Perancangan dan Realisasi Antena Double Cross Dipole Untuk Stasiun Bumi Sebagai
Antena Penerima Sinyal Satelit NOAA
Supartono Soediatno dan Victor
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Maranatha, Bandung Jl. Suria Sumantri 65, Bandung 40164, Indonesia
[email protected]; [email protected]
Abstrak: Perancangan dan realisasi antena Double Cross Dipole, menjadi salah satu solusi dari kebutuhan antena penerima sinyal satelit NOAA. Antena ini memiliki kelebihan antara lain ideal untuk portable station dan base station, biaya perakitan yang relatif murah, dan tidak diperlukannya rotator untuk melakukan tracking lintasan satelit. Dalam aplikasinya, sinyal dari satelit NOAA yang diterima oleh antena ini akan dipisahkan dari carrier-nya oleh sistem penerima RF. Sound card akan bekerja untuk mengubah sinyal audio menjadi dijital.
Selanjutnya dengan software aplikasi WXtoImg decoder, didapatkan hasil citra satelit berupa foto cuaca pada daerah pengamatan. Dari hasil pengujian, antena yang dirancang memiliki VSWR = 1,18, return loss -21,66 dB, impedansi 59 ohm, bandwidth 129,64 – 154,72 MHz pada VSWR < 1,5, gain = 10,42 dBi, pola radiasi berbentuk bola, dan memiliki polarisasi sirkular; beroperasi pada frekuensi 137 MHz .
Kata kunci: Antena Double Cross Dipole, Satelit NOAA, WXtoImg
Abstract: The design and realization of a Double Cross Dipole Antenna become one of the solutions of NOAA satellite receiver antenna necessity. This antenna has several advantages, for instance it is ideal for a portable station and base station, cheap assembling cost, and it doesn’t need a rotator for satellite trajectory tracking. As an application of this antenna, the NOAA satellite signal which is received by Double Cross Dipole Antenna will be separated from its carrier by RF receiver system. Then, the sound card will change the received audio signal into digital data. And then using WXtoImg decoder application software, a satellite image result in the form of weather picture of the observatory land or territory is obtained. The results of this antenna testing, indicate that the antenna has VSWR = 1.18, return loss -21.66 dB, impedance 59 ohm, bandwidth 129.64 – 154.72 MHz for VSWR < 1.5, gain = 10.42 dBi, spherical radiation pattern and circular polarization, and operates at 137 MHz .
Keywords: Double Cross Dipole Antenna, NOAA Satellite, WXtoImg
I. P ENDAHULUAN
Satelit penginderaan jauh semakin besar peranannya dalam berbagai bidang
ISSN 1979-2867 (print)
Electrical Engineering Journal
Vol. 4 (2013) No. 1, pp. 1-17
pembangunan. Salah satu diantaranya ialah satelit yang berorientasi pada kondisi samudra dan atmosfer NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration). Aplikasi dari satelit yang dilengkapi sensor AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer), data citra satelit antara lain digunakan untuk peramalan cuaca harian pada banyak lahan dan perairan. Juga digunakan untuk pembuatan Peta Suhu Permukaan Laut, sehingga dapat dipakai sebagai alat bantu prediksi daerah tangkapan ikan di laut atau samudra luas.
Satelit NOAA bekerja pada frekuensi downlink 137 - 138 MHz dan termasuk dalam kelompok satelit polar LEO (Low Earth Orbit) yang mengorbit pada ketinggian 800 km di atas permukaan bumi
[1].
Melihat hal yang dikemukakan di atas, maka dibutuhkan sebuah antena yang mampu menangkap sinyal yang dikirim oleh satelit NOAA. Antena Double Cross Dipole menjadi salah satu solusi sebagai antena penerima sinyal satelit tersebut, karena antena ini dapat dipergunakan untuk portable station dan base station, biaya perakitan yang relatif murah, dan yang menguntungkan adalah tidak diperlukannya rotator dalam men-tracking lintasan satelit
[2].
