• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) SEBAGAI BANK UNTUK BANK CENTRAL NEGARA DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI INTERNASIONAL SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) SEBAGAI BANK UNTUK BANK CENTRAL NEGARA DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI INTERNASIONAL SKRIPSI"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) SEBAGAI BANK UNTUK BANK CENTRAL NEGARA DALAM

PERTUMBUHAN EKONOMI INTERNASIONAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Akhir dan Melengkapi Syarat dalam Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

DEWI MEGAWATI MANALU 170200516

DAPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat, rahmat, dan karunia-Nya Penulis mampu untuk menjalankan perkuliahan sampai tahap penyelesaian skripsi pada Jurusan Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ini.

Skripsi ini berjudul “PERANAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) SEBAGAI BANK UNTUK BANK CENTRAL NEGARA DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI INTERNASIONAL”. Judul ini diangkat karena ketertarikan Penulis untuk mengetahui bagaimana Peranan Bank For International Settlements (BIS) dalam pertumbuhan Ekonomi Internasional.

Pada kesempatan kali ini, Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang banyak membantu Penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Untuk semua ini, Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Saidin, S.H., M.Hum., sebagai Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., sebagai Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., sebagai Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(4)

5. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H., selaku Ketua Departemen Hukum Internasional pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum., Selaku Dosen Pembimbing I yang selalu mengayomi dan telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada Penulis selama proses penulisan skripsi ini. Pribadi yang rendah hati, sangat luar biasa dan menjadi teladan buat Penulis.

7. Bapak Dr. Sutiarnoto, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang juga telah banyak membimbing dan mengarahkan penulis selama proses penulisan skripsi ini dan menjadi teladan buat Penulis.

8. Seluruh Dosen, Staf Administrasi, dan Pegawai di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

9. Kedua orang tua, B.Manalu dan D.Pasaribu, kakak Intan Ineria Manalu dan Christina Donna Manalu, Abang Benmart Erwino Manalu, dan adik saya Putra Adhyaksa Manalu, serta seluruh anggota keluarga besar Penulis atas perhatian dan doanya selama ini.

10. Rekan-rekan saya, Angel Silitonga, Angel Sumantri, Edwin Vially Lionar, Endang Sihombing, Jason Natanael, Kenny Setio, Kevin Stephan, Matthew Adriel, Mei Indah Sari Sihombing, Satria Lucky Amor Girsang, Sri Indah Haura Nisa, Tridayanti Purba yang menjadi tempat berbagi, tertawa dan mendukung dalam kuliah selama ini.

(5)

11. Senior-Senior Fakultas Hukum saya, Cici Paulina Tandiono, Ko Theddy Thahir, Bg Niko Hermawan Sipayung, Bg Ober Goklas Sihite, dan Bg Garry Fischer yang telah membimbing saya dalam penyusunan skripsi ini

12. Teman-Teman satu magang saya dan Pegawai di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan, Pak Elfaiz Lubis, Pak Joni Rumagit, Pak Saroha Manullang, Pak Randy Aprianggi, Bu Rini, Maryam Nasution, Puput Hermawan, dan Rani Veronika Sialoho yang telah memberi semangat dan motivasi selama proses penyusunan skripsi ini.

13. Teman-Teman satu CG saya, Bunga, Bg Martin Siahaan, Erni Sianipar, Florimta Oktavia Sebayang, Reta Manik, dan Wira Andreas Waruwu yang selalu mendoakan saya selama penyusunan skripsi ini.

14. Teman-Teman satu Les Toefl di Briton Setia Budi Medan, Kak Devi Barus, Kores Abimael Sembiring, Bayu Pramana dan Miss Betsy Turnip yang selalu menghibur saya dalam proses penyusunan skripsi ini.

15. Sahabat-Sahabat masa kecil saya, Florence Gultom, Judia Immanuel Siregar, Meha middlyne Simbolon, Naomi Siregar, Riony Clariza Angela Pandiangan, Siska Sari Simanjuntak, Sri Nitya.

16. Teman-teman ILSA Fakultas Hukum USU, yang selalu menjadi tempat berbagi dan bertukar pikiran selama penyusunan skripsi ini.

(6)

17. Rekan-rekan saya di SMP Methodist Lubuk Pakam dan SMA N.

1 Lubuk Pakam yang sekarang berada di berbagai universitas di Indonesia dan Luar Negeri.

Demikian Penulis sampaikan, kiranya skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah dan memperluas cakrawala berpikir kita semua .

Medan, Januari 2021 Penulis

Dewi Megawati Manalu

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... . v

DAFTAR SINGKATAN ... vii

DAFTAR ISTILAH ASING ... x

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... .1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...9

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ...9

D. Keaslian Penulisan ...11

E. Tinjauan Pustaka ...13

F. Metode Penelitian ...17

G. Sistematika Penulisan ... 21 BAB II KEDUDUKAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) BERDASARKAN HUKUM INTERNASIONAL ... 24

A. Tinjauan Umum Mengenai Bank For International Settlements ... 24

1. Sejarah Bank For International Settlements ... 24

2. Tujuan Pendirian Bank For International Settlements ...31 3. Tugas dan Wewenang Bank For International

(8)

Settlements ... 32 4. Stuktur Organisasi Bank For International Settlements ....33

B. Kedudukan Bank For International Settlements Berdasarkan Hukum Internasional ... 40 1. Kedudukan Bank For International Settlements

Berdasarkan Hukum Internasional ... 40 2. Hak dan Kewajiban Bank For International Settlements

dalam Hukum Internasional ... 49 C. Hubungan Antara Bank For International Settlements Dengan

Organisasi Lain di Bidang Ekonomi ... 51 1. Hubungan Bank For International Settlements

dengan IMF ... 51 2. Hubungan Bank For International Settlements

dengan World Bank (Bank Dunia) ... 56 3. Hubungan Bank For International Settlements

dengan WTO ... 57 BAB III HUBUNGAN HUKUM ANTARA BANK SENTRAL

DARI SETIAP NEGARA DENGAN BANK FOR

INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) ... 60 A. Tinjauan Umum tentang Bank Sentral ...60

1. Pengertian Bank Sentral ...60 2. Fungsi Bank Sentral dalam Perekonomian

Suatu Negara ...61 3. Tugas dan wewenang Bank Sentral ...64 B. Keanggotaan pada Bank For International Settlements ...66 C. Hubungan antara Bank Sentral di Setiap Negara dengan

Bank For International Settlements ...70

(9)

D. Hak dan Kewajiban Bank Sentral yang Menjadi Anggota

Bank For International Settlements ...76

BAB IV PERAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) BAGI INDONESIA ... 81

A. Peranan Bank For International Settlements (BIS) dalam Ekonomi Internasional ...81

B. Peranan Bank For International Settlements (BIS) Dalam Penyelesaian Kerja Sama atau Perjanjian Internasional ...88

C. Peranan Bank For International Settlements (BIS) Bagi Indonesia ...95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...101

A. Kesimpulan ...101

B. Saran ...104

DAFTAR PUSTAKA ...107

(10)

DAFTAR SINGKATAN

APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara AS Amerika Serikat

ASEAN Association of South East Asia Nations ATBIS The Administrative Tribunal Of The BIS BCBS Basel Committee on Banking Supervision BCG Basel Consultative Group

BI Bank Indonesia

BIS Bank For International Settlements BOE Bank Of England

BOT Bank of Thailand

DPR Dewan Perwakilan Rakyat EEC European Economic Community

GATT General Agreement on Tariffs and Trade GEM Pertemuan Ekonomi Global

IAS International Accounting Standars

IBRD Bank Internasional Untuk Rekontruksi dan pembangunan IDA Asosiasi Pembangunan Internasional

IGO Inter Government Organization ILO International Labor Organizations IMF International Monetary Fund

ITU The International Telecomunication Union NGO Non Government Organization

OJK Otoritas Jasa Keuangan PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa PD I Perang Dunia I

RAPBN Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara RI Republik Indonesia

