• Tidak ada hasil yang ditemukan

Visualisasi 3D Lahan Rencana Proyek Untuk Perhitungan Volume Galian dan Timbunan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Visualisasi 3D Lahan Rencana Proyek Untuk Perhitungan Volume Galian dan Timbunan."

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

VISUALISASI 3D LAHAN RENCANA PROYEK UNTUK

PERHITUNGAN VOLUME GALIAN DAN TIMBUNAN

Arief A NRP : 0021039

Pembimbing : Ir. Maksum Tanubrata., MT

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL

BANDUNG

ABSTRAK

Salah satu kegiatan penting di dalam tahap perencanaan proyek adalah penghitungan volume pekerjaan yang nantinya akan dipakai sebagai dasar perghitungan/estimasi biaya proyek, dan salah satu item pekerjaan penting, terutama di dalam perencanaan dengan lahan kerja luas adalah pekerjaan galian dan timbunan. Salah satu cara yang dapat dipergunakan adalah dengan membuat visualisasi 3D.

Perencanaan proyek mencakup kegiatan pengukuran dan pemetaan, serta pengontrolan terhadap proyek. Salah satunya, yaitu pengontrolan proyek terhadap biaya, tergantung pada volume pekerjaan. Pengukuran dan pemetaan dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai lahan yang akan dikerjakan untuk proyek, dimana hasilnya dapat digunakan untuk menghitung volume galian dan timbunan

Data kasus dibuat dengan mengambil data proyek komplek villa dengan lokasi di Lembang, beserta perhitungan kontur, dan perhitungan volume galian dan timbunan.

Analisa data dengan visualisasi 3D dibuat dengan cara memindahkan elevasi titik-titik pembentuk gambar bidang datar menuju elevasi sebenarnya. Pengolahan data dengan menggunakan hasil visualisasi 3D untuk membuat gambar kontur, potongan, serta penggunaan hasilnya untuk perhitungan volume galian dan timbunan.

Setelah melakukan pengolahan data dengan menggunakan hasil visualisasi 3D, didapatkan hasil yang sama untuk gambar kontur, sedangkan untuk hasil perhitungan volume galian dan timbunan secara total, didapatkan hasil terdekat dengan perbedaan 7.68% untuk galian dan 3.65% untuk timbunan, dibandingkan dengan hasil perhitungan pihak perencana (perhitungan dengan dasar yang sama) dan diketahui, perhitungan dengan garis kontur yang lebih rapat, hasilnya akan mendekati perhitungan dengan dasar garis hubung titik.

(2)

DAFTAR ISI

SURAT KETERANGAN TUGAS AKHIR i

SURAT KETERANGAN SELESAI TUGAS AKHIR ii

ABSTRAK iii

DAFTAR LAMPIRAN xvi

BAB 1 PENDAHULUAN 1

2.2.2 Fungsi Pengontrolan Proyek 8

2.2.3 Pengontrolan Biaya 8

(3)

2.3 Pengukuran dan Pemetaan dalam perencanaan proyek teknik

sipil 8

2.3.1 Pengukuran dan pemetaan 8

2.3.2 Pengukuran dan Pemetaan dalam perencanaan proyek

teknik sipil 9

2.4 Dasar pengukuran dan pemetaan 10

2.4.1 Pengukuran dasar 10

2.4.2 Kerangka dasar Pengukuran 11

2.4.3 Pengukuran titik kontrol 12

2.4.4 Pemasangan Patok Pengukuran 14

2.4.5 Pengukuran Pengikatan 16

2.4.6 Pelaksanaan Pengukuran 17

2.4.7 Metode Tachimetri dengan Theodolite 18

2.5 Kontur 19

2.5.1 Definisi garis kontur 19

2.5.2 Pengukuran garis kontur 20

2.5.3 Penggambaran garis kontur 21

(4)

2.7.2 Volume 25

2.8 Visualisasi 3D 26

2.8.1 Kontur dengan visualisasi 3D 27

2.8.2 Penampang dengan visualisasi 3D 32

(5)

DAFTAR ISTILAH

Azimuth : Sudut datar diukur searah gerak jarum jam, menyatakan

besar sudut antara garis meridien dengan suatu garis yang

terbentuk oleh dua titik

Datum : Tinggi sebarang titik, yang digunakan sebagai acuan

Elevasi : Tinggi, jarak dalam arah vertikal, diukur dari suatu datum.

