Membenarkan telah menerima permintaan informasi dari Pemohon yang diajukan pada tanggal 11 Maret 2019 dan juga menerima surat keberatan pada tanggal 28 Maret 2019.
2. Bahwa tidak ditanggapinya surat permintaan informasi dari Pemohon karena tujuan dan alasan yang tidak jelas.
3. Bahwa tidak diberikannya informasi yang diminta oleh Pemohon adalah semata-mata karena alasan prosedural dimana RKA dan DPA di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju merupakan milik pemerintah daerah kabupaten Mamuju sehingga hal tersebut perlu meminta persetujuan dari Bupati Mamuju selaku atasan yang bersangkutan.
[2.20] Dalam persidangan pokok perkara pada tanggal 4 Juli 2019 yang dihadiri oleh Zulfadly Rasyid, SH selaku kuasa Termohon telah menyampaikan keterangan- keterangan sebagai berikut :
1. Adanya kegagalan mediasi antara lain karena Kepala Dinas menganggap keberadaan Pemohon selaku LSM adalah tidak relevan karena yang boleh mengkases RKA ataupun DPA adalah Inspektorat Daerah dan juga hal tersebut menghindari yang berbau atau berkaitan dengan politis.
2. Kepala Dinas meminta kepada LSM Amperak agar menyurat langsung kepada Bupati sehingga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju menunggu adanya disposisi.
[2.21] Bahwa dalam persidangan pembuktian pada tanggal 17 Juli 2019 yang disampaikan oleh Zulfadly Rasyid, SH selaku kuasa dari Termohon menjelaskan hal-hal sebagai berikut :
1. Bahwa setelah Pemohon datang ke kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju pasca mediasi, Pemohon juga meminta secara khusus daftar hasil proyek dan selanjutnya Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju bersedia memberikan namun hanya dalam bentuk ringkasan saja, dimana hal tersebut dapat diakses melalui situs resmi pemerintah daerah kabupaten Mamuju yaitu Sistem Informasi Unit Pengadaan (SIRUP).
2. Bahwa kuasa Termohon telah mengajukan kesimpulan setelah Majelis meminta untuk menyampaikannya secara lisan menyatakan : bahwa informasi yang terkait dengan pengadaan dilingkup pemerintah daerah kabupaten Mamuju dapat diakses melalui situs resmi pemerintah daerah Kabupaten Mamuju yaitu Sistem Informasi Unit Pengadaan (SIRUP)
Surat-Surat Termohon
[2.22] Bahwa Termohon tidak mengajukan surat-surat yang berkaitan dengan pokok perkara.
3. KESIMPULAN PARA PIHAK
[3.1] Pemohon tidak menyampaikan kesimpulan baik secara lisan ataupun tertulis.
[3.2] Termohon menyampaikan kesimpulannya secara lisan dalam persidangan tanggal 17 Juli 2019 yaitu bahwa informasi yang terkait dengan pengadaan dilingkup pemerintah daerah kabupaten Mamuju dapat diakses melalui situs resmi pemerintah daerah Kabupaten Mamuju yaitu Sistem Informasi Unit Pengadaan (SIRUP).
4. PERTIMBANGAN HUKUM
[4.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan sesungguhnya adalah mengenai Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, sebagaimana diatur pasal 35 ayat (1) huruf c, Undang-undang No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, selanjutnya disebut UU KIP, juncto pasal 5 huruf b Pasal 13 dan Pasal 36 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, selanjutnya disebut Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP;
[4.2] Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok permohonan, berdasarkan pasal 36 ayat (1) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP, Majelis Komisioner terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat untuk memeriksa dan menjatuhkan putusan terhadap permohonan a quo ;
2. Kedudukan hukum atau legal standing Pemohon sebagai yang mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik ;
3. Kedudukan hukum atau legal standing Termohon sebagai Badan Publik dalam sengketa informasi publik ;
4. Batas waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik.
Bahwa terhadap keempat hal tersebut, Majelis Komisioner memberikan pendapat sebagai berikut :
A. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat
[4.3] Menimbang bahwa Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki dua kewenangan yaitu Kewenangan Absolut dan Kewenangan Relatif.
Kewenangan Absolut
[4.4] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 4 UU KIP yang menyatakan : Komisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang ini dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi.
[4.5] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 5 UU KIP, juncto Pasal 1 angka 3 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan : Sengketa Informasi Publik adalah sengketa yang terjadi antara badan publik dan pengguna informasi publik yang berkaitan dengan hak memperoleh dan menggunakan informasi berdasarkan perundang-undangan.