Perangkat lunak merupakan elemen yang tidak kalah penting agar proses komunikasi ke satelit dapat terjalin dengan baik, dengan penggunaan program aplikasi Orbitron for windows versi 3.71 dapat diketahui posisi satelit terhadap antena di bumi; ini merupakan langkah awal untuk melakukan komunikasi dengan satelit tersebut
[3]. Sinyal dari satelit setelah diproses oleh sistem radio penerima, selanjutnya diterjemahkan oleh program aplikasi WXtoImg menjadi sebuah citra satelit.
II. P ERANCANGAN DAN R EALISASI A NTENA D OUBLE C ROSS D IPOLE
Pengertian secara umum, antena merupakan transformator atau alat transisi energi dari saluran transmisi fisik menjadi suatu gelombang elektromagnetik untuk diradiasikan ke ruang bebas. Sebaliknya antena juga bisa menerima gelombang elektromagnetik dari ruang bebas
[4].
Secara umum antena memiliki besaran-besaran penting yang menunjukkan performansi nya seperti Voltage Standing Wave Ratio (VSWR), return loss, impedansi, bandwidth, gain, pola radiasi, dan polarisasi. Besaran-besaran antena di atas berpengaruh dalam perancangan suatu antena, yang satu sama lainnya saling berkaitan.
Untuk komunikasi satelit LEO, secara umum antena yang baik memiliki VSWR < 1,5, return loss < -14 dB dan gain 10 dBi
[5]. Impedansi antena direncanakan mendekati 50 Ω agar dapat matching dengan saluran transmisi. Untuk bisa menangkap sinyal satelit NOAA, antena ini dirancang untuk dapat menerima frekuensi downlink NOAA diantara 137 - 138 MHz
[6].
Pada aplikasi satelit, sinyal akan mengalami depolarisasi ketika menembus awan sehingga mengakibatkan polarisasi gelombang akan berubah ke arah yang tidak bisa diprediksi.
Untuk mengantisipasi kemungkinan penerimaan sinyal yang tidak diketahui polarisasinya maka antena dirancang memiliki polarisasi sirkular
[4].
Keuntungan antena Double Cross Dipole, yakni tidak membutuhkan rotator untuk men- tracking posisi satelit. Hal ini dapat direalisasikan dengan membuat antena ini memiliki pola radiasi berbentuk bola (spherical) agar arah penerimaan sinyal satelit dapat dari segala arah
[6]. II.1. Perencanaan Konstruksi Antena Double Cross Dipole
Pada proses perencanaan ini terdapat dua elemen dasar, yaitu panjang elemen antena
dipol ½ λ dan panjang kabel coaxial. Antena dipol ½ λ diatur menjadi susunan Cross Dipole.
Sketsa perancangan dari antena Double Cross Dipole yang akan direalisasikan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Sketsa perancangan antena Double Cross Dipole
[6, 8]II.2. Perhitungan Panjang Dipole Antena
Panjang gelombang pada frekuensi kerja, didapat dari mencari frekuensi tengah (center) dari frekuensi 137 MHz – 138 MHz
[4].