Interpolasi : Penyisipan suatu titik diantara 2 titik yang telah diketahui

pada suatu kurva

Topografi : uraian (yang digambarkan dengan peta) tentang suatu

daerah

Tachimetri : Metode Optis, teropong pada theodolite untuk pengamatan

jarak dengan benang2 datar atau dengan batang bentangan

Triangulasi : Pengukuran suatu daerah dengan merencanakan, membuat

kerangka berbentuk segitiga

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pengukuran Jarak ... 10

Gambar 2.2 Pengukuran Beda Tinggi... 11

Gambar 2.3 Jaringan Triangulasi... 12

Gambar 2.4 Tingkatan Pengukuran ... 13

Gambar 2.5 Pola Jaringan Dasar... 14

Gambar 2.6 Jaringan Dasar Berantai ... 14

Gambar 2.7 Tugu Batu... 16

Gambar 2.8 Titik Triangulasi... 17

Gambar 2.9 Metode Tachimetri ... 19

Gambar 2.10 Bidang Datar Tak Beraturan ... 23

Gambar 2.11 Cara Offset dengan Interval Tidak Tetap... 24

Gambar 2.12 Metode Awal dan Akhir... 26

Gambar 2.13 Metode Visualisasi 3D ... 27

Gambar 2.14 Menentukan Titik Potong... 28

Gambar 2.15 Menghubungkan Titik Potong ... 28

Gambar 2.16 Menghaluskan Titik Kontur ... 29

Gambar 2.17 Proses Penduplikasian Gambar ... 30

Gambar 2.18 Gambar Garis Kontur Hasil Duplikasi... 30

Gambar 2.19 Gambar zoom suatu area dari Gambar 2.18, digunakan untuk menjelaskan proses penyesuaian gambar garis kontur menjadi gambar datar... 31

Gambar 2.20 Tampak Perspektif dari Gambar 2.19 ... 31

(7)

Gambar 2.21 Gambar Garis Kontur +c dan +d setelah penyesuaian. Gambar

garis kontur menjadi seperti gambar datar, sehingga dapat

digunakan untuk membuat potongan ... 32

Gambar 2.22 Penentuan titik potong sumbu potongan dengan garis hubung

bidang datar... 33

Gambar 2.23 Pengambaran garis tegak lurus yang memotong garis pembentuk

visualisasi 3D ... 34

Gambar 2.24 Membuat garis penghubung titik-titik potong tersebut = garis

penampang lahan... 34

Gambar 2.25 Penentuan Titik Potong sumbu potongan dengan garis kontur yang

telah di-set sebagai gambar datar. Pada bagian ujung, titik potong

terjadi akibat perpotongan garis sumbu dengan garis hubung

bidang datar... 35

Gambar 2.26 Pengambaran garis tegak lurus yang memotong garis kontur asli

yang memiliki elevasi yang dicari. Pada bagian ujung, garis tegak

lurus memotong garis hubung pembentuk visualisasi 3D ... 36

Gambar 2.27 Membuat garis penghubung titik-titik potong tersebut = garis

penampang lahan... 36

Gambar 2.28 Titik Pusat dan Arah Sumbu Koordinat Layar Kerja sesuai dengan

Sistem Koordinat Global... 37

Gambar 2.29 Titik Pusat dan Arah Sumbu Koordinat Layar Kerja setelah

dipindah, Bidang XY menempel pada bidang potongan ... 38

Gambar 2.30 Sumbu Koordinat Layar Kerja setelah diputar ... 38

Gambar 2.31 Membuat Garis Sejajar Sumbu Potongan ... 40

(8)

Gambar 2.32 Pusat Sumbu Koordinat Layar Kerja Dipindah Ke Ujung Garis

Sejajar... 40

Gambar 2.33 Tampak Gambar 2.32 dari sudut pandang lain ... 41

Gambar 2.34 Bidang Potongan setelah perputaran... 41

Gambar 2.35 Tampak Gambar 2.34 dari sisi lain. Bidang potongan terproyeksi pada Bidang XY Sistem Koordinat Global... 42

Gambar 2.36 Proyeksi Dilengkapi Keterangan ... 42

Gambar 3.1 Peta Lokasi Lahan... 44

Gambar 3.2 Data Titik Lahan ... 45

Gambar 3.3 Data Elevasi Titik... 46

Gambar 3.4 Site Plan ... 48

Gambar 3.5 Jarak Antar Titik ... 50

Gambar 3.6 Sketsa Perhitungan Kontur... 51

Gambar 3.7 Penandaaan Titik Kontur pada garis hubung titik 2-titik 3... 54

Gambar 3.8 Menghubungkan titik-titik dengan elevasi yang sama... 56

Gambar 3.9 Garis Kontur dengan tidak menampilkan garis hubung antar titik ... 57

Gambar 3.10 Garis kontur setelah diperhalus dengan Spline ... 58

Gambar 3.11 Sumbu potongan ... 60

Gambar 3.12 Perhitungan Potongan ... 62

Gambar 3.13 Area Ujung Potongan... 63

Gambar 3.14 Perhitungan interpolasi untuk ujung potongan (area 1 dan 2) ... 64

Gambar 3.15 Potongan 1... 66

Gambar 3.16 Potongan 2... 67

(9)