SWIFT Society For Worldwide Interbank Financial Telecommunication

UNCTAD The United Nations Conference on trade and development UNESCO The United Nations Educational, Scientific and

Cultural Organization US United States

UU Undang-Undang UUD Undang-Undang Dasar WCO World Customs Organization

WIPO The World Intellectual Property Organization WTO World Trade Organization

(11)

DAFTAR ISTILAH ASING

Agreements Kesepakatan/Perjanjian

Article of Agreement Pasal-Pasal Persetujuan

Banking Dapartment Dapartemen Perbankan

Bank Of England Bank Sentral Negara Inggris

Bank of Italy Bank Sentral Negara Italia

Bank Of Hungary Bank Sentral Negara

Hungaria

Bank of Korea Bank Sentral Negara Korea

Bank of France Bank Sentral Negara Prancis

Bank Of Japan Bank Sentral Negara Jepang

Belligerent Pemberontak

Central Bank Bank Sentral

Central Bank of The United Arab Emirates Bank Sentral Negara Arab Central Bank of The Republic of Turkey Bank Sentral Negara Turki Constituent Charter of The Bank Perjanjian Internasional yang For International Settlements dijadikan konstitusi BIS

Convention Perjanjian Internasional

Corporate Governance Tata Kelola Perusahaan

Dawes Plan Rencana Dawes

Default Tidak Melunasi Utang

Federal Reserve Amerika Serikat Bank Sentral Negara

(12)

Amerika

General Meeting Pertemuan Umum

General Principles of Law Prinsip Hukum Umum

German Reichsbank Bank Sentral Negara Jerman

International Conventions Konvensi Internasional

International Customs Kebiasaan Internasional

International Organization Organisasi Internasional

Judicial Decisions Keputusan Hakim

Keywords Kata Kunci

Law in Books Hukum dikonsepkan sebagai

apa yang tertulis dalam Peraturan Per-UU an

Law Enforcement Penegakan Hukum

Library Research Metode Penelitian Hukum

Normatif dengan

Pengumpulan data secara

studi pustaka

Monetary and Economic Dapartment Dapartemen Moneter dan Ekonomi

Reserve Bank Of Autralia Bank Sentral Negara

Australia

Statute Bank For International Settlements Perjanjian Internasional yang dijadikan Konstitusi BIS

(13)

Statute of The Administrative tribunal Perjanjian Internasional yang of The Bank For International Settlements dijadikan Konstitusi BIS

State Owned Milik Negara

Treaty Perjanjian Internasional

Young Plan Rencana young

(14)

ABSTRAK

PERANAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) SEBAGAI BANK UNTUK BANK CENTRAL NEGARA DALAM

PERTUMBUHAN EKONOMI INTERNASIONAL

Dengan lahirnya Bank For International Settlements (BIS) maka pengawasan keseluruhan sektor ke Bank Sentralan diberikan kepada BIS.

Lembaga/Organisasi Internasional sebagai salah satu sektor jasa ke bank sentralan yang pengawasannya diberikan kepada BIS memiliki landasan hukum dalam pelaksanaan kegiatannya yaitu Statuta Bank For International Settlements.

Dengan adanya BIS sebagai Bank Sentral dari setiap Bank Sentral di seluruh dunia tentu akan mempengaruhi dalam pelaksanaan kegiatan kebank sentralan di setiap negara dan juga pertumbuhan ekonomi internasional. Maka untuk meningkatkan efektivitas kerja sama internasional demi pertumbuhan ekonomi internasional diperlukan adanya lembaga internasional yaitu BIS. Permasalahan dalam penulisan ini adalah tentang kedudukan BIS berdasarkan Hukum Internasional, hubungan hukum antara Bank Sentral dari setiap negara BIS, serta peran Bank for International Settlements (BIS) bagi Indonesia.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data sekunder (bahan hukum) dilakukan dengan studi pustaka (library research). Data yang terkumpul dianalisis dengan metode kualitatif.

Hadirnya lembaga Internasional BIS sebagai Lembaga sektor kebank sentralan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas sistem kebank sentralan sehingga mampu mewujudkan kondisi sistem keuangan yang teratur, efektif dan efisien. Statuta BIS sebagai landasan hukum kebank sentralan yang dibentuk ketika terjadinya krisis atau permasalahan keuangan di sebuah negara. Maka untuk mendukung peingkatan kinerja Bank sentral dari setiap negara demi pertumbuhan ekonomi internasional dibutuhkan adanya sebuah lembaga penghubung yang berisfat internasional yaitu BIS.

Kata kunci : BIS, bank sentral, lembaga internasional, hukum internasional

(15)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sebuah perubahan mendasar sedang terjadi dalam prekonomian dunia.

Kita sedang bergerak menjauh dari dunia dimana ekonomi nasional relatif mandiri, terpisah satu sama lain oleh hambatan perdagangan dan investasi lintas batas, oleh jarak, zona waktu dan bahasa serta oleh perbedaan nasional dalam hal peraturan pemerintah, budaya dan sistem bisnis. Kemudian, kita bergerak menuju sebuah dunia dimana hambatan perdagangan dan investasi lintas batas yang semakin berkurang, jarak yang dirasakan semakin dekat karena kemajuan dalam transportasi dan teknologi telekomunikasi, materi budaya mulai terlihat sama di seluruh dunia dan ekonomi nasional menyatu pada satu kebergantungan, sistem ekonomi global yang terintegrasi. Proses dimana hal ini terjadi sering disebut sebagai globalisasi. 1

Perkembangan yang begitu cepat dalam teknologi informasi, perdagangan internasional, serta mobilitas tenaga kerja, modal dan keuangan antar negara sejak tiga dasawarsa terakhir telah mengakibatkan peran ekonomi suatu negara secara individual terhadap prekonomian global menjadi kurang penting atau berarti.

Menurut Harris (1998) globalisasi dapat mengarah kepada melemahnya lembaga- lembaga ekonomi nasional dalam menghadapi kekuatan-kekuatan global seperti perusahaan-perusahaan multinasional dan pasar-pasar uang internasional. Harapan

1 Charles W.L.Hill, Chow-Hou Wee dan Krishna Udayasankar, Bisnis Internasional, (Jakarta : Salemba Empat, 2014), Hal. 4.

(16)

dan kecemasan muncul berkenaan dengan gelombang globalisasi sebagai suatu kekuatan dan fenomena ekonomi dan sosial pada abad 21. Dari perspektif optimis, globalisasi menjanjikan banyak peluang dan harapan bagi masyarakat dan negara- negara sedang berkembang untuk mengejar ketertinggalannnya dalam pembangunan bidang ekonomi dan sosial terhadap negara-negara maju. Beberapa data empiris memang menunjukkan bahwa negara-negara yang sedang berkembang yang terlibat secara aktif dalam globalisasi cenderung mengalami kenaikan taraf hidup yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang relatif tertutup terhadap prekonomian dunia.2

Dalam era globalisasi saat ini orang semakin paham tidak ada satu negara pun di dunia ini yang bisa menghasilkan atau membuat sendiri segala sesuatu yang dibutuhkan. Sesuatu negara tidak bisa menutup diri dari negara lain. Negara kita juga tidak bisa menutup diri dari pengaruh negara lain. Bahkan tiap-tiap negara berusaha untuk menjalin kerjasama di berbagai bidang, termasuk kerja sama di bidang-bidang ekonomi tertentu saja. Tujuan umum kerjasama ekonomi internasional tentu saja demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat negara- negara yang menjalin kerja sama. Tujuan ini dicapai melalui kerja sama di berbagai bidang seperti ekspor,impor, atau perdagangan, pembangunan nasional, memperluas lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan sebagainya. Sarana untuk mencapai tujuan itu adalah berbagai macam bentuk organisasi kerja sama baik yang bersifat bilateral maupun multilateral, di kawasan regional maupun

2 Mahmud Thoha, Globalisasi Krisis Ekonomi&Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan, (Jakarta : Penerbit Pustaka Quantum, 2002), Hal .1.

