Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK
Bagi suatu perusahaan laba merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Laba perusahaan tersebut dipengaruhi oleh volume penjualan, harga jual, pendapatan serta biaya-biaya. Untuk mempertahankan tingkat laba yang diinginkan perusahaan harus melakukan suatu analisis yang dapat memberi tahu kapan perusahaan akan mencapai titik break even (impas), yaitu suatu titik dimana perusahaan tidak mengalami keuntungan maupun kerugian. Dengan mengetahui titik ini, perusahaan dapat mengetahui pada titik mana perusahaan dapat mulai menikmati labanya.
Analisis break even didasarkan pada suatu konsep variabilitas biaya, yaitu harus ada pemisahan identifikasi dan perhitungan yang realistis antara biaya tetap dan biaya variabel. Karena itu perlu dilakukan suatu pemisahan biaya untuk benar-benar membedakan mana yang termasuk biaya tetap maupun biaya variabel.
Dengan mengetahui titik impas, perusahaan dapat membuat strategi yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang. Selain itu dengan melakukan analisis break even ini perusahaan dapat memperkirakan akibat dari berbagai alternatif kondisi atau kebijakan yang akan dihadapi atau ditempuh.
Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai titik impas dalam rupiah sebesar Rp 401.731.643,- dan dalam unit sebesar 50.677 unit untuk produk biji plastik. Selama periode bulan April 2005 – bulan Maret2006 tingkat penjualan perusahaan yaitu sebesar 332.000 unit, jadi perusahaan sudah berproduksi diatas tingkat BEP.
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI
ABSTRAK iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR x
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang Penelitian 1
1.2. Identifikasi Masalah 3
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 3
1.4 Kegunaan Penelitian 4
1.5. Metode Penelitian 4
1.5.1.Teknik Pengumpulan Data 5
1.5.2. Jenis dan Sumber Data 6
1.6. Kerangka Pemikiran 7
1.7. Lokasi dan Waktu Penelitian 9
BAB II LANDASAN TEORI 10
2.1. Manajemen Keuangan 10
2.1.1. Pengertian Manajemen Keuangan 10
2.1.2. Fungsi Manajemen Keuangan 11
Universitas Kristen Maranatha
2.3. Klasifikasi Biaya 13
2.3.1. Biaya Tetap (Fixed Cost) 14
2.3.2. Biaya Variabel (Variable Cost) 16 2.3.3. Biaya Semivariabel (Semivariable Cost) 18 2.4. Metode Pemisahan Biaya Semivariabel 20 2.4.1. The High and Low Points Method 21
2.4.2. The Scattergraph Method 21
2.4.3. The Method of Least Square 22
2.5. Laba 24
2.5.1. Pengertian Laba 24
2.5.2. Manfaat Perencanaan Laba 25
2.5.3. Jenis-jenis Laba 25
2.6. Analisis Break Even Point 26
2.6.1. Pengertian Analisis Break Even Point 26 2.6.2. Manfaat Analisis Break Even Point 27 2.6.3. Metode Perhitungan Break Even Point 28
2.7. Contribution Margin 31
BAB III OBJEK PENELITIAN 33
3.1. Data Umum Perusahaan 33
3.2. Struktur Organisasi 35
3.3. Ketenagakerjaan 38
3.4. Proses Produksi 40
Universitas Kristen Maranatha
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 42
4.1. Penggolongan Biaya Yang Dilakukan Oleh Perusahaan 42 4.1.1. Pemisahan Biaya-biaya ke dalam
Biaya Tetap, Biaya Variabel, dan Biaya Semivariabel 45 4.1.2. Pemisahan Biaya Telepon dan Fax ke dalam
Biaya Tetap dan Variabel 47 4.1.3. Pemisahan Biaya Listrik dan Air ke dalam
Biaya Tetap dan Variabel 49 4.1.4. Total unsur Biaya Tetap dan Biaya Variabel
