KABUPATEN ENREKANG
HELMI
Nomor Stambuk : 105640126011
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSA 2015
KABUPATEN ENREKANG
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan
Disusun dan Diajukan Oleh HELMI
Nomor Stambuk: 105640126011
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
i
Judul Skripsi
Nama Mahasiswa Nomor Stambuk Program Studi
Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Usaha Temak Kerbau Di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang
HELMI 105640126011 Ilmu Pemerintahan
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Muhammad Tahir, M.Si
Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Keputusan/undangan menguji ujian skripsi Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar, Nomor : 1387/FSP/A.1-VIII/X/36/2014 sebagai Salah satu syarat untuk memperoleh gelar saijana (S.l) dalam program studi Ilmu Pemerintahan Di Makassar pada hari selasa tanggal 27 bulan 10 tahun 2015
TIM PENILAI
Penguji:
1. Dra.Hj. Muhajirah Hasanuddin, M.Si (ketua) 2. Dr. Hj. Fatmawati, M.Si
3. Hj. Andi Nuraeni Aksa, SH, MH 4. Drs. Muhammad Tahir, M.Si
Saya yang bertanda tangani di bawah ini:
Nama Mahasiswa : Helmi
Nomor Stambuk : 105640126011 Program Studi : Ilmu Pemerintahan
Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Penyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.
Makassar, 23 Mei 2015 Yang Menyatakan,
Helmi
iv
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Peran Pemerintah Daerah dalam Pengembangan Usaha Ternak Kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang)”.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar saijana Ilmu Pemerintahan Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Ibu DR Hj. Fatmawati, M.Si selaku pembimbing I dan Bapak Drs. Muhammad Tahir, M.Si selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Bapak Drs. Mulis Madani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak A. Luhur Prianto, S.Ip., M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Kedua orang tua dan segenap keluarga yang senantiasa memberikan semangat, dorongan serta bantuan, baik moril maupun materil.
5. Kepada Kepala Kecamatan Curio, para tokoh masyarakat dan para instansi pemerintah di Kabupaten Enrekang yang senantia membantu penulis untuk memberikan informasi yang menjadikan skripsi bisa terselesaikan.
v
7. Kepada seluruh teman-teman dan sahabat yang telah memberikan bantuannya baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih kawan, kebersamaan kita akan selalu kukenang.
Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya mendidik, membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.
Semoga Allah Subhanallah Wata’ala senantiasa selalu melimpahkan Rahmat -Nya kepada kita semua, Amin
Makassar, 23 Mei 2015
Helmi
vi
Halaman Persetujuan... ii
Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah... iii
Abstrak ... iv
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi... vi
Dftar Tabel... vii
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah... 5
C. Tujuan Penelitian... 5
D. Kegunaan Penelitian... 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Pemerintah Daerah... 7
B. Peran Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan Masyarakat... 18
C. Strategi Pemberdayaan Masyarakat... 20
D. Pemberdayaan Dalam Usaha Ternak Kerbau... 22
E. Peternak Kerbau ... 22
F. Tujuan Pemberdayaan Dalam Usaha Ternak Kerbau... 23
G. Pendekatan pemberdayaan masyarakat... 24
H. Kerangka Pikir... 26
I. Deskripsi Fokus Penelitian... 27
BAB III. METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian... 29
B. Jenis dan Tipe Penelitian... 29
C. Sumber Data... 30
D. Informan Penelitian ... 30
E. Teknik Pengumpulan Data ... 31
F. Teknik Analisis Data... 32
G. Pengapsahan Data ... 33
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian... 35
B. Pemaparan Rumusan Masalah I ... 40
vii
A. Kesimpulan... 59 B. Saran-Saran... 60 DAFTAR PUSTAKA... 61
viii
HELMI. Peran Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Usaha Ternak Kerbau Di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang (dibimbing oleh Fatmawati dan Muhammad Tahir).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam proses pemberdayaan kelompok peternak dan faktor penghambat dan pendukung pemerintah dalam mengembangakan usaha kelompok peternak di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
Jenis penelitian adalah kualitatif dan analisa data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumen. Sementara informan dalam penelitian ini Kabit peternakan, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) peternakan dan kelompok petani peternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan kelompok petani peternak di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang yang meliputi peran sebagai dinamisator dan fasilitator belum berjalan maksimal, dapat terlihat dari pelaksanaan bimbingan sebagai kegiatan pendamping lapangan disebabkan karena tenaga penyuluh di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang masih sangat kurang dan penyediaan sarana dan prasarana juga belum maksimal diberikan pemerintah belum memadai dan belum sebanding dengan kebutuhan para anggota kelompok petani peternak. Faktor pendukung adalah sarana produksi yaitu pemberian dari pemerintah daerah kepada pemerintah desa sebagai wujud apresiasi pemerintah daerah untuk melaksanakan program-program pemerintahan, kerjasama antara pemerintah daerah dengan kelompok petani peternak. Faktor penghambat adalah pertama faktor aparat pelaksana yang masih kurang secara kuantitas, rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan serta kurangnya pengetahuan petani dalam pemberdayaan usaha ternak.
Kata Kunci: Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Petani Ternak Kerbau.
ix
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Secara mendasar salah satu tugas dan kewajiban pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan Indonesia karena secara tegas telah dinyatakan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bahwa Pemerintah Negara Republik Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Berdasarkan Undang-Undang Dasar tersebut memberi arti bahwa pemerintah mempunyai peran penting baik secara perencanaan, penggerakan, pengendalian, dan pengawasan dalam pelaksanaan pembangunan nasional.
Kegagalan dan keberhasilan pembangunan produksi peternakan ditentukan oleh kemampuan semua pihak yang terlibat dalam proses pemberdayaan masyarakat untuk memahami realitas masyarakat. Pentingnya pembangunan merupakan mekanisme pembangunan nasional yang menjadikan masyarakat pada akhirnya berperan sebagai pelaku utama kegiatan pembangunan, mulai dari perancanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi dan tindak lanjut. Hal itu diperlukan payung hukum bagi penyelanggaraan sistem pembangunan nasional yang berbasis pemberdayaan masyarakat dan sesuai dengan daya kebangsaan Indonesia yang tidak hanya dapat menjembatani konteks mikro kedalam konteks makro, tetapi juga sebaliknya menerjemahkan konteks makro ke dalam konteks mikro.
Pentingnya memberikan mandat tentang keberpihakan pemerintah sebagai regulator, fasilitator dan dinamisator dalam pembangunan nasional yang memberikan peran aktif kepada masyarakat partisipatif. Pemerintah telah
1
membentengi dengan berbagai peraturan perundang-undangan, contohnya yaitu Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2013 tentang Pemberdayaan Peternak, aturan ini memberikan payung hukum yang jelas terhadap pemberdayaan peternak, antara lain mulai dari akses sumber pembiayaan, ilmu pengetahuan, teknologi informasi, pelayanan peternakan, pelayanan kesehatan, bantuan teknik, pembinaan kemitraan, penciptaan iklim yang kondusif dan perlindungan harga ternak.