[4.6] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan : Pasal 26 ayat (1) UU KIP
Komisi Informasi bertugas menerima, memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi yang diajukan oleh setiap Pemohon Informasi Publik berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Pasal 38 ayat (1) UU KIP
Komisi Informasi Pusat dan Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota harus mulai mengupayakan penyelesaian Sengketa Informasi Publikmelalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
[4.7] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan : Penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Komisi Informasi dapat ditempuh apabila :
a. pemohon tidak puas terhadap tanggapan atas keberatan yang diberikan oleh atasan PPID; atau
b. pemohon tidak mendapatkan tanggapan atas keberatan yang telah diajukan kepada atasan PPID dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak keberatan diterima oleh atasan PPID.
[4.8] Menimbang bahwa berdasarkan keterangan Pemohon dalam persidangan yang telah menempuh mekanisme untuk memperoleh informasi dan mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik sebagai berikut :
a. pemohon telah mengajukan permohonan informasi publik sebagaimana telah diuraikan dalam duduk perkara;
b. pemohon telah menempuh upaya keberatan kepada Termohon sebagaimana telah diuraikan dalam duduk perkara;
c. pemohon tidak mendapat tanggapan atau jawaban dari Termohon sebagaimana diuraikan dalam duduk perkara; dan
d. pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat sebagaimana telah diuraikan dalam duduk perkara.
[4.9] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [4.2] sampai dengan paragraf [4.8], Majelis Komisioner berpendapat bahwa sengketa a quo berada
dalam kompetensi absolut Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dan oleh sebab itu memiliki kewenangan untuk menyelesaikan sengketa a quo.
Kewenangan Relatif
[4.10] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU KIP menyatakan : Kewenangan Komisi Informasi provinsi meliputi kewenangan penyelesaian sengketa yang menyangkut Badan Publik tingkat provinsi yang bersangkutan.
[4.11] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (4) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan : Dalam hal Komisi Informasi Kabupaten/Kota belum terbentuk, kewenangan menyelesaikan Sengketa Informasi Publik yang menyangkut Badan Publik tingkat kabupaten/kota dilaksanakan oleh Komisi Informasi Provinsi.
[4.12] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 UU KIP yang menyatakan : Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.
[4.13] Menimbang bahwa pada bagian penjelasan Pasal 6 ayat (3) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan: yang dimaksud dengan Badan Publik kabupaten/kota adalah Badan Publik yang lingkup kerjanya mencakup kabupaten/kota setempat atau lembaga tingkat kabupaten/kota dari suatu lembaga yang hierarkis. Contoh: Pemerintah Kabupaten/Kota, DPRD kabupaten/kota, Pengadilan tingkat pertama, Komando Distrik Militer, BUMD tingkat kabupaten/kota, Partai Politik tingkat kabupaten/kota, organisasi non pemerintah tingkat kabupaten/kota, RSUD tingkat kabupaten/kota, atau lembaga tingkat kabupaten/kota lainnya.
[4.14] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 209 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan : Perangkat Daerah kabupaten/kota terdiri atas :
a. sekretariat daerah;
b. sekretariat DPRD;
c. inspektorat;
d. dinas; dan e. badan
[4.15] Menimbang bahwa Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kabupaten Mamuju merupakan bagian dari perangkat daerah di wilayah kabupaten Mamuju.
[4.16] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [4.10] sampai dengan paragraf [4.15], Majelis berpendapat bahwa Termohon memiliki tugas dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang berkedudukan kabupaten sehingga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kabupaten Mamuju adalah bagian dari badan Publik pada tingkat kabupaten.
[4.17] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [4.16] dimana Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kabupaten Mamuju merupakan bagian dari badan publik tingkat kabupaten sehingga Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki kewenangan relatif untuk menerima, memeriksa dan memutus sengketa a quo.
B. Kedudukan Hukum / Legal Standing Pemohon
[4.18] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan : Pasal 1 angka 12 UU KIP
Pemohon Informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hukum Indonesia yang mengajukan permintaan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Pasal 1 angka 7 Perki No. 1 Tahun 2013 tentang PPSIP
Pemohon penyelesaian sengketa informasi publik yang selanjutnya disebut Pemohon adalah Pemohon atau pengguna informasi publik yang mengajukan
Pasal 11 ayat (1) huruf a Perki No. 1 Tahun 2013 tentang PPSIP
Pemohon wajib menyertakan dokumen kelengkapan Permohonan sebagai berikut:
a. identitas Pemohon yang sah, yaitu:
1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk, Paspor atau identitas lain yang sah yang dapat membuktikan Pemohon adalah warga negara Indonesia; atau
2. Anggaran dasar yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan telah tercatat di Berita Negara Republik Indonesia dalam hal Pemohon adalah Badan Hukum.