𝑓
𝑐=
𝑓𝑙+𝑓2
=
137+1382
𝑀𝐻𝑧 = 137,5 𝑀𝐻𝑧 (1)
Sehingga:
𝜆
0=
𝑓𝑐𝑐
=
137,5 𝑥103𝑥108𝑚/𝑠6 𝐻𝑧= 2,1818 𝑚 = 218,18 𝑐𝑚 ≈ 218 𝑐𝑚 (2) Panjang dipol ½ λ
0:
1
2
𝜆
0=
𝜆20= 109 𝑐𝑚 Pemilihan dipol ½ λ
0dikarenakan :
Untuk penerimaan sinyal yang berpolarisasi sirkular, diperlukan Circularly Polarized Antennas;
dan salah satu diantaranya yang mudah realisasinya adalah dengan 4 in-phase λ/2 dipoles
[8].. dengan:
f
c= frekuensi tengah daerah kerja antena f
l= batas frekuensi terendah
f
h= batas frekuensi tertinggi λ
0= panjang gelombang diudara
c = cepat rambat gelombang di udara 3x10
8m/s II.3. Perhitungan Panjang Coaxial
Perhitungan panjang coxial menjadi penting karena antena yang akan direalisasikan mempunyai polarisasi sirkular, dengan gelombang berjalan seiring dengan berjalannya waktu dan perambatannya. Untuk mendapatkan polarisasi sirkular, maka pencatuan daya dibuat mempunyai beda phasa 90º; yang pada realisasinya dengan membuat panjang coaxial dibedakan sebesar ¼ λ
[7]. Perhitungan coaxial sebagai berikut:
Cepat rambat cahaya = 3 x 10
8m/s
RG-58 mempunyai velocity factor (vf) = 0,66
[8] Penambahan panjang coaxial ¼ λ =
300 𝑥 0,664 𝑥 𝐹𝑟𝑒𝑞 𝑀𝐻𝑧
𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 (3)
Sebagai contoh untuk frekuensi 137 MHz menjadi :
Penambahan panjang coaxial ¼ λ =
300 𝑥 0,664 𝑥 137,5= 0,36 𝑚 = 36 𝑐𝑚
Jadi jika panjang coaxial pendek 36 cm, maka panjang coaxial panjang:
36 + 36 = 72 cm.
Coaxial pendek 36 cm menjadi transfomator ¼ λ bagi saluran catu daya antena.
Gambar 2. Pemotongan kabel coaxial RG-58
II.4. Analisa Perancangan Dipol Antena
Perhitungan panjang dipol ½ λ (109cm) secara teoritis, belum dapat langsung digunakan karena faktor pengaruh dari bahan-bahan pembuat antena belum diperhitungkan. Perhitungan teoritis ini mutlak diperlukan agar bisa dimulainya percobaan, tanpa perhitungan teoritis perancang tidak akan bisa mengetahui dari mana akan dimulainya percobaan.
Pengujian Voltage Standing Wave Ratio (VSWR), merupakan pengujian yang paling sederhana untuk mengukur seberapa cocok antena yang dihubungkan dengan saluran transmisi.
Pada antena penerima, jika VSWR mencapai kondisi matching maka energi yang diterima antena akan bisa optimal disalurkan ke sistem receiver. Hasil Pengujian VSWR antena Double Cross Dipole pada panjang dipol ½ λ (109 cm) dapat dilihat pada Tabel 1. Gambar 3 menunjukkan sistem pengukuran yang digunakan.
Gambar 3. Sistem pengukuran Return Loss dan VSWR
T
ABEL1. H
ASILP
ENGUKURANVSWR
DENGANP
A NJANGD
IPOLE½ λ (109
CM)
Frekuensi Downlink
(MHz) VSWR Return Loss
(dB)
126 3,675 -4,849
128 2,428 -7,606
130,47 2,205 -8,496
132,16 2,113 -8,933
133,98 2,376 -7,795
136,1 2,425 -7,616
137,62 2,150 -8,752
138,12 2,193 -8,550
140,3 2,293 -8,119
142 2,316 -8,027
144,3 2,254 -8,282
146 2,017 -9,445
148 2,098 -9,00
150,5 2,191 -8,56
152,3 2,379 -7,784
153,98 2,546 -7,21
156,34 2,867 -6,324
157,1 2,911 -6,220
Dari Tabel 1, pengukuran VSWR pada panjang dipol 109 cm, dapat diamati bahwa pada band frekuensi kerja yang diinginkan (137-138 MHz), nilai VSWR masih jauh dari rasio yang direncanakan (< 1,3). Untuk itu, maka panjang teoritis tersebut harus diberikan koreksi. Koreksi ini dilakukan dengan metoda trial and error. Metoda trial and error adalah suatu metoda ilmiah yang digunakan apabila ada dua variabel yang saling tergantung atau bila ada beberapa variabel yang tidak dapat diukur besarnya. Proses realisasinya berupaya mendapatkan VSWR mengecil, tergantung pemotongan panjang pada keempat dipol antena hasil perhitungan; bila VSWR berbalik membesar lagi, proses diulang kembali dari awal. Hal ini dilanjutkan secara berulang sampai didapatkan nilai VSWR yang diharapkan (< 1,3) pada band frekuensi 137–138 MHz.
