1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia sebesar 0,71% dari 267 juta jiwa pada tahun 2019 memberikan konsekuensi berbagai permasalahan lingkungan, salah satunya adalah semakin meningkatnya limbah hasil aktivitas penduduk.
Pembuangan limbah memiliki dampak yang besar pada lingkungan dan dapat menyebabkan masalah yang serius berupa pencemaran lingkungan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, terganggunya kesehatan manusia, matinya tumbuhan dan hewan akibat racun dari limbah, meningkatnya hama pembawa penyakit, dan perubahan iklim yang ekstrim.
Dari beberapa masalah tentang limbah, ada kebutuhan mendesak untuk menyadarkan pikiran kaum muda terhadap masalah dan kepedulian lingkungan.
Pendidikan di sekolah berperan penting dalam pembentukan karakter manusia berwawasan lingkungan. Siswa harus memiliki kepedulian terhadap masalah lingkungan agar dapat berperan dalam pengelolaan sampah yang baik. Siswa membutuhkan kemampuan pemecahan masalah dalam menerapkan prinsip pengelolaan sampah, pengelolaan sampah termasuk dalam materi limbah kelas X.
Pemecahan masalah diukur dari pengetahuan, penalaran, dan penerapan soal-soal yang tidak diberikan secara rutin (Wardani & Rumiati, 2011).
Di Indonesia siswa memiliki kemampuan pemecahan masalah yang masih rendah. Berdasarkan hasil studi PISA (Program for International Student Assesment) pada bagian aspek literasi sains yang mengukur kemampuan
pemecahan masalah meliputi penggunaan ilmu serta identifikasi masalah dalam memahami fakta dan keputusan tentang alam serta perubahannya di lingkungan, Indonesia mendapatkan posisi ke 62 dari 70 negara dengan poin rata-rata 403, sementara itu poin rata-rata internasional adalah 493 (Gurria, 2016). Selain itu hasil studi TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) di tahun 2011, Indonesia mengalami penurunan kinerja belajar dengan hasil poin lebih rendah dibandingkan tahun 2007 dan berada di posisi ke 38 dari 42 negara.
Profil rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa juga dipaparkan dalam beberapa penelitian, antara lain penelitian oleh Yosefina, Arnyana, &
Adnyana (2018) yang telah melakukan observasi bahwa hasil belajar siswa pada ranah kognitif masih rendah, ditunjukkan bahwa siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimum. Hasil belajar siswa yang rendah dipengaruhi oleh proses pembelajaran, siswa belum dilibatkan secara aktif dalam menemukan fakta, konsep, dan prinsip yang dapat diaplikasikan dalam memecahkan masalah pada pelajaran produktif dan kehidupan sehari-hari. Kemudian penelitian Marasabessy & Djukri (2018) yang menyatakan bahwa sebelum diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dan model Problem Based Learning, hasil kemampuan pemecahan masalah biologi siswa MAN 1 Ternate
kelas X sangat rendah. Selanjutnya Trianto (dalam Sumiantari, Suadarna, &
Selamet 2019) menyatakan bahwa di lapangan siswa kesulitan dalam menentukan dan memecahkan masalah yang dialaminya khususnya terkait dengan pembelajaran IPA.
Pada abad 21 khususnya dalam ranah pendidikan, terdapat tuntutan untuk dapat berpikir kritis serta kreatif disaat menghadapi berbagai macam masalah.
Siswa SMA perlu memiliki kemampuan berpikir level tinggi serta pemecahan masalah berdasarkan kompetensi kelas X pada Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Biologi yang telah disampaikan secara eksplisit dalam rumusan Permendikbud No.64, tahun 2013 (Permendikbud, 2013). Shobirin (2016) menyatakan bahwa model pembelajaran yang didesain supaya siswa mendapatkan ilmu yang juga melatih kemampuan pemecahan masalah, memiliki kecakapan dalam tim, dan memiliki model belajar sendiri salah satunya yaitu pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). PBL menciptakan pemikiran yang lebih kritis, pemecahan masalah, pembelajaran mandiri, keterampilan beradaptasi, komunikasi, keterampilan interpersonal, dan kerja tim. Pendekatan PBL merupakan keterampilan umum yang dapat dibagi ke dalam dua kriteria. Kriteria pertama adalah keterampilan intelektual dan yang kedua adalah keterampilan bekerja sama (Meister, 2020).
PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mana suatu masalah berfungsi sebagai isi dan dorongan pada siswa dalam mempelajari konsep materi dan keterampilan metakognitif. Masalah dalam PBL adalah masalah teoritis atau praktis yang menarik, didasarkan pada situasi nyata, dan seringkali memiliki lebih dari satu jawaban yang benar atau lebih dari satu cara yang benar untuk mendapatkan jawaban. Dalam PBL, siswa menghadapi masalah sebelum mereka menerima semua informasi relevan yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Siswa bekerja dalam tim untuk menentukan sifat masalah, untuk mengidentifikasi sumber daya tambahan yang mereka butuhkan, dan untuk menemukan solusi yang layak untuk masalah yang dihadapi (Davidson & Major, 2014).
Studi oleh Surif, Ibrahim, & Mochtar (2013) menunjukkan bahwa PBL membawa dampak positif dalam meningkatkan motivasi belajar mandiri dan soft skill siswa. Pasalnya, PBL menggunakan masalah pembelajaran sebagai katalisator
untuk mendorong siswa berpikir kritis. Kegiatan belajar kelompok dan peran kepemimpinan membantu mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi siswa. Didukung data hasil penelitian dari Simatupang & Ionita (2020) yang menunjukkan bahwa model PBL memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pemecahan masalah biologi siswa pada materi pencemaran lingkungan kelas X MIA SMA Negeri 3 Medan tahun 2018/2019.
Pandemi COVID-19 membuat semuanya berubah, salah satunya di bidang pendidikan. Indonesia merupakan salah satu negara yang terjangkit pandemi COVID-19. Upaya pemerintah dalam memutus persebaran COVID-19 adalah dengan menerapkan physical distancing. Physical distancing adalah suatu himbauan untuk saling menjaga jarak antar sesama manusia, menghindari kegiatan berbentuk kerumunan dan pertemuan yang melibatkan banyak orang. Sekolah merupakan tempat berkumpulnya banyak siswa, sehingga saat pandemi sekolah- sekolah ditutup dan kegiatan pembelajaran dilakukan secara online. Pembelajaran secara online adalah pembelajaran yang dibantu dengan akses internet, sehingga guru dan siswa dapat berinteraksi walaupun tidak berada di tempat yang sama.
Pembelajaran online yang diwajibkan di era COVID-19 juga tidak luput dari berbagai permasalahan, salah satu kendala yang ditemukan pada proses
pembelajaran biologi kelas X MIPA SMA Batik 1 Surakarta adalah tidak tuntasnya siswa dalam mengikuti pembelajaran sehingga pemahaman dalam materi kurang.
Selain itu kurang optimalnya proses pembelajaran mengakibatkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa (Mariani & Susanti, 2019). Siswa cemas jika suatu saat kegiatan pembelajaran kembali normal mereka akan kurang mampu mempelajari materi yang baru dengan baik dikarenakan tidak paham dengan materi sebelumnya. Kecemasan tidak berhenti sampai di situ akan tetapi juga berdampak pada pemikiran ke depannya tentang keterampilan yang dimiliki setelah lulus dari sekolah untuk melanjutkan kuliah atau bekerja (Oktawirawan, 2020).
Karena tidak optimalnya proses pembelajaran akibat dari sistem, pembelajaran online maka dibutuhkan suatu media pembelajaran. Media pembelajaran digunakan sebagai bantuan untuk melatih berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah, sehingga membantu tugas guru dan siswa dalam mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Pada era COVID-19 tentunya akan susah jika membuat media pembelajaran yang hanya bisa digunakan saat jam pelajaran berlangsung atau media pembelajaran yang berbentuk tiga dimensi seperti diorama, model kerja, mock up dan sebagainya. Media pembelajaran yang tepat digunakan pada era ini adalah media pembelajaran berbentuk media grafis, seperti gambar, poster, foto, bagan dan sebagainya, kemudian ada media pembelajaran berbentuk proyeksi seperti film, slide, video, OHP dan sebagainya yang dapat dengan mudah disimpan dalam platform-platform yang digunakan sebagai sarana pembelajaran online. Media pembelajaran yang baik adalah media pembalajaran yang mampu membangun pengetahuan siswa secara mandiri (konstruktivisme).