Gambar 3.17 Potongan 3... 68

Gambar 3.18 Perhitungan Volume ... 69

Gambar 4.1 Hasil Visualisasi 3D Lahan Rencana ... 73

Gambar 4.2 Hasil Visualisasi 3D Lahan Rencana (setelah rendering) ... 74

Gambar 4.3 Hasil Proses Penggambaran Kontur Langkah Pertama dan Kedua-1 Penentuan Titik Potong, 2 Menghubungkan titik potong dengan garis ... 75

Gambar 4.4 Hasil Proses Penggambaran Kontur Langkah Pertama dan Kedua dengan tidak menampilkan garis pembentuk lahan ... 76

Gambar 4.5 Hasil Proses Penggambaran Kontur Langkah Terakhir- 3 Menghaluskan Gambar dengan Spline. Hasil Penggambaran Kontur Major... 77

Gambar 4.6 Hasil Penggambaran Kontur Minor ... 78

Gambar 4.7 Hasil Penggambaran Kontur Major-Minor ... 79

Gambar 4.8 Hasil Pengukuran Jarak titik yang mempunyai elevasi +0.5 m, +0.0 m dan -0.5 m terhadap titik 2... 80

Gambar 4.9 Penentuan sumbu potongan untuk perhitungan Volume ... 82

Gambar 4.10 Sumbu potongan untuk penggambaran dengan dasar garis hubung titik ... 83

Gambar 4.11 Sumbu potongan untuk penggambaran dengan dasar garis Kontur Major ... 84

Gambar 4.12 Sumbu potongan untuk penggambaran dengan dasar garis Kontur Major-Minor... 85

(10)

Gambar 4.13 Proyeksi Potongan a (hasil penggambaran dengan dasar garis

hubung titik)... 86

Gambar 4.14 Proyeksi Potongan b (hasil penggambaran dengan dasar garis

hubung titik)... 87

Gambar 4.15 Proyeksi Potongan c (hasil penggambaran dengan dasar garis

hubung titik)... 88

Gambar 4.16 Proyeksi Potongan d (hasil penggambaran dengan dasar garis

hubung titik)... 89

Gambar 4.17 Proyeksi potongan a (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major) ... 90

Gambar 4.18 Proyeksi potongan b (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major) ... 91

Gambar 4.19 Proyeksi potongan c (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major) ... 92

Gambar 4.20 Proyeksi potongan d (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major) ... 93

Gambar 4.21 Proyeksi Potongan a (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major-Minor)... 94

Gambar 4.22 Proyeksi Potongan b (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major-Minor) ... 95

Gambar 4.23 Proyeksi Potongan c (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major-Minor) ... 96

Gambar 4.24 Proyeksi Potongan d (hasil penggambaran dengan dasar garis

Kontur Major-Minor) ... 97

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Hasil Perhitungan Kontur +0.5 m ... 52

Tabel 3.2 Hasil Perhitungan Kontur +0.0 m ... 52

Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Kontur -0.5 m ... 53

Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Kontur -1.0 m ... 53

Tabel 3.5 Hasil Perhitungan Kontur -1.5 m ... 54

Tabel 3.6 Perhitungan Elevasi Ujung Potongan... 65

Tabel 3.7 Perhitungan Volume Galian dan Timbunan ... 70

Tabel 4.1 Perhitungan Volume Galian dan Timbunan (Perhitungan Luas diambil dari Proyeksi Potongan dengan dasar Garis Hubung Titik) ... 99

Tabel 4.2 Perhitungan Volume Galian dan Timbunan (Perhitungan Luas diambil dari Proyeksi Potongan dengan dasar garis Kontur Major) ... 100

Tabel 4.3 Perhitungan Volume Galian dan Timbunan (Perhitungan Luas diambil dari Proyeksi Potongan dengan dasar garis Kontur Major-Minor) ... 101

Tabel 4.4 Perbedaan Hasil Perhitungan Volume Total ... 102

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Visualisasi 3D… 109

Lampiran B Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Kontur …………131

Lampiran C1 Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Potongan_Garis

Hubung Titik………..164

Lampiran C2 Prosedur dan Proses Kerja dengan

AutoCad-Potongan_Kontur……….. 172

Lampiran C3 Prosedur dan Proses Kerja dengan

AutoCad-Potongan_Proyeksi………182

(13)

110

Proses no 1

Penjelasan: Pembuatan layer baru, klik tombol layers seperti terlihat pada gambar

(14)

111

Proses no 1

Penjelasan: Pada Layer Properties Manager tulis layer baru yang akan dibuat,

(15)

112

Proses No 2

(16)

113

Proses No 3

(17)

114

Proses No 3

(18)

115

Proses No 3

(19)

116

Proses No 3

(20)

117

Proses No 4

Penjelasan: Copy antar layer, dimulai dengan perintah copy seperti tertera pada

(21)

118

Proses No 4

(22)

119

Proses No 4

(23)

120

Proses No 4

(24)

121

Proses No 4

Penjelasan: Pengubahan properties layer dari garis hubung titik datar menjadi

(25)

122

Proses No 4

(26)

123

Proses No 4

(27)

124

Proses No 4

Penjelasan: Setelah objek dipindahhkan kembali ke tempat semula, pengcopyan

(28)

125

Proses No 5

(29)

126

Proses No 5

(30)

127

Proses No 5

Penjelasan: Blok seluruh gambar, dan gunakan perintah stretch untuk pemindahan

(31)

128

Proses No 5

(32)

129

Proses No 5

(33)

130

Proses No 5

Penjelasan: Apabila dilihat dengan zoom, tampak perbedaan antara garis hubung

titik datar (warna hitam) dan garis hubung titik 3D (warna hijau sian).

