1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 2018 mendatang, Jakarta yang merupakan ibukota Indonesia akan menjadi salah satu tuan rumah diselenggarakannya Asian Games 2018. Pesta olahraga ini akan diikuti oleh 45 peserta negara dengan jumlah pertandingan 41 cabang olahraga. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah merencanakan dan melaksanakan beberapa pembangunan guna menunjang aksesibilitas dan menyediakan fasilitas untuk pelaksanaan pesta olahraga tersebut. Salah satu pembangunan yang dilakukan adalah proyek Pembangunan Rumah Susun Bertingkat Tinggi (Wisma Atlet) Kemayoran Blok D10-1 yang bertempat di Jakarta. Wisma tersebut akan digunakan sebagai tempat tinggal para peserta selama acara berlangsung. Namun, bangunan ini akan beralih fungsi menjadi Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) saat Asian Games 2018 telah selesai dilaksanakan.
Pengalihan fungsi tersebut dapat menjadi solusi untuk kota Jakarta yang peningkatan jumlah penduduknya cukup pesat.
Wisma Atlet Kemayoran Blok D10-1 dikategorikan sebagai high rise building.
Kementerian PUPERA (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) sebagai pemilik proyek telah menunjuk beberapa pelaksana untuk membangun wisma tersebut dengan sistem kontrak Design and Build. Wisma Atlet Kemayoran Blok D10-1 terdiri dari dua tower yaitu tower satu 24 lantai dan tower dua 32 lantai. Namun, pengamatan dalam penelitian ini hanya dilakukan pada tower dua karena pekerjaan struktural pada tower satu sudah hampir selesai ketika dimulainya pengamatan.
Pelaksana dalam proyek ini yaitu KSO Adhi Karya - Jaya Konstruksi - Penta Architecture. KSO merupakan penggabunan antara kontraktor dan konsultan perencana menjadi sebuah tim pelaksana proyek. Konsultan manajemen konstruksi yang ditunjuk oleh Kementerian PUPERA untuk mengawasi pelaksanaan pembangunan di lapangan yaitu PT. Bina Karya (Persero).
2 Lingkup pekerjaan dalam proyek Wisma Atlet Kemayoran Blok D10-1 Tower 2 meliputi pekerjaan struktural, arsitektural, mekanikal, elektrikal, elektronik dan plumbing. Pada beberapa pekerjaan strukturalnya, metode konstruksi yang digunakan berupa metode precast seperti pada pekerjaan pelat lantai dan dinding facade. Metode ini dipilih dengan tujuan untuk mempercepat proses pembangunan karena waktu pelaksanaan proyek yang diberikan cukup singkat. Proyek yang dimulai pada bulan Maret 2016 ini ditargetkan selesai dalam waktu 17 bulan atau 510 hari kalender sehingga dibutuhkan metode-metode yang dapat mempercepat waktu pembangunan.
Salah satu metode pelaksanaan struktural yang paling menarik untuk dibahas adalah metode pelaksanan pekerjaan pelat lantai. Pekerjaan pelat lantai dilakukan dengan dua metode yaitu metode half slab precast dan metode cast in place (konvensional).
Half slab precast adalah metode pekerjaan struktur pelat lantai yang merupakan penggabungan antara beton pracetak dengan beton konvensional. Tulangan yang digunakan pada beton pracetak merupakan tulangan wiremesh. Permukaan bagian atas beton pracetak dikasarkan untuk menahan gaya geser antara preslab dengan beton topping cast in site sehingga menciptakan kesatuan yang solid. Metode pelaksanaannya mengutamakan penggantian bekisting kayu dengan melakukan pengecoran terlebih dahulu terhadap preslab yang digunakan.
Penggunaan metode half slab precast memiliki beberapa keuntungan. Metode ini dapat menghemat penggunaan plywood dalam pekerjaan bekisting. Jumlah tenaga kerja dapat dikurangi seperti tenaga kerja pada pekerjaan bekisting dan penulangan.
Dari segi waktu, penggunaan metode half slab precast seharusnya dapat dilakukan dengan lebih cepat karena volume pekerjaan yang lebih sedikit dimana lapisan bawah pelat lantai yang berupa precast sekaligus dapat digunakan sebagai bekisting untuk pengecoran pelat lantai lapisan atasnya. Proses pembongkaran bekisting plywood untuk pelat lantai juga tidak terdapat pada pelaksanaan metode half slab precast.
3 Permasalahan dalam proyek yang menjadi penting bagi pelaksana yaitu terkait dengan singkatnya durasi pelaksanaan proyek yang diberikan oleh Kementerian PUPERA sehingga dibutuhkan adanya produktivitas yang tinggi dan efisiensi biaya untuk setiap pekerjaan dalam proyek khususnya pekerjaan pelat lantai. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek.
