KONSTAN: Jurnal Fisika dan Pendidikan Fisika (ISSN.2460-9129) Volume 2, No. 1, September 2016
PENERAPAN STRATEGI MOTIVASIONAL ARCS (ATTENTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, AND SATISFACTION) UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI, AKTIVITAS, DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA DI SMP NEGERI 1DOMPU TAHUN AJARAN 2014/2015
1Muhammad Kafrawi
1Dosen Program Studi Tadris Fisika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan IAIN Mataram
ABSTRAK
Motivasi bagi anak didik merupakan salah satu penentu keberhasilan pembelajaran. Hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran diperoleh data bahwa hasil belajar fisika siswa masih rendah. Guru seringkali dirisaukan dengan kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran yang berlangsung di kelas. Siswa kelihatan bosan dan lesu serta sedikit sekali menggunakan pikiran untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas. Ini menggambarkan bahwa pembelajaran belum mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki siswa sehingga berpengaruh pula pada hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan strategi pengelolaan motivasional ARCS dapat meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar fisika siswa di SMP Negeri 1 Dompu.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dilaksanakan dalam tiga siklus, tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi serta refleksi. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data motivasi belajar, hasil belajar, sertaaktivitas guru dan siswa selama KBM berlangsung. Data motivasi belajar fisika siswa diperoleh dengan cara pengisian angket oleh siswa yang diberikan sebelum dan sesudah pelaksanaan tindakan, data aktivitas guru dan siswa diperoleh dari hasil observasi selama pelaksanaan tindakan, dan data hasil belajar siswa diperoleh dari hasil evaluasi disetiap akhir siklus. Penelitian ini menunjukkan peningkatan motivasi belajar fisika siswaterlihatdari data sebelum pelaksanaan tindakan diperoleh hasil angketyaitu kriteria positif rerata = 2,34 (kurang baik) dan kriteria negatif rerata = 2,32 (kurang baik) kemudian setelah pelaksanaan tindakan diperoleh hasil analisis angket motivasi ARCS yaitu kriteria positif rerata = 4,075 (baik) dan kriteria negatif rerata = 3,57 (baik). Penelitian ini juga menunjukkan peningkatan aktivitas dan hasil belajar fisika siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I diperoleh skor rata-rata aktivitas belajar fisika siswa 17,25 yang berada pada kategori cukup aktif, nilai rata-rata kelas 65,33 dengan ketuntasan klasikal 62,96% , pada siklus II diperoleh skor rata-rata aktivitas belajar fisika siswa 20,50 yang berada pada kategori aktif, nilai rata-rata kelas 68,89 dengan ketuntasan klasikal 74,07 %, dan pada siklus III diperoleh skor rata-rata aktivitas belajar fisika siswa 22,50 yang berada pada kategori aktif, nilai rata-rata kelas 72,74 dengan ketuntasan klasikal 85,19 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pengelolaan motivasional ARCS dapat meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar fisika siswa di SMP Negeri 1 Dompu tahun ajaran 2014/2015.
Kata kunci : Strategi Pengelolaan Motivasional ARCS, Motivasi Belajar, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
Pendidikan memiliki peranan penting dalam upaya menciptakan kehidupan bangsa yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Kemajuan suatu bangsa hanya dapat di capai melalui penataan pendidikan yang baik.Menurut Degeng (2001) pendidikan di Indonesia selalu mendapatkan sorotan yang sangat tajam berkaitan dengan tuntutan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dalam kegiatan pembelajaran, siswa sendirilah yang aktif membangun pengetahuannya.
Hal tersebut sejalan dengan paradigma pendidikan yang merubah orientasi pembelajaran dari pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menuju pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran (Solihatin & Raharjo, 2007). Guru di tuntut untuk menggunakan model yang menarik dan menyenangkan agar siswa tidak merasa bosan dan dapat meningkatnya motivasi belajar sesuai dengan karakteristik siswa. Guru juga harus menggunakan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk dapat berpikir kritis, berpikir kreatif, membuat keputusan dan memecahkan masalah.