(34)

Lampiran B Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Kontur 131

Prosedur Kerja:

1. Pembuatan New Layer.(Bantu Buat Kontur, Kontur Major, Kontur Minor,

Kontur Major Spline, Kontur Minor Spline)

2. Copy antar layer (Garis Hubung Titik Datar >>> Bantu Buat Kontur)

3. Layer “Bantu Buat Kontur” dijadikan block.

4. Memindahkan block “Bantu Buat Kontur” pada elevasi yang ingin dibuat

garis konturnya. Block “Bantu Buat Kontur” ini akan berpotongan dengan

Garis Hubung Titik 3D (Hasil Proses Visualisasi 3D)

5. Bekerja pada Layer “Kontur Major”, menghubungkan titik-titik

perpotongan tersebut satu sama lain. Garis hubung titik tersebut adalah

garis kontur.

6. Copy antar layer ( Kontur Major >>> Kontur Major spline)

7. Bekerja pada Layer “Kontur Major Spline”, Garis hubung titik tersebut

dihaluskan.

8. Pembuatan New Layer ( Kontur Major Spline Datar, Kontur Minor Spline

Datar)

9. Copy antar Layer ( Kontur Major Spline >>>> Kontur Major Spline Datar)

10. Bekerja pada Layer “Kontur Major Spline Datar”, Memindahkan

garis-garis kontur yang ada menuju elevasi 0. Sebagai contoh, garis-garis kontur +0.5

m dipindahkan menuju 0, garis kontur –0.5 m dipindahkan menuju 0.

(35)

132

Proses No 1

(36)

133

Proses No 2

Penjelasan: copy antar layer, dari layer “Garis Hubung Titik Datar” menjadi layer

(37)

134

Proses No 2

(38)

135

Proses No 3

Pnejelasan: Membuat gambar pada layer Bantu Buat Kontur, sebagai Block,

dilakukan dengan meng-klik tulisan draw, dilanjutkan pada tulisan block dan

(39)

136

Proses No 3

Penjelasan: Tampilan perintah untuk membuat block. Yang harus dilakukan

pertaman adalah memilih objek (gambar) yang akan dijadikan sebagai block,

(40)

137

Proses No 3

Penjelasan: Gambar yang akan dijadikan sebagai Block adalah seluruh gambar

(41)

138

Proses No 3

Penjelasan: setelah pemilihan dan pengambilan objek yang akan dijadikan sebagai

block, pastikan tulisan yang tertera pada sebelah bawah tombol select object

(42)

139

Proses No 4

Penjelasan: Memindahkan Block “Bantu Buat Kontur” menuju elevasi yang akan

(43)

140

Proses No 4

Penjelasan: Pemindahan block “Bantu Buat Kontur” menuju elevasi –1.0 untuk

(44)

141

Proses No 4

Penjelasan: Hasil setelah pemindahan. Pada gambar akan terlihat perpotongan

Garis Hubung Titik 3D dan garis-garis Bantu Buat Kontur pada elevasi yang akan

dijadikan kontur. Dalam gambar ini, titik perpotongan garis itu terletak pada

(45)

142

Proses No 5

Penjelasan: Pembuatan garis hubung titik-titik perpotongan garis dengan perintah

(46)

143

Proses No 5

Penjelasan: Membuat garis hubung titik-titik perpotongan (intersection) dari satu

(47)

144

Proses No 5

Penjelasan: Hasil pembuatan garis hubung titik-titik perpotongan (garis

(48)

145

Proses No 5

(49)

146

Proses No 5

Penjelasan: Hasil seluruh gambar garis kontur untuk elevasi kontur major (+0.5

(50)

147

Proses No 5

Penjelasan: Hasil Penggambaran garis Kontur Minor ( elevasi +0.25 m, 0.25 m,

(51)

148

Proses No 6

Penjelasan: copy antar layer dari layer “Kontur Major” ke layer “Kontur Major

Spline”, juga dilakukan untuk layer “Kontur Minor” ke layer “Kontur Minor

(52)

149

Proses No 7

Penjelasan: Bekerja pada layer “Kontur Major Spline“. Menghaluskan gambar

garis kontur dengan spline, ketik pada bagian command: perintah Pedit untuk

(53)