(17)

internasional. Disebut bilateral kalau hanya melibatkan dua negara, dan dikatakan multilateral jika melibatkan banyak negara.3

Kemajuan teknologi dan komunikasi mengakibatkan aktivitas ekonomi tidak lagi terkongkong oleh batas-batas negara. Fenomena-fenomena regionalisme yang terjadi di berbagai belahan dunia dewasa ini, seperti ASEAN, Uni Eropa atau Bank For International Settlements (BIS) juga makin mengurangi ikatan batas-batas negara ini. Dengan kata lain, batas-batas negara pada taraf tertentu menjadi relatif tidak terlalu signifikan.4

Batas-batas pasar dunia yang semakin berkurang dan proporsi kegiatan usaha yang melewati batas-batas negara semakin meningkat, memerlukan lembaga untuk membantu mengelola, mengatur, dan mengawasi pasar global serta untuk mempromosikan pembentukan perjanjian multinasional yang mengatur sistem bisnis global. Selama setengah abad terakhir, sejumlah lembaga global penting telah dibentuk untuk membantu melakukan fungsi-fungsi tersebut, lembaga-lembaga tersebut antara lain GATT, Bank Dunia, Perserikatan Bangsa- Bangsa, Bank for International Settlements (BIS), World Trade Organization (WTO) dll. Semua lembaga ini dibentuk melalui kesepakatan sukarela antara masing-masing negara dan fungsi lembaga tersebut diabadikan dalam bentuk perjanjian internasional.5

3 Sri Wahyuningsih,https://media.neliti.com/media/publications/168509-ID-hukum- ekonomi-internasional-dalam-perdag.pdf, diakses pada tanggal 5 november 2020, pukul 03.36 WIB.

4 Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2005), Hal.1.

5 Charles W.L.Hill, et.al., op.cit, Hal. 9.

(18)

Di samping itu, negara bukan saja merupakan subjek utama tetapi juga aktor hukum internasional yang paling berperan dalam membuat hukum internasional baik melalui partisipasinya pada berbagai hubungan atau interaksi internasional, ataupun melalui perjanjian-perjanjian internasional yang dibuatnya dengan negara atau aktor-aktor lainnya, ataupun melalui keterikatannya terhadap keputusan dan resolusi organisasi-organisasi internasional. Dengan demikian, Hukum internasional dapat dirumuskan sebagai suatu kaidah atau norma-norma yang mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban para subjek hukum internasional yaitu negara, lembaga, dan organisasi internasional serta individu dalam hal-hal tertentu. 6

Subjek-subjek hukum internasional bukan hanya meliputi negara-negara saja, melainkan juga lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa- Bangsa, Organisasi Buruh Internasional (ILO), Bank For International Settlements (BIS) dan badan-badan serupa itu. Kata Lembaga (institution) disini dipakai dalam pengertian yang sangat luas sebagai nomen generalissimum untuk berbagai ragam bentuk asosiasi negara-negara untuk mencapai tujuan bersama. Adalah penting untuk mengetahui dengan cara apa lembaga-lembaga tersebut tercakup dalam lingkup hukum internasional atau memberikan sumbangan terhadap perkembangan hukum internasional. Badan-badan internasional ini mempunyai tugas-tugas penting untuk menyelenggarakan atas nama masyarakat internasional,

6 Boer Mauna, Hukum Internasional, (Bandung : P.T Alumni, 2017), Hal. 1.

(19)

baik yang sifatnya mendunia maupun regional, mengatur masyarakat tersebut dalam kerangka konstitusionalnya.7

Menjadi sebuah topik yang perlu dibahas ialah bagaimana kedudukan lembaga ataupun organisasi internasional tersebut dalam Hukum Internasional.

Seperti yang sudah diketahui bahwa Lembaga/organisasi Internasional ialah salah satu subjek Hukum Internasional, itu menunjukkan bahwa lembaga ataupun organisasi internasional mempunyai kedudukan dalam Hukum Internasional.

Oleh sebab itu, lembaga-lembaga keuangan internasional didirikan untuk menangani masalah-masalah keuangan yang bersifat internasional, baik berupa bantuan pinjaman atau bantuan lainnya. Pemberian bantuan yang dilakukan oleh lembaga keuangan internasional dapat bersifat lunak artinya dengan suku bunga yang rendah dan jangka waktu pengembaliannya relatif panjang. Kemudian bantuan internasional juga dilakukan dengan tujuan komersil, yang biasanya dilakukan oleh lembaga keuangan internasional swasta. Namun demikian sebenarnya lembaga keuangan internasional jumlahnya cukup banyak apalagi lembaga keuangan internasional yang dimiliki oleh swasta. 8

Oleh sebab itu lembaga internasional seperti Bank for International Settlements juga mempunyai peranan yang sangat dalam perananannya sebagai lembaga internasional di bidang ekonomi dan peranan lembaga tersebut menjadi masalah penting untuk dibahas di era globalisasi seperti sekarang ini yang dimana kita memerlukan kerja sama internasional antar negara untuk menaikkan tingkat prekonomian suatu bangsa. Karena suatu negara tidak dapat bersifat

7 J.G.Starke, Pengantar Hukum Internasional, (Jakarta : Sinar Grafika, 2004), Hal. 797.

8 Kasmir, BANK dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2010), Hal. 351.

(20)

individualistis oleh sebab itu perlu adanya kerja sama dengan negara lain dalam memenuhi kebutuhan atau kepentingan negaranya.

Peranan Bank For International Settlements dalam pertumbuhan ekonomi internasional ialah lembaga ini berkomitmen untuk melayani bank sentral dari setiap negara, kerjasama yang efektif antara bank sentral dan otoritas moneter sangat penting dalam memelihara stabilitas sistem keuangan global. BIS tetap berdedikasi pada misinya untuk menyediakan forum untuk menyatukan Bank Sentral dari setiap negara.9 Dari pernyataan ini terlihat jelas bahwa BIS sebagai Forum kerja sama untuk setiap bank sentral dari seluruh dunia yaitu kerja sama di bidang ekonomi untuk pertumbuhan ekonomi internasional.

Bank for International Settlements (BIS) adalah organisasi internasional yang melayani bank sentral dan otoritas keuangan lainnya di seluruh dunia untuk membangun pemahaman kolektif yang lebih besar tentang ekonomi dunia, memupuk kerja sama internasional di antara mereka, dan mendukung mereka dalam perkembangan moneter dan keuangan global.10 Dari pengertian diatas sudah terlihat jelas bahwa Bank For International settlements (BIS) kedudukannya ialah sebagai lembaga/organisasi internasional dalam bidang Hukum Internasional.

Bank for International Settlements didirikan pada tahun 1930 untuk mengelola ("menyelesaikan") pembayaran reparasi yang harus dilakukan oleh

9 BIS, An exhibition celebrating 75 years of the Bank for International Settlements, https://www.bis.org/about/thisisthebiz.pdf, diakses pada tanggal 15 november 2020, Pukul 16.59 WIB.

10 BIS, THE BIS Promoting Global monetary monetary and financial stability through international coorperation, https://www.bis.org/about/profile_en.pdf, diakses pada tanggal 15 november 2020, pukul 14.14 WIB.