10 Motivasi diri bagi anak didik merupakan salah satu penentu keberhasilan pembelajaran.
Guru seringkali dirisaukan dengan kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas. Tidak sedikit siswa yang mengikuti pelajaran kelihatan bosan dan lesu serta sedikit sekali menggunakan pikiran untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas.Tidak jarang pula ditemukan siswa yang dinilai cerdas tetapi mempunyai prestasi yang sedang–sedang saja.Hal ini menggambarkan bahwa pembelajaran belum sepenuhnya mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki siswa sehingga berpengaruh pula pada hasil belajar siswa.
Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran fisika kelas VIII di SMP Negeri 1 Dompu diperoleh data bahwa hasil belajar fisika siswa masih rendah. Ini terlihat dari data nilai ujian IPA Fisika kelas VIII sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Ujian Semester IPA Fisika Kelas VIII Tahun Pelajaran 2014/2015
No Nilai Keterangan
VIIIA VIIIB VIIIC VIIID VIIIE
1 39 – 40 5 4 7 5 5
2 40 – 59 11 10 10 10 11
3 60 - 79 10 10 11 11 9
4 80 - 100 4 4 3 3 5
Jumlah Siswa 30 28 27 29 30
(Sumber : Data nilai guru fisika)
Dari tabel 1 terlihat bahwa persentase ketuntasan belajar fisika untuk kelas VIII belum mencapai Ketuntasan Klasikal Minimum (KKM) yaitu untuk kelas VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, dan VIII E berturut-turut 48%, 50%, 37%,47% dan 49%, sementara target ketuntasan klasikal minimal
85% dari seluruh siswa yang memperoleh nilai
60 pada saat evaluasi. Untuk jumlah ketuntasan belajar yang paling rendah adalah siswa kelas VIII C dimana hanya 10 siswa yang tuntas dan 17 siswa yang tidak tuntas, sedangkan untuk kelas VIIIA, VIIIB, VIIID, dan VIII E lebih dari 10 siswa yang tuntas dengan nilai ketuntasan klasikal melebihi kelas VIIIC, sehingga peneliti memilih kelas VIIIC sebagai subjek penelitian.
Guru sering berasumsi bahwa motivasi belajar siswa merupakan masalah siswa itu sendiri dan siswalah yang bertanggungjawab untuk mengusahakan agar mempunyai motivasi yang tinggi. Namun sebenarnya guru dapat berusaha untuk menetapkan prinsip-prinsip motivasi dalam proses dan cara mengajar. Inilah tugas guru yang paling berat, yakni bagaimana caranya berusaha agar murid mau belajar, dan memiliki keinginan
untuk belajar secara kontinu. Apalagi dalam pelajaran fisika, banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran fisika adalah pelajaran yang sulit, banyak terdapat rumus-rumus dan susah dipahami.
Dalam hal ini peran guru sangat dibutuhkan, dimana guru hendaknya selalu berusaha memperhatikan motivasi belajar siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung agar siswa mudah memahami konsep dan rumus-rumus dalam pembelajaran fisika. Peran guru yang optimal akanmembuat anak didik termotivasi untuk belajar, mengembangkan kemampuan dan kreativitas belajarnya. Siswa akan merasa senang dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas- tugas belajarnya. Pada dasarnya banyak strategi motivasional yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, namun salah satu strategi motivasional yang dianggap baik dan memiliki pijakan teoritis dan empiris yang sudah teruji adalah strategi motivasional ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction). Alasan pemilihan strategi ARCS untuk meningkatkan prestasi belajar siswa karena selama ini berbagai strategi pembelajaran hanya berfokus pada strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian saja, dan tidak/kurang terkait dengan motivasi belajar siswa. Jika motivasi belajar siswa rendah maka strategi pembelajaran yang digunakan tidak mampu meningkatkan hasil belajar secara maksimal (Wena, 2009).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
"Penerapan Strategi Motivasional ARCS untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Dompu Tahun Ajaran 2014/2015".
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitianini adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom research). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan siswa. Pada hakekatnya penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk memperbaiki kegiatan proses belajar mengajar di kelas.