150

Proses No 7

(54)

151

Proses No 7

(55)

152

Proses No 8

Penjelasan: Pembuatan New Layer (Kontur Major Spline Datar dan Kontur Minor

(56)

153

Proses No 9

Penjelasan: copy antar layer dari layer “Kontur Major Spline” ke layer “Kontur

(57)

154

Proses No 10

Penjelasan: Bekerja pada layer “Kontur Major Spline Datar”. Pengubahan sudut

(58)

155

Proses No 10

Penjelasan: Apabila dilakukan zoom untuk melihat lebih jelas, akan tampak bahwa

garis kontur (warna jingga) tidak memotong garis batas lahan (warna biru muda)

(59)

156

Proses No 10

Penjelasan: Penyesuaian dilakukan dengan perintah move. Penyesuaian dilakukan

dengan memindahkan garis kontur tersebut agar menjadi gambar datar (memiliki

(60)

157

Proses No 10

Penjelasan: hasil penyesuaian, garis-garis kontur memiliki elevasi yang sama

(61)

158

Proses No 11

Penjelasan: Pembuatan tulisan untuk keterangan elevasi dengan perintah text pada

(62)

159

Proses No 11

(63)

160

Proses No 11

(64)

161

Proses No 11

(65)

162

Proses No 11

(66)

163

Proses No 11

(67)

Lampiran C1 Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Potongan_Garis Hubung Titik 164

Prosedur Kerja:

(Dalam Prosedur dan proses kerja ini, yang digunakan sebagai contoh adalah

potongan a, untuk potongan lainnya juga dikerjakan dengan mengikuti proses

yang sama)

1. Pembuatan New Layer (Bantu Buat Potongan a, Bantu Buat Potongan b,

Bantu Buat Potongan c, Bantu Buat Potongan d, Potongan a, Potongan b,

Potongan c, Potongan d).

2. Bekerja pada layer “Bantu Buat Potongan a”, Buat garis tegak lurus

bidang datar dari titik perpotongan garis hubung titik datar dengan sumbu

potongan a. Garis tegak lurus ini akan memotong garis hubung titik 3D.

3. Bekerja pada layer “Potongan a”, Membuat garis yang menghubungkan

titik perpotongan garis tegak lurus-garis hubung titik 3D (juga diakukan

pada potongan lainnya), garis hubung ini menggambarkan bentuk

(68)

165

Proses No 1

Penjelasan: Pembuatan New Layer. (Bantu Buat Potongan a, Bantu Buat Potongan

b, Bantu Buat Potongan c, Bantu Buat Potongan d, Potongan a, Potongan b,

(69)

166

Proses No 2

Penjelasan: Bekerja pada layer “Bantu Buat Kontur a”, dengan perintah line

membuat garis tegak lurus bidang datar pada perpotongan sumbu potongan

(70)

167

Proses No 2

Penjelasan: Hasil penggambaran garis tegak lurus pada setiap titik pertemuan

garis sumbu potongan dengan garis hubung titik bidang datar. Garis–garis tegak

(71)

168

Proses No 3

Penjelasan: Bekerja pada layer “Potongan a”. Dengan perintah line, ditarik garis

dari titik perpotongan garis tegak lurus (warna merah) dan garis hubung titik 3D

(warna hijau sian), dan dihubungkan dengan titik perpotongan garis tegak lurus

(72)

169

Proses No 3

Penjelasan: Menghubungkan titik titik perpotongan garis tegak lurus dengan garis

(73)

170

Proses No 3

Penjelasan: hasil penghubungan titik-titik perpotongan = garis yang

(74)

171

Proses No 3

Penjelasan: Setelah layer “Garis Hubung Titik Datar” dan Layer “Garis Hubung

Titik 3D” dinonaktifkan, dapat dilihat dengan lebih jelas, gambar bentuk

penampang lahan pada potongan a.

(75)

Lampiran C2 Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Potongan_Kontur 172

Prosedur Kerja:

(Dalam Prosedur dan proses kerja ini, yang digunakan sebagai contoh adalah

potongan a dengan dasar garis kontur major, untuk potongan lainnya dan juga

dengan dasar garis kontur major-minor, juga dikerjakan dengan mengikuti proses

yang sama)

1. Pembuatan New Layer (Bantu Buat Potongan a, Bantu Buat Potongan b,

Bantu Buat Potongan c, Bantu Buat Potongan d, Potongan a, Potongan b,

Potongan c, Potongan d).

2. Bekerja pada layer “Bantu Buat Potongan a”, Buat garis tegak lurus

bidang datar dari titik perpotongan garis hubung titik datar dengan sumbu

potongan a. Garis tegak lurus ini akan memotong garis hubung titik 3D.

