LK 3.1 Menyusun Best Practices
Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)
Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran
Lokasi UPT SATUAN PENDIDIKAN SMPN 4 NGULING Lingkup Pendidikan Sekolah Menengah Pertama
Tujuan yang ingin
dicapai Meningkatkan Motivasi Belajar dan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa
Penulis Nuzlul Ramdhan Galih Saputro
Tanggal 27 September 2022
Situasi:
Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.
Pandemi Covid-19 yang melanda sejak 2020 hingga saat ini membuat motivasi belajar siswa menurun.
Pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat pola belajar siswa tidak terbentuk dengan baik. Dari hasil eksplorasi penyebab masalah penulis menemukan bahwa rendahnya motivasi belajar siswa dikarenakan:
1. Hasil belajar yang kurang memotivasi siswa 2. Kurangnya guru menggunakan karakteristik
siswa yang berbeda-beda untuk menjadi dasar pembelajaran
3. Daya dukung orang tua dan lingkungan sekitar Pandemi Covid-19 juga membuat PJJ menjadi kurang bermakna bagi kehidupan siswa. Sehingga menjadikan kemampuan berfikir kritis siswa tidak terbentuk. Dari hasil eksplorasi penyebab masalah penulis dapat menyimpulkan bahwa keterbatasan pengetahuan umum siswa dikarenakan:
1. Terbatasnya pengalaman yang dimiliki siswa 2. Materi pembelajaran yang jauh dari jangkauan
siswa
3. Rendahnya literasi dan numerasi siswa
Kondisi di atas menjadi perhatian penulis untuk melakukan tindakan dalam pembelajaran. Kemudian penulis coba tuangkan dalam Best Practice model STAR agar menjadi bahan kaji bagi para guru lainnya. Karna kondisi ini seringkali dirasakan sebagian besar sekolah.
Pada praktik ini penulis memiliki peran dan tanggung jawab dalam pelaksanaan aksi. Penulis memulai aksi dengan menganalisis kondisi. Kemudian dilanjutkan dengan mencari solusi berdasarkan diskusi dan kajian literasi. Kesimpulan dalam pencarian solusi tersebut ditindaklanjuti menjadi rencana aksi yang dijadikan sebagai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), media, modul, dan LKPD.
Tantangan :
Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan
Setelah mengidentifikasi latar masalah pada situasi pembelajaran yang ada, penulis menemui tantangan dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Tantangan yang ditemui dalam meningkatkan motivasi belajar siswa diantaranya:
tersebut? Siapa saja
yang terlibat, 1. Pembelajaran yang masih berpusat pada guru menjadikan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sangat rendah. Sebagian besar guru hanya menerapkan model pembelajaran ceramah. Sehingga siswa merasa bosan dalam menjalani proses pembelajaran.
2. Kondisi jasmani dan rohani siswa yang kurang siap belajar seringkali mengganggu jalannya pembelajaran. Seringkali ditemui siswa yang tidak siap belajar mengganggu teman lainnya.
Sehingga membuat motivasi belajar siswa lainnya terganggu.
Tantangan dalam meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa juga ditemui oleh penulis. Beberapa tantangan yang ditemui diantaranya:
1. Kurangnya penerapan model pembelajaran inovatif dikarenakan sebagian besar guru hanya menggunakan model pembelajaran ceramah.
Guru berfokus pada target penyeampaian materi. Sehingga siswa pun kurang diberi kesempatan untuk terlibat dan berdiskusi. Hal tersebut membuat siswa mengalami kesulitan dalam membangun pemahaman dalam pembelajaran.
2. Kurangnya penggunaan media pembelajaran yang inovatif dikarenakan sebagian besar guru hanya menggunakan buku paket dan papan tulis dalam pembelajaran. Sehingga siswa kesulitan untuk merekonstruksikan pemahaman materi yang disampaikan guru.
3. Rendahnya keaktifan siswa dalam bertanya dikarenakan siswa malu untuk bertanya.
Seringkali siswa merasa malu untuk bertanya karena ketakutannya oleh reaksi dari teman- temannya yang cenderung mengolok-olok.
Siswa juga takut memberikan pertanyaan yang salah dan jauh dari konteks pembelajaran.
Aksi ini melibatkan Kepala Sekolah, Guru, dan ahli.
Kepala Sekolah berperan sebagai penasihat dalam pelaksanaan aksi. Guru berperan sebagai rekan sejawat dalam berdiskusi untuk mencari analisis kondisi dan alternatif solusi. Ahli berperan dalam memberikan pandangan terhadap kondisi dan memberikan alternatif solusi berdasarkan keahliannya.
Aksi :
Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/
bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya
Pada aksi ini penulis melakukan beberapa langkah yang akan dilaksanakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Langkah pertama yang dilakukan adalah menganalisis kondisi dan situasi yang terjadi dalam pembelajaran. Hal tersebut seperti yang tertuang dalam kolom situasi di atas. Kemudian penulis menentukan masalah yang akan dijadikan sasaran aksi. Pada tahap ini penulis menentukan masalah yang akan menjadi sasaran
atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini
aksi yaitu: 1) Rendahnya motivasi belajar siswa, 2) rendahnya kemampuan berfikir kritis siswa.
Penulis menentukan solusi yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah yang telah dipilih. Solusi yang telah ditentukan diantaranya:
a. Solusi yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah rendahnya motivasi belajar siswa diantaranya:
1) penggunaan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dengan model Problem Based Learning (PBL) berbantu media pembelajaran audio visual
2) Pemberian Ice Breaking
3) Pemberian reward kepada siswa
b. Solusi yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah rendahnya kemampuan berfikir kritis siswa diantaranya:
1) Merancang pembelajaran kreatif menggunakan model
Problem Based Learning (PBL) dengan metode Studi kasus
2) Penggunaan multimedia pembelajaran berbasis masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari
3) Memberikan porsi keterlibatan siswa yang lebih besar dalam pembelajaran
.