Kebijakan pemerintah yang sudah dibuat harus menjadi pedoman bagi pelaku usaha di bidang peternakan. Terhadap perusahaan peternakan yang
“melanggar” melanggar aturan harus ditindak tegas dengan mengusulkan pencabutan ijin usahanya kepada bupati/walikota setempat, sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 404/Kpts/OT.210/6/2002 tentang Pedoman Perizinan dan Pendaftaran Usaha Peternakan. Dari sisi peternak harus selalu dilakukan pembinaan dan transfer teknologi secara keberlanjutan, peraturan perundang-undangan pemerintah terkait dengan peternakan dan kesehatan hewan harus disosialisasikan kepada peternak dan pelaku usaha peternakan untuk dapat menciptakan kesejahteraan peternakan.
Pembangunan nasional dapat berjalan optimal dan mampu bersaing di pasar global, maka ketiga aspek tersebut harus mencakup secara seimbang dan ditunjang oleh kebijakan yang dibuat oleh sosial pemerintah yang pro pembangunan nasional. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan ditandai dengan adanya kemakmuran yaitu meningkatnya konsumsi yang disebabkan oleh menigkatnya pendapatan. Meningkat karena adanya peningkatan produksi
yang selanjutnya membuka kesempatan kerja guna menciptakan pendapatan dan peluang bagi terwujudnya kesetaraan sosial bagi seluruh rakyat. Salah satu fungsi pemerintahan selain dari fungsi pembangunan dan fungsi pelayanan dalam pengembangan usaha ternak.
Proses pemberdayaan masyarakat merupakan suatu program yang berkesinambungan, Pemberdayaan masyarakat mengandung arti mengembangkan kondisi dan situasi sedemikian rupa sehingga masyarakat memiliki daya dan kesempatan untuk mengembangkan kehidupannya. Pemberdayaan masyarakat menyangkut dua kelompok yang saling terkait yaitu masyarakat yang belum berkembang sebagai pihak yang harus diberdayakan, dan pihak yang menaruh kepedulian sebagai pihak yang memberdayakan. Sumodiningrat (1997). Dalam pembangunan produksi peternakan tentunya pemerintah berperan penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembagan produksi peternakan merupakan sumber daya manusia menjadi salah satu program prioritas kementrian peternakan. Dalam pemanfataan sumber daya peternakan yang bertanggungjawab sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2013 tentang pemberdayaan peternakan.
Sebagai pelaksanaan pemerintah daerah pada bidang peternakan penyelenggara pemberdayaan usaha peternak kerbau dalam bentuk program pemberdayaan usaha peternak kerbau, budidaya kerbau sangat baik untuk dikembangkan dan memenuhi kebutuhan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak kerbau. Untuk mencapai produksi yang maksimal diperlukan beberapa faktor pendukung, diantaranya pemanfaatan kebutuhan
untuk memajukan sektoril berskala kecil. Untuk ikut bersaing industri pembudidayaan pangan dan gizi melalui pembangunan usaha ternak kerbau dan teknik budidaya yang intensif dan kelancaran hasil produksi. Pengembangan dalam usaha ternak kerbau di Kabupaten Enrekang sangat berpotensi dalam bidang peternakan, karena posisi kota Enrekang terletak di daerah pegunungan serta kondisi tanah yang subur yang dimiliki sangat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman rumput dan perkembangan kerbau yang baik. Berdasarkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2008 mayoritas penghasilan kabupaten Enrekang adalah beternak. Mencatat peringkat ke 6 dari 24 Kabupaten Kota sesulawesi selatan. Tahun 2012 di Kabupaten Enrekang terdapat 12 Kecamatan, salah satunya Kecamatan Enrekang, Tahun 2012 Kecamatan Enrekang dari 43.062 kepala keluarga dengan 190.579 jiwa, mayoritas adalah peternak kerbau dan sapi dengan alasan harga kerbau dipasaran semakin meningkat dengan kata lain harga kerbau yang mahal, namun dalam realitasnya pengembangan budidaya kerbau ini masih banyak ditemukan permasalahan yaitu:
1. Kurangnya peran pemerintah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau 2. Keterbatasan penyuluh
3. Kurangnya pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil peternakan Pemberdayaan budidaya ternak kerbau diharapkan mampu memberdayakan peternak untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan dan kemandirian peternak kerbau. Maka dari itu program pengembangan usaha ternak kerbau menjadi peran penting bagi pemerintah daerah kabupaten Enrekang khususnya di Kecamatan Curio dari 10 desa. Pemerintah daerah Kabupaten Enrekang dapat menyadari kenyataan ini agar pemerintah daerah berupaya
seoptimal mungkin dalam mengembangkan usaha ternak kerbau skala kecil ini, membutuhkan pembinaan atau pelatihan, penyuluhan serta bantuan pemasaran sehingga ternak kerbau dapat dikembangkan dan memiliki kualitas nilai jual yang tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian para peternak kerbau yang berkelanjutan.
Keterlibatan pemerintah dalam model pengembangan usaha peternak kerbau melalui pemberdayaan diharapkan pembuat kebijakan dan pelatihan pembinaan dapat memberikan konstribusi bagi budidaya peternak ternak kerbau pada khususnya. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, untuk memahami peran pemerintah daerah dalam pengembangan usaha ternak kerbau, gambaran tentang peran pemerintah ini yang dimaksud adalah dinas peternakan Kabupaten Enrekang sebagai pelaksanaan pemerintah, maka dari itu peneliti mengajukan judul “Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Usaha Ternak Kerbau Di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang?
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin di capai dari penelitian ini adalah:
1. Secara Akademis
Penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, serta dapat dijadikan bahan tinjauan untuk melakukan penelitian serupa dimasa yang akan datang.
2. Secara Praktis
Penelitian dapat memberikan kegunaan bagi instansi yaitu Pemerintah, Kecamatan dan Dinas Peternakan dan Pertanian.
A. Peran Pemerintah Daerah 1. Konsep Peranan Pemerintah
Peranan berasal dari kata peran yang berarti sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang utama. Peranan atau role juga diartikan sebagai suatu kelakuan yang diharapkan dari oknum antar hubungan sosial tertentu yang berhubungan dengan status sosial tertentu. Melihat pengertian ini jika dikaitkan dengan pengertian peranan dalam Pemerintah Kecamatan adalah tugas dan wewenang Pemerintah Kecamatan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu upaya pemerintah dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan maka harus menjalankan perannya. Hal ini senada dengan apa dikemukakan oleh Soekanto (2002:243) peranan adalah aspek dinamis dari kedudukan tertentu (status) apabila seseorang melaksanakan hak-hak tertentu serta kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka ia dikatakan menjalankan peranannya.
Menurut Levinso sebagaimana dikutip oleh seokanto (2002), sebagai berikut, peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peranan meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian Menurut Levinso sebagaimana dikutip oleh seokanto (2002), sebagai berikut, peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peranan meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-
7
peraturan yang membimbing. Kurang dipahami bahwa dalam arti sesungguhnya, setiap pejabat pemimpin dalam suatu organisasi merupakan manajemen sumber daya manusia, mulai dari perencanaan ketenagakerjaan hingga pensiunan pegawai.
Biasanya dalam suatu organisasi dibentuk suatu kerja yang melakukan kegiatan pengelolahan sumber daya manusia dan satuan kerja tersebut yang secara fungsional bertanggung jawab dalam melakukan berbagai kegiatan dan mengambil berbagai langka dalam manajemen sumber daya manusia. Terdapat dua alasan kuat mengapa satuan kerja fungsional demikian perlu dibentuk.