3. Bekerja pada layer “Potongan a”, Membuat garis yang menghubungkan

titik perpotongan garis tegak lurus-garis hubung titik 3D (juga diakukan

pada potongan lainnya), garis hubung ini menggambarkan bentuk

(76)

173

Proses No 1

Penjelasan: Pembuatan New Layer. (Bantu Buat Potongan a, Bantu Buat Potongan

b, Bantu Buat Potongan c, Bantu Buat Potongan d, Potongan a, Potongan b,

(77)

174

Proses No 2

(78)

175

Proses No 2

Penjelasan: Bekerja pada layer “Bantu Potongan a“ Membuat garis tegak lurus

pada titik pertemuan garis sumbu potongan dengan garis hubung titik bidang datar

(79)

176

Proses No 2

Penjelasan: Membuat garis tegak lurus pada titik pertemuan garis sumbu potongan

(80)

177

Proses No 2

Penjelasan: Hasil pembuatan garis tegak lurus pada titik pertemuan garis sumbu

potongan dengan garis kontur major datar dan pada ujung potongan pada titik

(81)

178

Proses No 3

Penjelasan: Bekerja pada layer “potongan a”, dengan perintah line, membuat garis

yang menghubungkan titik-titik perpotongan garis tegak lurus dan hasil kontur

major spline, atau pada ujung, pada titik pertemuan garis tegak lurus dengan hasil

(82)

179

Proses No 3

Penjelasan: Membuat garis hubung pada titik-titik perpotongan garis kontur dan

(83)

180

Proses No 3

(84)

181

Proses No 3

Penjelasan: Setelah layer “Garis Hubung Titik Datar” dan layer “Garis Hubung

Titik 3D” dinonaktifkan, dapat dilihat dengan lebih jelas, gambar garis

penampang lahan pada potongan a (untuk potongan lain dan dengan dasar garis

kontur yang lebih rapat, juga dikerjakan dengan cara yang sama)

(85)

Lampiran C3 Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Potongan_Proyeksi 182

Prosedur Kerja:

(Dalam Prosedur dan proses kerja ini, yang digunakan sebagai contoh adalah

potongan a dengan dasar garis hubung titik 3D, untuk potongan lainnya dan juga

dengan dasar garis kontur minor atau kontur major-minor, juga dikerjakan dengan

mengikuti proses yang sama)

1. Memindahkan dan memutar arah pusat sumbu koordinat layer kerja,

sehingga bidang YZ layar kerja menempel pada bidang potongan .

2. Membuat garis sejajar sumbu potongan

3. Memindahkan pusat sumbu ke salah satu ujung dari garis tersebut

4. Memutar gambar potongan tersebut, sehingga gambar bidang potongan

seakan-akan berputar 900 atau -900 dengan garis sejajar sebagai porosnya,

dan hasilnya, seakan-akan bidang potongan tersebut terproyeksi pada

bidang XY pada Sistem Koodinat Global.

(86)

183

Proses No 1

Penjelasan: Menggunakan perintah New UCS, untuk memindahkan dan memutar

(87)

184

Proses No 1

Penjelasan: Hasil perpindahan pusat sumbu layar kerja, bidang XY menempel

(88)

185

Proses No 1

Penjelasan: Hasil perputaran 900 atau -900 dengan poros sumbu Y, sedemikian

rupa sehingga, bidang YZ sumbu layar kerja menempel pada bidang potongan

(89)

186

Proses No 2

Penjelasan: Membuat garis sejajar sumbu potongan, paralel dengan suatu jarak

diantara kedua garis (Garis sejajar sumbu ini dimaksudkan berfungsi sebagai

(90)

187

Proses No 3

Penjelasan: Dengan menggunakan perintah New UCS, pusat sumbu layar kerja

(91)

188

Proses No 4

Penjelasan: memutar bidang potongan yang akan diproyeksikan sebesar 900 atau –

900 dengan menggunakan perintah rotate dengan pusat sumbu layar kerja sebagai

(92)

189

Proses No 4

(93)

190

Proses No 4

Penjelasan: Hasil perputaran dilihat dari sudut pandang lain, hasil ini adalah hasil

(94)

191

Proses No 5

(95)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bagi suatu proyek, perencanaan merupakan satu tahapan penting yang

harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pada tahapan ini, semua pihak yang

terlibat di dalamnya dituntut mampu membuat suatu perencanaan yang lengkap,

efektif, efisien dan tentunya ekonomis mengenai proyek yang akan dikerjakan,

yang mana hasil dari kegiatan perencanaan ini akan dilaksanakan dalam tahap

selanjutnya yaitu tahap pelaksanaan konstruksi.