11 B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22Mei sampai 6 Juni 2015 di SMP Negeri 1 Dompu tahun ajaran 2014/2015.
C. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Dompu tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah lima kelas.
Sedangkan pemilihan sampelnya didasarkan pada pertimbangan dilihat dari nilai ketuntasan klasikal yang paling rendah pada tiap kelas yang menjadi sampelnya adalah kelas VIII-C.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling.
D. Teknik Pengumpulan Data
Data yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah:
1. Data motivasi belajar siswa diperoleh dengan menyebarkan angket yang diisi oleh siswa, hasil angket berupa skor dalam skala 1,00 – 5,00 (Harjono, 2008)
2.
Data Hasil Observasi Proses Belajar Mengajar diperoleh melalui pengamatan langsung berupa aktivitas guru dan siswa dalam tiap pertemuan di kelas. Hasil observasi berupa catatan lapangan yang mengacu pada format observasi.3. Data hasil belajar siswa yang diperoleh dengan memberikan tes objektif dalam bentukpilihan gandadengan 4 alternatif jawaban, yaitu bila jawaban benar diberi skor 1 dan bila jawaban salah diberi skor 0. Skor total diperoleh dengan menjumlahkan skor masing- masing butir.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Angket motivasi belajar siswa yang digunakan untuk mengetahui motivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Angket motivasi berisi pernyataan positif dan pernyataan negatif b. Lembar observasi aktivitas belajar guru
dan siswa yang digunakan untuk mengetahui aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung, adapun indikator-indikator yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Indikator-indikator aktivitas siswa
a) Antusiasme dalam mengikuti pembelajaran.
b) Interaksi siswa dengan guru.
c) Interaksi siswa dengan siswa.
d) Kerja sama kelompok.
e) Antusiasme siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan.
f) Partisipasi siswa mengerjakan LKS dan penyampaian hasil kerja
g) Aktivitas siswa dalam pembelajaran h) Partisipasi siswa menyimpulkan hasil
belajar
2) Indikator-indikator aktivitas guru
a) Perencanaan dan persiapan pembelajaran
b) Pendahuluan pembelajaran c) Penyampaian materi pelajaran
d) Pendampingan siswa pada saat diskusi kelompok
e) Pemberian contoh soal dan latihan f) Ketepatan metode mengajar dengan
rencana pembelajaran
g) Kemampuan menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan h) Menutup kegiatan pembelajaran.
c.
Soal dalam bentuk tes objektif tipe pilihan ganda yang diberikan kepada siswa pada setiap akhir siklus yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa.
F. Uji Coba Instrumen
Tes hasil belajar bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman atau penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang telah dipelajari.
Dalam pelaksanaan tes hasil belajar digunakan pilihan ganda (tes objektif). Sebelum menggunakan tes, terlebih dahulu diuji cobakan dikelas. Dari uraian diatas persyaratan yang harus dipenuhi agar tes dapat digunakan sebagai alat ukur yang baik adalah :
Uji Validitas
Menurut Arikunto (2006:168) validitas adalah suatu ukuran yang menujukan tingkat- tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.
Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang di inginkan. Sebuah insrtumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang di teliti secara tepat. Untuk mengetahui validitas butir soal digunakan korelasi product moment dengan persamaan 1 berikut:
} ) ( }{
) ( {
) )(
(
2 2 2
2
X N Y Y
X N
Y X XY r
xyN
(1)12 (Arikunto, 2006)
Keterangan:
= koefisien korelasi product moment
= jumlah skor butir soal = jumlah skor total N = jumlah responden
= jumlah kuadrat skor butir soal = jumlah kuadrat skor total soal
= jumlah hasil kali skor butir soal.
Uji Reabilitas Instrumen
Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan atau keterandalan. Terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji reliabilitas instrumen, salah satunya dengan menggunakan rumus K-R.20 dengan persamaan:
Keterangan:
r11 = koefisien reliabilitas internal seluruh item p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1-p)
∑pq= jumlah hasil perkalian p dan q n = banyaknya item
Ss = standar deviasi dari tes ( standar deviasi adalah akar varians)
(Arikunto, 2009)
Dari hasil perhitungan, akan diperoleh nilai koefisien korelasi r11 agar diketahui tinggi rendahnya koefisien tersebut. Nilai korelasi r11 yang diperoleh dikonsultasikan ke tabel harga kritik r Product Moment dengan taraf signifikan 5 %. Jika harga rhitung > rtabel harga kritik Product Moment, maka harga rhitung (nilai varians butir/varians total) tersebut reliabel.
