• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya (Wahyudi, 2011). Pada hakekatnya belajar matematika adalah belajar konsep, struktur konsep dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya. Ciri khas matematika yang deduktif aksiomatis ini harus diketahui oleh guru sehingga mereka dapat mempelajari matematika dengan tepat, mulai dari konsep–konsep sederhana sampai yang kompleks.

James dan James dalam Anitah (2008 :7.4) juga menyatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep–konsep. Pembelajaran matematika yang benar sangat diperlukan dalam menanamkan konsep–konsep matematika di Sekolah. Berdasarkan tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama yang tertulis dalam Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) seperti yang dirumuskan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yaitu mempersiapkan siswa untuk menghadapi perubahan keadaaan dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui bertindak atas dasar kemampuan berfikir logis, kritis, sistematis dan kreatif, serta mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari–hari yang menekankan kepada penataan nalar dan membentuk kepribadian serta keterampilan dalam penerapan matematika (Sanjaya, 2010).

Kenyataannya dalam proses pembelajaran matematika di Sekolah, sebagian besar siswa berpandangan bahwa mata pelajaran matematika sulit dan menakutkan (Suharno, dkk. 2004). Hal ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran siswa tidak dilibatkan secara aktif dan guru cenderung memindahkan pengetahuan yang dia miliki kepikiran anak dengan bermacam–macam cara seperti : memberi tahu, mengajari, melatih seperti men–drill untuk menyelesaikan soal, menyatakan fakta–

fakta, mementingkan hasil daripada proses, memuji anak kalau dia bisa menjawab dengan betul dan memarahi dengan berbagai cara kalau dia menjawab salah, serta mengajarkan materi secara urut halaman

(2)

perhalaman tanpa membahas keterkaitan antara konsep–konsep atau masalah (Irianto, 2006). Kondisi demikian akan menghambat kreativitas siswa, padahal kreativitas sangat penting dalam belajar matematika.

Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat bermacam–macam kemungkinan menyelesaikan masalah (berfikir divergen) dalam belajar matematika (Suharno, dkk. 2004). Hasil belajar siswa juga akan cenderung rendah.

Keberhasilan belajar siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan guru, khususnya dalam menyampaikan materi pembelajaran dan pemilihan metode yang akan digunakan. Menurut Darmadi (2010 :39), metode yang digunakan oleh guru sangat erat kaitannya dengan keberhasilan proses belajar mengajar yang menentukan prestasi belajar yang akan diraih siswa. Senada dengan pendapat tersebut, Munandar (2002 :13) mengatakan bahwa perkembangan optimal dari kemampuan berfikir kreatif (kreativitas) berhubungan erat dengan cara mengajar. Cara mengajar disini adalah metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru mata pelajaran matematika kelas VIII SMP Negeri 7 Salatiga, siswa kurang menguasai konsep matematika serta guru dalam proses pembelajaran cenderung menggunakan metode ceramah. Sejalan dengan Mawardi, dkk (2011) yang menyatakan bahwa 80% guru paling sering menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran, sedangkan dari pandangan siswa, 90% menyampaikan bahwa gurunya mengajar dengan cara menerangkan, 58,8% berpendapat dengan cara memberikan PR, dan 43,6%

menyampaikan dengan cara meringkas.

Metode ceramah adalah cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu (Tristinah, 2011). Metode ceramah ini berbentuk penjelasan konsep, prinsip, fakta, dan pada akhir pelajaran ditutup dengan tanya jawab. Pembelajaran demikian membuat pembelajaran menjadi monoton, siswa bosan dan tidak mandiri serta selalu menunggu guru untuk menjelaskan, sehingga pada akhir pelajaran siswa tidak bisa belajar sendiri dan tidak aktif serta siswa cenderung memiliki kreativitas rendah. Hal ini juga terlihat dari hasil observasi di kelas VIII SMP Negeri 7 Salatiga, sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran banyak yang pasif, merasa bosan, banyak siswa yang mengerjakan soal ala

(3)

kadarnya karena takut nanti disuruh mengerjakan oleh gurunya. Nilai pretest yang diperoleh siswa juga masih banyak yang di bawah KKM yaitu hanya terdapat 3 siswa dari 26 siswa yang diatas KKM (≥ 70), sedangkan klasikal kelasnya 11,54% yang masih berada dibawah klasikal kelas yang ditetapkan sekolah yaitu 75%.

Guru dalam mengatasi masalah diatas sebaiknya dalam proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan diajarkan, salah satu metode yang bisa digunakan guru adalah metode inkuiri. Metode inkuiri adalah suatu kegiatan proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis (Sanjaya, 2010). Metode inkuiri mengutamakan keterlibatan siswa secara aktif dan efektif, mencari, memeriksa dan merumuskan konsep dan prinsip matematika (Suroso, dkk. 2003). Pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba sendiri mencari jawaban suatu masalah akan jauh lebih bermakna daripada apabila mereka hanya mencerna informasi yang diberikan guru saja (Suparno, 2001).