3. Surat kuasa dan fotokopi Kartu Tanda Penduduk pemberi kuasa dalam hal Pemohon mewakili kelompok orang.
b. permohonan informasi kepada Badan Publik, yaitu:
1. Surat permohonan, formulir permohonan, tanda terima atau tanda pemberian/pengajuan permohonan informasi; dan/atau
2. Surat pemberitahuan tertulis dari Badan Publik atas permohonan informasi.
c. keberatan kepada Badan Publik, yaitu:
1. Surat tanggapan tertulis atas keberatan Pemohon oleh atasan PPID; atau 2. Surat pengajuan keberatan disertai tanda pemberian/pengajuan, tanda
pengiriman atau tanda terima; dan 3. Dokumen lainnya, bila dipandang perlu.
[4.19] Menimbang bahwa Pemohon dalam pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik yang telah didaftarkan pada Kepaniteraan Komisi Informasi provinsi Sulawesi Barat telah melampirkan dokumen sebagai berikut : a. fotokopi Akta Pendirian Lembaga Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan
Keadilan,Nomor : 04 tanggal 7 Juni 2016, yang dibuat oleh Notaris Nurrahmah Tahanuddin, SH, MH. Vide Bukti [P-3];
b. fotokopi pengesahan pendirian Badan Hukum Perkumpulan Lembaga Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan yang diterbitkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI tanggal 28 November 2016. Vide Bukti [P-4];
c. fotokopi surat keterangan terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Nomor : 00-33-00/498-1/X/2016.
VideBukti [P-5]; dan
d. fotokopi KTA LSM Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan atas nama Aswan Haryanto. Vide Bukti [P-6].
[4.20] Menimbang bahwa dalam persidangan telah didengarkan pula keterangan Pemohon yang pada pokoknya menerangkan jika Pemohon mewakili Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan dalam mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik a quo.
[4.21] Menimbang bahwa Pemohon merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat sebagaimana keterangan dipersidangan didukung dengan bukti [P-3], [P-4], [P-5]
dan [P.6], sehingga syarat-syarat formil Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi harus tunduk pada ketentuan Pasal 11 ayat (1) huruf a angka 2 Perki No.
1 tahun 2013 tentang PPSIP.
[4.22] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan pada Pasal 11 ayat (1) huruf a angka 2 Perki No. 1 tahun 2013 tentang PPSIP telah menegaskan Pemohon wajib menyertakan dokumen kelengkapan Permohonan berupa identitas Pemohon yang sah yaitu : Anggaran dasar yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan telah tercatat di Berita Negara Republik Indonesia dalam hal Pemohon adalah Badan Hukum.
[4.23] Menimbang, bahwa bukti [P-3] berupa fotokopi Akta Pendirian Lembaga Aliansi Masyarakat Peduli Kebenaran dan Keadilan (AMPERAK) Nomor : 04 tanggal 7 Juni 2016, yang dibuat oleh Notaris Nurrahmah Tahanuddin, SH, MH, didalamnya termuat Anggaran Dasar lembaga yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sehingga syarat formil dokumen kelengkapan Pemohon sebagaimana ketentuan Pasal 11 ayat (1) huruf a angka 2 Perki No. 1 Tahun 2013 tentang PPSIP telah terpenuhi.
[4.24] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [4.19] sampai dengan paragraf [4.23], Majelis Komisioner berpendapat bahwa Pemohon memenuhi
syarat kududukan hukum atau legal standing sebagai Pemohon penyelesaian sengketa informasi publik dalam sengketa a quo.
C. Kedudukan Hukum / Legal Standing Termohon
[4.25] Menimbang bahwa kedudukan hukum Termohon dalam sengketa a quo telah diuraikan dan dipertimbangkan pada bagian kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat paragraf [4.3] sampai dengan [4.6], maka pertimbangan tersebut juga berlaku secara mutatis mutandis dalam menguraikan dan mempertimbangkan kedudukan hukum Termohon.