Pertama, meskipun bahwa setiap manajer yang bersangkutan diserahi tugas dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan-kegiatan lain, baik yang sifatnya tugas pokok maupun tugas pengunjung, sehingga perhatian pertamanya ditujukan pada penanggung jawab fungsional itu. Kedua, dewasa ini manajemen sumber daya manusia mutlak perlu ditangani secara profesional oleh tenaga-tenaga spesial karena hanya dengan demikianlah manajemen sumber daya manusia yang kompleks ditangani dengan baik. (Sondang, 2001:31).
Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Peranan juga dapat dikatakan sabagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
Selanjutnya dikatakan bahwa didalam peranan terdapat dua macam harapan, yaitu:
a. Harapan yang dimiliki oleh pemegang peran terhadap masyarakat atau
terhadap orang-orang yang berhubungan dengannya dalam menjalankan peranannya atau kewajiban-kewajibanya.
b. Harapan-harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran atau kewajiban- kewajiban dari pemegang peran.
Menurut pandangan Totok M peranan-peranan dapat dilihat sebagai bagian dari struktur masyarakat sehingga struktur masyarakat dapat dilihat berbagai pola-pola yang saling berhubungan. Barbara (1995:21) bahwa peran adalah seperangkat tingka laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil.
Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi tertentu. Peran adalah deskripsi sosial tentang siapa kita dan kita siapa.
Peran menjadi bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain, Komunitas sosial atau politik. Peran adalah kombinasi adalah posisi dan pengaruh. Anda diposisi mana dalam suatu starata sosial dan sejauh mana pengaruh anda, itulah peran.
Pemerintah dalam arti sempit dimaksudkan khusus pada kekuasaan eksekutif, sedangkan pemerintah dalam arti luas ialah semua organ Negara termasuk DPR.
Pemerintah adalah kekuasaan yang memerintah suatu negara atau badan tertinggi yang memerintah suatu negara, pemerintah adalah jabatan atau aparatur dalam susunan politik, pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menetapkan hukum serta undang-undang diwilayahnya.
Pemerintahan adalah tugas kewajiban alat negara. Pemerintahan adalah suatu kegiatan yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang harus dijalankan yang
bersumber dari pemerintah. Pemerintahan adalah serangkaiyan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintahan diartikan dengan perbuatan cara hal
urusan memerintah. Pemerintahan adalah segala badan-badan publik yang meliputi kegiatan, Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif dalam mejalankan tugas dan kewenagan/kekuasaan Negara.
2. Pemerintah Daerah
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selain pengertian otonomi daerah secara harafia. Otonomi derah berasal sari kata otonomi dan daerah. Peran pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam bentuk cara tidak baik dalam rangka melaksanakan otonomi daerah sebagai suatu pendapat bahwa, hak, wewenang, dan kewajiban pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undagan.
Menurut bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos.
Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan, atau undang-undang, sehingga dapat dikatakan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.
Berdasarkan pengertian otonomi daerah disebutkan diatas sesungguhnya kita telah memiliki gambaran yang cukup mengenai otonomi daerah. Namun perlu diketahui bahwa selain pengertian otonomi daerah yang disebutkan diatas,
terdapat juga beberapa pebgertian otonomi daerah yang diberikan oleh beberapa ahli atau pakar.
3. Pengertian Otonomi Daerah
Beberapa pengertian otonomi daerah menurut beberapa pakar antara lain:
pengertian pengertian Otonomi Daerah menurut Istianto (2011) “Hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah “pengertian Otonomi Daerah menurut Ateng Syarifuddin (2011), “Otonomi memepunyai makna kebebasan atau kemandirian.
Tetapi bukan kemerdekaan melainkan kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian kesempatan yang harus dapat dipertanggung jawabkan. Pengertian Otonomi Daerah menurut Saleh (1993) adalah “Hak mengatur dan memerintah daerah sendiri dimana hak tersebut merupakan hak yang diperoleh dari pemerintah pusat” selain pendapat pakar diatas. Ada juga beberapa pendapat lain yang memberikan pengertian yang berbeda mengenai otonomi daerah, antara lain pengertian otonomi daerah menurut Hoesein (2007) adalah “pemerintahan oleh dan dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu negara secara informal berada di luar pemerintah pusat” pengertian otonomi daerah menurut Philip Mahwood (1983) adalah “suatu pemerintah daerah yang memiliki kewenangan sendiri dimana keberadaanya terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah guna mengalokasikan sumber material yang bersifat subtansial fungsi yang berbeda”.
Pengertian otonomi daerah menurut Mariun (2013) adalah “ kebebasan (kewenagan) yang dimiliki oleh pemerintah daerah yang memungkinkan mereka untuk berbuat inisiatif sendiri dalam rangka mengelolah dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki oleh daerahnya sendiri. Otonomi daerah merupakan
kebebasan untuk dapat berbuat sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Pengertian otonomi daerah menurut Lemius (2013) adalah “kebebasan (kewenagan) untuk mengambil atau membuat suatu keputusan politik maupun administrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Di dalam otonomi daerah terdapat kebebasan yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan daerah namun apa yang menjadi kebutuhan daerah tersebut senantiasa harus disesuaikan dangan kepentingan nasional sebagai mana yang telah diatur dalam peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi
4. Pemberdayaan Masyarakat
Pembangunan peternakan sangat di tentukan oleh sumber daya manusia yang berada di dalamnya. Apabila sumberdaya manusia memiliki motipasi tinggi, kerativitas dan mampuh mengembangkan inovasi, maka pembangunan peternak dapat dipastikan semakin baik. Oleh karena itu perlu diupayakan pemberdayaan (empowerment) peternak untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.
Empowerment artiya adalah suatu penigkatan kemampuan yang sesungguhnya potensinya ada. Di mulai dari status kurang berdaya, sehingga lebih bertanggung jawab. Kerena empowerment asal kata power yang artinya control, authority, dominon. Asal dari kata on put to atau to cover with, jelasnya more power jadi empowering artinya is passing on authority and responsibilitiy yaitu lebih berdaya dari sebelumnya dalam arti wewenang dan tanggugng jawabnya termasuk kemempuan individu yang di miliki. Sedarmayanti (2008:285).
Menurut Korten (1980:1984). Pemberdayaan masyarakat adalah pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat. Individu melainkan berperan sebagai pelaku, yang menetukan tujuan megontrol sumberdaya dan mengarahkan
proses yang mempengaruhi hidupnya sendiri. Wirotomo (2003). Pemberdayaan bagi masyarakat sangatlah penting bagi suatu konteks pemecahan masalah ketegangan hubungan antara Negara (state) dengan Masyarakat (cummunitiy) yaitu, untuk menggeser tanggung jawab Negara dalam menanggulangi kemiskinan dan masyarakat. Keberhasilan pemberdayaan sangat bergantung pada partisipasi masyarakat sebagai pelaku serta dan berperan dalam pembangunan.
5. Tahap-Tahap Pemberdayaan
Menurut Somodiningrat (2004:42). Pemberdayaan tidak bersipat selamanya, melainkan sampai target masyarakat maupun untuk mandiri, dan kemudian di lepas untuk mandiri, meski dari jauh di jaga agar tidak jatuh lagi.
Dilihat dari pendapat tersebut berarti pemberdayaan melalui suatu proses belajar, hingga mencapai status mandiri. Meskipun demikian dalam rangka menjaga kemandirian tersebut tetap di lakukan pemeliharaan semangat, kondisi, dan kemampuan secara terus menerus supaya tidak mengalami kemunduran lagi.
