1 1.1 Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang melibatkan pendidik dan peserta didik dalam suatu proses yang telah diatur agar peserta didik dapat belajar secara aktif dan menekankan pada sumber belajar yang disediakan (Dimyati dan Mudjiono, 2009). Pengertian pembelajaran juga dijelaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yakni pembelajaran adalah sebuah proses di mana terjadi interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar dengan tujuan untuk mengembangkan sikap dan keterampilan pada peserta didik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dalam pembelajaran selalu ada tujuan yang dicapai yang harus dilalui dalam suatu proses dengan memanfaatkan sumber belajar. Pembelajaran pada tingkat Sekolah Dasar, sumber belajar yang diberikan pada peserta didik diklasifikasikan menjadi beberapa mata pelajaran salah satunya adalah mata pelajaran IPA. Standar isi pada KTSP menjelaskan bahwa pembelajaran IPA merupakan proses pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA pada tingkat SD/ MI diperlukan untuk menunjang kehidupan sehari-hari agar dapat melatih peserta didik untuk melihat kebutuhan hidup manusia melalui pemecahan masalah yang dapat diidentifikasi.
Upaya yang dilakukan untuk dapat mencapai tujuan dalam pembelajaran IPA maka diperlukan proses yang menunjang kegiatan pembelajaran sesuai dengan karakteristik mata pelajaran IPA. Harlen (Patta Bundu, 2006: 10) menyebutkan bahwa salah satu karakteristik IPA adalah terdapat fakta dan teori ilmiah yang dapat dibuktikan melalui kegiatan ilimiah, oleh karena itu pembelajaran IPA lebih menekankan pada proses. Samatowa (2011: 5) menjelaskan bahwa belajar IPA merupakan proses konstruktif yang menhendakti partisipasi aktif dari segi siswa sehingga peran guru berubah dari sumber dan
pemberi informasi menjadi fasilitator bagi siswa. Oleh karena itu, guru harus dapat merancang pembelajaran yang menunjang kegiatan belajar siswa secara efektif dan efisien sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam merancang proses pembelajaran yang efektif daan efisien adalah dengan menerpakan sebuah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Trianto menjelaskan (2010) bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan sebuah pembelajaran di kelas sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Untuk mencapai kondisi tersebut guru harus dapat memilih dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai, karena tidak satu pun model pembelajaran yang lebih baik dibanding dengan model pembelajaran lainnya. Oleh karena itu perlu adanya seleksi pada setiap model pembelajaran untuk dipilih mana yang paling baik untuk diajarkan pada suatu materi (Trianto, 2010).
Mencermati karakteristik pembelajaran IPA yakni pembelajaran yang menekankan kepada proses dan peran guru sebagai fasilitator maka model pembelajaran yang mendukung kegiatan siswa dapat dipilih. Namun, bila melihat kondisi yang terjadi di lapangan, proses pembelajaran masih terbilang konvensional dan kurang bervariasi. Guru cenderung memilih satu jenis model atau metode dan diterapkan secara berulang-ulang. Kondisi tersebut berdampak pada siswa, karena siswa akan cenderung bosan sehingga tidak tertarik untuk belajar akibatnya hasil belajar yang diperoleh tidak mencapai target yang ditentukan. Kondisi demikian masih banyak terjadi di beberapa sekolah, di mana dalam pembelajaran guru lebih memilih menggunakan metode atau model yang praktis seperti ceramah dan penugasan, namun akan berdampak pada hasil belajar siswa karena metode tersebut tidak memfasilitasi siswa untuk aktif terlibat dalam pembelajaran, sehingga yang terjadi hanya beberapa siswa yang dapat mencapai target.
Kondisi yang demikian juga terjadi di SD Negeri Salatiga 8 khususnya pada kelas IV diketahui bahwa hasil belajar siswa rendah. Melalui hasil pengamatan sebelum diberikan tindakan dan diskusi dengan guru kelas, guru sering
menggunakan metode belajar ceramah dan penugasan karena dirasa praktis dan efisien, namun terhadap hasil belajar memberikan dampak yang tidak memuaskan. Metode ceramah menjadikan pembelajaran berpusat kepada guru, hal ini tentu saja berlawanan dengan karakteristik dari pembelajaran IPA yang seharusnya guru berperan sebagai fasilitator untuk memfasilitasi siswa supaya aktif dalam pembelajaran, sehingga berdampak pada hasil belajar yang rendah.