Produktivitas dan biaya sangat dipengaruhi oleh pekerja dan material yang digunakan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian diperlukan untuk menganalisis pengggunaan kedua metode pekerjaan pelat lantai baik konvensional maupun half slab precast. Aspek-aspek yang akan dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan metode pelaksanaan, produktivitas, waktu, dan biaya pekerjaan pelat lantai.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimaana keterkaitan antara penggunaan metode pekerjaan pelat lantai half slab precast dan konvensional terhadap efektivitas dan efisiensi pelaksanaan di lapangan?
2. Manakah di antara kedua metode yang lebih efektif dan efisien dari aspek waktu pelaksanaan?
3. Manakah di antara kedua metode yang lebih efektif dan efisien dari aspek biaya yang dibutuhkan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Membandingkan waktu pelaksanaan pekerjaan pelat lantai metode half-slab precast dan metode konvensional pada proyek gedung bertingkat tinggi.
2. Membandingkan biaya yang dibutuhkan antara kedua metode pekerjaan pelat lantai pada proyek gedung bertingkat tinggi.
4 1.4 Batasan Masalah
Ruang lingkup yang akan dibahas agar tidak terjadi penyimpangan dalam laporan Tugas Akhir ini yaitu sebagai berikut:
1. Metode pekerjaan pelat lantai yang akan diteliti yaitu terdiri dari pelat lantai metode half slab precast dan metode konvensional.
2. Analisis perbandingan ditinjau terhadap waktu pelaksanaan dan biaya yang dibutuhkan pada proyek.
3. Identifikasi masalah dilakukan pada beberapa faktor internal seperti berikut:
a. Produktivitas tenaga kerja b. Waktu pelaksanaan
c. Biaya material dan tenaga kerja
4. Penelitian dilakukan pada proyek Wisma Atlet Kemayoran Blok D10-1 Tower 2 Zona D.
5. Zona penelitian dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari zona D1 (pelat lantai konvensional), zona D2 (pelat lantai konvensional), dan zona D3 (pelat lantai half slab precast).
6. Lantai yang diteliti pada setiap zona, antara lain:
a. Zona D1 : lantai 30, lantai 31, lantai 32, dan lantai 33 (atap) b. Zona D2 : lantai 26, lantai 27, dan lantai 28
c. Zona D3 : lantai 28, lantai 30, lantai 31, dan lantai 32
7. Perhitungan dilakukan terhadap masing-masing komponen pekerjaan pada pekerjaan pelat lantai seperti pekerjaan pembekistingan, pekerjaan penulangan, dan pekerjaan beton.
8. Waktu siklus penggunaan alat tower crane tidak diperhitungkan.
1.5 Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam optimasi pemilihan metode pelaksanaan pekerjaan pelat lantai yang efektif dan efisien terhadap manajemen waktu dan biaya pada pembangunan gedung bertingkat tinggi.
5 Manfaat Praktis:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pekerjaan pelat lantai sebagai langkah antisipasi keterlambatan waktu dan pembengkakkan biaya.
1.6 Keaslian Penelitian
Perbandingan penelitian penulis dengan penelitian terdahulu yang terkait dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Perbandingan penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya Judul Penelitian Penelitian
Sebelum
Penelitian Peneliti Comparative Evaluation of
Time and Worker Effectiveness and Cost Efficiency Between Floor Deck and Precast Method : Case Study
Environmental and Disaster Mitigation Building of
Geography UGM and Student Apartment Kinanti UGM Building.
(Malika Rizqi, 2010)
Membandingkan antara metode floor deck dan metode precast pada pekerjaan pelat lantai.
Membandingkan antata metode konvenional dan half slab precast pada pekerjaan pelat lantai.
Studi Perbandingan Biaya dan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan Pelat Lantai Metode Precast Half Slab dengan Metode Konvensional pada Apartemen Soekarno Hatta Malang.
(Tomy Febriansyah, 2011)
Sebagian besar pelat lantai yang dikerjakan yaitu metode half slab precast.
Membandingkan dengan cara menghitung ulang bangunan dengan menggunakan pelat lantai konvensional.
Sebagian besar pelat lantai yang dikerjakan yaitu metode
konvensional.
Membandingkan dengan melakukan perhitungan sesuai kenyataan di lapangan.
6 Tabel 1.1 Lanjutan
Judul Penelitian Penelitian Sebelum
Penelitian Peneliti Perbandingan Metode
Pelaksanaan dan Anggaran Biaya Pelat Lantai Half Slab dan Konvensional pada Proyek Kamala Lagoon Beksi.
(Fahdli Sukmawinata, 2013)
Membandingkan metode
pelaksanaan dan anggaran biaya yang dibutuhkan pada pekerjaan pelat lantai.
Membandingkan metode
pelaksanaan terhadap
produktivitas dan efisiensi biaya yang dibutuhkan pada pekerjaan pelat lantai.
Efisiensi Biaya dengan Pemilihan Metode Konstruksi Pekerjaan Pelat pada Proyek Pembangunan Gedung Bertingkat
(Yanur Akhmadi, 2009)
Membandingkan efisiensi biaya dalam menentukan pemilihan metode pekerjaan pelat lantai.
Membandingkan produktivitas dan efisiensi biaya pada metode half slab precast dan konvensional.