Pada perancangan ini dilakukan pemotongan dipol per 1 cm pada masing-masing pangkal dan ujung dipol, kemudian dilakukan pengujian VSWR. Setelah dilakukan beberapa kali pengujian VSWR, maka didapat pada pemotongan dipol 5,5 cm pada pangkal dan ujung dipol;
didapatkan rasio VSWR menjadi sesuai dengan yang direncanakan, sehingga panjang dari
keempat dipol mejadi 98 cm. Penyesuaian dipol ini disebut dipol koreksi. Pada Tabel 2
diperlihatkan untuk frekuensi kerja 137,62-138,12 MHz, hasil uji VSWR dari dipol yang sudah
dikoreksi : 1,180-1,183; menjadi lebih baik dari hasil uji di Tabel 1 yang sebelum dikoreksi.
T
ABEL2. P
ENGUKURANVSWR
DENGANP
ANJANGD
IPOLE½ λ
YANGS
UDAHD
IKOREKSI(98
CM)
Frekuensi Downlink
(MHz) VSWR Return Loss
(dB)
126 2,796 -6,5
128 1,842 -10,56
130,47 1,205 -20,6
132,16 1,131 -24,22
133,98 1,376 -16
136,1 1,42 -15,2
137,62 1,180 -21,66
138,12 1,183 -21,50
142 1,361 -16,3
144,3 1,248 -19,14
146 1,081 -28,1
148 1,092 -27,12
150,5 1,191 -21,18
152,3 1,359 -16,35
153,98 1,546 -13,37
156,34 1,859 -10,44
157,1 1,901 -10,15
Analisis:
Faktor koreksi lingkungan (K) dapat dihitung dengan cara membagi panjang dipol setelah dikoreksi dengan panjang dipol secara teoritis
[9].
𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 (𝐾) =
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑜𝑙𝑒 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎 𝑑𝑖𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑜𝑙𝑒 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
(4)
Jadi,
𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 (𝐾) =
109 𝑐𝑚98 𝑐𝑚= 0,899 ≈ 0,9
Faktor koreksi (K) sebesar 0,9 antara lain bisa disebabkan oleh pemilihan diantara bahan- bahan pembuat antena dan sambungan-sambumgan coaxial yang bisa didapat dipasaran.
II.5. Perealisasian Antena Double Cross Dipole A. Pemilihan Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam perealisasian antena Double Cross Dipole antara lain:
1 meter PVC diameter 1 inch,
2 meter PVC diameter 0,5 inch, dipotong jadi 2 buah @ 48 cm, dan 8 buah @ 10 cm,
4 buah T PVC diameter 0,5 inch,
1 buah tutup PVC diameter 1 inch,
8 buah tutup PVC diameter 0,5 inch,
2 meter aluminium diameter 6 inch, dipotong menjadi 8 buah @ 49 cm,
Terminal kabel diameter 7 mm,
3 meter coaxial RG-58, 50 ohm,
Konektor PL-259 Female,
Lem PVC atau lem besi.
coaxial pendek berukuran 38 cm dan coaxial panjang berukuran 74 cm
Gambar 4 menunjukkan bahan-bahan yang digunakan dalam realisasi antena Double Cross Dipole.
Gambar 4. Bahan perakitan antena Double Cross Dipole
B. Perakitan Antena Double Cross Dipole Bagian yang penting dalam perakitan yakni:
1. Bagian outer dan bagian inner dari kabel coaxial pendek dan coaxial panjang dikupas sepanjang 1 cm, kemudian disolder ke terminal kuningan seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5. Bagian inner sebagai (+) dan bagian outer sebagai (-), ditandai.