dari Biaya Semivariabel 52 4.2. Perhitungan Break Even Point Perusahaan 53 4.3. Peranan Break Even Point dalam
Perencanaan Laba Perusahaan 54
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 55
5.1. Kesimpulan 55
5.2. Saran-Saran 58
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Data Biaya Perusahaan PEKA GROUP Periode April 2005-Maret 2006 42 Tabel 4.2 Pengklasifikasian Biaya-Biaya 43
Tabel 4.3 Data Penjualan Perusahaan PEKA GROUP Periode April 2005-Maret 2006 43
Tabel 4.4 Data Biaya Tetap Perusahaan PEKA GROUP Periode April 2005-Maret 2006 44
Tabel 4.5 Data Biaya Variabel Perusahaan PEKA GROUP Periode April 2005-Maret 2006 44
Tabel 4.6 Data Biaya Semivariabel Perusahaan PEKA GROUP Periode April 2005-Maret 2006 44
Tabel 4.7 Data Volume Produksi dan Biaya Telepon dan Fax Periode April 2005-Maret 2006 46
Tabel 4.8 Data Volume Produksi dan Biaya Listrik dan Air Peridoe April 2005-Maret 2006 49
Tabel 4.9 Unsur Biaya Tetap dan Biaya Variabel (dalam rupiah) 51 Tabel 4.10 Total Biaya Tetap (dalam rupiah) 51
Tabel 4.11 Total Biaya Variabel (dalam rupiah) 51 Tabel 4.12 Biaya Variabel perunit (dalam rupiah) 52 Tabel 4.13 Laba Perusahaan 53
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Biaya Tetap 15 Gambar 2.2. Biaya Variabel 17
Universitas Kristen Maranatha BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang sedang melakukan pembangunan di berbagai bidang untuk mengejar ketinggalannya dengan negara lain. Salah satu aspek pembangunan yang giat dilaksanakan oleh negara kita yaitu bidang industri. Industri Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sejak diberlakukannya perdagangan bebas, tidak sedikit investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Mereka beranggapan bahwa situasi di Indonesia akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.
Dengan semakin banyaknya perusahaan asing yang bertumbuh di Indonesia membuat persaingan antar perusahaan semakin ketat. Untuk itu perusahaan harus menetapkan strategi-strategi dalam bersaing dengan perusahaan-perusahaan sejenis, hal ini dilakukan agar perusahaan tersebut dapat bertahan hidup.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan perusahaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan usahanya yaitu dengan menerapkan strategi yang tepat, salah satunya adalah dengan melakukan perencanaan laba yang tepat.
Universitas Kristen Maranatha oleh karena itu pihak manajemen harus merencanakan dan mencapai laba yang ditargetkan agar dapat dikatakan sebagai manajemen yang sukses.
Tujuan perusahaan diadakannya perencanaan laba adalah: 1. Sebagai tolak ukur dalam pencapaian laba.
2. Memudahkan pihak manajemen untuk mencapai tujuan perusahaan. 3. Memungkinkan pihak manajemen untuk bekerja secara efektif dan
efisien.
Adapun laba yang dimaksud dipengaruhi oleh harga jual, biaya produksi, dan volume penjualan.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam usahanya untuk meningkatkan laba adalah:
Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses produksi. Meningkatkan kapasitas produksi.
Memperbaiki strategi pemasaran Memperbaiki pengambilan keputusan
Melalui perencanaan labalah tujuan dan target yang ditetapkan oleh perusahaan dapat tercapai. Dan analisa BEP digunakan untuk mengetahui dimana tingkat pendapatan yang diterima sama dengan biaya yang dikeluarkan, sehingga dapat ditentukan berapa volume pendapatan dari penjualan untuk memperoleh keuntungan tertentu.