(21)

Jerman di bawah Perjanjian Verailles setelah Perang Dunia Pertama. BIS juga diharapkan akan menyediakan bank sentral dengan forum kelembagaan untuk kerja sama. Nama Bank diambil dari peran asli ini. Di tengah krisis keuangan dan ekonomi di awal tahun 1930-an, masalah reparasi segera memudar, memungkinkan BIS memfokuskan kegiatannya sepenuhnya pada kerja sama antar bank sentral.11

Akan menjadi sebuah pertanyaan apa yang menjadi hubungan hukum antara bank sentral dari setiap negara dengan Bank For International Settlements (BIS), oleh sebab itu perlu dikaji hubungan antara lembaga atau organisasi internasional ini dengan masing-masing bank sentral dari setiap negara. Ketentuan internasional yang dijadikan acuan negara-negara dalam pengaturan perbankan, antara lain yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS). Bank for International Settlement BIS sebenarnya merupakan suatu bank yang berkedudukan di Basel, Swiss, dibentuk oleh 11 negara industri melalui Konferensi Den Haag pada Januari 1930. Dalam prakteknya bank ini sekaligus berfungsi sebagai suatu organisasi internasional yang berfungsi untuk memajukan kerja sama antar bank sentral negara-negara anggota dan untuk menyediakan fasililtas-fasllitas kerja sama keuangan Internasional. Dewasa ini dengan anggota yang telah mencapai sekltar 120 bank sentral, keberadaan BIS menjadi semakin penting. Oleh sebab itu disini terlihat jelas hubungan hukum antara Bank For Internasional Settlements (BIS) dengan bank sentral dari setiap negara yaitu

11BIS, An exhibition celebrating 75 years of the Bank for International Settlements, https://www.bis.org/about/thisisthebiz.pdf, diakses pada tanggal 15 november 2020, Pukul 16.43 WIB.

(22)

bahwa Aturan-aturan yang dikeluarkan oleh BIS menjadi acuan hampir seluruh bank sentral yang ada di dunia.12

Permasalahan yang perlu dikaji lagi mengenai Bank For International Settlements ialah mengapa negara Indonesia harus menjadi anggota dari Lembaga Internasional tersebut dan apa yang menjadi peranan lembaga tersebut terhadap Indonesia , itu menjadi sebuah pertanyaan yang perlu diteliti agar kita mengetahui lebih pasti fungsi dan peranan Bank For International Settlements tersebut.

Bank Indonesia telah melalui proses yang cukup ketat untuk menjadi anggota BIS. Proses keanggotaan tersebut telah dimulai pada tahun 1999 dan telah mendapat persetujuan DPR pada bulan Juli 2000. „Proses yang dilalui Bank Indonesia untuk menjadi anggota BIS tidaklah mudah karena Bank Indonesia harus menunjukkan kompetensi dalam pelaksanaan berbagai tugas sebagai bank sentral‟, demikian Burhanuddin (Gubernur Bank Indonesia) dalam sambutannya.

Peranan Bank For International Settlements (BIS) bagi Indonesia ialah Bank Indonesia akan memperoleh beberapa manfaat dengan keanggotaan ini seperti pembagian dividen, fasilitas keikutsertaan dalam kegiatan BIS, akses ke BIS Financial Data Bank dan advisory atau konsultasi secara reguler dari BIS. Selain itu, Bank Indonesia juga memiliki hak untuk hadir dan memberikan suara dalam General Meeting yang diadakan satu tahun sekali. Dengan berbagai manfaat

12 Sefriani, Pengawasan Bank Asing di Indonesia,

file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/4947-8168-1-PB.pdf, diakses pada tanggal 15 november 2020, pukul 13.14 WIB.

(23)

tersebut, diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam perumusan maupun pelaksanaan tugas Bank Indonesia.13

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian Latar Belakang masalah tersebut di atas, maka pembahasan permasalahan akan dititikberatkan pada bagaimana peranan lembaga internasional seperti Bank For International Settlements. Atas dasar itulah penulis membatasi ruang lingkup kajian permasalahan yang ada sebagai berikut :

1) Bagaimana kedudukan Bank for International Settlements (BIS) berdasarkan Hukum Internasional ?

2) Bagaimana hubungan hukum antara Bank Sentral dari setiap negara dengan Bank for International Settlements (BIS) ?

3) Bagaimana peran Bank for International Settlements (BIS) bagi Indonesia ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan kedudukan Bank for International Settlements (BIS) berdasarkan hukum internasional

13 Bank Indonesia, Pertemuan Konsultasi Antara Bank Indonesia Dengan Delegasi Bank

For International Settlements (BIS),

file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/PertemuanKonsultasiAntaraBankIndonesiadenganDele ga.pdf, diakses pada tanggal 15 november 2020, pukul 16.09.

(24)

2. Untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan hukum antara Bank Sentral dari setiap negara dengan Bank For International Settlements (BIS)

3. Untuk mengetahui dan menjelaskan peranan Bank For International Settlements (BIS) bagi Indonesia.

Sementara hal yang diharapkan menjadi manfaat dari adanya penulisan skripsi ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

Tulisan ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka perkembangan ilmu hukum pada umumnya, perkembangan hukum internasional dan khususnya di bidang hukum ekonomi internasional berkenaan dengan Bank For International Settlements selaku Lembaga Internasional.

2. Manfaat Praktis

Uraian dalam skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan menambah wawasan dan pengetahuan secara khusus bagi penulis dan secara umum bagi masyarakat tentang Peranan Bank For International Settlements (BIS) Sebagai Bank Untuk Bank Central Negara Dalam Pertumbuhan Ekonomi Internasional, dan juga sebagai bahan kajian untuk para akademisi dan peneliti lainnya yang ingin mengadakan penelitian yang lebih mendalam lagi mengenai Peranan Bank For International Settlements (BIS).

(25)

D. Keaslian Penulisan

Dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh penulis, maka penulis menuangkannya dalam sebuah skripsi yang berjudul “Peranan Bank For International Settlements (BIS) Sebagai Bank Untuk Bank Central Negara Dalam Pertumbuhan Ekonomi Internasional”.

Untuk mengetahui orisinalitas penulisan, sebelum melakukan penulisan skripsi berjudul “Peranan Bank For International Settlements (BIS) Sebagai Bank Untuk Bank Central Negara Dalam Pertumbuhan Ekonomi Internasional” , Penulis terlebih dahulu melakukan penelusuran terhadap berbagai judul skripsi yang tercatat pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Pusat dokumentasi dan informasi Hukum/Perpustakaan Universitas cabang Fakultas Hukum USU melalui surat tertanggal 25 september 2020 menyatakan bahwa “Tidak ada judul yang sama”.

Adapun beberapa judul yang memiliki sedikit kesamaan antara lain : 1. Global Monitor The Bank For International Settlements (Disusun oleh

Leonard Seabrooke,New Political Economy, Vol. 11, No. 1, March 2006) Pada jurnal ini lebih membahas secara spesifik mengenai Bank For International Settlements (BIS), seperti Evolusi dari reparasi perbankan hingga perbaikan bank komersial, kesepakatan basel dan Jaringan untuk regulasi mikro dan makro-prudensial.

2. The Legal Character of the Bank for International Settlements (Disusun oleh John Fischer Williams, The American Journal of International Law, Vol. 24, No. 4, October 1930)

(26)

Pada jurnal ini lebih membahas kepada proses legalisasi Bank For International Settlements (BIS).

3. The Bank for International Settlements (Disusun oleh Manley O. Hudson, The American Journal of International Law, Vol. 24, No. 3, July 1930)

Pada jurnal ini lebih membahas kepada tentang status bank dan hukum mengatur operasinya dan juga kekebalan hukum dari Bank For International Settlements.

Dari pembahasan jurnal di atas sudah terlihat jelas perbedaan pembahasan dengan skripsi penulis yaitu yang hanya membahas masalah-masalah umum saja berupa kedudukan BIS berdasarkan hukum internasional, hubungan hukum BIS dengan bank sentral dari setiap negara dan juga peranan Bank For International Settlements bagi Indonesia.