Salah satu kegiatan penting dalam perencanaan proyek adalah

penghitungan volume pekerjaan yang nantinya akan dipakai sebagai dasar

penghitungan/estimasi biaya proyek, dan salah satu item pekerjaan yang harus

(96)

2

diperhatikan di dalam perencanaan proyek yang melibatkan suatu lahan kerja

yang luas dan keadaaan topografi yang beragam seperti pada sebuah proyek

transportasi, proyek pemukiman, dsb, adalah pekerjaan volume dan galian.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghitung volume pekerjaan

galian dan timbunan suatu pelaksanaan proyek adalah dengan membuat dan

mempergunakan visualisasi 3D dari lahan yang akan digunakan untuk proyek,

seiring kemajuan teknologi komputerisasi, AutoCad sebagai salah satu program

komputer yang umum digunakan dalam dunia konstruksi dan proyek dapat

dimanfaatkan untuk membuat suatu visualisasi 3D dari lahan rencana proyek.

1.2 Maksud dan Tujuan Penulisan

Maksud dan tujuan penulisan tugas akhir ini adalah:

1. Membuat visualisasi 3D dari suatu contoh perencanaan proyek,

dilanjutkan dengan pembuatan peta kontur, dan juga tampak potongan.

2. Melakukan perhitungan volume ‘Galian dan Timbunan’ dengan

melibatkan hasil visualisasi 3D.

1.3 Ruang Lingkup Penulisan

Penulisan masalah dibatasi sebagai berikut:

1. Program komputer utama yang digunakan untuk penulisan masalah ini

adalah program AutoCad.

2. Visualisasi yang akan dibuat dalam penulisan ini hanya

menggambarkan bentuk permukaan lahan pada lokasi rencana proyek

(97)

3

3. Data perencanaan proyek yang akan digunakan dalam penulisan ini

adalah perencanaan proyek komplek villa di Lembang.

4. Perhitungan volume galian dan timbunan dilakukan terbatas pada

rencana pavement dan selokan, dengan membuat sumbu potongan pada

sisi-sisi pavement rencana dan sisi-sisi selokan rencana. Kemudian

pada gambar penampang/potongan tersebut akan dilakukan

perhitungan luas.area galian dan luas area timbunan terhadap suatu

baseline tertentu, dan hasil luas tersebut diinputkan untuk perhitungan

volume galian dan timbunan yang dikerjakan dengan End Area

Method.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan tugas akhir ini secara garis besar adalah sebagai

berikut:

Bab 1: Pendahuluan, berisi: latar belakang masalah, maksud dan tujuan,

ruang lingkup dan sistematika penulisan.

Bab 2: Tinjauan Pustaka, berisi teori-teori yang mendukung penulisan

tugas akhir ini; definisi proyek , teori mengenai perencanaan

proyek, teori mengenai pengukuran dan pemetaan, dan lain-lain.

Bab 3: Data Kasus, berisi data dan perhitungan dari pihak perencana.

Bab 4: Analisa Data, berisi pengolahan data dengan membuat visualisasi

3D memakai AutoCad.

(98)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan cara pengolahan dan hasil analisis data, dapat diperoleh

kesimpulan sebagai berikut:

1. Garis kontur hasil penggambaran dengan menggunakan hasil

Visualisasi 3D, memiliki bentuk yang sama seperti dengan

menggunakan perhitungan secara manual.

2. Perhitungan Volume Total Galian dan Timbunan dengan

menggunakan hasil visualisasi 3D yang dilakukan dengan 3 (tiga) cara

perhitungan dengan dasar perhitungan ynag berbeda satu sama lain

memberikan hasil sebagai berikut:

(99)

106

Volume total hasil perhitungan “cara 1” dari penggambaran

potongan dengan dasar garis hubung titik; Volume Galian Total =

23.14764 m3 dan Volume Timbunan Total = 327.4543 m3.

Volume total hasil perhitungan “cara 2” dari penggambaran

potongan dengan dasar garis Kontur Major; Volume Galian Total =

20.392 m3 dan Volume Timbunan Total = 311.457 m3.

Volume total hasil perhitungan “cara 3” dari penggambaran

potongan cara dengan dasar garis Kontur Major-Minor; Volume

Galian Total = 22.53296 m3 dan Volume Timbunan Total =

318.8501 m3.

3. Setelah melakukan perbandingan dari seluruh hasil perhitungan

volume galian dan timbunan (secara total), diketahui bahwa

perhitungan dengan dasar perhitungan yang sama, akan memperoleh

hasil yang mendekati (perbedaan volume total hasil perhitungan

Non-visualisasi di Bab 3 dengan volume total hasil perhitungan “cara 2”

dengan visualisasi di Bab 4 , Perbedaan berkisar 3.65 % untuk

timbunan dan 7.68% untuk galian, Kedua perhitungan ini

menggunakan dasar perhitungan yang sama (garis kontur dan dengan

kerapatan yang sama, beda 0.5 m ). Disamping itu diketahui juga

bahwa volume total hasil perhitungan dari penggambaran potongan

dengan visualisasi, dengan menggunakan garis kontur yang lebih rapat,

hasilnya akan semakin mendekati volume total hasil perhitungan

dengan dasar garis hubung titik. Perbedaan volume total hasil

(100)

107

berkisar 2.66% untuk galian dan 2.63 % untuk timbunan, sedangkan

perbedaan volume total hasil perhitungan “cara 2” dengan volume

total hasil perhitungan “cara 1” berkisar 11.90% untuk galian dan 4.89

% untuk timbunan. Penggambaran potongan untuk perhitungan

volume “cara 3” dibuat dengan dasar garis kontur yang lebih rapat

(Kontur Major-Minor, kerapatan = beda 0.25 m) daripada yang dipakai

pada penggambaran potongan untuk perhitungan volume “cara 2”

(Kontur Major, kerapatan = beda 0.5 m).