Atas dasar pemikiran tersebut penulis mengambil judul “Analisis Break Even Point Sebagai Alat Perencanaan Laba Perusahaan Pusat
Universitas Kristen Maranatha 1.2 Identifikasi Masalah
Dalam pengambilan keputusan seringkali pihak manajemen mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan, biaya-biaya, dan volume penjualan minimum agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Salah satu cara yang paling efektif untuk membantu manajemen sehubungan dengan hal diatas adalah dengan menggunakan analisis break even point. Hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah perusahaan telah menggolongkan biaya-biaya ke dalam biaya tetap, biaya variabel, dan biaya semivariabel?
2. Berapa besar kuantitas break even point pada periode April tahun 2005 sampai Maret tahun 2006?
3. Bagaimana peranan analisis break even point sebagai alat perencanaan laba di perusahaan Pusat Daur Ulang Plastik, Besi dan Logam PEKA GROUP?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat menempuh ujian sidang sarjana ekonomi manajemen serta untuk mempelajari analisis break even point sebagai alat perencanaan laba di peusahaan PEKA GROUP. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui apakah perusahaan telah menggolongkan biaya-biaya ke dalam biaya tetap, biaya variabel, dan biaya semivariabel.
Universitas Kristen Maranatha 3. Untuk mengetahui bagaimana peranan analisis break even point dalam
menentukan tingkat penjualan yang diinginkan perusahaan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Kegunaan Praktis
Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan masukan untuk lebih meningkatkan pengendalian barang jadi yang akan datang.
2. Kegunaan Akademis
Hasil penelitian ini merupakan sarana untuk belajar dan mencoba mengembangkan metode analisis break even point untuk mengetahui berapa besar laba yang akan diperoleh perusahaan sehingga perusahaan dapat mengendalian berapa tingkat penjualan.
1.5 Metode Penelitian
Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini bersifat deskriftif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang mengemukakan keadaan perusahaan berdasarkan data-data yang diperoleh untuk kemudian di analisis.
Universitas Kristen Maranatha mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.
Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus, yaitu suatu penelitian mengenai status subyek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik. Nazir (1988:66). Sedangkan menurut Suharsimi (1998:310) penelitian deskriftif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya mengenai suatu variabel, gejala atau keadaan. Oleh karena itu dalam penelitian ini tidak ditentukan sebuah hipotesis sesuai dengan pengertian umum tujuan dari penelitian deskriftif.
1.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mengumpulkan data-data dengan menggunakan teknik-teknik yang biasa dilakukan dalam penelitian, yaitu dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder.
Adapun teknik-teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Studi Literatur
Adalah penelitian yang bersifat teoritis dengan cara meneliti literatur, jurnal, majalah dan sumber-sumber lainnya. Dengan tujuan untuk lebih memahami landasan teoritis yang dipakai sebagai awal penulisan skripsi. b. Penelitian Lapangan
Universitas Kristen Maranatha Pabrik. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan data primer yang dibutuhkan.
1.5.2 Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini penulis mempergunakan data primer dan data sekunder sebagai berikut:
1. Data Primer
Adalah data-data yang diperoleh secara langsung di tempat penelitian, yaitu dengan mengadakan peninjauan langsung pada lokasi Pabrik PEKA GROUP dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi. Serta berhubungan langsung dengan yang diteliti yaitu bagian produksi, yang dilakukan dengan cara:
• Wawancara dengan pihak-pihak yang terkait, yaitu Manajer Divisi Plastik. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
• Observasi secara langsung, melihat kondisi proses produksi biji plastik pada gudang PEKA GROUP.
• Melihat dan mempelajari dokumen-dokumen perusahaan serta mendapatkan data-data dalam jumlah produksi barang jadi biji plastik dan jumlah biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan persediaan barang jadi biji plastik.