Penulis juga mengadakan penelusuran berbagai judul karya ilmiah melalui media internet, dan sepanjang penelusuran yang dilakukan belum ada penulis lain yang pernah mengangkat topik tersebut. Maka berdasarkan pemeriksaan dan hasil-hasil penelitian yang ada, penelitian mengenai “Peranan Bank For International Settlements (BIS) Sebagai Bank Untuk Bank Central Negara Dalam Pertumbuhan Ekonomi Internasional” belum pernah ada penelitian dilakukan dalam topik dan permasalahan yang sama. Sekalipun ada, hal tersebut adalah diluar pengetahuan penulis. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah murni hasil pemikiran penulis yang didasarkan pada pengertian-pengertian, teori- teori dan aturan hukum yang diperoleh melalui referensi media cetak maupun media elektronik. Jadi penelitian ini disebut asli sesuai dengan asas keilmuan

(27)

yaitu jujur, rasional, objektif, dan terbuka serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

E. Tinjauan Pustaka

Hukum internasional saat ini tidak hanya mengatur hubungan antar bangsa atau antar negara saja. Hubungan internasional sudah berkembang pesat sedemikian rupa sehingga subjek-subjek negara tidaklah terbatas pada negara saja sebagaimana di awal perkembangan hukum internasional. Berbagai organisasi internasional, individu, perusahaan transnasional, vatican, belligerent merupakan contoh-contoh subjek non-negara. Menurut Mochtar Kusumaatmadja, Hukum internasional adalah keselurahan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara-negara. Dari pengertian tersebut tampak bahwa hubungan internasional tidak lah terbatas hubungan yang dilakukan antar negara saja, tetapi dapat dilakukan oleh negara dengan subjek non negara atau subjek non negara satu sama lain.14

Era globalisasi yang melanda dunia saat ini telah membuat pergaulan masyarakat dunia semakin terbuka, batas-batas negara dalam pengertian ekonomi dan hukum semakin erat. Kedua hal ini selalu berjalan secara bersamaan. Oleh karena itu, segala hal yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi yang telah dibahas dalam GATT,WTO dan lembaga ekonomi internasional lainnya harus menjadi pertimbangan serius dalam membangun hukum ekonomi indonesia. Hal ini penting karena prinsip management accros berbeda saat ini tidak bisa

14 Sefriani, Hukum Internasional Suatu Pengantar, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2014), Hal. 2.

(28)

dibendung lagi dan bergerak terus ke arah satu pemahaman bagaimana meratakan ekonomi dunia. Negara-Negara yang mengasingkan diri dari pergaulan ekonomi dunia, tidak meratifikasi hukum ekonomi internasional menjadi hukum nasional, maka negara tersebut akan ketinggalan zaman.15

Menurut John H. Jackson, beliau beranggapan bahwa: “international economic Law could be defined as inculding all legal subjects which have both an international and an economic component.”Pengertiannya yaitu bahwa hukum ekonomi internasional adalah semua subjek hukum yang memiliki unsur internasional dan unsur ekonomi.16

Hukum ekonomi internasional memiliki subjek hukum tersendiri yang menjadi ciri dan identitas dalam setiap diskursus menyangkut eksistensinya.

Eksistensi hukum ekonomi internasional tentu didasarkan pada sumber-sumber hukum baik yang bersifat formil maupun materil. Pada dasarnya sumber-sumber hukum formil internasional sebagaimana terdapat dalam pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional juga sumber hukum ekonomi internasiona yaitu seperti perjanjian internasional, kebiasaan internasional, prinsip-prinsip hukum umum, keputusan hakim dan ajaran-ajaran para ahli hukum yang terpandang di berbagai negara.17

Hukum Ekonomi Internasonal juga membahas mengenai Organisasi Internasional atau Lembaga Internasional. Organisasi internasional adalah suatu

15 Prof.Dr.Drs.H.Abdul Manan, Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi, (Jakarta : PT Fajar Interpratama Mandiri, 2014), Hal. 10.

16 Meria Utama, Hukum Ekonomi Internasional, (Jakarta : PT. Fikahati Aneska, 2012, Hal. 2.

17 Sri Wahyuningsih,https://media.neliti.com/media/publications/168509-ID-hukum- ekonomi-internasional-dalam-perdag.pdf, diakses pada tanggal 5 november 2020, pukul 03.22 WIB.

(29)

organisasi yang dibentuk dengan perjanjian internasional oleh dua negara atau lebih berisi fungsi, tujuan, kewenangan, asas, stuktur organisasi. Tidak semua organisasi internasional memiliki status sebagai subjek hukum internasional, organisasi internasional yang diakui sebagai subjek hukum internasional harus memiliki 2 karateristik yaitu; pertama, dibentuk dengan suatu perjanjian internasional oleh lebih dari dua negara dan kedua, yaitu memiliki sekretariat tetap. Syarat adanya perjanjian yang dibentuk oleh negara-negara menjadikan bahwa organisasi yang memiliki kedudukan sebagai subjek hukum internasional hanyalah organisasi antar pemerintah (Inter Government Organization) bukan Non Government Organization. Dan syarat kedua juga sangat penting karena sekretariat tetap merupakan tempat kedudukan organisasi tersebut.18

Salah satu contoh dari Organisasi Internasional atau Lembaga Internasional yaitu dengan hadirnya Bank For International Settlements (BIS).

Bank for International Settlements (BIS) adalah organisasi internasional yang melayani bank sentral dan otoritas keuangan lainnya di seluruh dunia untuk membangun pemahaman kolektif yang lebih besar tentang ekonomi dunia, mendorong kerja sama internasional di antara mereka, dan mendukung mereka dalam mengejar moneter dan stabilitas keuangan global.19

Peranan Bank For International Settlements (BIS) sangatlah penting dalam prekonomian internasional karena Organisasi atau Lembaga internasional ini adalah Lembaga yang mengawasi Bank Central dari setiap negara yang menjadi

18 Sefriani, Hukum Internasional Suatu Pengantar, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2014), Hal. 142.

19 Bank For International Settlements, https://www.bis.org/about/profile_en.pdf, diakses pada tanggal 5 November 2020, pukul 04.27 WIB.

(30)

anggota nya seperti Bank Indonesia,Reserve Bank of Australia, Bank of Japan , Bank of England , Central Bank of the United Arab Emirates, Central Bank of the Republic of Turkey dan lain sebagainya. Perlu adanya kerja sama internasional antara bank central dari setiap negara untuk membangun prekonomian internasional maupun prekonomian nasional dari setiap negara tersebut.

Salah satu jenis perbankan yang paling utama dan terpenting adalah Bank Central (Central Bank). Bank Sentral di tiap negara hanya ada satu dan mempunyai cabang hampir di tiap provinsi. Fungsi utama bank sentral adalah mengatur masalah-masalah yang berhubungan dengan keuangan di suatu negara secara luas, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Di indonesia tugas bank sentral di pegang oleh Bank Indonesia (BI).20

Menurut Undang-Undang No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Pasal 4 menyebutkan bahwa Bank Indonesia adalah bank sentral Republik Indonesia adalah lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.21

Peranan Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam pembangunan memang penting dan sangat dibutuhkan keberadaannya. Hal ini disebabkan bahwa pembangunan di sektor apapun selalu membutuhkan dana dan dana ini diperoleh dari sektor lembaga keuangan termasuk bank. Tugas bank indonesia ialah mengatur, mengkoordinasi, mengawasi serta memberikan tindakan kepada dunia perbankan yang mana tujuan ini sesuai dengan tujuan pembangunan.

20 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2010), Hal. 177.

21 Pasal 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.

(31)

F. Metode Penelitian

Untuk mendapatkan data yang valid dan akurat penelitian harus dilakukan secara sistematis dan teratur, sehingga metode yang dipakai sangatlah menentukan. Metode penelitian yaitu urutan-urutan bagaimana penelitian itu dilakukan.

Dalam penulisan skripsi ini, metode yang dipakai dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Jenis, sifat dan pendekatan penelitian.

Jenis penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau bahan sekunder.22 Pada penelitian hukum jenis ini, seringkali hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas.23 Dalam penelitian ini adapun undang-undang dan Bahan Pustaka yang digunakan antara lain : Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Statuta Bank For International Settlements dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait.

Sifat penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dimaksud untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang

22 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada, 2003), Hal. 13.

23 Amiruddin dan H.Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada, 2006), Hal. 118.

(32)

keadaan yang menjadi objek penelitian sehingga akan mempertegas hipotesa dan dapat membantu memperkuat teori lama atau membuat teori baru.24

Pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan yuridis normatif, yaitu dengan menganalisis permasalahan dalam penelitian melalui pendekatan terhadap asas-asas hukum, yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.