[4.26] Menimbang berdasarkan paragraf [4.25], Majelis Komisioner berpendapat bahwa Termohon memenuhi syarat kedudukan hukum atau legal standing sebagai Termohon penyelesaian sengketa informasi publik dalam sengketa a quo.
D. Batas Waktu Pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi [4.27] Menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum yang tidak terbantahkan dalam persidangan, dimana Pemohon telah menempuh mekanisme permohonan informasi, keberatan dan pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik,sebagaimana telah diuraikan pada paragraf [2.2] sampai paragraf [2.6]
mengenai kronologi proses penyelesaian sengketa informasi.
[4.28] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan : Pasal 22 ayat (7) UU KIP
Paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permintaan, Badan Publik yang bersangkutan wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis yang berisikan : a. informasi yang diminta berada di bawah penguasaannya ataupun tidak;
b. badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui keberadaan informasi yang diminta;
c. badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui
d. penerimaan atau penolakan permintaan dengan alasan yang tercantum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
e. dalam hal permintaan diterima seluruhnya atau sebagian dicantumkan materi informasi yang akan diberikan;
f. dalam hal suatu dokumen mengandung materi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, maka informasi yang dikecualikan tersebut dapat dihitamkan dengan disertai alasan dan materinya;
g. alat penyampaian dan format informasi yang akan diberikan; dan/atau h. biaya serta cara pembayaran untuk memperoleh informasi yang diminta.
Pasal 35 ayat (1) UU KIP
Setiap Pemohon Informasi Publik dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada atasan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi berdasarkan alasan berikut :
a. penolakan atas permintaan informasi berdasarkan alasan pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17;
b. tidak disediakannya informasi berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9;
c. tidak ditanggapinya permintaan informasi;
d. permintaan informasi tidak ditanggapi sebagaimana yang diminta;
e. tidak dipenuhinya permintaan informasi;
f. pengenaan biaya yang tidak wajar; dan/atau
g. penyampaian informasi yang melebihi waktu yang diatur dalam undang- undang ini
Pasal 36 ayat (1) UU KIP
Keberatan diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja setelah ditemukannya alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1).
Pasal 36 ayat (2) UU KIP
Atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) memberikan tanggapan atas keberatan yang diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya keberatan secara tertulis.
Pasal 37 ayat (2) UU KIP
Upaya penyelesaian Sengketa Informasi Publik diajukan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterimanya tanggapan tertulis dari atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2).
Pasal 13 huruf a Perki No. 1 Tahun 2013 tentang PPSIP
Permohonan diajukan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak tanggapan tertulis atas keberatan dari atasan PPID diterima oleh Pemohon.
[4.29] Menimbang bahwa Pemohon telah mengajukan surat permintaan informasi ke Termohon pada tanggal 11 Maret 2019 dan sesuai dengan ketentuan Pasal 22 ayat (7) UU KIP yang menyebutkan “Paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permintaan, Badan Publik yang bersangkutan wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis,” sehingga batas waktu bagi Termohon untuk memenuhi permintaan Pemohon adalah pada tanggal 22 Maret 2019.
[4.30] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [4.29] Pemohon sudah dapat mengajukan keberatan atas tidak ditanggapinya permintaan mulai tanggal 25 Maret 2019 dan pada tanggal 28 Maret 2019 Pemohon memang telah mengajukan surat keberatan kepada Termohon, vide bukti P2, dan bagi Termohon atau badan publik wajib memberikan tanggapan atau jawaban paling lambat selama 30 (tiga puluh) hari kerja ke dapan, hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 36 ayat (2) UU KIP di atas, sehingga batas waktu bagi Termohon untuk memberikan tanggapan paling lambat tanggal 10 Mei 2019, jika belum melakukannya maka Pemohon dapat mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi ke Komisi Informasi.
[4.31] Menimbang bahwa berdasarkan kronologi yang telah dijelaskan pada paragraf [2.6], vide bukti P2 dan penjelasan paragraf [4.30], Pemohon berdasarkan fakta-fakta tersebut telah mengajukan surat permohonan penyelesaian sengketa informasi publik pada tanggal 3 Mei 2019 dan telah diberikan akta registrasi dengan Nomor : 005/REG-PSI/KI-SB/V/2019, yang mana sesuai dengan ketentuan
pada pasal 37 ayat (2) UU KIP, seharusnya nanti pada tanggal 10 Mei 2019 Pemohon baru dapat mengajukannya ke Komisi Informasi.