Gambar 5. Pemasangan coaxial pada terminal kuningan
2. Langkah selanjutnya keempat coaxial dirangkai seperti Gambar 6.
Gambar 6. Konfigurasi sambungan antar coaxial
[6]Langkah penyambungan:
Outer (-) dari dipol 1, dihubungkan dengan outer (-) dipol 2, begitu pula outer (-) dari dipol 3 disambungkan dengan outer (-) dari dipol 4.
Inner (+) dari dipol 1, dihubungkan dengan inner (+) dari dipol 3, begitu pula dengan inner (+) dari dipol 2 dihubungkan dengan inner (+) dari dipol 4. Sehingga dipol 1 dan 3 dan dipol 2 dan 4 saling berpasangan.
Selanjutnya, inner dari pasangan dipol 1 dan 3 dihubungkan ke body, dan inner (+) dari pasangan dipol 2 dan 4 dihubungkan ke bagian tengah dari konektor PL-259 Female (Gambar 7).
Gambar 7. Sambungan ke konektor PL-259 Female
Hasil final antena Double Cross Dipole dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Hasil final antena Double Cross Dipole
III. P ENGUJIAN DAN A NALISIS P ARAMATER A NTENA
III.1. Pengujian dan Analisis VSWR, Return Loss dan Impedansi 1) Peralatan yang Digunakan
a. Antena Double Cross Dipole yang akan diukur dipasang sebagai beban, b. Sweep Oscillator/Generator (Gambar 9),
c. Scalar Nework Analyzer (SNA) (Gambar 9),
d. Kabel-kabel, detektor, dan directional coupler (DC) (Gambar 10) 2) Prosedur Pengukuran
Sistem pengukuran seperti pada Gambar 3.
Gambar 9. Sweep Generator dan Scalar Network Analyzer
Gambar 10. Konfigurasi Pengukuran dilengkapi directional coupler
T
ABEL3.
H
ASILP
ENGUKURANVSWR A
NTENAD
OUBLEC
ROSSD
IPOLE PADAF
REKUENSI137 MH
ZFrekuensi Downlink
(MHz) VSWR Return Loss
(dB)
126 2,796 -6,5
128 1,842 -10,56
130,47 1,205 -20,6
132,16 1,131 -24,22
133,98 1,376 -16
136,1 1,42 -15,2
137,62 1,180 -21,66
138,12 1,183 -21,50
140,3 1,273 -18,4
142 1,361 -16,3
144,3 1,248 -19,14
146 1,081 -28,1
148 1,092 -27,12
150,5 1,191 -21,18
152,3 1,359 -16,35
153,98 1,546 -13,37
156,34 1,859 -10,44
157,1 1,901 -10,15
Hasil pengukuran Return Loss antena Double Cross Dipole, menunjukkan bahwa VSWR rata-rata yang terukur di daerah frekuensi 137,620 - 138,120 MHz adalah pada nilai 1,18 – 1,183; berarti mendekati nilai spesifikasi yang diharapkan yaitu < 1,3, sesuai untuk antena penerima sinyal dari satelit NOAA 18
[1].
Dari hasil pengukuran Return Loss, pada frekuensi kerja yang ditetapkan yaitu 137-138
MHz, nilai VSWR yang terukur sebesar 1,18; maka dengan persamaan 5:
𝑉𝑆𝑊𝑅 =
1+|Γ|1−|Γ|
=
1+𝑍𝑖𝑛 −𝑍𝑜 𝑍𝑖𝑛 +𝑍𝑜
1−𝑍𝑖𝑛 −𝑍𝑜
𝑍𝑖𝑛 +𝑍𝑜
=
𝑍𝑖𝑛+𝑍𝑜+𝑍𝑖𝑛−𝑍𝑜𝑍𝑖𝑛+𝑍𝑜−𝑍𝑖𝑛+𝑍𝑜
=
𝑍𝑖𝑛𝑍𝑜