2. Jenis dan sumber data

Penelitian yuridis Normatif menggunakan jenis data sekunder sebagai data utama. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kepustakaan. Data sekunder merupakan data prmer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain.25 Data sekunder berfungsi untuk mencari data awal/informasi, mendapatkan batasan/defenisi/arti suatu istilah. Data sekunder yang dipakai penulis adalah sebagai berikut :

a. Bahan hukum Primer, yaitu peraturan perundang-undangan yang terkait, antara lain :

1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia 2. Statuta Bank For International Settlements 1930

3. Statute of The Administrative tribunal of the Bank For International Settlements

4. Constituent Charter of the Bank for International Settlements

24 Law Education,http://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/metode-penelitian- hukum, diakses pada tanggal 3 november 2020, pukul 10.01 WIB.

25 Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada, 2005), Hal. 41.

(33)

b. Bahan hukum sekunder, berupa buku-buku yang berkaitan dengan judul skripsi, artikel-artikel ilmiah, hasil-hasil penelitian, laporan-laporan, makalah, skripsi, tesis,disertasi, dan sebagainya yang diperoleh melalui media cetak maupun media elektronik.

c. Bahan hukum tertier, yang mencakup bahan yang memberi petunjuk-petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti: kamus hukum, jurnal ilmiah,esiklopedia, dan bahan-bahan lain yang relevan dan dapat dipergunakan untuk melengkapi data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.

3. Teknik pengumpulan data

Untuk melengkapi penulisan skripsi ini agar tujuan dapat lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan digunakan metode penelitian hukum normatif dengan pengumpulan data secara studi pustaka (Library Research) dan juga melalui bantuan media elektronik, yaitu internet.

Metode Library research adalah mempelajari sumber-sumber atau bahan tertulis yang dapat dijadikan bahan dalam penulisan skripsi ini. Berupa rujukan beberapa buku, wacana yang dikemukakan oleh pendapat para sarjana ekonomi, internasional dan hukum yang sudah mempunyai nama besar dibidangnya, koran dan majalah.

Bahan hukum primer dan sekunder dikumpulkan dengan melakukan penelitian kepustakaan (studi pustaka). Peneliitian kepustakaan dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang terdapat dalam buku-buku literatur, peraturan

(34)

perundang-undangan, majalah, surat kabar, hasil seminar dan sumber-sumber lain yang terkait dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini.

Untuk memperoleh data dari sumber ini penulis memadukan, mengumpulkan, menafsirkan, dan membandingkan buku-buku dan arti-arti yang berhubungan dengan judul skripsi “Peranan Bank For International Settlements (BIS) sebagai Bank Untuk Bank Central Negara dalam Pertumbuhan Ekonomi Internasional”.

4. Analisis data

Penelitian hukum normatif yang menelaah data sekunder, biasanya penyajian data dilakukan sekaligus dengan analisanya. Metode analisis data yang digunakan penulis adalah pendekatan kualitatif, yaitu dengan :

a. Mengumpulkan bahan hukum primer, sekunder,tertier yang relevan dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini.

b. Melakukan pemilahan terhadap bahan-bahan hukum relevan tersebut diatas agar sesuai dengan masing-masing permasalahan yang dibahas.

c. Mengolah dan menginterpretasikan data guna mendapatkan kesimpulan dari permasalahan.

d. Memaparkan kesimpulan, yang dalam hal ini adalah kesimpulan kualitatif, yaitu kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan.

G. Sistematika Penulisan

Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasannya harus diuraikan secara sistematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini maka

(35)

diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab per bab yang saling berkaitan satu sama lain. Adapun sistematika penulisan yang terdapat dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I: PENDAHULUAN

Pada bab ini dikemukakan apa yang menjadi latar belakang penulisan skripsi, rumusan permasalahan sebagai topik yang akan dibahas secara mendalam, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan pustaka, metode penelitian yang digunakan serta sistematika penulisan skripsi.

BAB II: KEDUDUKAN BANK FOR INTERNATIONAL

SETTLEMENTS (BIS) BERDASARKAN HUKUM INTERNASIONAL

Pada bab ini akan membahas mengenai bagaimana kedudukan bank for international settlements (BIS) berdasarkan hukum internasional meliputi tinjauan umum mengenai bank for international settlements, kedudukan bank for international settlements, hubungan bank for international settlements dengan organisasi internasional lain di bidang ekonomi.

(36)

BAB III: HUBUNGAN HUKUM ANTARA BANK CENTRAL DARI SETIAP NEGARA DENGAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS)

Pada bab ini akan dibahas mengenai tinjauan umum tentang bank central, keanggotaan pada bank for international settlements,hubungan antara bank central di setiap negara dengan bank for intenational settlements, dan juga hak dan kewajiban bank central sebagai anggota dari bank for international settlements.

BAB IV: PERANAN BANK FOR INTERNATIONAL

SETTLEMENTS (BIS) BAGI INDONESIA

Pada bab ini akan membahas mengenai peranan Bank For International Settlements (BIS) dalam ekonomi internasional, dalam penyelesaian kerja sama atau perjanjian internasional, dan juga peranannya bagi Indonesia.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab terakhir ini akan dikemukakan kesimpulan dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya dan saran-saran yang mungkin berguna bagi lembaga Bank For International Settlements dan orang-orang yang membacanya.

(37)

BAB II

KEDUDUKAN BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENTS (BIS) BERDASARKAN HUKUM INTERNASIONAL

A. Tinjauan Umum Mengenai Bank For International Settlements (BIS) 1. Sejarah Bank For International Settlements

Pertempuran selama Perang Dunia I (PD I) berakhir dengan penandatanganan gencatan senjata pada tanggal 11 November 1918. Negosiasi perdamaian berlanjut selama beberapa bulan setelah itu, yang akhirnya berpuncak pada penandatanganan Perjanjian Versailles pada tanggal 28 Juni 1919. Sangat kontroversial yang menjadi syarat perjanjian itu adalah penugasan tentang tanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh perang ke Jerman, baik untuk Jerman maupun sekutunya. Jerman dinilai sebesar $33 miliar dalam kewajibannya berdasarkan perjanjian, yang harus ditangani melalui pembayaran reparasi berkala. Jumlah ini dua kali lipat dari total ekonomi Jerman pada tahun 1925. 26

Awalnya Jerman dengan enggan melakukan pembayaran, tetapi pada awal 1920-an ini menjadi semakin sulit karena kondisi ekonomi bangsa mulai memburuk. Jerman melihat pemulihan dari kehancuran yang disebabkan oleh perang tidak dapat diatasi. Kebanyakan dari ini secara langsung disebabkan oleh pembatasan yang diberlakukan oleh Perjanjian Versailles. Selain kewajiban keuangan yang menindas Jerman, dan juga pembayaran reparasi yang

26 Michael P.Hughes dan Chris Palke, “The Bank For International Settlements: An Evolutionary Institution”, Journal of Bussiness Case Studies, Volume 15, Number 1, (2019).

(38)

memberatkannya, perjanjian itu juga memberlakukan pembatasan berat lainnya kepada Jerman untuk mengimpor bahan mentah dan produk ekspor. Jerman sudah telah lama sebagai negara pengekspor, bahwa Jerman dapat mengimpor bahan mentah, memproduksi produk dari bahan mentah tersebut, dan kemudian mengekspor sejumlah besar produk jadi untuk dijual di negara lain. Proses ini membatasi kemampuan Jerman untuk pulih secara ekonomi dari Perang Dunia I.