Berdasarkan evaluasi dalam mata pelajaran IPA terdapat beberapa anak yang belum tuntas sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥ 70). Dari 37 siswa terdapat 16 siswa (43.24%) yang belum tuntas dengan nilai kurang dari 70, sedangkan 21 siswa (56.76%) lainnya sudah dinyatakan tuntas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lebih dari setengah jumlah keseluruhan siswa mengalami masalah dalam belajar. Hal ini terbukti dari hasil ulangan harian siswa nilainya belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥ 70). Berikut disajikan ketuntasan belajar IPA siswa kelas IV sebelum tindakan
Tabel 1.1
Ketuntasan Belajar IPA Siswa Kelas IV Salatiga 8 Sebelum Tindakan
No Ketuntasan Frekuensi Persentase
1 Tuntas 21 56.76%
2 Tidak Tuntas 16 43.24%
Jumlah 37 100%
KKM ≥ 70
Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa siswa belum sepenuhnya menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah adalah 70, peserta didik dianggap kompeten jika nilai hasil belajar pada mata pelajaran IPA telah mencapai nilai 70. Namun kenyataannya hasil belajaran dikelas IV masih banyak siswa yang belum tuntas, ada 16 siswa (43.24%) yang belum tuntas dan 21 siswa (56.76%) lainya dinyatakan tuntas. Mencermati hal tersebut maka guru perlu mengupayakan proses belajar yang dapat mendukung kegiatan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Salah satu upaya tersebut dapat dilakukan dengan memilih dan menerapkan model pembelajaran yang mendukung aktivitas siswa.
Model pembelajaran yang dapat dipilih adalah model pembelajaran kooperatif tipe Course Revew Horay (CRH). Menurut Widodo (2009) model pembelajaran CRH merupakan model pembelajaran yang dapat menciptkan kondisi belajar yang menyenangkan karena siswa di bagi dalam kelompok selanjutnya diberi pertanyaan dan kelompok yang dapat menjawab benar dapat berteriak “HOREY” atau yel-yel lainnya yang disukai. Model pembejaran CRH juga merupakan merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bersaing secara postif dalam pembalajran, selain itu juga dapat mengambangkan kemampuan dalam berpikir kritis serta membantu siswa untuk mengingat konsep yang dipelajari secara mudah. Model CRH juga telah terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari penelitan yang dilakukan oleh Sulis Setiana (2012), dalam penelitiannya Sulis menerapkan model kooperatif tipe CRH untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bulu Lor Jambon Ponorogo. Keberhasilan tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 80.77%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa model kooperatif tipe CRH telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian lainnya yang telah berhasil dilakukan adalah penelitian dari Menik Kusmami (2013). Menik melakukan penelitian dengan menerapkan model kooperatif tipe CRH dalam upaya mengetahui keefektifan model kooperatif CRH terhadap hasil belajar siswa kelas V SDN Kaligansa Kulon 01 Kabupaten Brebes. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa model kooperatif tipe CRH terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, penulis teratrik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul: Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Course Review Horay (CRH) untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa Kelas IV SDN Salatiga 8 Semester 2 Tahun Ajaran 2015/2016.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan wawancara dari guru kelas IV dan observasi peneliti, dalam kenyataannya menunjukkan bahwa di kelas IV SDN Salatiga 8 masih banyak permasalahan antara lain :
a) Proses pembelajaran dengan menggunakan ceramah.
b) Siswa cepat bosan dalam mengikuti proses pembelajaran dikelas karena tidak adanya interaksi anatar siswa dengan siswa demikian juga dengan guru dalam menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan.
c) Siswa tidak menyerap materi pelajaran dengan baik sehingga mengakibatkan nilai hasil belajar tidak memuaskan.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
a) Apakah peningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN Salatiga 8 dapat dicapai dengan model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH)?
b) Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH), untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas IV di SDN Salatiga 8?
1.5 Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui:
a) Peningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN Salatiga 8 setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH)
b) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH) dalam meningkatkan hasil belajar IPA kelas IV di SDN Salatiga 8
1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Manfaat Teoritis
Dengan penelitian ini diharapkan penulis dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi dunia pendidikan khususnya bagi para guru dalam
upaya meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH),
1.6.2 Manfaat Praktis a) Bagi siswa
Dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, dapat menemukan sendiri konsep-konsep dari pembelajaran yang diajarkan sehingga ilmu yang didapat menjadi lebih bermakna dan bermanfaat dalam kehidupan anak dikemudian hari.
b) Bagi guru
Mendapat pengalaman baru dalam mengatasi masalah pembelajaran di kelas 4 terutama mata pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH),
c) Bagi sekolah
Diharapkan mampu meningkatkan mutu sekolah yaitu dengan terwujudnya pembelajaran yang efektif dan produk pendidikan berkualitas.