[4.32] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [4.31], Majelis Komisioner berpendapat bahwa jangka waktu pengajuan surat keberatan oleh Pemohon ke Termohon selaku badan publik sebagaimana ditentukan dalam Pasal 37 ayat (2) UU KIP adalah tidak terpenuhi yaitu belum memenuhi jangka waktu yang diatur oleh pasal dimaksud sehingga dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Pasal 36 Perki Nomor 1 tahun 2013 tentang PPSIP ayat (1)
Dalam hal permohonan tidak memenuhi salah satu ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Majelis Komisioner dapat menjatuhkan putusan selau ntuk menerima ataupun menolak permohonan
ayat (2)
Dalam hal Majelis berpendapat tidak perlu menjatuhkan putusan sela, maka proses pemeriksaan dapat dilanjutkan dan diputus bersamaan dengan putusan akhir.
[4.32] Menimbang bahwa terhadap perkara a quo, Majelis melanjutkan proses persidangan ke tahapan pokok perkara dengan alasan memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk melakukan upaya mediasi dan nantinya pertimbangan terhadap tidak terpenuhinya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada [4.31]
akan diputus bersamaan di putusan akhir.
E. Pokok Permohonan
[4.33] Menimbang bahwa pokok permohonan pada perkara a quo sesungguhnya adalah Sengketa Informasi Publik antara Pemohon dengan Termohon mengenai informasi yang dimohonkan sebagaimana dijelaskan pada bagian kronologi di paragraf [2.2] sampai dengan paragraf [2.10].
[4.34] Menimbang berdasarkan fakta dipersidangan yang tidak dibantah oleh Pemohon dan menjadi fakta hukum bahwa jangka waktu yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf [4.31] adalah tidak terpenuhi namun Majelis tetap melanjutkan persidangan untuk memutuskan
apakah informasi yang dimohonkan oleh Pemohon merupakan informasi yang bersifat terbuka bagi publik sehingga nantinya bilamana ada pihak lain yang akan mengajukan terhadap pokok permohonan yang sama atau sejenis maka hal tersebut dapat diberikan berdasarkan rujukan dari keputusan Majelis ini.
F. Pendapat Majelis
[4.35] Menimbang bahwa berdasarkan uraian sebagaimana dimaksud pada paragraf [4.34], Majelis Komisioner akan memberikan pendapatnya yang berkaitan dengan pokok permohonan yang diajukan oleh Pemohon yaitu tentang :
a. rencana kerja dan anggaran (RKA) dan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju,untuk tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019; dan
b. daftar nama penerima hibah daerah (DNPHD) di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019
[4.36] Menimbang ketentuan-ketentuan sebagai berikut : Pasal 7 UU KIP ayat (1)
Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publikyang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan
Pasal 9 UU KIP
(1) Setiap Badan Publik wajib mengumumkan Informasi Publik secara berkala.
(2) Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. informasi yang berkaitan dengan Badan Publik;
b. informasi mengenai kegiatan dan kinerja Badan Publik terkait;
c. informasi mengenai laporan keuangan; dan/atau
d. informasi lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
(3) Kewajiban memberikan dan menyampaikan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan paling singkat 6 (enam) bulan sekali.
(4) Kewajiban menyebarluaskan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalam bahasa yang mudah dipahami.
(5) Cara-cara sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ditentukan lebih lanjut oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di Badan Publik terkait.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban Badan Publik memberikan dan menyampaikan Informasi Publik secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), diatur dengan Petunjuk Teknis Komisi Informasi.
Pasal 11 UU KIP
(1) Badan Publik wajib menyediakan Informasi Publik setiap saat yang meliputi:
a. daftar seluruh Informasi Publik yang berada di bawah penguasaannya, tidak termasuk informasi yang dikecualikan;
b. hasil keputusan Badan Publik dan pertimbangannya;
c. seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya;
d. rencana kerja proyek termasuk di dalamnya perkiraan pengeluaran tahunan Badan Publik;
e. perjanjian Badan Publik dengan pihak ketiga;
f. informasi dan kebijakan yang disampaikan Pejabat Publik dalam pertemuan yang terbuka untuk umum;
g. prosedur kerja pegawai Badan Publik yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat; dan/atau
h. laporan mengenai pelayanan akses Informasi Publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
(2) Informasi Publik yang telah dinyatakan terbuka bagi masyarakat berdasarkan mekanisme keberatan dan/atau penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48, Pasal 49, dan Pasal 50 UU KIP dinyatakan sebagai Informasi Publik yang dapat diakses oleh Pengguna Informasi Publik.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban Badan Publik menyediakan Informasi Publik yang dapat diakses oleh Pengguna Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diatur dengan Petunjuk Teknis Komisi Informasi.