Sebagaimana disampaikan dimuka bahwa proses belajar dalam rangka pemberdayaan akan berlangsung secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui tersebut adalah meliputi:
1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan.
3. Tahap peningkatan intelektual, kecakapan keterampilan sehingga terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk menghantarkan pada kemandirian.
6. Konsep Pemberdayaan Masyarakat
Friedman (1994:76) mengemukakan bahwa pendekatan pemberdayaan pada intinya memberikan tekanan pada otonomi pengembilan keputusan dan dari suatu kelompok masyarakat yang berlandaskan pada sumber yang pribadi, langsung melalui partisipasi demokratis dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung.
Frideman dalam hal ini menegaskan bahwa pemberdayaa masyarakat tidak hanya sebatas ekonomi saja, tetapi juga secara politis sehingga pada akhirnya masyarakat akan memiliki posisi tawar menawar (berganingposition) baik secara nasionl maupun secara internasional.
7. Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Masyarakat
Mathews menyatakan bahwa prinsip adalah suatu pernyataan tentang kebijakan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan secara konsisten. Karena itu, prinsip akan berlaku umum dan telah diyakini kebenaranya dari berbagai pengamatan dalam kondisi akan berlaku yang beragam. Dengan demikian prinsip dapat diartikan sabagai landasan pokok yang benar, bagi pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan.
Meskipun prinsip biasanya diterapkan dalam dunia akademik, melaksanakan kegiatan harus teguh pada prinsip-prinsip pemberdayaan yang sudah disepakati, seorang penyuluh (apalagi administrator pemberdayaan) tidak mungkin dapat dilaksanakan pekerjaan dengan baik. Bertolak dari pemahaman pemberdayaan sebagai salah satu sistem pendidikan, maka pemberdayaan memiliki prinsip-prinsip:
a. Mengerjakan, artinya kegiatan pemberdayaan harus sebanyak mungkin melibatkan masyarakat untuk mengerjakan,/menerapkan sesuatau. Karena
melalui mengerjakan mereka akan mengalami proses belajar (baik dengan menggunakan pikiran, perasaan, dan keterampilannya) yang akan terus diingat untuk jangka waktu yang lebih baik.
b. Akibat, artinya kegiatan pemberdayaan herus memberikan akibat atau
pengaruh yang lebih baik atau bermanfaat: karena, perasaan senang/puas atau tidak senang/kecewa akan dipengaruhi semangatnya untuk mengikuti kegiatan belajar/pemberdayaan di masa-masa mendatang.
c. Asosiati, artinya, setiap kegiatan pemberdayaan harus dikaitkan dengan kegiatan lainnya, sebab, setiap orang cenderung untuk mengaitkan
kegiatannya dengan kegiatan/peristiwa yang lainya. Misalnya, dengan melihat cangkul orang yandg diinginkan kepada pemberdayaan tentang persiapan lahan yang baruk: melihat tanaman yang kerdil/subur, akan mengiginkannya kepada usaha-usaha pemupukan dll.
Lebih lanjut, Dharma dan Bhatnagar dalam Sriwahyuni (2013) mengungkapkan prinsip-prinsip pemberdayaan yang lain mencangkup:
a. Minat dan kebutuhan, artinya, pemberdayaan akan efektif jika selalu
mengacuh kepada minat dan kebutuhan masyarakat. Mengenai hal ini, harus di kaji secara mendalam: apa yang benar-benar menjadi minat dan kebutuhan yang dapat menyenangkan setiap individu maupun segenap warga
masyarakat. Kebutuhan apa saja yang dapat di penuhi sesuai dengan tersedianya sumber daya, serta minat dan kebutuhan mana yang perlu mendapat perioritas untuk dipenuhi terlebih dahulu.
b. Organisasi masyarakat bahwa, artinya pemberdayaan akan efektif jika mampu melibatkan/menyentuh organisasi masyarakat bawah, sejak dari setiap
keluarga/kekerabatan.
c. Keragaman budaya, artinya pemberdayaan harus memperhatikan adanya keragaman budaya. Perencanaan pemberdayaan harus selalu di sesuaikan dengan budaya lokal yang beragam untuk setiap wilayah seringkali akan memenuhi hambatan yang bersumber pada keragaman budaya.
d. Perubahan budaya, artinya setiap kegiatan pemberdayaan akan mengakibatkan perubahan budaya. Kegiatan pemberdayaan harus dilaksankan dengan bijak dan hati-hati agar perubahan yang terjadi tidak menimbulkan kejutan-kejutan budaya. Karena itu, setipa penyuluh perlu untuk terlebih dahulu
memperhatikan nilai-nilai budaya lokal seperti tabu, kebiasaan-kebiasaan.
e. Kerja sama dan partisipasi artinya pemberdayaan hanya akan efektif jika mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk selalu kerjasama dalam melaksanakan program-program pemberdayaan yang serta direncakan.
f. Demokrasi dalam penerapan ilmu, artinya dalam pemberdayaan harus selalu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menawarkan setiap ilmu alternatif yang ingin diterapkan yang dimaksud demokrasi disini bukan terbatas pada tawar-menawar tentang ilmu alternatif saja, tetapi juga dalam pengguna metode pemberdayaan, serta proses pengambilan keputusan yang akan di laksanakan oleh masyarakat sasaranya.
g. Belajar sambil bekerja, artinya dalam kegiatan pemberdayaan harus diupayakan agar masyarakat dapat belajar sembil bekerja, atau belajar dari pengalaman tentang segala sesuatu yang ia kerjakan. Dengan perkataan lain, pemberdayaan tidak hanya sekedar menyampaikan informasi atau konsep- konsep teoritis, tetapi harus memeberikan kesempatan kepada masyarakat sasaran untuk mencoba atau memperoleh pengalaman melalui pelaksanaan kegiatan secara nyata.
h. Pengguna metode yang sesuai, artinya pemberdayaan harus dilakukan dengan menerapkan metode yang selalu di sesuaikan dengan kondisi (lingkungan fisik kemampuan ekonomi, dan nilai-nilai sosial budaya) sasaran. Dengan di semua kondisi sasaran dengan efektif dan efisien.
i. Kepemimpinan, artinya penyuluh tidak melakukan kegitan-kegiatan yang hanya bertujuan untuk kepentingan/kepuasannya sendiri, dan harus mampu mengembangkan kepemimpinan. Dalam hubungan ini, penyuluh sebaiknya mampu menumbuhkan pimpinan-pimpinan lokal atau menempatkan pimpinan lokal yang telah ada untuk membantu kegiatan pemberdayaan.
j. Spesialis yang terlatih, penyuluh harus benar-benar pribadi yang telah memperoleh latihan khusus tentang segala sesuatu yang sesuai dengan fungsinya sebagai penyuluh. Penyuluh-penyuluh yang telah disiapkan untuk mengenai kegiatan khusus akan lebih efektif di banding yang disiapkan untuk melakukan beragam kegiatan (meskipun masih berkaitan dengan kegiatan pertanian).
k. Segenap keluarga, artinya penyuluh sebagai suatu kesatuan dari unit sosial.
Dalam hal ini terkandung perhatian-perhatian anatara lain sebagai berikut:
1) Pemberdayaan harus dapat memenuhi segenap anggota keluarga.