G. Teknik Analisis Data
1. Teknik analisis data
a. Data motivasi belajar siswaMotivasi belajar siswa dianalisis dengan cara : 1) Menghitung skor angket masing-masing
siswa
2) Menyusun skor angket siswa ke dalam format analisis motivasi belajar
3) Menganalisis tingkat motivasi belajar siswa dengan menggunakan interval sebagai berikut :
1,00 – 1,49 = Tidak Baik
1,50 – 2,49 = Kurang Baik 2,50 – 3,49 = Cukup Baik 3,50 – 4,49 = Baik 4,50 – 5,00 = Sangat Baik
(Harjono, 2008).
b. Data observasi aktivitas
Data aktivitas dalam proses pembelajaran diperoleh melalui pengamatan langsung dalam setiap pertemuan kelas yang diamati oleh observer yang mengacu pada format observasi.
1. Menghitung peningkatan aktivitas belajar siswa
a)
Menentukan skor yang diperoleh siswa dengan ketentuan sebagai berikut:Skor setiap individu tergantung banyaknya perilaku yang dilakukan siswa dari sejumlah indikator yang diamati, yaitu sebagai berikut:
Skor 4 diberikan jika X > 75%
Skor 3 diberikan jika 50% < X ≤ 75%
Skor 2 diberikan jika 25% < X ≤ 50%
Skor 1 diberikan jika X ≤ 25%.
b)
Menghitung skor aktivitas belajar siswa dengan rumus sebagai berikut :n
M
Xi (31)Dengan :
M = Skor total aktivitas belajar siswa
∑Xi = Jumlah skor tiap aspek/indikator n= banyaknya indikator
c)
Menentukan skor maksimal ideal Banyak indikator = 7Banyak deskriptor masing-masing indikator = 4
Skor maksimal setiap deskriptor = 4 Skor minimal setiap deskriptor = 1
Jadi skor maksimal dari setiap indikator = 7 x 4 = 28
Jadi skor minimal dari setiap indikator = 7 x 1 = 7
d)
Menentukan MI dan SDI yang dirumuskan sebagai berikut:MI =
2
1
(Skor maks + Skor min)=
2
1
x (28 + 7)=
2 1
x 35= 17,5 SDI =
6
1
(Skor maks - Skor min)=
6
1
x (28 - 7) rxyX
Y X2
Y2
XY
2 2
1 S
pq S
n
r11 = n (2)
13 = 3,5
e)
Menetukan kriteria aktivitas belajar siswa Menurut Kancana (2007), Kriteria untuk menentukan aktivitas belajar siswa diberikan pada tabel berikut ini :Tabel 2. Pedoman Kriteria Aktivitas Belajar Siswa
Interval Konversi
Nilai Kualifikasi MI + 1,5 SDI ≤ A ≤
MI + 3 SDI
MI + 0,5 SDI ≤ A ≤ MI + 1,5 SDI MI – 0,5 SDI ≤ A ≤ MI + 0,5 SDI MI – 1,5 SDI ≤ A ≤ MI – 0,5 SDI MI – 3 SDI ≤ A ≤ MI – 1,5 SDI
22,75 ≤ A ≤ 28
19,25 ≤ A ≤ 22,75
15,75 ≤ A ≤ 19,25
12,25 ≤ A ≤ 15,75
07,00 ≤ A ≤ 12,25
Sangat Aktif Aktif
Cukup Aktif Kurang Aktif Sangat Kurang aktif
Keterangan : A = Total skor seluruh indikator 2. Data aktivitas guru
Setiap indikator prilaku guru pada penilaiannya mengikuti aturan berikut : a. Menentukan skor aktivitas guru
Skor 4 diberikan Jika semua (3) deskriptor nampak
Skor 3 diberikan Jika (2) deskriptor yang nampak
Skor 2 diberikan Jika (1) deskriptor yang nampak
Skor 1 diberikan Jika tidak ada deskriptor yang nampak
b. Menentukan skor maksimal ideal Banyak indikator = 8
Banyak deskriptor masing-masing indikator = 3
Skor maksimal setiap deskriptor = 4 Skor minimal setiap deskriptor = 1 Jadi skor maksimal dari setiap indikator
= 8 x 4 = 32
Jadi skor minimal dari setiap indikator = 8 x 1 = 8