Dan pada gilirannya, untuk menghasilkan pendapatan yang diperlukan untuk melakukan pembayaran reparasi. Akibatnya Jerman terpaksa meminjam dana dari negara lain untuk menjaga pemerintahannya dan untuk melakukan pembayaran reparasi tepat waktu yang diamanatkan oleh Perjanjian Versailles. Ketika situasi ekonomi di Jerman memburuk, situasi politik juga menurun.27

Pada tahun 1928, ketika ketidakstabilan politik dan kerusuhan sipil tumbuh di Jerman, pinjaman internasional mulai melambat dan dapat diprediksi bahwa Jerman akhirnya jatuh ke dalam default pada pembayaran reparasi. Saat kekhawatiran internasional tumbuh atas ketidakmampuan Jerman untuk memenuhi kewajiban fiskalnya. Komite Reparasi yang didirikan oleh Perjanjian Versailles untuk mengatur pembayaran reparasi, mulai mengambil langkah- langkah aktif. Jelas bahwa hutang Jerman yang meningkat harus direstrukturisasi untuk memastikan stabilitas dalam teater internasional dan agar pembayaran reparasi Jerman dapat dilanjutkan. Komite Reparasi mengembangkan dua rencana yang berbeda, yang pertama adalah Rencana Dawes, yang memungkinkan pengurangan jumlah pembayaran reparasi, kemudian Rencana Young (Young

27 Ibid.

(39)

Plan) dikembangkan untuk mengatasi kekurangan dalam Rencana Dawes.

Rencana Young dikembangkan oleh Owen Young, seorang Amerika industrialis dan diplomat pada Konferensi Reparasi Kedua tahun 1929. Rencana Young diadopsi dari Dawes Plan, yang ditulis bersama Young pada tahun 1924. Young Plan mengambil ide dari Dawes Plan lebih jauh lagi dan menyarankan pembentukan badan penyelesaian bank internasional atau “global” dan pembayaran reparasi melalui anuitas (Felsenfeld & Bilali, 2004). "Rencana Young berisi gambaran umum tentang sifat dan fungsi bank internasional, yang didirikan di bawah Lampiran Perjanjian Den Haag dan termasuk draf piagam bank dan patungnya, serta dokumen terkait lainnya".28

Dawes (juga seorang American) dan Young sama-sama memiliki kepentingan politik dan perbankan yang signifikan dalam pembentukan "bank global". Federal Reserve Amerika Serikat (Bank Sentral Amerika Serikat) juga memiliki kepentingan dalam pembentukan "bank global." Kepentingan Federal Reserve adalah bahwa melalui "bank global", ia dapat mempromosikan struktur perbankan Amerika dalam skala global. "Bank global" seperti itu juga dapat membantu merekonstruksi dan memelihara Eropa yang makmur, yang pada gilirannya akan memiliki kemampuan yang meningkat untuk menyerap ekspor Amerika. Masalah pembayaran reparasi Jerman memberikan kesempatan yang sangat baik, dan dengan waktu yang tepat untuk menciptakan bank internasional seperti itu.29

28 Ibid.

29 Ibid.

(40)

Pada tahun 1930 Rencana Young diratifikasi di Konferensi Den Haag dan Bank For International Settlements (BIS) secara resmi didirikan. Pada pendiriannya BIS bertujuan untuk memastikan pembayaran reparasi Jerman yang tepat waktu dan berkelanjutan kepada negara-negara Sekutu Perang Dunia I.

Singkatnya, BIS mengambil alih fungsi Komite Reparasi yang dibuat oleh Perjanjian Versailles. Nama dari BIS yaitu Bank for International Settlements, berasal dari tujuan awal ini.30

BIS dibuat dalam konteks Rencana Young, diadopsi pada tanggal 20 Januari 1930 di Konferensi Den Haag. Sebuah konvensi yang menghormati pendirian BIS di Swiss ditandatangani pada tanggal yang sama antara pemerintah Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Inggris di satu sisi dan Swiss di sisi lain.31

Dengan berdirinya bank internasional baru, detail penting yang masih perlu digaris bawahi ialah seperti di mana BIS akan ditempatkan, siapa yang akan memberikan modal awal, dan aspek penting apa lagi yang perlu dipertimbangkan.

Setelah beberapa pertimbangan Basel, Swiss dipilih sebagai markas utama untuk Bank For International Settlements (BIS). Menurut BIS, "pilihan Swiss untuk kursi BIS adalah kompromi oleh negara-negara yang terlibat dalam pembentukan BIS: Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Ketika konsensus tidak dapat dicapai untuk menempatkan Bank di London, Brussel, atau Amsterdam, pilihan jatuh pada Swiss. Sebagai negara merdeka dan netral, Swiss

30 Ibid.

31 Bank For International Settlements, History - foundation and crisis (1930-39), https://www.bis.org/about/history_1foundation.htm , diakses pada tanggal 17 november 2020, pukul 08.19 WIB.

(41)

menawarkan BIS lebih sedikit eksposur terhadap pengaruh yang tidak semestinya dari salah satu kekuatan utama Di Swiss. Basel dipilih terutama karena lokasinya dan koneksi kereta api yang sangat baik ke segala arah. Hal Ini terutama penting pada saat sebagian besar perjalanan antar benua di Eropa dilakukan dengan kereta.32

Modal awal BIS ditetapkan sebesar 500 juta franc emas, yang berfungsi sebagai mata uang BIS yang tercatat hingga tahun 2003. Penanaman modal awal ini dibagi menjadi 200.000 saham dan dialokasikan secara merata kepada lima bank sentral utama, bersama dengan dua kelompok perbankan. Bank Sentral tersebut adalah Bank of England, Bank Nasional Belgia, Bank of France, Bank of Italy, dan German Reichsbank. Yang pertama dari dua kelompok bank ini berfungsi sebagai wakil untuk Bank Jepang, sedangkan kelompok kedua dibentuk oleh dan mewakili tiga bank Amerika Serikat: JP Morgan, First National Bank of New York, dan First National Bank of Chicago . Hingga tahun 1994, meskipun memiliki dua kursi di dewan yang dicadangkan untuknya sejak berdirinya BIS pada tahun 1930, Federal Reserve tidak mengambil kursi sebagai anggota Dewan Gubernur BIS . Federal Reserve dilarang menjadi "bank pendiri" oleh Pemerintah AS. Federal Reserve "tidak diizinkan untuk bergabung karena pemerintah AS mengira keanggotaan akan bertentangan dengan posisi resminya tentang reparasi

”. AS tidak setuju dan tidak menjadi pihak dalam penyelesaian reparasi dengan Jerman. Akibatnya, beberapa bank komersial AS yang besar dan kuat bergabung dalam dukungan dan kolaborasi dengan BIS. US partisipasi dipertahankan secara

32 Michael P.Hughes dan Chris Palke, loc. Cit.

(42)

tidak resmi melalui saluran ini sampai tahun 1994. Pada tanggal 13 September 1994, Federal Reserve secara resmi bergabung dengan Dewan Direksi BIS. Pada bulan April 2003 BIS berubah dari franc emas menjadi memiliki laporan keuangan dalam mata uang Special Drawing Rights.33

Meskipun BIS didirikan di Basel, Swiss. BIS beroperasi secara independen dari perbankan Swiss dan undang-undang perusahaan. BIS tidak tunduk pada campur tangan pemerintah Swiss dan pajak, baik dalam masa perang dan perdamaian, sesuai dengan Konvensi Den Haag sebagaimana disepakati di Konferensi konvensi pada tanggal 20 Januari 1930. Konvensi Den Haag menetapkan bahwa BIS adalah sebuah organisasi internasional dan diatur oleh hukum internasional, bersama dengan hak istimewa dan kekebalan yang sepadan yang diberikan oleh lembaga internasional tersebut. Status ini dipandang perlu untuk kinerja BIS dari piagamnya. Status hukum BIS di Swiss selanjutnya diklarifikasi dalam perjanjian resmi tahun 1987 antara Dewan Federal Swiss dan BIS. Secara khusus, BIS menuntut dan diberikan hak serupa berikut dan kekebalan yang dinikmati banyak organisasi internasional.34

Ketika Depresi Hebat berlangsung di awal tahun 1930-an, ekonomi AS meluncur ke jurang keuangan. Melalui penularan ekonomi global dengan cepat mengikuti jejak AS ke jurang depresi. Jerman, yang masih belum pulih dari dampak Perang Dunia I merasa sangat sulit. Hal ini menyebabkan penghentian pembayaran reparasi karena Jerman tidak lagi memiliki dana yang cukup untuk

33 Ibid.

34 Ibid.

(43)

membayarnya. Hal ini memicu evolusi dalam peran asli BIS di luar piagam aslinya.35

Salah satu alasannya mungkin karena bank gagal dalam misi aslinya dalam menghadapi Depresi Besar. Bank tidak dapat menenangkan diri dalam masalah mata uang, pasar modal, memastikan penagihan hutang dan reparasi dari Germany. BIS dirancang untuk mencegah kerusakan pasar modal dengan meningkatkan persepsi komitmen Jerman untuk memenuhi kewajiban utang internasionalnya. Itu adalah bagian dari pengaturan yang ditawar di mana tuntutan reparasi dikurangi dan sebuah lembaga baru dibentuk untuk meningkatkan kesamaan yang pada kenyataannya Jerman akan menghormati komitmennya.