Peraturan Komisi Informasi No 1 tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik
Pasal 11 ayat (1)
Setiap Badan Publik wajib mengumumkan secara berkala Informasi Publik yang sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. informasi tentang profil Badan Publik;
b. ringkasan informasi tentang program dan/atau kegiatan yang sedang dijalankan dalam lingkup Badan Publik;
c. ringkasan informasi tentang kinerja dalam lingkup Badan Publik berupa narasi tentang realisasi kegiatan yang telah maupun sedang dijalankan beserta capaiannya;
d. ringkasan laporan keuangan;
e. ringkasan laporan akses Informasi Publik;
f. informasi tentang peraturan, keputusan, dan/atau kebijakan yang mengikat dan/atau berdampak bagi publik yang dikeluarkan oleh Badan Publik;
g. informasi tentang hak dan tata cara memperoleh Informasi Publik serta tata cara pengajuan keberatan serta proses penyelesaian sengketa Informasi Publik;
h. informasi tentang tata cara pengaduan penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran yang dilakukan baik oleh pejabat Badan Publik maupun pihak yang mendapatkan izin atau perjanjian kerja dari Badan Publik yang bersangkutan;
i. informasi tentang pengumuman pengadaan barang dan jasa sesuai dengan peraturan perundang-undangan terkait; dan
j. informasi tentang prosedur peringatan dini dan prosedur evakuasi keadaan darurat di setiap kantor Badan Publik.
Pasal 11 ayat (2)
Pengumuman secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selambat-lambatnya 1 (satu) kali dalam setahun.
Pasal 13 ayat(1)
Setiap Badan Publik wajib menyediakan Informasi Publik setiap saat yang sekurang-kurangnya terdiri atas :
a. daftar Informasi Publik;
b. informasi tentang peraturan, keputusan dan/atau atau kebijakan BadanPublik c. seluruh informasi lengkap yang wajib disediakan dan diumumkan secara
berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11;
d. informasi tentang organisasi, administrasi, kepegawaian, dan keuangan;
e. surat-surat perjanjian dengan pihak ketiga berikut dokumen pendukungnya;
f. surat menyurat pimpinan atau pejabat Badan Publik dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya;
g. syarat-syarat perizinan, izin yang diterbitkan dan/atau dikeluarkan berikut dokumen pendukungnya, dan laporan penaatan izin yang diberikan;
h. data perbendaharaan atau inventaris;
i. rencana strategis dan rencana kerja Badan Publik;
j. agenda kerja pimpinan satuan kerja;
k. informasi mengenai kegiatan pelayanan Informasi Publik yang dilaksanakan, sarana dan prasarana layanan Informasi Publik yang dimiliki beserta kondisinya, sumber daya manusia yang menangani layanan Informasi Publik beserta kualifikasinya, anggaran layanan Informasi Publik serta laporan penggunaannya;
l. jumlah, jenis, dan gambaran umum pelanggaran yang ditemukan dalam pengawasan internal serta laporan penindakannya;
m. jumlah, jenis, dan gambaran umum pelanggaran yang dilaporkan oleh masyarakat serta laporan penindakannya;
n. daftar serta hasil-hasil penelitian yang dilakukan;
o. Informasi Publik lain yang telah dinyatakan terbuka bagi masyarakat berdasarkan mekanisme keberatan dan/atau penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 UU KIP;
p. informasi tentang standar pengumuman informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 bagi Badan Publik yang memberikan izin dan/atau melakukan perjanjian kerja dengan pihak lain yang kegiatannya berpotensi mengancam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum; dan
q. informasi dan kebijakan yang disampaikan pejabat publik dalam pertemuan yang terbuka untuk umum.
Pasal 20 ayat (2)
Badan Publik negara wajib mengumumkan informasi yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 sekurang- kurangnya melalui situs resmi dan papan pengumuman dengan cara yang mudah diakses oleh masyarakat.
Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Pasal 3 ayat (1)
Pengelolaan Keuangan Daerah dilakukan secara tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan, manfaat untuk masyarakat, serta taat pada ketentuan peraturan perundang-undangan.