Konstruktivisme dapat tercapai apabila siswa ikut andil dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Namun pembelajaran online membuat siswa cenderung pasif karena waktu dan interaksi yang terbatas dengan guru maupun sesama siswa, sehingga siswa akan kesulitan memahami materi yang disampaikan.
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan sebelumnya, video pembelajaran berbasis masalah cukup tepat untuk membantu permasalahan yang timbul. Video pembelajaran merupakan media pembelajaran gabungan dari audio dan visual yang bisa membantu meningkatkan minat belajar, pemahaman, berpikir
kritis dan hasil belajar siswa. Video pembelajaran berbasis masalah menurut hasil dari penelitian oleh Rasim, Setiawan, & Rahman (dalam Batubara, 2017) menunjukkan hasil yang cukup signifikan dalam pemahaman materi yang mendalam, jadi dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran yang dikembangkan dengan basis komputer dapat membantu siswa belajar tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu, memberikan visualisasi materi yang abstrak, dapat digunakan pada macam-macam media pembelajaran sehingga materi yang tersampaikan interaktif, membantu siswa memahami materi dan penggunaan media video dapat meningkatkan performa siswa saat presentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan video pembelajaran, mengetahui kelayakan dan mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa sebelum dan sesudah implementasi video pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian yang akan dilakukan adalah “Pengembangan Video Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Siswa Kelas X SMA pada Materi Limbah”.
B. Identifikasi Masalah
1. Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia menyebabkan limbah hasil aktivitas penduduk turut meningkat.
2. Pendidikan di sekolah bertanggung jawab untuk menghasilkan karakter manusia berwawasan lingkungan sehingga diperlukan pengenalan penanganan limbah pada siswa.
3. Kemampuan pemecahan masalah pada siswa rendah.
4. Pandemi COVID-19 membuat kegiatan pembelajaran kurang optimal sehingga diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran secara online untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
C. Pembatasan Masalah
1. Media pembelajaran yang dikembangkan berupa video pembelajaran berbasis masalah disertai dengan lembar kerja siswa untuk mata pelajaran Biologi, khususnya pada materi limbah untuk siswa kelas X.
2. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran berbasis masalah untuk melatih kemampuan pemecahan masalah pada siswa.
3. Aplikasi yang digunakan dalam pembuatan media pembelajaran adalah Wondershare Filmora dan Animaker.
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara mengembangkan video pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah?
2. Bagaimanakah kelayakan video pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah?
3. Bagaimanakah perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa sebelum dan sesudah implementasi video pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah?
E. Tujuan Penelitian
1. Mengembangkan video pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah.
2. Mengetahui kelayakan video pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah.
3. Mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa sebelum dan sesudah implementasi video pembelajaran berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah.
F. Spesifikasi Produk
1. Video pembelajaran yang dikembangkan berbasis masalah untuk siswa kelas X SMA pada materi limbah terdiri dari dua video, yaitu video orientasi masalah dan video evaluasi, selain itu video pembelajaran yang dikembangkan juga disertai dengan satu lembar kerja siswa.
2. Video pembelajaran berbasis masalah yang dikembangkan dapat melatih kemampuan pemecahan masalah siswa kelas X SMA pada materi limbah.
E. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
Hasil dari penelitian dan pengembangan video pembelajaran ini diharapkan menjadi acuan bagi pengembang video pembelajaran lainnya yang lebih bervariasi, efisien dan menarik sehingga dapat mengatasi permasalahan dalam kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran Biologi.
2. Secara Praktis a. Bagi Siswa
Memudahkan siswa untuk belajar tanpa adanya batas ruang dan waktu, memberikan pengalaman belajar yang kongkret dan mudah diingat oleh siswa, serta membantu melatih kemampuan pemecahan masalah.
b. Bagi Guru
Sebagai referensi dalam menentukan cara membelajarkan materi tertentu dengan tepat sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan memberikan motivasi untuk guru agar dapat menggunakan media pembelajaran sesuai materi dan kondisi yang terjadi sehingga kegiatan pembelajaran menjadi efisien.
c. Bagi Sekolah
Sebagai salah satu alternatif penggunaan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam berbagai kondisi dan melatih penggunaan kemajuan teknologi untuk meningkatkan mutu pendidikan.