2) Setiap anggota keluarga memiliki peran/pengaruh dalam setiap pengambilan keputusan.
3) Pemberdayaan harus mampu mengembangkan pemahaman bersama.
4) Pemberdayaan mendorong keseimbangan antar kebutuhan keluarga dan kebutuhan usaha.
5) Pemberdayaan harus mampu mendidik anggota keluarga yang masih mudah.
6) Pemberdayaan harus mampu mengembangakan kegiatan-kegiatan
keluarga memperkokoh kesatuan keluarga, baik yang menyangkut 7) Mengembangkan pelayanan keluarga terhadap masyarakat.
L. Kepuasa, artinya pemberdayaan harus mampu mewujudkan tercapainya keputusan, adanya keputusan akan sangat menentukan keikut sertaan sasaran pada program-program pemberdayaan selanjutnya.
B. Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Masyarakat.
Peraturan Pemerintah Repuplik Indonesia nomor 6 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan peternakan, pemberdayaan peternakan di lakukan untuk memajukan dan mengembangkan pola pikir dan pola kerja peternak serta untuk mengatasi kebutuhan pangan, agar mampu berdiri dan berdaya saing tinggi, maka pemerintah daerah melakukan koordinasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan peternak.
Upaya melaksanakan strategi pemberdayaan maka pemerintah berperan dalam pemberdayaan masyarakat. Menurut Arif (2012) Peran pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat yaitu terbagi menjadi 3 peran yaitu:
1. Salaku regulator
Peran pemerintah sebagai regulator adalah menyiapkan arah untuk menyeimbangakan penyelenggaraan pembangunan peternakan (menerbitkan peraturan-peraturan dalam rangka efektifitas dan tertib administrasi pembangunan peternakan). Sebagai regulator, pemerintah memberikan acuan dasar yang selanjutnya diterjamakan oleh masyarakat sebagai instrument untuk mengatur setiap kegiatan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat segi ekonomi akan dikaitkan dengan kebijakan yang mendukung dalam pembangunan usahanya.
2. Selaku fasililator
Peran pemerintah sebagai fasilitator adalah menciptakan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan (menjembatangi kepentingan berbagai pihak dalam mengoptimalkan pembangunan daerah). Sebagai fasilitator, pemerintah berusaha menciptakan atau menfasilitasi suasana yang tertib, nyaman dan aman, termasuk menfasilitasi tersedianya sarana dan prasarana pembagunan peternakan. Fasilitasi dalam UKM pemerintah memberikan fasilitas untuk mencapai tujuan pengembangan usaha yang dimiliki oleh UKM.
a. Fasilitator di bidang pendampingan
Pendampingan sangat diperlukan untuk bisa mandiri dalam melanjutkan dan meningkatkan usaha. Pendampingan ini bisa diimplementasikan dengan pemberian pelatihan, pendidikan dan peningkatan keterampilan.
b. Fasilitator di bidang pendanaan dan permodalan
Disamping pemberian batuan pendampingan, juga diperlukan fasilitas dalam bidang pendanaan maupun permodalan. Peran pemerintah dalam hal ini adalah membantu mencari jalan keluar untuk memperoleh pendanaan yang diperlukan.
Penyuluahan dan pendampingan dilakukan agar peternak dapat melakukan tatacara budidaya, pengelolahan, dan pemasaran yang baik, kemudian menganalisis kelayakan usaha dan kemitraan dengan pelaku usaha.
3. Selaku dinamisator
Peran pemerintah sebagai dinamisator adalah menggerakkan partisipasi multi pihak tatkala stagnasi terjadi dalam proses pembangunan peternkan (mendorong dan memilihara dinamika pembangunan daerah). Sebagai
dinamisator, pemerintah berperan melalui pemberian bimbingan dan pengarahan yang intensif dan efektif kepada masyarakat. Bimbingan dan pengarahan sangat diperlukan dalam memilihara dinamika pemerintah melalui tim penyuluh maupun badan tertentu memberikan bimbingan maupun pelatihan kepada masyarakat.
C. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Anwas (2013:87-88). Dalam pemberdayaan masyarakat ditujukan untuk mengubah perilaku masyarakat agar mampuh berdaya sehingga ia dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Namun keberhasilan pemberdayaan tidak sekedar menekan pada hasil, tapi juga pada prosesnya melalaui tingkat partisipasi yang tinggi, yang berbasis pada kebutuhan dan potensi masyarakat. Untuk meraih keberhasialn itu, agen pemberdayaan dapat melakukan pendekatan (buttom-up), dengan cara menggali potensi masalah dan kebutuhan masyarakat.
1. Pendidikan dan Pelatihan
Dalam rangka mensukseskan pembangunan peternakan Dinas Peternakan melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan Peternakan yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Peternakan, membangun dunia peternakan yang berkesinambungan. Balai Pelatihan Peternakan berusaha meningkatkan sumber daya manusia baik secara kualitas maupun kuantitasnya.
Sumber daya manusia dapat dilihat dari dua aspek, yaitu: kuantitas dan kualitas.
Kuantitas adalah Sumber daya Manusia. Kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai dengan kualitas yang akan menjadi beban bagi pembangunan suatu bangsa. Sedangkan kualitas Sumber Daya Manusia adalah mutu Sumber Daya Manusia yang menyangkut kemampuan, baik kemampuan fisik, maupun non
fisik. Untuk kepentingan akselarasi suatu pembangunan di bidang apapun, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia merupakan salah satu syarat utama.
Oleh sebab itu untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.
2. Penyuluhan dan Pendampingan
Penyuluhan sebagai proses bimbingan dan pendidikan nonformal bagi peternak memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai tujuan pembangunan di sub sektor peternakan. Penyuluhan berperan untuk menyampaikan informasi terbaru tentang inovasi di bidang peternakan. Penyuluh berkewajiban untuk membantu peternak yang mengalami masalah di lapangan, membimbing peternak dan sebagai sumber informasi bagi peternak. Kinerja PPL sangat penting dalam membantu peternak menyelesaikan masalah-masalah yang ada pada peternak tersebut. Semakin baik kinerja PPL dalam menjalankan tugasnya maka akan semakin baik pula hasil yang diperoleh oleh peternak. Untuk memperoleh kinerja yang baik PPL harus didukung oleh beberapa faktor. Untuk meningkatkan kinerja PPL dalam melakukan penyuluhan di antaranya adalah motivasi, penghargaan dari pemerintah, fasilitas yang diberikan kepada PPL dan juga pelatihan yang dilakukan oleh PPL tersebut.
3. Pengembangan Sistem Sarana dan Pemasaran Hasil Peternakan
Untuk mewujudkan Pasar Hasil Peternakan dan memenuhi standar keamanan pangan meningkatkan produksi dan produktifitas ternak serta terpenuhinya konsumsi pangan asal ternak, bahan baku industri dan ekspor.
Dalam melaksanakan pemberdayaan perlu di lakukan melalui berbagai pendekatan. Menurut Suharto (2005:53), penerapan pendekatan pemberdayaan dapat di lakukan melalui 5 pendekatan yaitu:
1. Pemukiman: menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekarat-sekarat kultural dan stuktural yang menghambat.
2. Penguatan: memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang di miliki masyar- kat dalam memecahkan masalah dan memenuhu kebutuhan-kebutuhanya.