c. Menentukan MI dan SDI yang dirumuskan sebagai berikut:
MI =
2
1
(Skor maks + Skor min)=
2
1
x (32 + 8)=
2 1
x 40= 20 SDI =
6
1
(Skor maks - Skor min)=
6
1
x (32 - 8)= 4
d. Menetukan kriteria aktivitas guru Menurut Kancana (2007), Kriteria untuk menentukan aktivitas terdapat pada tabel berikut ini :
Tabel 3. Pedoman Kriteria Aktivitas Guru
Interval Konversi
Nilai Kualifikasi MI + 1,5 SDI ≤ A ≤
MI + 3 SDI
MI + 0,5 SDI ≤ A ≤ MI + 1,5 SDI
MI – 0,5 SDI ≤ A ≤ MI + 0,5 SDI
MI – 1,5 SDI ≤ A ≤ MI – 0,5 SDI
MI – 3 SDI ≤ A ≤ MI – 1,5 SDI
26≤ A ≤ 32
22≤ A ≤26
18≤ A ≤22 14≤ A ≤18
8≤ A ≤14
Baik Sekali
Baik
Cukup baik Kurang baik Sangat Kurang baik
Keterangan : A = Total skor seluruh indikator c. Data hasil belajar
1) Ketuntasan klasikal
Untuk mengetahui ketuntasan belajar secara klasikal dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Sudjana, 2005).
%
100
Z
KK X (3)
Keterangan : KK = Ketuntasan Klasikal X = Banyaknya siswa yang memperoleh nilai 60 Z = Banyaknya siswa 2) Nilai rata-rata kelas
Untuk menentukan nilai rata-rata kelas dipergunakan rumus sebagai berikut (Arikunto, 2009).
N
R
X (4)14 Keterangan:
R = Nilai rata-rata kelas
X = Jumlah nilai yang diperoleh siswa
N = Jumlah siswa yang ikut tes
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk mengetahui motivasi belajar dan hasil belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Dompu Tahun ajaran 2014/2015 pada pokok bahasan Getaran dan gelombang dengan penerapan strategi pengelolaan motivasional ARCS. Setelah dilaksanakan penelitian dalam tiga siklus dengan langkah-langkah pokok tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi di akhir siklus, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Siklus I
Tabel 4. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa
Siklus Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Skor Kategori Skor Kategori I 21 Cukup
Baik
17,25 Cukup Aktif
Tabel 5. Data hasil evaluasi belajar siswa Jumlah
Siswa
Banyak Siswa yang Tuntas
Banyak Siswa yang Tidak Tuntas
Persen- tase Ketun- tasan Klasikal
Nilai Rata- rata Siswa
27 17 10 62,96 % 65,33
2. Siklus II
Tabel 6 Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa
Siklus Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Skor Kategori Skor Kategori II 24 Baik 20,50 Aktif
Tabel 7. Data Hasil Evaluasi Belajar Siswa
Jumlah Siswa
Banyak Siswa yang Tuntas
Banyak Siswa yang Tidak Tuntas
Persen- tase Ketun- tasan Klasikal
Nilai Rata- rata Siswa
27 20 7 74,07 % 68,89
3. Siklus III
Tabel 8. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa
Siklus Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Skor Kategori Skor Kategori III 26 Baik 22,50 Aktif
Tabel 9. Data Hasil Evaluasi Belajar Siswa
Jumlah Siswa
Banyak Siswa yang Tuntas
Banyak Siswa yang Tidak Tuntas
Persen- tase Ketun- tasan Klasikal
Nilai Rata- rata Siswa
27 23 4 85,19 % 72,74
Tabel 10. Hasil Analisis Angket Motivasi ARCS Sebelum Tindakan
No Respon Motivasi
Kriteria Kategori
Positif Negatif Positif Negatif 1.