Penulis kemudian mengembangkan solusi yang telah ditentukan ke dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran ini penulis merancang 2 perangkat pembelajaran yang didapat diterapkan untuk 2 siklus pembelajaran. Materi yang dipilih adalah 1) Pluralitas dan 2) Kegiatan Ekonomi sub Kegiatan Konsumsi yang ada di kelas 8. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dengan model Problem Based Learning (PBL) dengan metode Studi Kasus menggunakan media pembelajaran video dan Google Maps serta dibuat handout materi pembelajaran yang relevan. Produk yang dihasilkan siswa diantaranya rancangan slogan tentang Pluralitas dan analisis konsumsi ikan di Kabupaten Pasuruan. Hasil dari pengembangan perangkat pembelajaran merupakan perencanaan aksi yang dilakukan untuk melaksanakan praktik pengalaman lapangan.
Praktik pengalaman lapangan dilakukan 2 siklus masing-masing 1 pertemuan. Pada saat praktik pengalaman lapangan penulis tidak dapat melaksanakan rancangan perangkat pembelajaran kedua dikarenakan masukan dari dosen pengampu dan guru pamong yang tidak relevan dengan materi pada semester yang sedang berjalan. Sehingga perangkat pembelajaran kedua mengalami pergantian dengan menggunakan materi Konflik dan Integrasi Sosial model Problem Based Learning
(PBL) dengan metode Studi Kasus menggunakan media pembelajaran video. Pada perangkat pembelajaran kedua siklus 2 ini produk yang ingin dihasilkan oleh siswa adalah rancangan slogan tentang solusi konflik dan integrasi sosial. Praktik pengalaman lapangan dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus 2022 untuk siklus pertama dan 12 September 2022 untuk siklus kedua.
Dalam pelaksanaannya siswa masih kesulitan dalam mencerna permasalahan dikarenakan belum terbiasanya siswa dalam pelaksanaan PBL. Namun antusias siswa tetap tinggi dalam mengerjakan LKPD. Hasilnya siswa mampu membuat rancangan slogan dengan baik beserta alasannya. Pada siklus pertama siswa terlalu serius untuk memberikan variasi dan estetika rancangan slogan sehingga menghabiskan waktu. Oleh karena itu pada siklus kedua penulis merubah konsep pembuatan rancangan slogan yang hanya cukup berupa tulisan rancangan slogan saja.
Aksi ini melibatkan Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Kependidikan. Sumber daya yang dibutuhkan dalam aksi yang dilaksanakan adalah perangkat pembelajaran, proyektor, laptop, HVS, pensil warna, dan makan ringan.
Refleksi Hasil dan dampak
Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-
langkah yang dilakukan?
Apakah hasilnya efektif?
Atau tidak efektif?
Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan?
Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut
Aksi ini berdampak dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan kemampuan berfikir kritis siswa. Namun pada langkah praktik pengalaman lapangan siklus kedua mengalami perubahan perangkat pembelajaran dikarenakan materi yang tidak sesuai dengan semester yang sedang berjalan. Sehingga mengalami perubahan materi menjadi Konflik dan Integrasi Sosial dan tetap menggunakan Model Problem Based Learning dengan metode Studi Kasus. Penyesuaian dilakukan pada penggunaan media yang sebelumnya Google Maps berganti menggunakan video, dan juga merubah produk yang sebelumnya menganalisis maps menjadi merancang slogan solusi konflik dan integrasi sosial.
Hasil dari aksi sangat efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan kemampuan berfikir kritis siswa. Karna siswa banyak terlibat dalam pembelajaran.
Siswa juga tertarik dengan kasus yang diberikan dikarenakan sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Sehingga siswa bersemangat dalam berdiskusi untuk merancang slogan tentang Pluralitas, dan solusi Konflik dan Integrasi Sosial.
Respon dari Kepala Sekolah dan Guru sangatlah positif. Harapannya aksi ini dapat ditindaklanjuti menjadi produk visualisasi berupa poster yang dapat disebarkan di lingkungan sekolah. Sehingga dapat menjadi praktik baik bagi siswa lain di luar pembelajaran yang dilakukan.
Pembelajaran dari keselurahan proses aksi yang dapat penulis petik adalah bahwa pembelajaran yang akan guru berikan haruslah disusun dengan baik berdasarkan analisis kondisi dan kajian yang matang. Kemudian
ditindaklanjuti dengan analisis solusi dan kajian terhadap masalah yang telah ditemukan. Hal tersebut dapat menjadi kerangka berfikir awal yang matang dalam menyusun perencanaan pembelajaran. Sehingga proses perencanaan pembelajaran dapat disusun dengan penuh pertimbangan dari hasil analisis dan kajian yang telah dilakukan. Penerapan rencana pembelajaran pun akan begitu mudah karna telah tersusun dengan baik. Sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Rencana Tindak Lanjut
(RTL) Hasil aksi praktik baik ini akan ditindaklanjuti sebagai sebuah produk visualisasi yang akan disebarkan di lingkungan sekolah. Sehingga ide baik yang dibuat siswa dapat berdampak kepada seluruh warga sekolah.
Aksi praktik baik ini akan dipublikasikan di dalam website guruberbagi agar dapat menjadi inspirasi guru- guru dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran.
Selain itu, bagi penulis aksi praktik baik ini membuka perspektif penulis dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Penulis menyikapi hasil dari aksi ini sebagai sebuah dasar dalam melaksanakan pembelajaran dari mulai tahap perencanaan hingga tahap evaluasi.