3. Perlindungan: masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, manghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah.
4. Penyokongan: memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan perannya dan tugas-tugas kehidupannya.
5. Pemeliharaan: memelihara kondusi yang kundusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasan antara berbagai kelompok dalam masyarakat.
D. Pemberdayaan Usaha Peternak kerbau
Pemberdayaan merupakan suatu kekuatan dalam diri manusia dan merupakan suatu sumber kreativitas yang ada dalam diri setiap orang secara luas tidak ditentukan oleh orang lain. Menurut Hikmat (2001), bahwa pemberdayaan usaha peternak merupakan sebuah metode pemberdayaan masyarakat yang memungkinkan orang atau masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya atau suatu usaha dalam membantu orang biasa untuk meningkatkan lingkungannya dengan melakukan aksi kolektif dalam bidang ekonomi, penguatan sosial atau pengembangan sektor non profit.
E. Peternak kerbau
Peternakan kerbau merupakan salah satu usaha yang dilakukan para petani peternak untuk memanuhi kebutuhan hidupnya dan sebagai tambahan pendapatan bagi para peternak dan juga untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Peternakan kerbau mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. Pada kerbau perlu dilakukan pemberian tanda, vaksinasi, dan palpasi rectal agar dapat mengetahui jenis kerbau tersebut dan dapat mendeteksi apakah kerbau tersebut bunting atau tidak. Untuk mengetahui bagaimana cara dalam pemberian tanda, vaksinasi, palpasi rektal dan pemekaran pada lahan ternak kerbau maka hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya praktek manajemen ternak kerbau. (Anonim, 2010)
F. Tujuan Pemberdayaan Usaha Peternak kerbau
Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, psikomotorik, afektif, dengan mengerahkan sumberdaya yang di miliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut.
Terjadinya keberdayaan pada empat aspek tersebut (afektif, kognitif dan psikomotorik) akan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kemandirian
masyarakat yang dicita-citakan, dalam masyarakat akan terjadi kecukupan wawasan, yang dilengkapi dengan kecakapan, keterampilan yang memadai, diperkuat oleh rasa memerlukan pembangunan dan perilaku sadar akan kebutuhan tersebut. (Sulistiyani, 2004:80).
G. Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat.
Kekurang tepatan pemilihan strategi pembangunan terhadap negara dan masyarakatnya telah menghasilkan paradoksi dan tragedi pembangunan seperti yang terjadi pada negara sedang berkembang sebagai berikut:
1. Pembangunan tidak menghasilkan kemajuan, melainkan justru semakin menurun meningkatkan keterbelakangan (the development o f underdevelopment).
2. Melahirkan ketergantungan (dependency) negara sedang berkembang terhadap negara maju.
3. Melahirkan ketergantungan (dependency) pheriphery terhadap center.
4. Melahirkan ketergantungan (dependency) masyarakat terhadap negara/pemerintah.
5. Melahirkan ketergantungan (dependency) masyarakat kecil (buruh, usaha kecil, tani, nelayan, dan lain-lain) terhadap pemilik modal.
Pada pokoknya, pendekatan konvensional ini ditandai oleh transplantatif planning, top down, inductive, capital intensive, west-biased technological transfer, dan sejenisnya. Beberapa paradigma pendekatan pembangunan mulai mengalami pergeseran dari yang konvensional menuju pembangunan alternatif, yaitu :
1. Pembangunan wilayah (regional development)
2. Pembangunan berwawasan lingkungan (environmental development).
3. Pembangunan berbasis komunitas (community-based development).
4. Pembangunan berpusat pada rakyat (people-centered development).
5. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
6. Pembangunan berbasis kelembagaan (institution-baseddevelopment)
Ciri mencolok yang membedakan pendekatan alternatif ini adalah penekanannya terhadap lokalitas, baik dalam pengertian kelembagaan, komunitas, lingkungan, maupun kultur. implikasi kebijakan pendekatan ini adalah penekanan pada transformative and transactive planning, bottom up, community empowerment, dan participative, semuanya ini terkenal dengan pembangunan komunitas (community development) Strategi pembangunan yang bertumpu pada pemihakan dan pemberdayaan dipahami sebagai suatu proses transformasi dalam hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat. Perubahan struktural yang diharapkan adalah proses yang berlangsung secara alamiah, yaitu yang menghasilkan harus menikmati. Begitupula sebaliknya, yang menikmati haruslah yang menghasilkan.
Lingkungan, maupun kultur. implikasi kebijakan pendekatan ini adalah penekanan pada transformative and transactive planning, bottom up, community empowerment, dan participative, semuanya ini terkenal dengan pembangunan komunitas (community development) Strategi pembangunan yang bertumpu pada pemihakan dan pemberdayaan dipahami sebagai suatu proses transformasi dalam hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat. Perubahan struktural yang diharapkan adalah proses yang berlangsung secara alamiah, yaitu yang menghasilkan harus menikmati. Begitupula sebaliknya, yang menikmati haruslah yang menghasilkan.
Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai proyek pembangunan, tetapi merupakan subjek dari upaya pembangunannya sendiri. Berdasarkan konsep demikian, maka pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan sebagai berikut;pertama, upaya itu harus terarah. Ini yang secara populer disebut pemihakan. Upaya ini ditujukan langsung kepada yang memerlukan, dengan program yang dirancang untuk mengatasi masalahnya dan sesuai kebutuhannya. Kedua, Program ini harus langsung mengikut sertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran. Mengikut sertakan masyarakat yang akan dibantu mempunyai beberapa tujuan, yakni agar bantuan tersebut efektif karena sesuai dengan kehendak dan mengenali kemampuan serta kebutuhan mereka. Selain itu, sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dengan pengalaman dalam merancang, melaksanakan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan upaya peningkatan diri dan ekonominya. Ketiga, menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat miskin sulit dapat memecahkan masalah- masalah yang dihadapinya. Juga lingkup bantuan menjadi terlalu luas jika penanganannya dilakukan secara individu. Pendekatan kelompok ini paling efektif dan dilihat dari penggunaan sumber daya juga lebih efisien. Program pembangunan yang menerapkan strategi pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan suatu konsekuensi dari pergeseran paradigma pembangunan nasional yang mengarah pada tercapainya upaya pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered depelopment).
H. Kerangka Pikir
Sektor peternakan, peternak sangat layak untuk dijadikan sebagai sektor andalan ekonomi nasional, dan termasuk sebagai sektor yang berperan dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani peternak. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah kondisi sumberdaya sektor petani peternak saat ini mampu menangkap peluang tersebut. Seperti diketahui sampai saat ini sektor peternakan masih menghadapi beberapa kendala dalam memanfaatkan secara optimal sumber daya peternakan sendiri seperti lemahnya sumber daya manusia, kelembagaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka strategi ke depan minimal dapat dilakukan meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia masyarakat petani peternakan, dan pengembangan kelembagaan peternak dengan mengoptimalkan peran pemerintah dalam proses pemberdayaannya Seperti dengan adanya peran pemerintah dalam bidang regulator, fasilitator dan dinamisator.
Gambar 1: skema kerangka pikir
I. Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian ini adalah peran pemerintah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau yang meliputi pada dinamisator, fasilitator, regulator dan dipengaruhi dua faktor yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat.