2.
3.
4.
Attention (A) Relevance (R)
Confidence (C)
Satisfaction (S)
2,33 2,24 2,47 2,33
2,19 2,24 2,47 2,37
Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik
Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik
Kriteria positif rerata : 2,34 ( Kurang Baik ) Kriteria negatif rerata : 2,32 ( Kurang Baik )
Tabel 11. Hasil Analisis Angket Motivasi ARCS Sesudah Tindakan
No Respon Motivasi
Kriteria Kategori Positif Negatif Positif Negatif 1.
2.
3.
4.
Attention (A) Relevance (R)
Confidence (C)
Satisfaction (S)
4,04 4,05 4,20 4,01
3,67 3,48 3,45 3,67
Baik
Baik Baik Baik
Baik
Cukup Baik Cukup Baik Baik
Kriteria positif rerata : 4, 075 ( BAIK ) Kriteria negatif rerata : 3,57 ( BAIK )
15 Data hasil penelitian berupa peningkatan hasil belajar, aktivitas belajar, dan motivasi belajar fisika siswa dapat ditunjukkan juga dalam bentuk grafik seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Grafik Peningkatan Motivasi belajar fisika siswa
Motivasi belajar meningkat dengan kriteria positif rerata dan kriteria negatif rerata minimal baik dengan skala nilai 3,50 – 4,49
Gambar 2. Grafik Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa
Kriteria aktif berkisar pada nilai 19,25 ≤ Aktif ≤ 22,75
Gambar 3. Grafik Peningkatan Aktivitas Guru
Kriteria baik berkisar pada nilai 22 ≤ Baik
≤ 26
Gambar 4. Grafik Persentase Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Target ketuntasan klasikal minimum yaitu
≥ 85%
B. Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa pada pokok bahasan Getaran dan gelombang dengan menerapkan strategi pengelolaan motivasional ARCS dalam pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus. Berdasarkan data hasil observasi aktivitas siswa dan hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pembelajaran telah terlaksana. Data tersebut secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 12. Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa dan Hasil Belajar Siswa Siklus I, Siklus II, dan III
Siklus Ke
Rata- rata Aktivitas
Siswa
Ketuntasan Klasikal
Nilai Rata- rata Kelas I
II III
17,25 (Cukup
Aktif) 20,50 (Aktif)
22,50 (Aktif)
62,96%
74,07%
85,19%,
65,33 68,89 72,74
Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa hasil analisis ketuntasan klasikal siswa setelah penerapan strategi pengelolaan motivasional ARCS dalam pembelajaran diperoleh bahwa pada siklus I secara individual, 10 orang atau 37,03% siswa belum tuntas dan 17 orang atau 62,96% siswa 2.34
4.08
2.32
3.57
0 1 2 3 4 5
Sebelum Tindakan Sesudah Tindakan
17.25
20,50 22,50
0 5 10 15 20 25 30
Siklus I Siklus II Siklus III
16 telah tuntas. Dengan demikian, ketuntasan klasikal adalah 62,96%. Ini berarti 62,96% dari seluruh siswa memperoleh nilai 60 dan nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 65,33. Hal ini berarti bahwa siswa yang tuntas pada siklus ini adalah 62,96% dari jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes. Sehingga pada siklus ini, ketuntasan belajar siswa belum dapat memenuhi target kurikulum yang diharapkan yaitu 85%. Faktor yang dominan antara lain karena kemampuan matematika siswa yang kurang sehingga materi yang berupa rumus-rumus membuat siswa kesulitan untuk mengabstraksikannya ke dalam konsep-konsep. Adapun hal-hal yang telah dicapai dengan baik adalah antusias siswa cukup tinggi karena dalam pembelajaran guru menggunakan media-media yang dapat menarik perhatian siswa dengan gambar-gambar dan format tulisan yang bervariasi serta ringkasan materi yang dibuat agar lebih memudahkan siswa dalam belajar sehingga terkesan tidak membosankan. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi siswa dengan nilai 17,25 dengan kategori cukup aktif. Pada siklus II ketuntasan klasikal siswa sebesar 74,07 % dengan nilai rata-rata kelasnya 68,89. Dapat dilihat terjadinya peningkatan dari siklus I, siklus II, hingga siklus III ketuntasan klasikal sudah memenuhi target hal ini disebabkan karena siswa selalu antusias dalam mengikuti pelajaran dengan media-media yang menarik serta tak lupa pula guru memberikan penguatan berupa pujian dan semangat kepada siswa. Selain itu guru membuat ringkasan materi untuk memudahkan siswa dalam memahami materi yang telah diberikan pada awal pertemuan (siklus I), aktivitas siswa pada siklus II dapat dilihat dari hasil observasi siswa dengan nilai 20,50 dengan kategori aktif. Pada siklus III ketuntasan dan nilai rata-rata kelasnya meningkat yaitu ketuntasan klasikalnya sebesar 85,19% dan nilai rata-rata kelasnya sebesar 72,74. Hal ini disebabkan karena memang dari silkus I sampai siklus II siswa sudah antusias begitupun siklus III, sehingga peserta didik mengikuti pelajaran dengan menyenangkan serta hal ini baru dirasakan oleh anak-anak dimana guru-guru mereka lebih banyak megunakan metode ceramah tanpa menggunakan media yang dapat meningkatkan motivasi siswa.
Dilihat dari hasil observasi siswa, aktifitas siswa meningkat yaitu sebesar 22,50 dengan kategori aktif. Dari data ini dapat dilihat terjadinya peningkatan dari siklus ke siklus dan pada siklus III ketuntasan klasikal sudah sesuai dengan standar kurikulum yaitu 85% dan aktifitas siswa juga tergolong aktif.
Sedangakan peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat berdasarkan hasil dari analisis angket motivasi ARCS dimana angket motivasi
diberikan sebelum dan sesudah tindakan. Setelah tindakan diperoleh hasil analisis angket motivasi ARCS yaitu kriteria positif rerata = 4,075 (baik) dan kriteria negatif rerata = 3,57 (baik). Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa motivasi siswa meningkat, dimana sebelum pelaksanaan tindakan, diperoleh hasil dari analisis angket motivasi ARCS yaitu kriteria positif rerata = 2,34 (kurang baik) dan kriteria negatif rerata = 2,32 (kurang baik). Hal tersebut tentunya dapat dimengerti karena strategi yang diterapkan menggunakan metode yang menarik seperti kerja kelompok, penggunaan media yang fungsional selama pembelajaran, masing-masing siswa diberikan ringkasan materi dalam bentuk buku yang berisi gambar dan format tulisan yang menarik, memberikan contoh-contoh yang berkaitan dengan kehidupan siswa sehari- hari, serta tak lupa pula guru selalu memberikan semangat agar siswa percaya diri dalam mengerjakan tugas-tugas mereka, dan memberikan pujian pada siswa yang kinerjanya bagus untuk memberi rasa puas pada siswa, selain itu masing- masing siswa diberikan ringkasan materi dalam bentuk buku yang berisi gambar dan format tulisan yang menarik.
Dari hasil pembahasan di atas menunjukkan bahwa pembelajaran fisika dengan menerapakan strategi pengelolaan motivasionalARCS dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa serta aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan.
SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Penerapan strategi pengelolaan motivasional ARCS ini dapat meningkatan motivasi belajar siswa khususnya mata pelajaran fisika tentang pokok bahasan Getaran dan gelombang ini dapat dilihat dari kriteria positif rerata dan kriteria negatif rerata dari angket motivasi ARCS siswa adalah berkategori baik.
Penerapan strategi pengelolaan motivasional ARCS ini dapat meningkatan aktivitas belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari kriteria aktivitas belajar siswa berkategori aktif dan mengalami peningkatan rata-rata skor pada setiap siklusnya.