Lembaga baru ini disusun dan dirancang oleh pemodal swasta dan bank sentral, keduanya memiliki minat yang kuat pada stabilitas pasar modal, mata uang dan sepenuhnya mengharapkan bank internasional baru untuk berkontribusi pada tujuan ini. Terlepas dari permusuhan dan kecurigaan di antara negara-negara besar dan meskipun ada kekosongan dalam kepemimpinan internasional, para aktor ini membujuk pemerintah mereka untuk menerima BIS dengan harapan meminimalkan keuangan mereka dan menstabilkan sistem moneter internasional yang rapuh. 36

Ketidakmampuan Jerman untuk melanjutkan pembayaran reparasi, sejalan dengan kekacauan global akibat Depresi Hebat, mempertanyakan masa depan keberadaan BIS. Faktanya, mengingat tujuan asli BIS untuk mengelola pembayaran reparasi Perang Dunia I Jerman “ BIS akan hancur pada tahun 1932

35 Ibid.

36 Beth A. Simmons, “Why Innovate? Founding the Bank for International Settlements”, Jurnal World Politics, Vol 45, No 03, April 1993.

(44)

ketika Perjanjian Lausanne mengakhiri reparasi perang ”(Fratianni & Pattison, 1999). Namun, Pasal 3 dalam patung BIS menyatakan bahwa fungsi pengawasan reparasi adalah sekunder untuk menyediakan forum kerja sama bank sentral.

Beberapa pendiri BIS yang berpikiran maju telah memperkirakan penghentian pembayaran reparasi pada akhirnya dan memberikan pembenaran lain yang tampaknya lebih dapat dipertahankan untuk keberlangsungan BIS. Pada titik ini BIS mulai berbentuk bank sentral untuk bank sentral.37

2. Tujuan Pendirian Bank For International Settlements

Ide tentang BIS berkembang secara bertahap. Konsepsi pertama sangatlah simple yaitu hanyalah tentang wali amanat untuk administrasi mekanisme pembayaran reparasi oleh Jerman akibat dampak dari Perang Dunia I tetapi sekarang menjadi semakin jelas, yang mana itu sebuah organisasi untuk menjalankan fungsi-fungsi dengan sangat memuaskan akan membutuhkan sebuah direktorat dan manajemen berkemampuan tinggi, dan kedua, bahwa pembentukan bank tersebut menawarkan kesempatan untuk merealisasikan konsepsi tertentu tentang kerjasama keuangan internasional yang telah lama dibahas dan lama diinginkan.38

Menurut pasal 3 Statuta Bank for International Settlements “The objects of the Bank are to promote the co-operation of central banks and to provide additional facilities for international financial operations and to act as trustee or agent in regard to international financial settlements entrusted to it under

37 Michael P.Hughes dan Chris Palke, loc. Cit.

38 Jeremiah Smith, “The Bank For International Settlements”, The Quarterly Journal of Economics, Vol. 43, No.4, 1929.

(45)

agreements with the parties concerned” yang berarti bahwa “Tujuan Bank adalah untuk meningkatkan kerjasama bank sentral dan untuk memberikan fasilitas tambahan untuk operasi keuangan internasional dan bertindak sebagai wali atau agen dalam hal penyelesaian keuangan internasional yang dipercayakan kepadanya berdasarkan perjanjian dengan pihak terkait”. 39

3. Tugas dan Wewenang Bank For International Settlements

Saat ini, BIS menyatakan bahwa misinya adalah untuk melayani bank sentral dalam mengejar moneter dan stabilitas keuangan, untuk mendorong kerja sama internasional di bidang tersebut dan bertindak sebagai bank untuk bank sentral. Mengenai cara pengoperasiannya, dinyatakan sebagai berikut:

BIS dalam misinya yaitu mendorong diskusi dan memfasilitasi kolaborasi antar bank sentral, mendukung dialog dengan otoritas lain yang bertanggung jawab untuk mempromosikan stabilitas keuangan, melakukan penelitian dan analisis kebijakan pada isu-isu yang relevan dengan stabilitas moneter dan keuangan,bertindak sebagai pihak counter utama bagi bank sentral dalam transaksi keuangannya dan melayani sebagai agen atau wali sehubungan dengan operasi keuangan internasional.40

Bank For International Setllements (BIS) sebagai Lembaga Internasional Maupun Bank Sentral untuk Bank Sentral dari setiap negara mempunyai tugas dan wewenang yaitu, seperti41 :

1. Membeli, menjual, membuka rekening, dan mempertahankan hak asuh emas, atas nama sendiri atau atas nama bank sentral.

39 Article 3 Statutes of the Bank For International Settlements.

40 Maria de Fatima Silva do Carmo Previdelli dan Luiz Eduardo Simões de Souza, “IMF, BIS, and World Bank: On the Intra-institutional Articulation of the International Financial System”, Management and Economics Research Journal, Vol. 4, S1, 48–59, 2018.

41 Michael P. Hughes dan Chris Palke, “The Bank For International Settlements: An Evolutionary Institution”, Journal of Business Case Studies, Volume 15, Number 1, 2019.

(46)

2. Pinjam atau meminjam dari bank sentral.

3. Melakukan kewajiban transaksi jangka pendek, seperti wesel, surat promes, atau cek atas namanya sendiri atau atas nama bank sentral.

4. Membeli atau menjual sekuritas yang bisa dinegosiasikan

5. Mendiskontokan dan mendiskontokan ulang tagihan dari portofolionya sendiri atau dari portofolio bank sentral

6. Membuat dan memelihara rekening bank di bank sentral.

7. Menerima simpanan dari bank sentral dan pihak lain.

8. Bertindak sebagai agen atau koresponden bank sentral

9. Bertindak sebagai wali atau agen dalam penyelesaian transaksi internasional.

4. Stuktur Organisasi Bank For International Settlements a. Governance Structure (Stuktur Tata Kelola)

Tata kelola Bank dilaksanakan pada tiga tingkatan, yaitu : Dewan Direksi, Rapat Umum Bank Sentral Anggota dan Manajemen BIS, sebagaimana ditentukan dalam Statuta Bank For International Settlements. Tiga badan pengambil keputusan terpenting di dalam Bank adalah Rapat Umum Bank Sentral Anggota, Dewan Direksi dan Manajemen dari Bank. Keputusan yang diambil pada masing-masing tingkatan ini berkaitan dengan jalannya Bank dan dengan demikian bersifat administratif dan keuangan, terkait dengan operasi

Referensi

Dokumen terkait

Sumber hukum yang ketiga menurut Pasal 38 ayat 1 Piagam Mahkamah Internesional ialah asas hukum umum yang diakui oleh bangsa- bangsa yang beradap (general

Untuk itu, sumber hukum diplomatik tidak dapat dipisahkan dari ketentuan pasal 38 (1) Statuta ICJ yang telah diakui oleh para ahli hukum internasional