J. Deskripsi Fokus Penelitian
Berdasarkan skema kerangka pikir diatas maka dapat kita kemukakan defenisi fokus sebagai berikut:
1. Peran pemerintah yaitu upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam mengembangkan usaha ternak , meliputi peran sebagai dinamisator, fasilitator dan regulator.
2. Pemerintah sebagai dinamisator yaitu pemerintah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada masyarakat agar dapat berdaya guna.
3. Pemerintah sebagai fasilitator yaitu memfasilitasi tersedianya sarana dan prasarana dalam memberdayakan petani, meliputi penyediaan modal.
4. Pemerintah sebagai regulator yaitu instrumen atau aturan untuk mengatur setiap kegiatan pelaksanaan pemberdayaan petani peternak dalam
mempermudah menjangkau sarana produksi.
5. Faktor pendukung adalah faktor-faktor yang memudahkan proses pemerintah daerah dalam pemberdayaan kelompok Petani peternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang, meliputi adanya kerjasama yang baik antara pemerintah daerah dalam hal Dinas Peternakan Kabupaten Enrekang serta kelompok petani peternak di Kecamatan Curio.
6. Faktor penghambat adalah faktor-faktor yang menghambat pemerintah daerah dalam mengembangakan kelompok peternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang yaitu: kurangnya tenaga penyuluh, rendahnya parti sipasi
masyarakat dalam mengikuti penyuluhaan kurangnya pengetahuan petani peternak dalam menjaga ternaknya.
7. Petani mandiri adalah petani yang mampu menyelenggarakan usaha taninya secara berkelanjutan tanpa menggantungkan diri pada bantuan proyek dari pemerintah. Mereka mampu mengelola ternaknya secara mandiri dan
berkelanjutan serta hidup sejahtera dengan wadah organisasinya yang kuat dan berfungsi. Pengelolaan secara mandiri dan berkelanjutan dicirikan dari adanya peningkatan produktivitas dan kualitas produksi.
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penetapan waktu dan lokasi penelitian sangat penting dalam rangka mempertanggung jawabkan data yang diperoleh. Oleh karena itu waktu dan lokasi penelitian perlu ditetapkan terlebih dahulu. Adapun waktu penelitian pada bulan Mei sampai Juli 2015 dan lokasi di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
Dengan judul peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan peternak kerbau memiliki sumberdaya manusia yang masih rendah,
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif menggambarkan secara deskriptif sebagai fokus penelitian berdasarkan data yang diolah yang berkaitan dengan pemeberdayaan peternak kerbau memiliki SDM yang rendah, terbatasnya penyuluh dan kurangnya pengembangan sistem dan sarana pengembangan usaha ternak kerabu.
2. Tipe penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologis penelitian yang menjelaskan dan menggambarkan pengalaman para informan dalam kaitannya dengan pemerintah daerah. Hal ini dimaksud agar penelitian ini dapat menjelaskan dan menggambarkan tentang peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau.
30
C. Sumber Data
Sehubungan dengan permasalahan penelitian maka data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1. Sumber data primer
Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan dari hasil wawancara informan data ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara langsung dengan informan melalui daftar pertannyaan yang dicatat oleh peneliti secara langsung yang merupakan data yang diperoleh langsung tentang peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang yang terlibat langsung dalam ternak yaitu berupa keterangan atau informasi langsung dari informan.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung kepada obyek penelitian yang dapat berupa dokumen, buku, catatan-catatan, makalah, laporan, arsip, monografi, dan lain-lain, terutama yang berkenaan dengan upaya.
D. Informan Penelitian
Informan penelitian adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian. Informan merupakan orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan diteliti, dalam penelitian ini terdapat informasi utama yang terdiri dari 6 orang yaitu Dinas Peternakan dan Pengembagan, Kabit Peternakan, Petugas Penyuluh Lapangan, Kepala Kecamatan Curio dan petani peternak kerbau dengan tujuan untuk mengetahui lingkungan sekitar lokasi pemberdayaan usaha peternak kerbau serta dari pihak pemerintah di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
NO Jabatan/status Jumlah Ket.
1. Kepala Staf Peternakan dan Pengembagan 1 orang
2. Kabit peternakan 1 orang
3. Petugas penyuluh lapangan 1 orang
4. Kepala Kecamatan Curio 1 orang
5. Ketua Kelompok Petani peternak 2 orang
Jumlah 6 Orang
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus terampil dalam pengumpulan data agar mendapatkan data yang valid. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperoleh. Teknik yang digunakan untuk memperoleh data-data dilapangan antara lain:
1. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data yang dikumpulkan secara langsung dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan yang berkaitan dengan pemberdayaan para peternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang dengan tujuan melengkapi data yang diperoleh dari teknik wawancara dan teknik dokumen.
2. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (pandangan wawancara/daftar pertanyaan) yang telah disiapkan. Tujuan penulis menggunakan
metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan konkrit tentang perilaku kebiasaan dalam peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
3. Dokumen
Dokumen adalah cara mengumpulkan data melalui berupa arsip-arsip, dan termasuk juga buku-buku, dokumen resmi maupun statistik yang berhubungan dengan masalah penelitian. Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan penelahan terhadap bahan-bahan yang tertulis yang meliputi hasil-hasil seminar maupun laporan dari pemerintah desa dan buku-buku serta majalah. Beberapa data sekunder yang dicari dalam penelitian ini adalah informasi tertulis baik dari dalam maupun dari luar desa laba yang dianggap relevan.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang di lakukan adalah analisis kualitatif dilakukan dengan menggambarkan data-data tentang peran pemerintah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam motode penelitian, karena dengan analisis, dapat tersebut diberi makna dan arti yang berguna dalam pemecahan masalah penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:
1. Editing, adalah meneliti kembali mencatat setelah kembali dari lapangan Data- data diperoleh, dikumpulkan, reduksi, dipilih, kemudian data yang relevan dirangkum dengan permasalahan peneliti.
2. Klasifikasi, yaitu mengelompokkan data-data sesuai dengan masalah yang diteliti.
3. Tabulasi Data, yaitu menggolongkan data ke dalam kelompok-kelompok
sehingga peneliti menjadi lebih terarah.
4. Intreprestasi, yaitu mencari data yang lebih luas dari data yang ada diolah bersamaan dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan
dihubungakan dengan teori ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan peran pemerintah daerah dalam pengembangan usaha ternak kerbau di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
5. Kesimpulan yaitu peneliti yang akan dilakukan ini tentang peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan usaha ternak kerbau yang akan dilaksanakan di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang sekurang lebih April sampai Juni 2015 kemudian datanya dianalisis secara kualitatif sehingga dapat diketahui bahwa kurangnya peran pemerintah dalam pengembangan usaha ternak kerbau, keterbatasan penyuluh dan pendampingan kurangnya pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil peternakan
G. Keabsahan Data
Guna pengujian pengabsahan data, peneliti menggunakan validitas data sebagai alat pembuktian bahwa data yang diperoleh peneliti sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi dilapangan. Untuk menguji validitas data maka peneliti menggunakan metode triangulasi, yaitu:
1. Tri angul asi sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
3. Triangulasi waktu
Triangulasi waktu untuk kredibilitas data dilakukan dengan pengecekan data melaui wawancara, observasi, dan teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda (Sugiono, 2012:241).