[4.37] Menimbang bahwa Pemohon mengajukan permintaan informasi ke Termohon merupakan bagian dari hak publik yang diatur pada pasal 7 UU KIP yang menyatakan “Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publik yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan,” sehingga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju sebagai badan publik daerah seharusnya menjadikan dasar dari pasal ini untuk memberikan informasi yang diberikan. Terlepas apakah permintaan informasi tersebut merupakan yang dikecualikan atau tidak namun harus ada upaya atau jawaban sebagai bagian dari unsur pelayanan publik.
[4.38] Menimbang bahwa dalam berbagai persidangan yang telah dilaksanakan di Komisi Informasi, secara fakta yang tidak terbantahkan Termohon tidak mempersoalkan seluruh informasi yang diminta oleh Pemohon merupakan informasi yang bersifat rahasia dan yang diungkapkan dalam persidangan adalah sebaiknya Pemohon mengajukan permintaan informasi ini ke Bupati Mamuju
badan publik pemerintah kabupaten Mamuju segera membentuk dan memberdayakan fungsi pejabat pengelola informasi dan dokumentasi (PPID).
[4.39] Menimbang bahwa RKA dan DPA merupakan serangkaian proses sistem penganggaran yang saling berkaitan dimana masyarakat dijamin haknya untuk melakukan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan hal ini juga sesuai dengan tujuan terbentuknya UU KIP yang dijelaskan pada pasal 3 ayat (1) yaitu “menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik.” RKA merupakan sebuah proses perencanaan kerja dan anggaran untuk melaksanakan pembangunan disegala bidang sehingga dalam proses pembuatannya memerlukan kajian secara komprehensif dalam bentuk masukan publik yang disalurkan melalui kegiatan musrembang yang berjenjang dan kebijakan pemerintah daerah sehingga apabila publik mengajukan permohonan permintaan informasi yang berkaitan dengan RKA maka badan publik wajib memberikannya dengan melihat apakah dalam surat permintaan tersebut sudah terdapat alasan dan tujuannya. Demikian juga dengan DPA yang merupakan patron bagi badan publik untuk melaksanakan pembangunan fisik ataupun non fisik dan merupakan bagian sangat penting dari tujuan penyelenggaraan fungsi pemerintah daerah yang diwujudkan dalam bentuk realisasi hasil pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat. Publik berhak tahu sejauh mana hasil pembangunan sebuah daerah telah dilaksanakan karena hal tersebut dijamin oleh UU KIP yang menjelaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan Badan Publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik.
[4.40] Menimbang bahwa daftar nama penerima hibah daerah (DNPHD) merupakan bagian dari informasi yang dikelola oleh badan publik yang bersifat teknis dimana dalam DNPHD terdapat nama-nama penerima dana hibah yang diberikan dengan berbagai pertimbangan dan persyaratan sehingga pemerintah daerah memiliki tata cara atau kriteria tersendiri dalam memberikan danah hibah tersebut, disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang terkait
sehingga secara tidak langsung pemerintah daerah memiliki kebijakan tersendiri dalam pemberian dan penyalurannya. Adalah hal yang mustahil apabila setiap kelompok masyarakat atau masyarakat itu sendiri yang mengajukan permintaan dana hibah, secara otomatis langsung diberikan tetapi harus melalui mekanisme dan persyaratan tertentu sehingga pemerintah daerah melalui Bupati mengeluarkan kebijakannya dalam bentuk surat keputusan penunjukan penerima dana hibah. Adanya surat keputusan ini merupakan hasil keputusan Badan Publik dan pertimbangannya dan hal ini dijamin kedudukannya pada pasal 11 ayat (1) huruf b UU KIP yang menyatakan Badan Publik wajib menyediakan Informasi Publik setiap saat yang meliputi hasil keputusan Badan Publik dan pertimbangannya.
Apabila masyarakat hendak mengetahui nama-nama penerima dana hibah maka badan publik daerah harus siap melayani karena nama-nama penerima dana hibah merupakan hasil keputusan Bupati yang tertuang dalam surat keputusan beserta pertimbangannya.
[4.41] Menimbang bahwa alasan dan tujuan dari Pemohon sebagaimana menjadi fakta dipersidangan disebutkan adalah untuk diketahui dan merupakan sarana pengawasan terhadap penyelenggaraan negara, maka terhadap hal ini Majelis Komisioner memberikan pandangannya.
Pasal 4 ayat (3) UU KIP
Setiap Pemohon Informasi Publik berhak mengajukan permintaan Informasi Publik disertai alasan permintaan tersebut.