2. Data Sekunder
Universitas Kristen Maranatha 1.6 Kerangka Pemikiran
Keberhasilan suatu perusahaan dapat diukur dari laba yang diperoleh oleh perusahaan tersebut. Laba juga dapat menjadi jaminan kelangsungan hidup perusahaan. Maka dari itu pihak manajemen suatu perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor yang berhubungan dengan laba dengan lebih seksama. Faktor-faktor tersebut adalah penetapan harga jual, volume penjualan, dan biaya-biaya yang terjadi. Perusahaan dapat melakukan beberapa cara agar dapat meningkatkan laba antara lain dengan:
1. Meningkatkan volume penjualan dimana harga jual produk dan biaya produksi yang terjadi tetap.
2. Menurunkan biaya produksi dengan tetap mempertahankan kualitas, volume penjualan, dan harga jual tetap.
3. Meningkatkan harga jual serta berusaha mempertahankan volume penjualan dan biaya produksi dalam keadaan tetap.
Kaitan antara faktor-faktor tersebut di atas adalah jika volume penjualan meningkat maka laba akan meningkat. Jika biaya yang dikeluarkan dapat diturunkan sedangkan harga jual tetap, maka laba akan meningkat. Untuk meningkatkan laba, perusahaan harus mampu meningkatkan volume penjualan dan mampu menekan biaya secara bersamaan.
Universitas Kristen Maranatha Break even point menurut Horngren memiliki pengertian sebagai
berikut (Horngren, Foster, dan Datar, 2003:62):
“Break even point is that quantity output sold at which total revenues
equal total cost – that is, the quantity of output sold at which the
operating income is zero.”
Menurut Carter dan Usry, pengertian analisis break even point adalah sebagai berikut (Carter dan Usry, 2002:20-14):
“Break even point is the point at which cost and revenue are equal.”
Dengan analisis break even point ini dapat dilihat berapa volume penjualan minimum yang dapat menutup semua biaya perusahaan sehingga perusahaan dapat memperkirakan jumlah laba yang dapat dicapai dengan harga jual dan biaya yang dikeluarkan. Dengan analisis ini perusahaan juga dapat mengendalikan biaya yang dikeluarkan dan berpeluang memperoleh laba yang semakin tinggi.
Oleh karena itu perusahaan perlu mengetahui pada volume berapa pendapatan penjualan dapat menutup total biaya untuk dapat menghindari terjadinya kerugian. Ini akan sangat membantu manajemen dalam menentukan kebijakan penjualan. Dengan melakukan penggolongan biaya yang tepat, perusahaan akan lebih mampu dalam memperkirakan jumlah dan komposisi produksi yang akan dijual maupun harga jual secara tepat. Berdasarkan uraian diatas, penulis mengajukan hipotesis bahwa analisis break even point dapat membantu manajemen dalam menentukan kebijakan
Universitas Kristen Maranatha Menurut Gitman (2000:490), manfaat dari analisis break even point adalah sebagai berikut:
“Break even analysis is used to determine the level of operations
necessary to cover all operating costs and to evaluate the profitability
associated whit various level of sales.”
Menurut Harbgren, kegunaan dari analisis break even point (Horngren, Foster, dan Datar, 2003:67-68) adalah untuk menghindari kerugian dan analisis break even point memberitahu manajer berapakah tingkat penjualan yang harus dicapai untuk menghindari kerugian.
Adapun kegunaan langsung dari analisis break even point ini antara lain adalah untuk:
1. Menentukan harga. 2. Menentukan penjualan.
3. Menentukan keuntungan atau profit.
1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Universitas Kristen Maranatha
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemgumpulan data, observasi, serta dilakukan
pembahasan, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Di perusahaan PEKA GROUP selama ini belum menggolongkan
biaya-biaya ke dalam biaya-biaya tetap, biaya-biaya variabel, dan biaya-biaya semivariabel. Setelah
dilakukan observasi dan wawancara dengan pihak perusahaan, penulis
menyimpulkan pengklasifikasian biaya-biaya tersebut sebagai berikut:
No. Jenis Biaya Biaya
Tetap
Biaya Variabel
Biaya Semivariabel
1 Biaya bahan baku
2 Biaya tenaga kerja langsung
3 Biaya trasportasi
4 Biaya telephone dan fax
5 Biaya gudang
6 Biaya pemeliharaan mesin
7 Biaya listrik dan air
Yang termasuk dalam biaya semivariabel dari daftar biaya di perusahaan
PEKA GROUP adalah biaya telepon dan fax dan biaya listrik dan air. Dalam
biaya telepon ada unsur biaya tetap yang harus dibayarkan meskipun telepon
tersebut tidak digunakan, yaitu biaya abonemen. Selain itu, biaya telepon
mengandung unsur variabel, yaitu jumlah yang harus dibayarkan untuk setiap
pulsa yang digunakan dan besarnya tergantung pada banyaknya pemakaian
Universitas Kristen Maranatha
akan semakin besar pula. Sedangkan dalam biaya listrik dan air ada unsur
biaya tetap yaitu adanya tarif minimum pemakaian walupun tidak ada
pemakaian listrik dan air. Selain itu juga, biaya listrik dan air mengandung
unsur variabel, yaitu jumlah yang harus dibayarkan untuk setiap watt dan
meteran air yang digunakan dan besarnya tergantung pada banyaknya
pemakaian listrik dan air.
2.
Hasil perhitungan
break even point
di perusahaan PEKA GROUP untuk
tahun 2006 adalah sebagai berikut:
Produk Penjualan (unit)
Harga Jual
Break Even Point (Rp)
Break Even Point (unit) Bijih
Plastik 332,000 Rp8,000 Rp401,731,643 50,677
Jadi
Break even
perusahaan tercapai pada tingkat penjualan sebesar Rp
401.731.643,- atau sebanyak 50.677 unit, dimana perusahaan tidak
mengalami kerugian maupun laba pada tingkat BEP tersebut.
3.
Dengan melakukan analisis
break even point
, perusahaan dapat mengetahui
berapa besar titik impas yang terjadi. Oleh sebab itu perusahaan harus
memproduksi biji plastik diatas titik break even point yaitu 50.677 unit,
Universitas Kristen Maranatha
5.2
Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, penulis mencoba
untuk mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1.
Perusahaan sebaiknya melakukan pencatatan akuntansi dengan benar,
sehingga biaya-biaya yang terjadi dapat diklasifikasikan ke dalam biaya tetap
dan variabel.
2.
Perusahaan dapat menggunakan analisis
break even point
sebagai dasar
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA
Anthony, R.N., David F. Hawkins, Kenneth A. Merchant. (1999). Edisi 10.
Accounting: Text and Cases. Singapore: McGraw-Hill.
Blocher, E.J., Kung H. Chen and Thomas W. Lin (1999). Edisi internasional.
Cost Management: A Strategic Emphasis. New York: McGraw-Hill.
Carter, W.K., Milton F. Usry. (2002). Edisi 13. Cost Accounting. USA: Thomson
Learning.
Hansen, D.R., Maryanne M. Mowen. (2003). Edisi 4. Cost Management:
Accounting and Control. USA: South-Western.
Heizer, J., Barry Render. (2004). Edisi 7. Operating Management. USA: Upper
Saddle River.
Hilton, Ronald W. (1999). Edisi 4. Managerial Accounting. USA: McGraw-Hill.
Horngren, C.T., Srikant M. Datar and George Foster. (2003). Edisi 11.
Cost Accounting: A Managerial Emphasis. Singapore: Prentice-Hall.
Mulyadi. (2000). Akuntasi Manajemen: Konsep, Manfaat, dan Rekayasa.
Jakarta: Salemba Empat.
Polemeni, R.S., Frank J. Fabozzi, and Arthur H. Adelberg. (1991). Edisi 3. Cost
Accounting Concepts and Applocation for Managerial Decision Making.
Singapore: McGraw-Hill.
Rayburn, L.G. (1996). Cost Accounting: Using a Cost Management Approach.
Universitas Kristen Maranatha Sundjaja, R.S., Inge Barlin. (2001). Edisi Indonesia. Manajemen Keuangan II.
Jakarta: Prenhallindo.
Weihrich, H. and Harold Koontz. (1994). Edisi 10. Management: A Global