A. Deskripsi Obyek Penelitian
1. Wilayah Administrasi Kota Enrekang
Kabupaten Enrekang dengan Ibu kota Enrekang terletak 235 km sebelah Utara Makassar. Secara geografis Kabupaten Enrekang terletak pada koordinat antara 3derajat 1436 sampai 3 derajat 50 00 lintang selatan dan 119 derajat 40 53 sampai 120 derajat 120 derajat 06 33 bujur timur. Dengan luas wilayah sebesar 1.786, 01 km persegi. Kabupaten Enrekang mempunyai batas-batas sebagai berikut:
Tabel 1 batas-batas Kabupaten Enrekang
No Batas-batas Kabupaten
1. Sebelah Utara Kabupaten Tanah Toraja 2. Sebelah Selatan Kabupaten Luwu
3. Sebelah Timur Kabupaten Sidrap 4. Sebelah Barat Kabupaten Pindrang Sumber data: Dinas peternakan Kabupaten Enrekang
Seperti yang digambarkan pada tabel di atas bahwa dibagian Utara berbatasan dengan Kabupaten Tanah Toraja disebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Luwu dibagian Timur Kabupaten Sidrap dan dibagian barat Kecamatan Pindrang.
2. Topografi Wilayah Kabupaten Enrekang
Pada umumnya mempunyai wilayah topografi yang bervariasi berupa pembukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47-3,293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilyah pantai. Secara umum keadaan topografi wilayah didominasi oleh bukit-bukit/gunung-gunung yaitu sekitar 84,96 persen dari luas wilayah kabupaten enrekang sedangakan yang datar hanya 15,04 persen.
36
3. Visi dan Misi Peternakan a. Visi
Pengertian visi secara harafia adalah cita-cita atau obsesi. Visi adalah cara pandang jauh kedepan, kemana instansi pemerintah harus diarahkan agar dapat eksis, antisispatif dan inovatif. Dinas Peternakan dan kesehatan hewan kabupaten Enrekang adalah cita-cita yang menggambarkan akan dibawah kemana dins peternakan dan kesehatan hewan dimasa mendatang. Sejalan dengan visi pemerintah kabupaten serta sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, maka dinas peternakan dan kesehatan hewan kabupaten mempunyai visi:
“Terwujudnya masyarakat Enrekang yang sejahterah, berkeadilaan, beretika dan berdaya saing”.
Selaras dengan visi pemerintah kabupaten enrekang dan juga mengandung terwujudnya visi tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, maka dinas peternakan dan kesehatan hewan kabupaten Enrekang tahun 2010-2015 menetapkan visi:
“terwujudnya masyarakat peternakan Enrekang yang sejahterah dan kompetitif”.
Maka dari visi tersebut dengan harapan suatu semangat untuk mewujudkan keadaan masyarakat kabupaten Enrekang yang bekerja di bidang peternakan mampu bertahan dalam berbagai perubahan, dan berupayah untuk merubah sistem usahanya yang bersifat tradisional menuju berwawasan industri dan berjiwa bisnis yang lebih maju dengan memanfaatkan sumberdaya lokal untuk membangun peternakan yang berdaya saing dan berkelanjutan menuju masyarakat yang sejahtera.
b. Misi
Upaya mewujudkan visi tersebut, maka perlu dirumuskan misi yang dapat menggerakkan dan mewujudkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai melalui berbagai upaya dalam pelaksanaanya. Misi dinas peternakan dan kesehatan hewan kabupaten enrekang sebagai berikut:
1. Meningkatakan pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak.
Upaya-upaya yang dilakukan dalam mencegah dan menanggulangi penyakit ternak adalah melalui peningkatan pemeliharaan kesehatan melalui peningkatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular pada ternak dengan kegiatan perbaikan sanitasi, vaksinasi dan desinfeksi lingkungan.
2. Meningkatkan produksi hasil peternakan
Upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan produksi hasil peternakan adalah dengan meningkatkan populasi ternak melalui inseminasi buatan, dan untuk meningkatkan produksi hasil ternak serta meningkatkan komsumsi pangan asal ternak dengan menganekaragamkan olahan asal ternak.
3. Meningkatkan pemasaran hasil ternak.
Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas hasil produksi peternakan melalui pemberdayaan kelembagaan kelompok adalah dengan pembinaan pada masyarakat peternak tentang dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya.
4. Meningkatkan penerapan teknologi peternakan.
Upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan penerapan teknologi usaha budidaya dengan pembinaan tentang pengetahuan dan keterampilan, dan penggunaan teknologi tepat guna, sehingga dala usaha peternakan dapat memperoleh hasil yang memuaskan.
4. Tujuan dan Sasaran a. Tujuan
1. Sesuai dengan tuntutan dan perkembangan perekonomian dan tuntutan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, maka diperlukan manajemen pembangunan peternakan yang modern dan meningkatkan keberpihakan kepada petani ternak yang tinggi dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada dengan menetapkan Visi dan Misi Dinas Peternakan Kabupaten Enrekang, maka tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan produksi dan produktifitas untuk mendukung ketahan pangan mensukseskan Pencapaian Populasi kerbau Sejuta Ekor di Sulawesi Selatan Tahun 2014.
b. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kelompok petani ternak yang unggul dan mandiri.
c. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani ternak melalui pembangunan komoditas unggulan yang berdaya saing tinggi.
b. Sasaran
setelah penetapan Visi, Misi dan Tujuan Dinas Peternakan dalam mengembangkan pembangunan disektor peternakan, maka sasaran yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pelayanan aparatur
2. Meningkatkan kualitas sumber daya alam manusia aparat, petani peternak
3. Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat veterier
4. Meningkatkan populasi ternak untuk menjamin ketersediaan bahan pagan bagi masyarakat.
c. Kebijaksanaan
Mengacu pada visi dan misi serta sasaran yang ingin dicapai dalam mengembangkan peternakan pada tahun anggaran 2014, kebujaksanaan pembagunan peternakan adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan kualitas sumber daya manusia pelaku pembangunan peternakan 2. Pengembangan hubungan dengan lembaga swasta melalui pola kemitraan.
3. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam peternakan dan penerapan teknologi tepat guna.
Tabel 2 Batas-Batas Kec. Curio Kabupaten Enrekang
No Batas Desa/Kelurahan
1. Batas Kecamatan Alla
2. Timur Kabupaten Luwu
3. Utara Kabupaten Tanah Toraja
4. Selatan Kecamatan Malua dan Malua
Sumber data: Kantor Kec. Curio, 2015.
Seperti yang digambarkan pada tabel diatas bahwa dibagian Barat berbatasan dengan Kecamatan Alla dan disebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu dibagian Utara Kabupaten Tana Toraja dan dibagian Selatan Kecamatan Malua dan Baraka.
a. Luas Kecamatan Curio
Secara geografis, Kec. Curio memiliki luas wilayah seluas 178,51 km2, yang terdiri dari 11 Desa.
b. Jumlah Penduduk Kec. Curio 14.533 jiwa yang terbagi jumlah laki-laki 7.335 jiwa dan jumlah perempuan 7.198 jiwa.
c. Tabel 3 Jumlah rumah tangga peternak di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
No Kelompok Kerbau Keterangan
1. Curio 55
2. Mandalan 27
3. Tallung Ura 94
4. Salassa 70
5. Sanglepongan 80
6. Sumbang 19
7. Mekkala 21