5.2 Saran

Berikut adalah beberapa saran yang dapat diberikan, antara lain:

1. Untuk mendapatkan hasil perhitungan volume galian dan timbunan

yang lebih teliti, terlepas apakah itu dengan perhitungan seperti pada

Bab 3 atau dengan menggunakan hasil visualisasi 3D, disarankan

untuk mengambil potongan dengan jumlah yang lebih banyak.

2. Hasil utama dari visualisasi 3D pada bab 4 adalah bentuk 3D dari

lahan rencana (setelah proses rendering, akan diperoleh tampak yang

bagus, memperlihatkan lekukan dan perbedaan elevasi), dimana hasil

tersebut memuat informasi koordinat dan elevasi dari suatu lahan, yang

mana hal tersebut dibutuhkan untuk suatu perencanaan atau pembuatan

siteplan (arsitektur lahan). Salah satu keuntungan dari hasil visualisasi

ini adalah hasil visualiasi 3D ini dapat digunakan sebagai pengganti

maket (setelah rendering), yang mana hal ini akan sedikit menghemat

(101)

108

DAFTAR PUSTAKA

1. Bachtiar Ibrahim, (2003). Rencana dan Estimate Real of Cost, Bumi Aksara, Jakarta.

2. Dipohusoso, Istimawan, (1996). MANAJEMEN PROYEK DAN KONSTRUKSI, Jilid 1 dan 2, Kanisius, Yogyakarta.

3. Ervianto, Wulfram I, (2002). MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI, Andi Offset, Yogyakarta.

4. George J, Ritz, (1994). Total Construction Project Management, McGraw Hill Inc, Singapore.

5. Hendarsin, Shirley L, (2000). PENUNTUN PRAKTIS PERENCANAAN TEKNIK JALAN RAYA, Politeknik Negeri Bandung-Jurusan Teknik Sipil, Bandung.

6. Jacub Rais, (1978). ILMU UKUR TANAH, Edisi ke 2.

7. Panitia Dep.PUTL-UGM, (1975), ISTILAH TEKNIK SIPIL INGGRIS-INDONESIA, Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta.

8. Suyono Sosrodarsono dan Masayoshi Takasaki, (1997). PENGUKURAN TOPOGRAFI DAN TEKNIK PEMETAAN, Pradnya Paramita, Jakarta.

(102)

Lampiran A Prosedur dan Proses Kerja dengan AutoCad-Visualisasi 3D 109

Prosedur Kerja:

1. Pembuatan layer baru ( Garis Hubung Titik Datar dan Garis Hubung Titik

3D).

2. Menggambar titik koordinat datar (tidak dilakukan karena sudah

merupakan data).

3. Menghubungkan titik-titik datar dengan garis

4. Copy antar layer ( Garis Hubung Titik Datar >>> Garis Hubung Titik 3D )

Gambar

gambar.

Referensi

Dokumen terkait

Ukuran tempurung biji buah kelapa sawit yang telah menjadi limbah yang dihasilkan dari pengolahan unit ripple mill tentunya akan menyulitkan untuk pembuatan

Dari defisini tersebut dapat diketahui bahwa akreditasi perpustakaan sekolah merupakan kegiatan untuk menilai kualitas sebuah perpustakaan sekolah yang dilaksanakan oleh lembaga

Tanggung Jawab Internasional ( International Responsibility ) atau yang sering disebut dengan Tanggung Jawab Negara ( State Responsibility ) dalam hukum Internasional

Dari hasil perhitungan yang telah didapat maka diketahui nilai interval sebesar 8,66 sehingga dapat dilihat distribusi frekuensi nilai pretest kelas kontrol pada tabel berikut

pemasangan box girder ke 2, dilakukan pemfixan posisi, dan dilanjutkan dengan pen-jacking-an pada angker s2 dikedua sisi sekaligus. – Tahapan akhir yaitu dengan pemasangan box

Kedua, dalam kaitannya dengan mutu dan relevansi, adalah bagaimana pendidikan luar sekolah diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas sehingga mampu

Pemilihan metode ini didasarkan pendapat bahwa metode ini menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam pembelajaran di

Tutup kepala berelektroda diuji untuk mengetahui apakah elektroda yang diletakkan pada tutup kepala mampu mengambil sinyal dari kepala subyek. Pengujian dilakukan dengan