Ketuntasan belajar fisika siswa dengan menerapkan strategi pengelolaan motivasional ARCS dapat mencapai ketuntasan klasikal sesuai tuntutan kurikulum yaitu 85%, sehingga dengan kata lain penerapan strategi ini dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa.
17 B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pengelolaan strategi motivasional ARCS mangalami peningkatan hasil belajar, maka peneliti menyarankan agar dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang dapat dipilih oleh guru IPA Fisika sebagai langkah untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang lebih optimal.
Bagi mahasiswa atau pihak-pihak yang ingin meneliti lebih lanjut tentang strategi pengelolaan motivasional ARCS untuk mencoba menerapkan pada materi pokok yang berbeda dan lebih sempurna.
Dalam penerapan strategi motivasional ARCS,hal lain yang perlu diperhatikan adalah tentang pembagian kelompok, diharapkan pembagian kelompok memperhatikan aspek intelektualitas dan emosinal siswa.
Bagi peneliti lain yang ingin meneliti dengan menerapkan strategi motivasional ARCS diharapkan dapat menggunakannya dengan media pembelajaran lain yang diharapkan lebih komunikatif.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (EdisiRevisi). Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2009.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Arifin, Zainal. 2003. Pendekatan Dalam Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Remaja Karya.
Aryani, Dessy. 2013. Pengaruh Implementasi Model Pembelajaran ARCS terhadap Minat dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 1Sumerta. Jurnal Penelitian Pendidikan. 15(3):75-82.
Degeng, I N. S. 2001. Landasan dan wawancara kependidikan. Malang: Lembaga Pengembangan dan Pendidikan (LP3) Universitas Negeri Malang.
Depdiknas. 2005. Peraturan pemerintah RI no. 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Fatimah, Nurrany. 2013. Pengaruh strategi motivasi attention, relevance, confidance, satisfaction (arcs) dalam model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan listrik dinamis di kelas x sma negeri 18 surabaya.
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika.2(2).75- 77.
Gintings, Abdorrakhman. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora Hadi, Efran, 2010. ”Model Pembelajaran ARCS
(Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction)”.
Hamalik, Oemar. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta: Bumi Aksara.
Hamdu, G. &Agustina, L. 2011. Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar IPA di sekolah dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan. 12(1): 90-96.
Hamzah, Uno. 2009. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Harjono, Ahmad. 2008. Kombinasi Advance Organizer dengan Model Pengajaran Diskusi untuk Menuntaskan Hasil Belajar Mata Kuliah Fisika Modern dengan Respon ARCS pada Mahasiswa Program Studi Kimia PMIP
FKIP Universitas Mataram.
LaporanPenelitian.8(4):25-30. Mataram:
Universitas Mataram.
Iskandar. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Gaung Persada Press.
Keller, J. 1987. Development and use of the arcs model of instructional design. Journal of Instructional Development. 10(3): 2-10.
Kancana, Nur. 2007. Evaluasi Hasilbelajar.
Surabaya: Usaha Nasional.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta : Kencana
Slameto. 2009. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Solihatin, E. & Raharjo. 2007. Cooperative learning.
Jakarta: PT.Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algresindo.
Suhana, Cucu. 2014. Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung : PT. Refika Aditama.
Suprayekti. 2005. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta:
Departemen pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.
Supriyadi. 2006. Manajemen dan Teknologi Pembelajaran Fisika. Yogyakarta : UNY.
Suryabrata, Sumadi. 2008. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Malang: PT. Bumi Aksara.
Young, H.D. dan Freedman, R.A. 2002. Fisika Universitas edisi kesepuluh jilid2. Jakarta:
Erlangga.
Zuhdi. 2013. ”Motivasi Belajar Fisika Siswa Melalui Penerapan Pendekatan ARCS pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Tambang Riau”.
Jurnal Penelitian Pendidikan. 18(4): 87-91
Biografi Penulis
Muhammad Kafrawi, lahir di Dompu, 2 Juli 1986. S1 dan S2 ditempuh di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Selama kuliah konsen pada penelitian Pendidikan Fisika. Saat ini penulis aktif sebagai Dosen Prodi Tadris Fisika IAIN Mataram.
E-mail : [email protected]