[4.42] Menimbang bahwa alasan dari Pemohon mengajukan permintaan informasi ke Termohon adalah untuk diketahui sehingga untuk menguraikan alasan tersebut Majelis mencoba mengambil pijakan dengan terlebih dahulu mendefinisikan kata mengetahui berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, dimana pengertian kata mengetahui bermuara dari kata tahu yang artinya mengerti sesudah melihat sehingga kata mengetahui diartikan memaklumi, menyaksikan. Selanjutnya dalam permintaan informasi yang diajukan oleh Pemohon kepada Termohon dimana Pemohon meminta salinan atas seluruh informasi yang diminta. Kata salinan berarti Pemohon meminta secara fisik sehingga korelasi antara mengetahui
dengan salinan menurut Majelis Komisioner adalah belum melengkapi.
Selanjutnya jika melihat tujuan dari Pemohon adalah hanya untuk mengetahui saja berarti jika Termohon memberikan informasi dalam bentuk lisan atau ringkasan secara tertulis maka hal tersebut telah dianggap bahwa Pemohon sudah mengetahui dan kewajiban Termohon sudah dipenuhi. Atas dasar inilah Majelis berpendapat bahwa salinan informasi yang diminta oleh Pemohon dapat tidak diberikan untuk dikuasai secara fisik namun cukup disampaikan secara lisan oleh Termohon dan hal ini sudah memenuhi unsur permintaan informasi.
[4.43] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [4.36] sampai dengan [4.42], Majelis Komisioner berpendapat bahwa seluruh informasi yang dimohonkan oleh Pemohon merupakan informasi yang bersifat terbuka namun tidak wajib diberikan dalam bentuk penguasaan fisik.
[4.44] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan Majelis pada paragraf [3.26]
sampai dengan [4.32] perihal batas waktu pengajuan permohonan sengketa informasi menyatakan permohonan a quo tidak memenuhi jangka waktu yang telah ditetapkan dalam Undang-undang KIP, Juncto Perki No.1 Tahun 2013 tentang PPSIP.
5. KESIMPULAN
[5.1] Berdasarkan seluruh uraian, pertimbangan dan fakta hukum yang telah dijelaskan, Majelis Komisioner berkesimpulan :
1. Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat berwenang untuk menerima, memeriksa dan memutus permohonan a quo.
2. Pemohon memiliki kedudukan hukum atau legal standing untuk mengajukan permohonan dalam sengketa a quo.
3. Termohon memiliki kedudukan hukum atau legal standing sebagai Termohon dalam sengketa a quo.
4. Batas waktu pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik tidak memenuhi jangka waktu yang ditentukan pada Pasal 36 ayat (2) UU KIP.
5. Seluruh informasi yang dimohonkan oleh Pemohon merupakan informasi yang bersifat terbuka.
6. AMAR PUTUSAN
[6.1] Menyatakan bahwa Permohonan Pemohon tidak dapat diterima.
[6.2] Menyatakan bahwa Permohonan Pemohon menyangkut informasi tentang : a. rencana kerja dan anggaran (RKA) dan dokumen pelaksanaan anggaran
(DPA) di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju, untuk tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019; dan b. daftar nama penerima hibah daerah (DNPHD) di Dinas Pendidikan,
Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju tahun anggaran 2016 sampai dengan tahun anggaran 2019
merupakan informasi yang bersifat terbuka.
Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Majelis Komisioner oleh Andi Fachriady Kusno selaku Ketua merangkap Anggota, Andi Ishaq Abdullah selaku Anggota Majelis Pertama dan Rahmat selaku Anggota Majelis Kedua, pada hari Senin, tanggal 5 Agustus 2019 dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari ini, Rabu tanggal 7 Agustus 2019 oleh Majelis Komisioner yang nama-namanya tersebut diatas, dengan didampingi oleh Bonewati sebagai Panitera Pengganti serta dihadiri oleh Pemohon dan Termohon.
KETUA MAJELIS
ttd
(ANDI FACHRIADY KUSNO)
ANGGOTA MAJELIS
ttd
(ANDI ISHAQ ABDULLAH)
ANGGOTA MAJELIS
ttd
(RAHMAT)
PANITERA PENGGANTI
ttd
(BONEWATI)
Untuk salinan Putusan ini sah dan sesuai dengan aslinya, diumumkan kepada masyarakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan ketentuan pasal 59 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
Dikeluarkan di Mamuju
Pada Tanggal : 9 Agustus 2019 PANITERA
DARMAWATI JUSUF