Metode inkuiri lebih menekankan kepada kegiatan–kegiatan yang berpusat pada pengembangan kreativitas belajar siswa (Supartin,2008).

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Sujarwo (2008) yang mengatakan bahwa metode inkuiri dapat menumbuhkan berfikir secara kreatif–kritis, belajar mengemukakan pendapat secara teratur, toleran terhadap pendapat orang lain, berusaha untuk mencari informasi yang baru, mampu menganalisis masalah menurut sudut pandang lain, mampu membandingkan realita dengan konsep yang dimiliki, mampu memberikan tanggapan yang belum pernah dipikirkan sebelumnya, memberikan alternatif pemecahan masalah secara rinci dan sistematis.

Penggunaan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Budi, dkk: 2011). Senada dengan pendapat tersebut Tristinah (2011) juga mengatakan, strategi pembelajaran inkuiri terbimbing terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan Supartin (2008) yang mengatakan bahwa, metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Berangkat dari kondisi tersebut, maka perlu dilakukan penelitian pada SMP Negeri 7 Salatiga tentang pengaruh metode inkuiri terhadap kreativitas dan hasil belajar siswa.

(4)

B. Identifikasi Masalah.

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi permasalahan–permasalahan yang muncul, yaitu:

1. Masih rendahnya kreativitas dan hasil belajar siswa terhadap pelajaran matematika.

2. Masih banyak siswa yang kurang aktif maupun dilibatkan dalam proses pembelajaran matematika sehingga diperlukan metode pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk berperan aktif.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat melibatkan secara aktif adalah metode inkuiri.

3. Pada penerapan pembelajaran metode inkuiri diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar matematika siswa.

C. Pembatasan Masalah

Ruang lingkup penelitian dibatasi sebagai berikut : 1. Siswa kelas VIII A SMP Negeri 7 Salatiga.

2. Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode inkuiri.

3. Kreativitas siswa dibatasi pada kreativitas belajar matematika, yaitu kemampuan siswa dalam mengemukakan ide/gagasan baru (ide/ gagasan yang berbeda dari guru dan siswa lain yang dikemukakan secara lisan), kreativitas siswa dalam bertanya (kemampuan siswa untuk mengkritik guru dan kelompok yang sedang presentasi), dan memecahkan masalah (kemampuan siswa untuk mengaplikasikan ide/gagasan baru dalam menyelesaikan soal matematika).

4. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menemukan nilai phi, menemukan rumus keliling dan luas lingkaran serta menghitung keliling dan luas lingkaran.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan masalah dan pembatasan masalah diatas, maka rumusan masalahnya adalah

1. Adakah pengaruh yang signifikan metode inkuiri terhadap kreativitas siswa kelas VIII A SMP Negeri 7 Salatiga?

2. Adakah pengaruh yang signifikan metode inkuiri terhadap hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 7 Salatiga?

(5)

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitiannya adalah

1. Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan metode inkuiri terhadap kreativitas siswa kelas VIII A SMP N 7 Salatiga.

2. Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan metode inkuiri terhadap hasil belajar siswa kelas VIII A SMP N 7 Salatiga.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara umum, penelitian ini memberikan sumbangan pada dunia pendidikan dalam pengajaran matematika bahwa metode inkuiri dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan kreativitas siswa.

2. Manfaat Praktis

a. Masukan bagi guru dan sekolah untuk menerapkan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa.

b. Bahan pertimbangan dan tambahan referensi bagi guru matematika dan guru mata pelajaran lainnya guna memperluas wawasan pembelajarannya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian tersebut di atas, perlu dilakukan penelitian tentang “ Pengaruh Strategi Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar

Untuk itu pemahaman guru musik dalam menafsirkan kurikulum pendidikan musik, hendaklah kritis dan kreatif dalam pengembangan model – model pengajaran musik, tentu

Hal tersebut juga menjadi pendukung dari penuturan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Sapta Nirwandar yang mengatakan promosi pariwisata

Meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pelajaran struktur panca indera dan fungsinya di kelas empat dengan menggunakan metode inkuiri.. Manfaat penelitian

Sembiring, M (2008) mengatakan bahwa hasil belajar kimia siswa yang praktikum menggunakan program media computer lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan hasil belajar

1) Ingin mengetahui pelaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan metode simulasi dapat menumbuhkan sikap brfikir kritis dan hasil belajar dalam

Dari tahapan pembelajaran inkuiri yang terdapat dalam lembar kerja dapat dianalisis untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa selama praktikum menggunakan

Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan Metode